• Tidak ada hasil yang ditemukan

dr. Hendriyanto, SpKKLP, MARS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "dr. Hendriyanto, SpKKLP, MARS"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Curriculum vitae

Nama : dr Hendriyanto, SpKKLP, MARS

Lahir

: Lampung 6 November 1970

Status : Menikah, dengan 3 org anak

Riw Pendidikan : S1 Dokter Umum (FKUI 1989)

S2 KARS (FKMUI 2007), SpKLLP (2021)

Riw Pekerjaan : Kepala Puskesmas di Lingk. Dinkes Kab.Bogor

(2002-skrg)

Kepala Klinik Kirana 1 dan 2 ( 2007 – skrg)

BP PDAM Tirta Kahuripan (2007-2015)

Kepala UPT Labkesda Kab.Bogor (2012-2013)

Kabid. Binkesmas, Dinkes Kab.Bogor (2013-2014)

Riw Organisasi : IDI, Perklin, Asklin , PDKI, PDPMKI

(3)

STANDAR KEGIATAN USAHA PADA PENYELENGGARAAN

PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO SEKTOR

(4)

STANDAR KEGIATAN USAHA

PELAYANAN KESEHATAN

 STANDAR RUMAH SAKIT PEMERINTAH DAN RUMAH SAKIT SWASTA

 STANDAR USAHA PUSKESMAS

 STANDAR USAHA KLINIK

 STANDAR EVAKUASI MEDIS

 STANDAR USAHA BALAI/INSTITUSI PENGUJIAN FASILITAS KESEHATAN

 STANDAR PANTI SEHAT BERKELOMPOK

 STANDAR GRIYA SEHAT

 STANDAR UNIT TRANSFUSI DARAH

 STANDAR OPTIKAL

 STANDAR LABORATORIUM PENGOLAHAN SEL PUNCA

 STANDAR RS KELAS D PRATAMA

 STANDAR LABORATORIUM MEDIS

 STANDAR BANK SEL, SEL PUNCA DAN/ATAU JARINGAN

(5)

STANDAR USAHA KLINIK

KBLI: 86104 Aktivitas Klinik Pemerintah

KBLI: 86105 Aktivitas Klinik Swasta

Ruang Lingkup :

Standar ini mengatur kegiatan Klinik dalam penyelenggaraan perawatan kesehatan dan pengobatan fisik yang menyediakan pelayanan rawat jalan dan/atau rawat inap, baik di Klinik

pemerintah maupun di Klinik swasta. Pengertian :

 Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan medik dasar dan/atau spesialistik secara komprehensif.

 Klinik Swasta adalah Klinik yang diselenggarakan oleh masyarakat, baik perorangan, badan usahamaupun badan hukum

 Klinik Pratama adalah Klinik yang menyelenggarakanpelayanan medis dasar.

 Klinik Utama adalah Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medis spesialistik atau

(6)

Penggolongan Usaha Klinik

A. Penggolongan usaha Klinik berdasarkan kemampuan pelayanannya, terdiri atas 2 (dua) jenis yaitu:

• Klinik Pratama; dan

• Klinik Utama.

Klinik Utama dapat menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik

berdasarkan sistem organ dan/atau cabang/disiplin ilmu pada satu atau lebih bidang spesialistik.

B. Penggolongan usaha Klinik berdasarkan penyelenggaraan pelayanan, terdiri atas 2 (dua) jenis yaitu:

• Klinik rawat jalan; dan/atau

• Klinik rawat inap.

C. Penggolongan usaha Klinik berdasarkan kepemilikan modal, terdiri atas 2 (dua) jenis yaitu:

• Klinik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN); atau

• Klinik Penanaman Modal Asing (PMA) Klinik dengan PMA harus berbentuk Klinik Utama

(7)

Persyaratan Umum Usaha

Klinik

A. Persyaratan Umum

• Badan hukum publik, untuk Klinik Pemerintah.

• Klinik Swasta dengan Pelayanan Rawat Jalan dapat berbentuk orang perorangan, badan usaha atau badan hukum.

• Klinik Swasta dengan Pelayanan Rawat Inap dapat berbentuk badan usaha atau badan hukum.

• Klinik dengan Penanaman Modal Asing hanya berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas.

• Dokumen Surat keterangan dari dinas kesehatan kabupaten/kota mengenai pertimbangan persetujuan pendirian Klinik.

• Dokumen profil Klinik meliputi nama dan alamat lengkap, visi, misi, struktur organisasi dan waktu penyelenggaraan Klinik.

Dokumen self assessment Klinik meliputi kemampuan pelayanan Klinik, pelayanan penunjang medik (kefarmasian dan laboratorium), pemenuhan persyaratan

sarana, prasarana, peralatan dan SDM.

• Durasi pemenuhan standar oleh pelaku usaha untuk perizinan baru selama 3 (tiga) bulan, sejak NIB diterbitkan.

(8)

Persyaratan Umum Usaha

Klinik

B. Persyaratan perpanjangan sertifikat standar:

• Dokumen sertifikat standar usaha Klinik atau surat izin operasional Klinik sebelumnya yang masih berlaku.

Dokumen self assessment Klinik meliputi kemampuan pelayanan Klinik, pelayanan penunjang medik (kefarmasian dan laboratorium), pemenuhan persyaratan

sarana, prasarana, peralatan dan SDM.

C. Persyaratan Perubahan

• Izin Berusaha Klinik yang masih berlaku.

• Surat pernyataan penggantian badan hukum, nama Klinik, kepemilikan modal, jenis Klinik, dan/atau alamaKlinik, yang ditandatangani pemilik Klinik.

• Dokumen perubahan NIB; dan/atau

Self assessment Klinik yang meliputi kemampuan pelayanan Klinik, pelayanan

penunjang medik (kefarmasian dan laboratorium), pemenuhan persyaratan sarana, prasarana, peralatan dan SDM.

(9)

Persyaratan Umum Usaha

Klinik

Perubahan terhadap sertifikat standar Klinik dilakukan dalam hal terjadi perubahan: • Kepemilikan modal (PMA/PMDN);

• Jenis Klinik;

• Pelayanan dari rawat inap ke rawat jalan atau sebaliknya;

• Penambahan pelayanan; dan/atau • Alamat Klinik.

(10)

Persyaratan Khusus Usaha

• Daftar sarana, prasarana, bangunan, peralatan dan daftar obat-obatan dan bahan

habis pakai;

• Daftar SDM sesuai dengan kewenangan dan kompetensi dan struktur organisasi; • Daftar jenis pelayanan kesehatan pada Klinik;

• Dokumen Surat Izin Praktik (SIP) semua tenaga kesehatan yang bekerja di Klinik; • Dokumen perjanjian kerja sama pembuangan limbah bahan berbahaya dan

beracun (B3); dan

• Dokumen Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) bila Klinik mempekerjakan

Tenaga

(11)

Sarana

A. Klinik memiliki sarana, prasarana, peralatan dan prosedur untuk:

• menjamin mutu pelayanan;

• memastikan keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja petugas Klinik (tenaga kesehatan dan nonkesehatan); dan

• pengendalian dan penanganan limbah medis yang dihasilkan (tidak termasuk pengangkutan, pengolahan dan pemusnahan).

B. Klinik memastikan dan menjaga kondisi lingkungan (sumber air, kualitas air, kecukupan air dan sirkulasi udara) serta pasokan listrik untuk menjamin mutu pelayanan di Klinik. c. Klinik memiliki peralatan pemeriksaan dan peralatan pendukung pelayanan kesehatan yang bersih, terawat dan terkualifikasi serta terkalibrasi.

d. Area Fungsional Klinik, minimal terdiri dari:

• Ruang penerimaan;

• Ruang pelayanan medik;

• Ruang penunjang medik; dan

(12)

Sarana

Design sarana dengan memperhatikan beberapa aspek antara lain:

Bangunan ; lokasi strategis, struktur bangunan, bersifat permanan,

tdk bercampur dengan tmpt tinggal, menjamin keamanan,

kenyamanan, dan kemudahan trmsk utk lansia dan disabilitas. KTR.

Pengaturan klinik di kantor, apartemen/Rusun, Pusat Perbelanjaan

(tdk boleh Rinap , hanya operasi kecil).

Ruang, paling sedikit terdiiri dari : R. Pendaftaran, administrasi,

tunggu, konsultasi (min 7 M² ), tindakan, ASI, WC, dll. Klinik rawat

jalan yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian dan klinik

pelayanan rehabilitasi medik, pecandu narkotik, psikotropik, dan zat

adiktif lainnya, harus memiliki ruang/ instalasi farmasi. R. Gimul min

9 M².

Klinik yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap harus memiliki:

ruang rawat inap (5-10 bed), ruang gawat darurat, ruang staf Klinik,

instalasi/ruang farmasi, ruang laboratorium, ruang dapur gizi.

(13)

Prasarana

Prasarana Klinik harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan

baik. Prasarana Klinik paling sedikit terdiri atas:

Sistem penghawaan (ventilasi)

Sistem pencahayaan

Sistem air dan sanitasi

Pengolahan

limbah cair, dilaksanakan sesuai dengan peraturan

yang berlaku

Sistem kelistrikan

Sistem gas medis

Sistem proteksi kebakaran

(14)

Peralatan

Peralatan meliputi peralatan kesehatan dan non kesehatan pada jenis-jenis ruang yang ada dalam bangunan sesuai area fungsional Klinik, yang terdiri dari :

 Set Alat

 Bahan Medis Habis Pakai

 Perlengkapan

 Meubeler

 Pencatatan dan Pelaporan

Daftar peralatan tersebut berorientasi fungsi, jika salah satu jenis alat diatas sudah dapat

digantikan fungsinya oleh alat lain atau ada perubahan metoda pemeriksaan maka alat tersebut tidak perlu diadakan.

Set tindakan medis, bahan habis pakai, perlengkapan, meubelair dan pencatatan pelaporan pada Klinik Utama di ruang tindakan disesuaikan dengan pelayanan spesialistik yang ditetapkan oleh Organisasi Profesi yang bersangkutan.

Standar peralatan meliputi set Rawat Inap, Bahan Habis Pakai, Perlengkapan, Meubelair, Pencatatan dan Pelaporan pada klinik utama yang menyelenggarakan rawat inap disesuaikan dengan standar pelayanan spesialistik yang ditetapkan oleh Organisasi Profesi kedokteran yang bersangkutan.

(15)

Struktur organisasi SDM dan

SDM

Struktur Organisasi :

 Struktur organisasi Klinik paling sedikit terdiri dari penanggung jawab Klinik yang juga merupakan pimpinan Klinik, penanggung jawab kegawatdaruratan, dan penanggung jawab kefarmasian.

 Penanggung jawab Klinik pratama harus seorang dokter, dokter spesialis di bidang layanan primer, atau dokter gigi.

 Penanggung jawab di Klinik utama harus dokter, dokter gigi, dokter spesialis, atau dokter gigi spesialis

 Penanggung jawab Klinik harus memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di Klinik tersebut, dan dapat merangkap sebagai pemberi pelayanan.

 Dokter, dokter gigi, dokter spesialis di bidang layanan primer, dokter spesialis, atau dokter gigi spesialis hanya dapat menjadi penanggung jawab untuk 1 (satu) Klinik.

 Penanggung jawab di Klinik baik PMDN maupun PMA harus warga negara Indonesia.

 Penanggung jawab kegawatdaruratan di Klinik adalah dokter

 Penanggung jawab kegawatdaruratan di Klinik gigi dan mulut adalah dokter gigi atau dokter gigi spesialis

 Penanggungjawab ruang farmasi Klinik adalah apoteker. Apoteker penanggung jawab dapat dibantu oleh apoteker lain, tenaga teknis kefarmasian, asisten tenaga kefarmasian dan/atau tenaga lainnya sesuai kebutuhan.

(16)

Struktur organisasi SDM dan

SDM

SDM :

 Klinik pratama paling sedikit terdiri dari: 2 (dua) dokter; 2 (dua) dokter spesialis di bidang layanan primer; 1 (satu) dokter dan 1 (satu) dokter spesialis di bidang layanan primer; atau 2 (dua) dokter gigi.

 SDM Klinik pratama yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut paling sedikit terdiri dari: 2 (dua) dokter atau dokter spesialis di bidang layanan primer, dan 1 (satu) dokter gigi; 1 (satu) dokter, 1 (satu) dokter spesialis di bidang layanan primer, dan 1 (satu) dokter gigi; atau 2 (dua) dokter gigi, dan 1 (satu) dokter atau dokter spesialis di bidang layanan primer.

