• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata kelola organisasi destinasi (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tata kelola organisasi destinasi (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Tata kelola organisasi

suatu sistem atau cara maupun proses yang mengatur dan mengendalikan hubungan antara pihak manajemen (pengelola) dengan seluruh pihak yang berkepentingan (slake/wider) terhadap

organisasi mengenai hak-hak dan kewajiban mereka, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan.

MANAJEMEN RESIKO

Manajemen Risiko Perusahaan merupakan proses dalam merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan memantau kegiatan Perusahaan untuk mengurangi risiko yang dapat berdampak pada kondisi pengelolaan permodalan dan pendapatan Perusahaan.

1. Risiko Reputasi

Reputasi merupakan hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Ketika suatu reputasi jatuh, maka kehancuran suatu perusahaan sudah melanda didepan mata. Contoh: Adanya suatu kasus penemuan di sebuah restoran X yang mana ada indikasi penggunaan zat tertentu yang dilarang. Jika restoran X memiliki cabang yang banyak, maka “kecacatan di restoran X” biasanya digeneralisir oleh masyarakat. Hal ini akan merusak nama baik semua restoran cabang X.

Hal yang bisa dilakukan manajemen puncak untuk pemulihan risiko reputasi:

1. Mengakui bahaya

2. Mengevaluasi dampak dari risiko

3. Mengalokasikan sumber daya yang luas untuk pengendalian kerusakan

4. Mencoba mengambil kembali reputasi perusahaan dan kepercayaan klien dengan berbagai strategi

5. Melakukan prosedur pembatasan kerusakan lebih lanjut dimasa mendatang 2. Risiko Pasar

Risiko pasar biasanya berkaitan dengan perubahan harga pasar yang bisa merugikan suatu perusahaan. Misalkan adanya penurunan harga saham yang berakibat penurunan nilai pasar saham perusahaan tersebut. Hal ini akan merugikan perusahaan karena harga saham bergerak pada arah yang tidak menguntungkan.

3. Risiko Kredit

(2)

perjanjian (pinjam meminjam) dalam mitra bisnis. Perusahaan harus bisa melakukan manajemen utang dengan baik. Termasuk harus mengetahui tingkat kesehatan perusahaan yang akan menjadi mitra bisnisnya. Sehingga nantinya bisa diidentifikasi apakah perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk membayar utangnya.

4. Risiko Operasional

Risiko yang terjadi karena kurang berfungsinya suatu proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal. Risiko ini akan menimbulkan kerugian yang dapat berdampak akan hilangnya potensi keuntungan.

Beberapa contoh di atas adalah jenis risiko yang mungkin Anda temui, namun pada kenyataannya masih terdapat banyak risiko lainnya. Lalu pertanyaannya, siapakah yang harus bertanggungjawab terhadap risiko-risiko yang ada? Apakah setiap risiko yang terjadi merupakan tanggung jawab manajemen paling atas di perusahaan?

Perusahaan besar memiliki fungsi yang disebut Chief Risk Officer (CRO) yang mengelola manajemen risiko perusahaan. Dalam bidang keuangan perusahaan besar biasanya ada pula seorang Chief Financial Officer (CFO) yang mengelola risiko keuangan. Pada skala menengah terdapat juga risk manager. Pada skala kecil biasanya tidak ada pejabat resmi yang mengelolan. Risiko ini biasanya dikelola oleh pegawai yang bertugas menangani akuntansi dan pembukuan perusahaan.

Terlepas siapapun yang mengelola risiko, sudah menjadi tanggungjawab semua bagian dalam perusahaan untuk menerapkan manajemen risiko pada tingkat yang paling minimal. Ingat bahwa risiko nantinya tidak satu dua orang yang menanggungnya. Pada akhirnya semua orang dalam perusahaan akan terkena dampak akan risiko yang ditanggung perusahaan.

Apa saja risiko yang harus dikelola oleh perusahaan? Pengelolaan risiko tidak hanya satu bagian saja. Akan tetapi seluruh bagian. Risiko reputasi, pasar, kredit dan operasional harus ditindaklanjuti dengan baik. Bukan satu-satu, akan tetapi menyeluruh.

Kapan Risiko Seharusnya Dikelola?

Pengelolaan risiko seharusnya terintegrasi dalam setiap pengambilan keputusan, penentuan implementasi strategi, serta pengelolaan kinerja setiap elemen perusahaan. Risiko bukan dikelola sekali dua kali dalam setiap minggu, bulan, kuartal, semesteran bahkan tahunan. Ingat bahwa risiko akan berpotensi datang sepanjang waktu. Jadi pengelolaan risiko harus dilakukan setiap waktu.

(3)

Bagaimana Cara Mengelolan Risiko?

Laporan hasil penelitian pada eksekutif yang diselnggarakan oleh KPMG yang terakhir menunjukan, “dua-per-tiga dewan direksi perusahaan responden, tidak mampu mendayagunakan informasi risiko yang diperoleh untuk meningkatkan kinerja strategi bisnis mereka”.

COSO ERM Framework menyediakan kerangka umum dan arah yang jelas untuk menerapkan manajemen risiko diperusahaan. Kerangka ini mengharuskan perusahaan untuk memeriksa portofolio risiko mereka secara lengkap dengan mempertimbangkan bagaimana risiko-risiko individu saling berhubungan. Dan juga bagaimana perusahaan melakukan pendekatan untuk memitigasi risiko dengan cara yang konsisten dengan strategi jangka panjang untuk risiko secara keseluruhan.

Lalu, bagaimana manajemen risiko seharusnya dikelola?

ISO 31000 (2009) Global mengenai Manajemen Risiko yang menyebutkan:

1. Manajemen risiko menciptakan dan melindungi nilai (value).

2. Manajemen risiko merpakan bagian tidak terpisahkan dari setiap proses yang ada dalam perusahaan (organisasi).

3. Manajemen risiko adalah bagian dari setiap proses pengambilan-keputusan. 4. Manajemen risiko mengatasi ketidakpastian secara ekplisit.

5. Manajemen risiko berdasarkan pada informasi terbaik.

6. Manajemen risiko adalah dinamis, iterative, dan responsif terhadap perubahan.

Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang

Baik

PT AIA FINANCIAL (“Perusahaan”) senantiasa menerapkan prinsip Tata Kelola

(4)

mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 73/POJK. 05/2016 tentang Tata Kelola

Perusahaan Yang Baik Bagi Perusahaan Perasuransian serta peraturan pelaksanaannya serta peraturan pelaksanaannya.

Pelaksanaan tugas dan kewenangan organ Perusahaan yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”), Direksi dan Dewan Komisaris senantiasa mengacu kepada prinsip-prinsip umum dan fungsional yang diatur dalam Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Perusahaan memiliki unit bisnis syariah dan memiliki Dewan Pengawas Syariah (“DPS”) yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. DPS mempunyai tugas dan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan kegiatan usaha unit bisnis syariah Perusahaan.

Prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik meliputi keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency) dan kesetaraan dan kewajaran (fairness).

a. Keterbukaan (Transparency)

Dalam mewujudkan keterbukaan, Perusahaan menyediakan berbagai informasi yang lengkap, akurat dan tepat waktu kepada para pemangku kepentingan. Perusahaan mengkomunikasikan visi, sasaran dan strateginya secara berkesinambungan dan berkelanjutan kepada manajemen, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya melalui berbagai aktivitas pertemuan dan penyediaan informasi yang dapat diakses dengan mudah. Salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manajemen Perusahaan secara teratur kepada karyawan adalah melalui pertemuan bersama karyawan (townhall) yang diselenggarakan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun. Dalam townhall manajemen memaparkan, antara lain, pencapaian

Perusahaan dan arah strategi bisnis Perusahaan kepada karyawan.

Perusahaan secara teratur menyampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja Perusahaan secara akurat dan tepat waktu. Disamping itu, perusahaan juga menyediakan informasi mengenai laporan keuangan dalam web site Perusahaan serta informasi penting lainnya yang dapat diakses dengan mudah oleh para pemangku kepentingan.

b. Akuntabilitas (Accountability)

Terdapat kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban diantara organ-organ

Perusahaan yaitu Direksi, Dewan Komisaris dan Rapat Umum Pemegang Saham yang dalam pelaksanaan tugasnya didukung oleh komite-komite yang memiliki tugas dan fungsi khusus. Perusahaan memiliki komite-komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris maupun Direksi. Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris terdiri dari Komite Audit dan Komite

Pemantau Risiko yang bertujuan menunjang pelaksanaan tugas Dewan Komisaris dalam melakukan fungsi pengawasan.

Untuk menunjang pelaksanaan tugas Direksi terutama terkait dengan pengendalian internal, Perusahaan membentuk Komite Investasi, Komite Klaim, Komite Pengendalian Produk,

(5)

pelaksanaan tugas Direksi dalam menjalankan perusahaan sehingga kinerja Perusahaan dapat berjalan secara transparan, wajar, efektif dan efisien.

Dewan Komisaris dan berbagai komite baik yang didirikan oleh Dewan Komisaris maupun Direksi, melakukan pengawasan serta pemantauan atas pengelolaan Perusahaan yang dilakukan oleh Direksi sebagai bentuk pelaksanaan mekanisme check and balances. Disamping itu Perusahaan juga memiliki berbagai pedoman terkait kebijakan Perusahaan, Kode Etik, sistem deteksi dini, penerapan penghargaan dan tindakan disiplin, serta struktur pengendalian internal yang tepat dan baik.

c. Pertanggungjawaban (Responsibility)

Pengelolaan Perusahaan dilaksanakan dengan memperhatikan aspek kepatuhan dan kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan telah

menetapkan standard Kode Etik sebagai pedoman bagi seluruh manajemen, karyawan dan agen Perusahaan dalam mengambil keputusan yang tepat pada setiap keadaan serta

menjunjung tinggi nilai-nilai etika serta standar, prinsip dan praktek penyelenggaraan usaha perasuransian yang sehat

Direksi wajib melakukan pengurusan Perseroan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Itikad baik dalam hal ini mengandung pengertian bahwa Direksi dalam menjalankan kepengurusan mengutamakan kepentingan Perusahaan semata-mata, serta tidak

memanfaatkan kedudukannya sebagai Direksi untuk mengambil keuntungan secara pribadi baik langsung maupun tidak langsung dari Perusahaan secara tidak adil. Direksi wajib untuk sebisa mungkin menghindari terjadinya benturan kepentingan serta wajib untuk

mengungkapkan apabila terdapat benturan kepentingan ataupun potensi benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugasnya.

Perusahaan juga senantiasa dan secara berkelanjutan melaksanakan praktik penyelenggaraan usaha perasuransian yang sehat bagi para pemangku kepentingan yang salah satunya

diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial Perusahaan kepada masyarakat.

d. Kemandirian (Independency)

Perseroan dikelola secara mandiri dan profesional serta bebas dari benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perasuransian dan nilai-nilai etika serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha perasuransian yang sehat.

Untuk meningkatkan independensi dalam pengambilan keputusan bisnis, Perusahaan telah mengembangkan beberapa aturan, pedoman, dan praktek terutama pada tingkat Dewan Komisaris dan Direksi demi terlaksananya pengelolaan Perusahaan yang mandiri dan professional sesuai dengan peraturan perundang-undangan dibidang perasuransian dan nilai-nilai etika serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha perasuransian yang sehat.

e. Kesetaraan dan Kewajaran (fairness)

(6)

karyawan dan mitra bisnis. Untuk memastikan prinsip ini berjalan dengan baik Perusahaan menetapkan kebijakan internal, Standar Operasional Prosedur (SOP) dan prosedur terkait lainnya.

Perusahaan memberikan kesempatan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan masukkan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan Perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai prinsip keterbukaan. Salah satu bentuk pelaksanaan prinsip kesetaraan dan kewajaran yaitu diwujudkan dalam pemberian

kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugas secara professional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender dan kondisi fisik

B. Bagaimana Melaksanakan Tatakelola Perusahaan Sesuai GCG

Dalam prakteknya prinsip-prinsip tatakelola perusahaan yang baik ini perlu dibangun dan dikembangkan secara bertahap. Perusahaan harus membangun sistem dan pedoman tata kelola perusahaan yang akan dikembangkannya. Demikian juga dengan para karyawan, mereka perlu memahami dan diberikan bekal pengetahuan tentang prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik yang akan dijalankan perusahaan.

Untuk memudahkan memberikan gambaran bagaimana prinsip-prinsip GCG tersebut akan dibangun, dipahami dan dilaksanakan, berikut ini diberikan beberapa acuan praktis yang perlu dikembangkan lebih lanjut di masing-masing perusahaan. Acuan ini diuraikan mengikuti urutan butir-butir prinsip GCG yang telah dibahas di atas.

Accountability:

1. Pimpinan, manajer dan karyawan perusahaan telah mengetahui visi, misi, tujuan dan target-target operasional di perusahaan

2. Pimpinan. Manajer, karyawan perusahaan telah mengetahui dan memahami peran, tugas dan tanggung jawabnya masing-masing

3. Uraian tugas di setiap unit usaha atau unit organisasi telah ditetapkan dengan benar dan sesuai dengan visi, misi dan tujuan perusahaan

4. Proses dalam pengambilan keputusaan telah mengacu dan mentaati sistem dan prosedur yang telah dibangun.

5. Proses cek dan balance telah dilakukan secara menyeluruh di setiap unit organisasi. 6. Sistem penilaian kinerja operasional, organisasi dan kinerja perseorangan telah sepakat ditetapkan, diterapkan dan dievaluasi dengan baik

7. Pertanggungan jawab kinerja pimpinan (BOC, BOD) perusahaan secara rutin seyogyanya dapat dibangun dan dilaporkan.

8. Hasil pekerjaan telah didokumentasikan, dipelihara dan dijaga dengan baik

Responsibility:

1. Pimpinan, manajer dan karyawan perusahaan telah mengetahui dan memahami seluruh peraturan perusahaan yang berlaku.

2. Pimpinan. Manajer dan karyawan perusahaan telah menerapkan sistem tata nilai dan budaya perusahaan yang dianut perusahaan.

3. Proses dalam pengambilan keputusan di perusahaan senantiasa mengacu dan mentaati sistem dan prosedur yang telah dibangun.

4. Manajer dan karyawan perusahaan telah bekerja sesuai dengan standar operasional, prosedur maupun ketentuan yang berlaku di perusahaan.

(7)

berpotensi merugikan perusahaan dan stakeholder.

6. Proses pendelegasian kewenangan telah dijalankan dengan cukup dan baik demi terselenggaranya pekerjaan.

7. Manajer dan unit organisasi telah melakukan pertanggungan jawab hasil kerja secara teratur.

Transparancy dan Disclosure:

1. Bahwa berbagai pemegang kepentingan (manajemen, karyawan, pelanggan) dapat melihat dan memahami proses dalam pengambilan keputusan manajerial di perusahaan.

2. Pemegang saham berhak memperoleh informasi keuangan perusahaan yang relevan secara berkala dan teratur.

3. Proses pengumpulan dan pelaporan informasi operasional perusahaan telah dilakukan oleh unit organisasi dan karyawan secara terbuka dan obyektif, dengan tetapa menjaga kerahasiaan nasabah/pelanggan

4. Pimpinan, manajer dan karyawan perusahaan telah melakukan keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan, sistem pengawasan dan standardisasi yang dilakukan.

5. Informasi tentang prosedur dan kebijakan di unit kerja maupun unit organisasi telah

dipublikasikan secara tertulis dan dapat diakses oleh semua pihak di dalam dan oleh unit-unit terkait di luar perusahaan.

6. Eksternal auditor, komite audit, internal auditor memiliki akses atas informasi dengan syarat kerahasiaan tetap dijaga.

7. Menyampaikan laporan keuangan audited dan kinerja usaha ke publik secara rutin, maupun laporan corporate governance pada instansi yang berwenang.

Fairness:

1. Pengelola dan karyawan perusahaan akan memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder secara wajar menurut ketentuan yang berlaku umum.

2. Perlakuan adil kepada seluruh pihak pemegang kepentingan (nasabah, pelanggan, pemilik) dalam memberikan pelayanan dan informasi.

3. Manajer, pimpinan unit organisasi dan karyawan dapat membedakan kepentingan perusahaan dengan kepentingan organisasi.

4. Perlakuan, pengembangan timwork, hubungan kerja dan pembinaan pada para karyawan akan dilakukan dengan memperhatikan hak dan kewajibannya secara adil dan wajar.

Independency:

1. Keputusan pimpinan perusahaan hendaknya lepas dari kepentingan berbagai pihak yang merugikan perusahaan.

2. Proses pengambilan keputusan di perusahaan telah dilakukan secara obyektif untuk kepentingan perusahaan

1. Konsep Tata Kelola ( God governance )

(8)

mempengaruhi baik buruknya dan tercapai atau tidaknya sebuah negara serta pemerintahan yang baik. Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan bahwa setiap manusia memiliki kepentingan. Baik kepentingan individu, kelompok, dan/atau kepentingan masyarakat nasional bahkan internasional. Dalam rangka mewujudkan setiap kepentingan tersebut selalu terjadi benturan. Begitu juga dalam merealisasikan apa yang namanya “good governance” benturan kepentingan selalu lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak dan sekat antar individu dan kelompok yang membuat sulit tercapainya kata “sepakat”. Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi

penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara. Negara berperan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dengan sistem peradilan yang baik dan sistem pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban kepada publik. Meruju pada 3 (tiga) pilar pembangunan

berkelanjutan. Dalam pembangunan ekonomi, lingkungan, dan pembangunan manusia. Good governance menyentuh 3 (tiga) pihak yaitu pihak pemerintah (penyelenggara negara), pihak korporat atau dunia usaha (penggerak ekonomi), dan masyarakat sipil (menemukan

kesesuaiannya). Ketiga pihak tersebut saling berperan dan mempengaruhi dalam penyelenggaraan negara yang baik. Sinkronisasi dan harmonisasi antar pihak tersebut menjadi jawaban besar. Namun dengan keadaan Indonesia saat ini masih sulit untuk bisa terjadi (Efendi, 2005).

Dengan berbagai statement negatif yang dilontarkan terhadap pemerintah atas keadaan Indonesia saat ini. Banyak hal mendasar yang harus diperbaiki, yang berpengaruh terhadap clean and good governance, diantaranya (Efendi, 2005):

1. Integritas Pelaku Pemerintahan

Peran pemerintah yang sangat berpengaruh, maka integritas dari para pelaku pemerintahan cukup tinggi tidak akan terpengaruh walaupun ada kesempatan untuk melakukan

penyimpangan misalnya korupsi. 2. Kondisi Politik dalam Negeri

Jangan menjadi dianggap lumrah setiap hambatan dan masalah yang dihadirkan oleh politik. Bagi terwujudnya good governance konsep politik yang tidak/kurang demokratis yang berimplikasi pada berbagai persoalan di lapangan. Maka tentu harus segera dilakukan perbaikan.

3. Kondisi Ekonomi Masyarakat

Krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila tidak teratasi akan mengganggu kinerja pemerintahan secara menyeluruh.

4. Kondisi Sosial Masyarakat

Masyarakat yang solid dan berpartisipasi aktif akan sangat menentukan berbagai kebijakan pemerintahan. Khususnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang merupakan perwujudan riil good governance. Masyarakat juga menjalankan fungsi pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Namun jika masyarakat yang belum berdaya di hadapan negara, dan masih banyak timbul masalah sosial di dalamnya seperti konflik dan anarkisme kelompok, akan sangat kecil kemungkinan good governance bisa ditegakkan.

5. Sistem Hukum

Menjadi bagian yang tidak terpisahkan disetiap penyelenggaraan negara. Hukum merupakan faktor penting dalam penegakan good governance. Kelemahan sistem hukum akan

(9)

Good Corporate Governance

Good Corporate Governance merupakan suatu sistem tata kelola yang

diterapkan perusahaan agar dapat meningkatkan nilai, citra dan kinerja perusahaan serta kontinuitas usaha perusahaan. Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (2000) Corporate Governance sebagai seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan interen dan eksteren lainnya, sehubungan dengan hak-hak kewajiban mereka atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Perusahaan membuat peraturan yang dapat saling menguntungkan berbagai pihak sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Kementerian BUMN telah menetapkan prinsip-prinsip-prinsip-prinsip Good Corporate Governance terdiri atas transparansi, kemandirian, akuntabilitas,

pertanggungjawaban dan kewajaran, sehingga hal tersebut dapat dijadikan sebagai variabel dalam penelitian ini.

Di samping itu, peranan internal auditor sebagai salah satu fungsi dalam penerapan GCG adalah suatu proses yang dilakukan oleh orang, dari pimpinan puncak sampai para pelaksana, yang dirancang untuk memberikan jaminan yang masuk akal (reasonable assurance) akan tercapainya tujuan organisasi.

2. Pemegang Kepentingan Utama Dalam Bisnis

Pemegang kepentingan (stakeholder) adalah orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam bisnis. Lima jenis pemegang kepentingan yang terlibat dalam bisnis

Pemilik

Wiraswasta … Orang yang mengorganisasi, mengelola, dan mengasumsikan risiko yang dihadapi untuk memulai bisnis.

Saham … Sertifikat kepemilikan suatu perusahaan.

Pemegang saham … Investor yang ingin menjadi pemilik sebagian dari perusahaan Kreditor … Institusi keuangan atau pribadi yang memberikan pinjaman.

Karyawan

Manajer adalah karyawan yang mempunyai tanggung jawab mengelola pekerjaan yang ditugaskan kepada karyawan lain dan membuat keputusan penting perusahaan

Tujuan manajer suatu perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan. karena para pemegang saham yang tidak bekerja untuk perusahaan akan mengawasi manajer perusahaan dalam memaksimalkan nilai saham milik para pemegang saham.

Pemasok. Kinerja perusahaan sebagian tergantung pada kemampuan dari pemasoknya mengantarkan bahan baku tepat pada waktunya.

Pelanggan. Perusahaan tidak dapat bertahan hidup tanpa pelanggan 3. Menajemen Resiko

Menurut Vibiznews.com, manajemen resiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur resiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat digunakan antara lain mentransfer resiko pada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek buruk dari resiko dan menerima sebagian maupun seluruh

konsekuensi dari resiko tertentu.

Fokus dari manajemen resiko yang baik adalah identifikasi dan cara mengatasi resiko. Sasarannya untuk menambah nilai maksimum berkesinambungan (sustainable) organisasi. Tujuan utama untuk memahami potensi upside dan downside dari semua faktor yang dapat memberikan dampak bagi organisasi. Manajemen resiko meningkatkan kemungkinan sukses, mengurangi kemungkinan kegagalan dan ketidakpastian dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi.

(10)

evaluasi.

A. Mengidentifikasi resiko

Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan kompleks sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungki

B. Menganalisa resiko

Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengukuran resiko dengan cara melihat seberapa besar potensi terjadinya kerusakan (severity) dan probabilitas terjadinya resiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu event sangatlah subjektif dan lebih berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga, pada tahap ini sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen resiko.

Kesulitan dalam pengukuran resiko adalah menentukan kemungkinan terjadi suatu resiko karena informasi statistik tidak selalu tersedia untuk beberapa resiko tertentu. Selain itu, mengevaluasi dampak kerusakan (severity) sering kali cukup sulit untuk asset immaterial. C. Monitoring resiko dan evaluasi

Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu resiko merupakan bagian penting dalam perencanaan suatu proyek. Namun, manajemen resiko tidaklah berhenti sampai di sini saja. Praktek, pengalaman, dan terjadinya kerugian akan membutuhkan suatu perubahan dalam rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu resiko. Sangatlah penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya resiko yang baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu resiko terjadi maka respon yang dipilih akan sesuai dan diimplementasikan secara efektif.

Hubungan antara manajemen tata kelola dengan manajemen risiko

Aktivitas Audit Internal perlu menyadari bahwa tata kelola bukanlah merupakan himpunan proses dan struktur yang berdiri sendiri, terpisah dari sistem lainnya. Tata kelola juga memiliki keterkaitan dengan manajemen risiko dan juga pengendalian internal.

Aktivitas tata kelola yang efektif mempertimbangkan risiko pada saat menyusun strategi. Sebaliknya, manajemen risiko didasarkan pada tata kelola yang efektif (misalnya, tone at the top, selera risiko dan toleransi risiko, budaya risiko, dan pengawasan manajemen risiko). Tata kelola yang efektif juga bergantung pada pengendalian internal dan komunikasi efektivitas pengendalian-pengendalian tersebut kepada Dewan.

Sementara itu, pengendalian dan risiko juga saling terkait, mengingat pengendalian merupakan “setiap tindakan yang diambil oleh manajemen, Dewan, dan pihak-pihak lain untuk mengelola risiko dan meningkatkan kemungkinan bahwa sasaran yang ditetapkan akan dapat dicapai.”

CAE harus mempertimbangkan hubungan-hubungan tersebut dalam perencanaan penilaian terhadap proses tata kelola:

(11)

terhadap pencapaian strategi organisasi, tujuan, dan sasaran; efisiensi dan efektivitas

operasional; pelaporan keuangan; atau kepatuhan terhadap hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

• Pengendalian-pengendalian di dalam proses tata kelola seringkali signifikan dalam mengelola beberapa risiko sekaligus di seluruh organisasi. Sebagai contoh, pengendalian seperti penerapan kode etik dapat diandalkan untuk memitigasi risiko kepatuhan, risiko kecurangan, dan sebagainya. Efek agregasi seperti ini perlu dipertimbangkan ketika mengembangkan ruang lingkup audit terhadap proses tata kelola.

• Jika penugasan audit lainnya pernah menilai pengendalian dalam proses tata kelola (misalnya, audit terhadap pengendalian atas pelaporan keuangan, proses manajemen risiko, atau kepatuhan), auditor perlu mempertimbangkan untuk mengandalkan hasil audit-audit tersebut.

a) Pengendalian Internal

Pengendalian Internal merupakan garda terdepan pengendalian operasional perusahaan (1st line of defense) yang berada dalam kewenangan Pemilik Risiko.

Pemilik Risiko harus memastikan tingkat efektivitas pengendalian internal sehingga tingkat risiko residual yang masih mungkin terjadi berada dalam selera risiko (risk appetite) Perusahaan yang diturunkan dalam tanggung jawabnya sesuai dengan sasaran kinerja.

Penilaian tingkat efektivitas pengendalian dilakukan dengan metode swapenilaian kendali (control self assessment).

b) Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan garda kedua (2nd line of defense) pengendalian Perusahaan dengan memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam setiap kegiatan operasional berikut dengan rencana mitigasi untuk perkuatan pengendalian sesuai dengan sumber daya yang dimiliki

Perusahaan.

Manajemen risiko dikelola oleh Divisi Sistem Manajemen, GCG, dan Risiko (Divisi SGR) untuk memastikan penerapan MRP sesuai dengan kebijakan, pedoman, dan manual, pengelolaan aplikasi, penyimpanan database risiko dan kerugian, pemantauan, dan pelaporan.

Divisi SGR bertanggung jawab memastikan penerapan MRP sesuai dengan selera risiko perusahaan yang dituangkan dalam RKAP, meliputi toleransi risiko, tingkat risiko, dan rencana mitigasi atau program aksi sesuai dengan biaya risiko yang dianggarkan Perusahaan.

Penilaian risiko dilakukan dengan metode swa-penilaian risiko (risk self assessment) oleh Pemilik Risiko dengan difasilitasi oleh Divisi SGR. Keluaran/hasil manajemen risiko adalah perbaikan sistem pengendalian Perusahaan yang bersifat pencegahan (preventive) sebelum kejadian kerugian (loss event) dialami oleh Perusahaan.

c) Audit Internal

Audit Internal merupakan garda terakhir (3rd line / last guard of defense) pengendalian Perusahaan, untuk memastikan efektivitas sistem pengendalian Perusahaan dapat memenuhi asas kepatuhan.

(12)

Dalam pelaksanaan audit, Auditor membuat penilaian risiko dari sudut pandang audit (internal audit risk assessment) mengenai tingkat risiko dan tingkat pengendalian sebagai hasil audit atas unjuk kriteria/parameter uji pelaksanaan audit, guna dijadikan perbaikan pengendalian internal dan manajemen risiko.

4. Hubungan Pengendalian Internal-Manajemen Risiko-Audit Internal

Dalam Penerapan MRP, hubungan antara Pengendalian Internal dan Manajemen Risiko berupa pengembangan profil risiko Perusahaan berikut dengan tindakan pencegahan dan rencana mitigasi. Pengembangan profil risiko dilakukan oleh Pemilik Risiko sebagai penanggung jawab pengendalian internal dengan difasilitasi oleh Divisi SGR, melalui metode swa-penilaian risiko dan pengendalian (risk and control self assessment/RCSA).

Hubungan antara Manajemen Risiko dengan Audit Internal adalah standarisasi pengukuran dan evaluasi untuk pelaksanaan audit berbasis risiko.

Hubungan antara Pengendalian Internal dan Audit Internal adalah pemenuhan terhadap aspek kepatuhan (compliance).

Praktik terbaik segitiga Pengendalian Internal-Manajemen Risiko-Audit Internal adalah perencanaan strategi bisnis yang mendorong layanan operasional prima guna mencapai tahapan pertumbuhan berkesinambungan

Sehubungan dengan penerbitan kerangka manajemen risiko perusahaan secara terpadu (Enterprise Risk Management – Integrated Framework) oleh Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO), The Institute of Internal Auditor (IIA) bekerja sama dengan Afiliasi IIA di Inggris dan Irlandia, telah mengeluarkan sebuah makalah posisi (position paper) dengan judul The Role of Internal Auditing in Enterprise-wide Risk Management. Tujuan makalah ini adalah untuk membantu Kepala Eksekutif Audit dalam menanggapi isu-isu ERM dalam organisasi mereka. Makalah ini memberikan pedoman bagi auditor internal untuk mempertahankan objektivitas dan independensi yang dipersyaratkan oleh Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal ketika mereka

memberikan layanan pemastian (assurance) dan layanan konsultasi.

Peran inti audit internal yang berkaitan dengan ERM adalah untuk memberikan layanan pemastian yang objektif bagi Dewan mengenai efektivitas kegiatan ERM organisasi.

Pemastian ini membantu meyakinkan bahwa risiko bisnis kunci telah dikelola dengan tepat, dan bahwa sistem pengendalian internal telah berjalan secara efektif. Faktor utama yang harus dipertimbangkan oleh Kepala Eksekutif Audit saat menentukan peran audit internal adalah apakah suatu kegiatan menimbulkan ancaman terhadap independensi dan objektivitas auditor internal serta apakah memang terdapat kemungkinan untuk meningkatkan proses manajemen risiko organisasi, kontrol, dan proses tata kelola.

Peran auditor internal bervariasi dalam proses ERM bergantung pada kematangan proses ERM dalam organisasi. Sebelum auditor internal melaksanakan apapun peran yang terkait dengan ERM, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa seluruh organisasi sepenuhnya memahami bahwa tanggung jawab manajemen risiko terutama berada pada manajemen. Makalah posisi IIA ini memberikan pedoman peran internal audit mana yang harus, boleh, dan tidak boleh dimainkan di dalam proses ERM organisasi.

Peran inti audit internal dalam ERM adalah kegiatan yang berhubungan dengan layanan pemastian yang meliputi:

(13)

• Memberikan keyakinan bahwa risiko dievaluasi dengan benar. • Mengevaluasi proses manajemen risiko.

• Mengevaluasi pelaporan mengenai status dari risiko-risiko kunci dan pengendaliannya. • Meninjau pengelolaan risiko-risiko kunci, termasuk efektivitas dari pengendalian dan respons lain terhadap risiko-risiko tersebut.

Peran tambahan lain yang boleh dilaksanakan dalam layanan konsultasi dengan dibarengi pengamanan independensi dan objektivitas yang cukup, antara lain:

• Memulai pembentukan ERM dalam organisasi.

• Mengembangkan strategi manajemen risiko bagi persetujuan Dewan. • Memfasilitasi identifikasi dan evaluasi risiko.

• Pelatihan manajemen tentang merespons risiko. • Mengoordinasikan kegiatan ERM.

• Mengonsolidasi laporan mengenai risiko.

• Memelihara dan mengembangkan kerangka ERM.

Peran dalam ERM yang TIDAK boleh dilakukan auditor internal adalah: • Mengatur minat risiko (risk appetite).

• Menerapkan proses manajemen risiko. • Menjamin manajemen risiko

• Membuat keputusan pada respons risiko.

• Menerapkan respons dan manajemen risiko atas nama manajemen. • Akuntabilitas manajemen risiko.

Variabilitas peran tersebut digambarkan dengan baik oleh gambar berikut, dari peran yang paling disarankan di sebelah kiri hingga peran yang paling terlarang di sebelah kanan. 5. Pengaruh ERM terhadap penjaminan audit internal

Untuk dapat meminimalisasi resiko tersebut maka PT. INTI menerapkan sebuah sistem manajemen pengelolaan resiko ERM (Enterprice Risk Management). Dalam pelakasanaan ERM (Enterprice Risk Management) di PT. INTI dibutuhkan kontribusi yang besar dari Auditor Internal untuk dapat menilai dan mengelola resiko yang kemudian hasilnya akan diberikan kepada pihak manajemen sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan evaluasi bisnis perusahaan. Beberapa masalah timbul berkaitan dengan peran Auditor Internal di PT. INTI. Menurut Irfan Setiaputra setelah melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap semua elemen perusahaan yang menyebabkan investor mencabut investasinya adalah keberadaan Auditor Internal di PT. INTI belum bisa melaksanakan pengawasan dan pengendalian internal dengan baik dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan terutama yang berhubungan dengan efektifitas ERM (Enterprice Risk Management) perusahaan, yang disebabkan kurangnya pemahaman atas resiko bisnis yang dijalankan PT. INTI.

Melihat kondisi ini setiap perusahaan pasti memiliki resiko bisnis. Uraian diatas

(14)

agar perusahaan terhindar dari kerugian baik kerugian materi maupun kerugian non materi, seperti memburuknya citra dan reputasi perusahaan dimata masyarakat.

Namun kita belum mengetahui sebenarnya bagaimana peran Auditor Internal di PT. INTI dalam mengelola efektifitas ERM (Enterprice Risk Management). Penelitian ini akan

mencoba meneliti peran Auditor Internal yang bekerja di BUMN dalam melaksanakan ERM (Enterprice Risk Management).(Sumber www.PT.INTI.com).

Menurut IIA (Institude of Internal Auditor), Enterprise Risk Management merupakan pendekatan yang kuat dan terkoordinasi untuk menilai dan merespon seluruh risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan strategik dan finansial organiasi. Semantara itu dikalangan praktisi aktuaria sebagaimana didefinisikan oleh Casualty Actuarial Socity (2003) Enterprise Risk Management adalah sebagai proses atau disiplin dengan organisasi-organisasi di semua industry manaksir, mengendalikan, mengeksploitasi, membiayai dan mengawasi risiko dari semua sumbernya dengan tujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dari beberapa definisi ERM menurut para pakar dapat disimpulkan bahwa Enterprise Risk Management merupakan aplikasi manajemen umum yang secara khusus membahas strategi untuk mengatasi aktivitas yang menimbulkan risiko demi mencapai tujuan suatu perusahaan

Dampak Enterprise Risk Management pada Fungsi Audit Internal

Dalam proses Enterprise Risk Management, audit internal harus menerapkan standar yang relevan untuk menjaga independensi dan objektivitas. Dalam batasan-batasan Standar Profesional, Enterprise Risk Management bias

membantu meningkatkan profil perusahaan dan meningkatkan efektivitas audit internal. Audit internal merupakan pengetahuan dasar tentang segala risiko organisasi, audit internal juga dekat dengan penilaian berbasis risiko, berhubungan dekat dengan kepemimpinan eksekutif, dan memiliki kemampuan unik dalam menyaring dan menganalisis berbagai sumber informasi baik dari internal maupun eksternal dan menghasilkan laporan audit yang jelas dan ringkas atas temuan auditnya (The Institute of Internal Auditors, 2002). Salah satu sifat pekerjaan audit internal adalah mengevaluasi dan meningkatkan proses management risiko. Hal ini ada kaitanya dengan kebutuhan untuk memperoleh Enterprise Risk

Management yang efektif sebagai dasar yang beralasan bagi manajemen dan Board Of Director untuk memahami seberapa besar kemungkinan tujuan strategis dan operasi yang tercapai. Keberadaan audit internal untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan sebagai fungsi yang independen dan menciptakan sikap profesional dalam setiap aktivitasnya

mendorong pihak terkait untuk terus melakukan pengkajian (The Institute of Internal Auditors, 2002). Audit internal saat ini telah berfokus pada manajemen risiko dan nilai tambah. Auditor dalam audit internal membantu organisasi mengidentifikasi dan

mengevaluasi risiko, memindahkan profesi ke garis depan manajemen risiko. Oleh karena itu, auditor internal berada dalam posisi untuk membuat signifikan kontribusi untuk proses Enterprise Risk Management dan menambah nilai Enterprise Risk Management. Fungsi auditor internal untuk

membantu manajemen dan dewan direksi atau komite audit untuk memeriksa, mengevaluasi, melaporkan dan merekomendasikan perbaikan terhadap kecukupan dan efektivitasentitas proses Enterprise Risk Management (Beasley,Clune, dan Hermanson, 2006).

Audit internal mampu beroperasi lebih efisien dengan memanfaatkan Enterprise Risk Management sumber daya. Auditor internal dapat menggunakan analisis risiko yang

(15)

khusus, auditor internal mulai berpikir seperti manajer dan berfokus pada tujuan bisnis daripada tujuan audit. Manajemen mungkin memutuskan untuk menerima, menghindari atau mengurangi risiko. Di beberapa kasus, dampak risiko mungkin sangat rendah, karena

manajemen memutuskan untuk menerima risiko dan mengambil tindakan terhadap risiko tersebut. Jika auditor internal berpikir bahwa manajemen telah menerima tingkat risiko terlalu tinggi, maka auditor internal harus membahas mengenai hal itu dengan manajemen senior dari perusahaan.

Dengan demikian, manajemen risiko perusahaan membutuhkan kesesuaian, tepat waktu informasi, dapat diandalkan dan objektif. Audit internal menjamin bahwa informasi yang diberikan adalah tepat waktu dan dapat diandalkan. Dengan adannya peran auditor internal pada aktivitas assurance (jaminan keyakinan) dapat dijadikan sebagai nilai tambah yang berpegang pada kode etik profesi, sebagai bentuk tanggung jawab profesi pada konstituennya dan berpegang pada standar profesi audit internal sebagai ukuran kualitas pekerjaan audit dalam meningkatkan efektifitas Enterprice Risk Management.

SIMPULAN

Dalam sebuah proses Enterprise Risk Management, audit internal harus menerapkan standar yang relevan untuk menjaga independensi dan objektivitas. Enterprise Risk Management pada fungsi audit dapat memperkuat hubungan antara audit internal dan efektivitas

implementasi Enterprise Risk Management. Audit internal mampu beroperasi lebih efisien dengan memanfaatkan sumber daya Enterprise Risk Management. Auditor internal dapat menggunakan analisis risiko yang dikembangkan melalui upaya Enterprise Risk

Referensi

Dokumen terkait

Saluran primer adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran sekunder dan menyalurkannya ke badan air penerima. Dimensi saluran primer  tergantung pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua di Desa Pattiroang berpandangan bahwa pendidikan ekonomi keluarga sangat penting diterapkan kepada anak mereka terutama

Berdasarkan pada pengalaman kami dan informasi yang ada, diharapkan tidak ada efek yang membahayakan jika ditangani sesuai dengan rekomendasi dan tindakan pencegahan yang sesuai

Untuk merumuskan model hidrodinamika pada penyebaran polutan dan sedimentasi di pertemuan dua sungai, diawali dengan pengambilan data dari observasi yang telah

Fungsi ini akan mengubah string yang diinputkan menjadi Proper Case (huruf besar untuk huruf awal setiap kata)... Lihatlah tampilan pada layar

1. anggaran dana yang minim, yakni dana yang dialokasikan tidak dapat meminimalisirkan angka kemiskinan di Kota Banda Aceh. Jumlah fakir miskin sebanyak 8419 KK

Pembahasan : Berdasarkan hasil penelitian tersebut kepada tenaga kesehatan khususnya bidan dapat melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin dengan Pre

Sesuai dengan judul yang diambil dalam penelitian ini maka hanya terbatas pada motivasi, pemberian kompensasi dan partisipasi kerja karyawan di Rumah Sakit Islam Surakarta