• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN EKSPOST FACTO DAN EKSPERIMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENELITIAN EKSPOST FACTO DAN EKSPERIMEN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN EX POST FACTO DAN EKSPERIMEN

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Metode Penelitian dan Pengembangan Dosen Pengampu : Dr. H. Abu Hapsin, M.A

Dr.H. Imam Suraji, M.Ag

Disusun oleh:

KUDUNG ISNAINI 2052113023

PROGRAM PASCASARJANA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN PEKALONGAN

(2)

PENELITIAN EX POST FACTO DAN EKSPERIMEN

I. PENDAHULUAN

Manusia menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk menemukan atau mengungkapkan sesuatu yang belum diketahuinya melalui berbagai cara. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan sejumlah cara untuk mengetahui sesuatu hal.1 Begitu juga bagi seorang peneliti, dalam melakukan penelitiannya seorang peneliti akan memilih metode penelitiannya yang dipandang paling sesuai dengan penelitiannya.

Penelitian merupakan salah satu upaya manusia dalam memecahkan masalah yang sering timbul di sekitarnya. Seorang peneliti pada prakteknya di lapangan akan memilih salah satu metode yang dipandang paling cocok untuk penelitiannya, yaitu yang sesuai dengan data yang akan diperoleh, tujuan, dan masalah yang akan dipecahkan (efektivitas). Pertimbangan lainnya adalah masalah efesiensi, yaitu seorang peneliti harus memperhatikan keterbatasan dana, tenaga, waktu dan kemampuan. Dengan demikian metode penelitian yang dapat menghasilkan informasi yang lengkap dan valid, dilakukan dengan cepat, sehingga dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu. Ada banyak penelitian yang sering dipakai oleh peneliti, diantaranya penelitian Ex post facto dan penelitian eksperimen.

Penelitian Ex post facto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel-variabel terikat dalam suatu penelitian. Sedangkan penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Penelitian eksperimen pada prisipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship).

Untuk dapat melaksanakan suatu penelitian yang baik, perlu dipahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen penelitian. Baik yang berkaitan dengan jenis-jenis variabel, hakekat penelitian, karakteristik, tujuan, syarat-syarat penelitian, langkah-langkah penelitian dan

(3)

bentuk-bentuk desain. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang penelitian Ex post facto dan eksperimen.2

II. PEMBAHASAN

A. Penelitian Ex post facto

1. Pengertian Penelitian Ex post facto

Salah satu jenis penelitian yang mempunyai beberapa nama adalah penelitian Ex post facto. Penelitian ini disebut demikian, karena sesuai dengan arti ex-post facto, yaitu "dari apa dikerjakan setelah kenyataan", maka penelitian ini disebut sebagai penelitian sesudah kejadian. Penelitian ini juga sering disebut after the fact atau sesudah fakta dan ada pula peneliti yang menyebutnya sebagai retrospective study atau studi penelusuran kembali.3 Menurut Suryabrata, penelitian Ex post facto adalah data yang dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (terjadi). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai

dependent variables) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lalu untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan dan maknanya.4

Penelitian Ex post facto merupakan penelitian yang variabel-variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.5

Penelitian Ex post facto secara metodis merupakan penelitian eksperimen yang juga menguji hipotesis tetapi tidak memberikan perlakuan-perlakuan tertentu karena sesuatu sebab kurang etis untuk memberikan perlakuan atau memberikan manipulasi. Biasanya karena alasan etika manusiawi, atau gejala/peristiwa tersebut sudah terjadi dan ingin menelusuri faktor-faktor penyebabnya atau hal-hal yang mempengaruhinya.

2 http://yudistiadewisilvia.wordpress.com/2013/03/13/penelitian-expost-facto/

3 Syamsuddin A.R., Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa,

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 164

4 Syaodih Nana Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2010).

(4)

2. Dasar penelitian Ex post facto

a. Menilai dengan subjek yang berbeda pada variable bebas dan mencoba untuk menentukan konsekuensi yang berbeda. Contoh: pengaruh orang tua tunggal dan orang tua lengkap (variable terikat) terhadap pembolosan (variable bebas).

b. Dimulai dari subjek yang berbeda sebagai variable terikat dan berusaha menentukan penyebabnya dari perbedaan itu. Contoh: perbandingan siswa yang latarnya dari sekolah tinggi dengan orang-orang yang drop out (variable terikat) pada variable bebas seperti motivasi atau kedisiplinan.