 Tenaga medis pada Klinik utama memberikan pelayanan spesialistik paling sedikit 2 (dua) dokter spesialis atau 2 (dua) dokter spesialis gigi, dapat dengan jenis spesialis yang sama atau berbeda disiplin ilmu sesuai dengan konsep Klinik utama yang dibentuk. Tenaga medis

spesialis harus sesuai dengan kebutuhan Klinik utama.

 Klinik Utama paling sedikit memiliki 2 (dua) dokter spesialis.

 Klinik Utama yang menyelenggarakan pelayanan spesialistik dan pelayanan spesialistik gigi dan mulut paling sedikit memiliki 1 (satu) orang dokter spesialis dan 1 (satu) orang dokter gigi spesialis.

(17)

Struktur organisasi SDM dan

SDM

SDM :

 Klinik Utama yang hanya menyelenggarakan pelayanan spesialistik gigi dan mulut paling sedikit memiliki 2 (dua) dokter gigi spesialis.

 Klinik Utama dapat memiliki ketenagaan dokter, hanya sebagai dokter yang melayani kegawatdaruratan dan Klinik yang menyelenggarakan rawat inap.

 Setiap dokter, dokter gigi, dokter spesialis di bidang layanan primer, dokter spesialis, dokter gigi spesialis, dan tenaga kesehatan lain yang berpraktik di Klinik harus mempunyai Surat Izin Praktik sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur mengenai Izin dan

Penyelenggaraan Praktik Kedokteran dan Tenaga Kesehatan.

 Ketenagaan pada Klinik Utama yang menyelenggarakan rawat jalan paling sedikit terdiri atas:

 dokter spesialis, dan/atau dokter gigi spesialis; tenaga keperawatan; dan tenaga nonkesehatan.

 Ketenagaan pada Klinik Pratama yang menyelenggarakan rawat inap paling sedikit terdiri atas: dokter, dokter gigi, dan/atau dokter spesialis di bidang layanan primer; apoteker dan tenaga teknis kefarmasian; tenaga keperawatan; tenaga gizi; tenaga ahli teknologi laboratorium medik; dan tenaga nonkesehatan.

(18)

Struktur organisasi SDM dan

SDM

SDM :

 Ketenagaan pada Klinik Utama yang menyelenggarakan rawat inap paling sedikit terdiri atas; dokter spesialis dan/atau dokter gigi spesialis; apoteker dan tenaga teknis kefarmasian; tenaga keperawatan; tenaga gizi; tenaga ahli teknologi laboratorium medik; dan tenaga non kesehatan.

 Dokter pada Klinik Utama merupakan dokter jaga pada Klinik Utama yang menyelenggarakan rawat inap dan/atau memberikan pelayanan kegawatdaruratan sesuai dengan Peraturan Menteri mengenai pelayanan kegawatdaruratan.

 Jumlah dan kualifikasi ketenagaan disesuaikan dengan hasil analisis beban kerja, serta kebutuhan dan kemampuan pelayanan Klinik.

 Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan di Klinik, tenaga medis dibantu oleh tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan dan kompetensi yang dimiliki.

 Klinik dapat memiliki tenaga non kesehatan untuk mendukung operasional penyelenggaraan Klinik sesuai dengan kebutuhan (administrasi, pekarya, satpam, dan lain-lain).

 Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Klinik harus memiliki surat tanda registrasi (STR) dan surat ijin praktek (SIP).

(19)

Pelayanan

Lingkup Pelayanan Kesehatan :

 Klinik pratama

 Klinik pratama hanya menyelenggarakan pelayanan medik dasar, sesuai dengan kompetensi dokter atau dokter gigi.

 Upaya pelayanan kesehatan di Klinik pratama meliputi aspek pelayanan medik dasar rawat jalan dan rawat inap.

Klinik Pratama hanya dapat melakukan bedah kecil (minor) tanpa anestesi umum dan/atau spinal.

Klinik Pratama yang menyediakan pelayanan aesthetic medicine diselenggarakan sesuai dengan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia mengenai Standar Kompetensi Dokter Indonesia

 Klinik Utama

 Klinik Utama menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik, atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.

 Upaya pelayanan kesehatan di Klinik utama meliputi aspek pelayanan medik spesialistik, atau pelayanan dasar dan spesialistik

(20)

Pelayanan

Lingkup Pelayanan Kesehatan :

 Klinik Utama

 Klinik utama dapat menyelenggarakan Pelayanan Rawat Jalan dan rawat inap.

 Klinik Utama dapat melakukan tindakan bedah kecuali tindakan bedah yang : Menggunakan anastesi umum dengan inhalasi dan/atau spinal; operasi sedang yang beresiko tinggi; atau operasi besar.

 Klasifikasi bedah kecil, sedang, dan besar ditetapkan oleh Organisasi Profesi yang bersangkutan.

Waktu Pelayanan

 Durasi waktu pelayanan Klinik rawat jalan paling sedikit 8 jam setiap hari.  Durasi waktu pelayanan Klinik rawat inap adalah 24 jam setiap hari.

Bentuk Pelayanan

 Pelayanan Rawat Jalan  Pelayanan Rawat Inap

(21)

Pelayanan

Lingkup Pelayanan Kesehatan :

 Pelayanan Rawat Inap

 Pelayanan Rawat Inap paling lama 5 (lima) hari untuk penyakit yang sesuai standar pelayanan kedokteran.

 Bila memerlukan rawat inap lebih dari 5 (lima) hari maka pasien dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan mengenai sistem rujukan

Pelayanan Home care untuk penyakit catastrophic.

Jenis Pelayanan Kesehatan :

 Pelayanan promotif dan preventif

 Pelayanan kuratif dan rehabilitatif

(22)

Persyaratan Produk/Proses/Jasa

dan Sistem Manajemen Usaha

Pelayanan kesehatan yang diberikan di Klinik harus sesuai dengan standar pelayanan dan standar profesi tenaga kesehatan yang ditetapkan/disahkan oleh Menteri.

 Penyelenggaraan Klinik memerlukan pengelolaan yang sebaik-baiknya dalam rangka menuju kemandirian dengan memperhatikan semua kepentingan dan berusaha menggerakkan semua potensi yang ada.

 Registrasi Klinik dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak Sertifikat Standar Usaha Klinik diperoleh :

 Apabila pelayanan Klinik dihentikan maka pemilik Klinik wajib mengirimkan surat pemberitahuan kepada Kementerian Kesehatan terkait pemberhentian layanan tersebut dan ditembuskan kepada dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota yang membina Klinik tersebut.

 Klinik wajib melakukan verifikasi data pada registrasi klinik secara berkala dan melakukan pembaharuan bila ada perubahan data.

 Manajemen Klinik

Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan di Klinik tidak terlepas dari adanya komitmen seluruh pihak baik internal maupun eksternal Klinik yang melibatkan pemangku kepentingan terkait secara terus menerus sehingga visi dan misi yang telah disusun Klinik dapat tercapai. Komitmen yang dibutuhkan adalah:

(23)

Persyaratan Produk/Proses/Jasa

dan Sistem Manajemen Usaha

 Manajemen Klinik

 Komitmen dalam membangun budaya mutu dan keselamatan pasien.  Komitmen dalam membangun tata kelola manajemen yang baik.

 Komitmen dalam membangun tata klinis yang baik

 Tata kelola manajemen pelayanan yang baik harus memiliki kemampuan/kompetensi dalam hal:

 Kepemimpinan dan kewirausahaan

 Kemampuan menghadapi perubahan lingkungan internal maupun eksternal yang terjadi  Kemampuan melakukan analisis secara strategis dalam menghadapi persaingan.

 Mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk mengembangkan

Healthcare Preunership agar dapat menjaga keberlangsungan hidup serta pengembangan pelayanan

(24)

Persyaratan Produk/Proses/Jasa

dan Sistem Manajemen Usaha

 Dalam melakukan pelayanan, Klinik mempunyai rencana mitigasi risiko mulai dari indentifikasi, pencegahan, preventif risiko yang dimiliki berikut tindakan perbaikan. Hal tersebut harus

tercakup dalam sistem manajemen usaha Klinik yang dimonitoring/evaluasi berkala, terdokumentasi dan diterapkan secara efektif.

 Apabila terjadi perubahan nama Klinik dan/atau perubahan identitas kepemilikan dari perseorangan menjadi badan usaha atau badan hukum, Pemilik Klinik berkewajiban

melaporkan kepada dinas kesehatan dan dinas terkait yang mengelola perizinan berusaha Klinik dan tidak perlu dilakukan perubahan sertifikat standar.

(25)

Penilaian Kesesuaian dan

Pengawasan

Penilaian Kesesuaian Klinik Terhadap Standar

 Klinik merupakan kegiatan usaha dengan risiko menengah tinggi, sehingga pelaku usaha harus memiliki NIB dan Sertifikat Standar.

 Penilaian Kesesuaian dilakukan terhadap pemenuhan standar sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini untuk mendapatkan sertifikat standar yang efektif sesuai dengan jenis

kemampuan pelayanan yang diusulkan.

 Penilaian Kesesuaian Klinik Pratama dan Klinik Utama dilakukan oleh Pemerintah Daerah kabupaten /kota dengan membentuk tim yang terdiri dari: DPMPTSP kabupaten/ kota; dan Dinas kesehatan kabupaten/ kota;

 Dalam melakukan penilaian kesesuaian, Pemerintah Daerah kabupaten/kota dapat melibatkan organisasi profesi/ asosiasi fasilitas kesehatan.

 Penilaian Kesesuaian Klinik Utama Penanaman Modal Asing (PMA) dilakukan oleh

Kementerian Kesehatan melalui Direktur Jenderal, dengan membentuk Tim yang terdiri dari: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan; Dinas Kesehatan

(26)

INOVASI DALAM INDUSTRI KESEHATAN DI ERA PANDEMI

COVID-19 DARI PERSFEKTIF LAYANAN KESEHATAN PRIMER

(27)

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN DALAM ERA JKN

Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (spesialistik) Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama UU Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan

Sosial Nasional

Perpres 82 tahun 2018 tentang Jaminan

Kesehatan

Manfaat jaminan kesehatan bersifat pelayanan kesehatan perseorangan  promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif (komprehensif)

Rujukan horizontal

• antar Fasilitas Kesehatan Kesehatan Perorangan) •Termasuk antar FKTP •Penguatan peran FKTP sebagai gate keeper.

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di FKTP serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi Jaminan Kesehatan khususnya di FKTP, dilakukan pengembangan sistem pembayaran kapitasi melalui Kapitasi Berbasis Kinerja

(28)

PERATURAN BPJS KESEHATAN NOMOR 7 TAHUN 2019

TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBAYARAN

KAPITASI BERBASIS KINERJA PADA FKTP

1.

Angka Kontak : Sakit, Sehat

2.

Rasio Rujukan Non Spesialistik

(29)

PERATURAN BPJS KESEHATAN NOMOR 2 TAHUN

2020

Prosedur Penjaminan Pelayanan Refraksi dan Kacamata pada

FKTP dalam Program Jaminan Kesehatan

RUANG LINGKUP : Penjaminan Pelayanan Refraksi oleh BPJS

Kesehatan pada FKTP meliputi pemeriksaan refraksi sampai

dengan penetapan koreksi.

Dalam hal hasil Pelayanan Refraksi sebagaimana dimaksud

memerlukan alat bantu kesehatan, Peserta diberikan

kacamata sesuai dengan indikasi medis pada Optikal yang

bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

(30)

TATA KELOLA DI ERA PANDEMI

A. Pendapatan ( Revenue )

-

Jmlh Peserta bpjsTerdaftar ↓

-

Jmlh Kunj.Tunai ↓

-

Pengembangan Unit Revenue terkendala

B. Biaya ( Cost )

-

Biaya Proteksi ↑ : APD, Desinfektan, dll

-

ABC SDM ↓

-

Biaya Obat ↓

-

Biaya Komunikasi ↑

-

Kendali Mutu Kendali Biaya

(31)

INOVASI

1.

KBBI : Pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru;

pembaharuan, atau penemuan baru yang berbeda dari yang

sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan,

metode, atau alat).

2.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu

kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka

sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap

suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak

ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra'd, Ayat 11)

(32)

INOVASI

1.

eliminate mental blocks

2.

Think outside the box

3.

Stop Complaining, start solution-oriented

4.

Stop defensive, start proactive

5.

Open-minded and curious

6.

If there are no rules that prohibit means it can

be done

7.

out of the comfort zone

(33)

MASALAH PELAYANAN DI ERA

PANDEMI COVID-19

Efisiensi versus Inovasi

Penerapan PPKM, kekhawatiran costumer dan tunakes, stigma

Perlindungan kelompok beresiko dan komorbid

Paparan infeksi pada sarpras dan SDM fktp

Srinning kelompok resti dan tunakes

(34)

INNOVATION DESIGN

Redistribusi SDM : kura f, Preven , Promo f ... ↑ Revenue

A. Langsung

-Skrinning Covid-19 pd individu dan institusi, ILI, RAPID TEST

-Op malisasi Pelayanan Bumikl....↑ANC, PNC, Persalinan...Posyaling,

kantong persalinan, kohort (reminder)

-Optimalisasi Pelayanan Imunisasi .... Rutin dan Tambahan (Influenza)

-Suplemen dan Obat herbal

B. Tdk Langsung ....

-

Edukasi Kelompok Binaan secara daring

-

Pendekatan Keluarga dan Komunitas, Pd resti dan komorbid,

pemetaan resiko

↑CR, RPPT

-

Konsultasi online

-

Edukasi online

(35)

Kebutuhan akan layanan

online

(36)

Konsultasi & Edukasi tatap muka

vs on-line

(37)

Bentuk konsultasi dan Edukasi

on-line

Konsultasi via telepon/WA/Telegram

Google Form, shorten link bitly Gf dan WA

Chat/percakapan via

SMS/WA/Telegram/Web

Video consultation via WA/Telegram/Zoom

Konsultasi via Apps

(38)

Komunikasi Masa

Zoom, Posting Instagram, Twitter, Face book, Website, Radio,

TV, Medsos lainnya

Elemen komunikasi :

Komunikator/sumber/pengirim pesan

atau communicator/source/sender.

Pesan atau message : Flyer Protokol Covid, PHBS

Media atau channel.

Komunikan/komunikate/penerima pesan

atau communicant/communicatee/receiver.

(39)
(40)

Journal Efektifitas layanan

daring

(41)

BATASAN DALAM LAYANAN ONLINE

A S P E K K E R A H A S I A A N

Nakes harus menjunjung

tinggi prinsip kerahasiaan

data apapun.

Hp/gadget khusus untuk

pelayanan pasien dgn

pasword yg hanya bisa

diakses pihak yg mendapat

otoritas.

I N F O R M E D

C O N S E N T

memberikan

penjelasan dan

meminta persetujuan

pasien/keluarga di awal

sebelum konsultasi

online

E T I K A D A N

N O R M A S O S I A L

Menggunakan bahasa

yang sesuai dengan

etika sosial

masyarakat sekitar

(formal dan sopan)

D O K U M E N T

A S I

Screenshot

konsultasi

harus

dilampirkan

dalam rekam

medis online

maupun

hardcopy

(printed)

(42)
(43)
(44)
(45)
(46)

Referensi

Dokumen terkait

Tidak diskriminatif, pengadaan dokter spesialis kunjungan dan dokter spesialis residen dengan perjanjian kerja untuk pelaksanaan pelayanan medik spesialistik di

Jasa medik cito adalah imbalan atas jasa yang diberikan oleh dokter spesialis, dokter asisten ahli, dokter umum, dokter gigi, psikolog dan tenaga medis lainnya

(2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktek dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dokter gigi spesialis, dokter spesialis konsultan dan dokter gigi spesialis konsultan

Kelompok Staf Medis Fungsional yang selanjutnya disebut Kelompok SMF adalah kelompok dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi dan Apoteker yang melakukan

Tenaga medis yang dimaksud paling sedikit terdiri atas: 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar; 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik

Bukan rahasia lagi pengaturan pelayanan medis khususnya medis spesialistik sampai saat ini masih menghadapi berbagai kendala, tenaga spesialis masih kurang dan belum merata di berbagai

Ijin bagi Pelayanan Medik Spesialis (Rujukan) : 1) Ijin Praktek Dokter Spesialis. 2) Ijin Praktek Dokter Gigi Spesialis. 3) Ijin Penyelenggaraan Praktek Berkelompok

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 028/MENKES/PER/I/2011 Tentang Klinik yang dimaksud dengan tenaga medis adalah dokter, dokter