Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
PENGARUH LAYOUT DAN ERGONOMI FASILITAS KERJA
TERHADAP AKTIVITAS WORKING FROM HOME
WORKING FACILITIES LAYOUT AND ERGONOMIC EFFECT ON
WORKING FROM HOME ACTIVITIES
Imtihan Hanum¹, Rachel Aleyda Rozefy², Hilmiyani Taqiyyah Filasta³, Yasmin Raihana4
1,2, 3, 4Universitas Telkom, ¹[email protected]
Abstrak : Work From Home merupakan sistem yang dipilih pemerintah pada tahun 2020 dikarenakan adanya penyebaran virus Corona, dengan sitem ini diharapkan dapat menjaga jarak sosial, yakni mengurangi mobilitas orang, menjaga jarak fisik, dan mengurangi kerumunan orang sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko penularan virus corona dan keselamatan karyawan. Sistem WFH memiliki fleksibilitas yang tinggi, hal ini guna mendukung keseimbangan karyawan antara pekerjaan dan kehidupan. Sistem kerja yang berubah menjadi WFH dalam jangka waktu yang cepat ini membuat pekerja mengalami kondisi stress seperti perasaan cemas atau khawatir berkepanjangan, terutama ketika mereka tinggal satu atap dengan banyak orang. Dalam melaksanakan WFH, pekerja memerlukan spot tempat kerja yang nyaman dan tidak berisik untuk membantu fokus dalam pekerjaan, meskipun saat ini berbagai aktivitas seperti belajar dan bekerja dilakukan dari rumah, ergonomi tetaplah penting dan tidak dapat dikesampingkan. Selain dari ergonomi, perlu juga memperhatikan layout atau tata letak fasilitas kerja yang baik dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan pergerakan sehingga mampu memberikan keselamatan dan keamanan dari orang yang bekerja di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode analisis melalui pendekatan secara kualitatif, dengan cara ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh dari hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan pekerja stress karena WFH terutama dari segi interior dan pengaruhnya terhadap efektifitas kerja.
Kata kunci: Bekerja di rumah, Tekanan, Efektifitas
Abstract : Work From Home is the system chosen by the government in 2020 due to the spread of the Corona
virus, with this system it is hoped that it can maintain social distancing, namely reducing people's mobility, maintaining physical distance, and reducing crowds so that it is expected to reduce the risk of corona virus transmission and employee safety. The WFH system has high flexibility, this is to support employee balance between work and life. This work system that changes to WFH in a fast period of time makes workers experience stressful conditions such as feelings of anxiety or prolonged worry, especially when they live under one roof with many people. In implementing WFH, workers need a comfortable and quiet workplace to help focus on work, although currently various activities such as studying and working are carried out from home, ergonomics is still important and cannot be ruled out. Apart from ergonomics, it is also necessary to pay attention to the layout or layout of a good work facility by considering comfort, security and movement so as to provide safety and security for the people who work in it. This study uses an analytical method through a qualitative approach, in this way it is expected to find out the effect of what things can cause stress for workers due to WFH, especially in terms of the interior and its effect on work effectiveness.
Keyword: Work From Home, Stress, Effectiveness
1. PENDAHULUAN
Work from home biasanya dilakukan jika terdapat situasi seperti bencana alam, wabah penyakit atau hal yang berkaitan dengan personal seorang karyawan yang menuntut karyawan harus bekerja dari rumah. Bekerja dari rumah atau work from home merupakan sistem yang dipilih pemerintah pada tahun 2020 untuk mengurangi penyebaran virus corona tipe baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19. World Health Organization (WHO) dan pemerintah Indonesia telah mengeluarkan himbauan untuk kerja dari rumah serta melakukan social distancing. Dengan sistem work from home diharapkan dapat menjaga jarak sosial,
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
yakni mengurangi mobilitas orang, menjaga jarak fisik, dan mengurangi kerumunan orang sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko penularan virus corona dan keselamatan pekerja. Sistem kerja work from home memiliki fleksibilitas yang tinggi, hal ini guna mendukung keseimbangan karyawan antara pekerjaan dan kehidupan. Setiap perusahaan mempunyai kebijakan sendiri dalam melakukan work from home, seperti membagi dua tim yang secara bergantian bekerja di rumah dan di kantor serta bekerja dari rumah hanya diperuntukkan bagi mereka yang sakit dan baru dari perjalanan ke luar negeri.
Pandemi COVID-19 telah mengubah cara banyak orang bekerja, kita bekerja dari rumah bukan karena pilihan, tapi kewajiban. Kita benar-benar bekerja dari rumah, dan tidak bisa dari kafe atau tempat lain. Bekerja dari rumah tentunya memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama dengan bekerja dari kantor. Namun pada pelaksanaannya, penerapan work from home ternyata memiliki tantangan dan kendala yang tidak mudah terutama bagi para pekerja yang memiliki anak, atau pekerja yang tidak memiliki fasilitas mumpuni untuk kerja dari rumah karena tidak semua sektor pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan work from home seperti kondisi lingkungan rumah, ketiadaan alat kerja dan komunikasi, kurangnya koordinasi, ketidaknyamanan work from home akibat fasilitas yang tidak sesuai, dan lain sebagainya. Fenomena work from home yang terjadi secara mendadak membuat sebagian orang yang berada di rumah dalam waktu yang cukup lama merasa bosan atau bisa saja tertekan karena adanya begitu banyak masalah di dalam rumah yang dihadapi terus menerus, situasi yang seperti ini dapat meningkatkan resiko burnout atau stress berkepanjangan. Menurut Health Safety Executive, bahwa stres adalah reaksi negatif manusia akibat adanya tekanan yang berlebihan atau jenis tuntutan lainnya (Tarwaka, 2011). Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya, tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar. Stress kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis dan perilaku. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja. Sebuah studi tahun 2017 yang dilakukan oleh PBB menemukan bahwa orang yang bekerja dari rumah melaporkan tingkat stress yang lebih tinggi. Studi ini menunjukkan bahwa orang yang bekerja dari rumah menghadapi sejumlah tantangan yang akhirnya berdampak buruk pada kesehatan mereka.
Beberapa kondisi stress pekerja akibat work from home yang perlu menjadi perhatian adalah perasaan cemas atau khawatir yang terus menerus, merasa kewalahan, sulit berkonsentrasi, berubah suasana hati, mudah marah, sulit untuk bersantai, perubahan pola tidur, menggunakan obat terlarang, nyeri otot, diare, sembelit, mual dan pusing. Gejala-gejala tersebut jika dialami dalam waktu yang cukup lama maka penting untuk segera mengatasinya. Selain itu, penyebab stres lainnya yang dirasakan oleh banyak pekerja adalah ketika mereka tinggal satu atap dengan banyak orang. Misalnya mereka adalah ibu atau ayah yang bekerja, dengan anak kecil di rumah. Seorang anak biasanya ketika melihat ayahnya tidak bekerja dalam jangka waktu tertentu, akan timbul haus perhatian dan si kecil akan mengganggu terus. orangtua kemudian menjadi kesulitan untuk konsentrasi kerja sehingga batasan yang dilewati dapat menyebabkan pekerja meninggalkan pekerjaan.
Dalam melaksanakan aktivitas kerja, pekerja memerlukan spot tempat kerja yang nyaman dan tidak berisik untuk membantu fokus dalam pekerjaan. Dalam mengatur tata letak
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
kelengkapan ruang kerja, perabotan dan alat kelengkapan kerja perlu ditempatkan dengan baik agar karyawan mendapatkan kenyamanan dalam bekerja. Meskipun saat ini berbagai aktivitas seperti belajar dan bekerja dilakukan dari rumah, ergonomi tetaplah penting dan tidak dapat dikesampingkan. Ergonomi erat kaitannya dengan kenyamanan, keamanan, dan kesehatan dalam bekerja. Selain dari ergonomi, aktivitas work from home juga perlu memperhatikan layout atau tata letak yaitu cara mengelompokkan pekerja, perlengkapan pekerja, dan ruang dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan pergerakan informasi. Dalam layout tersebut banyak hal yang harus diperhatikan, seperti kenyamanan ruangan, letak meja kursi dan yang lainnya, karena kondisi yang ada di dalam ruangan tersebut bisa berpengaruh pada hasil dari pekerjaan karyawan yang ada di rumah. Oleh karena itu, layout area kerja perlu mendapatkan perhatian dengan mempertimbangkan mekanisme tata kerja dan kondisi ruang yang ada agar karyawan mendapatkan kemudahan dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas kerja dan pada akhirnya mampu memberikan keselamatan dan keamanan dari orang yang bekerja di dalamnya dan kepuasan kerja dari karyawan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan untuk penelitian ini yaitu :
1. Apa saja hal-hal yang dapat membuat pekerja stress selama work from home? 2. Bagaimana pengaruh ergonomi fasilitas kerja untuk menunjang kenyamanan saat
melakukan work from home?
3. Bagaimana pemilihan layout yang baik untuk membuat work from home berjalan dengan baik?
Tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja dari segi interior yang dapat menyebabkan pekerja merasa stress karena work from home. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah dari temuan yang didapatkan pada penelitian ini diharapkan menjadi acuan tentang bagaimana penempatan layout dan ergonomi yang baik untuk menunjang aktivitas work from home menjadi lebih tertata baik, dan diharapkan dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi oleh peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan dengan karakteristik yang berbeda.
WFH adalah singkatan dari work from home yang berarti bekerja dari rumah. Dengan sistem WFH pekerja tidak perlu datang ke kantor untuk tatap muka dengan para pekerja lainnya. Work from home sudah tidak asing bagi para pekerja freelancer, namun mereka lebih sering menyebutnya dengan kerja remote atau remote working. Work from home dan remote working sebenarnya tidak ada bedanya hanya istilah saja, yang membedakan hanyalah peraturan perusahaan tempat mereka bekerja. Ada yang menerapkan jam kerja normal yaitu dari jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore atau jam kerja bebas asal pekerjaan beres dan komunikasi selalu fast respon.
Menurut Crosbie & Moore (2004), bekerja dari rumah berarti pekerjaan berbayar yang dilakukan terutama dari rumah (minimal 20 jam per minggu). Bekerja dari rumah akan memberikan waktu yang fleksibel bagi pekerja untuk memberikan keseimbangan hidup bagi karyawan. Disisi lain juga memberikan keuntungan bagi perusahaan. Beberapa keuntungannya yaitu, menghemat biaya pengeluaran bagi pekerja, fleksibel karena dapat menentukan sendiri ingin bekerja pada jam berapa, dan mendekatkan diri pada keluarga.
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
Banyak peneliti mengakui perbedaan sifat pekerjaan rumahan. Pekerja rumahan beragam dalam istilah demografis dan dalam kaitannya dengan gender, keterampilan dan pendapatan. Selain itu, tidak semua pekerja rumahan berhasil merundingkan transisi sosial, pribadi, temporal dan fisik antara batas-batas rumah dan pekerjaan (Nippert-Eng, 1996). Ada potensi kesulitan dan ketegangan yang datang dengan pekerjaan rumah dan teleworking (Bussing, 1998; Gurstein, 1991; Gurstein, 2001; Haddon, 1998; Huws, 1994; Moran, 1993). Penelitian lain menunjukkan bahwa ada efek negatif yang terkait dengan work from home. Misalnya, saat bekerja jarak jauh dikatakan dapat mengurangi stress, tetapi ditemukan juga bahwa work from home dapat mengalami tumpang tindih antara pekerjaan dan kehidupan rumah sehingga mengurangi efek restoratif rumah (Hartig et al., 2007). Ketika batas-batas tersebut hilang, hal ini dapat menyebabkan ketidakjelasan antara kehidupan kerja dan non-kerja, waktu kerja dan berkurangnya waktu luang. (Allvin et al., 2011). Stres kerja dapat berdampak buruk pada kondisi kejiwaan apabila tidak dilakukan penanggulangan. Efektivitas kerja dapat pula menjadi terganggu, karena pada umumnya apabila seseorang mengalami stres, maka akan terjadi gangguan baik itu pada psikologisnya maupun keadaan fisiologis (Kasmarani, 2012).
Stres dapat menimbulkan dampak yang merugikan mulai dari menurunnya kesehatan sampai pada dideritanya suatu penyakit darigangguan fisik maupun emosi. Ada beberapa faktor indikator atau gejala stress kerja, menurut Salmawati (2014), indikator stres kerja terdiri dari tiga faktor yaitu psikologis seperti cemas, tegang, sensitif, bosan, tertekan, tidak konsentrasi dan komunikasi tidak efektif. Gejala fisik seperti meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, gangguan lambung, pernapasan, kardiovaskuler, kepala pusing, mudah lelah fisik. Gejala perilaku seperti produktivitas kerja menurun, agresif, kehilangan nafsu makan dan penggunaan minuman keras. Peran pekerjaan dan keluarga melambangkan dua peran yang paling penting dari kehidupan. Pekerjaan dapat mengganggu keluarga dan keluarga dapat mengganggu pekerjaan. Faktor-faktor seperti globalisasi, kesempatan kerja yang sama, jam dan perubahan peran dalam bekerja telah menimbulkan tantangan yang signifikan (Ansari, 2011). Hal tersebut muncul karena adanya tuntutan peran dari rumah tangga dan tuntutan untuk tampil secara baik dalam sebuah pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan, sehingga dapat menimbulkan konflik bagi kehidupan seseorang.
Konflik yang berkepanjangan dapat menyebabkan timbulnya respon fisiologis, psikologis dan tingkah laku sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap kondisi yang mengancam yang disebut dengan stres karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah (Almasitoh, 2011). Oleh karena itu seorang pekerja harus mampu menyesuaikan diri atas kondisi yang sedang dialaminya. Noonan dan Glass (2012) melaporkan bahwa meskipun work from home dapat meningkatkan produktivitas karyawan dan mengurangi ketidakhadiran, membantu retensi karyawan, tetapi mungkin tidak dapat memperbaiki konflik pekerjaan-keluarga. Meskipun ada kesadaran yang berkembang tentang kemungkinan efek negatif dari kerja jarak jauh, bidang penelitian dan praktik ini masih berkembang.
Efektivitas pekerjaan. Efektivitas kerja dapat didefinisikan sebagai "evaluasi hasil kinerja kerja seorang karyawan" (Jex, 1998). Sekarang telah diakui bahwa ada banyak manfaat bagi pemberi kerja yang berusaha meningkatkan efektivitas kerja dan produktivitas karyawan
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
melalui penerapan praktik kerja jarak jauh (Butler et al., 2007; Wheatley, 2012; Noonan dan Glass, 2012). Hal ni termasuk peningkatan kepuasan kerja karyawan, dampak positif pada produktivitas yang diukur dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang dihasilkan, berkurangnya kendala geografis pada tenaga kerja yang tersedia dan tingkat komitmen yang lebih tinggi oleh karyawan kepada pemberi kerja (Baruch, 2000; Morgan, 2004). Manfaat ini juga berlaku bagi karyawan di mana bekerja dari jarak jauh dapat menyediakan sarana untuk menyeimbangkan antara komitmen kerja dan non-kerja, melalui kerja yang fleksibel. Aktivitas work from home perlu memperhatikan layout atau tata letak yaitu cara mengelompokkan pekerja, perlengkapan pekerja, dan ruang dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan pergerakan informasi. Menurut Russel dan Taylor (2000) tujuan tata letak adalah meminimalkan material handling cost, meningkatkan efisiensi ulitisasi ruangan, meningkatkan efisiensi ulitisasi tenaga kerja, mengurangi kendala proses, dan memudahkan komunikasi dan interaksi antara para pekerja dengan supervisinya atau antara pekerja dengan para pelanggan perusahaan. Dalam layout tersebut pun banyak hal yang harus diperhatikan, seperti kenyamanan ruangan, letak meja kursi dan yang lainnya, karena kondisi yang ada di dalam ruangan tersebut bisa berpengaruh pada hasil dari pekerjaan karyawan yang ada di rumah. Oleh karena itu, layout area kerja perlu mendapatkan perhatian dengan mempertimbangkan mekanisme tata kerja dan kondisi ruang yang ada agar karyawan mendapatkan kemudahan dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas kerja dan pada akhirnya mampu memberikan keselamatan dan keamanan dari orang yang bekerja di dalamnya dan kepuasan kerja dari karyawan.
Ergonomi erat kaitannya dengan kenyamanan, keamanan, dan kesehatan dalam bekerja. Ergonomi sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan penyerasian antara pekerja, jenis pekerjaan, dan lingkungan. Ergonomi juga diartikan sebagai ilmu tentang hubungan antara manusia, mesin yang digunakan, dan lingkungan kerjanya. Dalam melaksanakan aktivitas kerja, pekerja memerlukan spot tempat kerja yang nyaman dan tidak berisik untuk membantu fokus dalam pekerjaan. Dalam mengatur tata letak kelengkapan ruang kerja, perabotan dan alat kelengkapan kerja perlu ditempatkan dengan baik agar karyawan mendapatkan kenyamanan dalam bekerja.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagai acuannya, penelitian dengan metode kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori ini juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
Pada penelitian ini, metode digunakan dengan cara tim peneliti memberikan beberapa kuesioner pada 20 orang peserta. Sifat dari jenis kuesioner ini adalah kuesioner terbuka dan tertutup. Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan kemudian tim peneliti menjelajah dengan tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari pewawancara atau moderator group.
3. HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang didapatkan dari 20 peserta responden dengan jangka usia 20 tahun hingga 56 tahun menunjukan dampak sistem WFH pada pekerjaan mereka, bahwasannya : Kuesioner Tertutup
NO PERNYATAAN YA TIDAK
1. Mengganggu ke-efektivitas kerja 95 % 5%
2. Memengaruhi kualitas kerja 90% 10%
3. Mengalami kejenuhan 75% 25%
4. Terganggu kebisingan 60% 40%
5. Terganggu aktivitas rumah 65% 35%
6. Memiliki spot kerja 55% 45%
7. Spot kerja tidak nyaman 70% 30%
8. Fasilitas terpenuhi 45% 55%
9. Jadwal kerja berantakan 85% 15%
10. Tidak dapat berkonsentrasi 90% 10%
11. Ergonomi spot kerja tercukupi 50% 50%
12. Kenyamanan ergonomi memengaruhi kualitas kerja
90 % 10%
Analisa yang didapatkan adalah bahwasannya, kebutuhan ergonomi menempati posisi pertama dalam hal paling berpengaruh selama kegiatan work from home, diikuti dengan kebutuhan layout ruangan, pencahayaan ruangan, dan lain sebagainya.
Kebutuhan ergonomi sangat berpengaruh di karenakan sistem WFH memaksa sebagian besar pekerja dan pelajar untuk tetap berkomunikasi via daring dalam jangka waktu yang panjang, oleh karena itu penggunaan kursi dan meja yang nyaman juga sesuai dengan ketentuan ergonomi akan sangat meringankan beban para pekerja maupun pelajar selama sistem WFH ini berjalan, namun sayangnya berdasarkan data yang di peroleh, sebagian responden tidak dapat memenuhi kebutuhan ergonominya sehingga memengaruhi lama jam kerja. Hal itu dapat disebabkan oleh sandaran kursi atau ketinggian meja yang tidak sesuai sehingga membuat kondisi bekerja dalam waktu lama menjadi tidak nyaman. Dan dengan waktu bekerja yang tidak dapat maksimal, terjadilah kemunduran dalam efektivitas kerja sehingga menurunkan performa kerja selama WFH ini.
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
Selanjutnya adalah kebutuhan layout ruangan. WFH memaksa seluruh masyarakat untuk tetap berada di rumah dalam jangka waktu yang panjang, situasi ini di rasa oleh banyak
Segi interior yang dapat menambah produktivitas kerja
Ergonomi (meja & kursi) Pencahayaan ruangan Layout ruangan lainnya
Perbedaan dari segi interior pada ruang kerja kantor
dan spot kerja WFH yang memengaruhi kualitas
pekerjaan
ergonomi fasilitas kerja Pencahayaan layout ruang mood kerja
KEKURANGAN DARI SEGI INTERIOR SELAMA WFH
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
pekerja sangat menjemukkan di karenakan terpaksa terus melihat, merasakan dan melewati rute yang sama setiap hari, selain menjemukkan, kemunduran performa kerja selama WFH pun bisa jadi dikarenakan oleh pembawaan yang di timbulkan oleh rumah dan pembawaan yang di berikan oleh kantor, contohnya adalah pembawaan rumah memiliki suasana homey dan nyaman di karenakan rumah memiliki tujuan sebagai tempat beristirahat, berbeda dengan kantor yang memiliki suasana displin dan fokus sehingga memaksa pekerja untuk bekerja, hal tersebut menyebabkan banyak pekerja yang merasa malas untuk bekerja selama WFH dan mengurangi keefektivitasan dalam bekerja. Kemudian tata letak layout dalam rumah yang berbanding terbalik dengan tata letak dalam kantor. Desain layout pada kantor cenderung lebih tertutup, hal itu di sebabkan agar pekerja focus pada pekerjaannya sementara layout rumah cenderung memiliki jangkauan yang lebih leluasa. Hal tersebut menyebabkan pekerja selama WFH menjadi sulit untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya. Terakhir adalah pencahayaan ruangan. Pencahayaan memainkan fungsi esensial dalam meningkatkan produktivitas, karena dapat membantu melakukan pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dan meningkatkan fokus, bahkan pada siang hari. Namun kebanyakan pencahayaan pada rumah masih kurang memadai untuk para pekerja selama WFH ini, contoh mudahnya adalah pencahayaan rumah yang cenderung memiliki warna warm sehingga memberikan efek relaksasi yang justru meningkatkan rasa kantuk.
4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa
1) Sistem bekerja dari rumah atau Work from Home adalah fenomena baru yang disebabkan oleh keadaan munculnya virus corona tipe baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19. Para pekerja harus beradaptasi dengan situasi seperti ini dan setelah diteliti ternyata sistem WFH ini menimbulkan beberapa permasalahan yang dapat jabarkan dari segi efektifitas kerja, produktivitas, keamanan, kenyamanan, hingga dampak psikologis para pekerja.
2) Data menunjukkan bahwa hanya 55% dari para responden yang memiliki spot kerja sendiri, sehingga menurut kami ini adalah akar masalahnya, karena pada saat bekerja tentu akan dituntut untuk produktif, inovatif dan kreatif. Dengan memiliki spot kerja tersendiri akan memudahkan pekerja untuk mengorganisir kebutuhan kerja secara terstruktur.
3) Berdasarkan kuisioner yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kebutuhan ergonomi menempati posisi pertama dalam hal paling berpengaruh selama kegiatan
work from home, diikuti dengan kebutuhan layout ruangan, pencahayaan ruangan, dan lain sebagainya.
4) Selanjutnya adalah kebutuhan layout ruangan. WFH memaksa seluruh pekerja untuk tetap berada di rumah dalam jangka waktu yang panjang, situasi ini di rasa oleh banyak pekerja sangat menjemukkan di karenakan terpaksa terus melihat, merasakan dan melewati rute yang sama setiap hari, selain menjemukkan, kemunduran performa kerja selama WFH pun bisa jadi dikarenakan oleh pembawaan yang di timbulkan oleh rumah dan pembawaan yang di berikan oleh kantor.
Jurnal I D E A L O G Ide dan Dialog Indonesia Vol.5 No.1, April 2020 ISSN Cetak 2477 – 056
ISSN Elektronik 2615 – 6776 doi.org/10.25124/idealog.v5i1.3135
5) Karena desain layout rumah dan kantor berbeda, maka dari itu butuh beberapa penyesuaian oleh para pekerja. Untuk mendapatkan rasa produktivitas yang sama saat berada dirumah adalah dengan desain yang menyesuaikan kebutuhan untuk pekerja, dimulai dari space yang lega, furniture yang ergonomis, pencahayaan yang cukup untuk menunjang rasa nyaman saat bekerja apalagi dengan jangka waktu yang relatif lama.
4.2. Saran
Setelah melakukan studi mengenai pengaruh layout, ergonomi dan fasilitas kerja pada system Work from Home, penelitian ini tidak hanya berhenti sampai disini saja. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat dilanjutkan untuk menguji secara valid keterkaitan layout yang terbuka dengan kenyamanan dalam bekerja. Selain itu juga penelitian ini dapat dikaitkan dengan produktifitas dan efektifitas kerja selama berada dirumah.
DAFTAR PUSTAKA
1] Acas, 2014. “Homeworking – a guide for employers and employees”, www.acas.org.uk/working-from-home (diakses tanggal 26 Juni 2020).
2] Crosbie, Tracey, dan Jeanne Moore. 2004. “Work–life Balance and Working from Home”.
3] Feinerman, Julie. 2020. “Essential guide to working from home”. https://community.windows.com/en-us/stories/essential-guide-to-working-from-home (diakses tanggal 25 Juni 2020).
4] Grant, Christine A. Louise M Wallace., Peter C Spurgeon. 2013. “An exploration of the psychological factors affecting remote e-worker’s job effectiveness, well-being and work-life balance”. Emerald Group. 35(5): 527-546.
5] Hidayati, Reni dkk. 2008. “Kecerdasan Emosi, Stres Kerja dan Kinerja Karyawan”.
Jurnal Psikologi. 2(1):91-96.
6] Muslimah, Septina, 2020. “Pengertian Work From Home (WFH) dan Tipsnya”. https://www.jurnal.id/id/blog/wfh-pengertian-dan-tipsnya/ (diakses tanggal 8 Agustus 2020).
7] Rahmatika, Elmi. 2020. “11 Cara Mengatasi Stress Akibat Pekerjaan Disertai Gejala Dan Penyebabnya Karyawan Wajib Tahu”. https://www.99.co/blog/indonesia/cara-mengatasi-stress-pekerjaan/ (diakses tanggal 8 agustus 2020).
8] Ardianto, Yudi. 2019. “Memahami Metode Penelitian Kualitatif”. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/12773/Memahami-Metode-Penelitian-Kualitatif/(diakses pada tanggal 13 agustus 2020).