TESIS
KEMAMPUAN PERFORMANSI BAHASA DAN GRAMATIKA BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA KEDUA
Diajukan kepada Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Sebagai Persyaratan Mengikuti
Ujian Promosi Magister
OLEH: ULIL ALBAB 11.2.00.0.18.01.0133
PEMBIMBING:
DR. Muhbib Abdul Wahab, M.Ag NIP: 19681023 199303 1 002
KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB PROGRAM STUDI PENGKAJIAN ISLAM
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Segala nikmat yang Allah berikan telah memberikan kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan seluruh keluarganya, sahabat, dan pengikut sunnahnya.
Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini menguraikan tentang pembelajaran gramatika bahasa Arab sangat mempengaruhi kualitas performansi bahasa. Penulis menganggap bahwa pembelajaran gramatika bukan hanya sekedar formalitas dalam sebuah sekolah akan tetapi berkonstribusi dalam mengurangi kesalahan gramatika pada ujaran-ujaran penutur bahasa. Tesis ini ditulis sebagai pengembangan keilmuan dalam pendidikan bahasa khususnya pendidikan bahasa Arab.
Dalam menyelesaikan penulisan tesis ini sangat banyak hambatan dan rintangan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa semua ini dapat dihadapi berkat dorongan dan motivasi dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Komaruddin Hidayat selaku rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Prof. Azyumardi Azra selaku direktur SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Juga kepada seluruh jajaran pimpinan SPs, Prof. Suwito, M.A., Dr. Yusuf Rahman, M.A., seluruh karyawan dan karyawati tata usaha, dan perpustakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
iv
3. Kepada seluruh keluarga, orang tuaku yang tersayang abi Hambali Yusuf, SH, M.Hum., dan umi Dra. Siti Hasanah Sri, M.Pd.I., yang telah memberikan motivasi, dukungan, dan doa yang sangat berharga tanpa kenal lelah hingga selesainya penulisan tesis ini. Kepada adik-adikku yang
telah menghibur dikala susah Ahmad Ma’arij A’la, Zata Ismah, Dhia Urrif’at, Rahmatusyifa, dan Muflihah Dini
terima kasih telah memberikan semangat mudah-mudahan ayuk menjadi contoh yang husnul khotimah buat kalian. 4. Buat sahabat-sahabatku ayunda Herlina, Uni Sarah
Abdillah, Tya, Iffa, mbak Zahra, Icha, Dila, kak Ita dan teman-teman angkatan 2012 SPS UIN Syarif Hidayatullah yang telah bersama-sama berjuang memberikan masukan-masukan pada penulisan tesis ini semoga kita dipertemukan lagi di lain waktu.
Semoga tesis ini dapat memberikan pengetahuan kepada semua pihak. Penulis menyadari bahwa tesis ini mempunyai banyak kekurangan untuk itu diharapkan tesis ini dapat memberikan ide bagi peneliti lain untuk membuat perkembangan penelitian lebih lanjut.
Jakarta, 08 Juli 2014/ Ramad}an 1435
v
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI
Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama : Ulil Albab
NIM : 11.2.00.0.18.01.0133 TTL : Palembang, 15 Mei 1989
Menyatakan bahwa Tesis yang berjudul ‚Kemampuan Performansi Bahasa dan Gramatika Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua‛ adalah benar merupakan karya orisinil saya, kecuali kutipan-kutipan yang telah disebutkan sumbernya. Apabila di kemudian hari terbukti ditemukannya unsur-unsur plagiasi, saya siap menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang diberlakukan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikan surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta, 08 Juli 2014
vi
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Tesis dengan judul ‚Kemampuan Performansi Bahasa dan Gramatika Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua‛ yang ditulis oleh Ulil Albab, NIM: 11.2.00.0.18.01.0133, telah melalui proses bimbingan dan bisa dimajukan untuk Ujian Promosi.
Jakarta, 08 Juli 2014 Pembimbing,
vii
PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI
Tesis yang berjudul ‚Kemampuan Performansi Bahasa dan Gramatika Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua‛, yang ditulis oleh Ulil Albab, NIM: 11.2.00.0.18.01.0133, telah lulus dalam Ujian Pendahuluan di hadapan Dewan Penguji pada tanggal 30 Juni 2014, dan telah diperbaiki sesuai dengan saran dan masukan dari Dewan Penguji. Selanjutnya tesis ini dapat dimajukan dalam Ujian Promosi Magister.
Jakarta, 08 Juli 2014 Dewan Penguji:
1. Prof. Dr. Suwito, MA
... (Ketua Sidang/Meragkap Penguji)
Tanggal...
2. Prof. Dr. Sukron Kamil, MA ... (Penguji)
viii ABSTRAK
Tesis ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pembelajaran gramatika secara formal di dalam kelas terhadap kemampuan performa bahasa. Hal ini didasarkan pada uji statistik yang membuktikan bahwa antara nilai Pvalue pada skor performansi bahasa lebih kecil dari nilai pada pembelajaran gramatika secara formal.
Tesis ini merupakan kritik terhadap teori yang digagas oleh John Truscott (2005), dan Krashen (2005), yang menyatakan bahwa pembelajaran gramatika secara formal merupakan suatu yang sia-sia karena dapat diperoleh secara natural. Pembelajaran gramatika secara formal juga mempunyai dampak yang sangat lemah, karena pelajar hanya mengingat pelajaran dalam waktu singkat setelah pembelajaran. Tesis ini juga mengkritik pendapat Joseph Webbe yang mengatakan bahwa gramatika bisa diperoleh hanya dengan berkomunikasi, latihan membaca, menulis juga berbicara.
Sebaliknya tesis ini mendukung teori H.G Widdowson (2005), Fahad Khali>l Zayid (2006), Vivian Cook (2008), yang menyatakan bahwa pengajaran gramatika membantu siswa dalam penulisan. Tesis ini juga mendukung pendapat Jianyun Zhang (2006) yang menyatakan gramatika adalah sesuatu yang penting, gramatika tidak diperoleh secara alami dan perlu diajarkan.
Berdasarkan kajian penelitian ini, semakin tinggi frekuensi pengetahuan struktur/gramatika yang dipelajari oleh peserta didik, dan penerapan gramatika tersebut dalam penggunaan bahasa secara kontinyu maka semakin dapat menghasilkan ujaran-ujaran bahasa yang benar dan terhindar dari kesalahan-kesalahan gramatika yang berlaku.
x ABSTRACT
The study shows a significant correlation between formal grammar teaching in class and language performance and competence proven by statistical measurement that indicates Pvalue value on language performance score is smaller than 10% on formal grammar teaching. Based on this study the higher frequency of grammatical competence obtained by the students and its application in continuous language practices the more they can produce correct utterances and avoid grammatical errors and mistakes.
This thesis criticizes the theory proposed by Truscott (2005), and Krashen (2005) arguing that formal grammar teaching is an useless effort as it can be acquired naturally. Formal grammar teaching has negative effects because students only remember what has been taught in short time. After that they forget. The thesis is also a critic for Joseph Webbe stating that grammar can be obtained through communication, reading, writing and speaking practices.
Instead this thesis support theories of H.G. Widdowson (2005),Khali>l Fahad Zayid (2006), Vivian Cook (2008) and pointing out that grammar teaching assists student writing and Jianyun Zhang (2006) said that the grammar is so pivotal and need to taught.
xi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman transliterasi Arab – Latin yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
xii C. Maddah
Tanda Nama Gabungan
Huruf
Nama
آى Fathah dan alif a> a dan garis di atas
ي ى Kasrah dan ya i> i dan garis di atas
و ى Dhammah dan wau
u> u dan garis diatas
D. Ta’ marbutah (ة)
Transliterasi ta’ marbutah ditulis dengan ‚h‛ baik
dirangkai dengan kata sesudahnya maupun tidak contoh
mar’ah (ةأره) madrasah (ةسرده) Contoh:
ةرونولا ةنيدولا : al-Madinah al-Munawwarah
E. Shaddah
Shaddah/tasydi>d di transliterasi ini dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf bersaddah itu.
Contoh:
بران
: rabbanaزنل
: nazzal F. Kata SandangKata sandang ‚لا‛ dilambangkan berdasar huruf yang
mengikutinya, jika diikuti huruf syamsiyah maka ditulis
sesuai huruf yang bersangkutan, dan ditulis ‚al‛ jika diikuti
dengan huruf qamariyah. Contoh :
سوشلا: ash-Shams نلقلا : al-Qalam
G. Pengecualian Transliterasi
xiii DAFTAR ISI
Kata Pengantar iii
Pernyataan Bebas Plagiasi v
Persetujuan Pembimbing vi
Persetujuan Dewan Penguji vii
Abstrak Indonesia viii
Abstrak Arab ix
Abstrak Inggris x
Transliterasi Arab Latin xi
Daftar Isi xiii BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah 1
B.Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah 10
2. Pembatasan Masalah 11
3. Perumusan Masalah 11 4. Tujuan Penelitian 11 5. Manfaat Penelitian 12 C.Kerangka Berpikir 12 D.Penelitian Terdahulu yang Relevan 15 E.Hipotesis Penelitian 19 F. Metode Penelitian 19
G.Sistematika Penulisan 22 BAB II GRAMATIKA DAN PERFORMANSI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA A.Gramatika sebagai Hasil Pemerolehan Nature 25
B.Gramatika sebagai Hasil Pemerolehan Nurture 27 C.Urgensi Belajar Gramatika dalam Pembelajaran Bahasa Kedua 30 D.Konsep Performansi 37 1. Pengertian Penilaian Performansi 38 2. Urgensi Penilaian Performansi terhadap Penilaian Pelajaran Gramatika 40
xiv BAB III
KEMAMPUAN GRAMATIKA BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA KEDUA
A.Profil Objek Penelitian 49
B.Sistem Pembelajaran Gramatika 52 C.Pembelajaran Gramatika Sebagai Penunjang
Performa Bahasa
1. Peran Penyajian Gramatika Secara Formal 57 2. Peranan Lingkungan Formal 59 3. Peranan Lingkungan Informal 61 D.Kemampuan Pembelajaran Gramatika
Peserta Didik 63
BAB IV
KEMAMPUAN PERFORMANSI DAN KORELASI PEMBELAJARAN GRAMATIKATERHADAP
KEMAMPUAN PERFORMA BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA KEDUA
A.Model Penilaian Performansi Gramatika
Bahasa Arab sebagai Bahasa Kedua 83 B.Gramatika dan Kemampuan Performa Bahasa
1. Gramatika Sebagai Proses Akuisisi
Alam Bawah Sadar/Natural 123 2. Gramatika Sebagai Proses Kesadaran 125 C.Hubungan Kemampuan Gramatika secara
Formal dan Kemampuan Performa Bahasa 128
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan 133
2. Saran 134
DAFTAR PUSTAKA 135
LAMPIRAN-LAMPIRAN 151
GLOSSARY 161
INDEX 163
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengajaran bahasa kedua bagi peserta didik tentunya tidak mudah. Menurut Asghar Ali Ansari pengajaran bahasa kedua harus diajarkan secara efektif, perlu kesabaran dan kerja keras serta metodologi yang diciptakan sesuai bagi peserta didik.1 Penelitian lain menunjukkan bahwa para pelajar bahasa kedua seringkali melakukan kesalahan dalam bidang sintaksis, morfologis pengucapan dan ejaan.2
Dalam pembelajaran bahasa kedua pembelajaran gramatika secara formal masih diperdebatkan. Pendapat yang telah menghiasi perdebatan ini di antaranya pendapat ekstrim yang menyatakan bahwa pembelajaran gramatika sama sekali tidak perlu diajarkan, karena penguasaannya akan terjadi dengan sendirinya sebagai akibat dari interaksi dan komunikasi yang dilakukan.3 Roger Hawkey juga memandang bahasa adalah apa yang dibicarakan oleh native spekears dan bukan tentang bahasa itu sendiri.4 Robert Lado berpendapat bahwa hafalan-hafalan qawa>‘id hanya
1Asghar Ali Ansari, ‚Teaching of English to Arab Students: Problems and Remedies‛, Educational Research Vol. 3(6) June (2012) (accessed June 30, 2014)
2Loae Fakhri Ahmad Jdetawy, ‚Problems Encountered by Arab EFL Learners‛, Language in India Volume 11 : 3 March 2011 ISSN 1930-2940 (accessed June 30, 2014)
3Marianne Celce-Murcia, Grammar Pedagogy in Second and Foreign Language Teaching, TESOL Quarterly dalam I Made Sutama, ‚Pengintegrasian Pembelajaran Gramatika ke Dalam Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia,‛Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXXI April 2008, ISSN 0215 – 8250 (diakses 1 Juni 2013).
2
mengakibatkan bahasa Arab5 dipandang sukar, sulit dan momok.6 Pernyataan Robert Lado yang mengatakan bahasa Arab dipandang sukar bukanlah satu-satunya. Dalam buku Buhu>thu fi Qawā’id al-Lughah al-‘Arabiyah bahasa Arab yang sulit karena mempunyai bentuk yang setiap hurufnya itu mempunyai harakat, dan di dalamnya mempunyai kata pengecualian yang tidak bisa berubah (mamnu‘ mina as}-s{arfi) kalimat mabni dan mu’rab serta kaidah-kaidah yang sulit dipahami dibandingkan dengan bahasa lain.7
Menurut Krashen pembelajaran gramatika mempunyai dua proses, yang pertama adalah akuisisi yaitu proses perolehan di bawah alam sadar dan yang kedua belajar secara alami atau natural. Kedua proses itu tidak mempunyai
5Bahasa Arab adalah bahasa Semitik yang dipakai oleh lebih dari 330 juta orang sebagai bahasa ibu di daerah Arab/Teluk Persia di Timur sampai ke Atlantik Samudera di Barat. Selain itu bahasa ini juga dipakai 1,4 miliar umat muslim di seluruh dunia untuk melaksanakan s}alat mereka, bahasa Arab adalah bahasa yang sangat terstruktur dan derivative dimana morfologi memainkan peran yang sangat penting. Lihat: Khaled Shaalan ‚Rule-Based Approach in Arabic Natural Language Processing,‛ International Journal on Information and Communication Technologies, Vol. 3, No. 3, June 2010 (accessed July 14, 2013). Bahasa Arab mempunyai keistimewaan yang di dalamnya mempunyai ungkapan-ungkapan yang indah dan kata serapan makna dan kehati-hatian dalam bentuk yang rinci. Lihat: Markazu Nu>nu Lita’li>fi> wa at-Tarjamah, Buhu>thu fi Qawā’id al-Lughah al-‘Ara>biyah (al -halaqahal-u>lā), (Jami‘ah al-Ma‘ārif al-Islāmiyah ath-Thaqāfiyah: 2010) www.almaaref.org (diakses 12 Juli 2013). Keistimewaan yang lain jika dilihat dari sejarah bahwa gramatika bahasa Arab ini berusia ribuan tahun dan mengandung sumber daya yang luar biasa kecanggihannya. Lihat: Karin C. Ryding, Reference Grammar of Modern Standard Arabic (New York: Cambridge University Press, 2005) (accessed July 14, 2013) 6Abdul Mu’in Analisis Kontranstif Bahasa Arab & Bahasa Indonesia (Tela’ah Terhadap Fonetik dan Morfologi), (Jakarta: Pustaka Al–Husna Baru, 2004) 127.
7
3
interaksi. Pendapat Krashen ini banyak dikritik oleh para peneliti bahasa di antaranya adalah McLaughlin.8 Dalam jurnalnya Krashen juga mengatakan bahwa pengajaran gramatika tidak mempunyai pengaruh terhadap keterampilan berbicara (masih terpinggirkan) dan masih rapuh.9
John Broadus Watson tidak menerima/mengakui konsep alam sadar dan alam tak sadar/bawah sadar pada kegiatan mental manusia. Menurutnya pada bayi terdapat 3 reaksi yang tidak perlu dipelajari yakni: ketakutan, kasih sayang, dan marah. Konsep dasar Watson (Stimulus– Respon) ini diterima oleh berbagai pihak dan diperkuat oleh para pengikutnya antara lain; Edwin B. Holt, Edward Chase Tolman, E.L. Thorndike, B. Leonard Bismark.10
Hubungan antara Stimulus yang menimbulkan reaksi otot dan neuron sebagai pusat otot yang melekat pada korteks (bagian dalam tengkorak kepala) mempunyai hubungan erat sekali dengan kesadaran dan bahasa. Menurut Bloomfield setiap bahasa merupakan sistem ujaran dan ujaran mempunyai struktur ujaran yang direkam harus dianalisis.11
Pendapat Krashen yang mengatakan bahwa gramatika diperoleh melalui alam bawah sadar juga mendapat sanggahan dari Jianyun Zhang. Zhang mengatakan bahwa tata bahasa adalah dasar bagi bahasa yang tidak diperoleh secara alami, perlu diajarkan dan diinstruksikan oleh guru.
8Renu Singh, ‚Controversies in Teaching English Grammar,‛ Academic Voices A Multidisciplinary Journal, Vol. 1, No. 1, 2011(accessed May 21, 2013).
9Stephen D. Krashen, ‚The Effect of Formal Grammar Teaching: Still Peripheral,‛ TESOL QUARTERLY, Volume 27, No 4 Winter 1993 (accessed July 1, 2013).
10
Felysianus Sanga, ‚Analisis Kontrastif Mengatasi Kesulitan Guru Bahasa di Provinsi Nusa Tenggara Timur,‛ Linguistika Vol. 15, No. 28, Maret 2008 (diakes 13 Maret 2014)
4
Tata bahasa mengatur tingkatan-tingkatan kalimat yang mana diperbolehkan atau tidak.12
Menurut Rod Ellis adanya banyak kontroversi ini membutuhkan lebih banyak juga penelitian. Ellis memberikan saran bahwa pengajaran gramatika harus fokus pada struktur gramatika yang diketahui menjadi masalah daripada mencoba mengajarkan seluruh aspek gramatika. Idealnya pengajaran gramatika ini diajarkan juga dalam komunikasi.13
Jika kita lihat lagi definisi gramatika menurut kamus Oxford adalah suatu studi atau ilmu yang mempunyai aturan atau bentuk-bentuk kata (morfologi). Kamus Longman Dictionary of Contemporary English mendefinisikan gramatika sebagai studi tentang penggunaan aturan pengubah bentuk menjadi kalimat.14 Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji konstruksi-konstruksi yang bermodalkan kata.15 Kemudian W. Nelson Francis mengatakan ada tiga pengertian gramatika, Pertama gramatika adalah seperangkat pola-pola aturan tata bahasa yang disusun dalam menyampaikan makna yang lebih besar, kedua gramatika adalah sebuah cabang ilmu linguistik mempunyai formula dan pola bahasa formal, ketiga gramatika adalah etika linguistik atau etika berbahasa untuk
12Jianyun Zhang, ‚Necessity of Grammar Teaching,‛International Education Studies Vol.2, No. 2 May 2009. www.ccsenet.org/journal.html (accessed May 21, 2013)
13Rod Ellis, ‚Current Issue in the Teaching of Grammar: An SLA Perspective,‛ TESOL QUARTERLY Vol. 40, No. 1 March 2006 (accessed July, 14 2013)
14R. Bastone, Grammar dalam Shih-Chuan Chang, ‚A Contrastive Study of Grammar Translation Method and Communicative Approach in Teaching English Grammar,‛ English Language Teaching, Vol. 4, No. 2, June 2011. www.ccsenet.org/elt.(accessedJune 1, 2013)
5
lebih baik dalam pengucapan.16 Definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa gramatika dipelajari untuk membenarkan atau seperangkat aturan dalam penggunaan bahasa yang tentu saja menghindari kesalahpahaman dari lawan bicara.
Menurut sejarah pembelajaran gramatika telah ada semenjak periode Yunani dan Romawi bahkan studi bahasa saat itu lebih memfokuskan kepada gramatika. Hal ini bertujuan untuk memungkinkan para pembelajar membaca dan menulis dengan benar. Para ahli bahasa juga memberikan perhatian khusus terhadap pengajaran gramatika. Banyak penelitian kelas yang telah dilakukan dan terbukti bahwa pengajaran gramatika yang efektif dapat meningkatkan akurasi pelajar bahasa Inggris dalam penggunaan ketatabahasaan seperti yang dilakukan oleh Cardierno (1995), Doughty (1991), Thornbury (1991), dan Tom Hutchinson. Mereka mempunyai pendapat yang sama bahwa pengetahuan tentang gramatika sangat penting ketika murid akan menggunakan bahasa Inggris secara kreatif.17
Chomsky berpendapat bahwa sebagian besar para praktisi/akademisi masih belum percaya diri ketika mengajar gramatika sehingga menjadikan pengajaran gramatika ini kurang efektif.18 Ketika pengajaran gramatika kurang efektif maka yang terjadi adalah murid kurang memahami dan menguasai tentang gramatika. Menurut Roberta Stathis dan Patrice Gotsch pengajaran gramatika berarti mengajarkan
16W. Nelson Francis, ‚Revolution in Grammar dalam Patrick Hartwell, ‚Grammar, Grammars, and the Teaching Grammar,‛ College English, Vol. 47, No. 2 (Feb., 1985), pp. 105-127, http://www.jstor.org (accessed June 19, 2013)
17Renu Singh, ‚Controversies in Teaching English Grammar,‛ Academic Voices A Multidisciplinary Journal, Vol. 1, No. 1, 2011 (accessed May 21, 2013).
6
komunikasi, karena gramatika adalah dasar dari sistem bahasa.19
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan ilmuan Barat zaman dahulu tentu saja mempunyai fokus problem yang sama terhadap urgensi pembelajaran gramatika pada bahasa Arab. Hal ini juga dirasakan sampai sekarang yang mana kesan dan pesan pembelajaran qawa>‘id bahasa Arab masih kurang menyenangkan.
Muhbib dalam bukunya Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab berpendapat bahwa qawa>‘id / gramatika adalah sebuah sarana, perantara atau media yang diharapkan dapat mengantarkan penstudinya mampu berbicara, membaca, dan menulis secara benar, yang dapat menjaga bahasanya dari kesalahan.20 Menurut Widdowson gramatika adalah hal yang sangat penting akan tetapi tanpa komunikasi gramatika akan sia-sia saja.21
Pada dasarnya kegiatan pengajaran tata bahasa harusnya disertai juga dengan latihan yang komunikatif.22
19Roberta Stathis and Patrice Gotsch, ‚Explicit Grammar Instruction: The Research Basis for Grammar Gallery,‛ Teaching Writing Center, 2011 www.teacherwritingcenter.org (accessed June 1, 2013).
20Muhbib Abdul Wahab, Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008) 175.
21Widdowson dalam Rob Batstone, ‚Grammar in Discourse: Attitude and Deniability‛, Principle & Practice in Applied Linguitic Studies in Honour of H.G. Widdowson (Oxford: Oxford University Press, 2005) 207.
7
Menurut McQuade pengajaran gramatika adalah sebuah tradisi di sekolah. Pengajaran gramatika merupakan sebuah tekanan dari orang lain (guru, orang tua dan pejabat sekolah) dan juga ada kesan arogansi dalam pemberian nilai ketika satu murid mendapatkan nilai A maka semua siswa dianggap mampu dalam menguasai satu materi gramatika.23 Adanya beberapa pendapat\ diatas diperlukan pengembalian citra pembelajaran gramatika, dimulai dari improvisasi sistem pembelajaran, metode, sampai kepada sistem penilaian sehingga menjadi suatu hal yang menarik bagi peserta didik dalam mempelajari gramatika.
Di Indonesia kurikulum pembelajaran gramatika di madrasah negeri diajarkan secara implisit24 yang mana gramatika ini diajarkan secara bersama-sama dalam empat komponen kemahiran berbahasa. Berbeda dengan pesantren baik salaf maupun modern pembelajaran gramatika diajarkan secara eksplisit atau terpisah. Pesantren tradisional atau
Communicative Approaches to Second Language Teaching and Testing,‛ Applied Linguistic, Vol.1, No.1 (2002), 29-30, http://ibatefl.com (accessed April 17, 2013) istilah kompetensi komunikatif diciptakan pertama kali oleh Delly Hymes kompetensi komunikatif adalah aspek kompetensi yang memungkinkan menyampaikan dan menafsirkan pesan antarpersonal dalam konteks-konteks tertentu. Lihat H. Douglas Brown, Teaching by Principles An Interactive Approach to Language Pedagogy, (United States of America: Pearson Education, 2007) 241.
23Finly McQuade, ‚Examining a Grammar Course: the Rationale and the Result dalam Philip Hamrick‛, The Effectiveness of Cognitive Grammar and Traditional Grammar in L1 Pedagogy: an Empirical Test‛. Thesis: Youngstown State University, 2008. (accessed June 10, 2013).
8
pesantren salafiyah memiliki sistem gradasi pendidikan dan kurikulum longgar berdasarkan penguasaan kitab Islam klasik. Pembelajaran dan kurikulum ditentukan oleh tingkatan kualitas kitab-kitab Islam klasik dan menggolongkan kitab Islam klasik tersebut ke dalam tiga kelompok yaitu kitab-kitab dasar, kitab-kitab tingkat menengah dan kitab besar. Adapun pengajaran prinsip-prinsip ketatabahasaan bahasa Arab diajarkan pada kelompok kitab-kitab dasar. Pada bentuk aplikasi yang mengkaji ketatabahasaan bahasa Arab dalam menganalisis kitab-kitab dikelompokkan pada kitab-kitab tingkat menengah atau grade II.
Pada kitab-kitab besar atau grade III santri sudah bisa menganalisis dalam konteks luas dan ketatabahasaan bahasa Arab yang kompleks. Sementara itu pada pondok pesantren modern seperti Gontor tidak lagi menjadikan kitab-kitab klasik sebagai rujukan utama, kurikulum di pesantren modern diberikan juga pendidikan umum.25 Sama seperti pesantren modern lainnya yang memasukkan kurikulum pendidikan nasional dan menjadikan keterampilan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai ciri khasnya. Jika memasuki ranah penilaian gramatika bahasa Arab kedua bentuk pesantren ini memiliki persamaan sistem penilaian yaitu dengan menggunakan ranah penilaian kognitif atau sebatas hafalan/ingatan dan pemahaman.
Melihat sistem penilaian gramatika di pesantren dan di madrasah belum terlihat adanya improvisasi bentuk penilaian seperti penilaian performa atau performance assessment penilaian ini sudah sering dipakai pada pembelajaran bahasa Inggris. Penilaian performa sering diabaikan karena pembuatan instrumen penilaian ini membutuhkan waktu yang agak lama. Padahal tes performa
9
ini sangat penting dalam penilaian aspek kebahasaan karena jenis penilaiannya lebih subyektif dan melihat keberhasilan belajar siswa berdasarkan atas penafsiran dari tingkah laku berdasarkan kriteria/standar penguasaan mutlak.26
Selama ini yang terjadi penilaian mata pelajaran bahasa hanya dilakukan sebatas empat kompetensi berbahasa menyimak, berbicara, membaca dan menulis, sedangkan aspek gramatika penilaian yang diambil secara kognitif dan terpisah dari penilaian berkomunikasi. Pada dasarnya tujuan pembelajaran bahasa adalah supaya peserta didik bisa berkomunikasi dengan bahasa yang dipelajari. Adapun tujuan pembelajaran gramatika adalah supaya peserta didik terhindar dari kesalahan-kesalahan gramatika bahasa. Oleh karena itu sudah sepatutnya penilaian gramatika bahasa memakai bentuk tes performa yang menilai secara objektif kemampuan gramatika peserta didik dalam ujaran-ujaran yang dilakukan.
Penelitian ini akan dilakukan di salah satu pesantren di kota Palembang. Alasan peneliti mengambil lokasi ini sebagai tempat penelitian dikarenakan pesantren ini memiliki keunikan. Dikatakan unik karena pesantren ini bercorak modern yang didalamnya terdapat mata pelajaran umum, dan terdapat juga kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband. Pesantren ini sering mengikut sertakan santrinya pada lomba-lomba kebahasa Araban. Jika dilihat pada sistem pendidikan mempunyai corak salafiyah ini terlihat dari segi pengajaran qawa>‘id berpedoman pada buku-buku yang cenderung dipakai pada pesantren salafiyah,27 dan tingkat
26Iding Tarsidi, Bahan Presentasi Performance Tes, file.upi.edu (diakses 20 Juni 2013).
10
ketuntasan pada mata pelajaran ini adalah pada tamatnya suatu kitab yang dipelajari.
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk meneliti di pesantren tersebut tentang kemampuan performansi gramatika bahasa Arab. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memberikan data dan informasi mengenai kemampuan performa gramatika bahasa Arab. Dalam pengetahuan penulis sampai saat ini di pesantren tersebut belum pernah ada peneliti sebelumnya yang mengkaji tentang kemampuan performansi bahasa dan gramatika bahasa arab sebagai bahasa kedua.
B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a. Gramatika dalam kemampuan berbahasa, yang
dimaksudkan dalam kemampuan berbahasa ini adalah kemampuan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Penelitian ini lebih difokuskan pada kompetensi gramatika dalam kemampuan performansi yang teridentifikasi melalui kemampuan memproduksi dalam hal ini melalui keterampilan berbicara bahasa Arab.
b. Akuisisi bahasa, akuisisi atau pemerolehan bahasa
identik dengan proses memperoleh bahasa ibu atau bahasa pertama secara tidak sadar atau natural. Pada penelitian ini tidak membahas tentang pemerolehan bahasa akan tetapi kepada kemampuan gramatika bahasa Arab sebagai bahasa kedua.
11
c. Sistem pembelajaran gramatika secara implisit dan
eksplisit. Sistem pembelajaran gramatika secara implisit (pembelajaran gramatika yang tergabung pada empat kompetensi berbahasa) dipakai oleh madrasah negeri dan swasta. Sedangkan sistem pembelajaran gramatika secara eksplisit (pembelajaran gramatika yang terpisah dari empat kompetensi berbahasa) dipakai oleh pesantren salaf maupun modern.
2. Pembatasan Masalah
Melihat begitu luasnya permasalahan yang diidentifikasi, maka jangkauan permasalahan seperti yang telah diuraikan di atas tidak mungkin dilakukan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penelitian ini dibatasi dalam tiga hal, yaitu;
a. Topik yang akan diteliti dalam tesis ini hanyalah tentang performa qawa>‘id nah{w dan s{arf peserta didik.
b. Performa gramatika yang dinilai hanyalah performa yang terlihat pada kemampuan berbicara. c. Subjek yang akan diteliti yaitu siswa-siswi yang
duduk di kelas akhir Madrasah Aliyah.
d. Penelitian ini dilakukan pada semester genap 2013/2014 dari tanggal 28 Desember sampai 18 Februari 2014.
3. Perumusan Masalah
Berlandaskan pokok-pokok permasalahan, maka rumusan masalah yang diteliti adalah bagaimanakah pengetahuan gramatika bahasa Arab peserta didik yang telah diperoleh secara formal mampu menampilkan performa bahasa Arab tanpa kesalahan gramatika?
C. Tujuan Penelitian
12
1. Mengetahui input pembelajaran gramatika bahasa
Arab peserta didik.
2. Mengungkap skor performansi gramatika bahasa
Arab peserta didik.
3. Menganalisis sejauh mana aspek gramatika dalam
kemampuan performa gramatika bahasa Arab.
D. Manfaat Penelitian
Di samping tujuan yang dicari sebagaimana telah dikemukakan di atas penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat baik teoritis maupun praktis, antara lain:
1. Dari sisi teoritis hasil penelitian diharapkan memberikan pemahaman tentang pentingnya penguasaan gramatika. Kepentingan penyesuaian pengajarannya sesuai tingkat kemampuan dan umur peserta didik, dan bentuk penilaian yang lebih objektif.
2. Dari sisi praktis, penelitian ini diharapkan memberikan masukan kepada para pemerhati pendidikan pada umumnya dan guru bidang studi bahasa Arab khususnya agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengajarkan gramatika bahasa Arab. Penelitian ini sebagai salah satu bentuk pengembangan pembelajaran bahasa Arab.
E. Kerangka Berpikir
Kompetensi gramatika adalah seperangkat pengetahuan penutur tentang tata bahasa yang memungkinkan dia untuk melakukan performansi atau pelaksanaan bahasa itu yang berupa memahami kalimat-kalimat (yang didengar) (pelaksanaan reseptif) dan melahirkan kalimat-kalimat produktif.28
13
Gramatika bahasa Arab atau sering disebut dengan qawa>‘id29adalah aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang terdapat dalam menyusun kalimat bahasa Arab. Dengan demikian pembelajaran qawa>‘id adalah proses interaksi peserta didik dengan lingkungannya sehingga diharapkan mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab dengan baik dan benar.30
Performansi adalah pelaksanaan berbahasa dalam bentuk menerbitkan kalimat-kalimat dalam keadaan nyata.31 Kemampuan performansi bertujuan menggambarkan dan menjelaskan penilaian intuisi mengenai bentuk atau kalimat bahasa. Pada saat yang sama diharapkan mampu untuk menambah pengetahuan bahasa yang komprehensif dan juga pada memproduksi bahasa.32
Penilaian berbasis performansi memberikan informasi tentang bagaimana peserta didik mengerti untuk menerapkan pengetahuannya. Guru dapat mengintegrasikan penilaian berbasis performansi ini ke dalam proses belajar mengajar
29Ilmu nah{w telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam memahami bahasa Arab ilmu ini tidak dapat terpisahkan baik yang diungkapkan itu secara lisan atau tulisan. Ilmu nah{w sarat dengan pernak-pernik kaidah bahasa. Pembelajaran nah{w ini yang dipakai oleh ulama mempunyai dua model yaitu klasik dengan metode qiyâsî yaitu memberikan kaidah terlebih dahulu dan disusul dengan contoh, dan model kontemporer dengan model istiqra>’i yang kebalikan dari model qiyâsî. Lihat: Abd. Mu’in dkk, ‚Efektifitas Ilmu Nah{w dalam Pembelajaran Bahasa Arab: Studi Kasus di Mas Simbang Kulon Pekalongan,‛ Jurnal Penelitian Vol. 8, No. 1, Mei 2011. 157-174. (diakses 3 Juni 2013)
30Zakiyah Arifa dan Dewi Chamidah, ‚Pengembangan Bahan Ajar Qawaid Bahasa Arab Berbasis Mind Map Untuk Tingkat Perguruan Tinggi,‛www.academia.edu (diakses 3 Juni 2013).
31Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009) h. 77
14
sebagai tambahan pembelajaran bagi siswa.33 Melalui penilaian performansi ini siswa belajar mengekspresikan dengan cara mencerminkan situasi kehidupan nyata yang merupakan bagian integral dari rutinitas kelas. Penilaian performansi menghubungkan pengalaman siswa dengan kurikulum dan terlibat secara aktif, penilaian ini adalah bagian dari proses belajar mengajar.34 Dengan demikian penilaian performansi adalah bagian dari reformasi pendidikan dan bentuk baru pernyataan atas keberatan dalam penggunaan nilai standar sebagai tolak ukur kemampuan siswa.35
Kesimpulan kerangka berpikir dan alur penelitian yang akan dilakukan adalah:
33K. M. Hibbard and others, A Teacher’s Guide to Performance -Based Learning and Assessment dalam Amy Brualdi, ‚Implementing Performance Assessment in the Classroom,‛ ERIC Digests http://www.users.muohio.edu (accessed June 21, 2013).
34Mark Twain, Documenting Performance Assessment The Bridge From Teachers to Classrooms dalam Margo Gottlieb, Assessing English Language Learners Bridges from Language Proficiency to Academic Achievement, (California: Corwin Press, 2006) 111.
35Kohn dalam H. Douglas Brown, Teaching by Principles An Interactive Approach to Language Pedagogy, (United States of America: Pearson Education, 2007) 481.
Penilaian kompetensi Gramatika
Kelompok kategori nilai tinggi
Kelompok kategori nilai Rendah
Skor Kemampuan performansi gramatika
15
F. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Tulisan Dana R. Ferris The ‘‘Grammar Correction’’ Debate in L2 Writing: Where are we, and where do we go from here? (and what do we do in the meantime . . .?) (2004) mengomentari tulisan John Truscott The Case Against Grammar Correction In L2 Writing Classes (1996). Truscott mengomentari tentang kasus pembenaran (koreksi) dalam kemampuan belajar menulis bahasa asing yang selama ini dilakukan oleh guru bahasa bahwa pengkoreksian tidak efektif dilaksanakan karena hanya dapat membatasi kreatifitas peserta didik dalam menulis. Ferris menyangkal dan membuktikan dalam observasinya pengkoreksian dalam kemampuan menulis dapat memberikan feedback atau umpan balik. Pengkoreksian juga dapat mengidentifikasi kesalahan menulis peserta didik. Dari proses kesalahan-kesalahan gramatika penulisan peserta didik guru dapat membenahi lagi strategi pembelajaran gramatika yang telah dilakukan.36
Penelitian yang dilakukan oleh Fahd Khali>l Zayid al-Akhta’ Ashāi‘ah an-Nah{w wa as}-S{arfiyah wa al-Imlāiyah (2006) bahwa seorang siswa tidak akan bisa memperoleh kemampuan berbicara, membaca, dan menulis dengan benar dan tidak dapat mengekspresikan dirinya apabila siswa tersebut belum memiliki kemampuan memahami kaidah dasar nah{w. Dalam risetnya terdapat 25% kesalahan nah{w pada latihan-latihan yang diberikan pada siswa kelas dasar, dan terdapat kesalahan sebesar 50% dalam penerapan kaidah nah{w dan s{arf yang dialami oleh siswa kelas menengah.37
36Dana R. Ferris, ‚The ‘‘Grammar Correction’’ Debate in L2 Writing: Where are we, and where do we go from here? (and what do we do in the meantime . . .?),‛Journal Second Language Wrtiting 13, (2004) 49-62. www.sciencedirect.com. (accessed May 21, 2013).
16
Pada penelitian yang lain yang berjudul Modernisasi Pengelolaan Pendidikan Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri Narmada) (2007). Pesantren tersebut memiliki perpaduan (sintesis) tiga sistem pendidikan yaitu Pondok Pesantren Modern Gontor, Pondok Pesantren dar al-Nahḍatain NW dan Pemerintah (Kemenag dan Kemenpora). Pesantren ini memiliki disiplin dua bahasa yaitu Arab dan Inggris serta mengadopsi beberapa mata pelajaran yang diajarkan di Pondok Modern Gontor seperti al-Mut{a>la’ah, al-Mahfuz}a>t, al-Bala>ghah (Bayan, Ma’ani, dan Badi’), al-Imla’, al-Insha’, Durus al-Lughah, Reading, Conversation, dan Dictation. Pesantren ini juga mengadopsi pembelajaran kitab kuning muatan lokal berupa ke-NW-an.38
Badudu (2008) mengidentifikasi 15 jenis kesalahan sintaksis dalam skripsi mahasiswa Fakulatas Sastra Universitas Hasanuddin. 15 jenis kesalahan diantaranya adalah subjek kalimat tidak jelas, kekacauan penggunaan kata kerja aktif-pasif dalam kalimat, dan preposisi dalam kalimat tidak tepat. Menurut Badudu pengajaran sintaksis belum terarah pada fungsinya sebagai alat komunikasi tulisan.39
Syamsul Ghufron, dengan judul penelitian Problematika Pembelajaran Aspek Kebahasaan di Sekolah dan Solusinya (2009) berpendapat bahwa untuk mengatasi problematika pembelajaran kebahasaan salah satunya adalah mengadakan penelitian tentang perkembangan gramatika. Komponen-komponen kebahasaan menjadi dasar kegiatan
38Maimun dan Subki, ‚Modernisasi Pengelolaan Pendidikan Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri Narmada),‛ Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 3, No. 2, Juni 2007 (diakses 12 Juli 2013)
17
berbahasa yang harus dikuasai siswa akan tetapi bukanlah menjadi tujuan pembelajaran bahasa.40
Peneliatan Pazaver dan Hong Wang Asian Students’ Perceptions of Grammar Teaching in the ESL Classroom (2009). Menyatakan bahwa siswa memiliki berbagai persepsi dalam pengajaran gramatika. Beberapa siswa mengatakan gramatika sangat membantu dalam pembelajaran mereka beberapa lagi mengatakan gramatika sangat berguna dalam menulis. Pemahaman yang baik dalam pembelajaran
gramatika dapat membuat lebih mudah dalam
mengidentifikasi kesalahan mereka.41
Fathul Mujib dengan tulisannya Rekonstruksi Pendidikan Bahasa Arab dari Pendekatan Konvensional ke Intergratif Humanis (2010). Berdasarkan hasil observasinya kegagalan dalam pengajaran gramatika disebabkan guru menitikberatkan perhatian hanya pada hafalan syair-syair atau matan tentang ilmu nah{w dan s}arf. Guru hanya menyajikan contoh dan tidak dikaji secara kritis. Selanjutnya Mujib mengatakan pola hubungan antara guru dan murid seperti tuan dan majikan. Guru hanya memberikan contoh kemudian murid memberikan contoh serupa dan jarang mengetahui kelemahan murid-muridnya. Pembelajaran gramatika tidak disandingkan dengan disiplin ilmu lain seperti al-Qur’an dan ilmu bahasa.42
Wisnawati Loeis dengan judul penelitian, Metode Langsung dalam Pembelajaran Bahasa Arab (2011). Dalam penelitiannya bahwa pembelajaran bahasa Arab di Pondok
40Syamsul Ghufron, ‚Problematika Pembelajaran Aspek Kebahasaan di Sekolah dan Solusinya,‛Prospektus, Tahun VII No 2, Oktober 2009 (diakses 21 Mei 2013).
41Anne Pazaver, Hong Wang, ‚Asian Students’ Perceptions of Grammar Teaching in the ESL Classroom,‛ The International Journal of Language Society and Culture, LSC-2009 ISSN 1327-774X, (accessed July 14, 2013)
18
Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo kelihatan lebih berhasil. Ini terbukti banyak alumninya yang melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Buku yang dipakai di Pondok Pesantren ini adalah Durus al-Lughah al-‘Arabiyah jilid I. Buku ini mengajarkan tentang kosakata ‘arabiyah dan mempraktekkan secara langsung dalam percakapan sehari-hari baik dikelas maupun diluar kelas.43
Dalam penelitiannya Galuh Kirana, Kompetensi Gramatikal dan Kontekstual Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Dalam Menulis Paragraf Ekspositori (2012). Kompetensi gramatikal dan kontekstual pada kemampuan menulis menyimpulkan bahwa pada umumnya mahasiswa sudah mempunyai kemampuan gramatikal dan kemampuan kontekstual namun terdapat beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Teori-teori gramatikal dan kontekstual hendaknya harus diingat oleh mahasiswa dalam menulis dan tidak berasumsi bahwa dengan menerapkan kaidah gramatika membuat tulisan tidak variatif dan membosankan.44
Dari beberapa penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kemampuan gramatika ternyata belum satupun yang melakukan penelitian tentang kemampuan performansi bahasa dan gramatika bahasa arab sebagai bahasa kedua. Oleh karena itu penelitian ini menjadi cukup signifikan karena hasil penelitiannya diharapkan dapat memberikan masukan terhadap pengembangan pendidikan dalam bidang gramatika bahasa Arab dan memberikan kontribusi pada pesantren-pesantren di kota Palembang khususnya.
43Wisnawati Loeis, ‚Metode Langsung dalam Pembelajaran Bahasa Arab,‛ Turas, Vol. 7, No. 2, Agustus 2011 (diakses 12 Juli 2013)
19
G. Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis Verbal:
H1 = Terdapat hubungan positif antara pembelajaran
gramatika dengan skor performa gramatika.
2. Pengujian Hipotesis:
Uji hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis statistik tiap variabel. Jika hasil
Pvalue< (10%) maka terdapat hubungan antara
variabel pembelajaran gramatika dan skor performa.
H. Metode Penelitian 1. Desain Penelitin
a. Lokasi Penelitian
Peneliti akan mengamati performansi gramatika bahasa Arab peserta didik di salah satu Pondok Pesantren di kota Palembang.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan jenis kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif adalah melihat suatu realitas sebagai hal yang tunggal teramati dan dapat dipragmentasikan sehingga masalah yang ada dapat mengenalisir dan memprediksikan suatu masalah berdasarkan sejumlah variabel prediktor. Penelitian kuantitatif berangkat dari teori ke lapangan dan kembali lagi ke teori untuk diuji kebenarannya.45
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas akhir. Alasan pengambilan subjek penelitian ini bahwa peserta didik kelas akhir sudah banyak mempelajari mata pelajaran gramatika bahasa Arab dimulai dari kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Karena pesantren ini resmi dibangun pada tahun 2007 maka yang dimaksudkan kelas akhir disini
20
adalah peserta didik kelas sebelas yang merupakan angkatan pertama pada pondok pesantren tersebut.
4. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah seluruh subyek yang dijadikan sasaran penelitian. Menurut Arikunto populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila ingin meneliti semua elemen yang ada maka penelitiannya merupakan populasi studi atau populasi studi sensus.46 Adapun jumlah populasi peserta didik di pondok pesantren tersebut adalah sebagai berikut:
No Kelas Putra Putri
1 VII 47 Orang 29 Orang
2 VIII 26 Orang 24 Orang
3 IX 25 Orang 21 Orang
4 X 6 Orang 20 Orang
5 XI - 22 Orang
Jumlah 104 Orang 116 Orang
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik penarikan sampel ini dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian.
Sampel yang dipilih adalah peserta didik kelas akhir dengan alasan pengambilan sampel adalah bahwa peserta didik kelas akhir tersebut telah banyak mendapatkan materi pelajaran gramatika dimulai dari kelas VII Madrasah Tsanawiyah, maka sampel penelitian ini berjumlah 22 orang peserta didik kelas akhir yang masih duduk di kelas XI Madrasah Aliyah.
5. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data primer dan sekunder.
21
Data primer diperoleh dari Peserta didik kelas sebelas, wawancara guru bidang studi, observasi pesantren, dan dokumen-dokumen yang ada disekolah.
Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber tertulis atau kepustakaan baik laporan kajian-kajian terdahulu berupa: disertasi, tesis, jurnal-jurnal dalam bentuk cetakan atau elektronik yang berbicara tentang tema yang sama, serta sumber, dokumen dan data penunjang lainnya.
6. Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal ini peneliti melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Tes
Tes performa ini untuk mengukur kompetensi gramatika pada kemampuan performansi berbicara bahasa Arab. Dalam penelitian ini peneliti mengambil pada penilaian hasil. Penilaian hasil disini adalah peserta didik telah mendapat mata pelajaran gramatika.
b. Kuisioner
Kuisioner untuk melihat sikap dan motivasi peserta didik dalam mempelajari gramatika bahasa Arab selama proses pembelajaran berlangsung.
c. Observasi
Observasi ini untuk melihat kegiatan-kegiatan peserta didik dalam bidang kebahasa Araban dan kegiatan belajar mengajar.
d. Dokumentasi
Dokumentasi ini berupa daftar nilai gramatika yaitu nilai harian, ujian tengah semester, ujian praktek dan ujian akhir semester.
7. Analisis Data
22
sama dan membedakan data yang berbeda serta menyisihkan pada kelompok lain data yang serupa, tetapi tak sama.47 a. Teknik Analisis Data: Teknik analisa data dilakukan
dengan uji T Independen untuk signifikansi koefesien korelasi.
Uji T adalah uji statistik untuk melihat hubungan antara variabel dependen yang berjenis kategorik dengan variabel independen yang berjenis numerik. Variabel dependen adalah pembelajaran gramatika yang hasil ukurnya kategorik (tinggi rendah), adapun variabel independen adalah skor performa gramatika dengan hasil ukur berupa numerik (nilai).
b. Teknik analisis statistik menggunakan uji T parametrik dan uji nonparametrik (mann whitney). Uji T parametrik digunakan apabila data variabel skor berdistrubusi normal. Sedangkan uji T nonparametrik digunakan apabila data variabel skor tidak berdistrubusi tidak normal.
Uji Persyaratan Analisis: Uji persyaratan analisis yang dilakukan adalah uji normalitas skor dengan
menggunakan uji kolmogorov-smirnov, data
berdistribusi normal jika Pvalue> 0,05.
I. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan, maka peneliti menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab pertama merupakan pendahuluan yang akan menjelaskan latar belakang masalah serta alasan pemilihan tema dalam penelitian ini. Lebih rinci diuraikan dalam masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka berpikir, penelitian terdahulu yang relevan, hipotesis penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
23
Bab kedua akan menjabarkan tentang gramatika dan performansi dalam pembelajaran bahasa kedua; dengan subbab gramatika sebagai perolehan nature dan gramatika sebagai perolehan nurture. Bab ini juga membahas tentang urgensi belajar gramatika dalam pembelajaran bahasa kedua. Terkait dengan konsep performansi akan dibahas tentang pengertian penilaian performansi, urgensi penilaian performansi terhadap penilaian pelajaran gramatika, dan desain penilaian performansi.
Bab ketiga merupakan bab tentang hasil penelitian kemampuan gramatika bahasa Arab sebagai bahasa kedua dengan subbab; profil objek penelitian, sistem pembelajaran gramatika, pembelajaran gramatika sebagai penunjang performa bahasa dengan subbab; peran penyajian gramatika secara formal, peranan lingkungan formal, peranan lingkungan informal. Kemudian bab ini juga membahas tentang kemampuan pembelajaran gramatika peserta didik
Bab keempat membahas tentang kemampuan performansi dan korelasi pembelajaran gramatika terhadap kemampuan performa bahasa Arab sebagai bahasa kedua; model penilaian performansi gramatika bahasa Arab dengan subbab; bercerita di depan kelas, dan diskusi kelas bebas. Gramatika sebagai proses akuisisi alam bawah sadar/natural, gramatika sebagai proses kesadaran, hubungan kemampuan gramatika secara formal dan kemampuan performa bahasa.
25 BAB II
GRAMATIKA DAN PERFORMANSI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA
Bab ini membahas tentang gramatika sebagai perolehan nature dan gramatika sebagai perolehan nurture. Bab ini juga membahas tentang urgensi belajar gramatika dalam pembelajaran bahasa kedua. Selanjutnya bab ini akan membahas tentang konsep performansi meliputi; pengertian penilaian performansi, urgensi penilaian performansi terhadap penilaian pelajaran gramatika dan terakhir tentang desain penilaian performansi.
A. Gramatika sebagai Hasil Pemerolehan Nature
Bahasa adalah objek natural, komponen dari pikiran manusia secara fisik diwakili dalam otak dan bagian dari anugerah yang istimewa dari sistem biologis manusia itu.1 Chomksy menilai bahwa linguistik adalah bagian dari psikologi individual dan pengetahuan kognitif. Menurutnya hal ini paling mewah dari komponen karakteristik sentral manusia secara alami yang didefinisikan sebagai aturan biologis.2 Chomsky juga berpendapat bahwa bahasa merupakan sifat umum dari sistem biologis, pertumbuhan bahasa mempunyai tiga faktor diantaranya faktor genetik topik universal tatabahasa. Ini menafsirkan bahwa lingkungan sebagai bagian dari pengalaman berbahasa dan menentukan arah perkembangan bahasa.3
Pada tahun 1959 Chomsky menulis resensi yang secara tajam menyerang teori Skinner yang mengatakan
1Noam Chomsky, On Nature and Language (Cambridge:
Cambridge University Press, 2002) h. 1
2Noam Chomsky, On Nature and Language, h. 1
3Noam Chomsky, ‚Universals of Human Nature‛, Psyhoteraphy
26
bahwa pada dasarnya bahasa itu bukan didasarkan pada nurture tetapi pada nature. Anak memperoleh kemampuan berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, tabula rasa, tetapi dia dibekali sebuah alat yang dinamakan Piranti Pemerolehan Bahasa.4 Menurut Chomsky manusia mempunyai faculty of the mind semacam kapling-kapling intelektual dalam otaknya. Kapling kodrati yang dibawa sejak lahir disebut dengan Language Acquisition Device (LAD).5 Menurutnya setiap orang mempunyai satu sistem terwaris (innate system) yang cocok untuk berbahasa dari semua bahasa yang mungkin ditangkap olehnya.6
Chomsky menganggap Skinner keliru dalam memahami kodrat bahasa. Bahasa bukan suatu kebiasaan tetapi suatu sistem yang diatur seperangkat peraturan (rule-governed). Bahasa juga kreatif dan memiliki ketergantungan struktur. Kedua kodrat ini hanya dapat dimiliki oleh manusia.7
Teori genetik-kognitif ini didasarkan pada satu hipotesis nurani. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Hipotesis ini menyatakan bahwa dengan adanya LAD seorang anak bisa menguasai bahasa ibunya dengan cepat.8 Begitu juga pada waktu lahir anak-anak telah dikaruniai dengan seperangkat tata bahasa universal dan kemudian lingkungan yang akan menentukan dimana bahasa itu akan
4Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010) h. 236
5Noam Chomsky, On Nature and Language, h. 47
6Jos Daniel Parera, Dasar-Dasar Analisis Sintaksis (Jakarta:
Erlangga, 2009) h. 108
7
Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, h. 236
8Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka
27
diwujudkan dalam bahasa tertentu.9 Pandangan nativisme berpandapat dalam pembelajaran bahasa melibatkan pemerolehan tata bahasa dimana tata bahasa adalah sumber daya kognitif yang memungkinkan pemiliknya untuk menghasilkan dan mengenali banyak ungkapan bahasa.10
Chomsky yakin bahwa piranti pemerolehan bahasa (LAD) merupakan serangkaian kemestaan sintaksis, properti struktural yang umum ditemukan dalam semua bahasa. Struktur sintaksis ini dibawa sejak lahir. Yang dipelajari oleh anak adalah kosakata.11 Tata bahasa diperlukan sebagai pengetahuan bahasa akan tetapi proses pemerolehannya secara spontan dan tidak formal.12
Menurut Parera tata bahasa generatif mengandung dua makna yaitu produktivitas/kreativitas bahasa dan mengandung keformalan eksplisit. Tata bahasa dikatakan dapat menghasilkan semua kalimat bahasa tertentu dan tidak mungkin menghasilkan kalimat yang tidak cocok (nonsenteces, illformed).13 Berbeda dengan teori behaviriostik tata bahasa generatif dapat menghasilkan kalimat-kalimat baru yang bisa jadi kalimat tersebut belum pernah didengar oleh penutur.
B. Gramatika sebagai Hasil Pemerolehan Nurture
Pelopor modern dalam pandangan ini adalah psikolog dari Universitas Harvard B.F. Skinner. Dalam Verbal
9
Elizabeth Bates, ‚On The Nature and Nurture of Language‛, (San Diego: University of California) (accessed July 03, 2014)
10Stephen Crain and Paul Pietroski, ‚Nature, Nurture and
Universal Grammar‛ Springer Vol. 24, No. 2 (2001) (accessed July 04, 2014)
11Arifuddin, Neuropsikolinguistik (Jakarta: Rajagrafindo
Persada, 2010) h. 149
12Martin A. Nowak, Natalia L. Komarova, Partha Niyogi,
‚Evolution of Universal Grammar‛ Science 291, (2001) (accessed July 02, 2014)
13Jos Daniel Parera, Dasar-Dasar Analisis Sintaksis (Jakarta:
28
Behavior (1957), karya yang monumental dan sangat berpengaruh. Dia meneliti seorang tikus yang akhirnya memperoleh pengetahuan. Proses yang dinamakan operant conditioning ini melatih tikus untuk memperoleh makanan dengan menekan suatu pedal.14
Dalam bukunya, Skinner memberi contoh percobaan yang dilakukan oleh Thorndike pada seekor kucing yang dimasukkan ke dalam kotak secara terus menerus. Prilaku ini menimbulkan respon bahwa kucing ingin melarikan diri dengan cepat dari kotak tersebut.15 Dari eksperimen ini Skinner menyimpulkan bahwa pemerolehan pengetahuan, termasuk pengetahuan pemakaian bahasa, didasarkan pada adanya stimulus dan diikuti oleh respon. Dari proses pengulangan ini akan muncullah kebiasaan. Kebiasaan hanya bisa diperoleh melalui latihan yang bertubi-tubi. Pandangan inilah yang menjadi dasar mengapa latihan tubian (drills) merupakan bagian yang sangat penting dalam pengajaran bahasa asing pada metode seperti oral approach atau audiolingual approach.16
Kaum behavioris17 menekankan bahwa pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak yaitu oleh
14B. F. Skinner, Verbal Behavior (Harvard: Harvad University,
1948) (accessed July 04, 2014)
15B. F. Skinner, Science and Human Behavior, (Skinner
Foundation: Pearson Education, 2005) h. 59 (accessed July 03, 2014)
16Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia, h. 235
17Behaviorisme sebagai sebuah teori psikologi dan pembelajaran
29
rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Menurut kaum ini kaidah gramatikal adalah prilaku verbal yang memungkinkan seseorang dapat menjawab dan mengatakan sesuatu. Mereka berpendapat kaidah bahasa diperoleh dari rangsangan (stimulus) dari lingkungan tertentu yang memperkuat kemampuan berbahasa anak. Kaum behavioris menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S-R (Stimulus-Respon).18 Menurut Skinner Prilaku verbal dilayani dengan baik oleh respon yang seluruhnya itu dikendalikan oleh fitur-fitur eksternal yaitu lingkungan dari kondisi pembicara.
Pandangan ini berpendapat semua keterampilan manusia diperoleh dengan proses belajar. Dan manusia sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa diperoleh lewat proses belajar. Ini mengisyaratkan bahwa bahasa harus dipelajari. Kemampuan berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar dan bukan diwariskan.19
Teori ini menekankan bahwa anak-anak belajar dengan cara meniru dan mengulang apa yang mereka dengar. Penguatan positif dan pembetulan (perbaikan) juga berperan penting dalam pemerolehan bahasa. Anak-anak benar-benar melakukan peniruan terhadap apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Pengulangan kata-kata dan frase-frase baru yang mereka dengar merupakan ciri khas anak.20 Menurut teori ini anak-anak tidak bisa membuat kata-kata yang berkaidah
‚Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme: Teori Belajar dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran‛ Prospektus, tahun VII Nomor 2, Oktober (2009) (diakses 04 Juli 2014)
18
Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, h. 173
19Jos Daniel Parera, Linguistik Edukasional Metodologi
Pembelajaran Bahasa Analisis Konstranstif Antarbahasa Analisis Kesalahan Berbahasa (Jakarta: Erlangga, 1997) h. 51
30
karena seringkali kita mendengar anak-anak mengucapkan kalimat yang salah secara gramatikal.
Hal terpenting dalam teori ini adalah belajar sebagai penguatan, pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus dengan respon akan semakin kuat bila diberikan penguatan. Ciri dari teori ini menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, dan mementingkan latihan sehingga muncul prilaku yang diinginkan.21
C. Urgensi Belajar Gramatika dalam Pembelajaran Bahasa Kedua
Pembelajaran gramatika membekali peserta didik dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang memungkinkannya dapat menjaga bahasanya dari kesalahan. Ringkasnya adalah mengenalkan dan membiasakan peserta didik menggunakan kaidah-kaidah nah{w dan s{arf secara tepat, sehingga terhindar dari kesalahan lisan, kesalahan baca, dan kesalahan dalam ekspresi tulisan.22 Menurut Ruthefod bahwa gramatika digunakan untuk menganalisis sistem bahasa. Pembelajaran gramatika tidak hanya dianggap penting pada fitur pembelajaran bahasa, akan tetapi dianggap cukup membantu peserta didik untuk benar-benar menguasai bahasa asing yang lainnya.23
Dengan begitu kedudukan gramatika sebagai komponen penting dalam ilmu bahasa bukanlah merupakan suatu yang sia-sia. Gramatika mempunyai peran dalam setiap pembicaraan yang keluar dari lisan pembicara untuk dimengerti ucapannya kepada lawan bicara.
21Rifnon Zaini, ‚Studi Atas Pemikiran B. F. Skinner Tentang
Belajar‛ www.ejournal.iainradenintan.ac.id (2013) (diakses 04 Juli 2014)
22Fakhr al-Din Amir dalam Muhbib Abdul Wahab, Epistemologi
& Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008) 174.
23Ruthefod dalam James Purpura, Assessing Grammar
31
Kompetensi gramatika menempati posisi yang sangat menonjol dan utama dalam kemampuan berkomunikasi. Peran gramatika ini dalam perkembangan bahasa didukung secara teoritik dan empirik.24 Gramatika adalah satu dari tiga dimensi bahasa yang membuatnya saling terhubung. Dengan kata lain gramatika mengajari kita bagaimana membuat sebuah kalimat, akan tetapi bentuk-bentuk itu secara harfiah tidak mempunyai arti tanpa dimensi kedua yaitu semantik dan dimensi yang ketiga yaitu pragmatik.25
Perdebatan tentang pengajaran gramatika secara formal sejatinya telah dimulai pada abad ke dua puluh. Rice 1903 menyarakan bahwa pengajaran gramatika secara formal tidak memiliki pengaruh yang menguntungkan pada kemampuan menulis peserta didik. Asker 1923, Macaulay 1947, Robinson 1960 menyatakan bahwa latihan-latihan gramatika secara formal tidak meningkatkan kompetensi murid. Symond 1931 menyatakan pengajaran gramatika sebenarnya menghambat perkembangan bahasa Inggris anak-anak, dan terakhir Boraas 1917. Segal & Barr 1926 menyatakan pengetahuan gramatika tidak memberikan bantuan secara umum dalam penggunaan bahasa yang salah.26 Namun akhir-akhir ini teori-teori Krashen mengenai pemerolehan bahasa kedua telah banyak didiskusikan dan diperdebatkan secara seru. Krashen berpendapat bahwa pengajaran gramatika dalam kelas (formal) tidak mempunyai kontribusi dalam perkembangan pengetahuan. Menurutnya
24Ellis, James Scott dalam Abdulmoneim Mahmoud, ‚Learner
Involvement in Language Development: From Course Design to Performance Assessment‛, Journal of Language Teaching and Research, Vol. 4, No. 4, July 2013 (accessed October 30, 2013)
25H. Douglas Brown, Teaching by Principles An Interactive
Approach to Language Pedagogy (United States: Pearson Education, 2007) 420.
26Richard Andrews dkk, ‚The Effect of Grammar Teaching on
32
perkembangan pengetahuan tersebut membutuhkan partisipasi dalam komunikasi bahasa kedua.27
Salah satu teori yang menonjol dari teori Krashen adalah bahwa orang dewasa seharusnya diberi kesempatan
untuk ‚mendapatkan begitu saja‛ sebuah bahasa, dan tidak harus dipaksa ‚mempelajari‛ tata bahasa di kelas. Kemudian
hipotesis Krashen yaitu; hipotesis pemerolehan-pembelajaran: dalam hipotesis ini Krashen mengatakan
bahwa ‚kecakapan dalam performa bahasa kedua seiring
dengan apa yang sudah kita peroleh dan bukan apa yang kita pelajari‛. Pembelajaran yang eksplisit dan internasional semacam itu, menurut Krashen, harus dihindari jauh-jauh, karena dianggap merintangi pemerolehan. Hanya begitu kecakapan mapan, barulah pemantauan atau penyuntingan yang cukup digunakan. Terakhir yaitu hipotesis urutan alamiah yang mengatakan bahwa memperoleh kaidah-kaidah bahasa dalam sebuah urutan yang bisa diprediksi atau
‚alamiah‛.28
Selanjutnya dalam tulisan yang lain Krashen menyatakan bahwa pembelajaran gramatika berdampak sangat sederhana. Pembelajaran gramatika biasanya memudar setelah beberapa bulan. Dengan kata lain pengajaran gramatika selama berjam-jam dalam beberapa minggu hasilnya hanya sedikit dalam meningkatkan performa pada tes tata bahasa dan dengan cepat dilupakan.29 Sejalan dengan Krashen, Truscott berpendapat bahwa pengajaran gramatika secara eksplisit berimplikasi sangat
27Krashen dalam Rod Ellis, Grammar Teaching - Practice or
Consciousness-Raising?, ‚Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practice‛ edited by Jack C. Richard, Willy A. Renandya (United States: Cambridge University Press, 2002) 167.
28H. Douglas Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran
Bahasa (United States: Pearson Education Company, 2007) 323.
29Stephen Krashen, ‚Second Language ‚Standards For Succes‛
33
pendek dan dangkal dalam pengajaran gramatika.30 Pandangan Krashen dan Truscott inilah membuat para linguis mengadakan penelitian untuk membuktikan bahwa pendapat Krashen dan Truscott tersebut keliru.
Menurut Weaver, McNally dan Moerman, mengajar atau tidak mengajar gramatika bukanlah sebuah pertanyaan, akan tetapi masalahnya adalah apa dan bagaimana mengajar gramatika tersebut.31
Sejalan dengan Weaver dkk, Shoudong Feng dan Kathy Powers menyarankan kepada guru untuk membaca dan menganalisis tulisan siswa dalam konteks kesalahan gramatika, dengan begitu guru dapat mendesain mini-lessons untuk memperbaiki kesalahan, mengumpulkan tulisan siswa kembali dan kemudian menganalisis tulisan mereka untuk mengukur kemajuan dalam pembelajaran gramatika.32
Eric telah melakukan penelitian terhadap siswa yang diberikan tugas untuk menganalisis dan mempraktekan gramatika dalam komunikasi dan kesimpulannya bahwa gramatika membuat siswa lebih baik dalam berbahasa.33
Meskipun pengajaran gramatika adalah pembelajaran yang telah lama sama seperti pengajaran bahasa, pengajaran gramatika tersebut masih diyakini menjadi komponen
30Truscott dalam Hossein Nasaji and Sandra Fotos, ‚Current
Development in Research on The Teaching of Grammar‛, Annual Review of Applied Linguistics (2004), Cambridge University Press (accessed October 24, 2013)
31Constance Weaver, Carol McNally, and Sharon Moerman, ‚To
Grammar or Not to Grammar: That Is Not the Question‛, Voices from the Middle, Volume 8 Number 3, March 2001. by the National Council of Teachers of English (accessed November 03, 2013)
32Shoudong Feng, Kathy Powers, ‚The Short-and Long-Term
Effect of Explicit Grammar Instruction on Fifth Graders’Writing‛, nycdoeit.airws.org (accessed November 05, 2013)
33Simon Borg, ‚Teachers' Theories in Grammar Teaching‛, ELT
34
penting dari pedagogi bahasa.34 Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa pengajaran gramatika dapat membantu peserta didik dalam membenarkan ungkapan baik secara lisan maupun tulisan dan membantah teori Krashen dan Truscott sebelumnya.
Pada kasus pembelajaran bahasa Arab yaitu persepsi tentang nah{w yang didapat tidak jauh berbeda. Nah{w merupakan salah satu cabang (ilmu) bahasa Arab yang paling banyak mendapat perhatian sekaligus pertentangan dari berbagai kalangan. Ilmu bahasa bermula dan berkembang pesat lantaran kajian nah}w, sementara nah{w banyak pertentangan karena keberadaan nah{w dalam sistem ilmu
bahasa Arab kerap kali dituding sebagai ‚biang keladi‛ dan ‚pemersulit‛ bahasa Arab itu sendiri.35 Hal inilah yang membuat nah{w sulit dipahami dikarenakan para peserta
34Erlam et al, Nassaji et al dalam Abdulmoneim Mahmoud,
‚Learner Involvement in Language Development: From Course Design to Performance Assessment‛, Journal of Language Teaching and Research, Vol. 4, No. 4, July 2013 (accessed October 30, 2013)
35Muhbib Abdul Wahab, Epistemologi & Metodologi