MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSEDURAL SISWA MELALUI MODEL PENGAJARAN LANGSUNG PADA MATERI AJAR CAHAYA
DAN ALAT-ALAT OPTIK KELAS VIII F SMPN 26 BANJARMASIN
Anggun Novita Anggraini, Zainuddin, Sarah MiriamProgram Studi Pendidikan Fisika FKIP Unlan Banjarmasin [email protected]
ABSTRAK: Kemampuan penyelesaian masalah siswa tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh guru yang masih kurang tepat dalam menerapkan model atau strategi mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara meningkatkan keterampilan prosedural siswa dengan menggunakan model pengajaran langsung. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) keterlaksanaan RPP selama proses pembelajaran, (2) keterampilan prosedural siswa, (3) hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis dan Mc Taggart.
Data yang diperoleh pada penelitian ini melalui observasi, lks, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keterlaksanaan RPP selama proses pengajaran langsung meningkat yaitu pada siklus I diperoleh skor rata-rata 3,67 menjadi 3,9 pada siklus II dengan kategori sangat baik, (2) keterampilan prosedural siswa dalam menjalankan langkah-langkah pemecahan masalah juga meningkat dari siklus I ke siklus II dengan dari siklus I sebanyak 3,6 menjadi 3,8 dengan kategori sangat terampil, (3) hasil belajar siswa meningkat dari ketuntasan secara klasikal 62,07% belum tuntas pada siklus I menjadi 86,7% pada siklus II sudah tuntas. Diperoleh simpulan bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan keterampilan prosedural siwa dan hasil belajar siswa.
Kata kunci: Pengajaran langsung, keterampilan prosedural, hasil belajar, fisika.
IMPROVE OF PROCEDURAL SKILL STUDENTS’ LEARNING THROUGH DIRECT INSTRUCTION MODEL ON LIGHT AND OPTICAL EQUIPMENT IN CLASS VIII F OF SMPN 26 BANJARMASIN
ABSTRACT: Problem solving skills of students is low. This is caused by teachers who are still less specific in applying models or teaching strategies. This study aims to describe how to improve the student's practice method using the direct teaching model. In particular, this study aims to describe: (1) compliance with RPP during The learning process, (2) the skills of students, (3) the results of the student study. This research is an action research model Kemmis and Mc Taggart. The data obtained in this study by observation, lks, and test.. The results showed that (1) RPP implementation during the teaching process was directly increased in the first term obtained an average score of 3.67-3.9 in the second cycle with a good category, (2) student skills Methods for problem solving performance problem also increased from the first round to the second cycle of the first cycle by as much as 3,6 to 3,8 with highly skilled category, (3) increased student outcomes in learning Events in the classical 62.07% did not complete the first cycle at 86, 7% in the second cycle was completed. Forrester that the direct teaching model can improve Shiva practice techniques and outcomes of student learning.
Keywords: direct instruction, practice methods, learning outcomes, physics.
PENDAHULUAN
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mencantumkan secara jelas mengenai tujuan pendidikan nasional, yaitu agar berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003).
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Siswa yang dapat mencapai target tujuan –tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil dan siswa masih belum mencapai target masih perlu mendapat bimbingan lebih dari guru .
Berdasarkan hasil observasi dengan guru mata pelajaran IPA pada 24 Januari 2017 yang dilakukan peneliti terdapat masalah yang ditemukan di kelas VIII F, yaitu hasil ulangan harian peserta didik kelas VIII F SMPN 26 Banjarmasin tahun ajaran 2016/2017 masih sangat rendah yaitu siswa yang tidak tuntas mencapai 86,7% dari 29
orang siswa, dengan kriteria ketuntasan minimal untuk mata pelajaran IPA yaitu
≥ 75. Menurut guru mata pelajaran IPA, berdasakan analisis jawaban siswa dari hasil ulangan harian tersebut dalam mengerjakan soal yang menuntut siswa mengerjakan dengan cara memperhatikan pemecahan masalah seperti menentukan variabel diketahui dan ditanya, mencari persamaan hingga memasukkan angka-angka ke dalam persamaan tersebut hingga diperoleh jawaban akhir banyak siswa yang masih balum terisi jawabannya, hal ini mengindikasikan bahwa keterampilan prosedural siswa masih rendah sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah pula.
Untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang seharusnya mampu membimbing siswa dalam menguaai dan mempelajari keterampilan dasar serta memperoleh pengetahuan selangkah demi selangkah, keterampilan dasar yang dimaksud dapat berupa dua hal yaitu aspek kognitif maupun psikomotorik, serta informasi lainnya yang merupakan dasar untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih kompleks, yaitu dengan menerapkan model pengajaran langsung. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Sofiyah, 2010) yang menyatakan
bawa model pengajaran langsung menuntut dan membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sakti, Yuniar, Eko) bahwa dengan menggunakan model Direct Instruction minat belajar siswa secara signifikan.
Berdasarkan latar belakang yang peneliti kemukakan diatas, maka dirumuskan masalah umum
“Bagaimanakah cara meningkatkan keterampilan prosedural siswa melalui model pembelajaran langsung pada materi ajar cahaya dan alat-alat optik di kelas VIII F SMPN 26 Banjarmasin ?” . Berdasakan tujuan masalah diatas maka tujuan umum penelitian yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan cara meningkatkan keterampilan prosedural siswa melalui model pembelajaran langsung pada materi ajar cahaya dan alat-alat optik di kelas VIII F SMPN 26 Banjarmasin. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui model pengajaran langsung. (2) mendeskripsikan keterampilan pemecahan masalah siswa melalui model pengajaran langsung. (3) mendeskripsikan hasil belajar kognitif siswa setelah diterapkan model pengajaran langsung.
KAJIAN PUSTAKA
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan definisi dari pengajaran langsung, salah satunya yaitu berdasarkan dari pendapat Arends (1997: 66) menyatakan bahwa model pengajaran langsung yaitu merupakan model pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif serta keterampilan prosedural yang terstruktur dengan baik, pengajaran ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.
Seperti halnya penelitian yang dilakukan Pramita (2011) yang menyatakan bahwa pengajaran langsung efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Serta penelitian yang dilakukan oleh (Amrita, Jamal, Misbah, 2016) bahwa dengan menggunakan model pengajaran langsung efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Selain untuk meningkatkan keterampilan prosedural dan hasil belajar siswa penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) berbantuan media audio visual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (Sari, Sakti, Koto:
2012).
Keterampilan prosedural siswa menngambarkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan masakah atau persoalan meliputi masalah (menuliskan variabel diketahui dan ditanya), perencanaan (menuliskan rumus standar), serta melakukan perhitungan dan pengecekan dengan mengikuti langkah-langkah sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan, sehingga mengindikasikan kemampuan analisis sintesis siswa.
Untuk mengukur keterampilan prosedural siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang menuntut pemecahkan masalah digunakan metode dari Polya (1973) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu (1) memahami masalah, siswa diminta menuliskan variabel diketahui, variabel ditanya, kemudian menuliskan variabel tersebut kedalam simbol fisikanya. (2) merancang rencana, siswa dapat mencari hubungan antara variabel yang diketahui dengan variabel-variabel yang belum diketahui atau yang akan dicari solusi kedalam sebuah rumus standar. (3) melaksanakan rencana, siswa dapat menerapkan rumus dengan memasukkan nilai variabel-variabel yang diketahui dan melakukan operasi hitung agar siswa dapat membuktikan apakah langkah merancang rencana yang dibuat benar atau tidak. (4) melihat kembali,
siswa melakukan pengecekan langkah pemecahan masalah dengan cara menuliskan kembali pada lembar jawaban yang disediakan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (clasroom action research), karena dalam penelitian untuk mengatasi masalah yang ada dalam kelas VIII F SMP Negeri 26 Banjarmasin, berkaitan dengan keterampilan prosedural. Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart.
Subjek penelitian adalah 29 siswa kelas VIII F SMPN 26 Banjarmasin.
Tempat pelaksanaan penelitian yaitu di SMPN 26 Banjarmasin yang beralamat di jalan Jend. A. Yani Km. 2,5 No. 180 Kel.Sungai Baru kota Banjarmasin, sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2016/2017 mulai bulan April sampai dengan bulan Agustus 2017.
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini melaului observasi dan tes. Uji validitas tes menggunakan hitungan stitstik korelasi product moment dengan menggunakan rumus seperti dibawah ini: (Ratumanan, 2003: 25) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
rxy = ∑ 𝑋𝑌
√(∑ 𝑥²)((∑ 𝑦²))
(1)
Keterangan : rxy = koefisien korelasi
X = skor tes pada butir soal yang dicari validitas
Y = skor soal yang dicapai tes
X = X - 𝑋̅
Y = Y - 𝑌̅
Untuk menginterpretasikan koefisien validitas dapat digunakan kriteria sebagai berikut :
Tabel 1. Kriteria validitas
No Koefisien Validitas Kategori
1 r ≤ 0,00 Tidak valid
2 0,00 < r ≤ 0,20 Validitas sangat rendah 3 0,20 < r ≤ 0,40 Validitas rendah 4 0,40 < r ≤ 0,60 Validitas sedang 5 0,60 < r ≤ 0,80 Validitas tinggi 6 0,80 < r ≤ 1,00 Validitas sangat tinggi
(Ratumanan, 2003) Tabel 2 Hasil validitas uji soal tes hasil belajar siswa
No Kategori Nomor butir soal Jumlah
1 Tinggi 3,4,5,6,8,9 6 soal
2 Sedang 2 1 soal
3 Rendah 7,10,11,13 4 soal
4 Sangat Rendah 1,12 2 soal
Jumlah 13 soal
Koefisien realibilitas ditentukan dengan rumus :
a = r11 = ( 𝑛
𝑛−1) (1 −Ʃ𝑠ᵢ²
𝑠𝑡²) (2)
Keterangan : n = banyaknya siswa
r11 = koefisien reliabilitas
Ʃ𝑠ᵢ² =jumlah varians skor setiap item 𝑠𝑡² = varians skor total
Indeks reliabilitas diklarikfikasikan pada Tabel berikut:
Tabel 3. Kriteria reliabilitas
No Koefisien Reliabilitas Kategori 1 r < 0,40 Reliabilitas rendah 2 0,40 ≤ r < 0,80 Reliabilitas sedang
3 0,80 ≤ r Reliabilitas tinggi
(Ratumanan, 2003) Tabel 4 Hasil reliabilitas uji soal tes hasil belajar siswa No Siklus ke Reliabilitas Kategori
1 I 0,637698 Sedang
2 II 0,295745 Rendah
Rata-rata 0,4667215 Sedang
Tingkat kesukaran suatu butir tes dinyatakan indeks kesukaran. Indeks
kesukaran (p) suatu butir ditentunkan dengan rumus :
p = 𝑃ℎ+𝑃𝐿
2 (3)
Keterngan :
p = Indeks kesukaran
pH = proporsi siswa kelompok atas menjawab benar butir tes
pL = proporsi siswa kelompok bawah menjawab benar butir tes
Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran adalah sebagai berikut : Tabel 5. Kriteria indeks kesukaran butir
No Nilai p Kategori
1 p ≤ 0,25 Sukar
2 0,25 < p ≤ 0,75 Sedang
3 p < 0,75 Mudah
(Ratumanan, 2003) Tabel 6. Hasil analisis uji indeks kesukaran soal
No Kriteria Nomor butir soal Jumlah
1 Sukar 1 1 soal
2 Mudah 2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 12 soal
Jumlah 13 soal
Tabel 7. Kriteria penilain keterlaksanaan RPP
No Rumus Interval Kategori
1 X > 𝑋̅ + 1,8 𝑥 𝑠𝑏𝑖 𝑖 X > 3,2 Sangat baik
2 𝑋̅ + 0,6 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 < 𝑋 ≤ 𝑋̅ + 1,8 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 2,4 < X ≤ 3,2 Baik 3 𝑋̅ – 0,6 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖< 𝑋 ≤ 𝑋̅ + 0,6 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 1,6 < X ≤ 2,4 Cukup 4 𝑋̅ – 1,8 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 < 𝑋 ≤ 𝑋̅ – 0,6 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 0,8 < X ≤ 1,6 Kurang
5 𝑋 ≤ 𝑋̅ – 1,8 x 𝑠𝑏𝑖 𝑖 X ≤ 0,8 Sangat kurang
(Widoyoko, 2012) Keterangan: 𝑋̅ = 1/2 (Skor maksimum ideal + skor minimum ideal) 𝑖
𝑠𝑏𝑖= 1/6 (skor maksimum ideal – skor minimum ideal) X = skor empiris
Untuk menetukan toleransi perbedaan hasil pengamatan antara 2, yaitu sebagai berikut:
KK = 2𝑆
𝑁1+ 𝑁2 (4) (
Keterangan:
KK = Koefisien kesepakatan
S = jumlah kode untuk skor dan aspek yang sama
𝑁1 = jumlah aspek yang diamati oleh pengamat I
𝑁2 = jumlah aspek yang diamati oleh pengamat II
Tabel 8. Kriteria koefisien kesepakatan
No Rumus Kategori
1 0,8 ≤ KK < 1,0 Tinggi
2 0,6 ≤ KK < 0,8 Cukup
3 0,4 ≤ KK < 0,6 Agak Rendah
4 0,2≤ KK < 0,4 Rendah
5 0,0 ≤ KK < 0,2 Sangat Rendah
(Arikunto, 2013)
Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus :
Ketuntasan klasikal =
Ʃ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢𝑎𝑙
Ʃ𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑥 100% (5) Untuk menentukan persentase ketuntasan belajar siswa (individual) menggunakan persamaan berikut:
KB = (𝑇
𝑇𝑡) x 100% (6) Keterangan:
KB = ketuntasan belajar
T = Jumlah skor yang diperoleh siswa Tt = Jumlah skor total
Tabel 9. Kriteria ketuntasan belajar No Kriteria
ketuntasan
Kualifikasi
1 ≥ 75 Tuntas
2 ≤ 75 Tidak tuntas
Ketuntasan klasikal siswa dihitung dengan menggunakan rumus:
(𝑝)𝑘 = (𝑁
𝑁1) 𝑥 100% (7) Keterangan:
= proporsi ketuntasan belajar siswa secara klasikal
N = banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan ≥ 75
N1 = banyaknya siswa dalam kelas Keterampilan pemecahan masalah dilihat dari tes yang diberikan kepada siswa. Penilaian keterampilan ini menggunakan rumus:
NA = 𝑥
𝑁 𝑥 100 % (8) Keterangan:
NA = nilai akhir
= skor yang diperoleh N = skor maksimum
Tabel 10. Kriteria keterampilan pemecahan masalah
No Rumus Interval Kategori
1 X > X > 3,2 Sangat terampil
2 + 0,6 x ≤ + 1,8 x 2,4 < X ≤ 3,2 Terampil
3 – 0,6 x ≤ + 0,6 x 1,6 < X ≤ 2,4 Cukup terampil
4 – 1,8 x ≤ – 0,6 x 0,8 < X ≤ 1,6 Kurang terampil
5 ≤ – 1,8 x X ≤ 0,8 Tidak terampil
(Adaptasi Widoyoko, 2012) Keterangan: = 1/2 (Skor maksimum ideal + skor minimum ideal)
= 1/6 (skor maksimum ideal – skor minimum ideal) X = skor empiris
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil keterlaksanaan RPP siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 11. Keterlaksanaan RPP siklus I
No Aspek yang diamati Rata-rata Kriteria
1 Fase 1 3,95 Sangat baik
2 Fase 2 3,65 Sangat baik
3 Fase 3 3,3 Sangat baik
4 Fase 4 3,57 Sangat baik
5 Fase 5 4 Sangat baik
6 Penutup 3,57 Sangat baik
Rata-rata keseluruhan 3,67 Sangat baik
Reliabilitas 0,72 Cukup
Keterlaksanaan 90,5%
Tabel 11 diatas menunjukkan dalam menjalankan fase-fase model pengajaran langsung dilaksanakan dalam kriteria
sangat baik. Selain itu, diperoleh keterlaksanaan RPP sebesar 90,5%.
Tabel 12. Keterampilan prosedural siswa siklus I Poin Langkah Pemecahan Masalah Skor
Keterampilan
Kategori A Menuliskan variabel diketahui dan
ditanya lengkap, memakai satuan yang sesuai
4 Sangat terampil
B Menuliskan rumus dengan benar dan langsung menunjukkan hubungan antara variabel yang dicari dan diketahui
3,8 Sangat terampil
C Memasukkan nilai ke rumus, operasi nilai/angka, jawaban/hasil operasi, serta satuan dengan benar
3,5 Sangat terampil
D Memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking back)
3,2 Sangat terampil
Rata-rata 3,6 Sangat terampil
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa dalam menjalankan langkah- langkah pemecahan pemecahan masalah siswa sudah dapat menyelesaikannya dengan dengan kriteria sangat baik, jadi dapat disimpulkan bahwa telah
tercapainya indikator keberhasilan penelitian untuk keterampilan prosedural siswa minimal cukup terampil dalam menjalankan langkah-langkah pemecahan masalah.
Tabel 13. Hasil tes belajar siswa siklus I
No Aspek Nilai
1 Nilai rata-rata 71,52
2 Jumlah siswa yang tuntas 18
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 11
4 Ketuntasan secara klasikal 62,07%
Tabel 13 menunjukkan bahwa dari 29 siswa hanya 18 orang siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Hasil ini menunjukkan bahwa belum tercapainya indikator keberhasilan penelitian yaitu tes hasil
belajar tuntas secara klasikal dengan persentase minimal sebesar 70%. Karena belum tercapainya indikator keberhasilan ini, maka penelitian dilanjutkan pada siklus II.
Tabel 14. Hasil refleksi siklus I
Refleksi siklus I Rencana perbaikan siklus II Pengelolaan waktu kurang efisien pada fase
2, yaitu saat guru mendemonstrasikan secara lisan dan menggambarkan dipapan tulis secara langsung terlalu memakan waktu lama.
Begitupun pada fase 3, praktikum yang dilakukan juga cukup memakan waktu yang lama karena harus membimbing setiap kelompok.
Guru menyampaikan materi secara lebih ringkas dengan menjelaskan poin-poin penting dari materi yang akan diajarkan.
Lebih ditekankan dalam
mengkoordinasikan kebersamaan anggota kelompoknya agar setiap anggota kelompok sadar dgn tugas yang harus mereka lakukan selama melakukan praktikum.
Keterampilan prosedural dalam menjalankan langkah-langkah pemecahan masalah memang sudah mencapai kategori baik, tetapi kebanyakan siswa masih bingung untuk memasukkan rumus serta menjalankannya. Kemudian untuk melukiskan bayangan juga masih belum lihai untuk menentukan sinar sinar datang agar terbentuk bayangan.
Guru menekankan penyelesaian soal menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah dan menerangkan kesalahan yang banyak muncul pada siklus I agar dapat diminimalisir.
Kemudian guru lebih menekankan tata cara menggambar pembentukan bayangan agar siswa lebih paham.
Siswa yang tidak tuntas pada tes hasil belajar adalah sebanyak 11 siswa.
Guru memberikan bimbingan yang lebih kepada siswa yang tidak tuntas dengan mendatangi meja siswa dan menanyakan apa saja hal yang belum dipahami.
Tabel 15. Keterlaksanaan RPP siklus II
No Aspek yang diamati Rata-rata Kriteria
1 Fase 1 4 Sangat baik
2 Fase 2 3,85 Sangat baik
3 Fase 3 3,8 Sangat baik
4 Fase 4 3,94 Sangat baik
5 Fase 5 4 Sangat baik
6 Penutup 3,82 Sangat baik
Rata-rata keseluruhan 3,9 Sangat baik
Reliabilitas 0,86 Tinggi
Keterlaksanaan 97,25%
Tabel 15 menunjukkan bahwa keterlaksanaan RPP telah mencapai
indikator keberhasilan penelitian yang berkriteria minimal baik.
Tabel 16. Keterampilan prosedural siswa siklus II Poin Langkah Pemecahan Masalah Skor
Keterampilan
Kategori
A Menuliskan variable diketahui dan ditanya lengkap, memakai satuan yang sesuai
4 Sangat terampil
B Menuliskan rumus dengan benar dan langsung menunjukkan hubungan antara variabel yang dicari dan diketahui
3,9 Sangat terampil
C Memasukkan nilai ke rumus, operasi nilai/angka, jawaban/hasil operasi, serta satuan dengan benar
3,8 sangat terampil
D Memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking back)
3,4 sangat terampil
Rata-rata 3,8 sangat terampil
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa dalam menjalankan langkah-langkah pemecahan pemecahan masalah siswa
sudah dapat menyelesaikannya dengan dengan kriteria sangat baik.
Tabel 17. Hasil Tes Belajar Siswa Siklus I
No Aspek Nilai
1 Nilai rata-rata 81,26
2 Jumlah siswa yang tuntas 26
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 3 4 Ketuntasan secara klasikal 86,7 % Hasil tes belajar siswa mengalami
peningkatan dari siklus I. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa telah
tercapainya indikator keberhasilan penelitian dengan perolehan ketuntasan klasikal lebih dari 70 %.
Tabel 18. Hasil refleksi siklus II Refleksi siklus II
Diperlukan alokasi waktu yang lebih lama untuk dapat menyelesaikan soal menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah dengan ranah kognitif soal yang lebih tinggi.
Masih terdapat siswa yang tidak mampu menggambarkan situasi masalah dengan benar dan lengkap pada langkah memvisualisasikan masalah, sehingga hal ini mempengaruhi kriteria keterampilan prosedural yang diamati dari lembar pengamatan dan kemampuan pemecahan masalah siswa dinilai dari ketuntasan siswa secara klasikal.
Berdasarkan hasil refleksi di atas, pada siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian yang telah
ditetapkan yaitu keterlaksanaan RPP minimal baik, keterampilan prosedural siswa minimal baik, dan tes hasil belajar
siswa tuntas secara klasikal minimal 70% dari jumlah siswa yang mengikuti tes sehingga penelitian dihentinkan siklus II.
Pembahasan Hasil Penelitian
Analisis keterlaksanaan RPP model pengajaran langsung
Pada siklus I diperoleh keterlaksanaan RPP dengan kategori sangat baik untuk semua aspek penilaian. Kriteria keterlaksanaan RPP untuk semua aspek penilaian pada yang ke siklus II kategori yang didapat sama dengan siklus I yaitu sangat baik.
Pada siklus II, guru menyampaikan materi secara lebih ringkas dengan menjelaskan poin-poin penting dari materi yang akan diajarkan dan kemudian siswa juga lebih dimotivasi agar dapat memunculkan sikap bekerjasama dengan kelompoknya sehingga setiap anggota kelompok dapat bertanggung jawab dengan tugas mereka. Sehingga keterlaksaan RPP dapat meningkat karena pengelolaan waktu lebih efisien.
Analisis keterampilan prosedural siswa
Keterampilan prosedural siswa dinilai dari LKS yang diberikan setelah diberikan demonstrasi pengetahuan dan keterampilan dengan memberikan skor
untuk soal yang menuntut penyelesaian menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah.
Pada siklus I, data yang diperoleh dari jawaban siswa saat mengerjakan LKS dapat dilihat kemampuan siswa untuk menyelesaikan langkah-langkah pemecahan masalah sudah mencapai kategori sangat baik karna setiap kelompok sudah dapat menyelesaikan semua soal yg diberikan dengan baik.
Maka pada siklus I ini diperoleh skor keterlaksanaan yaitu sebanyak 3,6 dengan kriteria sangat terampil.
Pada siklus 2 ini rata-rata skor keterampilan prosedural siswa yang diperoleh yaitu 3,8, hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus II ini hasil rata-rata yang diperoleh meningkat dari siklus pertama yaitu sebanyak 0,2.
Dari data tersebut, maka dapat diamati bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan keterampilan prosedural siswa dalam menyelesaikan langkah- langkah pemecahan masalah. Model pengejaran langsung memiliki fase fase yang dapat mendukung untuk membiasakan siswa dalam berlatih melakukan penyelesaian soal-soal mengunakan langkah-langkah pemecahan masalah. Diantaranya pada fase 2 guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan terkait materi pembelajaran, guru memberikan
contoh penerapan materi dalam soal essay dengan penyelelesaian menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah, sedangkan pada fase 3 dimana siswa diberikan latihan soal berupa LKS dan mengerjakannya dengan bimbingan guru dan fase 4, dimana siswa diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik terhadap jawaban siswa tersebut. Selain itu, pada pengajaran langsung siswa dapat secara langsung siswa dapat secara langsung belajar melalui penjelasan atau demonstrasi guru untuk mencapai pengetahuan deklaratif dan keterampilan prosedural yang ingin dicapai.
Oleh karena itu berdasarkan data dapat dilihat bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan prosedural siswa dari siklus I ke siklus II, hal ini sejalan dengan penelitian (Amrita, Jamal, Misbah, 2016) dan (Jamal, Misbah, Kamsinah: 2016) bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Serta penelitian yang dilakukan oleh Abrory (2011) bahwa dengan menggunakan model pengajaran langsung efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh (Rizhan, Jamal, Hartini: 2016) bahwa dengan menerapkan model pengajaran langsung dapat
meningkatkan hasil keterampilan proedural siswa.
Kemudian model pengajaran langsung ini juga cocok digunakan untuk meningkatkan keterampilan prosedural siswa seperti pendapat Arends (1997) yang mengemukakan bahwa model pengajaran langsung adalah model pembelajaran yang dirancang khusus agar dapat membantu dalam proses belajar siswa yang mana hal tersebut berkaitan dengan pengetahuan procedural serta pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang mana dengan menggunakan model ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, yaitu selangkah demi selangkah.
Analisis tes hasil belajar siswa
Untuk siklus I dan II ketuntasan klasikal belum mencapai 100%
disebabkan ada beberapa siswa yang kurang fokus dan kurang aktif saat mengikuti proses pembelajaran. Saat menjawab soal yang diberikan siswa masih kurang memahami dan keliru dalam menjawab pertanyaan dan berdampak pada nilai tes yang diperoleh oleh siswa yang bersangkutan.
Dari data tersebut, maka dapat diamati bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Model pengajaran
langsung memiliki fase-fase yang dapat mendukung untuk membiasakan siswa dalam berlatih melakukan penyelesaian soal menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. Diantaranya pada fase 2 setelah guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan terkait materi pembelajaran, guru memberikan contoh penerapan materi dalam soal essay dengan penyelesaian menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah, sedangkan pada fase 3 dimana siswa diberikan latihan soal berupa LKS dan mengerjakannya dengan bimbingan guru dan fase 4, dimana siswa diberikan kesempatan untuk memaparkan penyelesaian soal yang telah dikerjakan dan guru memberikan umpan balik terhadap jawaban siswa tersebut. Kemudian, dan fase 5 dimana siswa diberikan soal yang tersedia di handout berupa soal latihan mandiri untuk latihan lanjutan. Selain itu, pada pengajaran langsung siswa dapat secara langsung belajar melalui penjelasan atau demonstrasi guru baik tentang materi yang diajarkan dan penyelesaian soal untuk mencapai pengetahuam deklaratif dan keterampilan proedural yang ingin dicapai.
Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Sofiyah (2010) dan Walidain dan Evisarviana (2013) yang
dengan menggunakan model pengajaran langsung ini efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
SIMPULAN
Berdasarkan temuan hasil penelitian, diperoleh simpulan bahwa penerapan model pengajaran langsung pada pembelajaran IPA di kelas VIII F SMP Negeri 26 Banjarmasin dapat meningkatkan keterampilan prosedural siswa dengan cara yaitu:
1) Pada fase 1 yaitu menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik dengan menyampaikan informasi berupa salah satu peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan sehingga siswa terfokus untuk meminta siswa untuk meninggalkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran sehingga siap mengikuti proses pembelajaran.
2) Pada fase 2 yaitu
mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan lebih meringkaskan materi pembelajaran agar dapat tersampaikan poin-poin penting dalam materi pembelajaran serta mendemonstrasikan keterampilan prosedural dalam
menjelaskan langkah-langkah pemecahan masalah.
3) Pada fase 3 yaitu membimbing pelatihan dengan cara guru berkeliling membimbing siswa secara berkelompok dengan mengerkan LKS
4) Pada fase 4 yaitu mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik dengan meminta salah satu siswa untuk menyajikan jawaban LKS dipapan tulis dan meminta siswa dalam kelompok lainnya untuk menanggapi kemudian guru memberikan umpan balik terhadap jawaban siswa tersebut.
5) Pada fase 5 yaitu memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan dengan meminta siswa mengerjakan latihan mandiri yang terdapat dalam handout secara mandiri.
Hal ini didukung temuan penelitian yaitu sebagai berikut:
1) Keterlaksanaan RPP model pengajaran langsung meningkat untuk semua aspek penilaian dari skor rata-rata yang didapat pada siklus I sebanyak 3,67 menjadi 3,9 pada siklus II dengan kriteria sangat baik.
2) Keterampilan prosedural siswa dalam menjalankan langkah-langkah
pemecahan masalah meningkat sebanyak 3,3% dari siklus I sebanyak 90,1% menjadi 93,4%.
3) Peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pengajaran langsung meningkat karena ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus I sebesar 62,07% (tidak tuntas) dan pada siklus II sebesar 86,7% (tuntas).
DAFTAR PUSTAKA
Abrory, M., & Kartowagiran, B. (2015).
Evaluasi Implementasi kurikulum 2013 pada pembelajaran matematika bertempat SMP Negeri kelas Vii di Kabupaten Sleman. Jurnal Evaluasi Pendidikan, 2(1), 50-59.
Amrita, P. D., Jamal, M. A., & Misbah, M. M. (2016). Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Melalui Model Pengajaran Langsung Pada Pembelajaran Fisika Di Kelas X Ms 4 Sma Negeri 2 Banjarmasin. Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 4(3), 304-316.
Arikunto, S. Dkk. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.Bumi Aksara
Depdiknas. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Tersedia pada
http://www.unpad.ac.id/wp- content/uploads/2012/10/UU20- 2003-Sisdiknas.pdf. Diakses, 20 Februari 2015
Fathurrohman, M. (2015). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta:
Ar-Ruzz Media.
Jamal, M. A. Misbah, Kamsinah, D. L (2016). Meningkatkan Hasil Belajar Dan Keterampilan Prosedural Siswa Melalui Model Pengajaran Langsung Pada Pembelajaran Fisika Di Kelas X 3 Sma Negeri 10 Banjarmasin.
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 4(2), 176-185.
Polya. G. (1992). How to Solve It. New Jersey: Princenton University Press
Pramita, C. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Langsung Dengan
Pendekatan Realistic
Mathematics Education (RME) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Di Kelas VII6 SMP Negeri 11 Pekanbaru (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Rizhan, M, Jamal, M. A. Hartini, S (2016). Meningkatkan Hasil Belajar Dan Keterampilan Prosedural Siswa Melalui Model Pengajaran Langsung Pada Pembelajaran Fisika Di Kelas X 3 Sma Negeri 10 Banjarmasin.
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 4(2), 176-185.
Rosmalina, R., Rahmatan, H., &
Muhibbuddin, M. (2016). Model Pembelajaran Direct Instructions Berbantuan Multimedia Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Struktur Dan
Fungsi Jaringan Tumbuhan.
Jurnal Edubio Tropika, 4(1).
Sakti, I., Yuniar Mega, P., & Eko, R.
(2012). Pengaruh model pengajaran langsung (Direct Instruction) menggunakan media animasi berbasis macromedia flash terhadap pemahaman konsep fisika dan minat belajar siswa di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. EXACTA, 10(1), 1-10.
Sari, E., Sakti, I., & Koto, I. (2014).
Penerapan Model Pembelajaran Langsung (DI) Berbantuan Media
Audio Visual Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa VIIa SMPN 17 Bengkulu
Pada Pokok Bahasan
Perpindahan Kalor (Doctoral dissertation, Universitas Bengkulu).
Sofiyah, Hertanti, E, Zulfaini. (2010).
Pengaruh Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction) terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa. Jakarta:Universitas Islam Negeri. Jurnal Pendidikan
Walidain, B & Evisarviana. (2013).
Pengaruh Model Pembelajaran Direct Instruction (Pembelajaran Langsung)Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Siswa di SMPN 1 Indrapuri. Penelitian. Universitas Serambi Mekkah. Banda Aceh.
Tidak Dipublikasikan. (Jurnal Pendidikan dan Serambi Ilmu) Widoyoko, P. E. (2015). Evaluasi
Program Pembelajaran. Cirebon:
Pustaka Pelajar