• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT BANK CAPITAL INDONESIA Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT BANK CAPITAL INDONESIA Tbk"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

Bapepam LK 0613

PT BANK CAPITAL INDONESIA Tbk

LAPORAN KEUANGAN

PERIODE 30 JUNI 2013 (TIDAK DIAUDIT)

31 DESEMBER 2012 ( DIAUDIT)

DAN

(2)

Daftar Isi

Halaman Surat Pernyataan Direksi

Laporan Posisi Keuangan 1-2

Laporan Laba Rugi Komprehensif 3

Laporan Perubahan Ekuitas 4

Laporan Arus Kas 5

Catatan Atas Laporan Keuangan 6-72

(3)
(4)

Kas 2,3,32,33,34 20.894 22.402

Giro pada Bank Indone s ia 2,4,32,33,34 440.194 414.717

Giro pada bank lain 2,5,32,33,34 167.477 177.516

Pe ne m patan pada Bank Indone s ia

dan bank lain 2,6,33,34 647.500 748.682

Efe k -e fe k

Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp nihil

tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 2,7,32,33,34 1.284.287 1.301.837

Kre dit

Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 8.398 tanggal 30 Juni 2013

dan Rp 18.331 tanggal 31 Desember 2012 2,8,32,33,34

Pihak berelasi 31 13.495 13.892

Pihak ketiga 3.033.442 2.799.395

Jum lah k re dit 3.046.937 2.813.287

Pe ndapatan bunga yang m as ih ak an dite rim a 2,9,33 16.618 16.214

As e t te tap

Setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 47.940 tanggal 30 Juni 2013 dan

Rp 51.152 tanggal 31 Desember 2012 2,10,20 152.718 148.955

Tagihan e k s e ptas i 2,32,33,34 10.369 2.782

As e t pajak tangguhan - be rs ih 2 2.517 2.433

As e t lain-lain 2,11,32,33,34 38.689 17.352

JUM LAH ASET 5.828.200 5.666.177

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan.

(5)

Catatan 30 Juni 2013 31 Desem ber 2012 LIABILITAS DAN EKUITAS

LIABILITAS

Liabilitas segera 2,12,32,33,34 13.641 13.933

Sim panan dari nasabah

Pihak berelasi 31 6.446 6.254

Pihak ketiga 2,13,32,33,34 4.906.518 4.771.765

Jum lah sim panan dari nasabah 4.912.964 4.778.019

Sim panan dari bank lain 2,14,32,33,34 170.298 187.356

Utang pajak 2,15,34 8.092 14.666

Beban m asih harus dibayar

dan liabilitas lain-lain 2,16,33,34 23.691 9.527

Liabilitas im balan pasca kerja 2,17 5.884 4.888

Jum lah Liabilitas 5.134.570 5.008.389

EKUITAS

Modal saham - nilai nominal Rp 100

(nilai penuh) per saham

Modal dasar - 17.500.000.000 saham pd tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012

Modal ditempatkan dan disetor - masing-masing 4.550.852.657 saham pada tanggal 30 Juni 2013

dan 31 Desember 2012 18 455.085 455.085

Tam bahan m odal disetor - bersih 19 7.522 7.522

Keuntungan yang belum direalisasi atas efek-efek dalam kelom pok tersedia

untuk dijual 2 1.821 4.019

Surplus revaluasi 2,10,20 43.086 44.814

Saldo laba (Kuasi reorganisasi pada tanggal 31 Maret 2007)

Telah ditentukan penggunaannya 21 18.811 18.811

Belum ditentukan penggunaannya 167.305 127.537

Jumlah Ekuitas 693.630 657.788

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 5.828.200 5.666.177

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan.

(6)

P E N D A P A T A N D A N B E B A N O P E R A S IO N A L P e nda pa t a n B unga

B unga 2,23 248,911 200,139

P ro visi dan ko misi 2,24 3,493 2,755

J um la h P e nda pa t a n B unga 252,404 202,894

B e ba n B unga

B eban bunga dan pembiayaan lainnya 2,25 153,302 134,698

P e nda pa t a n B unga - be rs ih 99,102 68,196

P e ngha s ila n O pe ra s io na l La innya

Keuntungan atas transaksi efek-efek

yang diperdagangkan - bersih 5,710 32,879

Lain-lain 2,26 879 796

J um la h P e ngha s ila n O pe ra s io na l La innya 6,589 33,675

C a da nga n k e rugia n pe nuruna n nila i

a t a s a s e t k e ua nga n 2,8,29 (9,933) 5,418

B e ba n O pe ra s io na l La innya 2

Umum dan administrasi 27 23,331 20,900

Gaji dan tunjangan 28 31,790 25,327

Kerugian penjualan efek-efek - bersih 11,222 29,654

Kerugian (keuntungan) selisih kurs mata uang asing-bersih (1,497) 771

Estimasi kerugian ko mitmen dan ko ntinjensi -

-J um la h B e ba n O pe ra s io na l La innya 64,846 76,652

LA B A O P E R A S IO N A L B E R S IH 50,778 19,801

P E N G H A S ILA N D A N B E B A N

N O N - O P E R A S IO N A L 2

P enghasilan no n-o perasio nal 14 13

B eban no n-o perasio nal (71) (10)

P enghasilan no n-o perasio nal - bersih (57) 3

LA B A S E B E LUM P A J A K P E N G H A S ILA N 50,721 19,804

B E B A N P A J A K P E N G H A S ILA N 2

Kini 15 (12,680) (3,763)

B eban P ajak P enghasilan - B ersih (12,680) (3,763)

LA B A B E R S IH 3 8 ,0 4 1 16 ,0 4 1

La ba Ko m pre he ns if La in -

Keuntungan (kerugian) atas perubahan nilai wajar dari efek-efek dalam kelo mpo k

tersedia untuk dijual (2,198) (2,356)

P endapatan ko mprehensif lain ( 2 ,19 8 ) ( 2 ,3 5 6 )

J UM LA H LA B A KO M P R E H E N S IF 3 5 ,8 4 3 13 ,6 8 5

LA B A P E R S A H A M ( nila i pe nuh) 2,30

Dasar 8.36 3.53

Dilusian

(7)

M o d al Ef ek d al am

D i t emp at kan d an T amb ahan Kel o mp o k T er sed i a Sur p l us T el ah D i t ent ukan B el um D i t ent ukan

C at at an D i set o r M o d al D i set o r unt uk D i j ual R eval uasi Peng g unaannya Peng g unaannya Juml ah Ekui t as Sal d o p er 0 1 Januar i 2 0 12 4 53 , 2 6 5 7, 52 2 4 , 553 4 6 , 6 9 2 13 , 2 50 8 3 , 50 6 6 0 8 , 78 8 Laba bersih - - - - - 16,041 16,041 Pelaksanaan waran menjadi saham 1,087 - - - - - 1,087

Kerugian yang belum direalisasi

at as ef ek yang t ersedia unt uk dijual - - ( 2 , 3 56 ) - - - (2,356) Sal d o p er 3 0 Juni 2 0 12 4 54 , 3 52 7, 52 2 2 , 19 7 4 6 , 6 9 2 13 , 2 50 9 9 , 54 7 6 2 3 , 56 0 Sal d o p er 0 1 Januar i 2 0 13 4 53 , 2 6 5 7, 52 2 4 , 553 4 6 , 6 9 2 13 , 2 50 8 3 , 50 6 6 0 8 , 78 8 Pelaksanaan waran menjadi saham 1,820 - - - - - 1,820 Laba bersih - - - - - 47,714 47,714 Kerugian yang belum direalisasi

at as ef ek yang t ersedia unt uk dijual - - (534) - - - (534) Selisih surplus revaluasi at as penyusut an

nilai revaluasi dan nilai perolehan 20 - - - (1,878) - 1,878 -Cadangan umum 21 - - - - 5,561 ( 5, 56 1) -Sal d o p er 3 1 D esemb er 2 0 12 4 55, 0 8 5 7, 52 2 4 , 0 19 4 4 , 8 14 18 , 8 11 12 7, 53 7 6 57, 78 8 Laba bersih - - - - - 38,040 38,040

Kerugian yang belum direalisasi

at as ef ek yang t ersedia unt uk dijual - - (2,198) - - - (2,198)

Selisih surplus revaluasi at as penyusut an

nilai revaluasi dan nilai perolehan 20 - - - (1,728) - 1,728

-Sal d o p er 3 0 Juni 2 0 13 4 55, 0 8 5 7, 52 2 1, 8 2 1 4 3 , 0 8 6 18 , 8 11 16 7, 3 0 5 6 9 3 , 6 3 0

Lihat Cat at an at as Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang t idak t erpisahkan dari laporan keuangan.

(8)

A R US KA S D A R I A KT IV IT A S O P E R A S I

P enerimaan bunga, pro visi dan ko misi 252,000 196,167

P embayaran bunga (151,089) (127,590)

P embayaran beban umum dan administrasi (51,669) (27,757)

P embayaran beban tenaga kerja dan tunjangan (31,790) (25,327)

P enerimaan (pembayaran) o perasio nal lainnya - bersih (3,136) 3,250

P enerimaan (pembayaran) no n-o perasio nal - bersih (57) 3

P embayaran beban pajak penghasilan (12,680) (3,763)

A rus Ka s S e be lum P e ruba ha n A s e t

da n Lia bilit a s O pe ra s i 1,5 7 9 14 ,9 8 3

Kenaikan (penurunan) aset o perasi :

P enempatan pada B ank Indo nesia (101,182) (791,704)

dan B ank Lain (17,550) 340,787

Efek-efek 233,650 594,647

Kredit (29,328) (13,655)

A set lain-lain

P enurunan (kenaikan) liabilitas o perasi: (134,945) (241,309)

Simpanan dari nasabah 17,058 (11,827)

Simpanan dari bank lain 6,574 6,885

Utang pajak 17,258 (28,253)

Liabilitas lain-lain

Ka s B e rs ih D iguna k a n Unt uk A k t iv it a s O pe ra s i ( 6 ,8 8 6 ) ( 12 9 ,4 4 6 ) A R US KA S D A R I A KT IV IT A S IN V E S T A S I

P ero lehan aset tetap (8,507) (5,669)

Keuntungan yang belum terealisasi

atas perubahan nilai wajar efek-efek (2,198) (2,356)

A rus Ka s B e rs ih D iguna k a n unt uk A k t iv it a s Inv e s t a s i ( 10 ,7 0 5 ) ( 8 ,0 2 5 ) P E N UR UN A N B E R S IH KA S D A N S E T A R A KA S ( 17 ,5 9 1) ( 13 7 ,4 7 1) KA S D A N S E T A R A KA S A WA L T A H UN 1,3 6 3 ,3 17 1,4 11,2 7 1

KA S D A N S E T A R A KA S A KH IR P E R IO D E 1,3 4 5 ,7 2 6 1,2 7 3 ,8 0 0 Ka s da n s e t a ra k a s t e rdiri da ri:

Kas 20,894 17,028

Giro pada B ank Indo nesia 440,194 400,865

Giro pada bank lain 167,477 113,077

P enempatan pada B ank Indo nesia - B ank lainnya

jatuh tempo dalam 3 bulan 647,500 551,197

Efek-efek jatuh tempo dalam 3 bulan 69,661 191,633

J um la h 1,3 4 5 ,7 2 6 1,2 7 3 ,8 0 0

Lihat Catatan atas Lapo ran Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lapo ran keuangan.

(9)

a. Pendirian dan Informasi Umum

PT Bank Capital Indonesia Tbk ("Bank") didirikan berdasarkan Akta Pendirian No. 139 tanggal 20 April 1989 yang kemudian diubah dengan Akta Perubahan No. 58 tanggal 3 Mei 1989, keduanya dibuat di hadapan Nyonya Siti Pertiwi Henny Shidki, S.H., Notaris di Jakarta dengan nama PT Bank Credit Lyonnais Indonesia. Akta Pendirian tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia (sekarang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia) dengan Surat Keputusan No. C2- 4773.HT.01.01.TH.89 tanggal 27 Mei 1989 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 45 tanggal 5 Juni 1990, Tambahan

No. 1995. Nama Bank telah diubah menjadi PT Bank Capital Indonesia berdasarkan Akta Notaris No. 1 tanggal 1 September 2004 yang dibuat dihadapan Sri Hasmiarti, S.H., Notaris di Jakarta. Perubahan nama tersebut telah

disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-24209.HT.01.04.TH-1.2004 tanggal 29 September 2004 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 101 tanggal 17 Desember 2004, Tambahan No. 12246.

Anggaran dasar Bank telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir Akta No. 47 tanggal 16 Juli 2012 dari Ardi Kristiar, S.H., Notaris pengganti dari Yulia, S.H., Notaris di Jakarta, sehubungan dengan peningkatan modal dasar Bank. Akta perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-40254.AH.01.02.Tahun 2012 tanggal 25 Juli 2012. Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan ini, perubahan tersebut belum diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Bank, maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Bank adalah melakukan usaha di bidang perbankan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Bank telah beroperasi secara komersial sejak tahun 1989. Bank adalah sebuah bank umum devisa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 1199/ KMK.013/1989 tanggal 25 Oktober1989 dan Surat Bank Indonesia No. 22/946/UPPS/PSD tanggal 26 Desember 1989.

Ultimate shareholder Bank adalah Danny Nugroho melalui kepemilikan langsung sebesar 21,61% dan melalui

Inigo Investments Ltd sebesar 15,38% dan Zen Gem Investments Limited sebesar 14,28%.

Kantor pusat Bank beralamat di Sona Topas Tower Lantai 12, Jl. Jendral Sudirman Kav. 26, Jakarta Selatan. Bank memiliki 1 (satu) kantor pusat operasional, 3 (tiga) kantor cabang, 27 (dua puluh tujuh) kantor cabang pembantu, dan 1 (satu) kantor kas.

b. Penawaran Umum Saham

Sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juli 2007, yang dituangkan dalam Akta No. 60 tanggal 17 Juli 2007 dari Eliwaty Tjitra, S.H., Notaris di Jakarta yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. W7-07975.HT.01.04-TH.2007 tanggal 17 Juli 2007 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 08 tanggal 25 Januari 2008, para pemegang saham Bank telah menyetujui untuk melakukan penawaran umum saham kepada masyarakat. Sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 17 Juli 2007, maka pada tanggal 1 Oktober 2007 telah dilakukan penjatahan saham dimana saham yang dikeluarkan dan ditawarkan kepada masyarakat sebanyak 500.000.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 100 (nilai penuh) per lembar saham dan harga penawaran Rp 150 (nilai penuh) per lembar saham dimana saham-saham tersebut telah didaftarkan di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia), yang dituangkan dalam akta No. 62 tanggal 10 Oktober 2007 dari Eliwaty Tjitra, S.H., Notaris di Jakarta dan surat Ketua Bapepam-LK No. S-4776/BL/2007 tanggal 20 September 2007.

Para pemegang saham Bank telah menyetujui untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas I disertai dengan penerbitan Waran dalam rangka Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diadakan pada tanggal 24 Juni 2009, dan telah memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK melalui Surat Keputusannya No. S-5535/BL/2009 tanggal 24 Juni 2009.

(10)

b. Penawaran Umum Saham (lanjutan)

Dalam penawaran ini dikeluarkan saham baru Perseroan sebanyak 3.021.764.416 saham dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (nilai penuh) setiap saham. Setiap pemegang 1 (satu) Saham Biasa Atas Nama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham mempunyai hak untuk membeli 2 (dua) saham biasa dengan harga Rp 101 (nilai penuh) per saham.

Bank secara bersamaan menerbitkan sebanyak 503.627.403 lembar Waran Seri I yang menyertai seluruh saham

hasil pelaksanaan HMETD dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (nilai penuh) setiap saham. Untuk setiap 6 (enam) saham pelaksanaan HMETD tersebut melekat 1 (satu) Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma

sebagai insentif bagi pemegang saham Bank dan/atau pemegang HMETD yang melaksanakan haknya sehingga seluruhnya berjumlah Rp 50.362 juta.

Waran Seri I adalah efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham yang bernilai nominal Rp 100 (nilai penuh) yang dapat dilaksanakan selama periode pelaksanaan Waran selama 3 (tiga) tahun yaitu mulai tanggal 11 Januari 2010 sampai dengan tanggal 09 Juli 2012 dimana setiap pemegang 1 (satu) Waran berhak untuk membeli 1 (satu) saham Bank. Pemegang Waran Seri I tidak mempunyai hak sebagai pemegang saham, termasuk hak atas dividen selama Waran Seri I tersebut belum dilaksanakan menjadi saham. Bila Waran Seri I tidak dilaksanakan sampai habis periode pelaksanaannya, maka Waran Seri I tersebut menjadi kadaluarsa, tidak bernilai dan tidak berlaku. Saham hasil pelaksanaan HMETD dan hasil pelaksanaan Waran Seri I yang ditawarkan melalui Penawaran Umum Terbatas I ini seluruhnya merupakan saham yang dikeluarkan dari Portepel Bank dan akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Selama tahun 2012, terdapat pelaksanaan waran menjadi saham sebanyak 18.206.033 lembar dengan total nilai Rp 1.820.

Jumlah saham Bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sebanyak 4.550.852.657 lembar saham pada tanggal 30 Juni 2013.

c. Dewan Komisaris dan Direksi dan Karyawan

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank pada tanggal 30 Juni 2013, 30 Juni 2012 adalah sebagai berikut:

30 Juni 2013 30 Juni 2012

Komisaris Utama Danny Nugroho 1) Danny Nugroho 1)

Komisaris Independen Amrih Masjhuri 2) Hardisan Koman 8)

Isbandiono 3) Amrih Masjhuri 2)

Direktur Utama Nico Mardiansyah 4) Nico Mardiansyah 4)

Direktur merangkap Direktur Kepatuhan Maxen Bastian Nggadas 5) Isbandiono 9)

Direktur Operasional Wahyu Dwi Aji 6) Wahyu Dwi Aji 6)

Direktur Komersial Gatot Wahyu Djatmiko 7) Gatot Wahyu Djatmiko 7)

1) Berdasarkan persetujuan BI No. 6/69/DGS/DPIP/Rahasia

2) Berdasarkan persetujuan BI No. 11/59/GBI/DPIP/Rahasia

3) Berdasarkan persetujuan BI No. 14/118b/GBI/DPIP/Rahasla

4) Berdasarkan persetujuan BI No. 8/143/GBI/DPIP/Rahasia

5) Berdasarkan persetujuan BI No. 14/118a/GBI/DPIP/Rahasia

6) Berdasarkan persetujuan BI No. 7/91/GBI/DPIP/Rahasia

7) Berdasarkan persetujuan BI No. 14/151/GBI/DPIP/Rahasia

8) Berdasarkan persetujuan BI No. 9/57/GBI/DPIP/Rahasia

9) Berdasarkan persetujuan BI No. 1/9/DpG/DPIP/Rahasia

Susunan Komite Audit Bank masing-masing pada tanggal 30 Juni 2013 dan 30 Juni 2012 berdasarkan Surat Keputusan Bank Capital No. SK/DIR/082/XII/2012 tanggal 12 Desember 2012, No. SK/054/BCI/DIR/VI/11 tanggal 1 Juni 2011 yang telah sesuai dengan peraturan Bapepam - LK No. IX.I.5 adalah sebagai berikut:

(11)

c. Dewan Komisaris dan Direksi dan Karyawan (lanjutan)

30 Juni 2013 30 Juni 2012

Ketua Isbandiono Hardisan Koman

Anggota Budi Zainal Arifin Budi Zainal Arifin

Alfanur HR Alfanur HR

Susunan Corporate Secretary dan Ketua Satuan Kerja Audit Internal pada tanggal 31 Maret 2013 dan 30 Juni 2012 adalah sebagai berikut:

30 Juni 2013 30 Juni 2012

Corporate Secretary Maxen Bastian Nggadas Isbandiono

Ketua Satuan Kerja Audit Internal Gunarto Hanafi Gunarto Hanafi

Jumlah karyawan Bank pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 masing-masing adalah 510 dan 517 karyawan (tidak diaudit).

2. IKTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG PENTING

a. Dasar Penyusunan dan Pengukuran Laporan Keuangan dan Pernyataan Kepatuhan

Laporan keuangan disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) 2008 dan Peraturan No. VIII.G.7 tentang “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012. Seperti diungkapkan dalam Catatan 2c, beberapa standar akuntansi yang telah direvisi dan diterbitkan, diterapkan efektif tanggal 1 Januari 2012.

Berdasarkan Peraturan No. VIII.G.7 tentang “Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012, hal-hal mengenai struktur, isi dan persyaratan dalam penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang tidak diatur dalam peraturan ini, harus mengikuti Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) dan dalam hal terdapat perubahan dalam PSAK setelah berlakunya peraturan ini, maka penyusunan dan penyajian laporan keuangan wajib mengacu pada PSAK tersebut.

Laporan keuangan, kecuali untuk laporan arus kas disusun berdasarkan metode akrual (accrual basis). Mata uang pelaporan yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan adalah Rupiah (Rp), dimana dasar pengukurannya adalah konsep biaya historis (historical cost), kecuali untuk beberapa akun yang diukur berdasarkan penjelasan kebijakan akuntansi dari akun yang bersangkutan.

Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Untuk tujuan laporan arus kas, kas dan setara kas mencakup kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain dan penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan sejak tanggal perolehan, sepanjang tidak digunakan sebagai jaminan atas pinjaman yang diterima serta tidak dibatasi penggunaannya.

