Dr. Ir. Musyawaroh, MT.
Pratiwi Anjarsari, ST, M.Sc.
DEFINISI KEPEMIMPINAN
• Kepemimpinan adalah sebuah proses bagaimana seorang
pemimpin memengaruhi pengikutnya untuk mencapai
tujuan organisasi
• Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua
hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek dan yang
DEFINISI KEPEMIMPINAN MENURUT PARA AHLI
• Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses
komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik,
1961, 24)
• Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
• Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai
tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
• Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang
mengikuti dan menaati segala keinginannya.
Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan
dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
TEORI SEBAB MUNCULNYA PEMIMPIN
TEORI GENETIS TEORI SOSIAL TEORI EKOLOGIS TEORI SITUASI
leaders are borned not built leaders are built not borned leaders are borned and built Leaders are for some situation karena ia dilahirkan untuk
menjadi pemimpin karena mempunyai bakat dan
pembawaan untuk menjadi pemimpin
menjadi pemimpin kalau lingkungan, waktu atau keadaan memungkinkan ia menjadi pemimpin
seorang pemimpin perlu bakat dan bakat itu perlu dibina supaya berkembang namun tergantung kepada lingkungan, waktu dan keadaan
setiap orang bisa menjadi
pemimpin, tetapi dalam situasi tertentu saja, karena ia
mepunyai kelibihan-kelebihan yang diperlukan dalam situasi itu
tidak setiap orang bisa menjadi pemimpin
Setiap orang bisa memimpin asal diberi kesempatan dan diberi pembinaan
Orang yang mempunyai bakat pemimpin harus dibina agar kepemimpinannya bisa berhasil
tidak setiap orang bisa menjadi pemimpin
SIFAT KEPEMIMPINAN
George R. Terry (1992: 156)
1. Penuh energi
2. Memiliki stabilitas emosi
3. Memiliki pengetahuan tentang manusia.
4. Motivasi pribadi
5. Kemahiran komunikasi
6. Kecakapan mengajar
7. Kecakapan social
• Penuh energy = Untuk tercapainya kepemimpinan yang baik maka diperlukan energi yang
baik pula, jasmani maupun rohani.
• Memiliki stabilitas emosi = Seorang pemimpin yang efektifitas harus melepaskan diri dari
berburuk sangka
• Memiliki pengetahuan tentang manusia = pemimpin harus dapat mengetahui berbagai sifat
manusia agar dapat bertindak di setiap keadaan dengan tepat
• Motivasi pribadi = keinginan untuk memimpin datang dari batin diri sendiri
• Kemahiran komunikasi = cakap dalam mengungkapkan gagasannya baik secara lisan maupun
tulisan
• Kecakapan mengajar = pemimpin harus dapat memberi petunjuk, mengoreksi kesalahan,
meberi dan menerima saran
• Kecakapan social = Seorang pemimpin harus mengetahui benar tentang manusia dan
masyarakat, kemampuan-kemampuannya maupun kelemahan-kelemahannya
• Kemampuan teknis = Dengan memiliki kemampuan teknis yang tinggi dari seorang pemimpin
akan lebih mudah mengadakan kkoreksi bila terjadi suatu kesalahan pelaksanaan tugas dari
bawahannya
Konsep Kepemimpinan menurut Ralph M.
Stogdill
1. Kepemimpinan sebagai suatu seni untuk menciptakan kesesuaian paham.
Para pemimpin memberikan dorongan terhadap anggotanya untuk mengerjakan apa yang
dikehendaki pemimpin tersebut.
2. Kepemimpinan sebagai suatu bentuk persuasi dan inspirasi.
bentuk kemampuan mempengaruhi orang lain bukan melalui pemaksaan melainkan himbauan
dan persuasi.
3. Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang memiliki pengaruh.
S
ifat-sifat dan watak yang dimiliki oleh pemimpin yang menunjukkan keunggulan sehingga
menyebabkan pemimpin tersebut memiliki pengaruh yang baik terhadap anggotanya
.
4. Kepemimpinan adalah tindakan dan perilaku.
Perilaku : menilai anggota kelompok, menentukan hubungan kerjasama, mampu memperhatikan
kepentingan anggotanya dan lain-lain.
5. Kepemimpinan merupakan titik sentral proses kegiatan kelompok.
Artinya dalam sebuah kehidupan organisasi dari kelompok, diharapkan lahir berbagai gagasan baru yang
melahirkan berbagai perubahan, kegiatan, dan seluruh proses kegiatan kelompok
6. Kepemimpinan merupakan hubungan kekuatan dan kekuasaan.
Hubungan seseorang atau sekelompok orang berperilaku karena akibat adanya kewibawaan atau
kekuasaan yang ada pada orang yang memimpin, orang yang memimpin lebih banyak mempengaruhi dari
pada dipengaruhi.
7. Kepemimpinan sebagai sarana pencapaian tujuan.
Kepemimpinan mempunyai peranan sebagai kekuatan dinamik yang mendorong, memotivasi dan
mengkoordinasikan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
8. Kepemimpinan merupakan hasil dari interaksi.
Artinya suatu proses sosial yang merupakan hubungan antar pribadi dimana pihak lain
mengadakan penyesuaian, suatu proses saling mendorong dalam mencapai tujuan
bersama.
9. Kepemimpinan adalah peranan yang dibedakan.
Artinya dalam kehidupan organisasi masing-masing anggota kelompok mempunyai
peranan yang berbeda, dalam mencapai tujuan anggota kelompok mempunyai
sumbangan yang berbeda-beda. Demikian pula kepemimpinan yang muncul sebagai
akibat interaksi dalam kehidupan organisasi, karena kebaikan-kebaikan dan
sumbangan-sumbangannya sebagai pemimpin.
10. Kepemimpinan sebagai inisiasi struktur.
Artinya kepemimpinan bukan dipandang sebagai jabatan pasif melainkan harus
berperan sebagai suatu jabatan yang terlibat dalam suatu tindakan memenuhi
pembentukan struktur dalam interaksi sosial sebagai bagian suatu proses pemecahan
masalah bersama.
GAYA
KEPEMIMPINAN
suatu cara yang
digunakan
pemimpin dalam
berinteraksi
dengan
bawahannya
Tjiptono
(2006:161)
MACAM MACAM GAYA KEPEMIMPINAN (Hartono, 2016)
1. Otokratis terpusat pada diri pemimpin tanpa peran anak buah dlm mengambil keputusan
2. Demokratis mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama. Keputusan diambil bersama
3. Delegatif pembuat keputusan diserahkan pada anak buah. Pemimpin jarang memberikan arahan
4. Birokratis segala kegiatan terpusat pada pimpinan, berdasarkan peraturan yg berlaku
5. Laissez Faire pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya, bawahan diberi kelonggaran dlm menjalankan tugasnya
6. Karismatis menarik orang lain dengan gaya bicaranya
7. Diplomatis dapat menempatkan posisi dirinya diantara kompetitornya 8. Moralis mempunyai empati yg tinggi
9. Administratif konservatif dan mencari aman, kurang berani mengambil resiko
10. Analitis berorientasi pada hasil, menekankan pada rencana jangka panjang
11. Asertif lebih terbuka terhadap konflik dan kritik
12. Entrepreneur mencari pesaing dalam mentargetkan standar capaian 13. Visioner ditujukan untuk bias memberi arti pada kerja dan usaha,
MOTIVASI
BERPRESTASI
*David McClelland
YG TERKAIT DG
KEPEMIMPINAN
Need for Achievement
Need for power
Need for Affiliation
Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, dan berjuang untuk berhasil.
Kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku seperti yang “ia” kehendaki. (mengendalikan
orang lain).
Kebutuhan untuk selalu berhubungan dengan orang lain secara akrab, ramah, saling
Bagaimana
Kebutuhan-kebutuhan ini
mempengaruhi
Perilaku?
nAch (Dorongan Berprestasi)
nPow (Kebutuhan Kekuatan)
Dorongan ini mengarahkan individu untuk berjuang
lebih keras untuk memperoleh pencapaian pribadi
ketimbang memperoleh penghargaan. Hal ini kemudian
menyebabkan ia melakukan sesuatu yang lebih efisien dibandingkan sebelumnya.
Kebutuhan atas kekuasaan dan otonomi. Individu dengan nPow tinggi, lebih suka bertanggung
jawab, berjuang untuk mempengaruhi individu lain, senang ditempatkan dalam situasi
kompetitif, dan berorientasi pada status, dan lebih cenderung lebih khawatir dengan wibawa dan pengaruh yang didapatkan dibandingkan dengan kinerja yang efektif.
Bagaimana
Kebutuhan-kebutuhan ini
mempengaruhi
Perilaku?
nAff (Kebutuhan Hubungan)
Kebutuhan untuk memperoleh hubungan sosial yang
baik dalam lingkungan kerja, kekerabatan maupun lingkungan sosial lainnya. Memiliki motif yang tinggi untuk persahabatan, lebih menyukai situasi kooperatif (dibandingkan kompetitif), dan menginginkan
hubungan-hubungan yang melibatkan tingkat pengertian mutual yang tinggi.
Individu dengan
nAch
Orang yang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk
pencapaian tidak selalu membuat seseorang menjadi manajer yang baik, terutama pada organisasi-organisasi
besar. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki n-Ach yang tinggi cenderung tertarik dengan bagaimana mereka bekerja secara pribadi, dan tidak akan
mempengaruhi pekerja lain untuk bekerja dengan baik. Dengan kata lain, n-Ach yang tinggi lebih cocok bekerja
sebagai wirausaha, atau mengatur unit bebas dalam sebuah organisasi yang besar.
Individu dengan
nPow
Termotivasi oleh kekuasaan memiliki keinginan kuat untuk menjadi berpengaruh dan mengendalikan. Mereka ingin pandangan dan ide-ide mereka harus
mendominasi dan dengan demikian, mereka ingin
memimpin. Individu tersebut termotivasi oleh kebutuhan untuk reputasi dan harga diri. Individu dengan kekuasaan dan kewenangan yang lebih besar akan lebih baik dibanding mereka yang memiliki daya yang lebih kecil. Umumnya, manajer dengan kebutuhan tinggi untuk daya berubah menjadi manajer yang lebih efisien dan sukses. Mereka lebih tekun dan setia kepada organisasi tempat mereka bekerja. Perlu untuk
kekuasaan tidak harus selalu diambil negatif. Hal ini dapat dipandang sebagai kebutuhan untuk memiliki efek positif pada organisasi dan untuk mendukung organisasi dalam mencapai tujuan itu.
Individu dengan
nAff
Memiliki dorongan untuk lingkungan yang ramah dan
mendukung. Individu tersebut yang berkinerja efektif dalam tim. Orang-orang ingin disukai oleh orang lain.
Kemampuan manajer untuk membuat keputusan
terhambat jika mereka memiliki kebutuhan afiliasi tinggi karena mereka lebih memilih untuk diterima dan disukai oleh orang lain, dan hal ini melemahkan objektivitas mereka. Individu yang memiliki kebutuhan afiliasi yang tinggi lebih memilih bekerja di lingkungan yang
menyediakan interaksi pribadi yang lebih besar. Orang-orang semacam ini memiliki kebutuhan yang baik. Mereka umumnya tidak bisa menjadi pemimpin yang baik.
nPow + nAff
(keterkaitan dengan keberhasilan manajerial yang baik)
nPow = nAff manajer yang berhasil.
Jika nAff terlalu rendah dapat merusak objektivitas
seorang manajer dan berpengaruuh dalam pengambilan keputusan.
Jika nPow terlalu kuat tertarik dengan peran
kepemimpinan dan memiliki kemungkinan untuk tidak fleksibel pada kebutuhan bawahan
n-Ach yang tinggi yaitu motivasi pada pencapaian lebih berfokus pada prestasi atau hasil.
FAKTOR-FAKTOR
YANG
MEMPENGARUHI
KEPEMIMPINAN
1. Faktor Kemampuan Personal
kemampuan adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan edukatif dari
lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak dengan potensi kepemimpinan namun
mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkunganya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adalah dua hal tidak
terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.
FAKTOR-FAKTOR
YANG
MEMPENGARUHI
KEPEMIMPINAN
2. Faktor Jabatan
jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat dihindari terlebih dalam
kehidupan modern saat ini, semuanya seakan terstruktur. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. Samasama mempunyai
jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunyai pengarauh yang berbeda.
FAKTOR-FAKTOR
YANG
MEMPENGARUHI
KEPEMIMPINAN
3. Faktor Situasi dan Kondisi
situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku
kepemimpinan. Di saat situasi tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak
berkepribadian progresif maka perlu pemimpin
transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan organisasi adalah religiusitas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan spritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga memilah dan memilih kemampuan para pemimpin, apakah kehadirannya di saat yang tepat atau tidak.
KOMUNIKASI
komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahuataupun mengubah sikap, pendapat, maupun perilaku, baik langsung secara lisan maupun melalui
JENIS KOMUNIKASI
1. Komunikasi formal dan informal
Komunikasi formal ialah komunikasi resmi yang
menempuh jaringan organisasi struktur formal. Pesan-pesan yang disampaikan melalui komunikasi formal memiliki legalitas yang cukup memadai karena
disampaikan melalui media komunikasi yang diakui oleh organisasi.
2. Komunikasi informal
Komunikasi informal ialah komunikasi yang menempuh saluran yang sering disebut “selentingan”, yaitu suatu jaringan yang biasanya jauh lebih cepat dibandingkan dengan saluran-saluran resmi.
JENIS KOMUNIKASI
komunikasi horizontal merupakan komunikasi antar pejabat yang memiliki jabatan pada tingkat yang sama dalam satu organisasi. Tujuannya adalah untuk
mengkoordinasikan dan menyelaraskan kegiatannya agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan lebih efektif. komunikasi silang merupakan penyampaian informasi rekan sejawat yang melewati batas-batas fungsional dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan maupun bawahannya. Mereka melintasi jalur fungsional dan berkomunikasi dengan orang-orang yang diawasi dan yang mengawasi, tetapi bukan atasan ataupun
JENIS KOMUNIKASI
3. Komunikasi verbal dan non verbal
verbal dapat berupa tulisan maupun lisan. Untuk komunikasi tertulis dapat berupa catatan, ataupun dokumen lain yang memiliki makna. Sedangkan untuk komunikasi lisan biasanya merupakan komunikasi langsung yang segera mendapatkan feedback dari penerima pesan.
non verbal merupakan komunikasi yang menggunakan ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, gaya berjalan, mimik muka, ataupun isyarat lainnya yang telah memiliki pemaknaan/arti khusus. Bahasa non verbal biasanya diperlukan untuk memperkuat bahasa verbal dalam komunikasi langsung.
JENIS KOMUNIKASI
Agar komunikasi bisnis berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, seorang wirausaha harus menerapkan kaidah-kaidah berkomunikasi dengan baik. Kaidahkomunikasi efektif dikenal dengan istilah REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble).
KERJASAMA
Sopiah (2008) mengungkapkan bahwa tim kerja
merupakan kelompok yang upaya–upaya individualnya menghasilkan suatu kinerja yang lebih besar daripada jumlah dari masukan individu–individu. Suatu tim kerja membangkitkan sinergi positif lewat upaya yang
terkoordinasi.
Robbins dan Judge (2008) mengungkapkan tim kerja adalah kelompok yang usaha-usaha individualnya menghasilkan kinerja lebih tinggi daripada jumlah
masukan individual. Hal ini memiliki pengertian bahwa kinerja yang dicapai oleh sebuah tim lebih baik daripada kinerja perindividu disuatu organisasi ataupun suatu perusahaan.
Allen (2004) pekerja tim atau tim kerja adalah orang yang sportif, sensitif dan senang bergaul, serta mampu
mengenali aliran emosi yang terpendam dalam tim sangat jelas.
KERJASAMA
kerja sama tim adalah sebuah kumpulan individu yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang hasil kinerja nya lebih baik dibandingkan dengan masukan individual.
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
1. Membentuk Struktur Tim 2. Mengumpulkan Informasi 3. Membicarakan Kebutuhan
4. Merencanakan Sasaran dan Menetapkan Cara Pencapaiannya
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
1. Membentuk Struktur Tim
Setiap tim harus bekerja dengan suatu struktur yang memadai agar berdaya menangani isu-isu berat dan memecahkan persoalan-persoalan yang rumit. Walau struktur bisa berbeda antara perusahaan satu dengan lainnya, namun komponen yang umumnya ada meliputi: Tim Pengarah, Perancang Tim, Pemimpin, Rapat-rapat dan Proses konsultasi.
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
2. Mengumpulkan Informasi
Pengembangan tim dapat ditetapkan berdasarkan data yang diperoleh dari survai tentang sikap, wawancara
dengan anggota tim, dan pengamatan atas diskusi-diskusi kelompok. Cara-cara tersebut bermanfaat untuk menilai sejumlah hal, antara lain iklim komunikasi, rasa saling percaya, motivasi, kemampuan memimpin, pencapaian konsensus, dan nilai kelompok.
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
3. Membicarakan Kebutuhan
Tim harus mendiskusikannya secara terbuka, dan mencoba menginterpretasikannya. Melalui proses ini akan ditemukan sejumlah kebutuhan; kekuatan yang ada harus dicoba dipertahankan dan dikembangkan
sedangkan kelemahan harus segera diatasi. Proses ini bisa berlangsung dalam beberapa kali pertemuan guna menemukan hal-hal yang memang sangat dibutuhkan.
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
4. Merencanakan Sasaran dan Menetapkan Cara Pencapaiannya
Tim harus menetapkan tujuan dan misinya, serta
menetapkan prioritas kegiatan. Konsultan akan sangat membantu dengan cara memberikan saran-saran
tentang teknik atau kegiatan yang mungkin dilakukan dalam upaya mencapai tujuan.
Tahap Dalam
Membangun Kerja
Tim
5. Mengembangkan Keterampilan
Sebagian besar proses pembangunan tim akan memusatkan kegiatannya pada pengembangan
ketrampilan yang diperlukan untuk menciptakan tim yang berkinerja tinggi.
Karateristik Tim yang
Sukses
1. Mempunyai Komitmen Terhadap Tujuan Bersama 2. Menegakkan Tujuan Spesifik
3. Kepemimpinan dan Struktur
4. Menghindari Kemalasan Sosial dan Tanggung Jawab 5. Mengembangkan Kepercayaan Timbal-Balik yang
Karateristik Tim yang
Sukses
1. Mempunyai Komitmen Terhadap Tujuan Bersama Anggota tim yang sukses menuangkan waktu dan upaya yang sangat banyak ke dalam pembahasan,
pembentukan dan persetujuan mengenai suatu maksud yang menjadi milik mereka baik secara kolektif maupun individual.
Karateristik Tim yang
Sukses
2. Menegakkan Tujuan Spesifik
Tim yang sukses menerjemahkan maksud bersama mereka sebagai tujuan–tujuan kerja yang realistis, yang dapat diukur dan bersifat spesifik.Tujuan yang spesifik mempermudah mereka dalam berkomunikasi.Tujuan itu juga membantu memelihara fokus mereka pada
Karateristik Tim yang
Sukses
3. Kepemimpinan dan Struktur
Tujuannya adalah mendefinisikan target akhir dari tim. Di samping itu tim berkinerja tinggi juga memerlukan
kepemimpinan dan struktur untuk memberikan fokus dan pengarahan. Mendefinisikan dan menyepakati suatu pendekatan bersama, misalnya, memastikan bahwa tim itu dipersatukan pada cara untuk mencapai tujuan.
Karateristik Tim yang
Sukses
4. Menghindari Kemalasan Sosial dan Tanggung Jawab Individu–individu dapat bersembunyi dalam suatu kelompok. Mereka dapat menyibukkan diri dalam “kemalasan sosial” dan meluncur bersama upaya
kelompok 31 karena sumbangan individual mereka tidak dapat dikenali. Tim yang berkinerja tinggi mengurangi kecenderungan ini dengan membuat diri mereka dapat dimintai pertanggungjawaban baik secara individual maupun pada tingkat tim. Evaluasi Kinerja dan Sistem Ganjaran yang benar
Karateristik Tim yang
Sukses
5. Mengembangkan Kepercayaan Timbal-Balik yang Tinggi
Tim kinerja tinggi dicirikan oleh kepercayaan (trust) timbal balik yang tinggi di antara anggota-anggotanya. Artinya, para anggota meyakini akan integritas, karakter dan kemampuan setiap anggota yang lain.
Hari, Widijo. 2013. Optimalkan The Leader in You. Jakarta. PT Elex Media Komputindo http://ekoif.weebly.com/teori-kepemimpinan.html
http://roisahmabruroh.blogspot.co.id/p/sifat-sifat-kepemimpinan.html http://www.asikbelajar.com/2014/02/sifat-sifat-kepemimpinan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
Hartono, 2016. Tipe dan Gaya Kepemimpinan Menurut Para Ahli Terlengkap, http://gomarketingstrategic.com