• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT ABSTRAK. Ali Muqoddas 1, Noor Hasyim 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRACT ABSTRAK. Ali Muqoddas 1, Noor Hasyim 2"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan Aplikasi Augmented Reality untuk Mengenalkan Sejarah Bangunan Stasiun Tawang

Designing Augmented Reality Applications to Introduce the History of Tawang Station Building

Ali Muqoddas1, Noor Hasyim2

1,2Desain Komunikasi Visual, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro, Semarang Email: [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Kota Lama Semarang yang tercatat sebagai cagar budaya Kota Semarang berpeluang masuk menjadi UNESCO world heritage. Untuk dapat masuk dalam daftar UNESCO world heritage, Kota Lama harus menguatkan aspek budaya dan sejarah. Namun berdasarkan survei, pengetahuan sejarah tentang kawasan Kota Lama masih sangat kurang, salah satunya pada sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang. Pengenalan sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang dapat dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi augmented reality. Untuk merancang aplikasi augmented reality tentang pengenalan sejarah bangunan Kota Lama Semarang dilakukan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut menjadi acuan untuk merancang konsep yang tepat. Setelah konsep dibuat, proses pembuatan dilanjutkan dengan mendesain model 3D, desain interface hingga navigasi. Dengan keterlibatan teknologi dan interaktifitas, aplikasi augmented reality ini menjadi media alternatif yang dapat digunakan untuk mengenalkan sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang.

Kata Kunci: Augmented reality, cagar budaya, Stasiun Tawang

ABSTRACT

Kota Lama Semarang that recorded as Semarang City cultural heritage has the opportunity to become a UNESCO world heritage. To be included in this list, Kota Lama must strengthen its cultural and historical aspects. However, based on the survey, historical knowledge about this city area is still lack, one of which is the history of the Tawang Station building. One way to introduce the history of this building can be done by utilizing augmented reality technology. To design an augmented reality application about the introduction of the history of the buildings in Kota Lama Semarang, A data collection was conducted by observation, interview, and documentation. The data then used as a reference for designing the right concept. After the concept was made, the manufacturing process continued by designing the 3D model, the interface, and navigation. With the involvement of technology and interactivity, this augmented reality application becomes an alternative media that can be used to introduce the history of the Tawang Station building, Semarang.

Keywords : augmented reality, cultural preservation, Tawang Station

(2)

1. PENDAHULUAN

Cagar budaya dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk menilai tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa [6]. Undang-Undang No.

11 tahun 2010 menyatakan bahwa cagar budaya bisa berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan. Ada beberapa kriteria untuk dapat disebut sebagai cagar budaya diantaranya berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, serta memiliki arti khusus dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Karena memiliki arti khusus dan nilai inilah cagar budaya harus dilestarikan keberadaannya. Pelestarian cagar budaya bisa berupa pelindungan, pemanfaatan dan pengembangan.

Pelindungan mencakup penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, dan pemugaran cagar budaya.

Pengembangan berupa penelitian, revitalisasi, dan adaptasi. Sedangkan pemanfaatan bisa berupa aspek sosial, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, agama, kebudayaan, dan pariwisata.

Salah satu cagar budaya yang ada di Semarang adalah Kawasan Kota Lama. Semarang yang merupakan ibu kota Jawa Tengah merupakan kota pelabuhan di pantai utara Jawa yang keberadaannya memiliki peran penting bagi Kolonial Belanda di abad ke 17. Karena itu di Semarang dibangun sebuah kota bernuansa Eropa yang sekarang dikenal dengan Kawasan Kota Lama Semarang [2].

Banyak bangunan-bangunan bersejarah yang hingga sekarang tetap dijaga dan menjadi cagar budaya Kota Semarang. Salah satu cagar budaya yang tercatat sebagai cagar budaya yang ada di Kawasan Kota Lama Semarang adalah bangunan Stasiun Tawang.

Stasiun Tawang terletak di Jl. Taman Tawang No 1 Semarang. Stasiun Tawang dibangun pada 29 April 1911 dan dirancang oleh JP de Bordes [4]. Gedung Stasiun ini telah mengalami pembangunan yaitu pada bagian lantai akibat sering dilandai banjir. Namun, secara keseluruhan bangunan ini masih sama dengan bangunan pada masa Belanda dulu. Selain mengunjungi Stasiun Tawang, para wisatawan juga mengunjungi Polder air yang terletak tepat di depan Stasiun Tawang. Polder tersebut juga bangunan peninggalan bangsa Belanda yang difungsikan sebagai tempat untuk menampung air hujan yang sering menyebabkan banjir.

Gambar 1. Stasiun Tawang

Kawasan Kota Lama dapat masuk ke dalam UNESCO world heritage. Bila masuk ke dalam UNESCO world heritage artinya Kawasan Kota lama adalah milik seluruh masyarakat dunia sehingga masyarakat dunia bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya. Kawasan Kota Lama nantinya juga berhak mendapatkan dana dari Dana Warisan Budaya bila masuk ke UNESCO world heritage.

Untuk dapat tercatat sebagai UNESCO world heritage, menurut Tjahjono Raharjo selaku anggota BPK2L, kawasan Kota Lama harus menguatkan aspek budaya dan sejarah. Namun saat ini pengetahuan sejarah masyarakat tentang Kota Lama Semarang masih kurang. Termasuk pengetahuan sejarah yang kurang adalah tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang Semararang. Kurangnya pengetahuan masyarakat ini salah satunya disebabkan karena minimnya media pengenalan sejarah Stasiun Tawang Semarang. Diperlukan tambahan media untuk mengenalkan sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mengenalkan sejarah saat ini adalah media digital. Media Era teknologi memberikan peluang dalam menyampaikan sejarah makin mudah dengan ditemukannya beberapa penemuan alat dan juga media yang memungkinkan menggabungkan antara visual, audio dan bahkan pengalaman pengguna dalam menikmati suguhan multimedia, salah satunya melalui media augmented reality.

Augmented Reality bisa didefinisikan sebagai lingkungan nyata yang ditambahkan objek virtual [3]. Penggabungan objek nyata dan virtual dimungkinkan dengan teknologi display yang sesuai, interaktivitas dimungkinkan melalui perangkat input tertentu. Augmented reality adalah salah satu media yang tepat, karena audiens bisa merasakan experience langsung terhadap obyek nyata yang ada di depan kamera smartphone. Dengan bantuan teknologi augmented reality, lingkungan nyata di sekitar kita akan dapat berinteraksi dalam bentuk digital (virtual).

Milgram [5] mengatakan bahwa augmented reality mampu memberikan informasi dengan menekankan pandangan pengguna terhadap dunia nyata dan dapat memberikan kesempatan kepada pengguna untuk

(3)

berinteraksi dengan lingkungan semu yang ada disekitar secara realtime.

Informasi-informasi tentang obyek dan lingkungan disekitar kita dapat ditambahkan ke dalam sistem augmented reality yang kemudian informasi tersebut ditampilkan di atas layer dunia nyata secara real-time seolah-olah informasi tersebut adalah nyata (Fernando, 2013). Penggunaan augmented reality sebagai media akan menambah value dari destination branding bangunan di Kawasan Kota Lama sehingga menarik minat generasi milenial dengan mengalami langsung experience dan belajar Sejarah bangunan Stasuin Tawang Semarang.

2. PEMBAHASAN

Untuk merancang aplikasi augmented reality tentang pengenalan sejarah bangunan Stasiun Tawang, yang pertama kali dilakukan adalah pengumpulan data-data yang diperlukan terkait Stasiun Tawang.

Data-data tersebut didapat dari observasi langsung ke Stasiun Tawang untuk mendapatkan gambaran dan kondisi bangunan Stasiun Tawang. Selain observasi, dilakukan pula wawancara ke pengelola yaitu Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L).

Wawancara dilakukan juga kepada pengunjung untuk melihat kadar pengetahuan mereka tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang. Dokumentasi juga dilakukan dan mendapatkan beberapa dokumentasi seperti brosur dan catatan tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang. Data tersebut digunakan untuk menetukan konsep aplikasi augameted reality yang akan dibuat. Setelah dibuat konsep aplikasi, dibuat beberapa desain untuk perancangan aplikasi.

Dalam pembuatan augmented reality tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang ini, model pengembangan yang digunakan adalah model waterfall. Model waterfall ini diperkenalkan oleh Winston W. Royce di tahun 1970 untuk menggambarkan praktik produk perangkat lunak [1]. Ada 5 fase dalam model waterfall yaitu analisis, desain, implementasi, pengujian dan pemeliharaan.

Tahap analisis adalah tahap pengumpulan data. Tahap desain dilakukan setelah dilakukan pengumpulan data yaitu membuat sketsa aplikasi sesua kebutuhan.

Setelah desain dilakukan, desain tersebut diimplementasikan dalam pembuatan aplikasi augmented reality. Setelah aplikasi dibuat dilakukan pengujian. Penguajian bisa berbentuk blackbox untuk menguji fungsi-fungsi yang ada di aplikasi maupun whitebox dengan mendistribusikan aplikasi langsung kepada pengguna untuk mendapatkan timbal balik.

Gambar 2. Model waterfall

Ada beberapa karakteristik yang mendasari teknologi augmented reality diantaranya pengkombinasian dunia nyata dan dunia virtual, interaktifitas secara realtime, yang tidak kalah penting yaitu adanya obyek berupa model 3D [3].

Sedangkan komponen yang diperlukan dalam mengembangkan aplikasi augmented relity yaitu komputer, HMD dan marker. Sebelum membuat desain aplikasi, yang perlu dibuat adalah flowchart dari aplikasi augmented reality pengenalan sejarah bangunan Stasiun Tawang ini. Flowchart dibuat untuk memudahkan interaktifitas yang ada diaplikasi, serta pedoman kebutuhan navigasi pada aplikasi. Flowchart menjadi panduan agar aplikasi nantinya dapat berjalan sesuai tujuan awal yang dirancang. Berikut flowchart aplikasi augmented reality pengenalan sejarah banguan Stasiun Tawang Semarang:

Gambar 3. Flowcarct aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

Splash screen aplikasi berisi animasi logo dari BPK2L Semarang selaku badan yang mengelola kawasan kota lama termasuk Stasiun Tawang. Setelah animasi logo, terdapat navigasi untuk memulai aplikasi. Aplikasi augmented reality pengenalan sejarah bangunan Stasiun tawang ini dirancang menggunakan marker untuk memunculkan obyek 3D berupa bangunan Stasiun Tawang. Marker berapa foto dari Stasiun Tawang yang nantinya dijadikan

(4)

leaflet. Selain berisi foto Stasiun Tawang sebagai marker aplikasi, leaflet juga berisi keterangan logo BPK2L, keterangan aplikasi dan barcode untuk mengunduh dan menginstall aplikasi pada google play.

Gambar 4. Marker dan leaflet aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

Setelah menginstall aplikasi, pengguna dapat langsung mengarahkan kamera smartphone pada leafleat untuk menampilkan AR Bangunan Stasiun Tawang virtual. Stasiun Tawang virtual ini juga menjadi navigasi utama aplikasi yang apabila pengguna melakukan klik akan memunculkan beberapa menu yaitu sejarah, lokasi dan galeri. Untuk menghilangkan menu, pengguna tinggal mengklik kembali bangunan Stasiun Tawang virtual.

Gambar 5. Tampilan menu aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

Menu sejarah berisi sejarah penting dari bangunan Stasiun Tawang. Sejak didirikan oleh belanda sampai saat ini yang masih aktif digunakan

oleh PT KAI. Menu lokasi memunculkan lokasi Stasiun Tawang dan juga link untuk menuju google maps. Sedangkan menu galeri menampilkan foto-foto bangunan Stasiun Tawang yang sampai sekarang tetap dijaga keaslian bangunannnya. Untuk menghilangkan tampilan menu-menu tersebut, user bisa mengklik kembali gambar model 3D bangunan Stasiun Tawang. Berikut beberapa interface dari aplikasi augmented reality bangunan Stasiun Tawang Semarang:

Gambar 6. Tampilan sejarah aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

Gambar 7. Tampilan galeri aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

Gambar 8. Tampilan lokasi aplikasi augmented reality Stasiun Tawang

3. KESIMPULAN

Kota Lama semarang merupakan salah satu cagar budaya di Kota Semarang yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Bangunan-bangunan yang ada di Kawasan Kota Lama selalu dijaga dengan baik agar bentuknya tetep sama dengan aslinya. Hal itu

(5)

menjadikan Kota lama berpotensi menjadi UNESCO world Heritage. Namun untuk dapat menjadi UNESCO world Heritage tersebut diperlukan banyak kriteria salah satunya penguatan budaya dan pengetahuan masyarakat tentang sejarah Kota Lama salah satunya Bangunan Stasiun Tawang Semarang.

Berbagai usaha dilakukan oleh Badan Pengelola Kawasan Kota Lama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang namun pengetahuan masyarakat tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang masih kurang.

Aplikasi augmented reality dapat menjadi salah satu alternatif solusi untuk memperkenalkan sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang.

Perancangan augmented reality ini menggunakan leaflet yang berfungsi sebagai marker untuk memunculkan bangunan tawang dalam bentuk 3D dan memunculkan menu-menu seperti sejarah lokasi dan galeri. Pemanfaatan teknogi augmented reality sebagai media akan menambah value dari destination branding bangunan di Kawasan Kota Lama sehingga menarik minat generasi milenial dengan mengalami langsung experience dan belajar sejarah bangunan Stasuin Tawang Semarang.

4. UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih diberikan kepada segenap civitas akademik program studi Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro, baik dosen maupun mahasiswa yang telah bersedia memberikan dukungan terciptanya aplikasi augmented reality tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang Semarang ini. Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang yang telah memberikan data tentang sejarah bangunan Stasiun Tawang. Penghargaan yang tinggi juga disampaikan kepada Glugu Creative Studio atas kerja samanya dalam menyediakan alat dan tempat serta pengetahuan untuk pembuatan aplikasi augmented reality.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Haryani, P., & Triyono, J. (2017). Augmented Reality (Ar) Sebagai Teknologi Interaktif Dalam Pengenalan Benda Cagar Budaya Kepada Masyarakat. Simetris : Jurnal Teknik Mesin, Elektro Dan Ilmu Komputer, 8(2), 807. https://doi.org/10.24176/simet.

v8i2.1614

[2] Kusumawanto, A., & Astuti, Z. B. (2018).

Arsitektur Hijau Dalam Inovasi Kota.

Yogyakarta: UGM Press.

[3] Martono, kurniawan T. (2011). Augmented Reality sebagai Metafora Baru dalam Teknologi Interaksi Manusia dan Komputer. Jurnal Sistem Komputer, 1(2), 60–64. https://doi.org/10.14710/JSK.

V1I2.13

[4] Ridlo, M. A. (2016). Mengupas Problema Kota Semarang Metropolitan. Yogyakarta:

Deepublish.

[5] Wahyutama, F., Samopa, F., & Suryoytisongko, H. (2013). Penggunaan Teknologi Augmented Reality Berbasis Barcode sebagai Sarana Penyampaian Informasi Spesifikasi dan Harga Barang yang Interaktif Bersasis Android. Jurnal Teknik Pomits, 2(3), 481–486. https://doi.

org/10.12962/j23373539.v2i3.5225

[6] Wibowo, A. B. (2014). Strategi Pelestarian Benda / Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat. Jurnal Konvervasi Cagar Budaya Borobudur, 8(1), 58–71

Gambar

Gambar 1. Stasiun Tawang
Gambar 2. Model waterfall
Gambar 7. Tampilan galeri aplikasi augmented reality  Stasiun Tawang

Referensi

Dokumen terkait

Motivasi kerja yang terlihat pada kesungguhan karyawan melaksanakan pekerjaan, agaknya juga masih kurang (tabel 1.2). Pemberian kompensasi juga harus memperhatikan

PP = Perceived Performance (hasil yang dirasakan). Data-data dalam jawaban kuesioner dibuat dalam bentuk multiple choice dan disusun dengan memberikan tingkatan-tingkatan nilai pada

dalam hal ini peneliti mengunakan jenis penelitian kualitatif dengan mode fenomenologi untuk meneliti fenomena pengguna tato di kalangan mahasiswa universitas pasundan bandung,

7.7.2 Jika tidak bersetuju atau lain-lain keputusan, maklumkan kepada pemohon dengan menghantar Borang Maklum Balas Permohonan Langganan Bahan Terbitan Bersiri

D-III TLB (Teknik Listrik Bandara) Formasi Pola Pembibitan Kemenhub: 24 Taruna/Taruni 3 Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP).

b) Staf laboratorium menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan paling lambat 1 hari sebelum praktikum dilaksanakan. c) Mahasiswa penanggung jawab mata kuliah praktik

Untuk menambah ilmu pengetahuan hukum mengenai penetapan Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang sebagai World Heritage, serta dapat menjadi fasilitas pendorong minat

Wilayah yang menjadi kajian adalah wilayah yang memiliki kekhususan fungsi guna lahan yaitu Zona I hingga Zona III dalam naungan Subkawasan Pelestarian (SP) I, karena