• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap kehidupan individu tidak akan terlepas dari sebuah tekanan-tekanan maupun tuntutan. Tuntutan pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab besar, tuntuntan untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau tuntutan untuk melakukan tugas diluar kemampuan diri sendiri. Disaat tuntutan tidak sejalan dengan realita, maka akan membuat individu tertekan hingga stress. Stres menurut Kementrian Kesehatan RI didefinisikan sebagai suatu reaksi dari seseorang baik secara fisik/emosional bila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan sesorang untuk menyesuaikan diri (adaptasi). Stressor dapat memberikan pengaruh yang berbeda di tiap individu, dampak sebuah stressor dapat memotivasi, merangsang, dan mendorong orang melampaui batas kemampuan yang mereka yakini (Baqutayan, 2015). .Jumlah stressor yang terlalu banyak dapat menjadi hal yang berbahaya bagi fisik dan mental seseorang, terutama jika tidak diikuti dengan koping/adaptasi diri yang tepat. Stress berlebih dapat menjadi faktor resiko bagi penyakit DM, penyakit jantung, asma, dan depresi (V.J. Madhuri, 2013).

Stres terbagi menjadi 2 jenis, yaitu eustress dan distress. Eustress merupakan stressor yang bersifat positif atau membangun, sedangkan distress merupakan stressor yang bersifat negative dan mengganggu. Saat seorang individu mengalami stres, akan menimbulkan dua apek utama yang terdampak, Pertama adalah aspek fisik, dimana kondisi sesorang bisa menurun hingga mengalami sakit pada organ tubuhnya, seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan. Sedangkan aspek yang kedua adalah aspek psikologi, terdiri atas gejala kognisi, emosi dan tingkah laku. Masingmasing gejala mempengaruhi kondisi psikologis seseorang dan kondisi psikologinya akan menjadi negatif. Seperti penurunan daya ingat, perasaan sedih fan menunda-nunda pekerjaan.

Stres dapat diklasifikasikan menurut faktor pemicunya, yaitu stres fisik-bio, stres sosial, dan stres psikologis. Stres fisik-bio berasal dari penyakit yang sulit sembuh, cacat fisik, penurunan fungsi anggota tubuh, dan lain lain

(2)

Pemicu dari stres sosial, bisa dari kehidupan antar anggota kelurga tidak harmonis, perceraian, perselingkuhan, pekerjaan yang tidak sesuia minat, bising, polusi udara, lingkungan kotor serta bau, dan lain sebagainya. Sedangkan penyebab stres psikologis adalah persepsi, perasaan, emosi, situasi, perilaku dan keputusan hidup yang ada dalam diri individu. Perasaan gagal, kecewa frustasi, berburuk sangka, iri dengi, permusuhan, cemas dan cemburu menjadi cikal bakal stres psikologi. Kemunculan emosi negatif seperti yang disebutkan sebelumnya, menstimulasi aktivitas sistem saraf simpatik dan pengeluaran hormone stres. Jika emosi negatif seperti kecemasan muncul secara menerus tanpa diatasi dengan benar, pada suatu titik bisa mengakibatkan penyakit fisik.

Sumber datangnya stressor pada masing-masing individu tidak sama, contohnya yaitu media social yang menjadi sumber hiburan bagi beberapa kelompok individu bisa saja menjadi sumber stressor bagi beberapa orang. Pengguna media sosial berusaha untuk menjadi terlihat sempurna saat berada di dalamnya, dengan begitu akan banyak orang lain yang berusaha lebih keras untuk berebut menjadi yang paling “sempurna” dalam media sosial. Stressor yang semakin lama semakin banyak akan membawa ke kondisi kesehatan mental yang lebih serius.

Proses interpretatif sebuah stresor berbeda di tiap individu, sehingga tingkat stres di setiap negara juga bisa berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan dan koping individu di tiap negara yang juga berbeda-beda. Menurut survey yang dilakukan oleh Young Men’s Christian Association (YMCA), sekitar 60% remaja Inggris merasa tertekan dikarenakan berusaha untuk terlihat sempurna di media sosial. Hal yang sama berlaku pula di Indonesia, walaupun secara global tingkat stress di Indonesia tergolong rendah. Sebuah perusahaan asuransi (Cigna) melakukan sebuah survey kesejahteraan secara global, dari 1000 partisipan sebanyak 75% responden Indonesia mengatakan pernah merasakan stress. Tingkat stress Indonesia merupakan yang terendah dibanding responden negara lain yang mendapat hasil survey sebanyak 86%. Beberapa pemicu stres dapat memotivasi, merangsang, dan mendorong orang melampaui batas kemampuan yang mereka yakini.

(3)

Individu yang menilai masalah sebagai tantangan, maka stres menjadi rasa kompetensi dan peningkatan kapasitas untuk belajar. Namun, jika masalah dilihat sebagai ancaman, akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan firasat kehilangan (Baqutayan, 2015). Stressor berdampingan dengan koping, yaitu upaya mencakup perilaku dan pemikiran yang dilakukan individu dilakukan untuk mencegah, menurunkan atau melemahkan stress dengan cara yang paling tidak menyakitkan (Baqutayan, 2015). Secara sederhana koping individu dapat terbagi dua, lari/meninggalkan stressor yang disebut dengan “flight” atau mengahadapi stressor tersebut hingga masalah terselesaikan disebut dengan “fight”. Fungsi utama koping yaitu menangani masalah penyebab distress, dimana koping berfokus pada penyelesaian masalah. Fungsi lain koping adalah berfokus untuk mengatur emosi.

Stresor yang menumpuk dan tidak diikuti dengan mekanisme koping yang sesuai, semakin lama akan menjadi stress kronis. Stress kronis inilah yang menjadi awal terjadinya gangguan kejiwaan. Berdasarkan Data Riskesdas tahun 2018, penduduk Indonesia berusia >15 tahun yang mengalami gejala depresi dan kecemasan sebanyak 6.1% dari total penduduk. Sedangkan penderita skizofrenia (gangguan jiwa berat) mencapai 400.000 penderita. Depresi dan gangguan jiwa berat lainnya menjadi awal terjadinya kasus bunuh diri. Individu yang sudah putus asa akan masalah dalam kehidupannya memilih kematian sebagai jalan keluar. Berdasarkan data WHO pada tahun 2016, hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya atau setiap 40 detik maka ada 1 orang yang meninggal karena bunuh diri. Individu yang paling banyak meninggal karena kasus bunuh diri berada di rentang usia 15-29 tahun. Tingkat kamatian karena bunuh diri di Indonesia, mencapai 4.7% tiap 100.000 penduduk di rentang usia 15-29 tahun. Sedangkan tingkat bunuh diri rentang usia 30-49 tahun adalah 4% tiap 100.000 penduduk.

Jika tanda gejala gangguan kejiwaan sampai mengganggu kehidupan individu sehari-hari atau mengancam nyawa, diperlukan penanganan segera. Jika masih ditahap ringan, seorang psikolog bisa membantu dengan memberikan terapi nonfarmakologi. Namun jika gangguan psikologis menjdi lebih kompleks dan membutuhkan medikasi maka diperlukan seorang

(4)

psikiater. Psikiater akan membantu mendiagnosa keparahan gangguan jiwa dan memberikan medikasi. Pengalaman dan kemampuan psikiater dalam menginterpretasikan gejala yang dialami oleh klien menjadi kunci dalam penentuan diagnosa.

Dalam mengatasi ganggaun kejiwaan, puskesmas yang ada di Indonesia menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa. Sebanyak 67.65% provinsi di Indonesia sudah memiliki puskesmas dengan layanan kesehatan jiwa di tiap kabupaten/kota. Sedangkan untuk sebaran RS Jiwa seluruh Indonesia, terdapat 34 RSJ milik pemerintah dan 9 RSJ milik swasta/organisasi islam/organisasi sosial. Sebaran RS Ketergantungan Obat diseluruh Indonesia dari 34 provinsi hanya ada 28 RSKO (1 RSKO tiap provinsi). Enam provinsi Indonesia yang masih belum memiliki RSJ yaitu Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Papua Barat (Kemenkes, 2019). Jumlah RSJ di tiap provinsi rata-rata hanya ada satu, dengan pasien yang berasal dari seluruh penjuru provinsi atau mungkin dari provinsi terdekat yang tidak memiliki RSJ. Jumlah pasien dan RSJ yang tidak sebanding ditambah keterbatasan biaya bagi beberapa orang membuat banyak ODGJ tidak terobati dan terlantar.

Kemudahan untuk mengakses layanan kesehatan jiwa akan membawa dampak positif dalam menurunkan cakupan ODGJ dan ODMK yang tidak mendapat pengobatan. Kecanggihan teknologi yang diterapkan pada ilmu kesehatan jiwa dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan sebuah alat bantu deteksi stres yang lebih objektif dan konsisten. Sehingga hasil analisa data yang diberikan menjadi lebih akurat. Selain itu dengan penambahan fitur yang lebih banyak bisa, membantu psikolog/psikiater untuk memantau dan mengevaluasi kondisi kliennya dalam satu hari penuh.

