• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah, tingkat UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007 - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Hubungan harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah, tingkat UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007 - USD Repository"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI

TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN

PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR

GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh : Neni Listanti

041324021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI

TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN

PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR

GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh : Neni Listanti

041324021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

(3)
(4)

iii

   

(5)

iv

PERSEMBAHAN  

 

   

Dengan tulus aku persembahkan skripsi ini kepada :

Allah Swt yang telah memberi aku hidup didunia ini

Kedua orang tuaku, Bp.Suyanto & Ibu Nasri

Kembaranku Neno, dan calon suamiku Mas dody

teman-teman yang selalu mengasihiku

(6)

v

MOTTO

Se sung g uhnya se suda h ke sulita n itu a da ke muda ha n.

Ma ka a pa bila ka mu te la h

se le sa i da ri se sua tu urusa n , ke rja ka nla h de ng a n

sung g uh – sung g uh urusa n ya ng la in.

(Q S. A l Insy ira h : 6- 7)

Ilmu iba ra t e ma s, di ma na pun te mpa tnya , ke duduka nnya

te rho rma t.

Ano nymo us

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah

disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya

karya.

Yogyakarta, 16 Juni 2010

Penulis

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN

AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, Saya Mahasiawa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Neni Listanti

Nomor Mahasiswa : 041324021

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan

Universitas Sanata Dahrma karya ilmiah saya yang berjudul :

HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA DENGAN NILAI EKSPOR GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007

beserta perangkat yang diperlukan ( bila ada ). Dengan demikian saya

memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk

menyimpan , mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk

pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas , dan mempublikasikan di

internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari

saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama

saya sebagia penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada Tanggal: 16 Juni 2010

Yang Menyatakan,

Neni Listanti

(9)

viii

ABSTRAK

HUBUNGAN HARGA TEKSTIL INTERNASIONAL, NILAI TUKAR RUPIAH, TINGKAT UMR, PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA

DENGAN NILAI EKSPOR

GARMEN DI INDONESIA TAHUN 1995-2007 Neni Listanti

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perkembangan nilai ekspor garmen di Indonesia, (2) Hubungan harga tekstil internasional dengan nilai ekspor garmen di Indonesia, (3) Hubungan tingkat UMR dengan nilai ekspor garmen di Indonesia,(4) Hubungan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS dengan nilai ekspor garmen di Indoenesia , (5) Hubungan pertumbuhan penduduk dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia , dan (6) Hubungan pertumbuhan ekonomi dunia dengan nilai ekspor garmen di Indonesia.

Penelitian studi Ex Post Facto penelitian ini dilaksanakan pada bulan oktober-november 2009. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Sumber data merupakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain dari Departemen Perdagangan, Biro Pusat Statistik, dan literatur lain yang mendukung.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi product moment dari Pearson.

Hasil perhitungan analisis menunjukkan bahwa: (1)Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,250 dengan

nilai probabilitas 0,344), (2) Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap Dolaar As dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,244 dengan nilai

probabilitas 0,422), (3) Ada hubungan yang positif dan signifikan antara UMR dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,384 dengan nilai probabilitas 0,196), (4)

Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan nilai ekspor garmen (rhitung 0,016 dengan nilai probabilitas 0,957), dan (5) Ada hubungan yang

(10)

ix

ABSTRACT

THE CORRELATION BETWEEN INTERNATIONAL TEXTILE’S PRICE, IDR EXCHANGE RATE, AGE LEVEL, WORLD’S INHABITANT DEVELOPMENT, AND WORLD’S ECONOMIC

DEVELOPMENT AND THE

TEXSTILE’S RATE IN INDONESIA IN 1995-2007 Neni Listanti

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

This research aims to know: (1) the texstile’s export development in Indonesia; (2) the correlation between internatioanal textile’s price and textile’s export rate in Indonesia; (3) the correlation between age level and textile’s export rate in Indonesia; (4) the correlation between IDR rate to USD and textile’s export rate in Indonesia; (5) the correlation between world’s inhabitant development and textile’s export rate in Indonesia, and (6) the correlation between world’s economic development and textile’s export rate in Indonesia.

This is an ex post facto reseach and it was conducted during October and November 2009. The data were gathered by documentation method. The secondary data were colleted from the Department of Commerce, the Centre Bureau of Statistics, and other supporting literatures relabed to the object of the reseach. The technique of data analysis was Pearson product moment correlation.

The results indicate that: (1) there isn’t any correlation between international textile’s export price and the value of garment export (raccount

0,250 with the probability value 0,344); (2) there is not any correlation between IDR rate to USD and textile’s export rate (raccount 0,244 with the

probability value 0,422); (3) there is positive and significant correlation between age level and textile’s export rate (raccount 0,384 with the probability

value 0,196); (4) there isn’t any correlation between world’s inhabitant development and textile’s export rate (raccount 0,016 with the probability

value 0,957); and (5) there is positive and significant correlation between world’s economic development and textile’s export rate (raccount 0,409 with

the probability value 0,165).

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah SWT atas berkat, rahmat eta hidayahNya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Terselesaikannya penyusunan skripsi ini

tak lepas dari partisipasi dan bantuan berbagai pihak lain. Oleh karena itu, dengan

ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed.,Ph.D, selaku Dekan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Yohanes Harsoyo, S,Pd., M.Si, Selaku ketua Jurusan

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sekaligus sebagai Ketua

Program Studi Pendidikan Ekonomi serta selaku Dosen

Pembimbing I, terimakasih atas bimbingan dan pengarahan yang

diberikan kepada penulis dari awal hingga akhir dalam proses

penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.SI, selaku Dosen Pembimbing II

terimakasih atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada

penulis dari awal hingga akhir dalam proses penyusunan skripsi

ini.

4. Bapak Drs. P.A. Rubiyanto, Bapak Y.M.Vieney Mudayen, S.Pd,

dan Ibu Dra.C.Retno Wigati, M.Si., Selaku Dosen Pendidikan

Ekonomi terimakasih untuk bantuan, bimbingan, masukan, serta

pelajaran- pelajaran yang diberikan selama dibangku perkuliahan

yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi saya.

5. Mbak titin di Sekretariat Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata

Dharma yang telah banyak membantu dalam segala urusan

administrasi penulis.

6. Segenap karyawan-karyawati Perpustakaan Universitas Sanata

(12)

xi

yang memadai yang sangat membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi.

7. Ayah & Ibu tercinta, yang tiada henti-hentinya mendoakanku,

memberikan dukungan kepadaku, dan telah mendidik dan

membesarkanku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

8. Kembarankau Neno terimakasih atas dukungan, doa, dan

bantuannya selama ini.

9. Mas Dody terimakasih atas segala doa,dukungan dan bantuannya

selama ini.

10.Untuk sahabat-sahabatku yang senantiasa meluangkan waktu untuk

membantu dalam menyelesaikan penulisan ini.

11.Untuk komputerku, dengan adanya kau aku dapat menyelesaikan

tulisan skrispi ini hehe...

12.Semua pihak yang terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu yang telah membentu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi

ini. Oleh karena itu penulis sangat terbuka dalam menerima segala bentuk

kritikan maupun saran yang diberikan demi kabaikan, kemajuan, serta

perkembangan skripsi ini.

Penulis

(13)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAM PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GRAFIK ... xvi

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 11

A. Kinerja Industri Garmen di Indonesia... 11

B. Perkembangan Ekspor Garmen di Indonesia ... 13

C. Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia ... 15

D. Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia ... 16

(14)

xiii

1. Hubungan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar As

Dengan Ekspor Garmen ... 20

2. Hubungan Tingkat Upah Dengan Ekspor Garmen Di Indonesia ... 25

3. Hubungan Harga Tekstil Internasional Garmen Dengan Ekspor Garmen di Indonesia... 26

4. Hubungan Pertumbuhan Penduduk Dunia Dengan kspor Garmen di Indonesia ... 28

5. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Dengan Ekspor Garmen di Indonesia... 29

F. Penelitian Terdahulu ... 30

G. Kerangka Pikiran... 30

H. Hipotesis... 31

BAB III : METODE PENELITIAN ... 32

A. JenisPenelitian... 32

B. Jenis Data dan Sumber Data ... 32

C. Waktu Penelitian ... 33

D. Variabel Penelitian ... 34

E. Teknik Analisis Data... 35

BAB IV : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 39

A. Deskripsi Data... 39

B. Analisis Data ... 40

(15)

xiv

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN... 59

A. Kesimpulan ... 59

B. Saran... 61

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen ... 3

Tabel 11.1Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen Indonesai ... 13

Tabel 11.2 Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia ... 16

Tabel 11.3 Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia ... 19

Tabel 11.4 Harga Tekstil Internasional... 27

Tabel IV.1 Data Variabel Terikat Dan Variabel Bebas ... 39

Tabel IV.2 Pengujian Normalitas Masing – Masing Variabel Penelitian ... 41

Tabel IV.3 Nilai Korelasi Pearson ... 44

Tabel IV.4 Perbandingan Nilai rhitung Dan rtabel Serta Tingkat Signifikansi ... 46

Tabel IV.5 Perkembangan Ekspor Tekstil Dan Garmen Indonesai ... 50

Tabel IV.6 Harga Tekstil Internasional... 52

Tabel IV.7 Nilai Ekspor Garmen Terhadap Nilai Tukar US Dolar ... 53

Tabel IV.8 Tigkat UMR Per bulan Dengan Ekspor Garmen di Indonesia ... 55

Tabel IV.9 Pertumbuhan Penduduk Dunia ... 56

(17)

xvi

DAFTAR GRAFIK

Kurva 2.1 Kurva Permintaan Vallas ... 24

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri garmen merupakan salah satu industri prioritas nasioanal yang

masih prospektif untuk dikembangkan karena merupakan industri padat karya.

Perusahaan padat karya merupakan perusahaan yang penting bagi

pembangunan perekonomian Indonesia termasuk perusahaan garmen.

Perusahaan garmen Produksi dan penjualan tekstil, pakaian, alas kaki,

furniture serta produk industri padat karya lainnya merupakan penghasil

devisa penting dan menyediakan pekerjaan bagi penduduk usia produktif

perkotaan yang kian padat, namun semenjak krisis ekonomi tahun 1998 yang

berdampak negatif pada sektor industri, mengakibatkan beberapa cabang

industri harus tumbuh negatif dan beberapa jalan ditempat. Termasuk

didalamnya industri pakaian jadi (garmen), sebagai salah satu dari tiga

kebutuhan pokok manusia yaitu sandang.

Kondisi industri garmen saat ini pun tidak jauh berbeda, banyak

perusahaan yang menutup usahanya dari pada mempertahankan atau

membuka usaha di bidang garmen. Terdapat 224 perusahaan garmen yang

tercatat dalam departemen perindustrian pada tahun 2006, dan bila

dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 800-an perusahaan, kondisi

ini dapat dikatakan memprihatinkan. Tetapi pada akhirnya Industri garmen

memang tidak bisa diabaikan begitu saja hampir selama 20 tahun

(19)

terakhir ekspor garmen tidak pernah menurun. Industri ini memang

merupakan penyumbang devisa yang tinggi selain penyumbang devisa juga

memberikan penambahan pembentukan dalam Produk Domestik Bruto (PDB)

yaitu sebesar 3,8% dan juga menambah daya serap tenaga kerja sekitar 1.84

juta tenaga kerja, menambah surplus perdagangan internasioanal sebesar 20.2

persen. Perlu diketahui bahwa sejak zaman orde baru, pendapatan dari

pendapatan ekspor garmen amat sangat besar.

Sampai saat ini, pangsa pasar garmen Indonesia di pasar dunia

diperkirakan hanya mencapai 1,57%, maka industri garmen Indonesia kurang

mampu bersaing dengan negara lain. Indonesia juga memiliki pasokan tenaga

kerja yang melimpah, dengan adanya keunggulan tenaga kerja membuat

garmen di Indonesia selalu memiliki prospek yang baik di pasar ekspor, selain

itu Indonesia dengan dengan Singapura merupakan salah satu lintas ekspor

paling penting di dunia. Industri garmen Indonesia memiliki dua jenis tenaga

kerja yang disebut dengan tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak

langsung, tenaga kerja langsung lebih sedikit dibandingkan dengan tenaga

kerja tidak langsung dimana tenaga kerja langsung sebanyak 360.000

karyawan dan yang tidak langsung sebanyak 7000.000. Dengan banyaknya

karyawan dapat menambah jumlah produksi garmen dan juga akan menambah

pada jumlah ekspor garmen (Hermawan, 2009).

Pada tahun 2007, garmen Indonesia diekspor ke beberapa negara

diantaranya AS, China dan India dengan rata-rata cukup banyak,dan

permintaan ekspor dari luar negeri terus meningkat, dengan meningkatnya

(20)

3

menyalurkan kredit kesektor industri garmen. Tetapi Indonesia juga harus

berhati-hati walaupun ekspor garmen terus meningkat, karena mempunyai

banyak pesaing terutama dengan negara China dan India. Untuk menghadapi

pesaing-pesaing dari negera tersebut Indonsia dituntut untuk lebih responsif

terhadap pasar dan meningkatkan produk menjadi lebih baik. Selain itu

Indonesia merupakan produsen garmen kesembilan di dunia dengan nilai total

ekspor US$ 9,4 miliar. Negara Indonesia tidak hanya mengekspor produk

garmen saja tetapi juga mengekspor tekstil, di sini dapat dilihat bagaimana

perkembangan ekspor garmen dan tekstil.

Tabel I. 1

Perkembangan Ekspor Tekstil dan Garmen

Perkembangan Ekspor Tekstil dan Garmen (US$ ) miliar No

Tahun Tekstil Garmen

1 2001 3,04 4,13

Sumber : Bank Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia

Meskipun produksi tekstil, terutama yang di ekspor menurun hingga 30

persen, permintaan ekspor garmen relatif stabil, bahkan ada yang mampu

meningkat hingga 15 persen.

Di Indonesia industri garmen memang merupakan industri nasional,

pendapatan devisa negara yang dihasilkan cukup tinggi dari sektor garmen.

walaupun saat ini banyak bermunculan sejumlah produk impor, tetapi Industri

garmen tetap bertahan. Menurut Menperindag, selama ini Indonesia telah

(21)

dengan nilai tidak kurang US$ 7 miliar per tahun. Namun Menperindag

mengakui bahwa selama ini ekspor produk tekstil dan garmen Indonesia

tersebut masih lebih banyak didominasi oleh produk tekstil dan garmen

berkualitas menengah ke bawah yang diproduksi oleh industri padat karya.

Sementara itu, persaingan di pasar produk tekstil dan garmen kualitas

menengah ke bawah kini sudah sangat ketat dengan membanjirnya produk

dari China, India, Vietnam dan lain-lain. Karena itu, untuk menyiasati kondisi

seperti itu sudah waktunya bagi Indonesia untuk mulai mencoba memproduksi

produk tekstil dan garmen berkualitas tinggi untuk pasar menengah ke atas.

Sebab kalau Indonesia terus berkutat di pasar tekstil dan garmen berkualitas

menengah ke bawah Indonesia tidak akan mampu bersaing lagi dengan produk

dari China, India, Vietnam yang harganya lebih murah. Di Indonesia saat ini

ratusan pabrik tekstil dan garmen kini mengalami gulung tikar terkait adanya

kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak meningkatnya

biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan., berdasarkan pemaparan

pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pengusaha tekstil dan garmen

di Indonesia saat ini mengalami penurunan.

yang mana sebelumnya, pemilik usaha tekstil dan garmen di Indonesia

sebanyak 1.600 orang dan saat ini hanya tersisa 1.200 orang yang masih

bertahan.

Selain masalah persaingan, kenaikan harga bahan baku tekstil

internasional juga sangat berhubungan terhadap nilai ekspor garmen, karena

(22)

5

terhadap arus kas perusahaan garmen dan garmen sulit berkembang sehingga

nilai ekspor akan semakin berkurang. Karena Garmen Indonsia masih banyak

yang menggunakan bahan dari tekstil yang kualitasnya lebih baik

dibandingkan dengan jenis kain lainnya. Sehingga apa bila kain katun naik

maka jumlah eskpor garmen juga akan mengalami penurunan (Menperindag,

2007).

Kenaikan harga bahan baku tekstil internasional naik maka akan

berhubungan juga terhadap UMR para buruh. Apabila harga tekstil

internasional naik maka UMR akan mengalami penurunan karena jumlah

ekspor juga akan menurun seiring dengan mahalnya bahan baku tekstil

internasional .Sebenarnya UMR para buruh sudah dinaikkan pada tahun 2007

sebesar 22,36% tetapi banyak para pengusaha garmen yang menolak karena

ketentuan UMR yang baru sangat berat, dengan adanya kenaikan UMR juga

akan menambah biaya antara 6-8 % dari total biaya perusahaan, kondisi ini

sangat berat bagi perusahaan garmen akan berdampak pada kebangkrutan atau

gulung tikar. Sedangkan UMR di Indonesia sendiri dilaksanakan setiap

tahunnya kalangan pengusaha India yang tergabung Economic Association of

Indonesia and India (ECAII) meminta agar kenaikan upah minimum regional

di Indonesia dilaksanakan secara berkala, tidak setiap tahunnya. Karena akibat

kenaikan UMR ini menyebabkan mereka sulit membuat kontrak kerjasama

baru dengan para pembelinya di luar negeri karena mereka tidak dapat

memperkirakan besarnya kenaikan UMR dalam perhitungan biaya produksi

(23)

UMR di Indonesia mencapai 161 persen atau rata-rata 20 persen setiap

tahunnya yang akhirnya menyebabkan produk Indonesia tidak kompetitif lagi

(Sulaksono, 2003).

Kalangan eksportir seperti industri garmen dan pengusaha yang

produknya berorientasi ekspor juga akan mengeluhkan penguatan nilai rupiah

apa bila nilai rupiah tinggi. Karena dengan nilai tukar rupiah semakin

meningkat maka akan berdampak pada jumlah ekspor garmen. Kalau

penguatan itu terus terjadi misalnya hingga level Rp 7.000-an, bukan tidak

mungkin banyak eksportir yang menghentikan usahanya karena tidak kuat

menanggung kerugian karena industri garmen tidak mampu membeli bahan

baku begitu juga dengan industri tekstil yang saldo ekspornya dalam mata

uang US dolar.

Selain nilai tukar rupiah, pertumbuhan penduduk dunia juga

berhubungan terhadap nilai ekspor garmen. Pertumbuhan penduduk dunia

yang tinggi berarti diperlukannya usaha yang semakin besar untuk

mempertahankan suatu tingkat kesejahteraan rakyat tertentu di dalam

memenuhi kebutuhan pokok seperti pakaian. Faktor pertumbuhan

penduduk dunia merupakan faktor pendorong dalam perdagangan salah

satunya ekspor garmen. Semakin banyak jumlah penduduk dunia maka

semakin banyak pula kebutuhan akan pakain, bertambahnya jumlah

penduduk dunia dipengaruhi karena adanya angka kelahiran yang semakin

(24)

7

pertumbuhan ekonomi juga harus meningkat. Karena semakin

meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka akan semakin meningkat daya

beli masyarakat terhadap suatu barang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan dalam

masalah ini adalah :

a. Bagaimana perkembangan nilai ekspor garmen di Indonesia tahun

1995-2007?

b. Apakah ada hubungan antara harga tekstil internasional terhadap nilai

ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007?

c. Apakah ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika

Serikat terhadap nilai ekspor garmen tahun 1995-2007?

d. Apakah ada hubungan antara tingkat UMR terhadap nilai ekspor garmen

tahun 1995-2007?

e. Apakah ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia terhadap nilai

ekspor garmen di Indonesia 1995-2007?

f. Apakah ada hubungan antara penduduk dunia terhadap terhadap ekspor

garmen di Indonesia 1995-2007?

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini dibatasi bagaimana perkembangan ekspor garmen,

hubungan harga tekstil internasional terhadap nilai ekspor garmen, nilai tukar

(25)

tingkat UMR terhadap ekspor garmen, pertumbuhan penduduk dunia dan

pertumbuhan ekonomi dunia terhadap nilai ekspor garmen.

D. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui perkembangan ekspor garmen di Indonesia tahun

1995-2007.

b. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara harga tekstil internasioanl

terhadap ekspor garmen tahun 1995-2007.

c. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap

dolar terhadap ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007.

d. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat UMR ekspor

garmen, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.

e. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pertumbuhan penduduk

dunia, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.

f. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi

dunia, terhadap nilai ekspor garmen di Indonesia 1995-2007.

E. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini nantinya dapat memberikan manfaat yang cukup

berarti bagi pihak-pihak antara lain:

(26)

9

Dapat memberikan pertimbangan kepada pemerintah untuk dapat

meningkatkan jumlah ekspor garmen dan dapat mengetahui bagaimana

perkembangan jumlah ekspor garmen.

2. Bagi Peneliti

Dapat sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan

atau menambah wawasan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang

mempengaruhi nilai ekspor garmen.

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini dapat menambah referensi koleksi perpustakaan

Universitas Sanata Dharma Yoyakarta, yang berguna bagi mahasiswa

/mahasiswi Universitas Sanata Dharma serta pihak-pihak yang

membutuhkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan ksusunya

ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang

mempengaruhi nilai ekspor garmen di Indonesia.

(27)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kinerja Industri Garmen di Indonesia

Kinerja industri pakaian jadi atau garmen dari tahun ketahun

mengalami penurunan rata-rata turun sekitar 40% pada kuartal pertama yaitu

2006, hal ini dikarenakan melemahnya ekonomi di dalam negeri dan turunnya

daya beli masyarakat terhadap produk garmen. Disaat ini banyak masyarakat

yang mengurangi membeli pakaian, tetapi masyarakat lebih mengutamakan

membeli kebutuhan sehari-hari yaitu makanan, sehingga hal ini menyebabkan

ekspor garmen menurun. Semakin menurunya ekspor garmen ini juga karena

disebabkan semakin banyaknya produk impor yang murah masuk kedalam

negeri sehingga tidak mudah disaingi oleh para produsen.

Menurut Asosiasi produsen Garmen Indonesia (APGI) jumlah

perusahaan garmen di indonesia pada tahun 2006 mencapai 860 perusahaan,

dan pada tahun 2002 turun menjadi 840 perusahaan, dan menjadi 855 pada

tahun 2003 dengan total tenaga kerja mencapai 35.2000 orang (2007, Jakarta

2/6). Namun pada tahun 2008 industri garmen tengah menghadapi adanya

kelangkaan jumlah tenaga kerja terampil di sektor garmen. Padahal,

permintaan para pembeli (buyer) dunia terus meningkat dalam mencari tenaga

kerja yang mempunyai keahlian tertentu di bidang garmen agak sulit.

Sementara itu permintaan pasar terus melonjak dan semakin kompleks,

kelangkaan tenaga kerja terampil di industri garmen terjadi karena

(28)

11

(2008, Jakarta, Hanum). Kinerja ekspor garmen semakin melemah dan

permintaan akan produk garmen dalam keadaan stagnan (Website Dinas

Perindustrian & Perdagangan Jawa Barat) http://disperindag-jabar.go.id/.

Tetapi, kinerja industri garmen indonesia masih bisa diandalkan sebagai

sebagai penyumbang devisa bagi negara.

Selain itu, perkembangan kinerja industri garmen di Idonesia setiap

tahun mengalami perubahan, dimana pada tahun 1970- 1985 kinerja industri

garmen di Indonesia tumbuh dengan lambat dan hanya bisa memenuhi pasar

domestik saja, sedangkan pada tahun1986 industri TPT Indonesia mulai

tumbuh dengan pesat dibandingkn tahun sebelumnya, dan pada tahun 1986 –

1997 kinerja industri garmen Indonesia terus meningkat dan membuktikan

sebagai industri yang strategis dan sekaligus sebagai andalan penghasil devisa

negara sektor non-migas pada saat ini pakaian jadi (garmen) merupakan suatu

primadona, tetapi pada tahun 19998-2002 kinerja industri garmen mengalami

kesulitan kembali karena ekspor garmen mengalami fluktuatif, pada periode

2003-2006 industri garmen mengalami upaya revitalisasi stagnant yang

disebabkan karena adanya kesulitan biaya dan iklim usaha yang tidak kondusif

dan pada akhir tahun 2007 perkembangan industri garmen mengalami masa

pertengahan dimana dimulainya pergantian permesinan (Djafri, 2003 ).

B. Perkembangan Ekspor Garmen Di Indonesia

Industri-industri padat karya, termasuk industri tekstil, garmen, dan

(29)

lonjakan ekspor mereka, selama tahun-tahun pertama setelah krisis ekonomi

Asia bisa menarik manfaat dari depresiasi kurs devisa riil yang tajam. Akan

tetapi pertumbuhan ekspor industri-industri ini, termasuk industri tekstil dan

garmen, sesudah 2000 bertumbuh tersendat-sendat (tabel 3).

Tabel II. 1

Ekspor garmen dan Tekstil Indonesia 1995-2007

No Tahun Ekspor Tekstil

Sumber : Bank Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)

Dari tabel diatas maka dapat disimpulkan, bahwa industri-industri

padat karya ini ternyata kurang mampu bersaing dengan China, Vietnam dan

negara-negara pesaing lainnya yang bisa beroperasi dengan biaya produksi

yang lebih rendah (Aswicahyono & Hill, 2004: 289-90). Pada umumnya dapat

disimpulkan bahwa kinerja ekspor hasil-hasil industri Indonesia sejak krisis

ekonomi Asia kurang menggembirakan. Kemerosotan yang paling tajam

dalam pertumbuhan ekspor dialami oleh hasil-hasil industri manufaktur di

(30)

13

sawit, kayu lapis, mebel, alas kaki, dan kain tenun. Kinerja ekspor yang lemah

ini lebih banyak mencerminkan masalah-masalah domestik ketimbang

perkembangan eksternal yang kurang menguntungkan. Hal ini tercermin dari

pertumbuhan perdagangan dunia yang bertumbuh dari hampir 5 persen dalam

2003 sampai 10 persen dalam 2004, sedangkan pertumbuhan ekspor Indonesia

selama masa ini hanya mencapai 3 persen (World Bank,2004:i). Walaupun

setiap tahun nilai ekspor non-migas Indonesia, termasuk produk-produk

tradisional dan padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, meubel dan

produk-produk lainnya dari kayu, menunjukkan pertumbuhan positif, namun

laju pertumbuhannya cenderung melemah dalam beberapa tahun belakangan

ini. Tahun 2007, pertumbuhan ekspor dari produk-produk kimia, mesin dan

peralatan transportasi, dan barang-barang manufaktur lainnya tercatat 9,9%

dibandingkan 15.8% tahun 2001 (APEC 1997). Pada pasar global kini tak

cukup lagi ditembus dengan sekadar membuat produk garmen berkualitas

baik. Industri garmen dituntut menawarkan produk dalam satu paket layanan

lengkap. Untuk itu, efisiensi bukan saja mesti dilakukan dalam proses

produksi, tetapi juga ditentukan oleh jaringan pasokan bahan baku hingga

penetrasi pasar. Garmen masih bertahan menjadi salah satu komoditas ekspor

andalan.

Nilai ekspor garmen bukan rajutan tahun 2006 mencapai 3,38 miliar

dollar Amerika Serikat (AS), atau 36 persen dari total ekspor tekstil dan

produk tekstil (TPT) yang mencapai 9,4 miliar dollar AS. Dengan perolehan

devisa itu, TPT menyumbang 12 persen dari total nilai ekspor nonmigas

(31)

tertolong oleh pembatasan ekspor garmen dari China dan Vietnam ke pasar

AS dan Uni Eropa. Disini terdapat perbedaan antara tekstil dan garmen, yaitu

tekstil berasal dari bahasa latin, yaitu textiles yang berarti menenun atau

tenunan. Namun secara umum tekstil diartikan sebagai sebuah barang/benda

yang bahan bakunya berasal dari serat (umumnya adalah kapas, poliester,

rayon) yang dipintal (spinning) menjadi benang dan kemudian

dianyam/ditenun (weaving) atau dirajut (knitting) menjadi kain yang setelah

dilakukan penyempurnaan (finishing) digunakan untuk bahan baku produk

tekstil. Produk tekstil disini adalah pakaian jadi (garment), tekstil rumah

tangga, dan kebutuhan industri.

C. Negara Tujuan Ekspor Garmen Indonesia

Indonesia merupakan pengekspor negara terbesar, baik dalam ekspor

migas maupun non-migas salah satunya adalah ekspor produk garmen. Salah

satu negara tujuan ekspor garmen Indonesia adalah negara Amerika Serikat,

merupakan pasar ekspor terbesar bagi Indonesia setelah negara Jepang bagi

produk-produk Indonesia khususnya produk garmen. Berdasarkan Badan

Statistik (BPS) negara Amerika Serikat setiap tahunnya menduduki peringkat

kedua sebagai negara tujuan ekspor garmen Indonesia.

Tabel II.2

Negara Tujuan Utama Ekspor Garmen Indonesia

No Negara Tujuan 2006 (US$ miliar) 2007 (US$ miliar)

1 Jepang 12,8 12,8

2 Amerika 12,5 11,6

3 Singapura 10,1 9,8

4 China 7,7 7,2

5 Malaysia 5,9 5,5

(32)

15

Rata-rata produk yang diekspor ke negara tersebut adalah produk

garmen dan tekstil, tetapi ada juga seperti produk sepatu, pertanian, produk

kayu dan Furnitur. Hubungan perdagangan Indonesia dengan China sendiri

saat ini mrningkat cukup signifikan, dimana produk-produk dari Indonesia

yang diekspor ke Cina sebagian besar CPO, batubara, produk kimia, spare

parts mesin setengah jadi, karet, coklat, buah salak dan produk garmen

terutama sol sepatu. Pada sat ini ekspor produk garmen ke Amerika Serikat

akan semakin sulit dengan ketatnya persaingan di tengah melemahnya

permintaan akibat krisis keuangan yang melanda negara tersebut.

D. Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia

Jenis produk ungulan garmen Indonesia yang diekspor yaitu tekstil

dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, sepatu, banyak produk garmen yang

diekspor untuk melayani pasar dunia yang sedang berkembang. Produk yang

diekspor oleh industri garmen Indonesaia adalah sejenis blus dan kemeja

wanita yang terbuat dari katun; pullover dan cardigan yang terbuat dari bahan

tekstil lainnya, gaun wanita yang terbuat dari bahan tekstil dan rok wanita

yang terbuat dari serat sintetis dan masih banyak lagi (Supriyanto, 2007).

Jenis produk garmen baik usaha menengah maupun yang bersekala

besar yang banyak diekspor adalah pakaian kerja dan pakain seragam, dan

sepatu atau alas kaki. Dimana produk-produk tersebut banyak diekspor ke

negara Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan Timur Tengah. Dilihat dari

(33)

mencapai 4 juta orang, anak usia sekolah 64 juta. Itu belum lagi TNI/Polri

dengan asumsi masing-masing dalam setahun setiap orang menggunakan 2

stel pakaian dan 2 stel sepatu. “Dengan demikian secara nasional peluang

pasar untuk produksi garmen, pakaian jadi dan sepatu sangat besar (Fahmi,

2009).

Industri garment atau pakaian terus berkembang selama beberapa

dekade terakhir dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi

beberapa negara, baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang.

Seiring dengan majunya industri garment, telah banyak pula regulasi yang

tercipta dari beberapa persetujuan bilateral seperti dari Multi Fiber

Arrangement (MFA), sebuah persetujuan yang dibuat oleh negara importir.

Pada akhir tahun 2005, MFA regime berintegrasi dengan WTO regime

menciptakan peluang persaingan yang tinggi bagi negara-negara exportir

garment dan menghadapkan mereka pada negara-negara yang memiliki daya

saing tinggi. MFA menduduki tantangan yang lebih besar pada negara

eksportir garmen yang sedang berkembang, karena negara importir garmen,

yaitu negara maju memberi tekanan pada isu-isu yang berkaitan dengan

lingkungan dan kebutuhan sosial, kebutuhan teknologi, dan lainnya bagi

negara-negara eksportir. Industri garmen Indonesia, merupakan salah satu

sektor industri domestik terbesar yang telah memberikan kontribusi pada

perkembangan ekonomi dan generasi karyawan pada negara. Contoh-contoh

yang ada merupakan hasil seleksi dari petunjuk eksportir eksportir besar di

(34)

17

eksportir garmen Indonesia. Dengan menggunakan varimax rotation, tujuh

faktor muncul dari survei di Indonesia. Faktor persaingan dan strategi yang

diambil oleh eksportir juga telah dianalisa. Pada akhirnya persepsi eksportir

garmen Indonesia keseluruhan mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki

persaingan yang kurang dibandingkan dengan negara-negara pesaing lainnya

(Setiyadi, 2005).

Namun sejak Sejak dicabutnya kuota ekspor tekstil oleh Organisasi

Perdagangan Dunia (WTO) pada 1 Januari lalu, menyebabkan perdagangan

non migas terutama garmen (pakaian jadi) di Indonesia terutama dari Bali ke

AS anjlok lebih dari 50% (Artawayasa, 2004).

Tabel II.3

Jenis Ekspor Produk Garmen Indonesia Tahun 2002-2007

No Komoditas

Rata-rata Ekspor Produk Garmen (dalam Juta Dolar

Amerika)

Garmen Utama

1 Kemeja Pria, dari Katun, tidak Dirajut. 6,4

2 Celana panjang dan celana pendek Pria,

dari Katun, tidak Dirajut 4,9

3 Celana Panjang dan Celana Pendek

Wanita, dari Katun, tidak Dirajut 3,8

4 Blus & Kemeja Wanita, dari Bahan

Tekstil lainnya, tidak Dirajut 1,2

5 Jas Hujan Pria, dari Serat Buatan, tidak

Dirajut 1,0

6 Gaun Wanita, dari Serat Sintetis, tidak

Dirajut 1,2

7 Garmen & Aksesoris Pakaian Bayi, dari

katun, Dirajut 0,9

8 Pakaian Renang Wanita, dari Serat

Sintetis, Dirajut 0,6

9 Rok Wanita, dari Serat Sintetis, tidak

Dirajut 0,7

Sumber : Global Trade Atlas

(35)

E. Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Garmen di Indonesia

1. Hubungan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar As Dengan Ekspor Garmen.

Perubahan nilai tukar berhubungan terhadap nilai ekspor dan

impor.Sifat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar. Apabila

transaksi jual beli valuta asing dapat dilakukan secara bebas di pasar maka

kurs valuta asing akan berubah sesuai dengan perubahan permintaan dan

penawaran secara langsung akan mempengaruhi nilai ekspor dan impor,

hal ini dapat terjadi karena di dalam nilai kurs, selain hal di atas juga di

pengaruhi oleh perubahan dan permintaan kurs valuta asing. Permintaan

juga dapat menguasai sepenuhnya transaksi valuta asing, dalam hal ini

kurs tidak dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, berdasarkan pada

uraian diatas maka nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat,

dapat dibedakan menjadi dua:

a. Nilai tukar tetap (Fixed Excahange Rate)

Merupakan nilai tukar dimana pemerintah masih bisa

melakukan devalusai (penurunan nilai mata uang dalam negeri

terhadap mata uang asing), dengan kata lain pemerintah menetapkan

tingkat kurs mata uang negara tersebut dengan mata uang negara lain,

dan berusaha untuk mempertahankan dengan berbagai kebijakan.

Pertama, tindakan secara langsung berupa pembelian mata uang

sendiri dengan mata uang asing oleh bank sentral apabila kurs di pasar

merosot dibawah tingkat yang sudah ditentukan oleh otoritas moneter,

(36)

19

langsung berupa penjatahan nilai tukar tetap pada tingkat kurs yang

ditetapkan.

Nilai tukar tetap pada saat devaluasi (penurunan nilai mata

uang dalam negeri terhadap mata uang yang sengaja dilakukan oleh

pemerintah), maupun revaluasi (menaikkan nilai mata uang dalam

negeri terhadap mata uang asing yang sengaja dilakukan oleh

pemerintah), akan mempengaruni nilai ekspor dan impor. Pada saat

devaluasi maka akan menaikkan nilai ekspor dan menurunkan nilai

impor, karena nilai tukar rupiah memiliki nilai yang tinggi terhadap

mata uang di luar negeri (nilai Dolar AS), misalnya : nilai tukar rupiah

terhadap dolar AS sebesar Rp 15.000,00 (di luar negeri) dan nilai tukar

rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 10.000,00 (didalam negeri) maka

nilai ekspor akan naik dan nilai impor mengalami penurunan di dalam

negeri, hal ini dapat terjadi karena untuk mengimpor, suatu negara

harus menggunakan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp

15.000,00 sehingga suatu negara akan memilih menaikkan ekspor

untuk memperoleh devisa dibandingkan dengan melakukan impor.

Nilai tukar tetap pada saat revaluasi (menaikkan mata uang

dalam negeri terhadap mata uang asing yang sengaja dilakukan oleh

pemerintah), maka akan menaikkan impor dan menurunkan ekspor, hal

ini dapat terjadi karena pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

mengalami kenaikan maka nilai ekspor akan turun, misalnya nilai

(37)

dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 15.000,00 (dalam

negeri), maka akan menyebabkan suatu negara lebih memilih

mengimpor dari luar negeri, dengan biaya yang lebih murah

dibandingkan dengan membeli di dalam negeri dengan biaya yang

lebih mahal.

b. Nilai tukar mengembang (Floating Exchange Rate)

Nilai tukar merupakan suatu nilai tukar rupiah, nilai kurs tukar

mengembang ditentukan secara bebas oleh tarik menarik kekuatan

pasar. Keuntungan dari pasar nilai tukar mengambang adalah bahwa

tingkat kurs yang berlaku selalu sama dengan tingkat kurs

keseimbangan, tidak ada masalah surplus atau defisit neraca

pembayaran.

Nilai tukar mengambang pada saat depresi (penurunan harga

dalam valuta domestik dari valuta luar negeri sesuai dengan

mekanisme pasar) maupun apresiasi (kenaikan harga yang dinyatakan

dalam valuta domestik dari valuta luar negeri sesuai dengan

mekanisme pasar), akan mempengaruhi nilai ekspor dan impor. Pada

saat depresiasi maka akan menyebabkan nilai ekspor dan

menyebabkan dan menurunkan impor, hal ini dapat terjadi karena nilai

tukar rupiah terhadap dolar akan turun, misalnya: nilai dolar terhadap

rupiah di dalam negeri Rp10.000,00 dan nilai dolar terhadap AS

terhadap rupiah di luar negeri sebesar Rp15.000,00 maka akan

(38)

21

lebih memilih mengekspor ke luar negeri karena akan mendapatkan

devisa yang lebih tinggi dibandingkan dengan melakukan impor.

Nilai tukar mengambang pada saat apresiasi (kenaikan harga

dinyatakan dalam valuta domestik dari valuta luar negeri dengan

mekanisme pasar), hal ini dapat mempengaruhi ekspor dan impor, nilai

ekspor akan megalami penurunan dan nilai impor mengalami

kenaikan, hal ini dapat terjadi karena nilai tukar rupiah terhadap dolar

akan naik, misalnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di luar negeri

sebesar Rp10.000,00 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di

dalam negeri sebesar Rp15.000,00 maka suatu negara akan memilih

mengimpor di bandingkan dengan mengekspor, karena akan

mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah dibandingkan

dengan produksi di dalam negeri (Nopirin,1996).

Kurva II.1

Kurva permintaan vallas

RP D1

D0 S

1

0

D1

D0 US$

Keterangan Kurva :

D0 : Permintaan awal

D1 : Permintaan setelah adanya perubahan

E0 : Keseimbangan pada saat permintaan awal

(39)

E1 : Keseimbangan pada saat perubahan harga

S : Penawaran akan valuta asing

Kurva II.2

Kurva penawaran vallas

Rp SI

1 S0

0

D0 US$

E1 E0

Keterangan Kurva :

S0 : Penawaran Awal

S1 : Penawaran detelah adanya perubahan

E0 : Keseimbangan pada saat perubahan vallas pada saat penawaran

awal

2. Hubungan Tingkat Upah Dengan Ekspor Garmen Di Indonesia.

Industri garmen merupakan industri skala besar dan berorientasi

pada ekspor secara umum dapat menetukan kebijakan upah dengan baik.

Meskipun demikian, mereka merasa bahwa perubahan kebijakan upah

minimum terlalu sering dilakukan, terutama dalam beberapa tahun terakhir

ini. Sebelum krisis, kenaikan upah minimum hanya dilakukan sekali dalam

satu tahun. Sekarang, kenaikan upah minimum dilakukan lebih dari satu

kali dalam satu tahun. Sejak upah minimun meningkat, masalah

pengupahan menjadi masalah dalam perusahaan garmen. Bagi perusahaan

(40)

23

yang harus dilaksanakan dari pada harus menghadapi unjuk rasa dari

pekerja/karyawan yang justru akan menyebabkan resiko biaya dan beban

psikologis lebih besar. Sementara itu semua perusahaan kecil dan sedang

tidak menerapkan UMR secara utuh kepada sebagian besar karyawannya.

Kelompok perusahaan kecil ini merasa bahwa ketetapan mengenai UMR

yang harus diberikan kepada pekerja memberatkan, sehingga apabila

dipaksakan mungkin perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Beberapa

perusahaan yang sebenarnya kurang mampu menerapkan UMR, berupaya

menerapkannya dengan cara melakukan langkah-langkah penghematan

untuk mengurangi beban perusahaan. Salah satu cara yang ditempuh

adalah dengan memasukkan seluruh komponen upah tidak tetap dalam

perhitungan upah pekerja (misalnya uang kerajinan, uang shift dan

sebagainya) ke dalam UMR (Lembaga Penelitian SMERU, Maret 2003).

Akibat kenaikan UMR ini menyebabkan perusahaan garmen sulit

membuat kontrak kerjasama baru dengan para pembelinya di luar negeri

karena mereka tidak dapat memperkirakan besarnya kenaikan UMR dalam

perhitungan biaya produksi perusahaan sehingga dikhawatirkan

perhitungannya tidak cocok. Jika kenaikan UMR itu tetap terjadi setiap

tahun maka perusahaan tidak dapat melakukan ekspansi, malah sebaliknya

investasinya menjadi menurun karena perusahaan tidak mampu membayar

upah buruhnya. Pada 2008 mendatang akan banyak industri garmen yang

tutup atau pindah ke negara lain yang UMRnya lebih rendah dibanding di

(41)

kenaikan UMR di Indonesia mencapai 161 persen atau rata-rata 20 persen

setiap tahunnya yang akhirnya menyebabkan produk Indonesia tidak

kompetitif lagi. Sehingga dengan adanya kenaikan UMR tidak akan

mengurangi ekspor garmen di Indonesia (Marzuki, 2007).

3. Hubungan Harga Tekstil Internasional Garmen Dengan Ekspor Garmen di Indonesia

Tekstil dan produk tekstil merupakan industri yang tumbuh

bersamaan dengan kehidupan manusia. Sejak pakaian dibutuhkan manusia

untuk melindungi tubuhnya dari pengaruh iklim dan cuaca yang diluar

batas normal tubuh manusia, sampai penggunaannya untuk menambah

penampilan maupun untuk mendukung proses industri tekstil lainnya,

tekstil selalu menjadi kebutuhan pokok manusia. Oleh karena itu harga

tekstil sangat berpengaruh terhadap industri garmen, apalagi harga tekstil

internasional. Karena Indonesia masih banyak mengimpor bahan baku

tekstil dari luar negeri, selain itu volume impor bahan baku tekstil di

Indonesia masih cukup tinngi digunakan sebagai campuran dalam

menghasilkan produk yang bermutu dan juga sebagai bahan baku industri

garmen. Berikut dapat dilihat daftar hargat tekstil internasional:

(42)

25 Sumber : - BPS Indeks Perdagangan Besar Indonesia

- Asosiasi Pertekstilan Indonesia

4. Hubungan Pertumbuhan Penduduk Dunia Dengan Ekspor Garmen di Indonesia.

Pertumbuhan penduduk dunia merupakan masalah perekonomian

yang berhubungan dengan penyedian kebutuhan pokok salah satunya yaitu

sandang (pakaian), besarnya jumlah penduduk dunia secara langsung akan

terkait dengan kebutuhan pokok yaitu sandang atau pakaian. Konsumsi

sandang menjadi kebutuhan setiap individu atau manusia, pertumbuhan

penduduk dunia setiap tahunnya akan mengalami kenaikan kerena adanya

angka kelahiran setiap tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan sandang

maka diperlukannya produksi garmen yang banyak untuk mencukupi

kebutuhan individu. Semakin banyak angka kelahiran maka akan semakin

banyak pula kebutuhan akan sandang atau pakaian yang diperlukan. Maka

dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia akan mendorong ekspor

garmen. Pertumbuhan penduduk yang pesat menuntut pemenuhan sandang

yang sangat besar pula, agar antara angka kelahiran seimbang dengan

yang dibutuhkan oleh individu (Subejo, 1972).

5. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Denagn Ekspor Garmen di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam

(43)

yang dialami dunia hanya dua abad belakangan ini, dan oleh Simon

Kuznets, seorang ahli ekonomi terkemuka di Amerika Serikat yang pernah

memperoleh hadiah Nobel dinyatakan bahwa, proses pertumbuhan

ekonomi tersebut dinamakannya sebagai Modern Economic Growth.

Dalam periode tersebut, dunia telah mengalami perkembangan

pembangunan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan

periode-periode sebelumnya (Sadono Sukirno,1998).

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan

output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam

jangka panjang, kesejahteraan tercermin pada peningkatan output

perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam

mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat

yang semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi juga bersangkut paut

dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan

ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan, bahwa pertumbuhan menyangkut

perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya

hasil produksi dan pendapatan (Boediono, 1993)

F. Penelitian Terdahulu

Judul penelitian: Pengaruh strategi produk pasar, bauran pemasaran,

dan keunggulan bersaing dipasar global terhadap program pemasaran dan

kinerja ekspor (Suatu penelitian pada industri garmen orientasi ekspor

(44)

27

G. Kerangka Pikiran

Dalam melakukan penelitian ini dan untuk menjawab berbagai

masalah dari penelitian ini, pola pikir sangat penting. Pola pikir dapat

mempermudah cara-cara yang akan ditempuh dalam penelitian. Pola pikiran

juga dapat disebut dengan kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran ini untuk

menjawab rumusan masalah sebagai berikut: Faktor yang mempengaruhi

ekspor garmen, ekspor garmen merupakan sumber pendapatan perekonomian

nasional bagi negara, industri ini memberikan kontribusi yang cukup besar

terhadap ekspor nasional, menambah surplus perdagangan nasional dan

sebagai pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Gambar : II.1

(45)

H. Hipotesis

1. Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika serikat

dengan ekspor garmen.

2. Ada hubungan antara harga tekstil internasional sebagai bahan baku

industri garmen dengan ekspor garmen.

3. Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.

4. Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan ekspor garmen.

(46)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JenisPenelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto, yaitu

penelitian yang menunjukkan bahwa penelitian tersebut dilakukan sesudah

perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas tersebut terjadi karena

perkembangan kejadian itu secara alami (Furchan, 1982: 382). Jenis penelitian

ini dianggap sangat mendukung untuk memecahkan dan menggambarkan

persolaan yang sudah disampaikan terlebih dahulu.

B. Jenis Data dan Sumber Data

1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data

kuantitatif adalah serangkaian pengukuran/observasi yang dinyatakan

dalam angka, merupakan data kasar karena di peroleh langsung dari hasil

pengukuran dan masih berwujud catatan yang belum mengalami

pengolahan yaitu data yang berbentuk angka-angka. Teknik pengumpulan

data diperoleh yaitu dari sumber-sumber literatur dan arsip-arsip yang

dimiliki dan literatur yang berkaitan dengan faktor-faktor yang

mempengaruhi nilai ekspor garmen di Indonesia.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data

(47)

diperoleh dari berbagai sumber antara lain Departemen Perdagangan, Biro

Pusat Statistik, dan literatur lain yang mendukung.

C. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2009. Data yang

digunakan adalah data yang berhubungan dengan perkembangan ekspor

garmen Indonesia, harga tekstil internasional terhadap ekspor garmen

Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap ekspor garmen, tingkat UMR atau upah

terhadap ekspor garmen, pertumbuhan penduduk dunia, serta pertumbuhan

ekonomi dunia terhadap ekspor garmen di Indonesia tahun 1995-2007.

Alasan yang mendasari untuk melakukan penelitian untuk mengambil

tahun 1995 adalah pada tahun tersebut nilai ekspor disektor industri garmen

Indonesia mengalami penurunan sehingga dari segi pemasukan negara dan

menyumbang pemasukan yang kecil juga terhadap pendapatan PDB (Produk

Domestik Bruto), pada tahun 2006 ekspor garmen meningkat sedangkan pada

tahun 2007 ekspor indonesia mengalami penurunan kembali dalam eskpor

produk garmen karena semakin banyak masuknya produk impor dari China

yang membanjiri Indonesia.

D. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :

(48)

31

Variabel bebas adalah variabel yang diduga secara bebas

berpengaruh terhadap variabel dependent, yaitu : harga tekstil

inetrnasional dalam US Dolar (X1), nilai tukar rupiah tingkat internasional

dalam US Dolar (X2), tingkat UMR per bulan dalam Rupiah dalam sektor

industri (X3), Pertumbuhan penduduk dunia dalam miliyar (X4),

Pertumbuhan ekonomi dunia dalam persen (X5).

b) Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

independent. Variabel independent dari penelitian ini adalah nilai ekspor

garmen dalam US Dolar (Y).

E. Teknik Analisis Data

1) Prasyarat Uji Analisis

a. Pengujian Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian ini digunakan untuk

mengetahui apakah data yang terjaring berdistribusi normal, sehingga

analisis untuk menguji hipotesis dapat dilakukan. Dalam uji

normalitas ini digunakan rumus uji satu sampel dari

Kolmogorov-Smirnov, yaitu tingkat kesesuaian antara distribusi harga satu

sampel(skor observasi) dan distribusi teoritisnya. Uji ini menetapkan

suatu titik dimana teoritis dan yang terobservasi mempunyai

(49)

benar merupakan observasi suatu sampel random dari distribusi

teoritis (Ghozali, 2001: 35-36).

Tes Kolmogorov-Smirnov memusatkan perhatian pada

penyimpangan (deviasi) terbesar. Harga Fo (X) – Sn terbesar

dinamakan deviasi maksimum. Adapun rumus uji

Kolmogorov-Smirnov untuk normalitas sebagai berikut (Ghozali,2001 : 36 ):

D = Max | FO (Xi) – SN (Xi) |

Keterangan:

D : Deviasi Maksimum

FO (Xi) : Fungsi distribusi frekuensi kumulatif yang ditentukan

SN(Xi) : Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi

Selanjutnya untuk mengetahui apakah distribusi frekuensi data

masing-masing variabel normal atau tidak dilakukan dengan

membandingkan antara chi kuadrat hasil hitungan dengan chi kuadrat

tabel. Jika nilai chi kuadrat data variabel lebih besar dari nilai chi

kuadrat pada tabel pada taraf signifikansi 5% berarti berdistribusi data

penelitian tidak normal. Sedangkan bila nilai chi kuadrat data variabel

lebih kecil dari nilai chi kuadrat tabel maka distribusi data penelitian

normal.

Hipotesis pada uji normalitas dirumuskan sebagai berikut:

o H0 : data berdistribusi normal

(50)

33

Adapun kriteria penerimaan hipotesis pengujian normalitas

adalah jika nilai Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari nilai

probabilitas (p = 0,05) maka H0 diterima. Sebaliknya, jika nilai

Kolmogorov-Smirnov lebih kecil dari nilai probabilitas (p = 0,05)

maka H0 ditolak.

2. Pengujian Hipotesis

Hipotesis adalah suatu anggapan atau pendapat yang diterima

secara tentatif untuk menjelaskan suatu fakta atau yang dipakai sebagai

dasar bagi suatu penelitian. Hipotesis yang dirumuskan adalah dengan

hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis yang

dirumuskan ini disebut hipotesis nol, karena hipotesis ini mempunyai

perbedaan nol atau tidak mempunyai perbedaan dengan hipotesis yang

sebenarnya. Hipotesis adalah sebagai berikut:

a. Harga tekstil internacional

Ho : Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan

ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara antara harga tekstil internasional dengan

ekspor garmen.

b. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

Ho : Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

dengan ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

dengan ekspor garmen

(51)

c. Tingkat UMR

Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor

garmen.

Ha : Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor

garmen.

d. Pertumbuhan penduduk dunia

Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia

dengan ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan

ekspor garmen.

e. Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan

ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan

ekspor garmen.

Dalam pengujian hipotesis penelitian ini digunakan teknik

analisa koefisien korelasi. Analisa koefisien korelasi digunakan untuk

mengetahui atau menunjukkan arah dan kuatnya pengaruh antara dua

variabel secara bersama-sama atau lebih dengan variabel lainnya. Adapun

rumus korelasinya sebagai berikut (Sudjana, 1996: 369):

(52)

35

Keterangan:

R : Koefisien korelasi

Yi : Nilai Ekspor Garmen

Xi : Nilai Koefisien Determinasi

N : Jumlah Sampel

Ho diterima jika : rhitung < rtabel

Untuk mengetahui hubungan korelasi antara variabel bebas

(harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat

UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia)

dan variabel terikat (ekspor garmen), digunakan ketentuan sebagai

berikut:

o Ho ditolak jika : rhitung > rtabel

(53)

36

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada laporan

tahunan BPS tahun 1995 sampai dengan 2007. Variabel terikat dalam

penelitian ini adalah nilai ekspor garmen. Variabel bebas yang digunakan

yaitu harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat

UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Berikut ini adalah data-data mengenai variabel bebas dan variabel terikat dari

penelitian ini:

Tabel IV.1

Sumber : Diolah dari data statistical BPS, tahun 1995-2007.

Dari data diatas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan nilai ekspor

garmen. Demikian juga dengan kelima variabel lainnya mengalami

peningkatan seperti harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap

(54)

37

dollar AS, tingkat UMR, pertumbuhan penduduk dunia, dan pertumbuhan

ekonomi dunia.

B. Analisis Data

1. Prasyarat Uji Analisis

Uji prasyarat analisis harus dilakukan karena akan digunakan

sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya yaitu melakukan

analisis data, selain itu juga dimaksudkan sebagai dasar dalam mengambil

keputusan agar tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya ditarik.

Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui kenormalan

distribusi data. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan

menggunakan uji statistik One sampel Kolmogorov Smirnov dengan

bantuan program SPSS versi 11.5.

Berikut ini disajikan rangkuman hasil pengujian :

Tabel IV. 2

Pengujian Normalitas Masing-masing Variabel Penelitian S

Sumber: Hasil Olahan Data Sekunder, 2009 ( Lampiran 1)

No Variabel Kolmogorov

-Smirnov

Asymp

Sig2-Tailed α Kesimpulan

1 Harga Tekstil

Internasional (X1)

0.935 0.346 0.20 Normal

6 NilaI Ekspor Garmen

(Y) 1.170 0.130 0.20 Normal

(55)

Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai-nilai probabilitas harga

tekstil internasional= 0,346 dan nilai Kolmogorov-Smirnov= 0,935. Nilai

probabilitas dan nilai Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai

α =0,20. Hal tersebut berarti distribusi data harga tekstil internasional (X1)

adalah normal.

Nilai probabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar As = 0,303 dan

nilai Kolmogorov-Smirnov= 0,971. Nilai probabilitas dan nilai

Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut

berarti distribusi data nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (X2) adalah

normal.

Nilai probabilitas tingkat UMR= 0.985 dan nilai

Kolmogorov-Smirnov= 0,456. Nilai probabilitas dan nilai Kolmogorov-Smirnov tersebut

lebih besar dari nilai α= 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data tingkat

UMR (X3) adalah normal.

Nilai probabilitas pertumbuhan penduduk dunia = 0,787 dan nilai

Kolmogorov-Smirnov= 0,653. Nilai probabilitas dan nilai

Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti

distribusi data pertumbuhan penduduk dunia (X4) adalah normal.

Nilai probabilitas pertumbuhan ekonomi dunia= 0.898 dan nilai

Kolmogorov-Smirnov= 0,573. Nilai probabilitas dan nilai

Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti

(56)

39

Sedangkan nilai probabilitas nilai ekspor garmen = 0.130 dan nilai

Kolmogorov-Smirnov = 1.170 Nilai probabilitas dan nilai

Kolmogorov-Smirnov tersebut lebih besar dari nilai α= 0,20. Hal tersebut berarti

distribusi data nilai ekspor garmen (Y) adalah normal.

Hasil pengujian penelitian untuk uji normalitas diatas

memperlihatkan bahwa data normal semua, baik itu harga tekstil

internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat UMR,

pertumbuhan penduduk dunia, pertumbuhan ekonomi dunia, dan nilai

ekspor garmen.

2. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi antara variabel

harga tekstil internasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat

UMR, pertumbuhan penduduk dunia, pertumbuhan ekonomi dunia, dan

nilai ekspor garmen. secara bersama-sama digunakan uji statistik koefisien

korelasi Pearson. Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

1) Harga tekstil internasional

Ho: Tidak ada hubungan antara harga tekstil internasional dengan

ekspor garmen.

Ha: Ada hubungan antara antara harga tekstil internasional dengan

ekspor garmen.

2) Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

Ho: Tidak ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

dengan ekspor garmen.

(57)

Ha: Ada hubungan antara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dengan

ekspor garmen.

3) Tingkat UMR

Ho: Tidak ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara tingkat UMR dengan ekspor garmen.

4) Pertumbuhan Penduduk Dunia

Ho: Tidak ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan

ekspor garmen.

Ha: Ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan

ekspor garmen.

5) Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Ho : Tidak ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan

ekspor garmen.

Ha : Ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dunia dengan

ekspor garmen.

Hasil perhitungan dengan uji koefisien korelasi product momet Pearson

(58)

41

Correlation .244 .822

**

Correlation .384 .858

**

Correlation .016 .696

** **. Correlation of significant at the 0.10 level (2- tailed )

*. Correlation of significant at the 0.20 level (2- tailed )

(59)

Untuk mengetahui hipotesis diterima atau tidak, maka dilakukan

perbanding nilai antar rhitung dan rtabel. Apa bila rhitung > dari rtabel

maka Ho ditolak, sedangkan rhitung < rtabel Ho diterima dengan tingkat

siknifikansi 5% dan N = 13. Nilai perbandingannya rhitumg dan rtabel dan

tingkat siknifikansi sebagai berikut :

Tabel IV. 4

Perbandingan Nilai rhitung dan Nilai rtabel serta Tingkat Signifikansi

Nilai Signifikansi Variabel

r hitung rtabel ahitung atabel

Harga Tekstil Internasional (X1) 0,344 0,367 0,250 0,20

Nilai Tukar Rupiah (X2) 0,244 0,367 0,422 0,20

Tingkat UMR (X) 0,384 0,367 0,196 0,20 Pertumbuhan Penduduk Dunia (X4) 0,016 0,367 0,957 0,20

Pertumbuhan Ekonomi Dunia ( X 5 ) 0,409 0,367 0,165 0,20

Dari data tabel IV.4 maka hasil pengujian hipotesis penelitian sebagai

berikut:

1) Harga tekstil internasional berhubungan dengan ekspor garmen

Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan

nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas harga

tekstil internasional < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,344 dan nilai

rtabel = 0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat

hubungan antara harga tekstil internasional (X1) dengan ekspor

garmen (Y). Hal tersebut berarti hubungan harga tekstil internasional

(X1) signifikansi karena nilai probabilitas 0,250 > 0,20 dan

(60)

43

2). Nilai tukar rupiah berhubugan dengan ekspor garmen.

Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan

nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas nilai

tukar rupiah < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,244 dan nilai rtabel =

0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat hubungan

antara nilai tukar rupiah (X2) dengan ekspor garmen (Y). Hal tersebut

berarti hubungan nilai tukar (X2) siknifikan karena nilai probabilitas

0,422 > 0,20 dan hubungannya negatif yaitu sebesar 0,244.

3). Tingkat UMR berhubungan dengan ekspor garmen.

Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan

nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas tingkat

UMR < 0,20 dengan nilai rhitung = 0,384 dan nilai rtabel = 0,367.

Karena nilai rhitung > rtabel maka terdapat hubungan antara tingkat

UMR (X3) dengan ekspor garmen (Y). Hal tersebut berarti hubungan

tingkat UMR (X3) sangat siknifikan karena nilai probabilitas 0,196 <

0,20 dan hubungannya positif yaitu sebesar 0,387.

4). Pertumbuhan penduduk dunia berhubungan dengan ekspor garmen.

Dari hasil pengujian korelasi pearson dan data perbandingan

nilai rtabel dan rhitung (Tabel IV.4) didapat nilai probabilitas

pertumbuhan penduduk dunia > 0,20 dengan nilai rhitung = 0,016 dan

nilai rtabel = 0,367. Karena nilai rhitung < rtabel maka tidak terdapat

hubungan antara pertumbuhan penduduk dunia (X4) dengan ekspor

Gambar

Tabel I. 1
Tabel II. 1
Tabel II.2
Tabel II.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kriptosistem kunci-simetris menggunakan kunci yang sama untuk enkripsi dan dekripsi sebuah pesan, walaupun pesan atau kelompok pesan dapat memiliki kunci yang berbeda dari yang

Sebuah balok lengkung yang berbentuk busur lingkaran seperti pada Gambar 2. Penampang berbentuk persegi. Material bersifat elastis linier. Salah satu ujung terjepit dan ujung

Hal ini dimaksudkan bahwa pejabat atau aparat SKPD terkait yang sebelumnya sudah terlibat dalam proses kesepakatan pelaksanaan program dengan Plan Internasional maupun para

Port 3306 Service MySQL, port 3306/tcp Service MySQL terbuka, port 3306 rentan terhadap serangan brute force attack dengan memanfaatkan kredensial yang lemah,

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indah Puspita Sari (2011) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah rokok

Hasil pada pelaksanaan observasi aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat pada kegiatan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup pada lembar observasi aktivitas

Salah satu bentuk pengawasan yang dilakukan adalah dengan melakukan survey terhadap nasabah yang sedang melakukan pengajuan pembiayaan. Survey tersebut merupakan

Hasil analisis variabel mediasi sesuai dengan pengembangan jenis mediasi yang dilakukan oleh Zhao et al., (2010), menunjukkan bahwa citra destinasi terbukti