Nama : Demar Boliccius Ginting
NIM : 10.01.692
Ting/Jur : IV-B/Teologia
M. Kuliah : Seminar Sejarah Gereja
Dosen : Pdt. Dr. Jan Jahaman Damanik
Kesalehan Pada Abad Pertengahan (Abad 5-15) dan Relevansi Bagi GBKP I. Latar Belakang Masalah
Kesalehan merupakan hal yang lumrah didengar namun pengaplikasiannya sulit untuk dilakukan. Sebagai contoh masyarakat pada saat ini banyak yang mengaku saleh dengan memakai pakaian rapi dan bersikap santun, namun kedapatan korupsi milyaran rupiah. Bahkan ada yang menjual nama agama dan mengatasnamakan kesalehan dirinya untuk menang dalam pemilihan umum. Ada juga yang beranggapan kesalehan itu hanya omong kosong belaka karena yang mereka lihat kenyataannya semua manusia berdosa dan berniat untuk menjatuhkan sesamanya. Yang paling ekstrem adalah mereka yang meninggalkan kehidupannya dan mulai bertapa dan beraskese menyiksa diri berharap bahwa yang dilakukannya adalah kesalehan.
Dengan melihat latar belakang seperti diatas maka kesalehan merupakan hal yang rumit. Untuk lebih jelasnya maka penyeminar akan mengkaji kesalehan pada abad pertengahan dan melihat hubungannya dengan sampainya penginjilan ke tanah Karo dan bagaimana orang Karo mengaplikasikan kesalehan dalam adat mereka. Mari kita diskusikan bersama.
II. Pembahasan
II.1. Pengertian Kesalehan
Kesalehan adalah buah yg sepatutnya dan yg seharusnya sebagai tanda sudah menerima Injil. Jadi kefasikan dalam hidup orang yg mengaku Kristen adalah pertanda bahwa dia sama sekali tidak benar telah beroleh keselamatan (2Tim 3:2-3; Tit 1:16; 2Pet 2:19-22). Hidup yg sungguh-sungguh saleh dalam pengertian Kristen mencakup penglahiran iman dalam bentuk pertobatan, melawan cobaan, mematikan dosa. Saleh dalam kebiasaan berdoa, mengucap syukur dan mengikuti Perjamuan Suci dengan rasa hormat. Saleh dalam memupuk pengharapan, kasih sayang, kemurahan hati, sukacita, penguasaan diri, sabar menanggung derita dan puas dengan yg ada. Saleh dalam mencari kejujuran, keadilan dan kebaikan orang lain dalam hubungan-hubungan insani. Saleh dalam menghormati kekuasaan yg ditetapkan selaras dengan kehendak Allah dalam gereja, negara, keluarga dan rumah tangga. Semua sikap dan praktik ini diperintahkan oleh Allah, dan memuliakan Dia.1
II.2. Sekilas Mengenai Pergumulan Kekristenan Pada Abad Pertengahan
Masa Gereja Abad Pertengahan dikenal sebagai masa kegelapan gereja. Kegelapan semakin berkembang dalam gereja sejalan dengan bergulirnya tahun-tahun. Alkitab sedikit dibaca dan hanya terbatas pada kalangan kaum klerus saja. Kaum klerus tidak menyukai jika Alkitab ada di tangan kaum awam. Sejak abad ke-7 pemahaman teologia gereja sangat dipengaruhi tahayul dan kepercayaan kafir. Teologi gereja dikemas sedemikian rupa melalui tujuh sakramen, mariologi, indulgensia, relikwi, tradisi ziarah ke makam orang kudus, yang kebanyakan tidak alkitabiah. Fungsi Firman Tuhan bukan lagi menuntun hidup orang percaya agar melakukan kehendak Allah, tetapi hanya sebagai pengantar untuk sakramen.
Pemahaman abad pertengahan bahwa gereja sebagai lembaga keselamatan semakin diperkokoh. Perhatian teologis bahwa gereja sebagai persekutuan orang percaya dikesampingkan, sementara segi institusional gereja mendapat penekanan. Gereja dilihat sebagai lembaga dimana para pejabat gereja atau kaum klerus membagikan keselamatan kepada kawanan kaum awam. Kata gereja sinonim dengan hirearki, korps pejabat-pejabat gerejawi. Paus sebagai pimpinan tertinggi gereja pada masa itu mempunyai kekuasaan baik kehidupan kerohanian maupun politik. Di bawah Boniface VIII (1294-1303) kepausan mengalami kemerosotan kerohanian. Dalam kepemimpinannya Boniface memaksakan teori: hanya Pauslah satu-satunya yang disebut paling kudus, penguasa ilahi dan kaisar tertinggi dan raja diatas segala raja-raja. Bahkan teologi yang dikembangkan Paus bukan hanya wakil Petrus tetapi juga wakil Kristus untuk menguduskan jemaatnya.
Patokan kekudusan jemaat dan pejabat gereja sangat ditentukan oleh kesetiaan dan ketaatan kepada Paus. Pauslah yang menentukan keselamatan manusia, dan dalam upaya memperoleh keselamatan manusia harus ikut berperan dalam bentuk beramal. Tidak cukup mengandalkan iman dan kasih karunia Allah, dan bila seseorang mau selamat melintasi purgatorium atau api penyucian menuju hidup kekal, dia harus berbuat baik bagi gereja dan harus membeli surat penghapusan siksa pada pejabat gereja sesuai timbangan dosanya. Sehingga banyak pejabat gereja yang hidup dalam gelimang kemewahan maupun perbuatan amoral, sementara pelayanan, pembinaan kepada umat sangat dibutuhkan.2
Secara rohani dan gerejawi pandangan orang sangat bertambah luas. Ada yang menyangsikan agama Kristen. Namun pada umumnya kesalehan sangat dimajukan, sebab kunjungan kepada tempat-tempat ziarah menyadarkan kaum Kristen tentang kerendahan dan pengasihan Yesus. Keinsafan ini menimbulkan suatu ibadat baru terhadap Kristus (devosi kepada Kristus). Cita-cita kemiskinan di luar dan di dalam gereja mendapat reaksi dari gereja, namun reaksi ini kemudian
diterima sehingga cita-cita tersebut dapat dimajukan. Timbullah ordo-ordo minta-minta selaku bukti bahwa cita-cita teokrasi dapat digabungkan juga dengan penyangkalan dunia dan askese.3
II.3. Bentuk-bentuk Kesalehan Abad Pertengahan4
§ Pada abad pertengahan, di gereja timur (Konstantinopoli) ada sebuah perjuangan melawan ikonoklasme (725-787 dan 815-843). Pokok permasalahan adalah: perkembangan liturgi, komentar klasik tentang liturgi ekaristi dan ikonografi terutama bangunan kultus.
§ Pada masa krisis ini makin digali berbagai macam simbol dan budaya yang dipakai dalam liturgi, dalam ikonografi beserta berbagai bentuk definitif yang sudah ada dan berkembang di kalangan umat, termasuk di dalamnya menggali pandangan tentang hirarki dan sakralitas dunia, idealisme, struktur dan tradisi monastik, inspirasi populis, intuisi par amistikus dan peraturan askese.
§ Krisis ini terlewati dengan dekrit De sacris imaginisbus dari konsili Nicea II (th. 787)[1].
Kemudian, kultus pada ikon makin berkemabng dengan kekuatan simbolisnya yang bisa membangkitkan sensus fidei bagi umat beriman.
§ Di barat, pertemuan Gereja dengan budaya celtik, visigot, anglosaxon, prancis-jerman yang terjadi pada abad V memberikan sebuah proses formasi bagi terbentuknya budaya baru, institusi politik dan kemasyarakatan yang baru. Kita ingat bahwa pada masa ini ada kesatuan amat erat antara kuasa gerejawi dan tatanan sosial. Pengaruhnya di dalam iman yang dirayakan oleh umat amat nyata pada abad pertengahan. Ada semacam dualisme perayaan. Di satu sisi perayaan liturgis ditandai oleh penggunaan bahasa latin, sedangkan perayaan kesalehan religius dirayakan oleh komunitas dengan bahasa setempat.
§ Beberapa alasan yang makin mempertajam dualisme ini adalah:
Ide bahwa perayaan liturgi adalah kompetensi hanya bagi kleriskus. Maka, awam hanyalah
penonton saja.
Tatanan sosial berkasta juga ada pada masa ini. Kaum klerikus, rahib dan awam memiliki
tempat sendiri/sendiri dan ini memberikan bentuk dan gaya yang berbeda dalam berdoa.
Kekhasan liturgi pada waktu itu adalah sentralitas pada perayaan paska, sementara berbagai
kultus dan kesalehan popular berkonsentrasi pada beberapa aspek khusus dari misteri Kristus.
Pemahaman a la kadarnya tentang Kitab suci di kalangan umat, juga klerikus dan religus
menjadi penghambat juga untuk memahami struktur dan bahasa simbolis dari liturgi.
3 H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2013), 90
4
Penyebaran amat luas bacaan-bacaan apokrif, yang kaya dengan cerita-cerita mujijat dan
berbagai anekdot, mempengaruhi pandangan dan perhatian umat beriman tentang liturgi dan kultus iconografi.
Formasi dan katekese yang kurang, mistagogi yang mulai menghilang serta keterlibatan
umat yang berkarakter sekunder makin membuat perayaan-perayaan liturgis tertutup pada intelektualisme dan menjadi elitis. Maka tidak mengherankan muncul berbagai bentuk kultus alternatif.
Berbagai bentuk alegorisme yang memberikan berbagai interpretasi tentang teks dan ritus
yang dipakai, makin membelokkan umat beriman dari pemahaman natura liturgi.
Berbagai bentuk pembaharuan menjadi makin tidak dipahami dan jauh dari realitas kehidupan beriman.
§ Pada masa ini, banyak berkembang berbagai gerakan-gerakan spiritual yang memberikan struktur pada relasi antara liturgi dan kesalehan religius. Misalnya:
Tarekat-tarekat baru berkarakter apostolik yang membaktikan diri pada pewartaan injil.
Mereka ini memiliki model perayaan liturgis lebih sederhana, lebih dekat dengan rutinitas masyarakat umum dan memiliki ekspresi religius yang tidak rumit. Dari sini, lahir pula berbagai bentuk praktek kesalehan dan devosi yang mulai ditularkan juga dari anggota tarekat pada umat.
Konfraternitas religius, yang lahir dengan tujuan memurnikan kultus, aktivitas sosial atau
berkonsentrasi pada profesionalitas tertentu, memberikan juga bentuk yang lain perayaan iman. Doa bersama dalam sebuah ruang doa (kapel), memilih seorang pelindung dan merayakan pestanya. Di sini lebih ditonjolkan kreativitas umat beriman untuk membentuk sebuah teks doa beserta dengan gestualitasnya.
Bermunculan juga berbagai sekolah spiritualitas yang pada periode berikutnya menjadi
acuan penting kehidupan menggereja. Sekolah-sekolah ini mencoba untuk menginterpretasi kehidupan Kristus di dalam Roh Kudus. Maka tidak mengherankan bila beberapa perayaan liturgi mendapat perhatian lebih besar dari yang lainnya, misalnya perayaan sengsara kristus. (mulai mucul tradisi jalan salib pada periode abad pertengahan ini juga).
II.4. Pandangan Para Tokoh Tentang Kesalehan II.4.1. Bernhard dari Clairvaux
dosanya. Dengan kerendahan hati itu juga akan mengajak orang untuk mengikut Yesus. Dan akhirnya orang yang mengikut Yesus itu akan sampai kepada tingkat yang tertinggi, yakni mengecap kebahagiaan yang mulia dari persekutuan yang langsung dari Yesus.5
II.4.2. Fransiskus dari Asisi
Ia adalah orang kudus Abad Pertengahan yang lahir tahun 1181/1182 sebagai anak Pietro Bernardone. Fransiskus menjalani hidupnya dengan melihat kemiskinan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai jalan untuk mencapai tujuan lain. Idamannya bukan hanya pola hidup sederhana, tetapi juga penolakan total terhadap pemilikan. Kesalehan menurutnya adalah hidup taat dan suci tanpa milik, dengan demikian mengikuti ajaran dan contoh Yesus Kristus. Berjaga-jaga terhadap serangan Iblis.
II.4.3. Bonaventura
Nama lengkapnya adalah Johanes dari Fidanza lahir di Toskane (Italia Utara) pada tahun 1221. Pada usia 20 tahun ia bergabung dengan ordo Fransiskan dan diberi nama Bonaventura. Menurutnya, kesalehan merupakan keadilan dan keindahan yang dapat diterima jiwa melalui keadilan dan keindahan dilihat dalam kebenaran yang abadi melalui “terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang (Yoh 1:9) yakni Yesus Kristus itu sendiri. Karya kesalehannya dapat dilihat dalam tulisannya Itinerarium Mentisin Deum (Perjalanan Jiwa ke dalam Allah), yakni dalam mencapai kesalehan itu memiliki 3 tahap, yaitu:
Meditasi mengenai alam. Sebagaimana manusia mengungkapkan diri melalui bahasa,
demikianlah Allah melakukannya melalui ciptaan. Ciptaan adalah tanda atau symbol-simbolNya, bayanganNya, atau jejak-jejakNya. Alam dipelajari bukan untuk alam itu sendiri, melainkan untuk mengantar kita kepada Allah.
Meditasi mengenai jiwa. Allah didapati melalui jiwa. Kehadiran Allah sedemikian rupa
sehingga jiwa itu sungguh-sungguh dapat menjangkauNya. Akal tidak mampu untuk melakukannya.
Meditasi mengenai Allah adalah tahapan terakhir. Dengan mengatasi diri sendiri serta harta
benda, melalui ekstase yang mutlak dan yang tidak terhingga dari segala sesuatu, maka kita akan sampai kepada terang adi-hakiki dan kebenaran ilahi.6
II.4.4. Yohanes Calvin
Ia merupakan salah satu tokoh reformator. Kesalehan menurutnya adalah mengatur hidup dengan baik. Mencintai kebenaran, yang menurut kodrat kita sebenarnya sama sekali tidak menjadi kecenderungan hati kita. dan agar tidak tersesat, maka Alkitab memeberi banyak pengajaran yang sangat baik. Kristus menjadi teladan dalam kehidupan kita. manusia tidak lagi memusatkan
5 Ibid, 85
perhatiannya pada dirinya, agar seluruh kekuatan akalnya ditujukan pada pengabdian kepada Allah. Pengabdian itu merupakan menyerahkan seluruh kepenuhan hati hanya kepada Allah saja.7
II.4.5. Philip Jacob Spener
Ia merupakan pendiri Pietisme dan teolog abad 17. Kesalehan menurutnya adalah memiliki suatu iman pribadi yang hidup dalam Kristus. Kita harus hidup baru dan dilahirkan kembali dalam Kristus. Kita harus bertobat. Kekristenan sejati tidak hanya mencakup kepercayaan terhadap ajaran; ia merupakan suatu pengalaman akan Roh Kudus dalam pertobatan dan hidup yang baru. Ia mengajukan enam usul dalam kesalehan ini untuk memperbaiki gereja yaitu:
Harus disediakan waktu yang lebih banyak untuk mendengarkan firman Allah. Tidak cukup
hanya mendengarkan khotbah di gereja. Di rumah masing-masing Alkitab haruslah dibacakan untuk masing-masing keluarga setiap hari.
Harus mengajak anggota jemaat untuk mempraktikkan imamat am-nya
Iman Kristen harus dipraktikkan. Tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang iman.
Para teolog tidak boleh memakai kata-kata pahit terhadap lawannya
Lembaga pendidikan teologi haruslah menjadi bengkel-bengkel Roh Kudus. Mahasiswa
harus dibina menuju pada kesalehan. Guru-gurunya harus menjadi contoh kesalehan bagi muridnya.
Khotbah-khotbah harus disusun dengan tujuan membangkitkan iman pendengarnya supaya
imannya menunjukkan buah-buah Roh. Khotbah bukanlah alat untuk memamerkan kepandaian pengkhotbah.8
II.5. Kesalehan di Tanah Karo
II.5.1. Penginjilan yang dibawa Zending ke tanah Karo
Dalam sejarah penginjilan di GBKP yang dilakukan oleh NZG ( Nederlandsche Zendeling Genootschap ) sejak 18 April 1890 maka ia pun berjumpa dengan budaya lokal. Tidak pula dapat disangkal injil yang diberitakan menggunakan sarana adat dalam memberitakan injil dan diusahakan tetap memelihara adat, sejauh mana ia dipandang sebagai alat memperkokoh persekutuan dan menegakkan nilai – nilai moral di tengah kehidupan masyarakat Karo.9
7 Yohanes Calvin, Institutio; Pengajaran Agama Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2011), 147-162
8 F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2009),172-173
Adat10, bicara11dan kiniteken12 adalah merupakan unsur pelaksana dan dasar budaya Karo, oleh
karena itu didalam masyarakat karo mula – mula, kehidupan dalam adat dan agama saling berkaitan, sehingga ritual – ritual13 juga mengambil tempatnya dimana orang Karo tinggal dan
bekerja, yang tidak dibatasi oleh hari - hari atau waktu – waktu yang telah dijadwalkan14. Dapat
dikatakan adat adalah merupakan bentuk konkrit dari keseluruhan agama Karo didalam budaya karo, maka kekuatannya membuat orang karo mempunyai kepribadian yang terpecah ketika diperhadapkan antara memilih hidup dalam terang Kristus atau hidup dalam terang lainnya yang bersumber dari roh – roh yang ditantang oleh Alkitab.
NZG (Nederlandsche Zending Genootschap)15 adalah lembaga Kristen yang bersifat umum dan
bertujuan secara tulus dan sederhana menanamkan agama Kristen yang benar.16 Menginjil di Tanah
Karo (18 April 1890 yang pertama sekali dilakukan oleh H.C. Kruyt), mengalami banyak tantangan
10 Adat dalam Pemahaman orang Karo adalah sikap hidup yang telah menjadi kebiasaan dalam perikehidupan yang menjadai aturan atau norma kehidupan orang Karo. E.P. Gintings, Adat Istiadat Karo : Kinata Berita Si meriah Ibas Masyarakat Karo, ( Kabanjahe : Abdi Karya, 1995), 14
11 Bicara adalah sesuatu yang dianggap baik yang diturunkan (jile – jile) sebagai tambahan dalam adat, dimana setiap daerah memiliki bicara yang berbeda– beda.E.P.Gintings,Kinata Berita Si Meriah Ibas Masyrakat Karo, 15.
12 Kiniteken adalah kepercayaan terhadap adanya kekuasan diluar manusia yang dianggap mampu melindungi manusia dan melepaskannya dari bahaya serta memberikan berkat kepada yang menyembahnya. E.P. Gintings. Kinata Berita Si meriah Ibas Masyrakat karo, 16.
13 Ada dua bentuk pelaksanaan ritual dalam agama pemena yaitu ritual yang dilakukan secara individual tanpa bantuan dukun (guru sibaso) dan ritual yang dilaksanakan dengan melibatkan dukun (Guru Sibaso). Dari bentuk ritual yang dilakukan dibagi lagi menurut keperluannya. Dengan demikian banyak sekali ritual – ritual dalam agama pemena karo. Frida Harahap,“Ritual dalam Kepercayaan Pemena“ dalam, Dalam, Jurnal Teologia Beras Piher : Dulu – kini – dan nanti , Vol.3. No.3, Septemba–Desember 2004. (Medan : GBKP. 2004), 82.
14 Anggapen Ginting Suka,“Dari yang Lama ke yang Baru – aspek – aspek Perubahan keagamaan di Masyarakat karo“, Dalam, Journal Teologia Beras Piher : Dulu–kini–dan nanti, Vol.3. No.3, Septembar– Desember 2004. (Medan : GBKP. 2004)
15 Perhimpunan Pekabar Injil Belanda. Lembaga ini didirikan pada 19 November 1797 oleh orang-orang kristen Belanda anggota Gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh semangat Pietisme. Lembaga ini semula tidak mempunyai hubungan langsung dengan Gereja Hervormd. Pendiri-pendirinya mempunyai pandangan teologi yang berbeda dan ini mengakibatkan perpecahan dalam tubuh NZG pada pertengahan abad ke-19. Pada mulanya NZG mengutus pekabar Injilnya ke Afirka Selatan dan India, namun sejak tahun 1813 lembaga ini hanya bekerja di Indonesia. NZG mempunyai wilayah kerja yang luas di Indonesia. Di samping memperbantukan tenaga pekabar Injilnya pada GPI, lembaga ini juga mempunyai wilayah kerja di luar wilayah GPI. Wilayah kerja NZG di Indonesia adalah daerah Maluku, Minahasa, Timor, Jawa Timur, Tanah Karo di Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Bolaang Mongondow, dan Sulawesi Selatan. Dengan demikian, NZG mempunyai sumbangan yang sangat besar bagi pertumbuhan dan lahirnya gereja-gereja: Gereja Protestan Maluku (GPM); Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT); Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB); Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW); Gereja Batak Karo Protestan (GBKP); Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST); Gereja Masehi Injil Bolaang Mongondow (GMIBM); dan Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS). F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja: Edisi Revisi, Jakarta: BPK-GM, 2009, 300-302.
karena mereka berhadapan dengan kepercayaan lokal yaitu agama pemena, dan kehadiran Missionaris juga dicurigai oleh karena di bonceng oleh Kolonialisme.17
II.5.2. Budaya Karo tentang Kesalehan
Kesalehan dalam bahasa Karo adalah kebadian geluh. Dalam adat Karo dahulu juga sudah mengenal tentang kesalehan ini dan terdapat dalam budaya mereka. Kesalehan itu mencakup buah huta-huta (tempat suci) yang harus dijaga karena dianggap magis bagi mereka karena di tempat-tempat suci tersebut merupakan tempat-tempat “yang berkuasa”.18 Adat Karo yang mengatur tentang
kesalehan itu terdapat pada sumbang si siwah, yang berisi:19
Sumbang Perkundul
Yaitu cara duduk yang tidak sopan, yang terlarang, dan tabu. Pada masa lalu sampai sekarang tikar merupakan sarana atau tempat duduk umum bagi masyarakat Karo. Bagi mereka duduk yang sopan adalah muncayang atau bersila (bagi pria dan wanita) dan juga terdo atau menjulurkan kedua kaki. Disamping itu kita juga harus mengenal simehangke (orang yang kita hormati, yang tidak boleh berbicara langsung kepadanya, misalnya mami, bengkila, turangku, silih) kita karena adat Karo dilarang duduk berdampingan, apalagi bersentuhan badan dengan mereka.
Sumbang Pengerana
Yaitu cara berbicara atau cara berkata-kata yang tidak senonoh, tidak sopan, bicara kasar, sumbang dan terlarang. Ucapan atau kata-kata seseorang dapat membuat dia dibenci atau sebaliknya.
Sumbang Pengenen
Yang tidak pantas dilihat, yang terlarang yang tabu dilihat. Yang buruk untuk dilihat tidak boleh dilihat karena menurut mereka akan menyebabkan kebutaan jika melakukan hal tersebut. mata dianggap cerminan hati. Pepatah mengatakan “matamu adalah matahari dikala siang dan bulanmu dikala malam.”
Sumbang Perpan
Merupakan cara makan yang tidak senonoh, yang tidak sopan dan santun, tidak memikirkan kepentingan orang lain; senang sendiri saja pada saat makan. Kita harus melihat ke kiri dan kekanan pada waktu makan karena tidak baik mengisi penuh-penuh piring kita sedangkan yang lain belum mendapat makanan.
Sumbang Perdalan
Merupakan cara atau perbuatan berjalan yang tidak sopan, tidak senonoh, baik langkah kaki maupun ayunan tangan. Berjalan itu hendaknya jangan dibuat-buat.
17E. P. Gintings. Adat Istiadat Karo. Kinata Berita Si Meriah Ibasd kalak Karo. (Kaban Jahe, Abdi Karya, 1995), hlm. 12.
18 Wawancara dengan Pdt. Sada Kata Gintings, 7 Februari 2014
Sumbang Pendahin
Yaitu cara bekerja atau tindakan yang tidak wajar, tidak sopan, tidak menuruti tata karma, menjengkelkan, yang membuat orang benci atau tidak senang. Untuk mencegah anak mereka untuk melakukan pekerjaan yang terlarang, maka orang tua tidak bosan-bosannya memberi nasehat kepada kaum muda.
Sumbang Perukuren
Yaitu cara berfikir yang tidak baik, cara berfikir yang berat sebelah, pemikiran yang salah, suara hati yang sumbang yang tidak sepantasnya dilakukan. Hati dan pemikiran memberi ketentraman kepada hidup bagi yang bersangkutan. Kita harus menghormati dan menghargai masyarakat dengan hati dan pemikiran kita.
Sumbang Peridi
Yaitu cara mandi yang tidak sopan, yang dilarang adat istiadat. Karena biasanya orang Karo mandi di pemandian atau pancuran secara bergantian, maka untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan maka harus mengucapkan kode atau dialog singkat sebelum mandi agar orang yang sedang mandi dapat kita ketahui laki-laki atau perempuan.
Sumbang Perpedem
Yaitu cara atau praktek tidur yang tidak senonoh, tidak sopan, yang melanggar kebiasaan atau tata krama umum. Misalnya tata letak kepala, letak kaki jangan sampai menggangu orang lain.
Orang yang saleh menurut Orang Karo adalah orang yang dapat serta yang sanggup menghilangkan serta mengharuskan larangan nan Sembilan dari dalam kehidupan.20
II.5.3. Pengkontekstualisasian Nilai Injil dan Budaya di Tanah Karo
Nilai – nilai adat Karo yang tradisional sering berbenturan dengan injil, sehingga adat kadang kala menjadi penghambat dalam pemberitaan injil, hal inilah yang menjadi pergumulan rangkap bagi gereja dalam menghayati kebenaran dan anugrah Allah dimana gereja hidup dan berkembang21.
Tugas dan panggilan gereja di sepanjang masa tidak akan pernah berubah. Gereja tetap harus tetap mewartakan Kabar Baik dan menjadi saksi tentang Yesus sebagai juru selamat. Tapi strategi dalam mewartakan Kabar Baik itu tentu saja harus disesuaikan dengan konteks sosio-budaya-ekonomi-politik masyarakat dan bangsa di mana gereja berada. GBKP telah telah melakukan berbagai upaya agar kehidupan jemaat tidak hanya sebatas “Bicara tentang teologi“ tetapi bagaimana “melakukan teologi yang benar“ sebagai refleksi dari iman. Dalam upaya berkontekstualisasi GBKP mencanangkan tahun kemandirian/peningkatan Teologia, sehingga dengan ini diharapkan gereja GBKP dapat menjawab pertanyan–pertanyaan baru, sebab Dogma yang diwarisi dianggap tidak
20 Perdana Ginting, Masyarakat Karo Dewasa Ini, 109
memadai lagi untuk menjawab pertanyaan baru dan oleh itu diperlukan teologia kontekstual, namun bukan berarti rumusan kepercayan/ajaran yang lama yang selama ini bersifat universal dan abadi dibuang begitu saja.22
Dalam prakteknya Injil dan Adat bagi masyarakat Karo merupakan dua kutub yang selalu melancarkan tuntutannya masing–masing. Tuntutan yang dimaksud adalah soal otoritas. Siapa yang mempunyai otoritas dalam pelaksanaan upacara adat : Injil atau adat, karena didalam pengalaman, dominasi adat lebih lebih besar pelaksanaannya menampilkan ulang kepercayaan lama, sedangkan gereja hanya sebagai pengawas dan pendamping. “la radat“ (Tidak beradat) adalah celaan yang lebih berat dibanding “la eragama” (tidak beragama).23
Misionaris Barat (NZG) yang membawa Injil ke Tanah Karo sangat kuat di pengaruhi oleh paham Pietisme24 dan sangat identik dengan budaya barat. Oleh itu, didalam penginjilan yang
mereka lakukan yang bercorak pietis, maka mereka sangat melarang orang Kristen untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan budaya termasuk mempergunakan alat musik tradisional serta kebiasaan-kebiasaan yang lain karena dianggap mengandung Occultisme yang bisa menyebabkan Sinkrestisme. Para Misionaris tersebut kemudian menggantikan kebudayaan setempat dengan kebudayaan barat, mereka mengasingkan budaya setempat dan memberikan sesuatu yang benar baru yang dianggap bersih dan berasal dari Kristus, kebudayaan baru sebagai orang yang telah lahir baru dan kekristenanlah yang menjadi tatanan hidup yang baru bagi mereka. Antara adat dan keristenan terdapat perbedaan yang besar yang dinilai tidak dapat bersatu, serta menilai adat itu akan membawa manusia pada kesia-siaan hidup sedangkan Injil memberikan kehidupan yang kekal.25 Sikap Missionaris tersebut mengakibatkan muncul permasalahan ketika Injil itu bertemu
dengan kebudayaan masyarakat Karo yang telah mengakar dan masyarakat Karo sebelum kedatangan injil, sebab masyarakat Karo sebelum kedatangan injil juga adalah masyarakat religius.26 Oleh karena hal tersebut maka sangat diperlukan usaha untuk perjumpaan injil dengan
budaya, sehingga hal – hal yang menghalangi pertumbuhan iman dapat disingkirkan, seperti yang diutarakan Tom Jacobs dalam bukunya, Paham Allah dalam Filsafat, Agama – agama, dan Teologi, seperti yang dikutip Aloys Budi Purnomo, berpendapat “Teologi bukanlah suatu ilmu yang abstrak,
22 Jadiaman Perangin – angin,“Keterikatan Teologia Spiritualitas dan Ibadah“ dalam, “Pegara Min Apindu“, Moderamen GBKP,(Abdy Karya, Januari 2011 ), 6 – 7.
23 Sada Kata. Ginting, “Adat Kekerabatan Karo dalam Iman Kristen“, 19.
24 Cris Hartono, Pietisme di Eropa dan pengaruhnya di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1974, 17. Bd. H. Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1994. Cet, ke 12), dimana aliran ini membina kembali beberapa hal yang utama dalam kehidupan jemaat, seperti, kesalaehan batin perseorangan, praktik kesalehan dalam dalam hidup sehari – hari, sehingga membuat kaum pietis suka beraskese, bersifat moralitas dan eskatologis, serta membentuk perkumpulan – perkumpulan kecil yang disebut dengan konventikel
25 Lothar Schreiner, Adat Dan Injil: Perjumpaan Dengan Iman Kristen Di Tanah Batak,
(Jakarta: BPK-GM, 2003), 7-8
Teologi adalah refleksi iman seseorang“. Pernyataan Tom Jacobs ini mengatakan betapa pentingnya setiap individu merefleksikan imannya dari konteks dan dalam konteks dimana ia berada. Teologi harus selalu kreatif dalam mempertemukan data empiris dari agama dan kebudayaan, serta masyarakatnya dengan refleksi iman. Teologi harus mencari korelasi antara iman dan hidup nyata sebagaiman dihayati oleh umat beriman dalam terang wahyu Allah sendiri. Teologi harus bersikap eklesial dan kultural.27 Dengan ini, dalam berteologi, unsur kebudayaan tidak boleh dilepaskan
begitu saja, dan orang – orang Karo yang merefleksikan imannya juga harus menyadari bahwa dirinya berada dalam kontkes lokal, dalam identitas kekaroannya, ketika ia menyadari ada kekuatan lain (Tuhan) dalam dirinya. Artinya bukan hanya Teks (Alkitab) yang diselidiki dan ditelaah, tetapi juga kontek sehingga konteks bukanlah hanya sekadar latar belakang di mana teks-teks Alkitab diterapkan, tetapi ditafsirkan secara saksama dan jujur. Adanya perjumpaan antara Teks dan konteks ini menghantarkan pemikiran untuk mendengarkan apa yang Allah kehendaki dalam konteks ini pada masa kini.
Upaya yang telah dilakukan oleh GBKP dalam melakukan pengkontekstualisasian terhadap adat dan budaya karo yang ada pada masa penginjilan sampai pada masa sekarang adalah dengan menerapkan prinsip pokok, yaitu: adat yang memperbaiki masyarakat, yang berfungsi dalam kehidupan bersama dipupuk dan adat yang bertentangan dengan injil dibuang. Namun terlihat kontektualisasi itu kadang hanya sebatas kulit walaupun ada juga yang diubah kulit dan isinya. Upaya lain yang telah dilakukan oleh GBKP dalam usaha memperbaiki hubungan GBKP dengan adat dan budaya adalah pembahasan sinode tahun 1966 yang memperbolehkan pemakaian gendang dalam upacara kematian, di mana dahulunya dilarang oleh para zendeling karena dianggap mempunyai mistik. Namun GBKP dalam sidang sinode tahun 1966 memperbolehkan pemakaian gendang dengan cara harus menghilangkan unsur-unsur kafir atau mistis.28 Dengan prinsip di atas, GBKP berusaha mendekati masyarakat yang
memakai adat ini bukan menjauhinya. Kesulitannya adalah sangat sulit membedakan adat dengan agama suku atau kepercayaan kafir. Sehingga dalam seminar adat istiadat Karo yang dilaksanakan Moderamen GBKP pada tanggal 31 Agustus - 3 September 1983 di Sukamakmur diperoleh hasil bahwa adat Karo merupakan jalan untuk mengasihi sesama manusia, mengasihi diri sendiri, mengasihi lingkungan hidup dan mengasihi sejarah masa depan. Adat adalah mengasihi dan kasih merupakan inti berita Injil. Kasih yang
27 Yustinus Antono dan Aloys Budi Purnomo.“ Pengaruh Kekristenan Pada Kebudayaan Simalungun “ : Etnografi dan Refleksi Teologis Kontekstual (Pematang Siantar : Kolportase GKPS.2003), 90-91.
merupakan esensi adat Karo menjadi pintu masuk Injil kepada orang Karo dan Injil tetap menerangi adat Karo.29
Telah disebutkan diatas pada awal masuknya Injil, para penginjil banyak dipengaruhi teologi pietisme. Ada semacam pendekatan antitesis, superioritas kebudayaan Kristen (Barat) yang menuntut penaklukan kebudayaan orang atau suku dahulu jika orang menjadi Kristen harus anti budaya, tapi sebaliknya dan dalam kaitan ini budaya harus bertransformasi. Sebagaimana dahulu siberu dayang memberikan nilai-nilai kehidupan dalam bentuk jerih payah dari ladang. Hal itu harus dikontekstualisasikan bagaimana Allah tetap memelihara kehidupan manusia dalam dunia ini sebagai ungkapan terima kasih kita kepada Allah yang tetap memelihara hidup kita, hal itu bisa diwujudkan dalam bentuk teologi kontekstual dan dogmatika yang kontekstual.31 GBKP berusaha mendekati masyarakat yang memakai adat, bukan
menjauhinya. Kesulitannya adalah sangat sulit membedakan adat dengan agama suku atau kepercayaan kafir. Dalam seminar adat istiadat Karo yang dilaksanakan Moderamen GBKP pada tanggal 31 Agustus - 3 September 1983 di Sukamakmur diperoleh hasil bahwa adat Karo merupakan jalan untuk mengasihi sesama manusia, mengasihi diri sendiri, mengasihi lingkungan hidup dan mengasihi sejarah masa depan. Adat adalah mengasihi dan kasih merupakan inti berita Injil. Kasih yang merupakan esensi adat Karo menjadi pintu masuk Injil kepada orang Karo dan Injil tetap menerangi adat Karo.32
III. Analisa Penyeminar
29 E.P. Gintings, Religi Karo, (Kabanjahe: Abdi Karya, 1999), 15.
30 Sada Kata Ginting Suka, Adat Kekerabatan Karo dan Iman Kristen, 12-13.
31 Teologi dogmatika bertugas mempertanggungjawabkan iman Kristen secara ilmiah. Pekerjaan teologi dogmatika merupakan “pelayanan si pemikir pada iman, Ilmuwan dogmatika menjalankan pekerjaannya sebagai anggota gereja, demi penugasan dan sebagai pelayanan terhadap gereja. Teologi dogmatika pada dasarnya mempunyai dua fungsi yang reproduktif-tradisional dan produktif-konstektual. Kedua fungsi tersebut saling melengkapi dan mengoreksi. Kumpulan kitab-kitab Alkitab dan keputusan-keputusan serta pengakuan-pengakuan tertentu Gereja Purba hingga saat ini masih menjadi dasar pemikiran dogmatis di seluruh dunia. Dogmatik mempunyai tugas memadukan tafsiran Alkitab dan penjelasan terhadap dogma-dogma kegerejaan. Dogmatika bukan suatu yang ditetapkan untuk selama-lamanya, melainkan harus juga mengembangkannya secara kritis. Dogmatika tidak hanya menawarkan suatu konsensus yang tersedia, melainkan sekaligus juga akan menganjurkan usul-usul untuk formulasi dogma sesuai dengan situasi masa kini. Dalam arti ini dogmatika menampakkan suatu konsensus isi pemberitaan atau kesadaran iman gereja (Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, (Jakarta: BPK -GM, 2009), 5-7)
Analisa yang penyeminar lihat terhadap kesalehan pada abad pertengahan adalah:
1. bahwa kesalehan itu hanya bersifat keinginan untuk hidup miskin saja karena konteks yang terjadi pada saat itu orang-orang berlomba untuk menjadi kaya, sehingga kesalehan dipahami sebagai hidup miskin. Namun aspek kesalehan itu bukan hanya masalah hidup miskin saja. Terlebih pada orang Karo, kesalehan adalah kebiasaan yang lazim mereka lakukan sehingga ketika sesuatu hal itu tidak lazim dilakukan maka itu dianggap tidak ber adat.
2. Kesalehan bukan hanya persoalan memutuskan untuk menjadi miskin atau melakukan kebiasaan, namun kesalehan itu merupakan hal yang koheren (yang menyeluruh) sehingga bukan hanya tindakan atau kebiasaan saja, melainkan juga mencakup hati dan pikiran kita.
3. Kesalehan itu bukan hal yang abstrak, melainkan hal yang konkret sehingga dapat dirasakan oleh orang di sekitar kita. kesalehan yang kita lihat di abad pertengahan merupakan kritik terhadap apa yang telah terjadi, dan kesalehan dalam adat Karo hanya merupakan kebiasaan yang sudah lazim, seperti cara berjalan, makan, tidur dan lainnya. Ini hanya merupakan sebuah peraturan saja. Namun menurut saya kesalehan itu harus datang dari hati kita terhadap permenungan akan Allah.
4. Kesalehan yang ditawarkan pada abad pertengahan dan adat Karo merupakan sikap kepada sesama manusia. Namun yang terlupakan adalah sikap terhadap alam ciptaan lainnya. Kesalehan juga harus mencakup apa yang Allah kerjakan dalam dunia ini. Jadi kesalehan juga berkaitan dengan kedamaian kosmis (alam raya).
5. Penekanan kesalehan yang kita lihat diatas adalah tindakan pribadi (perseorangan), walaupun mereka hidup membiara (pada abad pertengahan) dan hidup bermasyarakat (adat Karo), namun perlu diperhatikan bahwa kesalehan itu telah ditunjukkan oleh teladan Yesus dan kita dimampukan untuk melakukan hal tersebut. pada abad pertengahan anugrah belum mereka kenal sehingga mereka merasa harus terpaksa melakukannya untuk memperoleh keselamatan, begitu juga dengan adat Karo. Namun kita juga harus melihat bahwa dalam darah Yesus kita telah dimampukan untuk melakukan segala yang baik sehingga kita mampu mengikuti teladan Yesus.
6. Kesalehan merupakan keharmonisan dan keselarasan antara Allah dengan manusia, sehingga segalanya hanya dari Dia, oleh Dia, dan hanya untuk Dia kemuliaan sampai selama-lamanya.
IV. Kesimpulan
V. Daftar Pustaka
….. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: YKBK/OMF, 1992
Antono, Yustinus,dan Aloys Budi Purnomo.“ Pengaruh Kekristenan Pada Kebudayaan Simalungun “: Etnografi dan Refleksi Teologis Kontekstual, Pematang Siantar : Kolportase GKPS, 2003
Becker, Dieter., Pedoman Dogmatika, Jakarta: BPK -GM, 2009
Berkhof, H. & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: Gunung Mulia, 2013
Calvin, Yohanes., Institutio; Pengajaran Agama Kristen, Jakarta: Gunung Mulia, 2011
Ginting Suka, Anggapen.,“Dari yang Lama ke yang Baru – aspek – aspek Perubahan keagamaan di Masyarakat karo“, Dalam, Journal Teologia Beras Piher : Dulu–kini–dan nanti, Vol.3. No.3, Septembar– Desember 2004. Medan : GBKP. 2004.
Ginting Suka, Anggapen.,“Suatu Refleksi atas Adat, Modernisasi dan Injil di Masyarakat karo“, Dalam, Jurnal Teologia Beras Piher : Dulu – kini – dan nanti,Vol.3. No.3, Septembar–Desember 2004, Medan : GBKP. 2004
Ginting, Perdana., Masyarakat Karo Dewasa Ini,
Ginting, Sada Kata., “Adat Kekerabatan Karo dalam Iman Kristen“ dalam, “Pegara Min Apindu“, Moderamen GBKP: Abdy Karya , Januari 2011
Gintings, E. P.. Adat Istiadat Karo. Kinata Berita Si Meriah Ibasd kalak Karo, Kaban Jahe, Abdi Karya, 1995
Gintings, E.P., Religi Karo, Kabanjahe: Abdi Karya, 1999 Gintings, Sada Kata, wawancara pada 7 Februari 2014
Harahap, Frida.,“Ritual dalam Kepercayaan Pemena“ dalam, Dalam, Jurnal Teologia Beras Piher : Dulu – kini – dan nanti , Vol.3. No.3, September–Desember 2004. Medan : GBKP, 2004
Hartono, Cris., Pietisme di Eropa dan pengaruhnya di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1974 Lane, Tony., Runtut Pijar; Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: Gunung Mulia, 2009
Lumbantobing, Darwin, Teologia Di Pasar Bebas, Pematang Siantar: L-SAPA, 2007
Perangin-angin, Jadiaman.,“Keterikatan Teologia Spiritualitas dan Ibadah“ dalam, “Pegara Min Apindu“, Moderamen GBKP, Kabanjahe Abdi Karya: 2011
Randwijck, S.C. Graaff Van, Oegstgeest : Kebijaksanaan Lembaga – Lembaga Pekabaran Injil Yang Berkerjasama : 1897 – 1942, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1989
Schreiner, Lothar., Adat Dan Injil: Perjumpaan Dengan Iman Kristen Di Tanah Batak, Jakarta: BPK-GM, 2003
Tarigan, Henry Guntur., Percikan Budaya Karo, ttp: PT. Kesaint Blanc Indah Group, 1990 Wellem, F.D., Kamus Sejarah Gereja: Edisi Revisi, Jakarta: BPK-GM, 2009
Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: Gunung Mulia, 2009
Sumber Internet