Pembuatan dan evaluasi sediaan topikal gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) dengan gliserin sebagai humectant - USD Repository

132 

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN TOPIKAL GEL ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.)

DENGAN GLISERIN SEBAGAI HUMECTANT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh

Juliana

NIM: 108114064

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN TOPIKAL GEL ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.)

DENGAN GLISERIN SEBAGAI HUMECTANT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh

Juliana

NIM: 108114064

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

The Lord, Jesus Christy and Holy Spirit

Papa, Mama, Mami, Papi, Kakak dan Adek

Sahabat-sahabatku dan teman-temanku terkasih

(6)
(7)
(8)

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul

“Pembuatan dan Evaluasi Sediaan Topikal Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu

Biji (Psidium guajava L.) dengan Gliserin sebagai Humectant” sebagai salah satu

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini

tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara

langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Orang tua penulis atas doa, kasih sayang, nasihat, dan dukungan yang

diberikan baik secara moril maupun materiil sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan.

2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma dan semua dosen Fakultas Farmasi yang telah

memberikan ilmu serta bimbingan kepada penulis.

3. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing dan dosen

penguji pada skripsi ini yang telah menyediakan waktu bimbingan,

mendampingi penulis dengan sabar, memberikan motivasi dan saran kepada

(9)

viii

4. Ibu C.M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt. selaku dosen penguji yang telah

memberikan dukungan, kritik, dan saran yang membangun selama proses

pembuatan skripsi.

5. Ibu Melania Perwitasari, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji yang telah

memberikan dukungan, kritik, dan saran yang membangun selama proses

pembuatan skripsi.

6. Kakak dan adik atas doa, kasih sayang, nasihat, dan dukungan yang diberikan

baik secara moril maupun materiil sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

7. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen pembimbing akademik

yang telah mendampingi dan memberikan perhatian hingga penulis

menyelesaikan perkuliahan dengan baik.

8. Sahabat-sahabatku Agnes, Elvira, Giovanna, Priscilla, Sita, Olivia, dan Liana

yang selalu memberikan dukungan, semangat, doa, canda tawa, dan menjadi

sukacita tersendiri bagi penulis dalam proses penelitian dan penyusunan

skripsi.

9. Teman- teman Kost Palem tercinta, Ayu, Budi, Erna, Titin, Tari, dan Lena,

teman-teman Greeter Youth, serta teman-teman komsel Ester dan G.O.F yang

selalu memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini.

10. Vivian, Rosi, Lilin, Bakti, Naomi, Kezia, Sisca, Agi, Sita, Hans, Lulu,

Sammy, Nia, Nafta, dan Tiffany terima kasih untuk diskusi, kebersamaan,

dukungan, bantuan, canda dan tawa selama penelitian dan penyusunan

(10)

ix

11. Segenap laboran dan karyawan, Mas Bimo, Pak Parlan, Pak Mus, Pak

Wagiran, Pak Ketul, Mas Agung, Pak Heru atas bantuan dan kerjasama di

laboratorium selama ini.

12. Teman-teman angkatan 2010 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

untuk kebersamaan dan pengalaman yang tidak terlupakan selama menjalani

proses belajar dan semua pihak yang telah mendukung dan tidak dapat

penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini banyak kekurangan dan masih jauh

dari sempurna. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari

semua pihak sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi penulis untuk menjadi

lebih baik. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

perkembangan ilmu kefarmasian, pembaca, dan seluruh pihak.

(11)

x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

(12)

xi

E. Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Formulasi Gel ... 12

1. Carbopol ... 12

BAB III METODE PENELITIAN... 20

A. Jenis Penelitian ... 20

(13)

xii

C. Definisi Operasional ... 20

C. Bahan Penelitian ... 21

D. Alat Penelitian ... 22

E. Tata Cara Penelitian ... 22

1. Identifikasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 22

2. Identifikasi Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Kualitatif... 22

3. Pembuatan Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 23

4. Uji Sifat Fisis Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 24

5. Uji Iritasi Primer Draize Test ... 25

6. Penetapan Kadar Tanin dalam Ekstrak dan dalam Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel ... 25

G. Analisis Hasil ... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

A. Identifikasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 31

B. Identifikasi Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Kualitatif ... 31

(14)

xiii

D. Uji Sifat Fisis Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji

(Psidium guajava L.) ... 34

1. Uji organoleptis dan pH ... 34

2. Uji viskositas ... 35

3. Uji daya sebar ... 37

E. Uji Iritasi Primer Draize Test ... 38

F. Penetapan Kadar Tanin dalam Ekstrak dan dalam Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel ... 40

1. Penetapan operating time (OT) ... 40

2. Penetapan panjang gelombang maksimum ... 41

3. Pembuatan kurva baku asam tanat ... 42

4. Penetapan kadar tanin ekstrak dan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) ... 44

(15)

xiv

LAMPIRAN ... 56

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Formula yang diacu ... 23

Tabel II. Formula yang digunakan ... 23

Tabel III. Sistem klasifikasi untuk reaksi kulit ... 30

Tabel IV. Interpretasi nilai Primary Irritation Index (PPI) ... 30

Tabel V. Hasil uji kualitatif tanin ... 31

Tabel VI. Hasil uji organoleptis dan pH ... 34

Tabel VII. Sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) ... 35

Tabel VIII. Hasil scanning panjang gelombang maksimum asam tanat ... 42

Tabel IX. Kurva baku asam tanat ... 43

Tabel X. Hasil %CV kurva baku asam tanat ... 44

Tabel XI. Kadar tanin dalam ekstrak daun jambu biji ... 44

Tabel XII. Kadar tanin dalam gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) ... 45

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Struktur kulit ... 7

Gambar 2. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) ... 10

Gambar 3. Unit monomer asam akrilat dalam polimer carbopol ... 12

Gambar 4. Struktur gliserin ... 13

Gambar 5. Struktur propilen glikol ... 13

Gambar 6. Struktur trietanolamin ... 14

Gambar 7. Struktur metil paraben ... 14

(18)

xvii

Lampiran 4. Pengujian Sifat Fisis dan Stabilitas Gel Antioksidan

Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 61

Lampiran 5. Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Viskositas Gel

Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava

L.) ... 64

Lampiran 6. Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Pergeseran

Viskositas Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji

(Psidium guajava L.) ... 76

Lampiran 7. Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Daya Sebar Gel

Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava

L.) ... 78

Lampiran 8. Uji Iritasi Primer Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji

(Psidium guajava L.) ... 84

Lampiran 9. Optimasi Penetapan Kadar Tanin dalam Ekstrak dan

dalam Gel Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) ... 85

Lampiran 10. Kadar Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium

(19)

xviii

Lampiran 11. Kadar Tanin dalam Ekstrak Cair Daun Jambu Biji (Psidium

guajava L.) ... 92

Lampiran 12. Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Kadar Tanin

dalam Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium

guajava L.) ... 93

Lampiran 13. Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Perubahan Kadar

Tanin dalam Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji

(Psidium guajava L.) ... 105

(20)

xix

INTISARI

Penuaan dini merupakan permasalahan yang sering dihadapi wanita, terutama pada kalangan manusia usia produktif dan penyebab terjadinya penuaan dini adalah radikal bebas. Antioksidan digunakan untuk menangkap radikal bebas. Salah satu tanaman yang mempunyai aktivitas antioksidan yaitu daun jambu biji yang akan diformulasikan dalam bentuk gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan gliserin sebagai humectant terhadap sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.).

Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental murni. Gel antioksidan ekstrak daun jambu biji dibuat sebanyak 4 formula dengan konsentrasi gliserin 0%, 7,5%, 15%, dan 30%. Sifat fisis dilihat berdasarkan viskositas dan daya sebar. Stabilitas sediaan dilihat dari pergeseran viskositas dan perubahan kadar tanin. Analisis data menggunakan software R.3.1.0 untuk melihat signifikansi perbedaan dari data yang diperoleh.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi gliserin memberikan pengaruh terhadap viskositas dan daya sebar, serta tidak memberikan pengaruh terhadap stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium

guajava L.) selama empat minggu penyimpanan.

(21)

xx

ABSTRACT

Premature aging is a problem often faced by women, especially in their productive age. Premature aging is caused by free radical. Antioxidants are used to free radicals scavenging. One of the plants that has antioxidant activity is guava leaves, that will be formulated in gel form. The aim of this study was to determine the effect of the increase of glycerin concentration as humectant to physical properties and the stability of antioxidant gel guava leaves (Psidium guajava L.) extract.

The design of this study was purely experimental. Antioxidant gel guava leaves extract gel was made in 4 formulas with the glycerin concentration of 0%, 7,5%, 15%, and 30%. Physical properties of gel could be determined by its viscosity and spreadibility. The gel stability could be determined by the viscosity shift and the changes of tanin level. The data were analyzed by using R.3.1.0 software to determine the significance of the difference of the obtained data.

The result of this study showed the increase of glycerin concentration affect on the viscosity and spreadibility, but it didn’t affect on the stability of antioxidant gel guava leaves (Psidium guajava L.) extract.

(22)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Penuaan dini merupakan proses penuaan pada kulit yang lebih cepat dari

seharusnya, di mana penuaan dini menjadi permasalahan yang sering dihadapi

wanita, terutama pada kalangan wanita usia produktif. Penuaan dini ditandai

dengan kondisi kulit yang kering, kasar, bersisik disertai dengan keriput dan noda

hitam atau flek. Salah satu faktor penyebab terjadinya penuaan dini adalah adanya

radikal bebas (Swastika, Mufrod, dan Purwanto, 2013). Makanan instan, asap

rokok, pejanan UV, sinar elektromagnetik, radiasi rendah, polusi udara dari asap

kendaraan bermotor, dan obat-obat tertentu merupakan sumber pembentuk radikal

bebas (Jain, Kataria, dan Guruprasad, 2004).

Antioksidan digunakan untuk menangkap radikal bebas (Taurino,

Daneida, Anna, Sonia, Vanessa, Montserrat, et al, 2008). Antioksidan mampu

menghambat reaksi berantai radikal bebas dalam tubuh dengan cara

mendonasikan satu atau lebih elektronnya kepada senyawa oksidan untuk diubah

menjadi senyawa yang stabil (Kikuzaki, Hisamoto, Hirose, Akiyama, dan

Taniguchi, 2002). Sediaan kosmetik yang memiliki aktivitas antioksidan dapat

digunakan untuk mencegah dan memperbaiki dampak penuaan dini pada kulit

(Ardhie, 2011).

Daun jambu biji mengandung beberapa metabolit sekunder hasil dari

skrining fitokimia, salah satunya tanin. Tanin merupakan komponen utama dalam

(23)

astringen, antibakteri, antidiare, dan antioksidan (Desmiaty, Ratih, Dewi, dan

Agustin, 2008; Yuliani, Udarno, dan Hayani, 2003). Menurut Qian dan

Nihorimberre (2004) daun jambu biji menunjukkan potensi sebagai antioksidan

dengan menghambat dan mencegah terjadinya oksidasi, sedangkan pada

penelitian yang dilakukan Rusdiana, Boesro, dan Ade (2007), ekstrak daun jambu

biji (Psidium guajava L.) memiliki aktivitas antioksidan tergolong kuat dengan

IC50 sebesar 7,2 mg/100 mL. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam upaya

pemanfaatan daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang memiliki aktivitas

antioksidan akan diformulasikan dalam bentuk sediaan topikal semisolid.

Gel merupakan sediaan semisolid yang tersusun dari suatu suspensi

partikel organik dan partikel anorganik yang terpenetrasi oleh cairan (Ansel,

2005). Sediaan gel sering digunakan untuk berbagai macam sistem penghantaran

sediaan farmasi serta mengakomodasikan zat aktif yang digunakan. Sediaan gel

juga memiliki beberapa keuntungan seperti mudah mengering, memberi sensasi

dingin pada kulit karena mengandung banyak air, residu yang tidak meninggalkan

rasa lengket setelah pengaplikasian, absorpsi pada kulit lebih baik daripada krim

(Garg, Aggarwal, Garg, dan Singla, 2002; Voigt, 1994; Yahendri, 2012). Sediaan

gel dipilih karena memiliki daya penetrasi yang tinggi ke dalam kulit sehingga

dapat mencegah penuaan dini pada kulit (Allen, 2002).

Humectant merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh

terhadap sifat fisis dan stabilitas sediaan gel. Humectant berfungsi menjaga

kestabilan sediaan gel dengan menarik air dari lingkungan dan menjaga

(24)

humectant, di mana berasal dari lemak tumbuhan, sehingga aman digunakan pada

sediaan topikal. Gliserin digunakan sebagai humectantdengan konsentrasi ≤ 30%,

gliserin memiliki sifat higroskopis dan kental sehingga dapat mempengaruhi sifat

fisis dari sediaan (Rawling, Harding, Watkinson, Chandar dan Scott, 2002), maka

pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi gliserin untuk melihat pengaruh

gliserin sebagai humectant terhadap sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan

ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.).

1. Perumusan masalah

Apakah peningkatan konsentrasi gliserin sebagai humectant berpengaruh

terhadap sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium

guajava L.) selama 4 minggu penyimpanan ?

2. Keaslian penelitian

Sejauh penelusuran pustaka penulis, penelitian tentang “Pembuatan dan

Evaluasi Sediaan Topikal Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) dengan Gliserin sebagai Humectant belum pernah dilakukan. Adapun penelitian yang terkait adalah “Formulasi Gel Antioksidan dari Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) dengan Menggunakan Aquapec HV-505” yang dilakukan oleh Rusdiana dkk., (2007) dengan melakukan variasi ekstrak daun jambu biji dan propilen glikol sebagai enchancer.

Selain itu pada penelitian yang dilakukan Sukmawati, Arisanti, dan Wijayanti

(25)

PVA, HPMC, dan gliserin secara signifikan mempengaruhi sifat fisika seperti

viskositas dan daya sebar, sedangkan variasi konsentrasi gliserin secara signifikan

mempengaruhi waktu mengering dari sediaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Fachry, Arief, dan Guntur (2012)

:“Kondisi Optimal Proses Ekstraksi Tanin dari Daun Jambu Biji

Menggunakan Pelarut Etanol”, hasil penelitian diperoleh kondisi optimal proses ekstraksi tanin dari daun jambu biji dengan menggunakan etanol 96% pada

temperatur 50 0C selama waktu ekstraksi 150 menit.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis

Memberikan wawasan pengetahuan mengenai penggunaan gliserin

sebagai humectant dalam gel antioksidan ekstrak daun jambu biji

(Psidium guajava L.).

b. Manfaat praktis

Memberikan gambaran mengenai pengaruh peningkatan konsentrasi

gliserin sebagai humectant terhadap sifat fisis dan stabilitas gel

antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.). Penelitian ini

(26)

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peningkatan

konsentrasi gliserin sebagai humectant terhadap sifat fisis (viskositas dan daya

sebar) dan stabilitas (pergeseran viskositas dan perubahan kadar tanin) gel

(27)

6

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Antioksidan

Antioksidan merupakan senyawa yang melengkapi kekurangan elektron

yang dimiliki radikal bebas, sehingga reaksi berantai dari pembentukan radikal

bebas dapat dihambat (Winarsi, 2007). Selain itu, antioksidan juga dapat

memperlambat atau mencegah proses oksidasi di dalam tubuh (Quezada, Asencio,

Valle, dan Aguilera, 2004). Antioksidan diperlukan tubuh untuk menetralisir

radikal bebas sehingga mampu melindungi tubuh dari kerusakan stres oksidatif

dan menghambat terjadinya penyakit degeneratif. Secara alami, antioksidan

terdapat dalam tubuh dan dapat mengatasi efek radikal bebas. Tetapi jika jumlah

radikal bebas dalam tubuh terlalu banyak, maka diperlukan antioksidan yang

berasal dari luar tubuh (eksogen) untuk mengatasi kekurangan antioksidan

endogen tersebut (Kikuzaki et al., 2002; Sibuea, 2003).

Antioksidan berdasarkan sumber dibagi menjadi dua jenis, yaitu

antioksidan alami dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami (vitamin C,

flavonoid, polifenol, dan lain-lain) biasanya dapat diperoleh dari tumbuhan level

tinggi seperti buah-buahan, sayuran, dan teh (Sing, 2007). Antioksidan alami

tersebar di beberapa bagian tanaman seperti pada bagian kayu, kulit kayu, akar,

daun, bunga, biji, buah, dan serbuk sari (Sarastani, Suwarna, Apriyanto, 2002).

Sedangkan antioksidan sintetik (BHT, BHA, propil galat, butil-hidroksitoluen)

(28)

Uguz, Oktay, Beydemir, dan Kufrevioglu, 2004). Antioksidan alami menjadi

alternatif yang sangat dibutuhkan karena adanya kekhawatiran antioksidan sintetik

dapat menimbulkan toksisitas pada tubuh (Sunarni, 2005).

Antioksidan topikal digunakan untuk mencegah penuaan dan mediasi

kerusakan kulit oleh sinar UV. Antioksidan topikal harus dapat diabsorpsi ke

dalam kulit dan dihantarkan ke tempat aksi dalam bentuk aktif. Absorpsi dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kelarutan dalam air atau lemak, bentuk

molekul dalam komponen sediaan, pH, dan pembawa yang digunakan dalam

sediaan (Weisberg, 2002).

B. Kulit

Gambar 1. Struktur kulit (Brown dan Tony, 2002)

Kulit merupakan organ terluas yang terletak paling luar dan menutupi

seluruh permukaan tubuh, di mana di setiap bagian yang berbeda dari kulit

memiliki kekakuan yang bervariasi. Telapak kaki dan telapak tangan serta

sela-sela jari merupakan daerah yang paling kaku dan tebal. Struktur sel-sel pada kulit

wajah bersifat sangat tipis, sehingga memungkinkan sediaan kosmetik dapat

(29)

Kulit memiliki beberapa fungsi, dan fungsi utama kulit adalah sebagai

pengatur suhu tubuh dan sirkulasi kelembaban, serta sintesis vitamin B dan D

(Allen, 2002). Fungsi lain dari kulit sebagai pelindung tubuh dari pengaruh luar

baik secara fisik maupun imunologik. Selain itu kulit juga berperan penting dalam

interaksi antar individu dengan lingkungan, di mana kulit merupakan indera yang

sensitif terhadap sentuhan dan terkadang membuat perasaan emosional (Rawling

et al., 2002).

Kulit terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu :

1. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan dari kulit yang paling luar yang terdiri dari

banyak lapisan sel keratinosit yang aktif melakukan regenerasi dan menarik untuk

diperhatikan dalam perawatan kulit (Dwikarya, 2006). Lapisan epidermis tersusun

atas stratum corneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum,

dan stratum germinativum. Lapisan epidermis berfungsi sebagai proteksi barier,

sintesis vitamin D dan sitokin, pigmentasi, pembelahan dan mobilisasi sel

(Baumann dan Saghari, 2009).

2. Dermis

Lapisan dermis merupakan lapisan yang terletak di bawah lapisan

epidermis dan jauh lebih tebal daripada lapisan epidermis (Djuanda, Hamzah, dan

Aisah, 2003). Tersusun atas serabut kolagen dan elastin yang menentukan

elastisitas kulit (Dwikarya, 2006). Di dalam lapisan dermis terdapat

(30)

keringat, saluran keringat, ujung pembuluh darah dan ujung saraf (Tranggono dan

Fatma, 2007).

3. Hipodermis

Terdiri dari jaringan ikat longgar yang berisi sel-sel lemak di dalamnya

berfungsi sebagai cadangan makanan (Djuanda dkk., 2003). Lapisan hipodermis

sendiri berfungsi menunjang suplai darah ke lapisan dermis untuk regenerasi,

sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam.

Lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening

(Baumann et al., 2002).

C. Daun Jambu Biji

1. Klasifikasi tanaman

Klasifikasi tanaman jambu biji adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Sub Kingdom : Tracheobionta

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Magnoliophyta

(31)

2. Morfologi tanaman

Morfologi dari daun jambu biji seperti berikut berbentuk bundar telur

agak menjorong atau agak bundar sampai meruncing, pangkal membulat, tepi

rata, berhadapan, bertulang menyirip, berbintik, mempunyai warna daun hijau

kekuningan ataupun hijau, panjang helai daun 6 cm sampai 14 cm, dan lebar daun

3 cm sampai 6 cm, panjang tangkai 3 mm sampai 7 mm, daun yang muda berbulu

sedangkan daun yang tua permukaan atasnya menjadi licin (Syamsuhidayat dan

Hutapea, 1991).

Gambar 2. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) (Rahman, 2009).

3. Kandungan kimia

Daun jambu biji mengandung beberapa metabolit sekunder hasil dari

skrining fitokimia seperti tanin, polifenolat, flavanoid, monoterpenoid

siskuiterpen, alkaloid, kuinon, sapoin, kuarsetin, guayaverin, minyak atsiri, asam

malat, asam ursolat, dan asam oksalat (Sudarsono, Wahyuono, Donatus, dan

Purnomo, 2002 ; Rusdiana, dkk., 2007). Komponen utama dari daun jambu biji

yaitu tanin, di mana besarnya mencapai 9-12% (Yuliani dkk., 2003). Tanin

memiliki beberapa aktivitas seperti astringen, antibakteri, antidiare dan

(32)

4. Kajian farmakologis

Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, daun jambu biji telah

terbukti memiliki beberapa efek farmakologis, seperti antiinflamasi (Ojewole,

2006), antibakteri (Arima dan Danno, 2002; Rattanachaikunsopon dan

Phumkhachorn, 2007; Kamal, Rahul, Kumar, dan Lakshmi, 2008; Qadan,

Thewaini, Ali, Afifi, Elkhawad, dan Matalka, 2005), antidiabetes (Kamal et al.,

2008), antihipertensi (Ojewole, 2005), antioksidan (Qian dan Nihorimbere, 2004;

Chen dan Yen, 2007; Kamal et al., 2008), hepatoprotektif (Kamal et al., 2008).

Ekstrak daun jambu biji memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar

7,2 mg/100mL (Rusdiana dkk, 2007).

D. Gel

Gel merupakan sediaan semisolid yang tersusun dari suatu suspensi

partikel organik dan anorganik yang saling berikatan dan terpenetrasi oleh cairan

(Ansel, 2005). Untuk membuat sediaan gel, biasanya diperlukan beberapa

komponen seperti bahan pengembang, pelarut, penahan lembab, dan pengawet

(Barel, Paye, dan Maibach, 2001). Gel dikelompokkan dalam dua fase yaitu fase

tunggal dan fase ganda. Gel fase tunggal terdiri dari partikel organik yang tersebar

dalam suatu cairan sehingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul besar

yang terdispersi dan cairan, sedangkan gel fase ganda terdiri dari jaringan partikel

yang terpisah (Yanhendri, 2012).

Syarat sediaan gel dalam penggunaan dermatologi sebagai berikut

tiksotropik, mempunyai daya sebar yang baik, mudah dibersihkan, kompatibel

(33)

(Mohamed, 2004; Meenakshi, 2013). Bentuk sediaan gel memiliki beberapa

keuntungan di antaranya residu yang tidak meninggalkan rasa lengket setelah

diaplikasikan, gel akan segera mencair jika terjadi kontak dengan kulit dan

membentuk lapisan film yang mudah dicuci, bening, mudah mengering, absorpsi

pada kulit lebih baik daripada krim (Garg et al., 2002; Voigt, 1994; Yanhendri,

2012).

E. Bahan- Bahan yang Digunakan dalam Formulasi Gel

1. Carbopol

Pemerian dari carbopol adalah serbuk putih, higroskopis, asam, dan

sedikit berbau khas. Carbopol dalam formulasi sediaan semisolid digunakan

sebagai rheology modifier, serta dapat digunakan sebagai material bioadhesive,

controlled release agent, emulsifying agent, agen stabilitas, agen pensuspensi

(Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009).

Gambar 3. Unit monomer asam akrilat dalam polimer carbopol (Rowe et al., 2009)

Carbopol merupakan polimer sintesis dari asam akrilat (CH=COOH)

memiliki berat molekul tinggi dari ikatan silang asam akrilat dengan alil sukrosa

atau alil eter pentaerythritol. Carbopol mengandung 56-68% gugus asam

karboksilat, berat molekul secara teoritis diperkirakan antara 7x105 sampai 4x109,

memiliki kekentalan 40.000-60.000 cP, kejernihan sangat baik, serta efisiensi

(34)

2. Gliserin

Gliserin merupakan cairan jernih, kental, tidak berbau, tidak berwarna,

berasa manis, dan bersifat higroskopis. Gliserin memiliki bobot molekul 92,09

dan rumus empirik C3H8O3. Beberapa fungsi dari gliserin yaitu pengawet,

co-solvent, humectant, pelarut, emolien, penetration enhancer, dan bahan

pengisotonis. Gliserin stabil pada tekanan dan suhu yang normal. Campuran

gliserin dengan air, etanol 95%, dan propilen glikol secara kimiawi stabil. Gliserin

dalam sediaan topikal digunakan sebagai humectant yang dapat melembabkan

kulit dengan konsentrasi penggunaan gliserin kurang dari 30% (Vikas, Saini,

Singh, Rana dan Joshi, 2011; Rowe, et al., 2009).

Gambar 4. Struktur gliserin (Rowe et al., 2009)

3. Propilen glikol

Gambar 5. Struktur propilen glikol (Rowe et al., 2009)

Propilen glikol memiliki sifat jernih, tidak berwarna, manis, rasa khas,

praktis tidak berbau, kental, menyerap air pada udara lembab. Propilen glikol

dapat digunakan antara lain sebagai humectant, pelarut, kosolven larut air,

penstabil vitamin, pengawet dalam sediaan parenteral dan non parenteral (Rowe et

(35)

4. Trietanolamin

Trietanolamin memiliki sifat cairan kental jernih, memiliki sedikit bau

amonia, tidak berwarna sampai berwarna kuning pucat, sangat higroskopis,

memiliki pH 10,5 dalam 0,1 N larutan. Trietanolamin digunakan sebagai agen

pembasa terutama dalam sediaan topikal (Rowe et al., 2009). Trietanolamin

bersifat basa maka dapat digunakan untuk menetralisasi carbopol, di mana tidak

menimbulkan ancaman netralisasi berlebihan hingga berujung hilangnya

viskositas (Osborne dan Amann, 1990).

Gambar 6. Struktur trietanolamin (Rowe et al., 2009)

5. Metil paraben

Nama kimia dari metil paraben adalah methyl-4-hydroxybenzoate. Metil

paraben berbentuk kristal, tidak berbau, memiliki rasa sedikit terbakar, dan

berwarna putih. Konsentrasi penggunaan yang umum digunakan dalam sediaan

topikal yaitu 0,02 - 0,3%. Metil paraben larut dalam air panas 800C (1:30), eter

(1:10), metanol, dan etanol 95%. Metil paraben digunakan sebagai antimikroba

dalam kosmetik, formulasi farmasetika, dan produk makanan (Rowe et al, 2009).

(36)

Metil paraben merupakan paraben paling kecil aktivitasnya, memiliki

aktivitas antimikroba pada pH 4-8, di mana aktivitas antimikroba dari metil

paraben akan meningkat dengan peningkatan panjang rantai alkil. Selain itu

dengan menggunakan kombinasi paraben dapat meningkatkan aktivitas

antimikroba dari metil paraben (Rowe et al., 2009).

6. Aquadest

Aquadest merupakan cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak

mempunyai rasa dan memiliki pH 5-7. Rumus kimia dari aquadest adalah H2O

dengan berat molekul sebesar 18.02. Aquadest dibuat dengan menyuling air yang

memenuhi persyaratan dan tidak mengandung zat tambahan lain. Fungsi dari

aquadest sebagai pelarut (Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI,

1995).

F. Sifat Fisis dan Stabilitas Gel

1. Viskositas

Viskositas adalah suatu ukuran tahanan suatu cairan untuk mengalir, di

mana semakin tinggi viskositas, semakin besar pula tahanannya, sehingga

semakin besar energi yang dibutuhkan untuk membuat cairan tersebut mengalir

pada kecepatan tertentu (Sinko, 2006). Peningkatan viskositas akan menurunkan

daya sebar dan menaikkan waktu retensi pada tempat aksi. Viskositas merupakan

salah satu parameter penting pada sediaan semisolid, karena menentukan lama

tinggal sediaan di kulit, sehingga obat dapat dihantarkan dengan baik. Pengukuran

viskositas menjadi tahap penting yang harus dilakukan untuk mengetahui sifat alir

(37)

diaplikasikan dengan baik. Pengujian viskositas dapat diukur dengan

menggunakan berbagai jenis viskometer berdasarkan kebutuhan formulator (Garg

et al., 2002 ; Herh, Tkachul, Wu, Bernzen dan Rudolph, 1998).

2. Daya sebar

Daya sebar adalah kemampuan dari suatu sediaan untuk menyebar di

tempat aplikasi di mana sediaan tersebut diaplikasikan pada daerah tertentu. Daya

sebar merupakan aspek yang bertanggung jawab terhadap penerimaan konsumen

dalam penggunaan suatu sediaan, untuk menghantarkan dosis obat yang tepat

pada tempat target, serta kemudahan untuk pengaplikasian dan dikeluarkan dari

kemasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya sebar dari suatu sediaan antara

lain : rigiditas, suhu pada tempat aksi, viskositas, laju penguapan pelarut, dan

lama tekanan. Daya sebar dan viskositas memiliki hubungan yang bertolak

belakang, di mana viskositas meningkat akan menurunkan daya sebar dan

begitupun sebaliknya (Garg, et al., 2002).

Metode pelat sejajar (parallel-plate method) merupakan metode yang

sering digunakan dalam penentuan dan pengukuran daya sebar pada sediaan

semisolid. Keuntungan dari metode ini adalah sederhana, tidak memerlukan

banyak biaya, mudah untuk dilakukan. Namun di sisi lain, metode ini juga

memiliki kerugian seperti kurang presisi, sensitif dan data yang didapat harus

(38)

3. Pergeseran viskositas

Perubahan viskositas selama penyimpanan menjadi perhatian utama,

karena viskositas mempengaruhi stabilitas dan karakteristik dari suatu sediaan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan viskositas antara lain agregasi

partikel yang tidak tergantung pada kandungan polimer, meskipun polimer dapat

mengurangi kecepatan perubahan ukuran partikel, dan bahan-bahan yang dapat

meningkatkan viskositas atau interaksi bahan tersebut dengan sistem dispersi

(Zatz dan Kushla, 1996).

G. Landasan Teori

Penuaan dini dapat disebabkan oleh radikal bebas yang berasal baik dari

luar maupun dalam tubuh. Antioksidan digunakan untuk menangkap radikal

bebas. Salah satu tanaman yang mempunyai aktivitas antioksidan yaitu daun

jambu biji. Menurut Qian dan Nihorimberre (2004) daun jambu biji menunjukkan

potensi aktivitas sebagai antioksidan dengan menghambat dan mencegah terjadi

oksidasi, sedangkan pada penelitian Rusdiana dkk., (2007) ekstrak daun jambu

biji (Psidium guajava L.) memiliki aktivitas antioksidan tergolong kuat dengan

IC50 sebesar 7.2 mg/100 mL.

Gel merupakan sediaan semisolid yang tersusun dari suatu suspensi

partikel organik dan partikel anorganik yang terpenetrasi dalam cairan. Sediaan

gel memiliki beberapa keuntungan seperti mudah mengering, memberi sensasi

dingin pada kulit karena mengandung banyak air, residu yang tidak meninggalkan

rasa lengket setelah pengaplikasian, absorpsi pada kulit lebih baik daripada krim,

(39)

memiliki daya penetrasi tinggi ke dalam kulit sehingga dapat mencegah penuaan

dini.

Formulasi sediaan gel terdapat humectant sebagai salah satu komponen

penyusun dari sediaan gel, selain bahan pengembang, pengawet, dan pelarut.

Humectant merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap sifat fisis dan

stabilitas sediaan gel. Humectant berfungsi menjaga kestabilan dari sediaan

dengan menarik air dari lingkungan. Gliserin dapat digunakan sebagai humectant

dengan konsentrasi ≤ 30%. Selain sebagai humectant, gliserin juga dapat

digunakan sebagai emolien, penetration enchancer, co-solvent, dan bahan

pengisotonis. Pada penelitian ini digunakan gliserin sebagai humectant dengan

variasi konsentrasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat fisis dan

stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) selama 4

minggu penyimpanan.

Pengaruh peningkatan konsentrasi gliserin terhadap sifat fisis dan

stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) dianalisis

statistik menggunakan software R 3.1.0. Sifat fisis dilihat dari daya sebar dan

viskositas. Sedangkan stabilitas dilihat dari pergeseran viskositas dan perubahan

(40)

H. Hipotesis

Peningkatan konsentrasi gliserin sebagai humectant memberikan

pengaruh terhadap sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji

(41)

20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian eksperimental murni.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas pada penelitian ini adalah penggunaan gliserin sebagai

humectant dalam formula gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium

guajava L.) dengan konsentrasi 0%, 7,5%, 15%, dan 30%.

2. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah sifat fisis (organoleptis, pH,

daya sebar dan viskositas) dan stabilitas (pergeseran viskositas dan perubahan

kadar tanin) gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.)

setelah 4 minggu penyimpanan, dan uji iritasi.

3. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah alat dan bahan yang

digunakan, lama pengadukan, kecepatan pengadukan, prosedur pembuatan

dan pengujian, lama penyimpanan, kondisi penyimpanan.

4. Variabel pengacau tak terkendali pada penelitian ini adalah suhu dan

kelembaban udara ruangan selama pembuatan dan pengujian, suhu

penyimpanan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.),

serta subyektifitas penulis dalam pengamatan reaksi iritasi hewan uji.

C. Definisi Operasional

1. Gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) adalah sediaan

(42)

humectant yang sesuai dengan formula dan prosedur pembuatan penelitian

ini.

2. Ekstrak daun jambu biji adalah ekstrak kering hasil dari daun jambu biji yang

diperoleh dari PT. Industri Jamu Borobudur Semarang.

3. Ekstrak cair adalah ekstrak yang digunakan pada penelitian ini didapat dari 20

gram ekstrak daun jambu biji yang didispersikan dalam 100 mL etanol yang

dipanaskan selama 150 menit pada suhu 500C, kemudian disaring

menggunakan corong Buchner dengan bantuan pompa vakum.

4. Humectant adalah salah satu faktor yang mempengaruhi sifat fisis dan

stabilitas dari sediaan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium

guajava L.). Humectant yang digunakan pada penelitian ini adalah gliserin.

5. Sifat fisis adalah parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas dari

gel antioksidan ekstrak daun jambu bijimeliputi daya sebar dan viskositas.

6. Stabilitas gel ditentukan dari besarnya nilai pergeseran viskositas dari 48 jam

setelah pembuatan dan 4 minggu penyimpanan yaitu kurang dari 10%, serta

perubahan kadar tanin selama 4 minggu penyimpanan.

7. Kadar tanin adalah presentase kadar dalam ekstrak dan gel antioksidan

ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.).

D. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun jambu

biji yang diperoleh dari PT. Industri Jamu Borobudur Semarang (Lampiran 1),

carbopol 940 (kualitas farmasetis), propilen glikol (kualitas farmasetis), gliserin

(43)

(Farmasi Sanata Dharma), etil asetat (kualitas teknis), natrium karbonat (Merck),

asam tanat (Merck), asam fosfomolibdat (Merck), natrium wolframat (Merck),

asam fosfat (Merck), gelatin (Merck), asam klorida (kualitas teknis), natrium

klorida (Merck), reagen FeCl3, dan kelinci.

E. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas

(Pyrex-Germany), timbangan analitik (Mettler Toledo), spektrofotometer UV-Vis

OPTIMA SP-3000 plus, sonikator, waterbath (Tamson Zoetermeer- Holand 1985

0023), viskometer seri VT 04 (Rion-Japan), alat pengukur daya sebar, hot plate

magnetic stirer, mixer (Miyako), pH universalstick,, corong pisah, pipet volume,

glassfirn, pompa vakum, corong Buchner, dan alat pengukur bulu kelinci.

F. Tata Cara Penelitian

1. Identifikasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Ekstrak daun jambu biji diperoleh dari PT. Industri Jamu Borobudur

Semarang dan telah diuji identitasnya, dibuktikan dengan Certificate of

Analysis.

2. Identifikasi Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Secara Kualitatif

Ekstrak daun jambu biji ditambah dengan gelatin dan FeCl3.

Penambahan gelatin jika positif tanin terdapat endapan putih, sedangkan

penambahan FeCl3 jika positif tanin terbentuk kompleks berwarna hitam

(44)

3. Pembuatan Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

a. Formula

Formula yang digunakan mengacu pada International Journals

of Pharmaceutical Compounding dengan judul Gel Compounding dalam

Maheswara (2010). Formula yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tabel I. Formula yang diacu

Formula Standar (Maheswara, 2010) Formula Modifikasi R/ Carbopol 0,5 g

Tabel II. Formula yang digunakan

Bahan F1(g) F2 (g) F3 (g) F4 (g)

b. Pembuatan gel antioksidan gel ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava

L.)

Carbopol 940 dikembangkan dalam aquadest dengan

menaburkan carbopol di atas aquadest (campuran 1). Pengembangan

dilakukan selama 24 jam. Dilarutkan ekstrak dengan propilen glikol,

kemudian diaduk dengan mixer sebentar baru ditambahkan gliserin

(45)

Setelah itu ditambahkan campuran (1) dan TEA ke dalam campuran (2)

diaduk dengan mixer selama 3 menit.

4. Uji Sifat Fisis Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava

L.)

a. Uji organoleptis dan pH

Uji organoleptis dilakukan dengan cara mengamati warna, bau

dan bentuk setelah 48 jam gel selesai dibuat. Pengujian pH dilakukan

dengan pH universal stick dengan cara memasukkan ke dalam gel dan

membandingkan warna dengan standar. Nilai pH yang diinginkan adalah

rentang pH 5-6, yaitu pH yang tidak mengiritasi kulit.

b. Uji daya sebar

Gel sebanyak 1 gram ditimbang, diletakkan di bagian tengah

kaca bulat berskala. Di atas gel diletakkan kaca bulat lainnya ditambahkan

dengan pemberat sehingga total berat di atas gel 125 gram, didiamkan

selama 1 menit dan dicatat diameter penyebarannya dari empat bagian

sisi. Pengujian daya sebar dilakukan setelah 48 jam gel selesai dibuat dan

dilakukan sebanyak 3 kali replikasi.

c. Uji viskositas

Uji viskositas dilakukan 48 jam setelah pembuatan dan 4

minggu penyimpanan, serta dilakukan sebanyak 3 kali replikasi.

Masing-masing formula gel ditentukan viskositasnya dengan menggunakan alat

(46)

gerakan jarum penunjuk viskositas, dan ukuran rotor yang digunakan

adalah skala dua.

5. Uji Iritasi Primer Draize Test

Uji iritasi primer yang dilakukan menggunakan metode Draize Test

dengan dua ekor kelinci. Cara : sejumlah 0,5 gram gel ekstrak daun jambu

biji dioleskan pada kulit punggung kelinci seluas 2,5 cm x 2,5 cm yang telah

dicukur, kemudian olesan tersebut ditutup dengan kasa steril. Pengamatan

dilakukan pada interval waktu 24 jam, 48 jam, dan 72 jam dengan

mengamati apakah terdapat eritema dan edema yang timbul setelah

pemaparan (Deveda, Jain, Vyas, Khambete, dan Jain, 2010).

6. Penetapan Kadar Tanin dalam Ekstrak dan dalam Gel Antioksidan Ekstrak

Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Spektrofotometri

Ultraviolet-Visibel

a. Larutan standar asam tanat

Sebanyak lebih kurang 5 mg asam tanat ditimbang dan

dilarutkan dengan aquabidestillata dalam labu ukur 50,0 mL sehingga

didapatkan konsentrasi sebesar 100 µg/mL. Larutan standar ini harus

selalu dibuat baru setiap kali akan melakukan pengujian.

b. Penetapan operating time (OT)

Tiga seri larutan baku asam tanat dibuat dari larutan standar

asam tanat 100 µg/mL dengan mengambil masing-masing sebanyak 5,0;

7,0; 9,0 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 mL kemudian

(47)

didapatkan konsentrasi sebesar 50, 70, dan 90 µg/mL. Sebanyak 1,0 mL

dari masing-masing konsentrasi 50, 70, dan 90 µg/mL dimasukkan dalam

labu ukur 10,0 mL ditambahkan 1,0 mL larutan Na2CO3 jenuh dan 0,5 mL

pereaksi Folin denis, kemudian diencerkan dengan aquabidestillata

hingga tanda. Larutan dihomogenkan dan diukur serapannya

menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 760 nm

selama 30 menit setiap 5 menit.

c. Penetapan panjang gelombang maksimum

Tiga seri larutan baku asam tanat dibuat dari larutan standar

asam tanat 100 µg/mL dengan mengambil masing-masing sebanyak 5,0;

7,0; 9,0 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 mL kemudian

diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda batas sehingga

didapatkan konsentrasi sebesar 50, 70, dan 90 µg/mL. Sebanyak 1,0 mL

dari masing-masing konsentrasi 50, 70, dan 90 µg/mL, dimasukkan dalam

labu ukur 10,0 mL ditambahkan 1,0 mL larutan Na2CO3 jenuh dan 0,5 mL

pereaksi Folin denis, kemudian diencerkan dengan aquabidestillata

hingga tanda. Larutan dihomogenkan dan diukur serapan dengan

spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 600-800 nm setelah

operating time tercapai.

d. Pembuatan kurva baku asam tanat

Enam seri larutan baku asam tanat dibuat dari larutan standar

asam tanat 100 µg/mL dengan mengambil masing-masing sebanyak 4,0;

(48)

kemudian diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda batas

sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 40, 50, 60, 70, 80, dan 90

µg/mL. Sebanyak 1,0 mL dari masing-masing seri larutan baku asam

tanat diambil dan dimasukkan dalam labu ukur 10,0 mL ditambahkan 1,0

mL larutan Na2CO3 jenuh dan 0,5 mL pereaksi Folin denis, kemudian

diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda. Larutan dihomogenkan

dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dan setelah

operating time tercapai.

e. Penetapan kadar tanin ekstrak daun jambu biji

Sebanyak lebih kurang 10 mg ekstrak daun jambu biji ditimbang

dan dilarutkan dengan aquabidestillata kemudian dimasukkan dalam labu

ukur 50,0 mL, diencerkan hingga tanda sehingga didapat konsentrasi 200

µg/mL. Larutan diultrasonikasi selama 15 menit. Sebanyak 1,0 mL

larutan ekstrak daun jambu biji dimasukkan dalam labu ukur 10,0 mL

ditambahkan 1,0 mL larutan Na2CO3 jenuh dan 0,5 mL pereaksi Folin

denis, kemudian diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda.

Larutan dihomogenkan dan diukur serapannya pada panjang gelombang

maksimum dan setelah operating time tercapai, kemudian direplikasi

sebanyak 3 kali. Dihitung dengan menggunakan persamaan kurva baku

yang didapat sehingga diketahui kadar tanin dari ekstrak daun jambu biji

(49)

f. Penetapan kadar tanin gel ekstrak daun jambu biji

Sebanyak lebih kurang 3 g gel ekstrak daun jambu biji

ditimbang dan dilarutkan dengan 5 mL HCl 1M, kemudian dimasukkan

dalam corong pisah. Etil asetat ditambahkan sebanyak 10 mL, digojog

sampai terbentuk dua fase. Fase etil asetat ditampung, fase air diekstraksi

lagi dengan ditambahkan etil asetat sebanyak 10 mL. Hasil fase etil asetat

yang pertama dan kedua digabung dimasukkan dalam corong pisah

ditambah NaCl 5% sebanyak 10 mL, dan digojog sampai terbentuk dua

fase, fase etil asetat ditampung. Fase etil asetat kemudian diuapkan

dengan waterbath untuk menghilangkan etil asetat. Ekstrak kering

dilarutkan dengan aquabidestillata dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0

mL. Diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda.

Sebanyak 1,0 mL dimasukkan dalam labu ukur 10,0 mL

ditambahkan 1,0 mL larutan Na2CO3 jenuh dan 0,5 mL pereaksi Folin

denis, kemudian diencerkan dengan aquabidestillata hingga tanda.

Larutan dikocok dan diukur serapannya pada panjang gelombang

maksimum setelah operating time tercapai, kemudian direplikasi

sebanyak 3 kali untuk masing-masing formula. Dihitung dengan

persamaan kurva baku yang didapat sehingga diketahui kadar tanin dari

(50)

G. Analisis Hasil

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sifat fisis dan stabilitas

gel antioksidan ekstrak daun jambu biji dengan adanya peningkatan konsentrasi

gliserin. Data sifat fisis meliputi daya sebar dan viskositas 48 jam setelah

pembuatan, serta viskositas 4 minggu penyimpanan, sedangkan stabilitas berupa

pergeseran viskositas dan perubahan kadar tanin. Data yang diperoleh, selanjutnya

dianalisis menggunakan software R versi 3.1.0. untuk melihat signifikansi

perbedaan dari data yang diperoleh.

Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk dilakukan untuk data daya

sebar 48 jam, viskositas 48 jam, viskositas 4 minggu penyimpanan, kadar tanin 48

jam, dan kadar tanin 4 minggu penyimpanan. Data dikatakan terdistribusi normal

apabila p-value > 0,05. Kemudian dilanjutkan dengan uji Levene’s Test, jika

-value > 0,05 maka data dikatakan memiliki kesamaan varians.

Untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi gliserin terhadap sifat

fisis, dilakukan analisis statistik menggunakan ANAVA satu arah dengan taraf

kepercayaan 95%, dan dilanjutkan uji post hoc menggunakan uji T tidak

berpasangan untuk mengetahui signifikansi perbedaan sifat fisis dari 4 formula gel

antioksidan ekstrak daun jambu biji. Hasil uji post hoc menggunakan T tidak

berpasangan dikatakan data dua kelompok berbeda signifikan bila p-value < 0,05.

Untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi gliserin terhadap stabilitas

sediaan (pergeseran viskositas dan perubahan kadar tanin), digunakan uji T

berpasangan. Data antar dua kelompok yang dibandingkan dikatakan berbeda

(51)

Selain data-data di atas, data iritasi primer dapat dijadikan data

pendukung dalam penelitian ini. Data iritasi primer didapatkan dengan

pengamatan secara visual, ditentukan terjadinya eritema dan edema diberi skor

menggunakan Tabel III dan Tabel IV digunakan untuk menunjukkan kriteria

iritasi menggunakan persamaan.

Tabel III. Sistem klasifikasi untuk reaksi kulit (Benson dan Watkinson, 2012)

Reaksi eritema Skor

Tidak ada eritema 0

Eritema yang sangat ringan (hampir tidak kelihatan) 1 Eritema yang dapat didefinisikan dengan baik atau cukup 2 Eritema sedang hingga berat 3 Eritema berat (beet redness) sampai pembentukan sedikit eschar

(luka mendalam)

4

Reaksi edema Skor

Tidak ada edema 0

Edema sangat ringan (hampir tidak kelihatan) 1 Erema ringan (area meluas dengan peningkatan tertentu) 2 Edema sedang (meluas >1mm) 3 Edema berat (meluas >1mm dan meluas sampai ke area di luar

paparan)

4

Total skor yang mungkin untuk iritasi primer 8

Indeks iritasi primer untuk sediaan juga dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Indeks iritasi primer = Σ eritema 24,48,72 jam + Σ edema 24,48,72 jam

jumlah hewan uji

Tabel IV. Interpretasi nilai Primary Irritation Index (PII) (Benson dan Watkinson, 2012)

(52)

31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Identifikasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Identifikasi bertujuan untuk memastikan kebenaran identitas ekstrak daun

jambu biji yang akan digunakan. Ekstrak daun jambu biji yang digunakan berasal

dari PT. Industri Jamu Borobudur Semarang yang telah melalui uji identifikasi

dan dibuktikan dengan Certificate of Analysis (CoA) (Lampiran 1). Ekstrak daun

jambu biji yang diperoleh berbentuk serbuk halus, berwarna coklat tua, bau

aromatik, dan rasa pahit. Ekstrak daun jambu biji menunjukkan kesesuaian

dengan Certificate of Analysis (CoA) (Lampiran 1), sehingga dapat disimpulkan

bahwa ekstrak daun jambu biji dari PT. Industri Jamu Borobudur Semarang

adalah benar ekstrak daun jambu biji.

B. Identifikasi Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Secara Kualitatif

Untuk mengetahui ada tidaknya kandungan tanin dalam ekstrak daun

jambu biji maka dilakukan secara kualitatif menggunakan gelatin dan FeCl3. Hasil

yang diperoleh menunjukkan adanya tanin pada sampel.

Tabel V. Hasil uji kualitatif tanin

Sampel Jenis Pereaksi Hasil + NaCl + gelatin + NaCl + FeCl3

Asam tanat Endapan putih Hitam kebiruan + Ekstrak daun jambu biji Endapan putih Hitam kebiruan +

Keterangan : + menunjukkan adanya tanin pada sampel

Menurut Robinson (1995) adanya endapan putih karena sifat tanin yang

(53)

32

berwarna hitam kebiruan karena gugus fenol dari struktur tanin berikatan dengan

FeCl3.

C. Pembuatan Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Pada penelitian ini, daun jambu biji diformulasikan dalam sediaan gel

dengan variasi peningkatan konsentrasi gliserin untuk melihat pengaruhnya

terhadap sifat fisis dan stabilitas, yang meliputi viskositas dan daya sebar. Faktor

yang menjadi perhatian pada pembuatan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji

ini adalah humectant yang digunakan, di mana humectant merupakan bagian yang

sangat berpengaruh terhadap kualitas fisis dari sediaan gel. Penelitian ini

menggunakan gliserin sebagai humectant. Humectant menjaga kestabilan gel

terutama saat penyimpanan dengan cara mengabsorbsi air dari lingkungan dan

penguapan air dari sediaan. Selain sebagai humectant, gliserin dapat berfungsi

sebagai emolien, meningkatkan elastisitas kulit serta memperbaiki kelembutan

sediaan sehingga lebih nyaman untuk digunakan.

Gelling agent yang digunakan pada formula gel ini adalah carbopol 940

dengan konsentrasi 1%, di mana termasuk dalam rentang konsentrasi yang biasa

digunakan sebagai gelling agent yaitu 0,5 - 2 %. Carbopol 940 memiliki beberapa

kelebihan seperti aman dan efektif, tidak mempengaruhi efek biologis zat aktif,

dan sifat thickening yang sangat baik sehingga banyak digunakan dalam produk

topikal (Hosmani, Thorat, Katsure, 2006). Carbopol dengan konsentrasi 1% b/v

(54)

sehingga perlu ditambahkan basa amin untuk menaikkan pH sediaan agar didapat

pH 5 – 6,5, dimana merupakan rentang pH kulit.

Basa amin yang digunakan adalah trietanolamin (TEA). Penambahan

trietanolamin untuk menetralkan sifat asam dari carbopol sehingga dapat

membantu carbopol 940 untuk uncoiled. Mekanisme carbopol 940 untuk uncoiled

adalah penetralan gugus asam karboksilat pada rantai polimer yang

mengakibatkan terbentuknya muatan negatif di sepanjang rantai polimernya.

Adanya gaya tolak-menolak antar muatan negatif menyebabkan carbopol 940

benar-benar uncoiled ke dalam struktur yang lebih luas, sedangkan rantai carbopol

940 tetap terjalin satu sama lain menghasilkan matrik tiga dimensi yang

membentuk gel yang sangat kental dalam waktu seketika (Suhaime, Tripathy,

Mohammed, dan Majeed, 2012).

Pada penelitian ini ekstrak daun jambu biji yang digunakan sebanyak 3

gram ekstrak cair. Propilen glikol pada formula ini digunakan sebagai enhancer

dengan konsentrasi 5%. Karena gel yang dibuat termasuk hidrogel yang sebagian

besar mengandung air sehingga rentan dengan pertumbuhan mikroba maka

ditambahkan metil paraben sebagai pengawet. Metil paraben yang digunakan

sebanyak 0,1% dan masih diperbolehkan dalam kosmetik, berdasarkan keputusan

Badan POM No. HK. 00.05.4.1745. Gel antioksidan esktrak daun jambu biji

dibuat dengan bantuan mixer untuk mencampurkan massa gel dengan

bahan-bahan lain dalam formula menggunakan kecepatan putar skala satu selama 3

menit, karena dengan kecepatan putar rendah dan waktu pengadukan yang singkat

(55)

D. Uji Sifat Fisis Gel Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Uji sifat fisis dilakukan untuk menjamin kualitas dari sediaan yang telah

dibuat serta mendapatkan suatu sediaan yang memenuhi syarat sediaan yang baik,

Uji sifat fisis yang dilakukan meliputi organoleptis, pH, daya sebar dan viskositas.

Uji sifat fisis dilakukan 48 jam setelah pembuatan. Hal ini dimaksudkan bahwa

waktu setelah 48 jam gel telah membentuk sistem yang stabil, di mana

matrik-matrik penyusun gel sudah menempati posisinya tanpa dipengaruhi oleh energi

dan gaya geser selama proses pembuatan sehingga tidak mempengaruhi hasil

pengujiannya.

1. Uji organoleptis dan pH

Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati warna dan bau dari

sediaan gel 48 jam setelah pembuatan dan 4 minggu penyimpanan, serta

dilakukan uji pH menggunakan pH universalstick.

Tabel VI. Hasil uji organoleptis dan pH

Kriteria 48 jam jam setelah pembuatan 4 minggu penyimpanan

F1 F2 F3 F4 F1 F2 F3 F4

Warna coklat coklat coklat coklat coklat coklat coklat coklat Bau khas khas khas khas khas khas khas khas

pH 6 6 6 6 6 6 6 6

Keterangan : F1 (Gliserin 0%), F2 (Gliserin 7,5%), F3 (Gliserin 15%), F4 (Gliserin 30%)

Berdasarkan Tabel VI, hasil uji organoleptis dan uji pH 48 jam

setelah pembuatan dan 4 minggu penyimpanan, tidak mengalami perubahan

dari warna, bau dan pH. pH dari sediaan gel antioksidan ekstrak daun jambu

biji memenuhi pH kulit yaitu antara 4 – 6,5, sehingga sediaan yang dibuat

(56)

Tabel VII. Sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.)

Formula Viskositas (d.Pa.s) Pergeseran Viskositas (%)

Pengujian viskositas dilakukan untuk melihat tahanan sediaan gel

untuk mengalir, di mana semakin besar viskositas, maka sediaan gel semakin

sulit mengalir karena semakin besar tahanannya. Besarnya suatu viskositas

tergantung pada tujuan penggunaan sediaan tersebut. Pada penelitian ini

sediaan ditujukan untuk melindungi kulit dari radikal bebas, maka diperlukan

sediaan yang mampu bertahan lama di kulit sehingga menghasilkan efek yang

diinginkan. Hal tersebut terkait dengan viskositas dan daya lekat dari sediaan

yang dibuat, semakin besar viskositas, maka semakin lama daya lekat sediaan

pada kulit.

Viskositas merupakan karakteristik yang penting karena

mempengaruhi pelepasan zat aktif dari sediaan, pengemasan, penyimpanan,

dan aplikasi sediaan pada kulit. Viskositas sediaan gel sebaiknya tidak terlalu

kental dan terlalu encer. Apabila viskositasnya terlalu kental maka akan sulit

diaplikasikan pada kulit secara merata, begitupun sebaliknya viskositas

terlalu encer maka saat diaplikasikan pada kulit waktu kontak gel dengan

(57)

Viskositas yang diinginkan pada penelitian ini adalah 200 - 300

d.Pa.s. Dari Tabel VII diketahui bahwa formula 1 tidak masuk dalam range

viskositas, yaitu 200-300 d.Pa.s., hal ini terjadi karena pada formula 1 tidak

digunakan gliserin. Data viskositas yang didapat kemudian dilakukan uji

statistik untuk mengetahui apakah peningkatan konsentrasi gliserin memberi

pengaruh signifikan terhadap viskositas gel antioksidan ekstrak daun jambu

biji. Pertama-tama dilakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk

untuk melihat apakah data viskositas terdistribusi normal atau tidak. Hasil

yang didapat semua formula memiliki p-value > 0,05 sehingga data viskositas

terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji Levene’s test, hasil didapatkan

Pr(>F) > 0,05 sehingga disimpulkan bahwa data viskositas memiliki

kesamaan varians.

Untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi gliserin terhadap

peningkatan viskositas maka akan dianalisis statistik menggunakan ANAVA

dengan uji T tidak berpasangan sebagai uji post hoc. Hasil didapatkan terjadi

peningkatan viskositas secara signifikan dengan adanya peningkatan

konsentrasi gliserin. Gliserin sebagai humectant dapat meningkatkan

viskositas dari sediaan karena gliserin mampu mengikat air sehingga cairan

tersebut tertahan dan diikat oleh gelling agent. Hal tersebut meningkatkan

ukuran molekul dari gelling agent dan menyebabkan terjadinya peningkatan

tahanan untuk mengalir (Martin, Swarbrick, dan Cammarata, 1993).

Pengukuran viskositas dilakukan kembali setelah 4 minggu

(58)

diinginkan adalah kurang dari 10%. Pada Tabel VII semua formula

memenuhi syarat pergeseran viskositas kurang dari 10% sehingga dapat

disimpulkan bahwa keempat formula memiliki stabilitas yang baik.

3. Uji daya sebar

Pengujian daya sebar dilakukan untuk mengetahui kemampuan

sediaan menyebar secara merata pada kulit saat diaplikasikan. Pengujian daya

sebar penting dilakukan terkait kemudahan aplikasi, penghantaran obat ke

tempat aksi, ekstrudabilitas gel dari kemasan, serta penerimaan oleh

konsumen (Garg et al., 2002). Menurut Garg et al. (2002) daya sebar

berbanding terbalik dengan viskositas, semakin besar viskositas maka daya

sebar semakin rendah, dan begitupun sebaliknya semakin rendah viskositas

maka daya sebar semakin tinggi.

Pengujian daya sebar dilakukan pada 1 gram gel pada kaca bulat

berskala yang diberi beban 125 gram dan didiamkan selama 1 menit. Daya

sebar dihitung dari rata-rata diameter terpanjang dari empat sisi. Gel yang

baik memiliki nilai daya sebar yang tidak terlalu besar maupun terlalu kecil.

Apabila daya sebar terlalu besar maka penggunaan sediaan menjadi tidak

efektif pada tempat pengaplikasian karena akan menyebar ke bagian lainnya,

sedangkan jika daya sebar terlalu kecil maka akan menemui kesulitan saat

mengaplikasikan karena sediaan akan sulit menyebar secara merata di kulit.

Daya sebar yang diinginkan pada penelitian ini adalah 3-5 cm. Dari

(59)

daya sebar, yakni antara 3-5 cm, di mana diameter daya sebar kurang dari 5

cm gel bersifat semistiff (semi kaku). Data daya sebar yang didapat kemudian

dilakukan uji statistik untuk mengetahui apakah peningkatan konsentrasi

gliserin memberi pengaruh signifikan terhadap daya sebar gel ekstrak daun

jambu biji. Pertama-tama dilakukan uji normalitas menggunakan uji

Shapiro-Wilk untuk melihat apakah data daya sebar terdistribusi normal atau tidak.

Hasil dari uji Shapiro-Wilk didapatkan bahwa p-value > 0,05 sehingga

disimpulkan semua data daya sebar terdistribusi normal. Selanjutnya

dilakukan uji Levene’s test, hasil didapatkan Pr(>F) 0,8213 sehingga

disimpulkan bahwa data daya sebar memiliki kesamaan varians.

Untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi gliserin terhadap

penurunan daya sebar maka akan dianalisis statistik menggunakan ANAVA

dengan uji T tidak berpasangan sebagai uji post hoc. Hasil yang didapat

peningkatan gliserin memberikan pengaruh signifikan terhadap daya sebar.

Hal tersebut sesuai teori di mana nilai daya sebar berbanding terbalik dengan

nilai viskositas sediaan. Semakin tinggi konsentrasi gliserin yang

ditambahkan dalam formula maka viskositas semakin besar dan daya sebar

semakin kecil, begitupun sebaliknya semakin rendah konsentrasi gliserin

maka viskositas semakin rendah dan daya sebar semakin besar.

E. Uji Iritasi Primer Draize Test

Uji iritasi primer dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keamanan

(60)

Iritasi primer adalah reaksi yang timbul sesaat setelah diberikan paparan sediaan.

Uji iritasi yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode Draize Test, di

mana merupakan uji iritasi yang telah mapan dan dapat digunakan sebagai uji

iritasi dalam sediaan topikal. Metode Draize Test biasanya menggunakan kelinci

karena berdasarkan kulit kelinci lebih sensitif daripada kulit manusia dan lebih

aman ketika digunakan untuk penapisan bagi senyawa yang bersifat iritan

(Zulkarnain, Meiroza, Aliva, 2013).

Pengujian dilakukan dengan mengoleskan gel pada punggung kelinci

yang telah dicukur dan dibersihkan bulunya. Kemudian diamati eritema dan

edema yang mungkin terjadi pada punggung kelinci selama 24, 48, dan 72 jam

setelah pengaplikasian gel, kontrol positif, dan kontrol negatif. Kontrol positif

digunakan untuk membandingkan bahan-bahan yang telah terbukti mengiritasi

kulit dengan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji. Kontrol negatif

dimaksudkan untuk membandingkan apakah terjadi iritasi atau tidak antara kulit

normal dan kulit yang diberi sediaan (gel dan kontrol positif).

Hasil menunjukkan formula 1, 2, 3, dan 4 tidak terdapat eritema dan

edema pada punggung kelinci setelah pemaparan 24 jam sampai 72 jam dan

memberikan indeks iritasi primer bernilai 0 (Lampiran 7), sedangkan hasil kontrol

positif menggunakan sodium lauryl sulphate (SLS) 2% terjadi edema dan diberi

skor 2. Hasil tersebut menunjukkan gel antioksidan ekstrak daun jambu biji

formula 1, 2, 3, dan 4 tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan aman digunakan

Figur

Gambar 1.      Struktur kulit  ..............................................................................
Gambar 1 Struktur kulit . View in document p.17
Gambar 1. Struktur kulit (Brown dan Tony, 2002)
Gambar 1 Struktur kulit Brown dan Tony 2002 . View in document p.28
Gambar 2. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) (Rahman, 2009).
Gambar 2 Daun jambu biji Psidium guajava L Rahman 2009 . View in document p.31
Gambar 3. Unit monomer asam akrilat dalam polimer carbopol (Rowe et al.,
Gambar 3 Unit monomer asam akrilat dalam polimer carbopol Rowe et al . View in document p.33
Gambar 4. Struktur gliserin (Rowe et al., 2009)
Gambar 4 Struktur gliserin Rowe et al 2009 . View in document p.34
Gambar 7. Struktur metil paraben (Rowe,  et al., 2009)
Gambar 7 Struktur metil paraben Rowe et al 2009 . View in document p.35
Gambar 6. Struktur trietanolamin  (Rowe et al., 2009)
Gambar 6 Struktur trietanolamin Rowe et al 2009 . View in document p.35
Tabel I. Formula yang diacu
Tabel I Formula yang diacu . View in document p.44
Tabel III. Sistem klasifikasi untuk reaksi kulit (Benson dan Watkinson, 2012)
Tabel III Sistem klasifikasi untuk reaksi kulit Benson dan Watkinson 2012 . View in document p.51
Tabel V.  Hasil uji kualitatif tanin
Tabel V Hasil uji kualitatif tanin . View in document p.52
Tabel VI. Hasil uji organoleptis dan pH
Tabel VI Hasil uji organoleptis dan pH . View in document p.55
Tabel VII. Sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji
Tabel VII Sifat fisis dan stabilitas gel antioksidan ekstrak daun jambu biji . View in document p.56
Tabel VII diketahui bahwa daya sebar semua formula masuk dalam range
Tabel VII diketahui bahwa daya sebar semua formula masuk dalam range . View in document p.58
Gambar 8. Operating time asam tanat rata-rata 3 replikasi
Gambar 8 Operating time asam tanat rata rata 3 replikasi . View in document p.62
Tabel VIII. Hasil scanning panjang gelombang maksimum asam tanat
Tabel VIII Hasil scanning panjang gelombang maksimum asam tanat . View in document p.63
Tabel IX . Kurva baku asam tanat
Tabel IX Kurva baku asam tanat . View in document p.64
Tabel XI. Kadar tanin dalam ekstrak daun jambu biji
Tabel XI Kadar tanin dalam ekstrak daun jambu biji . View in document p.65
Tabel XII. Kadar tanin dalam gel antioksidan ekstrak daun jambu biji
Tabel XII Kadar tanin dalam gel antioksidan ekstrak daun jambu biji . View in document p.66
Tabel XIII. Hasil uji T berpasangan
Tabel XIII Hasil uji T berpasangan . View in document p.67

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (132 Halaman)