DIKTE POSITIVISME HUKUM ;
INTEREST KEKUASAAN DAN PERUBAHAN SOSIAL Oleh : Mawardi
A. PENDAHULUAN
“Hukum ibarat sebuah pisau” memberi makna bahwa hukum sangat tajam bila ditegakkan bagi rakyat kecil, tetapi tumpul bila ditegakkan untuk kaum elite. Perumpamaan semacam ini menggambarkan bahwa phenomena berhukum telah bergeser dari upaya memenuhi rasa keadilan menuju memenuhi kepentingan bagi kelompok tertentu, apalagi term “keadilan” sangatlah abstrak dan sulit diukur secara pasti dan tepat. Telah banyak definisi dan pemaknaan yang diberikan oleh para filosuf, pakar hukum, praktisi hukum, penegak hukum bahkan oleh rakyat kecil namun tetap saja tidak berada dalam ruang dan persepektif generasi yang berbeda-beda satu sama lain dan saling mendikotomi dalam berbagai aliran dan mazhab berhukum sehingga mempengaruhi praktek berhukum pada era masing-masing, mulai dari zaman klasik, pertengahan, bahkan sampai era modern saat ini. Pada zaman klasik, hukum banyak dipengaruhi oleh doktrin-doktrin hukum alam yang memformulakan konsep dan teorinya pada nilai-nilai universal seperti hukum yang dilihat sebagai tatanan kebajikan oleh secrates, sarana keadilan oleh plato, hingga hukum rasa sosial etis oleh aristoleles. Hukum bagi Socrates adalah tatanan yang mengutamakan kebajikan dan keadilan hukum, bukan aturan yang dibuat untuk melanggengkan hawa nafsu dan bukan pula untuk memenuhi naluri hedonism diri1. Sedangkan bagi Plato secara riil merumuskan bahwa hukum (i) merupakan tatanan terbaik untuk menangani dunia phenomena yang penuh ketidakadilan, (ii) aturan hukum yang harus dihimpun dalam satu kitab, supaya tidak muncul kekacauan hukum, (iii) UU harus didahului oleh motif dan tujuan UU terseut (iv) tugas hukum adalah membimbing para warga (lewat UU) pada suatu hidup yang saleh dan sempurna, (v) orang yang melanggar UU harus di
hukum, tetapi hukumannya bukan balas dendam2. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa hukum berada dalam konteks individu sebagai warga negara (polis) yang kemudian mengarahkannya pada nilai-nilai moral yang rasional, maka hukum itu harus adil.3
Teori dan praktek berhukumpun terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan realitas sosial masyarakatnya, setiap zaman terus mencari makna berhukum yang ideal untuk memenuhi rasa keadilan itu. Pada zaman pertengahan sampai abad ke-19 teori dan praktek berhukum harus berhadapan dengan fakta-fakta sosial yang sangat problematis.Thomas Aquinas berteori tentang hukum sebagai tatanan nilai ilahi yaitu sebuah teori yang mengkonfigurasikan tata hukum dari lex aterna (hukum dan kehendak tuhan), lex naturalis (prinsip umum hukum alam), lex devina (hukum tuhan dalam kitab suci), dan lex humane ( hukum buatan manusia yang sesuai dengan hukum alam). Jadi, menurutnya, hukum (lex humane) tidak menjadi benar jika mengabaikan kebaikan masyarakat, mengabdi pada nafsu dan kesombongan pembuatnya, berasal dari kekuasaan yang sewenang-wenang, diskriminatif terhadap rakyat apalagi jika bertentangan dengan nilai moral hukum alam dan Tuhan.4
Kuatnya pengaruh fakta-fakta sosial lah yang memberikan dan melahirkan berbagai teori hukum dan mengkritik hukum dan implementasinya. Di abad ke-19, kritik radikal atas hukum pada masa itu hadir dari muaknya para filosof akan realitas hukum pada masa itu, mulai kritik Karl Marx yang menjustifikasi bahwa hukum itu adalah kepentingan orang berpunya karena realitas sosial telah memotret hukum hanya untuk kepentingan kapitalis/kekuatan ekonomi, atau refleksi oleh Savigny atas realitas hukum yang harus kembali melihat dimensi-dimensi jiwa rakyat sebagai karakter dalam berhukum untuk melawan upaya kodifikasi hukum jerman yang akan mendikte rakyat dan cenderung berefek negative dan diskriminatif, atau bahkan Emile Durkhaim yang menguatkan moral
sosial sebagai pijakan dalam interpretasi dan implementasi hukum sebagai ekspresi solidaritas sosial yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Uraian di atas mengisyaratkan dan mejelaskan bahwa “keadilan”diorientasikan pada prinsip-prinsip kebijaksanaan, kebahagiaan, kesesuaian dengan moral, nilai-nilai-nilai ilahi, dan bahkan ada dan tumbuh dalam kesadaran sosial masyarakat. Hukum tidak akan memberikan keadilan jika tidak berorientasi pada prinsip-prinsip di atas, sehingga makna keadilan pun menjadi beragam dan sangatlah absurd. Makna keadilan akan terus berbeda pada setiap konteks dan realitas zaman dan ia sangatlah beragam bentuk dan sifatnya. Untuk itu, hukum harus terbebas dari sikap diskriminatif, menindas, eksploitatif dan sebagainya dan ia harus selaras dengan nilai-nilai yang terserak dalam ragam realitas sosial masyarakat.
Jika, pada zaman klasik, pertengahan dan abad ke-19, dominasi nilai-nilai dan fakta sosial mempengaruh perubahan-perubahan hukum pada masa itu, maka berbeda halnya dengan abad ke-20 yang diinspirasi oleh Imanuel Kant dan diteruskan oleh Neo Kantian seperti Austin, Ernst Bierling, Rudolf Stamler, Hans Kelsen, Gustav Radburch dan sebagainya telah memberi warna yang berbeda dengan abad sebelumya. Pada era ini, hukum memulai babak barunya dalam trend positivism hukum yang sampai saat ini masih tetap mendominasi dan bahkan menjadi kekuatan penguasa/negara untuk mengatur dan menertibkan kehidupan manusia. Melihat hukum secara normative, hukum secara murni dan realitas sosial adalah persoalan yang berbeda, dengan kekuatan undang-undang sebagai pijakan dalam implementasi berhukum adalah corak khas dari positivism hukum ini.
diterapkan pada kasus lain yang serupa. Keadilan dalam makna legalitas harus sesuai dengan, dan diharuskan oleh, setiap hukum positif, baik itu tatanan hukum kapitalistik maupun komunistik, demokratik maupun otokratik.5 Jadi, keadilan ini merupakan pemeliharaan atas tatanan hukum positif melalui penerapannya yang benar-benar sesuai dengan jiwa dari tatanan hukum positif tersebut dan keadilan itu adalah keadilan berdasarkan hukum positif yang terserak dalam logika dan interpretasi ragam undang-undang dan peraturan-peraturan yang terkodifikasi.
Dikte positivism hukum atas keadilan pun masih berkeliaran dalam prakteknya sekarang ini, hukum menjadi buta akan fakta-fakta sosial yang ada dalam masyarakat, hukum tidak lagi mengedepankan subtsansi hukumnya, tetapi lebih pada kesahihan logika dan nalar undang-undang yang sangat proseduralis dan jika boleh dikatakan “sangat refresif”. Di Indonesia, implementasi hukum positif seringkali mendapat perlawanan dari berbagai kekuatan-kekuatan sosial yang ada, karena keadilannya bersifat diskriminatif, eksploitatif dan menindas kaum lemah, tetapi sebaliknya, menyokong kepentingan penguasa/negara, kapitalisme, kolonialisme dan sejinisnya sehingga memaksa kehidupan sosial berubah atas keinginan hukumnya.
Pergulatan paradigma di atas, antara positivism hukum dengan hukum dalam realitas sosial terus saling mempengaruhi yang berunjung pada orientasi dan kepentingan perubahan yang diinginkan. Satu sisi menginginkan perubahan pentingnya keadilan diukur dari nilai dan prinsip yang ada dalam realitas sosial, dan sisi lainnya menginginkan perubahan keadilan yang diukur secara ketat dan tegas oleh positivism hukum. Atau bahkan keduanya saling mempengaruhi perubahan hukum dan perubahan sosial. Berkaitan dengan itu, maka tulisan ini ingin menguak secara mendalam pada focus persoalan dikte positivism hukum sebagai hukum yang memihak kepada interest kekuasaan, dan responnya atas
perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam prilaku hukum masyarakat khususnya di Indonesia.
B. PERMASALAHAN
Dalam tulisan “Dikte Positivisme Hukum ; Interest kekuasaan dan perubahan sosial” ini mefokuskan pembahasannya pada 3 (tiga) pokok persoalan yaitu : pertama, Apa substansi konsep positivism hukum, kekuasaan dan perubahan sosial dalam berhukum ?., Kedua, Kenapa positivism hukum dan kekuasaan saling berkepentingan ?., dan Ketiga, Bagaimana positivism hukum menfasilitasi dan mengakomodir perubahan-perubahan sosial ?.
Ketiga persoalan ini, ingin digambarkan secara sistematis mulai dari konsepsi,, korelasi dan implementasi serta refleksi atas kiprah postivisme hukum dalam hubungannya dengan kekuasaan dan perubahan sosial sehingga didapatkan uraian yang memadai dalam memahami positivism hukum, khususnya di Indonesia.
C. PEMBAHASAN
a. Positivisme Hukum, Kekuasaan, dan Perubahan Sosial Positivisme Hukum
Secara etimologis, kata positivisme dalam bahasa inggris “positivism” berasal dari bahasa latin : ponerre – posui – positus yang berarti meletakkan.6 Istilah positivism lahir dari pengembaraan filsafat dalam merasionalisasikan berbagai pemikiran-pemikiran keilmuan yang oleh Auguste Comte (1798-1857) merupakan akhir dari bentuk pengembaraan pemikiran teologi, metafisika dan filsafat. Istilah positif oleh comte didefinisikan dalam beberapa pengertian, yaitu :
1) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang bersifat khayal, maka pengertian “positif” pertama-tama diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang nyata;.
2) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka pengertian “positif” sebagai penafsiran sesuatu yang bermanfaat;
3) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang meragukan, maka pengertian “positif” diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang sudah pasti;
4) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang kabur, maka pengertian “positif” diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang jelas atau tepat.
5) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang negative, maka pengertian “positif” dipergunakan untuk menunjukkan sifat-sifat pandangan filsafatnya yang selalu menuju ke arah penataan dan penertiban.7
Konsepsi “positif” merambah segala bidang pemikiran keilmuan termasuk ilmu hukum yang selanjutnya dikenal dengan istilah Positivisme hukum, yang oleh Immanuel Kant menyebutnya “hukum produk akal praktis”, Austin menyebutnya “tata hukum”, Ernst Bierling menyebutnya “Aturan positif”, Stammler menyebutnya “Kehendak Yuridis”, dan Kalsen menyebutnya “hukum murni”. H.L.A. Hart telah mengidentifikasi cirri-ciri yang merupakan esensi dari positivisme dalam ilmu hukum sebagai berikut : 1. Hukum adalah perintah;
2. Tidak ada suatu kebutuhan untuk mengaitkan atau menghubungkan antara hukum dengan moral atau hukum sebagaimana adanya (law as it is)
dengan hukum sebagaimana seharusnya (law as ought to be);
3. Analisis atau studi tentang makna konsep-konsep hukum adalah suatu studi yang penting, (analisis atau studi tadi) harus dibedakan dari studi sejarah, studi sosiologis, dan penilaian kritis dalam makna moral, tujuan-tujuan sosial, dan fungsi-fungsi sosial;
4. Sistem hukum adalah suatu system tertutup yang logis, yang merupakan putusan-putusan yang tepat serta dapat dideduksikan dari aturan-aturan yan ada sebelumnya; dan
5. Pertimbangan secara moral tidak dapat dipertahankan, kecuali dengan argument rasional, fakta-fakta atau bukti.8
7 F. Budi Hardiman, “Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche”, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004, h. 204 – 205.
Teorisasi positivisme hukum ini menegaskan dirinya sebagai salah satu mazhab yang berorietasikan pada kemurnian hukum dalam undang-undang dan menolak berbagai bentuk pengaruh dan intervensi moral, realitas sosial, dan bahkan tuntutan perubahan-perubahan sosial pun di tolak. Akibatnya, undang-undang dan keseluruhan peraturan-peraturan dipikirkan sebagai sesuatu yang memuat hukum secara lengkap sehingga tugas hakim tinggal menerapkan ketentuan undang-undang secara mekanis dan linear untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat sesuai bunyi undang-undang.
Dalam perkembangannya, mazhab positivisme mempengaruhi negara-negara system kodifikasi dengan undang-udang sebagai satu-satunya sumber yang pasti. Di Indonesia, menurut Widodo, bahwa psotivis hukum Indonesia dipengaruhi oleh ajaran legisme9 yang dikembangkan di Hindia Belanda yang dapat dibaca dalam pasal 15 Algemene Bapelingen van Wetgeving yang antara lain berbunyi “Terkecuali penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan bagi orang-orang Indonesia dan mereka dipersamakan dengan orang-orang Indonesia, maka kebiasaan bukanlah hukum, kecuali menghendakinya”. Bahkan pengaruh legisme ini terasa dalam lapangan hukum pidana Indonesia dalam pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berbunyi :”Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas dasar peraturan berkekuatan undang-undang yang terlebih dahulu ada dari perbuatan tersebut.”.
Hukum pada setiap pasal dalam undang-undang dimaknakan secara “tekstual”. Sebagai teks, hukum ditafsirkan maknanya secara semantik dan diyakini maknanya dapat mengantarkan manusia kepada keadilan yang dibawa oleh hukum. Positivisme hukum hanya menafsirkan hukum sebagai
teks yang terdiri dari serangkaian huruf dan kalimat, melihat teks secara diskursif sebagai sebuah symbol, terlebih symbol cultural tidak menjadi bahasan yang serius, hukum hanya dilihat sebagai sebuah teks harfiah yang ditafsirkan “semata-mata” dengan type penafsiran gramatikal.10
Dalam konteks positivise hukum, hukum tidak dipandang secara ideologis apalagi melihat hukum dalam perspektif sosiologis, atau ragam hukum yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, jika dalam undang-undang “dilarang mencuri”, maka hukum tidak melihat aspek dosa dalam mencuri, mencuri dapat merusak moral public dan keadilan, mencuri itu mengurangi hak orang lain, tetapi ia lebih dimaknakan sebagai sebuah larangan untuk mengambil barang orang lain dan dapat dipidana seperti yang termaktub dalam teks KUHP pasal 362 “Barang siapa mengambil suatu barang, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud memilikinya secara melawan hukum diancam karena pencurian dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus ribu rupiah”.11
Jadi, positivisme hukum ini menegaskan dirinya sebagai salah satu mazhab yang berorietasikan pada kemurnian hukum dalam undang-undang dan menolak berbagai bentuk pengaruh dan intervensi moral, realitas sosial, dan bahkan tuntutan perubahan-perubahan sosial pun di tolak, dimensi sejarah dilupakan, aspek ekonomi diabaikan dan peran politik pun ditolak.
Kekuasaan
10 Lihat Antonius Cahyadi “Hukum sebagai teks ; penanda yang kosong” dalam “Sosiologi Hukum dalam Perubahan”, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009, h. 293
Term kekuasaan menjadi factor dominan dan penentu tegaknya hukum,, tanpanya hukum tidak bermakna apa-apa, ia menyentuh segala aspek dan dimensi kehidupan manusia baik dalam persepktif sosiologis maupun positivis. Bahkan tidak jarang, kekuasaan diperebutkan oleh banyak kekuatan-kekuatan, baik secara individual maupun kelompok. Wikipedia menjelaskan bahwa kekuasaan dimaknakan sebagai kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan.12 Makna kekuasaan sangatlah beragam dengan pola dan metode perolehannya yang berbeda-beda, sehingga siring didengar bahwa “raja” adalah symbol kekuasaan bagi negara monarki, presiden adalah symbol kekuasaan bagi negara republik, perdana menteri, senator, pejabat, adalah symbol-simbol kekuasan dalam satu negara dan kekusaan adalah negara.
Kekuasan dalam negara telah lama diperdebatkan dan telah melahirkan konsep-konsep kekuasaan negara dengan segala bentuk dan variannya. Zaman klasik ditunjukkan dengan kekuasaan para raja dan aristokrat, abad pertengahan kekuasaan ditunjukkan oleh dominasi agama, abad 19 kekuasaan ditunjukkan oleh totaliterianisme, kapitalisme dan sosialisme, dan abad ke-20 hingga abad modern ini, kekuasaan ditunjukkan oleh demokrasi sehingga banyak melahirkan konsep-konsep negara, seperti negara hukum, negara kesejahteraan (walfere state) dan lain sebagainya. Semua konsep negara diatas dilegitimasi oleh kekuasaan. Konsep kekuasaan tersebut yang oleh Max Weber menyebutnya sebagai “prestise kekuasaan” yang dalam praktiknya berarti kejayaan kekuasaan atas komunitas-komunitas lain, berdasarkan kekuasaan ini para anggota bisa berpretensi pada suatu “prestise” khusus dan pretense mereka mungkin mempengaruhi tingkah laku eksternal struktur
kekuasaan. Pengalaman mengajarkan bahwa klaim atas “prestise” selalu menjadi penyebab pecahya perang.13
Menurut teori konstitusi, terdapat dua macam pendistribusian kekuasaan dalam suatu negara, yaitu kekuasaan vertical dan kekuasaan yang horizontal.14 Negara dianggap sebagai kumpulan individu, rakyat, yang hidup dalam suatu bagian permukaan bumi tertentu dan tunduk pada kekuasaan tertentu dengan kedaulatan sebagai cirri definitive dari kekuasaan.15 Kekuasaan yang didapat oleh negara, yang oleh Montesquieu dalam trias politica ini harus diberikan kepada pihak yang berbeda-beda, terutama untuk menjaga agar hak-hak rakyat tidak dilanggar, menumpuknya tiga kekuasaan ini pada satu tangan adalah sangat berbahaya dan dapat menyebabkan inefesiensi, korupsi dan kesewenang-wenangan. Berbeda dengan Montesquieu, Van Volenhoven justeru medsitribusikan kekuasaan pada empat pilar penting dalam negara, yaitu 1) regeling (legislative), 2) bestuur (eksekutif), 3) rechtspraak
(yudikatif), dan 4) politie, yaitu sebuah badan yang bertugas menjaga tata tertib untuk mengawasi agar semua cabang pemerintahan dapat menjalankan fungsinya dengan baik.16
Distribusi kekuasaan di atas merupakan salah satu cirri dari konsep negara hukum (rechtsaat) yang kini banyak dianut oleh negara-negara demokrasi saat ini. Negara hukum menjadi batasan dari sebuah kekuasaan. Ide pembatasan ini dianggap mutlak harus ada , karena sebelumnya semua fungsi kekuasaan negara terpusat dan terkonsentrasi di tangan satu orang, yaitu ditangan raja atau ratu yang memimpin negara secara turun temurun.
13 Max Weber, “Sosiologi”, diterjemahkan dalam “Essays in Sosiology” oleh Noorkholish dkk, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009, h. 192.
14 Distribusi kekuasaan vertical mengajarkan tentang pembagian kekuasaan antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sedangkan distribusi kekuasaan horizontal adalah pembagian kekuasaan yang ada di tingkat pusat maupun yang ada ditingkat daerah, yang pembagiannya sering disebut sebagai Trias Politica yang berisi distribusi kekuasaan legislative, eksekutif, dan yudikatif. Lihat Munir Fuaidy, Teori Negara Modern…op.cit. h. 103.
Bagaimana mungkin kekuasaan negara itu dikelola sepenuhnya tergantung kepada kehendak pribadi sang raja atau ratu tersebut tanpa adanya control yang jelas agar kekuasaan itu tidak menindas atau meniadakan hak-hak dan kebebas rakyat.17
Harus di akui, bahwa kekuasaan dengan system monarki telah berabad-abad terhapus dalam konteks kekuasaan saat ini, dan kini tinggal sisa-sisa yang tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikans dalam mengatur dan mengelola kehidupan bermasyarakat, toh, jika pun masih ada, tatanan hukumnya pun sudah mengalami perubahan yang mendasar. Di Indonesia, kekuasaan oleh raja kini sudah terhapus semenjak kolonialisme belanda sampai pada era sekarang ini, namun posisi dan strata raja dan ratu di Indonesia masih dihormati sebagai khas dan penyangga budaya bangsa. Bahkan, di Inggris yang memiliki raja pun tetap mengenal system distribusi kekuasaan walaupun tidak setegas negara demokrasi. Namun, kebijakan dan praktek hukumnya telah ada dalam konstitusi. Aristoteles pun pernah berpendapat bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh satu orang bukan merupakan pemerintahan yang konstitusional.
Jadi, Kekuasaan adalah bagian penting dalam upaya penegakan hukum, tanpanya hukum tidak akan mampu berbuat apa-apa. Semua golongan dan kelompok membutuhkan kekuasaan untuk menguasai dan mempengaruhi kelompok lain. Namun, dalam negara modern saat ini, kekuasan bukan berarti kekuasaan yang bebas untuk menindas dan memperlakukan hukum, akan tetapi kekuasaan tersebut memiliki batasan-batasan yang seimbang dengan kekuasaan lainnya agar satu sama lainnya dapat saling mengawasi dan mengontrol sehingga penindasan, eksploitasi dan sebagainya dapat dihindari.
Perubahan Sosial
Jika, positivisme menganggap bahwa ia merupakan akhir dari segalanya, karena kemajuan abad ke-19 telah menemui puncaknya sehingga tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi dalam berbagai realitas perubahan sosial. Maka, justeru sebaliknya, bahwa kemajuan yang dicapai pada era positivisme ini bukanlah akhir dari segalanya, masyarakat terus bergerak dan berinteraksi dalam problematikanya yang sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai kekuatan-kekuatan yang tumbuh dan ada di dalam suatu masyarakat.
Menurut Satjipto Raharjo, Perubahan-perubahan dalam masyarakat menampilkan perkembangan baru yang menggugat masa kebebasan abad ke-19. Negara semakin mempunyai peran penting dan melakukan campur tangan yang aktif, struktur politik juga telah mengalami perubahan besar, kaum pekerja makin memainkan peranan penting dalam politik dan memperluas demokrasi politik, cara-cara penanganan hukum yang didominasi oleh kepentingan kaum borjuis digugat oleh kelas pekerja yang sekarang menjadi konsituen dalam penggung politik.18 Sehingga hukum tidak lagi dapat mempertahankan lebih lama politik isolasinya dengan menjadikan dirinya sebagai institusi yang steril dan murni dari pemikiran-pemikiran sosial, ekonomi, dan politik.
Institusi hukum yang steril dari berbagai kekuatan-kekuatan kultur, sosial, ekonomi, maupun politik sangatlah tidak dapat dielakkan, bagaimanapun kekuatan tersebut tetap saling berinteraksi dan mempengaruhi dalam struktur sosial masyarakat. Setiap masyarakat memiliki kultur yang berbeda dengan masyarakat lainnya, sehingga penerimaan atas hukum pun menjadi berbeda-beda pula, dan jika dipaksakan maka justeru akan melahirkan Konflik-konflik yang tidak berkesudahan.
Merespon perubahan sosial ini, Reberto M. Urger menggambarkan bahwa selama ini, masayarakat terkotak dalam 3 tipelogi masyarakat yaitu 1) masyarakat kesukuan, 2) masyarakat liberal, dan 3) masyarakat aristokratis. Ketiga bentuk masyarakat ini berbeda-beda karakter dalam merespon perubahan yang sesuai dengan kehidupan sosial masing-masing. Namun, persoalan yang kerap dihadapi adalah pandangan tentang apa yang ideal dan pengalaman kenyataan yang sesungguhnya.19
Pada masyarakat kesukuan, hanya ada kemungkinan bahwa konsesnsus komunitas akan bercerai berai dan memungkinkan munculnya kepercayaan-kepercayaan yang menentang cara-cara yang sudah lazim. Kemungkinan ini jarang terwujud, namun, kalau toh sempat muncul perubahan, umumnya cenderung tidak ebertubi-tubi dan tidak disadari. Perubahan structural lebih pada suatu penyimpangan kebiasaan daripada takdir yang wajar.
Pada masyarakat liberal, selalu ada Konflik nyata antara apa yang diharapkan manusia dari masyarakat dengan apa yang sesungguhnya yang mereka dapatkan darinya. Konflik ini memuncak dengan adanya kebutuhan kuat akan kekuasaan yang mengatur, ditambah dengan ketidakmampuan untuk meyangga jenis kekuasaan apapun. Dikarenakan ada Konflik dari banyak segi antara ideal dan kenyataan ini, maka perubahan di masyarakt liberal berlangsung amat cepat dan luas.
Sedangkan pada masyarakat aristokratis, hubungan antara ideal dan pengalaman dirasakan lebih akrab. Namun, masih ada gap yang cenderung tersembunyi. Ambisi golongan-golongan nonaristokratis tidak mungkin diselaraskan dengan tatanan sosial, visi moral atau religious masyarakat tampaknya membenarkan sekaligus mengutuk hirarki-hirarki yang sudah mapan. Dalam masyarakat ini, perubahan bisa berlangsung lebih lambat dan kurang nyata daripada perubahan dalam masyarakat liberalism.
Dari ragam corak masyarakat di atas, maka dapat diamati proses perubahan sosialnya yang oleh Satjipto Raharjo, dibedakan dalam tiga irama perubahan, yaitu, 1) perubahan yang beringsut, 2) perubahan yang luas dan serba meliputi, dan 3) perubahan revolusioner).20 Perubahan yang beringsut memberikan tambahan-tambahan pada keadan semula tetapi tanpa mengadakan perubahan dalam substansi maupun strukturnya, selain bentuk penambahan tersebut bisa juga berupa pengurangan, peniadaan atau modifikasi terhadap substansi yang ada, namun demikian tetap tidak menimbulkan perubahan pada keadaan semua.
Perubahan ini tampak pada corak masyarakat kesukuan, dimana perubahan yang terjadi tidak sampai merubah keadaan yang semua, norma-norma yang ada pada masyarakat kesukuan ini dapat dikuragi atau dimodifikasi substansinya karena normanya tumbuh dan hidup di dalam masyarakat dan tidak tertulis secara nyata. Sehingga norma-norma yang baru hadir dihadapan mereka dapat diterima sebagai tambahan atau bahkan dapat ditolak atau dikurangi jika itu menimbulkan perubahan pada keadaan semula. Jika, norma – norma hukum positif bertentangan dengan kultur dan budaya mereka maka mereka cenderung mengabaikannya atau bahkan menolaknya dan tidak menggunakannya sebagai hukum di dalam masyarakat.
Sedangkan, irama perubahan yang luas dan serba meliputi ini sama dengan perubahan beringsut tetapi memiliki jangkauan yang lebih luas, perubahan ini bisa tampak pada masyarakat aristokratis karena masyarakatnya justeru berada pada gabungan antara masyarakat kesukuan dan masyarakat liberalism, sehingga dampak perubahannya pun bisa menyentuh masayakat kesukuan maupun liberalism, walaupun proses perubahannya akan terjadi secara lambar, karena ada kepentingan yang berbeda di dalam masyarakat aristokratis namun mereka saling menghormati.
Terakhir, adalah perubahan revolusioner, yaitu perubahan yang meliputi penggantian suatu tipe norma secara menyeluruh oleh yang lain dan merupakan penolakan atas tingkah laku yang sama. Perubahan ini tampak pada corak masyarakat liberalism, seperti perubahan yang pernah dilakukan oleh kapitalisme liberal, karena menolak segala bentuk tatanan norma yang telah lama dan tidak seirama dengan perkembangan zaman baik itu dalam kompetisi ekonomi, politik dan sebagainya.
Jadi, perubahan sosial tidak pernah terhenti di dalam masyarakat oleh karena positivisme hukum, dan perubahan tidak pernah memandang bahwa positivis adalah akhir dari bentuk kemapanan masyarakat. Banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat, karena sesungguhnya masyarakat sangat beragam dan memiliki karakter dan tipelogi tang berbeda-beda dalam merespon berbagai persoalan, termasuk persoalan positivisme hukum.
b. Positivisme Hukum dan Kekuasaan saling Berkepentingan
Hukum dan kekuasaan dalam percaturan sejarahnya, yang oleh para filosuf dan pemikir-pemikirnya diposisikan sebagai pranata yang saling membutuhkan satu sama lainnya, khususnya oleh kaum positivisme hukum. Kekuasaan yang diberikan kepada negara untuk mengatur tata kehidupan masyarakat yang tunduk terhadapnya membutuhkan peraturan-peraturan yang dapat menertibkan dan mencitakan perdamaian bagai masyarakatnya. Untuk itu, hukum sangatlah membutuhkan negara, dan negara sangatlah membutuhkan hukum bahkan penyadingan keduanya dikenal dengan istilah negara hukum.
atau bukan system pemerintahan yang berdasarkan rule of law bukan rule of men. Sedangkan, dalam negara-negara yang memberlakukan system hukum
anglo saxon, maka pemerintahannya pun di dasarkan atas hukum sehingga di kenal dengan itilah rechtstaat, bukan mathstaat atau “negara kekuasaan”. Dalam bahasa Prancis di sebut “Etat de Droit”, Italiamenyebutnya “Stato di Dirtto” danIndonesia meyebutnya “negara hukum”.21
Teori negara hukum, menegaskan bahwa hukum memberikan batasan-batasan yang riel atas kekuasaan, yang dalam trias politica Montesquieu membaginya dalam kekuasaan eksekutif, legislative dan yudikatif. Berangkat dari sinilah, dapat diurai secara lebih rinci bentuk saling berkepentingannya hukum dengan kekuasaan. Hukum masuk dalam ranah kekuasaan untuk dirumuskan dan disepakati dalam legislasi, dan dilaksanakan oleh eksekutif dan dikontrol dan ditegakkan oleh yudikatif. Begitu juga sebaliknya, kekuasaan masuk dalam ranah hukum untuk melegitimasi kekuasaan dan kewenangan yang diberikan untuk kemudian dapat dijadikan sebagai pijakan dan dasar untuk memaksa dan mengikat masyarakat yang tundak terhadap kekuasaannya.
Dalam uraian positivisme hukum dan kekuasaan, dan telah dijelaskan bahwa Hans Kelsen memandang bahwa “kekuasaan” dalam arti negara mesti berupa validitas dan efektifitas tatanan hukum nasional, jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan itu. Sebab, kedaulatan hanya bisa menjadi kualitas dari tatanan normative sebagai kekuasaan yang merupakan sumber hak dan kewajiban. Untuk itu menjelaskan berbagai fungsi hukum atas kekuasaan menjadi sangat penting untuk dapat mengurai saling bekepentingannya hukum dengan kekuasaan yang berdasar pada teori distribusi kekuasaan oleh Montesquieu tersebut, seperti dijelaskan berikut ini : a. Fungsi eksekutif
Menurut Hans Kelsen, berbicara mengenai eksekutif yang berarti pelaksanaan, kita harus bertanya apa yang dilaksanakan. Tidak ada jawaban lain kecuali pernyataan bahwa yang dilaksanakan itu adalah norma-norma umum, konstitusi, dan hukum-hukum yang dibuat oleh legislative. Namun, fungsi eksekutif ini seringkali dibedakan lagi menjadi dua fungsi yaitu fungsi administrative dan fungsi politik.22
Fungsi politik,biasanya menunjuk pada tindakan-tindakan tertentu yang bertujuan memberikan arahan bagi pelaksanaan dan dengan demikian memiliki makna politik, sedangkan fungsi administrative ini diejawantahkan dalam tindakan-tindakan organ administrasiv dalam eksekutif seperti kepala negara, menteri, kepala daerah dan sebagainya. Namun, tidak ada satu kebijakan yang dapat melepaskan suatu tindakan eksekutif dari karakternya sebagai tindakan pelaksanaan hukum. Penjelasan ini menegaskan bahwa fungsi-fungsi negara terbukti identik dengan fungsi-fungsi esensial hukum, karena eksektuif tidak terlepas dari karakter hukum, dan hukum tidak berjalan tanpa ada eksekutif.
b. Fungsi Legislatif
Fungsi ini memiliki karakter yang berbeda dengan fungsi eksekutif dan yudikatif dan bergantung pada sisten negara yang dianut. Dalam system negara hukum, fungsi legislative bertugas untuk membuat undang-undang yang dirumuskan dari norma-norma umum yang berlaku di dalam masyarakat, untuk kemudian menjadi pijakan dan pedoman pelaksanaan kekuasaan oleh eksekutif dan yudikatif. Namun, fungsi ini juga dijalankan oleh eksekutif dan yudikatif dalam bentuk lebih khusus dan memberi penjelasan atas undang-undang yang bersifat umum, tetapi berbentuk peraturan atau ordonansi.23 Jadi, fungsi legistlatif ini juga menegaskan
bahwa hukum melegitimasi kekuasaan dan hukum memberi ruh pada kekuasaan.
c. Fungsi yudikatif
Salah satu tugas utama dari fungsi yudikatif adalah membuat norma-norma khusus berdasarkan norma-norma-norma-norma umum yang dilahirkan oleh undang-undang dan kebiasaan, dan menerapkan sanksi-sanksi yang ditetapkan oleh norma-norma umum dan norma-norma khusus ini.24 Penerapan sanksi merupakan pelaksanaan hukum dalam arti yag lebih sempit dan terbatas dan diwujudkan dalam melalui lembaga-lembaga kekuasaan kehakiman. Jadi, hukum melalui fungsi ini ditegakkan dan kekuasaan melalui fungsi ini dijaga.
.Ketiga fungsi tersebut diatas memberikan gambaran yang jelas bahwa positivisme hukum merupakan salah satu kekuatan untuk mendukung dan melegitimasi kekuasaan, dan mensterilkan kekuasaan dari berbagai kritik sosial dan hukum atasnya, karena hukum telah memberikan jaminan yang berkekuatan dan menundukkan segala kekuasaan yang bisa saja hadir dari berbagai individu atau kelompok, dalam satu kekuasaan negara.
Di Indonesia, telah menganut doktrin pemisahan kekuasaan ini secara nyata, khususnya setelah UUD 1945 mengalami empat kali perubahan. Namun, pembagian kekuasannya dikelompokkan dalam beberapa lembaga tinggi negara seperti presiden, DPR, DPD, MK, dan MA. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Indonesia menganut doktrin distribusi kekuasaan ini yang satu sama lainnya menunjukkan saling berkepentingan antara hukum dan kekusaaan tersebut, yaitu :
1) Adanya pergeseran kekuasaan legislative dari tangan presiden ke DPR. Ketentuan pasal 5 ayat (1) UUD 1945 sebelum perubahan dengan pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) UUD 1945 setelah perubahan menegaskan bahwa kekuasaan untuk membentuk undang-undang yang sebelumnya berada pada tangan presiden, sekarang beralih ke DPR;
2) Diadopsikannya system pengujian konstitusional atas undang-undang sebagai produk legislative oleh Mahkamah konstitusi. Sebelumnya tidak dikenal adanya mekanisme semacam itu, karena pada pokoknya undang-undang tidak dapat diganggu gugat dimana hakim hanya dapat menerapkan undang-undang dan tidak boleh menilai undang-undang; 3) Diakuinya bahwa lembaga pelaku kedaultan rakyat itu tidak hanya sebatas
MPR, melainkan semua lembaga negara baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan penjelmaan dari kedaulatan rakyat. Semua lembaga tinggi negara berdaulat atas rakyat;
4) MPR tidak lagi berstatus sebagai lembaga tertinggi negara, melainkan merupakan lembaga tinggi negara yang sama derajatnya dengan lembaga tinggi negara lainnya; dan
5) Hubungan-hubungan antar lembaga tinggi negara itu bersifat saling mengendalikan satu sama lain sesuai dengan prinsip checks and balances.25
Berdasarkan perubahan-perubahan prinsip kekuasaan yang sangat mendasar di Indonesia ini, memberikan ruang perubahan sosial dalam realitasnya, jika dulu, hukum positive mengenkang partisipasi masyarakat dalam lembaga kekuasaan, maka kini, partisipasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan membentuk dan menemukan hukum menjadi terbuka, masyarakat dapat berpartisipasi melakukan control terhadap kekuasaan dan kekuasaan tunduk pada kedaulatan rakyat. Namun, dalam persepektif hukum, positivisasi atasnya telah menutup ruang atas interpretasi ruang-ruang sosial atas hukum, dan bahkan terlihat kaku dan anti atas perubahan-perubahan sosial yang muncul. Ia bisa dirubah dan diinterpretasi jika telah melalui mekanisme yang sesuai dengan hukum yang berlaku dalam negara.
Jadi, positivisme hukum dan kekuasaan adalah saling berkepentingan satu sama lainnya, hukum terkodifikasi oleh lembaga legislative, terlaksana oleh eksekutif dan yudikatif, sedangkan kekuasaan terlegitimasi oleh hukum, dan dikuatkan oleh norma-normanya yang dapat menundukkan setiap warga negara atas kekuasaan negara tersebut. Positivisme hukum dan kekuasaan
terejawantah dalam fungsi-fungsi kekuasaan yang saling mengikatkan diri dan menguatkan satu sama lainnya, sehingga hukum bisa dipengaruhi oleh kepentingan kekuasaan atau bahkan sebaliknya kekuasaan mempengaruhi kepentingan hukum.
Dalam persepektif sosiologi hukum, maka sesungguhnya hukum dan kekuasaan memiliki interdependensi antara keduanya. Jika hukum memiliki input yang lemah maka kekuasaan akan menjadi lebih dominan dan hukum dalam diabaikan oleh kekuasaan, tetapi sebaliknya jika input huku menguat atas kekuasaan, maka kekuasaan akan tunduk pada hukum, dan pada penguatan hukum inilah konsep negara hukum dapat ditegakkan, karena sesungguhnya perubahan sosial dalam kelangsungan hidup individu, kelompok atau rakyat banyak bergantung pada kuatnya hukum bukan pada kuatnya kekuasaan.
c. Perubahan Sosial Kritik atas Positivisme Hukum
Akhir-akhir ini, phenomena dominasi kekuasaan atas hukum ditunjukkan oleh berbagai fakta-fakta hukum yang menyelimuti setiap kebijakan pengausa, ada banyak Konflik norma yang terjadi antara undang-undang yang satu dengan yang lainnya, norma-normanya dikaburkan untuk kepentingan penguasa dan kapitalis, banyak norma yang tidak terakomodir dalam positivisasi hukum bahkan rakyat kecil seringkali ditebas oleh hukum.
Sementara itu, konsep hak menguasai negara seringkali dikaburkan ketika penguasa hendak menguasai atas tanah. Kini UUPA harus ditantang dengan undang-undang lain seperti UU No, 22 tahun 2001 tentang minyak dan Gas Bumi, UU No. 41 tentang kehutanan, UU No. 31 tentang Perikanan, UU No. 4 tahun 2009 tentang pertambangan. Semua Undang-undang ini, bermaksud ingin menjelaskan secara lebih rinci akan makna dari UUPA, tetapi norma-normanya justeru mengaburkan substansi dari UUPA yang begit populis dan beralih pada kepentingan investasi. Akibatnya, berbagai kasus eksplorasi tambang sering mendapat penolakan dan protes dari masyarakat, belum lagi bencana yang harus menimpa masyarakat dan menghilangkan hak milik masyarakat seperti kasus perlawanan masyarat Bima atas ekspolasi tambang diwilayahnya, perlawanan masyarakat Mesuji atas perampasan tanahnya, serta bencana lapindo yang tidak pernah bisa berhenti menyengsarakan kehidupan masyarakat.
Dalam kasus yang berbeda, protes seorang ayah yang berjalan kaki untuk mencari keadilan kepada penguasa atas kematian yang menimpa anaknya yang justeru menjerat dan melibatkan aparat hukum tidak pernah tuntas diselesaikan karena daluwarsa, sehingga nyaris keadilan tidak didapatkan secara substanstif tetapi lebih pada ketakutan aparat hukum untuk menegakkannya karena menyalahi prosedur-prosedur yang berliku-liku dalam prosesnya. Belum lagi, kakunya hukum dalam menyidangkan kasus-kasus kecil seperti pencurian sanda bolong, pencurian tuga kakao, dan sebagainya dimana hukum bertindak tegas atas orang-orang miskin tersebut bagai pisau yang tajam, sedangkan tumpul untuk memotong berbagai kasus besar yang dilakukan oleh penguasa maupun kapitalis.
dan positivisme hukum. Berkaitan dengan itu, Widodo, dalam bukunya “Kritik atas postivisme hukum” menjelaskan bahwa “paradigm positivisme hukum klasik yang menempatkan hakim sebgai tawanan undang-undang, tidak memberikan kesempatan kepada pengadilan untuk menjadi suatu institusi yang dapat mendorong perkembangan masyarakat. Pada era reformasi pun, belum bisa mengatakan bahwa putusan-putusan hakim berkontribusi besar bagi perubahan masyarakat di Indonesia”.26
Sebuah paradigm positivistic yang tidak berorientasi kepada keadilan telah ditunjukkan oleh keputusan-keputusan hukum yang didedukasikan secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada, tanpa menunjuk kepada tujuan-tujuan sosial, kebajikan serta moralitas. Padalah Mahkamah Agung RI sebagai badan pelaksana tertinggi kekuasaan kehakiman telah menentukan bahwa putusan hakim harus mempertimbangkan segala aspek yang berifat yuridis, filosofis, dan sosiologis, sehingga keadilan yang ingin dicapai, diwujudkan, dan dipertanggungjawabkan dalam putusan hakim adalah keadilan yang beriorientasi pada keadilan hukum (legal justice), keadilan moral (moral justice), keadilan masyarakat (sosiac justice).27
Keadilan hukum (Legal Justice) yang dimaksud diatas adalah keadilan yang berdasarkan hukum dan perundang-undangan. Dalam arti hakim hanya memutuskan perkara berdasarkan hukum positif dan peraturan perundang-undangan. Sedangkan, keadilan moral (Moral Justice) dan keadilan sosial (social justice) yang dalam penerapannya ditegaskan bahwa “hakim harus menggali nilai-nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat” seperti yang terdapat dalam vide pasal 5 ayat (1) UU Nomor 48 tahun 2009, yang jika dimaknai secara mendalam hal ini sudah masuk kedalam perbincangan tentang moral justice dan social justice yang sejatinya pelaksanaan tugas dan
26 Widodo dwi putro, “Kritik Terhadap Paradigm Positivisme Hukum” Yogykarta, Genta Publishing, 2001, h. 1
kewenangan seorang hakim dilakukan dalam kerangka menegakkan kebenaran dan berkeadilan dengan berpegang kepada hukum, undang-undang, dan nilai-nilai keadilan di dalam masyarakat.28
Mencari keadilan inilah yang kemudian terus menjadi pertaruhan dalam penegakan hukum, termasuk oleh hasrat dan cita-cita dari positivisme hukum. Namun, alih-alih memberikan keadilan secara praktis, dalam dimensi teoritis saja positivisme telah mengekang dan menganggap dirinya sebagai satu-satunya mazhab yang paling benar dan akhir dari pengembaraan ilmu pengetahuan maupun pengembaraan hukum mencari keadilan. Untuk itu, untuk menggapai perubahan hukum yang berkeadilan, dan perubahan sosial yang tunduk atas hukum, maka sinergi hukum dengan nilai-nilai lainnya yang tumbuh dalam masyarakat harus dikombinasikan agar tidak saling menimpangkan dan menindas satu sama lainnya.
Menyikapi persoalan ini, widodo menjelaskan bahwa ada beberapa alasa penting positivisme hukum di Indonesia harus dikritik agar dapat memberi perubahan-perubahan sosial dalam teori dan prakteknya. Alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Di Indonesia, penelitian terhadap paradigma hukum secara filosofis belum dilakukan secara sungguh-sungguh, bahkan boleh dikatakan belum dimulai sama sekali. Ini sangat diperlukan, karena selama ini hakim hanya mengedepankan uniformitas khususnya dalam hal penafsiran monolitik terhadap makana norma-norma itu sendiri, sehingga bersifat gramatikal dan cenderung tektual dan leksikal. Padahal penemuan hukum (rechtsvinding) juga dapat dilakukan dengan metode-metode lain seperti kostruksi atau argumentasi.
2. Ajaran positivisme hukum menempatkan hakim hanya sebagai corong undang-undang, tidak memberi ruang kepada hakim sebagai subyek kreatif. Pikiran positivisme hukum biasanya tepat dan mampu bertahan dalam keadaan masyarakat stabil, namun pada msa krisis dimana hukum disiapkan menata proses interaksi dalam masyarakat telah gagal menjalankan fungsinya.
3. Hukum oleh ajaran positivisme hukum digambarkan sebagai wilayah steril, terpisah dari moral. Bahkan doktrin kelsenian menampik keberadaan ilmu hukum yang terkontaminasi dari anasir-anasir sosiologis, politis, ekonomis, historis dan sebagainya.
4. Dalam tradisi hukum civil law peran pemerintah dan parlemen dominan dalam pembuatan hukum yang berupa peraturan-peraturan tertulis. Kuatnya pengaruh positivisme hukum dalam system hukum Indonesia ditandai dengan melakukan unifikasi dan kodifikasi hukum. Padahal, dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, penyeragaman hukum demi kepastian hukum untuk seluruh wilayah nusantara justeru dapat menimbulkan resistensi.
5. Ajaran positivisme hukum memberikan pemahaman kepada hakim bahwa hukum semata-mata hanya berurusan dengan norma-norma. Cara pandang yang demikian, membuat positivisme hukum melihat persoalan secara “hitam putih” sebagaimana teks undang-undang. Padahal, masalah dalam masyarakat terlalu besar untuk dimasukkan dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan.29
Alasan-alasan di atas, menjadi sangat penting untuk disikapi oleh ajara positivisme hukum, agar tidak terjebak dalam praktek-praktek hukum yang jauh dari norma-norma keadilan yang tumbuh, hidup dan diakui kebenarannya oleh masyarakat. Untuk itulah, maka positivisme hukum, kekuasaan dan perubahan sosial harus dilihat secara utuh menjadi satu kesatuan yang saling berkontribusi untuk menciptakan keadilan yang seadil-adilnya. Melakukan ini, diperlukan perubahan cara pandang dari positivism hukum yang kaku, dan buta harus dirubah dengan cara pandang pendekatan fungsional imperatif, agar penegakan hak masyarakat dan perubahan sosial dapat ditilik dalam hubungannya dengan berbagai fungsi hukum yang fundamental dalam system kemasyarakatan pada umumnya.Fungsi imperatif, yang dimaksud di sini adalah fungsi adaptasi, fungsi tujuan tertetu, fungsi integrative, dan fungsi pemeliharaan pola.30
29 Widodo Dwi Putro, Kritik…, op.cit. h. 1 - 8
Fungsi adaptasi, merupakan pengembanga kemamuan warga masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang sedang berlangsung. Fungsi pencapaian tujuan tertentu harus disinergikan dengan memperhatikan kondisi, kepentingan dan nilai yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat. Fungsi integrative merupakan upaya pembinaan kesatuan kelompok masyarakat dengan prasyarat fungsional dalam mempertahankan keutuhan kehidupan masyarakat. Serta, pemeliharaan pola dan pembentukan komitmen terhadap kondisi kehidupan yang serasi, harmonis dan berkesinambungan menjadi sebuah pola yang tetap terjaga dan menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Akhirnya, paradigm positivisme hukum haru memperhatikan perubahan-perubahan sosial yang ada didalam masyarakat, lalu menempatkannya dalam pertimbangan dan kebijakan hukum yang diterapkannya, tanpa itu, maka positivisme hukum hanya akan menjadi alat untuk menjalankan kepentingan penguasa dan bukan untuk kepentingan keadilan masyarakat yang justeru bertetangan dengan prinsip-prinsip penegakan hukum sebagaimana yang dicita-citakan positivisme. Jadi, perubahan sosial yang terjadi saat ini adalah bagian dari respon masyarakat terhadap ketidak adilan yang diciptakan oleh positivisme hukum, untuk itu, hukum harus dilihat dalam fungsinya agar dapat memberikan perubahan yang positif dan berkeadilan bagi masyarakat.
D. KESIMPULAN
2. Kekuasaan adalah bagian penting dalam upaya penegakan hukum, tanpanya hukum tidak akan mampu berbuat apa-apa. Semua golongan dan kelompok membutuhkan kekuasaan untuk menguasai dan mempengaruhi kelompok lain. Namun, dalam negara modern saat ini, kekuasan bukan berarti kekuasaan yang bebas untuk menindas dan memperlakukan hukum, akan tetapi kekuasaan tersebut memiliki batasan-batasan yang seimbang dengan kekuasaan lainnya agar satu sama lainnya dapat saling mengawasi dan mengontrol sehingga penindasan, eksploitasi dan sebagainya dapat dihindari
3. Perubahan sosial tidak pernah terhenti di dalam masyarakat oleh karena positivisme hukum, dan perubahan tidak pernah memandang bahwa positivis adalah akhir dari bentuk kemapanan masyarakat. Banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat, karena sesungguhnya masyarakat sangat beragam dan memiliki karakter dan tipelogi tang berbeda-beda dalam merespon berbagai persoalan, termasuk persoalan positivisme hukum.
4. Positivisme hukum dan kekuasaan adalah saling berkepentingan satu sama lainnya, hukum terkodifikasi oleh lembaga legislative, terlaksana oleh eksekutif dan yudikatif, sedangkan kekuasaan terlegitimasi oleh hukum, dan dikuatkan oleh norma-normanya yang dapat menundukkan setiap warga negara atas kekuasaan negara tersebut. Positivisme hukum dan kekuasaan terejawantah dalam fungsi-fungsi kekuasaan yang saling mengikatkan diri dan menguatkan satu sama lainnya, sehingga hukum bisa dipengaruhi oleh kepentingan kekuasaan atau bahkan sebaliknya kekuasaan mempengaruhi kepentingan hukum
DAFTAR PUSTAKA
Bernard L. Tanya, dkk, Teori Hukum ; Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi”, Yogyakarta, Genta Publishing, 2010.
Hans Kelsen, Teori umum tentang hukum dan negara, diterjemahkan dari buku Hans Kelsen “General Theory of law and State”, Bandung, Nusa Media, 2009.
Loren bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2002, cet. 3. F. Budi Hardiman, “Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche”, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum; Studi tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945 – 1990, Yogyakarta, Genta Publishing, 2010.
Antonius Cahyadi “Hukum sebagai teks ; penanda yang kosong” dalam “Sosiologi Hukum dalam Perubahan”, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009.
Solahuddin, SH., kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana &
Munir Fuaidy, “Teori negara Hukum Modern”, Bandung, Refika Aditama, 2009
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2010.
Satjipto Raharjo, Sosiologi Hukum ; Perkembangan metode dan Pilihan Masalah”, Yogyakarta, Genta Publishing, 2010.
Roberto, M. Urger, Teori Hukum Kritis, Bandung, Nusa Media, 2008.
Satjipto Raharjo, “Hukum dan Perubahan Sosial; Suatu Tinjauan Teoritis serta pengalaman-pengalaman di Indonesia”, Yogjakarta, Genta Publishing, 2009.
Widodo dwi putro, “Kritik Terhadap Paradigm Positivisme Hukum” Yogykarta, Genta Publishing, 2001.
Mahkamah Agung RI, “Pedoman Perilaku Hakim (Code of Condact), Kode Etik Hakim dan Makalah yang berkaitan, Pusdiklat MA RI, Jakarta, 2006.
Ahmad Rifai,”Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif”, Jakarta, Sinar Grafika, 2010.