BAB II
LANDASAN TEORETIS A. Kajian Teori
1. Pembelajaran IPS di SD a. Hakikat IPS
Menurut Zuraik dalam Ahmad Susanto, hakikat IPS adalah harapan untuk mampu membina suatu masyarakat yang baik dimana para anggotanya benar-benar berkembang sebagai insane sosial yang rasional dan penuh tanggung jawab, sehingga oleh karenanya diciptakan nilai-nilai.1 Hakikat IPS di sekolah dasar memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan bagi peserta didik sebagai warga negara sedini mungkin, karena pendidikan IPS tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan semata, tetapi harus berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, sikap, dan kecakapan-kecakapan dasar peserta didik yang berpijak pada kenyataan kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan sosial di masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa IPS adalah mata pelajaran yang merupakan integrasi dari berbagai ilmu sosial yang disusun dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat.
1
Ahmad Susanto, Teori Pembelajaran dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014), h. 138
Kenyataannya di lapangan banyak diantara peserta didik beranggapan bahwa IPS mata pelajaran yang membosankan, sebagai mata pelajaran hafalan tentang nama orang, tanggal, nama kota, dan fakta lain yang tidak memiliki makna dalam kehidupan mereka. Hal ini merupakan satu kelemahan pembelajaran IPS di sekolah, di samping kelemahan lain misalnya: cara mengajar pendidik yang kurang menarik, media yang dipakai kurang menarik dan sebagainya.
Pendidikan IPS itu hendaknya dikembangkan berdasarkan realitas kondisi sosial budaya yang ada di lingkungan peserta didik, sehingga dapat membina warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial di sekitarnya, serta mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan, baik di masyarakat, negara, maupun dunia.2
b. Pembelajaran IPS di SD
IPS merupakan suatu pembelajaran yang mengkaji pokok persoalan manusia dalam lingkungan alam fisik maupun sosialnya yang mencakup dari berbagai ilmu sosial. Pendidikan IPS merupakan bagian dari kurikulum di sekolah yang bertujuan untuk membantu mendewasakan peserta didik supaya dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai dalam rangka berpastisipasi di dalam masyarakat, negara, dan bahkan dunia.
2
Dengan demikian, peranan IPS sangat penting untuk mendidik peserta didik mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupannya kelak sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik.
c. Tujuan Pembelajaran IPS di SD
Tujuan utama pembelajaran IPS ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.
Menurut Mutakin dalam Ahmad Susanto merumuskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah, sebagai berikut : 1) memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat; 2) mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial; 3) mampu menggunakan model-model dan proses berfikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat; 4) menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat; 5) mampu mengembangkan
berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.3
Menurut Hamid Hasan dalam Ahmad Susanto membagi tujuan IPS dalam tiga kategori, sebagai berikut: 1) mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik dalam berpikir dan memahami ilmu sosial serta kemampuan prosesual dalam mencari informasi, mengelola informasi, dan mengkomunikasikan hasil temuan; 2) mengembangkan kemampuan pertisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat dan bangsa termasuk tanggungjawab sebagai warga dunia; 3) mengembangkan sikap, nilai, norma, moral yang menjadi penutan peserta didik dalam pembentukan kebiasaan positif untuk kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk memacu perkembangan diri sebagai pribadi.4
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dipahami tujuan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada peserta didik supaya mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan sosial dan rasa tanggungjawab terhadap bangsa dan negara Indonesia.
d. Ruang Lingkup Pembelajaran IPS di SD
3
Ibid., h. 145
4
Ruang lingkup IPS adalah menyangkut kegiatan dasar manusia. Ruang lingkup IPS dalam Depdiknas 2006 meliputi aspek-aspek sebagai berikut:5
1) Manusia, Tempat, Lingkungan
2) Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan 3) Sistem Sosial dan Budaya
4) Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
Jadi dapat dipahami bahwa ruang lingkup pembelajaran IPS SD/MI adalah manusia, lingkungan, waktu, perubahan, sistem sosial ,budaya, perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
2. Aktivitas Belajar
Asas aktivitas digunakan dalam semua jenis metode mengajar, baik metode dalam kelas maupun metode mengajar di luar kelas. Hanya penggunaannya dilaksanakan dalam bentuk yang berlain-lainan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dan disesuaikan dengan orientasi sekolah.6
Sekolah adalah pusat kegitan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengemabangkan aktivitas. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh peserta didik di sekolah. Aktivitas peserta didik tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional.
5
Ahmad Susanto, Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 160
6
Paul B. Diedrich dalam Sardiman membuat suatu daftar yang berisi 117 macam kegiatan peserta didik yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:7
a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. b. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan, uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyain.
e. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g. Mental activities, sebagai contoh mislanya: menanggapi, menginat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h. Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
7
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 101
3. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajar yang berupa nilai yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar.8
Menurut Bloom dalam Agus Suprijono, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap penerima), responding (memberikan respons), valving (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rouninized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.9
“Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul, dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pertanyaan-pertanyan baru, perubahan dalam tahap kebiasaan keterampilan, kesanggupan menghargai,
8
Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 5
9
perkembangan sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani”.10 Menurut Nawawi dalam Ahmad Susanto bahwa, “hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu”. 11
Jadi dapat dipahami bahwa, yang dimaksud dengan hasil belajar peserta didik adalah mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sunal bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program yang telah memenuhi kebutuhan peserta didik. Selain itu, dengan dilakukanya evaluasi atau penilaian dapat dijadikan tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik.
b. Macam-Macam Hasil Belajar 1) Pemahaman Konsep
Pemahaman menurut Bloom dalam Ahmad Susanto diartikan seberapa besar peserta didik mampu menerima,
10
Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2009), h. 22
11
Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 5
menyerap, dan memahami pelajaran yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik, atau sejauh mana peserta didik dapat memahami dan mengerti apa yang dia baca, yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang dilakukan. Menurut Skeel dalam Ahmad Susanto “konsep merupakan sesuatu yang tergambar dalam pikiran, suatu pemikiran, gagasan, atau sesuatu pengertian”.12 Jadi, konsep merupakan sesuatu yang telah melekat dalam hati seseorang dan tergambar dalam pikiran, gagasan, atau suatu pengertian.
2) Keterampilan Proses
Usman dan Setiawati dalam Ahmad Susanto menyatakan bahwa, “keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu peserta didik”.13
Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitasnya.
3) Sikap
Lange dalam Ahmad Susanto menyatakan, “sikap merupakan kekompakan antara mental dan fisik secara serempak”.
12
Ibid., h. 7
13
Jika mental saja yang dimunculkan, maka belum tampak secara jelas sikap seseorang yang ditunjukkannya. Sementara menurut Sardiman dalam Ahmad Susanto mengatakan bahwa, “sikap merupakan kecendrungan untuk melakukan sesuatu dengan cara, metode, pola dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya baik berupa individu-individu maupun objek tertentu”. Sikap merujuk pada perbuatan, prilaku, atu tindakan seseorang. Hubungan antara sikap dengan hasil belajar peserta didik, sikap ini lebih diarahkan pada pengertian pemahaman konsep, dalam pemahaman konsep ini yang sangat berperan adalah domain kognitif.14
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Wasliman dalam Ahmad Susanto mengungkapkan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal.15
1) Faktor Internal
Merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
14
Ibid., h. 11
15
2) Faktor Eksternal
Merupakan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga yang ekonomi kurang, pertengkaran suami-istri, perhatian orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.
4. Model Pembelajaran Word Square
a. Pengertian Model pembelajaran Word Square
Model pembelajaran Word Square adalah model pembelajaran yang menggunakan kotak-kotak berupa teka-teki silang sebagai alat dalam menyampaikan materi ajar dalam proses belajar mengajar. Jadi, membuat kotak adalah media utama dalam menyampaikan materi ajar.16
Model pembelajaran Word Square merupakan model yang dapat mempermudah peserta didik dalam menguasai materi ajar, sebab ia diarahkan mencari jawaban yang telah disediakan dalam kotak. Model ini juga dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, sebab ia akan terus mengarsir huruf sesuai dengan jawabannya.
b. Langkah-langkah Model pembelajaran Word Square
Langkah-langkah Model pembelajaran Word Square adalah:17 1) Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin
dicapai.
2) Guru membagikan lembaran kegiatan.
16
Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif, (Medan: Media Persada, 2012), h. 181
17
3) Peserta didik menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban.
4) Berikan poin setiap jawaban dalam kotak. c. Kelebihan ModelWord Square
Kelebihan model Word Square adalah:18
1) Dapat mempermudah peserta didik dalam menguasai materi ajar, sebab ia diarahkan mencari jawaban yang ada dalam kotak.
2) Dapat mempermudah pendidik dalam menguraikan materi ajar, sebab pendidik dapat mengarahkan peserta didik kepada kotak-kotak yang telah dipersiapkan sebelumnya. 3) Dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, sebab ia
akan terus mengarsir huruf sesuai dengan jawabannya. 4) Menghindari rasa bosan peserta didik dalam belajar, sebab
adanya aktivitas yang tidak membuat anak jenuh dan bosan mengikuti pembelajaran.
d. Kelemahan Model Word Square
Kelemahan model Word Square adalah:19
1) Membuat kotak yang bervariasi membutuhkan kreativitas dari seorang pendidik.
2) Sering kali dijumpai antara kotak yang tersedia tidak sesuai dengan pertanyaan yang ada.
3) Membuat pertanyaan yang memerlukan jawaban yang pasti membutuhkan kemampuan yang tinggi dari seorang pendidik.
B. Penelitian Relevan
Ada beberapa penelitan relevan yang telah dilakukan dengan model pembelajaran Word Square yaitu:
1. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Eka Wijana dengan judul “Penerapan Model Belajar Word Square untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Pembelajaran Matematika”.
18
Ibid,. h. 183
19
Penelitian yang dilakukan oleh Eka Wijana tentang penerapan model belajar Word Square untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan, penelitian dilakukan di kelas VIII.C SMP Al-Falah. Nilai rata-rata awal peserta didik adalah 68,67, setelah menggunakan model pembelajaran Word Square nilai rata-rata peserta didik meningkat menjadi 73,33. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dapat dikatakan dalam kategori baik.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Norma Rohmani Saidili pada tahun 2014 dengan judul “Penerapan Model Word Square (Kotak Kata) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mengenal Aktivitas Ekonomi pada Peserta Didik Kelas IV SD Negeri 03 Jumapolo Karanganyar”.
Penelitian yang dilakukan oleh Norma Rohmani Saidili tentang penerapan model Word Square (kotak kata) untuk meningkatkan pemahaman konsep mengenal aktivitas ekonomi pada peserta didik kelas IV SD Negeri 03 Jumapolo Karanganyar mengalami peningkatan. Nilai rata-rata awal peserta didik adalah 69,34, setelah menggunakan model pembelajaran Word Square nilai rata-rata peserta didik meningkat menjadi 74,26. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dapat dikatakan dalam kategori baik.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Yani Lestari dengan judul, “Penggunaan Model Pembelajaran Word Square dalam Peningkatan Motivasi dan Penguasaan Kosakata Bahasa Ingris Siswa Kelas IV SD.”
Penelitian yang dilakukan oleh Yani Lestari tentang penggunaan model pembelajaran Word Square dalam peningkatan motivasi dan penguasaan kosakata bahasa ingris siswa kelas IV SD mengalami peningkatan. Nilai rata-rata awal peserta didik adalah 60,17, setelah menggunakan model pembelajaran Word Square nilai rata-rata peserta didik meningkat menjadi 96,42. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dapat dikatakan dalam kategori amat baik.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Devia Jonelisa dengan judul, “Model Pembelajaran Inovatif Tipe Word Square pada Pembelajaran Matematika SD.”
Penelitian yang dilakukan oleh Devia Jonelisa tentang model pembelajaran inovatif tipe Word Square pada pembelajaran matematika SD mengalami peningkatan, penelitian di lakukan di kelas V SD N 2 Sidodadi. Nilai rata-rata awal peserta didik adalah 53,29 setelah menggunakan model pembelajaran Word Square nilai rata-rata peserta didik meningkat menjadi 79,22.
Penelitian di atas memberikan dukungan terhadap penelitian penulis yaitu berupa masukan agar menerapkan model pembelajaran Word Square dalam mengembangkan dan melaksanakan perbaikan pembelajaran terutama untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian penulis adalah dari segi materi: penelitian di atas fokus terhadap pembelajaran Matematika, Bahasa Ingris, dan Ekonomi. Sedangkan penelitian penulis fokus terhadap pembelajaran IPS
kelas II.
Perbedaan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tempat pelaksanaan penelitian; 2) variabel yang digunakan dalam penelitian; 3)mata pelajaran. Sedangkan persamaan pada penelitian ini adalah model yang digunakan dalam belajar dan metode penelitian sama.
C. Kerangka Berfikir
Ilmu Pengetahuan Sosial atau yang sering disingkat IPS merupakan mata pelajaran wajib yang harus ada dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Substansi mata pelajaran IPS pada sekolah dasar merupakan IPS terpadu. Materi pelajaran dikembangkan dan disusun tidak mengacu pada disiplin ilmu yang terpisah melainkan mengacu pada aspek kehidupan nyata peserta didik sesuai dengan karakteristik usia, tingkat perkembangan berpikir, dan kebiasaan bersikap dan berperilakunya. Salah satu tujuan mata pelajaran IPS adalah memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Oleh karena itu, IPS menjadi salah satu mata pelajaran yang penting karena nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan bekal untuk hidup bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat diajarkan melalui proses pembelajaran di sekolah dengan harapan agar peserta didik dapat membiasakan diri, membudaya, dan akhirnya menjadi pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidik perlu mengembangkan pembelajaran IPS dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Kemampuan dan keterampilan pendidik
dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode, dan strategi pembelajaran senantiasa ditingkatkan agar pembelajaran IPS benar-benar mampu membekali kemampuan dan keterampilan dasar peserta didik untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Selain itu, hal tersebut dimaksudkan agar dapat memberikan motivasi kepada peserta didik agar memiliki keinginan untuk belajar IPS yang lebih giat dan semangat sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Faktanya, peserta didik kelas II SDN 28 Batang Anai kurang memiliki motivasi belajar IPS yang kuat dan lebih dari 65% dari peserta didik memiliki prestasi belajar IPS di bawah KKM yaitu nilai 75. Peserta didik kurang terlibat aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran IPS. Pendidik lebih sering menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi, sehingga metode ceramah lebih mendominasi. Hal tersebut membuat peserta didik hanya sebagai pendengar, sehingga peserta didik menjadi jenuh dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu adanya variasi dalam pembelajaran. Salah satunya dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, sehingga mampu mengajak peserta didik terlibat aktif.
Model pembelajaran Word Square adalah model pembelajaran yang menggunakan kotak-kotak berupa teka-teki silang sebagai alat dalam menyampaikan materi ajar dalam proses belajar mengajar.20 Model pembelajaran Word Square merupakan model yang dapat mempermudah peserta didik dalam menguasai materi ajar, sebab ia diarahkan mencari
20
Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Model Pembelajaran, (Bandung: Kata Pena, 2015), h. 181
jawaban yang telah disediakan dalam kotak. Model ini juga dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, sebab ia akan terus mengarsir huruf sesuai dengan jawabannya.21 Model pembelajaran ini akan dapat menarik perhatian peserta didik untuk terlibat aktif, dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajarnya. Selain itu, tujuan mata pelajaran IPS di SD akan tercapai.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan penerapan model pembelajaran Word Square pada peserta didik. Dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar antara lain pemahaman dan keterampilan peserta didik dalam pembelajaran. Maka dengan penerapan model pembelajaran Word Square dalam pelaksanaanya akan memotivasi peserta didik dalam belajar karena setiap peserta didik melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan untuk mencari dan menyelidiki jawaban dalam menguasai materi yang ditugaskan. Oleh karena itu, peneliti mengasumsikan melalui penerapan model pembelajaran Word Square ini akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik.
E. Indikator Keberhasilan
Kriteria yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan aktivitas dan hasil belajar peserta didik baik secara klasikal maupun individual adalah siswa dinyatakan tuntas belajar jika telah mencapai tingkat pemahaman materi
21
75% yang ditunjukkan dengan perolehan nilai minimal 75 atau lebih, maka intervensi yang dilakukan dikatakan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.