METABAHASA
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
METABAHASA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa
Journal Email: [email protected]
PEMANFAATAN CERITA RAKYAT BARIDIN DAN KEMAT JARAN GOYANG DI KABUPATEN CIREBON SEBAGAI BAHAN AJAR
SASTRA LISAN DI SMA
ROSI GASANTI
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Yasika Majalengka E-mail: [email protected]
ABSTRACT
This research is motivated by the ideas of the importance of extracting Sundanese Culture value that is reflected in oral literature to be socialized in the form of learning implementation at school. The purpose of this studyis to 1) describe the structure of the story, consistc of plots, character, setting, theme and mandate; 2) describe the context of the narrative, the story functions and cultural value of society; 3) describe its use as teaching material of appreciation of literature in high school class XII. The theory used in this research is the theory of the oral literature. This Study used a qualitative approace with analitic descriptive methode. As for the source of the data in this study is the story of Baridin and Kemat Jaran Goyang, both oral texts that researches got based on the recording of the truly know considered informants as well as printed texts obtained through data collection tehniques. From the analysis of the structure researchers discovered the existense of the elements of the story that reinforces the opinion of the genre legends of folklore, that the story is included in the classification of mantra kemat jaran goyang. From the analysis of the narrative context researches found the characteristics of orality of these stories.Related to the function of the story, researches found that the belief the speakers and the local community of the story can be taken as “mirror”in life. The value of the characters found in this story is a reflection of the embodiment behavior and life style of the people at his day, such as belief in God, patience hard work and so on. The results of the analysis of the structure and character values contained in the legends, researchers use this as a teaching material in the form of student worksheet. To determine student understanding of the teaching material, the researcher make the learning process, such as listening to oral literature in class XII Senior High School.
Keywords: structure, narrative context, function, and learning.
Article Received: 20 Desember 2018, Review process: 30 Desember 2018, Accepted: 05 Januari 2019, Article published: 30 Januari 2019
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya gagasan mengenai pentingnya penggalian nilai budaya masyarakat Sunda yang tercermin dalam cerita rakyat untuk kemudian disosialisasikan dalam bentuk pelaksanaan pembelajaran di sekolah.Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mendeskripsikan struktur cerita, yang terdiri atas alur, tokoh, latar, tema, dan amanat; 2) mendeskripsikan konteks penuturan, dan fungsi cerita; 3) mendeskripsikan pemanfaatannya sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMA kelas XII.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori mengenai sastra lisan cerita rakyat dan teori yang mengkaji mengenai struktur cerita rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah teks cerita Baridin dan Kemat Jaran Goyang baik teks lisan yang peneliti dapatkan berdasarkan hasil perekaman terhadap informan yang dianggap betul- betul mengetahui cerita tersebut maupun cetak yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data. Dari hasil analisis terhadap struktur, peneliti menemukan adanya unsur-unsur cerita yang menguatkan pendapat mengenai pengelompokan cerita rakyat, bahwa cerita ini termasuk pada genre legenda asal-usul mantra Kemat Jaran Goyang. Dari analisis konteks penuturan, peneliti menemukan adanya ciri kelisanan cerita-cerita tersebut. Berkenaan dengan fungsi cerita, peneliti menemukan adanya keyakinan penutur dan masyarakat setempat bahwa dari cerita tersebut dapat diambil hikmah untuk dijadikan “cermin” dalam menjalani kehidupan. Adapun nilai karakter yang ditemukan dalam cerita ini merupakan cerminan pengetahuann perilaku dan pola hidup masyarakat pada zamannya, seperti kepercayaan kepada Tuhan, kesabaran, kerja keras, dan lainnya. Hasil analisis struktur yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut, peneliti manfaatkan menjadi sebuah bahan ajar apresiasi sastra Indonesia. Untuk mengetahui keterpahaman siswa terhadap bahan ajar tersebut, peneliti melakukan proses pembelajaran, yaitu mendengarkan cerita rakyat di kelas XII SMA.
Kata kunci: Struktur, konteks penutur, fungsi, dan pembelajaran
PENDAHULUAN
Karya sastra adalah bentuk pekerjaan kreatif yang objeknya manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai medianya . Sebab itu, karya sastra dapat dikatakan hasil seni yang mengandung nilai-nilai moral yang mampu menembus batas sosial, kultur, dan budaya serta mengubah tatanan sosial kehidupan yang dapat menimbulkan kegugahan perasaan senang, nikmat, terharu, sedih, pilu, bahkan menarik hati dan menyegarkan alam pikiran.
Sastra sebagai bagian dari kultur dan budaya selalu berkaitan dengan realitas kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Sastra menjadi cermin yang baik sebagai pesan moral dalam kehidupan, sebagai bahan instrospeksi diri, dan sebagai gambaran tradisi yang berlaku dalam kasta kehidupan yang telah dicapai pada suatu masa sesuai dengan harapan yang telah dicita-citakan dalam
kehidupan. Adapun sebelum munculnya karya sastra tulis, sastra lisan merupakan medium sebagai fungsi membentuk apresiasi sastra dalam masyarakat melalui penyebaran dari mulut ke mulut atau secara leluri dan dari generasi ke generasi.
Sebagai karya besar sastra yang ada di Indonesia, banyak kita jumpai sastra- sastra yang diekspresikan oleh berbagai etnis bangsa ini, seperti dalam bentuk folklor dan digolongkan sebagai entitas sastra lokal/daerah, di mana sastra itu dikembangkan. Sastra lokal merupakan kebudayaan daerah yang mengandung nilai-nilai luhur yang yang berfungsi sebagai komunikasi antargenerasi. Selain itu, sastra daerah juga sebagai manisfestasi konteks sosial dalam berbagai masyarakat saat ini dan masa depan. Bentuk-bentuk sastra lisan yang kita jumpai seperti, cerita, mitos, dongeng, dan legenda rakyat. Sama halnya dengan karya sastra lainnya, cerita rakyat selalu berisikan petuah yang dapat dijadikan pedoman oleh masyarakat pemiliknya. Artinya, legenda yang terlahir tersebut, adalah bentuk tradisi lisan yang terus menerus dikembangkan oleh masyarakat pemiliknya. Hal ini tidak lain adalah gambaran dari suatu legenda yang ada dalam masyarakat yang diikat ke dalam bentuk tradisi sehingga membentuk satu kebudayaan yang tercermin dalam bentuk fungsi-fungsi adat daerah sebagai pemiliknya.
Menurut Rudolf, dongeng atau cerita dapat menyembuhkan sakit seseorang.
Kebiasaan bercerita akan membuat mereka nyenyak tidur. Hasil penelitian di New Zealand, ibu-ibu yang mendidik anak-anak mereka adalah ibu-ibu yang membiasakan anaknya sejak kecil untuk didongengi dengan gaya cerita yang berkesan (Mushoffa, 2001: 195). Di sini menunjukkan bahwa tujuan pengajaran sastra adalah untuk menjadikan si terdidik agar menghayati nilai-nilai luhur, sehingga si terdidik siap melihat dan mengenal nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik (Rusyana, 1984: 313). Gani (1988: 39) berpendapat bahwa pengajaran sastra bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para siswa atau anak didik memperoleh pengalaman sastra dengan sasaran akhir mampu mengapresiasikan cerita sastra.
Sebagai satu sastra lisan, cerita rakyat memiliki peran yang cukup besar sebagai pembelajaran bagi kehidupan manusia. Sebagaimana yang dikemukakan Yanagita dalam (Endraswara, 2009: 109), bahwa folklor merupakan “ajaran untuk hari esok,” makna ini mengandung pesan yang mendalam dan disiplin ilmu agar kita mengenal jati diri melalui sejaran yang telah tertoreh oleh para pendahulu. Nilai edukatif sebagaimana mendapat Yanagita, bahwa cerita rakyat mempunyai peran
dalam dunia pendidikan. Menurut Syahidin (2009: 2) tidak hanya berfungsi sebagai transfer informasi tentang ilmu pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan suatu proses dalam pembentukan karakter bangsa (character building). Misi utama pendidikan adalah pewarisan ilmu pengetahuan (Transfer of Knowledge), pewarisan budaya (Transfer of Culture), dan pewarisan nilai (Transfer of Value). Karenanya, pendidikan dapat mengerti sebagai suatu proses transformasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan kepribadian jadi diri secara komprehenshif.
Sekaitan dengan pernyataan di atas bahwasanya hampir sebagian besar suku bangsa di Indonesia memiliki sastra lisan, demikian pula dengan masyarakat suku Sunda yang berada di Desa Jagapura Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, yang masih melestarikan sastra lisan yang terlahir dan berkembang dalam masyarakat pemiliknya. Sastra lisan yang dimaksud adalah cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang.
Cerita rakyat di Kabupaten Cirebon Baridin dan Kemat Jaran Goyang merupakan sebuah sastra lisan dengan asal usul munculnya kemat jaran goyang.
Cerita rakyat ini termasuk cerita yang berkarakter, kekuasaan, pengabdian, kepribadian, dan lain-lain, yang berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan dalam satu masyarakat.
Adapun alasan pemilihan cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang dalam penelitian ini yang pertama karena cerita rakyat tersebut mampu menggambarkan nilai-nilai dan pesan moral yang berkaitan dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Yang kedua, adanya cerita rakyat menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dianalisis, karena dalam cerita tersebut tidak hanya bersifat sekadar menghibur, akan tetapi mengandung unsur struktur cerita, konteks penuturan, fungsi cerita, dan nilai karakter yang menandai kekhasan cerita rakyat sebagai sastra lisan. Yang ketiga, penulis tertarik untuk mengimplementasikan hasil kajian cerita rakyat berupa unsur struktur cerita, konteks penuturan, fungsi cerita, dan nilai karakter yang terdapat di dalamnya sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tingkat SMA.
Hal ini penulis lakukan karena dilatarbelakangi studi pendahuluan yang penulis lakukan berkenaan dengan pembelajaran sastra melalui teknik observasi dan teknik wawancara bahwasanya peserta didik zaman sekarang jauh berbeda dengan peserta didik zaman dahulu. Mereka akan lebih memilih menonton sinetron atau film melalui televisi daripada harus membaca cerita rakyat. Keadaan seperti ini
mengharuskan guru untuk lebih selektif memilih bahan ajar yang akan digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra di sekolah.
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan di atas, masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana struktur cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang yang terdapat di Kabupaten Cirebon?
2) Bagaimana konteks penuturan dan fungsi cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang yang terdapat di Kabupaten Cirebon?
3) Bagaimana pemanfaatan cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang yang terdapat di Kabupaten Cirebon sebagai bahan ajar bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah?
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif.
Metode deskriptif merupakan suatu metode untuk menggambarkan keadaan objek yang diteliti yang sekaligus menguraikan aspek-aspek yang dijadikan pusat perhatian dalam penelitian. Metode deskriptif digunakan untuk membantu upaya identifikasi dan pemaparan unsur-unsur yang menjadi fokus penelitian.
Menurut Ratna (2007: 39), metode analisis deskriptif adalah metode yang digunakan dengan cara mengalisis dan menguraikan data untuk menggambarkan keadaan objek yang diteliti dan menjadi pusat perhatian peneliti. Metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif tidak terbatas pada pengumpulan data dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi dari data tersebut.
Dengan kata lain, metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan keadaan objek yang diteliti dengan menguraikan hal-hal yang menjadi pusat perhatian dan mendukung objek penelitian. Metode deskriptif yang diterapkan dalam penelitian ini dilakukan dengan kegiatan analisis sebagai upaya memahami, memberi tafsiran dan memberikan penjelasan sedalam-dalamnya terhadap cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang dengan fokus analisis pada struktur, dan nilai moral, serta model bahan ajar.
Sumber data dalam penelitian ini adalah teks cerita Baridin dan Kemat Jaran Goyang baik teks lisan maupun cetak yang diperoleh melalui teknik pengumpulan
data. Adapun data diperoleh melalui masyarakat pemilik cerita Baridin dan Kemat Jaran Goyang diperoleh melalui legenda masyarakat Desa Jagapura Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, serta mewawancarai informan yang bernama pa Santoso sebagai sesepuh tokoh masyarakat di Desa tersebut.
Penelitian yang peneliti lakukan ini bertumpu pada sumber-sumber lisan dan tertulis. Oleh karena itu, agar data didapatkan secara optimal, ada beberapa langkah-langkah penelitian yang peneliti lakukan, sebagai berikut.
Langkah pertama adalah peneliti melakukan pencarian informasi awal mengenai cerita rakyat yang ada di sebuah kecamatan melalui internet. Kemudian peneliti mendatangi pemerintah daerah setempat, yaitu Dinas Pariwisata dan Kantor Desa untuk mendapatkan ijin penelitian.
Langkah kedua peneliti melakukan Observasi langsung untuk mengetahui cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang dengan terlibat langsung berpartisipasi bersama masyarakat setempat melakukan perbincangan dan menanyakan berbagai hal guna mencari informan yang mengetahui lebih banyak mengenai asal-usul cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang.
Langkah ketiga peneliti mendatangi secara langsung informan yang dianggap mengetahui cerita asal-usul cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang berdasarkan informasi yang di dapat dari masyarakat yang biasanya berprofesi sebagai juru kunci atau orang yang ditokohkan oleh masyarakat setempat.
Dari hasil pengumpulan data, data yang berasal dari rekaman kemudian peneliti transkrip ke dalam bentuk tulisan. Adapun data yang masih menggunakan Bahasa Cirebon, peneliti terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar teks lisan dapat dimengerti oleh semua kalangan.
Dalam upaya transkripsi, untuk mendapatkan cerita yang utuh sebagai sebuah cerita yang memiliki unsur intrinsik, seperti alur, tokoh, latar, tema dan amanat, maka peneliti menyunting cerita berdasarkan ucapan informan dengan memilih rangkaian cerita kemudian menyambungkan cerita tersebut hingga menjadi sebuah cerita yang utuh, tanpa harus menghilangkan maupun menambah cerita tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Struktur dan Nilai Karakter Cerita Rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang
Cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang meliputi beberapa unsur, yakni struktur cerita (alur, tokoh, latar, tema, dan amanat), fungsi cerita, konteks penuturan, dan nilai karakter yang terkandung di dalam cerita.
1. Struktur Cerita
Berkaitan dengan struktur dalam dongeng ini Endraswara (2009:112) mengatakan bahwa dongeng atau cerita rakyat dapat dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan dapat dibenarkan dalam analisis struktural. Setiap bagian disebut motifem. Jadi, setiap dongeng atau cerita rakyat terdiri dari sederet motifem.
Namun demikian, tidak berarti setiap unsur-unsur motifem itu terpisah-pisah, melainkan merujuk pada keutuhan makna.
Dundes (dalam Endraswara, 2009:112) menyatakan “The motifemic slots may be filled with varius motifs and the spiopic alternatir motifs for any given motifemic slot may be labeled allomotifs” maksudnya, motifem ini ibarat kotak (petak) kosong yang dapat diisi berbagai jenis motif, atau alomotif, yaitu suatu motif pengganti. Motifem-motifem demikian yang menjadi satuan analisis dalam konstruksi penelitian folklor.
Dari pendapat-pendapat mengenai struktur baik karya sastra maupun dongeng yang ada dalam foklor dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa, struktur tersusun atas unsur-unsur yang membangunnya dan unsur-unsur tersebut hanya akan bermakna jika unsur-unsur tersebut saling berhubungan.
Levi Staruss seorang ahli antropolog memandang cerita rakyat tidak berbeda dengan mitos yang tersusun atas bagian-bagian yang menyusunnya. Bagian terkecil dari sebuah mitos menurut Levi Strauss adalah miteme (mytheme) (Putra, 2006:85- 86). Makna sebuah mitos terletak pada relasi antar miteme-miteme tersebut.
Berkaitan dengan pendapat Levi Strauss ini, pada bagian selanjutnya akan penulis paparkan tentang pendekatan strukturalisme Levi Strauss.
Seperti halnya karya sastra yang lain, cerita rakyat memiliki unsur-unsur pembentuk yang mempunyai keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dan memberikan makna menyeluruh terhadap cerita rakyat tersebut. Unsur pembentuk karya sastra tersebut meliputi alur, tokoh, latar, tema dan amanat.
2. Alur
Alur yang terdapat pada cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang dianalisis berdasarkan konsep Levi-Strauss yang mengkategorikan jalinan cerita berdasarkan mytheme dan hubungan antarperistiwa secara sintagmatik dan paradigmatik. Adapun hubungan antarperistiwa cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang ini berdasarkan pemilahan setiap peristiwa yang telah dilakukan di atas dapat terlihat pada gambar berikut.
Dari gambar di atas, dapat diketahui adanya hubungan antar peristiwa yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada tahun 1940-1950 an di Cirebon telah hidup seorang bujang lapuk bernama Baridin, berparas jelek, lagi dekil anak seorang janda tua lagi miskin bernama Mbok Wangsih (P2). Setelah kematian ayahnya, Baridin kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk mencari sesuap nasi untuk dirinya dan Ibu yang ia cintai itu.Bukan soal tampang jelek maupun kemiskinan baridin yang menjadi gempar rakyat Cirebon dijamanya. Melainkan kisah cintahnya yang berakhir dengan kematian. Dikisahkan Baridin mencintai seorang gadis demplon anak semata wayang seorang Duda kaya di Cirebon gadis itu bernama Suratminah (P4).Gadis cantik dan kaya mana yang mau di peristri oleh Bujang Lapuk, misikin jelek lagi dekil?. Begitulah gambaran ke ogahan Suratminah untuk diperisitri oleh Baridin (P5).Setelah Baridin kesengsem pada Suratminah, Baridin memaksa Ibunya untuk melamar gadis idamanya itu, Ibunya menolak karena baginya tidak mungkin seorang kaya raya menerima lamarannya, namun demikian Baridin terus mendesak
P2 P5 P10 P13
P4 P6 P11 P15
P7 P12 P16
P17
agar supaya ibunya itu mau melamarkan gadis pujannya. Bahkan Baridin mengancam akan bunuh diri jika sampai ibunya tidak mau menuruti kehendaknya(P6).Berdasar paksaan dan takut kehilangan anak satu-satunya, kemudian Mbok Wangsih memberanikan diri untuk melamarkan Suratminah.
Sesampainya dirumah Suratminah, Mbok Wangsih kemudian diperlakukan tidak manusiawi, dihina, dicerca, dipukul, diludahi dan bahkan diusir oleh Suratminah dan Ayahnya ketika selesai menyampaikan maksud kedatangannya(P7).Mendengar berita mengenai perlakukan kasar Suratminah dan keluarganya pada Ibunya, Baridin marah besar, sekaligus merasa bersalah pada ibunya, Hinaan itulah kemudian yang membuat Baridin kehilangan akal sehatnya, ia seperti gila padahal tidak gila.
Sedang disisi lain ia tetap masih mencintai Suratminah.(P10)Atas dorongan sakit hati dan rasa ingin meneklukan gadis pujaanya itu, kemudian Baridin mengambil jalan setan. Ia melakukan guna-guna, berpuasa 40 hari 40 malam tanpa makan, guna-guna tersebut diniatkan agar supaya Suratminah mencintainya.Guna-guna penakluk wanita di Cirebon disebut Kemat (Pelet) adapun kemat yang baridin amalkan adalah Ajian Kemat Jaran Goyang (P11).
Setelah 40 hari 40 malam, benar saja Suratminah mendadak mencintai Baridin, bujang lapuk yang dulu pernah ia dan keluarganya hina.Suratminah bahkan berteriak-teriak, menangis dan memohon kepada bapaknya agar supaya dinikahkan dengan Baridin. Suratminah gila (P12). Sebagai seorang duda kaya yang hanya memiliki anak satu-satunya, Mang Bun ayah Suratminah tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi pada anaknya, oleh karena itul Mang Bun kemudian menyanggupi permintaan anaknya bila itu kehendak yang ia inginkan (P13).Mang Bun kemudian mengajak Suratminah untuk menemui Baridin dengan niat mengawinkanya kemudian. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur. Maka ketika Mang Bun menemui Baridin, ternyata Baridin sudah menjadi mayat, kematian Baridin disebabkan rasa sakit hati yang mendalam ditambah rasa lapar yang menusuk karena selama 40 hari 40 malam ia tidak makan walau seauap (P15).Sementara Suratminah setelah kematian Baridin menjadi orang gila yang dalam mulutnya hanya keluar kata-kata “Baridin, Baridin dan Baridin”. Dan tidak beberapa lama kemudian Suratminah pun meninggal dunia (P16).Sementara itu, Mbok Wangsih hari-harinya diiputi kesedihan karena kehilanggan anak semata wayang yang menafkahinya, pun juga demikian dengan Mang Bun hari-harinya diliputi dengan penyesalan dan kehilangan, dan pada akhirnya keduanya, yaitu kedua orang tua Baridin dan
Suratminah kemudian meninggal dalam perasaan duka yang mendalam. Baridin dan suratminah kemudian dimakamkan berdampingan. Makam Baridin dan Suratminah sekarang dapat dijumpai di Blok Baridin Desa Jagapura Kab Cirebon (P17).
3. Tokoh
Tokoh cerita mutlak harus ada dalam cerita. Tidak mungkin satu peristiwa terjadi tanpa pelakunya atau tidak mungkin suatu cerita dikisahkan tanpa tokoh. Wiyatmi (2009:30) menyebutkan bahwa tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Sementara penokohan menurut Nurgiyantoro (2002:165) adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Wellek dan Warren (1993:291) mengatakan bahwa bentuk penokohan yang paling sederhana adalah pemberian nama. Wellek dan Warren membagi tokoh menjadi berkarakter datar dan berkarakter bulat. Tokoh berkarakter datar bersifat statis, hanya menampilkan kecenderungan secara sosial. Sedangkan tokoh berkarakter bulat bersifat dinamis.
Tokoh dalam cerita rakyat tidak hanya digambarkan tokoh manusia saja, ada pula mengunakan tokoh-tokoh tertentu misalnya binatang, tumbuhan, para dewa, iblis, siluman, setan, dan tokoh lainya yang digambarkan seolah-olah seperti manusia.
Dalam pembahasan ini, peneliti membahas mengenai tokoh cerita beserta sifat atau karakternya. Di dalam cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang terdapat sejumlah tokoh yang mendukung terjadinya sebuah peristiwa sehingga terbentuknya sebuah cerita yang memadai. Di dalam cerita rakyat ini, tokoh utama diperankan oleh Baridin dan Suratminah. Kedua tokoh tersebut oleh peneliti dimasukan ke dalam tokoh utama karena berdasarkan intensitas kehadiran dalam cerita, tokoh ini diceritakan cukup banyak dari awal sampai cerita ini berakhir. Di samping tokoh Baridin dan Suratminah, di dalam cerita rakyat ini ditemukan beberapa tokoh pembantu, seperti Mbok Wangsih dan Mang Bun. Tokoh-tokoh ini berperan sebagai pelengkap yang mengiringi peran tokoh utama.
4. Latar
Abrams (Nurgiyantoro, 2002: 216) menyatakan bahwa latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Berdasarkan pada pendapat di atas, maka suatu cerita pasti terjadi di suatu
tempat dan pada suatu waktu tertentu. Tempat dan waktu ini selalu diwarnai oleh suatu yang menempatinya, yaitu manusia dan budayanya, keadaan alam sekitar dan sebagainya. Tempat dan waktu yang diwarnai oleh segala hal yang abadi di dalamnya akan memberi warna khusus dalam cerita.
Latar memegang peranan penting dalam sebuah cerita untuk melukiskan suasana penceritaan yang dilakukan oleh tokoh. Peristiwa -peristiwa yang dilakukan oleh tokoh ditunjang oleh latar tempat dan latar waktu. Latar tempat pada cerita rakyat biasanya tidak menentu, dalam arti bisa berada di bawah samudra, di atas awan, di dalam tanah dan lainnya yang tidak bisa ditangkap dengan akal.
Sementara latar waktu biasanya bercerita pada masa lampau.
Latar cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang terbagi menjadi dua, yakni latar tempat dan latar waktu. Latar tempat dalam cerita ini dapat kita ketahui dari keberadaan cerita yang menyebutkan secara eksplisit tempat peristiwa itu berlangsung, yakni di Desa Jagapura Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon.
Mengenai mantra kemat jaran goyang yang digunakan Baridin sebagai guna-guna pada Suratminah adalah sebagai berikut.
Niat isun matak ajiku Jaran Goyang Sun tabukake petiku sawisi Gemebyar gebyar marang badanku
Wong Sabuana ayu elinga
welase ning badan isun si jabang nok ayu Ratminah Mbrengenga kaya jaran teka welas, teka asih, marang badanku
Lailahaillah Muhamammadurosulullah.
5. Tema dan Amanat
Hermawan (Wiyatmi, 2009: 49) menyatakan bahwa tema merupakan rumusan intisari cerita sebagai landasan idiil dalam menentukan arah tujuan cerita.
Sementara itu, amanat pada dasarnya merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar atau penonton.
Sementara Hartoko dan Rahmanto (Nurgiyantoro, 2002:26) berpendapat bahwa tema merupakan gagasan umum yang menopang karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan atau perbedaan. Sementara amanat adalah makna yang berupa pesan dan terkandung di dalam suatu cerita.
Berdasarkan wawancara dengan tokoh setempat latar waktu dalam cerita ini adalah pada tahun 1940-an. Adapun tema dalam cerita ini adalah cinta berujung petaka. Cinta Baridin yang begitu besar kepada Suratminah membawa petaka untuk dirinya sendiri. Pada ahirnya bukan cinta yang dia dapatkan melainkan mati dengan sia-sia.
Sebagaimana budaya masyarakat Sunda yang dikembangkan para Karuhun, bahwa masyarakat Sunda apabila ingin memberikan wejangan kepada anaknya selalu disimbolkan pada sebuah cerita. Hal ini terbukti, bahwa dalam cerita ini ada dua amanat yang ingin disampaikan, yaitu.
a) Sebagai seorang laki-laki, tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri untuk mencintai seorang perempuan artinya segala sesuatu yang ingin dicapai harus sesuai dengan kemampuannya.
b) Sebagai seorang perempuan, bersikap baiklah kepada siapa pun termasuk kepada laki-laki yang tidak dicintai. Jadikan diam itu adalah emas daripada harus menyakiti orang lain, karena kita tidak pernah mengetahui akibat dari ucapan kita.
c) Sebagai manusia, apabila ingin mencapai suatu cita-cita atau keinginan berusahalah dengan cara yang baik dan masuk akal. Usaha yang baik hasilnya baik bagi kita begitu pula sebaliknya.
6. Konteks Penuturan
Konteks penuturan adalah pembicaraan mengenai sebuah peristiwa komunikasi secara khusus yang ditandai dengan adanya interaksi di antara unsur- unsur pendukungnya secara khusus pula. Artinya ada hubungan antara penutur, kesempatan bertutur, tujuan bertutur, dan hubungannya dengan lingkungan serta masyarakat pendukungnya.
Menurut Malinowski (Badrun, 2003:38) kata-kata dalam sebuah percakapan hanya dapat dipahami apabila dikaitkan dengan konteks. Pemahaman konteks penuturan saja belum cukup untuk memahami kata-kata yang digunakan dalam percakapan tetapi juga harus disertai dengan pemahaman konteks budaya.
a) Penutur Cerita
Desa Jagapura Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, merupakan asal mula Kemat Jaran Goyang yang menjadi legenda hidup kisah nyata/cinta Baridin, seorang pemuda asal Gegesik yang memiliki pekerjaan sebagai petani miskin, dan merupakan anak dari seorang janda bernama Mbok Wangsih. Kala itu, Baridin
mencintai seorang kembang desa yang begitu ayu bernama Ratminah, Ia merupakan anak dari seorang juragan di Desa tersebut, bisa dikatakan sebagai orang paling kaya. Karena cinta Baridin ditolak secara mentah-mentah oleh Ratminah bahkan menghina dan mencaci maki secara berlebihan membuat Baridin sakit hati, ia hidup menyendiri tidak makan tidak minum selama 40 hari melakukan mati geni, sebagai ritual ajian kemat jaran goyang. Singkat cerita Ratminah kemudian menjadi terhipnotis setiap waktu mengingat, dan memanggil-manggil nama Baridin. Karena Ratminah berhari-hari tidak makan setalah bertemu, miminta maaf dan mengungkapkan rasa cintanya kepada Baridin. Akhirnya Ratminah mengembuskan nafas terakhir. Begitupun Baridin yang sudah kurus kerempeng karena mati geni, kemudian meninggal dunia menyusul Ratminah. Jasad keduanya ditemukan oleh sahabat dekat Baridin bernama Gemblung Pinulung. Sebagai saksi perjalanan kedua manusia yang saling menyinta akhirnya mereka dikubur bersama dan makamnya masih bisa disaksikan sampai sekarang di Cirebon sebagai ibroh dan pembelajaran untuk manusia yang masih hidup.
Penutur yang peneliti wawancara untuk data ceritar rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang adalah seorang pria berusia 65 tahun yang bernama Santoso sebagai sesepuh masyarakat Desa tersebut.
b) Kesempatan Bercerita
Untuk mendengarkan cerita ini tidak ada waktu khusus, syarat, maupun tempat khusus. Namun waktu penuturan cerita ini dilakukan pada waktu senggang.
Hal ini terbukti ketika peneliti melakukan wawancara ingin mengetahui cerita ini, penutur langsung menceritakannya.
Penutur merasa senang ketika peneliti ingin mengetahui dan menanyakan secara lengkap cerita asal-usul cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang ini, terlebih untuk bahan kajian ilmu sastra dan pembelajaran.
c) Tujuan Bercerita
Berdasarkan wawancara dengan penutur bahwa tujuan bercerita adalah pertama, pada dasarnya adalah agar generasi muda mengetahui cerita asal-usul Baridin dan Kemat Jaran Goyang khususnya masyarakat Cirebon. Kedua, sebagai bentuk pewarisan budaya, sehingga dengan mengetahui cerita ini, generasi selanjutnya akan bangga terhadap budaya Sunda yang tercermin dalam sebuah cerita. Ketiga, berdasarkan amanat yang ada dalam cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang ini, bahwa adanya nilai-nilai yang terkandung dan dapat diambil oleh
pendengarnya, pendengar cerita ini pun meyakini adanya hikmah yang dapat diambil dalam cerita tersebut.
7. Fungsi Cerita
Berbicara mengenai fungsi maka indikasinya adalah kegunaan yang diperoleh dari suatu objek. Menurut Merton (dalam Wahyono, 2008:363) mengemukakan bahwa fungsi adalah sesuatu yang menjadi kaitan antara satu hal dengan hal lain atau sesuatu yang menyatakan hubungan antara suatu hal dengan pemenuhan kebutuhan tertentu. Sejalan dengan hal itu, Hutomo (1991: 68) memberikan konsep mengenai fungsi yaitu kaitan saling ketergantungan, secara utuh dan berstruktur, antara suatu hal dengan pemenuhan kebutuhan tertentu.
Para ahli folklor (sastra lisan) memberikan teori tentang fungsi sastra lisan.
Hutomo (1991:69) mengungkapkan fungsi sastra lisan bagi masyarakat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi; (b) untuk pengesahan kebudayaan; (c) sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial; dan (d) sebagai alat untuk mendidik anak.
Fungsi tersebut masih umum, dan dapat berlaku pada semua jenis folklor.
Sedangkan untuk puisi lisan, Danadjaja (2007, hlm. 19) mengungkapkan empat puisi rakyat anatara lain sebagai 1) alat kendali sosial, 2) untuk hiburan, 3) untuk memulai suatu permainan, dan 4) untuk menekan dan menganggap orang lain.
Fungsi cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang ini terbagi ke dalam tiga bentuk, yaitu sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pendidikan anak, dan sebagai sarana hiburan.
a) Sebagai Sistem Proyeksi
Cerita ini memproyeksikan keinginan seorang laki-laki untuk memiliki seorang perempuan yang dicintainya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hal tersebut membutakan mata hatinya untuk bertindak di luar nalar manusia, laki-laki tersebut bersekutu dengan iblis demi mendapatkan perempuan yang dicintainya melalui kemat jaran goyang. Padahal, pada hakekatnya manusia-manusia tersebut adalah milik Tuhan. Tuhan yang menggerakan manusia, dan Tuhan-lah pemilik hati manusia
b) Sebagai Alat Pendidikan
Selain sebagai sistem proyeksi, fungsi lainnya yaitu sebagai alat pendidikan.
Cerita ini dapat dijadikan sebagai media yang dapat digunakan dalam memberikan pemahaman yang baik terhadap anak didik. Seperti cerita ini dapat disampaikan kepada anak sehingga anak mendapatkan contoh nilai yang terkandung dalam
cerita, seperti hubungan cita-cita manusia dengan cara untuk mewujudkannya.
Dengan menanamkan sikap-sikap ini, anak diharapkan dapat memiliki sikap-sikap yang baik sebagai bekal dalam kehidupannya.
c) Sebagai Alat Pengesah Kebudayaan
Keseluruhan isi cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang mencerminkan dua kebudayaan (kebudayaan Islam dan kebudayaan animisme).
Pertama adalah kebudayaan Islam yang terlihat dari adanya kalimat yang bercirikan Islam Lailahailalloh Muhamadurosululloh. Kedua, kebudayaan animisme yang merupakan kebudayaan yang mempercayai adanya leluhur. Dua kebudayaan tersebut terlihat dari isi kemat jaran goyang yang terdapat pada cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang tersebut.
Pemanfaatan Cerita Rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang sebagai Bahan Ajar Bahasa dan Sastra Indonesia
Memahami warisan budaya sebagai peninggalan sejarah dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk memahami sejarah yang terjadi di dalamnya. memahami sejarah suatu warisan budaya tidak hanya mempunyai arti yang berkaitan dengan masa lalunya, tetapi juga untuk memahami masa sekarang dan memberi gambaran akan masa depan. Warisan budaya di Indonesia sebagian besar dikelola oleh Pemerintah, sementara keterlibatan masyarakat sangatlah terbatas. Pemerintah masih menggunakan pendekatan top-down dalam mengelola warisan budaya, yang mana pendekatan ini mengandung dilema baik di pihak pemerintah maupun masyarakat. Oleh karena itu perlu kiranya dibuat suatu pendekatan baru dengan menggabungkan dua pendekatan yaitu pendekatan kebijakan dari pemerintah dengan pendekatan berdasar pada partsipasi masyarakat.
Cerita Rakyat sebagai bagian dari kebudayaan perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pemeliharaan dan pelestariannya. Sedyawati (2008:203) mengemukakan tugas pembinaan kebudayaan yang diemban oleh berbagai pihak dalam masyarakat yang dikelompokkan ke dalm usaha-usaha yang menurut sifatnya dapat dibagi menjadi lima kelompok, antara lain:
1) pemeliharaan, perawatan, dan pemugaran;
2) penggalian dan pengkajian;
3) pengemasan informasi budaya dan penyebarluasannya;
4) perangsangan inovasi dan kreasi; dan
5) perumusan nilai-nilai ideal bangsa dan sosialisasinya.
Berdasarkan upaya-upaya pelestarian di atas, peneliti tertarik untuk melestarikan cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang tersebut dalam bidang pendidikan yakni upaya pelestarian dalam bentuk pembelajaran di sekolah yaitu sebagai pengembangan materi atau bahan ajar tekait materi tentang sastra lisan.
Masuknya pengenalan sastra lisan di lingkungan sekolah tentunya membawa misi pelestarian dan pengembangan mengingat setiap karya sastra memiliki nilai pendidikan terlebih nilai kemanusiaan, dan dalam hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri yaitu untuk memanusiakan manusia.
Selain itu, pemanfaatan cerita rakyat sebagai bahan ajar di sekolah yaitu untuk menumbuhkan kesadaran siswa untuk mencintai budaya daerahnya sendiri.
Cerita rakyat yang berasal dari tiap daerah dapat dijadikan landasan pemikiran dalam membuat karya sastra Indonesia. Sebagai contoh diambil cerita
“Sangkuriang”, cerita yang dikenal sebagai bagian satra lisan Sunda, sebuah cerita bercorak Nusantara itu masuk ke dalam media tulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang dapat dikemas sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual. Model ini dapat membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dalam masyarakat (Nurhadi, 2000, dalam Rusman 2011:189). Selain itu, siswa merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam model pembelajaran ini. Artinya, siswa diberi pengalaman belajar secara aplikatif melalui pemberian kesempatan untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do). Dalam pembelajaran kontekstual, guru tidak mentransformasi pengetahuan kepada siswa, melainkan memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses. Melalui proses inilah nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang akan terbangun.
Jadi, siswa tidak hanya mempelajari tentang bahasa dan sastra Indonesia, melainkan juga mengenal, mempelajari, dan menikmati cerita rakyat dalam rangka menambah khazanah pengetahuan siswa itu sendiri.
Keterampilan yang akan difokuskan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tingkat sekolah dasar ini adalah keterampilan membaca pemahaman siswa terhadap isi teks cerita rakyat.
Dalam penerapannya, kekhasan model pembelajaran konstektual ditandai tujuh komponen utama, yaitu (1) Contructivism, (2) Inquiry, (3) Questioning, (4) Learning Community, (5) Modelling, (6) Reflection, dan (7) Authentic Assessment.
Adapun pengembangan dari setiap komponen model pembelajaran konstektual yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi kearifan lokal melalui pengenalan cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang adalah sebagai berikut.
1) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Hal ini bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pemikirannya dalam melakukan kegiatan belajar yang lebih bermakna.
2) Setiap kelompok memperhatikan pemodelan pembacaan cerita rakyat yang dilakukan oleh guru. Hal ini bertujuan agar siswa mampu menemukan unsur- unsur intrinsik yang berupa alur, tokoh, latar, tema, dan amanat yang terkandung dalam cerita tersebut.
3) Setiap kelompok berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dalam cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang.
4) Perwakilan kelompok melaporkan hasil diskusi.
5) Setiap kelompok melakukan pemodelan dengan mempraktikkan mendongeng cerita rakyat tersebut.
6) Siswa melakukan diskusi kelas dipimpin oleh guru untuk melaporkan hasil pengalamannya dalam menyimak dan mempraktikkan mendongeng cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang.
7) Siswa melakukan refleksi tentang apa yang telah dilakukannya dalam proses pembelajaran tersebut.
SIMPULAN
Peneliti meyakini bahwa penelitian terhadap legenda sebagai salah satu khazanah sastra Indonesia dan bagian dari kebudayaan Indonesia cukup banyak, namun belum semuanya terdokumentasikan dan diketahui oleh masyarakatnya.
Oleh karena itu penelitian terhadap cerita rakyat ini harus tetap dilakukan sebagai salah satu penelitian sastra. Peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat menambah
dokumentasi khazanah sastra Indonesia serta memiiki kontribusi tersendiri bagi masyarakat sehubungan dengan dapat diketahuinya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat.
Sebagaimana kebiasaan karuhun (orang tua pada zaman dulu) orang Sunda yang selalu memberikan nasihat dalam bentuk cerita, maka sebagai bentuk upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat menuju pola pikir yang konstruktif berdasarkan nilai budaya orang Sunda yang positif, maka hasil penelitian terhadap legenda yang berupaya menggali nilai budaya ini dapat disosialisasikan lebih intens dalam bentuk bahan ajar kepada generasi muda, terutama terhadap siswa sekolah.
Pengenalan cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang masyarakat Sunda melalui pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai salah satu upaya pelestarian tradisi lisan budaya tertentu. Dalam cerita rakyat Baridin dan Kemat Jaran Goyang terkandung nilai moral dalam suatu masyarakat tertentu, misalnya menggambarkan sebagai seorang manusia haruslah memiliki sikap hati-hati dalam bertindak dan memutuskan sesuatu. Apabila ingin mencapai suatu cita-cita atau keinginan berusahalah dengan cara yang baik dan masuk akal. Usaha yang baik hasilnya baik bagi kita begitu pula sebaliknya.
Adapun pengembangan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia melalui model pembelajaran konstektual, yang bertujuan agar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia lebih kreatif.
DAFTAR PUSTAKA
Badrun, A. 2003. Putu Mbojo: Struktur, Konteks Pertunjukan, Proses Penciptaan, dan Fungsi. Desertasi di Universitas Indonesia: tidak diterbitkan.
Endraswara, S. 2009. Metodologi Penelitian Folklor, Konsep, Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Media Pressindo.
Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara Yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur.
Nurgiyantoro, B. 2002.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta :GadjahMadaUniversitas Press.
Putra, H.S.A. 2006.Strukturalisme Levi Strauss, MitosdanKaryaSastra. Yogyakarta:
KEPEL PRESS.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: Rajawali Press.
Rusyana, Yus. 1981. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV Diponegoro.
Rusyana, Yus. 1978. Sastra Lisan Sunda Cerita Karuhun, Kajajaden, dan Dedemit.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Sedyawati, E. (2012). Budaya indonesia (kajian arkeologi, seni, dan sejarah).
Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Syahidin, dkk. 2009. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta.
Wellek, R dan Warren, A. 1993.TeoriKesusasteraan.Jakarta :Gramedia.
Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Pustaka Book Publisher: Yogyakarta