HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Wilayah Penelitian Karakteristik Biofisik
Jenis Tanah. Jenis tanah pada lima DAS di Propinsi Aceh terdiri dari jenis tanah Aluvial, Andosol, Litosol, Latosol Organosol dan Regosol. Jenis tanah pada lima DAS di Propinsi Aceh ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis tanah pada lima DAS di Propinsi Aceh
NO Nama DAS Jenis Tanah
1 Aih Tripe Aluvial, andosol, litosol, latosol dan organosol.
2 Krueng Aceh Aluvial, andosol, litosol, latosol, organosol dan regosol.
3 Lawe Alas Ultisol, entisol, inceptisol, histosol, spodosol 4 Krueng Pase Aluvial, andosol, litosol, latosol dan organosol.
5 Krueng Peusangan Aluvial, andosol, litosol, latosol organosol dan regosol.
Jenis tanah alluvial terbentuk dari sedimen sungai yang mengendap, jenis tanah andosol terbentuk dari bahan vulkanik, jenis tanah litosol terbentuk dari batuan keras yang belum mengalami pelapukan secara sempurna, jenis tanah latosol terbentuk dari bahan vulkanik yang telah mengalami pelapukan intensif, sedangkan jenis tanah organosol (tanah gambut) berasal dari bahan induk organic seperti hutan rawa dan rumput rawa.
Penutupan Lahan. Penutupan lahan pada lima DAS di Propinsi Aceh terdiri dari hutan primer, hutan sekunder, hutan lindung, hutan produksi, kebun campuran, lahan terbuka, permukiman dan lain-lain. Tabel 4 menampilkan luas penutup / penggunaan lahan pada lima DAS di Propinsi Aceh.
Tabel 4 Luas penutup / penggunaan lahan pada lima DAS di Propinsi Aceh
Aih Tripe Krueng Aceh Lawe Alas Krueng Pase Krueng Peusangan
Tahun 2006 Tahun 2005 Tahun 2002 Tahun 2005 Tahun 2005
(Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha)
1 Awan - - - - 2,568.61
2 Bandara - 177.35 - 41.49 -
3 Tambak - 998.68 - -
4 Hutan Lahan Kering Primer - 79,140.58 - 20,397.21 19,328.51 5 Hutan Lahan Kering Sekunder - 20,631.64 8,087.16 102,065.30
6 Hutan Lindung 42,082.00 - 37,000.00 - -
7 Hutan Produksi 3,422.00 - 7,145.00 - 602.59
8 Hutan Produksi Terbatas 1,126.00 - 8,505.50 - -
9 Kebun Campuran 27,878.00 1,667.45 - 1,842.63 108,828.68 10 Lahan Terbuka 6,217.00 11,091.78 11,000.00 4,779.546 15,990.37 11 Permukiman 203.00 6,396.69 8,561.00 919.51 2,613.22 12 Pertanian Lahan Kering Campur Semak - 53,683.41 - 3,816.53 12,694.17 13 Sawah 5,438.00 - 6,600.00 9,980.57 8,234.25 14 Semak Belukar 18,102.00 31,058.67 - 3,776.90 13,027.89
15 Tambang - - - 460.46 4,649.19
16 semak Belukar Rawa 9,335.90 - - - 118.61
17 Tubuh Air 10.00 2,894.14 - 10.00 6358.72
113,813.90
207,740.39 78,811.50 54,112.00 297,080.10
No Penutup / Penggunan Lahan
Luas DAS (Ha)
Curah Hujan. Curah hujan merupakan penentu utama produksi air DAS, berdasarkan hasil pengukuran di lokasi penelitian dan hasil pengumpulan data dari Dinas Sumberdaya Air Propinsi Aceh serta BMG Blang Bintang, diperoleh data curah hujan rata-rata pada DAS Aih Tripe sebesar 1725 mm/tahun, DAS Krueng Aceh 1357 mm/tahun, DAS Lawe Alas 1978 mm/tahun, DAS Krueng Pase 1490 mm/tahun dan DAS Peusangan 1005 mm/tahun. Data curah hujan pada lima DAS di lokasi penelitian, disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Curah hujan tahunan pada lima DAS di Propinsi Aceh
No. Nama DAS Curah Hujan
Rata-rata
(mm/tahun)
1 Aih Tripe 1725
2 Krueng Aceh 1357
3 Lawe Alas 1978
4 Krueng Pase 1490
5 Peusangan 1005
Sumber : Dinas Sumberdaya Air Propinsi Aceh dan BMG Blang Bintang
Karakteristik Geomorfologi DAS. Berdasarkan karakteristik geomorfologi, DAS Aih Tripe memiliki luas sekitar 1.138 km2 dan mempunyai bentuk yang memanjang dengan Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,77, DAS Aih Tripe memiliki keliling (perimeter) sekitar 331,41 km, panjang sungai utama sekitar 167,16 km, dan total panjang jaringan sungai/drainase sekitar 166.026,67 km. DAS Krueng Aceh, yang memiliki luas 2.077,4 km2 mempunyai bentuk yang memanjang yang dicirikan oleh Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,63. DAS Lawe Alas yang memiliki luas sekitar 788 km2 juga mempunyai bentuk yang memanjang dengan Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,62. DAS Krueng Aceh memiliki keliling (perimeter) sekitar 223,79 km, panjang sungai utama sekitar 95,79 km, dan total panjang jaringan sungai/drainase sekitar 47.927,27 km DAS Lawe Alas memiliki keliling (perimeter) sekitar 248,82 km, panjang sungai utama sekitar 113,63 km, dan total panjang jaringan sungai/drainase sekitar 43.921,42 km. DAS Krueng Pase yang memiliki luas sekitar 541 km2 juga mempunyai bentuk yang memanjang dengan Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,37. Untuk DAS Krueng Peusangan yang memiliki luas sekitar 2.971 km2
DAS Aih Tripe memiliki pola aliran dendritik dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) masing-masing sekitar 4,59; 2,36; dan 4,82, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 59,43 km/km
mempunyai bentuk yang memanjang dengan Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,72. DAS Krueng Pase memiliki keliling (perimeter) sekitar 113,06 km, panjang sungai utama sekitar 55,69 km. DAS Krueng Peusangan memiliki keliling (perimeter) sekitar 285,41 km, panjang sungai utama sekitar 140,77 km, dan total panjang jaringan sungai/drainase sekitar 104.068,88 km. Menurut Chow (1964) bahwa Indeks Gravelius suatu DAS = 1 merupakan DAS yang berbentuk bulat, dan bila Indeks Graveliusnya sekitar 1,15 – 1,20 maka DAS tersebut berbentuk persegi, serta bila DAS tersebut memiliki Indeks Gravelius > 1,20 maka DAS berbentuk memanjang. Karakteristik Geometrik pada 5 (lima) DAS di Propinsi Aceh di tampilkan pada Tabel 6.
2. DAS Krueng Aceh memiliki pola aliran dendritik (berasal dari kata dendron yang berarti cabang pohon) dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) menurut Hukum Horton masing-masing sekitar 3,88; 1,91;
dan 3,27, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 31,82 km/km2. DAS
Lawe Alas juga memiliki pola aliran dendritik dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) masing-masing sekitar 4,01; 1,77; dan 2,85, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 23,51 km/km2
Nama DAS
.
Tabel 6 Karakteristik Geometrik pada lima DAS di Propinsi Aceh
Luas (km2
Keliling (km) )
Panjang Sungai Utama
(km)
Panjang Tot. Jar.
Sungai (km)
Indeks Gravelius
(KG) Aih Tripe
Krueng Aceh
1.138 2.077
331,41 223,79
167,16 95,79
166.026,67 47.927,27
1,77 1,63 Lawe Alas
Krueng Pase Peusangan
788 541 2.971
248,82 113,06 285,41
113,63 55,69 140,77
43.921,42 6.322,75 104.068,88
1,62 1,37 1,72
DAS Krueng Pase juga memiliki pola aliran dendritik dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) masing-masing sekitar 3,99; 1,67; dan 2,55, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 11,68 km/km2. DAS Krueng Peusangan memiliki pola aliran dendritik dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata- rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) masing-masing sekitar 4,13; 2,26; dan 4,47, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 47,52 km/km2
Nama DAS/Sub DAS
. Menurut Schumm (1956: dalam Rodriguez-Itubo dan Valdes, 1979) bahwa rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata-rata luas DAS/Sub DAS secara normal masing-masing berkisar antara 3 – 5 untuk Rb, 1,5 – 3,5 untuk RL, dan 3 – 6 untuk RA. Karakteristik morfometrik pada 5 (lima) DAS di Propinsi Aceh ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7 Karakteristik morfometrik pada lima DAS di Propinsi Aceh
Bentuk DAS/Sub
DAS
Tipe Jaringan
Sungai
Hukum Horton Kerapatan Jaringan Drainase (km/Km2) Rb RL RA
Aih Tripe Memanjang Dendritik 4,59 2,36 4,82 59,43 Krueng Aceh Memanjang Dendritik 3,88 1,91 3,27 31,82 Lawe Alas Memanjang Dendritik 4,01 1,77 2,85 23,51
Krueng Pase Memanjang Dendritik 3,99 1,67 2,55 11,68
Krueng Peusangan Memanjang Dendritik 4,13 2,26 4,47 47,52 Keterangan : Rb = rasio percabangan sungai, RL = rasio panjang sungai, dan RA =
rasio luas DAS/Sub DAS
Orde sungai maksimum (menurut klasifikasi Strahler) pada DAS Aih Tripe adalah 6, DAS Krueng Aceh adalah 6, DAS Lawe Alas memiliki orde sungai maksimum 6, DAS Krueng Pase memiliki orde sungai 5 dan DAS Krueng Peusangan memiliki orde sungai maksimum 7, Orde sungai dan rata-rata panjang jaringan drainase pada lima DAS di Propinsi Aceh ditampilkan pada Tabel 8 berikut.
Tabel 8 Orde sungai dan rata-rata panjang jaringan drainase pada lima DAS di Propinsi Aceh
No. Nama DAS Orde Sungai
1. Aih Tripe 6
2. Krueng Aceh 6
3. Lawe Alas 6
4. Krueng Pase 5
5. Krueng Peusangan 7
DAS Aih Tripe
Variasi Suhu Udara, Hujan dan Produksi Air DAS. Selama periode tahun 2006, data suhu udara, hujan, dan produksi air dalam interval harian yang terekam oleh stasiun AWLR di outlet DAS Aih Tripe adalah data antara tanggal 17 Januari 2006 hingga 16 Maret 2006 dan antara 25 Juni 2006 hingga 30 Oktober 2006.
Untuk dua periode ini, data produksi air hanya valid untuk periode 25 Juni 2006 hingga 30 Oktober 2006.
Kekosongan data yang terjadi antara bulan April dan Mei terjadi akibat keterlambatan pengambilan kaset sehingga data yang sudah terekam, secara otomatis akan terhapus oleh data terbaru akibat kapasitas maksimum kaset untuk menyimpan data telah terlampaui. Sedangkan data produksi air yang tidak valid selama periode 17 Januari 2006 – 16 Maret 2006, terjadi akibat ketidaksempurnaan penempatan kaset di dalam interface sebagai penghubung antara kaset dengan data logger, menyebabkan pemindahan data dari data logger
kedalam kaset tidak terjadi secara sempurna. Adanya koneksi yang tidak sempurna tersebut, menyebabkan data produksi air interval 6 menitan selama periode 25 Juni 2006 – 30 Oktober 2006, valid hanya untuk peride 30 September – 30 Oktober 2006. Untuk mengatasi masalah teknis tersebut, perbaikan stasiun AWLR di DAS Aih Tripe telah dilakukan oleh tenaga ahli dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Badan Litbang Pertanian selama bulan Agustus 2006.
Untuk dapat menampilkan data suhu udara, hujan, dan produksi air selama periode satu siklus hidrologi (1 tahun), diperlukan transfer data dari format CIMSTA (ekstensi ACQ) kedalam format EXCELL (ekstensi XLS), dikarenakan perangkat lunak CIMSTA tidak memiliki fasilitas menampilkan data untuk periode sangat panjang, disamping tidak memiliki fasilitas untuk mengkonversi data HO (jarak sensor AWLR – muka air, dalam satuan mm) yang terekam oleh data logger menjadi data (Q, dalam satuan m3/s). Gambar 14 menyajikan grafik variasi harian suhu udara selama periode 25 Juni 2006 hingga 30 Oktober 2006 di DAS Aih Tripe.
Suhu udara rata-rata harian selama periode ini sebesar 23.1 oC berkisar antara 21.0 oC hingga 25.6 oC, suhu udara minimum rata-rata sebesar 19.5 oC berkisar antara 14.7 oC hingga 22.0 oC, sedangkan suhu udara maksimum rata- rata sebesar 28.8 oC berkisar antara 22.6 oC hingga 31.7 oC.
Gambar 15 menunjukkan variasi debit DAS Aih Tripe periode 17 Januari 2006 – 16 Maret 2006, yang mengilustrasikan data tidak valid akibat kesalahan teknis pengelolaan stasiun (koneksi yang tidak sempurna antara kaset dengan data logger via interface). Pada Gambar ini, terlihat variasi debit rata-rata harian dan debit maksimum harian menunjukan pola abnormal, ditunjukkan oleh produksi air naik dan turun secara ekstrim akan tetapi stabil pada posisi nilai maksimum.
Suhu udara rata-rata harian selama periode ini sebesar 23.1 oC berkisar antara 21.0 oC hingga 25.6 oC, suhu udara minimum rata-rata sebesar 19.5 oC berkisar antara 14.7 oC hingga 22.0 oC, sedangkan suhu udara maksimum rata- rata sebesar 28.8 oC berkisar antara 22.6 oC hingga 31.7 oC.
SUHU UDARA HARIAN DAS AIH TRIPE
PERIODE 25 JUNI 2006 - 30 OKTOBER 2006
0 5 10 15 20 25 30 35
17-Jun-06 22-Jun-06 27-Jun-06 2-Jul-06 7-Jul-06 12-Jul-06 17-Jul-06 22-Jul-06 27-Jul-06 1-Aug-06 6-Aug-06 11-Aug-06 16-Aug-06 21-Aug-06 26-Aug-06 31-Aug-06 5-Sep-06 10-Sep-06 15-Sep-06 20-Sep-06 25-Sep-06 30-Sep-06 5-Oct-06 10-Oct-06 15-Oct-06 20-Oct-06 25-Oct-06 30-Oct-06 4-Nov-06 9-Nov-06
Tanggal Suhu Udara (oC)
Maksimum Rata-rata Minimum
CURAH HUJAN DAN DEBIT HARIAN SUNGAI AIK TRIPE
PERIODE 17 JANUARI 2006 - 16 MARET 2006
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
17-Jan-06 20-Jan-06 23-Jan-06 26-Jan-06 29-Jan-06 1-Feb-06 4-Feb-06 7-Feb-06 11-Feb-06 14-Feb-06 17-Feb-06 20-Feb-06 23-Feb-06 26-Feb-06 1-Mar-06 4-Mar-06 7-Mar-06 11-Mar-06 14-Mar-06
Tanggal Debit (m3 /s)
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit Maksimum Debit Rataan Debit Minimum
Gambar 14 Suhu udara harian DAS Aih Tripe periode 25 Juni 2006 – 30 Oktober 2006.
Gambar 15 Ilustrasi data tidak valid, selama periode 17 Januari – 16 Maret 2006 Curah Hujan dan Debit Harian DAS Aih Tripe
CURAH HUJAN DAN DEBIT HARIAN SUNGAI AIK TRIPE
PERIODE 25 JUNI 2006 - 30 OKTOBER 2006
0 20 40 60 80 100 120
25-Jun-06 28-Jun-06 2-Jul-06 5-Jul-06 8-Jul-06 11-Jul-06 14-Jul-06 17-Jul-06 20-Jul-06 23-Jul-06 4-Aug-06 7-Aug-06 10-Aug-06 13-Aug-06 16-Aug-06 19-Aug-06 22-Aug-06 25-Aug-06 28-Aug-06 31-Aug-06 3-Sep-06 6-Sep-06 9-Sep-06 12-Sep-06 15-Sep-06 18-Sep-06 22-Sep-06 25-Sep-06 28-Sep-06 1-Oct-06 4-Oct-06 7-Oct-06 10-Oct-06 13-Oct-06 16-Oct-06 20-Oct-06 23-Oct-06 26-Oct-06 29-Oct-06 Tanggal
Debit (m3/s)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit Maksimum Debit Rataan Debit Minimum
CURAH HUJAN DAN DEBIT SESAAT SUNGAI AIK TRIPE
PERIODE 30 SEPTEMBER 2006 - 30 OKTOBER 2006
0 20 40 60 80 100 120
9/30/06 0:00
10/2/06 10:00
10/4/06 20:00
10/7/06 6:00
10/9/06 16:00
10/12/06 2:00
10/14/06 12:00
10/16/06 22:00
10/20/06 8:00
10/22/06 18:00
10/25/06 4:00
10/27/06 14:00
10/30/06 0:00
Waktu Debit (m3/s)
0
5
10
15
20
25
30
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit
Gambar 16 Curah hujan dan debit harian DAS Aih Tripe periode 25 Juni – 30 Oktober 2006.
Gambar 16 menunjukkan curah hujan dan debit harian periode 25 Juni 2006 – 30 Oktober 2006 di DAS Aih Tripe. debit rata-rata harian selama periode ini sebesar 34.1 m3/s, berkisar antara 9.9 m3/s hingga 78.6 m3/s. Debit maksimum harian rata rata sebesar 40.8 m3/s, berkisar antara 12.6 m3/s hingga 100.2 m3/s, sedangkan debit minimum harian rata-rata sebesar 27.6 m3/s, berkisar antara 7.2 m3/s hingga 57.2 m3/s
Gambar 17 menunjukkan curah hujan dan debit sesaat periode 30 September 2006 – 30 Oktober 2006 di DAS Aih Tripe. Debit rata-rata sesaat selama periode ini sebesar 45.1 m3/s, berkisar antara 24.3 m3/s hingga 99.7 m3/s.
Gambar 17 Curah hujan dan debit sesaat DAS Aih Tripe periode 25 Juni – 30 Oktober 2006
Curah Hujan dan Debit Harian DAS Aih Tripe
Curah Hujan dan Debit Sesaat DAS Aih Tripe
DAS Krueng Aceh
Suhu Udara, Hujan dan Debit DAS Krueng Aceh. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Dinas Pertanian Propinsi Aceh dan BMG Blang Bintang yang dilakukan oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Pusat Penelitan dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, didapatkan data iklim, hujan, dan debit dari beberapa stasiun seperti tercantum dalam Tabel 9. Data iklim harian mencakup curah hujan, suhu, kelembaban, radiasi, serta kecepatan dan arah angin; data curah hujan harian dan bulanan maupun data debit harian yang dikumpulkan selanjutnya di-entry dalam sistem database iklim dan hidrologi yang sudah dikembangkan oleh Laboratorium Numerik Sistem Informasi Spasial Agroklimat dan Hidrologi (Laboratorium NSISAH) Balitklimat.
Deskripsi Wilayah dan Bentuk lahan DAS Krueng Aceh. DAS Krueng Aceh merupakan salah satu dari 15 DAS di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Luas wilayah DAS Krueng Aceh sekitar 270.740,39 Ha dan berada pada 3 wilayah administrasi, yaitu Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie. Topografi wilayah ini bervariasi, dari datar sampai curam. Ketinggian mulai dari 0 – 1709,8 m di atas permukaan laut (dari pantai sampai puncak Gunung Seulawah Agam).
Bentuk lahan di wilayah daratan Pulau Sumatera dalam areal DAS Krueng Aceh didominasi oleh dataran rendah yang terdiri atas daerah cekungan, daerah dataran aluvial, dan daerah dataran. Bentuk lahan ini berada diantara bentuk lahan yang lain seperti bukit bergelombang, pegunungan dan perbukitan. Beberapa hal yang penting dikemukakan adalah:
− Daerah DAS Krueng Aceh didominasi oleh daerah dataran , kemiringan lereng 0-8 %), berada di daerah tengah memanjang ke hilir.
− Perbukitan dan pegunungan dengan luas hampir sama mengapit dataran di sebelah hulu.
− Bukit bergelombang seluas 17 % wilayah berada di pinggir sebelah hilir.
Kerapatan DAS berkisar antara 5,3 hingga 10,3 m/ha, seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 10 dan Tabel 11.
Tabel 9 Ketersediaan data stasiun iklim, hujan dan debit di DAS Krueng Aceh
Nomor
Stasiun Nama Stasiun
Koordinat
Kabupaten Tahun
Pengamatan Keterangan Lintang
Utara
Bujur Timur
Blangbintang 05o 31' 00" 95o 51' 00" Aceh Besar 1980 – 2003 Data iklim harian Kampung Siron 05o 23' 00" 95o 24' 00" Aceh Besar 1981-82,1993 Data hujan Jam-jaman Kampung Lheu 05o 25' 14" 95o 27' 58" Aceh Besar 1979 – 2000 Data hujan Jam-jaman
Pemancar - - Aceh Besar 1979 – 2000 Data hujan Jam-jaman
Kampung Darang 05o 25' 14" 95o 27' 18" Aceh Besar 1979 – 1989 Data hujan harian
Kampung Siron - - Aceh Besar 1990 – 2003 Data hujan harian
107 Kuta Rajah 05o 35' 00" 95o 19' 00" Banda Aceh 1879 – 1978 Data hujan bulanan 106a Peukan Ateu 05o 32' 00" 95o 23' 00" Aceh Besar 1920 – 1941 Data hujan bulanan 106b Ulee Kareng 05o 25' 00" 95o 23' 00" Aceh Besar 1920 – 1941 Data hujan bulanan 106c Peukan Bada 05o 32' 00" 96o 16' 00" Aceh Besar 1923 – 1941 Data hujan bulanan 106d Sibreh 05o 28' 00" 95o 23' 00" Aceh Besar 1929 – 1941 Data hujan bulanan 107b Cot Paya 05o 37' 00" 95o 25' 00" Aceh Besar 1921 – 1941 Data hujan bulanan 107d Samahani 05o 27' 00" 95o 24' 00" Aceh Besar 1954 – 1985 Data hujan bulanan 111 Lam Teuba 05o 30' 00" 95o 27' 00" Aceh Besar 1914 – 1941 Data hujan bulanan 111a Indrapuri 04o 55' 00" 96o 07' 00" Aceh Besar 1921 – 1976 Data hujan bulanan
111c Lamsie - - Aceh Besar 1931 – 1941 Data hujan bulanan
112 Seulimeum 05o 22' 00" 95o 34' 00" Aceh Besar 1914 – 1954 Data hujan bulanan
112a Sare Perti - - Aceh Besar 1952 – 1963 Data hujan bulanan
P1 Krueng Jreu 05o 22' 25" 95o 25' 50" Aceh Besar 1975 – 1979 Data hujan bulanan P2 Indrapuri 05o 24' 20" 95o 26' 20" Aceh Besar 1975 – 1978 Data hujan bulanan P3 Seulimeum 05o 12' 00" 95o 34' 00" Aceh Besar 1975 – 1985 Data hujan bulanan P8 Kampung Siron 05o 21' 25" 95o 24' 40" Aceh Besar 1978 – 1987 Data hujan bulanan Kampung Jreu 05o 22' 30" 95o 26' 24" Aceh Besar 82-84, 90-03 Data debit harian Kampung Buga 05o 21' 30" 95o 35' 26" Aceh Besar 72-80, 90-03 Data debit harian
Lampisang
Tunong 05o 28' 20" 95o 23' 46" Aceh Besar 81-84, 90-00 Data debit harian Kampung Darang 05o 25' 40" 95o 26' 35" Aceh Besar 1984 – 2003 Data debit harian Kampung Siron 05o 21' 30" 95o 29' 40" Aceh Besar 1990 – 2003 Data debit harian
SuSummbbeerr:: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Pusat Penelitan danPengembangan Tanah dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian (2004).
Penutupan Lahan DAS Krueng Aceh
Citra yang telah diolah hasil akuisisi tanggal 3 Juli 1994 dan 14 Mei 2002.
Citra cukup representatif dari segi persentase awan dan tanggal perekaman.
Kedua citra relatif bersih karena liputan awan < 5%. Tanggal perekaman citra sama-sama pada musim kering, berbeda 1,5 bulan. Citra tahun 2002 direkam pada awal musim kering, sehingga kenampakan air lebih banyak daripada citra tahun 1994. Klasifikasi penutup lahan dilakukan dengan menggunakan interpretasi
visual terhadap tampilan kombinasi band 5, 4, 2, dan 8, dengan memaksimalkan kenampakan melalui pengaturan histogram / LUT.
Tabel 10 Karakteristik geometrik DAS/sub DAS Krueng Aceh
Nama DAS / sub DAS
Keliling (km)
Panjang Sungai Utama (km)
Indeks Gravelius
Persegi Ekuivalen Indeks Kemiring-
an Global m/km
Beda Tinggi Spesifik
(m) L (km) l (km)
Krueng Kemireu 70.4 30.1 1.3 27.4 8.0 25.9 1.7
Krueng Jreu 64.2 29.6 1.4 25.5 6.8 38.0 2.9
Krueng Buga 74.8 58.1 1.4 30.6 7.1 15.0 1.0
Kruen Aceh
(Kampung Darang) 184.1 93.4 1.4 75.6 17.1 13.0 0.4
Krueng Aceh
(Lampisang Tunong) 141.3 76.2 1.6 60.3 10.9 16.3 0.6
Hasil klasifikasi penutup lahan citra Landsat tahun 1994 dan tahun 2002 masing-masing disajikan pada Gambar 18 dan Gambar 19, sedangkan peta perubahan penutup lahan disajikan pada Gambar 25.
Tabel 11 Karakteristik Morfometrik DAS/sub DAS Krueng Aceh
Nama DAS/sub DAS Tipe Jaringan
Sungai
Orde Sungai Maksimum
Kerapatan Jaringan Sungai (m/ha)
Krueng Kemireu Dendritik 4.0 8.3
Krueng Jreu Dendritik 3.0 5.3
Krueng Buga Dendritik 4.0 10.3
Krueng Aceh (Kampung Darang) Dendritik 5.0 7.8
Krueng Aceh (Lampisang
Tunong) Dendritik 5.0 8.2
Gambar 18 Citra landsat terkoreksi DAS Krueng Aceh, 3 Juli 1994
Penutup lahan yang perlu diperhatikan adalah semak/rumput yang cukup luas. Lahan seperti ini memikili kapasitas infiltrasi yang rendah dan potensi erosi yang tinggi, karena vegetasi penutupnya jarang sehingga butiran air hujan akan langsung menumbuk agregat tanah.
Gambar 19 Citra landsat terkoreksi DAS Krueng Aceh, 14 Mei 2002
Hasil interpretasi citra Landsat tahun 2005 menunjukkan penutup lahan terluas berupa hutan (sekitar 40% dari luas total), dengan distribusi hampir merata di daerah pinggiran, melingkupi penutup lahan yang lain. Sebagai kawasan DAS, proporsi ini masih tergolong bagus, bersama dengan kelas penutup lahan lain yang juga memiliki kapasitas infiltrasi potensial tinggi (belukar dan kebun campuran berjumlah sekitar 59,5%. Luas lahan terbangun (bandara dan permukiman) memiliki proporsi yang kecil, dengan jumlah 2,3%.
Gambar 20 Peta Penutup Lahan SWP DAS Krueng Aceh Tahun 1994
Hasil interpretasi citra Landsat tahun 2002 menunjukkan penutup lahan terluas masih berupa hutan (sekitar 47,6% dari luas total). Sebagai kawasan DAS, proporsi ini masih tergolong bagus, tetapi mengalami penurunan luas. Secara proporsi, penurunan luas hutan hanya sebesar 0,9% dari luas lahan. Nominal perubahan ini seluas 1.837 Ha selama rentang waktu 8 tahun, atau laju perubahan rata-rata sebesar 229,6 Ha/tahun. Laju perubahan ini jauh di bawah angka laju perubahan luas hutan secara nasional, baik hasil temuan pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat
S E L A T M A L A K
A
PUSAT DATA PENGINDERAAN JAUH LEM BAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL Jl. Lapan No. 70 Pek ayon Pasar Rebo Jak arta Tim ur 13710
Telp. (021) 8710786, 8721870, Fax. (021) 8717715 Http:// www .lapanrs.com Hutan
Belukar Semak/Rumput Mangrove Sungai Jalan Batas SWP DAS Garis Pantai
Kebun Campur Tegalan Sawah Perm ukim an Tam bak Setu Bandara Laut LEGENDA:
5°15'00" LU 5°15'00"
5°30'00" 5°30'00"
5°45'00" 5°45'00"
94°60'00"
95°15'00" BT 95°15'00"
95°30'00"
95°30'00"
95°45'00"
95°45'00"
60000
60000 mT
80000
80000
100000
100000
120000
120000
140000
140000
560000 mU 560000
580000 580000
600000 600000
620000 620000
640000 640000
Daerah yang dipetakan Inzet Peta
DAS P. WEH
DAS KRUENG BARO
DAS SABE GEUPE
DAS TEUNOM WOYLA P. BEUREUEH
P. WEH
P. DEUDAP P. KEUREUSE
0 5 10 15Km
B T
S U
PETA PENUTUP LAHAN SWP DAS KRUENG ACEH PROVINSI NAD TAHUN 1994
Penggunaan Lahan Luas (Ha)
Bandara 127.444
Belukar 13751.040
Hutan 100649.310
Kebun Campur 10268.943
Mangrove 141.063
Perm ukim an 4577.752
Sawah 21104.422
Semak/Rumput 51257.301
Situ 6.796
Sungai 1347.709
Tam bak 2495.995
Tegalan 1929.741
SUMBER:
1. Interpretasi Citra Landsat-5 TM Path/Row 131/056 Tanggal Akuisisi 3 Juli 1994
Gambar 21 Peta penutup lahan SWP DAS Krueng Aceh tahun 2002
.
Sebagai perbandingan, luas hutan di Propinsi DI Aceh pada tahun 1985 seluas 3.882.300 Ha, kemudian tahun 1991 (Dephut) menjadi 3.775.140 Ha dan tahun 1997 (Dephutbun) seluas 3.611.953 Ha. Dari data ini laju perubahan hutan sebesar 17.860 Ha/tahun dan 27.198 Ha/tahun. Data dari Forest Watch Indonesia dan Washington DC Global Forest Watch (FWI/GFW, 2001) menyebutkan pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun, kemudian menjadi sekitar 1,7 juta ha/tahun pada tahun- tahun pertama 1990-an. Selanjutnya disebutkan pula sejak tahun 1996 laju deforestasi tampaknya meningkat lagi menjadi rata-rata 2 juta ha/tahun.
Pengurangan luas terbesar terjadi pada semak/rumput dan hutan.
Perubahan Semak/rumput yang terluas menjadi sawah (2.922 Ha) di daerah pinggir Sungai Kr. Aceh, dan menjadi belukar (1.340 Ha) di perbukitan sebelah timur Kota Banda Aceh. Perubahan hutan terutama menjadi belukar seluas 1.417 Ha di daerah dekat Jantho. Peningkatan luas tertinggi terjadi pada lahan sawah
PETA PENUTUP LAHAN S WP DAS KRUENG ACEH PROVINS I NAD TAHUN 2002
0 5 10 15 Km
U B T
S
Penggunaan Lahan Bandara Belukar Hutan Kebun Campur Mangrove Perm ukim an Sawah Semak/Rumput Situ Sungai Tam bak Tegalan
Luas (Ha) 127.444 15261.951 98811.962 9907.753 134.703 5222.036 23659.727 47780.693 6.796 1347.709 2522.945 2931.744
5°15'00" LU 5°15'00"
5°30'00" 5°30'00"
5°45'00" 5°45'00"
94°60'00"
95°15'00" BT 95°15'00"
95°30'00"
95°30'00"
95°45'00"
95°45'00"
60000
60000 mT
80000
80000
100000
100000
120000
120000
140000
140000
560000 mU 560000
580000 580000
600000 600000
620000 620000
640000 640000
Daerah yang dipetakan Inzet Peta
DAS P. WEH
DAS KRUENG BARO
DAS SABE GEUPE
DAS TEUNOM WOYLA P. BEUREUEH
P. WEH
P. DEUDAP
P. KEUREUSE
Hutan Belukar Semak/Rumput Mangrove Sungai Jalan Batas SWP DAS Garis Pantai
Kebun Campur Tegalan Sawah Perm ukim an Tam bak Setu Bandara Laut LEGEN DA:
PUSAT DATA PENGINDERAAN JAUH LEM BAG A PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL Jl. Lap a n No. 7 0 Pek ayon Pa sa r Re b o Ja k art a Tim ur 13 71 0
Telp . (02 1) 87 1 07 86 , 8 72 1 87 0, Fa x. (0 21 ) 8 71 7 71 5 Ht t p :// www .lap a n rs. co m S E L A T M
A L A K A
1. Interpretasi Citra Landsat-7 ETM+
Path/Row 131/056 Tanggal Akuisisi 14 Mei 2002 2. Uji Lapangan Tanggal Oktober 2004 SUMB ER:
(2.555 Ha), belukar (1.511 Ha), dan tegalan (1.002 Ha).
Gambar 22 Peta perubahan penutup lahan DAS Krueng Aceh tahun 1994 - 2002
Karakterisasi debit dilakukan terhadap data yang terekam di 5 stasiun pengukur debit harian yang dipasang oleh DPMA Bandung, yang selanjutnya pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Data yang terkumpul mencakup data pengamatan debit harian sejak tahun 1980-an. Berdasarkan hasil inventarisasi data, diketahui walaupun data yang terkumpul memiliki periode pencatatan sangat panjang, akan tetapi sangat disayangkan bahwa data-data tersebut tidak ditunjang oleh kualitas data yang memadai. Hal tersebut menyangkut periode pencatatan data yang sering terputus, serta data yang tidak valid yang terlihat secara visual tidak menggambarkan fluktuasi normal tahunan debit aliran sungai seperti yang diilustrasikan data perekaman tahun 2003 di Stasiun Debit Kampung Darang DAS Krueng Aceh, seperti ditampilkan pada Gambar 23.
Bahkan sering data selama satu tahun periode pengamatan, hanya merupakan salinan dari data-data sebelumnya. Sebagai contoh untuk kasus Stasiun Lampisang Tunong, DAS Krueng Aceh, ditemukan bahwa perekaman data debit harian selama tahun 1998 memiliki data yang persis sama dengan data selama tahun 1995. Telah teridentifikasi pula bahwa data selama tahun 1999,
PUSAT DATA PENGINDERAAN JAUH LEM BAG A PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL Jl. Lap a n No. 7 0 Pek ayon Pa sa r Re b o Ja k art a Tim ur 13 71 0
Telp . (02 1) 87 1 07 86 , 8 72 1 87 0, Fa x. (0 21 ) 8 71 7 71 5 Ht t p :// www .lap a n rs. co m SUMB ER:
1. Interpretasi Citra Landsat-5 TM Path/Row 131/056 Tanggal Akuisisi 3 Juli 1994 2. Interpretasi Citra Landsat-7 ETM+
Path/Row 131/056 Tanggal Akuisisi 14 Mei 2002 3. Uji Lapangan Tanggal Oktober 2004 S E L A T M A L A K A
5°15'00" LU 5°15'00"
5°30'00" 5°30'00"
5°45'00" 5°45'00"
94°60'00"
95°15'00" BT 95°15'00"
95°30'00"
95°30'00"
95°45'00"
95°45'00"
60000
60000 mT
80000
80000
100000
100000
120000
120000
140000
140000
560000 mU 560000
580000 580000
600000 600000
620000 620000
640000 640000
Daerah yang dipetakan Inzet Peta
DAS P. WEH
DAS KRUENG BARO
DAS SABE GEUPE
DAS TEUNOM WOYLA P. BEUREUEH
P. WEH
P. DEUDAP
P. KEUREUSE
Sungai Jalan Batas SWP DAS Garis Pantai LEGEN DA:
Hutan - Belukar Hutan - Semak/Rumput Belukar - Kebun Campur Belukar - Permukiman Belukar - Sem ak/Rumput Kebun Campur - Belukar Kebun Campur - Permukiman Kebun Campur - Sawah Kebun Campur - Sem ak/Rumput Kebun Campur - Tegalan Mangrove - Tam bak Sawah - Belukar Sawah - Permukiman Sawah - Tegalan Semak/Rumput - Belukar Semak/Rumput - Permukiman Semak/Rumput - Sawah Semak/Rumput - Tam bak Semak/Rumput - Tegalan Tegalan - Permukiman Laut
Tetap
SKALA 1:500.000
0 5 10 15 Km
U B T
S
PETA PERUB AHAN PENUTUP LAHAN SWP DAS KRUENG ACEH PROVINSI NAD TAHUN 1994- 2002
Perubahan Peng gunaan Lahan Luas (Ha) Belukar - Keb un Camp ur 284.260 Belukar - Permukim an 229.987 Belukar - Sem ak/Rum put 764.543
Hutan - Belukar 1417.092
Hutan - Sem ak/Rum put 461.499 Kebun Cam pur - Belukar 9.076 Kebun Cam pur - Perm ukim an 150.632 Kebun Cam pur - Sawah 145.031 Kebun Cam pur - Semak/Rum put 31.984 Kebun Cam pur - Teg alan 308.726
Mangrove - Tam bak 6.360
Sawah - Belukar 23.696
Sawah - Perm ukim an 197.522
Sawah - Tegalan 210.515
Sem ak/Rump ut 46522.668
Sem ak/Rump ut - Belukar 1339.836 Sem ak/Rump ut - Perm ukim an 66.142 Sem ak/Rump ut - Sawah 2921.903 Sem ak/Rump ut - Tam bak 20.590 Sem ak/Rump ut - Teg alan 400.327 Tegalan - Permukim an 11.347
merupakan salinan data yang terekam di Stasiun Debit Kampung Siron, DAS Krueng Kemireu.
Tabel 15 Stasiun pengukur debit di DAS/sub DAS Krueng Aceh
Nama DAS/Sub DAS
Nama Stasiun
Debit
Desa Kecamatan Posisi Geografi
Krueng Kemireu Kampung Siron
Kampung
Siron Indrapuri 05o 21' 30" LU
95o 29' 40" BT
Krueng Jreu Kampung Jreu
Kampung
Jreu Indrapuri 05o 22' 30" LU 95o 26' 24" BT
Krueng Buga Kampung Buga
Kampung
Buga Seulimeum 05o 21' 30" LU 95o 35' 26" BT
Krueng Aceh Lampisang
Tunong Seulimeum Seulimeum 05o 28' 20" LU 95o 23' 46" BT
Krueng Aceh Kampung Darang
Kampung
Darang Indrapuri 05o 25' 40" LU 95o 26' 35" BT
Gambar 23 Data perekaman Stasiun Kampung Darang periode 2003, menunjukkan fluktuasi debit harian yang tidak normal akibat data yang tidak valid
Pada pencatatan di Stasiun Kampung Darang, Krueng Aceh, teridentifikasi kasus data yang sama antara tahun 1988 dan 1989, antara tahun 1995 dan 1998, serta antara tahun 1997 dan 1999. Sedangkan di Stasiun Kampung Siron, Krueng
Krueng Aceh-Kampung Darang 2003
0 10 20 30 40 50 60
01-Jan-03 31-Jan-03
02-Ma r-03
01- Apr-03
01- May-03
31- May-03
30-Jun-03 30-
Jul-03 29-Aug-03
28-Sep-03 28-
Oct-03 27-Nov-03
27-Dec-03 Tanggal
Debit (m3 /s)
0
50
100
150
200
250
300
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit
Kemireu, teridentifikasi data yang sama untuk tahun 1994 dan 1998 serta tahun 1997 dan 1999. Pada kasus Stasiun Kampung Buga, teridentifikasi data yang sama untuk tahun 1997 dan 1999 serta tahun 1992 dan 1998. Untuk kasus Stasiun Kampung Jreu, DAS Krueng Jreu, masalah yang ada adalah data yang terputus- putus sejak periode pengamatan tahun 1992.
Untuk menghindari kesalahan analisis akibat kualitas data yang tidak valid tersebut, telah dilakukan seleksi data debit harian yang merupakan data perekaman kontinyu selama 1 tahun. Setelah itu, dipilih dua periode data, sebelum tahun 1997 dan sesudah tahun 2000 yang diasumsikan masing-masing merepresentasikan kondisi penggunaan lahan tahun 1994 dan 2002 sesuai dengan tahun dilakukannya analisis alih fungsi lahan.
Berdasarkan kriteria tersebut, data debit harian yang relatif layak dianalisis hanya diwakili oleh DAS Krueng Buga, yaitu periode tahun 1996 dan 2003 seperti ditampilkan pada Gambar 24 dan Gambar 25.
Gambar 24 Debit harian Stasiun Kampung Buga DAS Krueng Buga, periode 1996.
Krueng Boga-Kampung Boga 1996
0 10 20 30 40 50 60 70 80
01-Jan-96 31-Jan-96
01-Ma r-96
31-Ma r-96
30-Apr-96 30-May-96
29-Jun-96 29-Jul-96
28-Aug-96 27-Sep-96
27-Oct-96 26-
Nov-96 26-
Dec-96
Tanggal Debit (m3 /s)
0
50
100
150
200
250
300
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit
Gambar 25 Debit harian Stasiun Kampung Buga dan hujan harian Stasiun
Kampung Siron, DAS Krueng Buga, periode 2003.
DAS Lawe Alas
Deskripsi Wilayah dan Bentuk Lahan DAS Lawe Alas . DAS Lawe Alas hulu yang memiliki luas sekitar 788 km2 (78.811,50 Ha) merupakan DAS yang terletak di tiga wilayah administrasi, yaitu Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues dan Aceh Selatan, Propinsi Aceh. DAS Lawe Alas terletak pada koordinat 03o 56’ 56’’ LU dan 097o 05’ 33’’ BT atau Zona 47 NUTM X = 288226 dan Y = 436742 (upper) sampai 03o 20’ LU dan 097o
Menurut Van Beek (1982) jenis tanah pada DAS Lawe Alas dibagi menjadi 4 bagian yaitu : (1) Pada daerah dengan ketinggian 0 – 500 m ordo tanahnya adalah Ultisol dan Entisol ; (2) Pada daerah dengan ketinggian sampai dengan 1.700 m ordo tanahnya adalah Ultisol dan Inceptisol; (3) Pada daerah dengan ketinggian sampai dengan 2.500 m ordo tanahnya adalah Histosol dan
50’ 33’’ BT atau Zona 47 NUTM X
= 371408 dan Y = 368527 (lower). Secara fisiografis DAS Lawe Alas mempunyai bentuk lahan atau fisiografi yang banyak didominasi oleh daerah perbukitan sampai pegunungan di daerah hulu yakni Gunung Leuser dan Gunung Kemiri (Kabupaten Gayo Lues) dan Gunung Meukek (Kabupaten Aceh Selatan), dan sebagian didominasi fisiografi dataran sampai bergelombang di bagian tengah dan hilir (Kabupaten Aceh Tenggara)
Krueng Boga-Kampung Boga 2003
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
01-Jan-03 31-Jan-03
02-Ma r-03
01-Apr-03 01-May-03
31-May-03 30-Jun-03
30-Jul-03 29-Aug-03
28-Sep-03 28-Oct-03
27-Nov-03 27-Dec-03 Tanggal
Debit (m3 /s)
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Curah Hujan (mm)
Curah Hujan Debit
Spodosol; (4) Pada daerah dengan ketinggian sampai dengan 3.400 m ordo tanahnya adalah Histosol, Spodosol dan Inceptisol. Secara umum kondisi tanah pada DAS Lawe Alas mudah tererosi dengan lapisan tanah (Top Soil) yang mengandung unsur hara kurang dari satu kaki.
Penggunaan lahan pada DAS Lawe Alas Kabupaten Aceh Tenggara terdiri dari sawah, hutan lindung, hutan produksi terbatas, Taman Nasional Gunung Leuser, hutan cadangan (hutan produksi yang dapat dikonversi) dan selebihnya terdiri dari kebun campuran seperti jagung, durian, salak, rambutan, tomat dan lain-lain juga termasuk lahan kering, perkampungan, tegalan serta dan alang- alang. Menurut Unit Manajemen Leuser (1998) jenis vegetasi yang ada pada DAS Lawe Alas umumnya adalah hutan tropis tipe Indo-Melaya Barat. Untuk DAS Lawe Alas, Propinsi Aceh memiliki titik tinggi/ketinggian terendah sekitar 200 – 500 meter diatas permukaan laut (m dpl) yang terletak disekitar bagian hilir dari DAS tersebut (daerah Kutacane) dan memiliki titik tertinggi sekitar 550 – 3400 meter diatas permukaan laut (m dpl) yang terletak di bagian hulu yakni daerah gunung Leuser dan Meukek. Peta Ketinggian dan jaringan sugai DAS Lawe Alas di tunjukkan pada Gambar 26.
Gambar 26 Peta Ketinggian DAS Lawe Alas
DAS Lawe Alas hulu yang memiliki luas sekitar 50.000 km2 juga merupakan DAS yang berukuran besar dan juga mempunyai bentuk yang memanjang dengan Indeks Gravelius (KG) sekitar 1,62. DAS Lawe Alas memiliki keliling (perimeter) sekitar 248,82 km, panjang sungai utama sekitar 113,63 km, dan total panjang jaringan sungai/drainase sekitar 43.921,42 km, serta memiliki panjang dan lebar persegi ekuivalen masing-masing sekitar 108,05 km dan 17,29 km. DAS Lawe Alas juga memiliki pola aliran dendritik dengan rasio percabangan sungai (Rb), rasio rata-rata panjang sungai (RL), dan rasio rata luas DAS/Sub DAS (RA) masing-masing sekitar 4,01; 1,77; dan 2,85, serta memiliki kerapatan jaringan drainase sekitar 23,51 km/km2
DAS Lawe Alas .
DAS Lawe Alas memiliki orde sungai maksimum adalah 6, dimana pada orde sungai ke-1 berjumlah 809 dengan panjang rata-rata jaringan sungai sekitar 54,29 km, orde sungai ke-2 berjumlah 165 dengan panjang rata-rata jaringan sungai sekitar 124,95 km, orde sungai ke-3 berjumlah 39 dengan panjang rata-rata jaringan sungai sekitar 266,36 km, orde sungai ke-4 berjumlah 6 dengan panjang rata-rata jaringan sungai sekitar 1.037,57 km, orde sungai ke-5 berjumlah 2 dengan rata-rata panjang jaringan sungai sekitar 1.884,16 km, orde sungai ke-6 berjumlah 1 dengan panjang jaringan sungai sekitar 443,46 km, Tabel 16 menampilkan orde sungai rata-rata dan panjang jaringan sungai pada DAS Lawe Alas.
Tabel 16 Orde sungai dan rata-rata dan panjang jaringan sungai pada DAS Lawe Alas
OrdeSungai Jumlah Orde Sungai
Rata-rata Panjang Jaringan Sungai (km)
1 809 54,29
2 165 124,95
3 39 266,36
4 6 1.037,57
5 2 1.884,16
6 1 443,46