• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Tanah Ulayat di Indonesia and

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaturan Tanah Ulayat di Indonesia and"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah bagi kehidupan manusia mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini disebabkan hampir seluruh aspek kehidupannya terutama bagi bangsa Indonesia tidak dapat terlepas dari keberadaan tanah yang sesungguhnya tidak hanya dapat ditinjau dari aspek ekonomi saja, melainkan meliputi segala kehidupan dan penghidupannya. Tanah mempunyai multiple value, maka sebutan tanah air dan tumpah darah dipergunakan oleh bangsa Indonesia untuk menyebutkan wilayah negara dengan menggambarkan wilayah yang didominasi tanah, air, dan tanah yang berdaulat.

Tanah merupakan sumber daya penting dan strategis karena menyangkut hajat hidup seluruh masyarakat Indonesia yang sangat mendasar, karena tanah memiliki karaakteristik yang bersifat multi dimensi, multi sektoral, multi disiplin dan memiliki kompleksitas yang tinggi.

Sejarah hukum pertanahan di Indonesia tidak terlepas dari hak ulayat. Jauh sebelum terciptanya UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA), masyarakat hukum kita telah mengenal hak ulayat. Hak ulayat sebagai hubungan hukum yang konkret, pada asal mulanya diciptakan oleh nenek moyang atau kekuatan gaib, pada waktu meninggalkan atau menganugerahkan tanahyang bersangkutan kepada orang-orang yang merupakan kelompok tertentu (Boedi Harsono, 1999). Hak ulayat itu sendiri bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat hukum adat.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 secara ideologis mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kaum petani Indonesia. Hal ini dikarenakan sejak berlakunya UUPA, secara yuridis formal ada keinginan yang sangat kuat untuk memfungsikan hukum agraria nasional sebagai “alat“ untuk membawa kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan masyarakat tani dalam rangka masyarakat adil dan makmur.

(2)

sekelompok anggota masyarakat suatu persekutuan hukum adat di dalam hubungan dengan hak ulayat.

Bagi masyarakat hukum adat tanah itu mempunyai kedudukan yang sangat penting karena merupakan satu-satunya benda kekayaan yang bersifat tetap dalam keadaannya, bahkan lebih menguntungkan. Selain itu tanah merupakan tempat tinggal, tempat pencaharian, tempat penguburan, bahkan menurut kepercayaan mereka adalah tempat tinggal dayang-dayang pelindung persekutuan dan para leluhur persekutuan (Soerejo Wignjodipoero, dalam Aminuddin Salle 2007) .

Pada garis besarnya pada masyarakat hukum adat terdapat 2 (dua) jenis hak atas tanah yaitu hak perseorangan dan hak persekutuan hukum atas tanah. Para anggotapersekutuan hukum berhak untuk mengambil hasil tumbuh-tumbuhan dan binatang liar dari tanah persekutuan hukum tersebut. Selain itu mereka berhak mengadakan hubungan hukum tertentu dengan tanah serta semua isi yang ada di atas tanah persekutuan hukum sebagai objek (Aminuddin Salle, 2007).

Hukum tanah adat yang murni berkonsepsi komunalistik, yang mewujudkan semangat gotong royong dan kekeluargaan, yang diliputi suasana religius. Tanah merupakan tanah bersama kelompok teritorial atau genealogik. Hak-hak perorangan atas tanah secara langsung ataupun tidak langsung bersumber pada hak bersama tersebut. Oleh karena, itu biarpun sifatnya pribadi, dalam arti penggunaannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, tetapi berbeda dengan hak-hak dalam Hukum Tanah Barat, sejak kelahirannya sekaligus dalam dirinya sudah terkandung unsur kebersamaan. Sifat komunalistik menunjuk kepada adanya hak bersama para anggota masyarakat hukum adat atas tanah, yang dalam kepustakaan hukum disebut Hak Ulayat. (Boedi Harsono, 1999).

Seiring perkembangan zaman, pergerakan pola hidup dan corak produksi masyarakat Indonesia dari pola-pola atau corak-corak tradisional menuju ke pola atau corak yang modern mengakibatkan tergerusnya secara perlahan nilai-nilai yang terkandung dalam hak ulayat. Dewasa ini masyarakat tidak lagi mengedepankan kebersamaan tetapi cenderung untuk berpikir individualistik.

(3)

didasarkan pada golongan masing-masing namun penting untuk diingat bahwa hukum adat dan termasuk pula didalamnya ada hak ulayat adalah merupakan dasa hukum Tanah Nasional. Olehnya itu adalah sesuatu yang sangat rasional untuk melihat dan mengkaji keberadaan hak ulayat dalam Hukum Positif Indonesia khususnya di bidang hukum pertanahan.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis akan menyajikan bahasan mengenai tanah ulayat dengan rumusan sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan tanah ulayat

(4)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Tanah

Sampai kini hanya ada satu bumi yang mampu mendukung kehidupan umat manusia. Walaupun orang sudah sampai ke dan dapat hidup di ruang angkasa dan bulan, namun belum ditemukan tempat lain yang dapat mendukung kehidupan secara wajar, kebutuhan mereka masih tetap dipasok dari tanah yang ada di bumi.

Tanah dalam makna hukum adalah bahagian dari dan melengket pada permukaan bumi. Untuk kehidupannya manusia sebagai individu maupun kelompok sampai kini belum dapat melepaskan diri dari tanah untuk berbagai keperluan, karena tanah merupakan :

1. tempat untuk mencari kebutuhan hidup manusia, seperti tempat berburu, memungut hasil hutan, areal pertanian, peternakan, pertambangan, industri, dsb.

2. tempat berdirinya persekutuan hukum adat, kabupaten/kota. Propinsi dan negara serta merupakan tempat tinggal dan tempat mencari kehidupan warganya

3. harta kekayaan yang sangat berharga yang bersifat tetap, karena tanah walau apapun yang terjadi padanya tidak akan mengalami perubahan

4. salah satu alat pemersatu persekutuan, bangsa dan negara

5. harga diri dari suatu persekutuan, bangsa dan negara serta warganya 6. tempat dikebumikannya warga yang telah meninggal

7. tempat bermukimnya roh-roh pelindung persekutuan 8. dsb.

B. Masyarakat Hukum Adat

Istilah masyarakat hukum adat sebetulnya masih sering menjadi topik perdebatan hingga kini. Sebahagian kalangan memandang masyarakat hukum adat mengandung kerancuan antara ”Masyarakat-Hukum Adat” dengan ”Masyarakat Hukum-Adat”. .Istilah Masyarakat-Hukum Adat menekankan pada ”Masyarakat hukum”, dan istilah Masyarakat Hukum-Adat menekankan pada Hukum Adat.

(5)

bergantung pada dimensi lainnya, seperti dimensi sosial, politik, agama, budaya,ekologi dan ekonomi. Secara sederhana, tidak semua masyarakat adat memiliki instrumen yang bisa dikualifikasikan sebagai hukum tetapi mereka tetap memiliki hak-hak tradisional atau hak-hak adat yang didasarkan pada hubungan kesejarahan dan norma-norma lokal yang luhur dari interaksi yang panjang. Sehingga seharusnya konstitusi negara tidak membeda-bedakan antara Masyarakat Adat dengan Masyarakat Hukum Adat.

Pasal 3 UUPA menyebut tentang Masyarakat Hukum Adat, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pengertiannya. Bahkan dalam berbagai kesempatan dalam memori Penjelasan sering digunakan istilah Masyarakat Hukum, yang dimaksud adalah masyarakat Hukum Adat yang disebut secara eksplisit dalam Pasal 3 tersebut.

Secara teoretis, pengertian Masyarakat Hukum dan masyarakat Hukum Adat adalah berbeda. Kusumadi Pujosewojo (1971) mengartikan masyarakat hukum sebagai suatu masyarakat yang menetapkan, terikat dan tunduk pada tata hukumnya sendiri. Sedangkan Masyarakat Hukum Adat adalah Masyarakat yang timbul secara spontan di wilayah tertentu yang berdirinya tidak ditetapkan atau diperintahkan oleh penguasa yang lebih tinggi atau penguasa lainnya, dengan atau solidaritas yang sangat besar diantara para anggotanya, yang memandang bukan anggota masyarakat sebagai orang luar dan menggunakan wilayahnya sebagai sumber kekayaan yang hanya dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh anggotanya.. Pemanfaatan oleh orang luar harus dengan izin dan pemberian imbalan tertentu berupa rekognisi dan lain-lain.

Masyarakat yang memperkembangkan ciri-ciri khas hukum adat (komunal, ikatan batin yang kuat antar anggota baik yang dikarenakan faktor geneologis, teritorial dan geneologis teritorial.) itulah yang disebut masyarakat hukum adat.

Menurut Maria SW Sumardjono (2001;hal 56), beberapa ciri pokok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia, mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perorangan, mempunyai batas wilayah tertentu dan mempunyai kewenangan tertentu.

(6)

berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan uu dan peraturan lain yang lebih tinggi.

C. Hak Ulayat

Yang dimaksud dengan hak ulayat adalah beschikkingrecht dalam kepustakaan hukum adat. Hak ulayat sebagai istilah teknis yuridis adalah hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat, berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya, dengan daya laku ke dalam maupun ke luar.

Dengan demikian, hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk:

1. Mengatur dan menyelenggarakan penggunaan tanah (untuk pemukiman, bercocok tanam dan lain) persediaan (pembuatan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah.

2. Mengatur dan menetukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subyek tertentu.

3. Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli, warisan dan lain-lain). Isi wewenang hak ulayat tersebut menyatakan, bahwa hubungan antara masyarakat hukum adat dengan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai, bukan hubungan milik sebagaimana halnya dalam konsep hubungan antara negara dengan tanah menurut Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

(7)

Di samping itu UUPA tidak memberikan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat itu. Namun, dengan mengacu pada pengertian-pengertian fundamental tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kriteria penentu masih ada atau tidaknya hak ulayat harus dilihat pada tiga hal yakni :

1. Adanya masyarakat hukum adat yang memenuhi ciri-ciri tertentu sebagai subyek hak ulayat.

2. Adanya tanah/wilayah dengan batas-batas tertentu, sebagai lebensraum yang merupakan obyek hak ulayat.

3. Adanya kewenangan masyarakat hukum adat untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu .

Dipenuhinya ketiga persyaratan tersebut secara kumulatif, kiranya cukup obyektif sebagai kriteria penentu masih ada atau tidaknya hak ulayat, sehingga misalnya, walaupun ada masyarakat hukum dan ada tanah atau wilayahnya, namun apabila masyarakat hukum tersebut sudah tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan tiga tindakan tersebut, maka hak ulayat dapat dikatakan sudah tidak ada lagi.

Pemenuhan kriteria tersebut sesuai dengan rasa keadilan berdasarkan dua hal. Di satu pihak, bila hak ulayat memang sudah menipis atau sudah tidak ada lagi hendaknya hal ini menjadi kesadaran bersama, bahwa sebetulnya secara sosiologis masyarakat hukum adat telah ditingkatkan menjadi bangsa Indonesia. Di pihak lain, bila memang hak ulayat dinilai masih ada maka harus diberikan pengakuan atas hak tersebut di samping pembebanan kewajibannya oleh negara.

Menurut Maria SW Sumardjono, bahwa pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat akan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang seyogyanya memuat :

1. Kriteria penentu eksistensi hak ulayat.

2. Pihak-pihak yang terlibat dan berwenang dalam proses penentuan tersebut. 3. Mekanisme/tatacara penentu eksistensi hak ulayat .

4. Pelembagaan hak ulayat yang terbukti keberadaannya dalam bentuk hak pengelolaan berdasarkan pasal 2 ayat (4) UUPA berikut kewenangannya.

(8)

setempat. Mengatur hak ulayat menurut para perancang dan pembentuk UUPA akan berakibat menghambat perkembangan alamiah hak ulayat, yang pada kenyataannya memang cenderun melemah. Kecenderungan tersebut dipercepat dengan membikin bertambah kuatnya hak-hak individu, melalui pengaturannya dalam bentuk hukum yang tertulis dan penyelenggaraan pendaftarannya yang menghasilkan surat-surat tanda pembuktian haknya. Melemahnya atau bahkan menghilangnya hak ulayat, diusahakan penampungannya dalam rangka pelaksanaan hak menguasai dari Negara, yang mencakup dan menggantikan peranan kepala adat dan para tetua adat masyarakat hukum adat yang bersangkutan dalam hubungannya dengan tanah-tanah yang sudah dihaki secara individual oleh para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan, seperti halnya tanah-tanah di daerah-daerah lain (Boedi Harsono, 2005; 193).

Masyarakat yang selama ini menguasai tanah atas dasar hukum adat merasa bahwa tanah yang dikuasai tersebut secara ulayat harus didaftar padahal hak ulayat pun tidak akan didaftar. UUPA tidak memerintahkan pendaftarannya, dalam PP No. 24 tahun 1997 hak ulayat secara sadar tidak dimasukkan dalam golongan obyek pendaftaran tanah. Selama ini masyarakat tidak memahami hak-hak apa saja yang didaftar dan bagaimana prosedur pendaftaran tanah.

Menurut Ter Haar (dalam Farida Patittingi) hak ulayat adalah hak untuk mengambil manfaat dari tanah, perairan, sungai, danau, perairan pantai,laut, tanaman-tanaman dan binatang yang ada di wilayah masyarakat hukum adat yang bersangkutan.

D. Tanah Ulayat

Tanah ulayat merupakan tanah kepunyaan bersama yang diyakini sebagai karunia suatu kekuatan ghaib atau peninggalan nenek moyang kepada kelompok yang merupakan masyarakat hukum adat sebagai unsur pendukung utama bagi kebidupan dan penghidupan kelompok tersebut sepanjang masa.

Disinilah sifat religius hubungan hukum antara para warga masyarakat hukum adat bersama dengan tanah ulayatnya ini. Adapaun tanah ulayat atau tanah bersama yang dalam hal ini oleh kelompok di bawah pimpinan kepala adat masyarakat hukum adat, misalnya adalah hutan, tanah lapang, dan lain sebagainya. Tanah untuk pasar, penggembalaan, tanah bersama, dan lain-lain yang pada intinya adalah demi keperluan bersama.

(9)

suatu bidang tanah tertentu adalah tanah ulayat atau bukan, pertama-tama kita harus memperhatikan apakah ada persekutuan hukum adat yang berkuasa atas tanah itu. Persekutuan hukum adat sering pula disebut orang sebagai masyarakat hukum adat, namun persekutuan hukum adat bukanlah sekedar sekelompok orang yang berkumpul saja. Persekutuan hukum adat adalah sekelompok orang ( lelaki, perempuan, besar, kecil, tua, muda, termasuk yang akan lahir) yang merasa sebagai suatu kesatuan yang utuh, baik karena faktor genealogis, teritorial maupn kepentingan, mempunyai struktur organisasi yang jelas, mempunyai pimpinan, mempunyai harta kekekayaan yang disendirikan, baik berujud maupun yang tak berujud.

(10)

BAB III PEMBAHASAN

A. Pengaturan Tanah Ulayat di Indonesia

Hak ulayat merupakan serangkaian wewenang-wewenang dan kewajiban-kewajban suatu masyarakat hukum adat dengan tanah dalam wilayahnya yang disebut dengan tanah ulayat. Pemegang hak ulayat adalah masyarakat hukum adat. Tanah ulayat dikenal dengan beberapa istilah sesuai dengan penggunaan dan pemanfatannya seperti pertuanan (Ambon – tanah wilayah sebagai kepunyaan, panyampeto (Kalimantan – sebagai tempat yang memberi makan, pewatasan (Kalimantan– sebagai daerah yang dibatasi), wewengkon (Jawa), prabumian (Bali) atau, sebagai tanah yang terlarang bagi orang lain (totabuan – Bolaang Mongondouw). Akhirnya dijumpai juga istilah-istilah: Torluk (Angkola), limpo (Sulawesi Selatan), muru (Buru), payar (Bali), paer (Lombok) dan ulayat (Minangkabau). Dalam Surat Pengantar Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2003 tentang Norma dan Standar Mekanisme Ketatalaksanaan Kewenangan Pemerintah Di Bidang Pertanahan Yang Dilaksanakan Oleh Pemerintah Kabupaten Dan Kota; diberikan pengertian dari tanah ulayat sebagai berikut: “Tanah ulayat adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu.”

Sebelum Indonesia merdeka, pada prinsipnya menurut Agrarische Wet tanah ulayat telah diakui menurut hukum dengan berdasarkan Domeinverklaring untuk Sumatera (sesuai Pasal 1 dari Stb No. 55 Tahun 1870). Dengan dikeluarkannya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960 maka Wet tersebut telah telah dicabut. Meskipun UU tersebut telah dicabut, tanah ulayat masih tetap diakui hal ini sesuai yang tertera dalam Pasal 3 UUPA. Akan tetapi, pengakuan tanah ulayat dalm UUPA tersebut disertai dengan 2 syarat yaitu mengenai eksistensinya dan mengenai pelaksanaannya.

(11)

pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi”. Pelaksanaan hak ulayat harus sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara karena kepentingan sesuatu masyarakat hukum harus tunduk pada kepentingan nasional dan Negara yang lebih tinggi dan lebih luas. Hal ini dikarenakan ada kalanya pelaksanaan hak ulayat oleh para penguasa/ kepala adat menghambat, bahkan merintangi usaha-usaha besar pemerintah dalam hal keperluan pembangunan. Tetapi dengan pendekatan secara adat hambatan-hambatan yang ada pada umumnya dapat dicegah dan diatasi.

Pendekatan tersebut dapat dilakukan antara para penguasa adat dan warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut adat- istiadat setempat, yang hakikatnya mengandung pengakuan adanya hak ulayat. Tetapi untuk instansi pemerintah atau pengusaha yang berusaha memperoleh tanah ulayat hanya berdasarkan surat keputusan pejabat atau isntansi pemerintah yang memberikan kepadanya, pasti akan menghadapi kesulitan dalam pelaksanaannya.

Untuk pengaturan tanah ulayat, oleh otoritas pertanahan (BPN) telah dikeluarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Penggunaan kata ‘hak ulayat’ dalam peraturan ini kiranya kurang tepat mengingat bahwa hak ulayat tidak hanya meliputi tanah namun termasuk juga hutan, air, dan segala sesuatu yang ada di dalam wilayah yang menjadi wilayah dari masyarakat adat tersebut, sebab di dalam hukum adat tanah tidak saja diartikan sebagai permukaan bumi, tetapi juga udara, air, bahan galian, termasuk roh nenek moyang.

(12)

Untuk pengaturan lebih lanjut tentang hak ulayat sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No. 5 Tahun 1999 maka diterbitkan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 400-2626 tanggal 24 Juni 1999. Menurut ketentuan tersebut maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah:

1. penelitian dan pengesahan eksistensi hak ulayat di masing-masing daerah dengan melibatkan pihak yang terkait;

2. pemetaan wilayah hak ulayat masing-masing;

3. pengesahan hak ulayat dari masyarakat hukum adat di tiap-tiap daerah oleh masing-masing daerah.

Beberapa hal seputar pengaturan tanah (hak) ulayat yang mengatur tentang eksistensi dan perlindungan tanah (hak) ulayat yaitu Kabupaten Kampar Prov. Riau (Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No. 12 Tahun 1999 tentang Hak Tanah Ulayat); Kabupaten Lebak Prov. Banten (Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy); dan Kabupaten Nunukan Prov. Kalimantan Timur (Peraturan Daerah Kabupaten Nunukan No. 4 Tahun 2004 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Lundayeh Kabupaten Nunukan) tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

N

o Perihal Kampar Lebak Nunukan

1 Istilah Hak tanah ulayat Hak ulayat Hak ulayat

2 Pengertian Salah satu hak milik

(13)

jelas (masyarakat adat) 4 Batas-batas Tidak diatur/ tidak

jelas

Diatur/ batas alam Diatur/ batas alam

5 Pengecualia n

Tidak diatur Telah terdaftar dan/ atau telah diperoleh/

7 Pendaftaran Boleh Tidak boleh Tidak boleh

8 Penyelesaian

Sumber: Dimodifikasi dari Peraturan Daerah tentang Hak Ulayat Kabupaten Kampar, Lebak dan Nunukan.

Dari tabel di atas terlihat bahwa pengaturan hak (tanah) ulayat yang ada di Indoenesia terdapat beberapa perbedaan. Hal ini tentunya merupakan suatu hal yang wajar mengingat sejarah, budaya dan dinamika masyarakat yang berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten yang lain, namun dalam hal-hal yang bersifat prosedural seperti tata cara pengakuan dan perlindungan terhadap tanah ulayat seyogianya menunjukkan kesamaan.

(14)

alam, untuk kelangsungan hidup dan kehidupannya secara turun-menurun dan tidak terputus antar masyarakat hukum adat dengan wilayah yang bersangkutan.

B. Pengaturan Tanah Ulayat di Australia

Di Australia, upaya melindungi hak-hak penduduk pribumi Australia yang sudah ada sebelum kolonisasi Inggris oleh Pemerintah Federal ditetapkan Native Title Act 1993 (Cth) . Kemudian, kebijakan tersebut diikuti oleh Pemerintah Negara Bagian New South Wales dengan menetapkan Native Title Act 1994 (NSW) .

Hak milik penduduk asli merupakan pengakuan oleh undang-undang Australia bahwa ada antara penduduk asli yang mempunyai hak dan kepentingan atas tanahnya sendiri, dari hukum adat dan adat istiadatnya. Hak-hak dan kepentingan ini mungkin termasuk:

 Tinggal di kawasan tersebut;

 Mengakses kawasan tersebut bagi tujuan tradisional, misalnya berkemah atau upacara;

 Berburu, memancing dan mengumpulkan sumber daya tradisional seperti air, kayu atau oker, dan

 Mengajar hukum dan adat istiadat di kawasan luar kota.

Dalam beberapa hal, hak milik penduduk asli mencakup hak untuk memiliki dan menghuni bidang tanah, yang terbatas bagi semua orang lain.

Pengakuan hak milik penduduk asli akan memungkinkan pemegang hak milik penduduk asli untuk terus menggunakan hak adatnya jika belum batal. Hak milik penduduk asli telah batal untuk tanah milik swasta, perumahan, komersial dan beberapa sewa lain dan daerah di mana jalan, sekolah, bor, jalan kereta api dan jembatan dan ‘prasarana umum’ lainnya dibangun pada atau sebelum tanggal 23 Desember 1996.

(15)

Native Title Act berlaku untuk seluruh Australia. Ada unsur-unsur tertentu dari undang-undang ini yang relevan untuk eksplorasi dan pertambangan:

 Menurut Native Title Act, tidak ada hak mutlak bagi pemilik tradisional untuk menolak eksplorasi atau permohonan hak milik mineral. Namun, penuntut dan pemegang hak milik penduduk asli memiliki hak prosedural yang mencakup ‘hak negosiasi’. Umumnya, Dewan Tanah mewakili penuntut dan pemegang hak milik penduduk asli dalam proses negosiasi untuk proyek eksplorasi dan pertambangan. Perjanjian khusus diperlukan untuk eksplorasi maupun kegiatan pertambangan.  Ekslporasi umumnya kurang mungkin menggangu masyarakat atau kegiatan sosial

penduduk asli, tempat-tempat penting, atau melibatkan gangguan besar terhadap tanah atau perairan. Di Northern Territory, permohonan untuk izin eksplorasi dilakukan melalui prosedur ‘hak negosiasi yang dipercepat’, yang menyediakan cara yang lebih cepat untuk pemberian hak eksplorasi;

 Prosedur yang dipercepat dilaksanakan apabila proses pemberitahuan mencakup pernyataan bahwa pemerintah “menganggap tindakan pemberian izin eksplorasi sebagai tindakan yang layak menerima prosedur yang dipercepat”. Penuntut hak milik penduduk asli terdaftar dapat menentang penyertaan pernyataan ini selama waktu pemberitahuan 4 bulan. Jika tentangan tersebut tidak ditarik balik setelah periode negosiasi, masalah ini harus dilanjutkan ke arbitrase. Jika tidak ada keberatan yang diajukan, hak milik dapat segera diberikan tanpa kesepakatan. Namun, prosedur yang dipercepat tidak berlaku untuk permohonan minyak bumi;

 Di Northem Territory, Tribunal Nasional Hak Milik Penduduk Asli (NNTT) merupakan lembaga arbitrase yang menangani penyelidikan untuk tentangan terhadap prosedur yang dipercepat. Kesepakatan dapat dicapai pada mana-mana tahap selama prosedur yang dipercepat, setelah negosiasi persyaratan yang layak. Native Title Act mewajibkan negosiasi dilakukan dengan itikad baik. Pemerintah NT memainkan peran aktif dalam menangani prosedur hak negosiasi. Jika pihak yang bernegosiasi tidak dapat mencapai kesepakatan, perkara tersebut dapat dirujuk ke NNTT untuk mediasi atau arbitrase;

(16)

negosiasi dari undang-undang tersebut. Perjanjian yang meliputi kegiatan eksplorasi dan produksi minyak bumi dinegosiasikan sekaligus. Negosiasi ini untuk persyaratan yang diusulkan biasanya mengharuskan pelaksanaan dua persetujuan, ‘persetujuan tambahan’ yang berisi aturan komersial, dan ‘surat hak milik tiga pihak’ (tripartite deed). Pemerintah NT bukan penandatangan persetujuan tambahan.

 Prosedur ini dimulai dengan proses pemberitahuan kepada umum di mana perincian tentang permohonan hak tanah pertambangan atau minyak bumi diterbitkan dalam sebuah koran Northern Territory dan koran penduduk asli. Jika tidak ada klaim hak milik penduduk asli yang terdaftar, hak milik tanah dapat segera diberikan tanpa kesepakatan

Nama UU : Native Title Act Sebutan hak Ulayat : Native Title

Hak Ulayat Diakui : Tahun 1992, setelah MA Australia mengabulkan gugatan Mabo seorang tokoh masyarakat Aborigin, yang dianggap sebagai gebrakan hukum yang mengakui “hak penduduk asli” atau “native Title” sebelumnya tidak diakui oleh pemerintah Australia karena adanya doktrin terra nulius, yaitu bahwa benua Australia tidak berpenghuni saat ditemukan oleh orang Eropa.

Keberadaan Hak Ulayat diakui : oleh UU bahwa ada antara penduduk asli yang mempunyai hak dan kepentingan atas tanahnya sendiri, dari hukum adat dan adat istiadatnya. Hak-hak dan kepentingan ini mungkin termasuk:

1. Tinggal di kawasan tersebut;

2. Mengakses kawasan tersebut bagi tujuan tradisional, misalnya berkemah atau upacara; 3. Berburu, memancing dan mengumpulkan sumber daya tradisional seperti air, kayu atau

oker, dan

4. Mengajar hukum dan adat istiadat di kawasan luar kota

Sifat hak nya tidak bersifat mutlak bagi pemilik tradisional untuk menolak eksplorasi atau menolak permohonan hak mineral

(17)

BAB IV KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Tanah ulayat merupakan tanah kepunyaan bersama yang diyakini sebagai karunia suatu kekuatan ghaib atau peninggalan nenek moyang kepada kelompok yang merupakan masyarakat hukum adat sebagai unsur pendukung utama bagi kebidupan dan penghidupan kelompok tersebut sepanjang masa. Pada Tanah Ulayat, ada pelekatan hak ulayat pada bidang tanah yang mana hak ulayat tersebut berasal dari suatu persekutuan hukum adat.

Sebelum Indonesia merdeka, pada prinsipnya menurut Agrarische Wet tanah ulayat telah diakui menurut hukum dengan berdasarkan Domeinverklaring untuk Sumatera (sesuai Pasal 1 dari Stb No. 55 Tahun 1870). Dengan dikeluarkannya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960 maka Wet tersebut telah telah dicabut. Tanah ulayat tersebut tetap diakui sepanjang menurut kenyataannya masih ada, dalam artian sepanjang masyarakat hukum adat masih ada, meskipun hukum adat itu tidak tertulis.

Di Australia, upaya melindungi hak-hak penduduk pribumi Australia yang sudah ada sebelum kolonisasi Inggris oleh Pemerintah Federal ditetapkan Native Title Act 1993 (Cth) . Kemudian, kebijakan tersebut diikuti oleh Pemerintah Negara Bagian New South Wales dengan menetapkan Native Title Act 1994 (NSW) . Hak milik penduduk asli merupakan pengakuan oleh undang-undang Australia bahwa ada antara penduduk asli yang mempunyai hak dan kepentingan atas tanahnya sendiri, dari hukum adat dan adat istiadatnya.

B. Saran

Keberadaan hak ulayat sebagai roh dari hukum pertanahan nasional tetap harus dijaga kelestariannya. Karena keberadaan hak ulayat ini sebagai dasar pegangan tanah ulayat itu sendiri. Sehingga perlu dibuat kebijakan oleh pemerintah untuk mengatur tentang hak ulayat dan tanah ulayat ini agar mempermudah pengelolaan dan pengaturannya.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, A. Bazar, 2007, Posisi Tanah UlayatMenurut Hukum Nasional, Yayasan Surya Daksina, Jakarta.

Harsono, Boedi, 1997, Hukum Agraria Indonesia. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jilid I Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta. Harsono Boedi, 1999, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-undang Pokok

Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta.

Salle Aminuddin, 2007, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Kreasi Total Media, Yogyakarta.

Maria. S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi,Penerbit Buku Kompas, Jakarta.26 Maret 1996..

Patittingi Farida, www.asdarfh .wordpress. com, Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.

(19)

MAKALAH PERBANDINGAN HUKUM TANAH

“PENGATURAN TANAH ULAYAT DI INDONESIA DAN AUSTRALIA”

Disusun oleh Kelompok 3

1. Agus Andy Hariyanto : 10192474 2. Achmad Taqwa Aziz : 10192473 3. Mahenggar Paulina Puspita : 10192483

4. Maria Padjo : 10192484

5. Muhammad Solichin Ristiarto : 10192488

PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL

Referensi

Dokumen terkait

Remarks: Seventh variables including age (a1 = age class of black rice), cultivation systems (c1 = cultivated Laka black rice cultivar with planting distance 22 cm x 22 cm

Pada kegiatan pembelajaran anak usia dini, penggunaan media pembelajaran menjadi sesuatu hal yang penting terhadap pencapaian tujuan dari pembelajaran untuk

Sama halnya dengan petani pemilik penggarap rata-rata biaya tenaga kerja luar keluarga pria yang dikeluarkan oleh petani penyakap untuk kegiatan penanaman juga tidak

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024) 8508081, Fax. Prodi Asal : Pendidikan

Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan penalaran, keterampilan menyelesaikan masalah, dan keterampilan

Studi mengenai kinerja perusahaan telah banyak dilakukan oleh para peneliti dengan berbagai ukuran rasio keuangan maupun model analisis yang dapat digunakan dalam

Bastiana (Saksi-I) adalah masih gadis dan saat ini Saksi-I masih tercatat sebagai salah satu murid sebuah SMU. Bahwa benar, pada hari Sabtu tanggal 08 Januari 2011 Terdakwa

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada usaha warung makan di Warung Makan Bu Nursari dapat disimpulkan bahwa strategi yang paling efektif yang digunakan ialah