WISATA SELANCAR (SURFING) SEBAGAI PRIMADONA JASA LINGKUNGAN KELAUTAN DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI, SUMATERA BARAT.

Download (0)

Teks penuh

(1)

WISATA SELANCAR (SURFING) SEBAGAI PRIMADONA JASA LINGKUNGAN KELAUTAN DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI, SUMATERA BARAT

Oleh:

Suparno

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta Padang

Abstrak

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten baru di Propinsi Sumatera Barat, terdapat empat pulau besar yaitu Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan serta ratusan pulau kecil. Kepulauan Mentawai mempunyai potensi besar dalam kekayaan keanekaragaman hayati laut dan serta wisata bahari. Potensi wisata selancar Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah dikenal luas oleh turis manca negara dan merupakan tujuan utama wisataman asing . Kondisi biofisik perairan laut sangat mendukung kegitan selancar karena pantai barat langsung berhadapan dengan gelombang tinggi dari Samudera Hindia dan banyak selat serta pulau kecil. Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai belum cukup peraturan dan tenaga teknis penunjang untuk mengontrol kegiatan pariwisata bahari (selancar) karena masih minimnya sarana dan prasarana, sehingga belum banyak memberi kontribusi PAD (pendapatan asli daerah) yang digali dari sektor ini.

Kata kunci: Surfing

LATAR BELAKANG

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten baru diantara kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Barat, dimana dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman. Pemerintah RI mengeluarkan UU No.49/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Mentawai dan mulai saat itu Kepulauan Mentawai menjadi satu kabupaten otonom, berpisah dengan Kabupaten Padang Pariaman. Untuk selanjutnya menjadi kabupaten baru di Propinsi Sumatera Barat dengan dinamakannya menjadi Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kabupaten Kepulauan Mentawai, terdapat empat pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan serta ratusan pulau kecil lainnya. Pulau Siberut merupakan pulau terbesar diantara pulau-pulau lainnya dalam gugusan Kepulau-pulauan Mentawai. Adapun ketiga pulau lainnya adalah Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan yang terletak di sebelah selatan Pulau Siberut. Pulau Siberut terletak di sebelah selatan

khatulistiwa dengan jarak terdekat antara Siberut dan pulau utama (Pulau Sumatera) adalah kira-kira 128 km, dan jarak langsung antara Padang dan Muara Siberut adalah kira-kira 155 km melintasi Selat Mentawai.

Kabupaten Kepulauan Mentawai mempunyai banyak pulau kecil, teluk dan kaya akan ekosistem pesisir seperti terumbu karang (coral reef), hutan bakau (mangrove), lamun (sea grass) dan rumput laut (sea weed). Dengan kondisi diatas Kabupaten Kepulauan Mentawai mempunyai potensi besar dalam kekayaan keanekaragaman hayati laut dan serta wisata bahari.

Tujuan Penelitian

Pada Penelitian ini penulis ingin memaparkan potensi wisata selancar (Surfing) di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.

METODOLOGI

Penelitian dilakukan bulan Oktober 2004 bersifat eksploratif-deskriptif, berdasarkan

(2)

kajian kepustakaan, instansi dan penelitian lapangan.

a) Data primer meliputi data biofisik/fisiografi, fisik dan non fisik yang diperoleh dari hasil pengamatan/visualisasi, pengukuran, penghitungan langsung dilapangan, penyebaran kuesioner serta pemotretan.

b) Data sekunder meliputi data-data elemen fisik dan non fisik mencakup kondisi alami, aktivitas pariwisata, sarana dan prasarana pariwisata. Data-data sekunder tersebut didapat dari instansi, dinas maupun pihak terkait lainnya serta laporan-laporan perencanaan (RIPP/Rencana Induk Pengembangan Pariwisata), makalah-makalah, laporan penelitian, studi literatur, referensi, artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata bahari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Letak Geografis dan Batas Administrasi

Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan Ibukota Tua Pejat (terletak di Kecamatan/Pulau Sipora), secara administratif terletak disebelah Barat dari Pantai Barat Pulau Sumatera. Sedangkan secara geografis terletak pada kedudukan 0°55’00”–3°21’00” LS dan 90°35’00”–

100°32’00” BT dengan ketinggian 0 - 4,00 m dari permukaan laut. Kabupaten Kepulauan Mentawai dibatasi oleh: sebelah Utara dengan Selat Siberut, sebelah Selatan dengan Samudera Hindia, sebelah Barat dengan Samudera Hindia, dan sebelah Timur dengan Selat Mentawai.

Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari 4 kecamatan yaitu; Kecamatan Siberut Utara, Kecamatan Siberut Selatan, Kecamatan Sipora dan Kecamatan Pagai Utara Selatan mempunyai 41 desa dan 323 pulau kecil. Jumlah pulau kecil merupakan jumlah terbesar bila dibandingkan dengan jumlah pulau-pulau di kabupaten pesisir lain di Propinsi Sumatera barat. Empat (4) pulau besar yang menjadi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan total luas 6.011,15 km2. ( 14 % dari luas seluruh wilayah Propinsi Sumatera Barat), mempunyai garis pantai sepanjang 758 Km. Keempat kecamatan adalah Kecamatan Sipora, Kecamatan Pagai Utara Selatan, Kecamatan Siberut Selatan dan Kecamatan Siberut Utara yang menjadi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai (Tabel 1).

Tabel 1: Jumlah Desa dan Panjang Garis Pantai per Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai

No Kecamatan Ibukota Desa (buah) Panjang Pantai (Km)

1 Siberut Utara Ma. Sikabaluan 10 156

2 Siberut Selatan Ma. Siberut 10 143

3 Sipora Sioban 13 147

4 Pagai Utara Selatan Sikakap 10 312

Jumlah 43 758

Sumber: Monografi Kecamatan Tahun 2004

Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki 18 buah sungai dan yang terpanjang berada di Kecamatan Siberut Utara yaitu sepanjang 40 Km sedangkan yang terpendek terdapat di Pagai Utara Selatan sepanjang 5 Km.

Sistem Perwilayahan dan

Pengembangan Kabupaten Kepulauan Mentawai

Provinsi Sumatera barat di bagi atas 4 Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) dan masing-masing WPP terbagi atas beberapa Satuan Pengembangan Pariwisata (SPP). Terkait dengan wilayah

(3)

penelitian maka Kepulauan Mentawai

termasuk kedalam Wilayah

Pengembangan Pariwisata IV yang terdiri atas: a.Wisata budaya dan alam yang terdapat di Pulau Siberut (ecotourism) b.Wisata bahari menyelam, memancing dan rekreasi pantai di bagian barat Pulau Siberut dan Pulau Sipora.

Propinsi Sumatera Barat merupakan pintu gerbang internasional utama darat dan udara disamping gerbang internasional lainnya seperti Medan, Batam, Hang Nadim dan lainnya. Daerah-daerah unggulan pertama pariwisata di Sumatera Barat adalah Bukittinggi, Agam, Pesisir Selatan, Mentawai, Tanah Datar, Solok dan 50 Kota sedangkan daerah unggulan kedua meliputi Payakumbuh, Sawalunto Sijunjung, Pariaman dan Pasaman. Merujuk arah pengembangan pembangunan pariwisata, seni dan budaya, Wilayah Pembangunan Pariwisata (WPP) Pusat Tua Pejat dan Muara Siberut didominasi atraksi pantai, pulau, budaya serta flora dan fauna. Di Satuan Pengembangan Pariwisata (SPP) Pulau Siberut, Pulau Sipora dan Pulau Pagai Selatan terdapat beberapa desa yang menjadi potensi wisata utama yaitu mencakup: a. Desa Madobak b. Desa Ugai c. Desa Butui d.Teluk Katurai e.Pantai Masilok f.Taman Nasional Siberut

Di Pulau Sipora dan Pagai Selatan, potensi wisata utamanya adalah wisata pulau, pantai dan area selancar (surfing). Aksesibilitas wisata baik darat, laut maupun udara sangat rendah, begitupun dengan fasilitas wisata yang kurang tersedia. Arah pengembangan wisata di WPP Pusat Tua Pejat yang dapat dikembangkan yaitu:

a. Pengembangan Wisata Alam mencakup; wisata bahari, wisata

tantangan (surving, diving, snorkeling), ekowisata, dan wisata ilmiah.

b. Pengembangan Wisata Budaya mencakup; wisata peninggalan sejarah (budaya Mentawai), Perwujudan Museum Mentawai, dan pengembangan pesta rakyat.

c. Pengembangan Desa Wisata

Lokasi Selancar di Kabupaten

Kepulauan Mentawai

Atraksi selancar merupakan salah satu atraksi wisata bahari yang menjadi primadona di Kabupaten Mentawai. Hal ini disebabkan oleh karakteristik gelombang yang telah memenuhi standar Internasional (rating bintang 5). Kegiatan selancar adalah kegiatan olah raga yang memanfaatkan gelombang laut dengan menggunakan alat papan selancar. Potensi selancar umumnya terdapat pada hampir seluruh bagian barat pantai Kepulauan Mentawai.

Areal selancar yang sudah dikembangkan dengan baik dan banyak dikunjungi turis asing adalah Pulau Nyang-Nyang di Seberut Selatan yang memiliki ombak tinggi dan mendapatkan rating 5 berdasarkan hasil Mentawai Islands Surf Potensial survey 1993- 1998, khususnya daerah selatan Pulau Nyang-Nyang yaitu Pantai Masarai. Daerah ini dapat dicapai dengan memakai perahu motor lebih kurang 15 menit dari Teluk Katurai dan lebih kurang 1 jam dari Muara Siberut. Jadwal kunjungan wisata bahari ke Mentawai berlangsung mulai bulan Februari sampai dengan bulan Nopember dan waktu puncak terjadi pada bulan April hingga September. Puncak kunjungan ini sejalan dengan kalender musim, dimana pada bulan-bulan tersebut sedang musim angina barat dan gelombang laut sangat besar.

(4)

Tabel 2: Potensi Atraksi Wisata Selancar Pada Kawasan Penelitian

No Kriteria Kondisi Kawasan Lokasi

1 Suhu air laut 26 – 30 o C 28 -29 o C Kecamatan Siberut 1. P. Nyangnyang 2. P. Mainu 3. P. Karang Majat Kecamatan Sipora 1. P. Pitotogat 2. P. Tobo 3. Siduamata 4. Mapadegat 5. Katiet 6. P. Simailupa 7. P. Sibesua 8. P. Simailupa

Kecamatan Pagai Utara Selatan 1. Tanjung Takarimau 2. P. Silau 3. P. Siumang 4. P. Simongga 5. P. Sanding 6. P. Pitojat 7. P. Betumonga 8. P. Batumalai 9. P. Sibigau 10. P. Libuan 11. Selat Sikakap 2 pH air 6,5- 8,5 8 3 Karakteristik

gelombang yang tinggi

Karakteristik gelombang telah memenuhi standar

internasional (rating bintang 5) 4 Aksesibilitas dan

transportasi tersedia

Aksesibilitas sangat rendah dan transportasi kurang memadai

5 Tidak terdapat biota laut yang berbahaya

Tidak terdapat biota laut yang berbahaya

6 Tidak merupakan jalur utama lalu lintas laut

Pada bagian timur dan barat Kabupaten Mentawai tidak merupakan jalur utama lalu lintas

7 Tersedia fasilitas pendukung (sewa alat dan lain-lain)

Belum tersedia fasilitas wisata

Data : Diolah dari Berbagai Sumber

Hasil dari penyebaran kuesioner ke pada wisatawan asing ke kawasan penelitian mengungkapkan bahwa sekitar 50% dari turis asing ke Mentawai bertujuan untuk menikmati atraksi surfing dan snorkeling. Hasil wawancara dengan beberapa travel biro perjalanan ke Mentawai, diketahui kebanyakan dari Singapura, New Zeland,

Australia dan USA dengan lama kunjungan 10 - 14 hari. Kebanyakan turis asing berusia produktif dengan kelompok umur 21- 30 tahun dari golongan pria, karakteristik wisata selancar membutuhkan stamina yang prima dan merupakan wisata olah raga.

(5)

Pagai Selatan Pagai Utara Sipora Siberut Selatan Siberut Utara Pariaman Padang Painan LAU T IN D ON ESIA Solok Batu Sangkar 98 ° 30 ‘ 99 ° 100 ° 101 ° 1 0 1 ° 3 0 ‘ 0 0 ‘ ’ B T -1 ° -2 ° -3 ° - 0 ° 30 ‘’00’’ LS -3 ° 30 ‘’00 ‘’ LS 9 8 ° 3 0 ‘ ’0 0 ‘ ’ B T SE LA T M EN TAW AI PETA

OBYEK WISATA BAHARI KABUPATEN MENTAWAI

Sum ber

1. Peta Dishidros Skala 1 : 250.000 Tahun 1999 2. Peta Citra Satelite Coremap Tahun 1999 3. Bappeda Tingkat II Pariaman Tahun 1999 4. Mentawai Surfing Expedition 5. Survei Critc Sumbar Tahun 2000 1 2 3 4 51 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Pulau Sinyangnyang P. Karangmanjat P. Pitojat Pantai Katiet P. Silabu Sabeu Pantai B atu Monga P. Sibigau Lokasi-lokasi Surfing Nyangnyang-Left Pagai Selatan Pagai Utara Sipora Siberut Selatan Siberut Utara Pariaman Padang Painan LAU T IN D ON ESIA Solok Batu Sangkar 98 ° 30 ‘ 99 ° 100 ° 101 ° 1 0 1 ° 3 0 ‘ 0 0 ‘ ’ B T -1 ° -2 ° -3 ° - 0 ° 30 ‘’00’’ LS -3 ° 30 ‘’00 ‘’ LS 9 8 ° 3 0 ‘ ’0 0 ‘ ’ B T SE LA T M EN TAW AI PETA

OBYEK WISATA BAHARI KABUPATEN MENTAWAI

PETA

OBYEK WISATA BAHARI KABUPATEN MENTAWAI

Sum ber

1. Peta Dishidros Skala 1 : 250.000 Tahun 1999 2. Peta Citra Satelite Coremap Tahun 1999 3. Bappeda Tingkat II Pariaman Tahun 1999 4. Mentawai Surfing Expedition 5. Survei Critc Sumbar Tahun 2000 1 1 2 2 3 3 4 4 51 51 6 6 7 7 1 2 3 4 5 6 7 Pulau Sinyangnyang P. Karangmanjat P. Pitojat Pantai Katiet P. Silabu Sabeu Pantai B atu Monga P. Sibigau Lokasi-lokasi Surfing 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 Pulau Sinyangnyang P. Karangmanjat P. Pitojat Pantai Katiet P. Silabu Sabeu Pantai B atu Monga P. Sibigau Lokasi-lokasi Surfing Nyangnyang-Left Nyangnyang-Left

Gambar 1: Lokasi Daerah Selancar (Surfing) di Kabupaten Kepulauan Mentawai Parameter Oseanografi dan Iklim

A. Arus laut

Pola umum arus permukaan antara bulan Juni sampai Oktober di sebelah barat Pulau Sumatera ialah bahwa arus Samudera Hindia dari sebelah barat dan barat laut menuju ke arah timur dan berbelok ke arah selatan sejajar pantai Pulau Sumatera. Sedangkan pola umum arus permukaan di sebelah selatan Pulau Jawa ialah arus Samudera Hindia dari arah timur menuju barat sejajar pantai Pulau Jawa dan setelah sampai di sebelah barat daya Pulau Sumatera arah arus berbelok ke arah barat daya bersama-sama dengan arus dari sebelah utaranya (Wyrtki, 1961).

Pola arus di perairan sebelah timur maupun sebelah selatan Pulau Siberut diperoleh sangat komplek disebabkan oleh pulau-pulau kecil dan topografi di perairan tersebut yang berpengaruh terhadap perubahan perubahan arah maupun kecepatan arus. Pola arus di Muara Siberut menggambarkan gerakan resultante massa air ke barat laut, di

perairan Masilo arus ke arah barat laut, di perairan Sibabui arus ke arah timur laut, di perairan Nyang Nyang arus ke barat laut, di perairan Mobuko arus ke arah barat daya, di perairan Mainu arus bergerak ke arah timur laut, di perairan Karang Majet arah arus bergerak ke arah tenggara dan di perairan Bugei arah arus ke barat laut (Hadikusumah, 1999).

Pola arus permukaan secara global yang terjadi antara Pulau Sipora dan daratan Sumatera bergerak dari arah utara menuju selatan yang terjadi sepanjang tahun. Arus berasal dari barat menuju timur, setelah menabrak Pulau Sumatera arus berbelok ke arah selatan dengan kecepatan rata-rata antara 12-25 cm/detik yang terjadi bulan Februari- Agustus.

B. Pasang surut

Karakteristik pasang surut di Kepulauan Mentawai di dominasi oleh pasang surut semi-diurnal. Pasang surut di daerah ini mempunyai variasi pasang terendah dan pasang tertinggi berkisar antara 1 sampai 2 meter.

(6)

C. Gelombang

Hasil penelitian Hadikusumah (1999) tentang sifat-sifat oseanografi di Pulau Siberut diperoleh energi gelombang yang diperoleh untuk periode 16 detik adalah antara 0,93 – 13,09 (Cm^2/cps) yaitu di enam lokasi, kecuali di lokasi Bugai (maksimum 6,4 detik), ini mengidentifikasikan gelombang tersebut termasuk panjang, atau ciri gelombang Samudera Hindia yang datang dari jarak jauh. Arah gelombang umumnya datang dari tenggara sampai barat daya. Energi gelombang umumnya dating dari tenggara sampai barat daya. Energi gelombang yang sudah sampai ke perairan dangkal telah terendam oleh kondisi topografi, misalnya adanya tubir-tubir pulau.

D. Temperatur Laut

Suhu merupakan faktor yang cukup penting dalam lingkungan perairan. Perubahan suhu perairan akan mempengaruhi proses-proses biologis dan ekologis yang terjadi di dalam air dan pada akhirnya akan mempengaruhi komunitas biologis di dalamnya.

Selama penelitian tidak terlihat adanya fluktuasi yang menyolok. Hal ini menunjukkan perairan dalam kondisi yang stabil. Terdapatnya fluktuasi suhu pada permukaan air laut cenderung dikarenakan faktor iklim dan dinamika massa air.. Sementara hasil pengukuran suhu di lokasi penelitian tergolong normal, yaitu berkisar antara 28 –29 o C.

E. Iklim dan Cuaca

Kabupaten Kepulauan Mentawai yang dikelilingi oleh laut terletak pada daerah Equator, mempunyai udara selalu panas dan lembab. Sirkulasi musim Mansoon dan Konfergensi Inter Tropis sangat mempengaruhi iklim daerah ini. Sirkulasi dan pengarahannya berarah Barat Laut- Tenggara menghasilkan musim penghujan yang berlangsung sejak Nopember- Maret. Sebaliknya bila sirkulasi Tenggara Barat Laut akan menghasilkan musim kemarau/ kering yang berlangsung pada bulan Mei- Oktober.

Rataan curah hujan di Pulau Siberut sampai mencapai 3.320 mm. Curah hujan tertinggi adalah pada bulan April ialah 290 mm dan pada bulan Oktober ialah 390 mm, bulan- bulan yang relatif kering adalah pada bulan Februari ialah 220 mm serta Juni ialah 220 mm. Rataan curah hujan tahunan berkisar antara 2500 –4700 mm dengan jumlah hari hujan berkisar antara 132- 267 hari. Dengan asumsi bahwa apabila curah hujan < 60 mm, ini dianggap bulan kering, sebaliknya curah hujan > 60 mm, ini dianggap bulan basah dan bulan basah biasanya mencapai 9 bulan dalam setahun. Suhu udara berkisar antara 22- 31o C dan kelembaban udara selalu tinggi dan relatif konstan yaitu berkisar antara 82-85% (Hadikusuma, 1999).

Aksessibilitas Ke Kabupaten

Kepulauan Mentawai

Menuju ke pulau- pulau di Kepulauan hanya dapat ditempus melalui jalur laut dari Kota Padang. Kapal-kapal penumpang menuju ke masing –masing pulau ke Kepulauan Menatawai secara regular rata-rata dua kali per minggu dengan jarak temuh 8 – 10 jam.

Sampai saat ini, Kabupaten Mentawai masih belum cukup memiliki prasarana jalan yang memadai. Jalan darat hanya ada di pusat kecamatan dan pusat kabupaten. Hubungan antara kota kecamatan/ kabupaten dengan desa-desa hanya bisa dilakukan melalui jalur laut atau jalur sungai untuk desa-desa di pedalaman yang ada di Pulau Siberut. Jika dikaitkan dengan rencana pengembangan pariwisata, jalur sungai dan laut salah satu kekuatan dan keunikan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Alternatif lain, untuk mendukung pengembangan pariwisata, Pemda bisa membangun jalan lingkar sepanjang pantai. Pembangunan jalan lingar sepanjang pantai akan mendorong pertumbuhan penduduk ke wilayah ini, dimana pada tahapnya dengan adanya pariwisata bahari, maka rakyat akan mendapat nilai lebih dari kegiatan ini.

(7)

Secara umum, saat ini bagi turis yang memerlukan sarana transportasi di Mentawai, mereka harus sewa boat dengan harga antara Rp 500.000,- sampai 1.000.000,- per hari dan tergantung jarak. Sementara untuk transportasi udara menuju Mentawai, saat ini Pemda sedang menyiapkan pembangunan Bandara Udara Rokot di Pulau Sipora yang dulu pernah aktif dan prasarana jalan dari bandara menuju kota kabupaten (Tua Pejat).

Terkait dengan pengembangan pariwisata bahari di Kepuluan Mentawai, Pemda belum memiliki cukup peraturan dan tenaga teknis yang mendorong dan menjamin eksistensi kegiatan pariwisata bahari. Kondisi ini membuat Pemda tidak mampu mengontrol kegiatan pariwisata bahari yang dikelola oleh agen-egen perjalanan yang berkantor di luar Mentawai. Banyak kapal pesiar asing yang berlabuh di Muara Padang membawa turis asing ke Mentawai dan

Kapal Pesiar itu tidak berlabuh dan tidak mendarat di Mentawai. Tidak ada keharusan harus melapor ke Dinas Pariwisata atau Camat setempat. Akibatnya, kegiatan pariwisata di Mentawai sampai saat ini belum memberi manfaat lebih kepada Pemda dan masyarakat Mentawai. Tidak ada keharusan harus melapor ke Dinas Pariwisata atau Camat setempat. Akibatnya, kegiatan pariwisata di Mentawai sampai saat ini belum memberi manfaat lebih kepada Pemda dan masyarakat Mentawai.

Sejalan telah dibukanya Bandara Internasional ( Minangkabau Internasional Airport) di Kabupaten Padang Pariaman, sebagai pengganti Bandara Tabing di Kota Padang, akan memberi dampak besar terhadap pariwisata bahari khususnya Surfing di Kabupaten Kepulauan Mentawai, karena turis asing akan lebih mudah mencapai Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Gambar 2: Aksessbilitas Transportasi Kabupaten Mentawai dan Nias KESIMPULAN DAN SARAN

1. Potensi wisata selancar Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah dikenal

luas oleh turis manca negara dan merupakan tujuan utama wisataman. 2. Kondisi biofisik perairan laut sangat

mendukung kegitan selancar karena pantai barat langsung berhadapan

(8)

dengan gelombang tinggi dari Samudera Hindia dan banyak selat serta pulau kecil.

3. Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai belum cukup peraturan dan tenaga teknis penunjang untuk

mengontrol kegiatan pariwisata bahari (selancar) karena masih minimnya sarana dan prasarana, sehinga belum banyak PAD (pendapatan asli daerah) yang digali dari sektor ini.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai. 2001. Penyusunan Tata Ruang dan Kawasan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tua Pejat, Sipora.

Hadikusuma. 1999. Sifat-Sifat Oseanografi Fisika Sebagai Penunjang Potensi Wisata Bahari Di

Pulau Siberut, Sumatera Barat. Proseding Seminar Regional Kelautan Sumatera II di Padang 6 –7 Agustus 1999. Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta.

Wyrti, K. 1961. Physical Oceanography of the Southest Asian Waters. Naga Report Vol 2.

Figur

Tabel 2:  Potensi Atraksi Wisata Selancar Pada Kawasan Penelitian

Tabel 2:

Potensi Atraksi Wisata Selancar Pada Kawasan Penelitian p.4
Gambar 1: Lokasi Daerah Selancar (Surfing) di Kabupaten Kepulauan Mentawai  Parameter  Oseanografi dan Iklim

Gambar 1:

Lokasi Daerah Selancar (Surfing) di Kabupaten Kepulauan Mentawai Parameter Oseanografi dan Iklim p.5
Gambar 2:  Aksessbilitas Transportasi Kabupaten Mentawai dan Nias   KESIMPULAN DAN  SARAN

Gambar 2:

Aksessbilitas Transportasi Kabupaten Mentawai dan Nias KESIMPULAN DAN SARAN p.7

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di