32 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya MTs NU Miftahul Ulum1
Madrasah Miftahul Ulum yang terletak di desa Loram Kulon Kec. Jati Kab. Kudus adalah salah satu lembaga sosial yang mengelola bidang Tarbiyah Islamiyah. Lembaga ini telah memiliki jenjang pendidikan tingkat TPQ, RA, MI, MTs, MA dan Diniyah Awaliyah .
Lahirnya MTs Miftahul Ulum yang secara resmi mendapat pengakuan baik dari Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta masyarakat adalah pada Hari Rabu Pon, tanggal 10 Juni 1987 M bertepatan pada tanggal 13 Syawal 1407 H.
Gagasan untuk mendirikan MTs. itu sudah ada dan pernah dicoba tetapi gagal, disebabkan oleh beberapa factor penghambat diantaranya kurangnya koordinasi serta kurangnya sarana dan prasarana yang perlu dipersiapkan.
Tokoh yang berperan aktif di dalamnya adalah KH. Izzul Ma’ali (alm). Beberapa tahun kemudian, muncul paradigma baru dari tokoh muda yang memiliki semangat dan dedikasi tinggi terus berupaya merespon tuntutan zaman. Beliau adalah Bapak H.Em. Hamdan Suyuthi, S.Pd.I (alm) dan Bapak Misbachuddin, S.Pd.I (Sekarang Pengurus Madrasah).
Melihat di desa Loram Kulon, akan ada sebuah lembaga yang memiliki tingkat lanjutan yang tidak ada sebelumnya. Para Ulama dan tokoh masyarakat sangat bersimpati dan memberikan dukungan penuh khususnya dari desa Loram Kulon dan masyarakat kecamatan Jati dan sekitarnya pada umumnya.
Setelah mendapat dukungan dari berbagai pihak, persiapan pun dilakukan dalam rangka mewujudkan madrasah di desa Loram Kulon. Saat itu, seluruh pengurus menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelengkapan kegiatan belajar mengajar seperti sekolah atau madrasah lain dengan bantuan sumber dana dari masyarakat, karena saat itu belum mendapat subsidi dari pemerintah.
1 Dokumentasi di MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 25 Juli 2022 pukul 10.00 WIB.
33
Proses pengajuan izin operasional dilakukan secara prosedural dan memperhatikan peraturan yang berlaku saat itu.
Maka dengan fadlol, rahmat dan nikmat Allah SWT, Madrasah Tsanawiyah Miftahul Ulum resmi berdiri pada tanggal 13 Syawal 1407 H bertepatan dengan 10 Juni 1987 M dengan nomor Wk/5.c/47/PGM/Is/90.
2. Profil MTs NU Miftahul Ulum2
Tabel 4.1. Profil MTs NU Miftahul Ulum
NPSN 20364163
NSS 121233190014
Nama MTs Miftahul Ulum
Akreditasi Akreditasi A
Alamat JL. Masjid At-Taqwa Nomor 795 Rt. 2/4
Kode Pos 59344
Nomer Telepon (0291)441374
Nomer Faks -
Surel [email protected].
id
Jenjang SMP
Status Swasta
Situs https://mtsnumiftahululum.sch.id
Fb MTs NU Miftahul Ulum
Lintang -6.829905196364534
Bujur 110.84469683468342
Ketinggian 14
2 Dokumentasi di MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 26 Juli 2022 pukul 07.30 WIB.
34 Waktu Belajar Sekolah Pagi
3. Visi, Misi dan Tujuan MTs NU Miftahul Ulum3 a. Visi
Terwujudnya generasi bangsa yang berdaya guna dan berhasil guna serta berkualitas dibidang IMTAQ dan IPTEK dengan landasan Akhlakul Karimah Ala Ahlussunah Wal Jama’ah.
b. Misi
a) Menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu baik secara keilmuan maupun secara moral dan sosial.
b) Menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, maju dan berteknologi.
c) Membentuk manusia Indonesia yang mantap iman dan taqwanya kepada Allah SWT dan berahlakul karimah serta mengamalkan ajaran islam Ala Ahlussunnah Waljama’ah.
c. Tujuan
a) Memenuhi kebutuhan masyarakat di bidan pendidikan dalam meningkatkan SDM Indonesia.
b) Menyiapkan generasi muda muslim yang cerdas, berpengetahuan teknologi, terampil dan berahlakul karimah.
c) Menyiapkan generasi muda muslim yang berhaluan Ahlussunnah Waljama’ah.
4. Struktur Organisasi MTs NU Miftahul Ulum4
Struktur organisasi merupakan susunan atau penempatan seseorang dalam hubungan antara sumber daya yang memiliki dengan tanggung jawab yang dipikulnya, sehingga dengan adanya pembagian tanggung jawab sebagian besar bidang pendidikan di MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Kudus dapat tergerak dengan rapi. Adapun struktur organisasinya adalah sebagai berikut:
Dalam struktur organisasi MTs di atas yang berperan dalam penerapan program unggulan takhassus adalah Bu Sri Hatin S.Ag. Selaku Kepala Madrasah dan penanggungjawab
3 Dokumentasi di MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 25 Juli 2022 pukul 10.00 WIB.
4Dokumentasi pada tanggal 26 Juli 2022 pukul 07.30 WIB di kantor MTs NU Miftahul Ulum Loram Kudus.
35
dari program unggulan takhassus, yang kedua Bapak H. Ahmad Sulhadi S.Pd.I. selaku waka kesiswaan sekaligus pelopor dari diterapkannya program unggulan takhassus, yang ketiga Bu Siti Chotimah S.Pd. selaku guru pengawas dari program unggulan takhassus dan yang terakhir adalah beberapa siswa kelas IX selaku pelaksana program unggulan takhassus.
5. Kondisi Pendidik dan Peserta Didik5 a. Kondisi pendidik
MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus pada tahun ajaran 2022/2023 memiliki tenaga pendidik yang berjumlah 20 guru. Adapun data yang berkaitan dengan guru penanggungjawab dari adanya program unggulan takhassus berjumlah 2 orang yaitu Bu Sri Hatin S.Ag dan Bapak H.
Ahmad Sulhadi S.Pd.I. Bu Sri Hatin S.Ag merupakan Kepala Madrasah dan juga penanggungjawab dari program unggulan takhassus. Sedangkan Bapak H. Ahmad Sulhadi S.Pd.I merupakan waka kesiswaan sekaligus dari pelopor dan pemberi informasi tentang adanya progam unggulan takhassus di madrasah.
b. Peserta didik
Tabel 4.2. ABSEN UMUM MTs MIFTAHUL ULUM
No Kelas LK PR JMLH S I A
1 VII A 18 11 29
2 VII B 16 12 28
3 VII C 16 12 28
4 VII D - - -
5 VIII A 20 13 33 6 VIII B 20 12 32 7 VIII C 20 12 32 8 VIII D 18 14 32
5 Dokumentasi pada tanggal 25 Juli 2022 pukul 10.00 WIB di kantor MTs NU Miftahul Ulum Loram Kudus.
36
9 IX A 18 12 30
10 IX B 17 12 29
11 IX C 16 12 28
12 IX D - - -
Total 179 122 301
Peserta didik di MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus pada bulan Juli tahun ajaran 2022/2023 berjumlah 602 siswa, yang terdiri dari kelas VII berjumlah 179 siswa, kelas VIII berjumlah 122 siswa, dan kelas IX berjumlah 301 siswa. Adapun pada penelitian ini khusus pada kelas IX A.
kelas IX A memiliki jumlah 30 siswa akan tetapi peneliti memilih 4 siswa yang terdiri dari 2 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki sebagai penelitian. Siswa tersebut yaitu Ayu Alfiatur Rohmaniah, M. Jalaludin Jazuli, M. Rozaq dan juga Zahirotul Farida.
B. Deskripsi Data Penelitian
1. Penerapan Program Unggulan Takhassus
Madrasah merupakan suatu lembaga pendidikan di Indonesia yang menyediakan pembelajaran dalam pengetahuan agama islam. Setiap madrasah memiliki keunggulan tersendiri untuk mengembangkan setiap siswanya. Salah satu madrasah yang ada di Kabupaten Kudus yaitu MTs NU Miftahul Ulum tepatnya di kecamatan Loram Kulon memiliki program unggulan untuk semua siswanya tanpa terkecuali yang bernama Program Unggulan Takhassus. Hasil wawancara peneliti dengan Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I yang mengatakan bahwa “Program Unggulan Takhassus menurut saya itu adalah ilmu dasar khaliyah kehidupan siswa dalam sehari-hari”6, artinya ilmu terkait tentang keagamaan yang bisa diterapkan dalam kehidupan bemasyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Sri Hatin S.Ag selaku kepala madrasah sekaligus penetapan dari program unggulan takhassus adalah faktor utama yang menjadi ditetapkannya program tersebut agar siswa selain pandai dalam bidang akademik juga pandai dalam berperilaku yang sesuai
6 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
37
dengan syari’at islam di lingkup sekolah, keluarga maupun masyarakat.7 Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I selaku pemberi informasi mengenai Program unggulan takhassus diterapkan di madrasah agar siswa siap terjun ditengah-tengah masyarakat.
Contohnya siswa mampu memimpin tahlilan dan memimpin yasin di masyarakat. Siswa mampu menjadi imam di keluarganya masing-masing.8 Dari wawancara dengan Bu Sri Hatin S.Ag dan juga Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I dapat disimpulkan bahwa tujuan diterapkannya program unggulan takhassus adalah untuk menanamkan karakter religius dan membekali ilmu pada siswa dan selain siswa menerapkan di lingkungan sekolah juga dapat menerapkannya dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat.
Menurut Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I Program Unggulan Takhassus yang dilakukan di MTs NU Miftahul Ulum ini ditujukan untuk seluruh siswa dari kelas VII, VIII dan IX tanpa terkecuali agar siswa dalam kehidupan di madrasah, masyarakat dan juga keluarga mampu menerapkan isi dari program tersebut. Program Unggulan Takhassus telah diterapkan di madrasah sejak tahun 2019 sampai dengan sekarang. Program Unggulan Takhassus dilaksanakan di MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus tepatnya di dalam kelas.9
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pelaksanaan Program Unggulan Takhassus ada yang dilakukan melalui:
a. Kegiatan pembiasaan yang rutin dilakukan setiap harinya adalah pembacaan Asmaul Husna, pembacaan doa awal belajar dan akhir belajar dilanjutkan mengaji bersama.
Dimulai dari pukul 07.00 WIB bel berbunyi siswa dan guru pendamping masuk ke kelas, setelah itu pukul 07.00-07.10 WIB siswa membaca Asmaul Husna dan doa awal belajar yang dipimpin oleh dua siswa melalui speaker di kantor.
7 Sri Hatin S.Ag, wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 1, transkrip.
8 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
9 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
38
Gambar 4.3. Siswa memimpin doa awal belajar di kantor.10 Setelah itu, pukul 07.10-07.20 WIB dilanjutkan mengaji juz Amma bersama di kelas masing-masing yang didampingi oleh guru pendamping atau guru mata pelajaran yang mengajar pada saat jam pertama. Setiap siswa harus memiliki Juz Amma sendiri yang dibaca dalam kegiatan tersebut.
Gambar 4.4 Guru mendampingi siswa mengaji Juz Amma bersama.11
10 Dokumentasi di kantor MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 29 Agustus 2022 pukul 07.00 WIB.
39
Ada pembacaan doa awal belajar juga ada pembacaan doa akhir belajar yang dilakukan setelah pembelajaran selesai dan sebelum siswa pulang. Pembacaan doa akhir belajar dilakukan sama dengan pembacaan doa awal belajar yaitu pembacaan doa dipimpin oleh dua orang siswa melalui speaker di kantor.12
Gambar 4.5. Siswa memimpin doa akhir belajar di kantor.13 Adapun dibawah ini adalah doa awal dan akhir belajar yang dibaca oleh seluruh siswa MTs NU Miftahul Ulum sebelum dilakukannya proses belajar mengajar.
11 Dokumentasi di kelas IX C MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 29 Agustus 2022 pukul 07.10 WIB.
12 Observasi pada tanggal 29 Agustus 2022 pukul 07.00 WIB di kelas IX C.
13 Dokumentasi di kantor MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 13.25 WIB.
40
Gambar 4.6. Bacaan Doa Awal Belajar
Gambar 4.7. Bacaan Doa Akhir Belajar14
b. Program selanjutnya yaitu program yang ditekankan dan wajib diikuti oleh seluruh siswa yaitu program hafalan yang dilakukan melalui kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an. Program tersebut dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh madrasah. Kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan
14 Dokumentasi di kantor MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 13.45 WIB.
41
Tahfidzul Qur’an dilakukan pada saat setelah kegiatan belajar mengajar. Setiap kelas memiliki jadwal yang berbeda dan juga guru pendamping yang berbeda juga.
Contohnya yaitu kelas VIII A dilakukan setiap hari selasa pukul 13.30 WIB. Setiap siswa memiliki buku monitoring prestasi sendiri terkait dengan hafalannya.
Dimulai dari pukul 13.30 WIB guru pendamping masuk ke kelas. Pukul 13.30-13.40 WIB siswa membaca surat Al-Fatihah dan Tahiyat sebagai doa awal sebelum kegiatan dimulai. Selanjutnya pukul 13.40-14.05 WIB siswa maju kedepan untuk menyetorkan hafalannya kepada guru pendamping. Siswa yang hafalannya sama, bisa maju menyetorkan hafalannya bersama temannya.
Setelah semua siswa selesai hafalan, dilanjutkan membaca doa untuk penutupan dan pulang.15
Gambar 4.6. Guru mendampingi kegiatan Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an.16
d. Selain dari program pembiasaan dan program hafalan, ada program lainnya yaitu kegiatan yang dilakukan sebagai mata pelajaran pendukung dalam beberapa mata pelajaran keagamaan di madrasah yang terkait
15 Observasi pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 13.30 WIB di kelas VIII A.
16 Dokumentasi di kelas VIII A MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 13.40 WIB.
42
yaitu mata pelajaran Akidah Akhlak, Fiqih, ke NU an, Al-Qur’an Hadist, BTQ, dll. Kegiatan tersebut telah tercantum dalam buku monitoring dan prestasi program Takhassus MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus.17
4.7. Buku Panduan Program Takhassus MTs NU Miftahul Ulum
4.8. Daftar isi Buku Panduan Program Takhassus MTs NU Miftahul Ulum
17 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
43
Kegiatan dalam Program Unggulan Takhassus yang digunakan sebagai mata pelajaran pendukung siswa dalam pembelajaran mata pelajaran keagamaan di madrasah adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7. Program Takhassus18
NO Materi Mapel Pendukung
1 Risalatul Mubarokah MATSAMA 2 Sayyidul Istighfar Akidah Akhlak 3 Dzikir dan do’a
setelah Sholat
Fiqih
4 Sholawat Nariyah Akidah Akhlak 5 Sholawat Munjiyat Akidah Akhlak 6 Do’a Nisfu Sya’ban S.Agama 7 Do’a Bulan Rajab S.Agama 8 Do’a Akhir dan Awal
Tahun Hijriyah
S.Agama
9 Do’a Asyuro S.Agama
10 Amalan Tarwiyah Arafah
S.Agama 11 Do’a Sholat dhuha Fiqih 12 Do’a Sholat Tahajud Fiqih 13 Do’a Sholat Hajat Fiqih 14 Do’a Sholat Istikharah Fiqih 15 Do’a Sholat Tasbih Fiqih 16 Do’a Sholat Taubah Fiqih
17 Do’a Qunut Fiqih
18 Bacaan Tahiyat Fiqih 19 Panduan Mengqadha’
sholat bagi orang Haid, Nifas, dan Junub
Fiqih/Fiqih Salaf
20 Panduan Tahlil dan Do’a
Ke-NU-an 21 Rotih Al Atthos Kesiswaan
22 Istighosah Kesiswaan/S.Agama 23 Asmaul Husna Akidah Akhlak 24 Surat Yasin Fiqih Salaf 25 Surat Al Waqiah Alqur’an Hadist
26 Surat Al Mulk BTQ
18 Dokumentasi di kantor MTs. NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 14.10 WIB.
44
Bacaan do’a dari materi diatas telah tercantum semua dalam Buku Panduan Program Takhassus MTs NU Miftahul Ulum Kudus yang dibuat oleh Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I selaku Waka Kesiswaan sebagai program unggulan di madrasah.
Dapat disimpulkan dari data diatas adalah kegiatan yang termasuk dalam Program Unggulan Takhassus di MTs NU Miftahul Ulum dibagi menjadi 3 yaitu yang pertama program pembiasaan yang rutin dilakukan setiap harinya yaitu pembacaan Asmaul Husna, pembacaan doa awal dan akhir belajar kemudian dilanjutkan mengaji bersama didampingi oleh guru yang dilakukan di kelas masing-masing. Program kedua adalah program yang ditekankan dan wajib diikuti oleh semua siswa yaitu kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan Thfidzul Qur’an. Program yang terakhir adalah kegiatan yang dilakukan sebagai mata pelajaran pendukung dimana semua materi telah tercantum dalam buku panduan program takhassus.
2. Penerapan Program Unggulan Takhassus Dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter Religius
Dalam membentuk karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Kudus, dilakukan melalui program unggulan takhassus yang diterapkan dimadrasah sejak tahun 2019 lalu melalui perencanaan yang matang. Program unggulan takhassus diterapkan untuk menanamkan karakter religius pada peserta didik melalui berbagai kegiatan di madrasah. pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut sudah berjalan dengan baik, hanya saja keterbatasan pendamping dalam proses pelaksanaan. Kegiatan yang termasuk program unggulan takhassus dalam mengembangkan pendidikan karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Ulum yaitu yang menjadi program pembiasaan meliputi pembacaan Asmaul Husna, pembacaan doa awal dan akhir belajar kemudian dilanjutkan mengaji bersama. Selanjutnya yang menjadi program hafalan yaitu kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an dan yang terakhir kegiatan yang menjadi mata pelajaran pendukung, misalnya Dzikir dan do’a setelah solat sebagai materi pendukung mata pelajaran Fiqih.
Hasil wawancara dengan Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I Program Unggulan Takhassus memiliki manfaat untuk siswa secara pribadi yaitu siswa secara otomatis telah mendapatkan pendidikan karakter, yaitu pendidikan karakter religius, memiliki jiwa nasionalis yang dilandasi dengan
45
religius. Program unggulan takhassus diharapkan siswa lulus dari madrasah tidak hanya mendapat ilmu pengetahuan juga menjadikan siswa berkarakter dan berakhlak. Selain itu, siswa juga hafal juz 30 yang diwajibkan untuk dihafalkan dan siswa menguasai ilmu dasar khaliyah kehidupan misalnya siswa bmampu zikir dan doa, membaca yasin, membaca tahlil, dll.19 M. Jalaludin Jazuli dan M. Rozaq selaku siswa kelas IX A mengatakan dengan adanya program unggulan takhassus menjadikan mereka sebagai siswa yang bertaqwa dan taat akan menjalankan perintah-Nya. Selain itu juga dari yang belum terbiasa membaca ayat-ayat Al-Qur’an sekarang bisa terbiasa dan menghafal Al-Qur’an.20
Berdasarkan hasil observasi peneliti mengamati siswa dalam berkarakter khususnya karakter religius, dengan diadakannya program unggulan takhassus siswa telah memiliki karakter yang religius, siswa dalam pengembangan karakter religius di madrasah telah melaksanakannya dengan baik, misalnya sebelum dilakukan pembelajaran siswa mengaji terlebih dahulu, siswa juga melaksanakan solat dhuhur berjamaah, siswa masuk ke dalam kelas mengucapkan salam, menghormati guru di dalam kelas maupun di luar kelas, apabila siswa berbicara dengan guru menggunakan bahasa yang sopan dan santun dan lain sebagainya yang berkaitan dengan karakter religius siswa di madrasah. Karakter siswa yang beragam dan tidak sama, ada juga beberapa siswa yang belum memiliki karakter religius yang diharapkan. Misalnya apabila dalam kegiatan mengaji atau pembacaan doa-doa yang telah ditentukan madrasah, ada beberapa siswa yang tidak mengikutinya justru berbicara dengan teman sebangkunya, siswa yang tidak berbicara sopan dan melawan kepada guru, siswa yang meninggalkan solat 5 waktu, dan lain sebagainya yang tidak berkarakter religius di madrasah. Akan tetapi, secara keseluruhan pelaksanaan program unggulan takhassus dalam mengembangkan pendidikan karakter religius telah menjadikan siswa memiliki karakter religius yang baik.21
19 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
20 M. Jalaludin Jazuli dan M. Rozaq, wawancara oleh penulis, 4 Agustus, 2022, wawancara 5&6, transkrip.
21 Observasi pada tanggal 26 juli 2022 pukul 08.00 WIB di madrasah.
46
Tujuan dari dilaksanakannya program unggulan takhassus tersebut seperti yang diutarakan oleh Bu Sri Hatin, S.Ag. selaku kepala madrasah, bahwa diadakannya program tersebut bertujuan untuk mencapai visi misi MTs NU Miftahul Ulum Kudus yaitu membentuk manusia Indonesia yang mantap iman dan taqwanya kepada Allah SWT dengan landasan Akhlakul karimah Ala Ahlussunnah Wal Jama’ah. Selain itu bertujuan untuk menciptakan karakter religius peserta didik dan peserta didik siap tejun dalam kehidupan masyarakat.22
3. Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Penerapan Progam Unggulan Takhassus
Dalam penerapan Program Unggulan Takhassus di MTs NU Miftahul Ulum tidak sepenuhnya bisa berjalan dengan lancar dan sukses, pasti akan selalu ada faktor penghambat dalam penerapan program Unggulan Takhassus. Akan tetapi di balik faktor penghambat pasti ada faktor pendukungnya yang bisa memperlancar penerapan Program Unggulan Takhassus, antara lain:
a. Penerapan program unggulan takhassus di MTs NU Miftahul Ulum dilakukan oleh semua siswa tanpa terkecuali. Pendukung penerapan program tersebut yang pertama adalah terdapat pada siswa sebagai pelaksana dimana siswa merasa senang adanya program unggulan tersebut di madrasah, mereka juga mengikuti kegiatan secara tertib dan disiplin dan mengikuti program tersebut sesuai dengan aturan yang telah berlaku.23
b. Menurut Bapak H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I faktor pendukung yang kedua selain dari siswa, juga dari guru.
Guru menerima adanya program unggulan takhassus dengan baik, tidak hanya itu guru juga mendukung adanya program tersebut dengan ikut serta menjadi pengawas siswa di kelas dalam pembacaan doa-doa khusus yang dilakukan sebelum dan setelah pembelajaran. Selain guru yang menerima dan mendukung dengan baik, Bu Sri Hatin S.Ag selaku Kepala Madrasah juga sangat mendukung adanya program unggulan takhassus di madrasah, dilihat dari Bu
22 Sri Hatin S.Ag, wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 1, transkrip.
23 Ayu Alfiatur Rohmaniah dan Zahirotul Farida, wawancara oleh penulis, 4 Agustus, 2022, wawancara 3&4, transkrip.
47
Sri Hatin S.Ag telah menyetujui adanya program tersebut.24
Dalam penerapan program unggulan takhassus selain terdapat faktor pendukung juga terdapat kendala dalam penerapan program unggulan, antara lain:
a. Guru pendamping yang mendampingi siswa menyetorkan hafalan dalam kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an belum mempunyai kemampuan dalam membenarkan bacaan yang belum sesuai dengan tajwid pada siswa. Faktor tersebut dikarenakan guru yang mengawasi bukan guru khusus tajwid melainkan guru yang mengampu semua mata pelajaran, dikarenakan guru pendamping setiap kelas berbeda-beda, guru pendamping bukan merupakan guru keagamaan. Untuk itu, guru yang belum menguasai ilmu tajwid dilakukan traning pengetahuan tentang ilmu tajwid sampai mengerti tentang ilmu tajwid yang benar agar bisa diterapkan kepada siswa dalam membaca Juz Amma di kegiatan ekstrakurikuler.
b. Selain itu juga belum adanya kebersamaan dalam pelaksanaan program unggulan takhassus di madrasah.
program unggulan takhassus hanya dipegang oleh satu guru pengampu. Maka dari itu, H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., mengutarakan perlu adanya evaluasi dalam pelaksanaan program unggulan takhassus yakni dengan adanya komunikasi yang baik antara semua guru dan juga koordinasi ke semua guru untuk saling bersatu dalam pelaksanaan program unggulan takhassus di madrasah.25 Dari data-data diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor pendukung dalam menerapkan Program Unggulan Takhassus berasal dari siswa dan guru, sedangkan faktor penghambat yang menjadi kendala yaitu hanya berasal dari guru saja, untuk itu perlu diadakannya evaluasi yaitu komunikasi antar sesama guru agar tujuan program unggulan takhassus yang diterapkan di madrasah ini bisa berjalan dengan baik.
24 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
25 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
48 C. Analisis Data Penelitian
1. Penerapan Program Unggulan Takhassus
Program Unggulan Takhassus yang diterapakan di madrasah merupakan suatu program atau kegiatan yang telah direncanakan dan bertujuan untuk menghasilkan sebuah lembaga yang unggul serta mencetak generasi yang berpendidikan. Program unggulan takhassus di MTs NU Miftahul Ulum merupakan ilmu dasar khaliyah kehidupan untuk siswa agar siap terjun dalam kehidupan di masyarakat.
Program Unggulan adalah suatu rangkaian langkah-langkah yang dilaksanakan dengan urutan tertentu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.26
Penerapan Program Unggulan Takhassus di MTs NU Miftahul Ulum melalui:
a. Program pembiasaan yang dilakukan rutin setiap harinya terdapat beberapa kegiatan antara lain:
1). Pembacaan Asmaul Husna. Pembacaan Asmaul Husna dilakukan secara bersama-sama yang dipimpin oleh 2 orang siswa di kantor. Asmaul husna merupakan nama-nama Allah yang terbaik dan yang agung, yang sesuai dengan sifat-Nya yang jumlanya 99 nama.27 Hederanie mengatakan bahwa Khasiat (Keistimewaan) dan Fadilat (Keutamaan) dari nama Allah adalah jika seseorang memperbanyak menyebut nama Allah maka tidak ada satupun orang jahat yang memandangnya. Selain itu, Hederanie menambahkan bahwa jika nama Allah dibaca sebanyak 5000 kali setiap hari akan dapat memudahkan rezeki dan tidak lewat satu minggu rezeki itu akan datang dari segala penjuru. Jika nama Allah dibaca sebanyak 66 kali dengan didahului kata
“ya” (ya nida’) kemudian ditambah dengan doa tertentu (doa hajat) sebanyak 10 kali, maka akan terlaksana semua hajatnya, baik berupa keinginan yang baik maupun keinginan yang tidak baik.28
26 Sutratinah Tirtonegoro, Anak Supernormal, 104.
27 Machfud Syaefudin dan Wirayudha Pramana Bhakti, “Pembentukan Kontrol Diri Siswa Dengan Pembiasaan Zikir Asmaul Husna dan Shalat Berjamaah”, Jurnal Peurawi 3, no. 1 (2020): 84-85.
28 Haderanie H.N., Asma`ul Husna Sumber Ajaran Tauhid/Tasawuf (Surabaya: PT Bina Ilmu, 2004), 20.
49
2). Pembacaan doa awal dan akhir belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Di madrasah sebelum proses belajar mengajar di mulai, hal yang pertama dilakukan adalah doa bersama. Setiap madrasah berhak menentukan metode untuk berdoa.
Ada yang berdoa sendiri-sendiri didalam hati maupun bersama-sama didalam kelas ada juga yang berdoa diluar kelas seperti halaman sekolah ataupun di musholla. Pembacaan doa awal dan akhir belajar di MTs NU Miftahul Ulum dilakukan sama halnya dengan pembacaan Asmaul Husna yaitu membaca bersama-sama yang dipimpin oleh 2 orang siswa di kantor. Keutamaan doa di sisi Allah SWT melebihi dari segala keutamaan. Berdoa berarti mengingat Allah, sehingga orang yang selalu berdoa ialah orang yang selalu mengingat Allah, sedangkan Allah pun selalu ingat pula pada hambanya yang berdoa.29 3). Mengaji atau tadarus Juz Amma bersama di kelas.
Kebiasaan tadarus Juz Amma ini dilakukan sebelum dimulainya pembelajaran jam pertama, terlebih dahulu seluruh aktifitas pembelajaran di madrasah diawali dengan pembacaan doa dan tadarus Juz Amma bersama-sama. Jadi, tadarus awal pelajaran adalah kegiatan membaca Juz Amma serentak dan bersama-sama yang dilakukan di kelas masing- masing oleh seluruh siswa dengan bimbingan guru.
Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata “mengaji” memiliki beberapa arti, yaitu: 1) mendaras membaca al-Qur‟an, 2) belajar membaca tulisan Arab, 3) belajar, mempelajari agama.30 Sedangkan Juz Amma adalah juz ke tiga puluh atau terakhir dari kitab suci AlQur’an.31 Keutamaan dari membaca ayat-ayat Al-Qur’an adalah menjadi insan yang terbaik, derajat yang lebih tinggi, dan mendapatkan kenikamatan tersendiri, mendatangkan ketenangan jiwa. Orang yang senantiasa selalu
29 Abidin Ja‟far, Peranan Sholat Tahajjud & Doa dalam Kesehatan Mental (Yogyakarta: Robait Usman, 2012), 102-105.
30 Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2011), 508.
31 Ahmad Zainal Abidin, Kilat Dan Mudah Hafal JuzAmma, (Yogyakarta: Sabil, 2015), 8.
50
bertadarus Al-Qur’an akan bisa menjaga hafalannya serta pemahaman seseorang terhadap Al-Qur’an.
Walaupun Allah SWt berjanji menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihapal, namun apabila tidak dijaga dengan cara bertadarus, diulang bacaanya, dipahami maknanya sehingga ringan hafalannya.32 Kegiatan ini akan mempermudah peserta didik dalam menghafal Juz Amma untuk disetorkan pada saat kegiatan Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an.
b. Program yang kedua adalah program hafalan yang ditekankan dan harus diikuti oleh seluruh siswa dengan dilakukan melalui kegiatan ekstrakulikuler Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an. Siswa diwajibkan menghafal Juz Amma dan menyetorkan hafalannya pada saat kegiatan tersebut. Seorang siswa sebelum membaca ayat-ayat Al- Quran terebih dahulu berguru dengan seorang guru yang ahli dalam bidang Al-Quran secara langsung. Musyafahah dari kata syafawi = bibir, Musyafahah = saling bibir- bibiran. Artinya, kedua murid dan guru harus bertemu langsung, saling melihat gerakan bibir masing-masing pada saat membaca Al-Qur’an.33 Metode musyafahah adalah suatu cara guru menyampaikan bacaan al-Qur’an, sedangkan anak memperhatikannya secara seksama di hadapan guru, kemudian anak mengulang-ulangnya dalam pantauan guru.34 Sedangkan Tahfidzul Qur’an adalah orang yang menghafal setiap ayat-ayat dalam alQur’an mulai ayat pertama sampai ayat terakhir.35 Pengajaran menghafal al-Qur’an terutama pada juz Amma surat-surat pendek haruslah mendapatkan prioritas pertama yang diajarkan kepada anak, karena lisan yang sudah mampu membaca al- Qur’an akan mampu dan bisa menjadikan al-Qur’an sebagai bacaan sehari-hari.36
32 Abdul Majid, Praktikum Qira’at, (Jakart: Amzah, 2013), Cet. 2, 35.
33 Abdul Majid, Praktikum, 35.
34 Nikmatus Sholihah dan Nia Indah Purnamasari, Metode Musyafahah Sebagai Solusi Mempermudah Anak Usia Dini Menghafal Surat pendek, Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2, diakses pada 5 September 2022, https://media.neliti.com/media/publications/349092-metode-musyafahah-sebagai-solusi- memperm-6a3182d3.pdf.
35 Abdurrab Nawabuddin dan Bambang Saiful Ma’arif, Teknik Menghafal al- Qur’an (Kaifa Tahfiz al-Qur’an), (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005) 23.
36 Nikmatus Sholihah dan Nia Indah Purnamasari, Metode Musyafahah, 281.
51
c. Program yang ketiga yaitu kegiatan yang dilakukan sebagai mata pelajaran pendukung dalam beberapa mata pelajaran keagamaan yaitu Akidah Akhlak, Fiqih, ke NU an, Al-Qur’an Hadist, BTQ, dll. Materi tersebut telah tercantum semua dalam buku panduan takhassus.
Contohnya yaitu penerapan Dzikir dan doa setelah sholat masuk dalam mata pelajaran fiqih. Fathurrohman dalam bukunya menjelaskan bahwa nilai ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari seperti shalat, puasa, zakat.37 Oleh karena itu sholat dzhuhur merupakan salah satu bentuk dari nilai ibadah. Dan apabila dilakukan secara rutin akan menumbuhkan sikap religius dari peserta didik. Dzikir yaitu mengingat atau menyebut nama Allah baik dalam hati maupun melalui lisan untuk menghadirkan Allah dalam kesadaran seorang hamba yang disusul dengan perbuatan ketaatan sedangkan doa adalah sebagai permohonan atau permintaan yang diajukan manusia sebagai makhluk dengan sepenuh hati dan pengharapan kepada Allah, Sang Khaliq.38 Untuk itu, keutamaan dzikir dan doa setelah sholat yaitu Allah akan mengingat orang yang berdzikir pada-Nya dan Doa merupakan sarana memohon ampunan dosa.39
Menurut data yang diperoleh peneliti dari MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus menunjukkan bahwa penerapan Program Unggulan Takhassus melalui kegiatan pembiasaan yaitu pembacaan Asmaul Husna, Pembacaan doa awal dan akhir belajar, kemudian dilanjutkan mengaji bersama.
Kegiatan yang ditekankan dan diwajibkan diikuti oleh seluruh siswa yaitu kegiatan ekstrakulikuler musyafahah dan Tahfidzul Qur’an. Kemudian yang terakhir yaitu kegiatan sebagai mata pelajaran pendukung dalam beberapa mata pelajaran tertentu yaitu Akidah Akhlak, Fiqih, ke NU an, Al-Qur’an Hadist, BTQ, dll.
37 Muhammad Fathurrohman, Budaya Religius Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan , (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 60.
38 Rahmadi Wibowo Suwarno dan Qaem Aulassyahied, Buku Saku Tuntunan Doa Dan Dzikir, (Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Studi Islam, 2021), 5-6.
39 Rahmadi Wibowo Suwarno dan Qaem Aulassyahied, Buku Saku, 8-9.
52
2. Penerapan Program Unggulan Takhassus Dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter Religius
Program unggulan yang ada di MTs NU Miftahul Ulum Loram Kulon Kudus dilaksanakan sebagai upaya untuk mengembangkan pendidikan karakter religius pada peserta didik. Karakter merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu, ciri khas tersebut ialah asli dan mengakar pada kepribadian suatu benda atau individu tersebut merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.40 Sedangkan karakter religius adalah upaya yang sudah terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai religius sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
Bila jiwa religius tersebut telah tumbuh dengan subur dalam diri seorang peserta didik, maka tugas seorang pendidik selanjutnya ialah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sikap beragama peserta didik.
Sikap keberagaman ialah suatu keadaan yang ada dalam diri seorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada sebuah agama.41 Fungsi karakter religius menurut Kemendiknas yaitu yang pertama sebagai pengembangan artinya potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik, yang kedua sebagai perbaikan artinya memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggungjawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat, dan yang ketiga sebagai penyaring artinya untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat42 Selain untuk mengembangkan pendidikan karakter religius peserta didik juga serta upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasioanal berdasarkan bab 2 pasal 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yaitu untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha
40 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan, 28.
41 Anis Khatul Ibadiyah, “Karakter Religius Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Seksi Kerohanian Islam”, (Skripsi, IAIN Kudus,2017).
42 Kemendiknas, Kerangka Acuan, 7.
53
esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab.43 Bagi seorang muslim, berupaya memiliki akhlak yang baik adalah bagian dari upaya memelihara keimanan, dikarenakan orang mukmin yang paling sempurna adalah yang terbaik akhlaknya. Akhlak yang baik ialah salah satu syarat seorang muslim masuk dalam surganya Allah SWT. Kualitas akhlak seseorang dapat dilihat dalam ruang lingkup kehidupan seseorang, yaitu kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, bernegara dan beragama.44
Akhlak yang baik Allah SWT mengatakan dalam surat Al- Qalam/68 ayat 4 mengatakan:
ٍم ۡي ِظَع ٍقُلُخ ىٰلَعَل َكَّنِا َو
Artinya: “Sesungguhnya Engkau (Ya Muhammad) mempunyai budi pekerti yang luhur”45
Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap Kepala Madrasah, Waka Kesiswaan dan beberapa siswa kelas IX A MTs NU Miftahul Ulum mengenai kegiatan-kegiatan dalam program unggulan takhassus yang ada adalah sebagai berikut:
a. Pembacaan Asmaul Husna, Pembacaan doa Awal dan Akhir belajar, Mengaji bersama
Kegiatan pembiasaan yang dilakukan di madrasah sebelum proses belajar mengajar dimulai, hal pertama yang dilakukan adalah berdoa bersama meliputi membaca Asmaul Husna, Membaca doa awal dan Akhir belajar dan dilajutkan tadarus bersama. Pembiasaan merupakan suatu tingkah laku tertentu seseorang yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi.
Dengan adanya pembiasaan yang dilakukan oleh seseorang, pendidikan memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan yang baik yang sesuai dengan ajaran agamanya, baik secara individual (pribadi) maupun secara
43 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2013 Standar Nasional Pendidikan Serta Wajib Belajar , (Bandung: Itra Umbara, 2014), 3.
44 Hasan Zaini, Perspektif Al-Qur’an Tentang Pendidikan Karakter (Pendekatan Tafsir Maudhu’i), Jurnal Ta’dib, Vol. 16 No. 1 (2013), 4-5.
45 Al-Qur’an, surat al-Qalam ayat 4, Al-Qur’an dan terjemahannya, (jakarta:
Departemen Agama RI, Yayasan Penerjemah dan Penerbit, 2009), 564.
54
berkelompok dalam kehidupan sehari-hari seseorang.46 Zubaedi mengatakan dalam bukunya yang berjudul Desain Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan bahwa kebiasaan termasuk dalam faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter religius peserta didik di madrasah. Di madrasah, siswa diajarkan untuk selalu membaca Asmaul Husna, membaca doa awal dan akhir belajar dan tadarus Juz Amma sejak kelas 7 dan sudah terjadwal, sehingga dari ajakan tersebut menjadi kebiasaan yang memang selalu dilaksanakan oleh siswa setiap harinya.47
Bentuk pembiasaan yang diterapkan di MTs NU Miftahul Ulum Kudus dalam upaya menumbuhkan karakter religius siswa di lingkungan madrasah. Pembacaan doa-doa tersebut dilakukan secara rutin setiap harinya. Kegiatan pembacaan Asmaul Husna, Pembacaan doa Awal dan Akhir belajar, Mengaji bersama merupakan doa-doa yang dilantunkan untuk mendapat kebaikan, keberkahan serta perlindungan dari Allah SWT, dan juga agar peserta didik senantiasa mengingat Allah sehingga dapat memelihara dirinya agar selalu bertaqwa kepada Allah SWT.48 Berdoa sebelum dan sesudah belajar merupakan termasuk dalam indikator karakter religius di lingkungan sekolah/madrasah yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.49
Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dari kegiatan pembiasaan meliputi pembacaan doa sebelum dilakukannya proses belajar mengajar yaitu:
1.) Nilai Religius. Penanaman nilai ibadah dalam kegiatan membaca Asmaul Husna, Pembacaan doa Awal dan Akhir belajar, Mengaji bersama bertujuan agar peserta didik tidak hanya ikut membaca saja, melainkan dengan niat mendapat keberkahan atau nilai kebaikan dari membaca Asmaul Husna,
46 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 1997), 70.
47 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), 177-184.
48 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
49 Kemendiknas, Kerangka Acuan, 25.
55
membaca doa awal dan akhir belajar, dan juga tadarus Juz Amma bersama di kelas masing-masing.
2.) Nilai Disiplin. Dalam kegiatan membaca Asmaul Husna, membaca doa awal dan akhir belajar, kemudian dilanjut dengan tadarus Juz Amma nilai disiplin yang ditanamkan bertujuan agar peserta didik datang ke sekolah dan mengikuti kegiatan pembiasaan tersebut tepat waktu. Sehingga peserta didik akan terbiasa disiplin dan menghargai waktu dalam segala hal.50
b. Kegiatan Ekstra Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an
Kegiatan menghafalkan al Qur’an juga merupakan sebuah proses mengingat seluruh materi ayat harus dihafal dan diingat secara sempurna. Sehingga seluruh proses pengingatan terhadap ayat dan bagian-bagiannya dimulai dari proses awal hingga pengingatan kembali harus tepat.51 Kegiatan ini bertujuan agar siswa ketika lulus dari madrasah mempunyai bekal hafalan Juz Amma dan bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga agar membiasakan siswa membaca Al-Qur’an, yang awalnya tidak terbiasa membaca Al-Qur’an menjadi hafal ayat Al- Qur’an juga mendapat keberkahan dari menghafal Al- Qur’an sehingga nantinya peserta didik menjadi insan yang berakhlakul karimah.52 Manfaat dan keutamaan dari menghafal Al-Qur’an adalah: pertama, orang yang menghafal Al-Qur’an dengan hati yang bersih dan ikhlas mendapatkan kedudukan yang sangat mulia di dunia dan di akhirat, karena mereka merupakan makhluk pilihan Allah SWT. Penghafal Al-Qur’an adalah sebaik-baik ibadah, selalu dilindungi malaikat, mendapat rahmat dan ketenangan, mendapat anugrah Allah SWT, dan menjadi hadiah bagi orang tuanya. Kedua, menghafal Al-Qur’an membentuk akhlak mulia baik bagi pribadi maupun menjadi contoh bagi semua orang muslim. Al-Qur’an semakin dibaca, dihafal dan dipahami, maka semakin besar petunjuk Allah SWT didapat. Petunjuk Allah SWT berupa agama
50 Kemendiknas, Pedoman Pelaksanaan, 7.
51 Siti Nur Khalimah, “Hubungan Antara Tahfidzul Qur’an Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas X IIK Di MAN 3 Tulungagung” (Skripsi, UIN SATU Tulungagung, 2018), 14-15.
52 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
56
islam berisi tentang aqidah, ibadah dan akhlak. Ketiga, menghafal Al-Qur’an akan meningkatkan kecerdasan. Pada dasarnya setiap insan dibekali dengan bermacam-macam potensi/kecerdasan meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, jika kecerdasan ini bisa dikembangkan dan dimaanfaatkan secara optimal, akan membuka peluang besar untuk hidup bahagia lahir maupun batin.53
Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dari kegiatan Tahfidzul Qur'an adalah nilai ibadah dan nilai tanggung jawab. Menanamkan nilai ibadah dalam kegiatan Tahfidzul Qur'an yaitu sebagai bentuk ketaatan siswa kepada Allah SWT dengan cara membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an serta mempelajari makna yang terkandung dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan penanaman nilai tanggung jawab dalam kegiatan Tahfidzul Qur’an yaitu peserta didik diharapkan memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang menjadi kewajibannya terhadap hafalan juz amma yang telah ditentukan oleh madrasah.54
c. Kegiatan sebagai mapel pendukung dalam mata pelajaran keagamaan
Kegiatan ini dilaksanakan ketika pada saat ada materi yang berkaitan dengan kegiatan program unggulan takhassus dalam pembelajaran mata pelajaran tertentu. Materi tersebut telah tercantum semua dalam buku panduan program takhassus. Contohnya yaitu zikir dan doa setelah sholat, prakter solat fardhu maupun solat sunnah, doa qunut, doa setelah solat sunah (Dhuha, Tahajut, Hajat, Istihoroh, Tasbih dan Taubat), panduan cara mengqadha’ sholat bagi orang haid, nifas dan junun (gila) menjadi mata pelajaran pendukung pada mata pelajaran fikih. Selain itu juga siswa ditekankan untuk membaca surat Al-Waqiah, Al-Mulk dan Yasin, surat tersebut tidak wajib dihafalkan akan tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat digunakan dalam kehidupan sehari- hari, siswa memiliki jiwa pemimpin di masyarakat misalnya menjadi imam sholat dan memimpin zikir setelah solat.
53 Nurul Hidayah, Strategi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an Di lembaga Pendidikan, jurnal Ta’alum, Vol. 4 no. 1 (2016), 67-68.
54 Kemendiknas, Pedoman Pelaksanaan, 7.
57
Siswa juga dibekali dengan amalan-amalan yang apabila dilakukan akan mendapat pahala dan keberkahan dari Allah SWT.55
Dalam islam shalat merupakan tiang agama perintah langsung dari Allah SWT dimana wajib dilakukan oleh seluruh umat islam. Orang yang meninggalkan shalat akan mendapat siksaan dan sebaliknya orang yang mengerjakan shalat akan mendapat pahala dari Allah SWT. Shalat merupakan rukun islam yang kedua dan rukun islam yang sangat ditekankan (utama) setelah dua kalimat syahadat.
Telah disyari’atkan sebagai kesempurnaan dan sebaik- baiknya ibadah. Shalat ini mencakup berbagai macam- macam ibadah lainnya: zikir kepada Allah SWT, tilawah kitabullah, berdiri menghadap Allah SWT, ruku’, sujud, doa, tasbih, dan takbir. Manfaat shalat yang dilaksanakan secara khusyuk adalah shalat mencegah perbuatan doa, menghilangkan penyakit di badan, menerangi hati, membuat wajah cerah, menyehatkan badan dan jiwa, mendatangkan rejeki, mengatasi kezaliman, menjadi penolong bagi orang yang dizalimi, memadamkan nafsu syahwat, menghilangkan kesusahan, menghibur jiwa, menghilangkan kemalasan, mendatangkan berkah, menjauhkan dari setan, dan juga mendekatkan kepada Tuhan yang maha pengasih, dan masih banyak lagi.56 Setiap muslim wajib melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari semalam, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 238, dibawah ini:
ا ْوُم ْوُق َو ى ٰطْس ُوْلا ِةو ٰلَّصلا َو ِت ٰوَلَّصلا ىَلَع ا ْوُظِفا َح َنْيِتِن ٰق ِ ِّٰلِل
Artinya: “ Periharalah semua shalat (mu), dan (perihalaha) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam Shalatmu) dengan Khusyu’.57
Nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dari kegiatan diatas adalah nilai ibadah. Penanaman nilai ibadah
55 H. Ahmad Sulhadi, S.Pd.I., wawancara oleh penulis, 26 Juli, 2022, wawancara 2, transkrip.
56 Rima Mirza Fitria, Pengaruh Shalat Fardhu Terhadap Akhlak Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (Angkatan) 2015 Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau, (Skripsi, Universitas Islam Riau, 2018), 7-9.
57 Al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 238, Al-Qur’an dan terjemahannya, (jakarta:
Departemen Agama RI, Yayasan Penerjemah dan Penerbit, 2009), 39.
58
pada kegiatan diatas adalah siswa senantiasa selalu beribadah hanya kepada AllahSWT agar mendapat keberkahan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.58
Menurut hasil analisis dari data yang diperoleh peneliti dari MTs NU Miftahul Ulum Kudus menunjukkan bahwa program unggulan takhassus dalam kegiatan pembacaan doa awal dan akhir pembelajaran dan kegiatan ekstra Musyafahah dan Tahfidzul Qur’an merupakan bentuk dari macam-macam nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter yaitu nilai ibadah. Fathurrohman dalam bukunya menjelaskan bahwa ibadah merupakan kepatuhan terhadap kegiatan manusia yang diimplementasikan dalam sehari-hari seperti sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
Dimana nilai ibadah sangat penting untuk ditanamkan kepada anak.59 Selain nilai ibadah, juga terkandung nilai disiplin dan nilai tanggung jawab.
3. Faktor Pendukung Dan penghambat Dalam Penerapan Program Unggulan Takhassus
Dalam menerapkan sebuah program unggulan di madrasah tidak terlepas dari hal-hal yang menjadi faktor pendukung dan hal-hal yang menjadi faktor penghambat. Faktor pendukung dari penerapan Program Unggulan Takhassus di MTs NU Miftahul Ulum antara lain:
a. Berasal dari pelaksana yaitu siswa. Siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam program takhassus dengan perasaan senang dan juga disiplin. Disiplin diartikan sebagai kesediaan untuk mematuhi peraturan yang baik, demikian itu bukan hanya patuh karena ada tekanan dari luar, melainkan kepatuhan didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan itu.
Disiplin yang dilakukan oleh seorang siswa di madrasah merupakan bentuk penyesuaian seseorang dalam suatu kelompok yang sudah disetujui. Siswa yang disiplin juga mendapat pengaruh dari temannya atau anggota kelompok yang lainnya.60 Disiplin dalam melakukan kegiatan keagamaan di madrasah akan membentuk siswa
58 Kemendiknas, Pedoman Pelaksanaan, 7.
59 Muhammad Fathurrohman, Budaya Religius, 60.
60 Zainudin Dkk, Seluk-Beluk Pendidikan Al-Ghozali,(Jakarta: Bumi Aksara,1991), 8.
59
yang berkarakter, khususnya karakter religius. Karakter religius merupakan upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai religius sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.61
b. Faktor dukungan dari kepala madrasah dan guru juga sangat diperlukan agar penerapan program tersebut bisa berjalan dengan baik. Faktor disiplin dan dukungan dari Kepala Madrasah serta guru merupakan termasuk dalam faktor yang mempengaruhi karakter religius siswa karena faktor lingkungan (Nurture) menurut Ratna Megawangi dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter Sosial Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa.62
Penerapan Program Unggulan Takhassus juga terdapat kendala yang menjadi faktor penghambat penerapan program tersebut yaitu, antara lain:
a. Keterbatasan guru memiliki pengetahuan ilmu tentang tajwid yang benar dalam membenarkan bacaan Al- Qur’an siswa dikarenakan guru yang mendampingi dalam kegiatan menghafal merupakan bukan guru khusus Tajwid melainkan semua guru mata pelajaran. Secara etimologi kata tajwid berasal dari bahasa Arab yaitu Jawwada-yujawwidu-tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat menjadi bagus. Kata tajwid diambil dari fi‟il madhi ( د وج)yang artinya membaguskan, menyempurnakan, memantapkan. Dalam pengertian lain dapat pula diartikan tajwid sebagai
“segala sesuatu yang dapat mendatangkan kebajikan”.
Tajwid itu adalah suatu cabang ilmu yang sangat penting untuk dipelajari sebelum mempelajari ilmu Qira’at Al- Qur’an. Ilmu tajwid adalah pelajaran untuk memperbaiki bacaan Al-Qur‟an. Ilmu tajwid itu diajarkan sesudah pandai membaca huruf Arab dan telah dapat membaca Al-Qur‟an sekedarnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum mempelajari ilmu tajwid adalah wajib.
Manfaat mempelajari tajwid diantaranya adalah untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an agar terhindar dari kesalahan saat pengucapan lafal Al-Qur’an dan akan
61 Anis Khatul Ibadiyah, “ Karakter Religius Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Seksi Kerohanian Islam” (Skripsi, IAIN Kediri, 2017).
62 Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, 25.
60
mendapatkan pahala dari Allah SWT. Oleh karena itu, tajwid termasuk ilmu yang penting dan memperoleh derajat yang tinggi karena sangat erat kaitannya dengan kalam Allah SWT. Sedangkan tujuan dari mempelajari ilmu tajwid adalah untuk menyempurnakan bacaan Al- Qur’an seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, karena lafal Beliau adalah lafal yang lebih fasih diantara manusia lainnya dan juga Al-Qur’an diturunkan kepada beliau. Sedagkn tujuan yang lainnya yaitu untuk menjaga lisan dari kesalahan saat dalam keadaan membaca Al- Qur’an, serta memelihara dari perubahan bacaan.63
b. Program unggulan Takhassus hanya dipegang oleh satu guru saja. Kerjasama antar guru sangat diperlukan dalam penerapan Program Unggulan Takhassus. Kerja sama merupakan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (lembaga, pemerintah, dan sebagainya) untuk mencapai suatu tujuan bersama-sama. Kerja sama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang ataupun lebih yang saling menguntungkan satu sama lain. Kerja sama juga diartikan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorang atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama.
Kerja sama antar guru di madrasah dapat diartikan bahwa para guru bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Hubungan kerja sama antar guru di madrasah dapat dilihat dari kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan setiap harinya di lingkungan madrasah. kerja sama antar guru bisa lebih baik kalau para guru berkomitmen lebih berdisiplin dan bertanggung jawab dengan tugasnya. Salah satu tugas guru ialah menjadi model sebagai pribadi, seperti berdisiplin, cermat berfikir, dan juga mencintai pelajarannya. Kemampuan bekerja sama untuk para guru dengan guru lainnya juga berkaitan dengan kompetensi yang dimilikinya.64
63 Nova Andrianop, “Pemahaman Ilmu Tajwid Di Kalangan Mahasiswa Ilmu Al- Qur’an Dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang” (Tesis, UIN Raden Fatah Palembang, 2022), 13-15.
64 Nurul Fitriah, Kerja Sama Antar Guru di SMP Islam Terpadu Babussalam Kuala Kapuas, diakses pada tanggal 5 Oktober,2022. file:///D:/2207-4506-1-SM.pdf