Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Ukuran
perusahaan, dan Resiko Bisnis terhadap Struktur
modal pada perusahaan Real Esatate yang terdaftar
di BEI periode 2016-2018
(Dewi Widiawaty)1Prodi Akuntansi, Universitas Pelita Bangsa E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikasi pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal, mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap struktur modal dan juga resiko bisnis terhadap struktur modal. Penelitin ini dilakukan dengan data sekunder. Teknik sample yang di gunakan purposive sampling. Sampel pada peneliian ini terdiri dari perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 yang berjumlah 48 perusahaan namun hanya 31 perushaan yang di jadikan sampel penelitian di karenakan perusahaan lain tidak sesuai kriteria yang di butuhkan. Deangan menggunakan analisa regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertumbuhan penjualan,ukuran perusahaan dan resiko bisnis tidak
berpengaruh terhadap struktur modal.
Kata Kunci : Pertumbuhan Penjualan, Ukuran Perusahaan dan Resiko Bisnis pada Struktur modal
Effects of Sales Growth, Firm Size and Business
Risks on Capital Structure
on Real Esatate Companies registered at BEI period
2016-2018
ABSTRACT
This study aims to determine the significance of sales growth on capital structure, determine the effect of company size on capital structure and also business risk on capital structure. This research was conducted with secondary data. The sample technique used was purposive sampling. The sample in this study consisted of property and real estate companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2016-2018 period, amounting to 48 companies but only 31 companies were used as research samples because other companies did not match the criteria needed. Deangan uses multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that sales growth, company size and business risk have no effect on capital structure.
Keywords: Sales Growth, Company Size and Business Risks in the Capital Structure.
Pendahuluan
Sebuah perusahaan selalu
membutuhkan modal baik untuk
pembukaan bisnis maupun dalam
pengembangan bisnisnya. Masalah
pendanaan tidak akan terlepas dari
sebuah perusahaan yang meliputi
seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dana yang akan digunakan untuk beroperasi dan mengembangkan usahanya. Pemenuhan modal usaha dapat dilakukan dengan pendanaan internal maupun eksternal (Putri, 2012). Pentingnya struktur modal bagi perusahaan amat besar terhadap
keuangan perusahaan serta nilai
perusahaan, sehingga manajer
keuangan harus memahami faktor yang mempengaruhi struktur modal agar
dapat memaksimalkan kemakmuran
pemegang saham perusahaan (Yuliati, 2013).
Seseorang manajer keuangan
diharapkan mampu mengambil
keputusan dalam memilih sumber dana yang didapatkan serta seberapa besar dana itu digunakan oleh perusahaan agar nantinya dana yang diperoleh perusahaan tidak akan memberatkan perusahaan. Seorang manajer keuangan
juga harus mampu mengetahui
bagaimana dana tersebut harus
digunakan dengan efisien, sehingga keputusan yang diambilnya nanti dapat
meningkatkan profitabilitas dari
perusahaan. Keputusan yang tepat dalam pemilihan pendanaan internal maupun eksternal sangatlah diperlukan.
Apabila suatu perusahaan memiliki
banyak utang akan mengakibatkan
terhambatnya perkembangan
perusahaan dan juga akan membuat para pemegang saham berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya.
Menurut Weston dan Copeland
(1996:3) struktur modal adalah
pembiayaan permanen yang terdiri dari
utang jangka panjang saham preferen dan modal pemegang saham. Struktur modal yang optimal adalah struktur
modal yang mengoptimalkan
keseimbangan antara risiko dan
pengembalian sehingga
memaksimumkan harga saham
(Alamsyah, 2010). Banyak factor yang harus dipertimbangkan dalam membuat komposisi struktur modal yang baik agar dana yang diperoleh dapat dipergunakan dengan bijak demi tercapainya tujuan perusahaan. Pada dasarnya perusahaan
lebih mengutamakan sumber dana
internal dari laba ditahan (retained
earnings). Namun, seringkali sumber
dana dari laba ditahan saja tidaklah cukup untuk membiayai seluruh kegiatan
operasional perusahaan sehingga
perusahaan juga perlu untuk
memperoleh sumber dana eksternal yaitu dengan utang.
Besarnya proporsi antara sumber dana internal dan sumber dana eksternal harus dilakukan dengan seimbang agar dapat digunakan dengan optimal. Lalu pada penelitian lainnya yang meneliti pada perusahaan property menyatakan bahwa Pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh pada struktur modal. Hal ini disebabkan karena penjualan industri properti lebih banyak pada penjualan kredit. Penjualan kredit pada perusahaan properti dalam bentuk piutang sehingga beresiko menyebabkan adanya piutang tidak tertagih. Hal tersebut menyababkan kreditur dalam memberikan kredit tidak
mempertimbangkan pertumbuhan
penjualan perusahaan. Ida Ayu Kade Trisia Andayani (2018). Pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap struktur modal.
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh Pertumbuhan
Penjualan,Ukuran Perusahaan dan
Resiko Bisnis terhadap struktur modal.
Manfaat yang diharapkan dari
A. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan
memberikan gambaran dan
pemahaman yang lebih
mendalam mengenai pengaruh pertumbuhan penjualan, ukuran
perusahaan, resiko bsinis
terhadap struktur modal serta
sebagai referensi bagi
penelitian-penelitian yang
serupa di masa yang akan datang.
B. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi
para manajer keuangan
mampu mengambil keputusan secara efisien dalam memilih sumber dana yang didapatkan serta seberapa besar dana itu digunakan oleh perusahaan
agar nantinya dana yang
diperoleh perusahaan tidak
akan memberatkan
perusahaan.
Kajian Literatur
Landasan teori ini menjelaskan teori-teori yang mendukung hipotesis serta berguna dalam analisis hasil penelitian. Landasan teori berisi pemaparan teori dan argumentasi yang di susun sebagai tuntunan
dalam memecahkan masalah
penelitian dan perumusan hipotesis.
1. Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal
Pertumbuhan penjualan
tinggi maka mencerminkan
pendapatan meningkat sehingga
beban pajak meningkat.
Pertumbuhan penjualan dapat dilihat dari perubahan penjualan
tahun sebelum dan tahun
periode selanjutnya. Suatu
perusahaan dapat dikatakan
mengalami pertumbuhan ke arah yang lebih baik jika terdapat
peningkatan yang konsisten
dalam aktivitas utama
operasinya. Perhitungan tingkat
penjualan perusahaan
dibandingkan pada akhir periode dengan penjualan yang dijadikan periode dasar. Apabila nilai
perbandingannya semakin
besar, maka dapat dikatakan
bahwa tingkat pertumbuhan
penjualan semakin baik.
Pertumbuhan penjualan
menunjukan sejauh mana
perusahaan dapat meningkatkan
penjualannya dibandingkan
dengan total penjualan secara
keseluruhan. Pertumbuhan
penjualan berpengaruh positif
terhadap struktur modal
perusahaan. Semakin besar
tingkat pertumbuhan penjualan maka modal yang dibutuhkan akan semakin besar. Tingkat pertumbuhan penjualan yang
tinggi membuat aktivitas
keuangan meningkat sehingga manajer sebagai agen perlu
sekali untuk meningkatkan
aktivitas pengawasan terhadap aktivitas yang berkaitan dengan kondisi keuangan perusahaan
tersebut Herdiawan Rudi
perdana (2013).
Hipotesisi 1 : Pertumbuhan penjualan berpengaruh positif pada struktur modal.
2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal
Semakin besar ukuran
perusahaan maka semakin
mudah pula perusahaan
mendapatkan tambahan modal dari internal maupun eksternal
dan semakin kecil ukuran perusahaan maka semakin sulit pula perusahaan mendapatkan tambahan modal (WidanaPutra, 2018). Pendapat ini sependapat dengan penelitian yang di lakukan oleh peniliti sebelumnya (Luh Noviana Sekar Utami 2017 )
,karena besar kecilnya
perusahaan menggambarkan
kepercayaan pihak dalam ataupun
luar dalam melakukan
pendanaan. Dan berdasarkan
teori agensi ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Hal ini berkaitan dengan
semakin besar ukuran
perusahaan, semakin besar biaya
pengawasan yang dibutuhkan
untuk mengelola struktur modal perusahaan. Selain itu semakin
besar ukuran perusahaan
semakin besar yang modal yang
dibutuhkan perusahaan untuk
membiayai kegiatan
operasionalnya (Herdiawan Rudi Pradana 2013)
Hipotesis 2 : ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal
3. Resiko Bisnis terhadap Struktur Modal
Risiko bisnis dapat
meningkat ketika perusahaan
menggunakan hutang yang
tinggi untuk memenuhi
kebutuhan pendanaannya.
Risiko timbul seiring dengan munculnya beban biaya atas
pinjaman yang dilakukan
perusahaan. Semakin besar
beban biaya yang harus
ditanggung maka semakin risiko yang dihadapi perusahaan juga semakin besar. Joni dan Lina
(2012) menyebutkan bahwa
risiko bisnis tidak berpengaruh
signifikan terhadap struktur
modal. Hal ini berbeda pendapat
dengan peneliti sebelumnya
Mohammed (2012) menyatakan bahwa risiko bisnis berpengaruh positif terhadap struktur modal.
Pernyataaan tersebut juga
didukung penelitian Pertiwi dan Artini, (2014) menyatakan hasil bahwa risiko bisnis berpengaruh
terhadap struktur modal,
menunjukkan bahwa dengan
adanya kenaikan resiko bisnis
maka akan meningkatkan
struktur modal.
Hipotesis 3 : Risiko bisnis berpengaruh positif terhadap struktur modal
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian data sekunder berupa laporan keuangan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Data merupakan sekumpulan dari suatu fakta dan objek yang diyakini kebenarannya.Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data sekunder
berbentuk angka sehingga
termasuk penelitian kuantitatif
yang berupa data untuk semua variable, yaitu Pengaruh ukuran
perusahaan pertumbuhan
penjualan dan resiko bisnis
terhadap struktur modal .Data berupa laporan keuangan pada perusahaan property dan real
estate yang terdaftar pada Bursa
diperoleh dengan metode
pengamatan yang terdaftar
selama pengamatan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018.
Data keuangan perusahaan
periode tersebut merupakan data
yang tersedia di www.idx.co.id
2. Teknik Pengambilan Sample
Dalam penelitian ini
menggunakan purposive sampling dengan kriteria terdaftar perusahaan
Property&Real Estate yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI)
periode 2016-2018, Perusahaan
menampilkan data yang dibutuhkan
secara lengkap dan konsisten
tentang penelitian ini selama periode penelitian dan memiliki variabel yang diteliti seperti risiko bisnis. Jumlah
sampel dalam penelitian ini
berjumlah 31 unit analisis. Metode analisis data yang digunakan adalah Analisis Statistik Deskriptif dan Uji Regresi Berganda
Oleh karena itu, penulis memilih
teknik purposive sampling dengan
menetapkan
pertimbangan-pertimbangan atau kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh
sampel-sampel yang digunakan
dalam penelitian ini.
Adapun kriteria-kriteria yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah sebagai berikut:
a. Terdaftar perusahaan Property dan Real Estate yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI)
periode 2016-2018
b. Perusahaan menampilkan data yang dibutuhkan secara lengkap
dan konsisten tentang penelitian ini selama periode penelitian dan memiliki variabel yang diteliti.
c. Perusahaan yang menyajikan
laporan keuangan secara lengkap sesuai dengan variabel yang akan diteliti berdasarkan sumber yang digunakan.
Adapun jumlah sampel perusahaan yang masuk kedalam kriteria dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Table 3.1 kriteria sample
Sumber : Data yang di olah 2019 Hasil dan Pembahasan 1. Statistik Deskriptif Data
Analisis deskriptif digunakan untuk
memberikan gambaran atau
deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), nilai minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi. Tabel hasil analisis deskriptif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Table 1 statistik deskriptif
No Keterangan Jumlah
1 Jumlah perusahaan Real Estate Property yang terdaftar di BEI selama tahun 2016-2018
48
2 Yang tidak sesuai dengan penelitian
(17) 3 Total Sample 31
Table Data 2.2 Statistik Deskriptif
Sumber : Data yang di olah di SPSS 2019
1. Pertumbuhan Penjualan
Perusahaan
Pertumbuhan Perusahaan di
tunjuk oleh pertumbuhan
penjualan. Dari data 4.2
statistik deskriptif, bersarnya pertumbuhan penjualan pada (N) 93 sample mempunyai nilai
minimum -0,57 dan nilai
maksimum 2,245 dengan
rata-rata 0,07645 pada
standar deviation 0,332611. 2. Ukuran perusahaan
Ukuran Perusahaan di tunjuk dari ukuran perusahaan. Dari data 4.2 statistik deskriptif, besarnya ukuran perusahaan
pada (N) 93 sample
mempunyai nilai minimum
14,990 dan nilai maksimum
31,580 dengan rata-rata
25,96935 pada standar
deviation 4,231576. 3. Resiko bisnis
Resiko bisnins di tunjuk dari resiko bisnis. Dari data 4.2 statistik deskriptif, besarnya resiko bisnis pada (N) 93
sample mempunyai nilai
minimum -0,063 dan nilai
maksimum 0,598 dengan
rata-rata 07458 pada standar
deviation 0,120870.
4. Struktur Modal
Struktur modal di tunjuk dari struktur modal. Dari data 4.2 statistik deskripif, besarnya struktur modal pada (N) 93
sample mempunyai nilai
minimum 0,003 dan
maksimum 3,710 dengan rata-rata 0,75877 pada standar deviation 0,672385.
2. Pengujian Hipotesis 1) Uji Asumsi Klasik
Salah satu asumsi yang harus dipenuhi dalam penelitian yang menggunakan statistik
parametrik dengan
model analisis regresi linier berganda adalah uji asumsi klasik. Uji
asumsi klasik ini
meliputi uji normalitas,
uji heterokedastisitas,
uji multikolinearita, dan uji autokorelasi.
2) Uji Normalitas
Uji normalitas
bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau
residual memiliki
distribusi normal atau
tidak. Model regresi
yang baik adalah
memiliki distribusi
normal atau mendekati
normal. Dalam
penelitian ini uji
normalitas diuji
menggunakan
Kolmogorov Smirnov,
dan juga dilihat dari
Descriptive Statistics N Minim um Maxi mum Mean Std. Deviatio n PertumbuhanP enjualan (X1) 93 -,570 2,245 ,0764 5 ,332611 UkuranPerusah aan (X2) 93 14,99 0 31,58 0 25,96 935 4,23157 6 ResikoBisnis(X 3) 93 -,063 ,598 ,0745 8 ,120870 StrukturModal (Y) 93 ,003 3,701 ,7587 7 ,672385 Valid N (listwise) 93
penyebaran data (titik) pada normal P-Plot of
Regression
Standarized Residual.
GAMBAR 4.3 Hasil Uji Normalitas
Struktur modal
Sumber : Output Versi 22, 2019
Hasil grafik normal P-P Plot menunjukkan bahwa data berada di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa
data penelitian mempunyai
distribusi yang normal. Sehingga model ini layak dipakai untuk analisis selanjutnya.
Didukung dengan hasil uji
Kolmogorov Smirnov pada tabel
4.3 di bawah ini :Uji K
Tabel 4.3
Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov
Sumber: Output data sekunder yang diolah SPSS, 2019
Hasil uji Kolmogorov Smirnov
menunjukkan hasil bahwa
data terdistribusi normal. Hal ini dapat dilihat dari Asymp
Sig (2-tailed) atau
probabilitasnya yang
menunjukkan angka 0,200,
lebih besar dari tingkat
signifikansi 5% atau 0,05.
Maka dapat disimpulkan
bahwa distribusi data adalah normal.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas
bertujuan menguji apakah
dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas dan tidak
heteroskedastisitas. Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas dapat
dilakukan grafik scatterplot berikut ini:
Gambar 4.7
Scatterplot
Sumber : Output versi 22, 2019 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 50
Normal Parametersa,b
Mean ,0000000
Std. Deviation ,26156132 Most Extreme Differences Absolute ,105
Positive ,071
Negative -,105
Test Statistic ,105
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance.
Tolerance VIF (Cons tant)
Pertum buhan
Penjualan ,944 1,059
Ukuran Perus ahaan ,988 1,012
res iko Bis nis ,940 1,064
1
a. Dependent Variable: Struktur Modal
Coefficientsa
Model
Collinearity Statis tics
R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,246a ,060 -,001 ,41013 1,030
b. Dependent Variable: Struktur Modal
Model Summaryb
Model
a. Predictors: (Constant), resiko Bisnis, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan
Hasil Scatterplot pada gambar 4.7 dapat di ketahui bahwa tidak ada pola yang jelas data menyebar secara acak di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka sapat di simpulkan bahwa tidak terjadi Heteroskedastisitas.
4) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas
bertujuan untuk menguji
apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi
antar variabel bebas
(independen). Deteksi
multikolinieritas pada suatu model dapat dilihat dimana nilai Variance Inflation Faktor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1. Maka model tersebut dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas. Berikut ini
adalah hasil Uji
Multikolonieritas:
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolenaritas
Sumber : Output versi 22, 2019.
Hasil uji multikolinearitas yang terdapat pada Tabel 4.4 menunjukkan model regresi yang dipakai untuk variabel-variabel independen penelitian
tidak terdapat masalah
multikolinearitas. Model
tersebut terbebas dari
masalah multikolinearitas
karena semua variabel
menunjukkan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 dan mempunyai nilai VIF yang tidak lebih dari 10.
5) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada tahun periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1 (sebelumnya).
Terbebasnya suatu model dari autokorelasi dapat dilihat dari angka Durbin Watson pada tabel 4.5 di bawah ini:
Table 4. Tabel 4.5 Hasil Uji Autokolerasi
Sumber : Output versi 22, 2019.
Hasil uji autokolerasi pada table 4.5 dapat dilihat bahwa
nilai DurbinWaston adalah
1,030. Dengan signifikan 5% jumlah unit analisis N 50 dan variable independen 3 (k=3) , maka table DW akan di dapatkan nilai sebagai berikut:
Tabel 4.6
Durbin-Watson Test Bound
K=3
N dL dU
48 1.4064 1.6708
49 1.4136 1.6723
Standardized Coefficients
B Std. Error Beta Tolerance VIF
(Constant) 1,159 ,286 4,049 ,000 Pertumbuhan Penjualan (x1) -,219 ,329 -,098 -,663 ,510 ,944 1,059 Ukuran Perusahaan (x2) -,014 ,011 -,191 -1,319 ,194 ,988 1,012 resiko Bisnis(x3) -,239 ,802 -,044 -,299 ,767 ,940 1,064 1
a. Dependent Variable: sqrt_y
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics Sumber : Junaidi (http://junaidichaniago.wordpress.com) Table 4.6.1
a. Hasil Uji Hipotesis Regresi Linier Beganda
Analisi regresi berganda
digunakan untuk mengukur
pengaruh antara variabel
independen terhadapa variabel
dependen. Hasil analisis
regresi berganda dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.8
Hasil Uji Regresi linier berganda
Dari tabel diatas dapat
disusun model persamaan
regresi linier berganda
berdasarkan kolom B. Model
persamaan regresi linier
berganda hasil penelitian
adalah sebagai berikut:
Y = 1,159 –0, 219X1 –0, 014
X2 – 0,239X3 + e
Model persamaan regresi
linier berganda hasil analisa
tersebut dapat di artikan
sebagai berikut :
1. Niliai konstanta
sebesar 1,159 hasil ini menunjukan bahwa jika
variable Independaen
(Pertumbuhan
penjualan, Ukuran
Perusahaan, Resiko
bisnis) di anggap
konstan, maka variable
dependen (Struktur
modal) sebesar 1.159. 2. Koefisien regresi untuk
variable Pertumbuhan Penjualan adalah sebesar -0,219 hasil menunjukan apabila terjadi perubahaan variabel pertumbuhan penjualan sebesar 1 satuan akan mengurangi struktur modal sebesar -0,219. 3. Koefisien regresi untuk
variable Ukuran Perusahaan adalah sebesar -0,014 hasil menunjukan apabila terjadi perubahan variabel ukuran perusahaan sebesar 1 satuan akan mengurani
Runs Test Unstand ardized Residual Unstand ardized Residual Unstand ardized Residual Test Valuea -,10405 -,01562 -,01562 Cases < Test Value 25 25 25 Cases >= Test Value 25 25 25 Total Cases 50 50 50 Number of Runs 18 20 20 Z -2,286 -1,715 -1,715 Asymp. Sig. (2-tailed) ,022 ,086 ,086 a. Median
Berdasarkan hasil uji Runtest
memnunjukan nilai Asymp
(2-tailed) sebesar 0,022 > 0.05 , 0.086 > 0.05 dan 0.086 > 0.05. Hal ini menunjukan bahwa data dalam penelitian ini telah lolos uji autokolerasi.
R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,224a ,050 -,012 ,26996 1,143 Model Summaryb Model
a. Predictors: (Constant), resiko Bisnis, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan
b. Dependent Variable: sqrt_y
Standardized Coefficients B Std. Error Beta (Constant) 1,159 ,286 4,049 ,000 Pertumbuhan Penjualan (x1) -,219 ,329 -,098 -,663 ,510 Ukuran Perusahaan (x2) -,014 ,011 -,191 -1,319 ,194 resiko Bisnis(x3) -,239 ,802 -,044 -,299 ,767 Coefficientsa 1
a. Dependent Variable: sqrt_y Model
Unstandardized Coefficients
t Sig.
struktur modal sebesar -0,014.
4. Koefisien regresi untuk variable Resiko Bisnis adalah sebesar -0,239
hasil menunjukan
apabila terjadi
perubahan variabel
Resiko Bisnis sebesar
1 satuan akan
menguarangi struktur
modal sebesar -0,239.
6) Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen Nilai koefiensi ini antara 0 dan 1, jika hasil lebih mendekati 0 berarti
kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Tapi jika hasil mendekati angka 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk mempredikasi variasi
variabel. Dari hasil pengolahan
data, maka diperoleh hasil
sebagai berikut :
Tabel 4.9
Hasil uji Koefisien Determinasi ( R2)
Hasil analisis regresi berganda
dapat di ketahui koefisien
determinasi (Adjusted R square)
adalah sebesar – 0,012 . Nilai
Adjust R square menunjukan
bahwa pengaruh Pertumbuhan
Penjualan, Ukuran Perusahaan dan
resiko Bisnis dalam model
penelitian secara bersama-sama mampu menjelaskan 1,2 % variasi Y sedangakan 99,8 % lainnya merupakan variable di luar model penelitian .
Standart Error of the Estimate adalah suatu ukuran banyaknya kesalahan model regresi dalam memprediksi nilai Y. Dari hasil regresi di dapat nilai 0,26996 hal ini berarti banyaknya kesalahan dalam prediksi struktur modal.
7) Uji Parsial (Uji Statistik T)
Uji t / uji parsial dilakukan
untuk melihat pengaruh
variabel independen terdapat
variabel dependen secara
terpisah. Hasil Uji t dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.10 Hasil Uji T
Sumber : Output versi 22, 2019
Berdasarkan tabel uji t di atas didapatkan hasil hipotesis sebagai berikut:
1. Variabel pertumbuhan penjualan (X1) terhadap struktur modal (Y)
Berdasarkan hasil pengujian
diperoleh t hitung variabel X1 sebesar -0,663 dan t tabel sebesar -2, 011 dengan nilai
signifikan 0,510 . Jadi diperoleh t hitungl > t tabel (-0,663 > -2,011 ) dan sig > alpha (0,510 > 0,05) artinya H0 diterima dan H1
ditolak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel
pertumbuhan penjualan
berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap struktur
modal.
2. Variabel ukuran perusahaan
terhadap struktur modal
Berdasarkan hasil pengujian di peroleh t hitung variabel X2 sebesar -1,319 dan t tabel sebesar -2, 011 dengan nilai signifikan 0,194. Jadi diperoleh t hitung > t tabel ( -1,319 > - 2,011 ) dan sig > alpha (0,194 > 0,05) artinya H0 diterima dan H2 ditolak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel
ukuran perusahaan
berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap struktur
modal.
3. Variabel resiko bisnis terhadap struktur modal
Berdasarkan hasil pengujian di peroleh t hitung variabel X3 sebesar -0,299 dan t tabel sebesar -2, 011 dengan nilai signifikan 0,767. Jadi diperoleh t hitung > t tabel (0,299 > -2,011) dan sig > alpha (0,767 > 0,05) artinya H0 diterima dan H3
ditolak . Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel
resiko bisnis berpengaruh
negatif dan tidak signifikan
terhadap struktur modal.
Tabel 4.11 Hasil Pengujian Hipotesis Keseluruhan
Hipotesis Pernyataan Hasil H1 Pertumbuhan penjualan berpengaruh negatif terhadap struktur modal H1 di tolak H2 Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif terhadap struktur modal H2 di tolak H3 Resiko Bisnis berpengaruh negatif terhadap struktur modal H3 di tolak
Sumber : Data yang di olah 2019
Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis yang
telah dilakukan pada variabel
independen yaitu Pengaruh
Pertumbuhan Penjualan, Ukuran
Perusahaan, dan Resiko Bisnis terhadap Struktur modal dengan menggunakan IBM SPSS versi 22,
maka diperoleh pembahasan
sebagai berikut :
1. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal
Hasil pengujian variabel
Pertumbuhan Penjualan
diperoleh nilai t hitung sebesar -0,663 dengan tingkat signifikan sebesar 0,510 berdasarkan data penelitian dengan df = 47 dengan a = 0,05, diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini menunjukan bahwa t hitung -0,663 > t tabel -2,011 dan nilai signifikan sebesar 0,510 > 0,05 dengan nilai Beta sebesar -0,98,
yang artinya bahwa
pertumbuhan penjualan
berpengaruh negative terhadap Struktur modal Hal tersebut
menunjukan bahwa
pertumbuhan penjualan tidak
berepengaruh signifikan
terhadap struktur modal. Hal ini disebabkan karena penjualan industri properti lebih banyak pada penjualan kredit. Penjualan kredit pada perusahaan properti dalam bentuk piutang sehingga beresiko menyebabkan adanya
piutang tidak tertagih. Hal
tersebut menyababkan kreditur dalam memberikan kredit tidak mempertimbangkan
pertumbuhan penjualan
perusahaan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak,
yang menghasilkan secara
parsial Pertumbuhan Penjualan
tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap Struktur modal pada perusahaan property dan real estate. Hasil penelitian ini didukung dan sama dengan penelitian sebelum nya yang dilakukan oleh Ida Ayu Kade
Trisia Andayani, Ketut Alit
Suardana (2018), Lara Al Ashry , Halkadri Fitra (2019). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Kesuma (2009) serta penelitian
Puspawardani (2013) yang
menyatakan bahwa
pertumbuhan penjualan
berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap struktur
modal. Hasil penelitian ini
mendukung Pecking Order
Theory dimana semakin tinggi pertumbuhan penjualan akan semakin banyak menggunakan
dana internal berupa laba
ditahan. Hal ini tentunya sesuai dengan konsep dasar Pecking Order Theory yang menyatakan
bahwa perusahaan lebih
menyukai pendanaan internal
dibandingkan pendanaan
eksternal.
2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Struktur modal
Hasil pengujian variabel Ukuran Perusahaan diperoleh nilai t hitung sebesar -1,319
dengan tingkat signifikan
sebesar 0,194 berdasarkan data penelitian dengan df = 47 dengan a = 0,05, diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini menunjukan bahwa t hitung -1,319 > t tabel -2,011 dan nilai signifikan sebesar 0,194 > 0,05 dengan nilai Beta sebesar
-0,191, yang artinya
membuktikan bahwa ukuran
perusahaan tidak mempengaruhi
struktur modal. Hal ini
ditunjukkan melalui nilai regresi
variabel ukuran perusahaan
yang diproksikan SIZE sebesar 0,014 dengan t hitung sebesar
-1,319 dan nilai signifikansi
sebesar 0,194 yang lebih tinggi dari tingkat signfikansi(α = 0,05) sehingga dapat membuktikan
bahwa ukuran perusahaan
(SIZE) tidak mempengaruhi
struktur modal (DER).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak,
Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian Lessy (2016) dengan judul “ Pengaruh Ukuran
Perusahaan, Likuiditas,
Profiabilitas, dan Struktur Aktiva terhadap Struktur Modal”, bahwa
ukuran perusahaan tidak
modal. Putu Meilita Halim, A.A.G.P. Widanaputra (2018) Universitas Udayana. Dengan
demikian dapat disimpulkan
bahwa H2 ditolak. Penelitian ini
berbeda pendapat dengan
peneliti sebelumnya yaitu
WidanaPutra (2018), Luh
Noviana Sekar Utami (2017), Herdiawan Rudi Pradana (2013)
yang menyatakan “Semakin
tinggi ukuran perusahaan
semakin tinggi struktur modal perusahaan”.
3. Pengaruh Resiko Bisnis Terhadap Struktur Modal
Hasil pengujian variabel Resiko Bisnis diperoleh nilai t hitung sebesar -0,299 dengan tingkat signifikan sebesar 0,767
berdasarkan data penelitian
dengan df = 47 dengan a = 0,05, diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini menunjukan bahwa t hitung -0,299 > t tabel -2,011 dan nilai signifikan sebesar 0,767 > 0,05 dengan nilai Beta sebesar -0,044, yang artinya
membuktikan bahwa Resiko
Bisnis tidak mempengaruhi
struktur modal. Hal ini
ditunjukkan melalui nilai regresi
variabel ukuran perusahaan
yang diproksikan sebesar -0,239 dengan t hitung sebesar -0,299 dan nilai signifikansi sebesar 0,767 yang lebih tinggi dari
tingkat signfikansi (α = 0,05)
sehingga dapat membuktikan
bahwa resiko bisnis tidak
mempengaruhi struktur modal (DER). Resiko Bisnis merupakan
suatu keadaan di mana
kemungkinan timbunya
kerugian/ bahaya itu dapat di perkirakan sebelumnya dengan
mengguanakn data atau
informasi yang cukup relevan yang tersedia (GitoSudarmo 2002:16).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak yang berarti tidak ada pengaruh antara resiko bisnis terhadap
struktur modal. Berdasarkan
hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Risiko Bisnis (RISK)
secara parsial mempunyai
pengaruh negatif yang signifikan terhadap struktur modal. Berarti jika risiko bisnis naik maka struktur modal perusahaan akan
turun. Hal ini menandakan
bahwa dengan adanya kenaikan
risiko bisnis maka akan
berdampak pada perolehan
keuntungan perusahaan yang tinggi pula sehingga dengan keuntungan perusahaan yang tinggi maka akan mengurangi
pinjaman perusahaan dalam
bentuk hutang. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Friska Finanti, (2011) dan Novita Firsariana Erianto (2014) yang
menyatakan bahwa variabel
risiko bisnis memiliki pengaruh negatif tidak signifikan terhadap struktur modal. Dimana semakin tinggi risiko bisnis maka semakin rendah penggunaan hutang A.A Ngr Ag Ditya Yudi Primantara (2016) dan juga sependapat dengan peneliti terdahulu Ahmed et al. (2010), Indrajaya (2011), Seftianne (2011), Nuswandari (2013).
Penutup Kesimpulan
Pengujian ini bertujuan
mengetahui pengaruh Pertumbuhan
Pejualan, Ukuran Perusahaan, dan Resiko Bisnis terhadap struktur modal pada perusahaan real estate dan
property pada perusahaan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia pada tahun
2016-2018. Pengujian ini memakai
variabel independan yaitu Pertumbuhan Pejualan, Ukuran Perusahaan, serta
Resiko Bisnis dan variabel
dependen yaitu Struktur Modal.
Berdasarkan hasil penelitian serta pengujian dan pembahasan ini maka dapat di simpulkan sebagai berikut :
1. Dari hasil pengujian uji T (Parsial)
Pertumbuhan penjualan terdapat nilai
Pertumbuhan Penjualan diperoleh nilai t hitung sebesar -0,663 dan diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini menunjukan bahwa t hitung -0,663 > t tabel -2,011 dengan nilai signifikansinya yaitu 0,510 > 0,05 yang mengartikan
bahwa pertumbuhan
penjualan(X1) tidak berpengaruh terhadap struktur modal (Y). Hal ini disebabkan karena penjualan industri properti lebih banyak pada penjualan kredit. Penjualan kredit pada perusahaan properti dalam bentuk piutang sehingga beresiko
menyebabkan adanya piutang
tidak tertagih. Hal tersebut
menyebabkan kreditur dalam
memberikan kredit tidak
mempertimbangkan pertumbuhan penjualan perusahaan.
2. Dari hasil pengujian uji T (Parsial)
Ukuran Perusahaan terdapat nilai t hitung sebesar -1,319 diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini
menunjukan bahwa t hitung -1,319 > t tabel -2,011 dengan nilai signifikasinya yaitu 0,194 > 0,05 yang mengartikan bahwa Ukuran Perusahaan (X2) tidak berpengaruh terhadap Struktur modal (Y).
3. Dari hasil pengujian uji T (Parsial)
Resiko Bisnis terdapat nilai t hitung sebesar -0,299 diperoleh nilai t tabel sebesar -2,011 Hal ini menunjukan bahwa t hitung -0,299 > t tabel -2,011 dengan nilai signifikasinya yaitu 0,767 > 0,05 yang mengartikan bahwa
Resiko Bisnis (X3) tidak
berpengaruh terhadap Struktur modal (Y). Hal ini menandakan bahwa dengan adanya kenaikan
risiko bisnis maka akan
berdampak pada perolehan
keuntungan perusahaan yang
tinggi pula sehingga dengan
keuntungan perusahaan yang
tinggi maka akan mengurangi
pinjaman perusahaan dalam
bentuk hutang.
Saran
1. Implikasi penelitian ini bagi
penelitian lain yang berminat
melakukan penelitian dengan
topik yang sama dengan
penelitian ini, hendaknya perlu melakukan penelitian yang lebih spesifik dan mendalam dengan
menggunakan variabel-variabel
lain diluar variabel Pertumbuhan Penjualan, Ukuran Perusahaan dan Resiko Bisinis yang mungkin
dapat mempengaruhi Struktur
modal. Hal ini dimaksudkan untuk menguji seberapa besar pengaruh
variabel-variabel tersebut
terhadap Struktur modal.
2. Penelitian yang akan datang
periode tahun pengamatan yang digunakan agar sampel yang diteliti lebih banyak, hasil yang lebih akurat dan bisa lebih
mencerminkan kondisi
sesungguhnya dilapangan.
3. Bagi pembaca disarankan untuk mempelajari lebih jauh mengenai
kinerja perusahaan maupun
variabel-variabel yang dapat
memepengaruhi struktur modal. Bagi penelitian selanjutnya bisa menggunakan periode penelitian yang berbeda sehingga dapat dijadikan sebagai referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya.
Daftar Pustaka
Farah Mergaretha dan Aditya Rizky Ramadhan (2010) Faktor-faktor yang mempengaruhi Struktur modal Pada Industri Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Universitas Trisakti Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 12, No. 2, Hlm. 119 - 130
Herdiawan Rudi Pradana Accounting Analysis Journal(2013) Pengaruh Resiko Bisnis , Struktur Aset, Ukuran daan Pertumbuhan Penjualan terhadap struktur modal Accounting Analysis Journal 2 (4) (2013) ISSN 2252-6765
Ida Ayu Kade Trisia Andayani, Ketut Alit Suardana (2018) Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Pertumbuhan Penjualan, dan Struktur Aktiva Pada Struktur Modal Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.24.1. 370-398
Lara Al Ashry, Halkadri Fitra (2019)
Pengaruh Pertumbuhan Penjualan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Real Estate and Property di Bursa Efek Indonesia Universitas Negeri
Padang Volume 01 Nomor 01
Luh Noviana Sekar Utami Anak Agung Gede Putu Widanaputra (2017) Pengaruh Tarif Pajak, Profibilitas, Likuiditas dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur moal di BEI Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesi E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.20.1. 352-379
Ni Putu Yuliana Ria Sawitri, Putu Vivi Lestari(2015) Pengaruh Ukuran Perusahaan, Resiko Bisnis,dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 4, No. 5, 2015 : 1238-1251 ISSN: 2302-8912 Putu Meilita Halim A.A.G.P. Widanaputra
(2018) Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan dan Risiko Bisnis Pada Struktur Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.23.3.: 2391-2413 DOI:
Teddy Chandra( 2014) Pengaruh Pertumbuhan Penjualan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Real Estate and Property di Bursa Efek Indonesia Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 18, Nomor 4,: 507 – 523