• Tidak ada hasil yang ditemukan

FEMINISME Tentang dan Pengertian Sosio

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FEMINISME Tentang dan Pengertian Sosio"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

FEMINISME

Feminisme (Feminist/Femina), berasal dari bahasa latin yang berarti perempuan. Menurut Kamla Bhasin dan Nighat Said Khan, Feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut. Sedangkan menurut Yunahar Ilyas, Feminisme adalah kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.Dalam teori-teori feminisme pusat perhatian tertuju pada masalah-masalah mendasar tentang perempuan dengan isu utama keadilan gender. Dengan demikian yang dimaksud dengan feminisme adalah paham atau teori tentang Keadilan Gender dan yang dimaksud dengan feminis adalah orang-orang yang menyadari bahwa perempuan telah diperlakukan tidak adil dan berusaha mengubah keadaan tersebut.

Feminisme diawali dengan suatu pergerakan sosial yang muncul di dunia Barat pada tahun 1800-an dengan tuntutan kesamaan hak dan keadilan bagi perempuan. Di sini tokoh yang muncul Susan dan Elizabeth telah memperjuangkan hak-hak politik, yaitu hak untuk memilih. Diawali dengan kelahiran era pencerahan yang terjadi di Eropa dimana Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condoracet sebagai pelopornya. Menjelang abad 19 gerakan feminisme ini lahir di negara-negara penjajahan Eropa dan memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.

a)

Gelombang pertama atau lebih dikenal suara perempuan.

Kata feminisme sendiri pertama kali dikreasikan oleh aktivis sosialis utopis yaitu Charles Fourier padatahun 1837. Kemudian pergerakan yang berpusat di Eropa ini pindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak adanya publikasi buku yang berjudul The Subjection of Women (1869) karya John Stuart Mill, dan perjuangan ini menandai kelahiran gerakan feminisme pada gelombang pertama.

Maka, dari latar belakang demikian, di Eropa berkembang gerakan untuk menaikkan derajat kaum perempuan tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan Politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Tahun 1792 Mary Wolllstonecraf membuat karya tulis berjudul Vindication of theright of Woman yang isinya dapat dikatakan meletakan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak –hak kaum perempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka memberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini dinikmati oleh kaum laki-laki. Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya adalah gender inequality, hak-hak perempuan, hak-hak reproduksi, hak-hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualita.

b)

Gelombang kedua atau dikenal dengan Pribadi yang berpolitik

(2)

diikutsertakannya kaum perempuan dan hak suara perempuan dalam hak suara parlemen. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dari selanjutnya ikut mendiami ranah politik kenegaraan. Akhir 1960-an dan awal 1970-an menjadi saksi

meningkatnnya aktivisme kaum kiri yang bersemangat di seluruh dunia Barat. Inilah konteks kemunculan Gerakan Pembebasan Perempuan, bersamaan dengan gerakan-gerakan lain seperti Gay Liberation dan Black Power . Feminisme liberal gelombang kedua dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang yahudi kelahiran Algeria yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekontruksionis, Derrida. Dalam the laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo-American Feminist, dia menolak essensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. Dengan keberhasilan gelombang kedua ini, perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu

menyelamatkan perempuan-perempuan yang teropresi di dunia ketiga, dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama.

c)

Gelombang Ketiga

Gelombang ketiga feminism sangat dipengaruhi oleh gelombang kedua. Gelombang ketiga ini didorong oleh kebutuhan pengembangan teori dan politik aktivis feminis. Feminisme sebagai kegiatan politik akar rumputnya tidak hilang. Kaum perempuan tetap aktif hingga sekarang dalam kampanye-kampanye dengan isu tunggal seputar, misalnya pornografi, hak reproduksi, kekerasaan terhadap perempuan dan hak-hak legal perempuan. Kaum feminisi juga terlibat dan memberikan kontribusi yang khas terhadap gerakan gerakan sosial yang lebh luas, seperti gerakan perdamaian dan kampanye menuntut hak-hak kaum lesbian dan gay. Gagasan-gagasan feminis juga memiliki pengaruh dalam politik arus utama dan berbagai perdebatan publik yang lebih luas

(3)

mengenai keadilan gender, penyebab ketidakadilan dan cara mengatasinya. Ketika feminisme bersinggungan dengan pemikiran kontemporer seperti pemikiran paska-kolonial dan posmodern, muncul konsep-konsep yang diterima secara universal, seperti perempuan universal, tubuh, gender dan seksualitas. Konsep-konsep feminisme kontemporer ini memperlihatkan kebebasan perempuan dalam menampilkan diri dan berkutat pada masalah alienasi perempuan secara seksual, psikologis dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem.

Secara umum teori feminisme dikelompokan dalam tabel di bawah ini :

TEORI FEMINISME

Gelombang Awal Feminisme Gelombang Kedua Feminisme Gelombang Ketiga Feminisme

 Feminisme Liberal

 Feminisme Radikal

 Feminisme sosialis-marxis

 Feminisme Eksistensialis

 Feminisme Gynosentris

 Feminisme postmoderen

 Feminisme Multikultural

 Feminisme global

 Ecofeminisme

I.

Gelombang Awal Fenisme

a)

Feminisme Liberal

Teori feminis liberal meyakini bahwa masyarakat telah melanggar nilai tentang hak-hak kesetaraan terhadap wanita terutama dengan cara mendefinisikan wanita sebagai sebuah kelompok ketimbang sebagai individu-individu

. Mazhab ini mengusulkan agar wanita

memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Para pendukung feminisme liberal sangat banyak, antara lain : John Stuart Mill, Harriet Taylor, Josephine St. Pierre Ruffin, Anna Julia Copper, Ida B. Wells, Frances E. W. Harper, Mary Church Terrel, dan Fannie Barrier Williams. Gerakan utama feminisme liberal tidak mengusulkan perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukan wanita ke dalam struktur yang ada berdasarkan prinsip kesetaraan dengan laki-laki. Lebih kepada perjuangan yang harus menyentuh kesetaraan politik antara wanita dan laki-laki melalui penguatan perwakilan wanita di ruang-ruang publik. Para feminis liberal aktif memonitor pemilihan umum dan mendukung laki-laki yang memperjuangankan kepentinga wanita. Berbeda dengan para pendahulunya, feminis liberal saat ini cenderung lebih sejalan dengan model liberalisme kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung sistem kesejahteraan negara (welfare state), dan meritokrasi.

b)

Feminisme Radikal

(4)

Maria Stewart, salah satu feminis kulit hitam pertama, pada tahun 1830-an mengusulkan penguatan relasi diantara wanita kulit hitam. Elizabeth Cuddy Stanton pada tahun 1880-an menentang hak-hak seksual laki-laki terhadap wanita dan menyerang justifikasi keagamaan yang menindas wanita. Feminis radikal juga dikembangkan dari gerakan-gerakan Kiri Baru (New Lef) yang menyatakan bahwa perasaan-perasaan keterasingan dan ketidakberdayaan pada dasarnya diciptakan secara politik dan karenanya transformasi personal melalui aksi-aksi radikal merupakan cara dan tujuan yang paling baik. Mazhab ini secara fundamental menolak agenda feminisme liberal mengenai kesamaan hak wanita;dan menolak strategi kaum liberal yang bersifat tambal sulam, incremental, dan tidak menyeluruh.

Berseberangan dengan feminis liberal yang menekankan kesamaan antara wanita dan laki-laki. Misalnya, wanita dan laki-laki mengkonseptualisasikan kekuasaan secara berbeda. Bila laki-laki berusaha untuk mendominasi dan mengontrol orang lain; wanita lebih tertarik untuk berbagi dan merawat kekuasaan. Inti ajaran feminis radikal diantaranya, the persona is politcal sebagai slogan yang kerap digunakan oleh feminis radikal. Maknannya : bahwa pengalaman-pengalaman individual wanita mengenai ketidakadilan dan kesengsaraan yang oleh para wanita dianggap sebagai masalah-masalah personal, pada hakikatnya adalah isu-isu politik yang berakar pada ketidakseimbanga kekuasaan antara wanita dan laki-laki. Memprotes eksploitasi wanita dan pelaksanaan peran sebagai istri, ibu dan pasangan sex laki-laki, serta menganggap perkawinan sebagai bentuk formalisasi

pendiskriminasian terhadap wanita. Menolak sistem hierarkis yang berstrata berdasarkan garis gender dan kelas, sebagaimana diterima oleh feminis liberal.

c)

Feminisme Marxis dan Sosialis

Feminis sosialis mulai dikenal sejak tahun 1970-an. Menurut Jagga, mazhab ini merupakan sintesa dari pendekatan historis-materialis Marxisme dan Engels dengan wawasan the personal is political dari kaum feminis radikal, meskipun banyak pendukung mazhab ini kurang puas dengan analisis Marx dan Engels yang tidak menyapa penindasan dan

perbudakan terhadap wanita. Marx menyatakan kondisi material atau ekonomi merupakan akar kebudayaan dan organisasi sosial. Cara-cara hidup manusia merupakan hasil dari apa yang mereka produksi dan bagaimana mereka memproduksinya. Maka, semua sejarah politik dan intelektual dapat difahami dengan mengetahui mode of econmic production yang dilakukan oleh bangsa manusia. Kesadaran dan diri berubah mengikuti perubahan lingkungan material. Marx berargumen, “it is not consciousness that determines life but life that determines consciousness”. Menurut Engels, wanita dan laki-laki memiliki peranan-peranan penting dalam memelihara keluarga inti. Namun karena tugas-tugas tradisional wanita mencakup pemeliharaan rumah dan penyiapan makanan, sedangkan tugas laki-laki mencari makanan, memiliki dan memerintah budak, serta memiliki alat-alat yang

(5)

penindasan terhadap wanita. Teori feminis menjadi kian beragam dan cenderung

menitiberatkan perhatian pada persoalan-persoalan khusus ketimbang berusaha memotret kondisi perempuan secara umum. Pengakuan akan adanya perbedaan antara kaum

perempuan itu sendiri menjadi isu teoritis utama.

d) Fenisme Anarkisme

Lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

II.

Gelombang Kedua Feninsme

1. Fenisme Ekstensialis. Melihat ketertindasan perempuan dari beban reproduksi yang di tanggung perempuan, sehingga tidak mempunyai posisi tawar dengan laki-laki.

2. Fenisme Genosentrisme. Melihat ketertindasan perempuan dari perbedaan fisik antara laki dan perempuan, yang menyebabkan perempuan lebih inferior dibandingkan laki-laki.

III.

Gelombang Ketiga Fenisme

a.

Feminisme Postmoderen, menggali persoalan aliansi perempuan seksual, psikologis, dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sistem.

b.

Feminisme Multikultural, melihat ketertindasan perempuan sebagai “satu definisi” dan tidak melihat ketertindasan terjadi dari kelas dan ras, preferensi sosial, umur, agama, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

c.

Feminisme Global, lebih menekankan ketertindasannya dalam konteks perdebatan antara feminisme di dunia yang sudah maju dan feminisme di dunia yang sedang berkembang.

d. Ecofeminisme, berbicara tentang ketidakadilan perempuan dalam lingkungan, berangkat dari adanya ketidakadilan yang dilakukan manusia terhadap non-manusia atau alam. Feminisme ekofemonisme, melihat individu secara koprehensif yaitu sebagai makhluk yang terikat dan berinteraksi. Ragam ini berupaya memberikan kesadaran pada perempuan dan berhak untuk mengaktualisasikannya di mana pun ia berada termasuk dalam dunia maskulin. Impelentasi teori feminisme ini bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan. Aplikasi teori feminisme dalam pembangunan adalah dengan dikembangkannya alat analisis berpersfektif feminisme yang dikenal dengan “Teknik Analisis Gender TAG”.

(6)

feminisme, yang lahir dari gerakan perempuan dan kembali mempertanyakan

pertanyaan yang belum terjawab, apakah laki-laki dapat melakukan teori feminis ?

Pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan cara memahami teks dan jawaban atas pertanyaan

sosial di konteskan melalui mediasi simbolik yang tertanam dalam hubungan sosial

kekuasaan yang berbeda. Mungkin pertanyaan yang lebih penting daripada apakah atau tidak

orang bisa “melakukan” teori feminis adalah apakah orang dapat terlibat feminisme dan

bisakah mereka menjadi feminis?.

Menjadi bagian dari lembaga feminis merupakan hal penting bagi laki-laki. Jika feminisme adalah untuk mencapai tujuannya yaitu membebaskan perempuan, laki-laki harus menjadi bagian dari perjuangan. Memang, laki-laki mungkin menanggung lebih dari tanggung jawab untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan karena laki-laki patriarkal telah menjadi pelaku utama penindasan . Tapi bisakah orang melakukan hal ini dengan menjadi feminis ?. Meskipun percaya bahwa laki-laki bisa pro – feminis dan anti – sexist , tidak percaya kita bisa menjadi feminis dalam arti ketat dalam masyarakat saat ini . Laki-laki , di sistem patriarki ini , tidak dapat menghapus diri dari kekuasaan dan hak istimewa mereka dalam kaitannya dengan perempuan. Untuk menjadi salah satu feminis harus menjadi anggota dari kelompok sasaran ( yaitu perempuan ) tidak hanya sebagai klasifikasi utama , tetapi memiliki satu pengalaman hidup yang langsung menginformasikan teori dan praksis seseorang.

Sebuah analogi yang jelas dapat dibuat antara profeminism laki-laki dan anti-rasisme . Laki-laki tidak bisa benar-benar menjadi lebih feminis dibandingkan kulit putih yang bisa menjadi nasionalis kulit hitam. Namun, laki-laki bisa pro feminis dan putih bisa menjadi nasionalis pro hitam. Pada saat yang sama itu tidak cukup hanya menjadi anggota dari minoritas yang kehilangan haknya untuk menjadi baik feminis atau nasionalis kulit hitam. Feminisme, seperti nasionalisme hitam membutuhkan kesadaran politik dan bahkan aktivisme. Seksisme membatasi peran untuk laki-laki maupun perempuan. Tapi untuk sementara dampak seksisme perempuan lebih negatif dari pada laki-laki yang mempengaruhi perempuan secara individu dengan perbedaan derajat. Beberapa perempuan menginternalisasi keyakinan seksis dan perilaku tunduk kepada tingkat yang lebih besar daripada yang lain dan tidak/tidak dapat bisa merangkul feminisme .

Seksisme berdampak negatif terhadap orang dengan memaksa mereka menjadi hiper

maskulinitas yang terlibat perilaku berisiko tinggi dan membatasi ekspresi emosional

mereka sebagai manusia penuh. Namun, terlepas dari ini dan efek sekunder lainnya

seksisme, laki-laki masih mendapatkan keuntungan dari patriarki (sistem sosial

seksisme) bisa atau tidak mereka memilih untuk melawan seksisme pada orang lain

atau diri mereka sendiri . Perempuan, dan feminis khususnya, menghadapi efek utama

seksisme dan kemarahan masyarakat patriarkal setiap kali mereka menolak peran

sosial mereka yang tertindas dan seringkali bahkan ketika mereka tidak

melakukannya. Jadi, jika laki-laki tidak bisa menjadi feminis bagaimana kita dapat

menjadi bagian dari agen feminis? Apakah alamat feminisme hanya perempuan atau

tidak hanya itu,juga ditujukan pada laki-laki pada beberapa hal? :

(7)

diserang, perilaku menyetujui secara diam-diam secara umum tidak dapat diterima sebagai keberanian pada masyarakat saat ini. Namun demikian , saya percaya bahwa feminisme nyata bukan hanya tentang mendengar cerita pribadi, tetapi juga tentang mengubah struktur hubungan gender dan bertindak untuk menghapuskan segala bentuk patriarki.

Sayangnya , beberapa segmen gerakan laki-laki, seperti kelompok dan pengikut gerakan hak-hak laki-laki mythopoetic. Robert Bly , tampaknya kurang terfokus pada pembongkaran patriarki dan lebih terfokus pada, dalam kata-kata Bell Hook (1992) “produksi dari jenis maskulinitas yang dapat dengan aman dinyatakan dalam batas-batas patriarki.” Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa aspek yang paling menakutkan dari gerakan laki-laki kontemporer , khususnya seperti yang dinyatakan dalam budaya populer, adalah depolitisasi perjuangan untuk mengakhiri seksisme dan penindasan seksis dan menggantikan perjuangan itu dengan fokus pada aktualisasi diri pribadi. Dia menunjukkan bahwa gerakan laki-laki tidak harus menjadi terpisah dari gerakan perempuan melainkan menjadi segmen bawah gerakan feminis yang lebih besar. dengan cara ini laki-laki tidak akan mengambil bagian sentral namun bagian lain dari kehidupan perempuan yang memungkinkan bentuk untuk melanjutkan dominasi yang sedikit lebih halus.

o Paul Smith, yang ikut menulis buku laki-laki dalam feminisme baru-baru ini menyarankan bahwa laki-laki tidak boleh masuk dalam feminisme tetapi di dekatnya . Dia menantang orang untuk berpikir feminisme bekerja pada mereka. Akan tetapi hal ini tidak bisa dilakukan tanpa mengubah , tidak hanya bagaimana laki-laki berhubungan dengan laki-laki lain, tapi bagaimana kita juga berhubungan dengan perempuan. Mungkin laki-laki harus “menists,” mendukung perempuan dalam pekerjaan feminis mereka sementara memungkinkan feminisme untuk bekerja pada mereka , menantang diri mereka sendiri dan laki-laki lainnya untuk mengakhiri patriarki. Dengan cara ini teori dan praktek feminis bisa menjadi katalis untuk membebaskan laki-laki dan perempuan dari peran gender restriktif dan sistem patriarki.

Teori substantif untuk perubahan sosial harus memberikan sesuatu untuk paling tidak semua

anggota masyarakat . Teori yang menggunakan bahasa abstrak dan elitis tidak akan dapat

diakses oleh kelompok-kelompok tertindas yang paling membutuhkan keadilan sosial.

Sebuah teori yang baik. Maka, juga akan memiliki beberapa lapisan pesan untuk kelompok

sosial yang berbeda. Sementara beberapa feminis radikal dapat mengambil posisi esensialis

bahwa dalam kondisi tertentu konstruksi teori feminis hanya mungkin oleh perempuan

feminis lain yang bersikeras bahwa laki-laki dapat berpartisipasi dalam teori feminis. Alison

Jaggar (1988) menggambarkan kondisi ini sebagai berikut:

Laki-laki harus belajar masalah perempuan

Sebuah proses yang akan membutuhkan setidaknya banyak kerendahan hati dan

komitmen seperti yang dibutuhkan oleh perempuan kulit putih/Anglo untuk

memahami pengalaman perempuan warna.

(8)

Referensi

Dokumen terkait