EVALUASI KINERJA DAN STATUS KEBERLANJUTAN KAWASAN AGROPOLITAN PERPAT BELITUNG

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

EVALUASI KINERJA DAN STATUS KEBERLANJUTAN

KAWASAN AGROPOLITAN PERPAT BELITUNG

Hariyadi

*

, Catur Herison

**

, Edi Suwito

*** *

Staf Pengajar Fakultas pertanian IPB, e-mail : - **

Staf Pengajar Fakultas pertanian Univ. Bengkulu, e-mail : - ***

Mahasiswa Pascasarjana Prodi Pengel. Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL), e-mail :- ABSTRAK

Penelitian dilakukan pada kawasan agropolitan Perpat Belitung, selama bulan November 2009 sampai dengan bulan Maret 2010 dengan metode studi literatur, survey lapangan, wawancara dan questioner dan Analisis-analisis yang digunakan antara lain analisis Location Quetient (LQ), analisis unggulan dan andalan, metode pendekatan Multi Dimensional Scaling (MDS) Rap-Agrop, analisis Laverege, analisis Monte Carlo dan analisis Prospektif serta analisis Deskriptif, yang bertujuan untuk : mengetahui potensi kawasan dalam mendukung pengembangan agropolitan Perpat,) mengevaluasi tingkat kinerja perkembangan kawasan agropolitan Perpat, mengevaluasi status keberlanjutan pengembangan kawasan agropolitan Perpat, mengetahui persepsi dan kebutuhan masyarakat terhadap agropolitan. Hasil penelitian menunjukan bahwa masing-masing kecamatan memiliki dominansi komoditas yang beragam diusahakan dan dibudidayakan dan terdapat lima (5) komoditas unggulan yaitu Padi, Ubi Kayu, Lada, Kelapa dan komoditas Sapi Potong yang ditetapkan sebagai komoditas unggulan utama program agropolitan, dengan tingkat kinerja perkembangan wilayah termasuk dalam Strata PRA II Kawasan Agropolitan yang berstatus keberlanjutan pengembangan Kawasan Agropolitan Perpat termasuk dalam Strata kurang berkelanjutan, dan penetapan Kawasan Agropolitan Perpat dengan komoditas unggulan utama sapi potong tidak tepat untuk dikembangkan oleh karena kondisi existing tingkat perkembangan yang rendah dan status keberlanjutan yang kurang keberlanjutan.

Kata Kunci: Transformasi Industri Penangkapan, Masyarakat Nelayan

I. PENDAHULUAN

Pembangunan nasional yang dilakukan dalam beberapa dasawarsa terakhir menghasilkan efek negatif dalam upaya pembangunan itu sendiri, pembangunan yang hanya terarah pada kawasan perkotaan, telah memberikan berbagai akses (urban bias) seperti terjadinya migrasi desa-kota yang tak terkendali, polusi, kemacetan lalu lintas, pengkumuhan kota, kehancuran massif sumberdaya alam, serta pemiskinan desa. Hal ini dilatarbelakangi oleh konsep kota sebagai pusat pertumbuhan tidak memberikan efek penetesan kebawah, tetapi melakukan pengurasan sumberdaya (backwash) dari wilayah sekitarnya yang menyebabkan disparitas wilayah. Efeknya adalah terjadinya urbanisasi karena investasi barang dan jasa di perkotaan tidak memiliki

lingkage dengan sektor primer di perdesaan, desa kehilangan tenaga produktif dan ditambah oleh

pola pikir kebijakan politik yang tidak berpihak kepada rakyat di perdesaan (Arief, 1995).

Oleh karena itu dalam rangka menyeimbangkan pemerataan dan percepatan pembangunan pertanian dan perdesaan setara dengan perkotaan, maka pemerintah mencanangkan program pengembangan kawasan agropolitan pada tahun 2002. Agropolitan dapat diartikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, menarik, mendorong kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) disekitarnya (Deptan, 2002). Dalam perspektif konsep agropolitan, tidak saja menjanjikan perubahan kesejahteraan yang signifikan bagi petani/ peternak juga sarat dengan perubahan sistem nilai, budaya dan ideologi. Pengembangan agropolitan perlu diperkuat dengan kebijakan struktur pemerintah melalui

(2)

25 aturan hukum, persaingan, distribusi, produksi

dan konsumsi yang melindungi petani serta dalam pengelolaanya tidak menyebabkan kerusakan lingkungan (Mubyarto dan Santoso, 2003). Pembangunan kawasan agropolitan diharapkan dapat mengurangi ketimpangan pembangunan (disparitas) antar wilayah perkotaan dengan wilayah pedesaan yang selama ini terisolir, tertinggal dan kurang mendapatkan perhatian.

Kabupaten Belitung merupakan salah satu dari kabupaten di Indonesia yang menitik beratkan kebijakan pembangunan daerahnya pada sektor pertanian, perkebunan dan peternakan, yaitu dengan penetapan pengembangan kawasan agropolitan. Kawasan tersebut adalah Kawasan Agropolitan Perpat yang ditetapkan berdasarkan SK Bupati Kabupaten Belitung No.316/IV/2003 di Kecamatan Membalong dengan desa pusat pertumbuhan (DPP) berada pada wilayah Perpat.

Pengembangan kawasan agropolitan Perpat mencakup lima kecamatan yaitu Kecamatan Tanjung Pandan, Badau, Selat Nasik, Membalong dan Sijuk dengan mengandalkan sektor peternakan sapi potong sebagai komoditas unggulan utama dan pertanian padi sawah dan ubi kayu serta komoditas perkebunan lada dan kelapa sebagai komoditas unggulan.

Keterbatasan sumberdaya manusia, penguasaan teknologi yang rendah, lemahnya manajeman pengelolaan usahatani, penguasaan lahan petani yang semakin sempit, keterbatasan informasi pasar, ketidakberadaan lembaga keuangan mikro, dan kurangnya sarana prasarana pendukung produksi pertanian dan peternakan, merupakan sebagian permasalahan yang telah lama dihadapi masyarakat petani dan pemerintah daerah Kabupaten Belitung. Telah banyak upaya yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah daerah selama ini, beberapa kegiatan yang telah dilakukan diantaranya seperti pembangunan unit peternakan terpadu, pemberian bantuan saprodi (bibit, pupuk) pertanian, program penyuluhan dan pelatihan, serta penerapan berbagai teknologi pengelolaan pasca panen. Namun upaya-upaya tersebut dirasakan belum begitu menyentuh dan memberi pengaruh yang besar dan nyata dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat petani di kawasan agropolitan.

Tekanan zona perdagangan bebas merupakan tantangan yang harus dilalui dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan. Dalam era pasar bebas diperlukan efisiensi, penyediaan kualitas dan kuantitas produsi pertanian, merupakan prasyarat utama

pertimbangan sehingga suatu produk dapat bersaing dan menembus pasar internasional. Selain itu, tantangan yang berasal dari dalam daerah (internal), seperti kesiapan sumberdaya manusia daerah, pemilihan dan penggunaan teknologi yang sesuai, ancaman akan penurunan daya dukung lahan hingga tekanan jumlah penduduk. Semua itu merupakan tantangan-tantangan yang harus menjadi perhatian semua kalangan. Melalui pemanfaatan dan pengembangan yang optimal dari semua keunggulan komparatif maupun kompetitif yang dimiliki, merupakan modal utama dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan Perpat kedepan. Upaya dalam memperoleh manfaat yang optimal, dapat diperoleh melalui penerapan konsep pembangunan pertanian yang berkelanjutan (agriculture sustainable development), untuk itu harus memperhatikan kriteria-kriteria yang terdapat didalamnya, salah satunya adalah dengan mengutamakan keseimbangan berbagai dimensi dalam pembangunan, antara lain dimensi ekonomi, sosial budaya serta kelestarian atau ekologi (Saragih dan Sipayung, 2002).

Kajian komprehansif mendalam dan terintegral merupakan suatu upaya yang logis dan sangat dibutuhkan dalam mewujudkan hal tersebut. Sehingga kebijakan yang dilahirkan nantinya akan dapat memberikan pengaruh positif secara luas, khususnya pada kesejahteraan ekonomi masyarakat petani kawasan.

Hasil studi penelitian diharapkan mampu merubah paradigma pembangunan wilayah perdesaan dengan pengembangan kawasan agropolitan berkelanjutan setara dengan kota sebagai basis kegiatan ekonomi dan memberdayakan masyarakat lokal

Tujuan penelitian adalah : (a) mengetahui potensi kawasan dalam mendukung pengembangan agropolitan Perpat, (b) mengevaluasi tingkat kinerja perkembangan kawasan agropolitan Perpat, (c) mengevaluasi status keberlanjutan pengembangan kawasan agropolitan Perpat, (d) mengetahui persepsi dan kebutuhan masyarakat terhadap agropolitan. II. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada kawasan agropolitan Perpat Belitung, selama bulan November 2009 sampai dengan bulan Maret 2010. Metode penelitian adalah studi literatur, survey lapangan, wawancara dan quesioner. Analisis-analisis yang digunakan antara lain (1) analisis Location Quetient (LQ), (2) analisis

(3)

26 unggulan dan andalan, (3) metode pendekatan

Multi Dimensional Scaling (MDS) Rap-Agrop, (4) analisis Laverege, (5) analisis Monte Carlo dan (6) analisis Prospektif serta (7) analisis

Deskriptif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Identifikasi Potensi Wilayah di Kabupaten Belitung

Hasil kajian menunjukkan bahwa basis komoditas dominan tersebar pada lima (5) kecamatan kawasan agropolitan untuk komoditas tanaman pangan, perkebunan dan peternakan.

Untuk basis penggerak perekonomian masyarakat ditemukan lima (5) komoditas unggulan yaitu : Padi dan Ubi Jalar (komoditas tanaman pangan), Lada dan Kelapa (komoditas perkebunan) dan Sapi Potong (komoditas peternakan). Dengan berbagai pertimbangan, maka pemerintah daerah menetapkan sapi potong sebagai komoditas unggulan utama program agropolitan.

3.2. Tingkat Perkembangan Kawasan Agropolitan Perpat Belitung

Analsis tingkat perkembangan menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS) RAP- AGROP dengan penilaian pada lima (5) aspek agrobisnis kondisi existing meliputi dimensi : usahatani, agroindustri, pemasaran, infrastruktur dan suprastruktur di kawasan agropolitan berdasarkan pada kriteria perkembangan kawasan agropolitan Deptan (2002). Hasil kajian tingkat kinerja perkembangan menunjukkan kawasan agropolitan Perpat Belitung termasuk dalam kategori PRA II Kawasan Agropolitan dengan nilai indeks gabungan 36.88. Indeks penilaian dimensi infrastruktur 68.06% merupakan tertinggi yang diikuti oleh dimensi suprastruktur 54.83, dimensi usahatani 53.71%, dimensi pemasaran 14.76%, dimensi agroindustri 10.53%.

Tabel 1. Hasil Analisis MDS Tingkat Perkembangan Kawasan

Dimensi Keberlanjutan Indeks RAP-AGROP Bobot Indeks Pembobotan

Agrobisnis 53.71 0.36 19.75

Agroindustri 10.53 0.29 3.09

Pemasaran 14.76 0.14 2.13

Infrastruktur 68.06 0.09 6.46

Suprastruktur 54.83 0.09 5.44

Total Indeks Gabungan 36.88

Sumber : Analisis Data Primer

Terlihat ada dua (2) dimensi yang memiliki nilai indeks sangat rendah yaitu dimensi agroindustri dan dimensi pemasaran. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa dengan belum tersedianya industri olahan lanjutan pasca panen yang membuat petani terpaksa menjual komoditas dalam bentuk primer. Hal ini berdampak pada kualitas produk yang rendah dan nilai jual yang rendah pula. Pada beberapa komoditas telah ada perlakuan pengolahan lanjutan seperti tepung singkong dan lada bubuk akan tetapi dalam skala kecil dan terbatas. Demikian juga dengan ketiadaan pemasaran (sentra terminal agribisnis) yang meliputi pasar hewan dan pertanian secara umum menyebabkan posisi nilai tawar (bargaining position) rendah pada petani dimana pasar dikuasai oleh tengkulak/ makelar. Hasilnya petani tidak dapat memperoleh keuntungan optimal yang berdampak pada pendapatan perekonomian dan kesejahteraan.

Oleh karena itu dalam upaya peningkatan dan pengembangan sistem agribisnis di kawasan agropolitan adalah dengan melihat keterkaitan setiap subsistem agrobisnis. Perkembangan satu subsistem akan mempengaruhi dan dipengaruhi olah subsistem yang lainnya, sehingga pengembangan pembangunan yang akan dilakukan dilihat secara proposional, seperti yang diutarakan Soekartawi (2002) agribisnis merupakan suatu sistem yang holistik, suatu proses yang utuh dari poses pertanian didaerah hulu sampai kedaerah hilir atau proses dari penyediaan input sampai pemasaran.

3.3. Indeks dan Status Keberlanjutan Kawasan Agropolitan Perpat

3.3.1. Analisis Keberlanjutan

Status keberlanjutan kawasan agropolitan Perpat dinilai menggunakan analisis Multi Dimensional Scaling (MDS) yang disebut RAP- AGROP. Kriteria penilaian dengan menyertakan lima (5) dimensi meliputi : dimensi ekologi,

(4)

27 dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi

infrastruktur/ teknologi dan dimensi hukum/ kelembagaan serta pembobotan dengan analisis

Analytical Hierarchy Prosess (Budihasono, 2008). Hasil analisis menunjukkan pada kondisi

existing nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi 45.03% (kurang berkelanjutan) dimensi ekonomi 52.98% (cukup berkelanjutan), dimensi sosial budaya 55.59% (cukup berkelanjutan), dimensi infrastruktur & teknologi 38.21%

(kurang berkelanjutan) serta dimensi hukum & kelembagaan 40.45% (kurang berkelanjutan

Indeks gabungan status keberlanjutan kawasan sebesar 47.79% menunjukkan status keberlanjutan kawasan agropolitan Perpat termasuk dalam kriteria kawasan KURANG BERKELANJUTAN. Berikut hasil analisis MDS dari lima dimensi yang dilakukan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis MDS RAP-AGROP Status Keberlanjutan Kawasan Agropolitan Perpat

Dimensi Keberlanjutan Indeks RAP-AGROP Bobot Indeks Pembobotan

Ekologi 45.03 0.36 16.56

Ekonomi 52.98 0.29 15.56

Sosial budaya 55.59 0.14 8.02 Infrastruktur & Teknologi 38.21 0.09 3.63 Hukum & Kelembagaan 40.45 0.09 4.01

Total Indeks Gabungan 47.79

Sumber : Analisis Data Primer

Terdapat tiga (3) dimensi yang menyebabkan status kurang berkelanjutan dan belum optimal dalam menunjang program agropolitan yaitu : dimensi infrastruktur dan teknologi, hukum & kelembagaan serta ekologi.

Dengan analisis Leverage yang digunakan untuk mengetahui atribut/ elemen yang sensitif dan mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan ditemukan enam (6) elemen pada dimensi infrastruktur dan teknologi, empat (4) elemen dimensi hukum & kelembagaan serta enam (6) elemen pada dimensi ekologi.

3.3.2. Analisis Monte Carlo

Hasil analisis Monte Carlo yang digunakan untuk mengevaluasi pengaruh galat pada pendugaan nilai ordinansi keberlanjutan kawasan

agropolitan Perpat menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% terhadap hasil analisis RAP-AGROP menggunakan analisis Multi Dimension Scaling

(MDS). Hasil kajian menunjukkan semua atribut dan elemen yang digunakan dalam kajian keberlanjutan kawasan agropolitan Perpat memiliki nilai keakuratan yang tinggi dengan kesalahan yang kecil terhadap pelaksanaan pemberian skoring atribut karena pemahaman yang kurang sempurna, variasi skoring karena perbedaan opini pendapat, proses input dan analisis data yang berulang-ulang. Perbandingan hasil nilai analisis Monte Carlo dengan analisis MDS dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan nilai Indeks RAP-AGROP dengan analisis

Monte Carlo

Dimensi Keberlanjutan Indeks Keberlanjutan (%) Nilai MDS Nilai Monte carlo Deviasi

Ekologi 45.03 44.83 0.20

Ekonomi 52.98 52.27 0.71

Sosial budaya 55.59 54.59 1.00

Infrastruktur & Teknologi 38.21 38.27 0.06

Hukum dan kelembagaan 40.45 40.21 0.34

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 4. Hasil analisis RAP-AGROP pada nilai stress dan koofisien determinan

Parameter Ekologi Ekonomi Sosial & Dimensi

Budaya Infrastruktur & Teknologi Kelembagaan Hukum &

Stress 13.7 13.6 13.5 14.1 14.2

(5)

28

Nilai

kajian

dapat

dipertanggung

jawabkan bila nilai

koofisien determinan

(R

2

)

mendekati nilai 1 serta nilai

Stress

lebih kecil

dari 25% (Tabel 4). Hasil perlakuan

menggunakan

metode

RAP-AGROP

menunjukkan nilai

Stress

rata-rata antara

13.5 – 14.2 % berarti ketepatan konfigurasi

titik-titik (

goodness of fit

) dari setiap aspek

yang dibangun untuk penilaian keberlanjutan

kawasan dapat merepresentasikan kondisi

yang baik (Kavanagh, 2001) dan nilai

koofisien determinan

(R

2

) rata rata 0.956

-0.958 mendekati nilai 1 menunjukkan

atribut-atribut yang disertakan memiliki

peran yang cukup besar dalam menjelaskan

keragaman

dari

setiap

dimensi

yang

dibangun.

3.3.3. Indeks Keberlanjutan

Berdasarkan

hasil

kajian

analisis

keberlanjutan dengan menggunakan metode

analisis MDS RAP-AGROP ditemukan dua

puluh lima (25) elemen yang sensitif

memepengaruhi indeks keberlanjutan. Untuk

melihat

kemungkinan

pengembangan

kawasan berkelanjutan maka diperlukan

elemen faktor kunci perencanaan sesuai

dengan tujuan yang ingin dicapai dengan

menggunakan analisis

Prospektif.

Penentuan

faktor-faktor kunci dalam analisis ini

menggunakan gabungan faktor kunci yang

sensitif dan berpengaruh terhadap

masing-masing dimensi pada analisis

Leverage

status

keberlanjutan. Dari lima (5) dimensi yang

mempengaruhi status keberlanjutan dengan

sembilan puluh (90) elemen/atribut yang

digunakan.

Hasil

Analisis

Prospektif

diperoleh lima (5) elemen kunci (

key factor

)

yaitu : (1) sistem pemeliharaan, (2) tingkat

pendidikan, (3) ketersediaan agroindustri

olahan, (4) lembaga keuangan mikro dan (5)

penyediaan pasar produk (STA). Berikut

hasil analisis prospektif pada Gambar 1.

Elemen kunci tersebut yang menjadi dasar perbaikan dan perencanaan untuk diberikan sentuhan program sehingga dapat mencapai tujuan utama pengembangan kawasan agropolitan secara berkelanjutan.

Gambar 1. Analisis kepentingan antar faktor yang sensitif pada perencanaan pengembangan keberlanjutan kawasan Agropolitan Perpat

3.4. Persepsi dan Kebutuhan Masyarakat Tentang Agropolitan

Berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan program agropolitan yang telah berjalan sejak tahun 2003 menunjukkan

(6)

29 hasil sebagian besar masyarakat kurang

memahami tentang agropolitan (78%) dan yang telah mengetahui adanya agropolitan baru

mencapai 22%. Data persepsi masyarakat tentang agropolitan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Persepsi masyarakat tentang agropolitan Perpat

Kondisi ini menujukkan masih lemahnya pengetahuan masyarakat oleh karena rendahnya rata-rata tingkat pendidikan petani dan peternak tentang suatu program yang telah berjalan cukup lama. Juga dipengaruhi oleh tingkat sosialisasi melalui penyuluhan dan kelompok tani yang belum maksimal. Keberadaan badan pengelola agropolitan juga tidak memiliki konsep implementasi yang jelas, sehingga terjadi missing link antar instansi dan berakibat pada lemahnya pendapat masyarakat akan agropolitan.

Secara umum masyarakat meskipun tidak memahami program agropolitan, akan tetapi

program dilapangan telah berjalan lama. Persepsi masyarakat sangat menerima jika memang program agropolitan akan mampu memberikan keuntungan ekonomi (98%) terhadap prioritas pengembangan komoditas unggulan dengan harapan besar akan mampu menyerap dan menciptakan lapangan kerja baru dan peningkatan keamanan lingkungan secara umum. Data persepsi masyarakat tentang keuntungan ekonomi yang didapat dari program agropolitan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Persepsi masyarakat tentang keuntungan ekonomi yang didapat dari program agropolitan

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan

1. Masing-masing kecamatan memiliki dominansi komoditas yang beragam diusahakan dan dibudidayakan dan terdapat lima (5) komoditas unggulan yaitu Padi, Ubi Kayu, Lada, Kelapa dan komoditas Sapi Potong yang ditetapkan sebagai komoditas unggulan utama program agropolitan.

2. Tingkat kinerja perkembangan wilayah termasuk dalam Strata PRA II Kawasan Agropolitan.

3. Status keberlanjutan pengembangan Kawasan Agropolitan Perpat termasuk dalam Strata kurang berkelanjutan.

4. Ditemukan lima (5) faktor elemen kunci (key factor) yang sangat mempengaruhi keberlanjutan pengembangan Kawasan Agropolitan Perpat yaitu : (1) sistem pemeliharaan budidaya, (2) tingkat pendidikan, (3) ketersediaan agroindustri olahan, (4) lembaga keuangan mikro dan (5) penyediaan pasar produk (STA).

(7)

30 5. Meskipun persepsi dan pengetahuan

masyarakat tentang agropolitan rendah, akan tetapi sebagian besar meyakini program agropolitan akan mampu memberikan keuntungan ekonomi (98%).

6. Penetapan Kawasan Agropolitan Perpat dengan komoditas unggulan utama sapi potong tidak tepat untuk dikembangkan oleh karena kondisi existing tingkat perkembangan yang rendah dan status keberlanjutan yang kurang keberlanjutan.

4.2. Saran

1. Adanya perbaikan pada dimensi yang yang memiliki nilai indeks rendah dan mempengaruhi pengembangan yaitu dimensi agroindustri dan pemasaran.

2. Perbaikan pada elemen dan faktor yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan pengembangan kawasan Agropolitan Perpat. 3. Perlu dipertimbangkan alternatif

pengembangan komoditas unggulan terpadu berupa sapi potong, lada dan padi sawah dalam program agropolitan.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, S. 1995. Neo-Kolonialisme. Makalah Seminar Ekonomi Rakyat tanggal 3 Agustus 1995. Sekretariat Bina Desa. 12 hal.

Budihasono, S. 2008. Program RALED (Rapid Assessment Techniques for Local Economic Development) dan Program Penentuan Bobot untuk Aspek PEL Manual Raled Revisi 26 Mei 2008. Jakarta.

[DEPTAN] Departemen Pertanian R I. 2002. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. Jakarta.

Kavanagh, P. 2001. Rapid Apprisal of Fisheries (Rapfish) Project. Rapfish Software Description (for Microsoft Excel). University of British Columbia. Fisheries Centre, Vancouver.

Mubyarto dan A. Santoso. 2003. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan (Kritik Tentang Paradigma Agribisnis). Jurnal Ekonomi Rakyat Thn II No.3. Mei 2003.

Saragih, B., Sipayung, T. 2002. Bological Utillization In Development and Environmentalism. Paper Presented at the Internatonal Seminar on Natural Resources Accounting Environmental Economic Held in Yogyakarta. Yogyakarta.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian : Teori dan Aplikasi. PT Raja Garfindo Persada. Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :