• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Kualitas Layanan

Tingkat kepuasan seorang pelanggan sangat tergantung kepada kualitas

layanan yang diharapkan dari pemberi layanan. Semakin dekatnya kualitasnya

layanan yang diberikan dengan kualitas layanan yang diharapkan semakin kecil

tingkat perbedaan kekecewaan pelanggan. Berbagai macam kualitas layanan yang

didefinisikan oleh masing – masing individu pribadi yang menerima jasa layanan.

Mereka mendefinisikan sebagai standard mutu terendah yang dapat mereka terima

dalam pelayanan yang mereka alami dalam perolehan suatu barang maupun jasa.

Pentingnya kualitas layanan terhadap tingkat kepuasan pelanggan menentukan

apakah layanan yang kita berikan akan membuat para pelanggan merasa dihargai atau

tidak. Semakin tinggi kualitas layanan akan semakin mendekati titik terendah

kepuasan pelanggan. Akan lebih baik apabila kualitas layanan yang kita definisikan

lebih tinggi dari titik terendah tersebut yang berarti bahwa kepuasan yang hendak

dicapai bisa dilaksanakan hanya perlu diperbaiki. Jika kualitas layanan yang ada

berada diatas titik tertinggi maka pelanggan akan puas sekali bahkan cenderung

terlalu puas. Lovelock mendefinisikan kualitas layanan sebagai tingkat kesempurnaan

yang diharapkan dan kendali dari variabilitas dalam mencapai kesempurnaan

tersebut, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Lovelock,1992, p.21)

(2)

Dalam definisi kualitas ini memadukan tiga komponen yaitu, rancangan

kualitas yang merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan, kendali

kesenjangan dengan kesempurnaan yang diharapkan dan kecocokan rancangannya.

Dikatakan bahwa kebutuhan pengguna sangat sulit diketahui, dan dibedakan dalam

kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan. Kotler dalam manajemen pemasaran

mendefinisikan kualitas sebagai gambaran dan karakteristik secara keseluruhan dari

produk/jasa yang sesuai dengan kemampuannya untuk memuaskan

kebutuhan-kebutuhan yang dinyatakan atau yang diharapkan (Kotler, 1994, p.56). Menurut

Parasuraman (Tenner and De Toro, 1992, p.65) kualitas layanan yang dirasakan oleh

pengguna sebagai kesenjangan antara harapan-harapan pengguna dengan kenyataan

yang dirasakan.

Bila harapan seorang konsumen terhadap suatu produk tercapai maka untuk

pengembangan produk selanjutnya akan lebih mudah untuk mempertahankan dan

mendapatkan konsumen yang setia terhadap suatu produk/layanan. Dengan demikian

kualitas layanan merupakan konsep secara menyeluruh, dari aspek – aspek layanan,

bagaimana karakteristik yang dimiliki dan konsistensinya, yang dirasakan oleh

pelanggan atau pengguna layanan. Kesesuaian antara yang dirasakan dengan yang

diharapkan dari semua aspek layanan dikatakan kepuasan. Makin tinggi nilai

kecocokan antara yang dirasakan dengan harapan yang diinginkan makin tinggi nilai

kepuasan pengguna.

Universitas Bina Nusantara dalam hal ini memiliki mahasiswa sebagai

pelanggannya yang memiliki harapan – harapan spesifik terhadap pelayanan yang

(3)

di lingkungan Universitas Bina Nusantara. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan

yang berbeda menurut preferensi mereka dan tingkat pelayanan yang mereka

harapkan serta yang mereka bisa terima. Besarnya tingkat perbedaan antara mutu

pelayanan yang diterima dan yang diharapkan menjadi tingkat kesenjangan mutu

pelayanan yang harus diperbaiki oleh Universitas Bina Nusantara guna meningkatkan

tingkat kepuasan mahasiswa yang dilayaninya.

Dalam mendefinisikan kualitas layanan bagi pelanggan ada sepuluh aspek

atau dimensi kualitas layanan secara umum yang perlu diperhatikan (Tenner and De

Toro, 1992, p.65) :

• Tangible; penampilan fisik peralatan, personalia, dan materi komunikasi • Reliability; kemampuan untuk melaksanakan layanan yang dijanjikan secara

bertanggung jawab dan akurat.

• Responsiveness; keinginan untuk membantu pengguna dan menyediakan layanan yang cepat.

• Competency; penguasaan kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan layanan.

• Courtesy; sopan santun, respek dan bersahabat dari personalia penghubung • Credibility; bisa dipercaya dan pemurah dari penyedia layanan

• Security; bebas dari bahaya, resiko dan keraguan • Access;kemudahan didekati dan dihubungi

• Communication; menjaga pengguan selalu diinformasikan dalam bahasa yang mudah dimengerti, dan selalu mau mendengarkan keluhan pengguna.

(4)

• Understanding the customer; selalu berusaha untuk mengerti pengguna dan kebutuhannya.

Kesepuluh hal tersebut menjadi acuan dasar dalam mempersiapkan rancangan model

operasional dalam melayani pelanggan. Kesepuluh hal tersebut saling mempengaruhi

dalam implementasi. Suatu fasilitas yang canggih tanpa dukungan layanan dari pihak

penyelenggara tidak akan memiliki nilai tambah bagi pemakainya.

Dalam penyelenggaraan pelayanan, bisa terjadi kesenjangan antara kualitas

terdfinisi dengan kualitas standard yang diharapkan. Zeithmal mengidentifikasikan

lima kesenjangan antara persepsi pelanggan dengan penyedia (Kotler, 1997, p.94)

sebagai gap dalam penyediaan layanan :

• Kesenjangan antara layanan yang diharapkan pengguna dengan persepsi manajemen tentang harapan pengguna

• Kesenjangan pada spesifikasi kualitas layanan yang diharapkan pengguna dengan persepsi manajemen

• Kesenjangan pada antara hasil penyerahan layanan dengan nilai komunikasi external pengguna.

• Kesenjangan antara kualitas layanan yang dirasakan dengan layanan yang diharapkan.

(5)

Provider

Gap - 1

Gb 2.1 Model Kualitas Layanan (Zeithmal, 1990)

Word of mouth communication Personal Needs Past Experience

Expected Service

Perceived Service

External Communication to Customer

Service Delivery

Service Quality Specification

Management perception of Custoemer Expectation Gap - 5

Gap - 4

Gap - 3

Gap - 2

Sumber : Kotler, Philip, 1997, Marketing Management, p.478

Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan seperti :

• Tidak mengetahui harapan pelanggan / pengguna akibat lemahnya riset pemasaran, komunikasi vertikal yang tidak memadai, terlalu banyak tingkat

manajemen.

• Kesalahan standar kualitas layanan karena kurang komitment dari pihak manajemen terhadap kualitas, tidak ada standar kualitas, dan tidak ada

penetapan sasaran yang jelas.

• Kesenjangan kinerja layanan yang dikarenakan peranan yang tidak jelas, pegawai dan teknologi yang tidak sesuai, kendali yang kurang dan lemahnya

(6)

• Ada janji – janji yang diberikan kepada pelanggan / pemakai yang tidak ditepati.

2.2 Kepuasan Pelanggan / Pemakai

Kepuasan dapat diartikan sebagai tingkat perasaan yang diterima pribadi yang

dinyatakan dari hasil perbandingan kinerja produk atau layanan yang diterima dan

dirasakan dalam kaitannya dengan harapan pribadi (Kotler,1997, p.40). Kaitan antara

kualitas dan kepuasan dinyatakan secara tegas disini, bahwa kualitas harus dapat

memuaskan kebutuhan secara pribadi. Secara pribadi dapat diartikan bahwa kualitas

diterima secara secara berbeda untuk setiap pengguna., tergantung pada seberapa

tingkat preferensi mereka terhadap tingkat kualitas pelayanan. Jika disederhanakan:

! Kualitas yang diharapkan < Kualitas yang diterima # Sangat Puas ! Kualitas yang diharapkan = Kualitas yang diterima # Puas

! Kualitas yang diharapkan > Kualitas yang diterima # Kecewa

Menurut Kotler, terdapat beberapa metode untuk mengukur kepuasan

pemakai, antara lain (Kotler, 1997, p.41) :

• Complaint and Suggestion Systems

Metoda ini dilakukan dengan menyediakan pusat pelayanan pelanggan yang

memudahkan pelanggan untuk menyampaikan saran dan keluhan terhadap

pelayanan atau produk yang dibeli dari perusahaan yang bersangkutan. Selain

dari itu dapat juga dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan radio

(7)

• Customer Satisfaction Survey

Metode ini melakukan survey dengan cara acak mengirimkan kuesioner atau

menelepon pelanggan untuk menanyakan tingkat kepuasan pelanggan tersebut

terhadap pelayanan atau produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

• Ghost Shopping

Metode ini dilakukan dengan menyewa beberapa orang sebagai pembeli

potensial (ghost shopper) yang akan mengamati kegiatan perusahaan dalam

melayani pelanggan dan lalu melaporkan kepada pihak manajemen

perusahaan mengenai temuan yang mereka alami untuk hal – hal yang baik

maupun yang buruk dalam melayani pelanggan perusahaan yang

bersangkutan.

• Lost customer analysis

Perusahaan akan menghubungi pelanggan yang telah berhenti membeli

produk atau pelayanan perusahaan yang bersangkutan dan membeli dari

pesaing. Pemakian metoda ini diharapkan dapat membantu manajemen

mengetahui kelemahan dalam penyediaan layanan kepada pelanggan. Dari

tingkat kehilangan pelanggan, dapat diketahui berapa persen dari pelanggan

yang tidak merasa puas akan produk atau jasa yang diberikan oleh

perusahaan.

Ada beberapa alas an yang dianggap penting dalam mempertahankan

(8)

• Pihak penyelenggara membutuhkan dana enam kali lebih besar untuk mendapatkan pelanggan baru yang akan membeli produk mereka

dibandingkan jika penyelenggara menawarkan produk tersebut kepada

pelanggan yang telah ada.

• Pengalaman pelanggan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap

brand image yang dimiliki suatu penyelenggara. Pelanggan yang puas akan

menceritakan pengalamannya yang baik kepada minimal 1 orang, sedangkan

pelanggan yang tidak puas akan menceritakan pengalaman buruknya dengan

rasa kecewa dan emosinya kepada minimal 1 orang juga.

• Peluang keberhasilan menjual produk kepada pelanggan baru hanya sebesar 15% sedangkan peluang pada pelanggan lama sebesar 50%

• Pelanggan lama tidak terlalu mempermasalahkan masalah harga.

• Pelanggan setia akan bertahan sebagai pelanggan lebih lama dibandingkan pelanggan baru.

• Peluang pelanggan lama membeli produk-produk baru yang diluncurkan oleh pihak penjual didukung oleh kesetiaan mereka.

2.3 Kebutuhan Pelanggan / Pemakai

Menurut Kotler, kebutuhan konsumen dapat dikelompokkan menjadi lima

(9)

• Stated needs

Kebutuhan yang dinyatakan walaupun terkadang tidak secara jelas

menyatakan keinginan yang sebenarnya dari seorang konsumen.

• Real needs

Kebutuhan yang sebenarnya dari seorang konsumen yang menyatakan

keinginannya.

• Unstated need

Kebutuhan yang tidak dinyatakan oleh konsumen. Konsumen hanya

mengharapkan saja dan mengharapkan bagian pemasaran seharusnya

memahami kebutuhan konsumen tersebut dan sudah merupakan kewajiban

bagian pemasaran untuk mengetahuinya.

• Delight needs

Kebutuhan yang timbul hanya untuk menyenangkan konsumen tersebut.

• Secret needs

Kebutuhan yang timbul karena keinginan konsumen untuk memenuhi

kebutuhan yang mementingkan kualitas dan nilai untuk tujuan kebanggaan

diri.

Kadangkala tidak semua kebutuhan konsumen dideteksi secara jelas oleh

setiap organisasi usaha, karena itu mereka harus berusaha untuk mendeteksi

kebutuhan konsumen yang sebenarnya dan persaingan yang sangat ketat akan dapat

dimenangkan oleh setiap organisasi usaha yang dapat dengan tepat mendeteksi

(10)

Tabel 2.1 Scales Composing the Original User Information Satisfaction Instrument (Pearson) No Description 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Relationship with EDP staff

Processing of requests for changes to existing systems Means of input/output with EDP center

Interdepartmental competition with the EDP unit Confidence in sytems

Timelineless of output information

Chargeback method of payment for services Perceived utility (worth versus cost)

Vendor support of hardware and software Computer language used to interact with systems

Expectation (expected versus actual level of computer based support) Correction of errors

Security of data

Degree of EDP training provided to users User’s understanding of systems

User’s feeling of participation

Currency (up-to-dateness) of the output information Attitude of the EDP staff

Reliability of output information

Top management involvement in EDP activities Format of output

Response / turnaround time

Determination of priorities for allocation of EDP resources Convenience of access (to utilize the computer capability) Relevancy of output information (to intended function) Volume of output information

Personal job effects resulting from the computer based support Accuracy of output information

Precision of output information Communication with the EDP staff

Organizational position of the EDP function Time required for new systems development Personal control of EDP service received

Schedule of recurring output products and services Documentation

Completeness of the output information Technical comptence of the EDP staff Flexibility of the systems

Integration (automated sharing of information) of system database

Sumber:

(11)

2.4 Customer Relationship Management (CRM)

Customer Relationship Management (CRM) menurut Stanley A. Brown ialah

suatu strategi bisnis yang bertujuan untuk mengerti, mengantisipasi dan mengatur

kebutuhan dari pelanggan-pelanggan dan calon pelanggan dari suatu perusahaan

(Brown, 2000, p.8). Sementara itu, Lawrence Handen menjelaskan CRM sebagai

suatu proses dalam mendapatkan, mempertahankan dan mengembangkan pelanggan

setia suatu perusahaan. Memperlakukan pelanggan yang ada sebaik-baiknya

merupakan sumber yang terbaik dan pasti untuk memperoleh pertumbuhan laba yang

baik dan pasti. (Brown, 2000, p.8). Satu konsep dasar yang ada didalam CRM namun

jarang diperhatikan dalam implementasi CRM ialah CRM merupakan konsep

pemasaran 1 ke 1 (1 to 1) dalam arti bahwa berinteraksi terhadap satu individu

tersendiri dalam suatu kelompok. Hal itu berarti kita perlu memperhatikan kebutuhan

dan mengamati minat dan kebutuhan dari suatu individu secara cermat dalam upaya

memberikan suatu nilai tambah dalam hubungan dengang pelanggan dalam arti kita

perlu memberikan nilai manfaat secara maksimal kepada pelanggan kita. Posisi kita

dalam pengadaan hubungan ini sebagai seorang teman bukan sebagai mitra /partner

bisnis yang berorientasi pada keuntungan melainkan lebih pada bagaimana membuat

seseorang itu merasa senang karena kebutuhannya diperhatikan, dihargai dan

dianggap penting.

Pandangan lain tentang CRM ialah CRM merupakan gabungan antar konsep

bisnis dalam hal ini bisnis proses dalam suatu perusahaan dengan teknologi dalam

(12)

pandang agar tercipta perbedaan bagi pelayanan dan produk perusahaan tersebut

dalam memaksimalkan kepuasan pelanggannya. Tiwana berkata bahwa CRM

bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenali pelanggannya, merubah

karakteristik pelanggannya, memperoleh dan mempertahankan pelanggannya. CRM

berfokus pada isu-isu seputar bagaimana memperbaiki tingkat kepuasan pelanggan,

memacu kesetiaan pelanggan dan meningkatkan pendapatan dari pelanggan yang ada

untuk menghadapi persaingan yang keras, globalisasi, tingginya tingkat keluar -

masuk pelanggan, dan tingginya biaya akuisisi pelanggan baru. CRM ialah sebuah

taktik bisnis. (Tiwana, 2001, p.23).

Pada lingkungan Universitas Bina Nusantara, mahasiswa memiliki berbagai

macam kebutuhan seperti dosen yang bisa mengajar dengan baik, dosen yang

memiliki integritas yang tinggi dalam mengajar, dosen yang berpengalaman

dibidangnya dan mengajar di bidang yang menjadi spesialisasinya, dan lain – lain.

Namun dibalik itu, ada satu kebutuhan pendukung yang mereka perlukan selama

mereka menjalani proses belajar mengajar di lingkungan Universitas Bina Nusantara,

yaitu informasi – informasi pendukung perkuliahan agar mereka bisa kuliah di

semester yang akan datang dengan baik. Tujuan dari semua itu agar tercipta suatu

nilai tambah bagi para mahasiswa Universitas Bina Nusantara. Implementasi tersebut

harus diimbangi dengan kesiapan internal perusahaan / organisasi yang

mengimplementasikan CRM. Salah satu faktor internal yang harus diperhatikan

dalam mempersiapkan diri untuk mengimplementasikan CRM ialah kemungkinan

perubahan manajemen dan struktur organisasi serta kesiapan sumber daya manusia

(13)

2.5 Kerangka

Berpikir

Kesenjangan antara kualitas layanan tersedia dengan yang diharapkan oleh

pelanggan menjadi sumber ketidakpuasan. Hal tersebut perlu dijembatani dengan

mengadakan penelitian terhadap keinginan dan kebutuhan dari pelanggan, dengan

demikian dapat dilakukan perbaikan mutu layanan yang akan memperkecil

kesenjangan yang ada atau pun ditiadakan. Dalam melakukan fungsi pelayanan

kepada para mahasiswa, media-media CRM yang terimplementasi harus dapat

mencukupi kebutuhan informasi – informasi para mahasiswa, para pemakai dapat

memakai fasilitas tersebut dengan baik tanpa mengalami kesulitan dengan tampilan

yang tersedia / media perantara dan dapat diakses saat dibutuhkan. Kegagalan dari

salah satu fungsi diatas akan membuat fasilitas tersebut tidak memiliki nilai manfaat

bagi mahasiswa. Pengukuran terhadap kondisi yang dimiliki CRM selama

pengimplementasian ditinjau dari faktor – faktor tersebut diharapkan dapat mengukur

tingkat keberhasilan implementasi CRM dalam melayani mahasiswa.

2.6 Pengajuan

Hipothesis

Didalam menjawab pertanyaan penelitian telah dikembangkan beberapa

hypothesis sementara terhadap pemenuhan kebutuhan melalui implementasi CRM :

• Hipothesis Kios Informasi:

1.1 Mahasiswa puas dengan kinerja layanan Kios Informasi

(14)

• Hipothesis Student Online:

2.1 Mahasiswa puas dengan kinerja layanan Student.Binus.ac.id

2.2 Ada hubungan antara harapan - kinerja layanan Student.Binus.ac.id

• Hipothesis Binus Phone Service:

3.1 Mahasiswa puas dengan kinerja layanan Binus Phone Service

Gambar

Tabel 2.1 Scales Composing the Original User Information Satisfaction  Instrument (Pearson)  No Description  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20  21  22  23  24  25  26  27  28  29  30  31  32  33  34  35  36  37  38  39

Referensi

Dokumen terkait

Variabel intervening kepuasan konsumen memediasi penuh ( fully ) hubungan antara kualitas layanan dengan behavioral intention di restoran makanan Jepang, sehingga

1 Pengurusan dan pengelolaan Perpustakaan Melengkapkan perkhidmatan perpustakaan dengan kemahiran-kemahiran yang diperlukan Meningkatkan kemahiran dan keberkesanan

Sebaliknya individu yang memiliki tingkat pe- ngetahuan tentang agama yang rendah akan melakukan perilaku seks bebas tanpa berpikir panjang terlebih dahulu sehingga

Menurut DePorter (2010) terdapat enam fase dari model pembelajaran Quantum Teaching yang kemudian dikenal dengan istilah TANDUR dengan rincian sebagai berikut: (1)

Secara keseluruhan modul yang digunakan oleh mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat dalam pembelajaran khususnya pada pokok bahasan , dilihat dari: a) keberadaan modul sangat

Dalam sistem primer hierarki jaringan jalan, jalan lokal primer merupakan jalan yang menghubungkan pusat kota dari orde pertama, orde kedua, dengan persil-persil pada

Evaluasi faktor – faktor eksternal ini berguna untuk mengetahui kekuatan ataupun kelemahan dari perusahaan, dimana dengan mengatui kekuatan atau kelemahan yang terdapat di

Penulisan skripsi ini merupakan karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik,