• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH - Pengaruh Dimensi-Dimensi Job Demands Dan Dimensi-Dimensi Job Resources Terhadap Employee Engagement Di Lonsum Kantor Cabang Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH - Pengaruh Dimensi-Dimensi Job Demands Dan Dimensi-Dimensi Job Resources Terhadap Employee Engagement Di Lonsum Kantor Cabang Medan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk didirikan oleh Harrisons & Crosfield

Plc di tahun 1906. Perkebunan London-Sumatra, yang kemudian lebih dikenal

dengan nama “Lonsum”, berkembang menjadi salah satu perusahaan perkebunan

terkemuka di dunia, dengan lebih dari 100.000 hektar perkebunan kelapa sawit,

karet, kakao dan teh di empat pulau terbesar di Indonesia.

Di awal berdirinya, Perseroan melakukan diversifikasi melalui penanaman

karet, teh dan kakao. Di awal kemerdekaan Indonesia, Lonsum lebih memfokuskan

usahanya pada tanaman karet, dan kemudian beralih ke kelapa sawit di era tahun

1980. Pada akhir dekade berikutnya, kelapa sawit telah menggantikan karet sebagai

komoditas utama Perseroan.

Lonsum memiliki perkebunan inti dan perkebunan plasma di Sumatera,

Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, yang memanfaatkan keunggulan Perseroan di

bidang penelitian dan pengembangan, keahlian di bidang agro-manajemen, serta

tenaga kerja yang terampil dan profesional. Kini, Lonsum telah menjadi salah satu

penghasil minyak sawit lestari terbesar di Indonesia, dengan produksi sekitar

195.000 ton minyak sawit lestari setiap tahunnya.

Di tahun 1994, Harrisons & Crosfield menjual seluruh kepemilikan

(2)

kemudian mencatatkan Lonsum sebagai perusahaan publik melalui pencatatan

saham di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada tahun 1996. Pada bulan Oktober

2007, Indofood Agri Resources Ltd (IndoAgri), anak perusahaan PT. Indofood

Sukses Makmur Tbk di bidang agribisnis, menjadi pemegang saham mayoritas

Perseroan melalui anak perusahaannya di Indonesia, PT. Salim Ivomas Pratama Tbk

(SIMP), sehingga Perseroan menjadi bagian dari Grup Indofood (Grup). Di bulan

Desember 2010, IndoAgri melepaskan 8% kepemilikannya di Lonsum, dimana

3,1% dijual ke SIMP. Pelepasan kepemilikan ini telah meningkatkan porsi saham

bagi investor publik menjadi sebesar 40,5% dari 35,6% (sumber: 2011 Annual

Report PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk).

Beralihnya saham mayoritas Lonsum ke tangan PT. Indofood Sukses

Makmur, Tbk. membuat Lonsum mengalami proses yang disebut sebagai akuisisi.

Akuisisi merupakan proses pembelian properti atau sumber daya sebuah

perusahaan oleh perusahaan pembeli yang memegang peran yang lebih dominan

dan kuat (Muchinsky, 2003). Dalam hal ini, PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.

menjadi perusahaan pembeli dan Lonsum menjadi perusahaan yang dibeli.

Menurut Jones (2004), akuisisi sebagai sebuah perubahan terencana

memiliki beberapa target perubahan. Target perubahan itu mencakup perubahan

pada sumber daya fungsional, kapabilitas teknologi, kapabilitas organisasi, dan

sumber daya manusia. Target perubahan pertama yaitu perubahan pada sumber

daya fungsional, dapat dilakukan dengan mengubah hubungan antar fungsi-fungsi

(3)

sistem management block, yaitu sistem pemantauan operasional kebun yang

membagi area kebun menjadi blok-blok. Sistem ini diciptakan agar seluruh

kegiatan operasional kebun Lonsum dapat lebih mudah dipantau.

Target perubahan yang kedua adalah pada kapabilitas teknologi sebuah

perusahaan. Kapabilitas teknologi perusahaan mencakup pengembangan produk,

modifikasi produk, hingga pengembangan cara barang dan jasa diciptakan dan

ditampilkan (Jones, 2004). Hal ini tampak pada investasi besar-besaran yang

dihabiskan Lonsum untuk instalasi sistem informasi yang disebut Systems,

Applications, and Products (SAP). Systems, Applications, & Products (SAP)

adalah sebuah perangkat lunak yang dikembangkan untuk mendukung suatu

organisasi dalam menjalankan kegiatan operasionalnya secara lebih efisien dan

efektif. Berikut penuturan yang memaparkan perubahan yang ditargetkan pada

sumber daya fungsional dan kapabilitas teknologi Lonsum:

“Sekarang sih fokus ke tiga sistem, sistem budget, sistem management

block, sama SAP. Itu begitu luar biasanya sampai disebut big bang, gebrakan baru. Itu mahal sekali investasinya. Kan ini ada di setiap wallpaper komputer Go Live SAP. Jadi supaya semua data-data terhubung. Misalnya saya pesan satu buah ban, kalo approvalnya udah disetujui, itu langsung datanya masuk ke GS, habis diapprove langsung masuk ke supplier, dilihat oh begini specnya, langsung masuk invoicenya, semua bisa diketahui orang indofood, sudah otomatis. Cuma yang belum pake itu HR sama GS, HS pun saya rasa belum, sisanya semua uda, fincount sampai ke kebun”

(W60213-W60225/ Hlm. 14)

Target perubahan ketiga terletak pada kapabilitas organisasi. Perubahan

pada kapabilitas organisasi meliputi perubahan struktur dan budaya perusahaan

(4)

merasakan keuntungan dari perubahan teknologi (Jones, 2004). Perubahan pada

kapabilitas organisasi Lonsum ditunjukkan dari perubahan struktur organisasi

dengan menutup dan menggabungkan beberapa departemen hingga

memberhentikan beberapa karyawan termasuk ekspatriat. Di samping itu, banyak

jabatan baru yang bermunculan. Sampai saat ini, struktur organisasi masih terus

dibenahi. Berikut penuturannya:

“…mulai dari awalnya menutup departemen, sampek banyak yang

dikeluarkan, yang nangis-nangis. Dulu kan ada departemen security, sekarang uda digabung sama GS. HR juga sekarang lagi pilot project mulai dibagi per unit-unit. Kami pun dulu bukan Recruitment and

Training, tapi training aja.”

(W20012-W20017/ Hlm. 3)

“Gak tau tuh, sejak sama grup masih diubah terus setiap bulan struktur organisasinya.”

(W20009/ Hlm. 3)

Target perubahan yang keempat terletak pada sumber daya manusia.

Kompetensi karyawan berupa ketrampilan dan kemampuan merupakan modal

utama perusahaan untuk berkompetisi. Perusahaan harus mencari cara yang paling

efektif dalam memotivasi dan mengatur sumber daya manusia dalam memperoleh

dan menggunakan ketrampilan mereka. Usaha perubahan dapat ditujukan pada

investasi baru pada kegiatan pengembangan dan pelatihan karyawan, sosialisasi

struktur organisasi baru kepada karyawan, mengubah nilai perusahaan agar

mendukung tenaga kerja multikultural, memeriksa sistem promosi dan reward, dan

mengubah komposisi otonomi manajemen puncak untuk mendukung pembelajaran

(5)

Beberapa perubahan yang telah terjadi pada level sumber daya manusia di

Lonsum antara lain dikuranginya anggaran untuk pengembangan dan pelatihan

karyawan dari Rp. 6 Miliar menjadi Rp. 2 Miliar per tahun. Selain itu, sistem

reward karyawan Lonsum juga mengalami perubahan. Cuti panjang telah

dihapuskan dan perhitungan bonus diubah. Derajat otonomi karyawan ditunjukkan

dari kegiatan operasional perusahaan yang memerlukan persetujuan hingga ke

jajaran direktur sehingga proses menjadi panjang dan lambat. Berikut penuturannya:

“Pengurangan biaya itu contohnya budget training kita. Dulu 6 miliar, sekarang jadi 2 miliar aja setahun. Iyah, dah itu promosi pun susah. Tapi promosi gak promosi pun sama aja, orang gajinya cuma beda sikit-sikit gak terlalu berarti kalo yang tahunan.”

(W20032-W20040/ Hlm. 4)

“Iyah bisa dibilang fokus ke SDM berkurang sih, dulu ada cuti panjang sekarang gak ada lagi. Bonus juga ada perubahan sedikit.”

(W60197-W60199/ Hlm. 14)

“Nah kalo ini sekarang kan karena harus tanda tangan hingga ke BOD,

jadi kadang prosesnya bisa jadi lambat, bukan karena prosesnya panjang tapi karena belum tentu direktur-direktur itu ada di tempat, tapi harus sampai ke mereka. Hal yang kecil-kecil aja harus persetujuan direktur. Ini kadang buat semua proses jadi lambat. Uda overlapping approvalnya, berlapis-lapis.”

(W90014-W90023/ Hlm. 23)

Keempat target perubahan di atas memiliki hubungan interdependen yang

artinya perubahan satu target tidak mungkin sukses tanpa perubahan target lainnya

ke arah yang lebih baik (Jones, 2004). Ditinjau dari empat target perubahan di atas,

Lonsum banyak memberi fokus pada tiga target yaitu sumber daya fungsional,

kapabilitas teknologi, dan kapabilitas organisasi. Sedangkan untuk kapabilitas

(6)

Sependapat dengan Jones (2004), Porras dan Robertson (1992) menyatakan

bahwa kinerja sebuah organisasi memiliki hubungan saling ketergantungan dengan

perkembangan individu dalam organisasi. Perkembangan individu yang tidak

disertai perkembangan organisasi tidak akan berjalan efektif. Begitu pula

sebaliknya, kinerja organisasi tidak akan bertahan jika perkembangan individu tidak

diperhatikan.

Selain memperhatikan perkembangan karyawan, perusahaan juga harus

memberikan informasi yang jelas kepada karyawan mengenai perubahan yang

terjadi. Worley, Hitchin, dan Ross (1996) mengemukakan bahwa ketika sebuah

perusahaan mengubah strateginya agar dapat bersaing secara lebih kompetitif,

karyawan harus diinformasikan, dilibatkan, dan dimotivasi untuk membantu

perubahan yang diinginkan. Moran dan Panasian (2005) menambahi bahwa jika

sebuah perubahan tidak diatur dengan baik, maka akan menimbulkan

ketidakjelasan dan ketidakpercayaan kepada manajemen baru, semangat kerja yang

menurun, ketidakpuasan kerja, perilaku kerja yang tidak produktif, intensi untuk

meninggalkan perusahaan, dan turnover yang tinggi.

Nyatanya, banyak karyawan Lonsum yang tidak mendapatkan informasi

sepenuhnya mengenai perubahan yang terjadi. Karyawan hanya menjalankan

sistem atas perintah manajemen. Hal ini menyebabkan karyawan merasakan

ketidakjelasan, kekesalan, hingga menimbulkan intensi untuk meninggalkan

perusahaan. Beberapa karyawan merasa mereka tidak lagi dipandang sebagai “aset”

(7)

pun menunjukkan intensi untuk meninggalkan perusahaan. Berikut penuturan

karyawan yang mencerminkan hal tersebut:

“Sistem juga masih terus mengalami perubahan, yang ngeselin gak jelas kenapa harus diganti terus, kalo jelas yah gak apa-apa, ini tahu tahu

ganti lagi, eh besok ganti lagi.”

(W90068-W90071/ Hlm. 24)

“Sekarang ini kami udah gak dipandang sebagai aset lagi, tapi alat

untuk menjalankan sistem.” (W50088-W50090/ Hlm. 10)

“Iyah memang karena lagi ada perubahan, banyak sekali yang dibenahi,

ini juga saya banyak diminta tenaga kerja di sana sini, saya pun pusing juga banyak yang resign soalnya. Kalo terus menerus didesak kayak gini

mungkin dua tiga tahun saya mau resign.”

(W50038-W50043/ Hlm.9)

Porras dan Robertson (1992) mengemukakan bahwa perubahan dalam

komponen organisasi akan menyebabkan perubahan perilaku kerja

anggota-anggota organisasi baik menjadi positif maupun negatif. Perilaku kerja yang positif

misalnya karyawan menjadi semakin semangat bekerja, tertantang, dan

mengembangkan inovasinya. Perilaku kerja yang negatif misalnya karyawan

menjadi harus bekerja ekstra, tidak sempat memperhatikan detil, dan sebagainya.

Perubahan perilaku kerja karyawan Lonsum tampak pada saat kantor pusat

meminta reviu anggaran dari setiap departemen dalam tenggat waktu yang sempit,

sehingga beberapa karyawan sering lembur dan pulang malam. Begitu pula dengan

rapat operasional yang sering dilaksanakan hingga larut malam. Ada pula rapat di

(8)

Sekarang itu meeting bisa sampe pagi di Jakarta. Asal review budget semua kerja sampe malam-malam. Sekarang ini makin banyak kerjaannya jadi gak bisa pulang-pulang. Pusat banyak minta database dulu, jadinya lembur terus.

(W10048-W0052/ Hlm. 4)

“Ops meeting bisa sampai pagi hari, ada juga rapat yang dijadwalkan

memang dini hari dan harus hadir. Gilak kan… selenggarakan di hotel

makanya orang tuh seharian disana pelototin presentasi aja dah gak sanggup kemana-mana lagi.”

(W40049-W40053/ Hlm. 7)

Sebagai tambahan hasil wawancara di atas, hasil observasi di Lonsum kantor

cabang Medan juga menunjukkan bahwa beberapa karyawan memang sering

bekerja lembur dan terkadang di hari Sabtu (bukan hari kerja). Berikut penuturan

salah seorang karyawan yang menunjukkan hal tersebut:

“Iyah mau tak mau lah datang Sabtu selesaiin karena masih banyak gak terkejar. Ini tiba-tiba diminta cepat, banyak kali loh, dari tahun 2010

diminta.”

Selain sering lembur dan rapat, perubahan perilaku kerja lainnya juga

tampak terjadi. Beberapa karyawan menjadi kurang memperhatikan kualitas

pekerjaan dan cenderung perhitungan terhadap perusahaan. Hal ini terlihat dari

perilaku mengerjakan pekerjaan asal selesai dan sikap perhitungan yang ketat sekali

dengan jam kerja. Berikut penuturan mereka:

“Ya lumayan lah, ada kerjaan apa dari atasan ya kerjakan ajah. Disuru begini ya begini, disuruh begitu ya begitu. Jalankan saja apa yang

disuruh bos.”

(9)

“Ngapain lama-lama disini, yang penting kerjaan apa yang dikasi, selesaikan, habis itu pulang aja. Sesuai jam kerja dong. Datang jam segini, pulang juga jam yang pas, gak mungkin ada yang marah.”

(W30003-W30006/ Hlm. 5)

Apanya yang bekerja dengan hati, dengan beban sebesar ini gimana mau bekerja dengan hati. Bullshit itu. Uda syukur kalo selesai.

(W40058-W40060/ Hlm. 7)

Hasil observasi di lingkungan kantor mendukung hasil wawancara di atas.

Beberapa karyawan terlihat senang membicarakan kejelekan atasan pada jam makan

siang. Salah seorang karyawan menyatakan agar jangan terlalu mendengarkan

perkataan atasannya karena atasannya pintar pintar bodoh. Berikut kutipan

obrolannya:

“Dia itu pinpinbo, pintar pintar bodoh, tapi dia banyakan bodohnya, makanya jangan didengar kali omongannya.”

Uraian perilaku kerja di atas, yaitu mengerjakan pekerjaan asal selesai,

perhitungan, dan senang membicarakan hal negatif mengenai atasan, merupakan

ciri-ciri perilaku karyawan yang kurang terikat (disengaged). Marciano (2010) dan

Vazirani (2007) menyatakan bahwa karyawan yang disengaged biasanya tidak

memiliki hubungan yang produktif dan cenderung berbicara negatif mengenai

atasan dan rekan kerja. Mereka juga sangat perhitungan dengan tuntutan perusahaan

dan kontribusi yang dikeluarkan.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa employee engagement

merupakan variabel utama yang dapat menentukan kesuksesan perusahaan dalam

(10)

berskala besar, karyawan yang engaged merupakan kunci keberhasilan dan

profitabilitas organisasi (Ott, 2007).

Marciano (2010) membagi tingkat employee engagement menjadi 5 level

yaitu: actively disengaged, disengaged, opportunistic, engaged, actively engaged.

Karyawan yang actively disengaged adalah karyawan yang menyebabkan

kekacauan. Karyawan disengaged adalah karyawan yang akan berjalan melewati

kekacauan tanpa berpikir untuk membereskannya. Sedangkan karyawan

opportunistic akan membereskan kekacauan jika hal itu menguntungkan mereka.

Karyawan engaged akan membereskan apa yang mereka lihat. Hanya karyawan

yang actively engaged akan membereskan kekacauan sekaligus mencegah

munculnya kekacauan tersebut di masa yang akan datang.

Peneliti melakukan survei pada 76 orang karyawan Lonsum kantor cabang

Medan untuk memperkuat hasil wawancara dan observasi terkait dengan employee

engagement, dengan hasil sebagaimana terlihat pada diagram di bawah ini:

4%

29%

42% 12%

13%

Gambar 1. Diagram Hasil Survei Employee Engagement Actively Disengaged

Disengaged

Opportunist

Engaged

(11)

Diagram tersebut menunjukkan persentase kategorisasi employee

engagement di Lonsum kantor cabang Medan dengan hasil sebagai berikut: sebesar

4% karyawan terkategori actively disengaged, 29% karyawan terkategori

disengaged, 32% mayoritas karyawan berada pada kategori opportunistic, 12%

karyawan terkategori engaged, dan 13% karyawan terkategori actively engaged.

Jumlah karyawan yang engaged dan actively engaged sebanyak 25% serta jumlah

karyawan yang disengaged dan actively disengaged sebanyak 33%. Hasil survei ini

mengkonfirmasi bahwa employee engagement menjadi variabel yang harus

diperhatikan di Lonsum, mengingat angka sebesar 33% karyawan disengaged dan

32% karyawan opportunistic merupakan hal yang rawan bagi perusahaan. Seperti

dikutip dari Marciano bahwa karyawan yang disengaged merugikan seperti racun

yang dapat merusak perusahaan dan karyawan opportunistic mudah goyah seperti

lilin yang dapat mengeras dan meleleh lagi. Oleh karena itu, peneliti mengangap

penting untuk mengetahui secara pasti gambaran employee engagement di Lonsum

kantor cabang Medan.

Selanjutnya, perlu dipelajari tentang hal-hal yang terkait dengan employee

engagement. Salah satu model konseptual yang berusaha menjelaskan dinamika

employee engagement adalah Job Demands-Resources Model. Model ini

diperkenalkan oleh Demerouti (2001). Model ini mengemukakan bahwa setiap jenis

pekerjaan apapun terdiri dari dua aspek, yaitu tuntutan/ beban kerja (job demands)

dan sumber daya kerja (job resources). Job demands mengacu pada aspek pekerjaan

(12)

maupun fisiologis bagi karyawan. Sedangkan job resources mengacu pada aspek

pekerjaan yang berfungsi membantu karyawan mengatasi job demands dan

konsekuensi fisiologis maupun psikologis yang terjadi, dan menstimulasi

pertumbuhan, pembelajaran, dan pengembangan personal (Demerouti, 2001).

Hakkanen (2008) menemukan adanya korelasi negatif yang lemah antara job

demands dengan employee engagement. Sedangkan Llorens (2006) menemukan

hubungan positif antara job resources dengan employee engagement. Penelitian

Hakkanen dan Llorens diperkuat oleh Schaufeli dan Bakker (2004) menemukan

bahwa ketika job demands yang tinggi diimbangi dengan job resources yang baik

dari perusahaan, karyawan akan termotivasi, tertantang, dan meningkatkan

engagement-nya.

Job demands dapat terlihat dari konflik emosional, tekanan waktu, jam kerja

yang tidak beraturan, beban kerja fisik, maupun desain kerja yang buruk. Job

demands tidak selalu merugikan, hanya saja ketika usaha yang dituntut pekerjaan

melebihi kapabilitas karyawan, energi karyawan akan terkuras dan mengakibatkan

burnout serta masalah kesehatan lainnya seperti kelelahan (fatigue), iritabilitas, dan

meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis. (Schaufeli dan Bakker 2004; Bakker

et al., 2003; Hakanen et al., 2006; Llorens et al., 2006).

Selanjutnya peneliti menelusuri job demands di Lonsum dengan

mewawancarai beberapa karyawan di Lonsum. Adapun eviden job demands di

Lonsum antara lain: kuantitas pekerjaan yang banyak dalam tenggat waktu yang

(13)

07.30-16.00 menjadi 08.00-17.00. Selain kuantitas dan tekanan waktu, pekerjaan

juga menyebabkan beban emosional dan beban kognitif bagi karyawan. Hasil

observasi di departemen HR menunjukkan salah seorang karyawan menjadi mudah

marah dan membanting barang ketika didesak untuk mempercepat pekerjaan.

Sedangkan untuk beban kognitif terlihat dari karyawan yang tidak lagi mampu

menempatkan prioritas pekerjaan dan harus memikirkan banyak item pekerjaan

sekaligus. Berikut penuturannya:

“Sekarang pun kerjanya udah gak benar, banyak kerjaan dan semuanya

urgent, jadi yang mana yang mau diutamakan. Yang benar itu kan ada

kerjaan gak semua urgent, jadi bisa menggali inovasi dan kreativitas.”

(W60067-W60071/ Hlm. 11)

“Liat lah sekarang aku disini jaga interview, tapi pikiranku kemana -mana, sana sini tanya aku ini rekrutmen udah sampe mana prosesnya, ini udah medical check-up belum, tolong ini segera, semua mau diutamakan, sedangkan pikiran aku harus fokus juga untuk interview, mau pecah kepalaku. Kalo dulu itu kerjaan ini dibagi dua, jadi E yang ngurusin seleksinya mulai dari aplikasi awal, saya yang ngurus proses

selanjutnya.”

(W40012-W40020/ Hlm. 6)

Perilaku kerja di atas menggambarkan dimensi-dimensi job demands yang

dialami karyawan Lonsum kantor cabang Medan, antara lain beban kerja berlebih

(work overload), beban emosional (emotional load), dan beban kognitif (cognitive

load). Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti ingin mengetahui lebih lanjut

gambaran dimensi-dimensi job demands tersebut di Lonsum kantor cabang Medan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai model Job

(14)

adalah job resources. Job resources dapat meliputi upah, dukungan dari atasan,

umpan balik (feedback), kejelasan peran (role clarity), otonomi pekerjaan (job

autonomy), ataupun pemberdayaan dan lainnya (Schaufeli dan Bakker, 2004).

Kemudian peneliti menelusuri job resources di Lonsum dengan

mewawancarai beberapa karyawan. Berdasarkan hasil wawancara, terlihat beberapa

eviden mengenai kurang baiknya job resources, antara lain ketidakjelasan

pembagian tugas. Hal ini membuat karyawan saling menyalahkan ketika ada tugas

yang tidak beres. Selain tugas yang tidak jelas, karyawan mengeluhkan rekan kerja

yang tidak banyak membantu di saat beban kerja sedang tinggi. Disamping itu,

karyawan juga mengeluhkan atasan yang dirasa kurang mendukung dan sebaliknya

menuntut karyawan. Terlebih lagi kurangnya kesempatan belajar dari perusahaan

karena anggaran pelatihan telah dikurangi. Berikut penuturannya yang menunjukkan

job resources tersebut:

“Itulah kemarin si F yang udah dikirim ke Jakarta. Dia seenak perutnya

saja pergi. Sekarang aku yang kena getahnya ditanya sana sini, aku yang disalahkan atas kerjaannya yang gak beres. Yang lain gak ada yang mau tahu, nutup sebelah mata.”

(W40026-W40027/ Hlm. 6)

“Udahlah terserah dia ajalah mau gimana, suka-suka dia. Sekarang mau pake SOP atau gak. Dia enak aja tinggal nuntut-nuntut. Semuanya

maunya dia.”

(W40039-W40042/ Hlm. 7)

“Dulu itu walau banyak kerjaan, masih ada refreshing course, kita ikut More To Precious Than Good, sekarang mana ada waktu. Mulai 2010

itu udah berkurang, 2012 malah sama sekali gak ada lagi.”

(15)

Perilaku kerja di atas menggambarkan dimensi-dimensi job demands yang

dialami karyawan Lonsum kantor cabang Medan, yaitu ketidakjelasan peran,

kurangnya dukungan dari atasan, kurangnya dukungan dari rekan kerja serta

kurangnya kesempatan untuk belajar. Berdasarkan hasil wawancara tersebut,

peneliti ingin mengetahui lebih lanjut gambaran dimensi-dimensi job resources

(role clarity, supervisory support, coworker support, dan opportunities to learn)

tersebut di Lonsum kantor cabang Medan.

Employee engagement secara signifikan menentukan efektivitas perubahan

organisasi (Matthews, 2008). Model konseptual yang dapat menjelaskan employee

engagement adalah Job Demands-Resources Model (Demerouti, 2001). Oleh

karenanya, penting untuk mengetahui bagaimana pengaruh dimensi-dimensi job

demands dan dimensi-dimensi job resources terhadap employee engagement di

Lonsum kantor cabang Medan.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana gambaran employee engagement di Lonsum kantor cabang

Medan?

2. Bagaimana gambaran dimensi-dimensi job demands di Lonsum kantor

cabang Medan?

3. Bagaimana gambaran dimensi-dimensi job resources di Lonsum kantor

(16)

4. Bagaimana pengaruh dimensi-dimensi job demands dan dimensi-dimensi job

resources terhadap employee engagement di Lonsum kantor cabang Medan?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh

dimensi-dimensi job demands dan dimensi-dimensi job resources terhadap

employee engagement di Lonsum kantor cabang Medan.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti bagi disiplin

ilmu psikologi industri dan organisasi khususnya di bidang Perilaku

Organisasi yang berkaitan dengan employee engagement,

dimensi-dimensi job demands, dan dimensi-dimensi-dimensi-dimensi job resources.

b. Memberikan sumbangan untuk memperkaya sumber kepustakaan dan

dijadikan sebagai bahan referensi teoritis dan empiris yang dapat

menjadi penunjang untuk penelitian di masa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

a. Membantu perusahaan untuk memahami employee engagement serta

peran dimensi-dimensi job demands dan dimensi-dimensi job

(17)

b. Merancang intervensi yang sesuai dengan hasil penelitian di

perusahaan.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan sistematika penulisan. Disini digambarkan tentang berbagai

tinjauan literatur, fenomena dan hasil penelitian sebelumnya mengenai employee

engagement, dimensi-dimensi job demands, dan dimensi-dimensi job resources.

Bab II Landasan Teori

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi objek

penelitian. Memuat landasan teori tentang employee engagement, job demands,

dan job resources. Bab ini juga mengemukakan hipotesa sebagai jawaban

sementara terhadap masalah penelitian yang menjelaskan pengaruh

dimensi-dimensi job demands dan dimensi-dimensi job resources terhadap employee

engagement.

(18)

Bab ini menguraikan identifikasi variabel penelitian, definisi operasional

variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, dan tahapan pelaksanaan

penelitian.

Bab IV Analisa Data dan Pembahasan

Bab ini berisi gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian yang disertai

dengan interpretasi, hasil penelitian tambahan yang didapat dan pembahasan

mengenai kesesuaian maupun ketidaksesuaian antara data penelitian yang

diperoleh dengan penelitian yang telah ada.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Bab ini menguraikan kesimpulan sebagai jawaban permasalahan yang

diungkapkan berdasarkan hasil penelitian dan saran penelitian yang meliputi

saran praktis dan saran untuk penelitian selanjutnya.

Rancangan Intervensi

Bagian ini berisi rancangan intervensi yang sesuai untuk menyelesaikan

(19)

F. KERANGKA BERPIKIR PENELITIAN

Lonsum diakuisisi oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. pada bulan Oktober 2007

Empat target akuisisi sebagai perubahan meliputi perubahan pada sumber daya fungsional, kapabilitas teknologi, kapabilitas organisasi, dan sumber daya manusia (Jones, 2004)

1. Sumber daya fungsional

menciptakan fungsi management block untuk memudahkan pemantauan Lonsum oleh Indofood

2. Kapabilitas teknologi  instalasi sistem informasi yaitu Systems, Applications, & Products yang menghabiskan banyak anggaran

3. Kapabilitas organisasi  pembenahan struktur dengan menutup serta menggabungkan departemen dan memunculkan jabatan baru

Kinerja sebuah organisasi tidak akan bertahan jika perkembangan individu tidak diperhatikan

(Porras & Robertson, 1992)

Beberapa karyawan mulai menunjukkan indikator perilaku disengaged seperti mengerjakan pekerjaan asal selesai, perhitungan, dan senang

membicarakan hal negatif mengenai atasan

Bagaimana sebenarnya gambaran employee engagement di Lonsum kantor cabang Medan?

4. Sumber daya manusia 

 Mengurangi investasi pada kegiatan pengembangan kompetensi karyawan

 Mengerahkan karyawan untuk mencapai misi perusahaan

 Tidak menginformasikan dengan jelas mengenai perubahan yang terjadi dan kurangnya kesempatan untuk belajar Job Demands

Beban kerja karyawan meningkat dari segi kuantitas, emosional, dan

kognitif

Gambar

Gambar 1. Diagram Hasil Survei Employee Engagement

Referensi

Dokumen terkait