• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN MASA ANTARA PADA NY.S UMUR 27 TAHUN G₂P₁A₀ DI BPM NY.TUSEM, Amd.Keb PREMBUN KECAMATAN TAMBAK - repository perpustakaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN MASA ANTARA PADA NY.S UMUR 27 TAHUN G₂P₁A₀ DI BPM NY.TUSEM, Amd.Keb PREMBUN KECAMATAN TAMBAK - repository perpustakaan"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. TINJAUAN MEDIS 1. Kehamilan

Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari sprematozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung selama 40 minggu atau 10 bulan. Kehamilan terbagi menjadi 3 trimester, dimana trimester pertama berlangsung dalam 12 minggu. Trimester kedua 15 minggu (dari minggu ke 13 hingga 27), dan trimester ketiga 13 minggu (dari minggu ke 28 hingga ke 40) (Prawiroharjo,2009. h; 213).

a. Tanda – Tanda Kehamilan

Untuk memastikan diagnosa suatu kehamilan, dibawah ini penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan :

a) Tanda dugaan kehamilan

1) Amenorea (terlambat datang bulan)

(2)

2) Mual muntah (emesis)

Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan pengeluaran asam lambung yang berlebihan.Mual dan muntah terutama pada pagi hari disebut morning sicknesa(SICKNESS), Dalam batas yang fisiologis, keadaan ini dapat diatasi. Akibat mual dan muntah, nafsu makan berkurang (Manuaba,2010; h.107).

3) Ngidam

Wanita hamil sering mengiginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian disebut ngidam (Manuaba,2010; h.107).

4) Sinkope atau pingsan.

Terjadinya gangguan sirkulasi kedaerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan sinkop atau pingsan. Keadaan ini menghilang setelah usia kehamilan 16 minggu (Manuaba,2010; h.107).

5) Payudara tegang pengaruh Estrogen - progesteron dan somatomamotrofin, menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara. Payudara membesar dan tegang. Ujung saraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama (Manuaba,2010; h.107).

(3)

7) Kontsipasi atau obstipasi, pengaruh progesteron dapat menghambat peristatik usus, menyebabkan kesulitan untuk buang air besar (Manuaba,2010; h.107).

8) Pigmentasi kulit, terdapat pembesaran payudara, disertai dengan hyperpigmentasi puting susu dan aerora. Mamae menjadi tegang dan membesar , keadaan ini disebabkan pengaruh etrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mammae, glandula montrgomeri tampak lebih jelas, pada wajah adanya melanophore stimulating harmore hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit dinding perut terdapat striae lipid atau albican dan alba menjadi nigra. Pada pipi, hidung, dan dahi kadang tampak pigmen yang berlebihan dikenal sebagai kloasma gravidarum (Manuaba,2010 ;h.107 - 108).

9) Epulis, hipertrofi gusi disebut epulis,dapat terjadi bila hamil (Manuaba,2010. h;108).

(4)

b) Tanda Tidak Pasti Kehamilan

1) Pembesaran perut terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat kehamilan (Manuaba,2010; h.108).

2) Tanda hegar, adalah pelunakan dan dapat ditekanya isthimus uteri (Manuaba,2010; h.108).

3) Tanda goodel, adalah pelunakan serviks, pada wanita yang tidak hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan pada wanita hamil melunak seperti bibir (Manuaba,2010; h.108).

4) Tanda chadwick, adalah perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga porsio dan serviks (Manuaba,2010; h.108).

5) Tanda piscaseck, merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris, terjadi karena ovum berimplamantasi pada daerah dekat dengan komu sehingga daerah tersebut berkembang lebih dulu (Manuaba,2010;h.108). 6) Kontraksi braxton hicks, merupakan peregangan sel-sel

(5)

lamanya dan kekuatannya mendekati persalinan (Manuaba,2010; h.107).

7) Teraba ballotement, ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa. Hal ini haru ada pada pemeriksaan kehamilan karena terabaan bagian seperti bantuk janin saja tidak cukup karena bisa saja itu merupakan nyoma uteri (Manuaba,2010; h.108).

8) Pemeriksaan tes biologis kehamilan, pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya HCG yang diproduksi oleh sinsiotropoblastik sel selama kehamilan. Hormon ini dapat mulai dideteksi pada 26 hari setelah konsepsi dan meningkat dengan cepat pada hari ke 30-60 (Manuaba,2010; h.108).

c) Tanda Pasti Kehamilan

1) Gerakan janin dalam rahim

2) Terlihat/teraba gerakan janin dan teraba bagian-bagian janin.

(6)

b. Ketidaknyamanan Pada Kehamilan

Dijelaskan oleh Kusmiyati,2010; h.143-152 dalam buku perawatan ibu hamil

1) Trimester I a) Kelelahan. b) Keputihan.

Penyebabnya peningkatan produksi lender dan kelenjar endocervikal sebagai akibat daripeningkatan kadar estrogen.

c) Ngidam.

d) Sering buang air kencing.

Hal ini disebabkan karena tekanan uterus pada kandung kemih.

e) Mual atau muntah-muntah (Kusmiyati,2010; h.143 - 152). 2) Trimester II

a) Keputihan. b) Chloasma.

Penyebabnya peningkatan kadar estrogen dan mungkin progesterone.

c) Hemoroid.

(7)

d) Konstipasi.

Penigkatan kadar progesterone yang menyebabkan peristik usus menjadi lambat. Penurunan motilitas sebagai akibat dari relaksasi otot-otot halus menjadi penyebab konstipasi (Kusmiyati,2010; h.143 – 152).

e) Sesak napas.

Penigkatan kadar progresteron berpengaruh secara langsung pada pusat penapasan untuk menurukan CO2 serta meningkatkan aktifitas

metabolic meningkatkan kadar CO2, hiperventilasi

yang lebih ringan ini adalah SOB. Pembesaran pada uterus juga menyebabkan sesak napas (Kusmiyati,2010; h.143 – 152).

f) Nyeri ligamentum rotundum.

Hipertropi dan peregangan ligamentum selama kehamilan dan tekanan dari uterus pada ligamentum menyebabkan nyeri (Kusmiyati,2010;

h.143 – 152). g) Pusing.

(8)

menurunkan output cardiac serta tekanan darah dengan tegangan othostatis yang meningkat menjadi penyebab pusing (Kusmiyati,2010; h.143 – 152).

3) Trimester III a) Keputihan.

b) Sering buang air kecil. c) Hemoroid.

d) Konstipasi. e) Sesak napas.

f) Nyeri ligamentum rotundum. g) Pusing.

(Kusmiyati,2010; h.143 – 152). c. Asuhan Antenatal

1) Definisi

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obsterik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal:

(9)

(a) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu).

(b) Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28 ).

(c) Satu kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu ke 28-36 dan sesudah minggu ke 36 ) (Saiffudin,201; h.N-2).

2) Tujuan

a) Trimester pertama / sebelum minggu ke 14

(1) Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan

(2) Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum mengancam jiwa ibu maupun bayinya

(3) Mencegah masalah seperti tetanus neonatorum, anemia, defisiensi zat besi, maupun penggunaan praktik tradisional yang merugikan

(10)

(5) Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya) (Saiffudin,201; h.N-2).

b) Trimester kedua / Sebelum minggu ke 28

(1) Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan. (2) Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum

mengancam jiwa.

(3) Mencegah masalah seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, maupun penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

(4) Memulai persiapan persalinan dan kesiapan menghadapi komplikasi.

(5) Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya). (6) Kewaspadaan khusus mengenai PIH (tanya ibu

mengenai gejala PIH, pantau tekanan darahnya, edema, proteinuria) (Saiffudin,201; h. N-2). c) Trimester ketiga / sebelum minggu ke 40

(11)

(2) Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum mengancam jiwa (Asrinah,2010; h.5 – 6).

(3) Mencegah masalah seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, maupun penggunaan praktik tradisional yang merugikan (Asrinah,2010; h. 5 – 6).

(4) Memulai persiapan persalinan dan kesiapan menghadapi komplikasi (Asrinah,2010; h.5 – 6). (5) Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan

dan kebersihan, istirahat dan sebagainya)

(6) Kewaspadaan khusus mengenai PIH (tanya ibu mengenai gejala PIH, pantau tekanan darahnya, edema, proteinuria) (Asrinah,2010; h.6-7).

d. Komplikasi Dalam Kehamilan

Menurut buku saku pelayanan kesehatan tahun 2013; h.82-99. 1) Mula dan muntah

a) Definisi

(12)

b) Diagnosa

Mual dan muntah sering menjadi masalah pada ibu hamil. Pada derajat yang berat, dapat terjadi hiperemesis gravidarum, yaitu bila terjadi:

(1) Mual dan muntah hebat.

(2) Berat badan turun > 5% dari berat badan sebelum hamil.

(3) Ketonuria. (4) Dehidrasi.

(5) Ketidakseimbangan elektrolit.

(Buku saku pelayanan kesehatan tahun 2013; h.82-99). 2) Abortus

a) Definisi

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 22 minggu, namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20 mingguatau berat janin kurang dari 500 gram (Buku saku pelayanan kesehatan tahun 2013; h.82-99).

b) Diagnosis

(1) Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah banyak.

(13)

(3) Pengeluaran sebagian produk konsepsi. (4) Serviks dapat tertutup maupun terbuka.

(5) Ukuran uterus lebih kecil dari yang seharusnya. (6) Diagnosis ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan

ultrasonografi.

(Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). 3) Mola hodatidosa

a) Definisi

Mola hidatidosa adalah bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang disebabkan oleh kelainan pada villi khorionik yang disebabkan oleh proliferasi trofoblastik dan edem (Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7).

b) Diagnosis

(1) Perdarahan pervaginam berupa bercak hingga berjumlah banyak

(2) Mual dan muntah hebat

(3) Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan (4) Tidak ditemukan janin intrauteri

(5) Nyeri perut (6) Serviks terbuka

(7) Keluar jaringan seperti anggur, tidak ada janin

(14)

(9) Penegakkan diagnosis kehamilan mola dapat dibantu dengan pemeriksaan USG.

(Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). 4) Kehamilan ektopik terganggu

a) Definisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus). Hampir 95% kehamilan ektopik terjadi di berbagai segmen tuba Falopii, dengan 5% sisanya terdapat di ovarium, rongga peritoneum atau di dalam serviks. Apabila terjadi ruptur di lokasi implantasi kehamilan, maka akan terjadi keadaan perdarahan masif dan nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan ektopik terganggu (Buku saku pelayanan kesehatan,2013;h.6 – 7). b) Diagnosis

(1) Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah sedang (Buku saku pelayanan kesehatan,2013; h.6 – 7).

(2) Kesadaran menurun (3) Pucat

(15)

(8) Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.

(Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). 5) Plasenta previa

a) Definisi

Plasenta yang berimplantasi di atas atau mendekati ostium serviksinterna. Terdapat empat macam plasenta previa berdasarkan lokasinya,yaitu:

(1) Plasenta previa totalis-ostium internal ditutupi seluruhnya oleh plasenta.

(2) Plasenta previa parsialis-ostium interal ditutupi sebagian oleh plasenta.

(3) Plasenta previa marginalis-tepi plasenta terletak di tepi ostium internal.

(4) Plasenta previa letak rendah-plasenta berimplantasi di segmen bawahuterus sehingga tepi plasenta terletak dekat dengan ostium.

(Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). b) Diagnosis

(1) Perdarahan tanpa nyeri, usia kehamilan>22 minggu. (2) Darah segar yang keluar sesuai dengan beratnya

anemia.

(16)

(5) Bagian terendah janin tidak masuk pintu atas panggul (6) Kondisi janin normal atau terjadi gawat janin

(7) Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG (Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). 6) Solusio plasenta

a) Definisi

Terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya b) Diagnosis

(1) Perdarahan dengan nyeri intermiten atau menetap (2) Warna darah kehitaman dan cair, tetapi mungkin ada

bekuan jika solusio relatif baru

(3) Syok tidak sesuai dengan jumlah darah keluar (tersembunyi)

(4) Anemia berat

(5) Gawat janin atau hilangnya denyut jantung janin (6) Uterus tegang terus menerus dan nyeri

(Buku saku pelayanan kesehatan, 2013; h.6 – 7). e. Diagnosis Banding Kehamilan

Pembesaran perut wanita tidak selamanya merupakan kehamilan sehingga perlu dilakukan diagnosis banding diantaranya:

(17)

b) Tumor kandungan atau mioma uteri. Terdapat pembesaran rahim. Tetapi tidak disertai tanda hamil

c) Kista ovarium, pembesaran perut, tetapi tidak disertai tanda hamil dan menstruasi terus berlangsung.

d) Hematometra terlambat datang bulan yang dapat melampau usia kehamilan. Perut terasa nyeri setiap bulan, terjadi tumpukan darah dalam rahim

e) Kandung kemih yang penuh. Dengan melakukan kateterisasi makan pembesaran perut akan hilang. (Manuaba,2010; h.109 ).

f. Perubahan Fisiologis Pada Kehamilan

Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormon somatomamotropin, estrogen, dan progestron yang menyebabkan perubahan pada bagian-bagian tubuh seperti:

a) Uterus

(18)

dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan (Prawirohardjo,2009;h.175). Perubahan pada isthmus uteri menyebab isthmus menjadi lebih panjang dan lunak sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat saling sentuh.Perlunaka isthmus disebut tanda hegar. Hubungan antara besarnya rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahui karena kemungkinan penyimpangan kehamilan seperti hamil kembar, hamil mola hidatidosa, hamil dengan hidramnion yang akan teraba lebih besar. Sebagai gambaran dapat ditemukakan sebagai berikut:

(1) pada usia kehamilan 16 minggu, kavum uteri seluruhnya diisi oelh amnion, di mana desidua kapsularis dan desidua parientalis telah menjadi satu. Tinggi rahim adalah setengah darak jarak simfisisdan pusat. Plasenta telah terbentuk seluruhnya.

(19)

(3) Pada usia kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri sekitar 3 jari di atas pusat pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosesus xifoideus.

(4) Pada usia kehamilan 32 minggu,tinggi fundus uteriadalah setengah jarak prosesus xifoideus dan pusat (Manuaba, 2010; h.87 – 88).

(5) Pada usia kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu jari di bawah prosesus xifoideus, dan kepala bayi belum masuk pintu atas pinggul. (6) Pada usia kehamilan 40 minggu fundus uteri turun

setinggi tiga jari di bawah prosesus xifiodeus, oleh karena saat ini kepala janin telah masuk pintu panggul (Manuaba, 2010; h.87-88).

b) Vagina

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah kebiru-biruan (tanda chadwicks). (Manuaba,2010; hal.92).

c) Kulit

(20)

disebut dengan linea nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran bervariasi pada wajah dan leher yang disebut chloasma gravidarum. Selain itu, pada aerola dan daerah genetalia juga terlihat pigmentasi berlebihan (Sarwono, 2010; h.179).

d) Ovarium

Proses ovalasi selama kehamilan akan berhenti dan pematangan folkel baru juga ditunda. Hanya sau kospus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folkel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai progesteron dalam jumlah yang relatif minimal (Prawirohardjo,2009; h.178).

e) Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberi ASI ada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan, yaitu esterogen,progesteron, dan somatomamotrofin (Manuaba,2010; h.92).

f) Perubahan Metabolik

(21)

Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg. peningkatan jumlah cairan selama kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis. Hal ini disebabkan oleh turunnya osmolaritas dari 10 mgm/kg yang diinduksi oleh makin rendahnya ambang rasa haus dan sekresi vasopressin. Pada saat aterm ±3,5 l cairan berasal dari janin, plasenta, dan cairan amnion, sedangkan 3 l lainnya berasal dari akumulasi peningkatan volume darah ibu, uterus, dan payudara sehingga minimal tambahyan cairan selama kehamilan adalah 6,5 (Sarwono, 2010; h.180).

g) Sistem kardiovaskular

Sejak pertengahan kehamilan pembesaran uterus akan menekan vena kava inferior dan aorta bawah ketika berada dalam posisi terlentang. Penekanan vena kava inferior ini akan mengurangi darah balik ke vena jantung. Akibatnya, terjadinya penurunan preload dan cardiac output sehingga akan menyebabkan terjadinya hipotensi

(22)

terlentang akan membuat fungsi ginjal menurun jika dibandingkan posisi miring (Sarwono, 2010; h.183). g. Diagnosis Kehamilan

Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm adalah sekitar 280 sampai 300 hari. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan, yaitu triwulan pertama ( 0 sampai 12 minggu ), triwulan kedua ( 13 sampai 28 minggu ), triwulan ketiga ( 29 sampai 42 minggu ) (Manuaba,2010; h.107).

9. Perubahan Psikologis Dalam Masa Kehamilan

a) Pada kehamilan trimester 1

Trimester pertama sering dikenal sebagai periode penyesuaian yakni ib merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya, kadang muncul penolakan, kekecewaan,kecemasan,dan kesedihan,bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja, ibu akan selalu mencari tanda – tanda apakah ia bener – bener hamil untuk sekedar meyakinkan dirinya (Sulistyawati,2011; h.76).

b) Pada trimester II

(23)

meningkat,ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran,dan persiapan untuk peran baru

(Sulistyawati,2011; h.76 - 77). c) Pada trimester III

Trimester III biasanya disebut periode penantian dengan penuh kewaspadaan yakni rasa tidak nyaman timbul kembali,merasa dirinya elek,aneh,dan tidak menarik,merasa kehilangan perhatian,takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan,khawatir akan keselamatannya, libido menurun (Sulistyawati,2011; h.77). 10. Standar Asuhan Kehamilan

a) Kunjungan Ante-natal Care (ANC) minimal :

1) Satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0 – 13 minggu).

2) Satu kali pada trimester II ( usia kehamilan 14 – 27 minggu ).

3) Dua kali pada trimester III ( usia kehamilan 28 – 40 minggu ) (Sulistyawati,2011; h.4).

11. Pelayanan standar, yaitu 7 T

Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, standar minimal pelayanan pada ibu adalah tujuh bentuk yang disingkat dengan 7 T, antara lain sebagai berikut.

(24)

c) Ukur Tinggi fundus uteri.

d) Pemberian imunisasi TT lengkap.

e) Pemberian Tablet besi (Fe) minimal 90 tablet selama kehamilan dengan dosis satu tablet setiap harinya.

f) Lakukan Tes penyakit menular seksual (PMS).

g) Temuwicara dalam rangka persiapan rujukan (Sulistyawati,2011; h.4 - 5).

12. Tujuan Asuhan Kehamilan

a) Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejateraan ibu dan tumbuh kembang janin.

b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi.

c) Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan. d) Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat,

baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin. e) Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI

ekslusif berjalan normal.

(25)

13. Tanda bahaya dalam kehamilan

a) Perdarahan per vagina. b) Sakit kepala hebat. c) Masalah penglihatan.

d) Bengkak pada muka atau tangan. e) Nyeri abdomen yang hebat.

f) Bayi kurang bergerak seperti biasa. (Sulistyawati,2011; h.4 - 5).

B. PERSALINAN

1. Definisi

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (Janin dan plasenta) yang dapat hidup di dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain (Mochtar, 2011;h.69).Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, serta janin sudah turun kejalan lahir (Sarwono Prawirohardjo,2009; h.100).

(26)

2. Ada 3 Jenis Persalinan yaitu :

a. persalinan spontan. Jika persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir ibu tersebut. b. Persalinan buatan. Jika persalinan dibantu dengan tenaga

dari luar, misalnya ekstraksi forsep atau operasi seksio sesaria.

c. Persalinan anjuran. Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya, tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitosin atau prospagladin (Erawati, 2011h.3).

3. Penyebab Mulai Persalinan yaitu sebagai berikut :

a. Penurunan kadar progesteron. Progesteron menimbulkan relaksasi otot uterus, sedangkan estrogen meningkat karena otot uterus. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estogren di dalam darah, namun pada akhir kehamilan kadar estogren menurun sehingga timbul his (Erawati,2011; h.4).

b. Teori oksitosin.pada akhir kehamilan, kadar oksitosin meningkat. Oleh sebab itu ,timbul kontraksi otot uterus. c. Keregangan otot. Uterus seperti halnya kandung kemih

(27)

d. Pengaruh janin. Hipofisi dan kelenjar suprarenal janin tampaknya juga memegang peranan karena pada anenseksufalus, kehamilannya sering lebih lama dari biasanya.

e. Teori prostaglandin. Prostaglandin yang dihasilkan oelh desidua, diduga menjadi salah satu penyebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan melalui intravena, intraamnial, dan ekstraamnial menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap usia kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi, baik dalam air ketuban maupun darah parifer pada ibu bhamil sebelum melahirkan atau selama persalinan (Erawati, 2011; h.4).

4. Perubahan Fisiologis Pada Persalinan

Sejumlah perubahan fisiologis yang normal akan terjadi selama persalinan, hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan Perubahan – perubahan yang dapat dilihat secara klinis bertujuan untuk dapat secara tepat dan cepat mengiterprestasikan tanda – tanda, gejala tertentu dan penemuan perubahan fisik dan laboratorium apakah normal apa tidak persalinan kala 1 (Walyani, 2015; h.29).

(28)

kenaikan diastolik rata – rata 5 – 10 mmHg diantara kontraksi – kontraksi uterus, tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi bila terjadi kontraksi (Walyani, 2015; h.30).

b. Perubahan Metabolisme

Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar diakibatkan karena kecemasan serta kegiatan otot Perubahan tekanan darah rangka tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercemin dengan kenaikan suhu badan, denyut nadi,pernafasan, kardiak ouput dan kehilangan cairan (Walyani,2015; h.30).

c. Perubahan Suhu Badan

Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan suhu mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah persalinan. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi 0,5 – 1 derajat C (Walyani,2015; h.30).

d. Denyut Jantung

(29)

e. Pernafasan

Kenaikan pernafasan dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri,kekhwatiran serta penggunaan teknik pernafasan yang tidak benar (Walyani,2015; h.31).

f. Perubahan Gastrointestinal

Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat berkurang akan menyebabkan percernaan hampir berhenti selama persalinan dan akan menyebabkan kontipasi (Walyani,2015; h.33 - 35).

5. Tanda – tanda Persalinan

a. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.

b. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda, yaitu : 1) Pengeluaran lender.

2) Lendir bercampur darah.

3) Dapat disertai ketuban pecah dini.

c. Pada pemeriksaan dalam,dijumpai perubahan servix : 1) Perlunakan servix

2) Perdarahan servix

3) Terjadi pembukaan servix (Walyani,2015; hal.17 - 18).

6. Faktor – Faktor Yang Memperngaruhi Persalinan a. Passage (jalan lahir)

(30)

1) Bagian keras tulang – tulang panggul.

2) Bagian lunak : otot – otot, jaringan – jaringan, ligamen – ligamen (Walyani,2015; h.19).

b. Power (His dan Mengejan)

Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his, kontrasi otot – otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament (Walyani,2015; h.20)

c. Passengger

Passengger terdiri dari : 1) Janin.

2) Plasenta.

3) Air ketuban (Walyani,2015; h.23 - 25). 7. Tahapan Persalinan

a. Kala I

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada pembukaan His, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parteurien masih dapat berjakan-jalan. Lamanya kala 1 untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurva friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam (Manuaba, 2010: h173-174)

(31)

plasenta), dan kala IV (kala pengawasan atau observasi atau kala pemulihan).

Kala I dimulai pada saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:

1) Fase laten: berlangsung selama 8 jam, serviks membuka sampai 3 cm.

2) Fase aktif: berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dalam fase ini dibagi dalam 3 fase yaitu:

(a) Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

(b) Fase diatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.

(c) Fase deselari: pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap atau 10 cm.

Pada primigravida kala I berlangsung kurang lebih 12 jam, sedangkan pada multigravida kurang lebih 8 jam (Sondakh, 2013;h.5).

3) Asuhan pada kala I

(32)

uterus, memantau DJJ, menentukan presentasi, menentukan penurunan bagian terbawah janin.

(b) Pemeriksaan dalam (c) Kemajuan persalinan

(d) Kemajuan pada kondisi janin

(e) Kemajuan kondisi ibu (Sondakh, 2013; h.106-113). b) Kala II (kala pengeluaran janin)

Yang dimaksud dengan kala II persalinan adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil pengenalan proses dan penatalaksanaan kala pembukaan, batasan kala II di mulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan berakhir kelahiran bayi, kala I juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi. Durasi kala II pada persalinan spontan tanpa komplikasi adalah sekitar 40 menit pada primigravida dan 15 menit pada multipara. Kontraksi selama kala II adalah sering, kuat dan sedikit lebih lama yaitu kira-kira 2 menit berlangsung 60-90 detik dengan interaksi tinggi dan semakin ekspulsif sifatnya (Walyani, 2015; h.52).

(a) Tanda dan gejala kala II, yaitu:

(i) Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

(ii) Ibu merasakan makin menigkatnya tekanan pada rectum atau pada vagina.

(33)

(iv) Vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka. (v) Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.

(b) Tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi kesejahteraan ibu adalah sebagai berikut:

(i) Tanda-tanda vital: tekanan darah setiap 30 menit sekali, suhu, nadi setiap 30 menit sekali, pernafasan. (ii) Kandung kemih.

(iii) Urin: protein dan keton. (iv) Hidrasi: cairan, mual, muntah.

(v) Kondisi umum: kelemahan dan keletihan fisik, tingkah laku, dan respons terhadap persalinan, serta nyeri dan kemampuan koping.

(vi) Upaya ibu meneran. (vii) Kontraksi setiap 30 menit

(Sondakh, 2013;h.133).

(c) Gejala utama kala II:

(1) His semakin kuat, dengan interval antara 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 detik sampai 100 detik.

(2) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah dan ditandai dengan pengeluaran cairan semakin mendadak.

(34)

(4) Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi kepala membuka pintu, subsoksiput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya.

(5) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala terhadap punggung.

(6) Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan: kepala dipegang pada os oksiput dan dibawah dagu, ditarik curam ke bawah untuk melahirkan bahu depan, dan curam ke atas untuk melahirkan bahu belakang, setelah kedua bahu lahir, ketika dikait untuk melahirkan sisa badan bayi, bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.

(7) Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit (Manuaba, 2010;h173-174). c) Kala III (Pelepasan Uri)

(35)

secara Crede pada fundus uteri (Manuaba 2010; h.173-174). Kala III persalinan adalah periode waktu yang dimulai ketika bayi lahir dan berakhir pada saat plasenta sudah dilahirkanj seluruhnya. Managemen kala III terdiri dari tiga langka yaitu suntik oksitosin, penjegangan tali pusat terkendali (PTT), dan masase uterus. Setelah plasenta lahir dilakukan pemeriksaan plasenta dan tali pusat.

Kala III dimulai segera setelah bayi lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan tanda-tanda dibawah ini:

a) Uterus menjadi bundar atau globuler.

b) Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.

c) Tali pusat bertambah panjang.

d) Terjadi semburan darah secara tiba-tiba (Manuaba,2010; h.173 – 174).

Cara melahirkan plasenta adalah menggunakan teknik dorsokranial. Pengeluaran selaput ketuban selaput ketuban biasanya lahir dengan mudah, namun kadang-kadang masih ada bagian plasenta yang tertinggal. Bagian tertinggal tersebut dapat dikeluarkan dengan cara:

a) Menarik pelan-pelan.

b) Memutar atau memilinnya seperti tali. c) Memutar pada klem.

(36)

Plasenta dan selaput ketuban harus diperiksa secara teliti setelah dilahirkan, apakah ada setiap bagian plasenta yang lengkap atau tidak. Bagian plasenta yang diperiksa yaitu permukaan maternal yang pada normalnya memiliki 6-20 kotiledon, permukaan fetal, dan apakah terdapat tanda-tanda plasenta suksenturia. Jika plasenta tidak lengkap, maka disebut ada sisa plasenta. Keadaan ini dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan infeksi (Manuaba 2010; h.173-174).

a) Kala III terdiri dari 2 fase, yaitu: 1) Fase pelepasan plasenta

Beberapa cara pelepasan plasenta antara lain: (a) Schultze

Proses lepasnya plasenta seperti menutup payung. Cara ini merupakan cara yang paling sering terjadi sekitar 80%. Bagian yang lepas terlebih dahulu adalah bagian tengah, lalu terjadi retroplasenta hematoma yang menolak plasenta mula-mula bagian tengah, kemudian seluruhnya. Menurut cara ini, perdarahan biasanya tidak ada sebelum plasenta lahir dan berjumlah banyak setelah plasenta lahir (Sondakh,2013; h.5). (b) Duncan

(37)

2) Fase pengeluaran plasenta

Beberapa cara untuk pengeluaran plasenta: a) Kustner

Dengan meletakkan tangan disertai tekanan di atas simpisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk berarti belum lepas. Jika diam atau maju berarti sudah lepas. b) Klein

Sewaktu ada his, rahim didorong sedikit. Bila tali pusat kembali berarti belum lepas, diam atau turun berarti lepas. c) Strassman

Tegangkan tali pusat dan ketok pada bagian fundus, bila tali pusat bergetar berarti plasenta belum lepas, dan bila tidak bergetar berarti sudah lepas. Tanda-tanda plasenta telah lepas adalah rahim menonjol di atas simpisis, tali pusat bertambah panjang, rahim bundar dan keras serta keluar darah secara tiba-tiba (Sondakh, 2013;h.6-7).

(38)

perdarahan dari laserasi atau robekan perineum dan vagina. Penilaian perluasan laserasi perineum dan penjahitan laserasi atau episiotomi diklarifiksikan berdasarkan luasnya robekan:

(1) Derajat satu mulai dari mukosa vagina, komisura posterior dan kulit perineum.

(2) Derajat dua mulai dari mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, dan otot perineum.

(3) Derajat tiga mulai dari mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot perineum, dan otot sfingter ani.

(4) Derajat empat mulai dari mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot perineum, otot sfingter ani, dan dinding depan rectum (Sondakh,2013; h.6 – 7). 3) Pada kala III tanda-tanda vital yang harus diperiksa adalah:

a) Tinggi Fundus Uteri (TFU), yang diantaranya bertujuan untuk mengetahui masih adakah janin di dalam uterus. b) Kontraksi uterus, untuk memastikan tidak terjadi inersia

uteri.

c) Kandung kemih, karena kandung kemih yang penuh mengganggu kontraksi uterus (Sondakh, 2013;h.140 -141).

(39)

b) Pemeriksaan selaput ketuban c) Pemeriksaan tali pusat d) Pemantauan kontraksi e) Pemantauan tanda vital

f) Pemantauan robekan jalan lahir dan perineum g) Pemantauan hygiene (Sondakh, 2013;h. 135). 5) Plasenta

a) bentuk agak bulat/oval/datar.

b) ukuran diameter 20-22 cm, tebal ± 2 cm, berat ± 500 gram, hidrops fetalis (ada/tidak).

c) Permukaan maternal: kotiledon (lengkap/tidak), infrak (ada/tidak).

d) Permuikaan fetal: korion dan amnion (ada yang tertinggal/tidak, letak robekan) (Erawati,2011; h.98). 6) Tali pusat

a) Panjang: 40-50cm. b) Diameter: 1-2 cm.

c) Insersi: normal atau sentral, lateral, battlodero, velamentosa (Erawati, 2011; h.98).

(40)

harus ditakar diukur sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250cc dan biasanya 100-300cc. Jika perdarahan melebihi dari 500cc maka sudah dianggap abnormal, dengan demikian harus dicari penyebab dari perdarahan tersebut (Sondakh, 2013;h.7). Kala IV (observasi).

Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling seringterjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan meliputi tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi dan pernafasan, kontraksi uterus, terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc (Manuaba, 2010; h.173-174). a. Asuhan pada kala IV

1) Mencegah perdarahan

2) Mencegah distensi kandung kemih 3) Menjaga keamanan

4) Mempertahankan kenyamanan 5) Menjaga kebersihan

6) Mempertahankan keseimbangan cairan dan nutrisi 7) Pemantauan keadaan ibu

(41)

(Sondakh, 2013; h.143).

9. Tanda Dan Gejala Menjelang Persalinan a. Tanda dan gejala menjelang persalinan

Tanda dan gejala menjelang persalinan antara lain persaan distensi abdomen berkurang (lightening), perubahan serviks persalinan palsu, ketuban pecah , bloody show, lonjakan energi, dan gangguan pada saluran cerna (Varney,2007; h.672- 674). 1) Lightening

Ligtening yang di mulai kira- kira 2 minggu sebelum

persalinan, adalah penurunan bagian kepala janin, sehingga mengakibatkan sesak nafas yang terjadi selama trimester 3 berkurang, karena kondisi ini akan menciptakan ruang ruang yang lebih besar di daalam abdomen atas untuk ekspensi paru. Namun lightening juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman seperti ibu sering berkemih, perasaan tidak nyaman akibat tekanan panggul yang menyeluruh, kram pada tungkai dan peningkatan stres vena (Varney,2007; h.672 – .674). 2) Perubahan serviks

(42)

3) Persalinan palsu

Terdiri dari kontraksi uterus yang sangat nyeri, sehingga memberi pengaruh signifikan pada serviks (Varney,2007; h.673).

4) Ketuban pecah

Pada kondisi normal, ketuban pecah pada akhir kala I persalinan. Apabila terjadi sebelum waktu persalinan disebut ketuban pecah dini (KPD) (Vaney,2007; h.673).

5) Bloody show

Bloody show merupakan pengeluaran plak lendir diseksresi

serviks sebagai proliferasi kelenjar lendir serviks pada awal kehamilan. Plak ini menjadi sawar pelindung dan menutup jalan lahir selama kehamilan. Bloody show biasanya terjadi dalam 24 sampai 48 jam sebelum terjadinya persalinan (Vaney,2007; h.673).

6) Lonjakan energi

(43)

7) Gangguan saluran cerna

Ketika tidak ada penjelasan yang tepat untuk diare, kesulitan mencerna, mual dan muntah, diduga hal- hal tersebut merupakan gejala menjelang persalinan (Varney,2007; h.674). 10. Tahapan persalinan

a. Kala 1 / Kala Pembukaan

Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatanya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm) (Walyani,2015; h.13 – 16).

1) Berdasarkan kemajuan pembukaan maka kala 1 dibagi menjadi Fase laten

Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap. Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm berlangsung hampir atau hingga 8 jam (Walyani,2015; h.14). 2) Fase aktif

(44)

b. Kala II : Kala Pengeluaran Janin Pada kala II ini memiliki ciri khas :

1) His terkoodinir, kuat,cepat, dan lebih lama kira - kira 2 – menit sekali.

2) Kepala janin telah turun masuk ruang panggul. 3) Tekanan pada rektum, ibu merasa ingin BAB 4) Anus membuka.

Lama pada kala II ini pada primi dan multipara berbeda yaitu : (a) Primipara kala II berlangsung 1,5 jam-2

(b) Multipara kala II berlangsung 0,5 jam-1 (Walyani,2015; h.14).

c. Kala III : Kala uri

Yaitu waktu pelepasan dan pengeluaran uri (plasenta). (Walyani,2015; h.14).

d. Kala IV : Tahap Pengawasan

Tahap ini digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap bahaya perdarahan (Walyani,2015; h.16).

11. Perubahan Fisiologis Pada Persalinan

Perubahan fisiologis pada kala I persalinan : a. Uterus

(45)

dengan pembukaan serviks dan pengeluaran janin (Erawati,2011; h.18).

b. Serviks

Pada kala I persalinan, serviks mengalami effacement (penapisan), yaitu penjang serviks berkurang secara teratur sampai menjadi sanngat pendek.serviks juga mengalami dilatasi (pembukaan) yang progresif. Pada tahap persalinan ini, umumnya ibu akan mengeluarkan lendir darah (bloody show) sedikit atau sedang dari serviks (Erawati,2011; h.18).

c. Penipisan serviks

Serat otot yang mengililingi lubang serviks akan tertarik ke atas oleh SAU yang beretraksi. Serviks menyatu dalam SBU. Saluran serviks melebar kea rah lubang serviks. Pada primigravida, lubang luar serviksakan tertutup sehingga menjadi ratadi atas bagian janin mengalami penurunan. Pada multigravida, lubang luar serviks mulai membuka sebelum penapisan selesai. Pada multiparitas, serviks tidak akan menipis sepenuhnya (Erawati,2011; h.18).

d. Pembukaan serviks

(46)

e. Janin

Janin dengan lambat melakukan maneuver panggul ibu. f. Kontraksi dan retraksi

kontraksi tidak seluruhnya terjadi pada serat otot uterus, tetapi sebagian serat otot yang menahan bagian dari pemendekan otot uterus dan juga relaksasi tidak jelas sepenuhnya yang disebut retraksi (Erawati,2011; h.20).

g. Perdarahan

Akibat pembukaan serviks, sumbatan pada serviks akan menghilang dan keluar lendir bercampur darah. Darah berasal dari pembuluh-pembuluh halus yang pecah pada pelepasan korion (Erawati, 2011; h.21).

12. Perubahan Pada Kala II Persalinan

a. Kontraksi (his)

His pada kala II menjadi lebih terkoordinasi, lebih lama (25 menit), lebih cepat kira-kira 2-3 menit sekali. Sifat kontraksi uterus simetris, fundus dominan, diikuti relaksasi (Erawati,2011; h.22)

b. Uterus

Pada saat kontraksi, otot uterus menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek, kavum uterus lebih kecil serta mendorong janin dan kantong amnion ke asrah segmen bawah uterus dan serviks. c. Pergeseran organ dasar panggul

(47)

terjadi relaksasi penggul.karena adanya kontraksi, kepala janin yang suddah masuk ruang panggul menekan otot-otot dasar panggul sehingga terjadi tekanan pada rectum dan sacara reflek menimbulkan rasa ingin mengejan, anus membuka, labia membuka, perenium menonjol, dam tidak lama kemudian kepala tampak didepan vulva pada saat his (Erawati,2011; h.22).

d. Ekspulsi janin.

13. Mekanisme Persalinan

Mekanisme persalinan terdiri dari engagement, penurunan, fleksi, putar paksi dalam, ekstensi, putar paksi luar dan ekspulsi (Bobak,2004; h.246-248).

a. Engagement

Merupakan masuknya kepala di pintu atas panggul (PAP). Pada primipara terjadi sebelum persalinan aktif dimulai, karena otot- otot abdomen masih tegang, sehinnga presentasi terdorong ke dalam panggul. Pada multipara yang otot- otot abdomennya lebih kendur, kepala seringkali digerakkan di atas permukaan panggul sampai persalinan dimulai. (Erawati,2011; h.22).

b. Penurunan

(48)

bidang panggul ibu dan kapasitas kepala janin untuk molague (Erawati,2011; h.22).

c. Fleksi

Segera setelah kepala yang turun tertahan oleh serviks, dinding panggul, atau dasar panggul, dalaam keadaan normal fleksi terjadi dan dagu didekatkan kearah dada janin. Dengan fleksi, suboksipitobregmantika yang diameter lebih kecil (9,5 cm) dapat masuk ke dalam pintu bawah panggul (PBP) (Erawati,2011; h.23). d. Putar Paksi Dalam

Putar paksi dalam dimulai pada bidang setinggi bspina isciadika, tetapi putaran ini belum selesai sampai bagian presentasi mencapai panggul bagian bawah. Ketika oksiput berputar ke arah anterior, wajah berputar ke posterior. Setiap terjadi kontraksi, kepala janin diarahkan oleh tulang panggul dan otot- otot dasar panggul. Akhirnya, oksiput berada di garis tengah di bawah lengkung pubis (Erawati,2011; h.23)

e. Ekstensi

(49)

f. Restittusi dan Putar Paksi Luar

Setelah kepala keluar, bayi berputar hingga mencapai posisi yang sama dengan saat kepala memasuki PAP. Gerakan ini dikenal dengan restitusi dan putaran 45 derajat membuat kepala janin kembali sejajar dengan punggung dan bahunya. Dengan demikian, kepala dapat terlihat berputar lebih lanjut. Putaran paksi luar terjadi saat bahu engaged dan turun dengan herakan mirip dengan gerakkan kepala (Erawati,2011; h.23).

g. Ekspulsi

Setelah bahu keluar, kepala dan bahu diangkat ke atas tulang pubis ibu dan badan bayi dikeluarkan dengan gerakan fleksi lateral ke arah simfisis pubis. Ketika seluruh tubuh bayi keluar, persalinan bayi selesai (Erawati,2011; h.23).

1) Komplikasi persalinan a) Ketuban pecah dini

(1) Definisi

Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan atau dimulainya tanda inpartu (Erawati,2011; h.24).

(2) Diagnosis

(50)

pemeriksaan inspekulo dengan spekulum steril untuk melihat adanya cairan yang keluar dari serviks atau menggenang di forniks posterior.Jika tidak ada, gerakkan sedikit bagian terbawah janin, atau minta ibu untuk mengedan/batuk (Erawati,2011; h.24).

b) Malpresentasi (1) Definisi

Malpresentasi meliputi semua presentasi selain vertex (2) Presentasi Dahi

Diagnosis:

Pemeriksaan abdominal: kepala janin lebih separuhnya di atas pelvis, denyut jantung janin sepihak dengan bagian kecil. Pemeriksaan vaginal: oksiput lebih tinggi dari sinsiput, teraba fontanella anterior dan orbita, bagian kepala masuk pintu atas panggul (PAP) adalah antara tulang orbita dan daerah ubun-ubun besar. Ini adalah diameter yang PALING besar, sehingga sulit lahir pervaginam (Erawati,2011; h.24).

(3) Presentasi Muka Diagnosis:

(51)

teraba mulut dan bagian rahang mudah diraba, tulang pipi, tulang orbita; kepala janin dalam keadaan defleksi maksimal. Untuk membedakan mulut dan anus: Anus merupakan garis lurus dengan tuber iskhii, Mulut merupakan segitiga dengan prominen molar (Erawati,2011; h.24).

(4) Presentasi Majemuk Diagnosis:

Prolaps ekstremitas bersamaan dengan bagian terendah janin (kepala/bokong) (Erawati,2011; h.24). (5) Presentasi Bokong (Sungsang)

Diagnosis :

Gerakan janin teraba di bagian bawah abdomen.Pemeriksaan abdominal: kepala terletak di bagian atas, bokong pada daerah pelvis, auskultasi menunjukkan denyut jantung janin lokasinya lebih tinggi. Pemeriksaan vaginal: teraba bokong atau kaki, sering disertai adanya mekonium. Pada gambar (berturut-turut): presentasi bokong sempurna, presentasi bokong murni, dan presentasi kaki (footling) (Buku Saku Pelayanan Kesehatan, 2013; h.122-140). c) Pada kala II

(52)

Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya janin.Median durasinya adalah 50 menit untuk nulipara dan 20 menit untuk multipara (Prawiroharjo, 2010 h. 574).

(2) Ruptura uteri

Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama pertes lama, terutama pada ibu dengan paritas tinggi, dan pada mereka dengan riwayat seksio sessaria. Apabila disporposi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakup dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudia dapat menyebabkna ruptur (Prawiroharjo, 2010; h.576)

(3) Distosia bahu

(53)

(4) Tanda gawat janin

DJJ kurang dari 120 atau lebih dari 160 x/menit. (JNPK-KR, 2008, hal 93-96)

(5) Prolaps tali pusat

Tekanan ada tali pusat oleh bagian terendah janin dan jalan lahir akan mengurangi atau menghilangkan sirkulasi plsaenta, bila tidak dikoreksi, komplikasi ini dapat menyebabkan kematian janin, karena obstruksi yang lengkap dari tali pusat menyebabkan dengan segera berkurangnya detak jantung janin (Prawiroharjo, 2010; h.626).

(6) Pada kala III

(a) Retensio plasenta adalah plasenta yang tidak lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir (JNPK-KR, 2008; h.118).

(b) Atonia uteri, adalah uterus yang tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta (JNPK-KR, 2008; h.108).

14. Asuhan Persalinan Normal 58 Langkah

a. Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua Ibu mempunyai keinginan untuk meneran

1) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran

(54)

3) Perineum tampak menonjol 4) Vulva dan sfingter ani membuka

b. Memastikan perlengkapan, peralatan bahan, dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asfiksia tempat datar dan keras, 2 kain dan 1 handukbersih dan kering lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.

1) Menggelar kain diatas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal bahu bayi

2) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai didalam partus set.

3) Mengenakan clemek plastik yang bersih

4) Melepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

5) Mamakai sarung tangan DTT untuk melakukan pemeriksaan dalam.

6) Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik).

(55)

kapas atau kasa yang sudah dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi.

(a). Jika introitus vagina, perineum, atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan kebelakang.

(b). Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia

(c). Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%

Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukan lengkap, bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi

8). Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5 % kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.

(56)

10). Memberitahu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.

(a) Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang ada.

(b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar.

(11) Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (Bila ada rasaingin meneran dan terjadi kontarksi yang kuat, bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).

(12) Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan yang kuat untuk meneran :

(a) Membimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif

(b) Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai

(c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihanya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)

(57)

(e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.

(f) Memberikan cukup asupan cairan per-oral (minum) (g) Menilai DJJ setiap kontaksi uterus selesai

(h) Melakukan rujukan segera jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit(1 jam) meneran (multigravida). (13) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongok atau mengambil

posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

(14) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 -6 cm. (15) Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong

ibu.

(16) Membuka tutup partus set

(17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan (18) Melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan

kain bersih dan kering setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal. (19) Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil

(58)

(a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi

(b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong di antara dua klem tersebut.

(20) Menunggu hingga kepala bayi malakukan putar paksi luar sacara spontan

(21) Menuunggu kepala bayi melakkan putaran paksi luar secara spontan.

(22) Melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparietal. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi.Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.

(23) Menggeser tangan yang berada di bawah ke arah perinium ibu untuk menyangga kepala, lengan dan siku sebelah bawah gunakan tangan yang berada di atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.

(24) Melakukan penelusuran tangan yang berada diatas punggung, bokong tungkai dan sampai mata kaki. Pegang kedua mata kaki (masukan telunjuk di antara kaki dan pegang masing- masing mata kaki dengan ibu jari dan jari- jari lainnya).

(25) Melakukan penilian selintas :

(59)

Jika bayi tidak menangis, tidak bernapas atau megap-megap segera lakukan tindakan resusitasi.

(26) Mengeringkan dan posisikan bayi di atas perut ibu.

(a) Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. (b) Ganti handuk basah dengan handuk yang kering.

(c) Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas dada atau perut ibu.

(27) Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi lain dalam uterus (janin tunggal).

(28) Memberitahukan pada ibu bahwa penolong akan menyuntikan oksitosin (agar uterus berkontraksi dengan baik).

(29) Dalam waktu kurang dari 1 menit setelah bayi lahir, berikan Menyuntikan oksitosin 10 IU (intramuskuler) di sepertiga paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

(30) Menggunakan klem, jepit tali pusat (dua menit setelah bayi lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar umbilikus) bayi. Dari sisi luar klem penjepit, dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan lakukan penjepitan ke dua pada 2 cm distal dari klem pertama.

(31) Memotong dan pengikatan tali pusat

(60)

(b) Mengikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi kemudian lingkarkan kembali benang ke sisi berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan simpul kunci.

(c) Melepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah disediakan.

(32) Menempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi Meletakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu.luruskan bahu bayi menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu. Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu

(33) Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan kering serta pasang topi pada kepala bayi.

(34) Memindahkankan tali pusat hingga berjarah 5- 10 cm dari vulva. (35) Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas

symfisis untuk mendeteks.Tangan lain menegangkan tali pusat (36) Setelah uterus berkonteraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah

(61)

(37) Melakukan penegangan dan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali puat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap melakukan dorso kranial).

(a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

(b) Jika plasenta tidak lepas selama 15 menit menegangkan tali pusat:

(i) Memberikan dosis ulang oksitosin 10 IU IM

(ii) Melakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh

(iii) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan. (iv) Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya (v) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30

menit setelah bayi lahir

(vi) Jika terjadi perdarahan lakukan manual plasenta.

(62)

(39) Segera setelah plsenta dan selaput ketuban lahir, lakukan massase uterus dengan meletakan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan secara lambat hingga uterus berkonteraksi (fundus teraba keras). Melakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/masase.

(40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian fetal maupun maternal dan pastikan bahwa selaput lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastic atau tempat khusus.

(41) Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.

(42) Memastikan uterus berkonteraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.

(43) Berikan cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi (di dadaibu paling sedikit 1 jam).

(a) Melakukan inisiasi menyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara

(63)

(44) Melakukan penimbangan/ pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1mg intramuscular di paha kiri anterolateral setelah satu jam kontak kulit ibu –bayi.

(45) Memberikan suntikanimunisasi hepatitis B (setelah satu jam pemberian Vitamin K1) di paha kanan anterolateral.

(a) Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan.

(b) Meletakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.

(46) Melakukan pemantauan kotraksi dan pencegahan perdarahan pervaginam:

(a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan. (b) 15 menit pada 1 jam pertama.

(c) 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.

(d) melakukan asuhan yang sesuai untuk penatalaksanaan atonia uteri jika uterus tidak berkonteraksi dengan baik. (47) Menganjurkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan

menilai kontraksi.

(48) Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah

(64)

1) Memeriksa temperatur ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan.

2) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

(50) Memeriksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5°C – 37,5°C).

(51) Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi selama 10 menit. Cuci dan bilas peralatan yang telah didekontaminasi.

(52) Membuang bahan- bahan yang terkontaminasi ketempat sampah yang sesuai.

(53) Membersihkan badan ibu menggunkan air DTT. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

(54) Memastikan ibu merasa nyaman, Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan keluarga untuk memberi minuman dan makanan yang diinginkannya.

(55) Mendokumentasikan tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5% (56) Mencelupkankan handscoon kotor kedalam larutan klorin 0,5%

(65)

(58) Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala IV( JNPK-KR, 2008; hal : 18-23). Pemantauan keadaan umum ibu menurut JNPK-KR tahun 2008 h.112.selama dua jam pertama pasca persalinan :

1) Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandungkemih dan darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam dan setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.

2) Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua kala empat.

3) Pantau temperature tubuh setiap jam dalam dua jam pertama pascapersalinan.

4) Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua pada kala empat.

5) Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai kontraksi uterus dan jumlah darah yang keluar dan bagaimana malakukan masase jika uterus menjadi lembek.

C. BAYI BARU LAHIR

1. Definisi

(66)

0 (bayi lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir. Neonatus ini adalah bayi berumur 0-7 hari. Neonatus lanjut adalah bayi berusia 7-28 hari. (Muslihatun, 2010; h.2 ).

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi kepala melalui vagina tanpa memakai alat pada usia kehamilan genap 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram, nilai Apgar › 7 dan tanpa cacat bawaan (Rukiyah,2012; hal.2).

Bayi baru lahir dikatakan normal jika termasuk dalam kriteria sebagai berikut:

a. Berat badan lahir antara 2500-4000 gram. b. Panjang badan bayi 48-52cm.

c. Lingkar dada bayi 32-34cm. d. Lingkar kepala 33-35cm.

e. Denyut jantung dalam menit pertama kurang lebih 180 kali per menit, kemudian turun sampai 120-140 kali per menit pada saat berumur 30 menit.

f. Respirasi cepat pada menit pertama kurang lebih 80 kali per menitdisertai pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan interkostal serta rintihan hanya berlangsung 10-15 menit. g. Kulit kemerahan dan licin karena jaringan subkutan cukup

terbentuk dan dilapisi vernik kaseosa.

(67)

j. Genetalia testis sudah turun jika pada laki-laki dan labia mayora telah menutupi labia minora pada perempuan.

k. Refleks isap, menelan, dan moro telah terbentuk.

l. Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam pertama. Mekonium memiliki yang khas yaitu hitam kehijauan dan lengket (Sondakh, 2013;h.150).

2. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

Menurut JNPK-KR (2008: hal.137) pemeriksaan bayi baru lahir dilakukan pada :

a. Saat bayi berada diklinik (dalam 24 jam ) b. Saat kunjungan tindak lanjut (KN), yaitu :

1) Kunjungan I : pada usia 1-3 hari 2) Kunjungan II : pada usia 4-7 hari 3) Kunjungan III : pada usia 8-28 hari.

Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi selama jam pertama setalah kelahiran. Sebagian besar bayi yang baru lahir akan menunjukkan usaha pernafasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi baru lahir adalah:

a) Menjaga bayi agar tetap hangat dan kering.

b) Mengusahakan adanya kontak kulit antara ibu dan bayi secepat mungkin (Saifuddin,dkk, 2010;h.N.30).

(68)

(1) Membersihkan jalan nafas.

(2) Memotong dan merawat tali pusat. (3) Mempertahankan suhu tubuh bayi. (4) Identifikasi.

(5) Pencegahan infeksi.

Pemberian jalan nafas, perawatan tali pusat, perawatan mata, dan identifikasi adalah rutin segera dilakukan, kecuali bayi dalam keadaan kritis dan dokter memberi perintah khusus.

1. Membersihkan jalan nafas

Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut:

a. Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.

b. Gulung sepotong kain dan diletakkan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit menengah ke belakang. c. Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi

dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril.

d. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis.

(69)

membersihkan jalan nafas, sehingga upaya bayi bernafas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir atau masuknya lendir ke dalam paru-paru.

a) Alat pengisap lendir mulut menggunakan delee atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus siap ditempat.

b) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung. c) Petugas harus memantau dan mencatat usaha nafas

yang pertama.

d) Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.

2) Bantuan untuk menilai pernafasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat.

3) Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan pemompaan bila setelah 1 menit bayi tidak bernafas. 2. Memotong dan perawatan tali pusat

(70)

Perawatan tali pusat yang benar dan lepasnya tali pusat dalam minggu pertama untuk mengurangi insiden infeksi pada neonatus. Yang terpenting dalam perawatan tali pusat adalah menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih. Langkah-langkah merawat tali pusat adalah sebagai berikut:

a. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum merawat tali pusat.

b. Bersihkan dengan lembut kulit di sekitar tali pusat dengan kapas basah.

c. Bungkus dengan longgar atau tidak terlalu rapat dengan kasa steril atau bersih.

d. Popok atau celana bayi diikat dibawah tali pusat. e. Tidak menutupi tali pusat untuk menghindari kontak

dengan feses dan urin.

f. Hindari penggunaan kancing, koin atau logam untuk membalut tali pusat (Sarwono, 2010;h.370-371). 3. Mempertahankan suhu tubuh bayi

(71)

4. Pencegahan infeksi

Pencegahan infeksi pada bayi baru lahir adalah pemberian vitamin K dan pemberian obat tetes atau salep mata. Pemberian vitamin K pada bayi sebaiknya pada bayi yang cukup bulan dan lahir secara normal yaitu vitamin K peroral 1 mg per hari selama 3 hari, sedangkan pada bayi dengan risiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg per IM. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia atau penyakit menular seksual, dan obat apa saja yang telah diberikan untuk bayi harus dicatat dalam status bayi (Saifuddin, 2009;h.134-135).

5. Identifikasi bayi

(72)

lingkar perut dan dicatat didalam rekam medik (Sondakh, 2013;h.160).

6. Pemantauan bayi baru lahir

Bertujuan untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan. Penilaian pada bayi baru lahir dilakukan pada saat sebagai berikut: a. Dua jam pertama sesudah lahir

Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir meliputi:

1) Kemampuan menghisap kuat atau lemah. 2) Bayi tampak aktif atau lunglai.

3) Bayi kemerahan atau kebiruan.

b) Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya

Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan memerlukan tindakan lebih lanjut seperti: 1) Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang

bulan.

2) Gangguan pernafasan. 3) Hipotermia.

Gambar

Tabel. 1.2 Penapisan pada metode hormonal (pil, suntik, dan
Tabel. penapisan pada metode kontrasepsi AKDR

Referensi

Dokumen terkait

U : kekuatan yang diperlukan untuk menahan beban terfaktor atau momen. dangaya yang berhubungan dengannya (kg/m

Menurut anda, di bawah ini yang manakah makanan paling banyak mengandung protein..

Knowledge management merupakan kegiatan organisasi dalam mengelola pengetahuan sebagai aset, dimana dalam berbagai strateginya ada penyaluran pengetahuan yang tepat

Setelah selesai, Windows Server 2003 Setup akan me-restart komputer dan.

Menurut pendapat Smith dan Chaffey, “ internet marketing atau biasa di sebut juga sebagai digital marketing merupakan inti dari sebuah ebusiness, dengan semakin dekatnya

Penghargaan yang diraih oleh Yayasan Al Firdaus tentunya tidak didapatkan secara instan, diperlukan strategi komunikasi yang telah direncanakan dengan matang untuk

15 Jadi, dalam penelitian ini metode observasi yang digunakan adalah observasi dengan

Lampiran 22 : Menguji Regresi Sektor Industri Barang dan Konsumsi. Variables