• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA LAPANGAN LATIHAN GLADI PETA GLAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RENCANA LAPANGAN LATIHAN GLADI PETA GLAD"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA LAPANGAN

GLADI PETA, MODEL DAN MEDAN

PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR

PROPINSI SULAWESI TENGGARA

TAHUN 2016/2017

Kendari, Maret 2016

PEMERINTAH PROPINSI

(2)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

TIM PENYUSUN DOKUMEN RENLAP LATIHAN GLADI PETA, MEDAN DAN MODEL ANCAMAN BANJIR 2016

Mentor/Fasilitator Proses Penyusunan Dokumen Renlap Latihan Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Banjir 2016

1 Tanty S Reinhart Thamrin Team Leader TATTs Sultra

2 Mayor Inf Edward Korem 143 HO

3 Kapten Inf Salmar Kodim 1417 KDI

Anggota Penyusun Dokumen Renlap Latihan Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Banjir 2016Ancaman Banjir 2016

1 Andi Rajalangi, SH. MH BPBD Prop Sultra

2 Dody Rizal P,SE BPBD Prop Sultra

3 Moeh Yusuf , MH, ST BPBD Prop Sultra

4 Heny Handayani. SS, Msi BPBD Prop Sultra

5 Sumartin, SE BPBD Prop Sultra

6 Fatmawati, SE BPBD Prop Sultra

7 Kusnadi Senior Program TATTs Sultra

(3)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan

kesehatan sehingga penyusunan dokumen “Rencana Lapangan Gladi Peta, Model dan Medan

Menghadapi Ancaman Banjir 2016/2017” yang disusun bersama- sama oleh Badan Daerah

Penanggulangan Bencana Propinsi Sulawesi Tenggara bersama dengan Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) dan Lintas Sektoral Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara,

Organisasi Kebencanaan, Organisasi Penyandang Disabilitas, dan Relawan Pengurangan

Resiko Bencana dengan bimbingan dan fasilitasi dari Program Technical Assistance and

Training Teams (TATTs) Sultra telah selesai disusun.

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi

penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan

bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Penyelenggaraan penanggulangan bencana yang

efektif dan efisien membutuhkan partisipasi yang terkoordinir dari berbagai pihak.

Perencanaan kontinjensi yang disusun bersama-sama oleh para pihak sangat diperlukan

sebagai langkah kesiapsiagaan bersama dalam menghadapi kemungkinan terjadinya ancaman

bencana yang menimbulkan kondisi kedaruratan di masyarakat Propinsi Sulawesi Tenggara.

Dokumen Rencana Lapangan Gladi Peta, Model dan Medan Menghadapi

Ancaman Bencana Banjir 2016/2017 ini merupakan panduan bagi Satuan Kerja Perangkat

Daerah (SKPD) dan Lintas Sektoral Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara, Organisasi

Kebencanaan dan Relawan Pengurangan Risiko Bencana dalam melaksanakan Gladi Peta.

Model dan Medan dalam rangka kesiapsiagan Penanganan Bencana Banjir 2016/2017 secara

sistematis, efektif, efisien, dan terkoordinir. Pelaksanaan Gladi Peta, Model dan Medan

merupakan tahap uji sistem kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana banjir yang

selanjutnya akan diikuti dengan Gladi Posko, Drill Teknis dan Taktis dan pada puncaknya

adalah menguji sistem kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana banjir dalam Gladi

Lapang Menghadapi Ancaman Bencana Banjir 2016.

Kami bebesar hati dengan kajian resiko yang telah dilakukan bersama-sama, data

yang telah diolah dengan teliti, peta dan model lokasi yang rawan mengalami ancaman

bencana banjir yang telah disiapkan dengan cermat, kerjasama para pihak dalam menyusun

dokumen ini dan kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam dokumen Rencana

Lapangan Gladi peta, Model dan Medan Menghadapi Ancaman Banjir 2016/2017 ini,

kiranya dapat bermanfaat bagi semua pihak dalam upaya penyelenggaraan penanggulangan

bencana banjir. Semoga Selamat Seluruh Alam Semesta. Terima kasih.

(4)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

DAFTAR ISI

Halaman

TIM PENYUSUN i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

1. Dasar 1

2. Tujuan dan Sasaran 1

3. Waktu dan Tempat 2

4. Materi Latihan 2

5. Referensi 2

6. Macam, Sifat dan Metode Latihan 2

7. Organisasi Latihan 2

8. Pelaksanaan Gladi Peta, Model dan Medan 3

9. Pakaian dan Perlengkapan 5

10.Administrasi dan Logistik 5

11.Lain –lain 6

(5)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

RENCANA LAPANGAN

GLADI PETA, GLADI MODEL DAN GLADI MEDAN

ANCAMAN BENCANA BANJIR

a. Undang – Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

b. Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan

Bencana.

c. Peraturan Kepala BNPB No. 10 tahun 2008 tentang Pedoman Komando Tanggap Darurat

Bencana.

a. Tujuan :Agar para peserta latihan mengerti dan memahami tentang manfaat pelaksanaan

gladi peta, gladi model, dan gladi medan serta mampu melaksanakan gladi peta, gladi

model dan dan gladi medan khususnya pada tahap sebelum bencana sesuai dengan tugas

pokok dan fungsi masing – masing.

b. Sasaran :

1) Kuantitatif :Kesiapsiagaan seluruh Instansi/Lembaga/organisasi/relawan menghadapi

ancaman bencana banjir 2016/2017 terkait Pengurangan Risiko Bencana di Propinsi

Sulawesi Tenggara.

2) Kualitatif :

a) 1Memahami dan mampu melaksanakan prosedur penentuan kedudukan

sumberdaya di atas peta terkait kesiapsiagaan dan perencanaan operasi tanggap

darurat bencana banjir;

b) Memahami dan mampu melaksanakan prosedur penentuan kedudukan

sumberdaya di lokasi sebenarnya terkait kemungkinan ancaman bencana banjir

PEMERINTAH PROPINSI SULAWESI TENGGARA

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

Kompleks Bumi Praja Anduonohu Telp. (0401) Kendari 93231

ii

(6)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

yang dihadapi; dan

c) Memahami dan mampu melaksanakan pengambilan keputusan komando dengan

cepat dan tepat dalam menghadapi persoalan taktis.

3. Waktu & Tempat

a. Waktu :

1) Pelaksanaan Gladi Peta :Hari Rabu - Kamis, 23-24Maret 2016.

2) Pelaksanaan Gladi Model : Hari Selasa, 29 Maret 2016.

3) Pelaksanaan Gladi Medan : Hari Rabu - Kamis, 30- 31 Maret 2016.

b. Tempat :

1) Gladi Peta akan dilaksanakan di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Banjir 2016

BPBD Propinsi Sultra.

2) Gladi Model akan dilaksanakan di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Banjir

2016 BPBD Propinsi Sultra.

3) Gladi Medan akan dilaksanakan di Kelurahan Benu-benua dan Kelurahan Punggaloba

Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari Propinsi Sultra.

4. Materi Latihan Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan

a. Menentukan lokasi operasi tanggap darurat banjir 2016;

b. Menentukan Pos Komando;

c. Menentukan Staging Area (Posko Aju: pos tempat pelaku tanggap darurat dan logistik

siap deploy);

d. Menentukan Camp (pos istirahat pelaku tanggap darurat);

e. Menentukan Base (pos logistic yang dipersiapkan);

f. Menentukan jalur evakuasi;

g. Menentukan TES (Tempat Evakuasi Sementara) dan shelter.

5. ReferensiNaskah/Petunjuk pelaksanaan gladi peta, gladi model dan gladi medan.

6. Macam, Sifat & Metode Latihan

a. Macam: Latihan tanpa pasukan/unsur pimpinan

b. Sifat: Satu pihak dikendalikan

c. Metode: Praktek

7. Organisasi latihan

a. Penasehat : Gubernur Sulawesi Tenggara

b. Pimpinan Umum Latihan : Komandan Korem 143/HO

c. Tim Pengawas dan Evaluasi : 5 orang ( BNPB, DPRD Prov. Sultra, Korem 143 HO,

POLDA Sultra, BPBD Prov. Sultra

d. Komandan Latihan : Dandim 1417/Kendari

e. Wakil Komandan Latihan : Kalaksa BPBD Prop. Sultra

f. Detasemen Markas dan Alat : 2 (dua) orang (Danbekang dan Kabid Log BPBD Prov.

Sultra)

(7)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

h. Koordinator Materi : Tanty SR Thamrin

i. Pelatih : 15 orang terdiri atas

1). Pelatih Kaji Cepat : Kusnadi (TATTs), L.M. Hayruddin (BPBD Prov. Sultra,

Chasan Chariri (Dinkes Prov. Sultra)

2). Pelatih SAR : Basrano (SAR Kendari) Ld. Maranay dan Harun Yahya

(BPBD Prov. Sultra)

3). Pelatih Shelter : Kapten Suparman (Kodim 1417/Kendari)

4). Pelatih Logpal : Sony (BPBD Prov. Sultra), Capt. Aan Saputra (Lanal

Kendari)

5). Pelatih Komunikasi : Rahman Saliha, la Ode Husuri (BPBD Prov. Sultra), M.

Idham (RAPI)

6). Pelatih 1st Responder : Djamaluddin (PMI), Sulaeman (BPBD Prov. Sultra)

j. Pendukung : 75 Orang

1). Bidang Operasional : Mayor Inf. Edward (Koord)

2). Bidang Logpal : Najib, S.Sos (Koord)

3). Bidang Komunikasi/Hub : Drs. Hasman Boy (Koord)

4). Bidang Litbang : Dodi Rizal Puuwawoa (Koord)

5). Sekretariat : Andi Rajalalangi Sadapotto, SH, MH (Koord)

k. Pelaku : Masyarakat dan Instansi terkait

8. Pelaksanaan Gladi Peta,Model dan Medan

a. Tahap perencanaan tanggal 19s/d29 Februari 2016

1) Mempelajari tugas gladi peta,model, dan medan;

2) Menyusun rencana gladi peta,model, dan medan;

3) Briefing rencana gladi peta,model, dan medan;

b. Tahap persiapan tanggal tgl 14 s/d 22 Maret 2016

1) Meninjau medan/membuat rencana;

2) Sempurnakan rencana gladi peta,model, medan;

3) Briefing pelatih, pendukung dan pelaku;

4) Paparan pelaksanaan gladi peta,model, medan;

5) Distribusi Rencana lapangan gladi peta,model,dan medan;

6) Pengecekan akhir sarana dan prasarana yang digunakan dalam gladi peta, model,

medan.

(8)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

c. Tahap pelaksanaan

1) Gladi peta tanggal 23 s/d 24 maret 2016

a) Pelaku gladi peta dibagi menjadi 5 (lima) kelompok tiap-tiap kelompok terdiri

dari beberapa instansi;

b) Koordinator latihan menjelaskan mekanisme pelaksanaan gladi peta kepada

peserta latihan;

c) Pelatih dan pendukung mengecek kesiapan ruangan dan alat peralatan yang akan

digunakan pada pelaksanaan gladi peta;

d) Pelaku diberi naskah/persoalan (7 persoalan tentang materi latihan) gladi peta

berupa keadaan umum, keadaan khusus dan keadaan lanjutan tentang pelaksanaan

gladi peta;

e) Para pelaku menyepakati bentuk persoalan dalam peta sebagai pedoman

pelaksanaan latihan;

f) Selama jalannya latihan gladi peta dipandu oleh moderator, penulis dan

penyimpul yang disajikan oleh masing – masing kelompok ;

g) Hasil keputusan dalam gladi peta merupakan keputusan terbanyak dengan

menyampaikan alasan yang logis sesuai pengamatan di atas peta;

h) Pelaksanaan gladi peta selesai selanjutnya evaluasi oleh koordinator latihan.

2) Gladi Model Tanggal 29 Maret 2016

a) Pelaku gladi model dibagi menjadi 5 (lima) kelompok tiap-tiap kelompok terdiri

dari beberapa instansi;

b) Koordinator latihan menjelaskan mekanisme pelaksanaan gladi model kepada

peserta latihan;

c) Pelatih dan pendukung mengecek kesiapan ruangan dan alat peralatan yang akan

digunakan pada pelaksanaan gladi model;

d) Pelaku diberi naskah/persoalan (7 persoalan tentang materi latihan) gladi model

berupa keadaan umum, keadaan khusus dan keadaan lanjutan tentang pelaksanaan

gladi model;

e) Para pelaku menyepakati bentuk persoalan dalam model sebagai pedoman

pelaksanaan latihan;

f) Selama jalannya latihan gladi model dipandu oleh moderator, penulis dan

penyimpul yang disajikan oleh masing – masing kelompok;

g) Hasil keputusan dalam gladi model merupakan keputusan terbanyak dengan

menyampaikan alasan yang logis sesuai pengamatan di atas model;

h) Pelaksanaan gladi model selesai selanjutnya evaluasi oleh koordinator latihan.

3) Gladi Medan Tanggal 30 Maret 2016

a) Pelaku gladi medan dibagi menjadi 5 (lima) kelompok tiap-tiap kelompok terdiri

dari beberapa instansi;

3

(9)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

b) Koordinator latihan menjelaskan mekanisme pelaksanaan gladi medan kepada

peserta latihan;

c) Pelatih dan pendukung menempatkan bendera di medan sebenarnya sebagai tanda

persoalan yang akan didiskusikan oleh peserta latihan;

d) Pelaku diberi naskah/persoalan (7 persoalan tentang materi latihan) gladi medan

berupa keadaan umum, keadaan khusus dan keadaan lanjutan tentang pelaksanaan

gladi medan;

e) Para pelaku menyepakati bentuk persoalan yang telah diberi oleh pelatih berupa

bendera sebagai pedoman pelaksanaan latihan;

f) Selama jalannya latihan gladi medan dipandu oleh moderator, penulis dan

penyimpul yang disajikan oleh masing – masing kelompok di medan/lapangan;

g) Hasil keputusan dalam gladi medan merupakan keputusan terbanyak dengan

menyampaikan alasan yang logis sesuai pengamatan di medan sebenarnya;

h) Pelaksanaan gladi medan selesai selanjutnya evaluasi oleh koordinator latihan.

d. Tahap Akhir 30 – 31 Maret 2016

1) Pengecekan personil dan materiil yg digunakan dalam pelaksanaan gladi peta,model,

medan;

2) Evaluasi oleh koordinator materi;

3) Pembuatan laporan kegiatan.

9. Pakaian dan Perlengkapan

a. Pakaian

1). Pelatih : Seragam instruktur/fasilitator

2). Pelaku : PDL(sesuai instansi masing – masing)

3). Pendukung : Pakaian Instruktur/Fasilitator

b. Perlengkapan

1). Pelatih : Peta, mistar, protector/busur derajat, kompas, alat tulis dan lain lain

2). Pelaku : Peta, mistar, protector/busur derajat, kompas, alat tulis dan lain lain

3). Pendukung : Sesuai Fungsi dan tugas.

10.Administrasi dan Logistik

a. Personel :

1) Penyelenggara : 27 orang

2) Pelaku : 55 orang

b. Administrasi

1). Kertas HVS 2 rim

2). Alat tulis 1 dos

3). Mistar 25 buah

4) 25 set Protector navigasi/busur derajat (untuk mengukur derajat di atas peta).

(10)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

5). Peta :

a). Topografi 5 lembar

b). Administrasi 5 lembar

c). Peta tata ruang/jalan 2 lembar

c. Logistik

1). HT 10 buah

2). Bendera 7 buah

2). Tiang bendera 7 batang

3). Peta 1 buah

4). Model beserta kelengkapannya 1 set

5). Sound system 1 set

6). LCD Proyektor 1 buah

7). Ban lengan 30 buah

8). Konsumsi dan Snack

a). Makan pagi : jam 07.00 pagi

b). Makan siang : jam 12.00 siang

c). Makan malam : jam 18.00 malam

d. Kendaraan

1). Mobil rescue

2). Ambulans

3). Truk

4). Motor

5). Commob (Communication Mobile)

6). Water treatment mobile

7). Truck serbaguna

8). Mobil dapur umum

e. BBM

1). Pertamax

2). Bensin

3). Solar

11.Lain – Lain. Hal – hal yang belum tercantum dalam rencana lapangan gladi peta, model dan

medan ini akan disampaikan secara langsung di lapangan.

(11)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran :

1. Struktur Organisasi

2. Pembagian Tugas Pelatih/Pendukung

3. Jadwal Kegiatan Latihan

4. Keadaan Umum, Keadaan Khusus, dan Keadaan Lanjutan

5. Rencana Kegiatan Latihan (RKL)

6. Bagan Daerah Latihan

7. Jaring Komunikasi

8. Jalur Evakuasi

9. Rencana Pengamanan

(12)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran A (Struktur Organisasi ) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

BNPB

DPRD PROP.SULTRA : ABDURRAHMAN SALEH (KETUA DPRD) KOREM 143/HO

POLDA SULTRA

BPBD PROP.SULTRA, KABID.BIDANG I : Drs. MUSTAMIN

BIDANG LITBANG BPBD PROV. : MUH.SYARIF DENHUB KOREM : KOORDINASI INTERNAL EXTERNAL : ANDI RAJALLANGI (BPBD PROP.SULTRA)

BRIMOB : IPDA SARNUNGA SATKOM LANAL KDI : KEAMANAN : LETTU. AGUNG (LANUD HLO)

LANUD HLO: LETTU LEK. YADI BPBD PROP.SULTRA : ANTHOMINA KALLO KODIM: KAPTEN INF. SAHIDIN BPBD KOTA KENDARI : ERWIN BASARNAS : BUDI RAHARJO DINSOS PROP. : ADNAN M.Si LANAL KENDARI : LOG.SAT POL-PP : PAULUS EFENDY POLDA SULTRA : LANUD HLO : SETYO BOWO

KODIM 1417/KDI : KOREM 143/HO : PMI KOTA KDI : AHMAD M LANAL KENDARI : POLTEKKES KENDARI

RS.ISMOYO

RS.BHAYANGKARA PELATIH KAJI CEPAT : KUSNADI (TATTS), HAYRUDDIN (BPBD PROP.), CHASAN CHARIRI (DINKES)

RS.BAHTERAMAS PELATIH SAR : BASRANO (BASARNAS), MARANAY & HARUN Y. (BPBD PROV.SULTRA)

PELATIH SHELTER : KAPTEN INF. SUPARMAN (KODIM 1417/KDI) & LA LUMAIDA (BPBD.PROP) PELATIH LOGPAL : SONY (BPBD.PROP.), KAPTEN AAN SAPUTRA (LANAL KENDARI)

DINSOS PROP : HARSANTO PELATIH KOMUNIKASI : RAHMAN. S. & HUSURI (BPBD. PROP.), M.IDHAM (RAPI)

FKPPI SULTRA : DAYANUDDIN PELATIH 1ST RESPONDER : DJAMALUDDIN (PMI KENDARI), SULAEMAN (BPBD. PROP.)

PPDI : LD. FRIDI

BPBD PROP : SYARIFUDDIN PELAKU

PENASEHAT GUBERNUR SULAWESI TENGGARA

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA LATIHAN TANGGAP DARURAT BENCANA BANJIR 2016

Drs . HASMAN BOY. HS KEPALA PELAKSANA BPBD PROPINSI SULAWESI TENGGARA

BIDANG LOGPAL

KABID.BIDANG II BPBD PROPINSI : Drs . KASIM

(13)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran B (Pembagian Tugas Pelatih/Pendukung) Pada Rencana Lapangan Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra

T.A 2016

PEMBAGIAN TUGAS PELATIH / PENDUKUNG

No Nama Pangkat Jabatan Tugas Ket

1 2 3 4 5

1 Kapt.Inf.Salmar Kapten Inf Koordinator

Latihan

(14)
(15)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

4 Masyarakat dan Instansi Terkait

(16)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran C (Jadwal kegiatan Latihan) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

JADWAL KEGIATAN LATIHAN

No Waktu/tanggal Kegiatan Tempat Ket

(17)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran D (Keadaan Umum, Keadaan Khusus dan Keadaan Lanjutan) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

KEADAAN UMUM

A. INDONESIA

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak

pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua

Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan

dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari

Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa

pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh

rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti

letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data

menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki

tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan

di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat

menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah

yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering

mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan

oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik

aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600?2000 terdapat 105

kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9

persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk.,

2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi

bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa,

pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku,

pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah

(18)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa

bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu

panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin

yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi

topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun

kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat

menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana

hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia,

kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya

jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor

dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia.

Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember,

Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Meskipun

pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan

dampak lingkungan yang minimal, proses pembangunan tetap menimbulkan

dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini

bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar)

menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan

mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin

berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan

kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko

bencana.

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses

masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya

kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat

fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah penyakit akibat

(19)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

seriusnya adalah faktor keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk

Indonesia pada tahun 2004 mencapai 220 juta jiwa yang terdiri dari beragam

etnis, kelompok, agama dan adat-istiadat. Keragaman tersebut merupakan

kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena

pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan

pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi

kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial.

Kondisi ini potensial menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang

dapat berkembang menjadi bencana nasional.

Pemerintah INDONESIA melalui PUSAT PENGKAJIAN DAN

PENELITIAN BENCANA ALAM yang terdiri dari unsur BADAN

METEOROLOGI KLIMATOLOGI dan GEOFISIKA dibantu PUSAT

VULKANOLOGI dan MITIGASI BENCANA GEOLOGI serta lembaga lainnya

melakukan pengkajian dan penelitian tentang kondisi geologi INDONESIA

berkaitan dengan bencana yang telah terjadi dan kemungkinan terjadinya bencana

alam berikutnya, antara lain:

1. Geografi :

Kondisi geografis wilayah Indonesia berada di atas 4 lempeng di

dunia yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng

Eurasia dan Lempeng Philipina. Memiliki bukit barisan memanjang

dari Sumatera, Jawa sampai Nusa Tenggara. Sungai besar dan kecil

dengan jumlah 5590 buah dan pantai sangat panjang yakni + 81.000

km sehingga Indonesia mempunyai potensi terjadinya bencana alam.

Potensi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu banjir

dan tanah longsor. Banjir bandang yang sering terjadi tidak hanya

terjadi karena perubahan iklim yang ekstrem tetapi juga karena ulah

manusia yang tidak arif di dalam memperlakukan alam sehingga

keseimbangan alam menjadi terganggu. Secara umum bencana banjir

(20)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

jangka waktu yang lama, penebangan hutan secara liar dan tak

terkendali, pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan

AMDAL, buruknya penanganan sampah serta rusaknya bendungan

dan saluran air, secara geografis potensi bencana alam yang lain adalah

bahaya tanah longsor. Bencana longsor merupakan fenomena geologi

dimana terjadi gerakan massa batuan, tanah yang menuruni lereng dan

keluar dari lereng. Terjadinya gerakan massa batuan dan tanah tersebut

dikarenakan akumulasi air yang terdapat di dalam tanah sehingga

bobot tanah menjadi besar. Jika air tersebut menembus sampai tanah

kedap air dapat berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi

licin dan tanah yang mengalami pelapukan di atasnya akan bergerak

mengikuti lereng dan keluar lereng, yang apabila dalam jumlah yang

cukup besar akan menimbulkan bencana yang berpotensi

menimbulkan kerugian personel maupun materiil yang cukup besar

dan dalam kurun 5 tahun terakhir, berdasarkan data dari Badan

Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selama kurun waktu

tersebut, Indonesia telah dilanda bencana alam sebanyak 4.408 kali

yang meliputi Gempa bumi sebanyak 71 peristiwa, Gempa bumi yang

mengakibatkan tsunami sebanyak 2 peristiwa, letusan gunung berapi

sebanyak 24 peristiwa, tanah longsor sebanyak 469 peristiwa, banjir

sebanyak 1.916 peristiwa, banjir disertai tanah longsor sebanyak 158

peristiwa, kekeringan sebanyak 1.083 peristiwa, angin topan sebanyak

580 peristiwa dan Gelombang pasang sebanyak 105 peristiwa.

Berdasarkan data BMKG dari 497 Kabupaten/kota 176 di wilayah

Indonesia beresiko tinggi banjir, kemudian dari 154 Kabupaten/kota

beresiko longsor. Propinsi Sulawesi Tenggara masuk dalam kategori

rawan ancaman bencana banjir, longsor, angin putting beliung, dan

(21)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

2. Demografi.

Karakteristik Bangsa Indonesia yang heterogen dengan tingkat

pertumbuhan penduduk yang tinggi dan penyebaran penduduk yang

tidak merata. Di sisi lain penataan pemukiman penduduk yang tidak

berorientasi pada kepentingan lingkungan hidup di mana sering

ditemui adanya penduduk yang mendirikan bangunan/rumah di sekitar

bantaran sungai dan di daerah jalur hijau tanpa dilengkapi dengan

saluran/pembuangan air (drainase) sehingga dapat berpotensi

menghambat aliran air dan apabila hujan mudah terjadi banjir dan

tanah longsor. Secara umum bencana banjir maupun tanah longsor

selain disebabkan oleh faktor alam, juga disebabkan oleh ulah manusia

yang tidak arif di dalam memelihara keseimbangan alam, pemotongan

tebing pada penambangan batu dilereng yang terjal, penimbunan tanah

urukan di daerah lereng, kegagalan struktur dinding penahan tanah,

penggundulan hutan, sistem pertanian yang tidak memperhatikan

irigasi yang aman, penataan kota yang tidak terencana dengan baik

misalnya konversi kawasan resapan air menjadi dartah perumahan atau

pertokoan, serta sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.

3. Kondisi sosial;

Adanya perubahan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat

yang menjurus kepada menurunnya wawasan kebangsaan yang

berdampak pada menurunnya ketahanan Nasional bangsa. Beberapa

kondisi sosial yang menonjol adalah sebagai berikut :

a. Politik ; Tuntutan masyarakat terhadap janji-janji Pemerintah dan

banyaknya manuver politik yang dilakukan oleh kelompok

kepentingan tertentu dalam menanggapi kebijakan Pemerintah

diantaranya dalam menangani bencana alam, penanganan

pengungsian, penertiban hutan lindung, hutan produksi dan

(22)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

b. Ekonomi ; Dengan tingginya harga nikel, aspal dan hasil

tambang hanya di pasar Indonesia menggugah masyarakat untuk

melakukan penambangan secara besar-besaran walaupun tidak

memperhatikan analisa dampak lingkungan demi mendapat

keuntungan sebesar-besarnya;

c. Sosial budaya ; Adapun persoalan Sosial Budaya yang menonjol

salah satunya adalah kesadaran masyarakat dalam mengelola

lingkungan tidak memperhatikan Analisa Mengenai Dampak

Lingkungan (Amdal), pelaksanaan/pengawasan dan penataan

ruang serta sistem Drainase yang tidak terpadu dan tidak

konsisten terhadap Amdal ditambah lagi perambahan hutan,

pembuangan limbah tidak pada tempatnya, hal tersebut telah

menimbulkan kerusakan ekosistem sehingga mengakibatkan

bencana alam.

B. SULAWESI

Pulau Sulawesi merupakan wilayah pertemuan 3 lempeng utama dunia

yaitu lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Salah satu lempengan tersebut

terjadi patahan dengan pusat patahan di bawah Laut Banda, Propinsi Sultra

dengan posisi antara 02°45' - 06°15' Lintang Selatan dan 120°45' - 124°30' Bujur

Timur berpotensi terjadi gempa bumi dan tsunami, khususnya daerah di sepanjang

pesisir Sulawesi. Sulawesi Sebagai Daerah Tektonik.Sebagai akibat dari

tumbukan dan konvergensi tiga lempeng utama, Wilayah Indonesia bagian timur

dikatakan sebagai zona geodinamika yang kompleks dan dikenal dengan sebutan

triple junction.Akomodasi tumbukan tersebut diantaranya adalah:

1. Sesar Palu Koro

2. Sesar Matano

3. Sesar Saddang

(23)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Menurut para ahli Geologi, bahwa terbentuknya pulau Sulawesi yang

terjadi secara alamiah oleh proses alam, memang berbeda dengan proses

terbentuknya pulau-pulau yang lain di Negara Kepulauan Nusantara ini, bahkan

hanya beberapa pulau di dunia yang mempunyai kesamaan dalam proses

terbentuknya. Pulau Sulawesi terbentuk dari proses Endogen, yaitu proses yang

terjadi karena adanya pengangkatan dari dalam perut bumi. Artinya pembentukan

pulau Sulawesi terjadi dengan sendirinya, tidak seperti pulau-pulau lain yang

proses pembentukannya merupakan hasil Patahan/Pelepasan Daratan dari suatu

Daratan Utama/Benua. Seperti pulau Jawa yang dulunya bersatu dengan pulau

Sumatra dan bersatu dengan Malaysia terus ke daratan Asia.Pulau Kalimantan

dulunya bersatu dengan sebagian daerah Malaysia terus ke Philipina terus ke

daratan Asia.Pulau Maluku dulunya bersatu dengan Irian Jaya (kini Papua)

bersatu dengan Papua New Guinea terus ke daratan Australia.Hal ini dapat

dibuktikan dengan banyaknya persamaan flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) di

antara masing-masing wilayah tersebut. Berbeda halnya dengan pulau Sulawesi

yang memang dulunya terbentuk dengan sendirinya dari proses Endogen. Jadi

pulau Sulawesi terbentuk bukan dari proses perpisahan daratan oleh proses alam

dari dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia apalagi benua-benua lain.

Hal ini terbukti dari ada beberapa jenis flora dan fauna yang tidak ada samanya di

dunia, sebagai contoh hewan Anoang (sejenis hewan Rusa) dan hewan Kerbau

Belang (Tedong Bonga) di Tana Toraja.

Dalam sejarah geologi yang panjang, Sulawesi terbentuk sebagai hasil

tumbukan 2 jalur daratan yang mengapung. Pembentukan daratan yang baru

membawa dampak : ekologi yang unik. Gunung dan hutan yang ada di Pulau

Sulawesi saat ini dieksploitasi oleh pemerintah maupun swasta. Data dari

BAPEDALDA tiap propinsi di Sulawesi menerangkan bahwa sekitar 45 % dari

pihak yang mengekspolitasi hutan dan gunung tersebut telah mengakibatkan

kerusakan lingkungan di sekitarnya. Ekploitasi hutan dan gunung secara

berlebihan sehingga banyak gunung yang menjadi rata dan hutan menjadi

(24)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

banjir bandang di Kendari, Sinjai, Bantaeng dan Bulukumba, tanah longsor dan

Gowa, angin puting beliung di Makassar, banjir bandang di Gorontalo, Bolaang

Mongondow, dll.

KEADAAN KHUSUS

A. SULAWESI TENGGARA

Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara berada di dua lempeng benua Asia

dan Australia yang masih aktif. Adanya pergeseran patahan aktif menyebabkan

terjadinya gempa tektonik. Tercatat empat sesar yang melalui wilayah sultra juga

menjadi pemicu gempa yakni Sesar Lawanopo, Kolaka, Buton dan Lasolo.

Dalam tujuh tahun terakhir gempa yang terjadi di Sultra mencapai 3.036

kali,namun yang bisa dirasakan hanya 66 kali kejadian. Berdasarkan data BMKG,

setiap tahun gempa yang terjadi di Sultra fluktuatif, namun puncaknya pada tahun

2011 yang mencapai 894 kali kejadian dengan kekuatan magnitude cukup besar,

44 kali diantaranya dapat dirasakan oleh masyarakat. Pada tahun 2007 aktifitas

pergeseran lempeng dan sesar aktif lebih kecil, dimana hanya 118 pergeseran dan

hanya 5 kali yang dirasakan. Pada tahun 2012, aktifitas pergeseran lempeng

kembali menurun dimana hanya 534 kejadian dan hanya lima kali yang dirasakan.

Sedangkan pada tahun 2013, kejadian gempa sebanyak 440 kali, dengan daya

goncangan lebih besar 10 kali kejadian.

Sulawesi Tenggara juga terjadi beberapa bencana alam seperti banjir

bandang di Kec. Oheo Kabupaten Konawe Utaradan gempa bumi berkekuatan 6,0

SR mengguncang Kabupaten Konawe Selatan. Pusat gempa berada di kedalaman

18 kilometer di bawah permukaan bumi, tepatnya didaerah Kolono ± 70 km barat

Kabupaten Konawe Selatan.

Berdasarkan perkiraan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, badai

(25)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

wilayah Sultra khususnya di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya. Badai dengan

siklus tiga tahun sekali ini akan menimbulkan curah hujan di atas ambang normal

dan diperkirakan akan terjadi hingga Maret sampai April 2016. Bila terjadi hujan

di wilayah Kota Kendari maka air yang seharusnya masuk ke Teluk Kendari akan

meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya, hal ini diakibatkan oleh sedimentasi

Teluk Kendari yang semakin tebal dari waktu ke waktu.

B. KOTA KENDARI

Kota Kendari merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana banjir.

Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi tersebut antara lain:

1. Geografi

a.Kontur geografis yang bervariasi sehingga menyebabkan

tergenangnya air di daerah dataran rendah. Secara umum bencana

banjir yang terjadi di kota Kendari disebabkan oleh curah hujan

dalam jangka waktu lama, penebangan hutan secara liar dan tidak

terkendali, pembangunan infrastruktur yang tidak memeperhatikan

dampak lingkungan.

b.Struktur tanah/batuan ; Terjadinya gerakan massa batuan dan tanah

dikarenakan akumulasi air yang terdapat di dalam tanah sehingga

bobot tanah menjadi besar jika turun hujan dan mengalami

pergeseran bergerak mengikuti lereng dan apabila dalam jumlah

yang cukup besar berpotensi menimbulkan bencana.

c.Pendangkalan Teluk Kendari ; Pembangunan infrastruktur yang

tidak memperhatikan dampak lingkungan, penebangan hutan liar,

buruknya penanganan sampah dan pengelolaan Das (Daerah Aliran

Sungai) yang belum memadai merupakan beberapa faktor penyebab

(26)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

2. Demografi

Kota Kendari berpenduduk 335.889 jiwa. Tingkat pertumbuhan

penduduk yang tidak merata serta penataan pemukiman penduduk yang

tidak berorientasi pada kepentingan lingkungan hidup.Masih ditemukan

banyak pemukinan penduduk di daerah pesisir serta masih ditemui

adanya penduduk yang mendirikan bangunan/rumah di sekitar jalur

hijau tanpa dilengkapi drainase sehingga kondisi berpotensi

mengakibatkan genangan tinggi di pemukiman dan jalan raya.

3. Kondisi Sosial

Adanya perubahan tata nilai yang berkembang di masyarakat

yang menjurus kepada menurunnya kesadaran terhadap kepentingan

lingkungan hidup.

a. Kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan tidak

memperhatikan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),

pelaksanaan/pengawasan dan penataan ruang serta sistem drainase

yang tidak terpadu dan tidak konsisten terhadap AMDAL ditambah

lagi perambahan hutan, pembuangan limbah tidak pada tempatnya,

hal tersebut telah menimbulkan kerusakan ekosistem sehingga

mengakibatkan bencana alam;

b. Terjadinya perambahan hutan secara besar-besaran serta masih

adanya beberapa kelompok kepentingan tertentu yang masih terus

melakukan aktifitas dengan memanfaatkan pro kontra terhadap

kebijakan Pemerintah dalam menangani bencana alam;

c. Pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan ekosistem dan

dampak lingkungan serta penanganan kasus hukum yang belum

tuntas yang menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat

(27)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

C. Kecamatan Kendari Barat

Berdasarkan kondisi yang dijelaskan diatas dan pengalaman kejadian

bencana banjir tahun 2013, menyebabkan Kota Kendari menjadi lokasi rawan

terhadap ancaman bencana banjir terutama di wilayah Kecamatan Kendari Barat

khususnya di Kelurahan Benu - benua dan Puunggaloba. Wilayah Kelurahan

Benu-benua dan Punggaloba berada diantara Pegunungan Kawasan Nipa - nipa

dan pesisir Teluk Kendari yang bila terjadi hujan selama berhari hari maka daerah

tersebut akan terendam banjir yang memerlukan perhatian khusus bagi

instansi/lembaga penanggulangan bencana.

Wilayah Benu-benua dan Puunggaloba secara geografis,demografis dan

sosial adalah sebagai berikut :

1. Kondisi Geografis : wilayahnya daerah lembah sehingga secara umum

bencana banjir terjadi di Kecamatan Kendari Barat khususnya lagi di

Kelurahan Benu-benua dan Puunggaloba disebabkan oleh curah dalam

waktu yang lama,ditambah penebangan hutan di pegunungan nipa raya

secara liar,pembangunan yang tidak memperhatikan dampak

lingkungan dan pendangkalan/sedimentasi di Teluk Kendari yang

semakin parah.

2. Karakteristik warga masyarakat yang heterogen dengan tingkat

pertumbuhan penduduk yang tidak merata serta penataan pemukiman

penduduk yang tidak berorientasi pada perspektif pengurangan risiko

bencana dan kepentingan lingkungan hidup, dimana masih banyaknya

pemukinan penduduk tanpa dilengkapi drainase sehingga berpotensi

terjadinya banjir. Kondisi Sosial warga Kecamatan Kendari barat

khususnya kelurahan Benu benua dan Kelurahan Puunggaloba,

masyarakatnya masih banyak yang belum sadar akan pentingnya

kebersihan lingkungan, serta kurangnnya sosialisasi dari Pemerintah

(28)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

KEADAAN LANJUTAN

Berdasarkan kondisi yang dijelaskan di atas dan pengalaman kejadian

bencana banjir tahun 2013, menyebabkan Kota Kendari menjadi lokasi rawan

terhadap ancaman bencana banjir terutama di wilayah Kecamatan Kendari Barat

khususnya di Kelurahan Benu - benua dan Puunggaloba. Wilayah Kelurahan

Benu-benua dan Punggaloba berada di antara Pegunungan Kawasan Nipa - nipa

dan pesisir Teluk Kendari yang bila terjadi hujan selama berhari hari maka daerah

tersebut akan terendam banjir yang memerlukan perhatian khusus bagi

instansi/lembaga penanggulangan bencana.

1. Keluharan Benu-benua

a. Luas wilayah = + 2,40 km2

b. Jumlah rumah = 102 rumah

c. Jumlah penduduk = 2.446 jiwa

d. Jumlah penduduk rentan = 68 jiwa

2. Keluharan Puunggaloba

a. Luas wilayah = 2,72 km2

b. Jumlah rumah = 224 rumah

c. Jumlah penduduk = 4.725 jiwa

(29)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Tentukan :

1. Lokasi operasi tanggap darurat banjir 2016;

2. Pos Komando Tanggap Darurat Banjir 2016

3. Staging Area (Posko Aju : pos tempat pelaku tanggap darurat dan logistik siap

deploy);

4. Camp (pos istirahat pelaku tanggap darurat);

5. Base (pos logistik yang dipersiapkan);

6. Jalur evakuasi;

(30)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran E (Rencana Kegiatan Latihan) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop.Sultra T.A 2016

-Penjelasan mekanisme latihan

-Pembacaan hasil oleh moderator/penyimpul mengeluarkan satu orang

(31)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran F (Bagan Daerah Latihan) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

BAGAN DAERAH LATIHAN

1. KOMPLEKS KELURAHAN BENU BENUA DAN KELURAHAN PUUNGALOBA

(32)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran G (Jaring Komunikasi) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

JARING KOMUNIKASI

Frek UT : ... Frek Cad : ...

WADANLAT

KOODINATOR DANLAT

(33)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran H (Jalur Evakuasi) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi Medan Bencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

JALUR EVAKUASI

Lokasi Kejadia

(34)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

Lampiran I (Rencana Pengamanan) Pada Rencana Lapangan

Gladi Peta, Gladi Model, dan Gladi MedanBencana Banjir BPBD Prop. Sultra T.A 2016

RENCANA PENGAMANAN LAPANGAN GLADI PETA, GLADI MODEL DAN GALDI MEDAN

1. Dasar :

a. Undang – Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

b. Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan

Penanggulangan Bencana.

c. Perka BNPB No. 10 tahun 2008 tentang Pedoman Komando Tanggap

Darurat Bencana.

d. Perka BNPB No. 14 tahun 2010 tentang Pedoman Pembentukan Pos

Komando Tanggap Darurat Bencana.

e. Perka BNPB No. 24 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Rencana

Operasi Darurat Bencana.

2. Tujuan dan sasaran

a. Tujuan :

1) Tujuan Umum : Agar memastikan terlaksananya proses latihan gladi

peta, gladi model dan gladi medan kesiapsiagaan menghadapi ancaman

banjir 2016 Propinsi Sultra berlangsung dengan aman;

2) Tujuan Khusus : Agar memastikan keamanan dan keselamatan para

peserta latihan gladi peta, gladi model dan gladi medan kesiapsiagaan

menghadapi ancaman banjir 2016 Propinsi Sultra.

b. Sasaran :

1) Kuantitatif : 700 orang/pelaku latihan gladi peta, gladi model dan gladi

medan perwakilan Instansi/Lembaga/organisasi/relawan menghadapi

ancaman bencana banjir 2016/2017 terkait Pengurangan Risiko

Bencana di Propinsi Sulawesi Tenggara.

(35)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

a. Melaksanakan prosedur penentuan kedudukan sumberdaya di atas

peta terkait kesiapsiagaan dan perencanaan operasi tanggap

darurat bencana banjir dengan aman.

b. Melaksanakan prosedur penentuan kedudukan sumberdaya di

lokasi sebenarnya terkait kemungkinan ancaman bencana banjir

yang dihadapi dengan aman; dan

c. Melaksanakan pengambilan keputusan komando dengan cepat dan

tepat dalam menghadapi persoalan taktis dengan aman.

3) Waktu & Tempat

a) Waktu :

(1) Pelaksanaan Gladi Peta :Hari Rabu - Kamis, 23-24Maret 2016;

(2) Pelaksanaan Gladi Model : Hari Selasa, 29 Maret 2016.

(3) Pelaksanaan Gladi Medan:Hari Rabu-Kamis, 30-31 Maret 2016.

b) Tempat :

(1) Gladi Peta akan dilaksanakan di Kantor BPBD Prov. Sultra

(2) Gladi Model akan dilaksanakan di Kantor BPBD Prop Sultra

(3) Gladi Medan akan dilaksanakan di Kelurahan Benu-benua dan

Kelurahan Punggaloba Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari

Propinsi Sulawesi Tenggara.

3. Sasaran Pengamanan a. Personil

1). Sebelum kegiatan

a). Melaksanakan pengecekan jumlah personil

b). Menanyakan kondisi kesehatan peserta, apa ada yang sakit atau

tidak bisa mengikuti kegiatan

c). Memberikan petunjuk dan larangan selama kegiatan

2). Selama kegiatan

a). Setiap personil melaksanakan kegiatan sesuai petunjuk dari

koordinator latihan

(36)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

koordinator/pelatih

3). Sesudah kegiatan

a). Melaksanakan pengecekan ulang jumlah personil yang ikut kegiatan

latihan

b). Menanyakan kondisi kesehatan peserta setelah melaksanakan

kegiatan latihan

c). Menekankan tindakan keamanan setelah kegiatan

b. Materiil

1). Sebelum kegiatan

a). Mendata materiil yang dibutuhkan dalam pelaksanaan latihan

b). Mencatat kondisi materiil sebelum digunakan

c). Memberikan tanggung jawab kepada peserta latihan tentang

keamanan materiil

2). Selama kegiatan

a). Menggunakan materiil sesuai fungsinya

b). Kebersihan dan keamanan materiil dipertanggungjawabkan selama

pelaksanaan latihan

3). Sesudah kegiatan

a). Mengecek kondisi materiil yang telah digunakan

b). Mengembalikan materiil pada tempatnya

c. Kegiatan

1). Sebelum kegiatan

a). Koordinator menjelaskan mekanisme pelaksanaan kegiatan

b). Koordinator menjelaskan larangan dan keharusan selama

pelaksanaan kegiatan

2). Selama kegiatan

a). Pelaku melaksanakan kegiatan sesuai petunjuk pelatih

b). Pelatih mencatat dan melaksanakan penilaian kepada pelaku

c). Pelaku tidak boleh meninggalkan lokasi latihan tanpa seizin

koordinator/pelatih

(37)

Renlap Gladi Peta, Model dan Medan Ancaman Bencana Banjir Prop. Sultra 2016

a). Pengecekan personil materiil dan evaluasi pelaksanaan kegiatan

b). Mengembalikan seluruh alat dan prasarana yang digunakan

c). Laporan kepada komandan latihan bahwa latihan telah dilaksanakan.

4. Pengamanan Kondisi Khusus

a. Apabila terjadi keadaan darurat maka atas perintah komandan latihan atau

koordinator latihan untuk menghentikan kegiatan untuk melaksanakan

pengamanan personil maupun materiil yang ada

b. Apabila kondisi telah aman kegiatan dapat dilanjutkan atau pertimbangan

dari komandan latihan maupun koordinator latihan

5. Penutup.

Rencana pengamanan ini dibuat untuk dijadikan pedoman oleh seluruh peserta

baik itu pelatih, pendukung dan pelaku yang harus dipatuhi sebelum, selama

Referensi

Dokumen terkait

Proses mutasi masuk dimulai ketika calon siswa datang ke sekolah untuk membeli Formulir Pendaftaran dan langsung membayar uang pendaftaran kepada tim PSB (Penerimaan Siswa Baru)

9 Hasil analisis ragam yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5% pada tabel 6 menjelaskan bahwa pemberian naungan 50% pada dua varietas tanaman iji kedelai yang

Jasa boga adalah suatu institusi atau perorangan yang melakukan kegiatan pengelolaan makanan yang disajikan di luar tempat usaha atas dasar pesanan (Depkes RI 1993).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, kandungan logam besi (Fe), cadmium (Cd), kromium (Cr), mangan (Mg), timbal (Pb), tembaga (Cu), pada stasiun pengukuran Sungai Digoel

Dengan terbukti adanya signifikansi negatif dari belanja modal terhadap kemiskinan pada penelitian ini, maka jelas bahwa belanja modal daerah sendiri terbukti konsisten

Pengalaman menunjukkan bahwa pada saat terjadi kekeringan dan krisis air pada musim kemarau, pada saat itulah teknologi modifikasi cuaca dilakukan sebagai salah satu upaya

Melempar bola adalah teknik dasar yang harus dikuasai dalam per- mainan kasti. Terutama bagi regu penjaga agar bisa melempar ke bagian tubuh regu pemukul dengan tepat. Melempar

Berdasarkan pendekatan teoritik tersebut diperoleh jawab sementara yang pada dasarnya mengonfirmasi kemampuan BRIC yang relatif lebih baik daripada NIC dalam menghadapi ancaman