40
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
BAB II
PENGUJIAN POMPA SENTRIFUGAL
2.1 Pendahuluan
2.1.1 Tinjauan Umum
Pompa mempunyai peranan penting dan dapat dijumpai hampir di setiap
industri, baik industri kecil maupun industri besar. Pompa merupakan mesin konversi
energi yang mengubah bentuk energi mekanik poros menjadi energi spesifik (head)
fluida yang memiliki wujud air. Energi mekanik pompa yang menunjukkan
kemampuan dari suatu pompa mengangkat fluida untuk mencapai ketinggian tertentu
adalah berupa head pompa, ditunjukkan oleh besarnya perbedaan antara energi fluida di
sisi isap dengan energi fluida di sisi tekan. Energi fluida merupakan jumlah dari energi
tekanan,energi kinetik dan energi karena elevasi (ketinggian).
Spesifikasi pompa dinyatakan dengan jumlah fluida yang dapat dialirkan
persatuan waktu dan
head (tinggi energi angkat). Pada umumnya pompa dapat
digunakan untuk bermacam-macam keperluan, untuk menaikkan fluida ke sebuah
reservoir, untuk pengairan, irigasi, dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan operasinya pompa dapat bekerja secara tunggal, seri, dan
paralel. Jenis operasi yang digunakan harus sesuai dengan tujuan dan kebutuhan
penggunaan instalasi pompa. Karakteristik pompa harus terlebih dahulu diketahui agar
didapatkan sistem yang optimal.
2.1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari pengujian pompa sentrifugal ini adalah untuk mendapatkan
kurva karakteristik dari :
a.
Kapasitas terhadap head dan efisiensi
b.
Kapasitas terhadap daya
c.
Kapasitas terhadap torsi
2.2 Tinjauan Pustaka
2.2.1 Dasar Teori Pompa
41
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fluida didefinisikan sebagai zat atau substansi yang akan mengalami deformasi
secara berkesinambungan apabila terkena gaya geser (gaya tangensial) sekecil apapun.
Berdasarkan mampu mampatnya fluida dibagi menjadi 2 yaitu
compressible fluid dan
incompressible fluid. Berdasarkan sifat alirannya fluida dibagi menjadi 3 yaitu aliran
laminer, transisi dan turbulen. Berdasarkan hubungan antara laju deformasi dan
tegangan gesernya fluida dibagi menjadi 2 yaitu
newtonian fluid
dan
non-newtonian
fluid. Berdasarkan gaya yang bekerja pada fluida dan gerakannya, fluida dibagi 2 yaitu
fluida statis dan dinamis.
Debit / kapasitas merupakan volum fluida yang dapat dialirkan per satuan
waktu. Pengukuran dari kapasitas dilakukan dengan menggunakan venturimeter,
orifice, pitot tube dan lain-lain. Satuan dari kapasitas (Q) adalah m
3/s, liter/s, atau ft
3/s.
Head didefinisikan sebagai energi per satuan berat fluida. Satuan dari
head (H)
adalah meter atau feet fluida. Di dalam pompa,
head diukur dengan cara menghitung
beda tekanan total antara pipa isap dan pipa tekan, bila pengukuran dilakukan pada
ketinggian yang sama. Menurut persamaan Bernoulli, terdapat tiga macam
head dari
sistem instalasi aliran, yaitu head kecepatan, head potensial dan head tekanan.
a.
Head tekanan adalah perbedaan
head yang disebabkan perbedaan tekanan statis
(head tekanan) fluida pada sisi tekan dan sisi isap. Head tekanan dituliskan dengan
rumus sebagai berikut:
(18)
Keterangan :
: Head tekanan (m)
: Head tekanan fluida pada sisi tekan (m)
: Head tekanan fluida pada sisi isap (m)
b.
Head
kecepatan adalah perbedaan antara
head kecepatan zat cair pada sisi tekan
dengan
head kecepatan zat cair pada sisi isap.
Head kecepatan dituliskan dengan
rumus sebagai berikut:
(19)
Keterangan :
42
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
: Head kecepatan zat cair pada sisi tekan (m)
: Head kecepatan zat cair pada sisi isap (m)
c.
Head potensial / elevasi adalah perbedaan ketinggian antara fluida pada sisi tekan
dengan ketinggian fluida pada sisi isap. Head elevasi dapat dinyatakan dengan
rumus sebagai berikut:
(20)
Keterangan :
Z : Head statis total (m)
: Head statis pada sisi tekan (m)
: Head statis pada sisi isap (m)
2.2.1.2 Pengertian Pompa
Pompa adalah jenis mesin fluida yang berfungsi untuk memindahkan fluida
melalui pipa dari satu tempat ke tempat lain. Dalam menjalankan fungsinya tersebut,
pompa mengubah energi mekanik poros yang menggerakkan sudu-sudu pompa mejadi
energi kinetik dan tekanan pada fluida.
Spesifikasi pompa dinyatakan dengan jumlah fluida yang dapat dialirkan per
satuan waktu (kapasitas) dan energi angkat (head) dari pompa.
a.
Kapasitas (Q)
Merupakan volum fluida yang dapat dialirkan persatuan waktu. Dalam
pengujian ini pengukuran dari kapasitas dilakukan dengan menggunakan
venturimeter. Satuan dari kapasitas (Q) adalah m
3/s, liter/s, atau ft
3/s.
b.
Putaran (n)
Yang dimaksud dengan putaran disini adalah putaran poros (impeler)
pompa, dinyatakan dalam satuan rpm. Putaran diukur dengan menggunakan
tachometer.
c.
Torsi (T)
Torsi didapatkan dari pengukuran gaya dengan menggunakan dinamometer,
kemudian hasilnya dikalikan dengan lengan pengukur momen (L). Satuan dari torsi
adalah Nm.
43
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Daya dibagi menjadi dua macam, yaitu daya poros yang merupakan daya
dari motor listrik, serta daya air yang dihasilkan oleh pompa. Satuan daya adalah
Watt.
e.
Efisiensi (
)
Merupakan perbandingan antara daya air yang dihasilkan dari pompa,
dengan daya poros dari motor listrik.
2.2.1.3 Pengertian Kavitasi
Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir, karena
tekanannya berkurang sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. Sehingga fluida dapat
menguap ketika tekanannya cukup rendah pada temperatur fluida tersebut. Dalam hal
ini temperatur fluida lebih besar dari temperatur jenuhnya.
Mekanisme dari kavitasi ini adalah berawal dari kecepatan air yang tinggi
sehingga tekanannya rendah dan menyebabkan titik didihnya menurun. Karena fluida
mencapai titik didihnya maka menguap dan timbul gelembung-gelembung yang pada
kecepatan tinggi akan menabrak bagian sudu.
Apabila zat cair mendidih, maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat
cair. Hal ini dapat terjadi pada zat cair yang sedang mengalir di dalam pompa maupun
di dalam pipa. Tempat-tempat yang bertekanan rendah dan yang berkecepatan tinggi di
dalam aliran, sangat rawan terhadap terjadinya kavitasi. Pada pompa misalnya, bagian
yang mudah mengalami kavitasi adalah sisi isapnya. Kavitasi akan timbul jika tekanan
isapnya terlalu rendah. Kavitasi di dalam pompa dapat mengakibatkan:
a.
Suara yang berisik dan getaran dari pompa.
b.
Performasi pompa akan menurun secara tiba-tiba, sehingga pompa tidak dapat
bekerja dengan baik.
c.
Jika pompa dijalankan dalam keadaan kavitasi secara terus menerus dalam jangka
lama, maka permukaan dinding akan termakan sehingga menjadi berlubang-lubang.
Peristiwa ini disebut erosi kavitasi, sebagai akibat dari tumbukan gelembung uap
yang pecah pada dinding secara terus menerus.
44
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
a.
Tekanan gas diperbesar di dalam pipa-pipa dimana fluida yang mengalir
dipompakan.
b.
Sebuah pompa booster dipasang pada ujung pipa isap.
c.
Sebuah axial wheel atau
helical wheel dipasang tepat di depan impeler pada poros
yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk membuat pusaran (whirl) terhadap aliran.
Cara ini merupakan pilihan yang paling baik. Akan tetapi, apabila kecepatan
putaran (n) dan debitnya (Q) sama dengan kecepatan putaran dan debit dari impeler,
maka kavitasi justru akan terjadi pada runner pembantu itu sendiri. Oleh karena itu,
dalam pemasangan
runner pembantu ini diperlukan pertimbangan yang
sungguh-sungguh sebelum pemasangannya.
Macam - macam tipe kavitasi pada pompa sentrifugal berdasarkan penyebabnya
yaitu:
1. Suction cavitation (kavitasi pada suction)
Kavitasi jenis ini terjadi akibat kekurangan NPSH
A(NPSH aktual). Aturan
umumnya adalah NPSH
Aminimal harus sama atau lebih besar dari NPSH
R(NPSH
yang dibutuhkan) untuk menghindari
suction cavitation. Perbedaan yang besar
antara NPSH
Adengan NPSH
Rdapat menyebabkan resiko kerusakan pada pompa
terutama pada air yang relatif dingin (kurang dari 150 ºF).
2. Recirculation Cavitation
Recirculation Cavitation diakibatkan oleh laju aliran (flow rate) yang rendah
pada pompa. Ada dua tipe dari
recirculation cavitation yaitu
suction side dan
discharge side dimana bisa terjadi pada saat yang bersamaan ataupun terpisah.
Keduanya terjadi akibat fenomena yang sama yaitu aliran balik pada jarak yang
berdekatan satu sama lain.
2.2.1.4 Pengertian NPSH
Net Positive Suction Head (NPSH) adalah tekanan awal bernilai positif yang
45
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
macam tekanan yang memegang peranan. Pertama, tekanan yang ditentukan oleh
kondisi lingkungan dimana pompa dipasang. Kedua, tekanan yang ditentukan oleh
keadaan aliran di dalam pompa.
Oleh karena itu, didefinisikan suatu tekanan kavitasi atau jika dinyatakan dalam
satuan
Head disebut dengan Net Positive Suction
Head (NPSH). Jadi, NPSH dapat
dinyatakan sebagai ukuran keamanan pompa terhadap kavitasi.
Gambar 2.1 NPSH bila tekanan atmosfer bekerja pada permukan air yang dihisap.
Sumber: Sularso (2000:44)
a.
NPSH yang Tersedia
Merupakan head yang dimiliki oleh zat cair pada sisi isap pompa (ekuivalen
dengan tekanan absolut pada sisi isap pompa), dikurangi dengan tekanan uap jenuh
zat cair di tempat tersebut. Pada pompa yang mengisap zat cair dari tempat terbuka
dengan tekanan atmosfer pada permukaan zat cair seperti diperlihatkan pada
gambar 2.1, maka besarnya NPSH yang tersedia adalah:
(21)
Keterangan:
= NPSH yang tersedia (m)
= Tekanan atmosfer (N/m
2)
= Tekanan uap jenuh (N/m
2)
46
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
=Head losses (m)
dengan h
sbertanda positif (+) jika pompa terletak di atas permukaan zat cair yang
dihisap dan negatif (-) jika pompa terletak di bawah permukaan zat cair yang
dihisap.
Dari persamaan tersebut, dapat dilihat bahwa NPSH yang tersedia
merupakan tekanan absolut yang masih tersisa pada sisi isap pompa setelah
dikurangi tekanan uap. Besarnya tergantung pada kondisi luar pompa dimana
pompa tersebut dipasang.
Gambar 2.2 NPSH bila tekanan uap bekerja di dalam tangki air hisap yang tertutup.
Sumber: Sularso (2000:44)
Jika zat cair dihisap dari tangki tertutup seperti pada gambar 2.2, maka P
amenyatakan tekanan absolut yang bekerja pada permukaan zat cair di dalam tangki
tertutup tersebut. Jika tekanan di atas permukan zat cair sama dengan tekanan uap
jenuhnya, maka P
a= P
v, sehingga :
(22)
Harga h
sadalah negatif (-) karena permukaan zat cair dalam tangki lebih
tinggi daripada sisi isap pompa. Pemasangan pompa semacam ini diperlukan untuk
mendapatkan harga
atau NPSH yang positif (+).
b.
NPSH yang Diperlukan
47
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
daripada tekanan pada sisi isap pompa. Hal ini disebabkan kerugian
head di nosel
isap, kenaikan kecepatan aliran karena luas penampang yang menyempit, dan
kenaikan kecepatan aliran karena tebal sudu.
Jadi, agar tidak terjadi penguapan zat cair, maka tekanan pada lubang masuk
pompa dikurangi penurunan tekanan di dalam pompa, harus lebih tinggi daripada
tekanan uap zat cair. Head tekanan yang besarnya sama dengan penurunan tekanan
ini disebut NPSH yang diperlukan.Agar pompa dapat bekerja tanpa mengalami
kavitasi, maka harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut :
NPSH yang tersedia > NPSH yang diperlukan
Harga dari NPSH yang diperlukan, diperoleh dari pabrik pompa yang bersangkutan.
2.2.1.5 Klasifikasi Pompa
Menurut prinsip kerjanya, pompa diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:
A.
Positive Displacement Pump
Merupakan pompa yang menghasilkan kapasitas yang
intermittent, karena
fluida ditekan di dalam elemen-elemen pompa dengan volume tertentu. Ketika
fluida masuk, langsung dipindahkan ke sisi buang sehingga tidak ada kebocoran
(aliran balik) dari sisi buang ke sisi masuk. Kapasitas dari pompa ini kurang lebih
berbanding lurus dengan jumah putaran atau banyaknya gerak bolak-balik pada tiap
satuan waktu dari poros atau engkol yang menggerakkan. Pompa jenis ini
menghasilkan
head yang tinggi dengan kapasitas rendah. Pompa ini dibagi lagi
menjadi:
1.
Reciprocating Pump
(pompa torak)
48
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
memompa cairan kental, dan untuk pompa air ketel pada PLTU. Skema pompa
torak ditunjukkan pada gambar 2.3.
Gambar 2.3 Skema pompa torak.
Sumber: karrasik (2008)
2.
Rotary Pump
Tekanan yang dihasilkan dari pompa ini adalah akibat gerak putar dari
elemen-elemennya atau gerak gabungan berputar. Bagian utama dari pompa
jenis ini adalah :
rumah pompa yang stasioner
rotor, yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang berputar dalam rumah
pompa
49
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
ini banyak dipakai untuk pompa pelumas dan pada
hydraulic power
transmission. Yang termasuk jenis pompa ini adalah:
a.
Gear Pump (Pompa Roda Gigi)
Prinsip kerja dari pompa ini adalah berputarnya dua buah roda gigi
berpasangan yang terletak dalam rumah pompa akan menghisap dan
menekan fluida yang dipompakan. Fluida yang mengisi ruang antar gigi
ditekan ke sisi buang. Akibat diisinya ruang antar sisi tersebut maka pompa
ini dapat beroperasi. Aplikasi dari pompa ini adalah pada sistem pelumasan,
karena pompa ini menghasilkan
head yang tinggi dan debit yang rendah.
Contoh pompa roda gigi terdapat pada gambar 2.4.
Gambar 2.4 Pompa roda gigi.
Sumber: Edward (1996:26)
b.
Pompa Piston
50
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 2.5 Skema pompa piston.
Sumber: Sutikno (1998:30)
B.
Dynamic Pump
Merupakan pompa yang ruang kerjanya tidak berubah selama pompa
bekerja. Untuk merubah kenaikan tekanan, tidak harus mengubah volume aliran
fluida. Dalam pompa ini terjadi perubahan energi, dari energi mekanik menjadi
energi kinetik, kemudian menjadi energi potensial. Pompa ini memiliki elemen
utama sebuah rotor dengan suatu impeler yang berputar dengan kecepatan tinggi.
Yang termasuk di dalam jenis pompa ini adalah pompa aksial dan pompa
sentrifugal.
1.
Pompa Aksial
Prinsip kerja dari pompa ini adalah berputarnya impeler akan menghisap
fluida yang dipompakan dan menekannya ke sisi tekan dalam arah aksial.
Pompa ini cocok untuk aplikasi yang membutuhkan head rendah dan kapasitas
tinggi, seperti pada sistem pengairan. Contoh pompa aksial terdapat pada
gambar 2.6.
51
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2.
