IMPLEMENTASI JUAL BELI SALAM DI LEMBAGA

Teks penuh

(1)

1

IMPLEMENTASI JUAL BELI SALAM DI LEMBAGA

KEUANGAN SYARIAH

Makalah ini di susun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih mu’amalah

Dosen Pengampu Imam Mustofa, M.S.I.

Disusun oleh:

RIKI FISKA MANDALA 1502100301

Kelas C

S1 PERBANKAN SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO

(2)

2 BAB I

PENDAHULUAN

Dalam konteks masalah muamalah berkaitan dengan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Akad merupkan peristiwa hukum antara dua pihak yang berisi ijab dan kabul, secara sah menurut syara dan menimbulkan akibat hukum. Jika kita kaitkan dengan sebuah desain kontrak maka kita akan mencoba mengkaitkan dengan Lembaga Keuangan dikarenakan akad merupakan dasar sebuah instrumen dalam lembaga tersebut, terutama di Lembaga Keungan Syariah Akad menjadi hal yang terpenting hal ini terkait dengan boleh atau tidaknya sesuatu dilakukan di dalam islam.

(3)

3 BAB II

PEMBAHASAN

1. Implementasi Jual Beli Salam Dlam LKS

Salam adalah akad pesanan barang yang disebutkan

sifatnya, yang dalam majelis itu pemesanan barang menyerahkan

uangnya terlebih dahulu.1 Salam merupakan bentuk jual beli

dengan membayar dimuka dan menyerahkan barang dikmudian

hari dengan harga, spesifikasi, jumlah kualitas, tanggal dan tempat

penyerahan yang jelas serta disepakati sebelumnya dalam

perjanjian. Barang yang diperjual belikan belum tersedia pada saat

transaksi dan harus diproduksi terlebih dahulu, seperti produk

pertanian dan produk fungible lainnya. Barang non-fungible seperti

batu mulia, lukisan berharga, dan lain-lain merupakan barang yang

tidak dapat dijadikan objek salam.2

Transaksi ba’i salam merupakan transaksi yang biasanya dilakukan bukan oleh pedagang . ada bentuk khusus dari ba’i salam yang digunakan oleh bank syariah sebagai instrumen

pembiayaan, yaitu yang disebut pararel salam. Pararel salam

adalah back to back sales contact.3 Salam pararel merupakan

transaksi pembelian atas barang tertentu oleh nasabah kepada

LKS. Pembelian tidak secara langsung dengan melakukan

penyerahan barang, akan tetapi nasabah hanya memberikan

1 Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah: Ddeskripsi dan ilustrasi, (Yogyakarta:

Ekonisia, 2012). Hlm, 72

2 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2011). Hlm.90 3 Sutan Remi Sjahdeini, perbankan syariah: produk-produk dan aspek hukumnya, (jakarta:

(4)

4

spesifikasi barang kemudian LKS memesan barang yang diminta

nasabah kepada produsen.4

Pembayaran nasabah kepada pihak bank dapat dilakukan

dimuka pada saat ditandatanganinya akad salam atau secara tunai pada saat penyerahan barang (salam wal ba’iu muthlaqah) atau dengan cara mengangsur (salam wai murabahah)5

2. Tahapan pelaksanaan salam dan salam pararel SOP bank syariah  Adanya permintaan barang tertentu dengan spesifikasi yang

jelas oleh nasabah kepada bank syariah

 Wa’ad nasabah untuk membeli barang dengan harga dan waktu yang telah disepakati

 Mencari produsen yang sanggup untuk menyediakan barang yang diinginkan

 Pengikatan I antara bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli untuk membeli barang dengan spesifikasi

tertentu yang akan diserahkan pada waktu yang telah

ditetapkan

 Pembayaran oleh nasabah dilakukan di awal akad dan sisanya sebelum barang ditrima

 Pengikatan II antara bank dan nasabah untuk membeli barang dengan spesifikasi tertentu yang akan diserahkan

pada waktu yang telah di tetapkan

 Pembayaran dilakukan segera oleh bank sebagai pembeli dan nasabah produsen pada saat pengikatan dilakukan

4Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer, (Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2016), hlm 91 5 Veithzal Rifai dan Adaria Permata Veithzal, Islamic Financial Management: teori, konsep, dan

(5)

5

 Pengiriman barang dilakukan langsung oleh nasabah produsen kepada nasabah pembeli pada waktu yang

ditentukan.6

3. Aplikasi pembiayaan salam  Tujuan pembiayaan salam

Pembiayaan salam diutamakan untuk pembelian dan

penjualan hasil produksi pertanian, perkebunan dan

peternakan. Petani dan peternak membutuhkan dana untuk

modal awal dalam melaksanakan aktivitasnya, sehingga

bank syariah bisa memberikan dana pada saat akad  Harga

Hasil dari produksi pertanian dan perkebunan dan

peternakan harus diketahui dengan jelas ciri-cirinya dan

bersifat umum seperti jenis, macam, ukuran, kualitas dan

kuantitasnya. Hasil produksinya harus sesuai yang telah

diperjanjikan. Apabila beda maka ditanggung oleh produsen.  Jangka waktu salam adalah jangka pendek, yaitu paling

lama satu tahun.7

4. Contoh skema salam pararel

 Nasabah mengajukan pemesanan barang dengan menjelaskan spesifikasinya kepada LKS

 Kemudian antara nasabah dan LKS melakukan akad salam  Setelah akad, LKS mewakilkan pemesanan kepada produsen  Setelah barang ada, produsen mengirim ke nasabah

 Bank membayar kepada produsen

 Nasabah membayar barang kepada bank, biasanya secara mengangsur

6Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah.., hlm,226

(6)

6

RIKI mememesan motor Honda BEAT warna merah tahun 2016 kepada LKS, lalu riki dan LKS melakukan akad jual beli salam, kemudian LKS membeli motor tersebut secara kontan kepada produsen seharga 14.000.000 rupiah, kemudian LKS memberikan motor tersebut kepada Riki dan memberikan harga sebesar 15.000.000 rupiah, dan RIKI membayar kepada LKS, biasanya secara kredit.8

5. Implementasi akad salam dalam produk pembiayaan perbankan

syariah

SEBI No. 10/14/DPbs tanggal 17 maret 2008 memberikan

ketentuan implementasi akad salam dalam produk pembiayaan

sebagai berikut:

 Bank bertindak baik sebagai penyedia dana maupun sebagai pembeli barang untuk kegiatan transaksi salam

dengan nasabah yang bertindak sebagai penjual barang  Barang dalam transaksi salam adalah objek jual beli dengan

spesifikasi, kualitas, jumlah, jangka waktu, temapat dan

harga yang jelas

 Bank wajib menjelaskan kepada nasabah mengenai

karakteristik produk pembiayaan atas akad salam, serta hak

dan kewajiban nasabah sebagai mana diatur dalam

ketentuan bank Indonesia

 Bank wajib menganalisis atas rencana pembiayaan atas dasar salam kepada nasabah

8Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer . (jakarta: pt Raja Grafindo Persada), 2016. Hlm 93

(7)

7

 Bank dan nasabah wajib menuangkan kesepakatan dalam bentuk perjanjian tertulis

 Pembayaran yang dilakukan nasabah oleh bank harus dilakukan dimuka secara penuh yaitu pembayaran segera

atas pembiayaan atas dasar akad.9

6. Penyerahan barang

 Penjual wajib menyerahkan barang tepat waktu seusai dengan pesanan

 Bila penjual memberikan barang dengan kualitas lebih bagus maka penjual tidak boleh meminta tambahan uang

 Jika penjual memberikan barang dengan kualitas yang lebih rendah lalu pembeli menerimanya, maka pembeli tidak boleh

meminta penurunan harga

 Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang telah disepakati dengan syarat barang sesui dengan

yang dipesan oleh pembeli.10

Jika semua barang tidak tersedia atau tidak tepat pada waktunya atau

kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak mau menerimanya maka

pembeli memiliki pilihan:

 Menolak atau menerima barang atau meminta

pengembalian dana

 Meminta kepada nasabah untuk mengganti barang sejenisnya

 Menunggu barang hingga tersedia.11

9 Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indoneia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University

Prees, 2009), hlm.117

10 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Syariah: Tinjauan Teoritis dan Praktis

(8)

8

Pembatalan kontrak dapat dilakukan jika tidak merugikan kedua belah

pihak, maka persoalannya diselesaikan di pengadilan agama sesuai UU

No, 3/2006 setela tidak tercapai kesepakatan.12

7. Penerimaan pembayaran salam

Kebanyakan para ulama mengharuskan pembayaran salam

dilakukan ditempat kontrak. Hal tersebut dimaksudkan agar

pembayaran yang dilakukan oleh pembeli tidak dijadikan utang

penjual. Lebih khusus lagi, pembayaran salam tidak bisa dalam

bentuk pembebasan hutang yang harus dibayar oleh penjual. Hal

ini untuk menjauhi riba dalam praktik salam.13

8. Ilustrasi pembiayaan salam

Pembiayaan salam dilakukan oleh bank syariah untuk

pembiayaan pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

Berikut ini ilustrasinya:

Misalnya egi (petani) sedang butuh dana untuk menanam padi. Egi

mengajukan pembiayaan pada bank syariah. Sebelum membrikan

pembiayaan kepada egi, bank syariah menawarkan padi kepada

PT SURYA dengan harga 6000/kg, PT SURYA setuju dan membeli

10 ton dengan harga 6000/kg, yang mana padi ini akan dikirim

tanggal 01 september 2010. Pada 01 mei 2010 bank syariah

membeli kepada egi 5000/kg. Bank syariah membayar pada saat

11 Muhammad, Sistem dan Prosedur Oprasional Bank Syariah, (Yogyakarta: Ull Prees Yogyakarta,

2008), hlm.118

12 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Syariah: Tinjauan Teoritis dan Praktis

(jakarta: Kencana 2013), hlm.51

13Muha ad Syafi’i A to io, Ba k Syariah Dari Teori ke Praktik, Jkarta Ge a I sa i, ,

(9)

9

akad salam tanggal 01 mei 2010, nmun padinya akan dikirim pada

tanggal 01 september 2010.

Dari contoh tersebut maka keuntungan bank syariah adalah

10.000.000. dengan peritungan sebagai berikut:

Harga dari egi :10.000kgx 5000= 50.000

Harga dijual PT SURYA :10.000kgx 6000= 60.000

Margin keuntungan salam = 10.000.000

Keuntungan tersebut diperoleh dari 01 mei 2010 sampai 01

september 2010.14

9. Keuntungan menggunakan sekema salam

a. Bagi petani

Skema salam dengen pembayaran diawal akan membantu para

petani dalam membiayaai kebutuhan petani dala memproduksi

barang pertanian. Dengan demikian, petani memiliki kesempatan

dan dorongan yang lebih besar untuk meningkatkan produksinya

agar dapat menghasilkan produk pertanian yang lebih banyak

sehingga disamping untuk diserahkan kepada pembeli sebanyak

yang ditentukan, juga dapat digunakan untuk diri sendiri atau pihak

lain.

b. Bagi pengusaha

Penggunaan skema salam bagi pengusaha berpotensi

meningkatkan efisiensi dan nilai penjualan pengusaha roduk

pertanian. Pengusaha dalam hal ini yang berperan sebagai penjual

produk pertanian baik untuk konsumsi lokal maupun ekspo.

Keuntungan lain bagi pengusaha adalah adanya kepastian

(10)

10

memperoleh barang yang diinginkan, sehingga tidak perlu khawatir

atas persaingan mendapatkan barang pada saat panen dengan

penguasa lain.

c. Bagi bank syariah

Mengingat pembeli sudah menyerahka uang dimuka , dengan

demikian resiko kegagalan membayar utang tidak ada sama sekali.

Walau transaksi ini menimbulkan resiko baru, yaitu kegagalan

menyerahkan barang , dengan pengalaman dan jaringan petani

yang dimiliki bank, resiko ini mestinya tidak sulit untuk diatasi oleh

bank syariah.15

15 Rizal Yaya, Aji Erlangga, Alam Abdurahim, Akuntansi Perbankan Syariah, (Jakarta Selatan:

(11)

11 BAB III

PENUTUP

Salam adalah transaksi terhadap sesuatu yang dijelaskan sifatnya dalam tanggungan dalam suatu tempo dengan harga yang diberikan kontan di tempat transaksi. Dasar hukum salam adalah QS. Al-Baqarah ayat 282 dan QS.Al Maidah ayat 1. Ada juga fatwa DSN-MUI yang mengatur tentang jual beli salam, yaitu Fatwa DSN MUI Nomor: 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam. Rukun dari akad salamadalah pelaku akad, objek akad, dan sighat.

(12)

12

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indoneia, Yogyakarta:Gadjah Mada University Prees.2009.

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah,jakarta: Pt Raja Grafindo Persada. 2011

Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan ilustrasi, Yogyakarta: Ekonisia. 2012

Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer,jakarta: pt Raja Grafindo Persada.2016

Ismail, Perbankan Syariah, Jakarta kencana. 2013

Muhammad, Sistem dan Prosedur Oprasional Bank Syariah,Yogyakarta: Ull Prees Yogyakarta. 2008

Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik,Jakarta:Gema Insani. 2013

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Syariah: Tinjauan Teoritis dan Praktis jakarta: Kencana. 2013

Rizal Yaya, Aji Erlangga, Alam Abdurahim, Akuntansi Perbankan Syariah, Jakarta Selatan: Salemba Empat. 2014

Sutan Remi Sjahdeini, perbankan syariah: produk-produk dan aspek hukumnya, Jakarta: Kencana. 2014

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...