• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : A. Deccaria Radarwati

Pembina IV/b NIP. 196101111988032001 Analis Pertahanan Negara Madya Dit. Komduk

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memilliki keanekaragaman Sumber Daya Hayati terbesar didunia setelah negara Brazil1. Sumber Daya Hayati adalah bagian dari Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berasal dari mahluk hidup, yakni hewan dan tumbuhan. Sebagai contohnya adalah kedelai, susu, beras, sayur mayur, buah buahan, daging, telur dan sebagainya.

Bagi bangsa Indonesia keanekaragaman Sumber Daya Hayati yang besar tentu saja merupakan karunia, baik untuk kesejahteraan maupun untuk pertahanan negara. Untuk kesejahteraan Sumber Daya Hayati berfungsi sebagai persediaan pangan, sandang, papan, dan juga sebagai objek perluasan lapangan pekerjaan melalui keterlibatan petani dan stake holdernya. Sedangkan untuk pertahanan negara, keanekaragaman Sumber Daya Hayati merupakan potensi sebagai bahan Logistik Wilayah Komponen Pendukung yang berperan meningkatkan kekuatan dan kemampuan Komponen Utama dalam menghadapi ancaman militer.

Logistik Wilayah merupakan logistik yang disiapkan didaerah tertentu, bersumber pada Sumber Daya Alam (Sumber Daya Hayati) yang berada diwilayah tersebut, dan disiapkan dalam rangka mendukung

operasi militer berbentuk operasi perlawanan wilayah.

Dalam melaksanakan operasi perlawanan wilalyah, logistik bukan satu satunya faktor yang menentukan kemenangan,namun tanpa logistik yang tepat, cukup,peperangan tidak mungkin dimenangkan. Demikian pendapat dari Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo dalam bukunya Si Vis Pacem Para Belum2. Oleh sebab itu penyiapan logistik dengan memanfaaatkan Sumber Daya Hayati adalah penting. Keberadaan dan kesinambungannya harus terjamin dengan mengelola dan menjaganya dari setiap ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri, baik dari ancaman alamiah maupun nonalamiah. Menjaga dan mengelola Sumber Daya Hayati dari ancaman alamiah dan non alamiah diwaspadai mengingat Indonesia merupakan wilayah yang luas dan terbuka, berbatasan dengan 10 negara, terdiri dari beribu-ribu pulau, yang wilayahnya meliputi wilayah daratan dan lautan yang luas, serta dilalui 3 ALKI untuk pelayaran dan penerbangan umum sehingga memudahkan terjadinya ancaman-ancaman tersebut.

Kondisi terbuka membuka peluang bagi aktor yang negaranya memiliki keterbatasan Sumber Daya Hayati untuk melakukan berbagai cara guna mendapatkan pengaruh dari negara Indonesia, untuk dapat

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 35 memenuhi kebutuhan nasional mereka

akan Sumber Daya Hayati.

Selain kondisi tersebut diatas, pengetahuan di bidang teknologi biologi dapat membawa pengaruh negatif terhadap keberadaan dan kesinambungan Sumber Daya Hayati. Pengaruh negatif terjadi ketika aktor menyalahgunakan penggunaan teknologi biologi untuk tujuan permusuhan / perang dengan melakukan teknik rekayasa genetika untuk menghasilkan organisme baru yang didesain untuk tujuan perang.

Sebagai contoh, timbulnya penyakit Flu Burung, hilangnya bibit kedelai asli Indonesia dari pasaran, dan ketergantungan petani akan bibit sayur-mayur transgenik dapat merupakan salah satu contoh indikasi penyalahgunaan teknologi biologi yang ditujukan untuk menyerang Sumber Daya Hayati (manusia, hewan dan tumbuhan) yang berdampak pada berbagai sendi kehidupan dan bila dibiarkan berlarut larut akan menyebabkan ketergantungan, ketidak berdaulatan dan pada akhirnya menggoyahkan pertahanan negara.

Dengan potensi Sumber Daya Hayati yang besar, dihadapkan dengan kondisi geografis Indonesia yang terbuka, tingginya daya tarik Indonesia dihadapan negara-negara yang memiliki keterbatasan Sumber Daya Hayati, serta memungkinkannya penggunaan teknologi biologi untuk disalahgunakan, keberadaan dan kesinambungan Sumber Daya Hayati baik untuk kesejahteraan maupun untuk pertahanan negara sebagai bahan Logistik Wiayah Komponen Pendukung, perlu mendapat perhatian untuk dijaga / dipertahankan keberadaan dan

kesinambungannya dari segala ancaman.

Ancaman terhadap Keberadaan dan Kesinambungan Sumber Daya Hayati

Untuk menjaga keberadaan dan kesinambungan Sumber Daya Hayati baik untuk kesejahteraan maupun sebagai bahan Logistik Wilayah Komponen Pendukung dari sisi pertahanan negara, kita perlu melihat beberapa peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, dihadapkan dengan trend perang masa kini.

Adapun beberapa peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut :

Pada tahun 2005 terjadi serangan flu burung di Indonesia, sehingga terjadi kepanikan serta kerugian ekonomi yang besar. Kewajiban dari WHO CC (World Health

Organization Collaborating Centre)

untuk melakukan virus sharing telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Diluar dugaan banyak orang, ternyata WHO CC diluar sepengetahuan

Sumber:

http://tiyangkayunan.blogspot.com/2011/02 /sejarah-gejala-dan-jenis-flu-burung.html

36 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN Indonesia, memberikan sampel virus Flu Burung Strain Indonesia pada beberapa perusahaan di negara maju. Kemudian mereka mengem-bangkan menjadi vaksin dan dijual secara komersial dengan harga mahal kepada negara miskin dan berkembang. Ketika Indonesia panik dengan serangan flu burung, perusahaan tersebut tidak mau menjual vaksin kepada Indonesia, padahal sampel strain berasal dari Indonesia3.

Dalam buku berjudul Saatnya Dunia Berubah, DR. Dr Siti Fadilah Supari Sp.JP(k) menyebutkan bahwa data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC tidak bisa diakses oleh semua ilmuwan. Berita ini di baca oleh beliau dari koran Singapura,

Straits Times, 27 Mei 2006 dalam

artikel “ Scientists split over sharing of H5N1 data”.

Disebutkan data Sequencing tersebut hanya dikuasai oleh segelintir ilmuwan yang jumlahnya hanya 15 orang. 4 orang diantaranya berasal dari

WHO CC. Data Sequencing DNA diberlakukan sebagai hak dari mereka sehingga ilmuwan di luar tidak bisa mengakses.

Beberapa waktu kemudian, Dr Siti Fadilah mendapat kabar bahwa penyimpanan data Sequencing

dipindahkan ke suatu lembaga penelitian senjata biologi yang berada di bawah Departemen Pertahanan negara adidaya. Tentu saja termasuk Virus Virus H5n1 strain Indonesia. Dengan demikian, kapan akan dibuat vaksin dan kapan akan dibuat senjata biologi barangkali tergantung dari keperluan dan kepentingan mereka saja.

Kita ketahui bersama bahwa penyebaran virus dapat dilakukan melalui udara/angin dan mengingat kondisi geografi Indonesia yang terbuka, penyebaran virus flu burung mudah dilakukan.

Dalam rangka menjaga ketersediaan pangan, pemerintah membuka pasar kedelai import4. Fakta

Perbandingan Kedelai Lokal dan Kedelai Impor (Sumber: http://digikedelai.com/2017/11/26/beginilah-profil-kedelai-lokal-dibandingkan-dengan-kedelai-import/)

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 37 ini harus memberikan kesadaran bagi

bangsa Indonesia bahwa menggantungkan suplai pangan dari negeri orang sangat riskan. Tidak hanya soal mutu pangan, tetapi kedelai produksi luar didominasi kedelai transgenik yang hingga kini soal transgenik masih menjadi perdebatan perihal keamanannya.

Peristiwa lain yang terjadi adalah petani sayur dikaki gunung, tidak mengetahui apa yang terjadi dengan sayuran dan buah buahan yang mereka tanam5. Mereka hanya mengetahui tanaman tersebut tidak bisa ditanam kembali, kalaupun mereka menanam kembali, tanaman tersebut tidak dapat berbuah. Yang mereka tau, mereka harus membeli bibit lagi dari toko penyalur dan bahan pertanian. Petani kol, tomat, kentang dan tanaman sayuran lain begitu tergantung pada suplai bibit tanaman dari luar. Dari segi lingkungan, produk transgenik akan mengurangi jenis- jenis tanaman asli yang pada gilirannya akan mengancam keragaman hayati dan ketergantungan pangan pada negara produsen benih. Sebagai akibatnya keterbatasan bahan untuk Logistik Wilayah Komponen Pendukung pun terbatas. sebagai contoh, tanaman ganur yang dulu banyak terdapat di tanah Gayo, sudah sulit ditemui.

Selain peristiwa-peristiwa tersebut diatas, masih banyak lagi hal-hal semacam itu yang tidak bisa dikemukakan satu persatu, namun mempunyai potensi ancaman yang perlu diwaspadai dan dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk ancaman perang generasi ke 4/ perang Asimetris.

Menurut Dewan Riset Nasional 2008, dan menurut Bapak M Arief

Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)6 bentuk dan ciri perang generasi ke 4 / perang Asimetris diantaranya adalah bahwa : - Perang murah namun mempunyai

daya hancur yang dasyat.

- Memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan mencakup dimensi Idiologi, politik, ekonomi dan sosbud.

- Perang asimetris bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer serta tidak mengenal garis depan.

- Sasaran perang asimetris ini ada tiga:

1) Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme;

2) Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya; dan

3) Menghancurkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebuah bangsa.

- Menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal pangan dan keamanan energi.

- Melakukan kontrol ekonomi dan penguasaan SDA sebuah negara.

Kejadian flu burung, membuka import kedelai maupun pengadaan benih sayur mayur transgenik tersebut memenuhi unsur dan ciri perang generasi ke 4 karena mewujudkannya tidak memerlukan biaya mahal dibandingkan dengan melakukan perang konvensional. Ketiga kejadian tersebut mempunyai daya hancur yang dasyat dan multikompleks; mulai dari segi ekonomi, ketahanan dan keamanan pangan, kesehatan

38 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN masyarakat, sosial budaya, politik serta psikologi. Pemusnahan unggas secara total jika dipaksakan akan mengganggu ketahanan pangan karena unggas merupakan sumber gizi. Bagi masyarakat, unggas memiliki nilai ekonomis, kerap menjadi tabungan. Sebagai budaya, ketika mengawinkan anak orang tua kerap menghadiahkan ayam. Dampak kesehatan masyarakat juga terjadi karena flu burung menimbulkan ketakutan masyarakat, penularan pada manusia, ketergantungan obat pada negara produsen, ketidak berdaulatan obat, kematian korban, dan pencemaran lingkungan. Adapun dampak psikologis yang terjadi, masyarakat menjadi ketakutan dan peternak unggas yang terserang flu burung menjadi stress karena mengalami kerugian,dan hilangnya mata pencaharian. Dampak politik, terjadi terkait kebijakan perdagangan internasional dimana negara korban kerap mendapat penolakan dari negara negara lain disamping mereka juga mengharapkan pemusnahan unggas secara total. kemudian unk memenuhi kebutuhan, Indonesia mengimpor daging dari luar. Hal ini berdampak pada perekonomian nasional dan tentu saja berdampak pada ketersediaan Logistik wilayah Komponen Pendukung.

Pada kasus impor kedelai, dan benih sayur mayur transgenik juga membawa dampak hancur dasyat terhadap kesehatan manusia, keseimbangan lingkungan (ekologi) dan perekonomian global.

Dari sisi kesehatan, tanaman ini dianggap dapat menjadi alergen (senyawa yang menimbulkan alergi) baru bagi manusia dan kekhawatiran kemungkinan gen asing pada tanaman

transgenik berpindah ke tubuh manusia. Apabila mengkonsumsinya dalam jangka waktu panjang akan mengalami tumor pada ginjal dan hatinya.

Dari sisi keseimbangan lingkungan (ekologi), dapat terjadi timbulnya perpindahan gen secara tidak terkendali dari tanaman transgenik ke tanaman lain di alam melalui penyerbukan (polinasi) serbuk sari dari tanaman transgenik dapat terbawa angin dan hewan hingga menyerbuki tanaman lain. Akibatnya, dapat terbentuk tumbuhan baru dengan sifat yang tidak diharapkan, pertumbuhannya tidak terkendali dapat merusak tanaman asli (bahkan punah) serta dengan cepat dapat merusak berbagai daerah pertanian disekitarnya dan berpotensi merugikan lingkungan.

Dari sisi perekonomian global, ketergantungan para petani terhadap produsen benih transgenik, menyebabkan terjadinya arus modal dari negara berkembang ke negara maju untuk pembelian bibit transgenik setiap kali akan melakukan penanaman. Petani tidak dapat berbuat apa apa bila harga benih menjadi mahal karena pemberlakuan paten dan mekanisme tanam yang hanya dapat ditanam sekali saja.

Perang asimetris bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer serta tidak mengenal garis depan. Demikian pula dengan kejadian flu burung, bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak mengenal garis depan tetapi tergantung dari penyebaran dan kemampuan hidup serta berkembang biak organisme pathogen dan kemampuannya menginfeksi sasaran dimana sasaran

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 39 tidak membedakan antara sipil dan

militer yang terkena. Demikian pula pada kasus pelepasan benih trans genik (impor kedelai dan penanaman benih sayuran transgenik), siapa saja dapat terkena (melalui makanan atau lingkungan). Serangan tidak hanya berdampak pada satu aspek tetapi berpengaruh luas mempengaruhi berbagai sendi kehidupan secara simultan. politik, ekonomi, sosial budaya, keselamatan umum, dan pertahanan.

Terkait hal-hal tsb diatas, ke tiga peristiwa tersebut memenuhi sasaran unsur perang asimetris sbb:

- Dengan peristiwa tersebut diatas, aktor mengubah pola pikir dan membelokkan sistem yang dianut suatu negara sesuai arah/tujuan kepentingan pihak aktor/ kolonnialisme. Menawarkan benih transgenik walaupun Indonesia memiliki benih asli. Merubah

sistem/tatanan kebudayaan tanam Yang semula menanam, memanen, menyimpan benih untuk ditanam kembali berubah menjadi membeli bibit, menanam dan memanen serta membeli bibit lagi. Lambat laut benih asli terlupakan dan hilang. - Dengan membuat ketergantungan

benih transgenik, ketersediaan pangan menjadi tergantung serta terjadi ketidak berdaulatan pangan. - Dengan ketergantungan dan

ketidak berdaulatan pangan tsb diatas, aktor dapat mengontrol dan mengendalikan kebutuhan dan harga benih/pangan yang berarti juga aktor menguasai rakyat.

Ketergantungan akan benih transgenik serta punahnya benih asli Indonesia berakibat pada berkurangnya jenis sumber daya hayati dan tentu saja mengakibatkan ketergantungan pangan apalagi untuk Logistik Wilayah. Menyuplik doktrin

40 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN Henry Kissinger bahwa “Control oil and you control nations, control food and you control the people.” Mengandung

makna bahwa bila anda dapat mengontrol minyak pada suatu negara, maka anda dapat mengendalikan negara itu. Demikian pula bila anda dapat mengendalikan pangan pada suatu negara, maka anda menguasai rakyatnya.

Memaknai doktrin tersebut diatas, maka makna menguasai rakyat dalam kejadian-kejadian tersebut diatas, dapat berasumsi rakyat mematuhi keinginan aktor untuk membeli benih benih transgenik, menanam, mengkonsumsi produk tanaman transgenik, mengambil resiko kesehatan akibat mengkonsumsi produk tanaman transgenik, melupakan dan membiarkan hilang benih lokal yang dimiliki, membiarkan berkurangnya ketersediaan Sumber Daya Hayati, membiarkan lingkungan berubah tak terkendali terkait pelepasan benih transgenik, ketidak berdaulat atas pangan dan tentu saja ketidaksiapan bahan logistik wilayah komponen Pendukung, peningkat kekuatan dan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan dalam menghadapi ancaman militer. KESIMPULAN DAN SARAN.

1. Kita semua perlu memahami, menyadari dan mewaspadai bahwa kejadian flu burung dan pelepasan benih sayur mayur transgenik sudah merupakan indikasi perang generasi ke-4 dan mengakibatkan terganggunya keberadaan serta kesinambungan sumber daya hayati. Lambat laut namun pasti mengakibatkan berkurang/punah nya jenis sumberdaya hayati dan ketergantungan benih dan pangan

yang pada akhirnya mempengaruhi kesejahteraan masyarakat serta ketidaksiapan bahan logistik wilayah dalam rangka pertahanan negara dan pastinya mengganggu kedaulatan negara.

2. Untuk hal tersebut diatas, keberadaan dan kesinambungan Sumber Daya Hayati dari segala macam bentuk ancaman perang generasi ke-4 perlu dijaga. Penanganannya diatur dalam pasal 7 ayat 3 Undang-Undang nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, dimana kementerian / Lembaga diluar bidang Pertahanan sebagai unsur utama dalam menghadapi ancaman non militer sesuai bidang ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur lain kekuatan bangsa. Penjabaran dari pasal 7 ayat 3 Undang-Undang nomor 3 Tahun 2002 tertuang dalam Permenhan nomor 19 tahun 2016 tentang Pedoman Strategis Pertahanan Nirmiliter, diantaranya mengatur bahwa kejadian semacam Kejadian flu burung maupun pelepasan benih sayur mayur transgenik, perlu ditangani oleh lintas kementerian terkait, dengan berkoordinasi dan menyusun mekanisme kerja penanganan.

3. Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Permenhan nomor 19 tahun 2016 tentang Pedoman Strategis Pertahanan Nirmiliter, menghasil-kan keputusan perlunya ditunjuk suatu Kementerian/Lembaga sebagai leading sector untuk menetapkan bahwa peristiwa peristiwa semacam tersebut diatas sudah merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara. Adapun tugas Kementerian /

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 41 Lembaga sebagai leading sector

meliputi kegiatan :

a. Mengkaji potensi ancaman nirmiliter (bidang terkait), mengidentifikasi, membuat kriteria, menetapkan eskalasi ancaman nonmiliter (bidang terkait) bersama dengan Kementerian/ Lembaga terkait sesuai ancaman guna mengetahui sejauh mana masing-masing bidang ancaman terjadi (bidang idiologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, legislasi dan keselamatan umum) berdampak atau sudah mengganggu kedaulatan negara, keutuhan NKRI dan keselamatan bangsa.

b. Berkoordinasi antar Kemen-terian / Lembaga Pemerintah Indonesia dalam menentukan dan menyelesaikan persoalan berkaitan ancaman non militer serta menjelaskan ancaman yang paling mungkin dihadapi bangsa Indonesia serta menyusun strategi untuk menghadapinya.

c. Memadukan pertahanan militer dan non militer dengan menyelaraskan antara kekuatan militer dan non militer bersama Kementerian / Lembaga terkait setiap ancaman.

d. Merumuskan kebijakan untuk membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan nirmiliter sebagai pedoman Kementerian / Lembaga dalam melaksanakan kegiatan sesuai tupoksinya yang berkaitan bidang pertahanan nirmiliter, baik sebagai unsur utama

maupun sebagai unsur lain kekuatan bangsa yang mendukungnya.

e. Bersama dengan Kementerian / Lembaga terkait sesuai bidang ancaman, membangun dan membina kemampuan daya tangkal masyarakat sipil untuk menanggulangi ancaman nonmiliter.

f. Merumuskan prinsip prinsip bertempur yang harus diselaraskan sehubungan batas-batas yang ada antara perang militer dan nonmiliter akan memudar. Karena ketika idiologi, politik, ekonomi sosial, budaya, pertahanan keamanan, legislasi, keselamatan umum serta teknologi dapat digunakan menjadi senjata sesuai keinginan untuk perang maka semua batas antara perang dan non perang, militer dan nonmiliter akan memudar dan prinsip prinsip bertempur harus dimodifikasi demikian juga aturan perang harus diselaraskan.

g. Dari aspek pertahanan negara, keberadaaan dan keberlanjutan Sumber Daya Hayati perlu dijaga untuk dapat mendukung pertahanan negara. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah lembaga yang membidangi masalah tsb dilengkapai dengan laboratorium penelitian, yang diawaki oleh personil dari Kementerian/Lembaga terkait, tenaga ahli bidang Nubika dan Kemhan selaku inisiator penyusun kebijakan pedoman strategis pertahanan nirmiliter.

42 MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN REFERENSI

1 http://news.unpad.ac.id/?p=36173

2 Kartohadiprodjo, Sayidiman Letjen TNI (Purn) ; Si Vis Pacem Para Belum, Membangun Pertahanan Negara yang Efektif, PT Gramedia Pustama Utama. Jakarta 2005.

3 Supari, Siti Fadilah, DR. Dr. Sp.JP(k); Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

4 https://www.beritasatu.com/ekonomi/62068/kedelai-langka-indonesia-tidak-punya-kedaulatan-pangan

5 https://www.kompasiana.com/winwannur/552090d28133116c7419f9a5/produk-makanan-transgenik-ancaman-bagi-kelangsungan-hidup-manusia

6 Pranoto, M Arief. Mengenal perang Asimetris, bentuk dan sifatnya. Tersedia pada :

https://theglobal-review.com/mengenal-perang-asimetris-sifat-bentuk-pola-dan-sumber/

Bahan Sekolah Staf dan Komando TNI tentang Kajian Perang dari Generasi ke Generasi.

http://digikedelai.com/2017/11/26/beginilah-profil-kedelai-lokal-dibandingkan-dengan-kedelai-import/

http://tiyangkayunan.blogspot.com/2011/02/sejarah-gejala-dan-jenis-flu-burung.html. tentang Sejarah, Gejala dan Jenis-Jenis Flu Burung.

https://poliklitik.com/cabai-rasa-bakteri/

MEDIA INFORMASI DITJEN POTHAN 43

SIMPOSIUM PERANG MINDSET PADA ERA KETERBUKAAN

Dokumen terkait