3. Tujuan

Pada hakikatnya penelitian kausal komparatif merupakan penelitian

Ex post facto, artinya data yang dikumpulkan setelah semua peristiwa yang diperhatikan terjadi (sesudah fakta). Tujuannya agar hubungan sebab akibat dapat diselidiki lewat pengamatan terhadap konsekuensi yang sudah terjadi dan menengok ulang data yang ada untuk menemukan faktor-faktor yang mungkin terdapat di sana.6 Penelitian ini menguji apa yang telah terjadi pada subjek. Disebut sebagai penelitian kausal komparatif karena dimaksud untuk menyelidiki kausa yang mungkin untuk suatu pola prilaku yang dilakukan dengan cara membandingkan subjek dimana pola tersebut ada dengan subjek yang serupa dimana pola tersebut tidak ada atau berbeda.

Menurut Suryabrata, tujuan penelitian kausal komparatif ini untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol.7

4. Langkah-langkah

6 Mohammad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, (Semarang: Walisongo Press, 2009),

hlm. 21

7 Sumandi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006),

(5)

Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam metode kausal komparatif adalah:8

a. Definisikan masalah

b. Lakukan penelaahan kepustakaan c. Rumuskan hipotesis-hipotesis

d. Rumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan

e. Rancang cara pendekatannya:

1) Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan

2) Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data

3) Tentukan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.

f. Validasi teknik untuk mengumpulkan data itu, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat

g. Kumpulkan dan analisis data h. Susun laporannya

5. Contoh Kasus

Dalam hal ini misalnya yang menyangkut manusia. Sebagai contoh, untuk menyelidiki pengaruh merokok terhadap daya tahan paru-paru, tidak mungkin variabel bebasnya dimanipulasi, maksudnya orang-orang yang bukan perokok disuruh merokok atau yang merokok disuruh tidak merokok dalam beberapa lama untuk kemudian diteliti paru-parunya. Atau contoh lain, pengaruh jenis kelamin terhadap produktivitas kerja. Tidak mungkin variabel bebasnya yang dalam hal ini kelamin dimanipulasikan, yang berjenis kelamin laki-laki diganti dengan perempuan atau sebaliknya. Oleh karena itu dalam riset perlu dicari pendekatan lain yaitu Ex post facto yang berarti “setelah kejadian”.

(6)

Menurut Gay, penelitian ini dilakukan dengan cara menentukan akibat lalu menemukan sebab.9 Menurut Kerlinger, penelitian ini merupakan pencarian empirik yang sistematik dimana peneliti tidak dapat mengontrol variabel bebasnya karena peristiwa telah terjadi atau karena sifatnya tidak dapat dimanipulasi.

Jadi jika dibandingkan dengan riset eksperimen, riset Ex post facto

pada mulanya mengamati akibat dan kemudian mencoba untuk menentukan sebab sedangkan dalam penelitian eksperimen pada mulanya menciptakan sebab, secara sengaja membuat kelompok berbeda, dan kemudian mengamati akibat perbedaan it pada variabel terikat.

Contoh: Sebuah perusahaan melakukan restrukturisasi sejak dua tahun lalu. Untuk mengetahui dampak restrukturisasi tersebut pada kinerja karyawannya, dapat dilakukan pembandingan antara kinerja karyawan sebelum dan sesudah restrukturisasi ini. Di sini jelas tampak bahwa restrukturisasi bertindak sebagai faktor X (independen) atau penyebab. Kinerja karyawan sebelum dan sesudah restrukturisasi adalah fakta yang tidak dapat diubah, sehingga eksperimen ini merupakan suatu kausal-komparatif, yaitu membandingkan antara kinerja karyawan sebelum dan sesudah restrukturisasi berdasarkan fakta sesudah kejadian eksperimen (Ex post facto).10

6. Kelebihan Penelitian Ex post facto (kausal komparatif)

a. Merupakan metode penelitian yang layak dalam banyak hal bila metode eksperimental tidak dimungkinkan untuk dilakukan karena:

 Tidak memungkinkan untuk memilih, mengontrol, dan

memanipulasi variabel untuk studi hubungan sebab akibat (kausal) secara langsung.

 Pengontrolan semua variasi kecuali satu variabel bebas tunggal

mungkin sangat tidak realistik dan artifisial11, mencegah interaksi

yang normal dengan variabel lain yang berpengaruh.

9 Husein Umar, Riset Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1998),

hlm. 86

10 Husein Umar, Riset ..., hlm. 87

(7)

 Pengontrolan secara laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian

tidak praktis, terlalu mahal, atau secara etika dipertanyakan.

b. Penelitian kausal komparatif akan menghasilkan informasi yang bermanfaat mengenai hakikat suatu fenomena.

c. Memperbaiki teknik, metode statistik, dan desain dengan pengontrolan fitur-fitur secara parsial.

d. Kemajuan dalam teknik statistik membuat desain Ex post facto lebih bertahan.12

7. Kelemahan Penelitian Ex post facto13

a. Kurang kontrol terhadap variable bebas

b. Sulit memastikan apakah faktor-faktor penyebab telah dimasukkan dan diidentifikasi

c. Tidak ada faktor tunggal yang menjadi sebab suatu akibat, tetapi beberapa kombinasi dan interaksi faktor-faktor berjalan bersama di bawah kondisi tertentu menghasilkan akibat tertentu.

d. Suatu fenomena mungkin bukan saja hasil dari sebab yang banyak, tetapi juga dari satu sebab dalam satu hal dan dari sebab yang lain. e. Jika hubungan antara dua variable ditemukan, sulit menemukan mana

yang sebab dan mana yang akibat.

f. Kenyataan yang menunjukkan bahwa dua atau lebih faktor berhubungan tidak mesti menyatakan hubungan sebab akibat. Semua faktor bias jadi berhubungan dengan suatu faktor tambahan yang tidak dikenal atau tidak diamati.

g. Mengklasifikasikan subyek ke dalam kelompok dikotomi (misalnya yang berprestasi dan yang tidak berprestasi) untuk tujuan komparasi penuh dengan masalah, karena kategori seperti ini adalah samar-samar, dapat bervariasi, dan sementara.

h. Penelitian komparatif dalam situasi yang alami tidak memberikan seleksi subyek yang terkontrol. Sulit menempatkan kelompok subyek

(8)

yang sama dalam segala hal kecuali pemaparan mereka terhadap satu variable.

B. Penelitian Eksperimen

a. Pengertian Penelitian Eksperimen

Metode eksperimen adalah prosedur penilaian yang dilakukan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat (causal-effect relationship)14 dua variabel atau lebih, dengan mengendalikan pengaruh variabel yang lain. Metode ini dilaksanakan dengan memberikan variabel bebas secara sengaja (bersifat induce) kepada obyek penelitian untuk diketahui akibatnya di dalam variabel terikat. Dengan demikian metode ini dilakukan dengan melakukan percobaan secara cermat untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara gejala yang timbul dengan variabel yang sengaja diadakan. Variabel yang sengaja diadakan itu disebut juga variabel eksperimen atau perlakuan (treatment) yang berfungsi sebagai variabel bebas.15

Sugiyono mengatakan bahwa metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.16 Adapun Wiersma (dalam Emzir), mendifinisikan eksperimen sebagai situasi penelitian yang sekurang-kurangnya satu variabel bebas, yang dibuat sebagai variabel eksperimental, sengaja dimanipulasi oleh peneliti. Pada hakekatnya penelitian eksperimen (experimental research) adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan.17

Dalam penelitian eksperimen variabel-variabel yang ada termasuk variabel bebas dan variabel terikat sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian. Ini menunjukan peneliti menginginkan

14 Baca juga dalam Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya,

(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 179, Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:Rineka Cipta, 2006)

15 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press, 1998), hlm. 82

16 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011),

hlm. 72

(9)

adanya kepastian untuk memperoleh informasi tentang variabel mana yang menyebabkan sesuatu terjadi dan variabel yang memperoleh akibat terjadinya perubahan dalam suatu kondisi eksperimen.18 Gay (dalam Emzir), dalam studi eksperimental peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain yang relevan, dan mengobservasi efek/ pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat. Dalam penelitian pendidikan variabel yang biasa dimanipulasi termasuk metode pengajaran, penguatan, pengaturan lingkungan belajar, jenis materi belajar, dan ukuran kelompok belajar. Perubahan atau perbedaan dalam kelompok sebagai suatu hasil manipulasi variabel bebas.19

Berdasarkan definisi dari beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian.

b. Karakteristik Penilaian Eksperimen

Metode eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang diambil sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga analisis menjadi obyektif. Variabel bebas dijadikan sebagai variabel eksperimen, variabel penyebab atau variabel perlakuan yang karakteristiknya diyakini dapat menghasilkan perbedaan, sedangkan variabel terikat atau variabel akibat merupakan hasil dari suatu penelitian. Dikatakan terikat karena tergantung atas variabel bebas.20

Menurut Ary, pada umumnya penelitian eksperimen memiliki tiga karakteristik penting, yaitu:21

1. Variabel bebas yang dimanipulasi.

Adanya tindakan manipulasi variabel yang secara terencana dilakukan oleh peneliti dengan tidak mempunyai arti yang negatif. Tindakan dan perlakuan yang dilakukan oleh seorang ahli dilakukan atas dasar

18 Hamid Darmadi, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung, ALFABETA, 2011), hlm. 175 19 Emzir, Metodologi..., hlm. 64

20 Husein Umar, Riset ..., hlm. 84-86

(10)

pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat. 2. Variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan

(pengendalian)

Dimana peneliti menginginkan variabel yang diukur itu mengalami kesamaan sesuai dengan keinginan peneliti dengan menambahkan faktor lain ke dalam variabel atau membuang faktor lain yang tidak diinginkan peneliti dari variabel.

3. Efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti (Pengamatan)

Dimana peneliti melakukan suatu kegiatan mengamati untuk mengetahui apakah ada pengaruh manipulasi variabel (bebas) yang telah dilakukannya terhadap variabel lain (terikat) dalam penelitian eksperimental yang dilakukannya.

c. Contoh Kasus

Seorang peneliti telah membuat semacam tablet untuk menggemukkan badan. Untuk menilai sukses atau tidaknya obat itu, diambil 20 ekor kelinci yang akan diberi obat dan 20 ekor lagi tidak diberi obat. Setelah beberapa hari, misalnya 20 minggu, semua kelinci ditimbang. Data hasil timbangan itu kemudian dianalisis untuk menjawab pertanyaan apakah obat tersebut terbukti atau tidak terbukti memiliki kemampuan untuk menggemukkan badan.22

d. Tujuan

Ditinjau dari segi tujuannya, penggunaan metode ini dapat dibedakan menjadi dua jenis eksperimen, yaitu:

1) Eksperimen eksplorasi (Explorative experimental)

Bermaksud untuk mempertajam masalah dan perumusan hipotesa tentang hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Eksperimen ini biasanya mempergunakan binatang atau benda percobaan, penggunaan dengan manusia sangat terbatas karena resikonya sangat besar.

(11)

2) Eksperimen pengembangan (Developmental experiment)

Dilakukan untuk menguji atau membuktikan hipotesa dalam rangka menyusun generalisasi yang berlaku umum.23

e. Langkah-langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan

2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah

3) Melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah

4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi

memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen. b) Menentukan cara mengontrol

c) Memilik rancangan penelitian yang tepat

d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian

e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen

f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen, dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan

g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data, dan menentukan hipotesis.

5) Melaksanakan eksperimen

6) Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen

7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai degnan variabel yang telah ditentukan

8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikansi hasilnya

(12)

9) Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.24

f. Prosedur dan Syarat-syarat Penelitian

Prosedur penelitian eksperimental pada dasarnya sama dengan penelitian lain, yakni; memilih dan merumuskan masalah, memilih subyek dan instrumen pengukuran, memilih desain penelitian, melaksanakan prosedur, menganalisis data, dan merumuskan kesimpulan.

Adapun syarat-syarat yang harus ditempuh seorang peneliti dalam melaksanakan sebuah penelitian adalah sebagai berikut:

1) Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian;

2) Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama;

3) Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya.

4) Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).

(13)

g. Validitas

Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan oleh variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat digeneralisasikan pada situasi di luar setting eksperimental.25 Sehingga ada dua kondisi yang harus diterima yakni faktor internal dan eksternal.

1) Validitas Internal (internal validity)

Validitas ini mengacu pada kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel bebas adalah suatu hasil langsung dari variabel bebas yang dimanipulasi dan bukan dari variabel lain.

Ada delapan ancaman utama terhadap validitas internal, antara lain:26

 Historis, dimana munculnya suatu kejadian yang bukan bagian dari

perlakuan dalam eksperimen yang dilakukan, tetapi mempengaruhi model, karakter, dan penampilan variabel bebas.

 Maturasi, dimana terjadi perubahan fisik atau mental peneliti atau obyek yang diteliti yang mungkin muncul selama suatu periode tertentu yang mempengaruhi proses pengukuran dalam penelitian.

 Testing, dimana sering terjadi ketidak efektifan suatu penelitian

yang menggunakan metode test karena suatu kegiatan test yang dilakukan dengan menggunakan pra test dan post test, apalagi dengan rentang waktu yang cukup panjang, dan terkadang nilai pra test dan post test yang sama.

 Instrumentasi, instrumentasi sering muncul karena kurang

konsistensinya instrumen pengukuran yang mungkin menghasilkan penilaian performansi yang tidak valid. Dimana jika dua test berbeda digunakan untuk pratest dan postest, dan test-test tersebut tidak sama tingkat kesulitannya, maka instrumentasi dapat muncul.

 Regresi Statistik, dimana regresi statistik ini sering muncul bila subyek dipilih berdasarkan skor ekstrem dan mengacu pada kecenderungan subyektif yang memiliki skor yang paling tinggi

(14)

pada pratest ke skor yang lebih rendah pada postes, begitupun sebaliknya.

 Seleksi subyek yang berbeda, dimana biasanya muncul bila kelompok yang ada digunakan dan mengacu pada fakta bahwa kelompok tersebut mungkin berbeda sebelum kegiatan penelitian dimulai.

 Mortalitas, dimana sering terjadi bahwa subyek yang terkadang

drop out dari lingkup penelitian dan memiliki karakteristik kuat yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.

 Interaksi seleksi Maturasi, dimana satu kelompok akan termaturasi

dengan hasil kelompok lain tanpa melalui perlakuan. 2) Validitas Eksternal (external validity)

Validitas ini mengacu pada kemampuan generalisasi suatu penelitian. Dan juga dibutuhkan kemampuan suatu sampel populasi yang benar-benar bisa digeneralisasikan ke populasi yang lain pada waktu dan kondisi yang lain.27

Ada beberapa ancaman terhadap validitas eksternal, diantaranya:28 1) Interaksi Prates-Perlakuan, dimana biasanya sering muncul bila

respons subjek berbeda pada setiap perlakuan karena mengikuti prates.

2) Interaksi Seleksi-Perlakuan, dimana akibat yang muncul bila subjek tidak dipilih secara acak sehingga seleksi subjek yang berbeda diasosiasikan dengan ketidakvalidan internal.

3) Spesifisitas Variabel, adalah suatu ancaman terhadap yang tidak mengindahkan generalisabilitas dari desain eksperimental yang digunakan.

4) Pengaturan Reaktif, mengacu pada faktor-faktor yang diasosiasikan dengan cara bagaimana penelitian dilakukan dan perasaan serta sikap subjek yang dilibatkan.

27 Baca juga dalam bukunya Syamsuddin A.R., Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian

Pendidikan Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 153-154 dalam mengemukakan ciri-ciri penelitian eksperimental.

(15)

5) Interferensi Perlakuan Jamak, biasanya sering muncul bila subjek yang sama menerima lebih dari satu perlakuan dalam pergantian. 6) Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen, sering muncul bila

keakraban subjek dan peneliti mempengaruhi hasil penelitian. h. Desain Penelitian Eksperimental

1) Pengontrolan Variabel Luar

2) Pemadanan, yaitu suatu teknik untuk penyamaan kelompok pada satu atau lebih variabel yang telah diidentifikasi peneliti sebagai berhubungan dengan performansi pada variabel terikat (Emzir:2009) 3) Perbandingan Kelompok atau Subkelompok Homogen

4) Penggunaan Subjek sebagai pengendalian diri mereka sendiri

5) Analisis Kovarian, yaitu suatu metode statistik untuk penyamaan kelompok yang dibentuk secara random pada satu atau lebih variabel terkontrol.

i. Jenis-Jenis Desain Penelitian Eksperimental

Telah dikemukakan bahwa kriteria-kriteria untuk suatu desain penelitian eksperimental yang baik, diantaranya:

 Kontrol eksperimental yang memadai

 Mengurangi artifisialitas (dalam merealisasikan suatu hasil eksperimen ke non-eksperimen)

 Dasar untuk perbandingan dalam menentukan apakah terdapat

pengaruh atau tidak

 Informasi yang memadai dari data yang akan diambil untuk memutuskan hipotesis

 Data yang diambil tidak terkontaminasi dan memadai dan mencerminkan pengaruh

 Tidak mencampurkan variabel yang relevan agar variabel lain tidak

mempengaruhi

 Keterwakilan dengan menggunakan randomisasi aspek-aspek yang akan diukur

(16)

Dengan demikian maka suatu desain eksperimental yang dipilih oleh peneliti membutuhkan perluasan terutama pada prosedur dari setiap penelitian yang akan dilakukan. Emzir mengklasifikasikan desain eksperimental dalam dua kategori yakni:

1) Desain Variabel Tunggal, yang melibatkan satu variabel bebas (yang dimanipulasi) yang terdiri atas:

Pra-Experimental Designs (non-designs)

Dikatakan pra-experimental design, karena desain ini bukanlah eksperimen yang dipentingkan (belum eksperimen sunguh-sungguh). Karena rancangan tersebut tidak memperhatikan perbedaan variabel yang berpengaruh pada hasil. Kebenaran internal sebuah rancangan juga dipertanyakan. Rancangan pra-ekperimental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian.29 Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, menurut Fraenkel & Wallen (1990) dalam Syamsuddin AR (2006), yaitu:30 a) Studi kasus bentuk tunggal(One-Shot Case Study)

Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya.

b) Tes awal-tes akhir kelompok tunggal (The One Group Pretest-Posttest)

Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

29 Syamsuddin A.R., Vismaia S. Damaianti, Metode..., hlm. 156

30 Syamsuddin A.R., Vismaia S. Damaianti, Metode..., hlm. 156-158 Baca juga dalam

(17)

c) Perbandingan kelompok statis (the static group comparison) Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).

True Experimental Design

Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental

adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental

terbagi atas:

a) Posstest-Only Control Design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.

b) Pretest-Posttest Control Group Design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

c) The Solomon Four-Group Design

(18)

dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu keempat kelompok ini diberi posttest.

Quasi Experimental Design

Disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Walaupun demikian, desain ini lebih baik dari pre-experimental design. Quasi Experimental Design digunakan karena pada kenyataannya sulit medapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.

Dalam suatu kegiatan administrasi atau manajemen misalnya, sering tidak mungkin menggunakan sebagian para karyawannya untuk eksperimen dan sebagian tidak. Sebagian menggunakan prosedur kerja baru yang lain tidak. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan desain Quasi Experimental.

Desain eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:

a) Time Series Design

(19)

b) Nonequivalent Control Group Design

Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.

Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan postes.

c) Conterbalanced Design

Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.

2) Desain Faktorial, yang melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-kurangnya satu yang dimanipulasi).

Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-experimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual dan dalam interaksi satu sama lain.

Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol, selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimental variabel tunggal.

C. Perbedaan antara metode penelitian expost facto dengan metode penelitian eksperimen31

a. Pengertian

1) Metode Penelitian Ex post facto

31 Saeful Arifin, “Eksperimen, Expost Facto, Korelasional, Komparatif”, dalam

http://m.kompasiana.com/post/edukasi/2010/11/18/eksperime-expost-facto-korelasional-komparatif/,

(20)

Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi yang kemudian meruntut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.

Penelitian Ex post facto bertujuan untuk melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.

2) Metode penelitian eksperimen32

Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat.

Suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Variabel independennya dimanipulasi oleh peneliti.

Metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.

b. Tema/Judul

1) Metode Penelitian Ex post facto

Penelitian Ex post facto menggunakan variabel bebas atribut yaitu peneliti tidak dapat menentukan responden secara bebas, artinya responden tersebut telah ada sebelum penelitian tersebut. Pada judul tersirat faktor-faktor yang mempengaruhi suatu hal yang akan diteliti yang berasal dari sebab permasalahan yang sekarang terjadi.

(21)

2) Metode penelitian eksperimen

Penelitian eksperimen menggunakan variable bebas aktif yaitu peneliti dapat dengan mudah menentukan siapa yang menjadi responden secara bebas. Pada judul, nanti akan timbul sebab-akibat. c. Rumusan Masalah

1) Metode Penelitian Ex post facto

Rumusan masalah yang digunakan menggunakan rumusan masalah deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).

2) Metode penelitian eksperimen

Rumusan masalahnya menggunakan rumusan masalah komparatif. Yaitu rumusan masalah dimana peneliti membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda atau pada waktu yang berbeda. Selain itu rumusan masalah pada penelitian eksperimen juga bisa menggunakan rumusan asosiatif. Rumusan asosiatif yaitu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.33 d. Kerangka Teori

1) Metode Penelitian Ex post facto

Pada kerangka teori penelitian Ex post facto menggunakan kerangka teori yang bersifat deduktif. Dimana, kerangka tersebut memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data yang akan diterangkan.

2) Metode penelitian eksperimen

Pada kerangka teori penelitian eksperimen menggunakan kerangka teori yang bersifat fungsional. Dimana teori tersebut tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali yang mempengaruhi data.

e. Hipotesis

(22)

1) Metode Penelitian Ex post facto

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian Ex post facto

adalah hipotesis diskriptif, yaitu merupakan jawaban sementara terhadap masalah diskriptif yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

2) Metode penelitian eksperimen

Bersifat definitif atau direksional. Artinya, dalam rumusan hipotesis tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antar variabel, melainkan telah ditunjukkan sifat hubungan atau keadaan perbedaan itu.34

f. Cara Analisis

1) Metode Penelitian Ex post facto

Apabila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik: binomial dan chi kuadrat satu sampel. Apabila datanya berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik: run test. Apabila datanya berbentuk interval atau ratio maka digunakan tes satu sampel.

2) Metode penelitian eksperimen

Apabila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik: koefisien kontingen. Apabila datanya berbentuk ordinal, maka menggunakan korelasi spearman rank dan korelasi kendal tau. Apabila datanya berbentuk interval atau ratio, maka digunakan statistik: korelasi produk moment, korelasi ganda, korelasi parsial, dan analisis regresi.

D. Kesamaan Penelitian Ex post facto dengan Penelitian Eksperimen

Kesamaannya dalam hal:

1. Tujuan; untuk menentukan hubungan kausa

2. Kelompok perbandingan; kedua metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama pada kondisi dan situasi

(23)

tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk mencari atau menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dalam data penelitian.35 3. Teknik analisis statistik yang digunakan.

Hanya saja dalam penelitian Ex post facto tidak ada manipulasi, kondisi tersebut sudah terjadi sebelum penelitian ini mulai dilaksanakan. Karena itu penelitian ini memerlukan waktu yang relatif singkat.

Sebagai contoh, seorang peneliti tertarik untuk menyelidiki pengaruh broken home (perpecahan antar orang tua) terhadap tingkat kenakalan remaja. Dalam hal ini peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen karena ia tidak mungkin memanipulasi kondisi subjek (membuat agar terjadi broken home pada keluarga/orang tua mereka) kemudian mengukur tingkat kenakalan remaja. Meskipun demikian, pengaruh tersebut dapat diuji dengan cara membandingkan tingkat kenakalan remaja yang berasal dari keluarga yang broken home dan yang harmonis jika pengaruh tersebut memang ada, maka anak yang berasal dari keluarga broken home mempunyai tingkat kenakalan yang lebih tinggi daripada mereka yang berasal dari keluarga yang harmonis.36

Karena tidak ada manipulasi, maka interpretasi hasil penelitian ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Dalam kasus diatas, misalnya peneliti tidak yakin bahwa perbedaan tingkat kenakalan antar kelompok subjek tersebut terjadi karena broken home yang dialami oleh orang tua salah satu kelompok subjek. Hal ini karena tingkat kenakalan tersebut hanya diukur sekali, yakni setelah terjadinya broken home. Karena itu dalam menafsirkan hasil penelitian ini, peneliti dihadapkan pada pertanyaan: apakah broken home mendorong kenakalan pada anak? Apakah tingkat kenakalan yang tinggi pada anak dari keluarga broken home sudah terjadi sebelum timbulnya broken home? Apakah perbedaan tersebut karena pengaruh orang tua, yakni, tingkat “kenakalan” orang tua yang broken home lebih tinggi dari pada orang tua yang harmonis? Ataukah kenakalan

35 Emzir, Metodologi..., hlm. 125

36 Mahendra’s Blog, “Penelitian Eksperimen vs Expost Facto, dalam web

(24)

tersebut muncul karena adanya faktor lain, misalnya kurangnya perhatian orang tua mereka, yang dapat terjadi pada keluarga broken home maupun yang harmonis? Meskipun interpretasinya terbatas, dalam bidang pendidikan hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan kausal dari pola variasi kondisi yang diamati.37

(25)

III. PENUTUPAN

Penelitian eksperimen merupakan desain yang terbaik untuk menguji pengaruh suatu variable terhadap variable lain karena adanya manipulasi dan kontrol terhadap kondisi atau perlakuan yang diberikan pada subjek. Akan tetapi, karena dalam bidang pendidikan banyak kondisi yang tidak memungkinkan atau secara etis tidak diperkenankan untuk melakukan manipulasi terhadap suatu atau sejumlah variable, seperti broken home, orang tua tunggal, mengulang kelas, dan lain-lain sebagainya, penelitian eksperimen tidak dapat dilakukan. Untuk menguji variabel-variabel tersebut terhadap prestasi, hubungan sosial, perkembangan kognitif dapat menggunakan ex post facto.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Saeful, “Eksperimen, Expost Facto, Korelasional, Komparatif”, dalam http://

m.kompasiana.com/post/edukasi/2010/11/18/eksperime-expost-facto-korelasional-komparatif/, upload: 18 November 2010| 04:56 WIB, akses: 15 Oktober 2013| 23:55 Wib.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)

Darmadi, Hamid, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung, ALFABETA, 2011) Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2012)

Fauzi, Mohammad, Metode Penelitian Kuantitatif, (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm. 21

http://kbbi.web.id

Mahendra’s Blog, “Penelitian Eksperimen vs Expost Facto, dalam web

http://mahendra261291.wordpress.com/tag/expost-facto/, di akses: 21/10/2013| 23:20 Wib.

Morissan, Metode Penelitian Survei, (Jakarta: Kencana, 2012)

Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998)

Silvia, Y.D., “Penelitian Expost Facto”, dalam web

http://yudistiadewisilvia.wordpress.com/2013/03/13/penelitian-expost-facto/,

di akses 25/10/2013| 01.38 wib

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011)

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011)

Sukmadinata, Syaodih N., Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010).

Suryabrata, Sumandi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)

Syamsuddin A.R. dan Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 153-154

Referensi

Dokumen terkait

sampel yang akan diuji dapat berasal dari penelitian ex post facto dan eksperimental. n Ex post facto à data

Sebaliknya untuk eksperimen kuasi, data yang digunakan adalah ex post facto yaitu data yang berasal dari aktivitas atau kejadian yang sudah terjadi yang tidak diintervensi

Penelitian ini dilangsungkan dengan desain ex post facto yang berarti “setelah fakta”, di mana peneliti tidak mempunyai kontrol terhadap variabel-variabel dan tidak

Menurut Sukardi (2003:165) “Penelitian Ex Post Facto merupakan penelitian di mana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel

Kontrol penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ex post facto, karena dalam penelitian ini, peneliti tidak memiliki kontrol terhadap variabel, dan hanya dapat

post facto (Sudaryono, Margono, dan Rahayi, 2013 :11) karena pada penelitian ini, peneliti mencari variabel bebas yang bersifat tidak dapat dimanipulasi

penjelasan di atas maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian ex post facto untuk menggambarkan penelitian secara empiris dengan tiga

Penelitian ini dipertimbangkan sebagai Ex Post Facto dengan alasan bahwa Ex Post Facto merupakan suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian