6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
(Minerva, Sumeisey, Stefani, Wijaya, & Lim, 2020) Meneliti tentang pengaruh kualitas audit, debt ratio, ukuran perusahaan dan auditlag terhadap opini audit going concern. Penelitian ini ditemukan hasil sebagai berikut, pertama Kualitas audit secara parsial berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017. Kedua Debt ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017. Ketiga Ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017. Keempat Audit lag secara parsial tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017, dapat disimpulkan bahwa Kualitas audit, Debt ratio, Ukuran perusahaan, Audit lag secara simultan berpengaruh terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017.
(Effendi, 2019) Meneliti tentang pengaruh kualitas audit, kondisi keuangan, dan ukuran perusahaan terhadap opini audit going concern pada semua sektor perusahaan transportasi yang terdaftar di BEI. Penelitian ini ditemukan hasil sebagai berikut, pertama hasil penelitian menunjukan bahawa kualitas audit tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern, hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berafiliasi dengan KAP big
four atau KAP yang tidak berafiliasi dengan KAP big four sama-sama mempunyai porsi atau peluang yang sama dalam memberikan opini audit going concern. Kedua, hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi keuangan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern, hasil pengujian regresi logistik menolak H2 karena tidak terbukti secara signifikan sehingga dapat dinyatakan bahwa kondisi keuangan tidak meningkatkan kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern. Ketiga, hasil penelitian menunjukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern, ini berarti klasifikasi ukuran perusahaan besar ataupun kecil dengan indikator total aset yang dimiliki tidak menjadi penentu auditor akan menerbitkan opini audit going concern.
(Hasrumi, Bakry, & Jurana, 2018) Meneliti tentang pengaruh kualitas audit, profotabilitas dan kepemilikan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan manufaktur di BEI. Berdasarkan hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern, hal ini berarti besarnya suatu KAP tidak mempengaruhi penerimaan opini audit going concern seorang auditor akan berusahaa mempertahankan reputasi yang dimilikinya sehingga mereka selalu obyektif terhadap pekerjaannya. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern. Hal ini berarti semakin besar profitabilitas suatu perusahaan maka semakin besar juga probabilitas mendapatkan opini audit going concern, hal ini dilihat dari hubungan return on total asset dengan opini audit adalah semakin besar return on total asset maka kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dan manajemen efisiensi secara keseluruhan semakin meningkat sehingga tidak ada keraguan mengenai going concern perusahaan. Kepemilikan perusahaan (kepemilikan manajerial dan
kepemilikan institusional) tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern. Fungsi pengawasan yang dimiliki perusahaan belum menjamin perusahaan untuk diberikannya opini audit going concern karena kinerja perusahaan sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.
B. Tinjauan pustaka 1. Agency Theory
Penelitian ini menggunakan agency teory yang mengasumsikan bahwa Hubungan keagenan terjadi karena adanya kontak dimana salah satu pihak (principal) membayar pihak lain (agent) untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan kepentingan Principal (Meckling, 1976). Dalam konteks perusahaan go public, principal merupakan pemegang saham atau investor, sedangkan agent adalah manajemen yang bertugas untuk mengelolah perusahaan, dengan memberikan pengelolaan perusahaan kepada para professional diharapkan mereka dapat menutupi keterbatasan yang ada pada pihak principal (Ardianingsih & Ardiyani, 2010). Dalam konsep ini sering kali terjadi masalah agensi yang ditimbulkan karena adanya konflik kepentingan antara pemegang saham (principal) dan manajemen perusahaan (agent) yang dikarenakan adanya asimetris informasi, yaitu ketidakseimbangan informasi antara principal dan agent. Agen dalam hal ini manajemen perusahaan pasti akan lebih banyak memiliki informasi terkait perusahaan dibandingkan principal (pemegang saham).
(Sigit, 2016) Menjelaskan adanya pemisahan antara pemilik perusahaan dan pengelolaan oleh manajemen cenderung menimbulkan konflik keagenan di antara principal dan agent. Konflik kepentingan antara principal dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan keinginan principal karena
manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan dengan pemilik. Principal yang merasa dananya sudah diinvestasikan kepada perusahaan pasti menginginkan timbal balik yang sesuai dengan berapa banyak dana yang telah ia keluarkan, sebaliknya pihak manajemen menginginkan kesejahteraan diri.
Teori agensi mengasumsikan bahwa adanya asimetris informasi dan perbedaan kepentingan antara principal dan agent. Pemegang saham sebagai principal diasumsikan hanya tertarik kepada profit yang bertambah atau investasi di perusahaan. Sedangkan agen diasumsikan termotivasi untuk memaksimalkan kompensasi yang diterima dari hubungan dengan principal, hal ini terkait dengan masing-masing kepentingan mereka pada perusahaan. Oleh karena itu Manajemen perusahaan sebagai agen yang memiliki informasi lebih banyak dikhawatirkan akan berusahaa menutup-nutupi masalah atau kesenjangan yang terjadi di dalam perusahaan agar calon investor dan pemilik perusahaan berprasangka baik terhadap perusahaan.
2. Opini Audit Going Concern
Opini audit going concern adalah opini yang dikeluarkan oleh auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (SPAP, 2001). Dalam mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar mengenai kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang panjang, maka menurut SA seksi 314 (SPAP, 2001) menyebutkan bahwa auditor bertanggung jawab mengenai evaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan
keuangan yang sedang diaudit selanjutnya periode tersebut akan disebut dengan jangka waktu yang pantas.
Penelitian (Hani, Clearly, & Mukhlasin, 2003) dalam (Kurnia & Mella, 2018) menyebutkan opini audit going concern adalah tingkat kelangsungan hidup sebuah perusahaan yang berarti perusahaan tersebut dianggap mampu mempertahankan aktivitas usahanya dalam jangka waktu panjang dan tidak akan dilikuidasi dalam jangka pendek. Dalam memberikan opini audit going concern auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu kondisi ekonomi yang memengaruhi perusahaan, kemampuan membayar hutang, hasil dari operasi, dan kebutuhan likuiditas di masa yang akan datang (Januarti, 2009) dalam (Memi Wulandari & Muliartha, 2019). Penilaian going concern lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk melanjutkan opersasinya dalam jangka waktu 1 tahun ke depan, pengukuran variabel opini audit going concern menggunakan variabel dummy yang mana kategori 1 diberikan kepada perusahaan manufaktur yang menerima opini audit going concern dan 0 untuk perusahaan manufaktur yang menerima opini audit non going concern. Oleh sebab itu auditor beratanggung jawab besar untuk mengeluarkan opini audit going concern sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
3. Struktur Kepemilikan Kepemilikan institusional
Kepemilikan institusioanl adalah kondisi dimana institusi saham dalam suatu perusahaan. Kepemilikan saham oleh institusi dapat mempengaruhi jalannya perusahaan dengan hak voting yang mereka miliki dalam peroses pembuatan keputusan perusahaan, baik keputusan investasi maupun keputusan
hutang. Selain itu institusi dapat menjadi alat monitoring terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh perusahaan, karena instansi dianggap berpengelaman dalam menjalankan operasi sebuah perusahaan dibandingkan investor publik lainnya. (Widarjo et al 2010:11). Presentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat meningkatkan kemakmuran para pemegang saham, melalui pengawasan kinerja yang dilakukan oleh manajemen.
Janurati (2008) menyatakan semakin besar presentasi kepemilikan institusional suatu perusahaan akan meningkat secara efisien pemakaian aktiva perusahaan. Hal ini diharapkan adanya monitoring yang lebih baik atas keputusan manajemen, sehingga dapat mengurangi potensi kebangkrutan yang dapat mengimpilkasikan auditor tidak memberikan opini audit going concern pada perusahaan.
4. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Ukuran profitabilitas perusahaan harus dapat berbagai macam seperti laba oprasional, laba bersih, tingkat pengembalian investasi/aktiva, dan tingkat penegembalian ekuitas pemilik. Menurut ikbal (2011:7), profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya.
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atau profitabilitas pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu. Rasio profitabilitas merupakan alat yang digunakan untuk melihat kemampuan sebuah perusahaan menghasilkan keuntungan atau laba dalam satu
tahun melalui kegiatan oprasional perusahaan tersebut.(Hanafi dan Halim; 2009:83).
5. Leverage
Rasio leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Leverage mengacu pada jumlah pendanaan yang berasal dari hutang perusahaan kepada kreditor. Rasio leverage diukur dengan menggunakan rasio debt to total asset. Rasio leverage yang tinggi dapat berdampak buruk terhadap kondisi keuangan perusahaan. Semakin tinggi leverage semakin menunjukan kondisi keuangan yang buruk dan dapat menimbulkan kepastian mengenai kelangsungan hidup (going concern) perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan berpeluang mendapatkan opini audit going concern. (Rudyawan dan Badera; 2009:8)
6. Kualitas Audit
Kualitas audit merupakan probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya (De Angelo dalam Tandiontong, 2016). Probabilitas penemuan suatu pelanggaran dilihat dari kemampuan seorang auditor dan indepedensi auditor tersebut, dimana auditor harus melaporkan pelanggaran tersebut dalam laporan keuangan audit yang berpedoman pada standar auditing dan kode etik akuntan publik dalam melaksanakan tugasnya. Berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP, 2001), audit yang dilaksanakan auditor dapat berkualitas jika memenuhi ketentuan atau standar auditing, yang mana standar auditing mencakup mutu professional, auditor independen, pertimbangan (judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan audit. Tujuan dari audit laporan keuangan adalah
untuk memberikan kepastian mengenai integritas dari laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Kepastian mengenai relevansi dan kendala dari laporan keuangan perusahaan sangat diperlukan untuk membantu pihak eksternal dalam mengambil suatu keputusan bisnis (Mayangsari, 2003).
Berdasarkan dari teori agensi yang mengasumsikan bahwa manusia itu selalu self interest maka kehadiran pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan antara principal dan agen sangat diperlukan, dalam hal ini auditor independen. Pemegang saham akan cenderung pada data akuntansi yang dihasilkan dari kualitas audit yang tinggi (Beasly, Jiambalvo, dan Subramanyam, 1998; Li Dang Et al, 2004). Pengukuran kualitas audit dapat dialakukan dengan menggunakan ukuran kantor akuntan (The Big Four dan Non Big Four) dengan menggunakan spesialis industri. Auditor spesialis industri merupakan auditor yang dilatih dan memiliki pengalaman yang terpusat pada suatu industri (Solomon, et al, 1998). Auditor yang memiliki banyak klien dalam industri yang sama akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang risiko audit khusus yang mewakili industri tersebut. Spesalisasi dalam industri tentu menjadi sebuah nilai tambah dan para peneliti menemukan bahwa auditor dengan spesialisasi menghasilkan penghematan finansial dan keuntungan pada kualitas (Januarti, 2008).
C. Kerangka Pemikiran Teoritis
D. Penegmbangan Hipotesisi
1. Kualitas Audit terhadap penerimaan opini audit going concern
Auditor berkualitas tinggi sering diasumsikan mampu mencegah dan mengurangi praktik-praktik akuntansi yang dipertanyakan dan melaporkan kesalahan-kesalahan serta ketidak teraturan yang material daripada auditor berkualitas rendah.(Effendi, 2019) apabila klien mengalami masalah dalam mempertahankan kehidupan usahanya maka auditor yang memiliki kualittas yang baik akan cenderung opini going concern-nya.(Syafriliani,2015) Oleh karena itu ketika perusahaan diaudit oleh auditor yang berkualitas maka perusahaan yang berisiko dalam melakukan praktik-praktik akuntansi yang dipertanyakan akan semakin besar kemungkinan menerima opini audit going concern. Berdasarkan uraian tersebut dan diperkuat oleh penelitian yang dilakukan (Krisindiastuti dan Rasmini, 2016) yang menyatakan bahwa kualitas
Kualitas Audit X1
Profitabilitas X2
Opini Audit Going Concern Y Leverage X3
Struktur Kepemilikan X4
audit berpengaruh terhadap opini audit going concern maka hipotesis yang dilajukan sebagai berikut.
H1 : Kualitas Audit berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern
2. Profitabilitas terhadap penerimaan opini audit going concern
Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, rasio ini juga dapat menunjukan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Tujuan dari analisis profitabiltas adalah untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profit yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan ( Rezkhy, 2011 ). Return on assets (ROA) adalah rasio yang diperoleh dengan membagi laba /rugi bersih dengan total aset. Rasio ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan manajerial perusahaan dalam memperoleh laba dan manajerial efisiensi secara keseluruhan, semakin tinggi ROA semakin efektif juga pengelolaan aktiva perusahaan. Dengan demikian semakin besar profitabilitas menunjukan kinerja perusahaan yang semakin baik, sehingga auditor tidak memberikan opini audit going concern. Berdasarkan uraian tersebut dan diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh (Pradika, 2017) yang membuktikan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap opini audit going concern, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H2 : Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern
3. Leverage terhadap penerimaan opini audit going concern
Leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Leverage diukur dengan menggunakan debt ratio yang diperoleh dengan membandingkan total hutang dengan total aktiva. Suatu perusahaan yang mempunyai aktiva lebih kecil dari hutangnnya akan menghadapi bahaya kebangkrutan. Semakin besar debt ratio suatu perusahaan maka semakin tinggi hutang perusahaan, sehingga risiko kegagalan perusahaan dalam membayar kewajiban atau hutang tersebut semakin tinggi. (Chen, 1992 ). Hal ini menyebabkan perusahaan berpeluang mendapatkan opini audit going concern oleh auditor. Berdasarkan uraian tersebut dan diperkuat oleh penelitian yang dilakukan (Ariska, Maslichah, & Afifudin, 2019) yang membuktikan bawha leverage berpengaruh positif terhadap opini audit going concern, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H3 : Leverage berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit going concern
4. Strukur Kepemilikan terhadap penerimaan opini audit going concern Semakin besar kepemilikan saham oleh manajemen maka semakin kuat manajemen untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terdapat dalam perusahaan sehingga akan mempengaruhi kinerja perusahaan. (Sofyaningsih, 2011). Kinerja perusahaan yang meningkat akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan dapat mempengaruhi pemberian opini audit going concern. Semakin besar kepemilikan institusional dapat meningkatkan efisiensi pemakaian aktiva yang mana kepemilikan institusional diharapkan
menjadi monitoring terhadap keputusan manajemen sehingga mengurangi potensi kebangkrutan yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan sehingga auditor dapat memberikan opini audit going concern. (Januarti, 2011). Berdasarkan uraian tersebut dan diperkuat oleh penelitian yang dilakukan (Andriani Novitasi dkk, 2015) yang membuktikan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap opini audit going concern, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H4 : Struktur kepemilikan bepengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern