1 A. Latar Belakang
Anak muda atau yang sering disebut remaja merupakan masa transisi menuju kedewasaan. Pada fase ini, seorang remaja berusaha mencari jati diri mereka untuk masa depan. Anak muda berusaha untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya sehingga menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang trend. Para remaja berlomba-lomba menunjukkan diri bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar, dengan perubahan mode setiap musim membuat para remaja tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki saat ini, hal ini menyebabkan mereka mengkonsumsi barang-barang dan jasa tanpa mempertimbangkan manfaatnya.
Di era globalisasi ini, pasar semakin banyak mengeluarkan produk- produk yang ditargetkan untuk para remaja, hal itu semakin membuktikan bahwa semakin banyaknya para remaja yang memiliki perilaku konsumtif, sehingga pasar memilih anak muda sebagai target mereka. Hal ini didukung oleh penelitian Wagner (2009) yang menyatakan bahwa Shoppers umumnya adalah remaja yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi. Berikut adalah kutipan yang diambil dari sebuah jurnal yang mendukung pernyataan diatas:
“Kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial bagi produsen.
Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, gaya hidup remaja biasanya meniru teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Lewat gaya hidup, seorang remaja juga dapat menunjukkan citra diri dan status sosialnya di tengah-
tengah masyarakat. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja” (Wagner, 2009).
Gaya hidup konsumtif telah merasuk ke seluruh lapisan masyarakat salah satunya adalah kelompok mahasiswa. Mahasiswa seharusnya mengisi waktu dengan menambah pengetahuan seperti membaca jurnal di perpustakaan dan mengikuti berbagai kegiatan organisasi kampus, sehingga ke depannya mahasiswa akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dan berguna, akan tetapi kehidupan di kampus telah membentuk gaya hidup khas di kalangan mahasiswa dan terjadi perubahan budaya sosial yang tinggi yang membuat setiap individu mempertahankan polanya dalam hidup konsumtif. Mahasiswa merasa dapat mengikuti perkembangan jaman apabila telah membeli dan memakai barang- barang dengan merk terkenal dan sedang hits (www.kompasiana.com).
Kewajiban mahasiswa seharusnya membayar uang kuliah, membeli buku, alat-alat tulis dan perlengkapan kuliah lainnya, namun dari berbagai kasus yang ada justru mahasiswa sering terlambat membayar uang kuliah, membeli buku KW dan fotokopi, serta kebanyakan tidak memiliki perlengkapan tulis yang lengkap (www.berkuliah.com). Menurut Suprihatin (2010) dalam Astuti dan Halim (2015) pada kenyataannya para mahasiswa menggunakan uang di luar kebutuhannya, seperti pergi menonton bioskop, karaoke, makan di tempat-tempat mahal, berbelanja pernak-pernik dengan merk terkenal, memiliki handphone dengan harga selangit, dan membeli barang-barang atau jasa yang ditawarkan oleh para online shop. Sebagian mahasiswa Unika Musi Charitas merupakan bagian dari remaja yang turut mengikuti trend masa kini. Hal ini menandakan bahwa
mahasiswa masa kini memang lebih mementingkan penampilan luar mereka ketimbang pendidikan.
Sikap konsumtif yang semakin menjadi membuat pengelolaan keuangan dirasakan sangat penting dewasa ini (Putra, 2012). Tingkat kesejahteraan menjadi tujuan seseorang dalam bekerja, banyak pendapat mengatakan semakin tinggi tingkat penghasilan seseorang maka akan semakin sejahtera orang tersebut.
Sepertinya pandangan tersebut saat ini tidak begitu relevan lagi. Tingkat pendapatan yang tinggi tanpa diiringi dengan pengelolaan yang baik maka tidak akan mendatangkan kesejahteraan bagi seseorang. Hal ini ditunjukkan dengan semakin tingginya tingkat konsumsi masyarakat menurut (Putra, 2012) berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada bulan Maret 2012 adalah 47,71%
masyarakat mengkonsumsi makanan yang merupakan basic needs, dan 52,29%
masyarakat mengkonsumsi produk non makanan, seperti perumahan dan fasilitas rumah tangga sebesar 19,86%, dan 18,81% untuk konsumsi barang dan jasa, dan hanya 1,73% dipergunakan untuk asuransi.
Setiap manusia pada dasarnya dibekali kecerdasan untuk melakukan hal apapun termasuk dalam mengelola aset yang mereka miliki (Suprihatin, 2010 dalam Astuti dan Halim, 2015). Menurut Ida dan Dwinta (2010), salah satu kecerdasan yang harus dimiliki oleh manusia modern adalah kecerdasan finansial, yaitu kecerdasan dalam mengelola aset keuangan pribadi mereka. Dengan menerapkan cara pengelolaan keuangan yang benar, maka individu diharapkan bisa mendapatkan manfaat yang maksimal dari uang yang dimilikinya. Anak muda sebagai generasi muda tidak hanya menghadapi kompleksitas yang semakin
meningkat dalam produk-produk keuangan, jasa, dan pasar, tetapi lebih cenderung harus menanggung risiko keuangan dimasa mendatang yang lebih besar dan berisiko.
Financial knowledge merupakan hal yang penting, tidak hanya bagi
kepentingan individu saja, tidak hanya membuat anda menggunakan uang dengan bijak, namun juga memberikan manfaat ekonomi (Ida dan Dwinta, 2010). Jadi masyarakat yang memiiki financial knowledge yang bagus akan menggunakan uang mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sehingga nantinya para produsen juga akan membuat produk sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan masyarakat. Financial knowledge memiliki kekuatan untuk mengubah dunia.
Sebuah penelitian di Australia mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan financial pada 10% populasi akan berpotensi meningkatkan ekonomi Australia sebesar 6 Milyar Dollar Australia per tahun dengan cara membukakan 16.000 lapangan pekerjaan yang baru (Putra, 2012).
Pengetahuan keuangan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang agar terhindar dari masalah keuangan. Kesulitan keuangan bukan hanya fungsi dari pendapatan semata (rendahnya pendapatan), kesulitan keuangan juga dapat muncul jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan (mismanagement) seperti kesalahan penggunaan kredit, dan tidak adanya perencanaan keuangan, dengan pengelolaan keuangan yang tepat yang tentunya ditunjang oleh pengetahuan keuangan yang baik, maka taraf kehidupan diharapkan dapat meningkat, hal ini berlaku untuk setiap tingkat penghasilan, karena bagaimanapun tingginya tingkat penghasilan seseorang, tanpa pengelolaan yang tepat keamanan
finansial pasti akan sulit dicapai (Mendari dan Kewal, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang memiiki pengetahuan keuangan yang bagus tentu memiliki perilaku manajemen keuangan yang baik, artinya mereka mampu mengelola keuangan pribadi mereka karena banyaknya pengetahuan yang mereka miliki. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Ida dan Dwinta (2010) yang menemukan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan keuangan yang banyak membuat mereka mampu mengelola keuangan dengan sangat baik.
Banyaknya mahasiswa yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keuangan dapat dilihat dari fenomena diatas. Terbukti dari mereka yang hanya mengikuti trend tanpa memperhatikan kondisi keuangan mereka. Kondisi tersebut pada akhirnya juga akan menyulitkan mereka karena keuangannya yang menjadi tidak terorganisasi dengan baik. Menurut Putra (2012) pengelolaan keuangan yang baik sangat diperlukan, ditunjukan dengan tingginya tingkat conscientiousness, retention time dan kontrol perilaku yang menunjukkan tingkat
yang signifikan terhadap niat dan perilaku seseorang akan self-controling akan pengelolaan keuangan pribadi. Penelitian ini juga menunjukan bahwa pada umumnya orang cenderung untuk melakukan perencanaan keuangan disebabkan karena ada hal yang tidak pasti pada waktu yang akan datang. Retention time menunjukkan bahwa seseorang melakukan penundaan terhadap keinginannya untuk mendapatkan kepastian akan masa depan seseorang. Dengan demikian memunculkan niat seeorang untuk melakukan self-controling terhadap pengeluaran yang akan dilakukan oleh orang terebut.
Beberapa peneliti terdahulu telah melakukan berbagai penelitian terkait literasi keuangan dan perilaku keuangan. Mendari dan Kewal (2013) melakukan
penelitian terhadap 305 mahasiswa di STIE Musi Palembang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dari semua aspek literasi keuangan, baik dari aspek pengetahuan keuangan pribadi, tabungan dan pinjaman, asuransi, dan investasi mengindikasikan literasi keuangan yang rendah walaupun melalui pendidikan di sekolah sudah diberikan materi-materi perkuliahan yang berkaitan tentang aspekaspek dalam literasi keuangan tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa pelajaran tentang literasi keuangan di sekolah tinggi belum cukup untuk memberikan pemahaman yang mendalam terhadap mahasiswa.
Peneliti lain seperti pada penelitian Perry dan Morris (2005) menyatakan, seseorang dengan pengetahuan keuangan yang baik akan memiliki perilaku keuangan yang lebih bertanggung jawab. Penelitian Grable dkk. (2009) dalam Ida dan Dwinta (2010) menyatakan, terdapat pengaruh Financial Knowledge terhadap Financial Management Behavior. Penelitian Sarmila (2013) terhadap guru wanita
di Malaysia menemukan bahwa pengetahuan keuangan memilki pengaruh terhadap perilaku keuangan terutama dalam hal menabung.
Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk menelusuri keterkaitan antara pengetahuan keuangan mahasiswa terhadap bagaimana cara pengelolaan keuangan mereka. Dalam penelitian ini, peneliti memilih mahasiswa Unika Musi Charitas Fakultas Bisnis dan Akuntansi sebagai sampelnya. Penelitian menggunakan kuesioner sebagai teknik untuk memperoleh data, sehingga judul yang ditarik dalam skripsi ini adalah “PENGARUH FINANCIAL KNOWLEDGE TERHADAP FINANCIAL BEHAVIOR MAHASISWA FAKULTAS BISNIS DAN AKUNTANSI UNIKA MUSI CHARITAS PALEMBANG”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Financial Knowledge mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas?
2. Bagaimana Financial Behavior mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas?
3. Apakah ada pengaruh pengetahuan keuangan terhadap perilaku keuangan mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara empiris adalah:
1. Untuk menganalisis Financial Knowledge mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas.
2. Untuk menganalisis Financial Behavior mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas.
3. Untuk menganalisis pengaruh pengetahuan keuangan terhadap perilaku keuangan mahasiswa Fakultas Bisnis dan Akuntansi Unika Musi Charitas.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pengembangan praktisi, meningkatkan tingkat pengelolaan keuangan pribadi mahasiswa dalam pengelolaan tabungan, anggaran, dan investasi di masa mendatang.
2. Bagi mahasiswa dan masyarakat, diharapkan dapat memberikan pengetahuan akan pentingnya pengetahuan keuangan pribadi ditengah kompleksitas kebutuhan individu dan produk financial.
3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat digunakan sebagai refrensi untuk penelitian di masa mendatang.
E. Sistematika Penulisan
Pada bagian ini, peneliti akan menguraikan tentang sistematika penulisan yang terdiri dari:
Bab I Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah yang diambil peneliti, fakta yang ada, dan fenomena yang terjadi, perumusan masalah untuk mengetahui masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini dilakukan, manfaat penelitian ini bagi pihak-pihak terkait, dan sistematika penulisannya.
Bab II Landasan Teori
Berisi teori-teori terkait dengan masalah yang diteliti untuk dijadikan dasar dalam memecahkan permasalahan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, teori mengenai pengetahuan keuangan dan perilaku keuangan.
Bab III Metode Penelitian
Berisi metode penelitian dan langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam menentukan ukuran sampel dan teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, variabel yang digunakan beserta pengukurannya, serta teknik analisis yang digunakan untuk memecahkan masalah yang akan diteliti oleh peneliti.
Bab IV Analisis dan Pembahasan
Berisi hasil pengolahan sampel dan mendapatkan hasil yang kemudian digunakan untuk menjawab hipotesis, serta menganalisis dan membahas hasil untuk menarik kesimpulan.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Berisi kesimpulan dari hasil analisis dan pembahasan dan saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk penelitian empiris selanjutnya.