• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB III

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1. Geomorfologi

Terdapat beberapa parameter untuk mengklasifikasi geomorfologi daerah penelitian, yaitu morfografi, morfometri dan morfogenesa. Berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985) terdapat dua satuan morfografi daerah penelitian (Gambar III.1) yang dibedakan terhadap rentang elevasi yaitu satuan perbukitan dan satuan perbukitan tinggi. Satuan morfologi perbukitan sangat dominan dan tersebar luas hampir 95% dari daerah penelitian.

Gambar III.1 Morfografi daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985).

Berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985) didapatkan empat kelas kemiringan lereng pada daerah penelitian, yaitu lereng landai (2-7%), lereng landai-curam (7- 15%), lereng curam (15-30%), dan lereng curam-terjal (30-70%). Diperkirakan lereng landai tersebar hingga 10% dari daerah penelitian, lereng landai-curam tersebar hingga 30% dari daerah penelitian, lereng curam terserbar hingga 30%

dari daerah penelitian, lereng curam tersebar hingga 30% dari daerah penelitian, dan lereng curam-terjal tersebar hingga 30% dari daerah penelitian.

(2)

11

Dari hasil pengolahan data diatas, maka dapat dielaborasi terhadap morfogenetik dari wilayah tersebut. Hal tersebut dapat membantu dalam analisis pola aliran sungai, tahapan geomorfik, dan satuan geomorfologi. Pada daerah penelitian satuan geomorfologi dibagi menjadi dua, yaitu Satuan Perbukitan Struktural Curam dan Satuan Perbukitan Struktural Landai. Tahapan geomorfik daerah penelitian berada pada tahapan geomorfik muda dan tahapan geomorfik dewasa.

Pola aliran sungai yang ada pada daerah penelitian terdiri atas pola aliran sungai rektangular dan pola aliran sungai pararel.

Gambar III.2 Morfometri daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985).

III.1.1. Satuan Perbukitan Struktural Curam (S1)

Satuan perbukitan struktural curam berada di bagian barat hingga tenggara yang hampir meliputi 60% dari daerah penelitian. Satuan geomorfologi ini berada di wilayah sekitar Desa Pasir Tanjung sampai Desa Talangsepuh, yang dilalui oleh beberapa sungai utama dan anak sungai seperti Way Handa, Way Kayu Ubi, Way Gading. Satuan ini terdiri oleh morfografi perbukitan yang sangat dominan dan berdasarkan kemiringan lereng yang terdapat pada satuan ini yaitu lebih dominan terhadap kelas lereng curam dan lereng curam-terjal. Ditinjau dari aspek

(3)

12

morfogenetik bahwa pembentuk satuan morfologi daerah penelitian ini adalah gaya endogen berupa vulkanisme dan gaya tektonik yang sangat dominan.

Sehingga bentuk lahan yang terbentuk memiliki keterdapatan struktur geologi yang dominan seperti kekar, terdapat kemiringan lapisan batuan yang cukup tinggi, dan keterdapatan sesar pada daerah penelitian. Gaya eksogen yang terjadi berupa erosi dan pelapukan yang tidak signifikan.

Gambar III.3 Satuan Perbukitan Struktural Curam (S1).

III.1.2. Satuan Perbukitan Struktural Landai (S2)

Satuan perbukitan struktural curam berada dibagian barat hingga tenggara yang hampir meliputi 40% dari daerah penelitian. Satuan geomorfologi ini berada di wilayah sekitar Desa Sukabumi, Desa Jaha, dan Desa Pertiwi, yang dilalui oleh beberapa sungai utama dan anak sungai seperti Way Kayu Ubi dan Way Gading.

Satuan ini terdiri oleh morfografi perbukitan yang sangat dominan dan berdasarkan kemiringan lereng yang terdapat pada satuan ini yaitu lebih dominan terhadap kelas lereng landai dan lereng landai-curam. Ditinjau dari aspek morfogenetik bahwa pembentuk satuan morfologi daerah penelitian ini adalah gaya endogen berupa vulkanisme dan tektonik. Sehingga bentuk lahan yang terbentuk memiliki keterdapatan struktur geologi yang dominan seperti kekar, terdapat kemiringan lapisan batuan yang cukup signifikan, dan keterdapatan sesar

(4)

13

pada daerah penelitian. Gaya eksogen yang terjadi berupa erosi dan pelapukan cukup signifikan sampai mempengaruhi kecuraman lereng. Hal ini dibuktikan dari banyak keterdapatan batuan kondisi lapuk pada satuan morfologi ini.

Gambar III.3 Satuan Perbukitan struktural landai (S2).

III.1.3. Tahapan Geomorfik

Tahapan geomorfik ditentukan berdasarkan analisis dan pengamatan lapangan terhadap saluran sungai, bentuk lembah sungai, erosi, dan keterkaitannya dengan air tanah (Lobeck, 1931). Berdasarkan pengamatan lapangan pada daerah penelitian cabang sungai dominan memiliki bentuk lembah “V” dengan lereng lembah yang cukup curam umum ditemukan di selatan lokasi penelitian, sungai tidak berkelok, erosi mengarah vertikal, dari hasil analisis bentukan ini termasuk kedalam tahapan geomorfik muda. Sedangkan pada hilir sungai sebelah utara daerah penelitian terdapat beberapa sungai berkelok, sedikit point bar, tahapan erosi mulai kearah horizontal dengan bentuk lembah “U-V”, dari hasil analisis bentukan ini termasuk dalam tahapan geomorfik dewasa.

(5)

14

Gambar III.4 Morfologi dasar sungai bentuk “V” pada sungai Way Gading.

Gambar III.5 Morfologi lembah bentuk “V” daerah Gunung Payung.

(6)

15

Gambar III.6 Morfologi dasar sungai berbentuk “U” pada sungai Way Handa (A) dan Way Kayu Ubi (B).

III.1.4. Pola Aliran Sungai

Pola aliran sungai dipengaruhi oleh faktor eksogen dan endogen dalam pembentukannya. Faktor endogen dapat berupa jenis dan resistensi batuan hingga struktur yang berkembang pada daerah penelitian sehingga membentuk pola aliran tertentu, sedangkan faktor eksogen berupa erosi, iklim, dan aktivitas manusia.

Analisis pola aliran sungai pada daerah penelitian dilakukan berdasarkan klasifikasi pola pengaliran sungai dan karakteristiknya menurut Van Zuidam

A

B

(7)

16

(1985). Pola aliran sungai yang terdapat pada daerah penelitian yaitu pola aliran sungai pararel dan rektangular (Gambar III.7).

Gambar III.7 Pola aliran sungai daerah penelitian.

III.1.4.1. Pola Aliran Sungai Rektangular

Pola aliran sungai rektangular berkembang pada bagian barat daerah penelitian menempati 30% dari luas daerah penelitian. Pola aliran sungai mengalir dari selatan menuju ke utara dengan bentuk lembah dominan “V” dibanding “U”. Pola aliran sungai ini mencirikan keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang mengontrol pola aliran, ditandai dengan pertemuan cabang sungai yang menyiku dan terdapat pembelokan arah aliran sungai. Pola aliran sungai ini berada pada sungai Way Handa.

III.1.4.2. Pola Aliran Sungai Pararel

Pola aliran sungai pararel berkembang pada bagian timur daerah penelitian, menempati 70% dari luas daerah penelitian. Pola aliran sungai mengalir dari barat daya menuju timur laut dengan bentuk lembah dominan “V” dibanding “U”. Pola aliran ini menunjukkan daerah dengan kemiringan lereng sedang hingga curam yang berada pada perbukitan serta punggungan memanjang. Pola aliran ini juga

(8)

17

mencirikan keberadaan struktur geologi berkembang secara dominan. Pola aliran sungai ini meliputi sungai Way Kayu Ubi dan Way Gading.

III.1.5. Analisis Pola Kelurusan

Pola kelurusan yang diolah berupa kelurusan punggungan dan kelurusan lembahan dengan jumlah 41 kelurusan. Garis kelurusan punggungan ditandai dengan warna merah sedangkan untuk kelurusan lembahan ditandai dengan warna kuning. Berdasarkan 41 data kelurusan yang didapat, diagram roset kelurusan punggungan dan diagram roset kelurusan lembahan menunjukkan pola kelurusan daerah penelitian dominan mengarah timur laut-barat daya. Data kelurusan yang ada di lokasi penelitian akan divalidasi dengan struktur geologi berupa kekar. Pola kelurusan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar III.8 Kelurusan punggungan dan lembahan daerah penelitian.

III.2. Stratigrafi

Pembagian satuan batuan pada daerah penelitian dilakukan berdasarkan pengamatan singkapan dan analisis uji sayatan tipis, kemudian data yang didapat disebandingkan dengan Peta Geologi Regional Lembar Kotaagung (Amin dkk., 1993). Urutan satuan batuan dari tua ke muda adalah sebagai berikut:

(9)

18 III.2.1. Satuan Basalt

Satuan ini berada di selatan, utara, dan timur dari lokasi penelitian dengan lima stasiun pengamatan. Satuan ini merupakan satuan paling tua di lokasi penelitian.

Satuan ini ditandai dengan warna merah pada Peta Geologi (Lampiran Peta).

Satuan ini memiliki kenampakan warna abu hitam gelap dengan kondisi segar hingga hampir lapuk, memiliki struktur masif dan terdapat struktur sekunder berupa kekar dan pelapukan mengkulit bawang. Secara megaskopis satuan batuan ini memiliki tekstur afanitik hingga porfiritik (Gambar III.9).

Gambar III.9 Singkapan satuan basalt stasiun pengamatan RO.31 (A-a) dan RO.32 (B-b).

Berdasarkan analisis petrografi (Gambar III.10), satuan ini memiliki warna abu kecoklatan hingga colourless pada pengamatan nikol sejajar. Tekstur umum porfiritik hingga afanitik, bentuk butir inequigranular, bentuk kristal euhedral sampai subhedral. Tekstur khusus pada sayatan tipis berupa trakitik, glomerocryst, vesikuler, dan fine sieve. Komposisi mineral (pada sayatan RO.33) terdiri dari olivin 10%, piroksen 26%, plagioklas (bitownit dan labradorit) 14%, hornblende 10%, opak 5%, massa dasar berupa plagioklas 30% dan gelas 5%, berdasarkan klasifikasi Travis (1955) termasuk kedalam basalt.

A a

B b

(10)

19

Adanya tekstur glomerocryst menunjukkan adanya gugusan mineral yang menyatu (teramalgamasi) satu dengan yang lainnya yang mengindikasikan lokasi pembentukannya ada di dapur magma. Tekstur sieve menunjukkan adanya percampuran magma lebih panas dari dapur magma lebih dalam yang menginjeksi magma baru ke dalam dapur magma dangkal sehingga merusak mineral plagioklas yang telah ada di dapur magma dangkal (Renjith 2014), tekstur trakitik menunjukkan bahwa satuan ini berupa aliran lava yang terbentuk sampai ke permukaan dengan diperkuat dengan adanya tekstur vesikuler. Pada kolom stratigrafi kesebandingan (Gambar III.18) satuan basalt sebanding dengan Formasi Hulusimpang (Tomh) yang terbentuk pada umur Oligosen-Miosen Awal.

Gambar III.10 Sayatan tipis basalt stasiun pengamatan RO.83, nikol sejajar (kiri) nikol bersilang (kanan).

III.2.2. Satuan Tuf

Satuan ini menyebar di bagian barat sampai timur dari lokasi penelitian dengan 20 stasiun pengamatan. Satuan ini relatif lebih muda daripada satuan basalt pada di lokasi penelitian. Satuan ini ditandai dengan warna merah muda cerah pada Peta Geologi (Lampiran Peta). Satuan ini memiliki kenampakan warna coklat cerah hingga abu keunguan dengan kondisi segar hingga hampir lapuk, memiliki struktur masif, dan terdapat struktur sekunder berupa kekar (Gambar III.11).

Secara megaskopis satuan batuan ini memiliki tekstur berukuran butir <2 mm,

(11)

20

bentuk butir membundar tanggung, pemilahan baik, dengan tingkat kekompakan agak kompak hingga kompak.

Berdasarkan analisis petrografi (Gambar III.12 dan Gambar III.13), satuan ini memiliki warna abu kecoklatan cerah hingga colourless pada pengamatan nikol sejajar, terlihat struktur masif. Tekstur meliputi ukuran butir <1 mm, sortasi baik, kemas terbuka, bentuk kristal euhedral sampai subhedral. Tekstur khusus yang dijumpai pada sayatan tipis berupa fine sieve. Komposisi mineral terdiri dari kuarsa 15%, plagioklas 20%, opak 15%, dengan massa dasar gelas berukuran abu yang terkonsolidasi 50%, berdasarkan klasifikasi Fisher (1966) termasuk ke dalam tuf gelas.

Gambar III.11 Singkapan satuan tuf pada stasiun pengamatan RO.42 (A-a) dan stasiun pengamatan RO.15 (B-b).

Satuan ini ditafsirkan berasal dari tipe endapan jatuhan yang dibuktikan dengan pemilahan yang baik akibat fraksinasi oleh angin saat pengendapannya. Tekstur

B A

b a

(12)

21

fine sieve yang dijumpai terhadap mineral plagioklas pada satuan tuf mengindikasikan sedikit dari mineral tersebut terlarutkan oleh magma yang lebih panas lalu terlontar dan tertanam dalam masa dasar gelas akibat erupsi eksplosif.

Pada kolom stratigrafi kesebandingan (Gambar III.18) satuan tuf sebanding dengan Formasi Hulusimpang (Tomh) pada umur Oligosen-Miosen Awal.

Gambar III.12 Sayatan tipis tuf stasiun pengamatan RO.05, nikol sejajar (kiri) nikol bersilang (kanan).

Gambar III.13 Sayatan tipis tuf stasiun pengamatan RO.42, nikol sejajar (kiri) nikol bersilang (kanan).

(13)

22 III.2.3. Satuan Lapili Padu

Satuan ini menyebar di bagian barat sampai timur dari lokasi penelitian dengan 20 stasiun pengamatan. Satuan ini relatif lebih muda daripada satuan tuf dan satuan basalt pada di lokasi penelitian. Satuan ini ditandai dengan warna merah muda pekat pada Peta Geologi (Lampiran Peta). Berdasarkan klasifikasi Fisher (1966) Satuan ini terdiri dari dua litologi, yaitu batulapili dan tuf lapili. Pada batulapili memiliki kenampakan warna abu keunguan dengan kondisi segar hingga hampir lapuk (Gambar III.14). Secara megaskopis batuan ini memiliki tekstur berukuran butir <2-30 mm, bentuk butir membundar tanggung, pemilahan buruk, dan kompak. Pada tuf lapili memiliki kenampakan warna abu keunguan dengan kondisi segar hingga lapuk, memiliki struktur granular (Gambar III.14). Secara megaskopis batuan ini memiliki tekstur berukuran butir <2-25 mm, bentuk butir membundar tanggung, pemilahan baik, dan kompak.

Gambar III.14 Singkapan satuan lapili padu stasiun pengamatan RO.12 (A), RO.39 (B-b), dan sampel batulapili pada stasiun pengamatan RO.12 (a).

A

B

a

b

(14)

23

Berdasarkan analisis petrografi (Gambar III.15), satuan ini memiliki warna abu keunguan cerah pada pengamatan nikol sejajar. Tekstur umum bentuk butir inequigranular, bentuk kristal subhedral sampai anhedral. Komposisi mineral (pada sayatan tipis RO.60) terdiri dari kuarsa 10%, plagioklas 10%, opak 5%, fragmen batuan 30% dengan massa dasar berupa gelas berukuran abu yang terkonsolidasi 45%.

Satuan ini ditafsirkan berasal dari tipe aliran yang dibuktikan dengan pemilahan yang buruk karena semua material berjalan secara bersamaan tanpa ada pemilahan ukuran butir, diperjelas dari petrografi batuan memperlihatkan kesan aliran terhadap massa dasar. Pada kolom stratigrafi kesebandingan (Gambar III.18) satuan lapili sebanding dengan Formasi Hulusimpang (Tomh) pada umur Oligosen-Miosen Awal.

Gambar III.15 Sayatan tipis batulapili stasiun pengamatan RO.60, nikol sejajar (kiri) nikol bersilang (kanan).

III.2.4. Satuan Lapili

Satuan ini tersebar di bagian barat daya dari lokasi penelitian dengan delapan stasiun pengamatan. Satuan ini menimpa satuan lain secara tidak selaras akibat erosional dengan umur lebih muda daripada satuan lain di lokasi penelitian (Gambar III.16). Satuan ini ditandai dengan warna coklat cerah pada Peta Geologi (Lampiran 3). Berdasarkan klasifikasi Fisher 1966 satuan ini terdiri dari batulapili.

Pada batulapili memiliki kenampakan warna coklat cerah hingga coklat gelap

(15)

24

dengan kondisi segar hingga hampir lapuk, memiliki struktur granular dan terdapat struktur sekunder berupa kekar (Gambar III.16). Secara megaskopis (Gambar III.17) batuan ini memiliki tekstur berukuran butir <2-60 mm, bentuk butir membundar tanggung, pemilahan buruk, dan tidak kompak hingga hampir kompak.

Gambar III.16 Singkapan satuan lapili stasiun pengamatan RO.3 (A) dan bukti ketidakselarasan satuan lapili (B).

A

B

(16)

25

Gambar III.17 Sampel batulapili stasiun pengamatan RO.4 (kiri) dan RO.21 (kanan).

Komposisi penyusun batu lapili terdiri dari material piroklastik berukuran debu 30% dan berukuran lapili 70%. Sehingga berdasarkan klasifikasi Fisher (1966) termasuk kedalam batu lapili. Komposisi penyusun tuf lapili terdiri dari material piroklastik berukuran debu 40% dan berukuran lapili 60%. Sehingga berdasarkan klasifikasi Fisher (1966) termasuk kedalam batu lapili. Satuan ini ditafsirkan berasal dari tipe aliran yang dibuktikan dengan pemilahan yang buruk karena semua material berjalan secara bersamaan tanpa ada pemilahan ukuran butir. Pada kolom stratigrafi kesebandingan (Gambar III.18) satuan lapili sebanding dengan Satuan Batuan Gunung Api Kuarter Muda (Qhv) pada umur Pleistosen hingga Holosen.

(17)

26

Gambar III.18 Kolom stratigrafi kesebandingan.

(18)

27 III.3. Struktur Geologi

Tahapan dalam identifikasi struktur geologi daerah penelitian adalah dengan melakukan analisis terhadap data struktur geologi yang ada di lapangan, kemudian di bandingkan terhadap pola kelurusan.

III.3.1. Analisis Kekar

Kekar atau rekahan adalah struktur geologi yang ada pada batuan akibat adanya gaya kompresi atau tensional sehingga membuat batuan menjadi pecah.

Banyaknya kekar yang ditemukan disebabkan oleh berkembangnya struktur sesar pada daerah tersebut. berdasarkan hasil geologi lapangan ditemukan dominan kekar gerus (shear fracture) dan di beberapa stasiun pengamatan ditemukan kekar bukaan. Hasil pengolahan dan analisis data kekar dijelaskan sebagai berikut.

III.3.1.1. Kekar Identifikasi Sesar Mendatar

Pada stasiun pengamatan RO.3, RO.4 - RO.5, RO.8 - RO10, RO.31 - RO.33, dan RO 83 ditemukan kekar gerus (shear fracture) pada litologi batulapili, tuf, tuf lapili dan basalt. Pada stasiun pengamatan RO.3 dilakukan pengukuran data kekar sebanyak 30 kekar, stasiun pengamatan RO.4-RO.5 sebanyak 44 kekar, stasiun pengamatan RO 8-RO.10 sebanyak 36 kekar, dan stasiun pengamatan RO.83 sebanyak 39 kekar.

Berdasarkan hasil analisis streografi, maka dapat diketahui pada stasiun pengamatan RO.3 memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 21, N208°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 69, N42°E, arah tegasan (σ3) sebesar 4, N300°E (Gambar III.19). Pada stasiun pengamatan RO.4 - RO.5 memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 5, N55°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 81, N293°E, arah tegasan (σ3) sebesar 7/ N146°E (Gambar III.24).

Pada stasiun pengamatan RO.8 - RO.10 memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 28/

N309°E arah tegasan dari barat laut-tenggara, arah tegasan (σ2) sebesar 61/

N110°E, arah tegasan (σ3) sebesar 9/ N214°E (Gambar III.21). Pada stasiun pengamatan RO.31 – RO.33 memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 26/ N286°E arah tegasan dari barat laut-tenggara, arah tegasan (σ2) sebesar 64, N100°E, arah

(19)

28

tegasan (σ3) sebesar 1/ N192°E. Pada stasiun pengamatan RO.83 memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 20/ N359°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 18/ N315°E, arah tegasan (σ3) sebesar N336°E/21.

Berdasarkan skema Anderson (1951), dapat diketahui bahwa kekar gerus yang terbentuk di stasiun pengamatan RO.3, RO.4-RO.5, RO.8-RO.10, dan RO.83 mengindikasikan hubungan dengan sesar mendatar karena σ2 mengarah kevertikal atau bisa disebut σhmax> σvertikal> σhmin. Arah tegasan utama (σ1) dari struktur stasiun pengamatan RO.3, RO.4-RO.5, dan RO.83 memiliki arah yang berlawanan terhadap Sesar Sumatera (antithetic) yaitu barat laut-tenggara. Pada stasiun pengamatan RO.8-RO.10 dan RO.31-RO.33 arah tegasan utama (σ1) dari struktur ini memiliki searah terhadap Sesar Sumatera (synthetic) yaitu barat laut- tenggara.

Gambar III.19 Struktur kekar pada RO.3 dengan singkapan sebelah kiri, dan hasil analisis dinamik RO.3 sebelah kanan.

(20)

29

Gambar III.20Struktur kekar pada RO.8.

Gambar III.21 Analisis dinamik data kekar RO.8-RO.10

III.3.1.2. Kekar Indetifikasi Sesar Normal

Pada stasiun pengamatan RO.44 ditemukan kekar gerus (shear fracture) dengan litologi tuf. Pada singkapan ini dilakukan pengukuran data kekar sebanyak 44 kekar (Gambar III.22). Berdasarkan hasil pengolahan dapat diketahui bahwa pada singkapan ini memiliki tegasan utama (σ1) sebesar 60/ N254°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 29/ N85°E, arah tegasan (σ3) sebesar 6/ N351°E (Gambar III.22). Berdasarkan skema Anderson (1951), dapat diketahui bahwa kekar yang terbentuk pada stasiun pengamatan RO.44 mengindikasikan hubungan dengan sesar normal karena σ1 mengarah kevertikal atau bisa disebut σvertikal>σhmax> σhmin. Arah tegasan utama (σ1) dari struktur ini memiliki arah yang berlawanan terhadap Sesar Sumatera (antithetic) yaitu barat laut-tenggara.

(21)

30

Gambar III.22 Struktur kekar pada RO.44 dengan singkapan sebelah kiri, dan hasil analisis dinamik RO.44 sebelah kanan.

III.3.2. Analisis Sesar

Struktur sesar diidentifikasi dari hasil analisis pola kelurusan, pembelokan sungai, pergeseran morfologi, dan bukti struktur penyerta di lapangan yang kemudian dilakukan analisis dinamik. Pada daerah penelitian terdapat sesar mendatar di sebelah barat daerah penelitian yang memanjang dari selatan ke utara dan di sebelah timur sesar mendatar minor.

III.3.2.1. Sesar Mendatar Way Bayas

Sesar mendatar sebelah barat daerah penelitian memanjang dari selatan sampai utara daerah penelitian dengan jurus berarah barat laut-tenggara pada daerah selatan hingga jurus berarah timur laut-barat daya pada utara daerah penelitan. Hal ini ditafsirkan dari perubahan morfologi landai-curam menjadi curam-terjal dengan pola kelurusan dominan pada daerah tersebut (Gambar III.23).

Hal ini dikonfirmasi dengan bukti struktur geologi di sekitar kelurusan tempat penarikan sesar bagian selatan berupa kekar pada stasiun pengamatan RO.8- RO.10. Ditunjukkan dari hasil analisis dinamik kekar yang terbentuk pada stasiun pengamatan RO.8-RO.10 mengindikasikan hubungan dengan sesar mendatar karena σ2 mengarah ke vertikal atau bisa disebut σhmax> σvertikal> σhmin. Arah tegasan utama (σ1) dari struktur searah dengan kelurusan di sebelah selatan yang ditandai dengan garis putus-putus warna biru pada Gambar III.23 yaitu barat laut- tenggara.

(22)

31

Gambar III.23 Kelurusan yang menjadi parameter dalam penafsiran sesar ditandai dengan garis putus-putus warna hitam, biru, dan ungu.

Bukti struktur geologi di sekitar kelurusan tempat penarikan sesar bagian utara berupa kekar pada stasiun pengamatan RO.4-RO.5. Ditunjukkan dari hasil analisis dinamik kekar yang terbentuk pada stasiun pengamatan RO.4-RO.5 mengindikasikan hubungan dengan sesar mendatar karena σ2 mengarah kevertikal atau bisa disebut σhmax> σvertikal> σhmin. Arah tegasan utama (σ1) dari struktur searah dengan kelurusan di sebelah utara yang ditandai dengan garis putus-putus warna hitam pada Gambar III.23 yaitu barat laut-tenggara.

III.3.2.2. Sesar Mendatar Jaha

Sesar mendatar sebelah timur ditafsirkan dari beberapa bukti yaitu arah kelurusan sekitar garis penarikan sesar yang ditunjukkan dari garis putus-putus warna ungu pada Gambar III.24 mengarah timur laut-barat daya. Pada daerah penarikan sesar ditemukan bukti yang cukup kuat berupa offset batuan pada stasiun pengamatan RO.79 dan pada stasiun RO.80 ditemukan slikenside beserta arah bidang sesar (Gambar III.24), sehingga dari data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan analisis dinamik untuk mengetahui jenis sesar tersebut.

(23)

32

Hasil analisis dinamik terhadap data slikenside sebesar 43° dengan bidang sesar N107°E/45° didapatkan tegasan utama (σ1) sebesar 60/ N254°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 44/ N279°E, arah tegasan (σ3) sebesar 4/ N13°E (Gambar III.25). Nama sesar berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) yaitu Normal Right Slip Fault.

Gambar III.24 Bukti sesar dengan adanya offset batuan pada stasiun pengamatan RO.79 (kiri) dan adanya slikenside pada stasiun pengamatan RO.80 (kanan).

Gambar III.25 Analisis dinamik bukti sesar pada RO.80 (kiri) dan analisis dinamik kekar RO.79-RO.80.

Disekitar sesar juga ditemui struktur geologi berupa kekar, sehingga dilakukan analisis dinamik terhadap data kekar sehingga didapatkan tegasan utama (σ1) sebesar 15/ N67°E arah tegasan dari timur laut-barat daya, arah tegasan (σ2) sebesar 72/ N281°E, arah tegasan (σ3) sebesar 10/ N158°E (Gambar III.26).

(24)

33

Berdasarkan skema Anderson (1951), dapat diketahui bahwa kekar yang terbentuk pada stasiun pengamatan RO.80 mengindikasikan hubungan dengan sesar mendatar karena σ2 mengarah ke vertikal atau bisa disebut σhmax> σvertikal>

σhmin. Maka dari hal ini ditafsirkan bahwa bukti sesar menunjukkan sesar normal tetapi kekar yang ada di daerah tersebut menunjukan adanya indikasi sesar mendatar, hal ini diinterpretasi bahwa sesar yang yang berkembang pada bagian timur adalah bertipe oblique.

(25)

14 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN III.1. Data Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data primer berupa studi literatur dan 12 buah sayatan tipis batupasir Formasi Nanaka meliputi 16/AF/51A, 16/AF/44, 16/AF/45A, 16/AF/45D, 16/AF/47/A, 16/AF/48A, 16/AF/48B, 16/AF/49C, 16/AF/50B1, 16/AF/50B2, 16/AF/51B, 16/AF/51D dan data sekunder berupa laporan lapangan Faharuddin dkk. (2016) sebagai referensi data lapangan dari sayatan tipis batupasir tersebut. Lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar III.1.

Gambar III.1 Peta lintasan dan stratigrafi terukur (Fahruddin dkk., 2016).

Data sayatan tipis berasal dari sampel lapangan Tim Rekomendasi Wilayah Kerja Migas Cekungan Tomori yang diambil pada tahun 2016. Berdasarkan data lapangan terdapat enam jenis litofasies yaitu batupasir kuarsa, serpih, barupasir paperly, batupasir karbonatan, perselingan batupasir dengan serpih, dan serpih dengan bioturbasi (Gambar II.2). Persebaran litofasies pada setiap stasiun pengamatan terdapat batupasir kuarsa diseluruh stasiun pengamatan. Oleh karena itu, pengamatan sayatan tipis berupa sampel terhadap litofasies batupasir kuarsa

(26)

15

sebagai satuan yang representatif terhadap seluruh stasiun pengamatan (Gambar II.2).

Gambar III.2 Enam jenis litofasies daerah penelitian (Fahruddin dkk., 2016).

III.2. Waktu Penelitian

Keseluruhan penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, dimulai dari bulan Juli 2021 sampai bulan Oktober 2021. Rangakaian penelitian meliputi tahap persiapan dan studi pendahuluan berupa kegiatan studi literatur, lalu dilakukan peminjaman data dan alat. Kemudian dilanjut tahap pengumpulan data sayatan untuk dilakukan analisis laboratorium. Tahap pengolahan dan analisis data penelitian. Diakhiri oleh persiapan laporan hingga penyajian data penelitian.

Rangkaian kegiatan penelitian dapat diuraikan pada Tabel III.1.

(27)

16 Tabel III.1 Rangkaian kegiatan penelitian

Kegiatan

2021

Juli Agustus September Oktober

Minggu Ke- Minggu Ke- Minggu Ke- Minggu Ke- II III IV I II III IV I II III IV I II III IV Persiapan dan

Studi

Pendahuluan Pengumpulan

Data

Pengolahan dan Analisis

Data

Hasil dan Persiapan

Laporan

III.3. Analisis Provenan dan Iklim Purba

Analisis terhadap data petrografi dilakukan di Laboratorium Program Studi Teknik Geologi, Institut Teknologi Sumatera. Analisis laboratorium menggunakan mikroskop polarisasi dengan metode point counting pada sayatan tipis seperti yang di jelaskan oleh Gazzi-Dickinson (Ingersoll dkk., 1984). Sampel point counting mencakup 500 poin setiap satu sayatan. Rentang besar butir yang dipakai dalam metode ini adalah ukuran antara pasir sangat halus hingga pasir kasar. Komponen butir yang berukuran lebih kecil dari pasir halus akan digolongkan sebagai matriks, sedangkan yang lebih besar dari pasir kasar akan digolongkan sebagai fragmen batuan.

Perhitungan komponen mencakup kuarsa, feldspar (plagioklas dan k-feldspar) dan fragmen batuan (litik sedimen, litik metamorf, dan litik vulkanik) dengan kalkulasi pada Gambar III.3 sehingga parameter tersebut yang akan diplot ke dalam beberapa diagram. Dalam melakukan pengamatan petrografi terdapat beberapa parameter yang dapat diamati, antara lain komposisi batuan, tekstur batuan mencakup ukuran butir, matriks, kompaksi, dan sementasi. Tekstur batupasir yang dideskripsikan juga berupa kontak butir, bentuk butir, derajat kebundaran, dan kelimpahan matriks. Perhitungan komponen mencakup kuarsa,

(28)

17

plagioklas, dan fragmen batuan (Gambar II.3) yang akan diplot dalam diagram segitiga Qt-F-L, Qm-F-Lt (Dickinson dkk., 1983), dan Qp-Lv-Ls Dickinson dan Suczek (1979) sebagai perhitungan terhadap penentuan provenan. Penentuan iklim purba dapat dilakukan dengan pengeplotan pada diagram Q-F-Lt Basu (1985), Q-F-Lt Suttner dkk. (1981), Qp/(F+Lt) vs Qt/(F+Lt) Suttner dan Dutta (1986), serta diagram ln(Q/F) vs ln(Q/Lt) Weltje dkk. (1998).

Gambar III.3 Klasifikasi dan simbol dari jenis butir (Dickinson, 1985)

Gambar

Gambar III.1 Morfografi daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985).
Gambar III.2 Morfometri daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985).
Gambar III.3 Satuan Perbukitan Struktural Curam (S1).
Gambar III.3 Satuan Perbukitan struktural landai (S2).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil wawancara diketahui bahwa keterampilan proses sains siswa interpretasi data sangat kurang disebabkan beberapa faktor, yaitu: keliru membuat tabel dalam bentuk

Jawazul wajhaini (boleh tebal atau tipis) ialah jika jika RA’ berharkat sukun huruf sebelumnya berharkat kasrah dan huruf sesudahnya huruf ISTI’LA’ berharkat kasrah.. HUKUM

Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien. Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup. Mengurangi dampak fisis maupun psikologis

[r]

M3 Mahasiswa Memahami Hama, Penyakit dan Gulma Utama Padi Sawah dan Padi Lahan Kering dan teknologi pengendaliannya.. M4 Mahasiswa Menguasai secara lengkap teknologi

Berikut kesimpulan yang berdasarkan hasil analisis penjadwalan dan penentuan rute distribusi pada rantai pasok untuk meminimasi biaya distribusi dengan menggunakan

pe!ak,anaan kegiatan UKM )u,ke,.a, direncanakan9 di!ak,anakan9 dan die8a!ua,i

Khusus terkait dengan Aceh, pembahasan di buku ini telah menghadirkan bukti kuat bahwa kerajaan di ujung pulau Sumatra tersebut adalah yang paling aktif