PROSIDING SARASEHAN NASIONAL
DALAM RANGKA TAPAK LACAK WAKTU MENURUT SUNDA
DI TAHUN
KEUYEUP
1950 CAKA SUNDA
CERDAS BUDAYA
PERSPEKTIF TOKOH
MUSEUM KONPERENSI ASIA-AFRIKA
GEDUNG MERDEKA BANDUNG
Jl. Asia-Afrika No. 65 Bandung
Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi
Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa Asuji 1949 Caka Sunda
RINGKASAN
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (QS An-Nahl : 12)
Pada masa lalu, saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, waktu berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka, gejala alam adalah cerminan lintasan waktu.
Jauh sebelum adanya pertanda waktu modern seperti yang saat ini kita pakai sehari-hari, nenek moyang manusia di muka bumi, termasuk nenek moyang karuhun Sunda, telah mengenal pertanda waktu dengan memanfaatkan gejala-gejala alam yang dilihat, didengar, dan dirasa, misalnya: terbit dan terbenamnya benda-benda di langit, terang dan gelapnya hari, pasang dan surutnya air laut dipantai, berbunga dan berbuahnya tanaman, berpindah dan berbiaknya makhluk hewan, dan lain sebagainya (Sobirin, 2011).
Adanya arus modernisasi, dikuatirkan akan mengikis wujud kebudayaan tradisional yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan nasional bangsa Indonesia. Persoalan yang kemudian timbul adalah ketika fenomena ini dihadapkan pada realita masyarakat yang cenderung tidak memiliki keantusiasan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan tradisional yang dimilikinya. Demam globalisasi seolah-olah membuat masyarakat lupa bahwa mereka memiki harta yang tak ternilai harganya.
Waktu terus berjalan dari dulu hingga sekarang, melintasi peristiwa-peristiwa besar dan kecil yang mengubah bentang alam dan peri kehidupan makhluk di muka bumi. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi karena alami dan karena ulah perilaku manusia.
sebaik-baiknya. Berbagai tantangan harus dicermati dan dijawab dengan strategi-strategi yang matang agar berarti bagi perjuangan gerakan citra kebudayaan di Indonesia.
Permasalahannya adalah, dari arah mana kita akan menemukan simpul revitalisasi nilai-nilai lokal untuk mengembalikan citra kebudayaan nasional saat ini untuk kembali menatanya dari proses kehancuran peradaban?
Dari pertanyaan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya (lebih) banyak manusia yang merasa tidak pas dengan citra kebudayaan yang dikukuhkan dalam program-program acara yang ditampilkan di media massa, karena citra yang ditampilkan adalah sebuah rekayasa penggambaran kenyataan yang pseudo-realistic, bukan mencerminkan realitas aslinya di masyarakat. Namun demikian, harus diakui pula bahwa di kalangan budayawan sendiri masih ada yang "terjebak", sehingga sering kali menjadi rancu dalam mengartikan antara "keimanan" (kodrati) dengan "keyakinan" (konstruksi). Pada titik inilah kemudian Sarasehan Nasional “Cerdas Budaya Perspektif Tokoh” menjadi penting untuk diselenggarakan.
Acara yang dilaksanakan dalam rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda di Tahun Keuyep 1950 Caka Sunda ini diselenggarakan atas gagasan dan pemikiran akan pentingnya pemahaman budaya sebagai identitas dan jati diri sebuah bangsa, bahwa kebudayaan tradisional merupakan akar dari refleksi perkembangan peradaban kehidupan masyarakat di dunia, begitu pula di Indonesia. Mengingat keberadaan budaya daerah bangsa Indonesia yang pusparagam menjadikan khazanah tersendiri yang harus dilestarikan keberadaannya secara terus menerus oleh seluruh entitas bangsa ini. Patut disadari dan dibanggakan sebenarnya kepusparagaman budaya dalam diversitas yang kita miliki selama ini sebagai perwujudan dan pengejawantahan nilai-nilai kebhinekaan yang diinternalisasikan dalam falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan bentuk indahnya kebersamaan dalam berbagai latar belakang yang berbeda guna menyongsong kesatuan dan persatuan bangsa yang tercipta dari berbagai perbedaan latar belakang yang tidak mungkin akan bisa dielak dan dipisahkan dalam sejarah perjalanannya.
Kegiatan yang di desain dengan orientasi pembumian pemahaman tentang pentingnya memegang budaya lokal bagi masyarakat sehingga nantinya masyarakat akan memiliki kesadaran (civil conciousness) serta kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah. Ketika atmosfer semacam ini sudah terbangun maka kebudayaan di Indonesia akan menjadi media pengejawantahan tata hidup berbangsa dan bernegara yang beradab dan bermartabat. Oleh karena itu pengubalan dan pelaksanaan dasar kebudayaan kebangsaan adalah perlu bagi Negara Indonesia yang sedang membangun dan yang mempunyai penduduk pusparagam yang mengamalkan budaya dalam tradisi yang berbeda-beda.
Dasar ini dapat menjadi garis panduan dalam membentuk serta mewujudkan satu bangsa yang bersatu padu sebagai jati diri bangsa yang berdaulat atas budayanya sendiri di kalangan dunia antar bangsa. Namun demikian pelaksanaannya adalah rumit dan tidak dapat dicapai dalam masa yang singkat. Kesadaran dan kefahaman yang luas akan dapat membantu tercapainya hasrat dan cita-cita pelaksanaan dasar ini karena dengan keinsafan itu kebudayaan kebangsaan akan dapat dibedakan dengan kebudayaan kesukuan atau kebudayaan kaum. Kebudayaan yang dipupuk itu akan mencirikan sifat-sifat persamaan yang melampaui batas-batas suku kaum dan memperlihatkan kepribadian kebangsaan Indonesia itu sendiri sebagai sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat.
Kekaguman kita ke masa lalu yang terlalu berlebihan telah membutakan akal sehat. Berbagai kebajikan masa lalu yang sesungguhnya hanya produktif untuk diterapkan pada zamannya kita telan mentah-mentah menjadi kebijakan masa kini. Padahal zaman sudah berubah. Apa yang bagus di masa lalu belum tentu bagus pula di masa kini. Apa yang sangat berguna di masa lalu mungkin justru tak bermanfaat apa-apa jika diterapkan di masa kini. Itulah yang kita lupakan.
itu sama sekali tak cocok lagi untuk diterapkan di masa kini. Kita lupa bahwa apa yang produktif di masa lalu mungkin bias menjadi sangat kontraproduktif di masa kini. Apalagi bagi masa depan. Diperlukan kecerdasan dalam memahami kembali kearifan lokal yang terkandung dalam petatah-petitih dan kata-kata mutiara itu. Diperlukan upaya revitalisasi agar kearifan lokal itu tetap aktual serta memiliki vitalitas tinggi. Revitalisasi kearifan lokal serta nilai-nilai budaya pada umumnya perlu dilakukan melalui langkah-langkah (1) inventarisasi, (2) reorientasi dan (3) reinterpretasi.
Romantisme masa lalu yang sangat kuat membuat kita mudah yakin bahwa apa yang disebut nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur dari generasi ke generasi itu seluruhnya bernilai luhung atau bahkan adiluhung. Kita tak berani lagi berpikir jernih bahwa apa yang sekarang kita sebut nilai-nilai budaya itu merupakan kesepakatan di antara orang-orang yang hidup pada kurun waktu yang sama. Kesepakatan itu penting untuk dijadikan pedoman bersama dalam menempuh kehidupan pada masanya.
Dengan melakukan inventarisasi kita akan dapat memisahkan nilai budaya yang bersifat produktif dari "nilai budaya" yang kontraproduktif. Kita bisa memilih mana nilai budaya yang bukan saja relevan dengan kepentingan masa kini melainkan juga bermanfaat bagi kepentingan masa depan. Sebaliknya, kita bisa menyingkirkan apa yang selama ini kita anggap sebagai "nilai budaya" tetapi ternyata tak bermakna apa-apa atau bahkan hanya menjadi penghambat gerak maju belaka.
"Nilai-nilai budaya" yang nyata-nyata bersifat kontraproduktif mengapa pula harus tetap dipertahankan, apalagi diwariskan kepada generasi kemudian. Lupakan! Buang jauh-jauh dari khasanah pemikiran agar tidak menjadi hambatan. Yang perlu kita wariskan dalam proses pewarisan nilai-nilai kepada generasi mendatang adalah "nilai-nilai budaya" yang mampu memotivasi generasi masa datang untuk meraih kemajuan. Yang harus kita wariskan adalah nilai-nilai budaya yang nyata-nyata berorientasi ke masa depan dan bukan ke masa lalu yang tak bakal kembali itu. Sebab, keengganan berorientasi ke masa depan merupakan salah satu hambatan pembangunan, sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat (1971). Oleh karena itu, segala bentuk kearifan lokal yang berdasarkan hasil inventarisasi masih kita anggap bermanfaat, harus kita orientasikan bagi kepentingan masa depan. Reinterorientasi terhadap kearifan lokal yang terkandung dalam petatah-petitih dan kata-kata mutiara itu perlu dilakukan agar kearifan lokal tersebut tetap kontekstual dengan kepentingan masa kini serta dapat diimplementasikan bagi kepentingan masa depan. Romantisme masa lalu seringkali membuat kita tidak ingat bahwa kita harus melangkah ke masa depan dan bukan cuma memaku pandang ke masa silam. Kebajikan yang berbunyi ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal, tentu mengandung makna bahwa orientasi ke masa depan haruslah lebih jauh jaraknya dan kuat tarikannya dibanding orientasi ke masa silam.
Langkah berikut dalam konteks revitalisasi nilai adalah reinterpretasi, yaitu menginterpretasi ulang makna-makna yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut agar tetap produktif. Reinterpretasi itu penting, sebab kearifan lokal yang berbentuk petatah-petitih dan kata-kata mutiara yang dimaknai oleh leluhur kita di masa lalu. Pemaknaan kearifan local oleh para leluhur kita itu tentulah mereka sesuaikan dengan konteks zamannya. Reinterpretasi tidaklah mengandung arti bahwa kita bebas memelintir makna, sebagaimana sering kita lakukan terhadap kearifan silih asah silih asih silih asuh yang terkenal itu. Kearifan yang bernilai abadi, yang pemaknaannya seringkali dipelintir sesuai dengan kepentingan penggunanya.
Masa lalu bukanlah tujuan. Masa lalu hanyalah sekadar menjadi inspirasi. Orientasi haruslah ke masa depan, agar kita tak ditinggalkan peradaban. Kerinduan ke masa lalu yang jaya haruslah dijadikan motivasi untuk meraih kejayaan itu kembali. Motivasi, bahwa leluhur kita pernah mampu membangun kejayaan. Dan kemampuan itulah yang sepatutnya menginspirasi kita untuk tidak diam berpangku tangan dalam berusaha meraih kejayaan itu kembali.
keprihatinan yang mendalam dan meluas itu muncul wacana multikulturalisme sebagai alternatif solusi untuk memulihkan nilai kebhinnekaan sebagai modal sosial untuk menata dan membangun kembali kehidupan bersama.
Kebhinnekaan merupakan ciri dasar negara-bangsa Indonesia sejak Republik ini dibentuk kemudian diproklamasikan oleh para founding fathers pada paruh kedua abad silam hingga kini. Secara geografis Republik ini terdiri atas lebih dari 13.500 pulau besar-kecil yang tersebar di sekitar katulistiwa. Secara kultural ia terdiri atas lebih dari 300 kelompok etnik meliputi baik yang berasal-usul lokal-indigenus maupun pendatang. Lebih dari 16 rumpun bahasa dan ratusan dialek, serta berbagai agama. Keterkaitan komunitas etnik dengan bahasa dan agama di berbagai pelosok Tanah Air telah mengukuhkan corak kebhinnekaan Republik ini. Itu pun masih dikukuhkan lagi oleh kebhinnekaan perseorangan masing-masing anak negeri yang kini berjumlah lebih dari 200 juta jiwa. Dalam kehidupan bersama kebhinnekaan bisa menjadi berkah atau sebaliknya sumber bencana tergantung cara kita memandang dan mengelolanya.
Sepanjang sejarah perjalanan Republik Indonesia, setidaknya bisa dibedakan beberapa cara bangsa-negara ini secara de facto memandang dan mengelola kebhinekaan, yang masih tetap berada di persimpangan antara menjadi Indonesia atau menjadi bangsa dengan budaya campuran. Jati diri keindonesiaan kita tumbuh dari budaya hibrida. Maka daripada itu, sebagai gagasan cerdas budaya, Observatorium Bosscha ITB di Lembang sebagai cagar budaya dapat kita lengkapi dengan Ancient Astronomy of Nusantara.
Lantaran abstraksi diatas itulah, Badan Pengurus Yayasan BESTDAYA mengetengahkan acara sarasehan bermaksud mengajak semua elemen bangsa untuk mengetahui akan signifikansi Cerdas Budaya tersebut guna menjaga jati diri dan ciri khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Kegiatan Sarasehan yang dirajut dengan pendekatan adat dan budaya dengan melibatkan kalangan akademisi dan praktisi astronomi, budaya, hukum, sosial politik, keraton, sejarah, dan budaya ini bertujuan mewujudkan lingkungan yang kondusif dan favourable ke arah peningkatan pemahaman partisipasi potensi masyarakat dan kecerdasan berbudaya dalam upaya merekomendasi Indonesia Cerdas Budaya sebagai Gerbang Utama Era Keemasan Nusantara Jaya.
Marilah kita melangkah ke masa depan, merajut Adat yang terpencar agar gerbang utama era keemasan Nusantara Jaya menjadi berujud nyata sesuai dengan harapan!
********
Dibawah langit yang satu dan dibawah bumi yang satu, maka kita memiliki nilai yang satu.
Didalam masyarakat berbudi luhur, untuk dapat menjadi seorang negarawan (Maharaja) yang handal
setiap manusia harus memulainya dengan mengembangkan sikap ”berbicara benar”,
bila membuat komitmen ucapannya bisa dipegang.
Maharaja, arti sesuai pesan metafisis awalnya adalah Negarawan, yaitu (1) benar-benar berwibawa dan memiliki pembawaan sebagai negarawan; (2) ahli strategi dan pengatur siasat; (3) mau mendengar pendapat orang lain, terutama masyarakat kecil, khususnya mereka yang menderita, lemah dan tidak
berdaya, seperti orang miskin, perempuan dan anak-anak; (4) melihat dengan mata hati, mendengar dengan hati nurani/sanubari.
KATA PENGANTAR
“Dia (Allah) yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan memantulkan cahaya, dan Dia menentukan tahap-tahap peredarannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan hal itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan
ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang berpengetahuan” (Al-Qur’an, Surat Yunus ayat 5). Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum ‘Warrahmatulahi ‘Wabarakatuh
SAMPURASUN
Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu
Wata’ala atas limpahan taufik dan hidayah-Nya, dan salam kepada Rasullullah Nabi Besar Muhammad SAW, atas pribadi luhurnya telah memotivasi penulis sehingga buku Prosiding Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi
(Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) bertempat di Gedung
Merdeka, Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung dapat terwujud. Dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, SWT untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Amin.
Kegiatan Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi
(Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) ini merupakan
“kegelisahan” perjalanan panjang dari Bengkel Studi Budaya (BESTDAYA), sebagai wujud dari rasa tanggung jawab sebagai insan budaya kepada masyarakat disekitarnya, sehingga dapat mempercepat tercapainya tujuan pembangunan nasional dalam nuansa budaya yang berbasis kearifan lokal, serta meningkatkan pelaksanaan misi dan fungsi sistem perhitungan waktu yaitu pemgembangan ruhuddin yang mencerminkan citra dalam memperkokoh jatidiri bangsa.
Tujuan diselenggarakannya sarasehan ini adalah untuk memberi kontribusi kepada masyarakat tentang mewujudkan Indonesia Cerdas Budaya sebagai upaya mensosialisasikan nilai-nilai kearifan budaya bangsa.
Dari paparan kata pengantar ini hal menarik yang patut diperhatikan adalah bagaimana hubungan Kekayaan Kandungan Astronomi dalam Sejarah Penanggalan Nusantara yang merupakan pusaka dan identitas budaya bangsa Indonesia. Dan merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk mencari titik temu dalam permasalahan-permasalahan bangsa yang ada saat ini melalui kearifan-kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
Hampir semua etnis di Nusantara yang memiliki sistem penanggalan, yang pada umumnya didasarkan pada perputaran matahari, perputaran bulan, bintang, binatang, dan fenomena alam. Hal ini tidak lepas dari faktor-faktor sosio-geografis serta sosio-kultural yang mempengaruhi masing-masing etnis.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbhineka tunggal ika. yang telah mampu berpikir dengan melibatkan siklus waktu, artinya telah mampu berpikir secara ilmiah dan menjadi tonggak waktu bangsa Nusantara mulai berpikir ilmiah.
Demikianlah, kami hantarkan notulen dan kumpulan makalah ini dalam bentuk buku Prosiding Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi
(Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) dengan sebuah
harapan, bahwa boleh jadi membicarakan perkara budaya Nusantara pada masa sekarang ini sangatlah penting dan mendesak untuk dilakukan. Sebab, menjadi keperluan kita semua untuk mencari tahu dari visi budaya macam apa, tiba-tiba pertumpahan darah dan kekerasan menjadi bagian yang menakjubkan dan seolah-olah sah dalam kebudayaan kita belakangan ini. Kerusakan lingkungan dan kurang pedulinya kita kepada planet bumi yang kita huni. Adakah itu semua memang merupakan bagian yang sah dalam budaya dan jatidiri kita sebagai sebuah bangsa? Adakah itu sisa kutukan dari kesewenang-wenangan penguasa (dan kita) pada kearifan budaya Nusantara yang sudah tidak memperhatikan Tata Wayah, Tata Wilayah dan Tata Lampah?
Masa depan Indonesia dengan berbasis kearifan budaya lokal mungkin saja baik, lebih cemerlang dari semua yang pernah kita impikan, namun mungkin yang terjadi sangat buruk, sesuatu yang belum pernah kita bayangkan, bahkan dalam mimpi-mimpi buruk kita sekalipun.
Pertemuan dalam bentuk Sarasehan Nasional ini merupakan salah satu dari berbagai wacana kearifan budaya lokal, yang kesemuanya mencari berbagai formulasi antisipasi eskalasi potensi konflik masa depan sebagai sinergi memperkokoh jati diri bangsa. Buku prosiding ini memuat latar belakang pemikiran dan tujuan kegiatan Sarasehan, pelaksanaan acara Sarasehan, makalah pembicara/narasumber, serta lampiran berkaitan dengan tema acara yang dikumpulkan dan ditata oleh tim pelaksana kegiatan Sarasehan nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini akan disebarkan kepada seluruh masyarakat, sebagai bahan diskusi publik. Rangkaian kegiatan ini tentunya tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Untuk dukungan ini, diucapkan terima kasih sebesar-besarnya.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini. Secara khusus saya sampaikan terima kasih kepada Bapak Thomas Ardian Siregar, Kepala Museum Konperensi Asia Afrika –
MKAA Bandung, yang telah memfasilitasi dan memberi kemudahan tempat pelaksanaan kegiatan Sarasehan ini. Juga Uwa Runayat Natadipoera, sesepuh Sunda di Bandung, yang sudah berkenan memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi (Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) ini.
Terima kasih kepada Bapak Jenderal TNI (Purn) H. Djoko Santoso (Mantan Panglima TNI);
YM K.R.A.T Mas’ud Thoyib Adiningrat (Sekjen Yayasan Raja Sultan Nusantara –
YARASUTRA); Bapak dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater, Bagian Psikiatri RS Hasan Sadikin Bandung); Ibu Miranda Risang Ayu, SH., LLM., Ph.D (Kepala UPT HKI Universitas Pajajaran,
Specialist in the New Emerging Intellectual Property Rights Law); Ray Sahetapy (aktor senior, yang tetap konsisten menggelorakan semangat Gagasan Kebangkitan Nusantara); di tengah kesibukan mereka masih berkenan hadir berpartisipasi menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai Narasumber dalam acara Sarasehan nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini.
Juga kepada Prof. Dr. Suhardja. D. Wiramihardja (Kelompok Keahlian Astronomi ITB); Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita (Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda - DPKLTS); Dr. Ir. H. Moedji Raharto (Kelompok Keahlian Astronomi ITB); YM
Serta kepada Ir. Supardiyono Sobirin (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda - DPKLTS) yang sejak awal memberi perhatian yang begitu besar sebagai Pengarah Materi Sarasehan dimana usulan kegiatan ini pertama kali diproses.
Terima kasih yang tulus juga kepada seluruh sivitas Yayasan BESTDAYA dan segenap panitia pelaksana Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh, yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pemikirannya demi suksesnya kegiatan ini.
Juga dengan tulus disampaikan kepada seluruh staf karyawan Pengelola Gedung Merdeka dan Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung yang telah banyak membantu dalam suksesnya kegiatan Sarasehan ini.
Semoga buku prosiding ini dapat memberi kemanfaatan bagi kita semua, untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai kearifan budaya. Di samping itu, diharapkan juga dapat menjadi referensi bagi upaya pembangunan karakter bangsa yang Cerdas Budaya.
Terakhir, tiada gading yang tak retak. Mohon maaf jika masih ada hal-hal yang kurang berkenan. Saran dan kritik yang membangun tetap kami tunggu demi kesempurnaan buku prosiding ini.
Sebagai ucapan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh dan kumpulan makalah narasumber sarasehan serta sekaligus sebagai penutup Kata Pengantar buku prosiding ini, penyusun menadahkan kedua tangan mohon maaf atas segalanya sembari berdo’a kehadirat Allah SWT. Dzat Yang Paling Belas Kasih dalam Memelihara Langit dan Bumi:...
‘Allah ya Robbi, Tuhan kami, beri kami bagian seimbang dalam menjalankan tugas kami
dan beri kami kemampuan untuk mendistribusikan secara seimbang dan adil segala yang kami terima dari-Mu, yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan masukkan kami dalam rahmat kasih sayang-Mu, karuniailah kami keikhlasan, keteguhan (istiqomah), mencintai Allah dan mencintai orang yang mencintai-Mu”.
Amin ya Rabb
Dzat Yang Paling Belas Kasih dalam Memelihara Langit dan Bumi
Wassalamu‘alaikum ‘warrahmatullahi ‘wabarakatuh Rampes nun
Hatur nuhun nu kasuhun
Salam BESTDAYA
DAFTAR ISI
VII. ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN ... 12
1. Waktu dan Tempat ... 12
2. Kepanitiaan dan Jadwal Acara... 12
VIII. PESERTA SARASEHAN ... 12
IX. PELAKSANAAN SARASEHAN ... 12
A. Acara Pembukaan ... 12
1. Laporan Ketua Panitia Pelaksana Sarasehan... 12
2. Laporan Ketua Dewan Pembina Yayasan BESTDAYA... 12
3. Sambutan Pengarahan dan Pembukaan... 13
B. Pemaparan Materi dan Topik Bahasan oleh Narasumber ... 14 Sesi Pertama
Pokok-Pokok Pemikiran Cerdas Budaya Perspektif Akademisi/Pendidikan 14 1. Kalender Tradisional dan Maknanya Bagi Jati Diri Budaya Bangsa
(Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja – Kelompok Keahlian Astronomi ITB) 14 2. Ilmu Pengetahuan Alam dan Citra Budaya Daerah
(Dr. Ir. H. Moedji Raharto, M.Sc – Kelompok Keahlian Astronomi ITB) 14 3. Sistem Pertanian Ciri Khas Lokal Untuk Ketahanan Pangan Nasional
(Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita, M.Sc – Ketua Dewan Pakar DPKLTS) 14 4. Pranata Hukum dalam Kearifan Lokal dan Identitas Budaya Bangsa
(Miranda Risang Ayu, LLM., Ph.D –Kepala UPT HKI Unpad; Specialist in the New Emerging Intellectual Property Rights Law)
14
Sesi Kedua
Pokok-Pokok Pemikiran Cerdas Budaya Perspektif Sosial Politik, Perempuan, Astrologi, dan Sejarah
15
1. Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal Acuan Menegakkan Kedaulatan Bangsa (Jenderal TNI <Purn> H. Djoko Santoso – Mantan Panglima TNI) 15 2. Kehandalan Perempuan sebagai Perisai Budaya Bangsa
(Dra. Hj. Mira Rosana Gnagey, M.Pd) 16
3. Sistem Astrologi dalam Kearifan Lokal dan Identitas Personal Kepemimpinan
(Rachma Dewi Cupita, Lady Astro) 17
4. Pentingnya Memahami Sejarah Sebagai Acuan Dalam Membangun Kejayaan Nusantara
(K.R.A.T. Mas’ud Thoyib Adiningrat, Staf Ahli TMII dan Sekjen Yayasan Raja Sultan Nusantara – Yarasutra)
Sesi Ketiga
Pokok-Pokok Pemikiran Cerdas Budaya Perspektif Keraton, Kebangkitan Nusantara, Astro Lingkungan, dan Kesehatan Jiwa
18
1. Budaya Keraton sebagai Perisai Budaya Bangsa
(Pangeran Hempi Raja Kaprabon X – Keraton Kaprabonan Cirebon) 18 2. Identitas Personal Dalam Pembentukan Kebudayaan
(dr.Teddy Hidayat, SpKJ., Psikiater, Bag. Psikiatri RS Hasan Sadikin) 19 3. Budaya Membaca Alam Untuk Kewaspadaan di Negeri Bencana
(Ir. Supardiyono Sobirin, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda DPKLTS)
19
4. Menegakkan Nilai-nilai Kearifan Lokal untuk Menjadi Sumber Kebudayaan
(Ray Sahetapy, Aktor Senior) 19
C. Diskusi dan Tanya Jawab Materi dan Topik Bahasan... 20
IX. HASIL/RUMUSAN SARASEHAN ... 27
LAMPIRAN ...
Lampiran 1. Kepanitiaan, Undangan dan Jadwal Acara
Lampiran 2. Daftar Peserta
Lampiran 3. Materi Laporan dan Sambutan
Lampiran 4. Materi Presentasi Pembicara/Narasumber
Cerdas Budaya Perspektif Akademisi
Cerdas Budaya Perspektif Sosial Politik, Perempuan, Astrologi, dan Sejarah
Cerdas Budaya Perspektif Keraton, Astro-Environment, Gagasan Nusantara, dan Kesehatan Jiwa
Lampiran 5. Foto Dokumentasi
Dari kiri : Prof. Dr. Suhardja. D. Wiramihardja (Kelompok Keahlian Astronomi ITB, Ketua Dewan Pembina Yayasan Bestdaya); Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita (Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Dewan Pembina Yayasan
Bestdaya); Ir. Supardiyono Sobirin (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bestdaya); Miranda Risang Ayu, SH., LLM., Ph.D (Kepala UPT HKI Universitas Pajajaran, Specialist in the New Emerging Intellectual
Dari kiri : Dra. Hj. Mira Rosana Gnagey, M.Pd (Badan Musyawarah Masyarakat Sunda – BAMUS, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bestdaya); Jenderal TNI (Purn) H. Djoko Santoso (Mantan Panglima TNI); YM Garlika Maratenegara, M.Si (Permaisuri Raja Kaprabon X, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bestdaya); YM K.R.A.T Mas’ud Thoyib Adiningrat (Sekjen Yayasan Raja Sultan
Dari kiri : Ray Sahetapy (aktor senior, yang tetap konsisten menggelorakan semangat Gagasan Kebangkitan Nusantara, Dewan Pembina Yayasan Bestdaya); Ir. Supardiyono Sobirin (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bestdaya); dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater, Bagian Psikiatri RS Hasan Sadikin Bandung, Penasihat Ahli Yayasan