• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRADISI LISAN SEBAGAI UPAYA DERADIKALISA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TRADISI LISAN SEBAGAI UPAYA DERADIKALISA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh : 818 (Putri)

A. Latar Belakang

Keragaman merupakan sebuah keniscayaan yang dikehedaki oleh Allah

SWT. Indonesia sebagai negara dengan keragaman suku dan budaya memiliki

kekayaan perbedaan sehingga melahirkan semboyan Bhineka Tunggal Ika yag di

emban oleh masyarakat Indonesia. Keragaman suku dan budaya yang telah di

firmanklan dalam Al-qur’an (QS. 49:13):

Artinya : Wahai Manusia! Sungguh telah kami ciptakan kamu dari seorang

laki-laki dan perempuan, kemudia kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan

bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di

sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui,

(2)

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terlahir denga kebhinekaannya

merupakan salah satu aset yang paling berharga bagi masyarakat Indonesia agar

tetap menjaga keutuhan Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah dapatkah

dari perbedaan tersebut dapat saling menghormati, tidak saling menyalahkan,

tidak menyatakan paling benar sendiri, dan saling berdialog sehingga tercermin

bahwa perbedaan itu benar-benar rahmat. Jika ini yang dijadikan pijakan dalam

beramal dan beragama, maka inlah makna konsep Islam Moderat yang

sebenarnya.

Islam merupakan agama yang membawa visi misi perdamaian bagi alam

semesta. Sejak kedatangan Islam di Bumi Indonesia, Islam telah menampakkan

keramahannya dalam proses penyebaran agama melalui pendekatan dan adaptasi

budaya masyarakat Indonesia. Proses penetrasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan

masyarakat Nusantara pada awalnya ditandai oleh akomodasi terhadap nilai-nilai

lokal yang kemudian membentuk semacam tradisi Islami yang khas Indonesia1.

Kemampuan beradaptasi secara kritis inilah yang sesungguhnya akan menjadikan

(3)

Islam dapat benar-benar Shalih li kulli zaman wa makan (cocok di setiap zaman

dan tempat).

Seiring berjalannya waktu, dengan adanya perubahan zaman dan generasi.

Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia terancam dengan munculnya

gerakan-gerakan radikal yang mengancam keutuhan Indonesia. Pasca reformasi

yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi telah menjadi lahan subur

tumbuhnya keompok Islam Radikal. Radikalisme yang berujung pada Terorisme

dan Intoleransi beragama menjadi masalah penting bagi umat Islam di Indonesia

dewasa ini. Isu itu telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan umat

Islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya.

Sekalipun anggapan itu mudah dimentahkan, namun fakta bahwa pelaku teror

dan intoleransi umat beragama adalah seorang muslim garis keras maka hal ini

akan sangat membebani psikologi uumat Islam secara keseluruhan.

Pendidikan Islam adalah sebagian dari Intituisi yang ikut menjadi sorotan

ketika kerusuhan antar agama dan etnis muncul di berbagai tempat di Indonesia.

(4)

yang cukup dalam menghembangkan sikap toleran terhadap perbedaan dan

keragaman yang terdapat di Indonesia. Oleh karena itu penyadaran akan urgensi

pluralisme dan design pendidikan inklusif (terbuka) diharapkan mampu

memerankan fungsi edukasi yang mampu membentuk insan yang ramah dan

berempati kepada yang lainnya termasuk mereka yang non muslim.

Sebagai bagian dari proses kebudayaan, masuknya agama Islam Nusantara

akan selalu menjalani proses perjumpaan dengan budaya-budaya local. Tradisi

Lisan yang mencakup nilai-nilai kebudayaan sebagai salah satu alternative dalam

menjalankan gagasan Pribumisasi Islam serta mampu diupayakan untuk menjadi

obat dan terapi bagi para generasi muda Indonesia baik di lingkungan pendidikan

formal, non formal maupun keluarga. Gagasan tersebut perlu di lestarikan kepada

generasi muda Indonesia, karena gagasan ini mampu mewadahi dinamika kolektif

masyarakat local, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu dikonversikan

(5)

Nusantara yang menyelematkan Indonesia dari lahirnya gerakan-gerakan Islam

Radikal dan Terorisme2.