(12)

a. Dasar Penyusunan dan Pengukuran Laporan Keuangan dan Pernyataan Kepatuhan (lanjutan)

Seluruh angka dalam laporan keuangan ini, kecuali dinyatakan secara khusus, dibulatkan menjadi dan disajikan dalam jutaan Rupiah yang terdekat.

b. Perubahan Kebijakan Akuntansi

Agar penyajian posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas Bank lebih relevan dan andal (reliable), Bank melakukan perubahan kebijakan akuntansi atas semua aset tetap. Berdasarkan PSAK 16 (Revisi 2007), dalam mengukur aset tetap, Bank dapat menggunakan model revaluasi (revaluation model) atau model biaya (cost

model).

Efektif 1 Oktober 2011. Bank merubah pengukuran semua aset tetap dari model biaya ke model revaluasi. Perubahan kebijakan akuntansi ini diperlakukan secara prospektif.

Sebagai akibat dari perubahan kebijakan akuntansi ini, pada tanggal 1 Oktober 2011, Bank mencatat saldo Surplus Revaluasi - setelah pajak sebesar Rp 47.828 dalam ekuitas dan mencatat peningkatan nilai tercatat semua aset tetap sebesar Rp 53.142.

c. Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi

Bank telah menerapkan PSAK revisi berikut pada tanggal 1 Januari 2012 yang dianggap relevan terhadap laporan keuangan namun tidak menimbulkan dampak yang signifikan:

PSAK No. 16 (Revisi 2011), “Aset Tetap”.

PSAK No. 18 (Revisi 2010), “Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya”. PSAK No. 24 (Revisi 2010), “Imbalan Kerja”.

PSAK No. 30 (Revisi 2011), “Sewa”.

PSAK No. 46 (Revisi 2010), “Akuntansi Pajak Penghasilan”. PSAK No. 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian”. PSAK No. 53 (Revisi 2010), “Pembayaran Berbasis Saham”.

PSAK No. 55 (Revisi 2011), “Istrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”. PSAK No. 56 (Revisi 2011), “Laba per Saham”.

PSAK No. 60, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

ISAK No. 15, “PSAK No. 24 - Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya”.

ISAK No. 20, “Pajak Penghasilan - Perubahan Dalam Status Pajak Entitas atau Para Pemegang Saham”. ISAK No. 25, “Hak atas Tanah”.

Pada tanggal 19 Oktober 2012, DSAK-IAI mengeluarkan penyesuaian atas PSAK 60 (Revisi 2010) yang efektif pada tanggal 1 Januari 2013. Penyesuaian tersebut terutama terkait dengan pengungkapan atas aset keuangan, termasuk pencabutan atas ketentuan penyajian untuk:

(13)

c. Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi (lanjutan)

a. Nilai wajar atas agunan yang digunakan sebagai jaminan; dan

b. Nilai tercatat atas aset keuangan yang belum jatuh tempo dan tidak mengalami penurunan nilai yang telah dinegosiasi ulang

d. Penggunaan Estimasi dan Asumsi

Dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia, dibutuhkan estimasi dan asumsi yang mempengaruhi.

Nilai aset dan liabilitas dilaporkan, pengungkapan atas aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan posisi keuangan.

Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi Bank yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan.

Klasifikasi aset dan liabilitas keuangan

Bank menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset keuangan dan liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan apakah definisi yang ditetapkan PSAK No. 55 (Revisi 2011) dipenuhi.

Estimasi dan asumsi

Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun/periode berikutnya, diungkapkan di bawah ini. Bank mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan situasi mengenai perkembangan masa depan, mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi diluar kendali Bank. Perubahan tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat terjadinya.

Nilai wajar dari instrumen keuangan

Jika nilai wajar dari aset dan liabilitas keuangan yang tercatat dalam laporan posisi keuangan tidak dapat diperoleh dari pasar aktif, nilai wajar ditentukan dari beberapa teknik penilaian termasuk model matematika, seperti teknik penilaian analisa arus kas masa depan yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar yang berlaku.

Cadangan kerugian penurunan nilai atas kredit

Bank melakukan review atas kredit pada setiap tanggal laporan untuk melakukan penilaian atas cadangan penurunan nilai yang telah dicatat. Justifikasi manajemen diperlukan untuk melakukan estimasi atas jumlah dan

timing arus kas dalam menentukan tingkat cadangan yang dibutuhkan. Provisi spesifik ini dievaluasi kembali dan

disesuaikan jika tambahan informasi yang diterima mempengaruhi jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. Nilai tercatat dari kredit Bank sebelum cadangan kerugian penurunan nilai pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 masing-masing sebesar Rp. 3.055.335 dan Rp 2.831.618. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 8.

Aset pajak tangguhan

Aset pajak tangguhan diakui atas jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer yang dapat dikurangkan. Justifikasi manajemen diperlukan untuk menentukan jumlah aset pajak tangguhan yang dapat diakui, sesuai dengan timing dan tingkat laba fiskal di masa mendatang sejalan dengan strategi rencana perpajakan ke depan.

(14)

d. Penggunaan Estimasi dan Asumsi (lanjutan)

Liabilitas imbalan pasca kerja

Liabilitas imbalan pasca kerja ditentukan berdasarkan perhitungan dari aktuarial. Perhitungan aktuaria mengunakan asumsi-asumsi seperti tingkat diskonto, tingkat pengembalian investasi, tingkat kenaikan gaji, tingkat kematian, tingkat pengunduran diri dan lain-lain. Nilai tercatat atas estimasi liabilitas imbalan kerja Bank pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp 5.884 dan Rp. 4.888. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 17.

Penyusutan aset tetap

Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomisnya. Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 4 sampai dengan 20 tahun. Ini adalah umur yang secara umum diharapkan dalam industri dimana Bank menjalankan bisnisnya. Perubahan tingkat pemakaian dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi masa manfaat ekonomis dan nilai sisa aset, dan karenanya beban penyusutan masa depan mungkin direvisi. Nilai tercatat bersih atas aset tetap Bank pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 masing-masing sebesar Rp. 152.718 dan Rp 148.955. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 10.

e. Transaksi Dengan Pihak-pihak Berelasi

Suatu pihak dianggap berelasi dengan Bank jika:

1. langsung atau tidak langsung melalui satu atau lebih perantara, suatu pihak (i) mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama dengan Bank; (ii) memiliki kepentingan dalam Bank yang memberikan pengaruh signifikan atas Bank; atau (iii) memiliki pengendalian bersama atas Bank;

2. suatu pihak berelasi dengan Bank;

3. suatu pihak adalah ventura bersama dimana Bank sebagai venturer; 4. suatu pihak adalah anggota dari personil manajemen kunci Bank atau induk;

5. suatu pihak adalah anggota keluarga dekat dari individu yang diuraikan dalam butir (1) atau (4);

6. suatu pihak adalah entitas yang dikendalikan, dikendalikan bersama atau dipengaruhi signifikan oleh atau untuk dimana hak suara signifikan pada beberapa entitas, langsung maupun tidak langsung, individu seperti diuraikan dalam butir (4) atau (5); atau

7. suatu pihak adalah suatu program imbalan pasca kerja untuk imbalan kerja dari Bank atau entitas yang terkait dengan Bank.

Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak-pihak berelasi dijelaskan pada Catatan 31.

f. Kuasi – Reorganisasi

Berdasarkan PSAK No. 51 (Revisi 2003), "Akuntansi Kuasi-Reorganisasi", kuasi-reorganisasi merupakan prosedur akuntansi yang mengatur Bank merestrukturisasi ekuitasnya dengan menghapus akumulasi defisit dan menilai kembali seluruh aset dan liabilitasnya dengan nilai wajar untuk mendapatkan awal yang baik (fresh start) dengan posisi keuangan yang menunjukan nilai sekarang tanpa dibebani defisit karena saldo akumulasi defisit telah dieliminasikan terhadap akun cadangan umum, selisih penilaian kembali aset tetap dan modal saham ditempatkan dan disetor. Kuasi-reorganisasi dilakukan dengan metode reorganisasi akuntansi(accounting reorganization method).

(15)

f. Kuasi – Reorganisasi (lanjutan)

Bila nilai pasar tidak tersedia, estimasi nilai wajar didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia dengan mempertimbangkan harga aset sejenis, dan teknik penilaian yang paling sesuai dengan karakteristik aset dan liabilitas yang bersangkutan. Sedangkan untuk aset dan liabilitas tertentu, penilaian dilakukan sesuai dengan PSAK terkait. Efektif 1 Januari 2013, PSAK 51 (Revisi 2003) telah dicabut.

g. Instrumen Keuangan Selain Sukuk

Klasifikasi, Pengakuan dan Pengukuran

Bank mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan pada laporan posisi keuangan, jika dan hanya jika, Bank menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut.

Instrumen keuangan pada pengakuan awal diukur pada nilai wajarnya, yang merupakan nilai wajar kas yang diserahkan (dalam hal aset keuangan) atau yang diterima (dalam hal liabilitas keuangan). Nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima ditentukan dengan mengacu pada harga transaksi atau harga pasar yang berlaku. Jika harga pasar tidak dapat ditentukan dengan andal, maka nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima dihitung berdasarkan estimasi jumlah seluruh pembayaran atau penerimaan kas masa depan, yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk instrumen sejenis dengan jatuh tempo yang sama atau hampir sama.

Pengukuran awal instrumen keuangan, kecuali untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, termasuk biaya transaksi.

Biaya transaksi adalah biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan, dimana biaya tersebut adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh atau menerbitkan instrumen keuangan. Biaya transaksi tersebut diamortisasi sepanjang umur instrumen menggunakan metode suku bunga efektif.

Metode suku bunga efektif (“EIR”) adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan, menggunakan suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa depan selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari instrumen keuangan. Pada saat menghitung EIR, Bank mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, tanpa mempertimbangkan kerugian kredit di masa depan, namun termasuk seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari EIR.

Instrumen keuangan dikelompokkan sebagai berikut: A. Aset Keuangan

(1) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi diklasifikasikan kedalam dua sub-kategori sebagai berikut:

- Aset keuangan dimiliki untuk diperdagangkan apabila aset keuangan tersebut diperoleh terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat.

(16)

g. Instrumen Keuangan Selain Sukuk (lanjutan)

A. Aset Keuangan (lanjutan)

(1) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (lanjutan)

- Aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi pada saat pengakuan awal jika telah memenuhi kriteria tertentu.

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dicatat pada laporan posisi keuangan pada nilai wajarnya. Perubahan nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Bunga yang diperoleh dicatat sebagai pendapatan bunga.

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank memiliki aset keuangan dalam kategori ini berupa efek yang diperdagangkan.

(2) Pinjaman yang diberikan dan piutang

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat dan tidak diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, investasi dimiliki hingga jatuh tempo atau aset tersedia untuk dijual.

Setelah pengukuran awal, pinjaman yang diberikan dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai. Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank mengklasifikasikan kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, kredit, pendapatan bunga yang masih akan diterima dan tagihan kepada pihak ketiga di dalam aset lain-lain sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.

(3) Aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo

Aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, dan manajemen Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Apabila Bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo, maka seluruh aset keuangan dalam kategori tersebut harus direklasifikasi menjadi aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule). Setelah pengukuran awal, aset keuangan ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode bunga efektif, setelah dikurangi cadangan penurunan nilai. Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif. Keuntungan dan kerugian yang timbul diakui dalam laporan laba rugi pada saat penghentian pengakuan dan penurunan nilai dan melalui proses amortisasi menggunakan metode suku bunga efektif.

(17)

g. Instrumen Keuangan (lanjutan)

A. Aset Keuangan (lanjutan)

(3) Aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo (lanjutan)

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank tidak memiliki aset keuangan dalam kategori ini.

(4) Aset keuangan tersedia untuk dijual

Aset keuangan tersedia untuk dijual merupakan aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan dalam kategori instrumen keuangan yang lain. Aset keuangan ini diperoleh dan dimiliki untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dan dapat dijual sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau karena perubahan kondisi pasar.

Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar. Komponen hasil

(yield) efektif dari surat berharga utang tersedia untuk dijual diakui dalam laporan laba rugi

komprehensif. Laba atau rugi yang belum direalisasi yang timbul dari penilaian pada nilai wajar atas aset keuangan tersedia untuk dijual tidak diakui dalam laporan laba rugi komprehensif, melainkan dilaporkan sebagai laba atau rugi bersih yang belum direalisasi pada bagian ekuitas dalam laporan posisi keuangan dan laporan perubahan ekuitas.

Apabila aset keuangan dilepaskan, atau dihentikan pengakuannya, maka laba atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika Bank memiliki lebih dari satu jenis surat berharga yang sama, maka diterapkan dasar metode identifikasi khusus. Bunga yang diperoleh dari aset keuangan tersedia untuk dijual diakui sebagai pendapatan bunga yang dihitung berdasarkan suku bunga efektif. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai aset keuangan juga diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank mengklasifikasikan efek-efek sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual.

B. Liabilitas Keuangan

(1) Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini apabila liabilitas tersebut merupakan hasil dari aktivitas perdagangan, atau jika Bank memilih untuk menetapkan liabilitas keuangan tersebut dalam kategori ini. Perubahan dalam nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank tidak memiliki liabilitas keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

(2) Liabilitas Keuangan yang Diukur Pada Biaya Perolehan Diamortisasi

Kategori ini merupakan liabilitas keuangan yang tidak dimiliki untuk diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal tidak ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

(18)

g. Instrumen Keuangan (lanjutan)

B. Liabilitas Keuangan (lanjutan)

(2) Liabilitas Keuangan yang Diukur Pada Biaya Perolehan Diamortisasi (lanjutan)

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, jika subtansi perjanjian kontraktual mengharuskan Bank untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pemegang instrumen keuangan, atau jika liabilitas tersebut tidak diselesaikan melalui penukaran kas atau aset keuangan lain atau saham sendiri yang jumlahnya tetap atau telah ditetapkan.

Komponen instrumen keuangan yang diterbitkan yang terdiri dari komponen liabilitas dan komponen ekuita (jika ada) harus dipisahkan, dimana komponen ekuitas merupakan bagian residual dari keseluruhan instrumen keuangan setelah dikurangi nilai wajar komponen liabilitas pada tanggal penerbitan. Setelah pengakuan awal, komponen liabilitas diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif. Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif.

Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi pada pengakuan awal diukur pada nilai wajar dan sesudah pengakuan awal diukur pada biaya perolehan diamortisasi, dengan memperhitungkan dampak amortisasi (atau akresi) berdasarkan suku bunga efektif atas premi, diskonto dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank mengklasifikasikan liabilitas segera, simpanan dari nasabah, simpanan dari bank lain, biaya masih harus dibayar dan liabilitas lainnya sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi.

Penentuan Nilai Wajar

Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif pada tanggal laporan posisi keuangan adalah berdasarkan kuotasi harga pasar atau harga kuotasi penjual/dealer (bid price untuk posisi beli dan ask price untuk posisi jual), tanpa memperhitungkan biaya transaksi. Apabila bid price dan ask price yang terkini tidak tersedia, maka harga transaksi terakhir yang digunakan untuk mencerminkan bukti nilai wajar terkini, sepanjang tidak terdapat perubahan signifikan dalam perekonomian sejak terjadinya transaksi. Untuk seluruh instrumen keuangan yang tidak terdaftar pada suatu pasar aktif, kecuali investasi pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga, maka nilai wajar ditentukan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian meliputi teknik nilai kini (net

present value), dan perbandingan terhadap instrumen sejenis yang memiliki harga pasar yang dapat diobservasi.

Saling Hapus Aset dan Liabilitas Keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, Bank memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut; dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan. Kesepakatan induk untuk menyelesaikan secara neto (master netting

agreements) tidak dapat dijadikan dasar untuk menyajikan saling hapus antara aset dan liabilitas yang terkait

(19)

g. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas Keuangan

Aset keuangan (atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya jika: a. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir;

b. Bank tetap memiliki hak untuk menerima arus kas dari aset keuangan tersebut, namun juga menanggung liabilitas kontraktual untuk membayar kepada pihak ketiga atas arus kas yang diterima tersebut secara penuh tanpa adanya penundaan yang signifikan berdasarkan suatu kesepakatan; atau

c. Bank telah mentransfer haknya untuk menerima arus kas dari aset keuangan dan (i) telah mentransfer secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, atau (ii) secara substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, namun telah mentransfer pengendalian atas aset keuangan tersebut.

Ketika Bank telah mentransfer hak untuk menerima arus kas dari suatu aset keuangan atau telah menjadi pihak dalam suatu kesepakatan, dan secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan dan masih memiliki pengendalian atas aset tersebut, maka aset keuangan diakui sebesar keterlibatan berkelanjutan dengan aset keuangan tersebut. Keterlibatan berkelanjutan dalam bentuk pemberian jaminan atas aset yang ditransfer diukur berdasarkan jumlah terendah antara nilai aset yang ditransfer dengan nilai maksimal dari pembayaran yang diterima yang mungkin harus dibayar kembali oleh Bank.

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya jika liabilitas keuangan tersebut berakhir, dibatalkan atau telah kadaluarsa.

Reklasifikasi Instrumen Keuangan

Bank tidak diperkenankan untuk mereklasifikasi instrumen keuangan dari atau ke klasifikasi yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi selama instrumen keuangan tersebut dimiliki atau diterbitkan.

Bank tidak diperkenankan untuk mereklasifikasikan aset keuangan dari kategori dimiliki hingga jatuh tempo. Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dari kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo (selain dari kondisi spesifik tententu), maka seluruh aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasi menjadi aset keuangan yang tersedia untuk dijual. Selanjutnya, Bank tidak diperkenankan mengklasifikasi aset keuangan sebagai aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo selama dua tahun.

Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok yang dimiliki hingga jatuh tempo ke kelompok tersedia untuk dijual dicatat sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya dan pada saat itu keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas diakui pada laporan laba rugi komprehensif.

Penurunan Nilai Aset Keuangan

Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Bank menelaah apakah suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan telah mengalami penurunan nilai. Aset keuangan yang dievaluasi penurunan nilainya dihitung secara individual dan kolektif serta cadangan kerugian penurunan nilai yang dibentuk masing-masing untuk kelompok individual dan kolektif tersebut.

(20)

g. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai, aset keuangan yang dievaluasi penurunan nilainya dihitung secara individual dan kolektif serta cadangan kerugian penurunan nilai yang dibentuk masing-masing untuk kelompok individual dan kolektif tersebut, jika dan hanya jika, terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal dari suatu aset (suatu kejadian yang merugikan) dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi dengan andal. Bukti mengenai penurunan nilai meliputi indikasi bahwa peminjam atau kelompok peminjam mengalami kesulitan keuangan secara signifikan, gagal dalam melakukan pembayaran bunga atau pokok, kemungkinan akan mengalami kebangkrutan atau reorganisasi keuangan lainnya dan terdapat hasil observasi data yang mengindikasikan terdapat penurunan nilai pada estimasi arus kas masa depan, seperti perubahan kondisi ekonomi yang berhubungan dengan gagal bayar.

(1) Aset Keuangan pada Biaya Perolehan Diamortisasi

Bank pertama-tama menentukan apakah terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang jumlahnya tidak signifikan secara individual. Jika Bank menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, baik aset keuangan tersebut signifikan atau tidak signifikan, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual dan kerugian penurunan nilai tersebut tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang dilaporkan pada biaya amortisasi, maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk kerugian kredit di masa depan yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yang merupakan suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Nilai tercatat aset tersebut langsung dikurangi dengan penurunan nilai yang terjadi atau menggunakan akun penurunan nilai dan jumlah kerugian yang terjadi diakui di laporan laba rugi. Untuk tujuan evaluasi penurunan nilai kolektif atas kredit, Bank telah menerapkan Surat Edaran No. 11/33/DPNP yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yang mengatur mengenai estimasi penurunan nilai kolektif kredit dengan keterbatasan pengalaman kerugian spesifik. Bagi bank yang belum memiliki data kerugian historis yang memadai, untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas kredit secara kolektif sesuai dengan persyaratan dalam PSAK No. 55 (Revisi 2011) dan PAPI, maka pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai dapat menggunakan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai “Penilaian Kualitas Aset Bank Umum”. Jika dalam periode selanjutnya, nilai dari kerugian menurun karena adanya suatu kejadian setelah kerugian diakui, pengakuan kerugian yang sebelumnya harus dipulihkan. Pemulihan ini diakui dalam laporan laba rugi, dengan syarat nilai tercatat aset pada tanggal pemulihan tidak melebihi biaya perolehan diamortisasinya. Sejak tanggal 1 Januari 2012, Bank memakai data kerugian historis untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas kredit secara kolektif sesuai dengan PSAK. Data historis yang digunakan adalah data kerugian historis yang ada dalam Bank sesuai kelompok kredit yang mempunyai tingkat risiko kredit yang sama.

(2) Aset Keuangan yang Dikelompokan dalam Tersedia untuk Dijual

Dalam hal instrumen ekuitas di kelompokkan dalam kelompok tersedia untuk dijual, penelaahan penurunan nilai ditandai dengan penurunan nilai wajar yang signifikan dan berkelanjutan dibawah biaya perolehannya.

(21)

g. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Penurunan Nilai Aset Keuangan (lanjutan)

(2) Aset Keuangan yang Dikelompokan dalam Tersedia untuk Dijual (lanjutan)

Jika terdapat bukti obyektif penurunan nilai, maka kerugian penurunan nilai kumulatif yang dihitung dari selisih antara biaya perolehan dengan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai yang sebelumnya telah diakui dalam laporan laba rugi, dikeluarkan dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Kerugian penurunan nilai instrumen ekuitas tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi. Kenaikan nilai wajar setelah terjadinya penurunan nilai diakui pada laba rugi komprehensif lainnya.

Dalam hal instrumen utang dalam kelompok tersedia untuk dijual, penurunan nilai ditelaah berdasarkan kriteria yang sama dengan aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Bunga tetap diakru berdasarkan suku bunga efektif asal yang diterapkan pada nilai tercatat aset yang telah diturunkan nilainya, dan dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika pada periode berikutnya, nilai wajar instrumen utang meningkat dan peningkatan nilai wajar tersebut karena suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan melalui laporan laba rugi komprehensif.

Dalam penentuan cadangan kerugian penurunan nilai dan penilaian kualitas aset secara kolektif sebelum 1 Januari 2012, Bank menerapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005, sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007, PBI No 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/33/DPN tanggal 8 Desember 2009.

Berdasarkan peraturan tersebut, aset produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia, efek-efek, kredit yang diberikan, tagihan akseptasi, serta komitmen dan kontinjensi dari transaksi laporan posisi keuangan (Off-Statement of financial position) yang mempunyai risiko kredit.

Berdasarkan peraturan tersebut, aset produktif diklasifikasikan dalam 5 (lima) kategori masing-masing dengan tarif persentase cadangan kerugian penurunan nilai atas aset sebagai berikut:

Minim um

Kategori Persentase

Lancar 1%

Dalam perhatian khusus 5%

Kurang lancar 15%

Diragukan 50%

Macet 100%

Persentase cadangan kerugian penurunan nilai di atas diterapkan terhadap saldo aset produktif setelah dikurangi dengan nilai agunan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, kecuali atas aset produktif yang diklasifikasikan lancar dan tidak dijamin atau yang dijamin dengan agunan non-tunai, dimana persentase penyisihan kerugian aset diterapkan terhadap saldo aset produktif yang bersangkutan.

Cadangan kerugian penurunan nilai tidak dibentuk atas aset produktif berupa Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Penempatan pada Bank Indonesia, efek-efek dan instrumen utang lainnya yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan aset produktif yang dijamin dengan agunan tunai berupa giro, deposito, tabungan, setoran jaminan, emas, Sertifikat Bank Indonesia atau Surat Utang Negara, Jaminan Pemerintah Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, standby Letters of Credit dari prime bank yang diterbitkan sesuai dengan Uniform Customs and Practice for Documentary Credit (UCP) atau Internasional Standard Practice (ISP) yang berlaku.

(22)

h. Instrumen Pada Sukuk

Pengakuan dan pengukuran

Sebelum pengakuan awal, Bank menentukan klasifikasi investasi pada sukuk berdasarkan tujuan investasi Bank. Klasifikasi dalam investasi sukuk dikelompokkan sebagai berikut:

(1) Biaya Perolehan

Apabila investasi tersebut dimiliki dalam suatu model usaha yang bertujuan utama untuk memperoleh arus kas kontraktual dan terdapat persyaratan kontraktual dalam menentukan tanggal tertentu pembayaran pokok dan/atau hasilnya.

Pada saat pengukuran awal, investasi dicatat sebesar biaya perolehan dan biaya perolehan ini termasuk biaya transaksi. Setelah pengakuan awal, investasi sukuk ini diukur pada nilai perolehan yang diamortisasi selisih antara biaya perolehan dan nilai nominal diamortsasi secara garis lurus selama jangka waktu instrumen sukuk.

Jika terdapat indikasi penurunan nilai, maka Bank mengukur jumlah terpulihkannya. Jika jumlah terpulihkan lebih kecil daripada jumlah tercatat, maka Bank mengakui rugi penurunan nilai. Jumlah terpulihkan merupakan jumlah yang akan diperoleh dari pengembalian pokok tanpa memperhitungkan nilai kininya. Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank memiliki instrumen pada sukuk dalam kategori ini. (2) Nilai Wajar

Nilai wajar investasi ditentukan dengan mengacu pada urutan sebagai berikut: - koutasi harga di pasar aktif, atau

- harga yang terjadi dari transaksi terkini jika tidak ada kuotasi harga di pasar aktif, atau

- nilai wajar instrumen sejenis jika tidak ada kuotasi harga di pasar aktif dan tidak ada harga yang terjadi dari transaksi terkini.

Pada saat pengakuan awal, investasi sukuk dalam klasifikasi ini dicatat sebesar harga perolehan, namun harga perolehan tersebut tidak termasuk biaya transaksi.

Setelah pengakuan awal, investasi diakui pada nilai wajar. Selisih antara nilai wajar dan jumlah tercatat diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.

Pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012, Bank memiliki instrumen pada sukuk dalam kategori ini berupa obligasi korporasi syariah (sukuk).

Penyajian

Pendapatan investasi dan beban amortisasi disajikan secara neto dalam laporan laba rugi komprehensif. Reklasifikasi

Bank tidak dapat mengubah klasifikasi investasi, kecuali perubahan tujuan model usaha. Model usaha yang bertujuan untuk memperoleh arus kas kontraktual didasarkan pada tujuan investasi yang ditentukan oleh Bank. Arus kas kontraktual yang dimaksud adalah arus kas bagi hasil dan pokok dari sukuk mudharabah atau arus kas imbalan (consideration ujrah) dari sukuk ijarah. Setelah pengakuan awal, jika aktual berbeda dengan tujuan investasi yang telah ditetapkan, maka Bank menelaah kembali konsistensi tujuan investasinya.

(23)

i. Giro pada Bank Indonesia dan Bank Lain

Giro pada Bank Indonesia disajikan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif dan giro pada bank lain disajikan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai (Catatan 2g).

Giro Wajib Minimum

Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia mengenai Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing, Bank diwajibkan untuk menempatkan sejumlah persentase tertentu atas simpanan nasabah pada Bank Indonesia.

j. Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain

Penempatan pada Bank Indonesia disajikan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif dan penempatan pada bank lain disajikan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai (Catatan 2g).

k. Efek-efek

Efek-efek terdiri dari SBI, obligasi pemerintah, obligasi korporasi, reksadana, surat utang jangka menengah, efek beragun asset dan wesel tagih.

Efek-efek pada saat pengakuan awal diukur sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan efek-efek dan selanjutnya pengukuran dilakukan berdasarkan klasifikasi efek-efek ke dalam kelompok aset keuangan tertentu dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai (Catatan 2g).

l. Kredit

Kredit yang diberikan diklasifikasikan sebagai aset keuangan dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang dan dinyatakan sebesar biaya perolehan diamortisasi dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai. Kebijakan akuntansi untuk pinjaman yang diberikan dan piutang dijelaskan pada Catatan 2g.

Kredit dalam rangka perjanjian sindikasi, dinyatakan sebesar porsi kredit yang risikonya ditanggung oleh Bank. m. Aset Tetap

Sejak 1 Oktober 2011, aset tetap disajikan pada nilai revaluasian dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasian. Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang cukup regular untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal pelaporan. Tanah tidak disusutkan.

Kenaikan yang berasal dari revaluasi , tanah, bangunan dan prasarana, inventaris kantor, peralatan kantor dan kendaraan tersebut langsung dikreditkan ke surplus revaluasi pada bagian ekuitas, kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam laporan laba rugi, dalam hal ini, kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi tersebut, dikreditkan dalam laporan laba rugi.

(24)

m. Aset Tetap (lanjutan)

Penurunan jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi aset tetap yang dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo akun surplus revaluasi aset tetap yang berasal dari revaluasi sebelumnya, jika ada.

Penyusutan atas nilai revaluasian aset tetap dibebankan ke laporan laba rugi. Bila kemudian aset tetap yang telah direvaluasi dijual atau dihentikan penggunaannya, saldo surplus tersisa dipindahkan langsung ke saldo laba. Bagian dari surplus revaluasi yang merupakan selisih atas penyusutan berdasarkan nilai revaluasian dan nilai perolehan dipindahkan ke saldo laba.

Sebelumnya aset tetap dinyatakan berdasarkan biaya perolehan, dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. Perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam aset tetap diterapkan secara prospektif.

Penyusutan dihitung dengan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:

Tahun

Bangunan dan prasaranan

10 - 20

Inventaris dan perlengkapan kantor

4

Perlengkapan kantor

4

Kendaraan

4 - 8

Nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan ditelaah setiap akhir tahun buku untuk memastikan nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan dan amortisasi diterapkan secara konsisten sesuai dengan ekspektasi pola manfaat ekonomis dari aset tersebut.

Sesuai dengan ISAK No. 25 "Hak Tanah", biaya-biaya legal yang terjadi sehubungan dengan perolehan hak atas tanah untuk pertama kalinya dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan atas tanah sedangkan biaya-biaya untuk perpanjangan akan diakui sebagai aset tidak berwujud dan diamortisasi sepanjang periode hak atas tanah atau umur ekonomis tanah, mana yang lebih pendek.

Aset dalam penyelesaian merupakan aset yang masih dalam proses penyelesaian dan belum siap untuk digunakan, serta dimaksudkan untuk dipergunakan dalam kegiatan usaha. Aset ini dicatat sebesar biaya yang telah dikeluarkan.

n. Tagihan Akseptasi

Tagihan akseptasi dinyatakan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif setelah dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai. (Catatan 2g).

o. Aset Lain-lain

Aset lain-lain terdiri dari aset yang tidak dapat digolongkan dalam pos-pos sebelumnya. Aset lain-lain disajikan sebesar nilai tercatat, yaitu harga perolehan setelah dikurangi dengan amortisasi, penurunan nilai dan penyisihan kerugian penurunan nilai aset.

Beban dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method).

(25)

p. Liabilitas segera

Liabilitas segera dicatat pada saat timbulnya liabilitas atau diterima perintah dari pemberi amanat, baik dari masyarakat maupun dari bank lain.

Liabilitas segera disajikan sebesar jumlah liabilitas bank dan diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Kebijakan akuntansi untuk liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dijelaskan pada Catatan 2g.

q. Simpanan dari Nasabah

Giro merupakan dana nasabah yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat melalui cek, atau dengan cara pemindahbukuan dengan bilyet giro atau sarana perintah pembayaran lainnya.

Tabungan merupakan dana nasabah yang bisa ditarik setiap saat berdasarkan persyaratan tertentu yang disepakati bersama.

Deposito berjangka merupakan simpanan nasabah yang dapat ditarik dalam jangka waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara nasabah dengan Bank.

Pada saat pengakuan awal simpanan dari nasabah diukur sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung, dan selanjutnya diukur sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif (Catatan 2g).

r. Simpanan dari Bank Lain

Simpanan dari bank lain terdiri dari liabilitas terhadap bank lain, dalam bentuk giro, deposito berjangka dan

interbank call money.

Pada saat pengakuan awal simpanan dari bank lain diukur sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dan selanjutnya diukur sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif (Catatan 2g).

s. Imbalan Pasca Kerja

Bank menghitung dan mencatat imbalan pasca-kerja atas uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 tanggal 25 Maret 2003 (UU No. 13/2003). Imbalan pasca-kerja merupakan manfaat pasti yang dibentuk tanpa pendanaan khusus dan didasarkan pada masa kerja dan jumlah penghasilan karyawan pada saat pensiun. Metode penilaian aktuarial yang digunakan untuk menentukan nilai kini cadangan imbalan pasti, beban jasa kini yang terkait dan beban jasa lalu adalah metode Projected Unit Credit. Beban jasa kini, beban bunga, beban jasa lalu yang telah menjadi hak karyawan dan dampak kurtailmen atau penyelesaian (jika ada) diakui pada laporan laba rugi komprehensif periode berjalan. Beban jasa lalu yang belum menjadi hak karyawan dan keuntungan atau kerugian aktuarial diamortisasi selama jangka waktu rata-rata sisa masa kerja karyawan.

(26)

t. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas Aset Non keuangan dan Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi

Sebelum 1 Januari 2011, Bank membentuk penyisihan penghapusan atas aset non-produktif. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aset Bank Umum” sebagaimana dijelaskan dalam Catatan 2g Bank juga diwajibkan untuk membentuk cadangan kerugian penurunan nilai pada aset non keuangan, seperti agunan yang diambil alih, aset yang terbengkalai, pos antar cabang dan rekening sementara serta estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi.

Cadangan Penurunan Nilai Aset Non Keuangan

Klasifikasi dan besarnya persentase cadangan kerugian penurunan nilai untuk agunan yang diambil alih dan aset yang terbengkalai adalah sebagai berikut:

Persentase atas

Kategori Batas Waktu Cadangan Kerugian

Lancar Sampai dengan 1 tahun 0%

Kurang lancar Lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun 15%

Diragukan Lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun 50%

Macet Lebih dari 5 tahun 100%

Persentase atas

Kategori Batas Waktu Cadangan Kerugian/

Lancar Sampai dengan 180 hari 0%

Macet Lebih dari 180 hari 100%

Klasifikasi dan persentase cadangan kerugian transaksi komitmen dan kontinjensi ditetapkan sebagai berikut: Minimum

Kategori Persentase

Lancar 1%

Dalam perhatian khusus 5%

Kurang lancar 15%

Diragukan 50%

Macet 100%

Cadangan kerugian penurunan nilai untuk komitmen dan kontinjensi yang dibentuk disajikan sebagai liabilitas pada laporan posisi keuangan dalam akun “Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi”.

Bank menentukan cadangan kerugian penurunan nilai aset non keuangan sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/658/DPNP/IDnP tanggal 23 Desember 2011. Bank tidak diwajibkan lagi untuk membentuk penyisihan kerugian atas aset non produktif dan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi. Namun, Bank tetap harus menghitung cadangan kerugian penurunan nilai mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Gambar

Tabel mortalitas TMI-2 TMI-2
Tabel  dibawah  ini  adalah  nilai  tercatat  dan  nilai  wajar  atas  aset  keuangan  dan  liabilitas  keuangan  dalam  laporan  posisi keuangan pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012:
Tabel  berikut  menyajikan  eksposur  maksimum  terhadap  risiko  kredit  Bank  atas  instrumen  keuangan  pada  laporan  posisi  keuangan  dan  komitmen  dan  kontinjensi  (rekening  administratif),  tanpa  memperhitungkan  agunan yang dimiliki atau jamin
Tabel di bawah merangkum tingkat suku bunga efektif rata-rata setahun untuk Rupiah dan mata uang asing  pada tanggal 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012
+2

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai

Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui