• Tidak ada hasil yang ditemukan

TATALAKSANA KEPABEANAN DIBIDANG IMPOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TATALAKSANA KEPABEANAN DIBIDANG IMPOR"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

TATALAKSANA

KEPABEANAN DIBIDANG

IMPOR

(2)

Impor Impor

Definisi:

Impor adalah kegiatan memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam daerah pabean

Saat Impor:

Saat impor adalah saat barang memasuki Daerah Pabean.

Barang impor terutang BM begitu memasuki Daerah Pabean.

Pemeriksaan:

Terhadap barang impor dilakukan pemeriksaan pabean yang terdiri dari:

1.Penelitian dokumen

2.Pemeriksaan fisik (secara selektif)

(3)

kinosta.doc 3

IMPOR

ZEEZEE

LANDAS KONTINENLANDAS KONTINEN

DAERAH PABEAN DAERAH PABEAN

MASUKMASUK

BARANG IMPORBARANG IMPOR

IMPOR

Adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean

(4)

REGISTRASI IMPORTIR

1.

EXISTENCE - ALAMAT DAN IDENTITAS

untuk mengenali pengguna jasa kepabeanan melalui NIK

1. RESPONSIBILITY - SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB 2. NATURE OF BUSINESS

3. AUDITABLE

(5)

IMPORTIR

Pemeriksaan lapangan

Oleh Kanwil/KPU DJBC

Menu registrasi importir situs bea dan cukai

http://www. beacukai.go.id

Isi+kirim

Formulir isian registrasi importir

Penelitian administrasi

PROSES REGISTRASI IMPORTIR

Y

Perlu pemeriksaan lapangan?

ditolak

T

NIK

(6)

1. Perwakilan neg asing / badan internasional

2. Brg penumpang, awak sarana pengangkut, brg kiriman, lintas batas

3. Brg pindahan

4. Brg Hadiah, hibah

5. Brg Pemerintah

6. Brg impor sementara penumpang

Pengecualian registrasi importir

(7)

ALUR TATALAKSANA

KEPABEANAN DI BIDANG IMPOR

1. KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT

DAN KEDATAANGAN BARANG IMPOR

2. PEMBONGKARAN DAN PENIMBUNAN

3. PENGELUARAN BARANG IMPOR

(8)

SEBELUM KEDATANGANNYA SARANA PENGANGKUT WAJIB MEMBERITAHUKAN

RENCANA KEDATANGAN (BC 1.0)

• Nama SP

• No. pengangkutan (voy./flight no)

• Pelab. asal

• Pelab terakhir yg disinggahi

• Pelab.tujuan

• Perkiraan tanggal kedatangan

• Rencana jumlah kemasan, peti kemas atau barang curah yang akan dibongkar

• Pelab. tuj. berikutnya dalam Daerah Pabean

Diberitahukan 24 jam sebelum kedatangan u/ SP laut

untk SP udara paling lambat sampai dg sebelum kedatangan

SP

SP dr luar daerah pabean melaui darat tdk wajib RKSP

(9)

 Singapore Singapore

 Singapore Singapore

Memuat/tidak memuat barang imporMemuat/tidak memuat barang impor

 Tg.Priok

 Tg.Priok

 Tg.Perak

 Tg.Perak

 Australia Australia

 Australia Australia

 Tg. Emas

 Tg. Emas

Memuat BI eks A/L dari Tg Priok tujuan Ke Tg.Emas

Memuat BE dari Tg.Emas

Tujuan ke Australia, bongkar Tg Perak utk dimuat kapal D

Kapal A Kapal B Kapal CKapal C

Kapal DKapal D

Kapal A International Liner, datang dari Singapore memuat maupun tidak memuat barang2 impor/ekspor/barang

Kapal B National Liner, memuat brg impor eks A/L dari Tg Priok ke Tg Emas

Kapal C National Liner, memuat brg ekspor tujuan Australia dari Tg Emas dibongkar di Tg Perak untuk di A/L ke Australia dengan Kapal D

Wajib menyerahkan

RKSP / JKSP

(10)

PADA SAAT KEDATANGANNYA PENGANGKUT WAJIB :

• Menyerahkan Pemberitahuan Pabean berupa Inward Manifest (BC 1.1), sebelum

pembongkaran barang atau paling lambat 24 jam sejak kedatangan SP laut dan 8 jam sejak SP udara

• Selain itu wajib menyerahkan Personal effect / crew /passenger manifest Store list

Stowage plan Amunition list Drug list

daft inventaris SP*

SP melalui darat , paling lama s/d kedatangan .

(11)

Menyerahkan secara manualMenyerahkan secara manual : :

a. Daftar penumpang dan/atau awak sarana pengangkut, b. Daftar bekal kapal,

c. Stowage plan,

d. Daftar senjata api, dan

e. Daftar obat-obatan termasuk narkotika.

Inward Manifest

Barang Impor : yang Dibongkar/

Diselesaikan, Diangkut Lanjut, Diangkut Terus

Barang ekspor: yang Diangkut Lanjut, Diangkut Terus

Barang BC 1.3

Sarana Pengangkut

Datang langsung dari Luar Daerah Pabean;

Datang dari Dalam Daerah Pabean mengangkut barang impor, brg ekspor dan/atau barang asal Daerah Pab yg diangkut ke TLDDP melalui luar Daerah Pabean

SP Laut dan Udara :SP Laut dan Udara :

- paling lambat sebelum melakukan pembongkaran - paling lambat sebelum melakukan pembongkaran muatan.

muatan.

- Jk pembongkaran tdk sgr dilakukan, paling lambat : - Jk pembongkaran tdk sgr dilakukan, paling lambat :

a. 24 Jam sejak kedatangan SP (Laut) a. 24 Jam sejak kedatangan SP (Laut)

b. 8 Jam sejak kedatangan SP (Udara) b. 8 Jam sejak kedatangan SP (Udara)

SP Darat :SP Darat :

Pada saat kedatangan SP Pada saat kedatangan SP

M enye

rahkan Men

yerah kan

Tidak Wajib menyerahkan Inward Manifest

Untuk SP yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan : - lego jangkar tdk lebih 24 jam (SP Laut)

- Mendarat tdk lebih dari 8 jam (SP udara)

SAAT KEDATANGAN :

Menyerahkan Pemberitahuan NIHIL

Jika tidak melakukan kegiatan bongkar/muat, akan tetapi :

- lego jangkar lebih 24 jam (SP Laut)

- Mendarat lebih dari 8 jam (SP udara)

KEWAJIBAN PENGANGKUT

(12)

PEMBONGKARAN BARANG IMPOR PEMBONGKARAN BARANG IMPOR

di Kawasan Pabean

Kawasan lain setelah mendapat ijin dari Ka. KPPBC

Paling lama 24 (dua puluh empat) jam setelah selesai Paling lama 24 (dua puluh empat) jam setelah selesai pembongkaran barang impor , Pengangkut wajib pembongkaran barang impor , Pengangkut wajib

menyampaikan daftar kemasan atau peti kemas atau jumlah menyampaikan daftar kemasan atau peti kemas atau jumlah barang curah yang telah dibongkar

barang curah yang telah dibongkar kepada Pejabat di Kantor kepada Pejabat di Kantor Pabean.

Pabean.

Dikecualikan : Force majeur Sifat barang Kendala tehnis Kongesti

Kawasan Pabean tidak memenuhi syarat

Wajib dilaporkan pada kesempatan pertama dan

menyampaikan manifest paling lambat 72 jam setelah selesai pembongkaran barang impor

Att :

SA berdasarkan

ps 7 (4) dan (5)

UU No. 10/1995

(13)

PENIMBUNAN BARANG IMPOR

 Hanya dapat ditimbun di TPS Hanya dapat ditimbun di TPS

 Dalam hal ttt dapat ditimbun di tempat lain atas Dalam hal ttt dapat ditimbun di tempat lain atas persetujuan Ka K

persetujuan Ka K P P PBC, sbb : PBC, sbb :

Kongesti Kongesti

Sifatnya memerlukan pengawasan khusus Sifatnya memerlukan pengawasan khusus Force majeur

Force majeur Alasan tehnis Alasan tehnis Bahan baku dan

Bahan baku dan mesin industrimesin industri Keperluan proyek mendesak Keperluan proyek mendesak Barang kebutuhan pokok Barang kebutuhan pokok

Barang impor industri strategis Barang impor industri strategis

Fasilitas pembayaran berkala/PIB berkala Fasilitas pembayaran berkala/PIB berkala Pertimbangan Ka KPBC

Pertimbangan Ka KPBC

Pengusaha Tempat Penimbunan wajib lapor dalam waktu 12 jam Pengusaha Tempat Penimbunan wajib lapor dalam waktu 12 jam

setelah selesainya penimbunan setelah selesainya penimbunan

Att :

SA bdsr ps 43

UU No.10 /95

(14)

POSPOS

TPSTPS

TPPTPP

TPSTPS

POSPOS

TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA

Bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di Kawasan

Pabean untuk menimbun barang sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya

KANTOR PABEANKANTOR PABEAN

(15)

PENGELUARAN BARANG DARI KAWASAN PABEAN

DAPAT DILAKUKAN UNTUK TUJUAN

(16)

DOKUMEN PEMBERITAHUAN DOKUMEN PEMBERITAHUAN

IMPOR DENGAN TUJUAN IMPOR IMPOR DENGAN TUJUAN IMPOR

UNTUK DIPAKAI UNTUK DIPAKAI

PIB (BC 2.0)

CUSTOMS DECLARATION (BC 2.2)

PPKP (Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos)

Pemberitahuan Lintas Batas

PEMBERITAHUAN IMPOR BARANG

(17)

CARA PENGAJUAN PIB KE KPBC CARA PENGAJUAN PIB KE KPBC

Setiap pengimporan atau secara berkala Setiap pengimporan atau secara berkala

Secara manual atau melalui media elektronik Secara manual atau melalui media elektronik

Utk Kantor Pabean yg menerapkan sistem Utk Kantor Pabean yg menerapkan sistem PDE , pengiriman data melalui komputer yg PDE , pengiriman data melalui komputer yg

on-line dgn sistem PDE Kepabeanan on-line dgn sistem PDE Kepabeanan

(18)

Bea Masuk adalah pungutan Negara berdasarkan Undang- undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah atau ditambah dengan UU No. 17 Tahun 2006 yang dikenakan terhadap barang impor . Pasal 1 butir 13 UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Terdapat 2 (dua ) cara menghitung Bea Masuk , sebagai berikut :

Tarif Spesifik Tarif Advalorum

2626

BEA MASUK

(19)

Tarif Spesifik

Yaitu penghitungan Bea Masuk dengan cara mengkalikan jumlah satuan barang dengan tariff pembebanan Bea Masuk . Jenis

barang impor yang dikenakan tariff spesifik ditetapkan oleh

Menteri Keuangan . Dewasa ini terdapat dua jenis barang yang ditetapkan tariff spesifik yaitu beras ( Pos tariff BTBMI : 10.06 ) dan Gula (Pos tarif BTBMI : 17.01).

Contoh :

Gula pasir (refined sugar) sebanyak 10.000 kg . Pos tariff BTBMI : 1701.99.11.00

( BM : Rp. 700,-/kg)

BM wajib dibayar adalah : 10.000 x Rp. 700,- = Rp. 7.000.000,-

2727

(20)

2828

Beras (1006.30.61.00) Rp. 430,-/kg Tepung Beras (1102.30.00.00) Rp. 430,-/kg Gula tebu (1701.11.00.00) Rp. 550,-/kg Gula Bit (1701.12.00.00) Rp. 700,-/kg Gula murni (1701.99.11.00) Rp. 700,-/kg

Diimpor gula tebu (refine suger) dari tebu , jumlah 50.000 kg /net , dari Thailand .

BM = 50.000 x Rp. 550,- = Rp. 27.500.000,-

(21)

2929

TARIF ADVALORUM

RUMUS :

BM = % tarif BTBMI x NP

Catatan :

BTBMI = Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (versi 2007)

NP = Nilai Pabean = Harga dalam kondisi CIF

(22)

3030

CARA MENGHITUNG BM

ps 12 UU No. 10/1995 ttg Kepabeanan

BM = setingi-tingginya 40 % x NP

Harga CIF = Fob + Freight + Insurance Ps. 14, utk penetapan tarif brg

dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi

(23)

Cara penentuan nilai CIF adalah sebagai berikut :

• Harga CIF adalah nilai yang dijadikan dasar untuk menghitung Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor.

• CIF (Cost Insurance and Freight) adalah hasil penjumlahan antara nilai FOB + Freight + Insurance.

Harga FOB adalah harga barang impor sampai dengan barang dimuat diatas kapal di pelabuhan muat. Harga FOB biasanya tertera didalam Invoice atau Faktur.

3131

(24)

Bea Masuk yang dibayar adalah hasil perkalian antara nilai pabean dengan persentase (%) tariff pembebanan bea masuk sebagaimana tertera didalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).

Contoh penghitungan Bea Masuk :

Bahan baku obat berupa : ampicilin tryhidrate , dengan nilai CIF USD 10,000.- diimpor dari India . Pos tarif dan pembebananan menurut BTBMI adalah : 2941.10.20.00, besar tariff Bea Masuk :10 % , NDPBM yang berlaku adalah USD 1.- = Rp. 9.000,-.

Bea Masuk = 10 % x 10.000 x Rp. 9.000,- = Rp. 9.000.000,-

3434

(25)

TANGGUNG JAWAB BM

sejak tanggal pemberitahuan

pabean

bila importir tidak ditemukan

atas barang yang ditimbun

atas barang yang diangkut

atas barang fasilitas / saat

kedatangan

3535

(26)

Blokir?

reject

Blokir?

reject MandatoryMandatory

Penetapan

Jalur

Penetapan

Jalur

Merah

PIB

Hijau

Pemeriksaan Pemeriksaan

Hi Co ScanHi Co Scan

Pemeriksaan Pemeriksaan

Hi Co ScanHi Co Scan

Pemeriksaan Pemeriksaan

FisikFisik

Pemeriksaan Pemeriksaan

FisikFisik

PenelitihanPenelitihan

DokumenDokumen

PenelitihanPenelitihan

DokumenDokumen

SPPB

Komputer KPBC

Kantor Pelayanan DJBC

Sistem Pelayanan Impor Sistem Pelayanan Impor

(PDE-Impor) (PDE-Impor)

Importir

PIB

Customs

ResponRespon

INSWINSW

Kuning

NPPNPP

MITA

SPPB

PenelitihanPenelitihan

DokumenDokumen

PenelitihanPenelitihan

DokumenDokumen

SSPCP

SSPCP

BANK

BANK

(27)

PIB ditolak (reject) dalam hal :

1. Data PIB tidak diisi lengkap dan benar

2. Importir tidak melunasi hutang dalam jangka waktu 30 hari sejak penetapan

3. Kode valuta tidak ada

4. Kode HS tak ada dalam BTBMI

5. Importir belum menyerahkan PIB/SSPCP dalam jangka waktu yang ditetapkan

6. No. PPJK tak benar /NPP habis masa berlakunya

7. Importir/PPJK di Black List

(28)

PENETAPAN JALUR PENETAPAN JALUR

 JALUR MERAH JALUR MERAH

 JALUR HIJAU JALUR HIJAU

 JALUR KUNING JALUR KUNING

 JALUR PRIORITAS JALUR PRIORITAS

(29)

KRITERIA JALUR MERAH

• Importir Baru

• Importir dalam kategori Resiko sangat Tinggi

• Barang impor sementara

• Barang re-impor

• Terkena pemeriksaan acak

• Barang impor tertentu yg ditetapkan pemerintah

• Brg impor resiko tinggi /berasal dari negara yg berisiko tinggi Jalur Merah adalah mekanisme

Pelayanan dan pengawasan

pengeluaran barang impor dengan dilakukan pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen sebelum Penerbitan SPPB

(30)

JALUR KUNING

1. Jalur Kuning adalah mekanisme pelayanan dan

pengawasan pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi dilakukan penelitian dokumen sebelum penerbitan SPPB.

2. Jalur Kuning ditetapkan dalam hal:

1) Importir berisiko tinggi yang mengimpor komoditi berisiko rendah;

2) Importir berisiko menengah yang mengimpor komoditi berisiko menengah;

3) MITA Non Prioritas yang mengimpor komoditi berisiko

tinggi.

(31)

JALUR HIJAU JALUR HIJAU

1. Jalur Hijau adalah mekanisme pelayanan dan pengawasan pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi

dilakukan penelitian dokumen setelah penerbitan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB);

2. Jalur Hijau ditetapkan dalam hal:

1) Importir berisiko menengah yang mengimpor komoditi berisiko rendah;

2) Importir berisiko rendah yang mengimpor komoditi berisiko rendah atau menengah;

(32)

JALUR PRIORITAS

Mekanisme pelayanan kepabeanan di bidang impor yang diberikan kepada importir yang mempunyai reputasi sangat baik dan memenuhi persyaratan/kriteria yang ditentukan untuk mendapatkan pelayanan khusus, sehingga penyelesaian importasinya langsung diterbitkan SPPB tanpa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dokumen

reputasi yg sangat baik

bidang usaha yang jelas

tidak pernah menyalahgunakan fas.

Kepabeanan dalam 1 tahun terakhir

tidak pernah salah memberitahukan jumlah, jenis, dan/atau nilai pabean

telah diaudit KAP

tidak mempunyai tunggakan utang berupa kekurangan pembayaran bea masuk kepada DJBC

(33)

PEMERIKSAAN PABEAN

Brg hanya dpt dikeluarkan dari Kaw.

Pab.atau tempat lain dlm pengawasan Pabean setelah tdpt pemeriksaan pab dan diberikan persetujuan

Pemeriksaan Pabean meliputi pemeriksaan fisik barang (scr selektif) dan pemeriksaan dokumen

(34)

PENGELUARAN BARANG IMPOR PENGELUARAN BARANG IMPOR

SEMENTARA SEMENTARA

1.1.

Menggunakan PIB dan dok. pelengkap pabean serta bukti Menggunakan PIB dan dok. pelengkap pabean serta bukti pembayaran/jaminan

pembayaran/jaminan

2.2.

menggunakan PIB menggunakan PIB K, untuk K, untuk

1. Barang pindahan

2. Barang impor sementara yang dibawa oleh penumpang

3. Barang impor melalui jasa titipan

4. Barang untuk angkutan laut dan udara yang digunakan di dalam negeri

5. Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Bea dan Cukai

(35)

PENGELUARAN BARANG IMPOR UNTUK DIEKSPOR KEMBALI

1.

Terhadap brg impor yg masih berada didalam Kawasan Pabean dpt diekspor kembali dgn alasan :

 Tidak sesuai pesanan

 Tdk dpt diimpor karena perubahan peraturan

 Salah kirim

 Rusak

 Tdk dpt memenuhi persyaratan impor dr instansi tehnis

2.

Ket.atas tdk berlaku jika tlh diajukan PIB dan hasil pemeriksaan fisik kedapatan jumlah / jenis brg tidak sesuai

3.

Importir mengajukan permohonan ke Ka KPBC

4.

Berdasarkan perset.KPBC, eksportir membuat PEB

5.

Pemeriksaan jumlah, jenis, merek serta ukuran kemasan / peti

kemas

(36)

PEMERIKSAAN FISIK BARANG IMPOR

Tujuan untuk mencegah mis description, unreported, kesalahan neg.asal brg,

pemasukan brg larangan/pembatasan dan menetapkan klasifikasi tarif dan nilai pabean

Tingkat pemeriksaan 10 %, 30 % atau keseluruhan barang

(37)

Dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan fisik, importir atau kuasanya berkewajiban untuk:

1.menyiapkan barang untuk dilakukan pemeriksaan fisik;

2.mengeluarkan kemasan yang akan diperiksa di tempat pemeriksaan fisik barang dibawah pengawasan Pejabat Pemeriksa Barang;

3.membuka kemasan yang akan diperiksa;

4.menyaksikan pemeriksaan fisik; dan menyerahkan contoh barang dan/atau foto barang dan/atau dokumen tentang spesifikasi produk yang diperiksa dalam hal diminta oleh Pejabat Pemeriksa Barang.

Dalam hal importir atau kuasanya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud, maka:

a.Pejabat Pemeriksa Barang membuat Laporan Hasil Periksaan (LHP) tentang tidak dapat dilakukannya pemeriksaan fisik beserta alasannya;

b.dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM), dapat dilakukan pemeriksaan karena jabatan..

(38)

Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), memuat : Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), memuat :

1.1. Uraian jenis barang, meliputi :Uraian jenis barang, meliputi :

a)a) Uraian barang,Uraian barang,

b)b) Merek & tipe barangMerek & tipe barang

c)c) Spesifikasi teknis sesuai dengan kegunaan barangSpesifikasi teknis sesuai dengan kegunaan barang d)d) Keterangan lain untuk memperjelas pengenalan barangKeterangan lain untuk memperjelas pengenalan barang

2.2. Jumlah barang dalam satuan yg umumJumlah barang dalam satuan yg umum 3.3. Jenis kemasan barangJenis kemasan barang

4.4. Kesimpulan tentang kesesuaian jumlah & jenis barang dengan copy Kesimpulan tentang kesesuaian jumlah & jenis barang dengan copy invoice & packing list

invoice & packing list

5.5. Hasil penelitian Laboratorium jika diperlukanHasil penelitian Laboratorium jika diperlukan 6.6. Keterangan dari instansi terkait jika diperlukanKeterangan dari instansi terkait jika diperlukan

7.7. Hasil pemeriksaan bersama jika dilakukan pemeriksaan bersamaHasil pemeriksaan bersama jika dilakukan pemeriksaan bersama 8.8. Memberi catatan nomor PIB, nomor petikemas/kemasan, tanggal Memberi catatan nomor PIB, nomor petikemas/kemasan, tanggal

pemeriksaan dan mencantumkan nama & NIP serta membubuhkan tanda pemeriksaan dan mencantumkan nama & NIP serta membubuhkan tanda tangan pada contoh barang dan/atau photo barang

tangan pada contoh barang dan/atau photo barang

(39)

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan ba- han ajar bahasa Inggris dengan media audio untuk SMP dalam penelitian ini juga telah mendapatkan penilaian yang positif baik dari ahli bahasa Inggris, ahli

Berdasarkan hasil chi square tentang hubungan antara pengetahuan setelah penayangan video dengan pelaksanaan tentang inisiasi menyusui dini diperoleh diperoleh

Misalkan x dan y bilangan bulat yang memenuhi system

Nofeenamo seemie megaluno, “Noafa pedaghoo anagha?” Nobhalomo, “Rampahano kaparendeno kontu foliu-liuno kambaka nefumaaku, dotaburiane dagi moneu sedodo.” Noeremo

Supervisi manajerial dan supervisi akademik pengawas merupakan usaha yang dilakukan seorang pengawas untuk memperbaiki pola kerja dan kinerja sekolah termasuk

Bagi Jemaat yang baru pertama kali mengikuti Ibadah dalam Persekutuan di GPIB “PANCORAN RAHMAT” Depok dan berkerinduan mendapat pelayanan atau menjadi Anggota

Berdasarkan hasil penelitian dan pengelolahan data dengan memakai prosedur statistik penelitian maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan

[r]