B. Radikalisme

Radikalisme berasal dari bahasa latin Radix yang berati akar, yang

merupakan paham yang menghendaki adanya perubahan dan perombakan besar

untuk mencapai kemajuan. Sedangkan dalam bahasa Arab, kekerasan dan

radikalisme disebut dengan beberapa istilah antara lain Al-‘unf, At-tatarruf, Al

-guluww. Abdullah An-Najr mendifenisikan Al-‘unf dengan penggunaan kekuatan

secara illegal (main hakim sendiri) untuk memaksakan kehedan dan pendapat.

At-tatarruf yang mengandung arti ujung atau pinggir, dalam bahasa Arab modern

berkonotasi makna radikal, ekstrem, dan berlebihan.adapun kata Al-guluww

secara bahasa berarti berlebihan atau melampaui batas3.

2 Laisa, Emna. 2014. Islam dan Radikalisme. Dalam Jurnal Islamuna ( Vol.1, Nomor 1). Pamekasan : STAIN Pamekasan. Hal: 16

(6)

Secara sederhana radikalisme adalah pemikiran atau sikap yang ditandai oleh

empat hal yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu : pertama, sikap tidak

toleran dan tidak mau menghargai pendapat atau keyakinan orang lain. Kedua,

sikap fanatik, yatitu selalu merasa benar sendiri dan menganggap orang lain

salah. Ketiga, sikap eksklusif yaitu membedakan diri dari kebiasaan orang

kebanyakan. Keempat, sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan

kekerasan dalam mencapai tujuan4.

C. Radikalisme Islam

Semua agama sejatinya tidak pernah tidak pernah mengajarkan kekerasan.

Kekerasan dilarang oelh setiap agama. Tetapi serumpun umat beragama dengan

militansi untuk menegakkan visi agamanya, sering kali mengabaikan toleransi,

kelembutan, dan keramahan agama. Sebaliknya, retorika dan saluran instrumental

yang dikedepankan adalah watak pemaksaan, kekerasan, dan anti kompromi.

(7)

Wajah ramah dan toleran terhadap fenomena keagamaan di Indonesia mulai

tercoreng oleh maraknya faham radikalisme agama. Kasus bom bunuh diri

(suicide bombings), penyerangan terhadap para penganut paham agama minoritas

yang diiringi dengan perusakan asset public telah menjadi cacatan merah bagi

toleransi beragama di tanah air.

Secara geneaologis, Martin E. Marty (Nuruddin, 2013:65) menggarisbawahi

munculnya radikalisme agama berawal dari pemahaman agama yang cenderung

scriptural-tekstualis, sempit, dan hitam putih. Pehaman semacam ini dengan

mudah akan menggiring pada keyakinan yang cenderung fundamentalis, bahkan

sikap keagamaan yang kaku. Sedangkan fundamentalis sendiri adalah spirit

gerakan radikalisme agama yang mendorong penggunaan cara-cara kekerasan

dalam memenuhi kepentingan dan tujuan mereka. Sehingga pada saat kondisi

ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang tidak menentu, tidak sedikit

orang-orang mengambil jalan pintas kekersan dengan mengatasnamakan agama5.

(8)

Lahirnya gerakan radikalisme keberagamaan (Islam) di Indonesia memiliki

hubungan erat dengan perkembangan pemikiran salafiah di timur tengah.

Selanjutnya, pada abad 12 Hijriah, pemikiran salafiah ini dikembangkan oleh

aliran wahabi yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abd Wahhab (1703-1787).

Tujuan dari gerakan wahabi juga ingin memurnikan ajaran Islam serta mengajak

kembali kepada ajaran Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang

diamalkan oleh generasi awal umat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya,

gerakan salafiayah tidak hanya menyentuh dimensi intelektual dan politik6.

Di Indonesia ide-ide gerakan pemikiran slafiyah sudah berkembang sejak era

colonial Belanda. Seiring bergulirnya waktu, paham ini mendapat banyak

tantangan, baik dari golongan keagamaan maupun dari pemerintah karena

dianggao berbahaya dan mengancam stabilitas keamanan Negara. Namun

ditengah berbgai aksi penumpasan terhadap aliran ini, radikalisme senantiasa

eksis walaupun jumlahnya relatif kecil.

(9)

Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya Islam radikal dapat diuaraikan

sebagai berikut: pertama, faktor agama, yaitu sebagai bentuk purifikasi ajaran

islam dan pengaplikasian khilafah Islamiyah di muka bumi.

Kedua, factor social politik. Sangat terlihat jelas bahwa umat islam tidak

diuntungkan oleh peradaban global sehingg menimbulkan perlawanan terhadap

kekuatan yang mendominasi. Penyimpangan dan ketimpangan sosial yang

merugikan komunitas muslim, menyebabkan terjadinya gerakan radikalisme yang

ditopang oleh sentimen dan emosi keagamaan.

Ketiga, faktor pendidikan. Minimnya jenjang oendidikan mangakibatkan

minimnya informasi pengetahuan yang didapat, ditambah kurangnya dasar

keagamaan mengakibatkan seseorang mudah menerima informasi keagamaan

dari orang yang dianggap tinggi keilmuannya tanpa dicerna terlebih dahulu. Hal

ini akan menjadi bumerang jika informasi yang di dapatkan berasal dari orang

yang salah.

Keempat, faktor kurtural. Barat dianggao oleh kalangan muslim telah dengan

(10)

sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat dengan

skularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya

bangsa timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar bagi keberlangsungan

moralitas Islam.

Kelima, faktor idiologis anti westernisasi. Weryernisasi merupakan suatu

pemikiran ynagmembahayakan muslim dalam mengaplikasikan syari’at Islam

sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syari’at Islam.

D. Deradikalisasi

Deradikalisasi adalah upaya untuk membendung laju radikalisme.

Radikalisme ini perlu dibendung karena gerakan dan pemikiran individu maupun

kelompok yang berorientasi paad aktivitas radikal, seperti yang mengarah pada

kekerasan, peperangan dan terror, yang sangat berbahaya bagi umat manusia.

Divisi kontra-terrorisme PBB berpendapat bahwa “ Deredicalization therefore, is

(11)

acceptable to use violence to effect social change.” (Unite Nation Counter

Terrorism Implementation Task Force)7.

Atas dasar tersebut, maka pemerintah membentuk Badan Nasional

Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2010 (Perpres No.46 Tahun

2010). Tugas utama BNPT adalah BNPT adalah penanggulangan terorisme,

meliputi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan

kesiagaan nasional (Ps 2). Sedangkan salah satu fungsinya adalah koordinasi

dalam pemcegahan dan pelaksanaan kegiatan melawan propaganda ideology

radikal di bidang penanggulangan terorisme (Ps 3). Atas dasar itu, maka

deradikalisasi telah menjadi kebijakan nasional ynag harus dilakukan, termasuk

memiinta peran serta masyarakat8.

Deradikalisasi merupkan kerja lanjutan setelah diketahui akar

radikalismenya. Tetapi deradikalisasi juga dapat dimaksudkan untuk langkah

antisipasi sebelum radikalisme terbentuk. Disamping mengetahui akar

7 Arifin, Syamsul. Bachtiar, Hasnan. 2013. Deradikalisasi Idiologi Gerakan Islam Transnasional Radikal. Jurnal Harmoni (Vol.12, No. 3.) ). Jakarta: Puslitbang kehidupan dan keagamaan badan litbang dan Diklat

Kementrian Agama RI. Hal: 65

(12)

radikalisme, strategi deradikalisasi juga perlu diketahui agar ‘obat’ sesuai dengan

indikasi penyakitnya. Selanjutnya tujuan deradikalisasi perlu dirumuskan secara

pasti, yakni mengembangkan Islam moderat. Hubungan kerja antara akar

radikalisme, strategi deradikalisasi dan tujuan deradikalisasi, dapat digambarkan

dalam segitiga deradikalisasi (Triangle ofderadicalization) berikut ini :

Dari gambar di atas dapat dipahami bahwa deradikalisasi dapat dimulai

langsung dari elemen maupun akar radikalisme yang dimaksud dengan sebagai

deradikalisasi pencegahan (Preventive Deradicalization) dan pemeliharaan

Deradikalisasi

Proses menjadi

Elemen dan Akar Radikalisme

(13)

(Preservative Deradicalization) Islam Moderat. Dengan model ini deradikalisasi

bersifat proaktif dan tidak menunggu sampai terjadi tindakan radikal.

E. Pribumisasi Islam

Pribumisasi Islam diartikan dengan bagaimana Islam sebagai ajaran

normative dari Allah dapat diakomodasikan dalam kebudayaan yang berasal dari

manusia tanpa harus kehilangan identitas masing-masing9. Pribumisasi Islam

merupakan proyek pemikiran Gus Dur yang menyatakan suatu pola pemikiran

yang melihat Islam sebagai suatu system organic-proggresif, kontekstual, dan

membebaskan, berdasarkan pada suatu nilai-nilai lokalistik di mana Islam

menjadi suatu pandangan dan pegangan hidup (ways of life).

Pribumisasi Islam tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran normatif yang

bersumber dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudyaan yang berasal dari

manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing, sehingga tidak ada lagi

(14)

pemurnian Islam atau proses menyamakan dengan praktik keagamaan masyarakat

muslim di Timur Tengah 10.

Pribumisasi Islam telah menjadikan agama dan budaya tidak saling

mengalahkan, melinkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi

mengambil bentuk autentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan

yang selama ini melintas antara agama dan budaya. Pribumisasi Islam bukan

suatu upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu

menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang

yang disediakan oleh variasi pemahaman nass, dengan tetap memberikan

pemahaman kepada usul al-fiqh dan qawaid al-fiqh.

F. Tradisi Lisan

Tradisi lisan merupakan tradisi sastra yang mencakup ekspresi kesusastraan

warga suatu kebudayaan ynag disebarkan dan diturunkan secara lisan dari mulut

ke mulut. Tradisi lisan memiliki berbagai ragam bentuk berdasarkan tipenya

Brundvand menggolongkan tradisi lisan menjadi tiga yaitu : (1) tradisi lisan yang

(15)

lisan (verbal folklor), (2) tradisi lisan sebagian lisan (party verbal folklor), (3)

tradisi lisan material (non verbal folklor)11.

Fungsi tradisi lisan dalam masyarakat memiliki beberapa fungsi antara lain

sebagai alat legitimasi, alat pendidikan. Dengan adanya tradisi lisan dinamika

kehidupan masyarakat dapat terkam secara turun menurun melalui kelisanan.

tradisi lisan pada saat ini berkembang pesat di salam dinamika kehidupan

masyarakat, keran tradisi lisan merupakan ekspresi lisan sebuah komunitas

budaya suatu kelompok masyarakat kolektif yang tersebar di berbagai kelompok

suku bangsa yang bersifat pluralitas, maka wujud, bentuk , tema, dan fungsinya

pun berbeda-beda di dalam masyarakat.

Fenomena tradisi lisan meliputi banyak genre aktifitas lisan, seperti

peryunjukan sastra lisan, pidato, atau pertuturan adat, cerita lisan, mantera,

lagu-lagu, dan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan keagamaan 12.

G. Tradisi Lisan sebagai Upaya Deradikalisasi Paham Radikal

11 Sukatman. 2011. Butir-Butir Tradisi Lisan di Indonesia : Pengantar, Teori, dan Pembelajarannya. Yogyakarta : LaksBang PRESSindo. Hal : 6

(16)

Tradisi lisan yang merupakan cerminan kehidupan suatu kolektif memuat

nilai-nilai kemanusiaan. Adapun tradisi lisan yang akan dijadikan sebagai bentuk

upaya deradikalisasi paham radikal ialah kearifan lokal, sastra lisan, dan tradisi

lisan pesantran.

1. Kearifan lokal sebagai upaya deradikalisasi paham radikal

Locam wisdom yang dikenal dengan kearifan lokal merupakan cerminan

kehidupan masyarakat kolektif yang memiliki muatan nilai-nilai kemanusiaan.

Kearifaan local ynag tumbuh dalam suatu masyarakat memuat nilai-nilai

kebudayaan sebagai gambaran masyarakat itu sendiri. Kebudayaan Indonesia

yang bersifat plural dan heterogen melahirkan kearifan local yang dapat

memperkuat dan memperkokoh khasanah budaya Indonesia sehingga

memberikan dampak baik bagi para pelaku budaya didalamnya13.

Salah sastu kearifan local yang dapat digunakan sebagai alat deradikalisasi

paham radikal ialah tradisi Bersih Desa. Besih Desa merupakan bagian dari

kearifan local masyarakat Jawa. Upacara Bersih Desa merupakan ritual yang

(17)

berfungsi untuk mensucikan atau membersihkan desanya dari hal-hal yang

bersifat fisik maupun psikis. Dengan adanya tradisi Bersih desa diharapkan

seluruh penghuni desa atau seluruh masyarakat menjadi bersih terbebas dari mara

bahaya, aman, tentram, gemah ripah loh jinawi.

Bersih Desa dilaksanakan dengan mengadakan beberapa agenda kegiatan

yaitu yang pertama gotong royong membersihkan desa atau kerja bakti, lalu yang

kedua mengunjungi makam leluhur, lallu setelah itu mengadakan selametan.

Kegiatan tersebut mencerminkan sikap saling tolong menolong, tenggang rasa,

dan saling menjaga rasa persaudaraan antar sesama. Seperti yang di sebutkan

dalam Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 2 :

(18)

“dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan

jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah

kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (QS. 6:2).

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwasannya kearifan local

sangatlah berperan penting dalam membentuk karakter dan pola hidup

masyarakat. Eksistensi keariofan lokal ynag semakin menurun haruslah

ditingkatkan kembali demi menyebarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan

local tersebut.

2. Sastra Lisan sebagai upaya deradikalisasi paham radikal

Sastra lisan merupakan ekspresi kesustraan suatu warga yang disebarkan dan

diturunkan dari mulut ke mulut. Salah satu sastra lisan yang hingg saat ini masih

sering di lisankan oleh banyak masyarakat adalah syi’ir. Keberadaan syiir sebagai

khazanah sastra yang tumbuh dan berkembang di Nusantara merupakan salah

(19)

Fungsi syi’ir ynag paling menonjol bagi masyarakat pendukungnya ialah

diberlakukannya syi’ir sebagai media pendidikan dan pengajaran14. Syiir yang

mengandung nilai-niali pendidikan bagi masyarakata yang membacanya

merupakan salah media yang dapat dijadikan sebagai upaya deradikalisasi paham

radikal yang harus di cegah keberadaaannya dalam masyarakat.

Salah satu syiir yang dapat dimanfaatkan untuk menawarkan paham radikal

ialah “syiir tanpo waton” karya KH. Nizammuddin ynag sudah lama di kenal oleh

masyarakat. Adapaun salau satu baik yang terdapat dalam syiir tersebut ialah :

Akeh kanga pal Qur’an hadiste

Seneng ngafirki marang liane

Kafire dewe ga di gatekke

Yen isih kotor ati akale

Dalam syiir tersebut kita pembaca diajarkan untuk lebih menjalankan sikap

Toleransi atau saling menghargai dan husnudzon kepada sesama muslim maupun

(20)

non muslim. Hal tersebut juga diajarkan dalam Al-qur’an surat Al-Hujarat ayat 12

:

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya

sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang

lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian lain.”(QS,

49:12)

Sikap toleransi dan berbaik sangka yang telah diajarkan dalam syiir maupun

Al-QUR’AN tersebut jika diamalkan dan ditanamnkan kepada para generasi

muda maka sikap radikal tidak akan lagi muncul. Karena sesungguhkan

kebencian berasal dari buruknya prasangka dan kurangnya sikap saling

(21)

3. Tradisi lisan pesantren sebagai upaya deradikalisasi paham radikal

Tradisi lisan pesantren merupakan semua tradisi ynag tumbuh dan

berkembang di dareah pesantren. Tradisi ini cukup unik dibandingkan dengan

tradisi lainnya sebab tradisi tersebut sangat berkaitan erat dengan proses

pembelajaran ajaran agam islam. Peranan kyai atau ustadz sangat kuat dalam

mempengaruhi resepsi, tanggapan atau penerima kaum santri terhadap tradisi

tersebut secara ituh baik dari nilai estetik,maupun pramatignya15.

Adapun salah satu tradisi lisan pesantren yang dapat diupayakan sebagai

deradikalisasi paham radikal ialah tradisi Mauludan. Tradisi Mauludan

merupakan tradisi syukuran dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad

SAW. Inti dari tradisi Muludan ini ialah bagaimana kita semua sebagai umat nabi

Muhammad mampu meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dalam

(22)

menjalani kehidupan sehari-sehari. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam

Al-qur’an QS 33 :21 :

Artinya :

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu

(yaitu) bagi orang-orang mengharap (rahmat )Allah dan (kedatangan) hari kiamat

dan yang banyak mengingat Allah. QS. (33 :21)

Nabi Muhammad SAW sebagai suri Tauladan bagi ummatnya merupakan

contoh yang sangat tepat untuk menjadi figur-figur dalam manjalani kehidupan di

dunia. Sikap Nabi Muhammad sangat indah dan tidak pernah mencontohkan

sikap radikal. Sikap toleransi kepada sesama muslim maupun non muslim yang

telah di contohkan oleh Nabi Muhammad haruslah di contoh demi menjaga

kerukunna antar umat beragama di Indonesia. Pentingnya tradisi pesantren

(23)

perdamaian sehingga sedikit demi sedikit sikap radikalisme pudar dari generasi

masa depan.

H. Kesimpulan

Fenomena paham radikal yang mewarnai agama Islam harusnya dapat di

cegah dengan cepat sebelum akar radikalisme menjarah masyarakat Islam.

Adanya Pribumisasi sebagai salah satu jalan menetralisir paham radikal dengan

menggunalan budaya yang dapat mengakomodasi nilai-niali Islam dan

menjadikan perbedaan antara umat beragama sebagi rahmat dari tuhan.

Tradisi lisan sebagai solusi nyata dari Pribumisasi Islam dengan

menggunakan Kearifan lokal, Sastra Lisan, dan Tradisi Lisan Pesantren untuk

mencegah paham radikal dan mengenalkan nilai-nilai luhur yang terkandung

dalan khazanah kebudayaan Indonesia. Sehingga Indonesia terbebas dari

ancaman perpecahan.

DAFTAR PUSTAKA

(24)

Arifin, Syamsul. Bachtiar, Hasnan. 2013. Deradikalisasi Idiologi Gerakan Islam

Transnasional Radikal. Jurnal Harmoni (Vol.12, No. 3.) ). Jakarta: Puslitbang

kehidupan dan keagamaan badan litbang dan Diklat Kementrian Agama RI.

Fitriah, Ainul. 2013. Pemikiran Abdurrahman Wajhid Tentang Pribumisasi Islam.

Teosofi: jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, (Vol.3, No.1). Surabaya:

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.

Herawati, Nanik. Kearifan Lokal Bagian Budaya Jawa. Junal Magistra

(Vol.XXIV, No: 79). Klaten: Universitas Widya Dharma.

Laisa Emna. 2014. Islam dan Radikalisme. Jurnal Islamuna, Vol 1 No. 1.

Pamekasan : STAIN Pamekasan.

Muzakka, Moh. 2003. Tradisi Lisan Pesantren dan Pemberdayaan Politik Kaum

Santri. Makalah dipresentasikan dalam seminar Internasiona ; Tradisi Lisan

Nusantara IV dan Festival Pesisir di Hotel Petra Jasa Semarang 2-5 Oktober.

Muzakka, Moh. Singir Sebagai Media Pendidikan Dan Dakwah. Diponegoro:

(25)

Nurudin. 2013. Basis Nilai-Nilai perdamaian : sebuah antithesis Radikalisme

beragama di kalangan mahasiswa. Jurnal Harmoni,(Vo. 12, No:3). Jakarta:

Puslitbang kehidupan dan keagamaan badan litbang dan Diklat Kementrian

Agama RI.

Rodin, Dede. 2016. Islam dan Radikalisme. Jurnal ADDIN, Vol 1, No:1. Kudus:

STAIN Kudus.

Rokhmad, Abd. 2012. Radikalisme Islam dan Upaya Deradikalisasi Paham

Radikal. Jurnal Walisongo (Vol 20, No: 1). Semarang: LP2M UIN

Walisongo.

Salim, Agus. 2011. KH. Abdurrahman Wahid: dari Pribumisasi Islam ke

Universalisme Islam. Jurnal TAJDID (Vol : X, No : 1). Pacitan : Sekolah

Tinggi Ilmu Tarbiyah Pacitan.

Sukatman. 2011. Butir-butir tradisi lisan Indonesia: Pengantar, Teori dan

Pembelajarannya. Yogyakarta: LakssBang Indopress

Thaba, Abdul Aziz. 1996. Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru. Jakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Melihat pentingnya upaya dalam upaya pelestarian warisan budaya maka dilakukan dengan suatu cara yang dapat memperkenalkan dan sebagai media pembelajaran akan suatu warisan

Sebagai upaya untuk merepresentasikan kesenian tradisional masyarakat Osing, alur cerita kepahlawan Minak Jingga yang didramakan Jinggo dijadikan media untuk mewakili

Perlunya menumbuhkan tokoh sentral dalam satu kajian keagamaan di setiap masing- masing wilayah menjadi salah satu cara dalam upaya menanggulangi gerakan radikal yang tengah

Secara konseptual, deradikalisasi mengacu pada tindakan preventif kontraterorisme atau strategi untuk untuk menetralisir paham-paham yang dianggap diradikal dan

” Sinandong sebagai salah satu produk sastra lisan yang merupakan bagian dari tradisi lisan orang Melayu, hidup di dalam masyarakat Melayu di Tanjungbalai.. Sinandong ini

Bhanti-Bhanti pada umumnya merupakan nyanyian rakyat yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Wakatobi.Sebagai nyanyian rakyat, pementasan tradisi

Permasalahan utama berkaitan dengan isu ini adalah bagaimanakah pengelolaan tradisi lisan yang sama artinya dengan pengelolaan sastra dan bahasa daerah harus dilakukan agar dapat

Melihat pentingnya upaya dalam upaya pelestarian warisan budaya maka dilakukan dengan suatu cara yang dapat memperkenalkan dan sebagai media pembelajaran akan suatu warisan