perancangan tokoh dalam film animasi 2d “abnormal”
Teks penuh
(2) BAB IV ANALISIS 4.1.. Analisa Proporsi Tubuh Tokoh. Pada perancangan proporsi tubuh tokoh Wiro dan Maya, penulis menggunakan teori Blair (1997) yang menjelaskan bahwa konstruksi tubuh sangat dibutuhkan dalam perancangan tokoh. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam merancang proporsi tubuh tokoh, dibutuhkan bentuk dasar yang digunakan sebagai konstruksi tubuh. Bentuk dasar yang digunakan dalam perancangan tokoh juga dijelaskan oleh Tillman bahwa bentuk dasar dapat memberi kesan tertentu terhadap tokoh yang dirancang. Kedua tokoh yang dirancang menggunakan hierarki Lead Character berdasarkan teori Bancroft. Bancroft (2006) menjelaskan bahwa Lead Character merupakan tokoh dengan bentuk realistis namun masih memiliki unsur karikatur. Hierarki ini diterapkan pada perancangan kedua tokoh yang memiliki proporsi tubuh realistis namun ekspresif dalam pergerakannya. Dalam merancang proporsi tubuh tokoh Wiro dan Maya, penulis juga menggunakan teori Bancroft mengenai ukuran tokoh berdasarkan satuan kepala. Pada tokoh Wiro dan Maya, tinggi tokoh menggunakan 5,5 kepala. Berbeda dengan proporsi tinggi manusia pada umumnya. Untuk perancangan tokoh Wiro, penulis menggunakan bentuk tubuh persegi pada bagian dada dan bentuk lingkaran yang dipadukan dengan persegi. 66 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(3) pada bagian kepala. Penulis mengambil bentuk persegi karena memberi kesan keras dan temperamen seperti pada kepribadian Wiro. Sedangkan bentuk lingkaran disesuaikan dengan bentuk kepala manusia pada umumnya. Penulis juga menggunakan referensi dari tokoh Louis pada film animasi Memo dan mengambil proporsi tinggi tokoh tersebut yaitu 5,5 kepala. Untuk proporsi tubuh dan style yang digunakan, penulis menggunakan tokoh Frank Murphy pada serial TV F is for Family. Proporsi tubuh tokoh dari buku Cartoon Animation oleh Preston Blair dan tokoh Frank Murphy juga digunakan sebagai acuan volume untuk konstruksi tubuh tokoh.. Gambar 4. 1. Perancangan Proporsi Tubuh Wiro (Dokumentasi Pribadi). 67 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(4) Gambar 4. 2. Perancangan Final Proporsi Tubuh Tokoh Wiro (Dokumentasi Pribadi). Untuk bentuk wajah, penulis menggunakan referensi dari Ronggojati Sugiyatno dan Hendranto Hengky sebagai acuan untuk merancang bentuk wajah orang Jawa. Penulis juga menggunakan atribut kumis dan kacamata untuk digunakan pada perancangan bentuk wajah tokoh. Kumis digunakan penulis untuk memberi kesan tua pada tokoh Wiro. Kacamata juga digunakan tokoh Wiro untuk menyesuaikan logika cerita yaitu seorang pekerja keras yang bekerja selama berjam-jam di depan layar yang mengharuskan Wiro untuk menggunakan kacamata. Selain itu, penulis juga menggunakan tokoh Frank Murphy untuk acuan perancangan wajah. Penulis menggunakan raut muka Frank yang terkesan galak dan tidak ramah. Hal itu disesuaikan dengan kepribadian Wiro yang temperamen dan mudah marah.. 68 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(5) Gambar 4. 3. Perancangan Final Bentuk Kepala dan Wajah Tokoh Wiro (Dokumentasi Pribadi). Sedangkan pada tokoh Maya, penulis menggunakan bentuk lingkaran untuk bagian tubuh dan kepala. Menurut Tillman (2011) bentuk lingkaran melambangkan tokoh yang menarik, bersahabat, dan tidak berbahaya. Bentuk ini diterapkan kepada tokoh Maya sesuai dengan kepribadiannya. Penulis juga meggunakan bentuk proporsi tubuh yang dikemukakan pada buku Preston Blair. Selain itu, penulis juga menggunakan referensi dari tokoh Nina pada film animasi Memo dan tokoh Mavis pada film animasi Hotel Transylvania. Pada tokoh Nina, penulis menggunakan tinggi tubuh 5,5 besar kepala. Tinggi itu disesuaikan dengan penetapan tinggi tokoh Wiro sebelumnya. Sedangkan pada tokoh Mavis, penulis menggunakan bentuk tubuhnya untuk menyesuaikan dengan aspek fisiologis tokoh Maya. Penulis menggunakan referensi tokoh Mavis sebagai acuan untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal remaja wanita. 69 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(6) Gambar 4. 4. Perancangan Tubuh Tokoh Maya. (Dokumentasi Pribadi). Namun tinggi tokoh Maya dibuat sedikit lebih pendek dari tokoh Wiro untuk menyesuaikan tinggi wanita pada umumnya. Kedua tokoh tersebut dipadukan dengan bentuk proporsi tubuh pada buku Cartoon Animation oleh Preston Blair yang membentuk proporsi tubuh sebagai berikut:. 70 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(7) Gambar 4. 5. Perancangan Final Proporsi Tubuh Tokoh Maya (Dokumentasi Pribadi). Untuk perancangan bentuk wajah dan kepala, penulis menggunakan referensi dari foto seorang perempuan remaja Bandung, Nabila Ishma. Nabila Ishma merupakan ketua Forum Anak Kota Bandung yang juga merupakan keturunan Sunda. Bentuk wajah Nabila dijadikan penulis sebagai acuan dalam perancangan bentuk wajah Maya yang juga memiliki keturunan Sunda dari Ibunya.. Gambar 4. 6. Perancangan Final Bentuk Kepala dan Wajah Tokoh Maya (Dokumentasi Pribadi). 71 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(8) Selain itu penulis juga menggunakan bentuk dan gaya rambut tokoh Meg Griffin dan Sofia. Penulis menggunakan referensi rambut dari Meg dan Sofia karena keduanya merupakan tokoh yang sederhana dan simpel. Meg dan Sofia juga merupakan anak perempuan yang pintar. Hal itu sangat cocok dengan kepribadian Maya dan dijadikan sebagai acuan dalam perancangannya. 4.2. Wiro 4.2.1. Three Dimensional Character Dalam perancangan tokoh, penulis menggunakan aspek Three Dimensional Character yang diungkapkan oleh Lagos Egri meliputi aspek fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Tokoh utama adalah Wiro, seorang paruh baya berusia 50 tahun yang telah bercerai dan berpisah dengan anak dan istrinya. Usia 50 tahun dipilih penulis untuk menyesuaikan usia anaknya, Maya yaitu 17 tahun. Perbedaan usia yang jauh dikaitkan dengan sifat Wiro yaitu workaholic yang apabila dikaitkan dengan logika cerita, orang-orang yang workaholic memiliki perbedaan usia yang jauh dengan anaknya. Berdasarkan kaitan itu, penulis merancang fisiologis tokoh Wiro dengan sosok paruh baya yang mulai sedikit beruban. Untuk bentuk tubuh, penulis memutuskan bahwa tokoh Wiro memiliki bentuk tubuh yang kurus. Hal tersebut jika dikaitkan dengan permasalahan depresi yang dialami Wiro, Bentuk tubuh kurus memperlihatkan seseorang yang kehilangan nafsu makan secara drastis sesuai dengan tanda-tanda orang yang sedang mengalami depresi berdasarkan teori Hoeksema. Orang yang mengalami depresi juga cenderung memiliki. 72 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(9) permasalahan tidur yang menimbulkan efek kantung mata seperti yang penulis terapkan pada tokoh Wiro. Sedangkan untuk rambut ikal yang tidak disisir dan gaya berpakaian yang tidak. rapih. memperlihatkan. bahwa. Wiro. sudah tidak. peduli. dengan. penampilannya. Kebiasaan untuk mengurus diri yang mulai memudar dikaitkan dengan teori yang disampaikan oleh Hoeksema dan wawancara dengan psikolog. Hal itu juga membuat penulis menambahkan kebiasaan merokok dan minum alkohol untuk memberi kesan bahwa tokoh Wiro memiliki kekurangan dalam mengurus dan merawat diri. Lalu untuk kacamata yang digunakan Wiro merupakan efek dari kebiasaan masa lalunya yang selalu bekerja dan berdiam diri di depan layar komputer sebagai tokoh yang terlalu mementingkan pekerjaan. Untuk aspek sosiologis, penulis menetapkan tokoh Wiro sebagai karyawan yang dipecat dari pekerjaannya. Ia memiliki karir yang baik dan mampu membeli mobil hingga rumah kelas menengah. Namun, pekerjaan membuatnya menjadi orang yang lepas tanggung jawab terhadap keluarga hingga menimbulkan perceraian. Lingkungan pertemanannya pun kurang baik karena ia hanya bersosialisasi karena ada kepentingan saja. Wiro digambarkan sebagai seseorang yang ambisius dalam pekerjaannya hingga pada suatu hari ia dipecat dari pekerjaannya karena suatu hal yang membuatnya menjadi stress. Hal tersebut diperparah karena ia pun sudah tidak memiliki siapapun untuk mendukungnya bangkit. Berbagai tekanan terhadap tokoh Wiro membuatnya mengalami depresi, bahkan halusinasi.. 73 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(10) Pada aspek psikologis, tokoh Wiro digambarkan sebagai seorang yang mudah marah dan temperamen. Menurut Jamison (1995) seseorang yang sedang mengalami depresi berat memiliki kenaikan maupun penurunan yang drastis dari segi emosi, kelakuan, pikiran. Pola makan dan tidur pun bisa menjadi berantakan. Penulis juga menambahkan halusinasi dan delusi terhadap psikologis Wiro. Jamison (1995) juga menjelaskan bahwa beberapa orang bahkan bisa merasakan halusinasi dan delusi sebagai fitur yang hadir saat mengalami depresi berat. Wiro juga merupakan seorang introvert dan sangat menutup diri terhadap orang lain yang membuatnya tidak memiliki dukungan untuk menyembuhkan depresi psikotik yang dideritanya. 4.2.2. Analisa Kostum Tokoh Wiro Pada wawancara yang dilakukan penulis dengan Yulius Steven M.Psi., dikatakan bahwa orang yang sedang mengalami depresi berat cenderung kurang merawat diri. Hal tersebut dikaitkan dengan gaya berpakaian Wiro yang tidak rapih. Gaya berpakaian yang digunakan Wiro juga diadaptasi dari kostum yang digunakan oleh Rustin Cohle pada serial TV True Detective dan tokoh Martin Hart pada Serial TV yang sama. Gaya berpakaian yang digunakan tersebut memberi kesan bahwa orang tersebut sedang menghadapi suatu masalah dan membutuhkan fleksibilitas serta kenyamanan dalam beraktifitas. Pada tokoh Martin Hart, kemeja berwarna biru digunakan sebagai acuan penulis dalam penentuan warna kostum tokoh. Menurut Tillman (2011) warna biru memberi kesan dingin, suram dan kesedihan, sesuai dengan tokoh Wiro. Kemeja lengan panjang yang digunakan Martin Hart juga terlihat tidak formal 74 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(11) untuk memberi kesan bahwa tokoh sedang menghadapi masalah dan dibutuhkan kesigapan. Selain itu alasan penulis memilih kemeja lengan panjang adalah karena kemeja lengan panjang memiliki variasi dalam menggunakannya dari segi gaya berpakaian. Kemeja lengan panjang memiliki kancing yang bisa di lepas pasang dan bagian lengan yang bisa digulung maupun dikancingkan. Dalam penggunaannya, seseorang bisa saja berpakaian rapih dengan menggunakan kemeja lengan panjang yang tidak digulung lengannya dan dikancingi dengan tambahan dasi untuk memperlihatkan kesan formal. Namun pada tokoh Wiro, penulis menggunakan kemeja lengan panjang dengan gaya berpakaian tokoh Martin Hart dan Rustin Cohle untuk memperlihatkan kesan tidak rapih dan berantakan agar aspek depresi dapat diperlihatkan. Penulis tidak dapat memperlihatkan kesan stress dan depresi apabila tokoh hanya menggunakan kaus dan polo shirt karena terlalu santai dan variasi gaya berpakaian tidak banyak. Gaya berpakaian yang digunakan tokoh Rustin Cohle memperlihatkan beberapa kancing atas yang dilepas. Rustin Cohle juga menggunakan celana hitam dan sepatu boots yang digunakan oleh penulis sebagai acuan dalam merancang kostum tokoh Wiro. Gaya berpakaian tersebut diterapkan pada tokoh Wiro untuk memperlihatkan kesan kelelahan, suram, dan sedang menghadapi masalah.. 75 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(12) Gambar 4. 7. Perancangan Kostum Tokoh Wiro (Dokumentasi Pribadi). Untuk kacamata yang digunakan Wiro memperlihatkan bahwa ia adalah seorang workaholic yang menghabiskan banyak waktu bekerja di depan layar komputer hingga membuatnya menggunakan kacamata. Kacamata tersebut juga digunakan penulis sebagai atribut yang memberi kesan tua pada tokoh Wiro. Penulis juga membuat detail kostum Wiro beserta atributnya. Perincian pada kostum yang digunakan oleh tokoh Wiro adalah sebagai berikut:. 76 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(13) Gambar 4. 8. Detail Kostum Tokoh Wiro (Dokumentasi Pribadi). 4.2.3. Character Sheet Untuk memperjelas perancangan tokoh, penulis membuat Character Sheet agar atribut dan detail yang digunakan pada tokoh terlihat jelas. Pembuatan Character Sheet ini juga dimaksudkan untuk mengenal dan memahami setiap detail yang ada pada tokoh yang dirancang. Pada tokoh Wiro, penulis memberikan rincian detail dari Character Sheet yang dibuat sebagai berikut:. 77 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(14) Gambar 4. 9. Character Sheet Wajah dan Kepala Wiro (Dokumentasi Pribadi). Pada Character Sheet Wiro, penulis memperlihatkan rincian bentuk rambut, mata, hidung, alis, kepala, dan atribut. Rambut ikal yang terlihat tidak rapih dimaksudkan untuk memberi kesan berantakan dan tidak memikirkan untuk mengurus dirinya. Untuk bentuk mata, penulis merancang bentuk setengah lingkaran yang lebih besar dari bentuk mata manusia pada umumnya. Hal itu dikarenakan penulis ingin memperlihatkan secara jelas efek kantung mata pada tokoh Wiro yang memberi kesan lelah dan susah tidur. Alasan lain untuk perancangan bentuk mata tersebut adalah agar fleksibilitas dalam gerakan bola mata dapat terlihat lebih jelas karena tokoh Wiro menggunakan kacamata. Sedangkan untuk kacamata itu sendiri dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa tokoh Wiro merupakan seorang workaholic yang selalu duduk di depan layar komputer untuk bekerja. Untuk atribut kumis, digunakan penulis agar kesan tua dapat diperlihatkan lebih jelas karena penulis memberi warna uban pada kumis tokoh Wiro.. 78 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(15) 4.3. Maya 4.3.1. Three Dimensional Character Maya merupakan seorang gadis remaja SMA berusia 17 tahun yang tinggal bersama ibu dan kakeknya setelah berpisah dengan ayahnya, Wiro. Dari aspek fisiologis, Maya memiliki rambut lurus berukuran tidak terlalu panjang maupun pendek. Rambut pendek dan lurus pada tokoh Maya ditujukan untuk memperlihatkan sosok remaja perempuan SMA yang tidak suka bermacammacam dalam berdandan dan cenderung berpenampilan biasa saja. Hal itu ditetapkan penulis berdasarkan referensi tokoh yang digunakan yaitu Meg Griffin pada serial TV Family Guy dan Sofia pada film Before I Disappear. Bentuk rambut lurus yang tidak begitu panjang diperlihatkan pada kedua tokoh yang menjadi referensi penulis. Secara fisik, Meg dan Sofia tidak terlihat memiliki sesuatu yang unik maupun spesial dan cenderung terlihat membosankan. Sedangkan untuk bentuk tubuh, Maya memiliki bentuk tubuh ideal remaja perempuan namun cenderung sedikit kurus. Sedangkan untuk aspek sosiologis, Maya merupakan gadis SMA Negeri dengan lingkungan sosial yang memiliki teman-teman baik namun tidak terlalu banyak. Ia merupakan remaja perempuan keturunan Jawa dan Sunda. Namun terlihat lebih dominan dari Sunda untuk menyesuaikan dari genetik ibunya yang juga keturunan Sunda. Ayahnya, Wiro telah bercerai dengan ibunya yang membuatnya mengalami tekanan yang cukup berat pada usianya yang menjelang remaja pada saat itu. Setelah perceraian antara kedua orangtuanya, Maya tinggal. 79 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(16) bersama ibu dan kakeknya. Kehidupannya di rumah cukup sederhana dan tidak terlalu mewah maupun kekurangan. Untuk aspek psikologis, Maya merupakan seorang yang ambivert yaitu bisa menjadi orang yang introvert maupun extrovert pada saat-saat tertentu. Maya juga merupakan tokoh yang simpel dan sederhana. Tokoh yang simpel dan sederhana diterapkan oleh penulis sebagai aspek psikologis Maya berdasarkan referensi dari tokoh Meg Griffin dari serial TV Family Guy. Meg Griffin juga digambarkan sebagai sosok anak yang cerdas namun tidak begitu suka berdandan dan cenderung berpakaian apa adanya. Walaupun Meg terlihat tidak begitu menarik dari segi fisik, ia memiliki sifat rendah hati dan baik kepada oranglain. Hal itu dijadikan penulis sebagai acuan dalam menentukan aspek psikologis tokoh Maya. Sifat baik dan rendah hati pada tokoh Maya ditunjukkan pada beberapa adegan yang memperlihatkan Maya menolong dan mengajak berbicara ayahnya agar melupakan segala pikiran-pikiran yang menjadi beban. Sifat temperamen dan mudah emosi juga diterapkan terhadap tokoh Maya berdasarkan referensi personality tokoh Mickey pada film Trouble with the Curve yang temperamen namun mandiri. Pada film tersebut, sifat emosional ditunjukan berdasarkan faktor genetik, pola asuh, dan lingkungan. Hal ini juga ditunjukan pada referensi tokoh Sofia yang digunakan penulis. Akibat perceraian, Sofia tidak memiliki sosok untuk mengajarkannya sopan santun dan ramah tamah. Pada film Before I Disappear tokoh Sofia digambarkan sebagai anak yang cerdas namun memiliki sifat dingin kepada orang yang tidak dikenal. Ia juga digambarkan. 80 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(17) sebagai anak remaja perempuan yang kurang memiliki etika saat bertemu dengan pamannya. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Haryanie, Filiani, & Hanim (2013) dan wawancara dengan Yulius Steven M.Psi., seorang anak yang memiliki orangtua yang bercerai cenderung menutup diri terhadap perceraian tersebut. Hal itu menjadikannya mudah tersinggung apabila seseorang menanyakan dan berbicara mengenai orangtuanya. Kasus ini dijadikan penulis untuk menentukan personality Maya dari segi psikologis. Harsanti & Verasari (2013) melanjutkan bahwa perkembangan dan pola asuh anak menjadi faktor penentu bagaimana seorang anak akan berperilaku karena orangtua merupakan sosok yang menjadi panutan dan disiplin. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa faktor genetik orangtua dapat berpengaruh besar pada kepribadian anak. Hal tersebut diterapkan penulis dalam menentukan aspek psikologis tokoh Maya. 4.3.2. Analisa Kostum Tokoh Maya Pada kostum yang dikenakan tokoh Maya, penulis menggunakan seragam SMA Negeri yang digunakan beberapa sekolah di Jakarta. Seragam tersebut terdiri dari kemeja putih, rok pendek abu-abu, kaus kaki putih panjang, dan sepatu hitam. Sesuai dengan usia Maya yaitu 17 tahun dan pekerjaannya sebagai pelajar tingkat SMA. Penulis menambahkan atribut tas selempang berwarna coklat untuk memperlihatkan gaya berpakaian yang simpel dan sederhana.. 81 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(18) Tas selempang dipilih penulis untuk menyesuaikan personality Maya yaitu sederhana dan simpel yang membuatnya lebih mudah mengakses atau mengambil sesuatu dengan cepat di dalam tasnya. Bahan dari tas yang digunakan Maya merupakan bahan kain kanvas. Sebelumnya penulis menggunakan bahan kulit yang memberi kesan elegan dan mewah. Namun bahan kulit memberikan kesan yang sangat berbeda dengan kepribadian Maya. Oleh karena itu penulis memutuskan untuk menggunakan bahan kain kanvas berwarna coklat sebagai bahan dari tas yang digunakan.. Menurut Tillman (2013) warna coklat merupakan warna yang dapat memberi kesan netral, kuat, dan kehangatan. Kesan warna tersebut cocok dengan personality tokoh Maya. Penerapan referensi untuk perancangan kostum tokoh adalah sebagai berikut:. Gambar 4. 10. Perancangan Final Kostum Tokoh Maya (Dokumentasi Pribadi). 82 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(19) Untuk dasi yang digunakan siswi pada referensi kostum diatas, penulis memutuskan untuk tidak menggunakannya pada tokoh Maya. Hal tersebut dikarenakan pelajar SMA tidak diwajibkan untuk menggunakan dasi pada jam di luar sekolah. Selain itu, tidak ada skenario yang melibatkan tokoh Maya pada jam sekolah. Sedangkan rok pendek yang digunakan tokoh Maya juga disesuaikan dengan referensi. Pada referensi yang digunakan, rok siswi SMA terlihat menutupi dengkul sesuai dengan peraturan sekolah. Penulis pun juga menerapkannya pada rok yang digunakan oleh tokoh Maya yang menutupi dengkul dan menggunakan seragam sesuai aturan sekolah. Sedangkan untuk rambut, penulis menggunakan bentuk rambut tokoh Meg Griffin pada serial TV Family Guy dan tokoh Sofia pada film Before I Disappear untuk memperlihatkan personality Maya yang simpel dan sederhana. Pada bentuk rambut tokoh Meg dan Sofia, rambut terlihat lurus tidak memiliki gaya rambut lain. Seperti pada penjelasan aspek fisiologis sebelumnya, penulis menggunakan gaya rambut lurus dan tidak terlalu panjang untuk memperlihatkan bahwa Maya merupakan tokoh yang biasa saja dan tidak memiliki keunikan yang spesial secara fisik.. 83 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(20) Gambar 4. 11. Detail Kostum Tokoh Maya (Dokumentasi Pribadi). 4.3.3. Character Sheet Sama halnya pada perancanan tokoh Wiro, penulis membuat Character Sheet yang agar atribut dan detail yang digunakan pada tokoh Maya terlihat jelas. Pembuatan Character Sheet ini juga dimaksudkan untuk mengenal dan memahami setiap detail yang ada pada tokoh yang dirancang. Penulis memberikan rincian detail dari Character Sheet yang dibuat pada tokoh Maya sebagai berikut:. 84 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(21) Gambar 4. 12. Character Sheet Tokoh Maya (Dokumentasi Pribadi). Tokoh Maya memiliki bentuk rambut lurus yang tersisir rapih dan berukuran sedang. Gaya rambut pada tokoh Maya dibuat memiliki belahan yang ujungnya dikaitkan ke belakang telinga. Gaya rambut tersebut dibuat berdasarkan personality Maya yang sederhana dan tidak suka hal-hal yang menyusahkan dalam berpenampilan. Sedangkan pada bentuk mata, penulis merancang bentuk mata berukuran besar yang dimiripkan dengan tokoh Wiro. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan kemiripan antara ayah dan anak perempuannya. Sedangkan untuk bentuk hidung, alis, dan bibir dibuat berbeda dengan tokoh Wiro karena penulis memutuskan bahwa bagian-bagian itu dimiripkan dengan ibu Maya.. 85 Perancangan Tokoh Dalam..., Fajri Dika Santoso, FSD UMN, 2018.
(22)
Gambar
Dokumen terkait
Folklor merupakan bagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif apa saja, secara tradisional dalam versi
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan BNT pada taraf a = 5%; P1 = Tanpa
Nilai awal yang digunakan pada iterasi Newton Raphson adalah nilai dan yang diperoleh pada pendugaan parameter dengan Metode Kuadrat Terkecil, yaitu dan
Inti pertanyaan dari peneliti kepada informan adalah strategi dan kegiatan apa saja yang dilakaukan oleh seorang Public Relations Section Head dalam menjalin hubungan
Di negara ini, dari segi undang-undang semua perkataan “memberi dan menerima suapan” adalah sebahagian daripada perbuatan dan kesalahan jenayah rasuah.. Biasanya rasuah dijadikan
Instrumen merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan pengukuran (Sugiyono, 2008). Untuk mengungkap fakta mengenai
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam menyelesaikan tulisan berjudul