A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan manifestasi dari pemahaman dan pengalaman manusia melalui alam yang diwujudkan melalui konsep-konsep teori yang berlaku umum. Banyak karya kreatif yang memakai ilmu matemtika. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Dengan demikian, siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan komperatif, logis, kreatif, dan kemauan bekerjasama yang efektif. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena matematika memiliki stuktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar kosepnya sehingga memungkinkan siswa terampil berpikir rasional (SKKD, 2006). Ilmu matematika kemudian berkembang menjadi bagian dari disiplin ilmu sehari-hari. Seperti dikemukakan oleh Suherman et al. (2003: 25-26) bahwa matematika tidak hanya berkembang sebagai suatu ilmu tetapi juga melayani kebutuhan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Oleh karena itu, matematika sebagai bagian dari mata pelajaran sekolah seyogyanya dapat dipelajari siswa dengan baik.
Penguasaan konsep menjadi suatu hal yang penting untuk dapat mempelajari matematika dengan baik. Hal ini terkait dari konsep matematika
yang saling terkait satu sama lain dan memilki banyak cabang ilmu. Hudoyono (Setiawati, 2008: 3) mengungkapkan “...kemampuan yang harus dimilki siswa agar dapat mempelajari matematika dengan baik adalah penguasaan konsep matematika yang memilki hubungan hirarkis dan fungsional”. Penguasaan konsep ini tidak cukup sampai siswa memahami materi. Siswa sebaiknya dapat menggunakan konsep tersebut secara tepat untuk memecahkan berbagai persolan matematika.
Kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan matematika menuntut pelibatan kemampuan berpikir siswa tingkat tinggi. Kemampuan berpikir reflektif merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang bagus untuk dikembangkan, khususnya dalam matematika. Seperti diungkapkan Shermis dalam Mustapha (Yahya, 2010: 2) bahwa berpikir reflektif dapat dikatakan juga dengan berpikir ke tingkat yang lebih tinggi.
Menurut Dewey (Komara, 2011) menjelaskan bahwa kemampuan berpikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu:
(1) recognize or felt difficuly/problem, merasakan atau mengidentifikasikan masalah: (2) Location and definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah: (3) Suggestion of posible solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan maslah: (4) rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan: (5) test and formation of conclusion, melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.
yang menimbulkan kerja sama dalam belajar. Hal yang perlu dilakukan untuk mengintegrasikan kemampuan berpikir reflektif ini dalam pembelajaran matematika adalah siswa perlu diberikan soal-soal yang bersifat tidak rutin seperti soal-soal pemecahan masalah atau berbasis masalah. Sabandar (Yahya,2010: 3) mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif merupakan cakupan dari kemampuan berpikir reflektif. Jadi, pembelajaran matematika belum benar-benar melibatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang merupakan kemampuan berpikir reflektif.
Sebagai pendidik, guru matematika perlu memilih model pembelajaran yang sesuai demi pengembangan kemampuan berpikir reflektif siswa. Sund dan Trowbridge yang mengemukakan bahwa model GI adalah suatu model pembelajaran inquiry yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan/petunjuk yang cukup luas untuk siswa. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegent rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan
Sementara itu, pada pembelajaran inkuiri pengetahuan siswa dibangun oleh siswa sendiri karena siswa terlibat aktif dalam pembelajaran untuk menemukan konsep dan tidak sekedar menghapal, membaca dan mendengarkan sehingga pemahaman siswa diharapkan menjadi lebih baik. Dari hal-hal tersebut itulah, maka menurut penulis model GI dapat dipilih sebagai salah satu alternatifnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan kepada latar belakang masalah, rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah kemampuan berpikir reflektif siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model GI lebih baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori ?
2. Bagaimana sikap siswa terhadap penggunaan model GI dalam pembelajaran matematika?
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami permasalahn yang dikaji dalam penelitian ini, maka masalah penelitian dibatasi pada beberapa aspek sebagai berikut:
1. Populasi penelitian ini adalah siswa MTs Al-maziyyah Cianjur.
2. Pokok bahasan yang dipakai sebagai bahan ajar dalam penelitian ini adalah Segitiga dan Segiempat.
D. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui kemampuan berpikir reflektif siswa yang memperoleh Penggunaan model GI jika dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori.
2. Memperoleh gambaran sikap siswa terhadap pengaruh penggunaan model GI dalam pembelajaran matematika.
E. Manfaat penelitian
Menunjang peningkatan kemampuan berpikir reflektif siswa dalam matematika.
2. Bagi Peneliti
Mengetahui pengaruh penggunaan model GI terhadap kemampuan berpikir reflektif dalam matematika pada siswa MTs.
3. Bagi peneliti lain
Peneliti ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengkaji permasalahan lain yang berkaitan dengan model GI.
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengartikan istilah-istilah yang digunakan dalam variabel-variabel penelitian, maka istilah-istilah tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Model GI adalah model pembelajaran yang di dalamnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksperimen dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan melalui bimbingan dan arahan guru. Sintaks model GI terdiri dari penyajian masalah (confrontation with problem), pengumpulan data verivikasi (data gathering-verification), pengumpulan data eksperimensi (data gathering-experimentation), organisasi data dan formulasi kesimpulan (organizing, formulating and explanation) dan analisis proses inkuiri (analysis of the inquiry process). Keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model GI diamati melalui lembar observasi yang telah dibuat dan dilakukan observasi oleh para observer.
untuk menguji solusi pemecahan masalah serta menggunakan sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.