PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM (PSDA)
I. KETENTUAN PENGELOLAANA. Pembukaan Lahan 1. Tujuan:
Mengantisipasi tuntutan lahan akibat pertumbuhan lahan Memenuhi tuntutan ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi
keluarga
2. Kategori lahan yang dibuka: oma ngura dan oma ntua 3. Prosedur:
Mengajukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, lokasi dan luas lahan yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, lokasi dan luas lahan serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh Pemerintah Ngata
Dalam hal di mana ijin diberikan, pembukaan lahan harus didahului dengan upacara adat mohamale manu bula yang dilakukan sesuai dengan kepercayaan yang dianut pemohon
4. Batasan-batasan pembagian lahan diatur menurut asal-usul historis tanah, kebutuhan lahan dan kemampuan mengolah dengan tetap memperhatikan rasa keadilan
5. Aturan pembukaan lahan:
Memperhatikan musim berdasarkan perhitungan bulan dan bintang Memperhatikan prinsip-prinsip ekologis berdasarkan kearifan
tradisional
6. Pengelolahan lahan dilakukan secara berkelompok atau gotong rroyong (mome ala pale) dengan mengendepankan orientasi sosial dan bukan semata-mata ekonomis
B. Pengambilan Kayu
1. Tujuan: memenuhi kebutuhan domestik seperti bangunan sosial, ramuan rumah, perabot dapur, alat-alat pertanian
2. kategori pohon yang diambil: uru, taiti, kume, koronia, marantaipa, palio, kole baka ngkuni, kaha, alipa, tau, hinanau, ngkarahihi, marantawi, betau, pawa, ntomanete, kuhio, dango, benitu, leutu, lekotu, lao, huka, towaku, lebanu, urio, bekawa, lalari, toweru, baka loka, lonca ibo, wonce dan dongi
3. prosedur:
Mengajukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis pohon, lokasi dan jumlah kubik yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mepertimbangkan alasan, jenis pohon, lokasi dan jumlah kubik yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan
Ijin pengolahan diterbitkan oleh Pemerintah Ngata
Dalam hal di mana ijin diberikan, penebangan pohon harus didahului dengan upacara adat mowurera pu kau dan penancapan kapak
4. Aturan pengambilan:
Memperhatikan waktu menurut perhitungan bulan tua dan daun tua Memperhatikan prinsip-prinsip ekologis berdasarkan kearifan
tradisional (kayu yang ditebang minimal berdiameter 60 cm dan tidak melakukan penebangan di daerah Tolo yaitu di tempat kemiringan, sepanjang Daerah Aliran Sungai dan di tempat-tempat yang rawan longsor dan erosi)
C. Pengambilan Rotan
1. Tujuan: untuk kebutuhan domestik dan komersial
2. Kategori rotan: nteuwa, bata, togihi weana, togihi ue, togihi ngkalaka, mpowaloa, paloe, ombo, puti, laru, humampu, lampa lae, hilaku, bata ata (noko)
3. Prosedur:
Pihak yang mengambil rotan untuk kebutuhan komersial harus mengajukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis rotan, lokasi, waktu dan jumlah yang dibutuhkan.
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis rotan, lokasi, waktu dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengolahan diterbitkan oleh Pemerintah Ngata 4. Aturan pengambilan:
Rotan yang diambil berumur 3 (tiga) tahun ke atas
Waktu dan tempat panen ditentukan oleh musyawarah lembaga dengan memperhatikan prinsip rotasi (ra ombo)
Dilarang mengilir (menarik) rotan di sepanjang Daerah Aliran Sungai pada saat padi mulai berbulir (berakibat ancaman gagal panen (nakahoana)
D. Pengambilan Gaharu dan Bahan Wewangian
1. Tujuan: Untuk kebutuhan domestik dan komersial 2. Kategori: Gaharu, nompe, ntobe, palio (kau wangi) 3. Prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus mengajukan permohonan ijin ke Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) diserta alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Dalam hal di mana ijin diberikan, pengambilan gaharu dan bahan wewangian harus didahului upacara adat rapinongoi merapi rahi yang dilakukan sesuai dengan kepercayaan yang dianut pemohon 4. Aturan pengambilan:
Pohon yang diolah harus sudah berumur tua
Khusus nompi dan ntobe, dilarang melakukan penebangan pohon (hanya menyadap getah dan mengambil dahannya)
E. Pengambilan Damar
1. Tujuan: untuk kebutuhan domestik dan komersial 2. Prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus mengajukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh Pemerintah Ngata
Dalam hal di mana ijin diberikan, pengambilan damar harus didahului dengan acara adat rapinongoi merapi rahi yang dilakukan sesuai dengan kepercayaan yang dianut pemohon
3. Aturan Pengambilan
Pohon yang diolah minimal lingkar pohon berdiameter 50 cm Dilarang melakukan penebangan
Memperhatikan sejarah kepemilikan sebelumnya F. Pengambilan Bahan Obat-obatan Tradisional
1. Tujuan: untuk keperluan domestik dan komersial
2. Kategori: panuntu, koro gambu, tiloa tida, kaumanuru, nkanarahi, walubira, loka pagata, tinti ahe, tumela, lengaru, bintele, taman pange (hinduru), pahungku, balolai, karondo, bolo watu mbolio, kawoko wawu, hilalondo, padonca, hiranindi, momata, walimoa, ntumoni dila meo, titilu dll.
3. Prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus melakukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh pemerintah Ngata 4. Aturan pengambilan:
G. Pengambilan Pandan Hutan
1. Tujuan: untuk kebutuhan domestik dan komersial 2. Kategori: pandila, noho, tuu
3. prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus melakukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh Pemerintah Ngata H. Pertambangan Tradisional
1. Tujuan: untuk keperluan domestik dan komersial 2. Kategori: emas (bulawa)
3. prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus melakukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, jenis bahan tambang yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, jenis bahan tambang yang diolah, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh Pemrintah Ngata 4. Aturan penambangan:
Penambangan dilakukan secara tradisional dengan menggunakan dulang dari kayu (mangemo)
Dilarang mempergunakan alat modern dan bahan-bahan kimia yang akan mengakibatkan kerusakan lingkungan
I. Pengambilan Liur Burung Walet (Ilu Tonci Popore) 1. Tujuan: untuk keperluan domestik dan komersial 2. prosedur:
Pihak yang ingin mengambil untuk kebutuhan komersial harus melakukan permohonan ijin kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) disertai alasan, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan
Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah LMA dan Pemerintah Ngata setelah mempertimbangkan alasan, lokasi dan jumlah yang dibutuhkan, serta prinsip-prinsip kearifan tradisional
Ijin pengelolaan diterbitkan oleh Pemrintah Ngata
Dalam hal di mana ijin diberikan, kegiatan pengambilan liur burung walet harus didahului dengan acara adat rapinongoi merapi rahi yang dilakukan sesuai dengan kepercayaan yang dianut pemohon
II. ATURAN PENGELOLAAN TAMBAHAN
Dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam yang tersebut di atas dilarang keras:
1. Memasang jerat dan atau berburu
2. Menggunakan stroom dan racun untuk menangkap ikan 3. Menggunakan senapan angin
4. Merusak habitat di lokasi pengolahan dan sekitarnya III. MEKANISME IJIN DAN BIAYA A. Mekanisme Perijinan
1. Permohonan ijin dilakukan secara tertulis kepada Pemerintah Ngata melalui Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dengan mengisi formulir yang telah disediakan
2. Pemberian ijin diputuskan melalui musyawarah Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan Pemerintah Ngata
3. Surat ijin dikeluarkan Pemerintah Ngata, Mengetahui Lembaga Masyarakat Adat (LMA), dan tembusan kepada OPANT dan LPN
4. Setiap penerbitan surat ijin dikenai biaya administrasi
5. Selain biaya administrasi untuk penerbitan surat ijin, dikenakan juga biaya kompensasi pemulihan (restitusi) dengan nilai yang disesuaikan untuk setiap jenis SDA yang dikelola
B. Biaya
1. Biaya administrasi ditetapkan sebesar
Pembukaan lahan Rp 50.000
Pengelolaan kayu Rp 10.000
Pengelolaan rotan Rp 10.000
Pengelolaan gaharu Rp 50.000
Pengelolaan damar Rp 25.000
Pengelolaan obat-obatan tradisional Rp 10.000 Pertambangan tradisional Rp 25.000 Pengambilan liur burung walet Rp 25.000
2. Selain untuk kepentingan sosial, pengolahan setiap jenis SDA dikenai biaya kompensasi pemulihan (restitusi) dengan nilai sebagai berikut:
Pembukaan lahan Rp 25.000 per are Pengolahan kayu Rp 25.000 per kubik Pengolahan rotan Rp 100.000 per ton Pengolahan gaharu Rp 100.000 per kilo Pengolahan damar Rp 200.000 per ton Pengolahan obat-obatan 10% dari nilai jual Pertambangan tradisional Rp 25.000 per gram
IV. MEKANISME PENEGAKAN ATURAN A. Sanksi Pelanggaran
Bentuk dan nilai sanksi atas pelanggaran ketentuan-ketentuan di atas akan ditetapkan menurut hukum adat dalam musyawarah Lembaga Masyarakat Adat (LMA)
B. Mekanisme Penjatuhan Sanksi
1. Setiap pelapor pelanggaran, baik dari masyarakat \, Tondo Ngata maupun polhut dilaporkan secara lisan atau tulisan kepada Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan Pemerintah Ngata
2. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) mengklasifikasi laporan yang masuk dan juka menemukan indikasi terjadi pelanggaran maka segera menyelenggarakan musyawarah Lembaga Masyarakat Adat (LMA) untuk membahasnya
3. Dalam kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA), maka diadakan musyawarah lintas lembaga untuk membahasnya sampai tuntas
4. Apabila pelanggar tidak mengindahkan sanksi adat maka kasus ini ditindaklanjuti kepada hukum negara
5. Semua barang bukti pelanggaran disita untuk kepentingan Ngata
6. Apabila diperlukan, keputusan musyawarah dan pelaksanaannya dapat dibuat Berita Acara untuk disampaikan kepada pelaku pelanggaran, Pemerintah Ngata, OPANT, LPN, dan (jika dipandang perlu) kepada instansi-instansi pemerintah terkait
V. KETENTUAN PERALIHAN
1. Ketentuan Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
2. Kegiatan pengelolaan Sumber Daya Alam pada masa sebelumnya yang tidak sesuai dengan ketentuan ini dilakukan proses pemutihan yang aturannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA)
Ditetapkan di : Toro
Pada Tanggal : 29 Oktober 2002
LEMBAGA MASYARAKAT ADAT NGATA TORO