• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI 3 SUSUNAN REDAKSI 3 SALAM REDAKSI 4 DAFTAR ISI. 26 Peran Serta Aparatur Sipil Negara (ASN) Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI 3 SUSUNAN REDAKSI 3 SALAM REDAKSI 4 DAFTAR ISI. 26 Peran Serta Aparatur Sipil Negara (ASN) Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

4 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

3

SUSUNAN REDAKSI

3

SALAM REDAKSI

4

DAFTAR ISI

5

Perlunya Pedoman, Standarisasi Dan Kriteria Dalam Membangun Jalan dan Jembatan Sebagai Sarpras Pendukung Kepentingan Negara.

16

Penghargaan Bagi Para Pejuang

26

Peran Serta Aparatur Sipil Negara (ASN) Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara

33

Drone: Potensi dan Ancaman yang

Terpendam

38

Keberadaan dan Kesinambungan Sumber Daya Hayati Sebagai Komponen Pendukung Pertahanan Negara Perlu Dijaga.

KETERANGAN GAMBAR

Sampul Depan : Uji Roket R-HAN 122B, Pantai Bambang – Lumajang, 12 Juni 2019 Sarasehan DPP LVRI dengan Menhan, 27 Februari 2019

DICC RI – ROK, 2 Mei 2018

Sampul Dalam : Bela Negara Run, 19 Desember 2018

(5)

5 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

43

Simposium Perang Mindset pada Era

Keterbukaan Informasi.

44

Kementerian Pertahanan Bekerjasama dengan RRI Menggelar Konser Kebangsaan

45

Penandatanganan Kontrak Program Bangtekindhan

46

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Dengan LPP-RRI

Daya Hayati Sebagai Komponen Pendukung Pertahanan Negara Perlu Dijaga.

48

Perjanjian Kerja Sama Ditjen Pothan Kemhan dengan LVRI.

49

Roadshow Kesiapan Sumber Daya

Pertahanan

50

FGD tentang Sarana dan Prasarana Nasional untuk Komponen Pendukung Matra Udara Dengan Mabes TNI AU.

(6)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 5

PERLUNYA PEDOMAN, STANDARISASI DAN KRITERIA DALAM

MEMBANGUN JALAN DAN JEMBATAN SEBAGAI SARPRAS

PENDUKUNG KEPENTINGAN NEGARA

Oleh:

Tri Rahayu Irianingsih, S.H, M.H. Pembina Tk I IV/b NIP.196206201987032001

Analis Pertahanan Negara Madya Setditjen Pothan Kemhan

PENDAHULUAN

Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan masih menjadi program prioritas utama yang berkelanjutan dan berkesinambungan oleh pemerintahan saat ini. Dari visi

dan misi yang dicanangkan Nawa Cita yaitu terwujudnya pembangunan jalan dan jembatan yang mantap dalam rangka mendukung kemandirian pemerintah dan masyarakat1.

Infrastruktur jalan dan jembatan sebagai prasarana transportasi darat merupakan bagian dari sarana dan

prasarana yang dipersiapkan sebagai komponen pendukung dalam rangka mendukung sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer2. Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dalam negeri maupun

luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Oleh karena itu, infrastruktur jalan dan jembatan yang dibangun oleh pemerintah mempunyai arti sangat penting, mengingat fungsinya untuk memperlancar pertumbuhan Tol Trans Jawa (sumber: katadata.co.id)

(7)

6 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN perekonomian sebuah bangsa, pemerataan perekonomian, kelancaran lalu lintas, pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) daerah dan sebagainya3. Disamping itu juga sebagai penghubung, keamanan masyarakat lebih merata, pertukaran budaya antar daerah dan mempercepat aktivitas masyarakat di wilayahnya.

Sarana dan prasarana transportasi merupakan bagian dari

infrastruktur. Sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan tertentu. Contoh: bis, taksi, kereta, pesawat, kapal dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana transportasi adalah alat penunjang utama bagi terselenggaranya suatu usaha pembangunan atau proyek prasarana. Contoh: jalan raya, jembatan, rel jalan kereta api dan lain sebagainya.

Bicara masalah infrastruktur, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya membangun rangkaian jalan dan jembatan di seluruh penjuru Indonesia. Bila sebelumnya hanya terpusat di Pulau Jawa, kini sedang dikerjakan sebuah proyek prestisius

jalan lintas Papua4. Selain Papua, pemerintah juga sedang membangun beragam proyek jalan raya lainnya di pulau-pulau lainnya. Di Pulau Kalimantan, pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR telah menyelesaikan dan memfungsikan jalan tol untuk rute Balikpapan menuju Samarinda sepanjang 99,350 km. Di Pulau Sulawesi, dibangun jalan tol dengan rute dari Manado menuju

Bitung sepanjang 39 km yang akan dirampungkan seluruhnya pada bulan September 2019. Di kedua pulau ini, dilakukan preservasi untuk memastikan kondisi infrastruktur.

Di Pulau Jawa sendiri, dicanangkan pembangunan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi. Bila tercapai sepenuhnya, jalan tol ini akan memiliki panjang sebesar 1.167 km. Saat ini, proses pembangunannya telah mencapai 760 km dan telah menghubungkan dua kota dari Jakarta hingga Surabaya tanpa putus. Pembangunan jalan tol Trans Jawa akan membantu distribusi logistik serta turut membangun perekonomian Jembatan Kali Kuto di Tol Trans Jawa (sumber: kontan. co.id)

(8)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 7 negara. Dengan infrastruktur jalan yang

mumpuni, tentunya akan mempermudah arus distribusi barang yang ujungnya akan membuat roda perekonomian terus bergerak.

Di Indonesia saat ini, 90% pengiriman distribusi logistik memanfaatkan jalur darat dan hanya 10% yang menggunakan fasilitas laut. Padahal di negara-negara lain pengiriman logistik melalui darat maksimal berkisar pada angka 75%. Menggerakkan perekonomian menjadi alasan pemerintah gencar membangun serangkaian infrastruktur di pulau-pulau di Indonesia, pemerintah meyakini dengan infrastruktur yang baik akan membuat roda perekonomian berjalan dan mengurangi disparitas harga, terutama di wilayah-wilayah terdalam dan terluar di Indonesia. Namun ada pula infrastruktur jalan layang yang di bangun untuk mengatasi hambatan, menghindari daerah/kawasan yang selalu menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas, melewati persilangan kereta api guna

meningkatkan keselamatan lalu lintas dan efisiensi.

Pemerintah juga membangun jembatan bentang panjang di Ambon dan Pontianak, juga membangun jembatan gantung untuk manusia di Lebak dan Bali. Sedangkan di Jayapura, pemerintah membangun Jembatan Holtekamp. Selain itu juga jembatan dibangun yang melintasi sungai atau laut untuk kepentingan kapal-kapal besar yang lalu lintasnya tidak memiliki hambatan. Jembatan selain memiliki fungsi infrastruktur bisa menjadi ikon wisata dengan menjadi

landmark untuk wilayah setempat.

Proyek pembangunan infra-struktur jalan dan jembatan tersebut, ditangani oleh Direktorat Preservasi Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR sebagai leading

sector bersama pemangku kepentingan (stakeholder) yaitu Kementeriaan Perhubungan, Pemda dan Badan usaha swasta, serta menggandeng pihak kontraktor maupun konsultan BUMN sebagai pelaksana pekerjaan. Gencarnya

Pekerjaan konstruksi jembatan penghubung Purwokerto-Kebumen (sumber: property.kompas.com)

(9)

8 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN pembangunan infrastruktur yang dilakukan saat ini, lebih menitikberatkan pada kepentingan kesejahteraan sementara untuk mendukung kepentingan pertahanan negara, fungsi infrastruktur tersebut belum dipertimbangkan untuk menjadi prioritas. Padahal sewaktu-waktu dalam menghadapi ancaman musuh, infrastruktur jalan dan jembatan akan diberdayakan untuk prasarana alutsista TNI.

PERMASALAHAN

Kementerian PUPR mem-bangun infrastruktur jalan dan jembatan berdasarkan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) yang mengacu pada Peraturan Menteri

Pekerjaan Umum Nomor:

19/PRT/M/2011 tanggal 15 Desember 2011 tentang PersyaratanTeknis Jalan dan Kriteria Teknis Jalan5, dalam Pasal 56 ayat (3) menyebutkan bahwa perencanaan konstruksi jalan mengacu kepada pedoman perencanaan perkerasan jalan yang berlaku, umumnya konstruksi jalan terdiri dari jalan beton dan jalan aspal. Kedua konstruksi jalan tersebut, memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dalam aplikasinyapun berbeda dan masing-masing jenis jalan memiliki kelebihan dan kelemahannya.

Konstruksi, adalah obyek keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area, contoh: konstruksi jalan, konstruksi jembatan dan lain-lain.

Jalan beton, biasa disebut

dengan perkerasan kaku, dimana komposisinya terdiri dari plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah di atas tanah dasar. Plat beton biasanya disebut

sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan. Konstruksi jalan beton ini tergolong kuat, sebab memiliki modulus elastisitas yang tinggi. Dalam ilmu teknik sipil, modulus elastisitas merupakan angka yang digunakan untuk mengukur ketahanan bahan untuk mengalami deformasi elastasis ketika gaya diterpakan pada benda itu. Itu sebabnya, konstruksi jalan beton kerap diterapkan untuk jalan raya dan jalan lingkungan. Tebal jalan beton minimal 20 cm. Kelebihan jalan beton antara lain tahan terhadap genangan air dan banjir; biaya perawatan lebih murah dibandingkan jalan aspal dan direkomendasikan untuk jalan yang mempunyai tanah dasar yang jelek, dan jalan yang lalu lintas kendaraan beratnya cukup tinggi.

Jalan aspal atau biasa disebut

hot mix, merupakan konstruksi jalan yang menggunakan bahan engikat aspal panas. Biasanya campuran aspal panas didatangkan impor, misalnya Shell dan ESSO 2000. Cairan aspal ini sedikit mahal, menghabiskan biaya 60% dari total biaya hot mix. Adapun kelebihan konstruksi jalan aspal antara lain kondisi jalan lebih halus, tidak bergelombang, jalan yang diaspal memiliki warna yang gelap, sehingga memberikan dampak secara psikologis rasa aman dan nyaman. Untuk membuat jalan aspal, biasanya kontraktor atau Pemda sudah menerapkan sistem drainase yang baik. Perawatan jalan ini juga terbilang mudah bila ada yang berlubang, tinggal menggali dan mengganti dengan yang baru pada area jalan yang rusak. Sedangkan kekurangan jalan aspal tidak tahan terhadap genangan air. Untuk itu diperlukan sistem drainase

(10)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 9 yang baik. Jika tidak, jalan akan

berlubang karena adanya genangan air setelah hujan.

Jembatan adalah suatu struktur

konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur sungai, saluran irigasi, danau, kali, jalan raya, jalan kereta api dan lain-lain. Pada umumnya bagian konstruksi suatu bangunan jembatan terdiri dari bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi.

Terkait dengan kepentingan pertahanan negara, sejauh ini belum ada konstruksi jalan maupun jembatan

yang dibangun sesuai

standarisasi/kriteria yang terstruktur untuk mendukung penggunaan alutsista yang ditentukan oleh TNI AD dalam hal ini Direktorat Zeni Angkatan Darat (Ditziad). Satuan Zeni mempunyai tugas pokok memperlancar gerak maju pasukan kawan, menghambat gerak maju pasukan musuh selama mungkin dan menjamin kelangsungan hidup pasukan kawan. Bahkan mampu melayani kebutuhan satuan untuk melakukan manuver baik dalam operasi militer perang (OMP) maupun kebutuhan bantuan kemanusiaan (Civic Mission) untuk bantuan bencana alam (OMSP).

Salah satu bentuk pemberian dukungan dalam rangka memperlancar gerak maju pasukan kawan dilakukan dengan cara menyiapkan konstruksi, salahsatunya jembatan bagi pasukan kawan dalam penyeberangan sungai, seperti Jembatan Bailey, yang standar pembuatannya dirancang dengan baja ringan yang berkualitas tinggi, yang mudah dipindah-pindah. Struktur jembatan memiliki sistem panjang per-panel 3,048 m dengan bentang

jembatan sejumlah kelipatan dari panjang setiap panel. Jembatan ini dirakit dan di install dalam waktu singkat dan cepat dengan sedikit tenaga manual dan alat yang sederhana. Semua komponen disambungkan dengan penjepit, baut dan pengapit. Selain itu ada juga Jembatan Acrow Panel yang merupakan jembatan taktis militer berfungsi untuk menyeberangkan material maupun dukungan logistik. Jembatan ini mempunyai daya dukung yang besar, pemasangannya sangat praktis dan untuk konstruksi 13 petak type 3-1 mampu menahan beban lintasan dengan kapasitas maksimum 70 ton. Spesifikasi teknis jembatan ini dibuat dari paduan logam ringan campur baja dan memiliki kemampuannya lebih kuat. Alat ini mempunyai berat yang relatif ringan, mudah diangkut serta dapat menyesuaikan dengan syarat-syarat teknis, yaitu panjang bentangan jembatan maksimum 39,65 m, lebar jembatan yang dilintasi 4,84 m, lebar jembatan bagian dalam antar panel 5,48 m dan berat beban yang melintas maksimum 70 ton.

Berkaitan dengan standarisasi / kriteria konstruksi jembatan maupun jalan ini bagi kepentingan alutsista TNI perlu dikomunikasikan, dikoordinasi-kan, dikerjasamakan dan diintegraskan antara Kementerian Pertahanan/TNI dengan Kementerian PUPR, Kemenhub dan Pemda bahwa pemanfaatan jalan maupun jembatan yang dibangun, harus bersifat multifungsi selain untuk kesejahteraan juga dapat berfungsi sebagai ruang wilayah pertahanan negara antara lain: jalan dapat berfungsi untuk pendaratan darurat pesawat terbang TNI, jalan dapat dilalui Tank Leopard yang

(11)

10 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN bobotnya rata-rata ± 60 ton, panser, truk tentara dan lain sebagainya. Sedangkan jembatan yang dibangun yang melintasi sungai atau laut harus dapat dilalui lalu lintas kapal-kapal besar TNI dengan mudah dan lancar tanpa hambatan sedikitpun6.

Karena itu, diperlukan pedoman, standarisasi dan kriteria dalam membangun jalan dan jembatan untuk dapat digunakan sebagai sarana prasarana pendukung kepentingan pertahanan negara. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah yang dituangkan dalam RPJMN dan Kebijakan Pertahanan Negara.

ANALISIS

Alasan gencarnya pemerintah membangun rangkaian infrastruktur jalan dan jembatan di seluruh penjuru Indonesia adalah untuk menggerakkan pemerintahan dan perekonomian rakyat Indonesia. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang dilakukan oleh Direktorat Preservasi Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR merupakan perwujudan dari Nawa Cita Pemerintah, utamanya untuk peningkatan aksesibilitas, konektivitas serta pertahanan dan keamanan.

Pembangunan jalan dan jembatan selain untuk kepentingan kesejahteraan, juga perlu memper-timbangkan aspek multifungsi yang juga dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara karena sewaktu-waktu dalam menghadapi ancaman musuh dapat diberdayakan sebagai sarana dan prasarana bagi alutsista TNI.

Karena itu, pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan seyogyanya dilaksanakan sesuai spesifikasi kriteria/standar bagi prasarana alutsista TNI. Walaupun

pernah ada pelibatan Zeni pada tahun anggaran 2017 dengan Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah XI Kalbar dalam membantu membuka lahan di jalan perbatasan Kalbar sepanjang 82 Km7. Namun pembangunan konstruksi jalan perbatasan tersebut hanya karena didasari pertimbangan TNI lebih tahan lama untuk berada di lapangan dan lebih mengerti medan. Karena disadari oleh BBPJN Wilayah XI Kalbar, tantangan pembangunan jalan perbatasan: medannya itu membelah gunung, menyisir perbukitan hutan dan kerawanan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Untuk itulah digandeng TNI-AD dalam hal ini Direktorat Zeni TNI-AD sesuai kesepakatan bersama, pihaknya hanya membantu Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR untuk membuka lahan dengan lebar 25 meter lengkap dan saluran drainase pada sisi kanan-kirinya yang dilanjutkan tahap perkerasan tanahnya.

Kerjasama antara Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR dengan TNI (Direktorat Zeni TNI-AD) sudah berlangsung sejak 2015. Namun TNI membutuhkan jalan perbatasan ini agar dapat tersambung, khususnya dalam konteks menjaga pertahanan dan keamanan. Karena untuk meng-hubungkan satu pos jaga dengan pos jaga lainnya bisa membutuhkan waktu 1,5 sampai 2 hari dan sekarang setelah adanya jalan hanya butuh beberapa jam saja. Dengan demikian infrastruktur jalan yang dibangun lebih difokuskan pada kepentingan kondisi saat ini, yang kemungkinannya belum memenuhi standarisasi atau kriteria jalan maupun jembatan yang akan digunakan untuk sarana dan prasarana alutsista kepentingan pertahanan

(12)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 11 negara, yang sewaktu-waktu

dibutuhkan dalam menghadapi ancaman musuh.

Direktorat Zeni Angkatan Darat (disingkat Ditziad) merupakan salah satu Badan Pelaksana Pusat di tingkat TNI Angkatan Darat, yang bertugas pokok membina dan menyeleng-garakan fungsi Zeni dalam rangka pelaksanaan tugas pokok TNI AD8. Zeni sebagai salah satu kecabangan di dalam TNI AD mempunyai kemampuan melaksanakan fungsi teknis militer, baik di daerah pertempuran maupun daerah pangkalan. Sehingga Satuan Zeni AD dapat diklasifikasikan sebagai satuan bantuan tempur dan satuan bantuan administrasi. Kesatuan ini merupakan kesatuan standar militer di seluruh dunia karena perannya dalam pertempuran sejak zaman purba, karena pada intinya fungsi bantuan tempur Zeni adalah bersifat improvisasi, insidentil, dan menggunakan standar teknik yang khusus dikualifikasikan pada Satuan Zeni.

Zeni Tempur sendiri secara umum baik di luar negeri maupun di Indonesia mempunyai fungsi sebagai pasukan Bantuan Tempur terhadap Pasukan Manuver (Infanteri) berupa Bantuan Tempur Zeni (Banpurzi) dan Bantuan Administrasi Zeni (Banminzi). Banpurzi diaplikasikan pada segala pekerjaan yang bersifat membantu gerak maju pasukan manuver, dan aksi menghambat gerak maju pasukan lawan, sedangkan Banminzi adalah segala upaya kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh prajurit Zeni di segala upaya kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh prajurit Zeni di medan tempur dalam rangka membantu pasukan manuver agar tetap dapat bertahan di luar

perbekalan, peralatan, serta komunikasi. Karena ketiga masalah ini menjadi tanggung jawab satuan korps perbekalan, korps peralatan, dan korps komunikasi. Bantuan Administrasi Zeni hanya bersifat kebutuhan yang bersifat taktis dan teknis di medan tempur. 9 (sembilan) tugas Pokok Zeni AD terdiri dari: konstruksi, destruksi, rintangan, samaran, penyeberangan, penyelidikan, perkubuan, penjinakan bahan peledak (jihandak), serta nuklir – biologi - kimia (Nubika) pasif. Salah satu contoh jalan nasional lintas timur akses utama penghubung antara Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi yang dibangun pada tahun 1985/1986 s.d 1993/1994. Jalan utama tersebut merupakan salah satu arus lalu lintas yang sangat padat namun saat ini kondisinya sudah rusak parah, sebagaimana diberitakan di Media Indonesia pada tanggal 14 Mei 2019, yang mengharapkan agar Kementerian PUPR segera memperbaiki jalan tersebut. Awal pelaksanaan pem-bangunan jalan tersebut dengan lebar perkerasan yang ada, rata-rata 6,00 m dan bahu jalan 0,75 - 1,50 m yang tidak perkerasan yang ada, rata-rata 6,00 m dan bahu jalan 0,75 - 1,50 m yang tidak sebanding dengan lalu lintas kendaraan yang melewatinya. Hal ini dirasakan berpengaruh besar terhadap penurunan kapasitas jalan yang ada. Untuk menyeimbangkan jalan tersebut dilakukan dengan pelebaran pada ruas jalan sebagai bottle neck. Pelaksanaan pembangunan jalan seperti ini, tentunya tidak dapat mengakomodir untuk mendukung mobilitas bagi alutsista TNI yang sewaktu-waktu

(13)

12 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN dibutuhkan saat menghadapi ancaman musuh. Hal ini dikarenakan alutsista TNI seperti: kendaraan taktis Jip Tempur P6 ATAV (All Terrain Assault

Vehicle), panser badak , MPCV atau

kendaraan tempur multiguna yang membawa radar sistem komunikasi untuk satuan penembak serta sarana alutsista lainnya dirancang penggunaannya pada jalan yang luas, mulus dan panjang. Dengan demikian agar dapat berfungsinya alutsista TNI saat dibutuhkan maka jalan maupun jembatan yang dibangunpun harus memenuhi standarisasi/kriteria yang ditentukan oleh TNI, diantaranya: 1. Kondisi jalan harus kelas 1 dan 2

sedangkan untuk jembatan kelas A dan B (Q=4,46 kNm2), lebar 6 m dan panjang 40 km, kondisinya luas dan mulus serta memiliki traksi offroad lebih besar dan lebih mudah bermanuver, termasuk untuk berputar 180 derajat di permukaan berlumpur, di sungai dengan kedalaman < 4 m.

2. Memiliki badan jalan yang kuat, karena biasanya kendaraan berantai diangkut dengan kereta, truk tronton atau truk pengangkut khusus.

3. Jalan beraspal untuk menggerakkan roda bergerak lebih cepat dan dapat menempuh jarak yang cukup jauh.

4. Memiliki tekanan tanah yang lebih tinggi dengan berat yang sebanding, karena treknya memiliki luas permukaan yang lebih besar saat bersinggungan dengan tanah. 5. Tingginya tekanan tanah,

meningkatkan kemungkinan kendaraan tidak bisa bergerak di lumpur, salju atau pasir.

Terselenggaranya infrastruktur jalan dan jembatan bersifat multifungsi dimaksud, selain untuk kesejahteraan juga dirancang berwawasan kepentingan pertahanan negara merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan/TNI perlu menjembatani pelaksanaan Jembatan Bahteramas Kendari terpanjang ketiga di Indonesia (sumber: ekonomy.okezone.com)

(14)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 13 pembangunan jalan maupun jembatan

sebagai sarpras pendukung kepentingan negara dengan Kementerian PUPR, Kemenhub dan Pemda dengan membangun komunikasi, koordinasi, kerjasama dan integrasi lintas sektoral.

KESIMPULAN

Kedepan, pembangunan infra-struktur jalan dan jembatan perlu dilaksanakan sesuai spesifikasi kriteria atau standarisasi, yang memiliki multifungsi. Hal ini agar mewadahi penggunaan sarana dan prasarana bagi alutsista TNI untuk kepentingan pertahanan negara dalam menghadapi ancaman musuh. Sehingga Infrastruktur jalan maupun jembatan dapat digunakan sebagai aksesbilitas, konektivitas serta pertahanan dan keamanan untuk prasarana Alutsista TNI guna kepentingan pertahanan negara.

REKOMENDASI

1. Kemhan dan TNI perlu menyusun pedoman, standarisasi dan kriteria sarana dan prasarana transportasi untuk kepentingan pertahanan negara.

2. Kedepan, memasukkan Kebijakan Pertahanan Negara khususnya pedoman, standarisasi dan kriteria sarana dan prasarana infrastruktur pendukung kepentingan

pertahanan negara, kedalam agenda prioritas pembahasan

penyusunan Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan

Bappenas dan

Kementerian/lembaga terkait. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan infrastruktur memiliki manfaat multifungsi yaitu selain untuk kesejahteraan juga berwawasan untuk kepentingan pertahanan negara.

3. Sebagai implementasinya, agar membangun komunikasi, koordinasi, kerjasama dan integrasi lintas sektoral antara Kementerian Pertahanan/TNI dengan Kementerian PUPR, Kemenhub dan Pemda dalam membangun infrastruktur jalan dan jembatan guna kepentingan pertahanan negara sebagai aksesibilitas, konektivitas serta pertahanan dan keamanan. Hal ini dilakukan

dengan membuat

MoU/Kesepakatan bersama/Kerja sama.

4. Kemhan segera melakukan inventarisasi pendataan infrastruktur jalan dan jembatan,

yang telah memenuhi

standarisasi/kriteria yang ditentukan oleh TNI guna kepentingan pertahanan negara.

REFERENSI

1 Joko Widodo/Jusuf Kalla, Presiden. Jelang Pilpres 2014. Program Nawa Cita. 2 https://www,academia.edu Kartika,Tika, Pembangunan Infrastruktur Jalan dan

Jembatan yang berwawasan Lingkungan.

3 pendidikanriyan.blogspot.com Pembangunan Dalam Bidang Infrastruktur (Jalan dan Jembatan). 30 Desember 2012.

4 Gunadha, Reza/Fauzi,Achmad. https://www,suara.com Kementerian PUPR Akui Proyek Trans Papua Libatkan TNI AD Buat Buka Jalan. 7 Desember 2018.

(15)

14 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

5 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 19/PRT/M/2011 tanggal 15 Desember 2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan Dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan.

6 https://jakartagreater.com Penjelasan TNI AD tentang Tank Leopard-Jakarta Greater. 31 Maret 2014.

7 https://m.katadata.co.id Libatkan TNI,Kementerian PUPR Bangun Jalan 520 Km di Perbatasan. 20 Maret 2017.

8 ditzi-tniad.mil.id.Buletin Militer. Jembatan Bailey/Acrow Untuk Zeni TNI AD - Yudha Karya Bhakti

(16)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 15

PENGHARGAAN BAGI PARA PEJUANG

Oleh:

Dra. Marwitri, M.M.Han

Pembina Tk.I IV/b NIP. 196812311994032064

Analis Pertahanan Negara Madya Setditjen Pothan Kemhan

“Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Pahlawan-nya”, dan “Jangan sekali-kali kita melupakan Sejarah”, itulah ucapan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pada pidatonya.

Ungkapan ini menggambarkan bahwa betapa pentingnya sejarah dalam kelanjutan bangsa, dan perjuangan dalam mewujudkan kemerdekaan dari tangan penjajah merupakan bukti bagi bangsa, dibalik pejuangan terukir nama pendiri bangsa. Karena kemerdekaan NKRI tidak akan terlepas dari kenangan akan jasa-jasa para pahlawan yang telah merebut dan mempersembahkan kemerdekaan seperti yang kita rasakan saat ini.

Pahlawan adalah seseorang yang dinilai mulia karena pebuatannya memiliki pengaruh dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Dalam bahasa Inggris pahlawan disebut ”hero” yang diberi arti satu sosok legendaris

dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian, kemampuan serta diakui sebagai keturunan dewa1. Pahlawan adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membela yang lemah walaupun ancamannya nyawa melayang. Sebagai penerus bangsa, kita harus menghargai jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang/pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kedaulatan NKRI.

(17)

16 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN Untuk penghargaan dan penghormatan dari Pemerintah dan Rakyat Indonesia secara tulus kepada para pahlawan yang perjuangan dan pembelaan kepada Kemerdekaan RI dengan berjuang mengangkat senjata, membela kemerdekaan dan kebebasan tanah airnya maka pemerintah Indonesia memberi tanda kehormatan sebagai Veteran RI seperti yang telah diatur dalam UU No. 15 tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia. Presiden Republik Indonesia juga telah menetapkan, bahwa tanggal 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional dan dinyatakan bukan hari libur.Peringatan Hari Veteran Nasional dimaksudkan untuk mengenang gencatan senjata pada tanggal 10 Agustus 1949 setelah para Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia melawan Tentara Belanda.

Maksud penulisan ini adalah agar pembaca mengerti siapa saja yang dapat disebut veteran, apa hak-haknya dan bagaimana proses administrasi untuk menjadi veteran RI. Dengan tujuan untuk menjadi pengetahuan bagi personil Kemhan khususnya personil Ditjen Pothan maupun pembaca agar dapat membantu menginformasikan kepada calon veteran, walaupun dari Direktorat Veteran telah mensosialisasikannya kebeberapa daerah maupun melalui media elektronik, namun masih ada dari saudara-saudara kita yang belum mengerti tentang hal ini.

PEMBAHASAN

Veteran kini bisa memperoleh hak-haknya yang dijamin negara, Negara dalam menjamin hak-hak Veteran sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia2, yang

ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 20143 serta perubahan-perubahannya. Sebagian isi dari peraturan pelaksana Undang-Undang ini mengatur tentang jenis dan hak-hak para Veteran.

1. Jenis Veteran RI

Jenis Veteran Republik Indonesia ditentukan berdasarkan peristiwa Keveteranan.Secara umum ada tiga tingkatan Veteran, yang tertinggi adalah Veteran perang kemerdekaan, kemudian Veteran perang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari agresi luar negeri, dan selanjutnya adalah Veteran perang untuk membela kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menjadi sekutunya.Berdasarkan tingkat Keveterannya,Veteran Republik Indonesia terdiri atas :

a. Veteran Pejuang Kemer-dekaan Republik Indonesia,

mereka yang berjuang pada periode 17 Agsutus 1945 s/d 27 Desember 1949 dengan pembagian golongan : - Golongan A berjuang minimal 4 Tahun - Golongan B berjuang minimal 3 Tahun - Golongan C berjuang minimal 2 Tahun - Golongan D berjuang minimal 1 Tahun - Golongan E berjuang minimal 6 bulan.

b. Veteran Pembela Trikora,

mereka yang berjuang pada periode 19 Desember 1961 s.d 01 Mei 1963 dengan pembagian golongan :

(18)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 17 - Golongan A berjuang minimal 18 bulan - Golongan B berjuang minimal 12 bulan - Golongan C berjuang minimal 6 bulan - Golongan D berjuang minimal 3 bulan

- E berjuang kurang dari 3 bulan

c. Veteran Pembela Dwikora,

mereka yang berjuang pada periode 3 Mei 1964 s.d 11 Agustus 1966 dengan pembagian golongan : - Golongan A berjuang minimal 27 bulan - Golongan B berjuang minimal 18 bulan - Golongan C berjuang minimal 12 bulan - Golongan D berjuang minimal 6 bulan - Golongan E berjuang minimal 3 bulan

d. Veteran Pembela Seroja.

mereka yang berjuang pada periode 21 Mei 1975 s.d 17 Juli 1976 dengan pembagian golongan : - Golongan A berjuang minimal 14 bulan - Golongan B berjuang minimal 12 bulan - Golongan C berjuang minimal 9 bulan - Golongan D berjuang minimal 6 bulan - Golongan E berjuang minimal 3 bulan.

e. Veteran Perdamaian, mereka

yang bertugas sebagai pasukan perdamaian ber-dasarkan mandat PBB.

2. Hak Veteran RI

Warga Negara yang telah ditetapkan menjadi Veteran RI ini, berhak mendapat tanda kehormatan, tunjangan dan hak-hak lain sesuai PP Nomor 23 Tahun 2016 tentang Penggolongan Veteran RI

(19)

18 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN Perubahan atas PP Nomor 67 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 20124.

Peraturan Menhan yang menjadi peraturan pelaksanaan-nya, yakni Nomor 35 Tahun 2014 tentang

Pemberian Tanda Kehormatan5, Nomor 36 Tahun 2014 tentang Dukungan Pembina Administrasi Veteran, dan Nomor 37 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pemakaman Veteran6.

Adapun hak-hak Veteran tersebut berupa:

a. Tunjangan Veteran (Tuvet) yang diberikan bervariasi sesuai dengan golongannya

b. Dana kehormatan Veteran (Dahor) c. Dana bantuan kesehatan

d. Tunjangan bagi janda, duda atau anak yatim Veteran

e. Santunan cacat, tunjangan cacat dan alat bantu untuk tubuh Veteran

Besaran Tunjangan Veteran RI terbaru setelah Pemerintah menaikkan tunjangan Veteran RI sebesar 25%

No Penggolongan Tunjangan Keterangan

1 Dana Kehormatan Rp. 938.000,- Bagi Veteran RI yang telah mendapatkan Hak Pensiun diberikan Tunjangan Veteran sebesar 50% 2 Veteran Pejuang • Golongan A • Golongan B • Golongan C • Golongan D • Golongan E Rp. 2.000.000,- Rp. 1.938.000,- Rp. 1.875.000,- Rp. 1.813.000,- Rp. 1.750.000,- 3 Veteran Pembela Rp. 1.750.000,-

4 Janda,Duda,atau Yatim Piatu Veteran • Golongan A • Golongan B • Golongan C • Golongan D • Golongan E Rp. 1.813.000,- Rp. 1.750.000,- Rp. 1.625.000,- Rp. 1.563.000,- Rp. 1.500.000,-

5 Janda, Duda, atau Yatim-Piatu Veteran Pembela

Rp.1.500.000,-

6 Janda, Duda, atau Yatim Piatu Veteran Anumerta Pejuang

Rp.1.813.000,-

(20)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 19 sesuai yang telah diatur dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 20187 sebagai berikut:

Untuk mendapatkan hak-haknya seorang Veteran harus mengajukan dan menyelesaikan administrasi sesuai dengan persyaratan dan prosedur yang berlaku yaitu melalui :

a. Tingkat Kabupaten Tim Penyaringan II (TPII) yaitu: Kanminvet, Lantamal, Lanud atau Polda

b. Kemudian diproses di Tingkat Provinsi Tim Penyaringan I (TPI) yaitu: Babinminvetcaddam, Diswatpersal, Diswatpersau atau Birowatpers SSDM Polri

c. Dilanjutkan kepada Direktorat Veteran Ditjen Pothan Kemhan (Cq Subdit Minvet/Tim Penyaringan Pusat (TPP) untuk penerbitan Surat Keputusan, tentang Tunjangan Veteran (Tuvet), Tanda Kehormatan (Tahor),Tunjang janda, duda dan yatim piatu Veteran (Tundayatu), dan

d. Untuk pembayaran Tunjangan Veteran, Tunjang janda, duda dan yatim piatu Veteran dilaksanakan oleh PT Taspen.

Mulai tahun 2019, untuk penerbitan surat keputusan harus melalui sidang yang dilaksanakan setiap triwulan dengan mengundang para Kababinminvet untuk mempertanggung-jawabkan

data/berkas yang diajukan. Sidang penerbitan Tanda Kehormatan Veteran ini bertujuan, agar penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah tepat orang, tepat administrasi dan tepat waktu maka perlu dilakukan suatu prosedur administrasi sehingga dapat diproses secara cepat, tepat dan tidak ada indikasi penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan Kep Veteran RI.

Data/berkas yang akan diajukan sidang benar-benar data yang sudah melalui penelitian dan penyaringan di TP II dan TP I, sehingga tidak ada berkas Veteran yang dikirimkan langsung/berkas siluman di TPP untuk diproses.

Sidang ini juga berguna untuk menyeleksi berkas Cavet yang sudah ada di TPP agar tidak dikirim kembali dari TP I, sedangkan berkas yang kurang lengkap atau tidak sesuai persyaratan dibawa kembali oleh para Babinminvet untuk dileng-kapi sehingga tidak terjadi penumpukan digudang.

Sesuai Perpres Nomor 79 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran RI, selain hak-hak Veteran RI yang disebutkan diatas ada hak-hak tertentu yang dapat diterima oleh Veteran RI, hak-hak tersebut diatur tersendiri oleh Peraturan Menteri dibidangnya masing-masing, hak-hak tersebut seperti: a. Keringanan bayar PBB sesuai

dengan kebijakan daerah

b. Keringanan pembayaran biaya angkutan jasa transportasi milik negara

c. Keringanan biaya pendidikan untuk anak Veteran RI yang berusia di bawah 25 tahun

d. Jaminan kesehatan

e. Pemakaman di taman makam pahlawan bagi mereka yang mendapatkan bintang gerilya f. Bimbingan usaha kecil dan

menengah

g. Hak memperoleh perlindungan hukum.

Untuk memastikan layanan terbaik bagi Veteran RI, dan memantapkan soliditas dan kerjasama antar Kementerian/Lembaga untuk

(21)

20 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN tercapai-nya kesejahteraan Veteran RI, setiap tahunnya Direktorat Veteran Ditjen Pothan Kemhan melaksanakan Rakor dan Sarasehan Veteran RI. Melalui kegiatan ini dihasilkan solusi untuk terus meningkatkan kesejahteraan Veteran RI.Dari hasil kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2019 ini didapatkan suatu pemikiran dan informasi sebagai berikut:

a. Pemerintah perlu memberikan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pejuang padaperistiwa Keveteranan Seroja terhitung tanggal 18 Juli 1976 sampai dengan tahun 1998 agar dapatbergabungmenjadi anggota Veteran RI seperti pejuang Veteran lainnya untuk memperoleh hak-haknya sehingga kesejahteraan pejuang menjadi semakin baik. Dengan suatu pertimbangan bahwa perjuangan Integrasi Timtim dan Operasi Seroja selama 24 tahun yang dihadapi adalah pihak asing/negara lain, karena secara hukum Internasional Timtim belum diakui sebagai wilayah Indonesia, termasuk oleh Indonesia sendiri. Sehingga para pejuang Seroja yang berjuang dari Juni 1976 sampai dengan September 1999 memenuhi

syarat untuk mendapatkan Lencana Seroja, karena risiko yang dihadapi pasca Juni 1976 masih tinggi dan tidak kalah berat dibanding periode 1975 – juni 1976.Hal ini demi memberikan rasa keadilan dan dapat mengakomodir setiap warga negara Indonesia yang terlibat dalam peristiwa atau pertempuran untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara Republik Indonesia, untuk itu perlu adanya perubahan Undang-Undang sebagai suatu Peristiwa Keveteranan guna mewadahi setiap warga negara Indonesia yang terlibat dalam peristiwa atau pertempuran untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara Republik Indonesia. Dengan belum terwadahinya Pejuang Seroja tersebut dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia,maka perlu adanya revisi dari regulasi Keveteranan RI.

b. Optimalisasi pelayanan serta mekanisme dan prosedur penerbangan guna meningkatkan kesejateraan Veteran RI, antara lain berupa keringanan harga tiket (harga paling tinggi 75% dari tarif batas atas penumpang kelas Sarasehan Veteran RI

(22)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 21 ekonomi sesuai pasal 21 PM 14

tahun 2016).

c. Kemendagri telah menerbitkan Radiogram (RDG) Mendagri No.901/10055/SJ tanggal 16 November 20188, yang memberitakan bahwa LVRI merupakan organisasi yang dibentuk Pemerintah melalui Keppres 18 Tahun 2018 tentang Pengesahan ADART LVRI. Berdasarkan hal tersebut organisasi LVRI tidak memerlukan Surat Keterangan dalam proses hibah/bantuan kerjasama dengan Pemerintah, dan melalui radiogram tersebut Kemendagri mendorong Pemda Provinsi memberikan dukungan, dorongan dan bimbingan terhadap kegiatan LVRI. d. Kemenkeu sedang merevisi UU No.28 tahun 2009 tentang Pembebasan PBB bagi Veteran Pejuang Kemerdekaan, Pejuang Pembela Kemerdekaan RI, Penerima Tanda Jasa Bintang Gerilya dan Janda/Duda Veteran RI.

e. Saat ini Pemda DKI Jakarta, telah membebaskan Pajak bagi Veteran RI dan keluarganya9.

f. Untuk Pelayanan Kesehatan, saat ini dana BPJS bagi Veteran dibayarkan oleh Kemenkeu, namun saat ini sementara hanya bagi Veteran yang sudah memiliki Tuvet. g. Di Pemda DKI Jakarta belum terdapat Taman Makam bagi Veteran RI, karena yang ada saat ini baru taman makam pahlawan utama.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Perlunya perhatian dari Pemerintah, agar pejuang Seroja terhitung tanggal 18 Juli 1976 sampai dengan Tahun 1998 untuk dapat bergabung menjadi anggota Veteran RI seperti pejuang Veteran lainnya untuk memperoleh hak-haknya.

2. Segera Revisi Regulasi Keveteranan RI, khususnya dalam penggolongan dan masa bakti Veteran Pembela Seroja, agar pejuang Seroja terhitung tanggal 18 Juli 1976 sampai dengan tahun 1998 untuk dapat bergabung menjadi anggota Veteran RI seperti pejuang Veteran lainnya untuk memperoleh hak-haknya.

3. Veteran RI adalah pejuang bangsa yang perlu diperhatikan hak-haknya dan kesejahteraannya, perhatian Pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan Veteran RI saat ini semakin baik, begitu pula dengan yang telah ditunjukkan oleh Kementerian dan Lembaga Non Kementerian serta Pemerintah Daerah.

4. Direktorat Veteran Ditjen Pothan akan terus mensosialisasikan tentang Keveteran RI kepada seluruh lapisan masyarakat dan segera melaksanakan kordinasi lebih lanjut dengan K/L terkait dan Pemda, guna memotivasi agar K/L dan Pemda dapat membantu Veteran RI secara optimal dalam memperoleh Hak-Hak tertentu lainnya untuk kesejahteraan atau keringanan biaya bagi Veteran RI.

REFERENSI

1 Pengertian Pahlawan Oktober 2010 diakses 15 April 2019 dari Bio-Kristi No.56 Oktober 2010 http://biokristi.sabda.org/arti_pahlawan

(23)

22 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

3 Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012.

4 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012.

5 Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 35 Tahun 2014 tentang pemberian tanda kehormatan Veteran Republik Indonesia.

6 Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 37 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan pemakaman Veteran Republik Indonesia.

7 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2018tentang Perubahan atasPeraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012.

8 Radiogram (RDG) Mendagri No.901/10055/SJ tanggal 16 November 2018

9 Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 42 Tahun 2019 tanggal 24 April 2019, tentang Pembebasan Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan Kepada Guru Dan Tenaga Kependidikan, Dosen Dan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi, Veteran Republik Indonesia, Perintis Kemerdekaan, Penerima Gelar Pahlawan Nasional, Penerima Tanda Kehormatan, Mantan Presiden Dan Mantan Wakil Presiden, Mantan Gubernur Dan Mantan Wakil Gubernur, Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia/ Kepolisian Republik Indonesia Dan Pensiunan Pegawai Negeri Sipil

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 14 tahun 2016, tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga berjadwal Dalam Negeri

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 68 Tahun 2014tentang Keringanan Pembayaran Biaya Penggunaan Transportasi Jasa Angkutan Penumpang Milik Negara Bagi Veteran RI

(24)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 23

PERAN SERTA APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) SEBAGAI

KOMPONEN CADANGAN PERTAHANAN NEGARA

Oleh :

Dra. Elita Tamami, M.Si

Pembina Tk I IV/b NIP. 196105311992032001

Analis Pertahanan Negara Madya Setditjen Pothan Kemhan

Indonesia merupakan salah satu negara terluas di dunia dengan total luas wilayah negara 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Secara geografi letak Indonesia sangat

strategis,karena berada diposisi silang antara 2 benua (Asia dan Australia) dan 2 Samudra (Pasifik dan Hindia). Hal sudah barang tentu akan memiliki dampak serta pengaruh baik positif maupun negatif. Dampak serta pengaruh positifnya diantaranya menjadi alur/jalur perdagangan internasional yang bisa menghasilkan devisa bagi negara. Dampak dan serta pengaruh negatip diantaranya pengawasan teritorial yang sulit. Indonesia merupakan negara

kepulauan, banyaknya pulau di Indonesia membuat pemerintah sulit melakukan pegawasan terhadap wilayah teritorial. Hal ini menyebabkan menjadi rentan terhadap ancaman bagi keutuhan wilayah, kedaulatan negara Indonesia. Menghadapi hal tersebut

diperlukan pertahanan Negara yang tangguh.

Sebagaimana tercantum Pasal 6 UU No 3 Tahun 2002 mengamanatkan Pertahanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun dan membina kemampuan daya tangkal negara dan bangsa, serta menanggulangi setiap ancaman.

Pertahanan negara yang tangguh terwujud dengan keterlibatan seluruh sumber daya yang ada baik sumber daya manusia, sumber daya Gambar Kegiatan Sosialisasi tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan

(25)

24 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN alam dan sumber daya buatan serta sarana prasana melalui bela negara.

Berlandaskan pasal 9 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 20021, bela negara adalah sikap dan perilaku warga

negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari peran serta komponen pertahanan negara yakni komponen utama (TNI), komponen cadangan dan komponen pendukung dalam menghadapi ancaman militer maupun ancaman non militer.

Salah satu unsur dari komponen pertahanan negara khususnya komponen cadangan adalah warga negara. Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai bagian warga negara dapat dilibatkan sebagai komponen cadangan pertahanan negara.

Tujuan penulisan ini memfokuskan peran serta ASN sebagai komponen cadangan untuk memperkuat komponen utama pertahanan negara.

Namun di satu sisi keberadaan ASN sebagai komponen cadangan masih menghadapi permasalahan/ kendala diantaranya belum terdapatnya landasan hukum yang memayungi keberadaan ASN sebagai unsur komponen cadangan pertahanan negara.

KONDISI

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah2.

Pasal 23 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 ASN memiliki kewajiban yakni menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan Sumber : https://www.google.com/diagram+perbandingan+tentara+aktif+,

(26)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 25 kesatuan bangsa dapat dilaksanakan

dalam berbagai macam cara salah satunya melalui fungsi ASN yang terdapat pada yaitu Perekat dan Pemersatu Bangsa. UU Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 10 disebutkan bahwa ASN memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu sebagai Pelaksana Kebijakan Publik, Pelayan Publik serta Perekat dan Pemersatu Bangsa. Perekat dan Pemersatu Bangsa memiliki makna yang sangat luas. Hal ini berarti fungsi ASN bukan hanya pada tugas kedinasan, melainkan diluar tugas kedinasan.

Jumlah ASN yang besar (± 4,5 juta) dapat diwujudkan sebagai komponen cadangan dan menjadi

modal untuk memperkuat komponen utama pertahanan negara, Mengingat jumlah komponen utama pertahanan negara (± 438.410 orang jumlah

personil TNI) saat ini belum memenuhi kebutuhan standar organisasi, sedangkan pengadaan personil baru hanya mampu untuk memelihara kekuatan yang ada. Oleh karena itu keberadaan komponen cadangan untuk memperkuat komponen utama pertahanan negara diperlukan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan komponen cadangan pertahanan negara yang ada beberapa negara.

Mengacu pada diagram di atas salah contoh yang dapat diambil negara Israel yang mempunyai tentara aktifnya 176.500 orang sedangkan jumlah tentara cadangan 445.000 orang dengan luas wilayah 27.799 km2. Bila hal ini dibandingkan

dengan Indonesia yang mempunyai tentara aktifnya (komponen utama/TNI yang tersedia 438.410 orang, tentara cadangan/komponen cadangan belum Kegiatan Sosialisasi tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan Negara

(27)

26 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN terbentuk dengan luas wilayah negara 7,81 juta km2 serta jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 267 juta jiwa3. Dihadapkan dengan jumlah komponen utama/TNI,maka 1 orang TNI : 600 penduduk Keadaan ini sangat rentan bagi kedaulatan negara serta keutuhan wilayah. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan salah satunya dengan komponen cadangan pertahanan negara khususnya dengan pemberdayaan ASN.

PERMASALAHAN

Keberadaan ASN sebagai komponen cadangan sangat strategis, mengingat jumlahnya yang cukup besar (± 4,5 juta) dapat dijadikan pengganda kekuatan komponen utama. Disamping itu pula salah fungsinya sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Rancangan Undang-Undang Pengelolaaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara mencantumkan keberadaan ASN sebagai komponen cadangan pertahanan negara4. Keikutsertaan ASN dalam konsep di RUU tidak akan menyebabkan putusnya hubungan kerja dengan instansi atau tempat bekerja dan tetap memperoleh hak.

Namun ada kendalanya sampai saat ini payung hukum tersebut belum disahkan menjadi Undang-Undang. Permasalahan yang berkaitan dengan pembentukan ASN sebagai komponen cadangan antara lain:

a. Belum Selarasnya Landasan Hukum Strategi Pertahanan Negara.

Makin variatifnya potensi ancaman pertahanan negara, maka menuntut diperlukannya pengelolaan pertahanan negara

secara lebih integratif, efektif, dan efisien, diantaranya dengan peningkatan kemampuan dan peran lembaga-lembaga terkait. Belum tuntas dan masih terbatasnya kerja sama antar institusi menjadikan pentingnya sebuah kerangka kebijakan yang mampu mengintegrasikan berbagai kebijakan pertahanan negara yang sudah ada. Kerangka kebijakan tersebut bersifat memayungi berbagai kebijakan pertahanan negara yang telah ada sebelumnya dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan diatasnya.

b. Belum disahkan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (RUU PSUDN )

Permasalahan yang dihadapi dalam pembentukan komponen cadangan pertahanan negara belum disahkannya Rancangan Undang-Undang yang berkaitan komponen cadangan pertahanan negara dalam hal ini Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Manusia (RUU PSDN) untuk Pertahanan Negara sangat mempengaruhi

dalam merealisasikan

pembentukan komponen

cadangan.

c. Belum terinventarisir dan terklasifikasinya kebutuhan komponen cadangan pertahanan negara khususnya yang berkaitan dengan ASN

Yang menjadi pertanyaan apakah seluruh ASN yang berusia maksimal 45 Tahun wajib menjadi komponen cadangan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilihat kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh TNI yang

(28)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 27 berkaitan dengan SDM/ASN

sebagai komponen cadangan pertahanan negara. Sampai saat ini sambil menunggu disahkannya RUU PSDN inventarisasi dan klasifikasi kebutuhan akan ASN oleh TNI belum terlaksana.

d. Masih rendahnya pemahaman dan partisipasi ASN dalam Sistem Pertahanan Negara

Sebagaimana tercantum dalam UU No.3 Tahun 2002 bahwa pertahanan negara merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa/warga negara. Namun partisipasi warga negara atau masyarakat dalam hal ini ASN sebagai bagian dari sistem pertahanan dan keamanan belum dapat diterapkan atau berjalan dengan baik, sehingga pelaksanaan fungsi pertahanan belum sepenuhnya meng-integrasikan peran serta atau partisipasi ASN. Sebagaimana tujuan sistem pertahanan negara, masyarakat/ASN dapat berperan serta ikut menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan dari ancaman. Ancaman tersebut bersifat militer dan non-militer, bersifat internal maupun eksternal, fisik dan non-fisik serta berifat multi- dimensional, meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya.

PEMBAHASAN

Untuk menerapkan kebijakan yang telah dirumuskan, maka dibutuhkan beberapa strategi yang relevan dengan kebutuhan, sehingga diharapkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Untuk melaksanakan pem-bangunan

pertahanan dan keamanan dibutuhkan beberapa strategi yang mencakup :

a. Menyelaraskan Landasan Hukum Strategi Pertahanan Negara

Upaya pertahanan negara sesuai dengan amanat UUD 1945 dilaksanakan dengan Sistem pertahanan yang bersifat semesta (Sishanta). Amanat ini telah diupayakan pengembangannya melalui berbagai upaya

pembangunan

komponen-komponen sistemnya, namun belum menggambarkan per-kembangan sistem tersebut sesuai dengan kebutuhan masa depan. Sishanta yang sebelumnya telah diupayakan penataannya, sejak amandemen UUD 1945 sampai sekarang belum ditata kembali secara menyeluruh kedalam berbagai peraturan perundang-undangan. Penataan baru sebatas pada kekuatan utama UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara RI dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Sedangkan tentang rakyat sebagai kekuatan cadangan sama sekali belum dijabarkan. UU No. 27 Tahun 1997 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi yang telah ada perlu disesuaikan kembali karena dasar yang digunakan sudah berbeda.

Dalam rangka rencana pembangunan Sishanta, maka perlu dilakukan penyempurnaan perangkat perundang-undangan pertahanan negara dengan melibatkan berbagai instansi yang terkait, didahului dengan kajian, uji coba dan sosialisasi konsep.

(29)

28 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

b. Mengesahkan RUU PSDN (Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional) untuk Pertahanan Negara

Sejalannya penyelarasan Landasan Hukum strategi Pertahanan Negara maka gagasan untuk mensahkan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (RUU PSDN), yang substansinya dapat menampung setiap upaya pertahanan negara dengan Sishanta. Konsep UU tersebut tentunya sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang ada serta tidak bertentangan dengan peraturan diatasnya harus segera direalisasikan. Karena hal ini sangat

mempengaruhi dalam

pembentukan komponen cadangan pertahanan negara.

c. Menginventarisir dan meng-klasifikasi ASN Komponen Cadangan Pertahanan Negara.

Keberadaan Unsur ASN sebagai komponen cadangan pertahanan negara untuk memperkuat komponen utama harus dilakukan berdasarkan kebutuhan TNI. Sehingga pembentukan ASN komponen cadangan pertahanan negara memenuhi sasaran dan target yang dibutuhkan berdasarkan matra yang ada. Hal ini mempengaruhi pula dalam dukungan pendanaan untuk penyelenggaraan pembentukan, pembinaan,pemberhentiaan dan pengembalian ASN komponen cadangan pertahanan negara.

d. Meningkatkan pemahaman dan partisipasi ASN dalam Sistem Pertahanan Negara.

Keikut serta ASN dalam upaya bela negara/komponen cadangan dapat ditingkatkan melalui:

1) Pencerahan baik melalui sosialisasi/Roadshow bahwa ASN berkewajiban untuk menjaga keutuhan serta menjaga keutuhan dan keamanan serta ketertiban wilayah sekitarnya mulai dari lingkungan rumah sendiri, lingkungan

pekerjaannya,lingkungan

masyarakat sekitar, sampai wilayah yang lebih luas.

2) Melakukan forum diskusi tentang Sistem Pertahanan negara khususnya yang berkaitan dengan komponen cadangan kepada ASN

3) Membuat buku saku tentang

komponen cadangan

pertahanan negara,

4) Membuat modul tentang komponen cadangan baik melalui media social maupun Video.

5) Mensosialisasikan landasan hukum yang berkaitan dengan Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara secara bertingkat,

bertahap kepada

ASN/pemangku kepentingan. Berdasarkan uraian di atas peran serta ASN sebagai komponen cadangan pertahanan negara sangat diperlukan untuk memperkuat komponen utama. Oleh karena itu merealisasikan ASN sebagai komponen cadangan, maka payung

(30)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 29 hukum komponen cadangan harus

segera direalisasikan.dalam hal ini RUU PSDN untuk Pertahanan Negara harus segera disahkan.

REFERENSI

1 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4169

2 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2014 nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 5494

3 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia -2019-mencapai-267-juta-jiwa

4 Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan Negara

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 127.

(31)

30 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

DRONE: POTENSI DAN ANCAMAN YANG TERPENDAM

Oleh :

Letkol Sus Muhamad Ridwan, S.Pd., M.Pd.

Kasibin Matra Udara Ditkomcad Ditjen Pothan Kemhan

Pertahanan Negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Ancaman negara di era milenial datang dari segala penjuru bahkan salah satunya bisa berasal dari penyalah gunaan hasil karya manusia itu sendiri seperti drone atau pesawat tanpa awak. Sebuah

drone yang dipasangi granat, akan bisa

menghancurkan gedung, tank, pasukan infanteri dari atas. Sementara

drone yang berukuran lebih kecil bisa

dirancang sedemikian rupa untuk mengeliminir sniper atau personel-personel kunci dalam militer. Kejadian yang menunjukkan ancaman drone terhadap keamanan nasional adalah yang terjadi pada seorang Presiden Venezuela pada saat berpidato pada tanggal 5 Agustus 2018.

Sebagai suatu hasil karya manusia, drone disatu sisi mempunyai manfaat yang besar untuk memudahkan kehidupan manusia, namun disisi lain kehadiran drone apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi suatu potensi ancaman yang bisa mengganggu pertahanan suatu negara. Di beberapa negara penggunaan drone saat ini sudah mencakup semua lini dalam kehidupan masyarakat mulai dari sekedar penyaluran hobi sampai dengan untuk keperluan pertahanan negara. Penggunaan drone sebagai hobi merupakan pengguna terbesar dan

biasanya tergabung dalam klub atau kelompok-kelompok yang tersebar diberbagai belahan penjuru dunia termasuk di Indonesia. Memang saat ini belum ada survei berapa jumlah klub atau jumlah drone yang tersebar di masyarakat. Selain untuk menyalurkan hobi, drone juga banyak digunakan oleh instansi dan perusahaan untuk kegiatan-kegiatan pemetaan, inspeksi jalur kabel, rel, perkebunan, pertanian, pengiriman paket, media dan bidang bencana alam serta keamanan dan untuk kepentingan militer.

Untuk kepentingan militer, di Indonesia saat ini TNI Angkatan Udara sudah mengoperasikan sejumlah drone (UAV) seperti Aerostar, dimana drone itu dilengkapi dengan optik infra merah untuk pengintaian serta rencana pengadaan drone (UAV) Wing Loong I yang berfungsi bukan untuk pengawasan, tetapi mempunyai kemampuan tempur dan serang permukaan (surface strike) yang bermarkas di Skadron Udara 51 Wing 7 Lanud Supadio Pontianak.

Drone atau pesawat tanpa awak

(Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV) adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh Pilot. Jenis - Jenis drone dan fungsinya: Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis yaitu multicopter dan

fixed wing. Fixed wing memiliki bentuk

seperti pesawat terbang biasa yang dilengkapi sistem sayap. Tipe

fix-winged memerlukan desain aerodinamika pada sayap dan

(32)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 31 badannya sehingga perancangannya

cukup rumit. Sementara itu multicopter yaitu jenis drone yang memanfaatkan putaran baling-baling untuk terbang.

Multicopter dibagi lagi menjadi dua

yaitu single-rotor dan multi-rotor. Tipe

single-rotor yang berbentuk seperti

helikopter menggunakan baling-baling tunggal, sedangkan multi-rotor

menggunakan 3 sampai 8 baling-baling. Keuntungan dari multicopter bisa terbang vertikal hingga 300 meter.

Tujuan penulisan ini adalah agar Kementerian Pertahanan yang bertanggung jawab dalam pertahanan

negara terlibat aktif dalam mengatur

penggunaan drone agar

pengoperasian drone tidak disalahgunakan oleh segelintir orang, kelompok bahkan negara lain untuk membuat kekacauan yang berdampak terhadap keselamatan dan kedaulatan negara.

Peraturan terkait drone saat ini ada di Kementerian Perhubungan melalui Permenhub nomor 90 tahun 20151. Permenhub ini mengatur

kawasan penggunaan drone dengan tujuan agar tidak menggangu keselamatan penerbangan yang Salah satu tipe drone (Sumber: https://merdeka.com/2018/05/21 )

(33)

32 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN meliputi: daerah prohibited, restricted area dan controllled area dengan ketinggian maksimal 150 m atau 400 ft. Pengaturan drone oleh Kemenhub berdasarkan kepentingan keselamatan penerbangan sesuai tugas dan fungsi Kemenhub, sementara itu untuk kepentingan pertahanan dan keamanan yang menyangkut kedaulatan wilayah sampai saat ini belum diatur karena sebagin besar aturan Kemenhub merupakan adopsi ketentuan dari FAA (Federal Aviaation

Administration) sebuah lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat.

Selain itu juga karena drone juga memakai frekuensi untuk kontrolnya maka harus tunduk juga dengan Undang - Undang ITE yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Permenkominfo) Nomor 4 Tahun 2015 tentang Ketentuan Operasional dan Tata Cara Perizinan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio2. Permenkominfo ini mengatur bahwa setiap penggunaan spektrum frekuensi radio wajib berdasarkan izin penggunaan spektrum frekuensi radio, dimana izin penggunaannya harus sesuai dengan peruntukan spektrum frekuensi radio dan tidak saling mengganggu.

Peruntukan spektrum frekuensi radio ini ditetapkan dalam tabel alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia. Dari sisi pemotretan drone dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, oleh karenanya perlu diketahui ketentuan dalam hal pengambilan gambar melalui kamera. Ketentuan ini secara terpisah mengatur antara pengambilan gambar berupa orang dan benda lainnya. Untuk gambar berupa orang, kita merujuk pada Undang-Undang Nomor 28 tahun

2014 tentang Hak Cipta (UUHC) khususnya Pasal 12 hingga Pasal 15 yang mengatur mengenai hak ekonomi atas potret3, sedangkan Hak Cipta benda lainnya dapat dijadikan obyek jaminan fidusa.

Dimanakah posisi Kementerian Pertahanan? Di negara Vietnam, Kementerian Pertahanan sudah menaruh perhatian khusus terhadap penggunaan drone dengan mewajibkan semua penggunaan drone mendapat ijin Kementerian Pertahanan. Di Indonesia sesuai Pasal 1 UU Nomor 3 tahun 2002 “Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara”4. Jika merujuk pada tugas Kementerian Pertahanan, saat ini belum ada peraturan yang secara khusus dikeluarkan Kemhan berkaitan dengan penggunaan drone oleh masyarakat dan instansi/perusahaan.

Oleh karena itu sudah selayaknya jika Kementerian Pertahanan RI dapat berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian terkait lainnya untuk mengendalikan penggunaan drone

sehingga dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Hal ini mengingat potensi ancaman yang ada pada drone sudah nampak, untuk itu sebaiknya semua pemangku kepentingan harus terlibat dalam pengaturan drone baik itu dalam hal legalisasi dan sertifikasi, penggunaan frekuensi, data jumlah drone masuk di Indonesia serta pengawasan industri

drone di dalam negeri, maupun

perijinan penggunaan drone. Ijin penggunaan drone seharusnya berada

(34)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 33 di Kementerian Pertahanan untuk

untuk segala jenis drone agar dapat memudahkan pengawasan dan pengendaliannya.

Mengakhiri tulisan ini, dihadapkan dengan kepentingan nasional Indonesia perlu untuk dibuat suatu peraturan atau ketentuan secara lintas Kementerian mengenai

pengaturan penggunaan drone,

dengan mengedepankan kepentingan pertahanan negara sejalan dengan kepentingan masyarakat lainnya, sehingga semua pemangku kepentingan dapat saling mendukung agar kehadiran drone memberikan manfaat yang positif dan dapat diberdayakan untuk kepentingan pertahanan negara.

REFERENSI

1 Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengaturan Kawasan Penggunaan Drone.

2 Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Ketentuan Operasional dan Tata Cara Perizinan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio.

3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. http://jogja.tribunnews.com/2018/08/05/drone-meledak-saat-presiden-venezuela-nicolas-maduro-pidato-kronologinya-seperti-ini https://drone-taveller.com/drone-laws-vietnam/ https://internasional.kompas.com/read/2019/05/09/21154711/pilot-lapor-melihat-drone-bandara-frankfurt-ditutup-1-jam. https://merdeka.com/2018/05/21 https://tirto.id/ancaman-drone-teroris-csuH

(35)

34 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN

KEBERADAAN DAN KESINAMBUNGAN SUMBER DAYA HAYATI

SEBAGAI KOMPONEN PENDUKUNG PERTAHANAN NEGARA

PERLU DIJAGA

Oleh : A. Deccaria Radarwati

Pembina IV/b NIP. 196101111988032001 Analis Pertahanan Negara Madya Dit. Komduk

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memilliki keanekaragaman Sumber Daya Hayati terbesar didunia setelah negara Brazil1. Sumber Daya Hayati adalah bagian dari Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berasal dari mahluk hidup, yakni hewan dan tumbuhan. Sebagai contohnya adalah kedelai, susu, beras, sayur mayur, buah buahan, daging, telur dan sebagainya.

Bagi bangsa Indonesia keanekaragaman Sumber Daya Hayati yang besar tentu saja merupakan karunia, baik untuk kesejahteraan maupun untuk pertahanan negara. Untuk kesejahteraan Sumber Daya Hayati berfungsi sebagai persediaan pangan, sandang, papan, dan juga sebagai objek perluasan lapangan pekerjaan melalui keterlibatan petani dan stake holdernya. Sedangkan untuk pertahanan negara, keanekaragaman Sumber Daya Hayati merupakan potensi sebagai bahan Logistik Wilayah Komponen Pendukung yang berperan meningkatkan kekuatan dan kemampuan Komponen Utama dalam menghadapi ancaman militer.

Logistik Wilayah merupakan logistik yang disiapkan didaerah tertentu, bersumber pada Sumber Daya Alam (Sumber Daya Hayati) yang berada diwilayah tersebut, dan disiapkan dalam rangka mendukung

operasi militer berbentuk operasi perlawanan wilayah.

Dalam melaksanakan operasi perlawanan wilalyah, logistik bukan satu satunya faktor yang menentukan kemenangan,namun tanpa logistik yang tepat, cukup,peperangan tidak mungkin dimenangkan. Demikian pendapat dari Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo dalam bukunya Si Vis Pacem Para Belum2. Oleh sebab itu penyiapan logistik dengan memanfaaatkan Sumber Daya Hayati adalah penting. Keberadaan dan kesinambungannya harus terjamin dengan mengelola dan menjaganya dari setiap ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri, baik dari ancaman alamiah maupun nonalamiah. Menjaga dan mengelola Sumber Daya Hayati dari ancaman alamiah dan non alamiah diwaspadai mengingat Indonesia merupakan wilayah yang luas dan terbuka, berbatasan dengan 10 negara, terdiri dari beribu-ribu pulau, yang wilayahnya meliputi wilayah daratan dan lautan yang luas, serta dilalui 3 ALKI untuk pelayaran dan penerbangan umum sehingga memudahkan terjadinya ancaman-ancaman tersebut.

Kondisi terbuka membuka peluang bagi aktor yang negaranya memiliki keterbatasan Sumber Daya Hayati untuk melakukan berbagai cara guna mendapatkan pengaruh dari negara Indonesia, untuk dapat

Gambar

Tabel Besaran Tunjangan Veteran
Gambar Kegiatan Sosialisasi tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan  Negara Lingkungan Pemda dan Karyawan Swasta Batu Jawa Timur Tahun 2018

Referensi

Dokumen terkait