1
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Supply Chain Management (SCM) adalah integrasi dari semua aktivitas pada
jaringan distribusi yang melibatkan aktivitas dari hulu (upstream) hingga hilir
(downstream). Pengintegrasian tersebut diawali dari aktivitas pengadaan bahan
baku, aktivitas pengolahan bahan baku menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi, dan diakhiri dengan aktivitas pendistribusian produk kepada end
customer (Muysinaliyev & Aktamov, 2014). Pada proses pendistribusian produk
dari hulu hingga hilir diikuti dengan arus informasi dan biaya setiap aktivitasnya (Chopra & Meindl, 2015).
Manajemen persediaan merupakan bagian dari Supply Chain Management (SCM) yang berfungsi untuk merencanakan, mengimplementasikan, mengendalikan aliran dan penyimpanan suatu produk maupun informasi secara efektif dan efisien agar dapat memenuhi permintaan konsumen. Manajemen persediaan juga dapat didefinisikan sebagai proses pengawasan rantai pasok, penyimpanan, dan aksesibilitas produk untuk menyeimbangkan antara penawaran dan permintaan dengan cara memastikan pasokan produk memadai tanpa kelebihan ataupun kekurangan (Adetunji, 2017). Pada penjelasan sebelumnya menunjukkan diperlukannya kebijakan manajemen persediaan yang tepat agar dapat meminimasi kesenjangan yang diciptakan antara penawaran dan permintaan sehingga dapat mengurangi biaya supply chain yang ada (Vicente, dkk., 2015).
Pengertian dan fungsi dari manajemen persediaan tersebut menunjukkan bahwa pentingnya suatu industry modern memiliki kebijakan dalam mengatur persediaannya mulai dari bahan baku, produk setengah jadi, maupun produk jadi. Namun, dalam menentukan kebijakan persediaan tersebut, kebanyakan perusahaan tidak mempertimbangkan karakteristik dari produk yang ditanganinya. Setiap produk memiliki karakteristik masing-masing, terutama pada produk yang rentang rusak akibat waktu penyimpanan yang berlebihan atau produk yang berubah menjadi usang. Produk-produk yang mempertimbangkan usia pakai dan waktu penyimpanan disebut juga dengan perishable product. Usia produk tersebut disebut
2
dengan shelf life. Beberapa contoh produk yang tergolong dalam perishable product antara lain produk makanan, bahan kimia, farmasi, fashion, bank darah, dan produk musiman lainnya.
Perishable product ini memiliki penanganan khusus pada saat penyimpanan dan
keterbatasan waktu yang mengakibatkan produk menjadi busuk. Ketepatan dalam merancang persediaan merupakan salah satu solusi untuk mengurangi kerugiaan akibat rusaknya produk yang tidak dapat dikonsumsi lagi. Salah satu ketepatan dalam merancang persediaan yaitu penentuan jumlah maksimum dan minimum persediaan. Jika perusahaan melakukan perancangan persediaan produk terlalu banyak, maka terjadi overstock atau dapat disebut dengan produk waste atau
outdating akibat melebihi waktu kedaluwarsa. Namun, Jika perusahaan melakukan
perancangan persediaan produk terlalu sedikit, maka terjadi lost sale yang terjadi akibat perbedaan antara jumlah persediaan dan jumlah permintaan konsumen, jumlah persediaan lebih sedikit dibanding jumlah permintaan konsumen. Kompleksnya permasalahan untuk menangani perishable product ini menyebabkan banyaknya penelitian yang membahas permasalahan ini. Perkembangan penelitian mengenai pengaturan kebijakan persediaan terutama pada perishable product ini menjadi salah satu alasan yang digunakan pada penelitian ini.
Sesuai dengan topik yang diambil yaitu perishable product, penelitian menggunakan studi kasus pada PT Reska Multi Usaha (PT RMU). PT RMU didirikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Yayasan Pusaka. Pendirian perusahaan ini bertujuan untuk menerapkan dan mendukung kebijakan atau program PT KAI, khususnya pada usaha restorasi dan bisnis pendukung lainnya. Persentase terbesar dari total pendapatan PT RMU yaitu sales on the train sebesar 46.7%. Sales on the train yaitu penjualan makan dan minuman pada Kereta Api (KA). PT RMU menjual produk makanan yang memiliki rentang usia (lifetime) yang cukup singkat atau dapat disebut dengan perishable product. Perishable
product ini terbagi menjadi dua kategori makanan yaitu fresh food dan frozen food.
Pada Tabel I.1 dijelaskan perbedaan antara kedua kategori produk makanan tersebut berdasarkan kriteria pembeda masing-masing. Fresh product memiliki 10 (Stop
Keeping Unit) SKU, sedangkan frozen food memiliki 17 SKU. Jika ditotal, jumlah
3
berdasarkan frekuensi penjualan setiap hari. Pada Gambar I.1 menunjukkan persentase penjualan produk untuk masing-masing produk pada seluruh KA keberangkatan Bandung menuju Surabaya, dari persentase penjualan tersebut menunjukkan hanya 9 SKU yang memiliki persentase di atas 70%, sedangkan sisanya hanya memiliki persentase di bawah 70%.
Tabel I. 1 Tabel Kriteria Produk fresh dan frozen Pada PT RMU
Kriteria Pembeda Produk Fresh Food Produk Frozen Food
Daya tahan produk 8 Jam 30 Hari
Penyajian Memerlukan proses penyajian terlebih dahulu menggunakan microwave Memerlukan proses penyajian terlebih dahulu menggunakan microwave Penyimpanan Tidak membutuhkan proses penanganan penyimpanan secara khusus Membutuhkan freezer sebagai media penyimpanan Kapasitas Penyimpanan pada KA
100 box makanan 90 box makanan
Pengemasan
Tidak memerlukan proses pengemasan
secara khusus
Memerlukan kemasan kedap udara untuk menjaga daya tahan
produk Lokasi pengisian
ulang dalam perjalanan kereta api
Hanya dapat dilakukan pengisian ulang pada wilayah RMU tertentu
Dapat dilakukan pengisian ulang pada seluruh
4
Gambar I. 1 Persentase Penjualan Frozen Food dan Fresh Food di KA pada Bulan November 2017
Penjualan yang tidak maksimal ini diakibatkan ketidaktepatan perusahaan dalam merancang persediaan makanan setiap KA. Ketidaktepatan tersebut mengakibatkan terjadinya produk waste atau outdating ataupun lost sale. Persentase jumlah produk
waste atau outdating pada masing-masing kereta ditunjukkan ditunjukkan pada
Gambar I.2 dan persentase jumlah lost sale ditunjukkan pada Gambar I.3.
Gambar I. 2 Persentase Jumlah Produk Waste atau Outdating
16.13% 38.89% 16.96% 19.62% 40.21% 0.00%0.00% 44.58% 0.00% 74.26% 42.56% 0.00%0.00% 42.95% 0.00% 29.69% 0.00% 10.59% 85.32% 71.28% 76.66% 77.11% 100.00% 78.27% 100.00% 0.00% 83.40% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% 56.49% 23.30% 24.86% 25.94% 15.21% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%
5
Gambar I. 3 Persentase Jumlah Produk Lost Sale
Waste atau outdating dan lost sale tersebut disebabkan oleh penentuan persedian di
awal keberangkatan dan penentuan persediaan di masing-masing segmen yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan jumlah permintaan konsumen. Pada Tabel I.2 menjelaskan contoh pendistribusian makanan pada masing-masing segmen. Segmen merupakan wilayah yang dilewati oleh KA pada satuan waktu tertentu. Segmen ini menunjukkan indikasi waktu. Sebagai contoh penjelasan, untuk persediaan awal dilakukan pada segmen satu yaitu di stasiun Bandung. Segmen 1 tersebut menunjukkan satuan jam pertama. Pengisian ulang selanjutnya dilakukan pada pada (stasiun Kroya) KYA. Jika berdasarkan jam, lokasi KYA berada pada segmen 5, yaitu berjarak 5 jam setelah segmen pertama dan begitu selanjutnya. Pengisian persediaan di (stasiun Tasikmalaya) TSM, KYA, (stasiun Kutoarjo) KTA, (stasiun Yogyakarta) YK, (stasiun Solo) SLO, dan (stasiun Madiun) MN hanya berlaku untuk frozen food. Pada fresh food hanya dapat diisi ulang pada (stasiun Bandung) BD dan YK, untuk KA Argo wilis lokasi YK yaitu pada segmen 8, produk dari bandung sebelumnya sudah kedaluwarsa, sehingga perlu dilakukan pengisian ulang.
Dua kejadian tersebut waste atau outading dan lost sale dapat mempengaruhi biaya
supply chain, banyaknya produk yang terbuang akibat kedaluwarsa dan produk
yang tidak dapat dipesan oleh konsumen akibat ketidaktersedianya produk yang diinginkan. Selain kedua masalah tersebut terdapat biaya penyimpanan produk,
26.85% 11.57% 11.02% 10.74% 8.73% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00%
6
biaya order berdasarkan frekuensi pemesanan dan biaya set-up untuk memanaskan produk dalam microwave sebelum disajikan kepada konsumen.
Tabel I. 2 Contoh Pendistribusian Makanan pada KA Argo Wilis untuk Masing-Masing Segmen
ARGO WILIS (BD-SGU) KA 6
MENU MAKANAN 08.30 11.14 13.41 15.01 15.56 16.47 18.05 JML
BD TSM KYA KTA YK SLO MN AMPR
Nasi Goreng Parahyangan Frozen 5 5
Nasi Goreng Bakso Frozen 25 20 45
Nasi Ayam Penyet Frozen 5 - 5
Nasi Uduk Frozen 5 - 5
Nasi Rames Frozen 15 10 25
Nsm Nasi Krengsengan Sapi (Gopar) - - Nsm Nasi Tuna Kemangi (Gopar) - - Popso 15 15 30 Nasi Goreng Parahyangan Legend 20 20
Nasi Rames Nusantara 5 5
Nasi Ayam Harum Wangi 5 5
Zuppa-Zuppa 2 2
Mee Goreng Kornet Keju -
Mee Goreng Telur Cengek -
Mee Goreng Tuna Pedas -
Mee Rebus Beef Salami -
Mee Rebus Telur Cengek -
Perancangan dan penyelesaian masalah untuk penelitian ini mengacu pada pemodelan yang ditulis oleh Kouki, Jemai, Sahin, & Dallery (2013) dan Kouki, Jemaï, & Minner (2015). Penelitian pertama (Kouki, dkk., 2013), membandingkan dan melakukan verifikasi pada sistem persediaan (r, Q) untuk perishable product dengan mempertimbangkan fixed lead time dan fixed lifetime. Penelitian kedua (Kouki, dkk., 2015), mempertimbangkan model sistem persediaan continous review (r, Q) dengan mempertimbangkan leadtime dan lifetime konstan. Model tersebut memiliki tujuan untuk meminimasi total biaya supply chain. Penelitian lainnya juga menunjukkan menggunakan model persediaan untuk perishable product dengan mempertimbangkan fixed lifetime dan fixed lead time. Penelitian ini bertujuan untuk meminimasi biaya supply chain dengan menggunakan kebijakan continuous review untuk mengoptimalkan nilai reorder level dan quantity (r, Q) pada masing-masing produk, segmen dan KA keberangkatan Bandung menuju Surabaya dengan mempertimbangkan fixed lifetime dan probabilistik lead time berdasarkan jumlah permintaan konsumen.
7 I.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah bertujuan untuk menjelaskan masalah dan isu yang dibahas pada latar belakang. Perumusan masalah yang sesuai berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan pada sub bab sebelumnya berupa pertanyaan yaitu “bagaimana model persediaan untuk perishable product yang digunakan untuk meminimasi supply chain costs pada aktivitas penjualan makanan di KA dengan mempertimbangkan leadtime, lifetime, dan multiproduct?”
I.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:
Pengembangan model persediaan untuk perishable product yang digunakan untuk meminimasi supply chain costs pada aktivitas penjualan makanan di KA dengan mempertimbangkan leadtime, lifetime, dan multiproduct.
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu:
a. Mengidentifikasi nilai reorder point dan jumlah kuantitas yang optimal untuk melakukan replenishment pada masing-masing lokasi (segmen) replenishment, b. Mengurangi jumlah lost sale dan outdating (kedaluwarsa) dari produk yang
dijual di KA.
c. Mengidentifikasi lokasi yang tepat dalam melakukan pengisian ulang produk. I.4 Batasan Masalah
Batasan masalah merupakan ruang lingkup yang digunakan untuk membatasi dan memperjelas suatu permasalahan yang dibahas dan dipecahkan oleh peneliti. Batasan masalah ini bertujuan untuk mengarahkan dan memfokuskan suatu permasalah yang terlalu luas. Beberapa batasan masalah yang digunakan pada penelitian ini yaitu:
1. Penelitian dilakukan pada perusahaan yang bergerak pada bidang usaha penjualan makanan di KAI.
2. Pendistribusian makanan pada KA terdiri dari 1 eselon.
3. Penelitian dilakukan pada KA keberangkatan Bandung, melalui jalur Selatan (Bandung-Solo, Bandung-Surabaya)
4. KA keberangkatan Bandung terdiri dari 5 yaitu Pasundan, Lodaya Pagi, Lodaya Malam, Argo Wilis, dan Mutiara Selatan.
8
5. Pada jalur selatan terdiri dari beberapa segmen, segmen ini memiliki satuan waktu yaitu jam. Pada segmen ini terdiri dari 2 titik (BD/KAC dan YK) untuk pengisian makanan untuk fresh food dan 8 titik (TSM, KYA, KTA, YK/ LPN, SLO/PWS, dan MN) untuk pengisian ulang makanan untuk frozen food. Titik pengisian makanan ini disebut dengan regional warehouse.
6. Produk yang ditangani merupakan produk yang mudah busuk (perishable
product) yang terdiri dari dua kategori yaitu fresh food memiliki life time 8 jam
dan frozen food memiliki life time 30 hari.
7. Masing-masing kategori makanan terdiri dari beberapa SKU makanan (multiproduct).
8. Time horizon pemesanan makanan berdasarkan keberagkatan KA (perilaku pemesanan makanan) tidak dipertimbangkan pada demand penumpang. 9. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data primer, data sekunder, dan
data hipotetik.
I.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan penjabaran secara deskriptif yang bertujuan untuk menunjukkan perencanaan dari keseluruhan proses penelitian. Format sistematika yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 5 bab, yaitu pendahuluan, Studi Literatur, metodologi penelitian dan pengembangan model, analisis model, kesimpulan dan saran. Penjelasan masing-masing bab dapat dilihat pada penjabaran di bawah ini:
Bab I Pendahuluan
Bab I membahas tentang penjelasan latar belakang dari suatu penelitian, perumusan masalah yang diangkat, tujuan dan manfaat dari penelitian, batasan masalah yang ada pada penelitian, serta sistematika penulisan yang menjelaskan tentang kerangka penulisan pada setiap bab.
Bab II Studi Literatur
Bab II membahas tentang penjelasan teori dan referensi relevan secara ringkas yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Teori dan referensi tersebut
9
terdiri dari teori dasar, model dasar dan model terkait yang dikembangkan dalam penelitian berdasarkan ruang lingkup yang dikaji, serta posisi penelitian. Teori dan referensi tersebut diperoleh dari buku, e-book, dan jurnal terpublikasi pada penelitian terdahulu dalam kurun waktu tertentu.
Bab III Metodologi Penelitian dan Pengembangan Model
Bab III membahas tentang metodologi penelitian dan perencanaan pengembangan model yang dilakukan pada penelitian ini. Metodologi penelitian berisikan tentang perumusan suatu kerangka kerja atau alur rancangan dari penelitian. Metodologi penelitian ini juga mengidentifikasi studi yang dibahas pada penelitiaan ini dengan cara melakukan analisis studi berdasarkan studi pendahuluan dan studi literatur, menganalisis gap pada kedua studi tersebut, melakukan analisis terhadap pengembangan model yang dilakukan, dan menganalisis metode pemecahan masalah dan algoritma pencarian solusi yang digunakan. Selain itu, pada bab ini dibahas tentang pengembangan model usulan yang dilakukan berdasarkan referensi yang sebelumnya. Pada pengembangan model terdiri dari tahap perancangan model, formulasi pemecahan model, dan algoritma pencarian solusi.
Bab IV Analisis Model
Pada bab ini dibahas tentang analisis model. Pengujian model dilakukan dengan melakukan verifikasi. Selain itu, pada bab ini dilakukan pengaturan nilai-nilai parameter yang digunakan untuk perancangan model usulan. Penganalisis model usulan ini dilakukan dengan cara menganalisis kinerja kondisi awal dan kondisi setelah menerapkan model usulan yang dikembangkan. Setelah itu, dari dua perhitungan analisis kinerja tersebut diperoleh perbandingan persentasenya. Persentase ini menunjukkan perbandingan nilai yang dihasilkan oleh kedua analisis kinerja tersebut.
10 Bab V Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini membahas tentang pengambilan keputusan yang dilakukan sebagai jawaban atas pertanyaan pada sub bab perumusan masalah. Selain itu, pada bab ini menjabarkan saran untuk penelitian ke depan.