Pompa Sentrifugal
Elemen pokok dari pompa ini adalah sebuah rotor dengan sudu-sudu
yang berputar pada kecepatan tinggi. Fluida yang masuk dipercepat oleh
impeler yang menaikkan tekanan maupun kecepatannya, dan melempar fluida
keluar melalui
volute
atau rumah siput. Pompa ini digunakan untuk memenuhi
kebutuhan head medium sampai tinggi dengan kapasitas aliran medium. Dalam
aplikasinya, pompa sentrifugal banyak digunakan untuk proses pengisian air
pada ketel dan pompa rumah tangga. Bagian-bagian dari pompa sentrifugal
adalah stuffling box, packing, shaft, shaft sleeve, vane, casing, eye of impeller,
impeller, casing wear ring dan discharge nozzle.
Gambar 2.7 Penampang memanjang pompa sentrifugal
Sumber: Dietzel (1980:244)
2.2.2 Pompa Sentrifugal dan Prinsip Kerjanya
2.2.2.1 Bagian-Bagian Pompa Sentrifugal
52
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 2.8 Bagian-bagian pompa sentrifugal
Sumber: Sularso (2000:75)
Impeler dipasang pada satu ujung poros dan pada ujung yang lain dipasang
kopling untuk meneruskan daya dari penggerak. Poros ditumpu oleh dua buah bantalan.
Sebuah paking atau perapat dipasang pada bagian rumah yang ditembus poros, untuk
mencegah air membocor keluar atau udara masuk dalam pompa.
a. Impeler
Merupakan bagian yang berputar dari pompa dan memberikan daya pada air,
sehingga air akan mendapatkan energi spesifik berupa kecepatan dan tekanan. Di
dalam rumah siput, kecepatan air secara berangsur-angsur diubah menjadi tekanan
statis. Jenis-jenis impeler ditunjukkan pada gambar 2.9. Jenis-jenis impeler yaitu:
•
Impeler Tertutup
53
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
•
Impeler Terbuka dan Semi Terbuka
Dengan kondisinya yang terbuka atau semi terbuka, maka kemungkinan
adanya sumbatan pun jauh berkurang. Hal ini memungkinkan adanya
pemeriksaan impeler dengan mudah. Namun, jenis impeler ini hanya dapat diatur
secara manual untuk mendapatkan setelan terbaik.
•
Impeler Pompa Berpusar/Vortex
Pompa yang digunakan untuk memompa bahan-bahan yang lebih padat
ataupun berserabut dari fluida cair, impeler
vortex dapat menjadi pilihan yang
baik. Pompa jenis ini 50% kurang efisien dari rancangan konvensionalnya.
Gambar 2.9 Jenis impeler
Sumber: Anonymous 8 (2013)
b. Rumah Pompa
Desain rumah pompa ditunjukkan oleh gambar 2.10. Rumah pompa memiliki
beberapa fungsi, antara lain:
1.
Berfungsi sebagai pengarah fluida yang dilemparkan impeler. Akibat gaya
sentrifugal yang menuju pompa tekan, sebagian energi kinetik fluida diubah
menjadi tekanan.
2.
Menutup impeler pada penghisapan dan pengiriman pada ujung dan sehingga
berbentuk tangki tekanan.
54
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 2.10 Desain rumah pompa
Sumber: Edward (1996:20)
c. Poros Pompa
Sebagai penerus putaran pengerak kepada impeler dan pompa. Poros pompa
dibedakan menjadi dua, yaitu :
Poros pompa datar atau horizontal
Poros pompa tegak atau vertikal
d. Cincin Penahan Keausan atau Cincin Perapat (Waring Ring)
Untuk mencegah keausan rumah pompa dan impeler pada sambungan yang
bergerak (running joint), maka dipasang cincin penahan keausan (waring ring) yang
disebut juga cincin rumah pompa atau cincin perapat.
e. Bantalan Poros
55
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
(a)
(c)
(b)
(d)
Gambar 2.11 Bantalan praktis untuk pompa (a) rol, (b) horizontal, (c) vertikal dan (d)
kingsbury
Sumber: Edward (1996:22)
f. Selongsong Poros
Berfungsi utuk mencegah kebocoran udara ke dalam pompa bila beroperasi
dengan tinggi isap (suction lift) dan untuk mendistribusikan cairan perapat secara
merata di sekeliling ruang cincin (anular space) antara lubang peti dan permukaan
selongsong poros. Selongsong poros disebut juga sangkar perapat atau cincin
lantern. Skema selongsong poros pompa ditunjukkan oleh gambar 2.12.
Gambar 2.12 Selongsong poros pompa
Sumber: Edward (1996:22)
56
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
g. Peti Gasket
Berfungsi untuk mencegah udara bocor ke dalam rumah pompa bila tekanan
di dalamnya berada di bawah tekanan atmosfer.
h. Perapat Poros (Perapat Mekanis)
Digunakan untuk mencegah kebocoran di sekeliling poros. Perapat poros ini
juga dipakai apabila peti gasket tidak dapat mencegah kebocoran secara maksimal.
Permukaan perapat tegak lurus terhadap poros pompa dan biasanya terdiri dari dua
bagian yang dihaluskan dan dilumasi. Perapat poros dibedakan menjadi dua, yaitu
jenis dalam dan jenis luar. Jenis luar dipakai apabila cairan yang dipompa berpasir
dan tidak diinginka adanya kebocoran pada peti gasket. Jenis dalam digunakan untuk
cairan yang mudah menguap. Skema perapat mekanis dapat dilihat pada gambar
2.13.
Gambar 2.13 Perapat Mekanis
Sumber: Edward (1996:24)
2.2.2.2 Prinsip Kerja Pompa Sentrifugal
57
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
menjadi energi tekanan di dalam rumah pompa. Besarnya tekanan yang timbul
tergantung pada besarnya kecepatan fluida.
2.2.3 Teori dan Persamaan yang Mendukung Percobaan
2.2.3.1 Persamaan Bernoulli
Syarat
–
syarat berlakunya persamaan Bernoulli adalah:
Aliran steady
Aliran incompressible
Aliran tanpa gesekan
Aliran menurut garis arus (sepanjang streamline)
Suatu aliran fluida incompresible yang memiliki tekanan (P), kecepatan (v), dan
beda ketinggian (z) mempunyai energi aliran fluida sebesar :
Persamaan energi :
(23)
(24)
Persamaan energi spesifik tiap satuan massa:
(25)
Persamaan energi spesifik tiap satuan berat (head):
(26)
Persamaan Bernoulli umumnya ditulis dalam bentuk :
g
tekanan P
1, luas penampang A
1, dan kecepatan v
1. Perubahan bentuk energi akan terjadi
58
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
menjadi v
2dan tekanan P
2akan berkurang. Hal ini dapat terlihat jelas apabila letak pipa
dalam keadaan horizontal (z
1=z
2).
Jadi, persamaan Bernoulli dapat dinyatakan sebagai berikut:“pada tiap saat dan
tiap posisi yang ditinjau dari suatu aliran di dalam pipa tanpa gesekan yang tidak
bergerak akan mempunyai jumlah energi ketinggian tempat, tekanan, dan kecepatan
yang sama besarnya”.
2.2.3.2 Persamaan Kontinuitas
Disebut juga hukum kekekalan massa, bahwa laju perubahan massa fluida yang
terdapat dalam ruang yang ditinjau pada selang waktu dt harus sama dengan perbedaan
antara jumlah massa yang masuk dan laju massa yang keluar ke dan dari elemen fluida
yang ditinjau.
Pada fluida tak termampatkan, massa jenis fluida selalu sama di setiap titik yang
dilaluinya. Massa fluida yang mengalir dalam pipa dengan luas penampang A1
(diameter pipa besar) selama selang waktu tertentu:
(28)
(29)
(30)
(31)
̇
(32)
Mengingat bahwa dalam aliran tunak, massa fluida yang masuk sama dengan massa
fluida yang keluar, maka:
̇
̇
(33)
(34)
(35)
Keterangan:
Luas penampang 1
Luas penampang2
Kecepatan aliran fluida pada penampang 1
Kecepatan aliran fluida pada penampang 2
59
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2.2.3.3 Segitiga Kecepatan
Fluida mengalir kedalam pompa dikarenakan terhisap oleh impeler yang
berputar. Diasumsikan bahwa aliran fluida yang terjadi adalah aliran dua dimensi, dan
bahwa fluida mengikuti sudu-sudu impeler dengan tepat, maka kecepatan masuk dan
keluar untuk suatu impeler yang mempunyai sudu-sudu mengarah ke belakang
ditunjukkan pada gambar 2.14. u adalah kecepatan keliling suatu titik pada impeler, w
adalah kecepatan partikel fluida relatif terhadap impeler, dan c adalah kecepatan
absolut fluida (kecepatan relatif suatu titik pada impeler relatif terhadap frame yang
diam / tanah). c merupakan hasil penjumlahan secara vektor dari u dan w. Diagram
segitiga kecepatan masuk dan keluar impeler dapat dilihat pada gambar 2.14.
