TINGKAT KEPUASAN PESERTA TERHADAP PELAYANAN BADAN
PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KETENAGAKERJAAN
CABANG BANDA ACEH
LAPORAN KERJA PRAKTEKOleh :
FEBRY CHANDRA 1101001010003
PROGRAM DIPLOMA III
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
BAB I
PENDAHULUAN
Jaminan sosial merupakan suatu hal yang
sangat penting untuk dipertimbangkanbagi setiap perusahaan maupun karyawan secara individu al. Jaminan sosial merupakanlangkah pasti untuk menjamin seorang individu atau perusahaan dal am menjalankankinerjanya. Jaminan sosial tersebut akan memberikan perlindungan secara financial maupun non-financial.
Jaminan sosial memberikan segala bentuk kenyamanan bagi
para perusahaan danpekerja dalam bekerja. Jaminan sosial memberikan banyak manfaat baik itu manfaat keselamatan kerja, hari tua, maupun kematian. Pada jaman yang sangat modern ini, jaminan dalam bekerja sangat dibutuhkan pekerja dan perusahaan demi kelancaran dan kenyamanan bekerja.
Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai
dengan kondisi kemampuan keuangan Negara. Indonesia
seperti halnya Negaraberkembang lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas padamasyarakat pekerja di sektor formal.
Untuk mendukung program penyelenggaraan program jaminan sosial, pemerintahmembentuk sebuah badan usaha
yang menanggulangi masalah jaminan sosial tersebut.Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ketenagakerjaan merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang jaminan sosial. BPJS Ketenagakerjaanmemiliki beberapa program yaitu jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminankematian dan jaminan kontruksi.
Pada awalnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Ketenagakerjaanmerupakan sebuah perusahaan perseroan terbatas yang bernama PT. Jamsostek (persero) sesuai dengan UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK).Dan melalui PP No.36/1995 ditetapkannya PT
Jamsostek sebagai badan penyelenggaraJaminan Sosial Tenaga Kerja. Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untukmemenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya,
Badan Penyelenggara JaminanSosial (BPJS) Ketenagakerjaan merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial. BPJS Ketenagakerjaan sebelumnya bernama Jamsostek (jaminan sosial tenagakerja), yang dikelola oleh PT. Jamsostek (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014.
PERPRES No. 109 Th 2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program JAMSOS pada pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa“ Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran”. Sesuai pada pasal 6 ayat 1 yang menyatakan “Penahapan kepesertaan untuk pekerja yang bekerja pada pemberi kerja selain penyelenggara Negara dikelompokkan berdasarkan skalausaha yang terdiri atas: a. usaha besar; b. usaha menengah; c. usaha kecil; dan d. usahamikro”. Dan
pada pasal 6 ayat 2
yaitu “Pemberi kerja selain penyelenggara Negara sesuaidengan skala usahanya sebagaimana di maksud pada ayat (1) mulai tanggal 1 Juli 2015 wajib mendaftarkan pekerjanya kepada BPJS Ketenagakerjaan untuk mengikuti program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program jaminan pensiun, dan program jaminan kematian secara bertahap.”
Setiap perusahaan dan para
pekerja baik pegawai negeri maupun karyawan swastawajib mendapatkan segala bentuk program jaminan social baik itu jaminan kecelakaankerja, jaminan hari tua, dan jaminan kematian dari
BPJS Ketenagakerjaan dan berhakmendapatkan pelayanan yang
sebaik mungkin sesuai dengan visi BPJS Ketenagakerjaan.
Tingkat kepuasan peserta yaitu menciptakan segala bentuk kenyamanan,
kelancaran serta situasi yang aman peserta melalui pelayanan yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan secara efektif dan efisien. Sesuai visi BPJS Ketenagakerjaan yaitu“Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia, terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan Pelayanan“, menjadikan BPJS Ketenagakerjaan mengutamakan pelayanan sebagai tolak ukur keberhasilan perusahaan.
Setiap harinya program komputer yang tersedia dan diisi oleh peserta akan dihitung persentasenya oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan peserta terhadap pelayanan yang telah diberikan oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan. Sistem perhitungan tingkat kepuasan peserta memiliki 2 cara, yaitu berdasarkan angket yang diberikan kepada beberapa perusahaan yang merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan dan berdasarkan program computer yang dinamakan survey kepuasan peserta yang tersedia di kantor BPJS Ketenagakerjaan dan diisi oleh setiap individu peserta yang mendapat pelayanan langsung di kantor BPJS Ketenagakerjaan.
Cara perhitungan berdasarkan angket yang diberikan kepada perusahaan adalah perhitungan yang dilakukan dalam kurun waktu setahun sekali sedangkan cara perhitungan berdasarkan program survey kepuasan peserta BPJS Ketenagakerjaan adalah perhitungan yang dilakukan pada setiap hari kerja.
Setiap individu peserta yang medapatkan pelayanan langsung di kantor BPJS Ketenagakerjaan berhak menilai langsung baik atau tidakkah pelayanan yang telah diberikan oleh staff BPJS Ketenagakerjaan. Hasil survey yang telah didapat dan dihitung setiap harinya akan menjadi penilaian bagi BPJS Ketenagakerjaan dan menjadi arsip dimana hasil survey penilaian tersebut akan dipertanggung jawabkan ke kantor BPJS Ketenagakerjaan pusat.
Dengan hasil survey yang didapat membuat BPJS Ketenagakerjaan terus meningkatkan system pelayanan yang baik dan profesional sehingga dapat memberikan kenyamanan dan kelancaran transaksi bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu sendiri.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengangkat judul laporan kerja praktek adalah
“TINGKAT KEPUASAN PESERTA TERHADAP PELAYANAN BADAN
PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KETENAGAKERJAAN CABANG BANDA ACEH”.
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme pengelolaan tingkat kepuasan peserta melalui survey kepuasan pelanggan yang dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagai perusahaan Negara yang wajib memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pesertanya. Beberapa manfaat dan kegunaan dari tulisan ini adalah :
1. Penulisan ini bermanfaat bagi masyarakat, mitra, dan peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk
mengetahui survey tentang “Tingkat Kepuasan Peserta Terhadap Pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh”.
2. Penulisan ini juga berguna sebagai salah satu syarat menyelesaikan studipada Diploma III
3. Bagi penulis laporan ini diharapkan bermanfaat sebagai wawasan penulismengenai
survey “Tingkat Kepuasan Peserta Terhadap Pelayanan BadanPenyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh”.
4. Bagi perusahaan laporan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalammengembangkan per
usahaan
5. Bagi pihak akademik penulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikanreferensi atau studi kasus
Agar diperoleh hasil yang memuaskan dan tepat, maka data yang digunakan padatulisan Laporan Kerja Praktek ini yang dilaksanakan pada Badan Penyelenggaran JaminanSosial adalah :
1. Observasi : Pengumpulan data
dan informasi dengan pengamatan secaralangsung pada setiap aktivitas yang terjadi didalam perusahaan yang berhubungan dengan pembahasan laporan
2. Interview : Pengumpulan data
dan informasi dengan mengadakanwawancara dan komunikasi langsung dengan karyawan yang ada padaBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Banda Aceh.
SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penulisan LKP, penulis mengelompokan kedalam lima bab, adapunsistematika penulisan LKP adalah sebagai berikut :
BAB 1 Pendahuluan, yang menguraikan latar belakang masalah, tujuan, kegunaan, metode pengumpulan, metode data serta sistematika penulisan.
BAB II Merupakan bab yang menjelaskan tentang Pelaksanaan Kerja Praktek, tempat praktek, lama waktu praktek, dan kegiatan selama praktek.
BAB III Bab yang menjelaskan tentang sejarah berdirinya BPJS Ketenagakerjaan, struktur BPJS Ketenagakerjaan, peserta BPJS Ketenagakerjaan dan program pelayanan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan.
BAB IV Merupakan bab yang menjelaskan tentang system pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, system penilaian tingkat kepuasan peserta, ketentuanpenilaian tingkat kepuasan peserta dan hasil survey tingkat kepuasan pesertaselama Kerja Praktek Lapangan.
BAB V Bab ini memberikan kesimpulan dan saran tentang Tingkat KepuasanPeserta BPJS Ketenagakerjaan.
PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
2.1.
Tempat Kerja Praktek
Praktek kerja lapangan dilaksanakan di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan cabang Banda Aceh. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan pada awalnya bernama PT. Jamsostek.
Berdasarkan penetapan UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan Sesuai dengan amanat undang-undang, tanggal 1 Januari 2014 PT Jamsostek berubah menjadi Badan Hukum Publik dan menggantikan namanya dari PT. Jamsostek menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan tetap dipercaya untuk menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja, yang meliputi JKK, JKM, JHT dan JAKON. Badan Penyelenggara Jaminan Sosialcabang Banda Aceh beralamat di Jalan TM Daud Beureuh No. 152 Banda Aceh.
BPJS Ketenagakerjaan memiliki visi yaitu “Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia, terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan
Pelayanan” dengan misinya yaitu “Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja
yang memenuhi perlindungan dasar bagi tenaga kerja serta menjadi mitra terpercaya bagi:
Tenaga Kerja: Memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga kerja dan keluarga
Pengusaha: Menjadi mitra terpercaya untuk memberikan perlindungan kepada tenaga
kerja dan meningkatkan produktivitas
Negara: Berperan serta dalam pembangunan.”
2.2.
Lama Waktu Praktek
Kerja Praktek yang dilaksanakan di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh kurang lebih selama 2 (dua) bulan, yaitu dimulai pada tanggal 10 Februari 2014 sampai dengan 10 Maret 2014 sesuai ketentuan dan kesepakatan yang telah disetujui antara pihak Prodi D-III Manajemen Perusahaan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala dan mahasiswa pelaksana Praktek Kerja Lapangan pada BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh.
2.3.
Kegiatan Selama Praktek
Dalam pelaksanaan Kerja Praktek Lapangan, penulis ditempatkan dibidang pelayanan. Banyak hal yang sudah penulis lakukan dan banyak pengalaman yang penulis dapatkan selama melakukan kerja praktek lapangan dikantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh.
Selama pelaksanaan Kerja Praktek Lapangan, penulis diberi tugas untuk menyelesaikan pengisian Program E-Learning. Program E-Learning adalah sebuah program ujian pembelajaran yang berisikan topik – topik penting dimana dalam setiap topik tersebut berisikan modul – modul yang wajib dibaca dan diikuti sebelum mengisikan soal – soal yang berkaitan dengan modul yang sudah diikuti. Program E-Learning diuraikan dalam 3 tahap, yaitu Pre-assessment, modul, dan Post-assessment.
Pre-assessment adalah soal ujian pengantar sebelum lanjut ke tahap modul. Tahap modul adalah tahap pemberian materi – materi pembelajaran sesuai dengan topik yang dipilih. Post-assessment adalah tahap terakhir yang berisikan soal – soal sesuai materi yang sudah diberikan dalam modul dan post-assessment juga menjadi pengukur tingkat pemahaman karyawan terhadap materi yang sudah diberikan dalam modul.
Setiap topik yang diisi akan dinilai ditingkat nasional bagi setiap cabang BPJS Ketenagakerjaan dan bagi kantor cabang yang paling banyak mengisi E-Learning akan diberikan apresiasi berupa piagam dari kantor wilayah.
Penulis juga membantu menyelesaikan surat Trauma Center BPJS Ketenagakerjaan. Surat Trauma Center merupakan surat pengantar untuk mempromosikan dan penjelasan tentang program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) serta berisikan segala prosedur perujukan klaim program Jaminan Kecelakaan Kerja(JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) kepada BPJS Ketenagakerjaan.
Selain kedua kegiatan diatas, penulis juga membantu staff BPJS Ketenagakerjaan dalam mengarsip data kantor,menyiapkan surat – surat yang akan digunakan, membantu dalam menyusun berkas beasiswa bagi anak peserta BPJS Ketenagakerjaan, dan lainnya.
BAB III
BPJS Ketenagakerjaan merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraan nya menggunakan mekanisme asuransisosial.
BPJS Ketenagakerjaan adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang asuransi sosial. BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT Jamsostek (Persero) merupakan pelaksana undang-undang jaminan sosialtenaga kerja.
BPJS Ketenagakerjaan sebelumnya bernama Jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja) yang dikelola oleh PT. Jamsostek (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari2014.
Sejarah terbentuknya BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT. Jamsostek (Persero) mengalami proses yang panjang, dimulai dari UU No.33/1947 jo UU No.2/1951 tentang kecelakaan kerja, Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.48/1952 jo PMP No.8/1956 tentang pengaturan bantuan untuk usaha penyelenggaraan kesehatan buruh, PMP No.15/1957 tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh, PMP No.5/1964 tentang pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS), diberlakukannya UU No.14/1969 tentang Pokok-pokok Tenaga Kerja.
Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut landasan hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada tahun 1977 dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga kerja (ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN untuk mengikuti program ASTEK. Terbit pula PP No.34/1977 tentang pembentukan wadah penyelenggara ASTEK yaitu Perum Astek.
Berikutnya lahirnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK). Dan melalui PP No.36/1995 ditetapkannya PT. Jamsostek sebagai badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang akibat risiko sosial.
tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi maupun produktivitas kerja.
Tahun 2011, ditetapkanlah UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Sesuai dengan amanat undang-undang, tanggal 1 Januri 2014 PT Jamsostek akan berubah menjadi Badan Hukum Publik. BPJS Ketenagakerjaan dipercaya untuk menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja, yang meliputi JKK, JKM, JHT dan JAKON.
BPJS Ketenagakerjaan memiliki visi yaitu “Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia, terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan
Pelayanan”. Dan misi “ Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang
memenuhi perlindungan dasar bagi tenaga kerja serta menjadi mitra terpercaya bagi:
Tenaga Kerja: Memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga kerja dan keluarga
Pengusaha: Menjadi mitra terpercaya untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dan
meningkatkan produktivitas
Negara: Berperan serta dalam pembangunan”.
Sebagai program publik, BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak dan membebani kewajiban secara pasti (compulsory) bagi pengusaha dan tenaga kerja berdasarkan Undang-undang No.3 tahun 1992 mengatur Jenis Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM) dan jaminan konstruksi (JAKON), sedangkan kewajiban peserta adalah tertib administrasi dan membayar iuran.
3.2.
Struktur Organisasi BPJS Ketenagakerjaan
Dalam menjalankan operasional perusahaan, setiap perusahaan termasuk BPJS Ketenagakerjaan wajib memiliki srtuktur organisasi yang memadai sesuai kebutuhan perusahaan. BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh dipimpin oleh seorang kepala cabang yang membawahi 4 bidang dan pegawai menurut bidangnya masing. Berikut adalah struktur organisasi BPJS Ketenagakerjaan cabang Banda Aceh :
Struktur BPJS Ketenagakerjaan cabang Banda Aceh Sumber : BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh, 2014
Dari struktur diatas, setiap bidang – bidangnya memiliki tugas dan tanggung jawab masing – masing, yaitu :
1. Kepala Cabang
Bertugas :
Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja dan anggaran perusahaan di unit kerjanya.
Merencanakan dan menetapkan kebijakan operasional di kantor cabang.
Mengarahkan dan memastikan peningkatan pelayanan kepada peserta.
Menentukan pelaksanaan sistem ADM dan Umum.
Melaksanakan fungsi sistem teknologi informasi.
Menyusun laporan kegiatan secara tepat waktu.
Tanggung Jawab :
Memberikan persetujuan atas rencana kegiatan dan operasionalisasi di kantor cabang yang
terkait dengan bidang pemasaran, pelayanan, keuangan, SDM dan Umum. Mengajukan pencairan anggaran rutin sesuai batas kewenangan.
Bertugas :
Menghimpun informasi dari berbagai instansi dan organisasi terkait untuk mendapatkan data
perusahaan sebagai dasar untuk menyusun data potensi dan menetapkan target kepesertaan. Mengendalikan pelayanan administrasi kepesertaan serta keluhan peserta untuk meningkatkan
kepuasan peserta.
Mengoordinasikan kegiatan penyuluhan kepada peserta dan pihak-pihak terkait lainnya.
Tanggung Jawab :
Mengusulkan penghapus bukuan piutang macet non aktif. Menyetujui penerbitan KPJ berdasarkan permintaan MO
Marketing Officer
Bertugas :
Proses data potensi.
Penerbitan surat pemberitahuan pelaksanaan program BPJS Ketenagakerjaan.
Kunjungan lapangan.
Sosialisasi
Relationship Officer
Bertugas :
Analisa informasi tentang perusahan peserta.
Analisa informasi keluhan peserta.
Analisa data pembayaran klaim jaminan
Penata Madya Administrasi Pemasaran
Bertugas :
Melakukan proses upload data SIPP dari perusahaan peserta.
1. Kepala Bidang Pelayaanan
Bertugas :
Melakukan penetapan besarnya jaminan sesuai batas kewenangan
Mengendalikan penyelesaian kasus klaim yang belum/tidak ditintak lanjuti oleh peserta untuk
penyelesaian kalim pending. Tanggung Jawab :
Menetapkan verifikasi berkas penetapan jaminan.
Mengusulkan solusi penyelesaian klaim bermasalah dan hutang jaminan
Penata Madya Pelayanan
Melakukan verifikasi, merekam dan menetapkan klaim JHT, JKK, JK dan Jakons.
Menginformasikan klaim JKK siap bayar ke perusahaan/ahli waris.
Melakukan kunjungan atas laporan kecelakaan kerja yang mempunyai risiko tinggi.
Customer Service Officer
Bertugas :
Memberikan pelayanan informasi program BPJS ketenagakerjaan dan menerima keluhan peserta
untuk meningkatkan pelyanan yang cepat dan akurat.
Menerima, meneliti kelengkapan dan keabsahan dokumen pengajuan pembayaran jaminan untuk
menjamin pelayanan yang baik dan benar.
Menerima dan memeriksa dokumen permintaan koreksi sertifikat, KPJ dan KPK
2. Kepala Bidang Umum & SDM
Bertugas :
Mengirim data kepesertaan (iuran, jaminan dan keuangan) secara periodik.
Mempersiapkan pelaksanaan diklat sesuai batas kewenangan untuk meningkatkan keterampilan
dan wawasan karyawan.
Memastikan terlaksananya pemberian hukuman dan usulan penghargaan untuk menegakkan
disiplin karyawan dan meningkatkan motivasi kerja. Tanggung Jawab :
Membuat rekomendasi atas usulan mutasi dan promosi karyawan di kantor cabangnya untuk
mendapat persetujuan dari kantor pusat.
Mengusulkan pengadaan barang dan jasa untuk kantor cabangnya sesuai dengan batas
kewenangan yang dimiliki.
Penata Media SDM
Bertugas :
Melaksanakan dan menata administrasi karyawan kantor cabang.
Melaksanakan tertib administrasi karyawan (pembayaran gaji, lembur, cuti, absensi, SPPD dll).
Penata Muda Umum
Bertugas :
Membantu merencanakan kebutuhan sarana dan prasarana kerja.
Menyiapkan proses pengadaan barang dan jasa sesuai ketentuan yang berlaku.
Mengatur dan memelihara sarana dan prasarana kerja agar selalu dalam kondisi siap pakai.
3. Kepala Bidang Keuangan & Teknologi Informasi
Melakukan verifikasi terhadap bukti penerimaan dan pengeluaran keuangan untuk pengendalian
anggaran.
Mengendalikan rekening antara untuk tertib administrasi keuangan.
Merencanakan, memelihara pengamanan data dan sistem komputerisasi untuk kelangsungan
operasional Tanggung Jawab :
Mengusulkan pencairan anggaran rutin sesuai dengan batas kewenangan.
Mengusulkan penempatan investasi dana di daerahnya sesuai batas kewenangan kantor cabang.
Verifikator Keuangan
Bertugas :
Melaksanakan pencatatan semuaa transaksi dengan tertib dan benar guna penerbitan neraca
percobaan
Pembukuan
Bertugas :
Membukukan penerimaan iuran via Bank.
Membukukan data BUBM.
Meminta persetujuan voucher pembayaran BUBM.
Mencetak listing harian
Penata Madya TI
Bertugas :
Melakukan pemeliharaan dan mengatur kewenangan sistem, database, hardware, dan software.
3.3.
Peserta BPJS Ketenagakerjaan
Sebuah perusahaan atau individu pekerja yang memakai jasa jaminan baik jaminan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, maupun jaminan kematian dan mendapat pelayanan baik pelayanan langsung maupun pelayanan tidak langsung yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan disebut Peserta BPJS Ketenagakerjaan. Peserta BPJS Ketenagakerjaan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu :
A. Peserta Tenaga Kerja Dalam Hubungan Kerja
Terdiri dari PNS, TNI/POLRI, Pensiunan PNS/TNI/POLRI, BUMN, BUMD, Swasta,Yayasan,
Joint Venture, Veteran, dan Perintis Kemerdekaan.
Pemberi Kerja mendaftarkan dirinya dan pekerjanya ke BPJS Ketenagakerjaan
Terdiri dari Pekerja sektor informal, Pekerja mandiri
Pekerja dapat membentuk wadah/organisasi yang terdiri dari minimal 10 orang dan mendaftar
ke BPJS Ketenagakerjaan.
Terdapat persyaratan untuk menjadi peserta dan mendapatkan pelayanan di BPJS Ketenagakerjaan, berikut adalah syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh calon peserta :
Sukarela
Usia maksimal 55 tahun
Dapat mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan secara bertahap dengan memilih program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta
Dapat mendaftar sendiri langsung ke BPJS Ketenagakerjaan atau mendaftar melalui wadah/kelompok yang telah melakukan Ikatan Kerjasama (IKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan
3.4.
Jenis Program Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan
Ada 4 program yang disediakan oleh BPJS Ketenagakerjaan yaitu Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Konstruksi (JAKON).
A. Jaminan Hari Tua (JHT)
Jaminan Hari Tua (JHT) adalah Program Jaminan Hari Tua ditujukan sebagai pengganti terputusnya penghasilan tenaga kerja karena meninggal, cacat, atau hari tua dan diselenggarakan dengan sistem tabungan hari tua. Program Jaminan Hari Tua memberikan kepastian penerimaan penghasilan yang dibayarkan pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 tahun atau telah memenuhi persyaratan tertentu.Iuran Program Jaminan Hari Tuaadalah sebagai berikut :
Ditanggung Perusahaan = 3,7%
Ditanggung Tenaga Kerja = 2%
Kemanfaatan Jaminan Hari Tua adalah sebesar akumulasi iuran ditambah hasil pengembangannya. Jaminan Hari Tua akan dikembalikan/dibayarkan sebesar iuran yang terkumpul ditambah dengan hasil pengembangannya, apabila tenaga kerja :
Mencapai umur 55 tahun atau meninggal dunia, atau cacat total tetap
Mengalami PHK setelah menjadi peserta sekurang-kurangnya 5 tahun dengan masa tunggu 1 bulan (dan tidak bekerja lagi di perusahaan lain).
B. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan pada saat dimulai berangkat bekerja sampai tiba kembali dirumah atau menderita penyakit akibat hubungan kerja. Iuran untuk program JKK ini sepenuhnya dibayarkan oleh perusahaan. Perincian besarnya iuran berdasarkan kelompok jenis usaha sebagaimana tercantum pada iuran.
Rp 20.000.000,- (maksimum) dan Pergantian Gigi tiruan Rp. 2.000.000,- (Maksimum)
4. Santunan Cacat o Biaya pemakaman Rp 2.000.000,-*
6. Biaya Rehabilitasi diberikan satu kali untuk setiap kasus dengan patokan harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi RS Umum Pemerintah dan ditambah 40% dari harga tersebut, serta biaya rehabilitasi medik maksimum sebesar Rp
2.000.000,-o Pr2.000.000,-othese/alat penganti angg2.000.000,-ota badan o Alat bantu/orthose (kursi roda)
7. Penyakit akibat kerja, besarnya santunan dan biaya pengobatan/biaya perawatan sama
Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja o Kelompok I: 0.24 % dari upah sebulan; o Kelompok II: 0.54 % dari upah sebulan; o Kelompok III: 0.89 % dari upah sebulan; o Kelompok IV: 1.27 % dari upah sebulan; o Kelompok V: 1.74 % dari upah sebulan;
*) sesuai dengan PP Nomor 84 tahun 2010 C. Jaminan Kematian
Jaminan Kematian diperuntukkan bagi ahli waris dari peserta program Jamsostek yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang. Pengusaha wajib menanggung iuran Program Jaminan Kematian sebesar 0,3% dengan jaminan kematian yang diberikan adalah Rp 21.000.000,- terdiri dari Rp 14.200.000,- santunan kematian dan Rp 2 juta biaya pemakaman* dan santunan berkala. Program ini memberikan manfaat kepada keluarga tenaga kerja seperti:
1. Santunan Kematian: Rp
14.200.000,-2. Biaya Pemakaman: Rp
2.000.000,-3. Santunan Berkala: Rp 200.000,-/ bulan (selama 24 bulan)
*) sesuai dengan PP Nomor 53 Tahun 2012
D. Jaminan Kontruksi
Jaminan Sektor Kontruksi Adalah Program Jaminan Sosial bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu pada Sektor Jasa Konstruksi yang diatur melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-196/MEN/1999 Tanggal 29 September 1999.
Setiap Kontraktor Induk maupun Sub Kontraktor yang melaksanakan proyek Jasa Konstruksi dan pekerjaan borongan lainnya wajib mempertanggungkan semua tenaga kerja (borongan/harian lepas dan musiman) yang bekerja pada proyek tersebut kedalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).Adapun proyek - proyek tersebut meliputi :
Proyek-proyek APBD
Proyek-proyek APBN
Proyek-proyek swasta, dll
Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian ditanggung sepenuhnya oleh kontraktor dan besarannya ditetapkan sebagai berikut:
1. Pekerjaan Konstruksi sampai dengan Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) sebesar
0,24% dari nilai kontrak kerja konstruksi.
2. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sebesar penetapan angka 1 ditambah 0,19% dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi dikurangi Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
3. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) sebesar penetapan angka 2 ditambah 0,15% dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi dikurangi Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
4. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) sampai dengan Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) sebesar penetapan angka 3 ditambah 0,12% dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi dikurangi Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).
5. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) sebesar penetapan
huruf d ditambah 0,10% dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi dikurangi Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).
Nilai Kontrak Kerja Konstruksi yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan iuran tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-150/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, mengatur kepesertaan maupun upah sebagai dasar penetapan iuran, sbb:
1. Bagi tenaga kerja harian lepas, borongan dan perjanjian kerja waktu tertentu yang bekerja kurang dari 3 (tiga) bulan wajib diikutsertakan dalam program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian, lebih dari 3 (tiga) bulan wajib diikutsertakan untuk seluruh program jaminan sosial tenaga kerja.
2. Untuk tenaga kerja harian lepas dalam menetapkan upah sebulan adalah upah sehari
upah sebulan dibagi 25 (dua puluh lima) , sedangkan yang bekerja 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu adalah upah sebulan dibagi 21 (dua puluh satu).
3. Untuk tenaga kerja borongan yang bekerja kurang dari 3 (tiga) bulan penetapan upah
sebulan adalah 1 (satu) hari dikalikan jumlah hari kerja dalam 1 (satu) bulan kalender. Bagi yang bekerja lebih dari 3 (tiga) bulan, upah sebulan dihitung dari upah rata - rata 3 (tiga) bulan terakhir. Jika pekerjaan tergantung cuaca upah sebulan dihitung dari upah rata - rata 12 (dua) belas bulan terakhir.
4. Untuk tenaga kerja yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja waktu tertentu, penetapan
upah sebulan adalah sebesar upah sebulan yang tercantum dalam perjanjian kerja.
BAB IV
TINGKAT KEPUASAN PESERTA TERHADAP PELAYANAN DI BPJS
KETENAGAKERJAAN BANDA ACEH
4.1
Sistem Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan
Seperti pada Bab sebelumnya, jaminan yang dilayani oleh BPJS Ketenagakerjaan berjumlah 4 program, yaitu jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan kontruksi. BPJS Ketenagakerjaan memiliki sistem yang berbeda – beda pada setiap programnya. Pada proses klaim jaminan kecelakaan kerja, ada 2 tahap yang harus dijalani oleh peserta. Pada tahap awal, peserta akan diberikan formulir pendaftaran klaim yang wajib diisi dan selanjutnya peserta akan menceritakan secara lisan kepada karyawan BPJS Ketenagakerjaan tentang kronologis kejadian kecelakaan. Pada tahap kedua adalah peserta wajib membuat kronologis secara tulisan dan memberikan syarat – syarat klaim seperti absensi sebelum terjadi kecelakaan, resep dokter apabila sudah melakukan pengobatan, surat doket, dan lain sebagainya.
Pada jaminan kematian, ada 2 cara peng-klaim-an jaminan kematian, yaitu jaminan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja dan jaminan kematian karena sakit. Pada jaminan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja, sistem pelayanan yang digunakan adalah sama seperti jaminan kecelakaan kerja. Namun pada jaminan kerja yang disebabkan oleh penyakit adalah dengan cara hanya menunjukkan surat keterangan dari perusahaan dan syarat – syarat umum lainnya.
Ketenagakerjaan seperti surat keterangan kerja, kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.
Dan yang terakhir adalah jaminan kontruksi, jaminan kontruksi merupakan pelayanan yang diberikan pada perusahaan kontruksi agar pekerjanya dapat menikmati pelayanan jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
Pelayanan dapat diberikan kepada semua peserta baik secara langsug maupun secara tidak langsung. Pelayanan secara langsung didapatkan dengan mendatangi kantor BPJS Ketenagakerjaan dan peserta akan dilayani sesuai dengan pengajuan atau peng-klaim-an yang diminta oleh peserta. Pelayanan secara tidak langsung didapatkan dengan cara menghubungi kantor BPJS Ketenagakerjaan baik melalui telepon, fax, maupun email. Pelayanan secara tidak langsung biasanya bagi peserta yang ingin menanyakan tentang program – program BPJS Ketenagakerjaan ataupun menanyakan tentang prosedur pengklaimannya.
4.2
Sistem Penilaian Tingkat Kepuasan Peserta
Sistem penilaian kepuasan peserta dapat dilakukan dengan 2 sistem, yang pertama adalah dengan memberikan kuisioner terhadap perusahaan yang telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kuisioner yang telah diberikan ke perusahaan akan diisikan oleh setiap karyawan. Kuisioner ini bertujuan untuk mengukur kepuasan peserta terhadap pelayanan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan dan hasil dari seluruh penilaian yang diberikan kepada perusahaan – perusahaan peserta BPJS Ketenagakerjaan akan dihitung 1 tahun sekali.
Sistem penilaian yang kedua ditunjukkan kepada peserta yang datang langsung ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dan mendapatkan pelayanan secara langsung. Sistem penilaian yang dilakukan adalah dengan menggunakan sistem software yang dinamakan survey kepuasan peserta. Sistem penilaian melalui sistem software ini dianggap paling dipercaya karena peserta yang sudah mendapatkan pelayanan akan memilih sendiri puas atau tidakkah pelayanan yang diberikan oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan. Hasil penilaian melalui software ini akan dihitung setiap hari kerja dan hasil penilaian tersebut akan menjadi objek penilaian bagi pihak BPJS Ketenagakerjaan sendiri untuk mengukur sudah sampai manakah kinerja BPJS Ketenagakerjaan dalam melakukan tugasnya. Hasil penilaian ini akan di print dan akan dijadikan arsip di BPJS Ketenagakerjaan.
Selama melakukan Prakter Kerja Lapangan, penulis mencoba untuk mengamati dan mencoba untuk menilai kepuasan peserta melalui software survey tingkat kepuasan peserta pada setiap hari kerjanya. Dari 2 (dua) bulan melakukan Praktek Kerja Lapangan, penulis mendapatkan hasil survey yang berupa data persentase hasil survey. Hasil survey tingkat kepuasan peserta dihitung setiap hari kerjanya. Hasil survey tingkat kepuasan peserta dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1. :
Persentase Hasil Survey Tingkat Kepuasan Peserta di BPJS Ketenagakerjaan Banda Aceh pada bulan pertama (10 Februari 2014 – 9 maret 2014) (dalam %)
Sumber : BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh, 2014
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat kepuasan peserta pada bulan pertama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan menunjukkan bahwa peserta cenderung memilih ikon sangat puas dari pada ikon yang lain. Pada bulan pertama hanya sekali peserta memilih ikon kurang puas yaitu pada tanggal 3 Maret 2014 dengan jumlah persentase hanya 4%. Hal ini diperkirakan karena adanya kesalahan sebelah pihak dalam berkomunikasi dan memahami prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan. Kepuasan peserta mencapai puncaknya yaitu pada tanggal 21 Februari 2014 dengan persentase sebesar 89% dan ini merupakan hasil persentase ikon sangat puasterbesar yang didapat oleh BPJS Ketenagakerjaan pada rentang waktu 10 Februari 2014 sampai dengan 3 Maret 2014. Dengan persentase seperti pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja pelayanan di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh pada tanggal 10 Februari 2014 sampai dengan 3 Maret 2014 sangat memuaskan peserta.
Kondisi yang berbeda terjadi pada bulan kedua yaitu tanggal 10 maret 2014 sampai dengan 10 april 2014 dimana terdapat peserta yang memilih ikon kurang puas terhadap pelayanan yang telah diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh. Berikut dibawah ini adalah data persentase hasil survey tingkat kepuasan peserta pada tanggal 10 Maret sampai dengan 10 April 2014.
Tabel 4.2. :
Persentase Hasil Survey Tingkat Kepuasan Peserta di BPJS Ketenagakerjaan Banda Aceh pada bulan kedua (10 Maret 2014 – 10 April 2014) (dalam %)
12 25/03/2014 0 0 0 45 55 100
13 26/03/2014 0 0 0 39 62 100
14 27/03/2014 Tidak ada penilaian
15 28/03/2014 0 0 11 67 22 100
16 01/04/2014 0 0 8 71 21 100
17 02/04/2014 0 0 19 63 19 100
18 03/04/2014 0 0 20 52 28 100
19 04/04/2014 0 0 21 33 46 100
20 07/04/2014 0 0 8 76 16 100
21 08/04/2014 0 0 18 50 32 100
22 10/04/2014 0 0 11 53 37 100
Sumber : BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh, 2014
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat 2 kali dalam 2 hari berturut – turut terdapat peserta yang tidak puas terhadap pelayanan BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini terjadi pada tanggal 11 dan 12 Maret 2014 dengan persentase sebesar 4% dan 5%. Ketidakpuasan peserta ini diduga karena keterlambatan dalam penanggulangan klaim yang diajukan oleh peserta. Pada tabel diatas juga terlihat bahwa ikon puas lebih tinggi persentasenya dibandingkan sangat puas. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pada tabel 4.1. dimana pada tabel tersebut memperlihatkan bahwa ikon sangat puas lebih dominan daripada ikon lainnya.
Tingginya ikon Puas dibandingkan ikon sangat puas diperkirakan karena pelayanan di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh bersifat standar dengan keinginan peserta sehingga ikon puas lebih dipilih peserta dibandingkan dengan ikon lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan peserta pada pelayanan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh dalam rentang waktu tanggal 10 Maret sampai dengan 10 April 2014 tergolong baik dan memuaskan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
BPJS Ketenagakerjaan mengedepankan sistem operasional dan pelayanan. Hal ini dapat dilihat dari visi BPJS Ketenagakerjaan yaitu “Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia, terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan Pelayanan“ sehingga membuat BPJS Ketenagakerjaan ingin melihat seberapa baikkah tingkat pelayanan yang mereka berikan kepada peserta. Maka dari itu timbul sebuah software komputer yang dinamakan survey tingkat kepuasan peserta.
Selama 2 bulan penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan di kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh dan penulis mengamati bagaimana sistem kerja survey tingkat kepuasan peserta dan dari hasil pengamatan tersebut penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa tingkat pelayanan yang diberikan kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan tergolong memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari presentase hasil survey tingkat kepuasan peserta. Presentase hasil survey tingkat kepuasan peserta menunjukkan bahwa hampir semua peserta lebih memilih pada ikon cukup puas, puas, dan sangat puas. Hampir tidak ada peserta yang memilih ikon tidak puas dan kurang puas. Pada bulan pertama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan yaitu pada rentang waktu tanggal 10 Februari sampai dengan 9 Maret 2014 tercatat hanya ada 4% peserta yang memilih ikon kurang puas dan hal tersebut hanya terjadi pada 1 hari yaitu pada tanggal 3 Maret 2014.
Pertimbangan lainnya pun dapat dilihat pada bulan kedua yaitu dalam rentang waktu 10 Maret sampai dengan 10 April 2014 yang mununjukkan bahwa ikon puas, cukup puas, dan
sangat puas lebih dominan. Hanya terjadi 2 kali peserta memilih ikontidak puas yaitu pada
tanggal 11 dan 12 Maret 2014. Hal ini diduga karena adanya kurang komunikasi antara pihak BPJS Ketenagakerjaan dalam mengusut pengklaiman peserta. selain pada tanggal tersebut, pelayanan BPJS Ketenagakerjaan berjalan baik dapat memuaskan pihak peserta.
Dengan hasil yang telah penulis amati selama 2 bulan, penulis mengambil kesimpulan bahwa BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banda Aceh sudah mampu menjalani tugasnya sebagaimana lembaga pelayanan masyarakat terutama tenaga kerja dan sebagai lembaga jaminan sosial.
5.2
Saran
pada kurangnya komunikasi sesama pihak BPJS Ketenagakerjaan sehingga menyebabkan adanya peserta kurang puas bahkan tidak puas dengan pelayanan yang diberikan.