ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
TERHADAP KEPUTUSAN PERSETUJUAN
PEMBIAYAAN PADA KOPERASI JASA KEUANGAN
SYARI’AH (KJKS) BAITUL MAAL WAT TAMWIL
(BMT) ANDA SALATIGA
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Ekonomi Syariah
Oleh
WINI ARINTASARI
NIM 20110011
JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI D III PERBANKAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN
SALATIGA
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya
didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengejarnya.”
(Abraham Lincoln)
“Visi tanpa tindakan hanyalah sebuah mimpi. Tindakan tanpa visi hanyalah
membuang waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia!”
(Joel Arthur Barker)
“Jika anda memiliki keberanian untuk memulai, anda juga memiliki keberanian untuk sukses.”
(David Viscout)
Tugas Akhir ini saya persembahkan kepada kedua orang tua saya,
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas
segala limpahan rahmat dan hidayah yang diberikan kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul “Analisis Sistem
Pengendalian Internal Terhadap Keputusan Persetujuan Pembiayaan Pada
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil ANDA Salatiga”
dengan lancar. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk memenuhi salah satu
syarat meraih gelar Ahli Madya pada jurusan syariah progdi D III Perbankan
Syari’ah STAIN Salatiga.
Tugas akhir ini merupakan cerminan dari perjalanan serta perjuangan
penulis selama menempuh masa kuliah, berkutat dengan literatur ilmu yang telah
didapatkan selama kuliah. Dalam proses penyusunan hingga selesainya Tugas
Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan, serta
bimbingan yang luar biasa kepada penulis. Untuk itu pada kesempatan kali ini
penulis ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada:
1. Bapak Dr. H. Imam Sutomo, M. Ag., selaku Ketua STAIN Salatiga
2. Bapak Drs. H. Mubasirun, M. Ag., selaku Ketua Jurusan Syariah STAIN
Salatiga.
3. Bapak Abdul Aziz N.P, S. Ag, M.M., selaku Ketua Program Pendidikan D III
Perbakan Syariah STAIN Salatiga
4. Ibu Wiwin Kurniasari, SE., M.Si., Akt. selaku Dosen Pembimbing yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran, serta penuh kesabaran dan tanggung
jawab untuk membimbing, mengarahkan dan memberi petunjuk kepada
5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen pengajar STAIN Salatiga, khususnya dosen
jurusan syari’ah yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis.
6. Bapak H. Budi Santoso, SE, MM., selaku Ketua KJKS BMT ANDA Salatiga
yang telah mengijinkan penulis untuk magang di koperasi yang beliau pimpin.
7. Seluruh karyawan dan staf KJKS BMT ANDA Salatiga terutama kepada Bapak
Supardi, SE., Mbak Febri Antika Sonya H.D, A.Md., Ibu Ita Setyorini, SE.,
dan Bapak Widodo, A.Md. atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
8. Keluarga besar penulis terutama ayah saya Bapak Ismail, ibu saya Ibu Ari
Antini dan adik saya Ulfa Maulida yang selalu mendukung dan mendoakan
penulis agar diberi kelancaran dalam segala kegiatannya terkait dengan
penulisan Tugas Akhir ini.
9. Untuk semua teman seperjuangan saya di kampus, terutama teman satu
angkatan di D III PS 2010, terimakasih atas saling suport yang kalian berikan
agar kita semua dapat lulus bersama-sama satu kelas.
10. Untuk all my best friends mpok Lela, makde Toen, mpok Leli, Lina, Lia,
Sayang dan juga mbak Ulil. Terimakasih atas semua dukungan kalian pada
saya, terlebih saat saya down kalian selalu memberikan motivasi dan
semangat pada saya.
11. Untuk bintang hatiku terimakasih untuk segala dukungan yang kamu berikan
12. Semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan pengetahuan serta pengalaman penulis. Namun penulis berharap
Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Segala tegur sapa dari pembaca
akan penulis sambut dengan baik demi kesempurnaan Tugas Akhir ini.
Salatiga, Juli 2013
ABSTRAK
Arintasari, Wini. 2013. Analisis Sistem Pengendalian Intern Terhadap Keputusan Persetujuan Pembiayaan Pada Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) ANDA Salatiga. Tugas Akhir. Jurusan Syariah. Program Studi DIII Perbankan Syariah. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Wiwin Kurniasari, SE., M. Si., Akt.
Kata kunci: Sistem Pengendalian Intern, prosedur pembiayaan, komponen dan
unsur Sistem Pengendalian Intern.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang menjadi bahan
pertimbangan pembiayaan serta penerapan Sistem Pengendalian Intern yang
dipakai pada proses persetujuan pembiayaan KJKS BMT ANDA Salatiga. Hal ini
dilatar belakangi oleh banyaknya kendala pembiayaan yang dialami oleh KJKS
BMT ANDA Salatiga dalam penyaluran pembiayaannya. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk dijadikan bahan
pertimbangan dalam memaksimalkan efektivitas Sistem Pengendalian Intern
dalam kegiatan penyaluran pembiayaan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis kualitatif, teknik
pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap obyek
penelitian serta pengumpulan informasi dari berbagai sumber seperti buku, brosur,
jurnal ilmiah, internet, dan data-data dari KJKS BMT ANDA Salatiga.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan Sistem
Pengendalian Intern yang diterapkan KJKS BMT ANDA Salatiga sangat efektif
digunakan untuk mencegah pembiayaan bermasalah. Hal ini dilihat dengan unsur
dan komponen Sistem Pengendalian Intern yang dinilai baik dan sesuai sehingga
dapat dijadikan sebagai indikator terlaksananya SPI (Sistem Pengendalian Intern)
yang handal dan efektif. Hanya saja pembiayaan bermasalah sendiri disebabkan
oleh pihak BMT (surveyer) yang kurang teliti dalam menganalisis/mensurvei
nasabah dan juga BMT menerima nasabah yang memiliki hubungan dekat dengan
salah satu pihak BMT tanpa melihat kelengkapan administrasi walaupun potensi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PERNYATAAN... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Penelitian Terdahulu ... 4
E. Metode Penelitian ... 10
F. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II LANDASAN TEORI... 15
A. Landasan Syariah ... 15
B. Sistem Pengendalian Internal Bank Syariah ... 16
D. Jenis-jenis Resiko Kredit/ Pembiayaan ... 30
E. Penggolongan Kualitas Pembiayaan ... 32
F. Audit Internal Penyaluran Dana ... 33
BAB III LAPORAN OBYEK ... 34
A. Gambaran Umum... 34
B. Data Deskriptif ... 45
BAB IV ANALISIS ... 61
A. Bahan Pertimbangan Persetujuan Pembiayaan ... 61
B. Kendala Pembiayaan Pada KJKS BMT ANDA Salatiga ... 70
C. Sistem Pengendalian Internal Pada KJKS BMT ANDA Salatiga ... 76
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 91
A. Kesimpulan ... 91
B. Saran... 92
DAFTAR PUSTAKA... 94
DAFTAR RIWAYAT HIDUP... 96
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Singkat Penelitian Terdahulu ... 7
Tabel 4.1 Jumlah Pembiayaan Yang Disalurkan KJKS BMT ANDA Salatiga ... 89
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Alur Desain Penelitian ... 12
Gambar 3.1 Struktur Organisasi KJKS BMT ANDA ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Formulir Permohonan Pembiayaan
Lampiran B Laporan Ringkasan Survei
Lampiran C Lembar Analisa Pembiayan
Lampiran D Lembar Kontrak Pembiayaan
Lampiran E Lembar Pengikatan Agunan
Lampiran F Tanda Bukti Setoran Pembiayaan
Lampiran G Kartu Pembiayaan
Lampiran H Surat Tugas Pembimbing
Lampiran I Lembar Konsultasi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah khususnya Perbankan
Syariah di Indonesia saat ini tumbuh secara pesat. Hal tersebut diikuti juga
oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang berbentuk Koperasi Jasa
Keuangan Syariah (KJKS), Usaha Jasa Keuangan Syariah (UJKS) atau
yang sering disebut Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Data dari Menteri
Perekonomian menyebutkan bahwa hingga akhir April 2012 jumlah
Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau Usaha Jasa Keuangan
Syariah (UJKS) secara keseluruhan berjumlah 2.362 unit usaha, dengan
tingkat nasional 85 unit, tingkat propinsi 189 unit, dan tingkat kabupaten/
kota sebanyak 2088 (http://www.hatta_rajasa.info, diunduh pada 08 Mei 2013, 19.23 WIB).
Seperti halnya Perbankan Syariah, BMT juga memiliki peran untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu dengan cara menghimpun
serta menyalurkan dana kepada masyarakat. Penghimpunan dana
dilakukan BMT dalam bentuk simpanan tabungan dan simpanan
berjangka, sementara penyaluran dana dilakukan melalui pemberian kredit
atau pembiayaan kepada nasabah yang memilki usaha mikro. Tetapi tidak
selamanya penyaluran pembiayaan yang dilakukan koperasi syariah atau
BMT tidak mengalami hambatan. Terkadang pembiayaan dapat
mengalami masalah dan kegagalan pembiayaan macet atau tidak
terbayarkan. Masalah dan kegagalan pembiayaan tersebut biasanya
disebabkan oleh faktor eksternal (segi nasabah) dan faktor internal (segi
BMT). Untuk itu dalam usaha pencegahan pembiayaan bermasalah, salah
menerapkan Sistem Pengendalian Internal (SPI) yang handal dan efektif
dalam kegiatan operasionalnya, khususnya pada proses persetujuan
pembiayaan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan prinsip kehati-hatian
sebagai upaya pencegahan terjadinya kegagalan pembiayaan atau
pembiayaan bermasalah pada suatu koperasi.
Menurut Mulyadi (2002: 180), Sistem Pengendalian Internal meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian, dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
KJKS BMT ANDA Salatiga merupakan salah satu Koperasi Jasa
Keuangan Syariah di Salatiga yang menawarkan jasa pembiayaan syariah
pada produk penyaluran dananya. Pada dasarnya prosedur penyaluran
pembiayaan yang diberikan KJKS BMT ANDA Salatiga sama dengan
pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah/ Koperasi Syariah lainnya,
antara lain pengajuan pembiayaan, analisis, keputusan pesetujuan,
pengikatan agunan, akad, dan pencairan pembiayaan. Namun dalam
prakteknya, penyaluran pembiayaan terkadang mengalami sedikit kendala
seperti pembiayaan macet. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor dari pihak
nasabah maupun KJKS BMT ANDA sendiri. Untuk itu BMT harus lebih
meningkatkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pinjaman untuk
menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya
melalui peningkatan Sistem Pengendalian Intern agar risiko pembiayaan
bermasalah dapat dicegah. Atas dasar tesebut mendorong penulis untuk
melakukan pengamatan tentang aktifitas pengendalian intern terhadap
pelaksanaan pembiayaan yang ada pada KJKS BMT ANDA Salatiga, dan
hasilnya disusun dalam bentuk TA (Tugas Akhir) yang berjudul:
“ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN TERHADAP
JASA KEUANGAN SYARIAH (KJKS) BAITUL MAAL WAT
TAMWIL (BMT)ANDA SALATIGA”
B. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah pada penelitian ini adalah:
1. Apa yang menjadi bahan pertimbangan KJKS BMT ANDA Salatiga
untuk menyetujui pengajuan suatu pembiayaan?
2. Apa kendala yang dihadapi KJKS BMT ANDA Salatiga dalam
pengadaan pembiayaannya?
3. Bagaimana sistem pengendalian internal KJKS BMT ANDA Salatiga
yang digunakan untuk mencegah pembiayaan macet?
C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penulisan Tugas Akhir yang akan diteliti ini adalah:
1. Mengetahui bahan pertimbangan KJKS BMT ANDA Salatiga untuk
menyetujui pengajuan suatu pembiayaan.
2. Mengetahui kendala yang dihadapi KJKS BMT ANDA Salatiga dalam
pengadaan pembiayaannya.
3. Mengetahui penerapan sistem pengendalian intern pada KJKS BMT
ANDA Salatiga yang digunakan untuk mencegah risiko pembiayaan
macet.
Selain memiliki tujuan-tujuan tersebut, penulis juga
mencantumkan kegunaan penulisan Tugas Akhir yang diteliti ini baik bagi
penulis, STAIN Salatiga, BMT, maupun pembaca Tugas Akhir ini.
Adapun kegunaannya yaitu:
1. Bagi Penulis
a. Sebagai persyaratan kelulusan diploma pada D III Perbankan
b. Mengaplikasikan teori yang telah didapat di bangku kuliah ke
aktivitas langsung di lapangan.
2. Bagi STAIN Salatiga
a. Memperkenalkan STAIN Salatiga khususnya Program Studi D III
Perbankan Syariah kepada masyarakat luar.
b. Menambah referensi literatur mengenai Perbankan Syariah bagi
mahasiswa STAIN Salatiga khususnya mahasiswa Progdi D III
Perbankan Syariah.
3. Bagi BMT
a. Diharapkan menjadi bahan masukan terhadap peningkatan mutu dan
jasa pada BMT tersebut.
b. Sebagai referensi dan bahan pertimbangan untuk lebih memperbaiki
aktivitas pengendalian intern yang dimiliki agar pembiayaan yang
diberikan tidak mengalami kredit macet.
4. Bagi Pembaca
Sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai sistem
pengendalian intern pembiayaan dan hal-hal yang mempengaruhi
persetujuan pembiayaan.
D. Penelitian Terdahulu
Terkait dengan tugas akhir yang diteliti oleh penulis, ada beberapa
telaah pustaka yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan
pembeda dalam penulisan tugas akhir ini. Telaah pustaka yang digunakan
penulis diantaranya melalui buku, skripsi, tugas akhir maupun jurnal
penelitian yang dipublikasikan di internet.
ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Secara umum pengendalian intern merupakan bagian dari masing-masing sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional perusahaan atau organisasi tertentu. Sedangakan sistem pengendalian intern merupakan kumpulan dari pengendalian intern yang terintergrasi, berhubungan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Mazidah (2010) menyatakan bahwa dari tahun ke tahun jumlah anggota penerima pembiayaan mudharabah semakin menurun, sedangkan dilihat dari jumlah pembiayaan mudharabah juga menurun. Penurunan tersebut disebabkan oleh kebutuhan anggota, resiko BMT yang tinggi, bertambahnya pesaing, berkurangnya dana dari pihak ketiga, keadaan ekonomi pada tahun yang bersangkutan, pembukaan kantor cabang dan kantor kas.
Purnamasari (2012) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BMT ANDA Salatiga telah memisahkan tugas dan tanggungjawab fungsional pada masing-masing bagian dalam karyawan. Prosedur sistem penggajian yang ada di BMT ANDA Salatiga sederhana dan dikatakan baik, serta mudah dipahami. Sistem pengendalian intern penggajian karyawan BMT ANDA Salatiga menunjukkan bahwa pengendalian internnya baik. Sudah ada pemisahan tugas dan tanggungjawab dalam struktur organisasinya, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang baik, serta praktik yang sehat dalam pelaksanaan fungsi setiap unit organisasi.
Patricia (2012) menyatakan bahwa Internal Kontrol yang
diterapkan oleh Bank X hampir seluruhnya sesuai dengan kerangka COSO
(Committeeof Sponsoring Organization) 2012 walaupun ada ketidaksesuaian yang terjadi didalamnya. Ketidaksesuaian yang terjadi
karena Bank X masih merasa belum memerlukannya. Namun untuk saat
ini internal kontrol yang dimiliki Bank X dinilai masih tergolong baik
untuk mencegah terjadinya kredit macet.
Bening (2013) menyimpulkan bahwa sistem pengendalian intern
atas pemberian kredit pada PT. Bank Tabungan Negara sudah baik.
Terlihat dengan lingkungan organisasi yang memiliki struktur organisasi
yang sudah dirancang khusus dalam proses pemberian kredit, dan adanya
keterlibatan dewan komisaris dalam hal ini. Disamping itu, Bank BTN
juga memikirkan bagaimana untuk menghindari atau memperkecil resiko
kredit macet dengan membuat persetujuan kedua belah pihak dalam
memberikan agunan yang sesuai dengan prosedur permohonan. Bank BTN
memiliki aktivitas pengendalian dalam melakukan proses ini yaitu dengan
pengendalian komputer dan pengendalian fisik.
Maunah (2010) dalam tugas akhirnya menyatakan bahwa
permasalahan kredit macet dapat dihindari dengan adanya sistem
pengendalian internal yang memadai dalam bidang perkreditan. Dengan
pengendalian internal yang memadai dalam perkreditan berarti
menunjukkan adanya sikap kehati-hatian pada koperasi terutama dalam hal
memberikan kredit. Tujuannya adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja
yang harus dipertimbangkan dalam menyetujui kredit, penyebab kredit
macet dan cara mengatasinya serta keefektifan pengendalian internal
dalam pemberian kredit.
Nadia (2011) dalam skripsinya menyimpulkan bahwa pembiayaan
yang mengalami pengembalian macet pada BNI Syariah cabang Semarang
mencapai tiga persen selama periode tahun 2011, tidak disebabkan kurang
efektifnya sistem pengendalian intern yang diterapkan dalam pemberian
pembiayaan. Melainkan karena faktor-faktor lain seperti hal yang tidak
diduga sebelumnya baik pihak manajemen maupun nasabah yaitu faktor
Ruzana (2011) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa
hasil pengujian pengendalian terhadap sistem pengendalian intern pada
pemberian kredit di Bank Mandiri Cabang Majapahit Semarang dengan
metode sampling model fixed sample sized menunjukkan bahwa pengendalian terhadap proses pemberian kredit adalah efektif karena
jumlah batas ketepatan yang dicapai (Achieved Upper Precission Limit /
AUPL) sebesar 3% lebih kecil atau sama dengan Desired Upper Precision Limit(DUPL) 5%, padaconfidence level95%, danrate of occurrence1%.
Dari beberapa jurnal dan penelitian di atas dapat diambil data singkat sebagai
berikut:
Tabel 1.1 Data Singkat Penelitian Terdahulu
un ada
Dari beberapa penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian
mengenai Sistem Pengendalian Intern terhadap pemberian kredit/ pembiayaan
Pengendalian Intern terhadap pemberian kredit/ pembiayaan pada KJKS BMT
ANDA Salatiga belum pernah dilakukan. Hal inilah yang mendasari penulis
untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai sistem pengendalian
intern terhadap keputusan persetujuan pembiayaan pada KJKS BMT ANDA
Salatiga. Mengingat bahwa pengambilan keputusan persetujuan sangatlah
berperan untuk mencegah dan mengurangi pembiayaan macet yang terjadi
pada koperasi.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil KJKS BMT ANDA
Salatiga sebagai obyek yang diteliti. Pendekatan yang dilakukan dalam
penelitian ini yaitu melalui pendekatan kualitatif. Menurut Keirl dan
Miller dalam Moleong (2004), yang dimaksud penelitian kualitatif
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara
fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam
kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang tersebut dalam
bahasanya dan dalam peristilahannya. Adapun karakteristik penelitian
kualitatif menurut Keirl dan Miller adalah:
a. Melakukan penelitian pada latar alamiah;
b. Manusia sebagai alat pengumpul data utama;
c. Menggunakan metode kualitatif;
d. Menggunakan analisis data secara induktif;
e. Penyusunan teori dimulai dari pengumpulan data yang saling
berhubungan;
f. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan
angka-angka;
g. Lebih mementingkan proses dari pada hasil;
h. Batasan penelitian ditentukan oleh tujuan penelitian;
j. Desain penelitian bersifat sementara, yang terus menerus
disesuaikan kenyataan di lapangan;
k. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.
2. Jenis Data Yang Digunakan
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan sekunder. Data primer menurut Supranto (2002) yaitu data
yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau suatu organisasi
langsung melalui objeknya. Sedangkan data sekunder menurut Daymon
(2008) yaitu data yang diperoleh dari dokumen, buku-buku, dan
arsip-arsip yang berkaitan dengan topik data yang diteliti.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
cara mencari informasi pada buku, majalah, brosur, internet, dan
data-data dari KJKS BMT Anda Salatiga yang berhubungan dengan masalah
yang dibahas. Selain itu peneliti juga mendatangi langsung obyek
penelitian dengan melakukan pengamatan dan wawancara dengan
narasumber. Guna mendapatkan data mengenai pengendalian intern
pada keputusan persetujuan pembiayaan.
4. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam
perencanaan dan pelaksanaan penelitian, yang membantu peneliti dalam
pengumpulan dan menganalisis data. Berikut tahap desain penelitian
yang digunakan penulis dalam penelitian ini:
a. Tahap Pra Lapangan
Tahap pra lapangan yaitu tahap persiapan yang dilakukan
peneliti sebelum memasuki lapangan atau melakukan penelitian.
masalah, tujuan, obyek, metode serta teknik pengumpulan data
penelitian), dan mengurus ijin penelitian.
b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Tahap pekerjaan lapangan yaitu tahap dimana peneliti
sudah mulai melakukan penelitian/pengamatan terhadap obyek
serta mengumpulkan informasi mengenai data-data terkait
penelitian yang diteliti.
c. Tahap Pasca Lapangan
Tahap dimana peneliti mulai melakukan analisa terhadap
data-data yang telah diperoleh mengenai penelitiannya. Dalam tahap
ini peneliti akan menyederhanakan data, memaparkan serta menarik
kesimpulan mengenai penelitian yang dikerjakan.
Berikut bagan singkat mengenai desain penelitian pada penelitian ini:
Gambar 1.1 Alur Desain Penelitian
TAHAP PRA LAPANGAN
1. Menyusun rancangan awal penelitian (tema, masalah, tujuan, objek penelitian, metode dan teknik pengumpulan data)
2. Mengurus ijin penelitian
TAHAP PASCA LAPANGAN
Peneliti memaparkan hasil data yang diperoleh serta menarik kesimpulan mengenai penelitiannya yaitu
pengendalian intern terhadap persetujuan pembiayaan pada BMT ANDA.
TAHAP PEKERJAAN LAPANGAN
1. Pengamatan objek
F. Sistematika Penulisan
Tugas Akhir ini terdiri dari 5 bab dan tiap bab terdiri dari beberapa
sub bab yang dapat diuraikan kembali. Sistematika penulisan dalam Tugas
Akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian penulisan tugas akhir, dan sistematika
penulisan. Selanjutnya bab per bab disusun secara sistematis menyangkut
tema Analisis Sistem Pengendalian Intern Terhadap Keputusan
Persetujuan Pembiayaan Pada KJKS BMT Anda Salatiga.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tentang teori-teori yang digunakan serta kajian
pustaka yang dilakukan untuk mendukung penelitian mengenai
pengendalian intern terhadap keputusan persetujuan pembiayaan pada
KJKS BMT Anda Salatiga.
BAB III LAPORAN OBYEK
Bab ini menguraikan tentang gambaran umum obyek penelitian
seperti: sejarah berdirinya KJKS BMT ANDA Salatiga; profil KJKS BMT
ANDA Salatiga; visi dan misi KJKS BMT ANDA Salatiga; dasar
pendirian KJKS BMT ANDA Salatiga; struktur organisasi KJKS BMT
ANDA Salatiga, dan berisi data-data deskriptif mengenai pengendalian
intern meliputi: pengertian; tujuan dan komponen pengendalian intern;
pengertian pembiayaan; fungsi dan jenis pembiayaan serta prinsip
pemberian pinjaman.
BAB IV ANALISIS
Bab ini berisi tentang studi analisis dan hasil pengujian data yang
telah diperoleh mengenai pengendalian intern terhadap keputusan
persetujuan pembiayaan pada KJKS BMT ANDA Salatiga, meliputi
kendala-kendala pembiayaan yang dihadapi, dan Sistem Pengendalian Internal
pada KJKS BMT ANDA Salatiga.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada akhirnya bab ini menguraikan tentang kesimpulan yang
diperoleh dari penelitian yang dilakukan serta saran dari penulis terhadap
sistem pengendalian intern yang dipakai KJKS BMT ANDA Salatiga
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Syariah
Banyak sekali pesan tentang audit dan kontrol dalam ajaran Islam.
Berikut ini adalah beberapa nash Al-Qur’an dan Hadits yang dapat dijadikan
renungan oleh para bankir dan praktisi keuangan.
1. Al-Qur’an
ُن ﺂ َﻨ َﺷ ْﻢ ُﻜ ﱠﻨ َﻣ ِﺮ ْﺠ
ٌﺮﯿِﺒَﺧ َ ﱠﷲ ﱠنِإ ۚ َ ﱠﷲ اﻮُﻘﱠﺗاَو ۖ ٰىَﻮْﻘﱠﺘﻠِﻟ ُبَﺮْﻗَأ َﻮُھ اﻮُﻟِﺪْﻋا ۚ اﻮُﻟِﺪْﻌَﺗ ﱠﻻَأ ٰﻰَﻠَﻋ ٍم ْﻮَﻗ
َن ﻮ ُﻠ َﻤ ْﻌ َﺗ ﺎ َﻤ ِﺑ
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi
orang-oranng yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil....” (al-Ma’idah: 8)
ٍﺔـﻟﺎَﮭَﺠِﺑ ﺎـًﻣ ْﻮﻗ ا ْﻮـﺒِﺼُﺗ ْنأ ا ْﻮُـﻨّﯿﺒﺘﻓ ٍﺎﺒَﻨِـﺑ ٌﻖﺳﺎَﻓ ْﻢﻛَءﺂـﺟ ْنٍاِ ا ْﻮُـﻨﻣآ ﻦْﯾِﺬّﻟاﺎَﮭﱡﯾﺄـَﯾ
ﻦـﯿﻣﺪـﻧ ْﻢُـﺘْﻠَﻌﻓ ﺎَﻣ ﻰَﻠﻋ ا ْﻮـُﺤِﺒ ْﺼُﺘﻓ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
2. Al-Hadits
“Katakanlah kebenaran itu sekalipun pahit.” (al-Hadits)
“Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia
mengubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Apabila tidak sanggup,
dengan ucapannya. Apabila tidak sanggup, dengan hatinya, dan itulah
selemah-lemahnya iman.” (al-Hadits)
B. Sistem Pengendalian Internal Bank Syariah
1. Definisi Sistem Pengendalian Internal
Menurut Mulyadi (2002:180),Sistem Pengendalian Internal meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian, dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Menurut James R Davis, C Wayne Alderman, & Leonard A Robinson (sesuai dengan SAS No. 55), Pengendalian Internal adalah seluruh kebijakan dan prosedur yang diciptakan untuk memberikan jaminan yang masuk akal agar tujuan organisasi (Entity) dapat tercapai.
Menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), pengendalian Internal adalah sebuah proses yang
dihasilkan oleh Dewan Direktur, Manajemen, dan Personel lainnya, yang didesain untuk memberikan jaminan yang masuk akal yang memperhatikan tercapainya tujuan-tujuan dengan kategori efektif dan efisisiensinya operasi, terpercayanya (Reliabillity) laporan keuangan,tunduk pada hukum, dan aturan yang berlaku.
ditujukan agar dipatuhinya kebijakan yang ditetapkan serta tercapainya tujuan manajemen.
2. Tujuan Sistem Pengendalian Internal
Tujuan pengendalian intern adalah menjamin manajemen perusahaan agar:
a. Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai;
b. Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya;
c. Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku;
d. Pengendalian intern dapat mencegah kerugian atau pemborosan
pengolahan sumber daya perusahaan;
e. Pengendalian intern dapat menyediakan informasi tentang bagaimana
menilai kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan serta menyediakan
informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan.
3. Unsur Pokok Sistem Pengendalian Internal
Unsur pokok sistem pengendalian intern antara lain:
a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara
tegas;
b. Sistem wewenang (otorisasi) dan prosedur pencatatan yang baik yang
dapat mengamankan Aktiva, Hutang, dan Modal;
c. Praktek yang sehat (Sound practice);
d. Pegawai yang cakap.
4. Komponen Pengendalian Intern
Menurut Mulyadi (2002:183), komponen pengendalian intern antara lain:
a. Lingkungan Pengendalian(control environment)
Kunci lingkungan pengendalian yaitu : • Integritas dan etika;
• Komitmen terhadap kompetensi; • Struktur organisasi;
• Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab;
• Praktek dan kebijakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik. b. Penaksiran Risiko (risk assesment)
Penaksiran risiko adalah proses mengidentifikasi dan menganalisis risiko-risiko yang relevan dalam pencapaian tujuan, membentuk sebuah basis untuk menentukan bagaimana risiko dapat diatur. Karena kondisi ekonomi, industri, regulasi, dan operasi selalu berubah, maka diperlukan mekanisme untuk mengidentifikasi dan menghadapi risiko-risiko spesial terkait dengan perubahan tersebut.
c. Aktivitas Pengendalian (control activities)
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur membantu meyakinkan manajemen bahwa arahannya telah dijalankan. Aktivitas pengendalian membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil dalam menghadapi risiko sehingga tujuan entitas dapat tercapai. Aktivitas pengendalian terjadi pada seluruh organisasi, pada seluruh level dan seluruh fungsi.
d. Informasi dan Komunikasi (information and comunication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang
penting dari pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang
lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur pengendalian, dan
monitoring diperlukan oleh manajemen sebagai pedoman operasional dan
e. Pemantauan (monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan
menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian.
Pengendalian intern dapat dimonitor dengan baik dengan cara penilaian
khusus atau sejalan dengan usaha manajemen.
5. Jenis-jenis Pengendalian Internal
a. Berdasarkan tujuan
1) Pengendalian Akuntansi, meliputi rencana, prosedur, dan pencatatan yang
bertujuan menjaga keamanan kekayaan perusahaan dan keandalan data
akuntansinya. Pengendalian ini menjamin bahwa semua transaksi
dilaksanakan sesuai otorisasi manajemen. Transaksi dicatat sesuai
dengan Standar akuntansi.
2) Pengendalian Administratif, meliputi rencana, prosedur, dan pencatatan
yang mendorong efisiensi dan ditaatinya kebijakan manajemen yang
ditetapkan.
b. Berdasarkan manfaat
1) Pengendalian preventif (preventive control), mencegah terjadinya
kesalahan, secara otomatis dilakukan pengendalian atau pengecekan.
2) Pengendalian detektif (feed forward control), mendeteksi kapan
kesalahan terjadi dan dilakukan perbaikan.
3) Pengendalian korektif (feedback control), memberikan umpan balik
berupa informasi kepada manajemen untuk memperbaiki akibat
c. Berdasarkan cakupan
1) Pengendalian umum, pengendalian terhadap semua aktivitas pemrosesan
data dengan komputer, hal ini meliputi pemisahan tanggung jawab dan
fungsi pengolahan data.
2) Pengendalian aplikasi, mencakup semua pengawasan transaksi dan
penggunaan program-program aplikasi di komputer. Untuk menjaga agar
setiap transaksi mendapat otorisasi serta dicatat, diklasifikasikan,
diproses, dan dilaporkan dengan benar.
6. Pedoman Sistem Pengendalian Intern Perbankan
Menurut SE No.05/22/DPNP Bank Indonesia, penerapan sistem
pengendalian intern dalam perbankan meliputi:
a. Pengawasan Manajemen dan Kultur Pengendalian
1) Dewan komisaris berperan secara aktif untuk memastikan adanya
perbaikan terhadap permasalahan bank yang dapat mengurangi
efektivitas pengendalian intern;
2) Dewan komisaris melakukan kajian ulang terhadap evaluasi
pelaksanaan pengendalian intern yang dibuat oleh auditor intern dan
auditor ekstern;
3) Memelihara struktur organisasi yang mencerminkan kewenangan,
tanggung jawab, dan hubungan pelaporan yang jelas;
4) Memastikan bahwa kegiatan fungsi pengendalian intern telah
dilaksanakan oleh pejabat dan pegawai yang memiliki pengalaman dan
kemampuan yang memadai.
b. Identifikasi dan Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan suatu tindakan yang dilaksanakan oleh
direksi dalam rangka identifikasi, analisis, dan menilai risiko yang dihadapi
bank untuk mencapai sasaran usaha yang ditetapkan. Risiko dapat timbul
dan berubah sesuai dengan kondisi bank, antara lain perubahan kegiatan
operasional bank, perubahan susunan personalia, perubahan sistem
perkembangan teknologi, perubahan dalam sistem akuntansi, dan hukum
yang berlaku.
c. Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi
Kegiatan pengendalian mencakup penetapan kebijakan dan prosedur
pengendalian serta proses verifikasi lebih dini untuk memastikan bahwa
kebijakan dan prosedur tersebut secara konsisten dipatuhi. Kegiatan
pengendalian antara lain kaji ulang kinerja operasional, kaji ulang
manajemen, pengendalian sistem informasi, pengendalian aset fisik,
dokumentasi, dan pemisahan fungsi.
d. Sistem Akuntansi, Informasi dan Komunikasi
1) Proses rekonsiliasi antara data akuntansi dan sistem informasi
manajemen dilaksanakan secara berkala. Setiap penyimpangan segera
diinvestigasi diatasi permasalahannya;
2) Sistem informasi harus menghasilkan laporan kegiatan usaha, kondisi
keuangan, penerapan manajemen risiko;
3) Sistem informasi harus menyediakan data dan informasi yang relevan,
akurat, tepat waktu, dapat diakses oleh pihak yang berkepentingan;
4) Sistem komunikasi harus mampu memberikan informasi kepada
seluruh pihak, baik intern maupun ekstern;
5) Sistem pengendalian intern bank harus memastikan adanya saluran
komunikasi yang efektif agar seluruh pejabat dan karyawan memahami
dan memenuhi kebijakan dan prosedur yang berlaku.
e. Pemantauan dan Tindakan Koreksi atas Penyimpangan
1) Bank harus melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap
efektivitas keseluruhan pelaksanaan pengendalian internal.
2) Bank harus memantau dan mengevaluasi kecukupan sistem
pengendalian intern berkaitan dengan adanya perubahan kondisi intern
dan ekstern.
3) Bank harus menyelenggarakan audit intern yang efektif dan
C. Pembiayaan Pada Bank Syariah
Pembiayaan secara luas berarti financing/ pembelanjaan, yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah
direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dijalankan oleh orang lain.
Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang
dilakukan oleh lembaga pembiayaan, seperti bank syariah ke nasabah
(Muhamad, 2002: 260).
1. Tujuan dan Manfaat Pembiayaan
a. Tujuan pembiayaan
Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai
dengan nilai-nilai islam. Pembiayaan tersebut harus dapat dinikmati oleh
sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak di bidang industri,
pertanian, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan
menunjang produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa dalam
rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
b. Manfaat pembiayaan
1) Menambah modal yang dapat digunakan untuk membiayai usaha
produksi
2) Memperkuat usaha yang telah ada untuk membentuk usaha baru
3) Memperoleh sarana produksi terus-menerus
4) Meningkatkan tambahan pendapatan yang sudah diperoleh sebagai
2. Jenis-jenis Pembiayaan
a. Berdasarkan tujuan penggunaanya, dibedakan dalam:
1) Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk
memberikan modal usaha seperti pembelian bahan baku atau barang
yang akan diperdagangkan;
2) Pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk modal
usaha pembelian sarana alat produksi dan atau pembelian barang
modal berupa aktiva tetap/ inventaris;
3) Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk
pembelian suatu barang yang digunakan untuk kepentingan
perseorangan (pribadi).
b. Berdasarkan cara pembayarannya/ angsuran bagi hasil, dibedakan dalam:
1) Pembiayaan dengan angsuran pokok dan bagi hasil periodik, yakni
angsuran untuk jenis pokok dan bagi hasil dibayar/ diangsur tiap
periodik yang telah ditentukan misalnya bulanan;
2) Pembiayaan dengan angsuran bagi hasil dan pokok akhir, yakni untuk
bagi hasil dibayar berangsur tiap periodik sedangkan pokok dibayar
sepenuhnya pada saat akhir jangka waktu angsuran;
3) Pembiayaan dengan angsuran pokok dan bagi hasil akhir, yakni untuk
pokok dan bagi hasil dibayar pada saat akhir jangka waktu
pembayaran.
c. Berdasarkan metode penghitungan angsuran yang digunakan, dibedakan
dalam:
1) Efektif, yakni angsuran yang dibayarkan selama periode angsuran
mengikuti prinsip time value of money, yaitu nilai angsuran akan berpijak pada nilai uang yang berlaku saat ini. Tipe angsuran ini bagi
2) Flat, yaitu angsuran pokok dan bagi hasil merata untuk setiap periode;
3) Sliding, yaitu angsuran pokok pinjaman tetap dan bagi hasil menurun mengikuti sisa pinjaman (outstanding).
d. Berdasarkan jangka waktu pemberiannya, dibedakan dalam:
1) Pembiayaan dalam jangka waktu pendek, umumnya dibawah 1 tahun;
2) Pembiayaan dalam jangka waktu menengah, umumnya sampai dengan
1 tahun;
3) Pembiayaan dalam jangka waktu panjang, umumnya diatas 1 tahun
sampai dengan 3 tahun.
e. Berdasarkan sektor usaha yang dibiayai, dibedakan menjadi:
1) Pembiayaan sektor perdagangan (contoh: bengkel per, pasar, toko
kelontong, warung sembako, dll);
2) Pembiayaan sektor industri (contoh konveksi sepatu);
3) Pembiayaan sektor riil (contoh: elektronik, kebutuhan pelatihan, dll);
4) Leasing(contoh: motor dan mobil).
f. Pembiayaan berdasarkan syariah Islam
1) Jual Beli
a) Al Murabahah, yaitu pembiayaan dengan akad jual beli barang sesuai harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.
b) Al Ba’i Salam, yaitu pembiayaan dengan akad pembelian barang
yang diserahkan dikemudian hari sedangkan pembayarannya
dilakukan di muka.
c) Al Ijarah, yaitu pembiayaan dengan akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti
2) Bagi Hasil
a) Mudharabah, yaitu pembiayaan dengan akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan
seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya hanya menjadi
pengelola (mudharib).
b) Musyarakah, yaitu pembiayaan dengan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu diman masing-masing
pihak memberikan kontribusi dana atau (amal) dengan kesepakatan
bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung berasama sesuai
kesepakatan.
3)Qardhul Hasan
Pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau
diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa
pengharapan imbalan.
3. Prosedur Pembiayaan
Prosedur pembiayaan adalah sifat atau metode untuk melaksanakan
kegiatan pembiayaan. Berikut ini beberapa tahapan yang ada pada prosedur
pembiayaan:
1) Aplikasi pembiayaan
Seperti juga perbankan konvensioanal, perbankan syariah
menetapkan syarat-syarat umum untuk sebuah pembiayaan, seperti
hal-hal berikut ini:
a) Surat permohonan tertulis, dengan dilampiri proposal yang memuat
antara lain gambaran umum usaha, rencana atau prospek usaha,
rincian dan rencana penggunaan dana, jumlah kebutuhan dana, dan
b) Legalitas usaha, seperti identitas diri, akta pendirian usaha, surat izin
umum perusahaan, dan tanda daftar perusahaan;
c) Laporan keuangan, seperti neraca dan laporan rugi laba, data
persediaan terakhir, data penjualan, dan fotokopi rekening bank.
2) Analisis Permohonan Pembiayaan
a) Prinsip Analisis Pembiayaan
Dalam melakukan penilaian permohonan pembiayaan bank
syariah, bagian marketing harus memperhatikan beberapa prinsip
utama yang berkaitan dengan kondisi secara keseluruhan calon
nasabah. Di dunia perbankan syariah prinsip penilaian dikenal dengan
5C + 1 S, yaitu:
(1)Character(karakter atau watak nasabah)
Yaitu penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon
penerima pembiayaan dengan tujuan untuk memperkirakan
kemungkinan bahwa penerima pembiayaan dapat memenuhi
kewajibannya.
(2)Capacity(kemampuan membayar)
Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan
penerima pembiayaan untuk melakukan pembayaran. Kemampuan
diukur dengan catatan prestasi penerima pembiayaan di masa lalu
yang didukung dengan pengamatan di lapangan atas sarana
usahanya seperti toko, karyawan, alat-alat, pabrik serta metode
kegiatan.
(3)Capital(modal yang dimiliki)
Yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki
perusahaan secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh rasio
finansial dan penekanan pada komposisi modalnya.
(4)Collateral(jaminan yang dimiliki)
Yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan.
Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu
resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi, maka jaminan dapat
dipakai sebagai pengganti kewajiban.
(5)Condition(kondisi ekonomi yang terjadi)
Bank syariah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di
masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis
usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal
tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses
berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.
(6)Syariah
Penilaian ini dilakukan utuk menegaskan bahwa usaha yang
akan dibiayai benar-benar usaha yang tidak melanggar syariah,
sesuai dengan fatwa DSN MUI “Pengelola tidak boleh menyalahi
hukum syariah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan
mudharabah.”
Selain 5 C penilaian pembiayaan juga dapat menggunakan analisis
7P antara lain sebagai berikut:
(1)Personality(kepribadian nasabah)
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau
tingkah laku sehari-hari maupun kepribadian masa lalu.
(2)Party(klasfikasi nasabah)
Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi
tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal,
(3)Purpose(tujuan nasabah)
Yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit
termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.
(4)Prospect(harapan kemajuan)
Yaitu menilai usaha nasabah di masa akan datang
menguntungkan atau tidak atau dengan kata lain mempunyai
prospek atau sebaliknya.
(5)Payment(pengembalian)
Yaitu ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan
kredit yang telah diambil atau sumber dana untuk pengembalian
kredit.
(6)Profitability(keuntungan)
Yaitu menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam
mencari laba.
(7)Protection(perlindungan)
Yaitu bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan
mendapatkan jaminan perlindungan, sehingga kredit yang
diberikan benar-benar aman.
3) Keputusan Permohonan Pembiayaan
Proses persetujuan penyaluran dana dilakukan melalui forum
komite penyaluran dana yang membahas usulan penyaluran dana dari
account officer (bagian penghitungan/ akuntansi). Keputusan komite penyaluran dana dapat berupa persetujuan, persetujuan dengan syarat
atau penolakan dengan alasan yang dikemukakan dengan jelas.
4) Realisasi Pembiayaan
Setelah disetujuinya permohonan pembiayaan oleh komite
penyaluran dana, maka dilakukanlah realisasi pembiayaan sesuai dengan
5) Pembinaan dan Pengawasan
Pembiayaan merupakan kegiatan utama bank, sebagai usaha
untuk memperoleh laba, tetapi rawan risiko yang tidak saja dapat
merugikan bank tapi juga berakibat kepada masyarakat penyimpan dan
pengguna dana. Oleh karena itu bank harus menerapkan fungsi
pengawasan yang bersifat menyeluruh (multi layers control), dengan tiga
prinsip utama, yaitu prinsip pencegahan dini (early warning system),
prinsip pengawasan melekat (built in control), dan prinsip pemeriksaan
internal (internal audit).
a) Prinsip Pencegahan Dini
Yaitu tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya
hal-hal yang dapat merugikan bank dalam pembiayaan, atau terjadinya
praktek-praktek pembiayaan yang tidak sehat. Pencegahan dini
dilakukan dengan cara menciptakan struktur pengendalian yang andal,
sebagai alat pencegahan yang mampu meminimalkan peluang-peluang
penyimpangan, dan alat untuk mendeteksi adanya penyimpangan,
sehingga dapat segera diluruskan kembali. Struktur pengendalian
internal ini harus diterapkan pada semua tahap proses pembiayaan,
mulai dari permohonan pembiayaan sampai pelunasan/ penyelesaian.
b) Prinsip Pengawasan Melekat
Yaitu dimana para pejabat pembiayaan melakukan supervisi
sehari-hari untuk memastikan bahwa kegiatan pembiayaan telah
berjalan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan, dan
ketentuan-ketentuan operasional lainnya dalam pembiayaan. Hasil
kegiatan supervisi itu minimal berupa laporan-laporan tentang:
(1) Hasil penilaian kualitas portofolio pembiayaan secara menyeluruh,
(2) Ada atau tidaknya pembiayaan yang dilakukan menyimpang dari
kebijakan pokok pembiayaan, ketentuan syariah atau peraturan
perundang-undangan lainnya, berikut saran atau tindakan
perbaikannya;
(3) Besarnya tunggakan pembayaran kembali pembiayaan yang telah
diberikan dan pembayaran bagi hasilnya;
(4) Pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat yang
berada di bawah supervisinya.
c) Prinsip Pemeriksaan Internal
Audit internal merupakan upaya lanjutan dalam pengawasan
pembiayaan, untuk lebih memastikan bahwa pembiayaan dilakukan
dengan benar sesuai dengan kebijakan pembiayaan, dan telah
memenuhi prinsip-prinsip pembiayaan yang sehat serta mematuhi
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam pembiayaan.
D. Jenis-jenis Risiko Kredit/ Pembiayaan
1. Risiko Kredit
Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan
pokok dan/ atau bunga dari pinjaman yang diberikannya atau investasi yang
sedang dilakukannya. Penyebab utama terjadinya risiko kredit adalah terlalu
mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena
terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian
kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko
usaha yang dibiayainya.
2. Risiko Modal
Salah satu fungsi modal adalah melindungi para penyimpan dana
kualitas aset. Bank yang menggunakan sebagian besar dananya untuk
mendanai aset yang berisiko perlu memiliki modal penyangga yang besar
untuk sandaran bila kinerja aset-aset itu tidak baik. Tingkat modal itu juga
penting untuk menyangga risiko likuiditas.
3. Risiko Likuiditas
a. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas muncul manakala bank mengalami ketidak
mampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan
dengan biaya yang sesuai, baik untuk memenuhi kebutuhan transaksi
sehari-hari maupun untuk mmenuhi kebutuhan dana yang mendesak.
Besar-kecilnya risiko ini banyak ditentukan oleh:
• Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana-dana termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana-dana
(volatility of funds);
• Ketepatan dalam mengatur struktur dana-dana termasuk kecukupan dana-dana non bagi hasil;
• Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas;
• Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort (pemberian pinjaman terakhir).
b. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko (kerugian) yang dikarenakan
adanya pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan internal atau
E. Penggolongan Kualitas Pembiayaan
Untuk menentukan berkualitas atau tidaknya suatu kredit/pembiayaan
perlu diberikan ukuran-ukuran tertentu. Bank Indonesia menggolongkan
kualitas kredit/ pembiayaan menurut ketentuan sebagai berikut:
1. Pembiayaan Lancar (pas)
Adalah pembiayaan yang tidak mengalami penundaan pengembalian
pokok pinjaman dan pembayaran margin atau bagi hasil (jumlah hari
tunggakkan adalah 0).
2. Pembiayaan dalam perhatian khusus (special mention)
Adalah pembiayaan yang pengembalian pokok pinjaman dan
pembayaran margin dan bagi hasil telah mengalami penundaan selama 3
bulan dari waktu yang dijanjikan (1-90 hari).
3. Pembiayaan kurang lancar (substandard)
Adalah pembiayaan yang pengembalian pokok pinjamannya dan
pembayaran margin atau bagi hasil telah mengalami penundaan selama 6
bulan atau dua kali dari waktu yang dijanjikan (jumlah hari tunggakkan
91-180 hari).
4. Pembiayaan diragukan (doubtful)
Adalah pembiayaan yang pengembalian pokok pinjamannya dan
pembayaran margin atau bagi hasil telah mengalami penundaan selama 9
bulan sejak jatuh tempo menurut jadwal yang diperjanjikan (jumlah hari
tunggakkan 181-270 hari).
5. Pembiayaan macet (loss)
Adalah pembiayaan yang pengembalian pokok pinjaman dan
bulan sejak jatuh tempo menurut jadwal yang dijanjikan (jumlah hari
tunggakkan >270 hari).
F. Audit Intenal Penyaluran Dana
Audit internal penyaluran dana merupakan upaya lanjutan dalam
pengawasan penyaluran dana untuk lebih memastikan bahwa pemberian
penyaluran dana dilakukan dengan benar sesuai dengan prinsip kehati-hatian
dan prinsip syariah, meliputi:
1. Bank wajib melaksanakan audit internal terhadap pelaksanaan pemberian
penyaluran dana secara rutin dan berkesinambungan;
2. Pelaksanaan audit internal terhadap penyaluran dana harus sesuai dengan
standar pelaksanan fungsi audit internal bank yang berlaku;
3. Antara pengawas (Internal Auditor) dan obyek pengawas (auditee) harus
terjalin kerja sama yang baik dan pihak auditee wajib memberikan informasi
secara transparan dan obyektif;
4. Bila dari pemeriksaan terhadap obyek pengawasan ternyata ada sesuatu
petunjuk yang menandakan terjadinya penyimpangan, dan auditor berusaha
untuk menghindar, maka auditor dianggap memiliki pengetahuan atas
BAB
IIILAPORAN OBYEK
A. Gambaran Umum
1. Sejarah dan Perkembangan KJKS BMT ANDA
Koperasi Serba Usaha ANDA sebagai koperasi yang berdiri sejak
tahun 1998 diharapkan dapat bergerak diberbagai sektor usaha, telah
disahkan oleh Menteri Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil dengan SK
Nomor: 004/BH/kwk.1132/X1998. Kemudian pada tahun 2003
disempurnakan ke Badan Hukum tingkat Propinsi dengan SK Nomor:
07/BH/PAD/KDK.II/IV/2003 dan pada tahun 2012 diadakan perubahan
anggaran dasar menjadi KJKS BMT ANDA dengan nomor
35/PAD/XIV/X/2012.
Jumlah anggota pada akhir tahun 2011 sebanyak 4.928 orang dan
pada akhir tahun 2012 sebanyak 5.822 orang, atau mengalami peningkatan
894 orang. Penambahan anggota pada tahun 2012 berjalan relatif stabil.
Anggota yang mengundurkan diri juga ada, namun jumlahnya tidak terlalu
sigifikan. Hal ini dikarenakan penambahan anggota diatur lebih detail,
sementara mereka yang mengundurkan diri dikarenakan pindah domisili dll.
Namun demikian tidak mengurangi antusias dari masyarakat untuk
mendaftar sebagai anggota “KJKS BMT ANDA”.
Sampai dengan tahun 2012, usaha yang dijalankan oleh KJKS BMT
ANDA tidak hanyasektor simpan pinjam dengan menggunakan pola
syariah, namun juga pada sektor-sektor yang lain, seperti pengelolaan arisan
motor, jasa tempat pembayaran rekening listrik dan telepon, kerjasama
mempermudah anggota dalam mendapatkan motor dan pembayaran listrik
dan telepon, melaksanakan ibadah haji dan umroh, serta meningkatkan
pendapatan koperasi terutama pendapatan diluar simpan pinjam.
Koperasi Jasa Keuangan Syriah BMT ANDA pada tahun 2012 ini
mengalami kenaikan aset dari Rp. 9.423.071,55 menjadi Rp.
11.777.607.574,79 atau meningkat Rp. 2.354.535.801,25 jika
diprosentasekan maka mencapai 24,98%.Kenaikan 24,98% ini didorong dari
jumlah kewajiban lancar Rp. 1,462,769,303.92 dan hutang naik Rp
596,033,827.03 dan modal naik Rp. 295,732,679.29.
Dengan kenaikan disisi pasiva ini tentunya meningkatkan jumlah
aktiva, baik aktiva produktif maupun aktiva tetap. Pendapatan juga
mengalami kenaikan dari Rp. 1.821.878.66,23 menjadi Rp.
2.195.204.484,39 atau meningkat Rp. 373,326,182.16. Hal ini terjadi karena
adanya peningkatan aktiva produktif dan penambahan usaha jasa lainnya.
2. Profil KJKS BMT ANDA
Nama : KJKS BMT ANDA
Alamat Kantor Pusat : Jl. Merak No.90 Klaseman, Kec. Sidomukti Kota
Salatiga.
Kantor Cabang :
1) Kantor Ampel
Jl. Raya Ampel-Salatiga KM. 0,5 Ampel Boyolali
Telp. 081 575 167 048
2) Kantor Karanggede
Jl. Prawiro Digdoyo Pasar Karanggede Boyolali
Kantor Kas :
1) Kas Ngablak
Pasar Ngablak Magelang
Telp. (0298) 7173254
2) Kas Juwangi
Jl. Juwangi-Godong KM. 1 Juwangi Boyolali
Telp. 085 712 227 175
3) Kas Boyolali
Komplek Pasar Boyolali Kota
Telp. 081 575 167 048
Telepon Kantor Pusat : (0298) 314345
Faximile : (0298) 323565
Tanggal Berdiri : 20 Oktober 1998
Jumlah Karyawan : 23 orang
Jumlah Anggota : sampai akhir tahun 2012 sebanyak 5.822 orang
3. Visi dan Misi KJKS BMT ANDA
a. Visi KJKS BMT ANDA Salatiga:
Menjadi Lembaga Keuangan Syariah yang maju, profesional dan
mensejahterakan anggota.
b. Misi KJKS BMT ANDA Salatiga:
2) Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan;
3) Mengusahakan pemupukan modal anggota dengan sistem syariah;
4) Memberikan pembiayaan pada anggota untuk tujuan produktif;
5) Mengusahakan program pendidikan dan pembinaan agama secara intensif
kepada anggota;
6) Meningkatkan kesejahteraan anggota dan kemajuan lingkungan kerja;
7) Menciptakan sumber pembiayaan anggota dengan prinsip syariah;
8) Menumbuhkan usaha-usaha produktif anggota;
9) Merekrut dan mengembangkan pegawai profesional dalam lingkungan
kerja yang sehat.
4. Dasar Pendirian KJKS BMT ANDA
a. Pendirian
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mall Wat Tamwil “ANDA”
didirikan pada tanggal 20 Oktober 1998, berdasarkan Akta Pendirian
Anggaran Dasar dua kali yaitu:
1. Nomor : 07/BH/PAD/KDK.11/IV/2003, taggal 21 April 2003
2. Nomor : 35/PAD/XIV/X/2012, tanggal 11 Oktober 2012
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mall Wat Tamwil
“ANDA” berlandasan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dan
berdasarkan kekeluargaan.
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mall Wat Tamwil
“ANDA” berkedudukan di Jl. Merak No.90 Kelurahan Mangunsari
b. Bidang Usaha
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mall Wat Tamwil “ANDA”
didirikan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya
dan masyarakat pada umumnya, dalam rangka menggalang terlaksananya
masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945. Tugas dan usaha yang dilakukan Koperasi Jasa Keuangan Syariah
Baitul Mall Wat Tamwil “ANDA” dalam mencapai tujuannya yaitu:
1) Menghimpun simpanan koperasi berjangka dan tabungan koperasi dari
anggota dan calon anggota, koperasi lain dan atau anggotanya;
2) Memberikan pinjaman kepada anggota, calon anggota, koperasi lain dan
atau anggotanya dengan memperhatikan penilaian kelayakan dan
kemampuan pemohon pinjaman.
c. Perijinan dan Legalitas
Perijinan dan legalitas dalam menjalankan usaha sebagai berikut:
1) Akta Pendirian Nomor: 004/BH/KWK-1132/X/1998, tertanggal 20
Oktober 1998
2) Perubahan Anggaran Dasar dengan Nomor: 07/BH/PAD/KDK.
11/IV/2003, tertanggal 21 April 2003
3) Perubahan Anggaran Dasar dengan Nomor: 35/PADXIV/X/2012,
5. Struktur Organisasi KJKS BMT ANDA
Gambar 3.1 Struktur Organisasi KJKS BMT ANDA
RAPAT ANGGOTA
PENGURUS Ketua: Budi Santoso,SE.MM Sekretaris: Supardi, SE
Bendahara: M. Fatur Rahman, SE.MM
DEWAN PENGAWAS Ketua: KH. Abdul Majid, BA Anggota:H. Ulin Nuha CS: Nurul Siti Rohmah, A. Md
STAF MARKETING Rudiyanto
Thoit Mawawi Siti Nurjanah
6. Produk-produk KJKS BMT ANDA Salatiga
a. Produk Simpanan
1) SIBERKAH (Simpanan Berkala Mudharabah)
a) Si Qurban (Simpanan Qurban)
b) Si Munik (Simpanan Nikah)
c) Si Wali (Simpanan Walimah)
d) Si Pendi (Simpanan Pendidikan)
e) Si Fitri (Simpanan Idul Fitri)
Keunggulan Produk Simpanan:
(1) Setoran dapat dilakukan setiap saat, dan penarikan disesuaikan dengan
jenis simpanan masing-masing dengan jangka waktu yang disepakati
bersama
(2) Setoran minimal Rp. 25.000,- setiap bulannya
(3) Nisbah bagi hasil 40% dan diberikan setiap bulan langsung menambah
saldo simpanan
(4) Setoran dan penarikan dapat langsung ke kantor BMT ANDA atau
dilayani di rumah/ tempat usaha
2) SI HAJI (Simpanan Haji/Umroh)
(1) Diperuntukkan bagi umat Islam yang akan menjalankan ibadah Haji/
Umroh
(2) Setoran minimal Rp. 100.000,- setiap bulan
(4) Pendaftaran calon Haji dilaksanakan jika simpanan mencukupi untuk
pemesanan kursi calon Haji tahun yang bersangkutan
(5) Kekurangan dana bisa ditalangi oleh BMT dengan cara mengajukan
permohonan terlebih dahulu
3) SISUKA (Simpanan Usaha Berjangka)
Sangat tepat untuk merencanakan usaha dan setoran, dan penarikan
dapat langsung ke kantor atau dilayani di rumah serta di tempat usaha.
Setoran minimal Rp. 1.000.000,-.
Nisbah bagi hasil:
Jangka 3 bulan 40%
Jangka 6 bulan 42,5%
Jangka 9 bulan 45%
Jangka 12 bulan 50%
Bagi hasil diberikan setiap bulannya, dan dapat diperpanjang secara
otomatis.
4) SIMPANAN DIRHAM BAROKAH
Persyaratan:
• Fotocopy KTP • Materai Rp.
6.000,-• Mengisi formulir pendaftaran
• Peserta simpanan dirham minimal 90 orang • Setoran Rp. 200.000,- per bulan selama 24 bulan
• Disediakan Doorprize menarik untuk seluruh peserta yang diundi setiap 8 bulan sekali
• Grand prizesatu buah sepeda motor diakhir periode
5) SIMPANAN PENSIUN
• Diperuntukkan bagi perusahaan maupun perorangan • Untuk mensejahterakan karyawan setelah pensiun • Setoran minimal Rp. 25.000,- per bulan
• Pengambilan minimal 5 tahun
• Nisbah bagi hasil 60% diberikan setiap bulan langsung menambah saldo
b. Produk Pembiayaan
1) Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan dengan menggunakan sistem bagi hasil.
2) Pembiayaan Murobahah/Pembiayaan Barang
Pembiayaan dengan menggunakan sistem jual beli, dimana BMT sebagai
penjual dan anggota/masyarakat sebagai pembeli.
Syarat Umum Pembiayaan:
(1) Bersedia untuk mengangsur tepat waktu
(2) Pengajuan oleh anggota atau calon anggota secara langsung atas nama
sendiri
(3) Melengkapi administrasi pendaftaran meliputi:
•Foto copy KTP suami-istri (yang sudah berkeluarga) masing-masing dua lembar
•Satu lembar foto copy Kartu Keluarga (KK)
• Anggota dan calon anggota yang tidak memiliki KTP yang berlaku harus dilengkapi dengan surat keterangan bukti diri dari
pemerintahan setempat
•Menyerahkan foto copy jaminan (untuk BPKB dilengkapi foto copy STNK dan gesek nomor rangka dan nomor mesin)
•Untuk Surat Dasaran Pasar berlaku sampai dengan jatuh tempo surat dasaran tesebut
•Jaminan bukan atas nama sendiri disertai dengan surat kuasa bermaterai dan diketahui aparat setempat
•Laporan keuangan atau slip gaji
•Mengisi formulir pengajuan yang telah disediakan •Melampirkan rekening listrik
c. Produk Lainnya
1) Arisan Sepeda Motor
a) Setoran dan Lama Arisan
(1) Besar setoran Rp. 125.000,- (paket 1) Rp. 100.000,- (paket 2)
(2) Lama arisan maksimal 70 putaran paket 1, 80 putaran paket 2. Karena
akumulasi kas anggota pada bulan tertentu dapat dilelang (2) dua
sepeda motor, maka lama arisan tidak mencapai 70 putaran.
(3) Standar sepeda motor yang digunakan adalah seharga Rp. 12.000.000,-.
b) Sistem Arisan
(1) Arisan sepeda motor dilaksanakan dalam bentuk kelompok dengan
anggota maksimal 70 orang (paket 1), dan 80 orang (paket 2).
(2) Arisan ditentukan dengan sistem lelang tertutup dengan batas minimal
(3) Pelelang harus datang pada saat arisan atau bisa diwakilkan dengan
menggunakan surat kuasa dan pelelang tidak harus menyediakan uang
pada saat lelang, sisa uang lelang akan menjadi kas anggota.
(4) Apabila tidak ada lelang, maka pemenang lelang ditentukan dengan
diundi, dan bagi yang terpilih harus bersedia menjadi pemenang.
(5) Pemenag lelang harus menyelesaikan administrasi paling lambat 1
bulan dari tanggal lelang, jika mengundurkan diri dari lelang dikenakan
biaya administrasi sebesar 8% dari besar lelang.
(6) Panitia melaporkan saldo kas tiap bulan.
c) Jaminan Keamanan dan Keuntungan
(1) BMT ANDA berbadan hukum resmi dan telah berdiri sejak 12 tahun
yang lalu
(2) Setoran ringan dan murah dibandingkan kredit
(3) Pengunduran diri bisa diganti orang lain atau jika lebih dari satu kali
angsuran maka dikembalikan 50%
(4) Keterlambatan pembayaran dikenakan denda Rp. 5.000,- perbulan, jika
keterlambatan 2 kali angsuran maka panitia berhak menyita sepeda
motor arisan atau jaminan
(5) Pemenang lelang terakhir bebas minimal lelang
(6) Jika masih ada kas setelah putaran selesai, sisa kas akan dibagikan
kepada seluruh peserta
(7) Hasil lelang dalam bentuk dana tunai yang dimasukkan ke rekening
simpanan berjangka tidak dimintakan jaminan (investasi yang sangat
d) Persyaratan
(1) Mengisi biodata peserta arisan
(2) Menyerahkan fotocopy KTP 1 lembar
(3) Menandatangani peryataan peserta arisan
2) PPOB (Payment Point On Line Bank)
BMT ANDA melayani pembayaran:
• Rekening listrik • Rekening telepon
Untuk wilayah Jawa Tengah & DIY. Setiap rekening disisihkan Rp.
20,-untuk dana infaq.
B. Data Deskriptif
1. Pembiayaan Pada KJKS BMT ANDA Salatiga
a.Al Murabahah(MBA)
Pembiayaan Murabahah adalah pembiayaan dengan syarat jual beli dimana BMT dapat membantu anggotanya dengan pembiayaan pembelian
barang yang dibutuhkan untuk modal usaha atau perlengkapan/alat rumah
tangga.
Penggunaan pembiayaan:
- Penggunaan pembiayaan untuk usaha produktif berupa keperluan
modal kerja dan pembelian sarana usaha.
- Prioritas penggunaan pembiayaan adalah untuk sektor perdagangan,
1) Penetapan harga jual
a) Harga jual kepada anggota adalah harga beli barang ditambah
keuntungan BMT. Besarnya keuntungan ditentukan oleh BMT. Secara
umum 2-3% perbulan. Besarnya keuntungan dapat berubah
sewaktu-waktu sesuai kebijakan BMT.
b) Untuk memudahkan penerapan pembiayaan Murobahah di BMT,
penetapan harga jual dari BMT kepada anggota dapat disesuaikan
dengan tabel angsuran murobahah.
c) Setoran pembiayaan terdiri dari:
- Angsuran pokok
- Angsuran margin keuntungan
- Cadagan risiko
2) Syarat Pembiayaan
a) Calon anggota pembiayaan adalah:
(1) Anggota biasa, anggota luar biasa, maupun calon anggota yang
bertempat tinggal di wilayah lingkungan BMT dan memenuhi
kriteria
(2) Mempunyai usaha/penghasilan
(3) Mempunyai tabungan aktif di BMT
(4) Lulus wawancara dan kelayakan kuantitatif tim BMT
(5)Anggota yang masih mempunyai hutang pembiayaan tidak
diperkenankan untuk mengambil pembiayaan sebelum melunasi
hutangnya atau dengan persetujuan pengurus
b) Plafon (besarnya) pembiayaan nasabah
Besarnya pembiayaan per nasabah ditentukan minimum Rp.
3.000.000,- dan maksimum Rp. 100.000.000,- (dilihat berdasakan
kemampuan keuangan) atau berdasarkan kebijaksanaan pengurus