BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Obyek Penelitian
Penelitian ini menggunakan obyek penelitian perusahaan – perusahaan textil dan garmen yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia ( BEI ).
Dalam penelitian ini, penulis mengadakan penelitian dan mengambil data pada Pojok Bursa Universitas Mercu Buana yang bertempat di Gedung A Universitas Mercu Buana, Jalan Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta.
Tabel 3.1
Nama Perusahaan Textile & Garmen yang dijadikan Obyek Penelitian
No Perusahaan Emiten Kode
1 Apac Citra Centertex .Tbk MYTX
2 Argo Pantes . Tbk ARGO
3 Centex . Tbk ( PT. Century Textile) CNTX
4 Eratex Djaja .Tbk ERTX
5 Ever Shine Textile Industry . Tbk ESTI
6 Hanson International . Tbk MYRX
7 Indorama Synthetics . Tbk INDR
3.1.1 Apac Citra Centertex. Tbk
Apac Citra Centertex pt Terbuka beroperasi di sektor pabrik Pemintalan Benang. PT Apac Citra Centertex Tbk adalah sebuah perusahaan yang berbasis di Indonesia yang bergerak dalam garmen dan industri tekstil. Perusahaan beroperasi dalam dua segmen: pakaian, dan tenun dan pemintalan. Perusahaan mendistribusikan produknya ke Amerika Serikat, Australia dan negara-negara lain di Asia, Eropa, Timur Tengah dan Afrika Selatan.
3.1.2 Argo Pantes . Tbk
Argo Pantes merupakan bisnis pemintalan, pencelupan benang, tenun, dan pencelupan akhir. Pabrik berlokasi di
8 Karwell Indonesia .Tbk KARW
9 Pan Brothers Tex .Tbk PBRX
10 Panasia Filament Inti .Tbk PAFI
11 Panasia Indosyntec .Tbk HDTX
12 Polychem Indonesia .Tbk ADMG
13 Ricky Putra Globalindo .Tbk RICY 14 Sunson Textile Manufacturer .Tbk SSTM
Tangerang, Banten dan Bekasi, Jawa Barat. Saat ini memiliki beberapa unit produksi, yaitu unit pemintalan (SU), benang Unit pencelupan (YDU), unit tenun (WU) dan unit pencelupan akhir. SU memproduksi katun 100%.
3.1.3 Centex . Tbk
PT Century Textile Industry Tbk (PT Centex) memproduksi katun poliester, kain campur, dan benang di pabrik tekstil yang berlokasi di Ciracas dan Cipayung, Jakarta.
3.1.4 Eratex Djaja .Tbk
PT Eratex Djaja Tbk adalah produsen tekstil yang berbasis di Indonesia. Perusahaan bergerak dalam bidang manufaktur tekstil, termasuk pemintalan, tenun. Hal ini juga terlibat dalam operasi garmen dan pemasaran produk baik pasar domestik dan internasional. Produk-produknya meliputi benang, kain dan pakaian, mulai dari jeans untuk celana panjang kasual dan denim untuk keperluan bangsawan Italia yang berkualitas tinggi.
3.1.5 Ever Shine Textile Industry . Tbk
Adalah perusahaan Indonesia yang berbasis perusahaan manufaktur tekstil. Perusahaan bergerak dalam pembuatan
dan perdagangan produk tekstil. Segmen usaha adalah tekstil dan garmen. Ini memproduksi produk seperti benang filamen nilon, kain tenun dan rajutan dalam nilon, polyester dan asetat. Perusahaan juga memproduksi pakaian seperti blazer, jaket, celana, rok dan pakaian.
3.16 Hanson International . Tbk
PT Hanson International beroperasi di pabrik kain Broadwoven, sektor kapas. PT Hanson International Tbk merupakan perusahaan manufaktur dan perdagangan. Perusahaan ini terutama bergerak di industri kimia dan serat sintetis, tenun, rajut dan kegiatan tekstil yang berhubungan, ekspor-impor dan perdagangan ritel, lokal, grosir dan distribusi, serta melayani sebagai agen. Perusahaan memasarkan produknya ke Eropa, Amerika Serikat, Asia dan Timur Tengah.
3.17 Indorama Synthetics . Tbk
PT Indorama Synthetics Tbk adalah produsen poliester yang berbasis di Indonesia. Perusahaan ini terdiri dari empat divisi: poliester, yang memproduksi benang berorientasi parsial, menggambar benang bertekstur, benang datar, serat stapel poliester dan chip kelas tekstil; polyethylene terephthalate
(PET) resin, yang menawarkan lini produk Ramapet; benang pintal, yang memproduksi benang kapas, benang sintetis, dan benang poliester, benang jahit, dan kain, yang memproduksi failles, georgettes, pakaian bawah dan kain baru. Merek meliputi Organik IR, Breeze Cool Flexel, Performax, EFX dan Novus.
3.1.8 Karwell Indonesia .Tbk
PT Karwell Indonesia Tbk bergerak dalam bidang manufaktur garmen, tekstil dan produksi, dan juga layanan cuci, untuk pasar ekspor dan lokal. Perusahaan ini memproduksi kemeja, blazer, jaket, jas hujan, rok dan celana panjang. Perusahaan menjual produknya secara lokal dan ekspor ke Amerika Serikat, Inggris dan negara Eropa lainnya.
3.1.9 Pan Brothers Tex .Tbk
Merupakan salah satu perusahaan multinasional yang bergerak pada bidang garmen dan tekstil. Perusahaan ini memproduksi bermacam-macam bahan pakaian. Pan Brothers Tex mendapat persetujuan lisensi dari merk-merk: Adidas, Espirit, Puma, Fila, Green Line, Nike, Arrow,Jordoche, Levi’s, Eddie Baner, Van Hensen.
3.1.10 Panasia Filament Inti .Tbk
Panasia Filament Inti PT Tbk beroperasi dalam industri tekstil. Perusahaan dan anak perusahaan menghasilkan benang poliester, serat, dan kain, serta benang wol.
3.1.11 Panasia Indosyntec .Tbk
PT. Panasia Indosyntec Tbk adalah perusahaan tekstil yang berbasis di Indonesia. Kegiatan utama Perseroan adalah produksi dan pemasaran serat, benang, tekstil dan perdagangan umum. Perusahaan memasarkan produknya di dalam negeri dan di Eropa, Asia, Amerika Serikat, Afrika dan Australia. Ini adalah anggota dari Grup Panasia. Perusahaan mengoperasikan fasilitas produksi di Bandung.
3.1.12 Polychem Indonesia .Tbk
PT Polychem Indonesia Tbk adalah perusahaan manufaktur yang berbasis di Indonesia. Perusahaan memproduksi chip poliester, filamen poliester,ethylene glycol, serat stapel poliester dan petrokimia. Hal ini juga terlibat dalam merajut, menenun dan manufaktur tekstil.
3.1.13 Ricky Putra Globalindo .Tbk
PT Ricky Putra Globalindo Tbk yang terlibat dalam pembuatan pakaian dan pakaian dalam. Pakaian laki-laki yang diperdagangkan dengan menggunakan nama merek Ricky, GT Man, Ricsony, Kid GT Man, GT Kid dan Olahraga GT Man.. RICY berdomisili di Jakarta dengan pabrik berlokasi di Citeureup, Bogor. RICY mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1988.
3.1.14 Sunson Textile Manufacture .Tbk
PT Sunson Tekstil Produsen Tbk adalah produsen tekstil yang berbasis di Indonesia. Perusahaan bergerak dalam pemintalan, texturizing, menenun, merajut, pencelupan, pencetakan dan finishing benang, kain dan produk tekstil lainnya, serta perdagangan umum. Perusahaan memasarkan produknya di dalam negeri dan di negara-negara Asia lainnya, Eropa, Amerika Serikat dan Afrika.
3.1.15 Unitex .Tbk
PT Unitex Tbk terlibat dalam pembuatan dan penjualan poliester / kapas dicampur kain dan benang di Indonesia dan internasional. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1971 dan berbasis di Bogor, Indonesia. PT Unitex Tbk merupakan anak perusahaan dari Unitika Limited.
3.2 Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah metode penelitian deskriptif, dimana metode ini dalam melakukan penelitiannya yaitu dapat memberikan gambaran tentang keadaan obyek yang diteliti dan kemudian dianalisis dengan menggunakan almant’s bankruptcy prediction mode ( z-score ), yang bertujuan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan.
3.3 Variabel dan Skala Pengukuran
Variabel penelitian ini adalah variabel – variabel yang dapat dianalisis untuk mewujudkan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Variabel dalam penelitian ini dari model yang digunakan yaitu yang dikemukakan oleh Adam M & Taufik M, jurnal ekonomi dan Auditing. ( 2005,p189-190 ) yaitu :
Variabel X ( X1 .... X5 )
X1 ... X5 merupakan rasio keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan Z-Score, dimana rasio keuangan terdiri dari :
1. X 1 = Net Working Capital to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya. Rasio ini dihitung dengan membagi modal kerja bersih dengan total aktiva. Modal kerja bersih diperoleh dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Sebaliknya, perusahaan dengan modal kerja bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajibannya.
2. X 2 = Retained Earnings to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk deviden kepada para pemegang saham. Laba ditahan menunjukkan klaim terhadap aktiva, bukan aktiva per ekuitas pemegang saham. Pada perusahaan laba ditahan terjadi karena pemegang saham mengizinkan perusahaan tersebut untuk
mengivestasikan kembali laba yang tidak didistribusikan sebagai deviden. Dengan demikian, laba ditahan yang dilaporkan dalam neraca bukan kas dan ‘ tidak tersedia’ untuk pembayaran deviden atau yang lainnya.
3. X 3 = Earnings Before Interest and Tax to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.
4. X4 = Market Value of Equity to Book Value
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban – kewajiban dari nilai pasar modal sendiri ( saham biasa ). Nilai pasar modal sendiri diperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkan kewajiban lancar dengan kewajiban jangka panjang.
5. X5 = Sales to Total Asset
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup dibandingkan investasi dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam
menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba.
3.4 Definisi Operasional Variabel
Adapun definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagi berikut :
3.4.1 Modal Kerja
Yaitu dimaksudkan semua aktiva (harta – harta ) yang hanya satu kali terpakai didalam proses produksi yang termasuk ke dalam modal kerja antara lain bahan baku, produk setengah jadi dan produk jadi serta piutang – piutang yang seketika ditagih.
3.4.2 Laba Ditahan
Merupakan pendapatan yang tidak dibagikan sebagai deviden. Karena merupakan bentuk pembiayaan intern, laba ditahan biasanya digunakan untuk pembiayaan investasi dimasa mendatang dalam rangka pertumbuhan perusahaan. Perkiraan ini menunjukkan jumlah laba yang ditahan oleh perusahaan. Perusahaan setiap tahun jika menghasilkan laba
yang diharapkan dapat membayar deviden tunai pada pemiliknya. Jika tidak semua diumumkan untuk dibagikan sebagai deviden berarti ada sebagai laba yang ditahan. Laba yang ditahan biasanya oleh perusahaan untuk pengembangan usaha misalnya digunakan untuk membeli aktiva baru tanpa perlu meminjam atau menjual saham baru.
3.4.3 Laba Sebelum Bunga dan Pajak
Laba sebelum bunga dan pajak merupakan laba setelah dikurangi biaya – biaya operasi atau pendapatan sebelum pajak diperoleh sesudah semua biaya operasi dikurangi dari total penerimaan.
3.4.4 Total Aktiva
Adalah rasio untuk mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan total aktiva yang dimilki perusahaan.
Laba Ditahan = Laba Bersih - Deviden
Perputaran total aktiva = Penjualan / Total aktiva rata-rata Total Aktiva rata-rata = ( Total aktiva awal + TA akhir )
3.4.5 Total Hutang
Hutang yang dimaksud adalah semua hutang yang dimilki oleh perusahaan baik yang jangka pendek maupun berjangka panjang. Kreditor cenderung lebih menyukai debt ratio yang rendah sebab tingkat keamanan dananya menjadi semakin baik.
3.4.6 Penjualan
Adalah penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau dari penyerahan pelayanan dalam bursa sebagai barang pertimbangan. Pertimbangan ini dapat dalam bentuk tunai peralatan kas atau harta lainnya. Pendapatan dapat diperoleh pada saat penjualan, karena terjadi pertukaran, harga jual dapat ditetapkan dan bebannya diketahui.
Dalam kegiatan ini penjualan akan melibatkan debitur atau disebut juga pembeli serta barang – barang atau jasa yang diberikan dan dibayar oleh debitur tersebut dengan cara tunai ataupun kredit. Penjualan barang dagang oleh sebuah perusahaan degang biasanya hanya disebut “ penjualan “, jumlah transaksi yang terjadi biasanya cukup besar dibandingkan jenis transaksilainnya.
3.4.7 Harga Pasar dari Ekuitas Pemilik
Harga pasar sama dengan harga yang berlaku untuk setiap emiten ekuitas biasanya tergantung dari perkembangan permintaan dan penawaran terhadap suatu ekuitas ( saham ).
3.5 Metode Pengumpulan Data
Semua data dalam penelitian ini diperoleh dari situs resmi Indonesia Stock Exchange ( www.idx.co.id ) dan IDX Statistic. Dimana data merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel – tabel atau diagram – diagram. Metode yang diterapkan pada penelitian ini adalah penelitian kepustakaan ( Library Research ). Penelitian kepustakaan yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara studi literatur yaitu membaca, mempelajari literatur – literatur, meneliti dan mengkaji serta mengumpulkan data tentang laporan keuangan dari perusahaan textil dan garmen yang tercatat di BEI pada tahun 2007 – 2010.
Nilai Pasar Modal sendiri = Jumlah lembar saham yang beredar X Harga pasar Per Lembar Saham Biasa
3.6 Data Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis data sekunder. Dimana data merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel – tabel atau diagram – diagram. Keseluruhan perusahaan textil dan garmen yang terdaftar di BEI dijadikan obyek penelitian.
3.7 Metode Analisi Data
Penelitian ini akan menggunakan analisa potensi kebangkrutan perusahaan dengan menggunakan metode Altman sebagai alat analisis datanya. Untuk analisis potensi kebangkrutan atau untuk memprediksi kemungkinan kebangkrutan pada perusahaan textil dan garmen menggunakan metode yang ditemukan Altman yang dikenal dengan Z-Score. Dengan menggunakan metode Almant ini maka kita akan dapat memprediksi kemugkinan terjadinya kebangkrutan pada perusahaan textil dan garmen di BEI.
Z-Score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar dikalikan rasio – rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan.
Perhitungan Z-score dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :
X1 = Modal kerja / Total Aktiva ( dalam % )
X2 = Laba ditahan / Total Aktiva ( dalam % )
X3 = Laba sebelum bunga dan pajak / Total Aktiva ( dalam % )
X4 = Nilai pasar modal sendiri / Nilai buku hutang (dalam % )
X5 = Penjualan / Total Aktiva (kali)
Kondisi ini dapat dilihat dari nilai Z-Score nya, jika :
1. Z < 1,81 , berarti perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan resiko tinggi.
2. Z 1,81 – 2,99 ,maka perusahaan dianggap berada pada daerah abu – abu ( Grey Area ). Jadi pada grey area ini ada kemungkinan perusahaan bangkrut dan ada pula yang tidak.
3. Z > 2,99 , perusahaan berada dalam keadaan yang sangat sehat sehingga kemungkinan bangkrut sangat kecil.