• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODUKSI BENIH NILA GIFT (Oreochromis sp) SECARA MONOSEKS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PRODUKSI BENIH NILA GIFT (Oreochromis sp) SECARA MONOSEKS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Sri Astuti1

Abstrak

Pembenihan secara monoseks dimulai dari persiapan kolam, pembenihan, proses jantanisasi dengan menggunakan hormon Methyl testosteron 17 alpha, penebaran benih, perawatan dan pengawasan kolam.

Setelah dilakukan pemijahan diperoleh sekitar 5.500 ekor benih. Dari jumlah tersebut 3.000 ekor benih dilakukan proses jantanisasi (monoseks) sementara 2.500 ekor benih tidak dilakukan proses jantanisasi. Pendederan ikan nila dilakukan pada kolam tanah dengan luas kolam 400 m2 yang dilengkapi dengan saluran pemasukan air, saluran pengeluaran air, serta kemalir. Benih yang didederkan sebanyak kurang lebih 3.000 ekor dengan ukuran rata-rata benih 1 mm. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan dengan kandungan protein maksimum 28 %, kadar lemak minimum 5 %, kadar serat kasar maksimum 6 %, kadar abu maksimum 12 %, kadar air maksimum 12 %. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari dengan dosis 5 % dari berat badan ikan.

Untuk mengetahui pertumbuhan ikan selama pemeliharaan, dilakukan pengukuran panjang dan berat ikan yang didederkan. Benih ikan nila secara monoseks yang dipelihara selama 5 minggu dengan panjang awal setelah dipelihara 1 minggu 1,4cm dan berat awal setelah dipelihara 1 minggu 1,2g saat dipanen mencapai panjang 5,5 cm dan berat 7g sebanyak kurang lebih 2.990 ekor. Dari 2.990 ekor benih ikan nila didapati 25 ekor berjenis kelamin betina. Sementara benih yang non monoseks setelah dipelihara selama 5 minggu dengan panjang awal setelah dipelihara 1 minggu 0,7cm dan berat awal setelah dipelihara 1 minggu 0,3g saat dipanen hanya mencapai

ukuran panjang 3cm dan berat 2,9g dengan jumlah benih yang tersisa 2.460.

Selisih laju pertumbuhan ikan nila non monoseks dan ikan nila yang dibudidayakan secara monoseks adalah 2,5cm. Sementara selisih laju pertumbuhan berat ikan nila non monoseks dan berat ikan nila yang dibudidayakan secara monoseks yaitu 4g

1)

Mahasiswa Budidaya Perairan Universitas Asahan

PENDAHULUAN

Budidaya ikan nila (Oreochromis sp) secara monoseks akan menghasilkan pertumbuhan yang relatif lebih cepat besarnya bila dibandingkan dengan membudidayakan ikan dengan dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Dilihat dari prospek pasar yakni dari segi budidaya, pertumbuhan ikan nila mampu mencapai ukuran tubuh yang cukup besar, yakni 1 kg/ekor. Cita rasa daging ikan nila yang khas dan harga jualnya terjangkau masyarakat. Warna daging putih bersih dan tidak banyak durinya sehingga sering dijadikan sumber protein murah dan mudah didapat dan kandungan gizinya cukup tinggi yakni sekitar 17,5 %. Untuk membudidayakan ikan nila tidak memerlukan modal yang terlalu besar tetapi dapat memperoleh suatu keuntungan yang besar karena ikan nila dapat bersaing dengan ikan konsumsi jenis lainnya seperti ikan mas. Kebutuhan ikan nila bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi tetapi juga merambah ke ikan nila stadium benih.

Hal ini terjadi karena minat petani untuk membudidayakan ikan nila. Peluang pasar untuk ikan nila konsumsi juga masih tersedia. Ikan nila bisa mendominasi pasar dalam negeri dan pasar ekspor.

(2)

Ukuran tubuh ikan nila gift lebih besar yaitu 4 : 1 dari pada ikan nila yang lainnya. Pembudidayaan ikan nila tidak tergantung musim. Produktivitasnya cukup tinggi sehingga dalam jangka waktu singkat dapat dihasilkan benih dalam jumlah besar. Dapat menggunakan lahan marginal yang tidak dimanfaatkan untuk keperluan usaha pertanian lain. Dapat dilakukan secara terpadu dengan subsektor lain dan dalam pemeliharaan dapat dilakukan secara polikultur. Kebutuhan pakan dapat dipenuhi dengan memanfaatkan limbah yang ada

METODE PENELITIAN

Praktek magang dilaksanakan tanggal 13 Mei 2010 sampai dengan 30 Juni 2010 di UPTD Balai Budidaya Ikan Kerasaan Desa Pardomuan Nauli Kecamatan Pematang Bandar Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

Alat yang digunakan dalam praktek magang ini antara lain jettor untuk memperbaiki dasar kolam, cangkul untuk memperbaiki pematang kolam, garo – garo untuk meratakan dasar kolam sebelum diisi air, hapa untuk menampung benih ikan, panci digunakan untuk mengambil benih ikan pada kelambu saat pengambilan air, ember untuk menyortir benih, timbangan untuk mengukur berat benih, saringan teh untuk menakar benih dalam proses penghitungan, termometer untuk mengukur suhu, DO meter untuk mengukur kandungan oksigen terlarut, Secchi disk untuk mengukur kecerahan perairan dan pH meter untuk mengukur derajat keasaman perairan.

Bahan – bahan yang digunakan dalam praktek ini adalah 100 ekor induk nila jantan dan 300 ekor induk nila betina, pupuk kandang berupa kotoran ayam, Urea, TSP, racun hama dan semua bahan seperti pupuk dan racun ditebar pada kolam dengan merata. Pakan buatan berupa pellet ikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk pembenihan secara monoseks memerlukan bahan-bahan, adapun bahan – bahan yang diperlukan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Bahan yang dibutuhkan dalam Pembenihan

Jenis Bahan Fungsi Jumlah

Nila Jantan Untuk Pemijahan 100 ekor

Nila Betina Untuk induk Pemijahan 300 ekor

TSP menumbuhkan Pakan alami 4 kg

Urea menumbuhkan Pakan alami 8 kg

Pupuk Kandang

menumbuhkan Pakan alami 100 kg

Kapur Dolomit

meningkatkan pH tanah 150 kg

Lebaycid Membasmi dan mencegah

tumbuhnya hama

50 ml

Pellet makanan induk dan benih 50 kg

alfa 17 MT Untuk pembentukan kelamin 60 ml

Dari Tabel 4. diketahui bahan yang bisa digunakan untukpembenihan ikan nila, apa fungsi bahan tersebut dan berapa ukurannya. Proses pemupukan dilakukan dengan mencampurkan pupuk TSP dan pupuk Urea dalam ember sehingga pupuk benar – benar tercampur. Setelah itu pupuk ditebarkan ke dasar kolam secara merata sampai pupuk yang ada pada ember habis ditebarkan. Menurut SANTOSO (1995) untuk memupuk kolam seluas satu meter persegi dibutuhkan pupuk buatan seperti TSP dan Urea masing–masing 10g dan 15g. Setelah pemupukan selesai dilakukan, maka selanjutnya kolam diisi air secara perlahan hingga air mencapai ketinggian yang maksimal, biasanya ketinggian air mencapai 45 cm. Setelah itu air dibiarkan menggenangi kolam selama 5 hari hingga warna air kolam berubah warnanya menjadi kuning kehijauan. Menurut pendapat yang dikemukakan SANTOSO

(1995) bahwa pemupukan betujuan untuk

menumbuhkan plankton yang sangat dibutuhkan, baik oleh induk maupun benih ikan. Pupuk yang digunakan berupa kotoran ayam yang sudah menjadi tanah, dengan takaran antara 300 g/m2 sampai 500 g/m2, pupuk ditebar merata di dasar kolam. Salah satu pertanda apabila plankton sudah tumbuh adalah air telah berubah warna menjadi kehijauan. Bila keaadan ini telah tercapai kolam dapat digunakan.

(3)

Untuk mengetahui ciri-ciri nila jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Ciri – Ciri Induk Jantan dan Betina

Jantan Betina

Terdapat 2 lubang

yaitu anus lubang

sperma merangkap

lubang dubur dan urine

Terdapat 3 lubang pada urogenital mis: lubang urine, lubang dubur dan lubang peng eluaran telur Ujung sirip berwarna

kemerahan terang dan jelas

Ujung sirip berwarna kemerahan pucat tidak jelas

Warna perut lebih

gelap/kehitaman Warna dagu kemerah – merahan

Warna perut lebih putih

Jika perut distriping mengeluarkan sperma

Jika perut distriping maka meng eluarkan telur

Bila overculum

dipegang maka terasa kasar

Bila overculum dipegang maka terasa halus

Tabel 2. diketahui ciri – ciri ikan nila jantan dan ikan nila betina, sehingga kita dapat membedakan mana ikan nila jantan dan mana ikan nila betina. Apabila kita sudah dapat membedakan bagaimana ciri – ciri nila jantan dan nila betina maka dengan mudah kita bisa melakukan pembenihan.

Untuk menghitung pertambahan panjang dan berat tubuh ikan selama pemeliharaan digunakan rumus sebagai berikut :

1. Berat individu rata – rata dihitung dengan rumus

Wm =

W

1 – Wo/t

Keterangan:

Wm= Pertambahan berat mutlak

W1= Berat rata – rata pada akhir setiap

minggu (g)

W

o= Berat rata – rata pada waktu awal

setiap minggu (g)

t= Pertumbuhan dari waktu ke waktu 2. Untuk menghitung pertambahan panjang dihitung dengan rumus

Lm = Lt - Lo/t Keterangan:

Lm= Pertambahan panjang mutlak rata-rata

Lt= Panjang rata – rata pada akhir setiap minggu (mm)

Lo= Panjang rata – rata pada waktu awal setiap minggu (mm)

t= Pertumbuhan dari waktu ke waktu

Sedangkan untuk mengukur

kelulushidupan benih saat pemanenan berlangsung digunakan rumus sebagai berikut :

SR = Nt x 100 % No Keterangan : SR= Kelulus hidupan ( % )

Nt= Jumlah organisme pada waktu panen No= Jumlah organisme pada waktu awal

Seharusnya agar tidak terjadi kematian pada benih ikan hal yang dilakukan setelah dilakukan pengeringan kolam, kolam ditabur kapur dan dibiarkan sampai 3 hari sampai tanah pada dasar kolam benar-benar kering sehingga hama yang ada didalam kolam benar-benar mati, setelah itu baru dilakukan pengairan kolam dan pemupukan kolam dengan pupuk kandang, TSP dan Urea setelah 5 hari kemudian barulah benih ikan nila ditebar sehingga tidak banyak benih ikan nila yang mati .

Untuk mengetahui kelulushidupan (Survival Rate) benih maka dapat dilihat dari Tabel 3.

Tabel 3. Persentase Survival Rate Larva Nila di UPTD Balai Budidaya Ikan Kerasaan

Bulan Jumlah Induk (ekor)

Jumlah Larva (ekor) Jumlah Benih (ekor) SR (%)

Mei 100 ekor Jantan

300 ekor Betina 8. 000 5. 500

68,7 5 Juni 100 ekor Jantan

300 ekor Betina 5.500 5.450 99

Dari Tabel 3. menjelaskan bahwa saat dipanen menghasilkan benih 8.000 ekor karena pada saat pemanenan berlangsung tiba-tiba saluran sungai ditutup oleh para petani sehingga benih ikan dimasukan pada kerengan dan banyak benih ikan yang mati karena air yang berada didalam kerengan keruh. Benih yang tersisa saat itu adalah 5500 ekor jadi 3000 ekor benih

(4)

dilakukan proses jantanisasi dan 2500 ekor benih dibudidayakan secara non monoseks. Selama proses pendederan secara monoseks dari 3000 ekor benih mengalami kematian 10 ekor sehingga sisa benih monoseks adalah 2990 ekor dan untuk benih non monoseks mengalami kematian 40 ekor jadi benih non monoseks menjadi 2.460 ekor sehingga jumlah benih adalah 5.450 ekor. Penyebab benih monoseks dan non monoseks mengalami kematian karena pada saat pendederan ketersedian air kurang dan keadaan air juga belum baik karena saat dilakukan pemupukan kolam, ikan langsung dimasukan kedalam kolam tanpa menunggu pupuk terurai terlebih dahuluh sehingga kematian ikan disebabkan keracunan amoniak yang disebabkan penguraian pupuk yang terjadi didalam kolam.

1. Seleksi Benih

Penyeleksian benih yang sehat dan tidak mati bertujuan agar sewaktu benih dimasukkan ke dalam kolam pendederan tidak mati dan dapat berkembang dengan baik sekaligus untuk memperoleh benih ikan nila yang rata besarnya sehingga mengurangi persaingan antara benih dalam mencari makanan saat ikan dipelihara dalam kolam pendederan nantinya. Hal ini sesuai dengan pendapat ARIE (2000) seleksi benih dilakukan untuk memisahkan antara benih yang besar dengan benih yang berukuran kecil. Pemisahan benih berdasarkan ukurannya memiliki tujuan agar dalam suatu kolam hanya berisi benih dengan ukuran seragam sehingga tidak ada persaingan dalam mencari makanan.

Menurut pendapat yang dikemukakan oleh TIM LENTERA (2002) seleksi

dilakukan untuk memilih benih unggul untuk dijadikan induk nantinya. Sedangkan ciri – ciri benih unggul dapat dilihat dari sifatnya yang menonjol yaitu pertumbuhannya yang cepat, tahan terhadap penyakit, responsif terhadap penyakit, kulitnya halus dan mulus dan mempunyai tekstur sisik yang kecil – kecil. Kemudian dari benih 5.500 ekor diambil 3000 ekor untuk dilakukan jantanisasi

2. Penebaran Benih

Berikutnya proses penebaran benih, penebaran benih ini dilakukan satu hari setelah selesai diseleksi. Penebaran dilakukan pada pagi hari. Cara penebarannya dengan menggunakan kantung plastik, yaitu benih diambil dengan menggunakan ember dan dimasukan ke dalam plastik yang sudah diisi air sebelumnya, kemudian diangkat menuju kolam dan secara perlahan dituangkan ke dalam kolam, hingga benih habis ditebarkan dalam kolam pendederan. Menurut pendapat KRISHARYANTO

(2002) bahwa jika penebaran

menggunakan kantung plastik maka pengeluaran benih dilakukan secara perlahan atau benih dibiarkan keluar dengan sendirinya.

Penjelasan dari TIM LENTERA (2002) bahwa penebaran adalah bobot populasi ikan yang harus ditanam untuk menghasilkan bobot ikan tertentu setelah masa pemeliharaan tertentu. Padat penebaran benih ikan nila yang akan dipelihara harus disesuaikan dengan luas tipe kolam serta debit air.

G. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein minimum 28 %, kadar lemak minimum 5 %, serat kasar maksimum 6 %, kadar abu maksimum 12 %, kadar air maksimum 12 %. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari dengan dosis 5 % dari berat badan induk ikan, untuk benih atau bibit ikan diberikan 6 % dari berat badan benih ikan, cara pemberian pakan dengan memasukan pellet kedalam jaring – jaring hapa yang halus dan kemudian jaring – jaring hapa tersebut digantung pada tempat pemasukan air. Saat jaring digantung pellet harus terendam pada air sedalam 1 cm tujuanya agar pellet dapat hancur dengan perlahan – lahan dan pellet juga tidak membusuk. Tempat penggantungan pellet harus senantiasa dilakukan ditempat yang sama jangan dipindah-pindah karena akan membuat ikan bingung. Untuk memberi

(5)

makan benih monoseks dan non monoseks adalah 6 % dari biomassa tubuh ikan dan dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Dosis Pemberian Makan Benih Ikan

Minggu

Monoseks Non Monoseks

Jumlah Pakan Untuk 3000 ekor

Jumlah Pakan Untuk 2500 ekor Dalam Satu minggu (g)

1 212,625 42,825

2 510,3 85,05

3 739 157,875

4 1020,6 303,75

5 1,275,75 425,25

Dari tabel 4. dapat diketahui jumlah pemberian makan pada benih ikan nila baik yang dibudidayakan secara monoseks dan non monoseks. Jumlah makanan untuk ikan nila non monoseks lebih banyak bila dibandingkan dengan benih ikan nila non monoseks hal ini terjadi karena ikan nila non monoseks berukuran lebih besar dan lebih banyak bila dibandingkan dengan ikan nila non monoseks tetapi antara ikan nila monoseks dan non monoseks dosis pemberian makanannya sama yaitu sama – sama 6 % dari berat tubuh ikan masing-masing.

Pertumbuhan Ikan Nila Secara Monoseks dan Non Monoseks

Untuk mengetahui pertumbuhan benih selama masa pemeliharaan penulis melakukan pengukuran panjang dan berat tubuh benih ikan nila. Pengukuran ini dilakukan satu minggu sekali, caranya dengan mengambil beberapa ekor ikan kemudian ikan diukur panjangnya dengan mengggunakan alat ukur panjang, setelah itu ikan ditimbang berat tubuhnya.

Tabel 5. Laju Pertumbuhan Panjang dan Berat Pada Ikan Nila

Minggu Laju Pertumbuhan Ikan Nila

Non Monoseks Monoseks

Pertumbuhan (cm) Berat (g) Pertumbuhan (cm) Berat (g) 1 0,7 0, 3 1,4 1,2 2 0,9 0, 6 2 2,9 3 1,3 1 3,2 4,1 4 2,3 2 4,1 5,6 5 3,0 2, 9 5,5 7

Dari Tabel 5. dengan mudah kita dapat mengetahui laju pertumbuhan ikan Nila yang mana yang mengalami laju pertumbuhan dan berat yang lebih pesat

dan dapat diketahui hasil pengukuran panjang dan berat pada tiap minggunya. Jadi dari hasil tersebut sudah jelas bahwa pertumbuhan ikan nila secara monoseks lebih cepat bila dibandingkan dengan ikan nila non monoseks. Menurut DJARIJAH

(2001) Perawatan yang baik akan dapat

membuat benih ikan nila tumbuh dengan cepat. Pengelolaan makanan dan air secara intensif membuat benih ikan nila akan tumbuh sehat dan panjangnya dapat mencapai 2 cm setelah 14 hari.

Selanjutnya menurut ANDRIANTO

(2005) bahwa perlakuan pendederan pertama yang umumnya berlangsung antara 14-21 hari dapat diperoleh benih ukuran 1-3 cm. Selanjutnya benih tersebut ditebarkan dikolam pendederan kedua yang persiapannya sama dengan kolam pendederan pertama, selama 3 minggu dipelihara akan mencapai ukuran 3 - 5 cm

Menurut SUSENO (1997)

pendederan benih ikan adalah pemeliharaan benih ukuran lepas hafa yaitu benih kebul yang berumur sekitar 5 hari dan berbobot 15 – 20 mg/ekor.

JANGKARU (1988) Laju

pertumbuhan ikan Nila jantan lebih cepat bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ikan Nila betina.

Pertambahan panjang dan berat pada ikan Nila (Oreochromis sp) secara monoseks dan non monoseks sangat baik tetapi pertumbuhan panjang dan berat pada ikan Nila non monoseks lebih pesat. Jadi pernyataan yang menyatakan ikan Nila secara monoseks mengalami laju pertumbuhan lebih pesat itu benar adanya.

Selain kita mengetahui pertumbuhan berat dan pertumbuhan penjang pada tiap minggu kita juga harus mengetahui perkembangan panjang awal dan panjang akhir pada setiap minggunya.

Untuk mengetahui panjang awal dan panjang akhir dapat dilihat dari tabel 6.

Tabel 17. Pertumbuhan Panjang Benih Ikan Nila (Oreochromis sp)

Minggu

Monoseks Non Monoseks

Panjang awal (cm) Panjang akhir (cm) Selisih Panjang (cm) Panjang awal (cm) Panjang akhir (cm) Selisih Panjang (cm) 1 0,1 1,4 1,3 0,1 0,7 0,6

(6)

2 1,4 2 0,6 0,7 0,9 0,2

3 2 3,2 1,2 0,9 1,3 0,4

4 3,2 4,1 0,9 1,3 2,3 1

5 4,1 5,5 1,4 2,3 3 0,7

Dari Tabel 6. diatas dapat diketahui selisih pertumbuhan yang menjelaskan bahwa bila pertumbuhan akhir dikurangkan dengan pertumbuhan awal maka akan menghasilkan selisih 1,3 cm atau bisa dikatakan laju pertumbuhan dari awal sebelum dilakukan proses pendederan memiliki panjang 0,1 cm dan setelah dipelihara selama satu meinggu maka menghasilkan 1,4 cm jadi dapat dikatakan bahwa ikan pada minggu pertama mengalami pertumbuhan 1,3 cm dan perkembangan selanjutnya dapat dilihat dari tabel 6 diatas.

Untuk mengetahui laju pertumbuhan berat awal dan berat akhir pada ikan nila monoseks dan non monoseks dapat dilihat dari tabel 7.

Tabel 7. Pertumbuhan Berat Benih Ikan Nila (Oreochromis sp)

Minggu

Monoseks Non Monoseks

Berat awal (g) Berat akhir (g) Selisih Berat (g) Berat awal (g) Berat akhir (g) Selisih Berat (g) 1 0,1 0,2 1 0,1 0,3 0,2 2 0,2 2,9 1,6 0,3 0,6 0,3 3 2,9 4,1 1,6 0,6 1 0,5 4 4,1 5,6 1,5 1 2 1 5 5,6 7 1,4 2 2,9 0,9

Dari Tabel 6, 7, dengan mudah kita dapat mengetahui laju pertumbuhan ikan Nila yang mana yang mengalami laju pertumbuhan yang lebih pesat dan dapat diketahui hasil pengukuran panjang dan berat pada tiap minggunya. Selain itu kita juga dapat mengetahui selisih perkembangan dari minggu pertama sampai minggu kelima. Jadi dari hasil tersebut sudah jelas bahwa pertumbuhan ikan nila secara monoseks lebih cepat bila dibandingkan dengan ikan nila non monoseks.

Menurut DJARIJAH (2001)

Perawatan yang baik akan dapat membuat benih ikan nila tumbuh dengan cepat. Pengelolaan makanan dan air secara intensif membuat benih ikan nila akan tumbuh sehat dan panjangnya dapat mencapai 2 cm setelah 14 hari.

Selanjutnya menurut ANDRIANTO

(2005) bahwa perlakuan pendederan pertama yang umumnya berlangsung antara 14-21 hari dapat diperoleh benih ukuran 1-3 cm. Selanjutnya benih tersebut ditebarkan dikolam pendederan kedua yang persiapannya sama dengan kolam pendederan pertama, selama 3 minggu dipelihara akan mencapai ukuran 3 - 5 cm

Menurut SUSENO (1997)

pendederan benih ikan adalah pemeliharaan benih ukuran lepas hafa yaitu benih kebul yang berumur sekitar 5 hari dan berbobot 15 – 20 mg/ekor.

JANGKARU (1988) Laju

pertumbuhan ikan Nila jantan lebih cepat bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ikan Nila betina.

Pertambahan panjang dan berat pada ikan Nila (Oreochromis sp) secara monoseks dan non monoseks sangat baik tetapi pertumbuhan panjang dan berat pada ikan Nila non monoseks lebih pesat. Jadi pernyataan yang menyatakan ikan Nila secara monoseks mengalami laju pertumbuhan lebih pesat itu benar adanya.

H. Kualitas Air

Air merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam menjalankan usaha budidaya ikan. Air bagi ikan berfungsi sebagai media tubuh, baik internal ataupun eksternal. Sebagai media internal, air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi didalam tubuh, pengangkut bahan makanan keseluruh tubuh. Sementara itu, sebagai bahan eksternal air berfungsi sebagai habitat hidupnya.

Dalam praktek magang didapatkan hasil pengukuran air kolam. Air kolam yang diukur antara lain suhu air, derajat keasaman (pH), Kecerahan, warna air, kedalaman air kolam dan oksigen terlarut (DO).

Tabel 8. Literatur Hasil Pengukuran Kualitas Air

Parameter Satuan Hasil Pengukuran

Suhu Air 0 C 25-30 C0 pH Air - 7 NH3 Ppt 18 per mil Oksigen Terlarut (DO) ppm 4 mg/l Kekeruhan/ Kecerahan cm 35

(7)

Kedalaman cm 45-80

Warna air - Hijau Kekuningan, Hijau

Kecoklatan

Berdasarkan Tabel 8. diatas dapat diketahui kualitas air yang digunakan untuk mengaliri kolan ikan di BBI Kerasaan. pH air pada kolam pendederan tempat magang 7 ppm, Sedangkan oksigen terlarut pada kolam pendederan adalah 4 mg/l dengan suhu air 25 – 30 CO. Hal ini sejalan dengan pendapat KHAIRUMAN

dan SUSENDA (2002) bahwa pada usaha

intensif kandungan oksigen terlarut yang baik minimal 4 mg/l, sedangkan kandungan karbondioksida kurang dari 5 mg/l.

Menurut PUTRANTO (1995)

kedalaman air kolam minimal 40 cm, dengan debit air minimal 100 ml/detik. Pendapat ini juga dikemukakan

ANDRIANTO (2005) bahwa air yang masuk kekolam debitnya harus diatur yaitu sekitar 100 ml/ detik. Dengan kedalaman antara 0,4 – 0,5 m.

I. Hama dan Penyakit

Jenis hama yang mengganggu selama penulis melakukan praktek magang pembenihan ikan nila adalah belut, keong mas dan capung, nyamuk dan lain – lain yang meletakan telurnya pada permukaan air. Cara penanggulangan telur capung, telur nyamuk dan lain – lain adalah dengan memberikan racun lebaycid untuk membasmi telur–telur capung dan nyamuk yang nantinnya akan menghisap telur– telur ataupun benih ikan nila.

Untuk mengatasi hama belut dan keong mas dengan cara menangkap hama tersebut saat kolam dikeringkan setelah itu dibunuh atau dibuang jauh – jauh dari areal kolam. Menurut pendapat yang dikemukakan TIM LENTERA (2002)

bahwa belut dan kepiting dapat dikendalikan dengan menangkap dan membuangnya jauh – jauh dari area kolam. Selanjutnya dijelaskan KHAIRUMAN

dan SUSENDA (2002) bahwa untuk mengatasi hama belut, sebaiknya sebelum diolah kolam digenangi air setinggi 20 – 30 cm, kemudian diberi obat pembasmi

hama berupa akodan dengan dosis rendah yakni 0,3 – 0,5 cc/m3 air atau membunuh langsung hama yang ditemukan ditempat pemeliharaan ikan. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah memasang perangkap diseluruh areal kolam dengan pagar tembok sehingga hama tidak dapat masuk.

Menurut ANDRIANTO (2005)

bahwa secara umum pencegahan terhadap timbulnya hama dan penyakit pada ikan nila dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut : a). Mengeringkan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen, b).Memelihara ikan yang benar – benar bebas penyakit, c).Menghindari padat penebaran benih ikan yang melebihi kapasitas, d).Menggunakan sistem pemasukan air yang ideal seperti paralel dan setiap kolam diberi satu pintu pasukan air, e).Memberikan pakan yang memiliki kualitas dan kuantitas cukup baik.

J. Pemanenan

Pemanenan dilakukan pada pagi hari jam 6.30 Wib, ini dilakukan untuk menghindari sinar matahari yang nantinya mengakibatkan benih stres. Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan kolam dengan membuka saluran pengeluaran air, air dikeluarkan secara perlahan – lahan, ini dilakukan agar benih tidak stres akibat perubahan arus yang cukup besar pada pipa pengeluaran. Hal ini sejalan dengan pendapat SUSENO (1997)

panen benih ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari, yaitu antara jam 04.00 – 05.00 pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimasudkan untuk menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih tersebut. Pemanenan dilakukan mula–mula dengan menyurutkan air kolam secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak.

Panen ini dilakukan sekaligus ataupun total, hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil dari pemasukan benih ke

(8)

kolam, dan pada saat panen para agen setempat memang sudah siap menampung keseluruhan hasil berdasarkan ukuran benih ikan nila.

Setelah benih dipindahkan ke hafa lain yang telah dipersiapkan sebelumnya dikolam lain lalu benih dihitung hasilnya. Penghitungan hasil panen menggunakan metode volumetrik, caranya benih diambil dengan mengunakan saringan teh. Jumlah benih yang ada pada saringan teh dihitung hingga habis, setelah itu penghitungan hanya berdasarkan jumlah saringan teh, lalu banyaknya benih dalam satu saringan teh dikalikan dengan jumlah saringan teh. Dari hasil penghitungan diketahui jumlah benih yang dipanen sebanyak lebih kurang 5.500 ekor. Benih yang dilakukan jantanisasi sebanyak 3000 ekor dengan ukuran rata-rata 1 mm, dan yang tidak dilakukan jantanisasi sebanyak 2.500 ekor dengan ukuran rata – rata 1 mm dan dalam masa pemeliharaan 3 hari setelah menetas kemudian dilakukan proses jantanisasi. Hal ini berhubungan dengan pernyataan

WULAN (1997). Bahwa massa yang tepat

dan baik untuk pemberian hormon yaitu disaat ikan masih dalam stadium larva atau ikan masih berumur 2-3 hari setelah menetas karena diketahui bahwa pada saat ini jenis kelamin belum terdifferensiasi sex (belum berbentuk) apakah jantan atau betina sehingga kita sangat mudah untuk mempengaruhi proses pembentukan jenis kelamin dan hasilnya lebih sempurna.

Hasil Jantanisasi

Setelah dipelihara selama 5 minggu maka pemanenan mendapatkan hasil ikan nila dengan ukuran 5-6 cm dengan berat 7g untuk yang dilakukan proses jantanisasi tetapi untuk ikan yang tidak dilakukan proses jantanisasi memiliki ukuran 2-3 cm dengan berat 3g.

Hasil pemanenan jantanisasi dapat dilihat dari tabel 9 dibawah ini:

Tabel 9. Tingkat Keberhasilan Membentuk Jenis Kelamin Monoseks

Keadaan Ikan Jumlah Ikan (ekor) Tingkat Keberhasilan Jumlah Ikan 3000 99,66% Ikan mati 10 Sisa Ikan 2990 Jumlah Betina 25 99,16% Jumlah Jantan 2965

Berdasarkan Tabel 9 menyatakan dari 3000 ekor ikan mati 10 ekor sisa ikan 2990 dan tingkat keberhasilan hidup ikan 99,66 %. Dari 2990 ikan didapati 25 ekor berjenis kelamin betina dan 2965 ekor berjenis kelamin jantan jadi tingkat keberhasilan pembentukan kelamin 99,16%. Pemberian hormon Methyl testosteron 17 alpha tidak bisa mengubah jenis kelamin menjadi jantan semua tetapi hanya bisa mempengaruhi pembentukan jenis kelamin jantan dan kemungkinan terbentuknya jenis kelamin betina tetap ada. Hal ini terjadi karena kandungan androgen hormon Methyl testosteron 17 alpha sedikit. Hal ini sesuai dengan pendapat SULHI (2004) menyatakan hormon Methyl testosteron 17 alpha bila keberhasilanya mencapai 50 % sudah dikatakan berhasil karena hormon Methyl testosteron 17 alpha konsentrasi kandungan androgen tidak terlalu tinggi keberhasilan bisa mencapai 90 % apabila perendaman dilakukan lebih dari 6 jam namun suhu dan O2 yang ada didalam

perairan harus benar-benar baik sehingga tidak menyebabkan kematian pada benih ikan. Tingkat keberhasilan yang mencapai 90 % sangat sulit untuk dicapai karena banyak benih ikan yang mati, keadaan suhu yang tidak baik menyebabkan benih stres dan kemudian mati.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Produksi benih ikan nila secara monoseks dilakukan pada kolam tanah seluas 400 m2, dengan tekstur dasar kolam tanah liat berpasir. Untuk menghilangkan kadar asam pada kolam dilakukan pengelolaan kolam dengan menggunakan jettor, terus dilanjutkan dengan pemupukan. Pupuk yang digunakan pupuk buatan, 8 kg pupuk TSP, 4 kg pupuk Urea dan kotoran ayam 100 kg. Kolam dilengkapi dengan saluran kemalir, saluran pemasukan, dan saluran pengeluaran, dengan ketinggian air 80 cm.

(9)

Pemberian pakan dilakukan setiap hari dengan dosis 6 % dari total biomasa ikan, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Pakan yang diberikan berupa pellet tenggelam dan pellet terapung yang mengandung kadar protein minimum 28 %, kadar lemak minimum 5 %, kadar serat kasar maksimum 6 %, kadar abu maksimum 12 %, kadar air 12 %, aflatoksin maksimum 10 ppb, vitamin C kapsul 100 ppm. Bahan baku pakan tambahan terdiri dari : Tepung ikan, bungkil kedelai, jagung, beras menir, dedak gandum, dedak padi, minyak nabati dan minyak ikan. Pakan tambahan ini adalah pakan ikan buatan. Sementara pakan tambahan adalah pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan walaupun ikan sudah mendapatkan makanan dari alam namun makanan yang tersedia dialam tidak mencukupi untuk tumbuh dan berkembang secara pesat dan yang dimaksud dengan pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan kebutuhan ikan, hal yang harus dipertimbangkan berupa kebutuhan nutrisi ikan, kualitas bahan baku dan nilai ekonomis karena dengan pertimbangan yang baik dapat menghasilkan pakan buatan yang disukai ikan.

Pada saat panen, benih yang dihasilkan sebanyak 4.550 ekor. Untuk benih yang tidak dilakukan proses jantanisasi sebanyak 2.460 ekor dan benih yang dilakukan proses jantanisasi sebanyak 3000 ekor tetapi pada saat proses jantanisasi dilakukan 10 ekor benih nila mati jadi sisanya 2990 . Pajang benih saat dipelihara 1 mm dan setelah dipelihara selama 5 minggu untuk yang dilakukan proses jantanisasi memiliki panjang rata – rata 5-6 cm, sementara untuk benih yang non monoseks memiliki panjang rata – rata 2-3 cm.

Budidaya ikan nila secara monoseks sangat menguntungkan karena ikan yang kita budidayakan akan cepat mengalami pertumbuhan yang pesat dan ikan nila

secara monoseks juga tidak rentan terhadap suatu penyakit.

B. Saran

Seharusnya BBI Kerasaan mempunyai kolam penampungan air. Sehingga apabila para petani menutup saluran air kegiatan yang ada di BBI tetap berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

AFFANDI, R. dan TANG, U. M., 2002.

Fisiologi Hewan Air. UNRI PERSITAS PEKAN BARU. 217 Hal.

AFRIANTO, 1992. Hama dan Penyakit

Ikan. Dirjen Deptan: Jakarta. 20 H.

AMRI, K. dan KHAIRUMAN., 2004.

Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta. 180 Hal.

ANDRIANTO, T. T. 2005. Pedoman

Praktis Budidaya Ikan Mas. Absolut.Yogyakarta. 189 Hal.

ANONIMOUS, 1991. Petunjuk Teknis

Budidaya Ikan Nila. Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian. Jakarta. 47 Hal.

ARIE, 1999. Pembenihan dan

Pembesaran Ikan Nila. Penebar Swadaya, Jakarta. 127 Hal.

ARIE, U., 2000. Budidaya Bawal Air

Tawar. Penebar swadaya. Jakarta. 80 Hal.

ARIFIN, 1990. Sanlinitas Perairan. Fakultas Pertanian. Unida. Bogor. 38 Hal.

BUDISETIJONO, 1989. Pengaruh Metil

Testoteron terhadap perubahan jenis kelamin. Fakultas Perikanan IPB Bogor. 55 Hal.

(10)

CAHYONO, B. 2000. Budidaya Ikan Air

Tawar. Kanisius. Yogyakarta. 113 Hal.

DJARIJAH, 2002. Pembenihan Ikan Nila

Secara Intensif. Penerbit Kanisus, Yogyakarta. 87 Hal.

JANGKARU, 1988. Laju pertumbuhan

ikan Nila secara Monoseks. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. 95 Hal.

KHAIRUMAN dan SUDENDA, D. 2002

Budidaya Ikan Mas Secara Intensif . Agro Media Pustaka. Jakarta 81 Hal.

KRISHARYANTO. 2002. Budidaya

Peternakan Ikan Nila di Pondok Pesantren Departemen Agama RI. Jakarta. 42 Hal.

KUSNO, S dan WIDYAWATI, R. 2001.

Memelihara Ikan Bersama Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta. 82 Hal.

MUJIMAN, A. 2001. Makanan Ikan.

Penebar Swadaya. Jakarta. 86 Hal.

PUTRANTO, A. 1995. Budidaya Ikan

Produktif Ikan Mas. Karya Anda. Surabaya.71 Hal.

SANTOSO, B. 1995. Petunjuk Praktis

Budidaya Ikan Mas, Kanisius. Yogyakarta. 83 Hal.

SUPARTA, M. H. dan ISKANDAR. 1998. Teknologi Produksi Benih

Ikan Air Tawar. Jurusan Perikanan. UNPAD. Bandung.

SUSENO, D. 1997. Pemeliharaan Ikan di

Kolam Perkarangan. Kanisius. Yogyakarta.

SUYANTO, S. R., 2003. Nila. Penebar

Swadaya, Jakarta. 105 Hal.

TAVE 1995. Teknologi Sex Reversal.

Penerbit Kanisius, Yogyakarta . 135 Hal.

TIM LENTERA. 2002. Pembesaran Ikan

Mas di Kolam Air Deras. Agro Media Pustaka. Jakarta. 96 Hal.

WAHID A., 2000. Kultur Jaringan

Teknologi Benih Budidaya Ikan Nila. Penebar Gramedia Pustaka, Jakarta. 88 Hal.

Gambar

Tabel 1.  Bahan yang dibutuhkan dalam  Pembenihan
Tabel 2. Ciri – Ciri Induk Jantan dan Betina

Referensi

Dokumen terkait

Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan identifikasi jamur penyebab penyakit pada benih Ikan Nila pada kegiatan penelitian yang dilakukan di Instalasi Perikanan

Hasil dari data karakter reproduksi ikan nila pandu F6 dengan ikan nila nilasa dan performa benih dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini. niloticus ) menunjukkan pemijahan

Analisis Karakter Reproduksi Ikan Nila Pandu F6 Oreochromis niloticus Persilangan Strain Nila Merah Singapura Menggunakan Sistem Resiprokal Pada Pendederan 1.. Journal of

Uji ketahanan benih ikan nila dari induk yang divaksin terhadap infeksi bakteri Streptococcus sp pada tahap ini, benih yang dihasilkan dari induk yang diberi

diduga dengan salinitas 10 ppt tekanan osmotik pada cairan dalam tubuh ikan nila gift (Oreochromis sp) hampir seimbang dengan media tempat hidupnya sehingga energi yang

HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan teknik pembenihan ikan nila nirwana Oreochromis niloticus yang dilakukan di Balai Benih Ikan Cibiru mencakup beberapa proses yaitu pemeliharaan induk,

Pemeriksaan Ektoparasit Pada Benih Ikan Nila Pemeriksaan ektoparasit pada benih ikan nila Oreochromis niloticus meliputi organ luar, yaitu insang dan kulit Kabata, 1985.Pemeriksaan

Standar Nasional Indonesia ini menetapkan persyaratan untuk benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih