ISSN: Agustus 2019
Penerapan Art Deco Pada Perancangan Hotel El Clasico
Bandung
Lisbet
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Itenas, Bandung
Email: [email protected]
ABSTRAK
Hotel adalah Jasa penginapan suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, dan fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel itu. Perencanaan bangunan hotel ini disesuaikan dengan keinginan Bandung menjadi ‘City Hotel’ sehingga hotel bintang 4 yang diharapkan menjadi salah satu hotel yang menjadi tujuan para tamu untuk berlibur ataupun perjalanan bisnis. Selain itu juga kota Bandung dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki banyak bangunan-bangunan heritage atau cagar budaya yang bergaya Arsitektur Art Deco. Adapun gaya arsitektur langgam Art Deco di Bandung terlihat ada dua macam,, yaitu yang penuh dengan inovasi seni dekoratif, antara lain diwakili oleh gereja katedral St.Petrus (1992), hotel preanger(1929), hotel Homaan (1931), dan vila isola (1932) yang dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Kedua yaitu yang memanfaatkan dekorasi floral. Jumlah bangunan seperti ini saat ini paling besar di Bandung tepat di jalan Asia-Afrika. Sehingga konsep Art Deco diterapkan pada bangunan hotel ini agar bangunan hotel selaras dengan lingkungan sekitar dikarenakan lokasi site berada di Kawasan yang terdapat banyak bangunan heritage. Art Deco yang diterapkan pada bangunan hotel ini memiliki unsur garis tegas, tegak lurus, serta pemilihan warna yang netral. yang bersifat singular, dan seragam sebagai tujuan dan nilai estetika menghindari banyaknya ornamen dan lain sebagainya.
Kata kunci: Hotel, Art Deco, El Clasico, Bandung
ABSTRACT
The Hotel is Lodging services are in the form of buildings, symbol, accommodation company or business entity that provides lodging services. Other service facilities where all services are intended for the general public, both those who stay overnight at the hotel or those who only use certain facilities owned by the hotel. The hotel building planning is adjusted to Bandung's desire to become a 'City Hotel' so that the 4-star hotel is expected to be one of the hotels that guests have a vacation or business trip. In addition, the city of Bandung is also known as one of the cities that has many heritage buildings or cultural heritage in the style of Art Deco Architecture. The architectural style of the Art Deco style in Bandung looks like there are two kinds, namely those which are full of decorative art innovations, among others represented by the cathedral church of St.Petrus (1992), preanger hotel (1929), Homaan hotel (1931), and isola villa (1932) designed by CP Wolff Schoemaker. The second is the use of floral decorations. The number of buildings like this is currently the largest in Bandung right on the Asia-Africa road. So the Art Deco concept is applied to this hotel building so that the hotel building is in harmony with the surrounding environment because the location of the site is in an area where there are many heritage buildings. Art Deco that is applied to the hotel building has elements of a clear line, perpendicular, and neutral color selection. which is singular, and uniform as aesthetic goals and values. avoid the number of ornaments and so forth.
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur – 2 Bangunan heritage Bangunan heritage Site
1. PENDAHULUAN
Hotel merupakan salah satu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, yang disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan seperti penginapan, makanan dan minuman (berdasarkan SK Menteri Perhubungan No. PM 16/PW 301/PHB 77 tanggal 22 Desember 1977 pada bab Pasal 7 ayat a)Hal ini dikarenakan jasa hunian umum khususnya hotel, masih dinilai terjangkau dan praktis dalam menggunakan hotel yang terdapat pada setiap kota [1]. Perancangan hotel dengan konsep Art
deco menjadi hal yang diperlukan dalam merancang yang akan diterapkan pada bangunan hotel yang
menyesuaikan lingkungan sekitar lokasi site tepatnya di kota Bandung karena kota Bandung terkenal dengan objek bangunan heritage, Sehingga dengan penerapan Art Deco yang digunakan untuk menyelaraskan dengan lingkungan bangunan sekitar memberikan ciri khas identitas bangunan Art Deco sebagai landmark kawasan tersebut [2]. Sedangkan pada Kawasan jalan Jenderal Sudirman Bandung sebagian besar bangunan peninggalan belanda yang berada dikawasan tersebut sudah banyak renovasi hanya terdapat beberapa bangunan heritage yang masih murni belum ada perubahan. Rata- rata tinggi bangunan yang bertepat berada di radius 500m dari site Jendral Sudirman 2-3 lantai dengan fungsi rumah dan retail. Penerapan Art Deco pada hotel disesuaikan dengan ciri-ciri khas elemen dekoratif geometris pada dinding eksterior, Elemen garis vertikal dan horizontal yang ditampilkan pada eksterior pada bagian fasad elemen sebagai estetika bangunan dan interior pada bagian Lobby. Coffee shop, Kamar hotel dibrikan oranamen dengan corak batu serta pemberian warna yang soft untuk memberikan kesan yang elegan pada interior hotel [3]. Hal ini bertujuan untuk mengangkat kembali sejarah kota bandung, serta diharapkan hotel ini menjadi hotel yang memiliki tampilan khas yang berada didaerah jalan Jendral Sudirman. Lokasi site berada di Jalan Jenderal Sudirman, Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi hotel ini termasuk kedalam zona pusat perdagangan dan jasa (Gambar 1).
Keterangan :
SITE JL.JENDERAL SUDIRMAN JL.CIBADAK GG. WANGSA
2.1 Art Deco
Gambar 1. Lokasi Site dan Bangunan Sekitar
(Sumber : Google Maps, diakses 10 Februari 2019, telah diolah)
2. EKSPLORASI DAN PROSES PERANCANGAN
.Art Deco (Decorative Art) atau seni dekoratif reka bentuk. Gaya ini mempengaruhi hampir semua bidang seni seperti seni bina, reka bentuk dalaman, reka bentuk produk, dan bidang ilmu reka bentuk yang lain. Ia mulai berkembang pertama kali di Perancis sekitar tahun 1920-an dan tersebar di persada antara bangsa sekitar 1930an [2].Gaya ini merupakan percampuran dari beberapa gaya seni seperti kolonial, neo-klasik, konstruktivisme, kubisme, modernisme. Art Deco menampilkan ornamen hiasan dalam konsep pra modern, tetapi menetapkan prinsip fungsionalisme dalam penggabungan unsur kemodernan dan klasik [3]. (Gambar 2).
A. Rumah tinggal B. Rumah dan Ruko C. Rumah dan Ruko
D. Kantor
SITE
JL.JENDERAL SUDIRMAN JL.CIBADAK
Gambar 2. Lokasi Sekitar Site
GG. WANGSA
(Sumber : Google Maps, diakses 10 Februari 2019, telah diolah dan foto hasil survey) sit e U A D C B U
pengulangan Bentuk
Bangunan Art Deco Memiliki ciri-ciri sebagai berikut [2] : 1. Bidang-bidang matematik dan simetri
2. Geometri dan Dinamis 3. lengkungan
4. memiliki bentuk kristal dan segi banyak dekoratif khas gaya kubisme, futurisme, trapezium dan
bentuk garis patah. (Gambar 3).
Bentuk Jendela dan Kanopi Bentuk Gubahan dan Jendela Bentuk Gubahan Bentuk Gubahan dengan
Gambar 1 :
Bentuk list garis simetris pada kanopi dan pengulangan bentuk pada bagian Jendela
Gambar 2 :
Memiliki bentuk kubisme garis putus
Gambar 3: bentuk kubisme
Gambar 3:
Memiliki bentuk kubisme dengan pengulangan bentuk trapesium
Gambar 3. Bangunan Sekitar Site 2.2 Konsep Gubahan Massa
Konsep gubahan massa bangunan berawal dari kondisi site yang dikaitkan dengan konsep perancangan. Gaya bangunan Art Deco menerapkan karakteristik seperti pengguna unsur-unsur persegi yang diatur dalam bentuk yang geometris, yang kemudian ditambahkan elemen-elemen melengkung. (Gambar 4).
1 2 3 4 5
Bentuk persegi mengkuti pola site
podium Lantai 1 di Substraktif pada bagian depan dan tengah agar memperjelas main entrance
Pada bagian podium Lantai 2 di Substraktif pada bagian samping
Pada bagian tower dibentuk persegi tipikal
Bentuk massa podium dan tower berbentuk geometri yang terdapat substraktif pada area podium.
dan
Memiliki bentuk kubisme
Gambar 4. Konsep Bentuk Gubahan Massa 2.3 Konsep Zoning Pada Tapak
Zoning site terdiri dari tiga bagian besar yaitu zona publik, zona privat dan zona servis. Zona publik
diletakkan pada bagian depan yang difungsikan sebagai ruang publik dan lanskap taman. Zona privat diletakan di bagian tengah yang terdiri dari ruang karyawan, ruang rapat dan ruang privat lainnya. Zona servis diletakkan di bagian belakang yang terdiri dari ruang dapur dan ruang servis lainnya
(Gambar 5).
Bentuk list garis simetris pada kanopi pengulangan bentuk pada bagian Jendela
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur – 4
1
Gambar 7. Orientasi Massa Bangunan Jl.Jenderal Sudirman
1
2
Jl.Cibadak
[
Zona Semi Privat
Terdapat Ruang Karyawan, Kamar Hotel, Ruang Rapat, Kantor Pengelola.
Zona Service
Terdapat Ruang Kitchen, Ruang Engineer, toilet
Zona Publik
Terdapat Ruang Lobby, Restoran, Coffee
Shop, Ballroom, Kolam Renang Gambar 5. Konsep Zoning Pada Tapak
3. HASIL RANCANGAN
3.1 Orientaasi Massa Bangunan
Tata letak bangunan dan orientasi massa bangunan menghadap ke arah jalan utama dikarenakan mempermudah dalam pencapain terdhadap site ataupun main entrance bangunan. Bentuk bangunan juga disesuaikan agar semua area yang digunakan oleh pengunjung yang menginap di hotel dapat melihat view kota Bandung dan bangunan heritage disekitar site. (Gambar 6).
KETERANGAN: Arah view 1. Arah view alun-alun
kota Bandung
U
2. Arah view kepusatperdagangan
Gambar 6. Konsep Zoning Pada Tapak
Dengan demikian seluruh pengunjung hotel dapat melihat kearah view kota bandung terutama pada area kamar hotel, sehingga seluruh kamar dapat melihat kepada satu titik view yang baik yaitu kearah Kota Bandung serta dapat juga melihat view buatan berupa taman dan plaza serta kolam renang yang berada di dalam site. (Gambar 7) dan (Gambar 8).
Gambar 7. Visualisasi View Hotel El Clasico Bnndung
Ruko dan Pemukiman Hotel El Clasico Taman Area Ruko dan Pemukiman
Gambar 8. Tampak Site Hotel El Clasico Bnndung
Gambar 9. Tampak Depan Lobby
Beton 3.2 Konsep Arsitektur
Konsep Arsitektur pada rancangan hotel ini adalah Art Deco dengan penggunaan material dan ornament menggunakan elemen garis tegak berguna untuk penampilan motif dekorasi. Untuk bahan bangunan, digunakan semen, beton, batu-batu halus, dan terracotta. Untuk unsur hiasan, Art Deco menggunakan baja dan alumunium yang dipadukan dengan penggunaan kaca acp. (Gambar 9).
Gambar 9. Konsep Arsitektur
1. Pengunaan Double Glass kaca jendela yang bersifat kedap udara dan memilki kelembaban yang rendah, sehingga ruangan tersebut kedap suara.
2. Pada bagian dinding fasad diberikan material dinding batu Vicenza dengan tampilan kasar, dan kelihatan sangat elegan.
3. Diberikan penambahan kolom besar pada area main entrance agar menambahkan kesan berlanggam dan klasik pada bagian fasad
4. Green Belt disekeliling bangunan sebagai buffer kebisingan dan penyaring polusi
5. Kolam renang dibuat persegi agar menyesuaikan bentu dasar site.
3.3 Art Deco Pada Fasade
Dengan Penerapan Art Deco yang menjadi konsep fasad bangunan, penggunaan material kaca, beton dan penerapan pada bagian fasad seluruh bangunan untuk membuat bangunan tidak kaku dan terkesan menyatu dengan lingkungan sekitar [4]. Pada Area lobby digunakan material kaca digunakan area depan sebagai penerima tamu, dengan tampilan kolom Doric dan function room agar memperoleh kesan langgam dan classic. (Gambar 10).
Gambar 10. Konsep Arsitektur
Area Samping dibuat masiv dengan membuat kanopi-kanopi beton pada setiap sisi perlantai dibuat
sedikit lengkungan setiap sudut agar mendapatkan kesan ornamen langgam yang tegas dan tambahan
1 2 3 4 6 ABACUS NECKING TRIGLYPH Beton Kaca Acp
Kusen Alumunium Silver t= 3m
DORIC COLUM
Kanopy Beton tebal 20Cm
Dinding Batu Vicenza dengan elemen garis vertical
Kaca Acp
Kusen Alumunium Silver T= 3m
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur – 6
material kaca sehingga pengunjung yang berada di lobby dan ruang gym mendapat view yang ada diluar maupun didalam site.
Fasad didesain dengan bentukan yang simetris seperti fasad bagian depan menggunakan material kaca,
acp, Kolom Doric, karena orientasi fasad yang menghadap ke utara maka digunakan beberapa jenis
jendela untuk menampilkan dan melihat view ke berbagai sisi. Pada bagian lantai dasar fasad bangunan didesain masif karena didalamnya merupakan ruang privat sedangkan lantai 2 sampai lantai 6 dengan material kaca dan kolom Doric untuk memberikan view dan kesan megah bagi para penghuni (Gambar 11).
Gambar 11. Visualisasi 3D Fasad Depan 3.5 Interior El Clasico Hotel Bandung
Penerapan Art Deco pada area lobby terdapat ukiran doric pada elemen kolom struktur dan pada bagian restoran,coffee shop, dan kamar hotel menggunakan material berwarna netral sebagai pendung yang memberikan kesan klasik. (Gambar 12).
Area Lobby Area Coffee Shop Area Lobby
Gambar 12. Interior Hotel
Interior Pada Area Lobby, Coffee shop di berikan ornaamen keramik dengan corak batu dan dinding warna cream karena ingin memberikan suasana yang hangat serta menampilkan kesan elegan. (Gambar 13).
Tipe Standar Tipe Deluxe Tipe Suite
Gambar 13. Interior Kamar Hotel
Pada kamar tipe Standar, Deluxe, dan Suite diberikan perpaduan warna cream, coklat dan abu-abu utnuk memberikan kesan yang elegan dan hangat pada interior kamar hotel
4. SIMPULAN
Perancangan Hotel El Clasico Bandung dengan penerapan konsep Art Deco dengan menyelaraskan dengan lingkungan sekitar khususnya di jalan Jendral Sudirman Bandung. Dengan Pemanfaatan lahan yang tidak berkontur menjadi daya tarik visual yang baik dari dalam site dan pemanfaatan lahan untuk
desain landscape untuk menjadi view buatan dalam site. Pemanfaatan vegetasi sebagai elemen arsitektur membuat bangunan terlihat hijau dan menyatu dengan alam serta memperbaiki visual alami yang ada sebelumnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan Laporan Perancangan yang berjudul “Perancangan Hotel El Clasico Bandung
Dengan Penerapan Art Deco”. Terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh
pihak yang telah membantu penulis dalam melaksanakan Tugas Akhir ini Khususnya kepada pembimbing yang telah membantu penulis dalam proses perancangan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Departemen Perhubungan RI, (1977) .Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: PM 16/PW 301/PHB 77 tentang Klasifikasi Hotel. Jakarta: Departemen Perhubungan
[2] Bayer, Patricia, (1992). “Art Deco Architecture”. London: Thames and Hudson [3] Pratiwi, Ratna Sari. (2003). “Skripsi Art Deco Pada Daerah Tropis”.