Teknologi yang dipilih dalam pengambilan ide ini adalah jam tangan pintar atau smartwatch, karena bentuk yang praktis. Selain itu bisa berfungsi ganda sebagai aksesoris dan alat medis, serta dapat disambungkan ke perangkat elektronik lain seperti PC atau ponsel pintar. Teknologi tersebut bekerja dengan membaca sinyal fisiologis yang dihasilkan pada individu saat stressor datang. Penanda fisiologi stres yang dapat diidentifikasi yaitu heart rate (HR),

(5)

heart rate variability (HRV), blood pressure (BP), muscle tension, dan galvanic skin response (GSR) (V.J. Madhuri, 2013). Teknologi smartwatch

yang memungkinkan untuk ditambahkan berbagai macam fitur, mampu memberikan solusi optimum untuk meredakan tingkat stres setelah hasil analisis penanda fisiologi stress muncul.

Pada bidang keperawatan, ide ini bisa diterapkan di tahap promotif atau rahabilitatif. Tahap promotif bekerja dengan mencegah penumpukan stressor sehingga pengguna bisa melihat dan memantau kondisi tingkat stresnya. Pemantauan secara berkala dan diikuti tindakan pencegahan dari individu, akan mengurangi faktro resiko gangguan kesehatan mental lebih lanjut. Sedangkan di tahap rehabilitatif, bisa digunakan oleh pengguna yang sudah memiliki diagnosa masalah kesehatan jiwa (ODMK atau ODGJ) dan menjalani rawat jalan. Psikiter dan psikolog tidak mungkin untuk memantau penuh kondisi kliennya seharian, alat ini berguna untuk merekam kondisi pengguna selama 24 jam.

Terapis bisa menilai perkembangan kesehatan kliennya melalui rekam data harian, selain itu juga bisa memberikan advice melalui alat ini jika diperlukan. Selain itu dengan fungsi utamanya mengukur tingkat stress, pengguna yang sudah memiliki riwayat kesehatan mental bisa mencegah kekambuhan. Kondisi yang dapat menjadi contoh adalah individu dengan gangguan kecemasan, disaat stressor datang dan menaikkan tingkat stresnya, maka bisa langsung dicegah melalui fitur-fitur bawaan yang ada. Tindakan pencegahan yang sesegera mungkin dilakukan, diharapkan bisa mencegah kekambuhan atau memperparah kondisi kesehatan yang sudah ada.

Pada ide ini, target pengguna smartwatch hanya individu yang murni mengalami masalah kesehatan jiwa tanpa penyakit bawaan seperti penyakit jantung, DM, limfoma, leukemia atau hipertiroid. Hal tersebut dikarenakan salah satu tanda fisiologis stres adalah produksi keringat yang berlebih. Kondisi yang sama juga terjadi pada orang-orang dengan penyakit jantung atau penyakit lain diatas, individu dengan penyakit ini akan menghasilkan keringat yang berlebihan bahkan disaat tidak beraktifitas. Oleh karena, kemungkinan adanya kesalahan dalam membaca data jika penderita penyakit jantung

(6)

menggunakan alat ini. Kesalahan data yang dihasilkan bisa berakibat fatal pada pengguna karena kesalahan dalam penanganan.

Permasalahan terkait stres yang telah dijabarkan diatas dipadukan dengan teknologi modern memunculkan ide “Teknologi Smartwatch Berbasis Aplikasi Pengukur Kesehatan Mental’. Penulis berharap adanya kerjasama dari berbagai bidang keililmuan untuk bisa mewujudkan ide ini. Adanya teknologi di masa mendatang, diharapkan mampu membantu para professional dalam mengawal proses terapi dan deteksi dini untuk mencegah stress yang lebih berat. Proses terapi dam diagnosa yang bisa lebih dipermudah dengan bantuan terknologi, dapat meningkatkan jumlah individu untuk mendapat kesempatan terapi hingga sembuh.

Referensi

Dokumen terkait

”SETIAP ORANG YANG DENGAN TUJUAN MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN ATAU SUATU KORPORASI, MENYALAHGUNAKAN KEWENANGAN, KESEMPATAN ATAU SARANA YANG ADA PADANYA

Firdaus Solihin (UNIJOYO) 2009 supplier_type type brand item_name item_key country province_or_state city street location_key Snowflake Schema year quarter month day_of_week

Untuk metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis berganda yang diperkuat dengan Uji Normalitas, Uji Multikolonieritas, Uji

Ernie Tisnawati Sule, SE., M.Si... Rusli Ghalib,

Pengujian ini dilakukan dengan meletakan webcam atau simulasi robot pada posisi kemungkinan objek terdeteksi, kemudian citra digital dan informasi objek seperti nama objek dan

Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi dalam perusahaan, tetapi dalam penelitian ini, penulis lebih mempersempit faktor- faktor yang mempengaruhi

Konfrontasi materi dengan pengalaman serta konsep diri yang dimiliki merupakan suatu proses membentuk kesiapan belajar dalam diri individu anggota Satpol PP Provinsi DKI

Kesulitan keuangan bukan hanya fungsi dari pendapatan semata (rendahnya pendapatan), kesulitan keuangan juga dapat muncul jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan