HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI
TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN
PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR
GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh : Neni Listanti
041324021
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI
TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN
PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR
GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh : Neni Listanti
041324021
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
iii
iv
PERSEMBAHAN
Dengan tulus aku persembahkan skripsi ini kepada :
Allah Swt yang telah memberi aku hidup didunia ini
Kedua orang tuaku, Bp.Suyanto & Ibu Nasri
Kembaranku Neno, dan calon suamiku Mas dody
teman-teman yang selalu mengasihiku
v
MOTTO
Se sung g uhnya se suda h ke sulita n itu a da ke muda ha n.
Ma ka a pa bila ka mu te la h
se le sa i da ri se sua tu urusa n , ke rja ka nla h de ng a n
sung g uh – sung g uh urusa n ya ng la in.
(Q S. A l Insy ira h : 6- 7)
Ilmu iba ra t e ma s, di ma na pun te mpa tnya , ke duduka nnya
te rho rma t.
Ano nymo us
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah
disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya
karya.
Yogyakarta, 16 Juni 2010
Penulis
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN
AKADEMIS
Yang bertanda tangan dibawah ini, Saya Mahasiawa Universitas Sanata Dharma :
Nama : Neni Listanti
Nomor Mahasiswa : 041324021
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan
Universitas Sanata Dahrma karya ilmiah saya yang berjudul :
HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007
beserta perangkat yang diperlukan ( bila ada ). Dengan demikian saya
memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk
menyimpan , mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk
pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas , dan mempublikasikan di
internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari
saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama
saya sebagia penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada Tanggal: 16 Juni 2010
Yang Menyatakan,
Neni Listanti
viii
ABSTRAK
HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA
DENGAN NILAI EKSPOR
GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007 Neni Listanti
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2010
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perkembangan nilai ekspor garmen di Indonesia, (2) Hubungan harga tekstil internasional dengan nilai ekspor garmen di Indonesia, (3) Hubungan tingkat UMR dengan nilai ekspor garmen di Indonesia,(4) Hubungan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS dengan nilai ekspor garmen di Indoenesia , (5) Hubungan pertumbuhan penduduk dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia , dan (6) Hubungan pertumbuhan ekonomi dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia.
Penelitian studi Ex Post Facto penelitian ini dilaksanakan pada bulan oktober-november 2009. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Sumber data merupakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain dari Departemen Perdagangan, Biro Pusat Statistik, dan literatur lain yang mendukung.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi product moment dari Pearson.
Hasil perhitungan analisis menunjukkan bahwa: (1)Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,250 dengan
nilai probabilitas 0,344), (2) Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap Dolaar As dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,244 dengan nilai
probabilitas 0,422), (3) Ada hubungan yang positif dan signifikan antara UMR dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,384 dengan nilai probabilitas 0,196), (4)
Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,016 dengan nilai probabilitas 0,957), dan (5) Ada hubungan yang
ix
ABSTRACT
THE CORRELATION BETWEEN INTERNATIONAL TEXTILE’S PRICE, IDR EXCHANGE RATE, AGE LEVEL, WORLD’S INHABITANT DEVELOPMENT, AND WORLD’S ECONOMIC
DEVELOPMENT AND THE
TEXSTILE’S RATE IN INDONESIA IN 1995-2007 Neni Listanti
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2010
This research aims to know: (1) the texstile’s export development in Indonesia; (2) the correlation between internatioanal textile’s price and textile’s export rate in Indonesia; (3) the correlation between age level and textile’s export rate in Indonesia; (4) the correlation between IDR rate to USD and textile’s export rate in Indonesia; (5) the correlation between world’s inhabitant development and textile’s export rate in Indonesia, and (6) the correlation between world’s economic development and textile’s export rate in Indonesia.
This is an ex post facto reseach and it was conducted during October and November 2009. The data were gathered by documentation method. The secondary data were colleted from the Department of Commerce, the Centre Bureau of Statistics, and other supporting literatures relabed to the object of the reseach. The technique of data analysis was Pearson product moment correlation.
The results indicate that: (1) there isn’t any correlation between international textile’s export price and the value of garment export (raccount
0,250 with the probability value 0,344); (2) there is not any correlation between IDR rate to USD and textile’s export rate (raccount 0,244 with the
probability value 0,422); (3) there is positive and significant correlation between age level and textile’s export rate (raccount 0,384 with the probability
value 0,196); (4) there isn’t any correlation between world’s inhabitant development and textile’s export rate (raccount 0,016 with the probability
value 0,957); and (5) there is positive and significant correlation between world’s economic development and textile’s export rate (raccount 0,409 with
the probability value 0,165).
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Allah SWT atas berkat, rahmat eta hidayahNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Terselesaikannya penyusunan skripsi ini
tak lepas dari partisipasi dan bantuan berbagai pihak lain. Oleh karena itu, dengan
ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed.,Ph.D, selaku Dekan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak Yohanes Harsoyo, S,Pd., M.Si, Selaku ketua Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sekaligus sebagai Ketua
Program Studi Pendidikan Ekonomi serta selaku Dosen
Pembimbing I, terimakasih atas bimbingan dan pengarahan yang
diberikan kepada penulis dari awal hingga akhir dalam proses
penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.SI, selaku Dosen Pembimbing II
terimakasih atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada
penulis dari awal hingga akhir dalam proses penyusunan skripsi
ini.
4. Bapak Drs. P.A. Rubiyanto, Bapak Y.M.Vieney Mudayen, S.Pd,
dan Ibu Dra.C.Retno Wigati, M.Si., Selaku Dosen Pendidikan
Ekonomi terimakasih untuk bantuan, bimbingan, masukan, serta
pelajaran- pelajaran yang diberikan selama dibangku perkuliahan
yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi saya.
5. Mbak titin di Sekretariat Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata
Dharma yang telah banyak membantu dalam segala urusan
administrasi penulis.
6. Segenap karyawan-karyawati Perpustakaan Universitas Sanata
xi
yang memadai yang sangat membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi.
7. Ayah & Ibu tercinta, yang tiada henti-hentinya mendoakanku,
memberikan dukungan kepadaku, dan telah mendidik dan
membesarkanku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
8. Kembarankau Neno terimakasih atas dukungan, doa, dan
bantuannya selama ini.
9. Mas Dody terimakasih atas segala doa,dukungan dan bantuannya
selama ini.
10.Untuk sahabat-sahabatku yang senantiasa meluangkan waktu untuk
membantu dalam menyelesaikan penulisan ini.
11.Untuk komputerku, dengan adanya kau aku dapat menyelesaikan
tulisan skrispi ini hehe...
12.Semua pihak yang terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang telah membentu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi
ini. Oleh karena itu penulis sangat terbuka dalam menerima segala bentuk
kritikan maupun saran yang diberikan demi kabaikan, kemajuan, serta
perkembangan skripsi ini.
Penulis
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAM PERSEMBAHAN... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GRAFIK ... xvi
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Kinerja Industri Garmen di Indonesia... 11
B. Perkembangan Ekspor Garmen di Indonesia ... 13
C. Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia ... 15
D. Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia ... 16
xiii
1. Hubungan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar As
Dengan Ekspor Garmen ... 20
2. Hubungan Tingkat Upah Dengan Ekspor Garmen Di Indonesia ... 25
3. Hubungan Harga Tekstil Internasional Garmen Dengan Ekspor Garmen di Indonesia... 26
4. Hubungan Pertumbuhan Penduduk Dunia Dengan kspor Garmen di Indonesia ... 28
5. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Dengan Ekspor Garmen di Indonesia... 29
F. Penelitian Terdahulu ... 30
G. Kerangka Pikiran... 30
H. Hipotesis... 31
BAB III : METODE PENELITIAN ... 32
A. JenisPenelitian... 32
B. Jenis Data dan Sumber Data ... 32
C. Waktu Penelitian ... 33
D. Variabel Penelitian ... 34
E. Teknik Analisis Data... 35
BAB IV : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 39
A. Deskripsi Data... 39
B. Analisis Data ... 40
xiv
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN... 59
A. Kesimpulan ... 59
B. Saran... 61
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen ... 3
Tabel 11.1Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen Indonesai ... 13
Tabel 11.2 Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia ... 16
Tabel 11.3 Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia ... 19
Tabel 11.4 Harga Tekstil Internasional... 27
Tabel IV.1 Data Variabel Terikat Dan Variabel Bebas ... 39
Tabel IV.2 Pengujian Normalitas Masing – Masing Variabel Penelitian ... 41
Tabel IV.3 Nilai Korelasi Pearson ... 44
Tabel IV.4 Perbandingan Nilai rhitung Dan rtabel Serta Tingkat Signifikansi ... 46
Tabel IV.5 Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen Indonesai ... 50
Tabel IV.6 Harga Tekstil Internasional... 52
Tabel IV.7 Nilai Ekspor Garmen Terhadap Nilai Tukar US Dolar ... 53
Tabel IV.8 Tigkat UMR Per bulan Dengan Ekspor Garmen di Indonesia ... 55
Tabel IV.9 Pertumbuhan Penduduk Dunia ... 56
xvi
DAFTAR GRAFIK
Kurva 2.1 Kurva Permintaan Vallas ... 24
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Industri garmen merupakan salah satu industri prioritas nasioanal yang
masih prospektif untuk dikembangkan karena merupakan industri padat karya.
Perusahaan padat karya merupakan perusahaan yang penting bagi
pembangunan perekonomian Indonesia termasuk perusahaan garmen.
Perusahaan garmen Produksi dan penjualan tekstil, pakaian, alas kaki,
furniture serta produk industri padat karya lainnya merupakan penghasil
devisa penting dan menyediakan pekerjaan bagi penduduk usia produktif
perkotaan yang kian padat, namun semenjak krisis ekonomi tahun 1998 yang
berdampak negatif pada sektor industri, mengakibatkan beberapa cabang
industri harus tumbuh negatif dan beberapa jalan ditempat. Termasuk
didalamnya industri pakaian jadi (garmen), sebagai salah satu dari tiga
kebutuhan pokok manusia yaitu sandang.
Kondisi industri garmen saat ini pun tidak jauh berbeda, banyak
perusahaan yang menutup usahanya dari pada mempertahankan atau
membuka usaha di bidang garmen. Terdapat 224 perusahaan garmen yang
tercatat dalam departemen perindustrian pada tahun 2006, dan bila
dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 800-an perusahaan, kondisi
ini dapat dikatakan memprihatinkan. Tetapi pada akhirnya Industri garmen
memang tidak bisa diabaikan begitu saja hampir selama 20 tahun
terakhir ekspor garmen tidak pernah menurun. Industri ini memang
merupakan penyumbang devisa yang tinggi selain penyumbang devisa juga
memberikan penambahan pembentukan dalam Produk Domestik Bruto (PDB)
yaitu sebesar 3,8% dan juga menambah daya serap tenaga kerja sekitar 1.84
juta tenaga kerja, menambah surplus perdagangan internasioanal sebesar 20.2
persen. Perlu diketahui bahwa sejak zaman orde baru, pendapatan dari
pendapatan ekspor garmen amat sangat besar.
Sampai saat ini, pangsa pasar garmen Indonesia di pasar dunia
diperkirakan hanya mencapai 1,57%, maka industri garmen Indonesia kurang
mampu bersaing dengan negara lain. Indonesia juga memiliki pasokan tenaga
kerja yang melimpah, dengan adanya keunggulan tenaga kerja membuat
garmen di Indonesia selalu memiliki prospek yang baik di pasar ekspor, selain
itu Indonesia dengan dengan Singapura merupakan salah satu lintas ekspor
paling penting di dunia. Industri garmen Indonesia memiliki dua jenis tenaga
kerja yang disebut dengan tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak
langsung, tenaga kerja langsung lebih sedikit dibandingkan dengan tenaga
kerja tidak langsung dimana tenaga kerja langsung sebanyak 360.000
karyawan dan yang tidak langsung sebanyak 7000.000. Dengan banyaknya
karyawan dapat menambah jumlah produksi garmen dan juga akan menambah
pada jumlah ekspor garmen (Hermawan, 2009).
Pada tahun 2007, garmen Indonesia diekspor ke beberapa negara
diantaranya AS, China dan India dengan rata-rata cukup banyak,dan
permintaan ekspor dari luar negeri terus meningkat, dengan meningkatnya
3
menyalurkan kredit kesektor industri garmen. Tetapi Indonesia juga harus
berhati-hati walaupun ekspor garmen terus meningkat, karena mempunyai
banyak pesaing terutama dengan negara China dan India. Untuk menghadapi
pesaing-pesaing dari negera tersebut Indonsia dituntut untuk lebih responsif
terhadap pasar dan meningkatkan produk menjadi lebih baik. Selain itu
Indonesia merupakan produsen garmen kesembilan di dunia dengan nilai total
ekspor US$ 9,4 miliar. Negara Indonesia tidak hanya mengekspor produk
garmen saja tetapi juga mengekspor tekstil, di sini dapat dilihat bagaimana
perkembangan ekspor garmen dan tekstil.
Tabel I. 1
Perkembangan Ekspor Tekstil dan Garmen
Perkembangan Ekspor Tekstil dan Garmen (US$ ) miliar No
Tahun Tekstil Garmen
1 2001 3,04 4,13
Sumber : Bank Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia
Meskipun produksi tekstil, terutama yang di ekspor menurun hingga 30
persen, permintaan ekspor garmen relatif stabil, bahkan ada yang mampu
meningkat hingga 15 persen.
Di Indonesia industri garmen memang merupakan industri nasional,
pendapatan devisa negara yang dihasilkan cukup tinggi dari sektor garmen.
walaupun saat ini banyak bermunculan sejumlah produk impor, tetapi Industri
garmen tetap bertahan. Menurut Menperindag, selama ini Indonesia telah
dengan nilai tidak kurang US$ 7 miliar per tahun. Namun Menperindag
mengakui bahwa selama ini ekspor produk tekstil dan garmen Indonesia
tersebut masih lebih banyak didominasi oleh produk tekstil dan garmen
berkualitas menengah ke bawah yang diproduksi oleh industri padat karya.
Sementara itu, persaingan di pasar produk tekstil dan garmen kualitas
menengah ke bawah kini sudah sangat ketat dengan membanjirnya produk
dari China, India, Vietnam dan lain-lain. Karena itu, untuk menyiasati kondisi
seperti itu sudah waktunya bagi Indonesia untuk mulai mencoba memproduksi
produk tekstil dan garmen berkualitas tinggi untuk pasar menengah ke atas.
Sebab kalau Indonesia terus berkutat di pasar tekstil dan garmen berkualitas
menengah ke bawah Indonesia tidak akan mampu bersaing lagi dengan produk
dari China, India, Vietnam yang harganya lebih murah. Di Indonesia saat ini
ratusan pabrik tekstil dan garmen kini mengalami gulung tikar terkait adanya
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak meningkatnya
biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan., berdasarkan pemaparan
pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pengusaha tekstil dan garmen
di Indonesia saat ini mengalami penurunan.
yang mana sebelumnya, pemilik usaha tekstil dan garmen di Indonesia
sebanyak 1.600 orang dan saat ini hanya tersisa 1.200 orang yang masih
bertahan.
Selain masalah persaingan, kenaikan harga bahan baku tekstil
internasional juga sangat berhubungan terhadap nilai ekspor garmen, karena
5
terhadap arus kas perusahaan garmen dan garmen sulit berkembang sehingga
nilai ekspor akan semakin berkurang. Karena Garmen Indonsia masih banyak
yang menggunakan bahan dari tekstil yang kualitasnya lebih baik
dibandingkan dengan jenis kain lainnya. Sehingga apa bila kain katun naik
maka jumlah eskpor garmen juga akan mengalami penurunan (Menperindag,
2007).
Kenaikan harga bahan baku tekstil internasional naik maka akan
berhubungan juga terhadap UMR para buruh. Apabila harga tekstil
internasional naik maka UMR akan mengalami penurunan karena jumlah
ekspor juga akan menurun seiring dengan mahalnya bahan baku tekstil
internasional .Sebenarnya UMR para buruh sudah dinaikkan pada tahun 2007
sebesar 22,36% tetapi banyak para pengusaha garmen yang menolak karena
ketentuan UMR yang baru sangat berat, dengan adanya kenaikan UMR juga
akan menambah biaya antara 6-8 % dari total biaya perusahaan, kondisi ini
sangat berat bagi perusahaan garmen akan berdampak pada kebangkrutan atau
gulung tikar. Sedangkan UMR di Indonesia sendiri dilaksanakan setiap
tahunnya kalangan pengusaha India yang tergabung Economic Association of
Indonesia and India (ECAII) meminta agar kenaikan upah minimum regional
di Indonesia dilaksanakan secara berkala, tidak setiap tahunnya. Karena akibat
kenaikan UMR ini menyebabkan mereka sulit membuat kontrak kerjasama
baru dengan para pembelinya di luar negeri karena mereka tidak dapat
memperkirakan besarnya kenaikan UMR dalam perhitungan biaya produksi
UMR di Indonesia mencapai 161 persen atau rata-rata 20 persen setiap
tahunnya yang akhirnya menyebabkan produk Indonesia tidak kompetitif lagi
(Sulaksono, 2003).
Kalangan eksportir seperti industri garmen dan pengusaha yang
produknya berorientasi ekspor juga akan mengeluhkan penguatan nilai rupiah
apa bila nilai rupiah tinggi. Karena dengan nilai tukar rupiah semakin
meningkat maka akan berdampak pada jumlah ekspor garmen. Kalau
penguatan itu terus terjadi misalnya hingga level Rp 7.000-an, bukan tidak
mungkin banyak eksportir yang menghentikan usahanya karena tidak kuat
menanggung kerugian karena industri garmen tidak mampu membeli bahan
baku begitu juga dengan industri tekstil yang saldo ekspornya dalam mata
uang US dolar.
Selain nilai tukar rupiah, pertumbuhan penduduk dunia juga
berhubungan terhadap nilai ekspor garmen. Pertumbuhan penduduk dunia
yang tinggi berarti diperlukannya usaha yang semakin besar untuk
mempertahankan suatu tingkat kesejahteraan rakyat tertentu di dalam
memenuhi kebutuhan pokok seperti pakaian. Faktor pertumbuhan
penduduk dunia merupakan faktor pendorong dalam perdagangan salah
satunya ekspor garmen. Semakin banyak jumlah penduduk dunia maka
semakin banyak pula kebutuhan akan pakain, bertambahnya jumlah
penduduk dunia dipengaruhi karena adanya angka kelahiran yang semakin
7
pertumbuhan ekonomi juga harus meningkat. Karena semakin
meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka akan semakin meningkat daya
beli masyarakat terhadap suatu barang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan dalam
masalah ini adalah :
a. Bagaimana perkembangan nilai ekspor garmen di Indonesia tahun
1995-2007?
b. Apakah ada hubungan antara harga tekstil internasional terhadap nilai
ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007?
c. Apakah ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat terhadap nilai ekspor garmen tahun 1995-2007?
d. Apakah ada hubungan antara tingkat UMR terhadap nilai ekspor garmen
tahun 1995-2007?
e. Apakah ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia terhadap nilai
ekspor garmen di Indonesia 1995-2007?
f. Apakah ada hubungan antara penduduk dunia terhadap terhadap ekspor
garmen di Indonesia 1995-2007?
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini dibatasi bagaimana perkembangan ekspor garmen,
hubungan harga tekstil internasional terhadap nilai ekspor garmen, nilai tukar
tingkat UMR terhadap ekspor garmen, pertumbuhan penduduk dunia dan
pertumbuhan ekonomi dunia terhadap nilai ekspor garmen.
D. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui perkembangan ekspor garmen di Indonesia tahun
1995-2007.
b. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara harga tekstil internasioanl
terhadap ekspor garmen tahun 1995-2007.
c. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap
dolar terhadap ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007.
d. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat UMR ekspor
garmen, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.
e. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pertumbuhan penduduk
dunia, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.
f. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi
dunia, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.
E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini nantinya dapat memberikan manfaat yang cukup
berarti bagi pihak-pihak antara lain:
9
Dapat memberikan pertimbangan kepada pemerintah untuk dapat
meningkatkan jumlah ekspor garmen dan dapat mengetahui bagaimana
perkembangan jumlah ekspor garmen.
2. Bagi Peneliti
Dapat sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
atau menambah wawasan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai ekspor garmen.
3. Bagi Universitas Sanata Dharma
Penelitian ini dapat menambah referensi koleksi perpustakaan
Universitas Sanata Dharma Yoyakarta, yang berguna bagi mahasiswa
/mahasiswi Universitas Sanata Dharma serta pihak-pihak yang
membutuhkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan ksusunya
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai ekspor garmen di Indonesia.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kinerja Industri Garmen di Indonesia
Kinerja industri pakaian jadi atau garmen dari tahun ketahun
mengalami penurunan rata-rata turun sekitar 40% pada kuartal pertama yaitu
2006, hal ini dikarenakan melemahnya ekonomi di dalam negeri dan turunnya
daya beli masyarakat terhadap produk garmen. Disaat ini banyak masyarakat
yang mengurangi membeli pakaian, tetapi masyarakat lebih mengutamakan
membeli kebutuhan sehari-hari yaitu makanan, sehingga hal ini menyebabkan
ekspor garmen menurun. Semakin menurunya ekspor garmen ini juga karena
disebabkan semakin banyaknya produk impor yang murah masuk kedalam
negeri sehingga tidak mudah disaingi oleh para produsen.
Menurut Asosiasi produsen Garmen Indonesia (APGI) jumlah
perusahaan garmen di indonesia pada tahun 2006 mencapai 860 perusahaan,
dan pada tahun 2002 turun menjadi 840 perusahaan, dan menjadi 855 pada
tahun 2003 dengan total tenaga kerja mencapai 35.2000 orang (2007, Jakarta
2/6). Namun pada tahun 2008 industri garmen tengah menghadapi adanya
kelangkaan jumlah tenaga kerja terampil di sektor garmen. Padahal,
permintaan para pembeli (buyer) dunia terus meningkat dalam mencari tenaga
kerja yang mempunyai keahlian tertentu di bidang garmen agak sulit.
Sementara itu permintaan pasar terus melonjak dan semakin kompleks,
kelangkaan tenaga kerja terampil di industri garmen terjadi karena
11
(2008, Jakarta, Hanum). Kinerja ekspor garmen semakin melemah dan
permintaan akan produk garmen dalam keadaan stagnan (Website Dinas
Perindustrian & Perdagangan Jawa Barat) http://disperindag-jabar.go.id/.
Tetapi, kinerja industri garmen indonesia masih bisa diandalkan sebagai
sebagai penyumbang devisa bagi negara.
Selain itu, perkembangan kinerja industri garmen di Idonesia setiap
tahun mengalami perubahan, dimana pada tahun 1970- 1985 kinerja industri
garmen di Indonesia tumbuh dengan lambat dan hanya bisa memenuhi pasar
domestik saja, sedangkan pada tahun1986 industri TPT Indonesia mulai
tumbuh dengan pesat dibandingkn tahun sebelumnya, dan pada tahun 1986 –
1997 kinerja industri garmen Indonesia terus meningkat dan membuktikan
sebagai industri yang strategis dan sekaligus sebagai andalan penghasil devisa
negara sektor non-migas pada saat ini pakaian jadi (garmen) merupakan suatu
primadona, tetapi pada tahun 19998-2002 kinerja industri garmen mengalami
kesulitan kembali karena ekspor garmen mengalami fluktuatif, pada periode
2003-2006 industri garmen mengalami upaya revitalisasi stagnant yang
disebabkan karena adanya kesulitan biaya dan iklim usaha yang tidak kondusif
dan pada akhir tahun 2007 perkembangan industri garmen mengalami masa
pertengahan dimana dimulainya pergantian permesinan (Djafri, 2003 ).
B. Perkembangan Ekspor Garmen Di Indonesia
Industri-industri padat karya, termasuk industri tekstil, garmen, dan
lonjakan ekspor mereka, selama tahun-tahun pertama setelah krisis ekonomi
Asia bisa menarik manfaat dari depresiasi kurs devisa riil yang tajam. Akan
tetapi pertumbuhan ekspor industri-industri ini, termasuk industri tekstil dan
garmen, sesudah 2000 bertumbuh tersendat-sendat (tabel 3).
Tabel II. 1
Ekspor garmen dan Tekstil Indonesia 1995-2007
No Tahun Ekspor Tekstil
Sumber : Bank Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)
Dari tabel diatas maka dapat disimpulkan, bahwa industri-industri
padat karya ini ternyata kurang mampu bersaing dengan China, Vietnam dan
negara-negara pesaing lainnya yang bisa beroperasi dengan biaya produksi
yang lebih rendah (Aswicahyono & Hill, 2004: 289-90). Pada umumnya dapat
disimpulkan bahwa kinerja ekspor hasil-hasil industri Indonesia sejak krisis
ekonomi Asia kurang menggembirakan. Kemerosotan yang paling tajam
dalam pertumbuhan ekspor dialami oleh hasil-hasil industri manufaktur di
13
sawit, kayu lapis, mebel, alas kaki, dan kain tenun. Kinerja ekspor yang lemah
ini lebih banyak mencerminkan masalah-masalah domestik ketimbang
perkembangan eksternal yang kurang menguntungkan. Hal ini tercermin dari
pertumbuhan perdagangan dunia yang bertumbuh dari hampir 5 persen dalam
2003 sampai 10 persen dalam 2004, sedangkan pertumbuhan ekspor Indonesia
selama masa ini hanya mencapai 3 persen (World Bank,2004:i). Walaupun
setiap tahun nilai ekspor non-migas Indonesia, termasuk produk-produk
tradisional dan padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, meubel dan
produk-produk lainnya dari kayu, menunjukkan pertumbuhan positif, namun
laju pertumbuhannya cenderung melemah dalam beberapa tahun belakangan
ini. Tahun 2007, pertumbuhan ekspor dari produk-produk kimia, mesin dan
peralatan transportasi, dan barang-barang manufaktur lainnya tercatat 9,9%
dibandingkan 15.8% tahun 2001 (APEC 1997). Pada pasar global kini tak
cukup lagi ditembus dengan sekadar membuat produk garmen berkualitas
baik. Industri garmen dituntut menawarkan produk dalam satu paket layanan
lengkap. Untuk itu, efisiensi bukan saja mesti dilakukan dalam proses
produksi, tetapi juga ditentukan oleh jaringan pasokan bahan baku hingga
penetrasi pasar. Garmen masih bertahan menjadi salah satu komoditas ekspor
andalan.
Nilai ekspor garmen bukan rajutan tahun 2006 mencapai 3,38 miliar
dollar Amerika Serikat (AS), atau 36 persen dari total ekspor tekstil dan
produk tekstil (TPT) yang mencapai 9,4 miliar dollar AS. Dengan perolehan
devisa itu, TPT menyumbang 12 persen dari total nilai ekspor nonmigas
tertolong oleh pembatasan ekspor garmen dari China dan Vietnam ke pasar
AS dan Uni Eropa. Disini terdapat perbedaan antara tekstil dan garmen, yaitu
tekstil berasal dari bahasa latin, yaitu textiles yang berarti menenun atau
tenunan. Namun secara umum tekstil diartikan sebagai sebuah barang/benda
yang bahan bakunya berasal dari serat (umumnya adalah kapas, poliester,
rayon) yang dipintal (spinning) menjadi benang dan kemudian
dianyam/ditenun (weaving) atau dirajut (knitting) menjadi kain yang setelah
dilakukan penyempurnaan (finishing) digunakan untuk bahan baku produk
tekstil. Produk tekstil disini adalah pakaian jadi (garment), tekstil rumah
tangga, dan kebutuhan industri.
C. Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia
Indonesia merupakan pengekspor negara terbesar, baik dalam ekspor
migas maupun non-migas salah satunya adalah ekspor produk garmen. Salah
satu negara tujuan ekspor garmen Indonesia adalah negara Amerika Serikat,
merupakan pasar ekspor terbesar bagi Indonesia setelah negara Jepang bagi
produk-produk Indonesia khususnya produk garmen. Berdasarkan Badan
Statistik (BPS) negara Amerika Serikat setiap tahunnya menduduki peringkat
kedua sebagai negara tujuan ekspor garmen Indonesia.
Tabel II.2
Negara Tujuan Utama Ekspor Garmen Indonesia
No Negara Tujuan 2006 (US$ miliar) 2007 (US$ miliar)
1 Jepang 12,8 12,8
2 Amerika 12,5 11,6
3 Singapura 10,1 9,8
4 China 7,7 7,2
5 Malaysia 5,9 5,5
15
Rata-rata produk yang diekspor ke negara tersebut adalah produk
garmen dan tekstil, tetapi ada juga seperti produk sepatu, pertanian, produk
kayu dan Furnitur. Hubungan perdagangan Indonesia dengan China sendiri
saat ini mrningkat cukup signifikan, dimana produk-produk dari Indonesia
yang diekspor ke Cina sebagian besar CPO, batubara, produk kimia, spare
parts mesin setengah jadi, karet, coklat, buah salak dan produk garmen
terutama sol sepatu. Pada sat ini ekspor produk garmen ke Amerika Serikat
akan semakin sulit dengan ketatnya persaingan di tengah melemahnya
permintaan akibat krisis keuangan yang melanda negara tersebut.
D. Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia
Jenis produk ungulan garmen Indonesia yang diekspor yaitu tekstil
dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, sepatu, banyak produk garmen yang
diekspor untuk melayani pasar dunia yang sedang berkembang. Produk yang
diekspor oleh industri garmen Indonesaia adalah sejenis blus dan kemeja
wanita yang terbuat dari katun; pullover dan cardigan yang terbuat dari bahan
tekstil lainnya, gaun wanita yang terbuat dari bahan tekstil dan rok wanita
yang terbuat dari serat sintetis dan masih banyak lagi (Supriyanto, 2007).
Jenis produk garmen baik usaha menengah maupun yang bersekala
besar yang banyak diekspor adalah pakaian kerja dan pakain seragam, dan
sepatu atau alas kaki. Dimana produk-produk tersebut banyak diekspor ke
negara Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan Timur Tengah. Dilihat dari
mencapai 4 juta orang, anak usia sekolah 64 juta. Itu belum lagi TNI/Polri
dengan asumsi masing-masing dalam setahun setiap orang menggunakan 2
stel pakaian dan 2 stel sepatu. “Dengan demikian secara nasional peluang
pasar untuk produksi garmen, pakaian jadi dan sepatu sangat besar (Fahmi,
2009).
Industri garment atau pakaian terus berkembang selama beberapa
dekade terakhir dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi
beberapa negara, baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang.
Seiring dengan majunya industri garment, telah banyak pula regulasi yang
tercipta dari beberapa persetujuan bilateral seperti dari Multi Fiber
Arrangement (MFA), sebuah persetujuan yang dibuat oleh negara importir.
Pada akhir tahun 2005, MFA regime berintegrasi dengan WTO regime
menciptakan peluang persaingan yang tinggi bagi negara-negara exportir
garment dan menghadapkan mereka pada negara-negara yang memiliki daya
saing tinggi. MFA menduduki tantangan yang lebih besar pada negara
eksportir garmen yang sedang berkembang, karena negara importir garmen,
yaitu negara maju memberi tekanan pada isu-isu yang berkaitan dengan
lingkungan dan kebutuhan sosial, kebutuhan teknologi, dan lainnya bagi
negara-negara eksportir. Industri garmen Indonesia, merupakan salah satu
sektor industri domestik terbesar yang telah memberikan kontribusi pada
perkembangan ekonomi dan generasi karyawan pada negara. Contoh-contoh
yang ada merupakan hasil seleksi dari petunjuk eksportir eksportir besar di
17
eksportir garmen Indonesia. Dengan menggunakan varimax rotation, tujuh
faktor muncul dari survei di Indonesia. Faktor persaingan dan strategi yang
diambil oleh eksportir juga telah dianalisa. Pada akhirnya persepsi eksportir
garmen Indonesia keseluruhan mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki
persaingan yang kurang dibandingkan dengan negara-negara pesaing lainnya
(Setiyadi, 2005).
Namun sejak Sejak dicabutnya kuota ekspor tekstil oleh Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO) pada 1 Januari lalu, menyebabkan perdagangan
non migas terutama garmen (pakaian jadi) di Indonesia terutama dari Bali ke
AS anjlok lebih dari 50% (Artawayasa, 2004).
Tabel II.3
Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia Tahun 2002-2007
No Komoditas
Rata-rata Ekspor Produk Garmen (dalam Juta Dolar
Amerika)
Garmen Utama
1 Kemeja Pria, dari Katun, tidak Dirajut. 6,4
2 Celana panjang dan celana pendek Pria,
dari Katun, tidak Dirajut 4,9
3 Celana Panjang dan Celana Pendek
Wanita, dari Katun, tidak Dirajut 3,8
4 Blus & Kemeja Wanita, dari Bahan
Tekstil lainnya, tidak Dirajut 1,2
5 Jas Hujan Pria, dari Serat Buatan, tidak
Dirajut 1,0
6 Gaun Wanita, dari Serat Sintetis, tidak
Dirajut 1,2
7 Garmen & Aksesoris Pakaian Bayi, dari
katun, Dirajut 0,9
8 Pakaian Renang Wanita, dari Serat
Sintetis, Dirajut 0,6
9 Rok Wanita, dari Serat Sintetis, tidak
Dirajut 0,7
Sumber : Global Trade Atlas
E. Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Garmen di Indonesia
1. Hubungan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar As Dengan Ekspor Garmen.
Perubahan nilai tukar berhubungan terhadap nilai ekspor dan
impor.Sifat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar. Apabila
transaksi jual beli valuta asing dapat dilakukan secara bebas di pasar maka
kurs valuta asing akan berubah sesuai dengan perubahan permintaan dan
penawaran secara langsung akan mempengaruhi nilai ekspor dan impor,
hal ini dapat terjadi karena di dalam nilai kurs, selain hal di atas juga di
pengaruhi oleh perubahan dan permintaan kurs valuta asing. Permintaan
juga dapat menguasai sepenuhnya transaksi valuta asing, dalam hal ini
kurs tidak dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, berdasarkan pada
uraian diatas maka nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat,
dapat dibedakan menjadi dua:
a. Nilai tukar tetap (Fixed Excahange Rate)
Merupakan nilai tukar dimana pemerintah masih bisa
melakukan devalusai (penurunan nilai mata uang dalam negeri
terhadap mata uang asing), dengan kata lain pemerintah menetapkan
tingkat kurs mata uang negara tersebut dengan mata uang negara lain,
dan berusaha untuk mempertahankan dengan berbagai kebijakan.
Pertama, tindakan secara langsung berupa pembelian mata uang
sendiri dengan mata uang asing oleh bank sentral apabila kurs di pasar
merosot dibawah tingkat yang sudah ditentukan oleh otoritas moneter,
19
langsung berupa penjatahan nilai tukar tetap pada tingkat kurs yang
ditetapkan.
Nilai tukar tetap pada saat devaluasi (penurunan nilai mata
uang dalam negeri terhadap mata uang yang sengaja dilakukan oleh
pemerintah), maupun revaluasi (menaikkan nilai mata uang dalam
negeri terhadap mata uang asing yang sengaja dilakukan oleh
pemerintah), akan mempengaruni nilai ekspor dan impor. Pada saat
devaluasi maka akan menaikkan nilai ekspor dan menurunkan nilai
impor, karena nilai tukar rupiah memiliki nilai yang tinggi terhadap
mata uang di luar negeri (nilai Dolar AS), misalnya : nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS sebesar Rp 15.000,00 (di luar negeri) dan nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 10.000,00 (didalam negeri) maka
nilai ekspor akan naik dan nilai impor mengalami penurunan di dalam
negeri, hal ini dapat terjadi karena untuk mengimpor, suatu negara
harus menggunakan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp
15.000,00 sehingga suatu negara akan memilih menaikkan ekspor
untuk memperoleh devisa dibandingkan dengan melakukan impor.
Nilai tukar tetap pada saat revaluasi (menaikkan mata uang
dalam negeri terhadap mata uang asing yang sengaja dilakukan oleh
pemerintah), maka akan menaikkan impor dan menurunkan ekspor, hal
ini dapat terjadi karena pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
mengalami kenaikan maka nilai ekspor akan turun, misalnya nilai
dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 15.000,00 (dalam
negeri), maka akan menyebabkan suatu negara lebih memilih
mengimpor dari luar negeri, dengan biaya yang lebih murah
dibandingkan dengan membeli di dalam negeri dengan biaya yang
lebih mahal.
b. Nilai tukar mengembang (Floating Exchange Rate)
Nilai tukar merupakan suatu nilai tukar rupiah, nilai kurs tukar
mengembang ditentukan secara bebas oleh tarik menarik kekuatan
pasar. Keuntungan dari pasar nilai tukar mengambang adalah bahwa
tingkat kurs yang berlaku selalu sama dengan tingkat kurs
keseimbangan, tidak ada masalah surplus atau defisit neraca
pembayaran.
Nilai tukar mengambang pada saat depresi (penurunan harga
dalam valuta domestik dari valuta luar negeri sesuai dengan
mekanisme pasar) maupun apresiasi (kenaikan harga yang dinyatakan
dalam valuta domestik dari valuta luar negeri sesuai dengan
mekanisme pasar), akan mempengaruhi nilai ekspor dan impor. Pada
saat depresiasi maka akan menyebabkan nilai ekspor dan
menyebabkan dan menurunkan impor, hal ini dapat terjadi karena nilai
tukar rupiah terhadap dolar akan turun, misalnya: nilai dolar terhadap
rupiah di dalam negeri Rp10.000,00 dan nilai dolar terhadap AS
terhadap rupiah di luar negeri sebesar Rp15.000,00 maka akan
21
lebih memilih mengekspor ke luar negeri karena akan mendapatkan
devisa yang lebih tinggi dibandingkan dengan melakukan impor.
Nilai tukar mengambang pada saat apresiasi (kenaikan harga
dinyatakan dalam valuta domestik dari valuta luar negeri dengan
mekanisme pasar), hal ini dapat mempengaruhi ekspor dan impor, nilai
ekspor akan megalami penurunan dan nilai impor mengalami
kenaikan, hal ini dapat terjadi karena nilai tukar rupiah terhadap dolar
akan naik, misalnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di luar negeri
sebesar Rp10.000,00 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di
dalam negeri sebesar Rp15.000,00 maka suatu negara akan memilih
mengimpor di bandingkan dengan mengekspor, karena akan
mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah dibandingkan
dengan produksi di dalam negeri (Nopirin,1996).
Kurva II.1
Kurva permintaan vallas
RP D1
D0 S
1
0
D1
D0 US$
Keterangan Kurva :
D0 : Permintaan awal
D1 : Permintaan setelah adanya perubahan
E0 : Keseimbangan pada saat permintaan awal
E1 : Keseimbangan pada saat perubahan harga
S : Penawaran akan valuta asing
Kurva II.2
Kurva penawaran vallas
Rp SI
1 S0
0
D0 US$
E1 E0
Keterangan Kurva :
S0 : Penawaran Awal
S1 : Penawaran detelah adanya perubahan
E0 : Keseimbangan pada saat perubahan vallas pada saat penawaran
awal
2. Hubungan Tingkat Upah Dengan Ekspor Garmen Di Indonesia.
Industri garmen merupakan industri skala besar dan berorientasi
pada ekspor secara umum dapat menetukan kebijakan upah dengan baik.
Meskipun demikian, mereka merasa bahwa perubahan kebijakan upah
minimum terlalu sering dilakukan, terutama dalam beberapa tahun terakhir
ini. Sebelum krisis, kenaikan upah minimum hanya dilakukan sekali dalam
satu tahun. Sekarang, kenaikan upah minimum dilakukan lebih dari satu
kali dalam satu tahun. Sejak upah minimun meningkat, masalah
pengupahan menjadi masalah dalam perusahaan garmen. Bagi perusahaan
23
yang harus dilaksanakan dari pada harus menghadapi unjuk rasa dari
pekerja/karyawan yang justru akan menyebabkan resiko biaya dan beban
psikologis lebih besar. Sementara itu semua perusahaan kecil dan sedang
tidak menerapkan UMR secara utuh kepada sebagian besar karyawannya.
Kelompok perusahaan kecil ini merasa bahwa ketetapan mengenai UMR
yang harus diberikan kepada pekerja memberatkan, sehingga apabila
dipaksakan mungkin perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Beberapa
perusahaan yang sebenarnya kurang mampu menerapkan UMR, berupaya
menerapkannya dengan cara melakukan langkah-langkah penghematan
untuk mengurangi beban perusahaan. Salah satu cara yang ditempuh
adalah dengan memasukkan seluruh komponen upah tidak tetap dalam
perhitungan upah pekerja (misalnya uang kerajinan, uang shift dan
sebagainya) ke dalam UMR (Lembaga Penelitian SMERU, Maret 2003).
Akibat kenaikan UMR ini menyebabkan perusahaan garmen sulit
membuat kontrak kerjasama baru dengan para pembelinya di luar negeri
karena mereka tidak dapat memperkirakan besarnya kenaikan UMR dalam
perhitungan biaya produksi perusahaan sehingga dikhawatirkan
perhitungannya tidak cocok. Jika kenaikan UMR itu tetap terjadi setiap
tahun maka perusahaan tidak dapat melakukan ekspansi, malah sebaliknya
investasinya menjadi menurun karena perusahaan tidak mampu membayar
upah buruhnya. Pada 2008 mendatang akan banyak industri garmen yang
tutup atau pindah ke negara lain yang UMRnya lebih rendah dibanding di
kenaikan UMR di Indonesia mencapai 161 persen atau rata-rata 20 persen
setiap tahunnya yang akhirnya menyebabkan produk Indonesia tidak
kompetitif lagi. Sehingga dengan adanya kenaikan UMR tidak akan
mengurangi ekspor garmen di Indonesia (Marzuki, 2007).
3. Hubungan Harga Tekstil Internasional Garmen Dengan Ekspor Garmen di Indonesia
Tekstil dan produk tekstil merupakan industri yang tumbuh
bersamaan dengan kehidupan manusia. Sejak pakaian dibutuhkan manusia
untuk melindungi tubuhnya dari pengaruh iklim dan cuaca yang diluar
batas normal tubuh manusia, sampai penggunaannya untuk menambah
penampilan maupun untuk mendukung proses industri tekstil lainnya,
tekstil selalu menjadi kebutuhan pokok manusia. Oleh karena itu harga
tekstil sangat berpengaruh terhadap industri garmen, apalagi harga tekstil
internasional. Karena Indonesia masih banyak mengimpor bahan baku
tekstil dari luar negeri, selain itu volume impor bahan baku tekstil di
Indonesia masih cukup tinngi digunakan sebagai campuran dalam
menghasilkan produk yang bermutu dan juga sebagai bahan baku industri
garmen. Berikut dapat dilihat daftar hargat tekstil internasional:
25 Sumber : - BPS Indeks Perdagangan Besar Indonesia
- Asosiasi Pertekstilan Indonesia
4. Hubungan Pertumbuhan Penduduk Dunia Dengan Ekspor Garmen di Indonesia.
Pertumbuhan penduduk dunia merupakan masalah perekonomian
yang berhubungan dengan penyedian kebutuhan pokok salah satunya yaitu
sandang (pakaian), besarnya jumlah penduduk dunia secara langsung akan
terkait dengan kebutuhan pokok yaitu sandang atau pakaian. Konsumsi
sandang menjadi kebutuhan setiap individu atau manusia, pertumbuhan
penduduk dunia setiap tahunnya akan mengalami kenaikan kerena adanya
angka kelahiran setiap tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan sandang
maka diperlukannya produksi garmen yang banyak untuk mencukupi
kebutuhan individu. Semakin banyak angka kelahiran maka akan semakin
banyak pula kebutuhan akan sandang atau pakaian yang diperlukan. Maka
dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia akan mendorong ekspor
garmen. Pertumbuhan penduduk yang pesat menuntut pemenuhan sandang
yang sangat besar pula, agar antara angka kelahiran seimbang dengan
yang dibutuhkan oleh individu (Subejo, 1972).
5. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Denagn Ekspor Garmen di Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam
yang dialami dunia hanya dua abad belakangan ini, dan oleh Simon
Kuznets, seorang ahli ekonomi terkemuka di Amerika Serikat yang pernah
memperoleh hadiah Nobel dinyatakan bahwa, proses pertumbuhan
ekonomi tersebut dinamakannya sebagai Modern Economic Growth.
Dalam periode tersebut, dunia telah mengalami perkembangan
pembangunan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan
periode-periode sebelumnya (Sadono Sukirno,1998).
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan
output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam
jangka panjang, kesejahteraan tercermin pada peningkatan output
perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam
mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat
yang semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi juga bersangkut paut
dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan
ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan, bahwa pertumbuhan menyangkut
perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya
hasil produksi dan pendapatan (Boediono, 1993)
F. Penelitian Terdahulu
Judul penelitian: Pengaruh strategi produk pasar, bauran pemasaran,
dan keunggulan bersaing dipasar global terhadap program pemasaran dan
kinerja ekspor (Suatu penelitian pada industri garmen orientasi ekspor
27
G. Kerangka Pikiran
Dalam melakukan penelitian ini dan untuk menjawab berbagai
masalah dari penelitian ini, pola pikir sangat penting. Pola pikir dapat
mempermudah cara-cara yang akan ditempuh dalam penelitian. Pola pikiran
juga dapat disebut dengan kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran ini untuk
menjawab rumusan masalah sebagai berikut: Faktor yang mempengaruhi
ekspor garmen, ekspor garmen merupakan sumber pendapatan perekonomian
nasional bagi negara, industri ini memberikan kontribusi yang cukup besar
terhadap ekspor nasional, menambah surplus perdagangan nasional dan
sebagai pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).
Gambar : II.1
H. Hipotesis
1. Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika serikat
dengan ekspor garmen.
2. Ada hubungan antara harga tekstil internasional sebagai bahan baku
industri garmen dengan ekspor garmen.
3. Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.
4. Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan ekspor garmen.
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JenisPenelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto, yaitu
penelitian yang menunjukkan bahwa penelitian tersebut dilakukan sesudah
perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas tersebut terjadi karena
perkembangan kejadian itu secara alami (Furchan, 1982: 382). Jenis penelitian
ini dianggap sangat mendukung untuk memecahkan dan menggambarkan
persolaan yang sudah disampaikan terlebih dahulu.
B. Jenis Data dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data
kuantitatif adalah serangkaian pengukuran/observasi yang dinyatakan
dalam angka, merupakan data kasar karena di peroleh langsung dari hasil
pengukuran dan masih berwujud catatan yang belum mengalami
pengolahan yaitu data yang berbentuk angka-angka. Teknik pengumpulan
data diperoleh yaitu dari sumber-sumber literatur dan arsip-arsip yang
dimiliki dan literatur yang berkaitan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai ekspor garmen di Indonesia.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data
diperoleh dari berbagai sumber antara lain Departemen Perdagangan, Biro
Pusat Statistik, dan literatur lain yang mendukung.
C. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2009. Data yang
digunakan adalah data yang berhubungan dengan perkembangan ekspor
garmen Indonesia, harga tekstil internasional terhadap ekspor garmen
Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap ekspor garmen, tingkat UMR atau upah
terhadap ekspor garmen, pertumbuhan penduduk dunia, serta pertumbuhan
ekonomi dunia terhadap ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007.
Alasan yang mendasari untuk melakukan penelitian untuk mengambil
tahun 1995 adalah pada tahun tersebut nilai ekspor disektor industri garmen
Indonesia mengalami penurunan sehingga dari segi pemasukan negara dan
menyumbang pemasukan yang kecil juga terhadap pendapatan PDB (Produk
Domestik Bruto), pada tahun 2006 ekspor garmen meningkat sedangkan pada
tahun 2007 ekspor indonesia mengalami penurunan kembali dalam eskpor
produk garmen karena semakin banyak masuknya produk impor dari China
yang membanjiri Indonesia.
D. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :
31
Variabel bebas adalah variabel yang diduga secara bebas
berpengaruh terhadap variabel dependent, yaitu : harga tekstil
inetrnasional dalam US Dolar (X1), nilai tukar rupiah tingkat internasional
dalam US Dolar (X2), tingkat UMR per bulan dalam Rupiah dalam sektor
industri (X3), Pertumbuhan penduduk dunia dalam miliyar (X4),
Pertumbuhan ekonomi dunia dalam persen (X5).
b) Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
independent. Variabel independent dari penelitian ini adalah nilai ekspor
garmen dalam US Dolar (Y).
E. Teknik Analisis Data
1) Prasyarat Uji Analisis
a. Pengujian Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini digunakan untuk
mengetahui apakah data yang terjaring berdistribusi normal, sehingga
analisis untuk menguji hipotesis dapat dilakukan. Dalam uji
normalitas ini digunakan rumus uji satu sampel dari
Kolmogorov-Smirnov, yaitu tingkat kesesuaian antara distribusi harga satu
sampel(skor observasi) dan distribusi teoritisnya. Uji ini menetapkan
suatu titik dimana teoritis dan yang terobservasi mempunyai
benar merupakan observasi suatu sampel random dari distribusi
teoritis (Ghozali, 2001: 35-36).
Tes Kolmogorov-Smirnov memusatkan perhatian pada
penyimpangan (deviasi) terbesar. Harga Fo (X) – Sn terbesar
dinamakan deviasi maksimum. Adapun rumus uji
Kolmogorov-Smirnov untuk normalitas sebagai berikut (Ghozali,2001 : 36 ):
D = Max | FO (Xi) – SN (Xi) |
Keterangan:
D : Deviasi Maksimum
FO (Xi) : Fungsi distribusi frekuensi kumulatif yang ditentukan
SN(Xi) : Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi
Selanjutnya untuk mengetahui apakah distribusi frekuensi data
masing-masing variabel normal atau tidak dilakukan dengan
membandingkan antara chi kuadrat hasil hitungan dengan chi kuadrat
tabel. Jika nilai chi kuadrat data variabel lebih besar dari nilai chi
kuadrat pada tabel pada taraf signifikansi 5% berarti berdistribusi data
penelitian tidak normal. Sedangkan bila nilai chi kuadrat data variabel
lebih kecil dari nilai chi kuadrat tabel maka distribusi data penelitian
normal.
Hipotesis pada uji normalitas dirumuskan sebagai berikut:
o H0 : data berdistribusi normal
33
Adapun kriteria penerimaan hipotesis pengujian normalitas
adalah jika nilai Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari nilai
probabilitas (p = 0,05) maka H0 diterima. Sebaliknya, jika nilai
Kolmogorov-Smirnov lebih kecil dari nilai probabilitas (p = 0,05)
maka H0 ditolak.
2. Pengujian Hipotesis
Hipotesis adalah suatu anggapan atau pendapat yang diterima
secara tentatif untuk menjelaskan suatu fakta atau yang dipakai sebagai
dasar bagi suatu penelitian. Hipotesis yang dirumuskan adalah dengan
hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis yang
dirumuskan ini disebut hipotesis nol, karena hipotesis ini mempunyai
perbedaan nol atau tidak mempunyai perbedaan dengan hipotesis yang
sebenarnya. Hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Harga tekstil internacional
Ho : Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan
ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara antara harga tekstil internasional dengan
ekspor garmen.
b. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
Ho : Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
dengan ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
dengan ekspor garmen
c. Tingkat UMR
Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor
garmen.
Ha : Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor
garmen.
d. Pertumbuhan penduduk dunia
Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia
dengan ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan
ekspor garmen.
e. Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan
ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan
ekspor garmen.
Dalam pengujian hipotesis penelitian ini digunakan teknik
analisa koefisien korelasi. Analisa koefisien korelasi digunakan untuk
mengetahui atau menunjukkan arah dan kuatnya pengaruh antara dua
variabel secara bersama-sama atau lebih dengan variabel lainnya. Adapun
rumus korelasinya sebagai berikut (Sudjana, 1996: 369):
35
Keterangan:
R : Koefisien korelasi
Yi : Nilai Ekspor Garmen
Xi : Nilai Koefisien Determinasi
N : Jumlah Sampel
Ho diterima jika : rhitung < rtabel
Untuk mengetahui hubungan korelasi antara variabel bebas
(harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat
UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia)
dan variabel terikat (ekspor garmen), digunakan ketentuan sebagai
berikut:
o Ho ditolak jika : rhitung > rtabel
36
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada laporan
tahunan BPS tahun 1995 sampai dengan 2007. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah nilai ekspor garmen. Variabel bebas yang digunakan
yaitu harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat
UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Berikut ini adalah data-data mengenai variabel bebas dan variabel terikat dari
penelitian ini:
Tabel IV.1
Sumber : Diolah dari data statistical BPS, tahun 1995-2007.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan nilai ekspor
garmen. Demikian juga dengan kelima variabel lainnya mengalami
peningkatan seperti harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap
37
dollar AS, tingkat UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan
ekonomi dunia.
B. Analisis Data
1. Prasyarat Uji Analisis
Uji prasyarat analisis harus dilakukan karena akan digunakan
sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya yaitu melakukan
analisis data, selain itu juga dimaksudkan sebagai dasar dalam mengambil
keputusan agar tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya ditarik.
Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui kenormalan
distribusi data. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan uji statistik One sampel Kolmogorov Smirnov dengan
bantuan program SPSS versi 11.5.
Berikut ini disajikan rangkuman hasil pengujian :
Tabel IV. 2
Pengujian Normalitas Masing-masing Variabel Penelitian S
Sumber: Hasil Olahan Data Sekunder, 2009 ( Lampiran 1)
No Variabel Kolmogorov
-Smirnov
Asymp
Sig2-Tailed α Kesimpulan
1 Harga Tekstil
Internasional (X1)
0.935 0.346 0.20 Normal
6 NilaI Ekspor Garmen
(Y) 1.170 0.130 0.20 Normal
Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai-nilai probabilitas harga
tekstil internasional= 0,346 dan nilai Kolmogorov-Smirnov= 0,935. Nilai
probabilitas dan nilai Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai
α =0,20. Hal tersebut berarti distribusi data harga tekstil internasional (X1)
adalah normal.
Nilai probabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar As = 0,303 dan
nilai Kolmogorov-Smirnov= 0,971. Nilai probabilitas dan nilai
Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut
berarti distribusi data nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (X2) adalah
normal.
Nilai probabilitas tingkat UMR= 0.985 dan nilai
Kolmogorov-Smirnov= 0,456. Nilai probabilitas dan nilai Kolmogorov-Smirnov tersebut
lebih besar dari nilai α= 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data tingkat
UMR (X3) adalah normal.
Nilai probabilitas pertumbuhan penduduk dunia = 0,787 dan nilai
Kolmogorov-Smirnov= 0,653. Nilai probabilitas dan nilai
Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti
distribusi data pertumbuhan penduduk dunia (X4) adalah normal.
Nilai probabilitas pertumbuhan ekonomi dunia= 0.898 dan nilai
Kolmogorov-Smirnov= 0,573. Nilai probabilitas dan nilai
Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti
39
Sedangkan nilai probabilitas nilai ekspor garmen = 0.130 dan nilai
Kolmogorov-Smirnov = 1.170 Nilai probabilitas dan nilai
Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti
distribusi data nilai ekspor garmen (Y) adalah normal.
Hasil pengujian penelitian untuk uji normalitas diatas
memperlihatkan bahwa data normal semua, baik itu harga tekstil
internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat UMR,
pertumbuhan penduduk dunia, pertumbuhan ekonomi dunia, dan nilai
ekspor garmen.
2. Pengujian Hipotesis
Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi antara variabel
harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat
UMR, pertumbuhan penduduk dunia, pertumbuhan ekonomi dunia, dan
nilai ekspor garmen. secara bersama-sama digunakan uji statistik koefisien
korelasi Pearson. Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
1) Harga tekstil internasional
Ho: Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan
ekspor garmen.
Ha: Ada hubungan antara antara harga tekstil internasional dengan
ekspor garmen.
2) Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
Ho: Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
dengan ekspor garmen.
Ha: Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dengan
ekspor garmen.
3) Tingkat UMR
Ho: Tidak ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.
4) Pertumbuhan Penduduk Dunia
Ho: Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan
ekspor garmen.
Ha: Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan
ekspor garmen.
5) Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan
ekspor garmen.
Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan
ekspor garmen.
Hasil perhitungan dengan uji koefisien korelasi product momet Pearson
41
Correlation .244 .822
**
Correlation .384 .858
**
Correlation .016 .696
** **. Correlation of significant at the 0.10 level (2- tailed )
*. Correlation of significant at the 0.20 level (2- tailed )
Untuk mengetahui hipotesis diterima atau tidak, maka dilakukan
perbanding nilai antar rhitung dan rtabel. Apa bila rhitung > dari rtabel
maka Ho ditolak, sedangkan rhitung < rtabel Ho diterima dengan tingkat
siknifikansi 5% dan N = 13. Nilai perbandingannya rhitumg dan rtabel dan
tingkat siknifikansi sebagai berikut :
Tabel IV. 4
Perbandingan Nilai rhitung dan Nilai rtabel serta Tingkat Signifikansi
Nilai Signifikansi Variabel
r hitung rtabel ahitung atabel
Harga Tekstil Internasional (X1) 0,344 0,367 0,250 0,20
Nilai Tukar Rupiah (X2) 0,244 0,367 0,422 0,20
Tingkat UMR (X) 0,384 0,367 0,196 0,20 Pertumbuhan Penduduk Dunia (X4) 0,016 0,367 0,957 0,20
Pertumbuhan Ekonomi Dunia ( X 5 ) 0,409 0,367 0,165 0,20
Dari data tabel IV.4 maka hasil pengujian hipotesis penelitian sebagai
berikut:
1) Harga tekstil internasional berhubungan dengan ekspor garmen
Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan
nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas harga
tekstil internasional < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,344 dan nilai
rtabel = 0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat
hubungan antara harga tekstil internasional (X1) dengan ekspor
garmen (Y). Hal tersebut berarti hubungan harga tekstil internasional
(X1) signifikansi karena nilai probabilitas 0,250 > 0,20 dan
43
2). Nilai tukar rupiah berhubugan dengan ekspor garmen.
Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan
nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas nilai
tukar rupiah < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,244 dan nilai rtabel =
0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat hubungan
antara nilai tukar rupiah (X2) dengan ekspor garmen (Y). Hal tersebut
berarti hubungan nilai tukar (X2) siknifikan karena nilai probabilitas
0,422 > 0,20 dan hubungannya negatif yaitu sebesar 0,244.
3). Tingkat UMR berhubungan dengan ekspor garmen.
Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan
nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas tingkat
UMR < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,384 dan nilai rtabel = 0,367.
Karena nilai rhitung > rtabel maka terdapat hubungan antara tingkat
UMR (X3) dengan ekspor garmen (Y). Hal tersebut berarti hubungan
tingkat UMR (X3) sangat siknifikan karena nilai probabilitas 0,196 <
0,20 dan hubungannya positif yaitu sebesar 0,387.
4). Pertumbuhan penduduk dunia berhubungan dengan ekspor garmen.
Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan
nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas
pertumbuhan penduduk dunia > 0,20 dengan nilai rhitung = 0,016 dan
nilai rtabel = 0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat
hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia (X4) dengan ekspor