1
Keselamatan dan kesehatan kerja dewasa ini merupakan istilah yang sangat populer. Bahkan di dalam dunia industri istilah tersebut lebih dikenal dengan singkatan K3 yang artinya keselamatan dan kesehatan kerja. Menurut Miyadra (2009) istilah keselamatan dan kesehatan kerja dapat dipandang mempunyai dua sisi pengertian. Pengertian pertama mengandung arti sebagai suatu pendekatan ilmiah (scientific approach) dan disisi lain mempunyai pengertian sebagai suatu terapan atau suatu program yang mempunyai tujuan tertentu. Karena itu keselamatan dan kesehatan kerja dapat digolongkan sebagai suatu ilmu terapan (applied science)
Selama ini ruang lingkup Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) selalu dihubungkan dengan proses industry dengan resiko tinggi (high risk industry), seperti pabrik dan pertambangan. Tidak banyak yang tau bahwa K3 juga mendapat posisi penting di industri pelayanan kesehatan seiring dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1087/MENKES/SK/VIII/2010. Melalui Kepmenkes ini telah ditetapkan standar penerapan K3 untuk Rumah Sakit (RS) atau disingkat K3RS.
Latar belakang disusunnya peraturan tersebut adalah sebagai upaya melindungi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh proses pelayanan kesehatan, maupun keberadaan sarana, prasarana, obat-obatan dan logistik lainnya yang ada di lingkungan Rumah Sakit sehingga tidak menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan kedaruratan termasuk kebakaran dan bencana yang berdampak pada pekerja Rumah Sakit, pasien, pengunjung dan masyarakat disekitarnya.
Rumah sakit menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204/Menkes/SK/XI/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yaitu rumah sakit sebagai sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan dan penelitian. Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 432 Tahun 2007, potensi bahaya di RS selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS.
Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja industri lain. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang, tergores/ terpotong, luka bakar, dan penyakit infeksi dan lain-lain. Sejumlah kasus mendapatkan kompensasi pada pekerja RS, yaitu sprains, strains : 52;
contussion, crushing, bruising : 11%; cuts, laceration, punctures: 10.8%; fractures: 5.6%; multiple injuries: 2.1%; thermal burns: 2%; scratches, abrasions: 1.9%; infections: 1.3%; dermatitis: 1.2%; dan lain-lain: 12.4% (US Department of Laboratorium, Bureau of Laboratorium Statistics, 1983).
Laporan lainnya yakni di Israel, angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.8%) dibandingkan dengan pekerja sektor industri lain. Di Australia, diantara 813 perawatm 87% pernah low back pain, prevalensi 42% dan di AS, insiden cedera muscoskeletal 4.62/100 perawat per tahun. Cedera
punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar, yaitu lebih dari 1 miliar $ per tahun. Khusus di Indonesia, data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas, namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS, sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS.
Kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS antara lain hipertensi, varises, anemia (kebanyakan wanita), penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita), dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1.5 kali dari petugas atau pekerja lain, yaitu penyakit infeksi dan parasit, saluran pernafasan, saluran kemih, masalah kelahiran anak, gangguan pada saat kehamilan, penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. Dari berbagai potensi bahaya tersebut dab untuk menghindari risiko dan gangguan kesehatan sebagaimana dimaksud, maka perlu upaya mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena itu K3RS perlu dikelola dengan baik. (Gun, 1983)
Rumah sakit merupakan perusahaan pelayanan jasa, dimana produk yang dihasilkan sifatnya tidak berwujud (intangible) dan berasal dari pemberi pelayanan tersebut yang dalam hal ini adalah petugas atau biasa disebut sumber daya manusia. Sebagai unsur dalam managemen, sumber daya manusia kesehatan yang dimiliki oleh rumah sakit akan mempengaruhi diferensiasi dan kualitas pelayanan kesehatan, keterbatasan keanekaragaman jenis tenaga kesehatan akan menghasilkan kinerja rumah sakit dalam pencapaian indikator mutu pelayanan rumah sakit. Kekhususan ini sangat tidak mungkin diberikan penerapan manajemen secara umum, karena SDM kesehatan adalah SDM fungsional dengan fungsi profesi berdasarkan latar belakang pendidikannya. (Djuhaeni, 1993).
Menurut UU No. 39 Tahun 2009 pasal 164 BAB XII dijelaskan bahwa pekerja harus dilindungi agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Upaya kesehatan kerja yang dimaksud meliputi pekerja di sektor formal dan informal. Pengelola tempat kerja tersebut wajib mentaati standar esehatan kerja dan menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Perawat sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dan merupakan sebagian besar dari seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki peran penting dalam pemberian pelayanan kesehatan, tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan dan professionalitasnya semata dalam melaksanakan semua tindakan keperawatan. Seorang perawat juga diharapkan memiliki sensivitas emosional dalam menghadapi semua pasien yang ditanganinya dengan berbagai situasi dan kondisi psikologis (Pieter & Lubis, 2010).
Menurut Peta Sumberdaya Jumlah Tenaga Kesehatan di Indonesia update pertanggal 11 Februari 2011 mengatakan bahwa untuk Daerah Jakarta mengatakan bahwa ada sekitar 5,723 orang perawat yang terdata di wilayah tersebut sedangkan Dokter hanya 3,509 orang, Bidan, Farmasi, Kesmas, Tenaga Gizi dan Keteknisan Medis lainnya jika ditotal hanya berjumlah kurang dari 4,000 orang. Hal ini terjadi disebagian besar wilayah di Indonesia seperti Bandung, Yogya, Semarang, Surabaya, dll.
Perawat bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan keperawatan dari yang sederhana sampai yang kompleks kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat. Hal tersebut merupakan peran utama dari perawat, dimana perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang professional, menerapkan ilmu atau teori, prinsip, konsep dan menguji kebenarannya dalam situasi yang nyata.
Berbagai tugas keperawatan diantaranya care giver ataupun seorang perawat harus menggunakan nursing process untuk mengidentifikasi diagnose keperawatan, mulai dari masalah fisik (fisiologis) sampai masalah-masalah psikologis. Sebagai client advocate yaitu perawat bertanggung jawab untuk membantu klien atau keluarga dalam menginterprestasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan atas tindakan yang diberikan kepadanya. Sebagai concelor yaitu mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Sebagai educator yaitu membantu klien mempertinggi pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala penyakit sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik. Sebagai coordinator yaitu mengarahkan, merencanakan, mengorganisasikan pelayanan dari semua anggota team kesehatan. Sebagai collaborator yaitu berupaya mengidentifikasi pelayanan kesehatan yang diperlukan termasuk tukar pendapat terhadap pelayanan yang diperlukan klien, pemberian dukungan, paduan keahlian dan keterampilan dari berbagai professional pemberi pelayanan kesehatan. Sebagai
consultan yaitu memberikan informasi terhadap permintaan klien.
Kinerja perawat tidak hanya dilihat dari faktor keterampilan saja, banyak beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi seperti halnya beban kerja yang terus meningkat, serta umur yang kurang mendukung untuk bekerja secara maksimal. Beban kerja yang terus meningkat harus didukung oleh keadaan fisik seorang pekerja. Bertambahnya beban kerja seseorang serta keadaan fisik yang kurang mendukung dapat menimbulkan kelelahan pada perawat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor individu dalam hal ini antara lain umur, masa kerja, status perkawinan dan gizi mempunyai pengaruh menimbulkan kelelahan (Eraliesa, 2009). Kelelahan kerja merupakan salah satu faktor penurunan kinerja yang dapat menambah tingkat kesalahan dalam bekerja (Nurmianto, 1996). Kelelahan kerja yang tidak diatasi dapat menimbulkan berbagai permasalahan kerja yang fatal dan mengakibatkan kecelakaan dalam bekerja. Sehingga dapat dipastikan suatu rumah sakit wajib mengetahui tingkat
kinerja dan hal yang dapat menimbulkan permasalahan dalam bekerja yaitu antara lain kelelahan kerja yang dialami secara umum pada karyawan dan salah satunya pada perawat.
Kelelahan kerja, kata lelah (fatigue) menunjukkan keadaan tubuh fisik dan mental yang berbeda, tetapi semuanya berakibat kepada penurunan daya kerja dan berkurangnya ketahanan tubuh untuk bekerja. Jika tenaga kerja telah mulai merasa lelah dan tetap dipaksa bekerja, kelelahan akan semakin bertambah dan kondisi lelah demikian sangat mengganggu kelancaran pekerjaan dan juga berefek buruk kepada tenaga kerja yang bersangkutan. (Suma’mur, 2013)
Suatu pengalaman yang dikenal oleh masyarakat umum adalah bahwa kelelahan yang terus menerus untuk jangka waktu yang panjang menjelma menjadi kelelahan yang kronis. Rasa lelah yang dialami oleh penderita tidak hanya terjadi sesudah melakukan pekerjaan yaitu pada waktu sore hari, melainkan juga selama bekerja, bahkan sebelumnya yaitu sebelum bekerja. Pada kelelahan kronis perasaan lesu tampak sebagai suatu gejala penting. Gejala-gejala psikis pada penderita kelelahan kronis adalah perbuatan penderita yang antisocial sehingga tidak cocok dan menimbulkan sengketa dengan orang-orang sekitar; pada penderita terjadi depresi, berkurangnya tenaga fisik dan juga energy mental kejiwaan serta hilangnya inisiatif.
Gejala psikis demikian sering disertai kelainan psikosomatis seperti sakit kepala yang tanpa adanya penyebab organis, vertigo, gangguan pencernaan, sukar atau tidak dapat tidur, dan lain-lain. Kelelahan kronis demikian nyata merupakan kelelahan klinis atau dengan kata lain telah merupakaan keadaan sakit atau penyakit. Kelelahan kronis seperti itu cenderung menyebabkan meningkatnya absenteisme terutama mangkir kerja dan mengakibatkan tingginya angka sakit pada tenaga kerja individual dan kelompok yang menderita kelelahan kronis. Kelelahan klinis terutama menghinggapi mereka yang mengalami konflik mental yang berskala berat atau kesulitan psikologis yang tidak mudah dicari jalan
keluarnya. Sikap negatif terhadap pekerjaan, perasaan tidak suka kepada atasan atau teman sekerja serta lingkungan kerja yang buruk mungkin menjadi faktor penting sebagai penyebab ataupun akibat dari suatu kelelahan kronis. Dengan menderita kelelahan kronis, sumber daya manusia baik dari unsure manajemen maupun dari unsure pekerja dapat menjadi sumber permasalahan (trouble
maker) di perusahaan ataupun kantor.
Green (1992) dan Suma’mur (2013) dari proceeding mengemukakan faktor yang mempengaruhi kelelahan ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk faktor internal antara lain: faktor somatis atau faktor fisik, gizi, jenis kelamin, usia, pengetahuan dan sikap atau gaya hidup. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah keadaan fisik lingkungan kerja (kebisingan, suhu, pencahayaan, faktor kimia (zat beracun), faktor biologis (bakteri, jamur), faktor ergonomi, kategori pekerjaan, sifat pekerjaan, disiplin atau peraturan perusahaan, upah, hubungan sosial dan posisi kerja atau kedudukan.
Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Meilya Farika Indah dan Hasan Zain yang membahas tentang hubungan usia dan masa kerja dengan kelelahan kerja mengatakan bahwa pekerja yang berusia muda sebagian besar mengalami kelelahan kerja ringan 58,1% dan normal 41,9% sedangkan pekerja berusia tua sebagian besar mengalami kelelahan kerja ringan 47,1%, normal 35,3% dan sedang sebanyak 17,6%. Untuk pekerja dengan masa kerja lama mengalami kelelahan kerja normal 37,5%, ringan 55% dan sedang 7,5%.
Hasil penelitian Daniel Haris Sukmono, 2010 yang mempelajari tentang hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja didapatkan bahwa 55% pekerja yang bekerja dengan tingkat kebisingan diatas NAB mengalami kelelahan sedang dan 45% mengalami kelelahan berat.
Hasil penelitan Tifani Natalia Puha, 2014 tentang hubungan antara intensitas pencahayaan dengan kelelahan pada pekerja sektor usaha informal mengatakan
bahwa sebanya 71,43% responden mengalami kelelahan mata ringan dan 28,57% mengalami kelelahan mata berat yang dengan kategori pencahayaan dibawah yang tidak memenuhi standar. Hal ini tidak berbeda dengan kondisi ruangan di RSU Kabupaten Tangerang dimana ada ruangan perawatan yang pencahayaan pada saat pasien terbangun adalah kurang memenuhi standar sehingga mengganggu proses perawatan yang dilakukan oleh para perawat.
Hasil penelitian Titin Isna Oesman dan Risma Adelina Simanjuntak, 2011 mengatakan bahwa Faktor Internal dan Eksternal berhubungan dengan terjadinya kelelahan dengan hasil tingkat kelelahan dengan IFRS didapat 66,77% pekerja mengalami kelelahan ringan, 33,33% pekerja mengalami kelelahan sedang.
Penelitian Siregar M, 2000 di RS Umum FK – UKI Jakarta menyebutkan bahwa kerja shift rotasi mengakibatkan paramedis mengalami gangguan tidur, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf yang berupa kelelahan. Hal ini berkaitan dengan perawat yang bekerja secara shift di Rumah Sakit sehingga memungkinkan adanya kelelahan kerja pada perawat.
Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan oleh Staf Instalasi Sanitasi, Pencahayaan pada Pavilium Soka ternyata tidak memenuhi standar minimal yang diperkenankan yaitu 100 Lux.
RSU Kabupaten Tangerang merupakan rumah sakit dengan kelas tipe B Pendidikan dengan jumlah tempat tidur sebanyak 440 Tempat Tidur. RSU Kabupaten Tangerang mempunyai pelayanan meliputi Poliklinik/ Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD), Medical Check Up, Rawat Inap, Kamar Bedah, Kamar Bersalin, Haemodialisa, Thalasemia, Pelayanan Penunjang Medis dan Pelayanan Penunjang Lainnya.
Jumlah tenaga paramedis perawatan di RSU Kabupaten Tangerang ada sebanyak 532 orang dengan waktu pelayanan dalam satu hari selama 24 jam kemudian dalam satu minggu sebanyak 7 hari kerja (untuk pelayanan rawat inap). Jumlah tempat tidur di rawat inap seluruhnya ada 440 TT, yang meliputi 20 ruang perawatan yang terdiri dari ruang VIP, Kelas I, Kelas II, Kelas III dan ruang perawatan intensif yaitu Instalasi Rawat Inap (Kenanga 24 TT, Mawar 24 TT, Dahlia 32 TT, Soka 30 TT), Instalasi Kamar Bersalin (Anyelir B 28 TT, Aster 48 TT), Instalasi Non Bedah (Melati 4 TT, Seruni 24 TT, Flamboyan 20 TT, Cempaka 32 TT, Anyelir A 24 TT, Kemuning A 22 TT, Kemuning B 22 TT, Perinatologi Sehat 20 TT, Perinatologi Sakit 24 TT, Rawat Gabung Anyelir B 10 TT, Rawat Gabung Aster 20 TT, Thalasemia 8 TT), ICU 4 TT, ICU Bawah 6 TT, Edelweis 1 TT, NICU 4 TT, Wijayakusuma 41 TT.
Perawat di RSU Kabupaten Tangerang khususnya di ruang perawatan bekerja secara sistem shift dengan petugas jaga di malam hari sebanyak 2 (dua) sampai 3 (tiga) orang, tidak ada pengganti ketika petugas jaga ada yang mengalami sakit ataupun berhalangan masuk dikarenakan sebab lain. Dari hasil tinjauan lapangan didapatkan adanya kesalahan pembuangan limbah medis benda tajam yang dilakukan oleh perawat. Setelah dilakukan penelusuran dan wawancara didapatkan informasi bahwa kesalahan pembuangan limbah padat tersebut dikarenakan kelelahan kerja dan atau rasa kantuk yang dirasakan oleh perawat.
Perawat di RSU Kabupaten Tangerang wajib melaporkan apabila terjadi kejadian yang tidak diharapkan di lingkungan RS. Dari hasil wawancara dengan perawat ruang rawat inap RSU Kabupaten Tangerang didapatkan data kejadian tertusuk jarum/ kejadian tidak diharapkan dengan jumlah kasus yang signifikan setiap bulan. Setelah dilakukan penelusuran dan wawancara didapatkan informasi bahwa kejadian tersebut rata-rata terjadi pada malam hari ketika perawat mengalami kelelahan kerja dan mengantuk.
Rumah Sakit Umum Kabupaten terletak di Pusat Kota Tangerang berbatasan dengan pemukiman penduduk dan jalan raya Kota Tangerang. Dari hasil tinjauan lapangan didapatkan bahwa suhu dan kelembaban di beberapa ruangan di RSU Kabupaten Tangerang khususnya di ruangan Apotek Rawat Jalan tidak memenuhi standar yang diperkenankan yaitu 21-24 °C.
Beberapa faktor dapat menjadi sumber kelelahan, Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Adanya massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh berat tubuh memungkinkan untuk dapat menggerakan tubuh dan melakukan pekerjaan. Setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut berupa beban kerja fisik maupun beban kerja mental. Dalam prakteknya beban kerja yang dijumpai merupakan kombinasi antara beban fisik dan beban mental (Pulat, 1992)
Sarana kerja yang tidak ergonomis, lingkungan kerja yang tidak memenuhi syarat dan sikap kerja yang tidak alamiah merupakan sebagan besar masalah yang muncul, khususnya dalam lingkungan industry skala kecil. Masalah-masalah tersebut disamping memberikan beban tambahan juga gangguan sistem muskoskeletal, keluhan subjektif dan kelelahan yang berakibat pada rendahnya produktivitas kerja. Perusahaan dituntut menghasilkan produk yang berkualitas dengan jadwal tepat sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Pengamatan awal pada bagian perawatan dan kantor sudah terlihat tidak kondusif. Melihat kondisi kerja seperti ini akan berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan pekerja, sehingga dapat meningkatkan stres kerja, mempercepat munculnya kelelahan dan keluhan subjektif serta menurunkan produktivitas kerja.
Setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Secara umum hubungan beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat kompleks, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Tuntutan pekerja yang harus dihadapi
seseorang merupakan rangkuman akhir dari segala karakteristik tugas yang dihadapi. Kalau ratio tuntutan tugas lebih besar dari hasil capaian, maka yang akan timbul adalah ketidaknyamanan, kelelahan, kecelakaan, cedera dan rasa sakit (Titin Isna Oesman, 2011).
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian untuk mendapatkan data mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelelahan Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Tahun 2015.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan penelitian dan latar belakang masalah diatas, bahwasanya banyak alasan atau faktor penyebab mengapa perawat mempunyai resiko yang sangat tinggi terpapar oleh kelelahan, diantaranya akibat faktor – faktor seperti status gizi, jenis kelamin, umur, pengetahuan, sikap, gaya hidup, masa kerja, kebisingan, suhu, pencahayaan, faktor kimia, faktor biologis, ergonomi, kategori pekerjaan, sifat pekerjaan, disiplin, peraturan pekerjaan, upah, posisi kerja dan hubungan sosial.
1. Perawat yang mempunyai umur < 20 Tahun mempunyai tingkat kelelahan yang relative sedikit karena sedang berada di usia produktif, namun kenyataannya bahwa 50% perawat di RSU Kabupaten Tangerang yang berumur < 20 Tahun mempunyai tingkat kelelahan yang lebih tinggi daripada mereka yang berumur diatasnya diakibatkan bahwa pada usia tersebut, banyak kegiatan yang dilakukan selain kewajiban mereka sebagai perawat. 2. Beberapa konflik sering muncul di lingkungan kerja sehingga memicu adanya
stres dan kelelahan.
3. Perawat yang bekerja pada malam hari lebih sedikit dibandingkan perawat yang bekerja pada pagi hari.
4. Faktor lain yang berpotensi menambah tingkat kelelahan pada perawat yang bekerja di RSU Kabupaten Tangerang adalah adanya aktifitas diluar pekerjaan yang dilakukan oleh perawat tersebut, faktor jenis kelamin dan status gizi mungkin dapat juga berpengaruh dalam perbedaan tingkat kelelahan perawat.
5. Faktor lingkungan atau faktor fisis mungkin dapat berpengaruh terhadap tingkat kelelahan pekerja, Suhu Ruangan, Pencahayaan dan Tingkat Kebisingan mungkin memberikan pengaruh terhadap tingkat Kelelahan Tenaga Kerja.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil penelitian awal yang mengatakan bahwa ada perawat yang terkena kejadian tidak diinginkan (tertusuk jarum) di ruangan dikarenakan mengalami kelelahan dan didapatkan perawat yang kurang konsentrasi dalam melakukan pembuangan limbah karena didapatkan adanya kejadian salah pembuangan limbah medis ke tempat limbah non medis. Dimungkinkan adanya faktor lain yang dapat memicu terjadinya kelelahan kerja sehingga penelitian ini mengacu pada faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Tahun 2015.
1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka perumusan penelitian ini adalah apakah faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Tahun 2015?.
1.5 Tujuan
1.5.1 Tujuan Umum
Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Tahun 2015.
1.5.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat kelelahan pada perawat di ruang rawat inap RSU Kabupaten Tangerang.
2. Mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja (status gizi, jenis kelamin, umur, masa kerja, tingkat pendidikan, intensitas kebisingan, suhu dan pencahayaan ruangan) pada perawat di ruang rawat inap RSU Kabupaten Tangerang.
3. Menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang.
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Rumah Sakit
Dapat dijadikan bahan dan pengetahuan untuk mempreventifkan langkah dan upaya pengendalian agar kelelahan dapat diminimalisir sehingga kualitas sumber daya manusia meningkat.
1.6.2 Bagi Institusi
Untuk menambah literatur mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat serta kelelahan untuk penelitian lebih lanjut.
1.6.3 Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan bagi penulis tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja pada perawat dan kelelahan.
2. Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan program studi Kesehatan Masyarakat Universitas Esa Unggul.
3. Dapat meningkatkan pengetahuan dan sarana pengembangan teori yang telah didapat dalam perkuliahan sehingga diperoleh pengalaman langsung khususnya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja yang ditulis dalam bentuk ilmiah.