SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS GEREJA GKPB
DI WILAYAH KABUPATEN BADUNG DAN
KOTA DENPASAR BERBASIS WEB
I Gede Agus Setya Antariksa
Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Sistem Komputer dan Informatika Program Non Reguler
Universitas Udayana
Kampus Denpasar, Jl. PB. Sudirman, Bali – 80361 Email : [email protected]
ABSTRAK
Ketersediaan informasi tentang rumah ibadah, khususnya Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) masih terbatas di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Informasi yang selama ini tersedia adalah berupa brosur atau selebaran yang bersifat intern di kalangan jemaat gereja saja. Kurangnya sarana media informasi yang tersedia, maka masyarakat umum khususnya para wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara kesulitan untuk memperoleh informasi tentang lokasi gereja dimana mereka ingin melakukan ibadah. Hal ini menyebabkan timbul permasalahan bagi kantor Sinode GKPB, yaitu bagaimana menyediakan suatu fasilitas yang dapat memberikan informasi tentang gereja GKPB, khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Solusi yang diambil untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan membangun sebuah sistem informasi geografis berbasis web, yang dapat mengolah data gereja menjadi sebuah informasi yang berguna bagi masyarakat. Informasi yang akan dihasilkan adalah mengenai gereja GKPB di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Metode penelitian yang digunakan di dalam pengembangan sistem informasi geografis berbasis web ini, adalah observasi ke lapangan dan studi literatur guna menganalisa data yang dikumpulkan. Sehingga akan diperoleh suatu kesimpulan yang lebih terarah. Sistem ini diimplementasikan dengan Macromedia Dreamwaver sebagai text editor, database MySQL sebagai database penyimpanan data, bahasa pemrograman PHP, web server Apache dan Google Maps API versi 3 sebagai fasilitas untuk menampilkan letak geografis gereja pada peta.
Aplikasi yang dihasilkan adalah Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web. Sistem ini dapat mengolah data spasial dan data non spasial gereja, yang akan menghasilkan informasi mengenai lokasi gereja yang ditampilkan secara visual pada peta, profil singkat gereja GKPB (identitas gereja, pendeta gereja, kolom berita gereja dan jadwal ibadah), menampilkan rute jalan menuju gereja, pencarian gereja berdasarkan radius, pengelompokkan gereja berdasarkan wilayah dan menampilkan grafik persebaran serta pertumbuhan gereja GKPB di wilayah kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Kata kunci : SIG, GKPB Badung dan Denpasar, Web, Sinode GKPB
ABSTRACT
solve this problem is to build a web-based geographic information system, which can process data into a church for the community useful information . Information that will be generated is about GKPB church in the district of Badung and Denpasar.
The method used in the development of web-based geographic information systems, is to field observations and literature studies in order to analyze the data collected. So it will be obtained a more purposeful conclusion. This system is implemented by Macromedia Dreamwaver as a text editor, MySQL database as a data storage database, PHP programming language, Apache web server and the Google Maps API version 3 as a facility to display the geographical location of the church on the map.
The resulting application is a Geographic Information System GKPB Church in the Regency of Badung and Denpasar Web-Based. This system can process spatial data and non-spatial data of churches, which will yield information on the location of the church is shown visually on the map, a brief profile GKPB church (church identity, church pastor, church news column and schedule of worship), showing the way to church service, the search radius based church, church groupings by area and displays graphs GKPB distribution and growth of the church in the district of Badung and Denpasar.
Key word : GIS, GKPB district of Badung and Denpasar, Web, Sinode GKPB
I. PENDAHULUAN
II.
1.1 Latar Belakang
III. Di indonesia pencarian suatu lokasi peribadatan selama ini masih dilakukan secara manual, yaitu dengan cara melihat peta yang berbentuk hard copy atau dengan cara bertanya kepada orang sekitar. Khususnya di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang notabene merupakan pusat peradaban di Provinsi Bali. Ini merupakan suatu permasalahan yang harus dipecahkan oleh Sinode Gereja Kristen Protestan Di Bali (GKPB), karena pelayanan umum dalam bentuk tempat peribadatan sangat jarang ditemukan, dalam hal ini khususnya gereja GKPB. Sehingga cukup menyulitkan bagi masyarakat untuk mencari lokasi gereja, terutama yang berasal dari luar kota.
IV. Permasalah yang sama juga terjadi di Kota Surabaya, dimana masyarakat kesulitan untuk mencari informasi tentang lokasi rumah peribadatan. Dengan adanya permasalah tersebut, akhirnya diambil sebuah keputusan untuk membangun sebuah Sisten Informasi Geografis (SIG) berbasi web yang dapat memecahkan permasalahan tersebut, sehingga masyarakat dapat dibantu dalam hal pencarian lokasi tempat
peribadatan. Aplikasi SIG berbasis web yang telah dibangun tersebut menggunakan aplikasi Map Server sebagai basisdata spasial dan aplikasi tersebut hanya menampilkan lokasi rumah peribadatan pada peta (Ambarwati, 2009).
penggunaan Google Maps Api dipilih karena fasilitas peta yang disediakan ditinjau dari segi pengembangan aplikasi, khususnya pada pemetaan wilayah baru. Jika menggunakan Map Server sebagai basisdata spasial seperti yang telah digunakan pada penelitian sebelumnya di Kota Surabaya, untuk pengambangan wilayah, maka administrator harus menambahkan peta baru, yang kemudian diimplementasikan pada aplikasi, sehingga aplikasi dapat menampilkan peta baru yang telah sesuai dengan daerah pengembangan. Sedangkan dengan fasilitas Google Maps Api, untuk masalah pengembangan wilayah baru, hanya diperlukan menambahkan titik koordinat baru pada database sebagai acuan penunjukkan lokasi pada peta. Sehingga masalah pada pengembangan wilayah dapat teratasi tanpa harus menambahkan atau membuat peta baru yang dapat memakan waktu lebih lama.
VI. Dengan
dibangunnya Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web, diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat dalam hal mencari informasi tentang gereja GKPB di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
VII. data pendukung menjadi data spasial? 2. Bagaimana cara untuk menampilkan
informasi gereja GKPB yang diinginkan user, sesuai dengan inputan yang diberikan oleh user?
3. Bagaimana menbangun aplikasi Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web berdasarkan data yang diperoleh, sehingga dapat memberikan informasi dengan tepat
mengenai gereja yang ada di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar?
IX.
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
X. Melihat
luasnya permasalahan yang ada, maka akan dibatasi masalah yang akan dibahas dalam tugas akhir ini yaitu :
1. Perancangan dan menbangun aplikasi Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web, dimana sistem ini dapat memberikan informasi tentang tata letak lokasi gereja, profil singkat dan info terkini pada masing-masing gereja, yang akan ditampilkan melalui kolom berita.
2. Data yang digunakan adalah pada SIG GKPB Badung dan Denpasar Berbasis Web.
XI. Penggunaan MySQL versi 5.5.27 sebagai mesin basisdata non spasial yang mencatat data selain data geografis yang terdapat pada Google Map Api. XII.
XIII. KAJIAN PUSTAKA
XIV.
2.1 Sistem Informasi
XV. Informasi adalah hasil pengolahan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem menjadi bentuk yang mudah dipahami oleh penerimanya dan informasi ini menggambarkan kejadian-kejadian nyata untuk menambah pemahamannya terhadap fakta-fakta yang ada, sehingga dapat digunakan untuk pengambilan suatu keputusan. Sumber informasi adalah data. Data adalah kenyataan yang menggambarkan kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata.
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
XVII.
2.2 Sistem Informasi Geografis
XVIII. Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi bereferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database.
XIX. Menurut Munir (2012, h. 83), Sistem Inforasi Geografis (SIG) adalah himpunan instrumen (tools) yang difungsikan untuk pengumpulan, penyimpanan, pengaktifan, pentransformasian dan penyajian data spasial dari suatu fenomena nyata dari permukaan bumi, dilakukan untuk tujuan tertentu misalnya pemetaan.
XX. Definisi SIG selalu berkembang, bertambah dan bervariasi Hal ini telihat dari banyaknya definisi SIG yang telah beredar. Selain itu, SIG juga merupakan suatu kajian ilmu dan teknologi yang relatif baru digunakan oleh berbagai bidang disiplin ilmu, dan berkembang dengan cepat. XXI. Data geografis yang dimaksud
di atas adalah data spasial yang terdiri atas lokasi suatu geografi yang diset ke dalam bentuk koordinat yang ciri-cirinya adalah :
a. Memiliki atribut geometri seperti koordinat dan lokasi.
b. Terkait dengan aspek ruang seperti kota dan kawasan pembangunan.
c. Berhubungan dengan semua fenomena yang terdapat di bumi, misalnya data, kejadian, gejala, dan objek.
XXII. Dipakai untuk maksud-maksud tertentu, misalnya analisis, pemantauan ataupun pengelolaan.
XXIII.
2.3 Google Maps API
XXIV. API atau Application Programming Interface merupakan suatu
dokumentasi yang terdiri dari interface, fungsi, kelas, struktur dan sebagainya untuk
membangun sebuah
perangkat lunak. Dengan adanya API ini, maka memudahkan programmer untuk “membongkar” suatu software untuk kemudian dapat dikembangkan atau diintegrasikan dengan perangkat lunak yang lain.
XXV. Keunggulan dari API ini adalah memungkinkan suatu aplikasi dengan aplikasi lainnya dapat saling berhubungan dan berinteraksi. Bahasa pemrograman yang digunakan oleh Google Maps yang terdiri dari HTML, JavaScript dan AJAX serta XML, memungkinkan untuk menampilkan peta Google Maps di website lain.
XXVI. Google juga menyediakan layanan Google Maps API yang memungkinkan para pengembang untuk mengintegrasikan Google Maps ke dalam website masing-masing dengan menambahkan data point sendiri. Dengan menggunakan Google Maps API, Google Maps dapat ditampilkan pada website eksternal. Agar aplikasi Google Maps dapat muncul di website tertentu, diperlukan adanya API key. API key merupakan kode unik yang di regenerasikan oleh google untuk suatu website tertentu, agar server Google Maps dapat mengenali. Berikut ini adalah script sederhana bagaimana menampilkan peta Google Maps di dalam halaman web :
2.4 Konsep Pemrograman WEB
XXVII. Konsep
yang berarsitektur client-server. Pemrograman web menggunakan protocol HTTP (HyperText Transfer Protocol) dalam komunikasi antara client dan server yang mempunyai fungsi untuk mengambil atau menjalankan isi file dokumen web di sisi server dan menampilkannya di sisi client.
XXVIII. Worl Wide Web (WWW) adalah suatu ruang informasi dimana sumber-sumber daya yang berguna diidentifikasi oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI). Web sering dianggap identik dengan internet dan merupakan bagian dari internet tersebut. Halaman web biasanya diatur dalam koleksi material yang berkaitan yang disebut dengan website. Monitor menampilkan halaman web dari suatu server web yang diambil informasinya oleh Browser web. Kegiatan pemindahan halaman untuk pindah ke dokumen lain atau bahkan mengirim informasi kembali kepada server untuk berinteraksi dengannya sering disebut dengan surfing atau berselancar. Halaman-halaman dari sebuah situs internet atau web diakses dari sebuah URL (Uniform Resource Locator) yang menjadi akar (root) yang disebut homepage dan biasanya disimpan dalam server yang sama.
XXX.
2.4.1 Aplikasi Berbasis Web
XXXI. Membuat sebuah aplikasi berbasis web artinya memperkaya fungsi web server dengan cara menambahkan program pada dokumen web yang akan dieksekusi oleh server ketika file dokumen web tersebut diakses oleh web server serta memperkaya interaktifitas dokumen dengan cara menambahkan program pada dokumen web yang akan dieksekusi oleh web Browser ketika file dokumen tersebut ditampilkan oleh web Browser.
XXXII. Web bekerja dengan cara user mengetik URL di internet Browser. Kemudian Browser akan menghubungi server yang tersebut pada URL. Setelah terhubung, Browser mengirimkan HTTP request. Server menjawab dengan mengirimkan HTTP response (berisi header dan isi dokumen). Untuk dokumen yang berisi beberapa file (misalnya dokumen bergambar) Browser harus mengirimkan HTTP request lagi ke setiap file. Selanjutnya Browser akan menampilkan semua isi dokumen kepada user.
XXXIII.
XXXIV. METODOLOGI PENELITIAN
XXXV.
3.1 Pengumpulan Data
XXXVI. Data yang digunakan dalam perancangan dan membangun Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web, yaitu melalui studi literatur sistem informasi geografis berbasis web dan penjelasan yang diperoleh dari Sekretariat Sinode GKPB.
XXXVII.Data yang digunakan dalam penelitian berupa data primer dengan pengamatan langsung pada lapangan, juga berupa data sekunder dengan data sebagai berikut :
1. Data grafis merupakan data vektor atau elemen gambar/peta yang lengkap berisi titik (node), data ini diperoleh dari fasilitas Google Maps Api.
2. Data atribut atau tabular merupakan
XXXIX. Diagram konteks Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web, dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini :
XLI.
XLII.
XLIII. Gambar 3.1 Konteks Diagram XLIV.
XLV. XLVI. XLVII. 3.3 DAD Level 0
XLVIII.
XLIX. Diagram Alir Data (DAD) level 0 dari Sistem Informasi Geografis Gereja GKPB di Wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar Berbasis Web ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut.
L.
LI.
LII.
LIII. Gambar 3.2 DAD level 0 LIV.
3.4 DAD Level 1
LV.
Diagram Alir
Data (DAD) level 1 dari proses
manipulasi data dapat dilihat
pada gambar berikut.
LVI.
LVII.
LVIII.
LIX. Gambar 3.3 DAD level 1 proses manipulasi data
LX.
LXI. Diagram Alir Data (DAD) level 1 dari proses pencarian informasi dapat dilihat pada gambar berikut.
LXII.
LXIII.
LXIV. Gambar 3.4 DAD level 1 proses pencarian informasi
LXV.
LXVI. Diagram Alir Data (DAD) level 1 dari proses pendataan gereja dapat dilihat pada gambar berikut.
LXVII.
LXVIII.
LXIX.
LXX. Gambar 3.5 DAD level 1 proses pendataan gereja
LXXI. 3.5 Basisdata
LXXII. Basis data merupakan komponen penting dalam sistem informasi karena berfungsi sebagai penyedia informasi bagi user dan digunakan untuk menyimpan data. Basis data untuk sistem ini terbagi dua yaitu data spasial dan non spasial yang akan ditampilkan bersama informasi peta yang terdiri dari tabel sinode, tabel gereja, tabel pendeta, tabel ibadah, tabel berita, tabel kabupaten, tabel kecamatan dan tabel administrator.
LXXIII.
LXXIV. HASIL DAN PEMBAHASAN LXXV.
LXXV.1
Pengujian
LXXVI. Pengujianlunak. Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah perangkat lunak berfungsi dengan benar. Pengujian black box merupakan metode perancangan data uji yang didasarkan pada sepesifikasi perangkat lunak yang dibuat.
LXXVII.
Pengujian
aplikasi Sistem Informasi
Geografis Gereja GKPB Di
Wilayah Kabupaten Badung Dan
Kota Denpasar Berbasis
Web
berikut menggunakan data uji
berupa pengolahan data,
pengolahan proses dan
pengolahan laporan
serta
informasi kelengkapannya.
LXXVIII.
LXXVIII.1
Pembahasan
LXXIX.
LXXX. KESIMPULAN LXXXI.
5.1 Simpulan
LXXXII. Simpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Data yang diperoleh dari kantor Sinode GKPB berupa berkas informasi gereja GKPB Badung dan Kota Denpasar, dapat dipilah dan diolah menggunakan aplikasi database MySql versi 5.5.27 untuk mendapatkan data spasial maupun non spasial, sebagai database dari sistem informasi geografis yang dibangun.
2. Sistem Informasi yang dibangun, dapat memberikan informasi kepada user mengenai gereja GKPB di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar sesuai dengan kata kunci yang dipakai untuk memperoleh informasi. Informasi yang ditampilkan antara lain berupa visual tata letak lokasi geografis yang ditunjukkan pada peta, dan data profil singkat gereja GKPB. Seluruh informasi yang diterima oleh user, ditampilkan oleh sistem berdasarkan data yang tersimpan pada database sistem. 3. Sistem Informasi yang dibangun
berdasarkan data yang telah diperoleh, memiliki beberapa fasilitas yang dapat memberikan informasi kepada user mengenai gereja GKPB, yaitu
a. Menampilkan informasi lokasi geografis gereja pada peta dan informasi profil singkat gereja.
b. Menampilkan rute jalan pada peta, dari posisi user berada menuju GKPB.
c. Menampilkan gereja yang berada pada radius tertentu, dari posisi user. d. Mengelompokkan gereja
berdasarkan wilayah persebarannya. e. Menampilkan grafik pertumbuhan
gereja GKPB, berdasarkan wilayah persebarannya dan pertumbuhan gereja.
f. Menampilkan laporan gereja dan pendeta, yang disajikan dalam format PDF.
LXXXIII. 5.2 Saran
LXXXIV. Penulis berharap agar sistem informasi geografis gereja GKPB di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar berbasis web ini dapat disempurnakan dan dikembangkan lebih jauh, sehingga dapat diterapkan di lapangan dan memiliki nilai yang lebih tinggi, serta dapat bermanfaat bagi pihak lain. Adapun saran yang dapat diberikan dalam upaya penyempurnaan dan pengembangan sistem adalah sebagai berikut :
a. Diharapkan validasi saat user administrator melakukan login dapat ditingkatkan keamanannya, sehingga otoritas administrator dapat terjamin dan data yang ditangani tidak dapat dengan mudah diakses oleh pihak yang tidak memiliki kewenangan.
b. Untuk pengembangan selanjutnya diharapkan sistem disempurnakan, agar penanganan kolom berita pada masing-masing gereja GKPB dapat ditangani oleh gereja itu sendiri, tanpa harus melalui administrator sinode GKPB untuk efiensi waktu dan kinerja.