PERCEPTION OF MARRIAGE ON THE YOUNG ADULT
EXPERIENCING DIVORCE (A CASE STUDY)
NOVIA MIRANTI, M. FAKHRURROZI, M.PSI, PSI
Undergraduate Program, Faculty of Psychology, 2008
Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id Key words: perception, marriage, young adult, divorce
ABSTRACT :
Marriage is an important event which is expected to be experienced by every adult. Of course, everyone wants the whole family to be happy forever. But in reality, not all people can lead good marriage. This study aims to find out the causes a divorce, see marriage on the perception of young adults who experienced divorce, and determine factors that affect perception. In this study researchers used a qualitative research approach in the form of case studies, undertaken to provide in-depth description of a case that has certain characteristics. The subjects is 32-year-old male who experienced a divorce. This study uses an interview method, that is open and structured interviews, while observation methods used were non-participant and non-systematic. The result of this research show that the reasons the subject to divorce was incompatibility between the subject and his spouse, living in isolation, having an affair, leave home, drinking habits, and financial difficulties when married. Subjects perceive marriage as a sacred relationship, lawful, and religious, and a period when the subject is ready to spend time living with his partner faithfully as a family, where marriage had to be bring them together into two different characters, where the subject must be able to accept the weakness and the strengths his/her partner. Factors that affect the subject of marriage is the characteristics of subjects who experienced a divorce, whereas situational factors do not affect the subject's perception of marriage.
Persepsi Terhadap Perkawinan Pada Dewasa Muda Yang Mengalami Perceraian
Prof. Dr. E. S. Margiantari, SE., MM. (Rektor Universitas Gunadarma) Dr. A. M. Heru Basuki, Msi.
(Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma) Novia Miranti
(Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma)
Persepsi Terhadap Perkawinan Pada Dewasa Muda Yang Mengalami
Perceraian ABSTRAK
Perkawinan adalah suatu kejadian penting yang diharapkan dapat dialami oleh setiap orang dewasa. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia selamanya. Namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat menjalani perkawinannya dengan baik, sehingga tidak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan panjang
tersebut. Ketika ketegangan terus
memuncak dan tidak mereda, dan terjadi pada waktu yang cukup lama, tidaklah mengherankan jika perceraian dilihat sebagai alternative penyelesaian yang baik (Miller & Siegel, 1972). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan perceraian, persepsi terhadap perkawinan pada dewasa muda yang bercerai, dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi.
Penelitian ini menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif
berbentuk studi kasus, yang akan memberi gambaran mendalam mengenai suatu kasus yang tertentu. Subjek dalam penelitian ini berjumlah satu orang yaitu subjek yang mengalami perceraian, berjenis kelamin laki-laki, dan berusia 32
tahun. Penelitian ini menggunakan
metode wawancara terbuka dan
terstruktur, dan metode observasi yang digunakan adalah metode observasi non partisipan dan observasi non sistematik.
Hasil penelitian ini adalah bahwa subjek bercerai karena ketidakcocokan subjek dengan pasangan, tinggal secara
terpisah, selingkuh, meninggalkan
pasangan, pergi tanpa kabar, kebiasaan mabuk-mabukkan, kesiapan ekonomi saat menikah, status ekonomi keluarga, model
pasangan keluarga, kondisi keluarga, dan mempertahankan identitas diri.
Subjek mempersepsikan perkawinan
sebagai suatu hubungan yang sakral, sah secara hukum dan agama, masa dimana subjek siap menghabiskan waktu untuk hidup setia dengan pasangan dan keluarganya. Dimana perkawinan harus bisa menyatukan dua karakter yang berbeda, subjek harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, dan apapun masalah yang ada dalam rumah tangga harus dapat diselesaikan dengan baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi
subjek dalam mempersepsikan
perkawinan yaitu karakteristik subjek
yang mengalami perceraian,
karakteristik objek yang dipersepsi, sedangkan faktor situasional tidak mempengaruhi persepsi subjek terhadap perkawinan.
BAB I
A. Latar Belakang Masalah
Masa dewasa muda merupakan masa penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan sosial baru. Salah satu tugas perkembangan dewasa muda adalah belajar hidup bersama dengan pasangan, membentuk keluarga bahagia, dan mengasuh anak, yang kesemuanya itu terbentuk oleh suatu ikatan yang sah yang disebut dengan perkawinan (Duvall & Miller, 1985).
Bagi masyarakat Indonesia, perkawinan adalah suatu tahap penting yang diharapkan dapat dialami oleh setiap orang. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia sampai akhir hayatnya. Namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat menjalani perkawinannya dengan baik, dan bahagia seperti yang diharapkan (Miller & Siegel, 1972)
Tidak semua pasangan dapat melalui jalan yang mulus dalam perkawinannya,
sehingga tidak mampu lagi untuk meneruskan perkawinannya. Ketika ketegangan terus memuncak dan tidak mereda dalam waktu yang lama,tidaklah mengherankan jika perceraian dilihat sebagai alternatif penyelesaian yang baik (Miller & Siegel, 1972).
Menurut Sudrajat (2006) banyak kasus perceraian merupakan dampak dari mudanya usia saat memutuskan untuk menikah. Kebanyakan yang gagal karena kawin muda. Namun dalam alasan bercerai tentu saja bukan karena alasan kawin muda, melainkan masalah ekonomi, ketidakcocokan, dll. Tetapi masalah itu sebagai salah satu dampak dari perkawinan yang dilakukan tanpa kematangan usia dan psikologis.
Dewasa muda yang bercerai memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perkawinannya. Persepsi seseorang tentang perkawinan penting diketahui karena persepsi yang baik menjanjikan awal yang baik bila seseorang ingin menikah (Landis, 1971).
Pada umumnya dewasa muda yang mengalami perceraian merasa trauma atau takut untuk memulai suatu hubungan baru atau sebuah komitmen, baik hanya sebatas pacaran maupun pada saat memasuki dunia perkawinan yang baru (Noural & Kramer 1987 ; Roe, 1994). Oleh karena itu perceraian sangat berpotensi untuk mengubah pandangan atau persepsi seseorang tentang sebuah perkawinan, terutama pada dewasa muda yang siap untuk memasuki dunia perkawinan (Wallerstein, 1983).
B. Pertanyaan Penelitian
1. Apa faktor-faktor penyebab perceraian pada subjek?
2. Bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada dewasa muda yang mengalami perceraian?
3. Mengapa subjek memiliki persepsi yang demikian?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perceraian, persepsi terhadap perkawinan pada dewasa muda yang mengalami perceraian, dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsinya.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna sebagai bahan yang dapat digunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Psikologi perkembangan dan Psikologi Klinis. Dan dapat digunakan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan masalah perceraian dan dewasa muda.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum, dan individu (orang tua, dan dewasa muda) secara khusus. Pada umumnya masyarakat luas akan menemukan pemahaman baru yang positif tentang persepsi terhadap perkawinan pada dewasa muda yang mengalami perceraian. Dan bagi individu yang mengalami perceraian diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perceraian sebagai single parent, dapat belajar dari pengalaman dan memperbaiki kesalahan agar dapat membina hubungan yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.
BAB II
A. Persepsi Terhadap Perkawinan 1. Persepsi
a. Pengertian Persepsi
Persepsi dalam psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi adalah penginderaan, yakni seperti : penglihatan, pendengaran, peraba (Sarlito, 1996).
Persepsi adalah proses menyeleksi, menerima, menafsirkan, mengorganisasikan,menginterpretasik an kesan sensoris sehingga dapat
memberikan makna pada
lingkungannya (Robbins, 1994).. Menurut Wertheimer (1993) persepsi adalah suatu aktivitas yang konstruktif, dimana terjadi suatu pengolahan informasi yang menghasilkan kesan terpadu tentang hal-hal yang masuk dalam pengalaman kita.
a. Komponen-komponen Persepsi
Ada 3 komponen utama dalam proses persepsi (Subur, 1975), yaitu : 1) Seleksi adalah proses penyaringan
oleh indera terhadap rangsangan dari luar.
2) Interpretasi adalah proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti.
3) Interpretasi dan persepsi tersebut diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi proses persepsi adalah seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.
c. Sifat-sifat dari Persepsi
Menurut Aronson (1988), persepsi memiliki dua sifat yaitu : 1) Lebih mencakup aspek kognitif,
jawaban yang diberikan merupakan fakta dan tidak berkaitan dengan aspek evaluatif dan emosional.
2) Tidak menetap, persepsi seseorang dapat berubah bila ada pembuktian lain yang lebih baik.
d. Dimensi-dimensi dari Persepsi
Persepsi memiliki dua dimensi (Lane & Sears, 1985) yaitu :
1) Arah, berkisar dari tidak setuju sampai setuju, sebenarnya dalam dimensi ini tercakup juga kualitas emosional dari individu.
2) Intensitas, dalam suatu persepsi/ terdapat derajat keyakinan individu akan jawabannya.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Ada 3 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang (Robbins, 1994) : 1) Karakteristik individu yang
mempersepsi
Karakter individu sangat mempengaruhi interpretasinya, diantaranya : kepribadian, sikap, motif, minat, pengalaman masa lalu, dan harapan dari individu. 2) Karakteristik individu yang
dipersepsi
Karakteristik dari individu yang dipersepsi, baik berupa karakteristik personal, sikap dan tingkah lakunya.
3) Faktor situasional
Waktu dipersepsinya suatu objek atau peristiwa dapat mempengaruhi persepsi, seperti lokasi, cahaya, situasi tempat terjadinya proses persepsi seperti tata nilai, pandangan masyarakat.
f. Jenis-jenis Persepsi
Menurut Sarlito (1996), persepsi terbagi atas dua macam, yaitu :
1) Persepsi objek, yaitu persepsi terhadap suatu objek atau benda. 2) Persepsi sosial, yaitu persepsi
mengenai seseorang untuk memahami orang lain.
2. Perkawinan
a. Pengertian Perkawinan
Perkawinan merupakan suatu hubungan sosial antara pria dan wanita yang meliputi hubungan yang bersifat seksual, mengabsahkan kemampuan bereproduksi, tanggung jawab terhadap anak-anak secara legal, dan menentukan pembagian tugas antara masing-masing suami istri (Duvall & Miller, 1985).
Menurut Undang-Undang Perkawinan no.1/1974 bab 1 pasal 1 bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa.
Perkawinan menurut hukum dan masyarakat didefinisikan oleh Santrock (1989) sebagai persetujuan antar pasangan untuk menciptakan suatu keluarga, bahwa perkawinan harus bisa menyelesaikan suatu hubungan dan fungsi penting hidup.
b. Persepsi Terhadap Perkawinan
Persepsi terhadap perkawinan di definisikan sebagai kesan yang terpadu yang masuk dalam pengalaman individu untuk memberi makna terhadap suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita yang diterima masyarakat,sah secara hukum negara dan agama, mempunyai peran sebagai suami istri, dan orang tua bagi anak-anaknya dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
c. Jenis-jenis Perkawinan
Cuber dan Harrof (1996), ada lima jenis perkawinan, yaitu :
1) Conflict habituated
Pertengkaran antar pasangan dianggap hal yang biasa terjadi dan bukan alasan untuk bercerai.
2) Devitalized
Pasangan merasa bosan dan merasa tidak bahagia dengan perkawinannya, tetapi mereka tetap yakin bahwa mereka masih saling mencintai.
3) Passive congenial
Adanya ketidak-tergantungan dan ketidak-terlibatan dalam pasangan mulai sangat dirasakan, pasangan memperoleh kepuasan dari hubungan dengan orang lain.
4) Vital
Pasangan terlibat secara aktif dalam segala aspek kehidupan. Mereka menghabiskan waktu bersama, menyelesaikan konflik dengan baik, dan saling dihargai.
5) Total
Jenis perkawinan ini adalah yang paling baik.
d. Unsur-unsur yang Terdapat dalam Perkawinan
Stinett dan Kaye (1984) orang melangsungkan perkawinan karena :
1) Commitment
Banyak orang ingin ada seseorang yang diperuntukkan bagi mereka sepenuhnya.
2) One-to-One Relationship
Banyak orang menginginkan seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan dasar akan harga diri, kasih sayang, penghargaan, dan saling percaya.
3) Companionship
Perkawinan memungkinkan kesempatan untuk mengatasi rasa kesepian dengan aktivitas yang dilakukan dengan pasangan.
4) Love
Bagi banyak orang hidupnya akan memuaskan kalau mereka merasa berarti bagi orang lain.
5) Happiness
mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Perkawinandiharapkan dapat membawa kebahagiaan.
6) Legitimization of Sex and
Children
Perkawinan memberikan kesempatan untuk melakukan hubungan seksual yang disetujui oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
e. Fase-fase dalam Perkawinan
Mc Whirter dan Mattison (dalam Smolak, 1993) menyatakan bahwa perkawinan terdiri dari 3 fase yaitu :
1) Blending Phase
Fase ini terjadi pada tahun pertama dalam perkawinan. Pasangan belajar untuk hidup bersama dan merasa bahwa mereka saling tergantung.
2) Nesting Phase
Fase ini terjadi pada tahun kedua dan ketiga dalam perkawinan. Pasangan dituntut belajar menyesuaikan diri dan membagi waktu dalam aktivitas.
3) Maintaining phase
Fase ini terjadi pada tahun keempat. Pasangan mulai dapat menyesuaikan diri, saling memahami, dan mampu menyelesaikan konflik.
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan dan Kegagalan dalam Perkawinan
Faktor-faktor mempengaruhi keberhasilan perkawinan menurut Stinett dan Kaye (1984) adalah : 1) Keberhasilan perkawinan orang
tua
Kalau perkawinan orang tua berbahagia, anaknya juga akan mengalami kebahagiaan dalam perkawinannya dan lebih kecil kemungkinannya untuk bercerai. 2) Kebahagiaan pada masa
kanak-kanak
Orang yang masa kecilnya bahagia, biasanya akan memiliki perkawinan yang berbahagia. 3) Lamanya masa perkenalan
Semakin lama seseorang mengenal pasangannya sebelum menikah maka penyesuaian diri dalam perkawinan akan semakin mudah dan akan bahagia.
4) Usia dan kematangan
Semakin muda usia waktu menikah semakin besar kemungkinan akan bercerai 5) Persetujuan dari orang tua
Pasangan yang mendapat restu dari orang tua terbukti lebih mudah menyesuaikan diri dalam kehidupan perkawinan daripada yang tidak mendapat persetujuan. 6) Alasan untuk menikah
Pasangan yang menikah karena cinta, pengertian, dan tujuan yang baik akan memiliki perkawinan yang berhasil.
Syarat-syarat untuk mencapai perkawinan yang bahagia menurut Blood (dalam Benokraitis, 1996):
1) Compability (kesesuaian)
Dua individu sebagai pasangan dapat saling menerima karakteristik yang berbeda.
2) Skill (keterampilan)
Pasangan mau saling mendengarkan, mampu membuat keputusan bersama, dapat mengekspresikan keinginan dan kebutuhannya untuk saling membahagiakan pasangannya.
3) Effort (usaha)
Usaha disini adalah mencoba mendengarkan pasangan pada saat sedang berbicara dan menjadi pendengar yang baik.
4) Commitment (kesepakatan)
tidak sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Penyebabnya adalah tidak adanya kesepakatan.
5) Support (dukungan)
Untuk mencapai keberhasilan suatu perkawinan, dukungan memegang peranan penting. Perkawinan yang berhasil akan membawa dampak yang baik pada pasangan dan keluarga. Sebaliknya, perkawinan yang tidak bahagia atau berakhir dengan perceraian akan membawa pengaruh yang buruk bagi seluruh keluarga, terutama bagi anak.
B. Perceraian 1. Pengertian Perceraian
King (1992) perceraian adalah proses putusnya hubungan perkawinan secara hukum. Hal ini mempengaruhi hak asuh anak, hak kunjungan orang tua, pembagian harta benda, dan tunjangan anak. Perceraian biasanya diawali oleh adanya konflik antar pasangan suami istri merupakan suatu proses yang mengawali berbagai perubahan emosi, psikologis dan lingkungan.
Fisher (1984) perceraian adalah kematian dari sebuah perkawinan, diawali dengan pertentangan yang tidak dapat dihindari lagi, diikuti oleh konflik diantara pasangan. Periode ini pertanda buruknya kelekatan emosional antar pasangan.
Perceraian adalah puncak dari proses penyesuaian perkawinan yang buruk yang terjadi bila suami istri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah yang tepat (Hurlock, 1996).
2. Jenis-jenis Perceraian
Fassel (dalam Benokraitis, 1996) ada 5 jenis perceraian, yaitu :
a. The disappearing parent
Anak menerima penjelasan
tentang perceraian kedua orang tuanya setelah salah satu orang tua meninggalkan rumah.
b. The surprise divorce
Orang tua terlihat tertutup, dan tiba-tiba memutuskan untuk bercerai.
c. The violent divorce
Kekerasan terhadap pasangan dan anak paling banyak menyebabkan perceraian
d. The late divorce
Orang tua memaksakan tinggal bersama, berusaha menutupi semua masalah hanya agar anak-anaknya bahagia. e. Protect the kids divorce
Orang tua memutuskan untuk menyimpan informasi tentang alasan kenapa mereka bercerai, dan cenderung untuk berbohong.
3. Faktor Penyebab Perceraian
Perceraian dapat disebabkan oleh berbagai hal. Miller (1996), yaitu : a. Ketidaksesuaian
b. Tinggal secara terpisah lebih dari 18 bulan.
c. Selingkuh.
d. Perkawinan kontrak.
e. Meninggalkan pasangan secara sukarela lebih dari 1 tahun.
f. Pergi tanpa kabar selama 7 tahun. g. Kebiasaan mabuk-mabukan. h. Kekerasan.
i. Pasangan menjalani hukuman. j. Pasangan dalam perawatan karena
gangguan mental.
Hurlock (1996) mengemukakan stabilitas perkawinan yang dapat mempengaruhi perceraian yaitu : a. Jumlah anak
b. Kelas sosial
c. Kemiripan latar belakang d. Saat menikah
e. Alasan untuk menikah
g. Status ekonomi
h. Model pasangan sebagai orang tua
i. Posisi umum masa kecil keluarga j. Mempertahankan identitas
Faktor-faktor ini memicu timbulnya konflik antara pasangan suami istri yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya perceraian.
4. Tahapan Perceraian
Tahapan-tahapan tersebut adalah:
a. Emotional divorce.
Adanya perasaan tidak bahagia, menolak kehadiran pasangan. Mereka merasa disakiti, tetapi berusaha untuk mempertahankan perkawinan.
b. Legal divorce.
Ini adalah pemutusan perkawinan secara resmi, yaitu melalui hukum (pengadilan).
c. Economic divorce.
Perceraian bisa menyebabkan turunnya kondisi ekonomi keluarga secara drastis.
d. Coparental divorce.
Keputusan hak asuh anak dan hak perkunjungan. Pasangan suami istri dapat bercerai, tetapi mereka tidak dapat menceraikan anak-anak mereka.
e. Community divorce.
Perceraian meliputi berbagai perubahan dalam hubungan sosial dengan orang lain.
f. Psychic / psychological divorce.
Hal ini berkaitan dengan penyesuaian diri pasangan orang tua yang mengalami perceraian.
5. Dampak Perceraian Orang tua Pada Anak
Beberapa reaksi emosi dan perasaan anak yang mengalami perceraian orang tua (Rice, 1999): a. Shock dan tidak percaya.
b. Takut, cemas, dan perasaan tidak
aman tentang masa depan.. c. Merasa ditolak kehadirannya oleh
orang tua yang meninggalkan mereka.
d. Marah dan rasa permusuhan, ditujukan pada salah satu orang tua yang mereka salahkan atas perceraian yang terjadi.
e. Menyalahkan diri sendiri dan perasaan bersalah.
f. Perasaan sedih dan kehilangan. g. Bingung untuk memihak salah
satu orang tua (konflik loyalitas). h. Cemburu dan resentful (benci,
marah).
Beberapa dampak perceraian terhadap anak (Wallerstein & Kelly, dalam King, 1992) adalah :
a. Prestasi akademik.
Anak ymempunyai prestasi akademik yang rendah, tingkat
dropout yang lebih tinggi, kurang
berprestasi. b. Stres.
Anak mengalami stres akibat depresi dan kecemasan.
c. Masalah Emosi.
Anak cenderung kurang bahagia, lebih cemas, cenderung gelisah dan khawatir.
d. Masalah hubungan sosial.
Anak cenderung menarik diri, mempunyai sedikit teman dekat. e. Masalah tingkah laku.
Anak cenderung agresif, nakal, menampilkan tingkah laku sosial yang tidak matang, tidak efektif dan negatif.
C. Dewasa Muda 1. Pengertian Dewasa Muda
Turner dan Helms (1995) mengemukakan masa dewasa muda adalah awal dari suatu tahap baru dalam perkembangan kehidupan. Individu telah menjalani masa remaja,
dan akan memasuki tahap pencapaian kedewasaan dengan segala tantangan yang lebih beragam
Masa dewasa awal adalah masa penyesuaian diri terhadap pola kehidupan baru dan harapan baru. Orang dewasa awal diharapkan dapat memainkan peran baru seperti peran suami istri, orang tua, mencari nafkah, mengembangkan sikap, dan keinginan baru yang sesuai dengan tugas-tugas baru (Hurlock, 1996).
Individu akan mengalami banyak perubahan dan perkembangan dalam rentang usia 20-40 tahun, suatu batasan usia yang digunakan untuk mendefinisikan dewasa muda (Papalia & Olds, 1992).
2.Tugas Perkembangan Dewasa Muda
Havighurst (dalam Turner & Helms, 1995; Smolak, 1993) mengemukakan tugas-tugas perkembangan dewasa muda :
a. Memilih pasangan hidup
b. Belajar menyesuaikan diri hidup harmonis dengan pasangan
c. Mulai membentuk keluarga dan peran baru sebagai orang tua d. Membesarkan anak
e. Belajar memegang tanggung jawab atas rumah tangga
f. Meniti karier
g. Memenuhi tanggung jawab sebagai warga negara
h. Menemukan kelompok sosial
3. Ciri-ciri Masa Dewasa Muda
Ciri-ciri masa dewasa muda (Hurlock, 1996), adalah :
a. Masa dewasa muda sebagai masa pengaturan
b. Masa dewasa muda sebagai masa usia reproduktif
c. Masa dewasa muda sebagai masa bermasalah
d. Masa dewasa muda sebagai masa ketegangan emosional
e. Masa dewasa muda sebagai masa keterasingan sosial
f. Masa dewasa muda sebagai masa komitmen
g. Masa dewasa muda sebagai masa ketergantungan
h. Masa dewasa muda sebagai masa perubahan nilai
i. Masa dewasa muda sebagai masa penyesuaian diri hidup baru
4. Tahapan Perkembangan Masa Dewasa Muda
Valliant (dalam Papalia & Olds, 1992) menjabarkan tahapan perkembangan dewasa muda yaitu : a. Masa membangun (20-30 tahun)
1) Melepaskan diri dari dominasi orang tua
2) Menemukan pasangan hidup 3) Membesarkan anak-anak 4) Mempererat persahabatan b. Masa konsolidasi (25-35 tahun)
1) Melanjutkan apa yang sudah dilaksanakan
2) Memantapkan karier
3) Memperkuat kehidupan perkawinan
4) Memiliki tujuan hidup c. Masa transisi (sekitar 40 tahun)
1)Meninggalkan pekerjaan
2) Memfokuskan pada kehidupan rohani
D. Persepsi terhadap Perkawinan pada Dewasa Muda yang Mengalami Perceraian
Bagi masyarakat Indonesia, perkawinan merupakan suatu tahap penting yang diharapkan dapat dialami oleh setiap orang dewasa. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia sampai akhir hayatnya. Namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat menjalani perkawinannya dengan baik, atau mengembangkan
perkawinan yang bahagia seperti yang diinginkan oleh setiap pasangan suami-istri. Ketika ketegangan terus memuncak dan tidak mereda dalam waktu yang cukup lama, tidaklah mengherankan jika perceraian dilihat sebagai alternatif penyelesaian yang baik (Miller & Siegel, 1972).
Pada umumnya dewasa muda yang mengalami perceraian merasa trauma atau takut untuk memulai suatu hubungan baru atau sebuah komitmen, baik hanya sebatas pacaran maupun pada saat mulai memasuki dunia perkawinan yang baru (Noural & Kramer, 1987 ; Roe, 1994). Oleh karena itu perceraian sangat berpotensi untuk mengubah pandangan atau persepsi seseorang tentang arti sebuah perkawinan, terutama pada dewasa muda yang siap untuk memasuki dunia perkawinan (Wallerstein, 1983).
Orang dewasa muda yang bercerai memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perkawinan. Persepsi seseorang tentang perkawinan penting diketahui karena persepsi yang baik menjanjikan awal yang baik bila seseorang ingin memasuki pernikahan.
BAB III A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berbentuk studi kasus.
Studi kasus adalah penelitian yang mendalam mengenai suatu kasus tertentu yang hasilnya berupa gambaran lengkap dan mendetail mengenai kasus tersebut. Penelitian ini mencakup keseluruhan siklus kehidupan, yang terkadang meliputi
bagian tertentu pada faktor-faktor kasus (Narbuko & Achmadi, 2004).
B. Ciri-ciri Studi Kasus
a. Partikularistik b. Naturalistik c. Data uraian rinci d. Induktif
e. Heuristik
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah dewasa muda yang mengalami perceraian, berjenis kelamin laki-laki, berusia 32 tahun.
D. Tahap Penelitian
Tahap penelitian ini terdiri dari tahap persiapan penelitian, dan pelaksanaan penelitian.
E. Teknik Pengumpulan Data
Menggunakan teknik wawancara terbuka dan berstruktur, bahwa subjek mengetahui bahwa dirinya sedang diwawancarai dan mengetahui apa maksud dan tujuan dari dilakukannya wawancara. Selain itu peneliti juga menentukan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.
F. Alat Bantu Penelitian
Penelitian ini menggunakan alat tulis, dan tape recorder.
G. Keabsahan dan Keajegan Penelitian
Peneliti menggunakan triangulasi data, triangulasi pengamat, triangulasi teori dan triangulasi teori dengan menggunakan wawancara dan observasi.
H. Teknik Analisis Data
Marshall dan Rossman (1995) memberikan beberapa tahapan dalam menganalisa data kualitatif, yaitu : mengorganisasikan data, mengelompokkan data, menguji asumsi, mencari alternatif penjelasan, dan hasil penelitian.
BAB IV
HASIL DAN ANALISA 1. Faktor Penyebab Perceraian
Faktor penyebab perceraian pada subjek adalah diantaranya karena ketidakcocokan subjek dengan pasangan, tinggal secara terpisah, selingkuh, meninggalkan pasangan, pergi tanpa kabar, kebiasaan mabuk-mabukkan, kesiapan ekonomi yang belum matang saat menikah, status/ekonomi keluarga, model pasangan/kebahagiaan keluarga, kondisi keluarga, dan saling mempertahankan identitas diri. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Miller (1996) yang menyatakan bahwa faktor penyebab perceraian terbagi dalam beberapa kategori diantaranya yaitu ketidakcocokan, tinggal secara terpisah, selingkuh, meninggalkan pasangan, pergi tanpa kabar, dan kebiasaan mabuk-mabukkan. Menurut Hurlock (1996) ada berbagai kondisi yang dapat mempengaruhi stabilitas perkawinan yang menyebabkan perceraian, diantaranya karena kesiapan ekonomi yang belum matang saat menikah, status ekonomi keluarga, model pasangan keluarga, kondisi keluarga, dan saling mempertahankan identitas diri, hal tersebut dapat menyebabkan perceraian subjek.
2. Persepsi Terhadap Perkawinan Pada Dewasa Muda yang Bercerai
Subjeks mempersepsikan perkawinan sebagai suatu bentuk hubungan yang sakral, sah secara hukum dan agama, merupakan masa dimana subjek siap menghabiskan waktu untuk hidup setia bersama pasangan dan keluarganya, dimana perkawinan harus bisa menyatukan dua karakter yang berbeda, dimana subjek harus bisa menerima kelebihan
dan kekurangan pasangan, dan apapun masalah yang ada dalam rumah tangga seharusnya dapat diselesaikan dengan baik, sehingga dapat membentuk keluarga yang bahagia dan harmonis selamanya.
Persepsi subjek terhadap perkawinan didukung oleh pernyataan dari Duvall & Miller (1985) bahwa perkawinan adalah suatu ikatan yang sah dimana individu yang sudah menikah belajar hidup bersama sebagai suami-istri, membentuk keluarga yang bahagia, dan mengasuh anak. Dan menurut Herbert & Jarvis (1988) bahwa perkawinan adalah kesepakatan antara dua orang individu untuk bertindak sebagai pasangan suami-istri untuk mengarungi kehidupan berkeluarga dalam berbagai masalah yang akan dihadapinya.
3. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Perkawinan
Pada umumnya dewasa muda yang mengalami perceraian merasa trauma atau takut untuk memulai suatu hubungan baru atau sebuah komitmen, baik hanya sebatas pacaran maupun pada saat mulai memasuki dunia perkawinan yang baru (Noural & Kramer 1987 ; Roe, 1994). Perceraian berpotensi untuk mengubah pandangan atau persepsi seseorang tentang sebuah perkawinan, terutama pada dewasa muda yang siap memasuki dunia perkawinan (Wallerstein, 1983).
Menurut Robbins (1994) ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu karakteristik individu yang mempersepsi, karakteristik objek yang dipersepsi, dan faktor situasional. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek dan SO, maka dapat
diketahui bahwa faktor yang dapat mempengaruhi persepsi subjek adalah karakteristik individu yang mempersepsi (subjek yang mengalami perceraian), dan karakteristik objek yang dipersepsi (persepsi terhadap perkawinan), sedangkan faktor situasional tidak mempengaruhi persepsi subjek.
BAB V A. Kesimpulan
1. Faktor penyebab perceraian pada subjek diantaranya terjadi karena ketidakcocokan subjek dengan pasangan, tinggal secara terpisah, selingkuh, meninggalkan pasangan, pergi tanpa kabar, kebiasaan mabuk-mabukkan, kesiapan ekonomi saat menikah, status ekonomi keluarga, model pasangan/kebahagiaan keluarga, kondisi keluarga, dan mempertahankan identitas diri.
2. Subjek berpendapat perkawinan adalah suatu hubungan yang sakral, sah secara hukum dan agama, merupakan masa dimana subjek siap menghabiskan waktu untuk hidup setia bersama pasangan dan keluarganya. Menurut subjek perkawinan harus bisa menyatukan dua karakter yang berbeda, subjek harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Dan masalah yang ada dalam rumah tangga harus dapat diselesaikan dengan baik. 3. Persepsi subjek terhadap perkawinan
dipengaruhi oleh karakteristik individu yang mempersepsi yakni karakteristik subjek yang mengalami perceraian, dan karakteristik objek yang dipersepsi yaitu dimana pengalaman perceraian subjek dapat mempengaruhi persepsi subjek terhadap perkawinan. Sedangkan faktor situasional tidak
mempengaruhi persepsi subjek terhadap perkawinan. Faktor situasional seperti pandangan masyarakat terhadap dewasa muda yang bercerai, dan hubungan subjek dengan lingkungan di sekitar subjek.
B. Saran
1. Subjek disarankan agar menjadikan pengalaman bercerainya sebagai pelajaran agar dapat membina hubungan yang lebih baik ke depannya dengan pasangan, diharapkan subjek dapat membina rumah tangga yang utuh, harmonis, bahagia selamanya, dan dapat menyelesaikan masalah yang ada dalam rumah tangganya dengan sebaik mungkin, agar tidak terjadi perceraian untuk yang kedua kalinya. 2. Bagi masyarakat umum, terutama
dewasa muda yang menikah di usia muda yang sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya diharapkan dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik sebelum memutuskan untuk bercerai. Sedangkan bagi para orang tua dan pendidik disarankan memberikan pengarahan dan nasehat tentang perkawinan dan menanamkan nilai-nilai agama dalam keluarga dengan baik dan benar kepada dewasa muda yang sedang mengalami hal tersebut. 3. Bagi penelitian selanjutnya yang
berada dalam persepsi terhadap perkawinan, perceraian dan dewasa muda, disarankan agar lebih memperdalam teori yang digunakan dan dapat membandingkan antara satu dewasa muda dengan dewasa muda yang lain. Hal tersebut dimaksudkan untuk melihat dan mengetahui bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada dewasa muda yang bercerai, yang akan lebih
baik apabila setiap dewasa muda memiliki persepsi yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Amato, P. R. (1993). Children’s adjustment to divorce : Theories, hypotheses, and empirical support. Journal of Marriage and
The Family, 55, 23-28.
Aronson, E. (1988). The social animal 5th
ed. New York : Freeman Company.
Atwater, E. (1983). Psychology of
adjustment : A personal growth in a changing world 2nd ed. New
Jersey : Prentice-Hall.
Barnett, R. & Rivers, C. (1987). Life
prints : New pattern of love and works today’s woman. New York
: Mc Graw-Hill Book, Co.
Benokraitis, N. V. (1996). Marriages and
families : Changes, choices, and
constraints. New Jersey :
Prentice-Hall.
Brehm, S. S. (1992). Social psychology. Boston : Houghton Mifflin. Chaplin, J. P. (2001). Kamus lengkap
psikologi. Penterjemah : Kartini
Kartono. Jakarta : Rajawali Pers. Cox, F. D. (1983). Human intimacy,
marriage, the family and It’s
meaning. Minnesota : West
Publishing Co.
Dagun, S. M. (1990). Psikologi keluarga. Jakarta : Rieneka Cipta.
Demo, D. H. & Acock, A. C. (1988). The impact of divorce on children.
Journal of Marriage and The Family, 28, 9-11.
Duvall, E. M. & Miller, B. C. (1985).
Marriage and family development 6th ed. New York : Harper & Row
Publisher.
Erikson, H. E. (1986). Childhood and
society 2nd ed. New York : WW.
Norton.
Fisher, E. O. (1984). Divorce : The new
freedom : A guide to divorcing and divorcing counseling. New
York : Harper & Row Publisher. Frey, I. B. M. & Carlock. (1984). A
methode for determining types of self esteem. Journal of Social
Psychology, 36, 56-71.
Fursteinberg, G. (1982). Families support
and intimate relationship. New
York : Basic Book.
Havinghurst, R. J. (1995). Human
development task and education.
New York : David mc Kay. Herbert. & Javis, K. (1988). Life-long
human development. New York :
The Mac Millan.
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi
perkembangan. Edisi kelima.
Jakarta : Erlangga.
King, E. H. (1992). The reaction of
children to divorce 2nd ed. New
York : John Wiley & Sons. Kirkpatrick. (1983). Human intimacy,
marriage and the family. USA :
Prentice-Hall.
Kompas. (2005). Data perceraian di
Jakarta. Jakarta
Lammana, M. A. & Riedman, A. (1985).
Marriages and families, making choice throughout the life style 2nd ed. California : Wadsworth
Publishing, Co.
Landis, P. H. (1971). Your marriage and
family living 2nd ed. New York :
Mc Graw-Hill.
Lane, R. E. & Sears, D. D. (1985). Public
opinion. New Delhi : Prentice
Hall of India Ltd.
Laver, R. H. & Laver, J. C. (2000).
Marriage and family : The quest for intimacy 4th ed. Boston : Mc
Marshall, C. & Rossman. (1995).
Designing qualitative research.
London : Sage Publications. Matthews, D. W. (2000). Long-term
effects of divorce on children.
New Jersey : PrenticeHall.
Miller, P. H. (1996). Theories of
development psychology 3rd ed.
USA : W. H. Freeman.
Miller, P. H. & Siegel, L. S. (1972).
Families and intimate
relationship. USA : Mc
Graw-Hill.
Moleong, J. L. (1998). Metodologi
penelitian kualitatif. Bandung :
Remaja Rosdakarya.
Morgan, C. T. (1987). Introduction to
psychology 7th ed. Singapore : Mc
Graw-Hill Book Company. Mussen, P. H. (1993). Human
development : A life-span
perspective. New York : Mc
Graw-Hill.
Narbuko, C. & Achmadi, A. (2004).
Metodologi penelitian. Jakarta :
PT Bumi Aksara.
Nock, S. L. (1987). Sociology of the
family. New Jersey :
Prentice-Hall, Inc
Noural. & Kramer, J. M. (1987). The
effect of divorce on children. New
York : John Willey & Sons. Olson, D. H. & DeFrain, J. (2000).
Marriage and the family : Diversity and strengths 3rd ed.
California : Mayfield.
Papalia. & Old, F. (1992). Human
development 5th ed. USA : Mc
Graw-Hill.
Perlmutter, M. & Hall, E. (1985). Adult
development and aging. New
York : John Willey & Sons. Pikiran Rakyat. (2006). Fenomena
perceraian di kalangan artis.
Jakarta.
Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan
kualitatif dalam penelitian
perilaku manusia. Jakarta :
Lembaga pengembangan sarana pengukuran dan pendidikan psikologi (LPSP 3).
Rahmat, J. (1994). Psikologi komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rice, F. P. (1999). The adolescence :
Development, relationship, and culture 9th ed. Boston : Allyn &
Bacon.
Robbins, S. P. (1994). Essentials of
organizational behaviour 4th ed.
New Jersey : Prentice-Hall. Roe, R. (1994). Managing organizational
behaviour 2nd ed. New York :
Dryden Press.
Santrock, J. W. & Halonen, C. J. (1989).
Live-span development. Boston :
Mc Graw-Hill.
Sarwono, S. W. (1999). Psikologi
perkembangan. Jakarta : PT.
Gramedia.
Sarlito, S. (1996). Psikologi sosial, jilid
1. Depok : Fakultas Psikologi UI.
Schermerhon, J. R. (1985). Managing
organizational behaviour 2nd ed.
New York : John Willey & Sons, Inc.
Shaffer, D. R. (1996). Developmental
psychology chillhood and
adolescence. Pasific Groove :
Brooks/Cole Publishing Company.
Shaver, R. P. & Rubinstein. (1980). Self esteem : A self social construct.
Journal of Consulting and
Clinical Psychology, 33, 84-95.
Skolnick, A. S. & Skolnick, J. H. (1983).
Family in transition 4th ed. Boston
: Little, Brown & Company. Smolak, L. (1993). Adult development.
Spanier. & Thompson, C. (1984). The
interpersonal theory psychology.
New York : John Willey & Sons. Stinnett N., W. & Kaye. (1984).
Relationship in marriage & the family. New York : Mc Millan
Publishing Co.
Strong. & Devault. (1995). The divorce
meaning of family. New York :
John Willey & Sons.
Subana, H. M. (2005). Dasar-dasar
penelitian ilmiah. Bandung :
Pustaka Setia.
Subur, A. (1975). Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.
Sudrajat, D. (2006). Perceraian dan
perkawinan di usia muda.
Yogyakarta : PT Raja Grafindo Persada
Turner, J. S. & Helms, D. B. (1995).
Life-span development 5th ed. USA :
Holt, Rinehart & Winston, Inc. Wallerstein, J. S. (1983). Children of
divorce : Stress and development task. Dalam Garmezy, Norman & Rutter, Michael (eds). Stress,
coping, and development in
children. New York : Mc
Graw-Hill.
Wrightsman, L. S. (1994). Adult personality development. Sage
Publications, Inc.
Yulia, D. (2007). Alasan-alasan konyol
untuk bercerai. Jakarta : PT.
Gramedia.
Young, K. (1978). Social psychology 3rd
ed. New York : Appleton Century