Gambar 2.14 Diagram segitiga kecepatan masuk dan keluar
Sumber: Church (1986:77)
Sudut antara c dan u disebut
α, sudut antara w dan perpanjangan u disebut β
.
S
udut β juga merupakan sudut yang dibuat antara garis singgung terhadap sudu impeler
60
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 2.15 Diagram segitiga kecepatan masuk dan keluar
Sumber: Church (1986:77)
2.2.3.4 Karakteristik Instalasi Pompa Seri dan Pompa Paralel
a.
Pompa Seri
Instalasi pompa yang disusun seri bertujuan untuk memperoleh fluida
dengan nilai head tekanan yang sangat tinggi dengan kapasitas fluida yang rendah.
Grafik pada gambar 2.16 menunjukkan bahwa head total yang tinggi pada pompa
yang tersusun seri diperoleh dengan menjumlahkan
head pompa 1 dengan
head
pompa 2:
H
total= H
1+ H
2(36)
Gambar 2.16 Operasi seri dari pompa dengan karakteristik berbeda
Sumber: Sularso (2000:95)
b.
Pompa Paralel
Instalasi pompa yang disusun paralel bertujuan untuk memperoleh fluida
dengan kapasitas yang tinggi namun
head tekanan yang diperoleh rendah. Pada
gambar 2.17 didapatkan kapasitas (Q) aliran yang tinggi diperoleh dengan cara
menjumlahkan kapasitas aliran pompa 1 (Q
1) dengan kapasitas aliran pompa 2 (Q
2).
61
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 2.17 Operasi paralel dari pompa dengan karakteristik berbeda
Sumber: Sularso (2000:94)
2.2.4 Rumus Perhitungan
2.2.4.1 Pompa Tunggal
1.
Head (H)
(m) (38)
Keterangan:
: Tekanan buang (N/m
2)
: Tekanan buang (N/m
2)
: berat jenis air =
water. g (N)
2. Kapasitas (Q)
(39)
Keterangan:
h = beda ketinggian fluida pada manometer (mmHg)
3. Putaran (n)
Satuan : rpm
Diukur dengan tachometer digital
4. Torsi (T)
(40)
Keterangan:
F = Gaya / beban (N)
L = Panjang lengan mmen = 0,179 m
5. Daya (W)
Daya Poros (W
1) :
L
F
T
) / ( 1000
189 ,
0 3
62
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
(41)
2.2.4.2 Pompa Seri
1.
Head
h = beda ketinggian fluida pada manometer (mm).
63
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
4. Daya (W)
2.2.4.3 Pompa Paralel
1.
Head
64
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
3. Torsi (T)
2.3 Pelaksanaan Percobaan
2.3.1 Variabel yang Diamati
65
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Variabel bebas adalah variabel yang dapat ditentukan sendiri dan tidak
dipengaruhi variabel lain. Dalam percobaan pompa sentrifugal ini, variabel bebas yang
diamati adalah besarnya kecepatan putaran poros dan putaran katup.
2.3.1.2 Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi variabel bebas.
Variabel terikat dalam percobaan pompa sentrifugal ini antara lain:
a.
Besarnya head pompa yang dipengaruhi oleh beda tekanan isap dan tekanan buang.
b.
Besarnya daya air dan daya poros dari pompa.
c.
Besarnya kapasitas pompa yang ditentukan oleh beda ketinggian fluida pada
manometer.
d.
Besarnya torsi dari pompa.
2.3.1.3 Variabel Terkontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga variabel bebas dan variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang
diteliti. Variabel kontrol dalam percobaan pompa sentrifugal ini adalah besarnya
kecepatan putaran motor yang dijaga konstan.
2.3.2 Spesifikasi Peralatan yang Digunakan
Dalam pengujian pompa sentrifugal ini, digunakan perangkat pompa sentrifugal
dengan spesifikasi sebagai berikut :
Equipment
: Two Stage Centrifugal Pump
Serial No.
: TE 83/5806
Date
: 8 Maret 1982
Suplied to
: Karl Klub KG (for Indonesia)
Electrical Supply : 220 Volt, 1 Phase, 50 Hz
1
stStage
2
ndStage
Driving motor type
Neco Shunt
Neco Shunt
Serial no.
C 166415.C
C 166415.B
Speed
Variable 0 to 3000 rev/min
Variable 0 to 3000 rev/min
66
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Electrical control type
Neco electrical 2AF ISO
Neco electrical 2AF ISO
Pump type
Stuart no 25/2
Stuart no 25/2
Max head
13 m
13 m
Max flow
130 L/minute
130 L/minute
Power Constant
:
35 , 53
min /
rev Newton
Watts
Tachometer
: Compand Type M 48, No. 62637
Venturi
Calibration
:
v0,2 hDiameters D = 37,5 mm dan d = 22,2 mm
Note
: Electrical Warning Labels Fitted
67
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2.3.3 Instalasi Alat Percobaan dan Bagian-bagian
Gambar 2.20 Skema instalasi pompa
Sumber: Buku Petunjuk Praktikum Mesin Fluida
A
B
C
D
1
68
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Instalasi percobaan ini terdiri dari 2 pompa sentrifugal, yaitu pompa I (P
1) dan
pompa II (P
2) yang masing-masing digerakkan oleh sebuah motor listrik (M) yang
dihubungkan dengan neraca pegas. Sebuah panel pengaturan dan alat ukur (manometer
raksa dan manometer bourdon). Jaringan pipa dilengkapi dengan dua katup isap yaitu
katup pompa I (A) dan katup pompa II (B). Sebuah katup pengatur aliran tunggal, seri
dan paralel (C), sebuah katup pengatur keluaran (D), sebuah venturi (V)
2.3.4 Langkah Percobaan
1.
Periksa kedudukan alat ukur agar tidak menyimpang.
2.
Pastikan tangki terisi air.
3.
Pastikan dinamometer dalam keadan setimbang.
4.
Katup A dibuka, katup B ditutup (pengujian pompa tunggal).
5.
Pompa I dihidupkan .
6.
Besar putaran dilihat pada tachometer digital, jaga putaran tetap konstan.
7.
Dalam keadan katup buang tertutup, catat data pada alat ukur.
8.
Ulangi langkah 7 dengan memutar katup buang 180
o, tiap pengambilan data.
Lakukan hingga terbuka penuh.
9.
Untuk mengakhiri pengujian, putar perlahan pengatur kecepatan agar kecepatan
melambat. Katup buang ditutup kembali, matikan mesin.
10.
Pada pengujian pompa seri, katup C diubah kedudukannya 180
odan pompa II
dihidupkan. Langkah 7 dan 8 diulangi lagi.
11.
Pada pengujian pompa paralel, katup C diubah kedudukannya 180
o(seperti
kedudukan awal). Katup B dibuka dan pompa I dinyalakan. Langkah 7 dan 8
diulangi lagi .
12.
Percobaan selesai.
2.4 PENGOLAHAN DATA
2.4.1 Data Hasil Percobaan
(terlampir)
2.4.2 Pengolahan Data
2.4.2.1 Contoh Perhitungan
69
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
1. Kapasitas (Q)
...
...
...
...
...
...
...
...
2. Head
...
...
...
...
...
...
...
3. Torsi (T)
...
...
...
...
...
...
...
4. Daya Poros (W
1)
70
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
...
...
...
...
...
...
...
5. Daya Air (W
2)
...
...
...
...
...
...
6. Efisiensi (
)
...
...
...
...
...
...
...
...
B. Pompa SERI
1. Kapasitas (Q)
71
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
...
...
...
...
...
2. Head
...
...
...
...
...
3. Torsi (T)
...
...
...
...
...
...
...
4. Daya Poros (W
1)
72
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
5.Daya Air (W
2)
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
6.Efisiensi (
)
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
C. Pompa PARALEL
1. Kapasitas (Q)
73
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
...
...
...
...
...
2. Head
...
...
...
...
...
...
...
...
3. Torsi (T)
...
...
...
...
...
...
...
4. Daya Poros (W
1)
74
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
5.Daya Air (W
2)
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
6. Efisiensi (
)
75
LABORATORIUM MESIN-MESIN FLUIDATEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA