BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Marsela (2014), meneliti tentang Pengaruh Tingkat Inflasi, PDRB, Suku Bunga Kredit, Serta Kurs Dollar Terhadap Investasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh dari tingkat inflasi, PDRB, suku bunga kredit, dan kurs dollar investasi di Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan model analisis regresi linier berganda dengan uji validitas yang meliputi uji kestasioneran, uji kointegrasi (cointegration test), dan analisis koreksi kesalahan (analysis error correction mechanism), serta uji asumsi klasik. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa variabel PDRB memiliki pengaruh signifikan dengan arah positif terhadap jumlah investasi di Provinsi Bali sedangkan variabel kurs dollar Amerika memiliki pengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap jumlah investasi di Provinsi Bali. Dalam penelitian ini variabel tingkat inflasi serta suku bunga kredit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah investasi di Provinsi Bali.
Siregar (2016), meneliti tentang Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Investasi Daerah Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap investasi daerah Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan persamaan model analisis dengan metode analisis menggunakan rumus korelasi “r” oleh Pearson Product Moment. Hasil penelitian yang dilakukan menyempulkan bahwa pengeluaran.
Dewi & Meydianawathi (2017), meneliti tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri Di Provinsi Bali. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh secara serempak dan parsial jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, tingkat suku bunga, PDRB dan kebijakan otonomi daerah terhadap realisasi PMDN di Provinsi Bali. . Penelitian ini menggunakan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, yang disertai dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian yang dilakukan secara simultan variabel jumlah kunjungan wisatawan, tingkat suku bunga, PDRB dan kebijakan otonomi daerah berpengaruh signifikan terhadap realisasi PMDN di Provinsi Bali. Secara parsial jumlah kunjungan wisatawan mancanegra, tingkat PDRB dan kebijakan otonomi daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap realisasi PMDN di Provinsi Bali. Sementara itu, secara parsial tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap realisasi PMDN di Provinsi Bali.
Yusmarti & Ammar (2020), meneliti tentang Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Sektor-Sektor Ekonomi Terhadap Investasi Domestik di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh inflasi, suku bunga, sektor ekonomi primer dan sektor ekonomi skunder terhadap investasi domestik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode regresi linear berganda yaitu 13 untuk melihat sejauh mana variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa inflasi memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan investasi domestik di Indonesia. Suku bunga
berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap investasi domestik di Indonesia. Sektor ekonomi primer berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi domestik di Indonesia. Sektor ekonomi skunder berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi domestik di Indonesia.
Martilova & Doni (2020), meneliti tentang Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Dan Inflasi Terhadap Investasi Di Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah, dan inflasi terhadap investasi di Sumatera Barat periode 2001-2015. Penelitian ini menggunakan metode Ordinary Last Square (OLS). Hasil penelitian yang dilakukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan secara positif terhadap investasi di Sumatera Barat. Pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan secara positif terhadap investasi di Sumatera Barat. Inflasi berpengaruh signifikan secara negatif terhadap investasi di Sumatera Barat. Dan secara silmultan pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap investasi di Sumatera Barat sebesar 97,8% periode 2001-2015
Adapun relevansi penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya. Pengembangan terletak pada variabel yaitu pengaruh inflasi, pengeluaran pemerintah dan produk domestik regional bruto terhadap investasi (PMDN) di kabupaten dan kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2018.
B. Landasan Teori 1. Investasi
Pada dasarnya investasi merupakan suatu kegiatan penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi dengan harapan memperoleh keuntungan di masa mendatang. Investasi dapat dibedakan menjadi investasi finansial dan investasi non-finansial. Investasi merupakan suatu pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian (Sukirno, 2006, p. 121).
Pengeluaran investasi dibedakan menjadi empat komponen yaitu (Sukirno, 2000, p. 366) :
a. Investasi perusahaan-perusahaan swasta
Investasi perusahaan-perusahaan merupakan komponen yang besar dari investasi dalam suatu negeara pada suatu tahun tertentu. Pengeluaran investasi tersebut terutama meliputi mendirikan bangunan industri, membeli mesin-mesin, dan peralatan produksi lain, dan pengeluaran untuk menyediakan bahan mentah. Tujuan para pengusaha melakukan investasi ini adalah untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan produksi yang akan dilakukan di masa depan.
b. Investasi yang dilakukan pemerintah
Pemerintah juga melakukan investasi, berbeda dengan investasi perusahaan yang bertujuan untuk mencari keuntungan, investasi yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Oleh karena itu, investasi pemerintah dinamakan juga investasi sosial. Investasi-investasi tersebut meliputi pembangunan jalan raya, pelabuhan dan irigasi, mendirikan sekolah, rumah sakit, dan bendungan.
c. Investasi untuk mendirikan tempat tinggal
Pembangunan rumah-rumah tempat tinggal juga merupakan pembelajaan yang digolongkan sebagai investasi. Hal ini dikarenakan rumah mempunyai sifat yang mendekati peralatan produksi perusahaan, yaitu memakan waktu lama sebelum nilainya susut sama sekali dan bengunan tersebut secara terus menerus menghasilkan jasa bagi pemilik atau penyewaanya.
d. Investasi atas barang-barang inventaris
Komponen yang paling kecil dari investasi adalah investasi atas inventaris atau inventory, yaitu stok barang simpanan perusahaan. Barang-barang yang digolongkan sebagai inventory meliputi bahan mentah yang belum diproses, barang setengah jadi yang sedang diproses, dan barang yang sudah dihasilkan oleh perusahaan tetapi masih dalam simpanan dan belum dijual pasaran. Penyediaan barang-barang seperti itu mempunyai arti penting dalam menciptakan efisiensi dan kelancaran kegiatan perusahaan.
Menurut (Sukirno, 2006, p. 122) faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi antara lain :
a. Tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh
Ramalan mengenai keuntungan dimasa depan akan memberikan gambaran kepada para pengusaha mengenai jenis investasi yang mempunyai prospek yang baik untuk dilaksanakan dan besarnya investasi yang harus dilakukan untuk mewujudkan tambahan barang-barang modal yang diperlukan.
b. Suku bunga
Tingkat suku bunga akan menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberikan keuntungan kepada para pengusaha dan dapat dilaksanakan. Para pengusaha hanya akan melaksanakan keinginan untuk menanamkan modalnya apabila tingkat pengembaliaan modal dari investasi yang dilakukan, yaitu persentasi keuntungan yang akan diperoleh sebelum dikurangi tingkat bunga uang yang dibayar, lebih besar dari bunga.
c. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan
Mengingat bahwa investasi memerlukan jangka waktu yang relatif lama untuk memperoleh kembali modal yang ditanam dan memperoleh keuntungan sehingga ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan akan sangat diharapkan oleh para investor. Dalam hal ini pengusaha harus meramalkan bahwa apakah keadaan masa depan menunjukan keuntungan yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Ramalan yang menunjukan bahwa keadaan perekonomian termasuk
situasi politik dari keamanan akan menjadi lebih baik lagi di masa depan, yaity diramalkan bahwa harga-harga akan tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi maupun pertambahan pendapatan masyarakat akan berkembang dengan cepat, merupakan keadaan yang mendorong pertumbuhan investasi. Semakin baik keadaan dimasa depan, makin besar tingkat keuntungan yang akan diperoleh para pengusaha. Oleh sebab itu investor akan lebih terdorong untuk melaksankan investasi yang telah atau sedang dirumuskan dan direncanakan.
d. Perubahan dan perkembangan teknologi
Semakin banyaknya teknologi yang dibuat, makin banyak pula kegiatan pembaruan yang akan dilakukan oleh para pengusaha. Untuk melaksanakan pembaruan-pembaruan, para pengusaha harus membeli barang-barang modal yang baru dan adakalanya juga harus mendirikan bangunan-bangunan pabrik/industri yang baru. Maka makin banyaknya pembaruan yang akan dilakukan, maka tinggi tingkat investasi yang akan di capai.
e. Efek pertumbuhan pendapatan nasional
Tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat, pendapatan masyarakat yang tinggi akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah dan akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Dengan kata lain, dalam jangka
panjang apabila pendapatan nasional bertambah tinggi, maka investasi akan bertambah tinggi pula.
f. Keuntungan perusahaan
Semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka akan memungkinkan perusahan atau para investor untuk memperluas usaha dan mengembangan usaha baru sehingga akan meningkatkan investasi dalam perekonomian.
2. Inflasi
Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua macam barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi kecuali kenaikan tersebut membawa dampak terhadap kenaikan harga sebagaian besar barang-barang lain. Kecendrungan untuk menaik terus menerus berarti kenaikan harga selama satu musim atau selama satu periode waktu saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi, seperti misalnya kenaikan harga menjelang hari raya (Soeratno, 2004, p. 177).
Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produksi sangat tidak mengguntungkan. Maka pengusaha lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi, sehingga investasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun,
sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud (Sukirno, 2006, p. 339).
Selain itu dalam kondisi inflasi biasanya pemerintah akan menaikan tingkat bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di dalam masyarakat. Namun kenaikan tingkat bunga tersebut akan menyebabkan investor enggan melakukan investasi karena bunga yang harus dibayarkan menjadi lebih tinggi. Pada kondisi ini, investor akan lebih suka menyimpan dananya di bank dan memperoleh pendapatan dari bunga tabungan dari pada menggunakannya untuk berinvestasi (Soeratno, 2004, p. 182).
Jenis-jenis inflasi menurut Sukirno (2013, p. 333) sebagai berikut :
a. Inflasi tarikan permintaan
Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian bekembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi sehingga menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran yang berlebih ini akan menimbulkan inflasi.
Di samping dalam masa perekonomuan berkembangan pesat, inflasi tarikan permintaan juga dapat berlaku pada masa perang atau ketidakstabilan politik yang terus-menerus. Dalam masa seperti ini pemerintah berbelanja jauh melebihi pajak yang dipungutnya, untuk membiayai kelebihan pengeluaran tersebut pemerintah terpaksa
mencetak uang atau meminjam dari bank sentral. Pengeluaran pemerintah yang berlebih tersebut menyebabkan permintaan agregat akan melebihi kemampuan ekonomi tersebut menyediakan barang dan jasa, maka keadaan ini akan mewujudkan inflasi.
b. Inflasi desakan biaya
Inflasi desakan biaya ini terutama berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerjaan baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikam harga-harga berbagai barang.
c. Inflasi diimpor
Inflasi ini bersumber dari kenaikan harga-harga barang yang diimpor. Inflasi ini akan wujud apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran perusahaan-perusahaan.
3. Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran Pemerintah merupakan instrumen pengukur dimana Pemerintah menentukan seberapa besar peran sektor Pemerintah dan sektor swasta. Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan Pengeluaran Pemerintah yang besar untuk Investasi Pemerintah utamanya dalam
menyediakan infrastruktur seperti jalan, fasilitas keamanan, kesehatan dan pendidikan. Pengeluaran Pemerintah dapat digunakan sebagai penentu pokok jumlah pengeluaran agregat serta penentu pertumbuhan Produk Nasional Bruto rill dalam jangka pendek. Pengeluaran Pemerintah mencerminkan kebijakan Pemerintah. Apabila Pemerintah telah menetapkan suatu kebij akan untuk membeli barang dan jasa maka Pengeluaran Pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah untuk melaksanakan kegiatan tersebut (Mangkosoebroto, 1996, p. 196).
Kenaikan pengeluaran pemerintah harus dipenuhi melalui penurunan investasi dalam jumlah yang sama. Agar investasi turun, tingkat bunga harus naik. Jadi kenaikan pengeluaran pemerintah menyebabkan tingkat bunga meningkat dan investasi menurun. Pengeluaran pemerintah dikatakan crowd out investasi (Mankiw, 2007, p. 66).
Faktor-faktor penentu pengeluaran pemerintah menurut (Sukirno sadono, 2013, 168) :
a. Proyeksi jumlah pajak yang diterima
Dalam menyusun anggaran belanja pemerintah harus terlebih dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang akan diterimanya. Maka makin banyak jumlah pajak yang dikumpulkan, makin banyak pula perbelanjaan pemerintah yang akan dilakukan. b. Tujuan-tujuan ekonomi yang ingin dicapai
Pemerintah penting sekali perannya dalam perekonomian, kegiatannya dapat memanipulasi/mengatur kegiatan ekonomi ke arah yang diinginkan. Beberapa tujuan penting dari kegiatan pemerintah adalah mengatasi masalah pengangguran, menghindari inflasi, dan mempercepat pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
c. Pertimbangan politik dan keamanan
Pertimbangan-pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah. Kekacauan politik, perselisihan di antara berbagai golongan masyrakat dan daerah sering berlaku di berbagai negara di dunia. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kenaikan perbelanjaan pemerintah yang sangat besar, terutama apabila operasi militer perlu dilakukan. Ancaman kestabilan dari negeri luar juga dapat menimbulkan kenaikan yang besar dalam pengeluaran ketentaran dan akan memaksa pemerintah membelanjakan uang yang jauh lebih besar dari pendapatan pajak.
4. Produk Domestik Regional Bruto
Menurut Badan Pusat Statistik produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan di dalam negara tertentu dan dalam satu tahun tertentu. Salah satu manfaat dari PDRB adalah untuk mengetahui tingkat produk yang dihasilkan oleh seluruh faktor produksi, besarnya laju pertumbuhan dan struktur perekonomian pada suatu periode di suatu daerah tertentu. Laju pertumbuhan ekonomi dapat diketahui jika data PDRB dilihat dari sudut
perbandingan besaran (nilai) atas dasar harga konstan, sedangkan struktur ekonomi dapat dilihat dari besarnya sumbangan masing-masing sektor ekonomi terhadap total PDRB.
Menurut Tarigan, (2004) untuk menghitung nilai seluruh produksi yang dihasilkan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu dapat digunakan tiga pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan Produksi (Production Approach)
Pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan nilai produksi barang atau jasa yang diwujudkan oleh berbagai sektor lapangan usaha pada suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun).
b. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
c. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
Pendapatan nasional adalah jumlah nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan inventori/stok dan ekspor neto (ekspor dikurangi impor).
Salah satu faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah pendapatan nasional. Semakin meningkatnya pendapatan nasional yang diproksikan dalam PDB (untuk tingkat nasional) dan PDRB (untuk tingkat regonal) maka terdapat kecenderungan semakin meningkat pula investas yang dilakukan (Sukirno, 2006, p. 130).
C. Hubungan Antara Variabel
1. Hubungan inflasi terhadap investasi (PMDN)
Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produksi sangat tidak mengguntungkan. Maka pengusaha lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi, sehingga investasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun, sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud (Sukirno, 2006, p. 339).
Berdasarkan teori diatas bahwasanya inflasi berpengaruh negatif terhadap investasi hal, karena investor akan mempertimbangan terlebih dahulu untuk menanamkan modalnya jika inflasi disuatu negara tidak stabil, sebab apabila terjadi kenaikan terhadap inflasi akan menyebabkan peningkatkan pada tingkat bunga disuatu negara dan tingkat harga barang-barang sacara umum akan mengalami peningkatan.
2. Hubungan pengeluaran pemerintah terhadap investasi (PMDN)
Kenaikan pengeluaran pemerintah harus dipenuhi melalui penurunan investasi dalam jumlah yang sama. Agar investasi turun, tingkat bunga
harus naik. Jadi kenaikan pengeluaran pemerintah menyebabkan tingkat bunga meningkat dan investasi menurun. Pengeluaran pemerintah dikatakan crowd out investasi (Mankiw, 2007, p. 66).
Berdasarkan teori diatas bahwasanya pengeluaran pemerintah berpengaruh negatif terhadap investasi hal, ini dikarenakan setiap terjadi peningkatan pengeluaran pemerintah maka akan menurunkan permintaan agregat hal tersebut menyebabkan terjadi penurunan pada minat investor untuk melakukan kegiatan investasi.
3. Hubungan produk domestik regional bruto terhadap investasi (PMDN) Salah satu faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah pendapatan nasional. Semakin meningkatnya pendapatan nasional yang diproksikan dalam PDB (untuk tingkat nasional) dan PDRB (untuk tingkat regonal) maka terdapat kecenderungan semakin meningkat pula investas yang dilakukan (Sukirno, 2006, p. 130).
Berdasarkan teori diatas bahwasanya produk domestik regional bruto berpengaruh positif terhadap investasi. Berdasarkan keputusan yang dilakukan saat berinvestasi, investor akan menanamkan modal jika mereka merasa akan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Salah satu faktor penentu proyek investasi yang mendatangkan keuntungan untuk investor di masa yang akan mendatang yakini dengan adanya peningkatan terhadap permintaan barang dan jasa. Peningkatan barang dan jasa memberikan indikasi adanya peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan demikian adanya peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa juga
akan meningkatkan pendapatan, yang akan berpengaruh pada peningkatan proyek investasi.
D. Kerangkan Pikir
Inflasi berpengaruh negatif terhadap investasi hal, karena investor akan mempertimbangan terlebih dahulu untuk menanamkan modalnya jika inflasi disuatu negara tidak stabil, sebab apabila terjadi kenaikan terhadap inflasi akan menyebabkan peningkatkan pada tingkat bunga disuatu negara dan tingkat harga barang-barang sacara umum akan mengalami peningkatan.
Pengeluaran pemerintah berpengaruh negatif terhadap investasi hal, ini dikarenakan setiap terjadi peningkatan pengeluaran pemerintah maka akan menurunkan permintaan agregat hal tersebut menyebabkan terjadi penurunan pada minat investor untuk melakukan kegiatan investasi.
Produk domestik regional bruto berpengaruh positif terhadap investasi. Karena pendapatan yang tinggi disuatu daerah akan membuat pendapatan masyarakat meningkat, meningkatnya pendapatan masyarakat akan meningkatkan permintaan untuk barang dan jasa. Tingginya suatu permintaan akan meningkatkan keuntungan yang diperoleh perusahaan sehingga mendorong lebih banyak dilakukannya investasi.
E. Rumusan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir, maka dapat dirumuskan dugaan hipotesis atau jawaban sementara dalam penelitian sebagai berikut :
1. Diduga bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap investasi (PMDN) di kabupaten dan kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2018.
2. Diduga bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap investasi (PMDN) di kabupaten dan kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2018.
3. Diduga bahwa produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi (PMDN) di kabupaten dan kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2018.
Inflasi (X1) Pengeluaran Pemerintah (X3) Investasi PMDN (Y) Produk Domestik Regional Bruto (X3)